KESELAMATAN KERJA
25 sep 2012
DASAR HUKUM K3
(UU NO.1 Tahun 1970, tentang Keselamatan Kerja)
Pasal
Pasal 13 :13 : “
“ BarangsiapaBarangsiapa akanakan memasukimemasuki sesuatusesuatu tempattempat kerja
kerja, , diwajibkandiwajibkan mentaatimentaati semuasemua petunjukpetunjuk kerja
kerja, , diwajibkandiwajibkan mentaatimentaati semuasemua petunjukpetunjuk keselamatan
keselamatan kerjakerja dandan memakaimemakai alatalat--alatalat perlindungan
perlindungan diridiri yang yang diwajibkandiwajibkan””
(UU No.13 Tahun 2003, tentang Ketenaga-kerjaan)
Pasal 87 :
“Setiap perusahaan wajib menerapkan sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja yang terintegrasi dengan sistem manajemen perusahaan
Kerugian Akibat Kecelakaan
Kerugian Langsung (direct cost)
- Biaya Pengobatan dan Kompensasi Contoh: Cedera – Cacat - Kematian - Kerusakan Sarana Produksi
- Kerusakan Sarana Produksi
Contoh: Rugi produksi terhenti, hilang pelanggan,dll
Kerugian Tidak Langsung (indirect cost)
- Kerugian Jam Kerja - Kerugian Produksi - Kerugian Sosial
Aspek Ekonomi K3 (1)
K3 dan Produktivitas
Setiap Pekerjaan , Proses & Produk memiliki persyaratan kualitas (mutu) dan kuantitas. Ketentuannya adalah
spesifikasi teknis, ukuran, Keselamatan
Produktifitas
spesifikasi teknis, ukuran, volume, kapasitas atau waktu.
Keselamatan
Aspek Ekonomi K3 (2)
K3 dan Pengendalian Kerugian
K3 tidak hanya Kecelakaan/cedera pada manusia.
Tetapi menyangkut sarana produksi dan aset. Tetapi menyangkut sarana produksi dan aset. Salah satu tujuan K3 adalah mencegah dan mengendalikan kerugian (Loss Control
Kecelakaan
SSuatu peristiwa yang tidak diinginkan dan tidak diduga, yang SS
kejadiannya dapat menyebabkan timbulnya bencana atau kerugian. Manusia Task Produk / Jasa Manusia (People) Lingkungan Kerja (Environment) Peralatan (Equipment)
Terjadinya Kecelakaan
Kecelakaan terjadi karena adanya kontak antara
suatu sumber energi (mekanis, kinetis, fisis) yang dapat menyebabkan cedera pada manusia, alat atau lingkungan. (F Bird, D Viner; Konsep Energi)
ENERGI ENERGI
Pembatas (Barrier)
Kecelakaan terjadi karena energi yang lepas dari penghalangnya mencapai penerima (recepient).
Cedera atau kerusakan terjadi karena energi yang diterima melampaui
ketahanan atau nilai ambang
Teori Domino Kecelakaan
Penyebab kecelakaan berdasar Heinrich
Unsafe act (tindakan tidak aman) & Unsafe Condition (Kondisi
tidak aman)
1. Lack of Control
2. Penyebab tidak langsung (Basic Cause)
3. Penyebab langsung (Immediate Cause) 4. Accident/Incident 5. Injury/Loss
Filosofi Kecelakaan
Apakah Kecelakaan dapat dicegah?
