• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama"

Copied!
103
0
0

Teks penuh

(1)

Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan

keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009.

USU Repository © 2009

Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama

(Studi kasus proses pengambilan keputusan memilih agama di Kel. Lau

Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo)

SKRIPSI

D

I

S

U

S

U

N

OLEH: MINARTI SURBAKTI

(040905020)

DEPARTEMEN ANTROPOLOGI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

(2)

Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan

keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009.

USU Repository © 2009

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

HALAMAN PERSETUJUAN

Nama : Minarti Surbakti Nim : 040905020

Departemen : Antropologi

Judul : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama

(Studi kasus dalam proses pengambilan keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo).

Medan, Februari 2009

Pembimbing Skripsi Ketua Departemen

(Dra. Mariana Makmur, MA) (Drs. Zulkifli Lubis, MA)

Nip. 131 476 038 Nip. 131 882 278

Dekan FISIP USU

(Prof. Dr. M. Arif Nasution, MA)

(3)

Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan

keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009.

USU Repository © 2009

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kehadirat Allah Swt, karena dengan rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini guna melengkapi dan memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana Antropologi pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Adapun judul skripsi ini adalah Pemilihan Agama pada Anak dari

Perkawinan beda Agama.

Selama penulisan skripsi ini, penulis banyak menerima bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak. Dalam kesempatan ini penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih kepada:

1. Bapak Prof. Dr. M. Arif Nasution, MA selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara.

2. Bapak Drs. Zulkifli, MA selaku ketua Departemen Antropologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara.

3. Ibu Dra. Sri Emiyanti, Msi selaku dosen penasehat akademik yang telah banyak memberi masukan dan nasehat kepada penulis.

4. Ibu Dra. Mariana Makmur, MA selaku dosen pembimbing skripsi penulis yang telah banyak meluangkan waktu serta memberikan banyak pengetahuan baru yang sangat berguna bagi penulis.

5. Bapak Drs. Irfan Simatupang, Msi selaku dosen ketua penguji penulis yang telah banyak memberi masukan guna penyempurnaan skripsi ini.

6. Ibu Dra. Sri Alem Sembiring, Msi selaku dosen penguji yang juga telah memberi banyak masukan dan saran kepada penulis guna penyempurnaan skripsi ini. 7. Kepada seluruh dosen Antropologi dan dosen yang ada di Fakultas Ilmu Sosial

dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara yang telah membantu penulis selama proses perkuliahan di Departemen Antropologi.

8. Kepada seluruh pegawai Antropologi dan pegawai yang ada di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara yang telah membantu penulis

(4)

Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan

keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009.

USU Repository © 2009

dalam menyelesaikan urusan administrasi selama proses perkuliahan di Departemen Antropologi.

9. Ucapan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada orangtua tercinta Ayahanda N. Surbakti dan Ibunda Zumiaty yang telah mengasuh, mendidik dan mendo’akan ananda dengan penuh kasih sayang. Inilah persembahan yang dapat ananda berikan sebagai tanda bakti ananda.

10. Adinda tersayang Darmawan Surbakti dan Deviany Surbakti. Terima kasih do’a kalian selama ini. Mbak ayu sayang kalian.

11. Keluarga besar ayah dan ibu, terima kasih atas dukungan dan do’anya.

12. Sahabat-sahabat yang penulis sayangi, Icha, Uni Rika, Piepiet, Ru, Imon Tonang, Uda Badi, Mas Iwan, Diah dan Yogie Batam. Terima kasih atas kebersamaan yang telah kalian berikan selama ini. Tetap semangat ya!!!!!!!

13. Terima kasih kepada seluruh sahabat-sahabat penulis di Antropologi khususnya stambuk 2004.

Medan, Februari 2009

(5)

Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan

keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009.

USU Repository © 2009

ABSTRAKSI

Minarti Surbakti, 2009. Pemilihan Agama pada Anak dari Perkawinan beda Agama. Studi kasus proses pengambilan keputusan memilih agama di Kelurahan Lau Cimba dan Padang Mas, Kecamatan Kabanjahe, Kabupaten Karo. Skripsi ini terdiri dari 5 bab+94 halaman+daftar pustaka+lampiran.

Penelitian ini khususnya untuk pasangan yang melakukan perkawinan beda agama antara agama Kristen Protestan dengan agama Islam. Tipe penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan sebuah model studi kasus. Informasi dari para informan pokok diperoleh dengan melakukan wawancara mendalam dan dengan menggunakan life history method.

Dalam perkawinan beda agama akan muncul berbagi persoalan-persoalan salah satunya adalah agama untuk anak-anak mereka. Sebagian besar pasangan beda agama yang ada di Kelurahan Lau Cimba dan Padang Mas telah menetapkan agama untuk anak mereka ketika lahir. Akan tetapi setelah anak mereka dewasa akan diberi kebebasan untuk memilih agama mana yang benar-benar mereka yakini.

Hasil wawancara dengan para informan baik itu pasangan yang melakukan perkawinan beda agama maupun kepada anak-anak mereka diketahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi anak-anak tersebut dalam memilih agamanya. Faktor tersebut adalah peran ayah, peran ibu, peran kerabat orangtua, peran orangtua angkat, peran sahabat, hubungan kekasih dan peran pemuka agama.

Walaupun memiliki agama yang berbeda dalam satu keluarga, mereka selalu berusaha mengutamakan perdamaian tanpa menyinggung-nyinggung masalah perbedaan agama di antara mereka. Mereka tidak pernah mengganggu saudara yang berbeda agama dengannya ketika sedang melaksanakan ibadah.

Dengan demikian, sehari-hari terlihat bahwa kehidupan beragama bukanlah suatu masalah yang harus mereka besar-besarkan. Karena sebagian besar dari mereka bukanlah penganut agama yang fanatik. Di daerah tersebut masyarakatnya lebih mengutamakan hubungan baik dalam sistem adat-istiadat mereka. Jika ada anggota keluarga yang dikucilkan karena keluar dari agama yang telah mereka anut dan berpindah ke agama yang lain, hubungan tali silaturahmi mereka masih tetap bisa terjalin melalui acara istiadat yang mengharuskan kehadiran mereka. Jadi dalam hal ini kebudayaan atau adat-istiadat yang menjadi pengikat dan menyatukan mereka.

Oleh karena itu sudah seharusnya masalah perkawinan beda agama mendapat perhatian dari pemerintah. Dilarang atau disahkannya perkawinan beda agama harus benar-benar dijelaskan dalam undang-undang perkawinan agar bagi yang ingin melakukan perkawinan tersebut tidak akan berani memalsukan identitasnya dan memiliki kekuatan hukum negara.

(6)

Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan

keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009.

USU Repository © 2009

DAFTAR ISI

Lembar Persetujuan

Kata Pengantar………..……….………,....….……….i

Abstraksi………..….…..….……...iii

Daftar Isi……….………….….…...………iv

BAB I : Pendahuluan

1. 1

. Latar Belakang Masalah………..……...….1

1. 2. Perumusan Masalah………...8

1. 3. Ruang Lingkup dan Lokasi Penelitian…………..………...……9

1. 4. Tujuan dan Manfaat Penelitian ………..…...10

1. 5. Tinjauan Pustaka 1. 5. 1. Kerangka teori……….………..…10

1. 5. 2. Kerangka konsep………...…...14

1. 6. Metode Penelitian………..…15

BAB II: Gambaran Umum Masyarakat di Kelurahan Lau

Cimba dan Padang Mas

2. 1. Kelurahan Lau Cimba 2. 1. 1. Sejarah Singkat Kelurahan Lau Cimba……….…..23

2. 1. 2. Letak dan Luas wilayah Kelurahan Lau Cimba………...……..24

2. 1. 3. Komposisi Penduduk………...25

2. 1. 4. Sarana dan Prasarana...……….……..…27

2. 2. Kelurahan Padang Mas 2. 2. 1. Sejarah Singkat Kelurahan Padang Mas…...…………...…..….29

(7)

Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan

keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009.

USU Repository © 2009

2. 2. 3. Komposisi Penduduk……….……...31

2. 2. 4. Sarana dan Prasarana……….……….……....34

2. 2. 5. Iklim……...………...………..………35

2. 3. Gambaran Umum Masyarakat yang Melakukan Perkawinan beda Agama di Kelurahan Lau Cimba dan Padang Mas……..…..35

BAB III: Mengenal Perkawinan Beda Agama

3. 1. Menurut Agama Islam………39

3. 2. Menurut Agama Kristen Protestan……….41

3. 3. Menurut Agama Katholik………...………43

3. 4. Menurut Agama Hindu dan Budha………...………….45

BAB IV: Pemilihan Agama Pada Anak

4. 1. Timbulnya Agama pada Anak……….….………..…53

4. 2. Perkembangan Agama pada Anak……….…..………..55

4. 3. Sifat Agama pada Anak……….…..…..…….56

4. 4. Pemilihan Agama pada Anak dari Perkawinan beda Agama……….58

4. 5. Kasus-kasus 7 Keluarga yang Melakukan Perkawinan beda Agama.63 4. 6. Pendapat Masyarakat di Kecamatan Kabanjahe Tentang Perkawinan beda Agama……….…...…..83

BAB V: Penutup

5. 1. Kesimpulan……….………..……….…..91

5. 2. Saran……….………..………….…93

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

(8)

Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan

keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009.

