BAB II TINJAUAN PUSTAKA. untuk mengetahui kemampuannya sehingga dapat melakukan suatu bentuk

29 

Loading.... (view fulltext now)

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Landasan Teori 2.1.1 Efikasi Diri

2.1.1.1 Pengertian Efikasi Diri

Gregory (2,011: 212) mendefinisikan efikasi diri sebagai keyakinan diri

untuk mengetahui kemampuannya sehingga dapat melakukan suatu bentuk

kontrol terhadap manfaat orang itu sendiri dan kejadian dalam lingkungan

sekitarnya. Menurut Bandura (1997: 3) efikasi diri adalah keyakinan akan

kemampuan individu untuk dapat mengorganisasi dan melaksanakan serangkaian

tindakan yang dianggap perlu untuk mencapai suatu hasil yang diinginkan.

Sedangkan Alwisol (2009: 287) menyatakan bahwa efikasi diri adalah penilaian

diri, apakah dapat melakukan tindakan yang baik atau buruk, tepat atau salah, bisa

atau tidak bisa mengerjakan sesuai dengan yang dipersyaratkan. Efikasi diri

adalah pertimbangan seseorang akan kemampuannya untuk mengorganisasikan

dan menampilkan tindakan yang diperlukan dalam mencapai tujuan yang

diinginkan, tidak tergantung pada jenis keterampilan dan keahlian tetapi lebih

berhubungan dengan keyakinan tentang apa yang dapat dilakukan dengan

berbekal keterampilan dan keahlian.

Menurut Ormrod (2008: 20) efikasi diri adalah penilaian seseorang

tentang kemampuannya sendiri untuk menjalankan perilaku tertentu atau

(2)

menghasilkan berbagai hasil yang bernilai positif dan bermanfaat. Menurut

Mujiadi (2003: 86) efikasi diri merupakan salah satu faktor personal yang menjadi

perantara atau mediator dalam interaksi antara faktor perilaku dan faktor

lingkungan. Efikasi diri dapat menjadi penentu keberhasilan perfomansi dan

pelaksanaan pekerjaan. Efikasi diri juga sangat mempengaruhi pola pikir, reaksi

emosional dalam membuat keputusan.

Dari beberapa pendapat dapat dikatakan bahwa efikasi diri merupakan rasa

percaya diri yang dimiliki seseorang bahwa dirinya mampu untuk menyelesaikan

tugas dengan efektif dan efisien sehingga tugas tersebut menghasilkan dampak

yang diharapkan. Efikasi diri yang merujuk pada keyakinan diri sendiri mampu

melakukan sesuatu yang diinginkannya, dapat dijadikan prediksi tingkah laku.

2.1.1.2 Sumber-sumber Efikasi Diri

Menurut Gregory (2011: 213) efikasi diri diperoleh, ditingkatkan, atau

berkurang melalui salah satu atau kombinasi dari empat sumber pengalaman

menguasai sesuatu, pengalaman vikarius, persuasi sosial, kondisi fisik dan

emosional. Dengan setiap metode, informasi mengenai diri sendiri dan lingkungan

akan diproses secara kognitif dan bersama-sama dengan kumpulan pengalaman

sebelumnya, akan mengubah persepsi mengenai efikasi diri. Menurut Bandura

(1997: 89) empat sumber efikasi diri, antara lain:

1. Pengalaman menguasai sesuatu (Master Experience)

Pengalaman menguasai sesuatu adalah sumber informasi yang paling

(3)

sehingga kesuksesan akan menaikkan efikasi atau keyakinan, dan kegagalan

akan menurunkan efikasi atau keyakinan.

2. Pengalaman vikarius (Vicarious Experience)

Pengalaman vikarius merupakan pengalaman dari orang lain yang memberi

contoh penyelesaian. Efikasi diri akan meningkat pada saat kita mengamati

pencapaian orang lain yang mempunyai kompetensi yang sama atau seimbang,

namun akan berkurang pada saat kita melihat teman kita gagal.

3. Persuasi sosial (Social Persuasion)

Persuasi sosial disebut juga umpan balik spesifik atas kinerja. Persuasi sendiri

dapat membuat mahasiswa menyerahkan usaha, mengupayakan

strategi-strategi baru, atau berusaha cukup keras untuk mencapai kesuksesan.

4. Kondisi fisik dan emosional (Arousal)

Kondisi fisik dan emosional maksudnya tingkat Arousal mempengaruhi

efikasi diri, tergantung pada Arousal itu diinterpretasikan pada saat mahasiswa

menghadapi tugas tertentu, apakah mahasiswa merasa cemas dan khawatir

(menurunkan efikasi) atau passion (bergairah) menaikkan efikasi.

Dari keempat hal tersebut dapat menjadi sarana bagi tumbuh dan

berkembangnya efikasi diri dapat diupayakan untuk meningkat dengan membuat

manipulasi melalui empat hal tersebut.

2.1.1.3 Dimensi Efikasi Diri

Menurut Bandura (1986: 78) perbedaan efikasi diri pada setiap individu

(4)

Masing-masing mempunyai implikasi penting di dalam performansi yang secara

lebih jelas dapat diuraikan sebagai berikut:

1. Tingkat kesulitan tugas (Magnitude)

Tingkat kesulitan tugas (Magnitude) yaitu suatu masalah yang berkaitan

dengan derajat kesulitan tugas individu. Komponen ini berimplikasi pada

pemilihan perilaku yang akan dicoba individu berdasar ekspektasi efikasi pada

tingkat kesulitan tugas. Individu akan berupaya melakukan tugas tertentu yang

dapat dilaksanakannya dan akan menghindari situasi atau perilaku di luar

batas kemampuannya.

