• Tidak ada hasil yang ditemukan

EFEK SUSPENSI PENGAWET TERHADAP KUALITAS BUNGA POTONG HERBRAS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "EFEK SUSPENSI PENGAWET TERHADAP KUALITAS BUNGA POTONG HERBRAS"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

EFEK SUSPENSI PENGAWET TERHADAP KUALITAS BUNGA POTONG HERBRAS

SUSPENSION EFFECT OF TRANSVAAL DAISY CUT FLOWER PRESERVATIVE ON QUALITY

Farida Iriani

Program studi Agroteknologi FP Universitas Bandung Raya Jl. Cikutra No. 171 Bandung. 40124.

Telp/Fax 022-7202193

Korespondensi: [email protected]

ABSTRACT

The usage of preservative solution as a force to improve the quality of Transvaal daisy cut flower Ornella cultivar is effective. A preservative that was formulated from sucrose + citric acid + lysol + oxyacetate acid was made as suspension by adding of cmc, will be examined its effectivity in this experiment. An experiment by using Randomized Block Design bifactor, which are dosage of suspension and suspension saving period before it was going to be added into the soaking water of Transvaal daisy cut flower. Respons of variable which analyzed are vase life, petal blooming capacity, dynamics of fresh weight relative and water absorpsiton relative 2-days. The result showed that dosage a 50 mLL-1 of suspension and three months saving period was the best compare to another respons variable.

Key words: cut flower preservative, dosage suspension

ABSTRAK

Pemanfaatan bahan pengawet sebagai upaya meningkatkan kualitas bunga potong herbras kultivar Ornella adalah efektif. Bahan pengawet yang diformulasi dari senyawa sukrosa + asam sitrat + lisol + asam oksiasetat yang telah dibuat menjadi bentuk sediaan suspensi dengan penambahan penyuspensi cmc, akan dikaji keefektifannya dalam percobaan ini. Percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok dwi faktor, yaitu takaran suspensi dan lama suspensi tersimpan yang akan ditambahkan ke dalam air perendam sebelum bunga potong tersebut diperagakan. Peubah yang diamati adalah umur peragaan, diameter mekar maksimum, dinamika perkembangan bobot segar relatif dan serapan air relatif 2-harian. Hasil percobaan menunjukkan bahwa takaran suspensi 50 mLL-1 dan tersimpan tiga bulan adalah terbaik terhadap semua peubah yang diamati.

(3)

PENDAHULUAN

Permintaan domestik Indonesia akan bunga potong semakin meningkat dari tahun ke tahun, terutama di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan, dan Denpasar (BPEN, 2007), hal ini diprediksi seiring dengan meningkatnya pendapatan dan peradaban masyarakat. Bunga potong herbras (Gerbera jamesonii) adalah salah satu jenis bunga potong yang digemari semua golongan masyarakat karena tingginya keragaman warna, dan harga yang relatif terjangkau . Umumnya konsumen menghendaki bunga potong berkualitas baik, antara lain diameter mekar bunga lebih lebar, warna yang tidak cepat pudar, dan umur peragaan yang panjang. Perbedaan umur peragaan tiap jenis bunga potong dengan bahan dekoratif lainnya, seringkali menjadi kendala bagi produsen dalam menata suatu rangkaian.

Upaya pengelolaan pascapanen bunga potong dengan maksud meningkatkan kualitas bunga potong itu selama masa peragaan telah dikaji oleh beberapa peneliti sebelumnya (Iriani, 2006). Beberapa peneliti sependapat bahwa kualitas bunga potong dapat ditingkatkan melalui upaya perendaman dalam bahan pengawet sejak bunga dipotong hingga tiba di jaringan pemasaran (Acedo dan Kanlayanarat, 2001). Hasil penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa bahan pengawet yang diformulasi dari senyawa sukrosa + asam sitrat + lisol adalah efektif meningkatkan kualitas bunga potong herbras kultivar Ornella, terutama umur peragaan yaitu meningkat sebesar 29 % dibandingkan jika direndam dalam larutan tanpa bahan pengawet (Iriani, 2009a). Kualitas umur peragaan tersebut ternyata masih dapat ditingkatkan lagi menjadi 38 % jika formula pengawet itu ditambahkan senyawa asam oksiasetat (Iriani, 2009b). Bahan pengawet yang diformulasi dari senyawa sukrosa + asam sitrat + lisol + asam oksiasetat telah dibuat menjadi bentuk suspensi dengan penambahan senyawa penyuspensi jenis karboksi metil selulosa (kms) selama masa simpan sampai dengan tiga bulan adalah stabil sifat fisika-kimianya (Iriani, 2010).