USU Repository © 2009

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1. Latar belakang masalah.

Ditinjau dari sudut Antropologi, perkawinan itu sangat penting karena perkawinan merupakan usaha untuk mengatur masyarakat. Perkawinan berawal dari ikatan antara seorang laki-laki dengan perempuan yang nantinya akan lebih berkembang lagi setelah lahirnya anak-anak. Tujuan perkawinan yang ideal adalah mewujudkan hidup bersama dalam ikatan cinta kasih serta untuk mendapatkan keturunan demi kelangsungan hidup manusia (Sukarti; 2003: 52).

Di abad teknologi komunikasi ini telah menjadikan masyarakat pedesaan yang tertutup menjadi masyarakat yang terbuka, dari masyarakat yang homogen di pedesaan telah banyak berinteraksi dengan masyarakat perkotaan yang heterogen. Kemajuan di bidang teknologi modern dan pembangunan nasional telah banyak menimbulkan perubahan-perubahan di kalangan masyarakat, yang juga telah banyak mendatangkan kemajuan pada berbagai bidang kehidupan. Majunya komunikasi berarti pula telah membuka kesempatan yang lebih besar kepada anggota-anggota dari satu golongan masyarakat, baik yang namanya suku, ras, maupun agama, untuk berinteraksi dengan anggota-anggota masyarakat dari luar golongannya. Dari interaksi tersebut bukanlah suatu hal yang mustahil bila terlahir perkawinan antar suku, antar ras bahkan antar agama (Asmin; 1986: 34).

(9)

Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan

keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009.

USU Repository © 2009

Dalam kehidupan bermasyarakat, perkawinan beda agama terjadi sebagai suatu realitas yang tidak dipungkiri. Berdasarkan ketentuan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia, telah jelas dan tegas menyatakan bahwa sebenarnya perkawinan beda agama dilarang, karena bertentangan dengan hukum yang berlaku di Indonesia. Khususnya dalam pasal 2 UU Perkawinan no. 1 tahun 1974 yang menyatakan “perkawinan adalah sah apabila dilakukan menurut agamanya masing-masing dan kepercayaannya itu”.

Namun dalam kenyataannya, perkawinan beda agama masih saja terjadi dan akan terus terjadi sebagai akibat interaksi sosial di antara seluruh warga negara Indonesia yang pluralis agamanya. Banyak kasus yang terjadi di dalam masyarakat, seperti perkawinan antara artis Jamal Mirdad dengan Lidia Kandau, Katon Bagaskara dengan Ira Wibowo, Yuni Shara dengan Henry Siahaan, Adi Subono dengan Chrisye, Ari Sihasale dengan Nia Zulkarnaen, Dedi Khobuser dengan Kalina, Frans dengan Amara, Sony Lauwany dengan Cornelia Agatha, dan lain-lain. Untuk mengesahkan perkawinan tersebut, mereka pergi keluar negeri seperti Singapura dan mencatatkan perkawinan mereka di Kantor Catatan Sipil negara tersebut (http://Anggara.org/2007/07/05/perkawinan-beda-agama-di Indonesia/).

Sebagian besar alasan mereka tetap melakukan perkawinan walaupun memiliki agama yang berbeda adalah alasan yang cukup klise yaitu karena cinta. Pada dasarnya, pasangan-pasangan tersebut mencoba untuk mencari jalan terbaik untuk menganut satu agama ketika akan membentuk rumah tangga mereka. Namun, meninggalkan agama yang sejak lahir telah diyakini dan memeluk agama baru bukanlah suatu hal yang mudah untuk dilaksanakan.

(10)

Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan

keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009.

USU Repository © 2009

Kasus-kasus perkawinan beda agama juga telah banyak diteliti. Contohnya status perkawinan antar agama di Jakarta yang diteliti oleh Asmin (1986:81). Ia menyatakan dari sudut agama, orang-orang yang melakukan perkawinan beda agama relatif memang dapat dikatakan sebagai orang yang tidak taat kepada hukum agama. Akan tetapi hal tersebut tidak benar keseluruhannya. Banyak pasangan yang telah melakukan perkawinan beda agama tetap menjalankan perintah agamanya masing-masing secara tertib dan tekun tanpa terpengaruh oleh agama pasangannya. Kehidupan rumah tangga mereka terlihat bahagia dan rukun-rukun saja. Mereka bukanlah orang-orang yang yang tidak mengerti ajaran agama.

Haruskah negara menghalangi perkawinan beda agama? Haruskah dua insan yang ingin mencari kebahagiaan hidup dalam perkawinannya kehilangan ketenteraman hanya karena perkawinan itu tidak diakui sah oleh hukum agama dan tidak terlindungi oleh hukum negara? Bagaimana pula dengan status anak-anak mereka?.

Dari berbagai pertanyaan tersebut ia melihat bahwa telah sering terjadi semacam kompromi di antara calon pasangan mempelai beda agama yang hendak melangsungkan perkawinan. Di antara mereka ada kata sepakat bahwa salah seorang akan bersedia masuk (pura-pura) ke agama pasangannya agar perkawinan dapat dilangsungkan dan memperoleh status yang sah menurut undang-undang dan hukum agama. Setelah perkawinan mereka dilangsungkan dan memperoleh status yang sah, pihak yang pura-pura tadi dalam waktu beberapa bulan atau bahkan beberapa minggu saja setelah perkawinannya diresmikan, akan kembali lagi ke agamanya yang semula. Jadi demi status yang sah seseorang akan rela melakukan apa saja termasuk memalsukan identitasnya.

(11)

Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan

keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009.

USU Repository © 2009

Agustina (2005) dalam tesisnya berjudul perkawinan antar agama dan hukumnya yang mengkaji tentang putusan MARI No. 1400/K/Pdt/1986. Ia mengatakan jika dipandang dari sudut agama, agama apapun melarang umatnya melakukan perkawinan beda agama. Jika tetap dilakukan perkawinan tersebut dianggap tidak syah dan tidak diakui oleh Negara. Padahal sebelum UU No. 1 Tahun 1974 berlaku sudah ada undang-undang yang mengatur tentang perkawinan campuran melalui ketetapan Raja tanggal 29 Desember 1896 No. 23 (Stb. 1898 No. 58) yang disebut dengan Regeling op de Gemengde Huwelijken (GHR).

Setelah berlakunya Undang-Undang Perkawinan Nasional yaitu UU No. 1 Tahun 1974, telah terjadi unifikasi di lapangan hukum perkawinan. Perkawinan campuran hanya boleh dilakukan antara dua orang yang berbeda kewarganegaraan saja. Sementara untuk perkawinan yang beda agama tidak diatur dalam undang-undang. Tidak diaturnya perkawinan antar agama dalam undang-undang telah menimbulkan kekosongan hukum terhadap perkawinan beda agama.

Kajian putusan MARI (Mahkamah Agung Republik Indonesia) No. 1400/K/Pdt/1986 mencoba melihat masalah ini dan menyatakan dari salah satu keputusannya adalah memberikan wewenang kepada pihak Kantor Catatan Sipil untuk mengesahkan perkawinan bagi pasangan beda agama. Namun kenyataannya sampai saat ini belum juga terealisasikan.

Contoh kasus lain, dalam disertasinya Lemire dalam Siong (1961: 41) menulis tentang larangan perkawinan akibat tingkat sosial dan perbedaan agama. Banyak orang yang melakukan peralihan agama akibat perkawinan. Di lingkungan hukum adat Minahasa seringkali terjadi perkawinan beda agama antara agama Kristen Protestan

(12)

Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan

keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009.

USU Repository © 2009

dengan agama Islam. Masyarakatnya masih memegang kuat hukum adat dan hukum adat mereka sangat menentang perkawinan beda agama. Sistem kekerabatan Minahasa adalah patrilineal, di mana garis keturunan diambil dari pihak orangtua laki-laki (ayah). Dalam sistem ini laki-laki yang memegang kekuasaan penuh. Sehingga kebanyakan dalam hal demikian sang istri yang beralih ke agama suaminya.Di kepulauan Ternate juga demikian, sering terjadi perkawinan antara agama Kristen dan bukan Kristen.

Larangan perkawinan karena perbedaan susunan tingkat terdapat pula di sana-sini dalam berbagai lingkungan hukum adat misalnya di Buru (Maluku) terdapat larangan bagi perempuan untuk menikah dengan laki-laki dari tingkat yang lebih rendah, namun banyak juga perempuan yang rela diusir dan dibuang oleh keluarga demi laki-laki yang dicintainya. Sehingga larangan adat untuk mengadakan perkawinan beda agama maupun beda tingkat sosial tidak ditaati sama sekali.