2. Kekuatan keyakinan (Strength)

Kekuatan keyakinan (Strength), yaitu berkaitan dengan kekuatan pada

keyakinan individu atas kemampuannya. Pengharapan yang kuat dan mantap

pada individu akan mendorong untuk gigih dalam berupaya mencapai tujuan,

walaupun mungkin belum memiliki pengalaman-pengalaman yang

menunjang. Sebaliknya pengharapan yang lemah dan ragu-ragu akan

kemampuan diri akan mudah digoyahkan oleh pengalaman-pengalaman yang

tidak menunjang.

3. Generalitas (Generality)

Generalitas (Generality), yaitu hal yang berkaitan dengan cakupan luas bidang

tingkah laku dimana individu merasa yakin terhadap kemampuannya. Individu

dapat merasa yakin terhadap kemampuan dirinya, tergantung pada

pemahaman kemampuan dirinya yang terbatas pada serangkaian aktivitas dan

(5)

Jadi perbedaan efikasi diri pada setiap individu terletak pada tiga

komponen, yaitu Magnitude (tingkat kesulitan tugas), yaitu masalah yang

berkaitan dengan derajat kesulitan tugas individu, Strength (kekuatan keyakinan),

yaitu berkaitan dengan kekuatan pada keyakinan individu atas kemampuannya,

dan Generality (generalitas), yaitu hal yang berkaitan cakupan luas bidang tingkah

laku dimana individu merasa yakin terhadap kemampuannya. Dari ketiga

komponen dalam efikasi diri tersebut terdapat pengaruh positif terhadap minat

untuk berwirausaha.

2.1.2 Motivasi Berwirausaha

2.1.2.1 Pengertian Motivasi Berwirausaha

Kata motivasi berasal dari bahasa latin “movere” yang artinya

menimbulkan pergerakan. Motif didefinisikan sebagai kekuatan yang terdapat

dalam diri organisme yang mendorong untuk berbuat (Walgito, 2003: 220).

Menurut Sardiman (2009: 73) kata motif diartikan sebagai daya upaya yang

mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Motif dapat dikatakan sebagai

daya penggerak dari dalam dan di dalam subyek untuk melakukan

aktivitas-aktivitas tertentu demi mencapai suatu tujuan. Bahkan motif dapat diartikan

sebagai suatu kondisi intern (kesiapsiagaan). Berawal dari kata motif itu, maka

motivasi dapat diartikan sebagai daya penggerak yang telah menjadi aktif. Motif

menjadi aktif pada saat-saat tertentu, terutama bila kebutuhan untuk mencapai

tujuan sangat dirasakan/mendesak.

Menurut Mc. Donald dalam Sardiman (2009: 73), motivasi adalah

(6)

dan didahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuan. Dari pengertian yang

dikemukakan Mc. Donald ini mengandung tiga elemen penting, yaitu:

1. Bahwa motivasi itu mengawali terjadinya perubahan energi pada diri setiap

individu manusia. Perkembangan motivasi akan membawa beberapa perubahan

energi di dalam sistem neurophysiological yang ada pada organisme manusia.

Karena menyangkut perubahan energi manusia (walaupun motivasi itu muncul

dari dalam diri manusia), penampakannya akan menyangkut kegiatan fisik

manusia.

2. Motivasi ditandai dengan munculnya, rasa/feeling, afeksi seseorang. Dalam hal

ini motivasi relevan dengan persoalan-persoalan kejiwaan, afeksi dan emosi yang

dapat menentukan tingkah-laku manusia.

3. Motivasi akan dirangsang karena adaanya tujuan. Jadi motivasi dalam hal ini

sebenarnya merupakan respons dari suatu aksi, yakni tujuan. Motivasi memang

muncul dari dalam diri manusia, tetapi kemunculannya karena

terangsang/terdorong oleh adanya unsur lain, dalam hal ini adalah tujuan. Tujuan

ini akan menyangkut soal kebutuhan.

Terry & Rue (1996: 168) menyatakan motivasi menyangkut perilaku

manusia dan merupakan sebuah unsur yang vital dalam manajemen. Ia dapat

didefinisikan sebagai membuat seseorang menyelesaikan pekerjaan dengan

semangat, karena orang itu ingin melakukannya. Hasibuan (2003: 95)

mendefinisikan motivasi adalah pemberian daya penggerak yang menciptakan

kegairahan kerja seseorang, agar mereka mau bekerja sama, efektif dan

(7)

Pengertian motivasi seperti yang dikemukakan di atas mengacu pada

timbulnya dorongan. Sedangkan berwirausaha merupakan salah satu objek

pekerjaan di samping pekerjaan lain, yakni pegawai negeri atau pegawai swasta.

Dengan demikian motivasi berwirausaha diartikan sebagai tenaga dorongan yang

menyebabkan seseorang melakukan suatu kegiatan berwirausaha.

Motivasi berwirausaha adalah keadaan dalam pribadi seseorang yang

mendorong keinginan individu untuk melakukan kegiatan-kegiatan berwirausaha

guna mencapai tujuan (Handoko, 1998: 252). Lain halnya dengan Hendro (2011:

174) yang mengungkapkan bahwa sumber energi yang dibutuhkan dalam kegiatan

kewirausahaan atau kegiatan apapun adalah mempunyai semangat dan gairah

untuk mengerjakannya. Kedua-duanya adalah satu dan menjadi sumber energi

(motivasi) dalam berwirausaha.