(4)

Bagaimana keefektifan suspensi pengawet yang diformulasi dari empat jenis senyawa kimia dan telah ditambahkan senyawa penyuspensi jenis kms itu terhadap peningkatan kualitas bunga potong herbras merupakan tujuan dari percobaan ini. Hasil kajian yang diperoleh akan menginformasikan bahwa suspensi pengawet yang telah dibuat layak dikomersialisasikan sehingga diharapkan dapat memacu industri florikultura Indonesia.

BAHAN DAN METODA

Percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok dwi faktor, yaitu penggunaan suspensi dengan empat taraf lama simpan: (0 bulan) (w0), 1 bulan (w1), 2 bulan (w2), atau 3 bulan

(w3), dan tiga taraf takaran suspensi: 50 % di bawah optimum (t1), takaran optimum *(t2), dan

takaran 50 % di atas optimum (t3) yang dilarutkan dalam 1 L akuades sebagai air perendam

bunga potong herbras selama 15 jam. Masing-masing kombinasi perlakuan diulang tiga kali yang terdiri atas tiga tangkai bunga. Kriteria keseragaman contoh bunga potong herbras adalah, panjang tangkai 30-50cm, dan kondisi bunga mekar berdiameter 6 - 7 cm.

Dari percobaan ini telah dikumpulkan berbagai data peubah tanaman, yaitu umur peragaan (hsp), diameter mekar maksimum (cm), perkembangan bobot segar relatif 2-harian (%) dan perkembangan serapan air relatif 2-harian ( g.g.-1). Data penunjang diukur pH larutan pengawet (Lampiran 1.) dan suhu ruang rata-rata harian, yaitu24 0C.Data umur peragaan dan diameter mekar maksimum, diuji dengan sidik ragam menurut Rancangan Acak Kelompok (Gasperz, 1991) dan dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil pada taraf 5%. Dinamika peningkatan kualitas bunga potong, diamati melalui perkembangan bobot segar relatif 2- harian (BSR) dan serapan air relatif 2-harian (SAR) yang diperoleh melalui rumus berikut (Setyadjid et al, 2004).

---

(5)

BSR = W t

Wt−2 x 100 %

Wt = bobot segar bunga potong (g) pada hari ke 3, 5, 7,…

Wt-2 = bobot segar bunga potong (g) pada hari ke t-2

SAR = St-2 - St

Wt-2

St = bobot air dalam jambangan (g) pada hari ke 3,5,7,…

St-2 = bobot air dalam jambangan (g) pada hari ke t-2

Wt-2 = bobot segar bunga potong (g) pada hari ke t-2

Hasil perhitungan BSR dan SAR kemudian diuji menurut sidik regresi model kuadratik (Gasperz, 1995). Kurva yang diperoleh diperbandingkan dengan uji kesejajaran keberimpitan (Draper dan Smith, 1981).