Perkawinan beda agama dapat ditemukan di banyak tempat di Indonesia, demikian pula pada warga masyarakat di Kabupaten Karo, khususnya di Kecamatan Kabanjahe, Kelurahan Lau Cimba dan Padang Mas. Dari data BPS (badan pusat statistik) Kecamatan Kabanjahe tahun 2007 terdapat 55 KK (kepala keluarga) yang melakukan perkawinan beda agama. Mereka pasangan suami istri yang beragama Islam dengan agama Kristen Protestan, agama Islam dengan agama Katolik, agama Islam dengan agama Budha, agama Kristen Protestan dengan agama Budha, dan lain-lain. Dalam penelitian ini, masalah yang diteliti khusus kepada pasangan suami istri beda agama yang beragama Kristen Protestan dengan agama Islam. Pasangan ini dipilih karena jumlah mereka lebih banyak dibandingkan jumlah pasangan beda agama yang lain.

(13)

Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan

keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009.

USU Repository © 2009

Masyarakat Karo bukan hanya menganut agama Islam, Kristen Protestan, Katolik, Budha dan Hindu tetapi juga masih banyak yang menganut agama lokal (aliran kepercayaan) yang disebut dengan pemena yang tidak bisa dipisahkan dengan kebudayaan Karo. Oleh karena itu, pemena merupakan bentuk kepercayaan umum di Kabupaten Karo yang sudah diyakini masyarakatnya sejak lama. Namun masuknya agama Islam, Kristen Protestan, Katolik, Budha dan Hindu tidak menyebabkan terjadinya konflik karena terdapat kesamaan substansi ajaran antara agama lokal dengan agama-agama tersebut yaitu sama-sama menerangkan pengayaan spiritual (Hidayat: 2003).

Bahkan perkawinan beda agama yang mereka jalani mendapat “perlindungan” dari budaya lokal mereka yaitu adanya sistem kekerabatan di daerah ini yang termodifikasi dari hubungan perkawinan. Sistem kekerabatan yang bertumpu pada konsep rakut sitelu yang menegaskan bahwa semua orang yang ada dalam satu kampung (kuta) berada dalam satu ikatan kekerabatan yang besar. Adanya perkawinan beda agama kadangkala menimbulkan konflik dalam hubungan kekerabatan mereka. Namun hubungan kekerabatan mereka masih dapat terjalin melalui konsep rakut sitelu tersebut yang harus tetap melibatkan mereka dalam upacara adat-istiadat. Konsep rakut sitelu sama halnya dengan hula-hula di Tapanuli Utara, atau kahanggi di Tapanuli Selatan.

Kartini Kartono (1985; 63) mengatakan bahwa dari suatu perkawinan terciptalah kesatuan anggota keluarga yang terdiri dari seorang ayah, ibu dan anak. Anak, keluarga dan masa depan bangsa merupakan tiga hal penting yang saling berkaitan. Keluargalah yang mempunyai kedudukan kunci yang sentral, karena perkembangan anak dimulai dan dimungkinkan dalam lingkungan keluarga. Keluarga merupakan tempat di mana setiap individu dibesarkan, sejak individu lahir sampai datang masanya ia meninggalkan rumah

(14)

Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan

keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009.

USU Repository © 2009

untuk membentuk keluarga sendiri. Di dalam keluargalah hubungan manusia yang paling awal terjadi, sebelum mengenal lingkungan yang lebih luas.

Sebagai lembaga pembentukan pribadi, mental dan karakter, keluarga juga harus mampu merangkap kepentingan masing-masing anggotanya. Dalam hal ini peran dan tanggung jawab orang tua merupakan faktor yang utama, mereka merupakan pimpinan sekaligus pengambil keputusan. Selain itu orang tua juga dijadikan acuan atau contoh oleh anaknya, baik itu dalam hal kebiasaan, sifat, cara bicara, cara bertindak dan sebagainya. Hal ini akan lebih besar pengaruhnya karena pada umumnya seorang anak lebih banyak menghabiskan waktunya tinggal bersama keluarga, saat si anak masih berusia balita (Hatta, 2002: 49).

Seorang anak yang lahir dari perkawinan beda agama, ketika ia telah dewasa dan mengerti akan masalah-masalah hidup yang ia hadapi akan mempertanyaka hal ini. Mengapa agama orang tuanya berbeda dan agama siapa yang harus ia pilih?. Ketika akan memilih agamanya sendiri, akan banyak sekali faktor-faktor dan pemikiran yang mempengaruhi si anak. Sampai pada akhirnya ia akan benar-benar mengambil satu keputusan apakah ia tetap memilih agama yang telah ditetapkan orang tuanya sejak lahir atau memilih agama yang baru atau agama di luar agama orang tuanya.

Seorang anak memilih agamanya sendiri yang ia yakini benar-benar bisa menjadi pedoman dan pegangan dalam hidupnya karena telah timbul emosi keagamaan dalam dirinya, yaitu getaran jiwa yang mendorong seseorang melakukan tindakan-tindakan yang bersifat keagamaan/religi yang akan terjadi ketika ia telah dewasa dan mampu menyikapi masalah dalam hidupnya (Koentjaraningrat,1986: 179).

(15)

Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan

keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009.

USU Repository © 2009

Anak-anak yang lahir dari perkawinan beda agama yang ada di Kelurahan Lau Cimba dan Padang Mas sebagian aktif mengikuti kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan keagamaan mereka. Kegiatan-kegiatan tersebut seperti ikut kebaktian di Gereja, sekolah minggu bagi yang beragama Kristen Protestan dan mengikuti pengajian dan remaja mesjid bagi yang beragama Islam. Hal ini terjadi karena walaupun orang tua mereka memiliki agama yang berbeda tetapi tetap menghargai agama lain dan tetap menjalankan kehidupan beragama yang semestinya. Namun sebagian lagi ada yang tidak aktif mengikuti kegiatan-kegiatan tersebut bahkan seperti tidak peduli. Hal ini terjadi karena mereka melihat orang tua yang juga tidak terlalu peduli dengan hal tersebut.Oleh karena itu penelitian ini dilakukan untuk melihat bagaimana anak-anak dari perkawinan beda agama tersebut memilih agamanya dan menjalankan kehidupan beragamanya.

1. 2. Perumusan masalah.

Dari semua yang telah di uraikan dalam latar belakang masalah, maka yang dapat dijadikan sebagai perumusan masalah adalah sebagai berikut:

- Bagaimana proses pemilihan agama pada anak dari perkawinan beda agama?

1. 3. Ruang lingkup masalah dan lokasi penelitian.

Untuk mendapatkan data yang diinginkan, maka ruang lingkup penelitian ini adalah:

- Apa alasan pasangan-pasangan suami istri tersebut mau melakukan perkawinan

beda agama?.

- Agama siapa yang akan dianut oleh anak-anak mereka ketika baru lahir?. - Agama siapa yang akan dianut oleh anak-anak mereka ketika telah dewasa?. - Mengapa seorang anak memilih agamanya sendiri?.

(16)

Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan

keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009.

USU Repository © 2009

- Faktor apa saja yang mempengaruhi seorang anak dalam memilih agamanya?. - Apakah mereka aktif menjalankan kegiatan-kegiatan keagamaan mereka?. - Apa tanggapan masyarakat terhadap perkawinan beda agama?.

Lokasi penelitian dilakukan di Kelurahan Lau Cimba dan Padang Mas, Kecamatan Kabanjahe, Kabupaten Karo. Di daerah ini penduduknya sudah sangat heterogen, dalam arti terdiri dari banyak suku bangsa yang memberi peluang besar untuk dapat dikatakan sebagai masyarakat yang majemuk. Dari 28% jumlah penduduk Kec. Kabanjahe yang telah menikah, 1,03% adalah jumlah pasangan suami istri yang melakukan perkawinan beda agama. Pasangan suami istri yang melakukan perkawinan beda agama tersebut 27 KK tinggal di Kelurahan Lau Cimba, 24 KK tinggal di Kelurahan Padang Mas, 3 KK tinggal di Kelurahan Gung Negeri dan 1 KK tinggal di Kelurahan Gung Leto ( BPS Kec, Kabanjahe 2007).

1. 4. Tujuan dan Manfaat Penelitian.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gejala-gejala apa saja yang timbul dari perkawinan beda agama khususnya mengetahui bagaimana pemilihan agama pada anak dari hasil perkawinan beda agama. Penelitian ini juga bermanfaat menambah pengetahuan masyarakat tentang masalah-masalah dalam perkawinan beda agama serta sebagai pedoman masyarakat untuk memikirkan lebih jauh lagi bila ingin melakukan perkawinan dengan pasangan yang beda agama.

1. 5. Tinjauan pustaka.

1. 5. 1. Kerangka teori.

(17)

Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan

keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009.