2.1.2.2 Teori Motivasi

1. Model Hierarki Kebutuhan Maslow

Teori motivasi yang dikembangkan oleh Maslow pada intinya berkisar

pada pendapat bahwa manusia mempunyai lima tingkat atau hierarki kebutuhan,

yaitu: (1) kebutuhan fisiologikal (physiological needs), seperti: rasa lapar, haus,

istirahat dan sex; (2) kebutuhan rasa aman (safety needs), tidak dalam arti fisik

semata, akan tetapi juga mental, psikologikal dan intelektual; (3) kebutuhan akan

kasih sayang (love needs); (4) kebutuhan akan harga diri (esteem needs), yang

pada umumnya tercermin dalam berbagai simbol-simbol status; dan (5) aktualisasi

(8)

mengembangkan potensi yang terdapat dalam dirinya sehingga berubah menjadi

kemampuan nyata (Handoko, 1998: 255).

Kebutuhan-kebutuhan yang disebut pertama (fisiologis) dan kedua

(keamanan) kadang-kadang diklasifikasikan dengan cara lain, misalnya dengan

menggolongkannya sebagai kebutuhan primer, sedangkan yang lainnya dikenal

pula dengan klasifikasi kebutuhan sekunder. Terlepas dari cara membuat

klasifikasi kebutuhan manusia itu, yang jelas adalah bahwa sifat, jenis dan

intensitas kebutuhan manusia berbeda satu orang dengan yang lainnya karena

manusia merupakan individu yang unik. Kebutuhan manusia itu tidak hanya

bersifat materi, akan tetapi bersifat psikologikal, mental, intelektual dan bahkan

juga spiritual. Motivasi seorang individu sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor,

baik yang bersifat internal maupun eksternal. Termasuk pada faktor internal

adalah : (a) persepsi seseorang mengenai diri sendiri; (b) harga diri; (c) harapan

pribadi; (d) kebutuhaan; (e) keinginan; (f) kepuasan kerja; (g) prestasi kerja yang

dihasilkan (Handoko, 1998: 255).

Berangkat dari kenyataan bahwa pemahaman tentang berbagai kebutuhan

manusia makin mendalam, penyempurnaan dan koreksi dirasakan bukan hanya

tepat, akan tetapi juga memang diperlukan karena pengalaman menunjukkan

bahwa usaha pemuasan berbagai kebutuhan manusia berlangsung secara simultan.

Artinya, sambil memuaskan kebutuhan fisik, seseorang pada waktu yang

bersamaan ingin menikmati rasa aman, merasa dihargai, memerlukan teman serta

ingin berkembang. Pemikiran Maslow tentang teori kebutuhan tampak lebih

(9)

pengembangan teori-teori motivasi yang berorientasi pada kebutuhan berikutnya

yang lebih bersifat aplikatif.

2. Teori Dua Faktor

Herzberg menyimpulkan bahwa kepuasan dan ketidakpuasan kerja

bergantung pada dua faktor: faktor-faktor higienis, seperti kondisi tempat kerja,

dan faktor-faktor motivasi, seperti pengakuan atas pekerjaan yang telah

diselesaikan dengan baik. Menurut teori dua faktor, faktor higienis mengacu pada

lingkungan, sedangkan faktor motivasi berhubungan langsung dengan pekerjaan

yang dilakukan (Griffin & Ebert, 2006: 251).

3. Teori X dan Y

McGregor menyimpulkan bahwa para manajer mempunyai kepercayaan

yang sangat berbeda mengenai cara terbaik menggunakan sumber daya manusia

suatu perusahaan. Ia mengklasifikasikan keyakinan itu ke dalam serangkaian

asumsi yang ia beri label “Teori X” dan “Teori Y”. Teori X adalah teori motivasi

yang menyatakan bahwa orang-orang pada dasarnya malas dan tidak mau bekerja

sama. Teori Y adalah teori motivasi yang menyatakan bahwa orang-orang pada

dasarnya energik, berorientasi ke perkembangan, memotivasi diri sendiri, dan

tertarik untuk menjadi produktif (Griffin & Ebert, 2006: 249).

4. Teori Pengharapan

Teori pengharapan yang dikemukakan oleh Nadler dan Lawler ini

mengandung dua anggapan penting, yaitu:

1. Manusia senantiasa berusaha ke arah tercapainya apa yang diinginkan atau

(10)

tidak tergantung kepada keyakinannya apakah dengan tindakan itu mereka

akan berhasil atau tidak mencapai tujuan itu.

2. Dalam proses memilih tindakan apa yang akan diambil dalam mencapai

tujuan itu manusia memang mempunyai kesukaan terhadap tindakan mana

yang paling baik baginya berdasar perkiraan hasil yang mungkin diperoleh

dari tindakan yang diambilnya.

Sesuai pendapat Nadler dan Lawler bahwa tingkat motivasi seseorang sangat

ditentukan oleh fungsi pengharapan yang digantungkannya kepada perilaku

tertentu yang ditampilkannya (seperti apabila seseorang bekerja keras tentu akan

diikuti dengan kenaikan gaji) dan nilai subyektif yang diberikannya terhadap hasil

tindakannya itu. Kuat tidaknya nilai subyektif itu tergantung keadaan apakah

seseorang itu memang menginginkan hasil yang lain umpamanya jenis pekerjaan

yang lebih gampang atau yang lebih menarik (Zainun, 1989: 53).