HASIL DAN PEMBAHASAN

Umur peragaan dan diameter mekar maksimum

Umur peragaan dan diameter mekar maksimum hanya dikendalikan oleh takaran suspensi. Perendaman dalam larutan bersuspensi pengawet pada takaran 50 mLL-1 (setara takaran optimum yang diformulasi dari senyawa sukrosa + asam sitrat + lisol + asam oksiasetat sebelum ditambahkan penyuspensi kms) memberikan efek yang lebih baik terhadap umur peragaan dan diameter mekar maksimum bunga potong herbras. Umur peragaan bunga potong herbras meningkat sebesar 71 % jika dibandingkan dengan perendaman dalam larutan tanpa pengawet atau akuades saja. Umur peragaan dan diameter mekar maksimum bunga potong herbras yang direndam dalam larutan suspensi pengawet diduga lebih dikendalikan oleh peran senyawa sukrosa sebagai sumber energi, sedangkan senyawa asam oksiasetat diperkirakan berperan dalam mencegah percepatan rusaknya membran sel akibat serangan mikroba pada dasar tangkai bunga (Iriani, 2009b)).

(6)

Tabel 1. Umur peragaan dan diameter mekar maksimum bunga potong herbras yang direndam dalam larutan suspensi pengawet bervariasi takaran dan lama simpan.

Keterangan: Efek T teruji nyata untuk tiap peubah yang diamati. Masing-masing angka yang diikuti oleh huruf kecil yang sama arah vertikal tidak berbeda menurut uji BNT=0,05.

Lebih tingginya angka umur peragaan dan diameter mekar maksimum yang dicapai akibat perendaman dalam larutan suspensi pengawet daripada jika direndam dalam akuades saja, tidak begitu berarti dibandingkan dengan deskripsi bunga potong herbras kultivar Ornella yang digunakan (Lampiran 2). Hal itu disebabkan oleh banyak faktor terutama selama kultivar tersebut berada di pertanaman, antara lain tanaman tidak berasal dari benih atau rizoma unggul herbras kultivar Ornella melainkan hasil perbanyakan vegetatif yang berulang (kebun sudah 5 tahun mengalami regenerasi), status gizi, pengairan, dan lingkungan green house yang kurang optimal. Namun, pertambahan panjang umur peragaan dan ukuran diameter mekar maksimum yang dicapai dalam percobaan ini cukup bermakna, mengingat herbras merupakan tanaman sub tropis yang tidak menginginkan kehadiran cahaya berlebih seperti yang terjadi jika ditanam di daerah tropis.

Peubah yang diamati

Takaran suspensi (T)

Lama simpan suspensi (W) (bulan) Rerata semua lama simpan 0 1 2 3 Umur peragaan 25 mLL-1 50 mLL-1 75 mLL-1

………hari setelah panen (hsp)……… 11,33 11,33 11,33 11,00 12,01 11,67 12,67 11,67 11,00 9,33 10,67 9,33 ……hsp….. 11,25 b 12,01 c 10,08 a Diameter mekar maksimum 25 mLL-1 50 mLL-1 75 mLL-1 ………..cm……….. 9,37 9,13 8,87 9,27 9,23 9,30 9,17 9,33 8,80 8,40 8,80 8,70 ……cm….. 9,16 y 9,26 y 8,68 x

(7)

Dinamika serapan air dan penurunan bobot segar relatif

Gambar 1. dan Gambar 2. berikut, masing-masing menyajikan perkembangan serapan air relatif dan bobot segar relatif 2-harian bunga potong herbras. Berdasarkan ke dua gambar itu dapat disimpulkan bahwa perendaman dalam larutan suspensi pengawet pada takaran 50 mLL-1 atau 25 mLL-1 memberikan efek yang lebih baik daripada takaran 75 mLL-1. Hasil itu sejalan dengan data umur peragaan dan diameter mekar maksimum. Tidak tercapainya peningkatan kualitas akibat meningkatnya takaran sebesar 75 mLL-1 diduga disebabkan oleh konsentrasi yang terlalu tinggi, mengakibatkan pH larutan perendam menjadi sangat rendah, yaitu nilai pH berkisar 3,12 sampai 3,41 sedangkan pH air perendam selanjutnya atau selama bunga potong herbras diperagakan, yaitu 8,32. Kondisi perubahan nilai pH yang mendadak pada air perendam mengakibatkan bunga potong herbras mengalami cekaman sehingga terjadi gejala pembengkokan leher tangkai (bent neck syndrome). Pembengkokan leher tangkai pada bunga potong merupakan kondisi yang umum ditemukan, disebabkan oleh ketidaklancaran translokasi air dan linarut ke seluruh jaringan (Durso dan Boodlley, 1979) sehubungan dengan terhalangnya sistem vaskuler di dasar tangkai akibat akumulasi mikroba jika nilai pH larutan perendam  5 (Conrado et al., 1980) sehingga mengakibatkan munculnya gejala senesens. Selain itu, konsentrasi bahan pengawet yang terlalu tinggi menyebabkan linarut berada pada zona penghambatan menurut teori toleransi Shelford (1913, dikutip oleh Salisbury dan Ross, 1995) sehingga sel berada pada taraf keracunan dan berakhir dengan senesens yang dipercepat .