Setiap Kecelakaan ada penyebabnya. Tidak ada kejadian apapun yang tanpa sebab sebagai
pemicunya pemicunya
Jika faktor penyebab dihilangkan, maka dengan sendirinya kecelakaan dapat dicegah
Pendekatan Pencegahan Kecelakaan
Pendekatan Energi
1. Pengendalian Sumber Bahaya 2. Pendekatan pada jalan energi 3. Pengendalian pada Penerima 3. Pengendalian pada Penerima
ENERGI
ENERGI Penerima
Pendekatan Pencegahan Kecelakaan
ENERGI ENERGI Penerima 1 2 3 -Mengurangi tingkat kebisingan mesin -Modifikasi mesin-Peredam suara mesin
-Memasang dinding kedap suara -Menjauhkan manusia dari mesin -Mengurangi waktu paparan
Pendekatan Pencegahan Kecelakaan (2)
Pendekatan Manusia
Berdasar statistik 85% kecelakaan karena faktor manusia.
Dengan program K3 (Training, Pengawasan, Inspeksi K3, Audit, Safety Working practices)
K3, Audit, Safety Working practices)
Pendekatan Teknis
Pendekatan teknis menyangkut kondisi fisik, peralatan, material, proses dan lingkungan yang tidak aman.
Upaya keselamatan, antara lain:
- Rancang bangun (peralatan, instalasi sesuai syarat) - Sistem pengaman (tutup mesin, sistem instrumentasi) - Sistem Administrasi (jam kerja, alat K3, prosedur,dll) - Pendekatan Manajemen (SMK3)
K3
TEORI MASLOW (ABRAHAM
MASLOW)
Social Need - Equality, Acceptance, dll EGO Need Self Actualization Physiological Need- Lapar, Haus, Istirahat, dll
- Keselamatan belum menjadi perhatian Security Need
- Safety, Kenyamanan, Perlindungan - K3 menjadi perhatian
- Equality, Acceptance, dll - Belonging, dll
Safety Application
Keselamatan Mainan (toy safety)
Keselamatan di Rumah (home safety) Keselamatan Jalan Raya (road safety)
Keselamatan Bahan Kimia (chemical safety) Keselamatan Bahan Kimia (chemical safety) Keselamatan di Sekolah (school safety)
SMK3
Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja
(SMK3)
Menurut Kepmenaker 05 tahun 1996, SMK3 adalah bagian dari sistem manajemen secara keseluruhan yang meliputi struktur organisasi, perencanaan,
tanggung jawab, pelaksanaan, prosedur, proses dan tanggung jawab, pelaksanaan, prosedur, proses dan sumber daya yang dibutuhkan bagi pengembangan, penerapan, pencapaian, pengkajian dan pemeliharaan kebijakan keselamatan dan kesehatan kerja dalam
pengendalian resiko yang berkaitan dengan kegiatan kerja dalam pengendalian resiko yang berkaitan
dengan kegiatan kerja guna terciptanya tempat kerja yang aman , efisien dan produktif.
SMK3
Merupakan pengelolaan K3 secara sistematis dan
komprehensif dalam suatu sistem manajemen yang utuh melalui proses perencanaan, penerapan,
Tujuan SMK3
Alat ukur kinerja K3 dalam organisasi
Pedoman implementasi K3 dalam organisasi Dasar penghargaan (awards)
Sertifikasi Sertifikasi
Dalam sertifikasi lahirlah, OHSAS 18000
OHSAS 18000
OHSAS 18001 pertama kali diperkenalkan 1999. Disempurnakan tahun 2007.
OHSAS 18000 terdiri dari:
- OHSAS 18001 sebagai standar/persyaratan - OHSAS 18001 sebagai standar/persyaratan SMK3
- OHSAS 18002 sebagai pedoman pengembangan dan penerapannya
KESELAMATAN KERJA
2 Oktober 2012
Proses SMK3
Sistem Manajemen SMK3 terdiri dari 2 unsur:
Proses Manajemen
Elemen-Elemen Implementasinya
Proses Manajemen menjelaskan bagaimana sistem Proses Manajemen menjelaskan bagaimana sistem
manajemen tsb. Dijalankan atau digerakkan.
Elemen implementasi merupakan komponen-komponen kunci yang terintegrasi satu dengan lainnya membentuk satu kesatuan manajemen.