5. Teori Keadilan

Teori yang dikemukakan oleh Skinner dan Pavlov ini mendasarkan diri

kepada satu anggapan bahwa kebanyakan manusia terpengaruh dengan situasi

seperti penghasilan yang berimbang dibanding dengan penghasilan kelompok lain

yang sederajat, sehingga seorang karyawan dapat saja membatasi produk kerjanya

setelah melihat bagaimana teman sebelahnya menghasilkan produk itu. Menurut

teori ini, yang paling menentukan kinerja karyawan adalah rasa adil atau tidaknya

keadaan di lingkungan kerja karyawan itu. Tingkat keadilan itu dapat diukur

dengan rasio antara kerja dan upah yang diterima seorang karyawan lain dalam

(11)

2.1.2.3 Jenis Motivasi

Adapun jenis motivasi menurut Davis & Strom dalam Tama (2010: 39)

adalah prestasi, afiliasi, kompetensi, dan kekuasaan.

1. Motivasi prestasi (achievement motivation) adalah dorongan dalam diri

seseorang untuk mengatasi segala tantangan dan hambatan dalam mencapai

tujuan. Entrepreneur yang berorientasi dan bekerja keras apabila mereka

memandang bahwa mereka akan memperoleh kebanggaan pribadi atas upaya

mereka, apabila hanya terdapat sedikit risiko gagal, dan apabila mereka mendapat

balikan spesifik tentang prestasi diwaktu lalu.

2. Motivasi afiliasi (affiliation motivation) adalah dorongan untuk berhubungan

dengan orang-orang atas dasar sosial. Orang-orang yang bermotivasi afiliasi

bekerja lebih baik apabila mereka dipuji karena sikap dan kerja sama mereka yang

menyenangkan.

3. Motivasi kompetensi (competence motivation) adalah dorongan untuk mencapai

keunggulan kerja, meningkatkan keterampilan dalam memecahkan masalah, dan

berusaha keras untuk inovatif. Umumnya mereka cenderung melakukan pekerjaan

dengan baik karena kepuasan batin yang mereka rasakan dari melakukan

pekerjaan itu dan penghargaan yang diperoleh dari orang lain.

4. Motivasi kekuasaan (power motivation) adalah dorongan untuk mempengaruhi

orang-orang dan mengubah situasi. Orang-orang yang bermotivasi kekuasaan

ingin menimbulkan dampak dan mau memikul risiko untuk melakukan hal itu.

Hal utama yang menyebabkan seseorang melakukan kegiatan wirausaha adalah

(12)

2.1.2.4 Dimensi Motivasi Berwirausaha

Susanto dalam Srimulyani (2014: 2) mengemukakan beberapa motivasi

yang dapat mendorong seseorang untuk menjadi wirausaha yaitu: keberhasilan

diri yang dicapai, toleransi akan risiko, dan keinginan merasakan kebebasan

dalam bekerja.

1. Keberhasilan diri yang dicapai

Lingkungan yang dinamis menyebabkan seorang entrepreneur

menghadapi keharusan untuk menyesuaikan dan mengembangkan diri agar

keberhasilan dapat dicapai. Seorang entrepreneur bukan saja mengikuti perubahan

yang terjadi dalam dunia usaha tapi perlu berubah seseringkali dan dengan cepat

memiliki pemikiran yang inovatif dan berorientasi pada masa depan.

Menurut Ranto (2007: 20) keberhasilan berwirausaha tidaklah identik

dengan seberapa berhasil seseorang mengumpulkan uang atau harta serta menjadi

kaya, karena kekayaan bisa diperoleh dengan berbagai cara sehingga

menghasilkan nilai tambah. Berusaha lebih dilihat dari bagaimana seseorang bisa

membentuk, mendirikan, serta menjalankan usaha dari sesuatu yang tadinya tidak

berbentuk, tidak berjalan atau mungkin tidak ada sama sekali. Seberapa pun

kecilnya ukuran suatu usaha jika dimulai dari nol dan bisa berjalan dengan baik

maka nilai berusahanya jelas lebih berharga daripada sebuah organisasi besar

yang dimulai dengan bergelimang fasilitas.

Keberhasilan diri sebagai salah satu wakil dari motivasi untuk menjadi

entrepreneur karena mempercayai bahwa orang-orang mungkin akan termotivasi

(13)

kemungkinan lebih besar untuk berhasil dari pada bekerja untuk orang lain untuk

mendapatkan hasil yang berharga. Salah satu faktor penting dan menjadi daya

penggerak bagi seseorang untuk menjadi entrepreneur adalah keinginannya untuk

memenuhi kebutuhanya untuk berhasil serta menjauhi kegagalan. Jika seseorang

memiliki kebutuhan tinggi untuk berhasil, maka orang tersebut akan bekerja keras

dan tekun belajar.

Sementara itu, keberhasilan usaha baru tergantung pada keadaan

perekonomian nasional pada saat bisnis diluncurkan. Keberhasilan berwirausaha

sebagai pendorong keinginan seseorang untuk menjadi entrepreneur, karena

persepsi keberhasilan sebagai hasil menguntungkan atau berharap untuk berakhir

melalui pencapaian tujuan dari usahanya. Artinya, jika seseorang mencapai tujuan

usaha yang diinginkan melalui prestasi, ia akan dianggap berhasil. Indikator

keberhasilan yang sesungguhnya bukanlah apa yang dicapai, tetapi apa yang

dirasakan. Agar sukses atau berhasil, kita harus menjadi bahagia.

Banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan usaha para pengusaha

baik yang bersal dari internal maupun eksternal. Faktor internal lebih banyak

berasal dari pengusaha itu sendiri diantaranya adalah: latar belakang pendidikan,

usia, pengalaman, motivasi dan masalah internal lainnya. Faktor eksternal

dihadapkan kepada permasalahan di luar organisasi diantaranya: lingkungan,

peluang, persaingan, sistem informasi global, dan masalah eksternal lainnya

(14)

2. Toleransi akan risiko

Setiap pekerjaan mengandung risiko dan tantangan yang berbeda-beda.

Setiap wirausaha dapat melaluinya tergantung bagaimana cara pandang individu

tersebut pada tantangan atau risiko yang dihadapi. Individu ketika memulai usaha

harus mengetahui terlebih dahulu peluang dan risiko yang ditimbulkan oleh usaha

tersebut, setelah itu individu tersebut harus berusaha mengatasi hambatan dan

tantangan yang ada untuk mencapai kesuksesan.

Menurut Meredith dalam Purwinarti & Ninggarwati (2013: 41)

menyatakan bahwa beberapa risiko yang mungkin terjadi dari suatu usaha bisa

bermacam-macam, mulai dari risiko yang bersifat umum dalam bentuk keuangan,

risiko sosial dan risiko kejiwaan, hingga risiko yang terjadi terhadap badan atau

fisik. Dalam menghadapi risiko tersebut, seorang wirausaha harus

mempertimbangkan daya tarik dari setiap alternatif yang ada, sejauh mana

bersedia menanggung risiko, kemungkinan akan keberhasilan dan kegagalannya,

serta kemampuannya untuk meningkatkan keberhasilan dan mengurangi

kegagalannya, dengan demikian wirausaha menghadapi segala risiko dengan

perencanaan yang sangat profesional dan matang.

Dalam pengambilan keputusan, pelaku bisnis atau seorang entrepreneur

sebaiknya mempertimbangkan tingkat toleransi akan adanya risiko. Seorang

entrepreneur dapat dikatakan riskaverse (menghindari risiko) dimana mereka

hanya mau mengambil peluang tanpa risiko, dan seorang entrepreneur dikatakan

risklover (menyukai risiko) dimana mereka mengambil peluang dengan tingkat

(15)

lurus dengan tingkat pengembalianya. Apabila Anda menginginkan pengembalian

atau hasil yang tinggi, Anda juga harus menerima tingginya tingkat risiko. Setiap

individu memiliki tingkat toleransi yang berbeda-beda terhadap risiko, ada yang

senang dengan risiko dengan tingkat pengembalian yang diinginkan dan ada yang

takut akan risiko.

Praag & Cramer secara eksplisit mempertimbangkan peran risiko dalam

pengambilan keputusan seseorang untuk menjadi seorang entrepreneur. Rees &

Shah menyatakan bahwa perbedaan pendapatan pada pekerja individu yang bebas

(entrepreneur) adalah tiga kali lipat dari yang didapat oleh individu yang bekerja

pada orang lain, dan menyimpulkan bahwa toleransi terhadap risiko merupakan

sesuatu yang membujuk untuk melakukan pekerjaan mandiri (entrepreneur).

Douglas & Shepherd menggunakan risiko yang telah diantisipasi sebagai alat

untuk memprediksi keinginan seseorang untuk menjadi entrepreneur, dinyatakan

semakin toleran seseorang dalam menyikapi suatu risiko, semakin besar insentif

orang tersebut untuk menjadi entrepreneur (Sitanggang, 2012: 16).

Persepsi terhadap risiko berbeda-beda tergantung kepada kepercayaan

seseorang, kelakuan penilainan dan perasaan dan juga termasuk faktor-faktor

pendukungnya, antara lain latar belakang pendidikan, pengalaman praktis di

lapangan, karakteristik individu, kejelasan informasi, dan pengaruh lingkungan

sekitar (Sitanggang, 2012: 16).

Menurut Sitanggang (2012: 16) terdapat perbedaan persepsi tentang risiko

(16)

a. Faktor-faktor yang mempunyai efek merugikan terhadap kesuksesan

pelaksanaan proyek secara finansial maupun ketepatan waktu, dimana faktor

waktu itu sendiri tidak selalu dapat diidentifikasi.

b. Sesuatu keadaan secara fisik, kontrak maupun finansial menjadi lebih sulit

daripada yang telah disetujui dalam kontrak.

c. Kesempatan untuk membuat keuntungan diatas kontrak, dimana kepuasan

klien, harga kontrak, dan waktu penyelesaian diutamakan.

d. Suatu kondisi dimana peristiwa-peristiwa yang tidak direncanakan terjadi.

Menurut Suryana (2003: 14) seorang entrepreneur harus mampu

mengambil risiko yang moderat, artinya risiko yang diambil tidak terlalu tinggi

dan tidak terlalu rendah. Keberanian menghadapi risiko yang didukung komitmen

yang kuat, akan mendorong seorang entrepreneur untuk terus berjuang mencari

peluang sampai memperoleh hasil. Hasil-hasil itu harus nyata atau jelas, dan

merupakan umpan balik bagi kelancaran kegiatannya.

Sebagai seorang wirausaha kita tidak boleh mengambil risiko yang tidak

perlu dan harus dapat menguasai emosi dalam mengambil risiko jika

keuntungannya diperkirakan sama atau bahkan lebih besar daripada risiko yang

terkandung. Dalam beberapa hal, kita harus menggunakan intuisi dalam menilai

tindakan apa saja yang mengandung risiko karena intuisi akan dapat turut

menentukan sampai sejauh mana risikonya dan hasil apa saja yang mungkin

diperoleh.