USU Repository © 2009

Dalam meneliti persoalan tentang agama, Berger (1991) menggabungkan antara aspek sains dan aspek kemanusiaan. Pengetahuan dan agama dipahaminya sebagai konstruksi sosial, bukan pengetahuan yang objektif dari kenyataan (jika sains) atau dari Tuhan (jika agama) yang terlepas dari manusianya, masyarakat dan sejarah. Fungsi agama tidak bisa sampai ke tingkat kebenaran universal. Esensi agama adalah kemampuan manusia untuk melewati nature biologisnya masuk kepengalaman rohaniah atau spiritual melalui konstruksi makna yang dianggap objektif, moralis dan mencakup segalanya. Makna agama bukan hanya fakta sosial tetapi juga suatu fenomena kehidupan manusia yang berupa kerinduan dan usaha untuk terangkat dari pengalaman nyata sehari-hari. Kemampuan orang beragama itu bervariasi dari sekedar khusyuk, ikhlas, rasa mendapat ampunan, rahmat dan kasih sayang Tuhan sampai kepada yang mampu merasakan dekat dan dekat sekali, bahkan bersatu dengan-Nya.

Edward B. Tylor dalam Bahtiar (2003: 200) menyatakan bahwa memahami budaya sebagai kata kerja merupakan keseluruhan yang meliputi pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, huku m, adat-istiadat serta kemampuan dan kebiasaan lainnya yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat. Budaya juga merupakan cara berfikir dan cara merasa yangmenyatakan dirinya dalam seluruh segi kehidupan sekelompok manusia yang membentuk kesatuan sosial (masyarakat) dalam suatu ruang dan waktu. Budaya bersifat dinamis, tidak statis. Sedangkan sebagai kata benda, budaya memiliki kaitan yang erat terhadap agama. Budaya dan agama dapat melahirkan sintesis “budaya yang bernafaskan agama”. Agama merupakan pedoman untuk kepentingan hidup manusia dalam menjalankan fungsi dan kewajibannya sebagai hamba Tuhan. Sementara budaya merupakan olah fikir dan hasil cipta, karsa dan karya manusia .

(18)

Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan

keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009.

USU Repository © 2009

Clifford Geertz (1992) menganggap agama sebagai sebuah sistem budaya yang mampu mengubah sebuah tatanan masyarakat dan dapat membentuk karakter masyarakat. Agama juga merupakan makna dari gerakan atau simbol yang biasa berbeda dari penampilannya. Kehidupan suatu suku bangsa atau agama tidak boleh dijelaskan hanya dari struktur yang tampak saja. Pengetahuan mengenai struktur yang tampak itu mencakup pencarian makna dan maksud di balik semua kehidupan dan pemikiran. Hal itu sangat penting karena kebudayaan hanyalah konteks makna yang dipahami bersama atau “struktur arti yang mapan”. Walaupun disadari pula bahwa simbol juga menduduki peran penting dalam kebudayaan. Dari studinya di Jawa dan Bali, suatu masyarakat yang kompleks, yang telah dipengaruhi oleh Hindu, Budha, animisme, Islam dan kebudayaan Barat, tidak seperti suku Nuer atau Azande yang diteliti oleh Evans-Pritchard. Geertz sampai ke suatu pandangan bahwa masyarakat juga dibentuk oleh agamanya. Ia juga melihat agama sebagai fakta budaya, bukan sebagai kebutuhan sosial ataupun ketegangan ekonomi. Yang dimaksud dengan agama sebagai sistem budaya adalah:

1. Sebuah sistem simbol yang berperan.

2. Membangun suasana hati dan motivasi yang kuat, pervasif, dan tahan lama di dalam diri manusia .

3. Merumuskan konsepsi tatanan kehidupan yang umum.

4. Membungkus konsepsi-konsepsi tersebut dengan suatu aura faktualitas semacam itu sehingga suasana hati dan motivasi tampak realistik secara unik.

Agama merumuskan konsep tentang tatanan kehidupan yang umum, memberi suatu arti yang mutlak, suatu tujuan pesanan yang besar pada dunia. Maka dalam agama, pada

(19)

Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan

keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009.

USU Repository © 2009

suatu sisi berdiri konsepsi tentang dunia, dan pada sisi lain berdiri serangkaian suasana hati dan motivasi yang dibimbing oleh ide-ide moral.

Dalam proses pemilihan agama, seseorang mengalami proses yang berbeda dengan orang lain. Zakiyah Darajat (1979: 42) mengatakan bahwa tiap-tiap pemilihan agama itu melalui proses kejiwaan sebagai berikut:

1. Masa tenang pertama: sebelum mengalami pemilihan agama dan bersikap acuh tak acuh terhadap agama.

2. Masa ketidaktenangan: yang berlangsung jika masalah agama telah mempengaruhi batinnya sehingga mengakibatkan terjadinya kegoncangan yang berkecamuk dalam bentuk rasa gelisah, putus asa, panik, tegang dan sebagainya. Pada masa ini biasanya orang menjadi perasa, cepat tersinggung dan mudah terkena sugesti. Akhirnya terjadilah proses pemilihan terhadap agama lain.

3. Masa pemilihan agama: setelah konflik batin mencapai puncaknya, maka terjadilah peristiwa pemilihan agama itu sendiri. Karena kemantapan batin telah terpenuhi oleh pilihan yang dianggap serasi ataupun timbulnya rasa pasrah. Hidupnya kini berubah menjadi tenang dan berserah diri kepada Tuhan.

4. Masa tenang dan tentram: yang ditimbulkan oleh kepuasan terhadap keputusan yang telah diambil. Sehingga merasa aman, damai dalam hati, dan segala dosa merasa diampuni Tuhan.

5. Masa ekspresi pemilihan agama: tingkat terakhir dari penentuan pemilihan agama itu adalah pengungkapan dari sikap menerima terhadap konsep baru (ajaran agama) yang diyakininya tadi, maka tingkah laku dan sikap hidupnya diselaraskan dengan ajaran dan peraturan agama yang dipilihnya tersebut.

(20)

Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan

keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009.

USU Repository © 2009

Ada tiga faktor penting mengapa seorang anak harus memilih agama yang benar-benar mampu menjadi pedoman hidupnya (Siahaan; 199: 43):

1. Agama memberi bimbingan dalam kehidupan manusia sejak masih anak-anak, di masa dewasa sampai kepada hari tua agar bermoral luhur dan berperikemanusiaan.

2. Agama dapat menolong manusia sejak masa anak-anak agar menjadi sseseorang yang tabah, sabar dan fikirannya terbuka dalam menghadapi problem dan kesukaran.

3. Agama dapat membimbing anak-anak agar hidup tenang dan jiwanya lebih tentram. Dengan demikian anak-anak akan merasa bahwa Tuhan turut campur dan bersedia menolong mereka untuk menanggulangi masalah yang dihadapi dalam mencapai cita-cita mereka.

Ketiga hal di atas dianggap sangat penting, sehingga si anak bisa mengerti dan tahu maksud dari kita memeluk dan mempercayai suatu agama yang dianut.

Agama merupakan jalan ataupun sumber dari segala kebahagiaan dan kelestarian seluruh mahkluk. Dengan agamalah mereka dapat mengarungi hidup dan kehidupan ini dengan baik, tanpa itu tidak akan mungkin. Dengan syarat ataupun aturan yang tertera dalam ajaran agama itu manusia dapat hidup rukun, damai, sejahtera, tenteram dan bahagia (Mahali; 1983: 124).

1. 5. 2. Kerangka konsep.

1. Perkawinan; ikatan lahir batin antara seorang laki-laki dengan perempuan sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Dalam penelitian ini perkawinan beda

(21)

Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan

keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009.

USU Repository © 2009

agama yaitu perkawinan yang dilaksanakan antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan yang mempunyai agama yang berbeda.

2. Agama; pedoman hidup manusia yang dijadikan sarana hubungan antara manusia dengan Tuhan dalam bentuk ibadah.

3. Keluarga; unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari ayah, ibu dan anak yang mempunyai berbagai pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya

4. anak; seseorang yang belum mencapai umur 18 tahun atau belum pernah melangsungkan perkawinan, ada di bawah kekuasaan orang tuanya.

5. pemilihan agama; dalam masalah ini pemilihan agama adalah pengambilan keputusan yang dilakukan seorang anak untuk menentukan pilihannya tentang keyakinan beragama, yaitu ikut agama ayahnya, ibunya atau mermilih agamanya sendiri.

1. 6. Metode Penelitian.

Dalam penelitian ini, tipe penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan sebuah model studi kasus. Studi kasus adalah strategi penelitian yang terfokus pada pemahaman terhadap sesuatu yang dinamis yang melibatkan satu kasus atau lebih dengan tingkat analisa yang berbeda-beda dan dapat memberikan gambaran terhadap suatu masalah. Ketika menggunakan model studi kasus, masalah yang diteliti adalah suatu realitas sosial yang benar-benar terjadi di masyarakat sehingga masalah tersebut dapat dideskripsikan dari awal sampai akhir. Oleh karena itu penelitian ini menggunakan model studi kasus `alasannya adalah agar dapat lebih memahami dan mengerti permasalahan penelitian sehingga mampu memberikan satu gambaran yang lebih dalam tentang gejala-gejala yang ada dalam perkawinan beda agama.

(22)

Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan

keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009.

USU Repository © 2009

a. Tehnik pengumpulan data.