Selain itu terjadi pemanjangan tangkai bunga dan perubahan warna bunga yang semakin gelap (menjadi oranye tua) selama diperagakan akibat sebelumnya direndam dalam larutan suspensi pengawet bertakaran 75 mLL-1 sehingga kelopak bunga lebih cepat layu, dan serbuk

(8)

____ Yt1 = 0,5350 - 0,0473x + 0,0015x2 R2 = 0,9022** ____ Yt2 = 0,5376 - 0,0533x + 0,0017x2 R2 = 0,8613** ____ Yt3 = 0,5199 - 0.0557x + 0,0018x2 R2 = 0,8212* ____ Yt1 = 0,5727 - 0,0655x + 0,0023x2 R2 = 0,8649** ____ Yt2 = 0,5501 - 0,0567x + 0,0019x2 R2 = 0,9064** ____ Yt3 = 0,5256 - 0,0613x + 0,0024x2 R2 = 0,7470* Matriks perbandingan

antar kurva: Yt1 Yt2

Yt2 /

Yt3 / //

Matriks perbandingan

antar kurva: Yt1 Yt2

Yt2 / Yt3 / // ____ Yt1 = 0,6602 - 0,0827x + 0,0032x2 R2 = 0,9913** ____ Yt2 = 0,6903 - 0,0753x + 0,0024x2 R2 = 0,8869** ____ Yt3 = 0,6545 - 0,0817x + 0,0032x2 R2 = 0,9403** ____ Yt1 = 0,6413 - 0,0717x + 0,0024x2 R2 = 0,9423** ____ Yt2 = 0,5394 - 0,0457x + 0,0016x2 R2 = 0,9539** ____ Yt3 = 0,5817 - 0,0637x + 0,0021x2 R2 = 0,9621** Matriks perbandingan antar kurva:

Keterangan: / sejajar dan berhimpit // sejajar dan tidak berhimpit

* berbeda pada taraf uji 0,05 ** berbeda pada taraf uji 0,01

Yt1 Yt2 Yt2 // Yt3 / // Matriks perbandingan antar kurva: t1 = takaran 25 mLL-1 t2 = takaran 50 mLL-1 t3 = takaran 75 mLL-1 Yt1 Yt2 Yt2 / Yt3 // /

Gambar 1. Efek perendaman dalam larutan suspensi pengawet bervariasi lama simpan dan takaran terhadap perkembangan SAR bunga herbras.

0 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 1 3 5 7 9 11 S era p an a ir re latif (g .g ^ -1) hari

(a) SAR bunga herbras dengan lama simpan suspensi nol bulan 0 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 1 3 5 7 9 11 S era p an a ir re la ti f (g .g ^ -1) hari

(b) SAR bunga herbras dengan lama simpan suspensi satu bulan 0 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 1 3 5 7 9 11 S er ap an a ir r el at if ( g .g ^ -1) hari

(c) SAR bunga herbras dengan lama simpan suspensi dua bulan

0 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 1 3 5 7 9 11 Se ra p a n a ir re la ti f (g .g ^ -1) hari

(d) SAR bunga herbras dengan lama simpan suspensi tiga bulan

(9)