1. Kebijakan K3 Perencanaan
2. Identifikasi Bahaya, Penilaian dan Pengendalian 3. Persyaratan legal dan lainnya
3. Persyaratan legal dan lainnya 4. Objektif dan Program K3
Implementasi dan Operasi
5. Sumberdaya, peran, tanggung jawab, wewenang 6. Kompetensi, pelatihan dan kepedulian
7. Komunikasi, partisipasi, dan konsultasi 7. Komunikasi, partisipasi, dan konsultasi 8. Dokumentasi
9. Pengendalian Dokumen 10. Pengendalian Operasi 11. Tanggap Darurat
Pemeriksaan
12. Pengukuran Kinerja dan pemantauan 13. Evaluasi pemenuhan
14. Penyelidikan insiden, ketidaksesuaian, koreksi dan 14. Penyelidikan insiden, ketidaksesuaian, koreksi dan
pencegahan
15. Pengendalian rekaman 16. Audit internal
SMK3 dan OHSAS 18001
SMK3 dan OHSAS 18001 dan sistem manajemen
lainnya tidak perlu dipertentangkan, karena semuanya memiliki tujuan yang sama.
Menurut UU no. 13 tahun 2003 tentang
ketenagakerjaan (pasal 87), “Setiap perusahaan ketenagakerjaan (pasal 87), “Setiap perusahaan wajib menerapkan sistem manajemen K3 yang
terintegrasi dengan manajemen perusahaan”.
Dari UU diatas, tidak disebutkan sistem K3 apa
yang diterapkan, yang penting penerapan Sistem K3.
Pedoman Penerapan (sesuai Kepmenaker 05/1996)
1. Komitmen dan Kebijakan 2. Perencanaan
(Perancangan identifikasi bahaya, penilaian dan pengendalian resiko, peraturan perundangan, tujuan & sasaran, indikator kinerja, perencanaan awal)
3. Penerapan
(Jaminan kemampuan, kegiatan pendukung, identifikasi sumber bahaya)
4. Pengukuran dan Evaluasi
SMK3 Disnaker Penghargaan Peringkat OHSAS 18001 SMK3
Perusahaan Apakah Sudah Memenuhi Kriteria?
Integrasi K3 dalam Manajemen
Perusahaan
Integrasi K3 dalam Manajemen
Perusahaan
Bahan Baku Proses Bisnis/Unit Bisnis
Perundangan K3 SMK3 Pemangku Kepentingan/Kebijakan Produk Modal Sales Manusia Teknologi Te kn ik P ro d uk si En g in e e ri ng S a le s D a n La in ny a Laba Dampak K3 Upah Pajak
Integrasi K3 dalam Manajemen
Perusahaan (2)
Aspek K3 adalah dalam semua aspek / seluruh proses
organisasi. Misal:
- Fungsi produksi, menjamin kelancaran operasi, khususnya aspek keselamatan dan kesehatan.
- Fungsi Engineering, aspek K3 telah dipertimbangkan dalam rancang bangun atau proses produksi yang
- Fungsi Engineering, aspek K3 telah dipertimbangkan dalam rancang bangun atau proses produksi yang
bersifat teknis.
- Fungsi SDM, aspek K3 menjadi pertimbangan dalam pengelolaan SDM, sejak proses penerimaan,
Jika sudah diterapkan SMK3,
Mengapa masih terjadi kecelakaan?
1. Kualitas Penerapan SMK3-SMK3 Virtual - elemen SMK3 ada, namun tidak ada sistem pengamanan dan pengendalian resiko.
- SMK3 salah arah (misguided) – salah arah langkah
pencegahan. Isu atau potensi bahaya yang bersifat kritis, menjadi terlewatkan.
menjadi terlewatkan.