Data telah dikumpulkan dengan melakukan berbagai macam tehnik dan dengan jenis-jenis informan sebagai berikut:

Informan adalah orang yang memberikan informasi sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh peneliti. Informan dalam penelitian ini terdiri dari informan pangkal, informan pokok/kunci dan informan biasa.

- Informan pangkal adalah orang yang dianggap memiliki pengetahuan lebih

banyak tentang masalah yang diteliti yaitu perkawinan beda agama misalnya pemuka-pemuka agama seperti Ustadz, Pendeta dan Guru-guru agama, pihak KUA dan Catatan Sipil. Wawancara dengan informan pangkal untuk mendapat data-data mengenai sah atau tidaknya melakukan perkawinan beda agama maupun status (hukum) melakukan perkawinan beda agama.

- Informan pokok/kunci adalah orang yang melakukan perkawinan beda agama dan

anak-anak yang lahir dari hasil perkawinan mereka. Informan pokok/kunci yang dibutuhkan peneliti yaitu yang sesuai dengan kriteria dan ketentuan yang ada dalam masalah penelitian yaitu keluarga suku bangsa Karo yang telah melakukan perkawinan beda agama di Kelurahan Lau Cimba dan Padang Mas dengan masa perkawinan 18-30 tahun dari tahun 1979-1991 dan anak-anak dari hasil perkawinan beda agama tersebut dari umur 16-24 tahun (khusus yang masih dalam masa pendidikan di SMA- Perguruan tinggi). Dari data yang diperoleh, pasangan yang berasal dari agama Islam dengan agama Kristen Protestan berjumlah 33 KK, agama Islam dengan agama Katolik 5 KK, agama Kristen

(23)

Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan

keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009.

USU Repository © 2009

Protestan dengan agama Budha 8 KK, agama Islam dengan agama Budha 3 KK, agama Katolik dengan agama Budha 4 KK, dan agama Kristen Protestan dengan agama Katolik 2 KK. Dari 33 KK, ada 13 KK pasangan beda agama khususnya agama Islam dengan agama Kristen Protestan yang memenuhi kriteria tersebut dan dijadikan sebagai informan pokok/kunci. Mereka adalah keluarga G. Tarigan, K. Tarigan, A. Ginting, D. Milala, R. Suka, L. Purba, H. Perangin-angin, M. Keliat, N. Sinuraya, T. Brahmana, K. Perangin-angin, G. Ginting, N. Surbakti. Anak-anak mereka yang dijadikan informan adalah Ika br Tarigan dan Guntur Tarigan anak dari G. Tarigan, Dina br Surbakti anak dari N. Surbakti, Dita br Ginting dan Saad Ginting anak dari A. Ginting, Fauzi Tarigan dan Alista br Tarigan anak dari K. Tarigan, Endi Milala anak dari D. Milala, Rehulina br Purba dan Anta Purba anak dari L. Purba, Vera br Suka, Gina br Suka dan Reymon Suka anak dari R. Suka, Asman Perangin-angin dan Dista Perangin-angin anak dari H. Perangin-angin. Wawancara dengan informan pokok/kunci adalah untuk mendapatkan data-data mengenai bagaimana awalnya mereka bisa melakukan perkawinan beda agama sampai bagaimana anak-anak mereka memilih agama mereka sendiri.

- Dari informan pangkal dan informan pokok/kunci diperoleh data mengenai

perkawinan beda agama serta bagaimana anak-anak mereka memilih agama mereka sendiri. Untuk membuktikan data dan memperkuat data yang diperoleh dari informan pangkal dan informan pokok maka diwawancarai juga informan biasa seperti pasangan suami istri yang melakukan perkawinan beda agama di luar informan pokok/kunci, tetangga pasangan suami istri yang melakukan perkawinan

(24)

Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan

keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009.

USU Repository © 2009

beda agama, anggota keluarga mereka yang lain serta masyakat yang ada di sekitar lingkungan mereka seperti Ana Lita, Ricardo Tarigan, Adelia br Keliat, Raskita br Surbakti, Antonius Solin, Sondang Manalu, Firman, Zalaluddin dan Sagian Purba.

Informasi yang telah diperoleh dari para informan untuk melengkapi data-data dilakukan melalui proses wawancara. Metode wawancara yang digunakan adalah wawancara yang bersifat tidak berstruktur, bebas dan mendalam (depth interview). Wawancara yang bersifat mendalam adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara peneliti dan informan, di mana peneliti dan informan terlibat percakapan yang cukup lama. Para informan yang diwawancarai secara mendalam adalah para informan pokok sebanyak 13 KK dan anak-anak mereka seperti yang telah disebutkan di atas. Pelaksanaan wawancara tersebut tidak hanya dilakukan sekali atau dua kali saja melainkan berulang-ulang dengan intensitas yang tinggi. Sedangkan informasi yang didapat dari informan pangkal dilakukan melalui wawancara tidak berstruktur. Wawancara tidak berstruktur sifatnya lebih fleksibel dan terbuka. Dalam wawancara ini peneliti dapat mengikuti perkembangan pertanyaan berikutnya sebatas tidak menyimpang dari masalah yang diteliti. Sebelum mengumpulkan data di lapangan dengan metode wawancara tersebut, peneliti menyusun pedoman wawancara (interview guide) sebagai pedoman di lapangan. Hal ini bertujuan agar proses wawancara antara peneliti dengan informan berjalan dengan lancar karena pedoman wawancara dapat digunakan untuk menghindari peneliti dari “kehabisan pertanyaan”. Untuk melengkapi dan memperkuat data yang sudah ada, peneliti juga menggunakan metode wawancara yang bersifat bebas yaitu wawancara yang dilakukan peneliti kepada

(25)

Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan

keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009.

USU Repository © 2009

informan tanpa ada persiapan terlebih dahulu dan biasanya wawancara tersebut dilakukan apabila peneliti secara kebetulan bertemu dengan si informan. Walaupun wawancara ini dilakukan secara bebas, tetapi kebebasan ini tidak terlepas dari pokok permasalahan yang akan ditanyakan kepada informan. Dengan metode tersebut, peneliti dapat mengumpulkan data-data yang dibutuhkan yang berkaitan dengan perkawinan beda agama pada masyarakat Karo.

Dalam melakukan wawancara ini, langkah pertama adalah peneliti menyaring daftar para informan yang ada, yaitu yang sesuai dengan kriteria dan ketentuan yang ada dalam masalah penelitian. Informan yang dibutuhkan terdiri dari beberapa keluarga yang telah melakukan perkawinan beda agama yang berdomisili di kelurahan Lau Cimba dan Padang Mas. Setelah peneliti merasa yakin dengan informan yang ada maka wawancara dilakukan secara bertahap pada masing-masing keluarga informan dan ini dilakukan secara berkali-kali sampai data yang diperlukan terkumpul. Untuk melengkapi data yang telah terkumpul dari lapangan, peneliti kemudian mencari data kepustakaan dengan satu tujuan untuk mendapatkan landasan teori yang kuat, melalui pendapat para ahli yang berkaitan dengan masalah yang telah diteliti. Hal ini dapat ditemukan dari beberapa buah literatur, yang terdiri dari buku-buku, internet, artikel-artikel dan majalah-majalah tertentu yang sesuai dengan permasalahan yang diteliti.

Untuk melengkapi data, peneliti juga melakukan pengamatan (observasi). Observasi adalah suatu usaha pengumpulan data melalui pengamatan secara langsung terhadap suatu gejala sosial yang diteliti. Dalam hal ini peneliti melakukan pengamatan seputar kehidupan informan yang melakukan perkawinan beda agama khususnya yang berkaitan dengan pemilihan agama pada anak bagi keluarga beda agama. Situasi-situasi yang

(26)

Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan

keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009.

USU Repository © 2009

diamati oleh peneliti adalah kegiatan-kegiatan mereka yang berkaitan dengan peribadatan yang dilakukan oleh keluarga beda agama. Seperti berdoa ketika makan, ucapan salam ketika berpamitan, ke Gereja di hari minggu, merayakan hari besar agama atau melakukan kebaktian rohani bagi yang beragama Kristen maupun ke Mesjid atau mengaji bagi yang beragama Islam. Untuk yang beragama Kristen Protestan, mereka memiliki satu perkumpulan dengan nama perpulungen sada arih. Mereka mengadakan pertemuan sekali seminggu yaitu hari minggu sore pukul 15.30 WIB sampai dengan selesai. Sedangkan untuk yang beragama Islam, mereka memiliki perkumpulan pengajian dengan nama Nurul Fallah yang diadakan seminggu sekali yaitu setiap senin malam pukul 20.00 WIB sampai dengan selesai.

Untuk informan pokok dilakukan wawancara mendalam dengan menggunakan life history method. Life history method adalah tehnik pengumpulan data yang mendeskripsikan (menggambarkan) riwayat hidup para informan yang berhubungan dengan perkawinan beda agama dan bagaimana anak-anak mereka memilih agamanya sendiri. Penggunaan life history method ini bertujuan mendeskripsikan kehidupan para informan kunci. Dari 13 informan kunci diambil riwayat hidup (life history) 7 pasang keluarga sebagai contoh yang mewakili pasangan-pasangan yang melakukan perkawinan beda agama untuk mendukung data yang dibutuhkan. Mereka adalah keluarga G. Tarigan, K. Tarigan, A. Ginting, D. Milala, R. Suka, L. Purba dan H. Perangin-angin.