____ Yt1 = 107,1415 - 8,7477x + 0,3919x2 R2 = 0,9668** ____ Yt2 = 105,2624 - 5,4906x + 0,1417x2 R2 = 0,9661** ____ Yt3 = 104,7142 - 4,6724x + 0,1111x2 R2 = 0,9313** ____ Yt1 = 104,3924 - 5,0769x + 0,1213x2 R2 = 0,9583** ____ Yt2 = 104,9221 - 4,5854x + 0,0043x2 R2 = 0,9572** ____ Yt3 = 105,1130 - 5,5437x + 0,1273x2 R2 = 0,9697 Matriks perbandingan

antar kurva: Yt1 Yt2

Yt2 /

Yt3 x x

Matriks perbandingan

antar kurva: Yt1 Yt2

Yt2 / Yt3 / / ____ Yt1 = 105,7521 - 5,0006x + 0,0177x2 R2 = 0,9741** ____ Yt2 = 105,8534 - 5,9877x + 0,1581x2 R2 = 0,9322** ____ Yt3 = 105,2830 - 6,8810x + 0,2077x2 R2 = 0,9612** ____ Yt1 = 104,3902 - 5,0769x + 0,1213x2 R2 = 0,9583** ____ Yt2 = 104,9252 - 4,5854x + 0,0043x2 R2 = 0,9572** ____ Yt3 = 105,1145 - 5,5437x + 0,1273x2 R2 = 0,9697** Matriks perbandingan antar kurva: Keterangan : / berhimpit // sejajar x tidak sejajar

* berbeda pada taraf uji 0,05

Yt1 Yt2 Yt2 / Yt3 // // Matriks perbandingan antar kurva: t1 = takaran 25 mLL-1 t2 = takaran 50 mLL-1 t3 = takaran 75 mLL-1 * * berbeda pada taraf uji 0,01

Yt1 Yt2 Yt2 /

Yt3 / /

Gambar 2. Efek perendaman dalam larutan suspensi pengawet bervariasi lama simpan dan takaran terhadap perkembangan BSR bunga herbras

0 20 40 60 80 100 120 1 3 5 7 9 11 B o b o t se g ar r el at if ( %) hari

(a) BSR bunga herbras dengan lama simpan suspensi nol bulan 0 20 40 60 80 100 120 1 3 5 7 9 11 B o b o t se g ar r el at if ( %) hari

(b) BSR bunga herbras dengan lama simpan suspensi satu bulan 0 20 40 60 80 100 120 1 3 5 7 9 11 Bo b o t se g ar re latif (% ) hari

(c) BSR bunga herbras dengan lama simpan suspensi dua bulan 0 20 40 60 80 100 120 1 3 5 7 9 11 Bo b o t se g ar re latif (% ) hari

(d) BSR bunga herbras dengan lama simpan suspensi tiga bulan

(10)

sari segera rontok, akibat energi yang semula diharapkan untuk mempertahankan mekar bunga tetapi dialihkan untuk dimanfaatkan dalam proses pemanjangan tangkai dan proses pematangan seluruh organ atau jaringan.

Penurunan bobot segar relatif bunga herbras yang lebih lambat adalah akibat perendaman dalam larutan pengawet bertakaran 50 mLL-1, yaitu tersisa 55 % pada ke-11 hsp kemudian diikuti oleh takaraan 25 mLL-1, yaitu tersisa 34 % pada ke-11 hsp. Angka persentase yang diperoleh itu, mendukung data panjang umur peragaan dan tampilan fisik bunga potong herbras pada ke-11 hsp. Dengan demikian, efek larutan suspensi pengawet bertakaran 50 mLL-1 yang ditambahkan dalam larutan perendam mampu menstimulasi faktor internal bunga potong herbras agar mempertahankan kesegarannya. Hasil percobaan sejalan dengan pendapat Pate (1976) bahwa setiap linarut yang membawa nutrisi berbeda akan masuk ke lintasan translokasi dalam xilem dengan masing-masing perbedaan gradien konsentrasi sehingga akan mempengaruhi tingkat serapan linarut itu, dan tanggap jaringan terhadap masukan linarut bervariasi setiap jam, umur fisiologis jaringan, siklus metabolisme, status gizi, dan tingkat keparahan sel akibat kondisi cekamam.