- SMK3 acak (random) – sudah memiliki langkah
pencegahan dan pengendalian, namun elemen K3 bersifat acak, dan tidak memiliki keterkaitan satu dengan lainnya. - SMK3 komprehensif (Comprehensive) – elemen K3
dikembangkan berdasar hasil identifikasi resiko, dilanjutkan penetapan langkah pencegahan dan pengamanan, serta diikuti manajemen yang baikz
Jika sudah diterapkan SMK3,
Mengapa masih terjadi kecelakaan?
2. Faktor Eksternal
- Bencana (disaster)
“Managing Safety is like fighting a geurilla war, in “Managing Safety is like fighting a geurilla war, in
Contoh Kebijakan K3
Sesuai Visi & Misi Perusahaan, PT. Pantang Mundur yang bergerak dalam jasa konstruksi, memiliki komitmen untuk memberikan yang terbaik kepada stake holder.
Untuk tujuan tersebut, maka manajemen akan terus meningkatkan kinerja dengan menerapkan SMK3 sesuai dengan SMK3 Kepmenaker ... Dan OHSAS 18001 secara berkesinambungan melalui upaya berikut:
- menjamin kesesuaian SMK3 dengan persyaratan perundangan dan standar yang berlaku. - menerapkan SMK3 yang terintegrasi dengan manajemen perusahaan.
- menerapkan program K3 melalui identifikasi bahaya dan pengendalian resiko. - menyediakan prosedur dan instruksi tertulis untuk menjamin sistem kerja aman. - menyediakan prosedur dan instruksi tertulis untuk menjamin sistem kerja aman. - melakukan pembinaan K3 bagi karyawan dan mitra kerja.
- membangun komitmen dan partisipasi seluruh karyawan, mitra kerja dan unit kerja lain di lingkungan PT. Pantang Mundur.
- membudayakan K3 dilingkungan PT. Pantang Mundur.
Kebijakan ditinjau setahun sekali, mengikuti tinjauan manajemen SMK3 seperti dalam manual ini.
Direktur Utama, Paijo
PROSE MANAJEMEN RESIKO
1. Penentuan Konteks 2. Identifikasi Resiko 3. Analisa Resiko 4. Evaluasi Resiko 4. Evaluasi Resiko 5. Pengendalian Resiko 6. Komunikasi1. KEBIJAKAN K3
Kriteria:
1. Sesuai dengan sifat dan skala resiko K3 organisasi. 2. Komitmen.
3. Didokumentasikan, diimplentasikan dan dipelihara. 3. Didokumentasikan, diimplentasikan dan dipelihara. 4. Dikomunikasikan.
2. PERENCANAAN SMK3
Identifikasi Bahaya (Hazards Identification)
Penilaian Resiko (Risk Assesment)
Penentuan Pengendalian (Risk Control)
Menurut OHSAS 18001 Perencanaan
- Identifikasi Bahaya, Penilaian dan Pengendalian - Persyaratan legal dan lainnya
Kerugian PEME
HAZARDs INCIDENT MANAGEMENTSAFETY
HIRARC
HIRARC
HIRARC
HIRARC
Hazards Identification Risk Assesment Risk Control
Keseluruhan HIRARC disebut Manajemen Resiko
HIRARC merupakan elemen pokok Sistem manajeman HIRARC merupakan elemen pokok Sistem manajeman K3. HIRARC harus dilakukan diseluruh aktifitas organisasi untuk menentukan kegiatan organisasi yang mengandung potensi bahaya dan menimbulkan dampak serius terhadap K3.
Objektif/ Target HI RA RC Risk Management Program Kerja Pemantauan / Management Review
Proses Manajemen Resiko
Menentukan Konteks Identifikasi Bahaya Analisa Resiko K om un ik a si d a n K on su lt a si Pem a nt a ua n d a n Ti nj a u U la ng Penilaian Resiko Pengendalian Resiko Evaluasi Resiko K om un ik a si d a n K on su lt a si Pem a nt a ua n d a n Ti nj a u U la ngIdentifikasi Bahaya
Identifikasi Bahaya adalah upaya sistematis untuk mengetahui potensi bahaya yang ada di
lingkungan kerja.