Pengalaman dan hambatan-hambatan yang ditemui peneliti di lapangan:

Selama melakukan penelitian tentang Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama di Kelurahan Lau Cimba dan Padang Mas, ada beberapa pengalaman yang ditemui peneliti di lapangan, di antaranya adalah tidak semua perbedaan membuat

(27)

Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan

keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009.

USU Repository © 2009

seseorang dengan yang lainnya menjadi saling bertentangan. Akan tetapi ada juga seseorang dengan yang lainnya bersatu dalam perbedaan. Contohnya perbedaan agama dalam satu rumah tangga. Di antara suami, istri dan anak-anak memiliki agama yang berbeda satu sama lainnya. Tapi perbedaan tersebut tidak membuat mereka saling bermusuhan. Mereka tetap bisa hidup rukun dan saling menghargai dalam satu atap.

Peneliti juga mengalami beberapa hambatan-hambatan yaitu ada beberapa informan pangkal seperti pegawai Kantor Catatan Sipil yang bernama Bapak D. Simanjuntak yang sangat sulit untuk ditemui. Ketika pertama kali peneliti datang ke Kantor Catatan Sipil dan menjelaskan kepentingannya, peneliti diberi nomor telepon Bapak D. Simanjuntak selaku pegawai yang bisa memberi keterangan yang dibutuhkan oleh peneliti. Pada saat itu beliau sedang tidak ada di kantor. Sebanyak 4 kali peneliti menghubunginya selalu ditolak dengan alasan masih banyak pekerjaan. Setelah dihubungi kembali untuk yang kelima kalinya baru beliau bersedia untuk ditemui di kantornya yang ada di Jalan Mumah Purba, Kabanjahe. Setelah menunggu satu jam, beliau keluar dan mengatakan ada urusan mendadak dan peneliti diminta untuk datang kerumahnya di hari libur. Setelah datang kerumahnya pada hari minggu yang ada di Jalan Kebersihan, Kabanjahe barulah beliau bersedia memberi keterangan yang dibutuhkan oleh peneliti.

Ketika mengurus surat ijin penelitian ke kantor Lurah Kecamatan Padang Mas, peneliti juga mengalami sedikit kesulitan karena dari pihak kelurahan meminta surat rekomendasi dari kantor Kecamatan Kabanjahe. Ketika meminta surat rekomendasi tersebut, pihak kecamatan tidak dapat memberikannya karena penelitian tersebut dilakukan di kelurahan bukan di kecamatan secara keseluruhan. Setelah berulangkali dijelaskan baru pihak kelurahan bersedia memberikan surat ijin penelitian yang

(28)

Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan

keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009.

USU Repository © 2009

dibutuhkan peneliti. Tapi untuk urusan administrasi di Kelurahan Lau Cimba semuanya berjalan dengan lancar.

Kemudian ada beberapa informan pokok yang sama sekali tidak bersedia memberi keterangan seputar kehidupan sebagai pasangan beda agama yang telah mereka jalani. Mereka adalah keluarga A. Ginting, D. Milala dan anak-anak dari pasangan beda agama tersebut yaitu Dita br Ginting, Dina br Surbakti, Endi Milala, Anta Purba, Saad Ginting dan Fauzi Tarigan. Mereka tidak bersedia memberi keterangan tentang hal tersebut kepada peneliti dengan alasan malu. Peneliti terpaksa berbohong dengan mengatakan bahwa peneliti juga memiliki keluarga yang beda agama. Awalnya mereka masih ragu juga tapi akhirnya mereka percaya dan mulai terbuka. Mereka bersedia menceritakan pengalaman mereka dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh peneliti.

Demikianlah pengalaman dan hambatan-hambatan yang dialami peneliti selama melakukan penelitian ini. Walaupun peneliti mengalami sedikit kesulitan ketika mencari data, tapi peneliti sangat berterima kasih kepada para informan yang bersedia memberikan data yang sangat dibutuhkan oleh peneliti.

(29)

Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan

keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009.

USU Repository © 2009

BAB II

GAMBARAN UMUM MASYARAKAT

DI KELURAHAN LAU CIMBA DAN PADANG MAS

2. 1. Kelurahan Lau Cimba.

2. 1. 1. Sejarah Singkat Kelurahan Lau Cimba.

Menurut cerita dari salah seorang pemuka adat Karo,Lau Cimba berasal dari bahasa karo yang artinya air yang ditimbai. Daerah ini dulunya memiliki sungai yang airnya sangat jernih. Sungai sangat bermanfaat bagi kehidupan masyarakat di sekitarnya sebagai sumber air minum, memasak, mencuci pakaian, perabotan rumah tangga dan menyiram tanaman mareka. Walaupun musim kemarau tiba, air di sungai tersebut tidak pernah surut apalagi sampai kering. Setiap akan mengambilnya, mereka menggunakan gayung atau peralatan lainnya seperti mengambil air dalam sumur. Sehingga mereka menyebutnya lau cimba (air yang ditimbai). Lama-kelamaan nama Lau Cimba semakin dikenal sehingga siapa saja yang akan pergi ke daerah tersebut akan mengatakan “ke Lau Cimba”, hal itu berlangsung sampai sekarang. Seiring dengan pertambahan waktu, penduduk di Kelurahan Lau Cimba semakin bertambah dan pembangunan fisik (rumah,

(30)

Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan

keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009.

USU Repository © 2009

jalan beraspal, toko-toko, bangunan sekolah, puskesmas, dll) banyak dilakukan sehingga luas sungai tersebut semakin sempit. Sampai sekarang sungai tersebut masih ada tetapi seakan-akan tidak ada artinya lagi bagi warga masyarakat yang ada di Kelurahan Lau Cimba.

2. 1. 2. Letak Dan Luas Wilayah Kelurahan Lau Cimba.

Letak Astronomi Kelurahan Lau Cimba terletak pada koordinad 2º 50΄ LU 3° 19´ LU dan 97° 15´ BT - 98° 38´ BT. Secara geografis Kelurahan Lau Cimba terletak di bagian selatan Kecamatan Kabanjahe yang berjarak 3 KM dari pusat pemerintahan Kabupaten Karo. Letak administratif Kelurahan Lau Cimba adalah sebagai berikut :

-Sebelah Utara berbatasan dengan Kelurahan Kampung Dalam. - Sebelah Timur berbatasan dengan Kelurahan Padang Mas. - Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Kacaribu.

- Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Rumah Kaban Jahe.

Luas wilayah Kelurahan Kampung Dalam adalah 200 ha, 14,8% dari luas Kecamatan Kabanjahe. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel:

TABEL 1

Luas Wilayah Kecamatan Kabanjahe

(31)

Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan

keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009.

USU Repository © 2009 1 2 3 4 5 Padang Mas Lau Cimba Kampung Dalam Gung Negeri Gung Leto 300 200 200 450 200 22,2% 14,8% 14,8% 33,4% 14,8% Jumlah 1350 100%

Sumber : Data primer.

2. 1. 3. Komposisi Penduduk.

- Menurut jenis kelamin.

Berdasarkan data komposisi penduduk berdasarkan jenis kelamin dapat dilihat perbandingan antara laki-laki dan perempuan. Jumlahnya tidak jauh berbeda dan hanya terpaut 128 orang lebih banyak jumlah laki-laki. Hal ini dapat dilihat pada tabel.

TABEL 2

Komposisi penduduk menurut jenis kelamin

NO Kelurahan Laki-laki Perempuan Jumlah

1 2 3 4 5 Lau Cimba Padang Mas Gung Leto Gung Negeri Kampung Dalam 3243 3970 4028 3547 4080 3115 3938 4055 3847 4041 6358 7908 8083 7394 8182 Sumber : Data primer.

(32)

Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan

keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009.

USU Repository © 2009

- Menurut Kepercayaan.

Mayoritas penduduk Kelurahan Lau Cimba adalah agama Kristen Protestan dan agama Islam dan sebagian lagi menganut agama Katolik, Hindu, Budha dan aliran kepercayaan. Untuk jumlahnya dapat dilihat pada tabel:

TABEL 3

Komposisi penduduk menurut kepercayaan N

O

Kelurahan Kristen Protestan

Islam Katolik Budha/

Hindu Lain Jmlh 1 2 3 4 5 Lau Cimba Padang Mas Gung Leto Gung Negeri Kampung Dalam 2950 3744 3395 2785 3359 2022 3329 3261 2972 3395 1147 414 1167 1590 1334 151 196 110 66 75 120 228 100 40 10 6358 7908 8083 7394 8121 Jumlah 16237 14979 5652 498 498 37864

Sumber : Data primer.