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

1) Perendaman tangkai bunga potong herbras dalam larutan berisi suspensi pengawet yang diformulasi dari senyawa sukrosa + asam sitrat + lisol + asam oksiasetat + kms pada takaran 50 mLL-1 yang telah disimpan tiga bulan adalah efektif meningkatkan kualitas bunga potong itu,

2) Peningkatan kualitas bunga potong herbras yang direndam dalam larutan pengawet yang telah dibuat dalam bentuk sediaan suspensi adalah lebih baik daripada yang direndam dalam larutan pengawet sebelum dibuat menjadi bentuk sediaan suspensi (meningkat sebesar 38 %) atau yang direndam dalam akuades saja (meningkat sebesar 71 %).

(11)

Saran

Perlu dikaji lebih lanjut mengenai suspensi tersimpan lebih dari tiga bulan dan bagaimana efeknya terhadap peningkatan kualitas bunga potong herbras.

DAFTAR PUSTAKA

Acedo, A.L., and Kanlayanarat. 2001. Handling system for ornamental crops. Post harvest handling system of agricultural products. Division of Postharvest Technol. King Mangkut Univ. of Technol. Thonbury, Bangkok.

BPEN. 2007. Prospek bisnis anggrek masih menjanjikan. Melalui < http://www.nafed.go.id/indo > [20/01/07]

Conrado, L.L., R.Shanahan, and W.Eisinger. 1980. Effects of pH, osmolarity, and oxygen on solution uptake by cut rose flowers. J.Amer.Soc.Hort.Sci. 105(5): 680 – 683.

Durso, M., and J.W.Boodlley. 1979. The relation of water stress to bent neck in Roses. HortScience.14(6): 68.

Draper, N., and H.Smith. 1981. Applied regression analysis. 2nd ed. John Wiley and Sons, Singapore.

Gaspersz, V. 1991. Teknik analisis dalam penelitian percobaan. Jilid 1. Penerbit Tarsito, Bandung.

Gaspersz, V. 1995. Teknik Analisis dalam penelitian percobaan. Jilid 2. Penerbit Tarsito, Bandung.

Iriani, F. 2006. Keefektifan bahan pengawet terhadap peningkatan kualitas bunga potong. Wawasan Tridharma. Majalah Ilmiah Kopertis Wilayah IV. No.10 Th XVIII. h. 21-24. Iriani, F. 2009a. Formulasi bahan dasar larutan pengawet bunga potong krisan, anyelir,

herbra. J.Agrikultura Vol. 20. No.1. April 2009. Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran, Bandung. h. 55-61.

Iriani, F. 2009b. Formulasi bahan dasar lengkap larutan pengawet bunga potong herbra. J.Agria. Vol 5 No. 2 Pebruari 2009. h. 19-23.

Iriani, F. 2010. Formulasi suspensi pengawet bunga potong herbras (Gerbera jamesonii). Prosiding seminar nasional hasil penelitian bidang pertanian. Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya, Palembang. Oktober 2010. h. 105-112

(12)

Nell, T.A, J.F.Barrett, and R.Stamps. 1982. Water relations and wilt of leatherleaf fern. Abstract: 389. HortScience. 17(3): 527.

Pate, J.S. 1976. Nutrients and metabolites of fluids recovered from xylem and phloem : Significance in relation to long-distance transport in plants. p. 253-281. In J.B. Passioura, and I.F.Wardlaw (ed.). Transport and transfer processes in plants. Acad.Press, Inc., New York.

Salisbury, F.B., and C.W. Ross. 1995. Fisiologi tumbuhan. Jilid 3.