Dengan mengetahui sifat dan karakter bahaya, kita Dengan mengetahui sifat dan karakter bahaya, kita
dapat lebih berhati-hati, waspada dan melakukan tindakan pengamanan agar tidak terjadi
kecelakaan.
Metode Identifikasi Bahaya dan Penilaian Resiko Harus:
-Dibuat dengan memperhatikan Lingkup identifikasi bahaya yang dilakukan, bentuk dan waktu. Untuk memastikan agar proaktif ketimbang reaktif.
Metode Identifikasi Bahaya
Aspek: Lingkup identifikasi, bentuk identifikasi (kualitatif atau kuantitatif) dan waktu pelaksanaan identifikasi.
Metode Pasif
Kita mengetahui jika kita mengalaminya. (misal terperosok, kesetrum,dll)
Metode Semi Proaktif Metode Semi Proaktif
Belajar dari pengalaman orang lain. Tapi tidak semua bahaya diketahui atau pernah menimbulkan dampak. Tidak semua dilaporkan.
Metode Proaktif
Mencari Bahaya sebelum bahaya itu menimbulkan akibat atau dampak negatif. Misal: data kejadian, daftar periksa, brainstorming, What if analysis, Fault Tree Analysis, dll.
Metode Proaktif - Data Kejadian
- Daftar Periksa (check list) - Brainstorming
- Brainstorming
- What if analysis
- Hazops (Hazards and Operability Study) - Fault Tree Analysis (FTA) – Analisa Pohon
Penilaian Resiko
Setelah Identifikasi Bahaya, dilakukan peniliaian
resiko, untuk mengevaluasi besarnya resiko serta skenario dampak yang akan ditimbulkan.
Penilaian resiko digunakan sebagai langkah Penilaian resiko digunakan sebagai langkah
saringan untuk menentukan tingkat resiko ditinjau dari kemungkinan kejadian (likehood) dan
keparahan yang ditimbulkan (severity).
Contoh Likehood Kualitatif
Tingkat Uraian Contoh Rincian
A Hampir Pasti Terjadi Dapat terjadi setiap saat dalam kondisi
normal, misal: kecelakaan lalu lintas di jalan raya padat.
B Sering Terjadi Terjadi beberapa kali dalam periode
waktu tertentu, misal kecelakaan kereta waktu tertentu, misal kecelakaan kereta api.
C Dapat Terjadi Risiko dapat terjadi namun tidak sering.
Misal: Jatuh dari ketinggian di lokasi proyek
D Kadang-kadang Kadang-kadang terjadi. Misal:
Kebocoran instalasi nuklir
E Jarang sekali Terjadi dalam keadaan tertentu. Misal:
Contoh Severity Kualitatif
Tingkat Uraian Contoh Rincian
1 Tidak Signifikan Kejadian tidak menimbulkan kerugian
atau cedera pada manusia
2 Kecil Menimbulkan cedera ringan, kerugian
kecil dan tidak menimbulkan dampak serius terhadap kelangsungan bisnis serius terhadap kelangsungan bisnis
3 Sedang Cedera berat dan dirawat di RS, tidak
menimbulkan cacat tetap, kerugian finansial
4 Berat Menimbulkan cedera parah dan cacat
tetap. Kerugian Finansial besar, serta menimbulkan dampak serius terhadap kelangsungan usaha.
5 Bencana Mengakibatkan korban meninggal,
kerugian parah. Dapat menghentikan kegiatan usaha.