Kemauan dan kemampuan untuk mengambil risiko merupakan salah satu

(17)

akan sukar memulai atau berinisiatif. Menurut Bajaro dalam Suryana (2003: 14),

seorang wirausaha yang berani menanggung risiko adalah orang yang selalu ingin

jadi pemenang dan memenangkan dengan cara yang baik.

Pengambilan risiko berkaitan dengan kepercayaan diri sendiri. Artinya,

semakin besar keyakinan seseorang pada kemampuan sendiri, maka semakin

besar keyakinan orang tersebut akan kesanggupan mempengaruhi hasil dan

keputusan, dan semakin besar pula kesediaan seseorang untuk mencoba apa yang

menurut orang lain sebagai risiko. Oleh karena itu, pengambil risiko ditemukan

pada orang-orang yang inovatif dan kreatif yang merupakan bagian terpenting dari

perilaku kewirausahaan (Suryana, 2003: 14).

3. Keinginan merasakan kebebasan dalam bekerja

Kebebasan untuk menjalankan usaha merupakan keuntungan lain bagi

seorang entrepreneur. Hasil survey dalam bisnis berskala kecil tahun 1991

menunjukkan bahwa 38% dari orang-orang yang meninggalkan pekerjaannya di

perusahaan lain karena mereka ingin menjadi bos atas perusahaan sendiri.

Beberapa entrepreneur menggunakan kebebasannya untuk menyusun kehidupan

dan perilaku kerja pribadinya secara fleksibel. Kenyataannya banyak seorang

entrepreneur tidak mengutamakan fleksibilitas disatu sisi saja. Akan tetapi

mereka menghargai kebebasan dalam karir kewirausahaan, seperti mengerjakan

urusan mereka dengan cara sendiri, memungut laba sendiri dan mengatur jadwal

sendiri (Hendro & Chandra, 2006: 18).

Schermerhorn mengatakan terdapat ciri-ciri khas yang dikaitkan dengan

(18)

dalam mencapai keberhasilan, selalu tergerak untuk bertindak secara pribadi

dalam mewujudkan tujuan menantang, memiliki toleransi terhadap situasi yang

tidak menentu, cerdas dan percaya diri dalam menggunakan waktu yang luang.

Dalam suatu penelitian di Inggris menyatakan bahwa motivasi seseorang

membuka bisnis adalah 50% ingin mempunyai kebebasan dengan berbisnis

sendiri, hanya 18% menyatakan ingin memperoleh uang dan 10% menyatakan

jawaban membuka bisnis untuk kesenangan, hobi, tantangan atau kepuasan

pribadi dan melakukan kreativitas. Sedangkan penelitian di Rusia 80%

menyatakan mereka membuka bisnis karena ingin menjadi bos dan memperoleh

otonomi serta kemerdekaan pribadi (Alma, 2007: 40).

Beberapa alasan merasakan pekerjaan bebas dijadikan sebagai motivasi

seseorang untuk menjadi entrepreneur yaitu fleksibel waktu, tidak perlu

mendapatkan tekanan dari atasan atau perusahaan dan pendapatan yang lebih

besar. Hakim dalam Machendrawaty (2001: 49) mengemukakan sejumlah nilai

positif bagi mereka yang menjalani wirausaha. Pertama, mereka tidak tergantung

kepada ada atau tidaknya lowongan kerja, karena mereka sendirilah yang

membuka lapangan kerja. Kedua, entrepreneur tidak diperintah oleh orang lain, ia

bisa "bos" bagi orang lain atau menjadi "bos" bagi dirinya sendiri. Ketiga,

entrepreneur memiliki peluang penghasilan yang tak terbatas. Keempat, entrepreneur mengatur diri sendiri, jam kerja, liburan, besar penghasilan dan

sebagainya. Kelima, mempunyai wawasan dan pergaulan yang luas. Keenam, bisa

mengembangkan gagasan sepenuhnya tanpa mendapat hambatan yang berarti dari

(19)

2.1.3 Minat Berwirausaha

2.1.3.1 Pengertian Minat Berwirausaha

Minat adalah suatu rasa lebih suka dan rasa ketertarikan pada suatu hal

atau aktivitas tanpa ada yang menyuruh. Minat pada dasarnya merupakan

penerimaan akan suatu hubungan antara diri sendiri dengan sesuatu di luar diri

semakin kuat atau dekat hubungan tersebut semakin besar minat (Slameto, 2010:

180). Menurut Winkel (2004: 650) minat yaitu kecenderungan yang menetap pada

seseorang untuk merasa tertarik pada suatu bidang tertentu dan merasa senang

dalam berbagai kegiatan yang berkaitan dengan bidang itu sendiri. Sedangkan

menurut Walgito (2004: 51) minat merupakan suatu keadaan dimana individu

menaruh perhatian pada sesuatu dan disertai dengan keinginannya untuk

mengetahui dan mempelajari serta membuktikan lebih lanjut mengenai situasi

tersebut.

Menurut Purwanto (2006: 56) minat adalah perbuatan yang berpusat

kepada suatu tujuan dan merupakan suatu dorongan bagi perbuatan itu sendiri.

Dalam diri manusia terdapat motif yang mendorong manusia untuk berinteraksi

dengan dunia luar. Menurut Kasmir (2008: 38) minat atau bakat ada dan dapat di

timbulkan dalam diri seseorang. Artinya, ketertarikan pada suatu bidang sudah

tertanam dalam dirinya. Minat juga dapat tumbuh setelah dipelajari dari berbagai

cara. Namun, seseorang yang memiliki minat dari dalam atau bakat dari keturunan

akan lebih mudah dan lebih cepat beradaptasi dalam mengembangkan usahanya.

Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa minat berwirausaha

(20)

hal daripada hal lainnya dengan aktif melakukan kegiatan yang menjadi objek

kesukaannya. Keinginan yang timbul dalam diri individu tersebut dinyatakan

dengan suka atau tidak suka, terhadap suatu keinginan yang akan memuaskan

kebutuhan. Minat berwirausaha dapat dikembangkan dan ditumbuhkan karena

pengaruh lingkungan sekitarnya. Munculnya minat ini biasanya ditandai dengan

adanya dorongan atau motif, perhatian, rasa senang, kemampuan dan kecocokan

atau kesesuaian.

2.1.3.2 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Minat Berwirausaha

Menurut Nurwahid dalam Nurkhan (2005: 14) minat bertalian erat dengan

perhatian, maka faktor-faktor tersebut adalah pembawaan, suasana hati atau

perasaan, keadaan lingkungan, perangsang dan kemauan. Minat merupakan

sesuatu hal yang sangat menentukan dalam setiap usaha, maka minat perlu

ditumbuh kembangkan pada diri setiap mahasiswa. Minat tidak dibawa sejak

lahir, melainkan tumbuh dan berkembang sesuai dengan faktor-faktor yang

mempengaruhinya seperti:

1. Faktor Intrinsik adalah faktor-faktor yang timbul karena pengaruh rangsangan

dari dalam diri individu itu sendiri.

a. Pendapatan

Penghasilan yang diperoleh seseorang baik berupa uang maupun barang.

Berwirausaha dapat memberikan pendapatan yang dapat digunakan untuk

memenuhi kebutuhan hidupnya. Keinginan untuk memperoleh pendapatan

(21)

b. Harga Diri

Berwirausaha digunakan untuk meningkatkan harga diri seseorang, karena

dengan usaha tersebut seseorang akan memperoleh popularitas, menjaga

gengsi, dan menghindari ketergantungannya terhadap orang lain.

c. Perasaan Senang

Perasaan adalah suatu keadaan hati atau peristiwa kejiwaan seseorang,

baik perasaan senang atau tidak senang. Perasaan erat hubungannya

dengan pribadi seseorang, maka tanggapan perasaan senang berwirausaha

akan memunculkan minat berwirausaha.

2. Faktor Ekstrinsik adalah faktor-faktor yang mempengaruhi individu karena

pengaruh rangsangan dari luar.

a. Lingkungan Keluarga

Minat berwirausaha akan terbentuk apabila keluarga memberikan

pengaruh positif terhadap minat tersebut, karena sikap dan aktivitas

sesama anggota keluarga saling mempengaruhi baik secara langsung

maupun tidak langsung.

b. Lingkungan Masyarakat

Merupakan lingkungan di luar lingkungan keluarga baik di kawasan

tempat tinggalnya maupun dikawasan lain. Misalnya seseorang yang

tinggal di daerah yang terdapat usaha warnet atau sering bergaul dengan

pengusaha warnet yang berhasil akan menimbulkan minat berwirausaha di

(22)

c. Peluang

Merupakan kesempatan yang dimiliki seseorang untuk melakukan apa

yang dinginkannya atau menjadi harapannya.

d. Pendidikan dan pengetahuan

Diperoleh selama duduk di bangku kuliah dan merupakan modal dasar

yang digunakan untuk berwirausaha, serta keterampilan yang diperoleh

selama duduk di bangku kuliah terutama dalam mata kuliah praktek

kewirausahaan.

Mudjiarto dan Aliaras (2005: 42) menyatakan bahwa bahwa umumnya orang

berminat membuka usaha sendiri karena beberapa alasan berikut ini:

1. Mempunyai kesempatan untuk memperoleh keuntungan.

2. Memenuhi minat dan keinginan pribadi.

3. Membuka diri untuk berkesempatan menjadi bos bagi diri sendiri.

4. Adanya kebebasan dalam manajemen.

Steinhoff dalam Suryana (2010: 55) menyatakan bahwa ada tujuh alasan mengapa

seseorang berminat terhadap kegiatan kewirausahaan, yakni:

1. Ingin memiliki penghasilan yang tinggi.

2. Ingin memiliki karier yang memuaskan.

3. Ingin bisa mengarahkan diri sendiri/tidak diatur oleh orang lain.

4. Ingin meningkatkan prestise diri sebagai pemilik bisnis.

5. Ingin menjalankan ide atau konsep yang dimiliki secara bebas.

6. Ingin memiliki kesejahteraan hidup dalam jangka panjang.

(23)

2.1.3.3 Dimensi Berwirausaha

Pada literatur kewirausahaan, faktor terpenting yang membentuk minat

berwirausaha adalah faktor psikologis. Beberapa faktor psikologis menjelaskan

pola bertindak melalui minat seseorang dalam memilih untuk berwirausaha (Sagiri

dan Appolloni, 2009: 77). Faktor-faktor psikologis ini terdiri atas penentuan nasib

sendiri (self-determination), kemampuan menghadapi risiko (risk-bearing ability),

serta kepercayaan dan sikap (belief and attitude) dan dijelaskan sebagai berikut:

1. Penentuan Nasib Sendiri (Self-determination), penentuan nasib sendiri

merupakan keyakinan seseorang bahwa orang tersebut mempunyai

kebebasan atau otonomi dan kendali tentang bagaimana mengerjakan

pekerjaannya. Self determination merupakan anggapan bahwa suatu

pekerjaan tidak membutuhkan satu perasaan seseorang yang memiliki

peluang untuk menggunakan inisiatif dan mengatur tingkah laku

dalam mengerjakan pekerjaan mereka. Dalam pandangan humanistik,

self determination (penentuan diri) merupakan sesuatu yang aktif

yang mana terdapat self aware ego dan memiliki kesadaran diri (self

consciousness).