Terjemahan D.R, Lukman dan Sumaryono. Penerbit ITB Press, Bandung.

Setyadjit., D.C.Joice, D.E. Irving, and D.H. Simons. 2004. Effects of 6-benzylaminopurine treatments ont the longevity of harvested Grevillea ‘Sylvia’ inflorescences. Plant Growth Regulation 43: 9-14.

LAMPIRAN

Lampiran 1. Nilai pH larutan suspensi pengawet sebagai larutan perendam bunga potong erbras (setelah dicampur dengan akuades).

Kombinasi Perlakuan Nilai pH

t1w0 t1w1 t1w2 t1w3 t2w0 t2w1 t2w2 t2w3 t3w0 t3w1 t3w2 t3w3 4,10 3,91 3,90 3,75 3,88 3,80 3,78 3,63 3,79 3,67 3,60 3,54

Lampiran 2. Deskripsi bunga potong herbra (Gerbera jamesonii) kultivar Ornella.

No. Deskripsi Kriteria

1. 2. 3. 4. Famili Genus Spesies

Jumlah warna petal

Asteraceae

Gerbera jamesonii

(13)

5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16.

Jumlah grup petal

Warna bagian terluar petal Warna bagian tengah petal Bagian terdalam petal Warna sepal

Warna stamen Warna tangkai bunga Tipe jumlah kuntum Bidang simetri petal

Umur berbunga (asal biakan vegetatif) Diameter petal

Umur peragaan

Tiga Oranye

Oranye dan kuning di bagian ujung Kuning muda

Hijau Kuning

Hijau dan berbulu halus tunggal simetri 8 – 10 minggu 11 – 12 cm 10 – 11 hari Sumber: Everbloom.com, 2005 Lenbushroses.com, 2005 Ombrello, 2004 Sunshinefloral.com, 2005

Gambar

Tabel 1. Umur peragaan dan diameter mekar maksimum bunga potong herbras yang                    direndam dalam larutan suspensi pengawet bervariasi takaran dan lama simpan
Gambar 1. Efek perendaman dalam larutan suspensi pengawet   bervariasi lama simpan dan                     takaran terhadap perkembangan SAR bunga herbras
Gambar 2. Efek perendaman dalam larutan suspensi pengawet bervariasi lama simpan dan                    takaran terhadap perkembangan BSR bunga herbras

Referensi

Dokumen terkait

Dengan adanya masukan dari anggota KKG maka pengurus KKG, KKKS, dan UPTD Pendidikan kecamatan Loano dapat menentukan kebijakan yang dapat mengoptimalkan peran KKG dalam

B. Dana Bantuan Pemerintah Pengelolaan Pengetahuan dan Inovasi Desa Dana Bantuan Pemerintah PPID merupakan dana operasional kegiatan yang dialokasikan di kecamatan dan digunakan

Dengan adanya program PNPM GSC ini, peneliti percaya bahwa dengan adanya pemberdayaan masyarakat khususnya dalam peningkatan pendidikan dan kesehatan yang menitikberatkan

 DD untuk kegiatan yang belum prioritas (penyelenggaraan pemerintahan desa dan pembinaan lembaga kemasyarakan)..  Konflik lokal desa menghambat pelaksanaan kegiatan

“Ada hubungan antara fasilitas belajar yang tersedia di dalam kelas dengan minat belajar mahasiswa”. Kuliah 5 &amp; 6 Æ page

1) Mengikuti pelatihan petugas Listing SE2016. 2) Turut berpartisipasi dalam mensosialisasikan kegiatan SE2016. 3) Memberikan penjelasan tentang maksud, tujuan dan manfaat

Tujuan penelitian ini adalah untuk menggambarkan self efficacy mahasiswa terhadap matematika dalam kegiatan pembelajaran yang berbasis lesson study.. Penelitian ini

Bila dikaitkan dengan hasil penelitian Bentler dan Speackart (1979) yang mengatakan bahwa perubahan perilaku dapat diprediksi dari sikap seseorang terhadap produk