Dari tabel di atas dapat dilihat jumlah penduduk di Kelurahan Lau Cimba yang beragama Islam 2022 jiwa, yang beragama Kristen Protestan 2950 jiwa, yang beragama Katolik 1147 jiwa, yang beragama Hindu dan Budha 151 jiwa sedangkan yang menganut aliran kepercayaan Pemena berjumlah 120 jiwa.

(33)

Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan

keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009.

USU Repository © 2009

Sebagian besar penduduk di Kelurahan Lau Cimba bekerja sebagai petani sebagian lagi bekerja di bidang wiraswasta. Pada table terlihat sebagai berikut :

TABEL 4

Komposisi penduduk menurut pekerjaan

NO Kelurahan Petani Industri PNS/ABRI Wiraswasta Jumlah

1 2 3 4 5 Lau Cimba Padang Mas Gung Leto Gung Negeri Kampung Dalam 225 346 572 324 785 4 8 2 - 2 9 46 31 22 32 78 91 35 103 83 316 491 640 449 902 Sumber:Data primer.

2. 1. 4. Sarana dan Prasarana.

- Sarana Pendidikan.

Sarana pendidikan merupakan sarana yang paling penting untuk menunjang kemakmuran dan kecerdasan bangsa. Jumlah seluruh sekolah yang ada di Kelurahan Lau Cimba adalah Sekolah Dasar Negeri (SDN) berjumlah 1 buah,Sekolah Dasar Swsasta (SDS) berjumlah 1 buah,dan Sekolah Menengah Atas (SMA) 1 buah. Sedangkan jumlah

(34)

Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan

keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009.

USU Repository © 2009

siswa yang bersekolah di Kelurahan Lau Cimba berjumlah 2010 jiwa dengan perincian siswa di SDN berjumlah 345 jiwa, di SDS 320 jiwa dan di SMA 1345 jiwa.

- Sarana Kesehatan.

Sarana terpenting lainnya adalah sarana kesehatan yang sangat di butuhkan oleh setiap warga masyarakat. Kelurahan Lau Cimba memiliki 1 buah Puskesmas pembantu dan 1 buah Posyandu.

- Sarana Ibadah.

Sarana ibadah adalah tempat untuk melakukan peribadatan dimana manusia bisa lebih konsentrasi lagi melakukan komunikasi dengan sang Maha Penciptanya. Di Kelurahan Lau Cimba terdapat 1 buah Mesjid,1 buah Mushola dan 3 buah Gereja.

- Bengkel.

Sarana bengkel adalah sarana yang sangat menunjang lancarnya hubungan transportasi bagi setiap daerah. Demikian juga halnya dengan Kelurahan Lau Cimba. Di daerah ini terdapat 10 buah bengkel mobil,6 bengkel sepeda motor dan 2 buah bengkel sepeda.

- PLN dan PDAM.

Fasilitas PLN (Perusahan Listrik Negara) dan PDAM di Kelurahan Lau Cimba sudah cukup baik. Banyaknya pelanggan PLN di Kelurahan Lau Cimba berjumlah 1160 jiwa dan pelanggan PDAM berjumlah 400 jiwa.

(35)

Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan

keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009.

USU Repository © 2009

2. 2. Kelurahan Padang Mas.

2. 2. 1. Sejarah Singkat Kelurahan Padang Mas.

Menurut cerita salah seorang pemuka adat Karo, secara singkat Kelurahan Padang Mas adalah sebagai berikut; dahulunya daerah tersebut merupakan area yang ditumbuhi padi darat yang sangat luas sekali. Seluruh kehidupan penduduknya tergantung pada tanaman padi mereka. Padi darat yang mereka tanam dengan sistem tadah hujan memberi hasil yang sangat melimpah. Setiap musim panen, mereka selalu berhasil karena tidak pernah diganggu oleh hama maupun binatang. Karena tanaman padi yang sangat luas tersebut orang-orang menyebutnya dengan nama Padang Mas. Padang artinya lebar atau luas. Sedangkan kata Mas diambil dari warna padi yang kuning seperti warna perhiasan mas. Namun seiring dengan bertambahnya waktu dan munculnya pendatang dari luar daerah Kelurahan Padang Mas, banyak lahan yang ditanami padi tersebut dibeli oleh para pendatang dan diganti dengan bangunan rumah, ruko, dll. Lama-kelamaan tanaman padi tersebut sudah semakin sedikit. Walaupun banyak lahan yang masih dijadikan lahan pertanian, namun tanaman yang ada sudah beraneka ragam seperti jeruk, sayur-mayur dan berbagai jenis bunga.

2. 2. 2. Letak dan Luas Wilayah Kelurahan Padang Mas.

Secara astronomis, Kelurahan Padang Mas terletak pada koordinat 2º 50΄ LU 3° 19´ LU dan 97° 15´ BT - 98° 38´ BT. Secara geografis, Kelurahan Padang Mas terletak di

(36)

Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan

keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009.

USU Repository © 2009

bagian Tenggara Kecamatan Kaanjahe yang berjarak 2 KM dari pusat pemerintahan Kabupaten Karo. Letak administratif Kelurahan Padang Mas adalah sebagai berikut:

- Sebelah Utara berbatasan dengan Kelurahan Gung Leto. - Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Tiga Panah. - Sebelah Barat berbatasan dengan Kelurahan Kampung Dalam. - Sebelah Utara berbatasan dengan dengan Kelurahan Gung Negeri.

Luas wilayah padang Mas adalah 300 ha, 22,2% dari luas Kecamatan Kabanjahe. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

TABEL 1

Luas Wilayah Kecamatan Kabanjahe

NO Kelurahan Luas (ha) Ratio (luas%)

1 2 3 4 5 Padang Mas Lau Cimba Kampung Dalam Gung Negeri Gung Leto 300 200 200 450 200 22,2% 14,8% 14,8% 33,4% 14,8% Jumlah 1350 100%

(37)

Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan

keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009.

USU Repository © 2009

2. 2. 3. Komposisi Penduduk.

- Menurut Jenis Kelamin.

Data komposisi penduduk berdasarkan jenis kelamin dapat dilihat bahwa jumlah laki-laki lebih banyak 32 orang daripada jumlah perempuan. Hal tersebut dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

TABEL 2

Komposisi penduduk menurut jenis kelamin

NO Kelurahan Laki-laki Perempuan Jumlah

1 2 3 4 5 Lau Cimba Padang Mas Gung Leto Gung Negeri Kampung Dalam 3243 3970 4028 3547 4080 3115 3938 4055 3847 4041 6358 7908 8083 7394 8182 Sumber : Data primer.

(38)

Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan

keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009.

USU Repository © 2009

- Menurut Kepercayaan.

TABEL 3

Komposisi penduduk menurut kepercayaan NO Kelurahan Kristen

Protestan

Islam Katolik Budha/Hindu Lainnya Jumlah

1 2 3 4 5 Lau Cimba Padang Mas Gung Leto Gung Negeri Kampung Dalam 2950 3744 3395 2785 3359 2022 3329 3261 2972 3395 1147 414 1167 1590 1334 151 196 110 66 75 120 228 100 40 10 6358 7908 8083 7394 8121 Jumlah 16237 14979 5652 498 498 37864

Sumber : Data primer.

Dari tabel di atas, penduduk di Kelurahan Padang Mas yang beragama Kristen Protestan berjumlah 3744 jiwa, yang beragama Islam berjumlah 3329 jiwa, yang beragama Katholik berjumlah 414 jiwa, yang beragama Budha dan Hindu berjumlah 196 jiwa serta yang masih menganut aliran kepercayaan pemena berjumlah 228 jiwa.

(39)

Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan

keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009.

USU Repository © 2009

- Menurut Jenis Pekerjaan.

Sebagian besar penduduk di Kelurahan Padang Mas bekerja sebagai petani sebagian lagi bekerja di bidang wiraswasta. Penduduk yang bekerja sebagai petani berjumlah 346 jiwa, yang bekerja di bidang industri berjumlah 28 jiwa, yang bekerja sebagai PNS/ABRI berjumlah 46 jiwa dan yang bekerja di bidang wiraswasta berjumlah 91 jiwa. Pada table terlihat sebagai berikut :

TABEL 4

Komposisi penduduk menurut pekerjaan

NO Kelurahan Petani Industri PNS/ABRI Wiraswasta Jumlah

1 2 3 4 5 Lau Cimba Padang Mas Gung Leto Gung Negeri Kampung Dalam 225 346 572 324 785 4 8 2 - 2 9 46 31 22 32 78 91 35 103 83 316 491 640 449 902

Sumber: Data Primer

(40)

Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan

keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009.

USU Repository © 2009

- Sarana Pendidikan.

Jumlah lembaga pendidikan yang ada di Kelurahan Padang Mas adalah Sekolah Dasar Negeri (SDN) berjumlah 5 buah, Sekolah Dasar Negeri (SDS) berjumlah 3 buah dan 1 buah untuk jumlah Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP). Sedangkan untuk jumlah siswa yang sekolah di daerah tersebut adalah 1549 jumlah siswa di SDN, 855 siswa di SDS dan 101 siswa di SLTP. Siswa-siswa tersebut bukan hanya berasal dari Kelurahan Padang Mas saja, tetapi banyak siswa juga siswa yang berasal dari luar daerah.