Peringkat Resiko
Kemungkinan
Konsekuensi
Tidak
Signifikan Kecil Sedang Berat Bencana
Hampir Pasti T T E E E Hampir Pasti Terjadi T T E E E Sering Terjadi S T T E E Dapat Terjadi R S T E E Kadang-kadang R R S T E Jarang sekali R R S T T
Peringkat Resiko
E- Resiko Ekstrem
Kegiatan tidak boleh dilaksanakan, atau dilanjutkan sampai resiko telah direduksi. Jika tidak mungkin, pekerjaan tidak mungkin
dilaksanakan
T-Resiko Tinggi
Kegiatan tidak boleh dilaksanakan sampai resiko telah direduksi. Kegiatan tidak boleh dilaksanakan sampai resiko telah direduksi. Apabila resiko terdapat dalam pelaksanaan pekerjaan yang masih berlangsung, maka tindakan harus segera dilakukan.
S-Resiko Sedang
Perlu tindakan untuk mengurangi resiko, tetapi biaya pencegahan yang diperlukan harus dipertimbangkan dengan teliti dan dibatasi.
R-Resiko Rendah
Resiko dapat diterima. Pengendalian tambahan tidak diperlukan. Pemantauan diperlukan untuk memastikan pengendalian telah terpelihara dan diterapkan dengan benar.
Resiko
Tingkat Resiko merupakan kombinasi antara
KEMUNGKINAN KEJADIAN dengan TINGKAT KEPARAHAN.
Misal: Misal:
Pekerja konstruksi Menara. Kemungkinan kejadian dapat terjadi (C).
Keparahan jika terjadi kecelakaan adalah kematian (5).
Pengendalian Resiko
Eliminasi Substitusi Engineering Engineering Administratif AP DPengendalian Resiko
1. Mengurangi Kemungkinan (Reduce likelihood) 2. Mengurangi Keparahan (Reduce consequences) 3. Pengalihan resiko sebagian atau seluruhnya (Risk
transfer) transfer)
Eliminasi
Teknik pengendalian dengan menghilangkan
sumber bahaya. Misal:
Lobang jalan ditutup Lobang jalan ditutup
Ceceran minyak dihilangkan
Substitusi
Teknik Pengendalian dengan mengganti alat,
bahan, sistem atau prosedur yang berbahaya dengan yang lebih aman atau lebih rendah bahayanya.
Misal:
Bahan AC, CFC yang diganti degan bahan ramah lingkungan.
Engineering
Teknik pengendalian dengan cara perbaikan pada
desain, penambahan peralatan dan pemasangan peralatan pengaman.
Misal:
Memasang peredam pada alat yang bising.
Pemasangan sistem ventilasi yang lebih baik untuk menghindari pencemaran diruang kerja.
Administratif
Pengendalian dengan cara administratif, misalnya:
Mengatur jadwal kerja Mengatur waktu istirahat
Mengatur cara kerja atau prosedur kerja yang Mengatur cara kerja atau prosedur kerja yang aman
APD
Pilihan terakhir pengendalian bahaya, dengan
memakai alat perlindungan diri.
Misal: kacamata, sarung tangan, pelindung kaki. APD merupakan langkah terakhir, karena APD
APD merupakan langkah terakhir, karena APD
bukanmencegah kecelakaan namun hanya mengurangi efek atau keparahan kecelakaan.
Misal: Pekerja memakai helm, bukan berarti bebas kejatuhan benda dari atas. Namun, jika kejatuhan, resiko keparahannya dapat dikurangi.
1. Kebijakan K3 Perencanaan 2. Identifikasi Bahaya,
Penilaian dan pengendalian
3. Persyaratan legal dan lainnya
4. Objektif dan Program K3
Implementasi & Operasi 5. Sumberdaya, peran, tanggung jawab, wewenang wewenang 6. Kompetensi, pelatihan dan kepedulian 7. Komunikasi, partisipasi, dan konsultasi 8. Dokumentasi 9. Pengendalian Dokumen 10. Pengendalian Operasi 11. Tanggap Darurat Pemeriksaan 12. Pengukuran Kinerja dan pemantauan 13. Evaluasi pemenuhan 14. Penyelidikan insiden, ketidaksesuaian, koreksi dan pencegahan 15. Pengendalian rekaman 16. Audit internal 17. Tinjauan Manajemen