- Sarana Kesehatan.

Jumlah sarana kesehatan yang ada di Kelurahan Padang Mas sudah sangat mencukupi karena sudah terdapat 2 buah rumah sakit yang buka 24 jam, 1 buah puskesmas pembantu dan 1 buah posyandu.

- Sarana Ibadah.

Untuk sarana rumah ibadah di Kelurahan Padang Mas terdapat 1 buah Mesjid, 3 buah Gereja dan 1 buah Vihara.

- Bengkel.

Banyaknya bengkel menurut jenis kendaraan yang ada di Kelurahan Padang Mas terdapat 7 buah bengkel mobil, 6 buah bengkel sepeda motor dan 1 buah bengkel khusus untuk sepeda.

- Sarana PLN dan PDAM.

Jumlah pengguna fasilitas Perusahaan Listrik Negara da Perusahaan Dagang Air Minum (PDAM) di Kelurahan Padang Mas lebih banyak jika dibandingkan dengan Pengguna PLN dan PDAM yang ada di Kelurahan Lau Cimba. Di Kelurahan Padang Mas terdapat 1669 pengguna PLN dan 1531 pengguna PDAM.

(41)

Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan

keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009.

USU Repository © 2009 2. 2. 5. Iklim.

Iklim di Kelurahan Lau Cimba dan Padang Mas sama yaitu beriklim tropis di mana terdapat curah hujan sepanjang tahun. Temperatur udara berkisar 16º C sampai dengan 27º C dengan kelembaban udara 82 %. Dua kelurahan tersebut memiliki dua musim yaitu musim hujan dan musim kemarau. Musim hujan terjadi antara bulan Agustus sampai dengan bulan Januari dan musim kemarau terjadi antara bulan April sampai dengan bulan Agustus. Rata-rata curah hujan setiap tahunnya antara 1000-3000 M³.

2. 3. Gambaran Umum Masyarakat yang Melakukan

Perkawinan beda Agama di Kelurahan Lau Cimba

dan Padang Mas.

Kabupaten Karo adalah salah satu kabupaten di Sumatera Utara. Ibukota Kabupaten Karo terletak di Kecamatan Kabanjahe. Kabupaten Karo memiliki 13 kecamatan yaitu Kecamatan Barusjahe, Berastagi, Juhar, Kabanjahe, Kutabuluh, Lau baleng, Mardinding, Merek, Munte, Payung, Simpang Empat, Tiga Binanga dan Tiga Panah. Sedangkan Kecamatan Kabanjahe memiliki 5 kelurahan yaitu Kelurahan Gung Leto, Gung Negeri, Padang Mas, Lau Cimba dan Kampung Dalam.

Penelitian dilakukan di Kelurahan Lau Cimba dan Padang Mas, Kecamatan Kabanjahe, Kabupaten Karo. Di daerah ini penduduknya sudah sangat heterogen, dalam arti terdiri dari banyak suku bangsa yang memberi peluang besar untuk dapat dikatakan sebagai masyarakat yang majemuk. Dari data yang diperoleh di kantor Kecamatan, penduduk Kecamatan Kabanjahe berjumlah 37.864 jiwa dengan perincian sebagai berikut; penduduk di Kelurahan Lau Cimba berjumlah 6.358 jiwa, penduduk di

(42)

Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan

keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009.

USU Repository © 2009

Kelurahan Padang Mas berjumlah 7.908 jiwa, penduduk di Kelurahan Gung Leto berjumlah 8.083 jiwa, penduduk di Kelurahan Gung Negeri berjumlah 7.394 jiwa dan penduduk di Kelurahan Kampung Dalam berjumlah 8.121 jiwa. 41% beragama Kristen Protestan, 39% beragama Islam, 15% beragama Katolik, 2,5% beragama Hindu dan Budha serta 2,5% lagi masih menganut aliran kepercayaan. Dari 28% jumlah penduduk Kecamatan Kabanjahe yang telah menikah, 1,03% adalah jumlah pasangan suami istri yang melakukan perkawinan beda agama. Pasangan yang menikah antara agama Islam dengan agama Kristen Protestan berjumlah 33 KK, agama Islam dengan agama Katolik 5 KK, agama Kristen Protestan dengan agama Budha 8 KK, agama Islam dengan agama Budha 3 KK, agama Katolik dengan agama Budha 4 KK, dan agama Kristen Protestan dengan agama Katolik 2 KK. Pasangan beda agama tersebut 27 KK tinggal di Kelurahan Lau Cimba, 24 KK tinggal di Kelurahan Padang Mas, 3 KK tinggal di Kelurahan Gung Negeri dan 1 KK tinggal di Kelurahan Gung Leto. Sementara di Kelurahan Kampung Dalam tidak ada pasangan yang melakukan perkawinan beda agama (BPS Kec, Kabanjahe 2007).

Dari data yang diperoleh, perkawinan beda agama di daerah tersebut terjadi mulai tahun 1963 sampai dengan tahun 2005. Pengesahan perkawinan mereka ada yang dilakukan di KUA (kantor urusan agama) bagi yang calon suaminya beragama Islam dan calon istrinya beragama Kristen Protestan. Pihak KUA bersedia mengesahkan pernikahan mereka dengan syarat dalam waktu yang telah ditentukan, suami sebagai kepala rumah tangga dapat membimbing istrinya masuk ke dalam agamanya yaitu Islam. Janji tersebut hanya mereka ucapkan di depan pihak KUA saja, akan tetapi dalam kehidupan sehari-hari janji tersebut tidak pernah terlaksana. Sampai saat ini mereka masih tetap membawa

(43)

Minarti Surbakti : Pemilihan Agama Pada Anak Dari Perkawinan Beda Agama (Studi kasus proses pengambilan

keputusan memilih agama di Kel. Lau Cimba dan Padang Mas Kec. Kabanjahe Kab. Karo), 2009.

USU Repository © 2009

agamanya masing-masing. Demikian juga bagi mereka yang mengesahkan pernikahannya di Kantor Catatan Sipil dengan memalsukan salah satu identitas pasangannya dan yang lainnya menikah secara adat saja baik itu adat Batak Karo, Batak Toba, Nias dan yang lain-lain. Tergantung kesepakatan pasangan calon pengantin serta keluarga mereka.

Untuk urusan administrasi seperti membuat KTP (kartu tanda penduduk), akta kelahiran, kartu keluarga dan lain sebagainya, di daerah tersebut semuanya berjalan dengan lancar karena mereka tidak pernah dimintai syarat-syarat yang menyulitkan. Mereka akan semakin mudah menyelesaikan urusan administrasi tersebut apabila mereka telah mengenal dengan baik atau semarga dengan pegawai yang bertugas menyelesaikan urusan tersebut.

Pasangan yang melakukan perkawinan beda agama banyak tinggal di Kelurahan Lau Cimba dan Padang Mas karena merasa memiliki masalah yang sama. Sehingga mereka merasa lebih leluasa dalam menjalani hidup mereka khususnya yang berkaitan dengan kehidupan beragama. Misalnya dalam merayakan hari-hari besar agama. Mereka sudah tidak merasa canggung lagi untuk dua kali merayakannya dalam satu tahun yaitu merayakan hari besar agama suaminya dan merayakan hari besar istrinya. Namun ada juga keluarga yang sama sekali tidak merayakan kedua hari besar agama tersebut seperti Natal, Tahun Baru, maupun Lebaran. Bagi keluarga yang tidak merayakan hari-hari besar agama tersebut, mereka akan berkunjung kerumah saudara mereka yang sedang merayakannya.

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa kinerja pegawai kecamatan gunung pati termasuk unggul, ini dapat dilihat dari beberapa fenomena yang menunjukkan

Sehubungan dengan rencana penyelesaian skripsi/ penelitian saya mengenai " Faktor- Faktor yang Mempengaruhi Penggunaan Personal Computer dalam Menghasilkan Sistem

akan lebih memanfaatkan waktu belajarnya dengan baik dan seoptimal mungkin. Tentunya dengan dibantu oleh desain pembelajaran yang dilakukan oleh guru. Peran guru untuk menumbuhkan

Seperti dijelaskan oleh Stainback (Sugiyono, 2013: 311) menyatakan “ In participant observation, the researcher observes what people do, listent to what they say, and

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) proses pengembangan modul kimia berbasis Predict-Observe-Explain (POE) yang dapat mengurangi miskonsepsi dan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh marinasi EKN pada daging itik Tegal afkir terhadap kualitas keempukan dan sifat organoleptik (warna, flavor, dan

Garis regresi hubungan antara air lolos, aliran batang dan intersepsi dengan curah hujan pada rata-rata Tanaman Jati dan Pinus dapat dilihat pada Gambar 6. Gambar 6

kemasyarakatan produktif pada bidang peningkatan produktivitas tenaga kerja. Pendidikan kemasyarakatan produktif dalam rangka Peningkatan relevansi dan kualitas lembaga