2. Kemampuan Menghadapi Risiko (Risk bearing ability), risiko adalah

sesuatu yang selalu dikaitkan dengan kemungkinan terjadinya

keadaan yang merugikan dan tidak diduga sebelumnya bahkan bagi

kebanyakan orang tidak menginginkannya. Kemampuan menghadapi

risiko merupakan salah satu faktor penting dalam menciptakan usaha

(24)

psikologis, finansial, maupun sosial. Seorang wirausaha harus mampu

mengatasi berbagai risiko yang dihadapi agar dapat memperoleh

imbalan atas usaha-usaha yang telah dilakukannya, terutama imbalan

finansial yang sering diidentifikasikan sebagai wujud kesuksesan

seorang wirausaha. Dengan kata lain, risk bearing ability merupakan

kemampuan seorang wirausaha untuk mengatasi berbagai risiko yang

akan dihadapi dalam upaya mencapai kesuksesan suatu usahanya.

3. Kepercayaan dan Sikap (Belief and attitude), perilaku seseorang

sangat dipengaruhi oleh kepercayaan dan sikap yang dimiliki

seseorang. Kepercayaan dan sikap individu terhadap keinginan

pribadi untuk melakukan tindakan-tindakan. Terkait dengan minat

berwirausaha, belief and attitude berperan penting dalam diri

seseorang saat mengambil pilihan berwirausaha sebagai karir yang

akan ditekuni. Faktor ini juga dapat diterjemahkan sebagai persepsi

seseorangatas keinginan pribadi untuk melakukan tindakan-tindakan

(25)

2.2 Penelitian Terdahulu

Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu

No. Peneliti

(Tahun) Judul Penelitian

Variabel Penelitian

Teknik

Analisis Data Hasil 1. Hutasoit (2016) Pengaruh Efikasi Diri dan Pengetahuan Kewirausahaan terhadap Minat Berwirausaha pada Mahasiswa Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis USU Dependen: Minat Berwirausaha Independen: 1. Efikasi Diri 2. Pengetahuan Kewirausaha an Regresi Linear Berganda Efikasi diri dan pengetahuan kewirausahaan secara bersama-sama berpengaruh positif dan signifikan terhadap minat berwirausaha mahasiswa-mahasiswi Fakultas Ekonomi

dan Bisnis USU. 2. Handaru, dkk. (2015) Membangun intensi berwirausaha melalui Adversity Quotient, Self Efficacy, dan Need For Achievement Dependen : Intensi Berwirausaha Independen : 1. Adversity Quotient 2. Self Efficacy 3. Need For Achievement Regresi Linear Berganda Adversity quotient , Self-efficacy, dan Need for achievement berpengaruh positif terhadap intensi berwirausaha mahasiswa. 3. Yusuvy (2015) Analisis pengaruh Karakteristik Individu, Kepemimpinan, dan Motivasi terhadap Minat Berwirausaha pada mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Nusantara PGRI Kediri Dependen : Minat Berwirausaha Independen : 1. Karakteristi k Individu 2. Kepemimpi nan 3. Motivasi Regresi Linear Berganda Karakteristik individu, Kepemimpinan, dan Motivasi berpengaruh positif signifikan terhadap minat berwirausaha. 4. Bukirom, dkk. (2014) Pengaruh Pendidikan Berwirausaha dan Motivasi Berwirausaha terhadap Pembentukan Jiwa Berwirausaha Mahasiswa Dependen: Pembentukan Jiwa Berwirausaha Independen: 1. Pendidikan Berwirausah a 2. Motivasi Berprestasi Regresi Linear Berganda Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pendidikan berwirausaha dan motivasi berwirausaha mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap pembentukan jiwa entrepreneurship.

(26)

Lanjutan Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu

No. Peneliti

(Tahun) Judul Penelitian

Variabel Penelitian

Teknik

Analisis Data Hasil 5. Marini (2014) Pengaruh Self-Efficacy, Lingkungan Keluarga, dan Lingkungan Sekolah terhadap Minat Berwirausaha siswa SMK Jasa Boga Dependen: Minat Berwirausaha Independen: 1. Self-Efficacy 2. Lingkungan Keluarga 3. Lingkungan sekolah Regresi Linear Sederhana dan Regresi Linear Sederhana Terdapat pengaruh self-efficacy, lingkungan keluarga, dan lingkungan sekolah baik secara sendiri-sendiri maupun bersama-sama terhadap minat berwirausaha pada siswa SMK Jasa Boga. 6. Srimulyani (2014) Kajian Faktor-Faktor Motivasi yang Berpengaruh terhadap Minat Berwirausaha pada Mahasiswa Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi Unika Widya Mandala Madiun Dependen: Minat Berwirausaha Independen: Faktor-Faktor Motivasi Regresi Linear Berganda Faktor-Faktor Motivasi (keberhasilan diri, toleransi akan risiko, dan kebebasan bekerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap keinginan mahasiswa berwirausaha. 7. Wanto (2014) Pengaruh Kemandirian dan Motivasi Berwirausaha terhadap Minat Berwirausaha Siswa SMKN 1 Seyegan Dependen: Minat Berwirausaha Independen: 1. Kemandirian 2. Motivasi Berwirausaha Regresi Sederhana dan Regresi Linear Berganda Kemandirian dan motivasi berwirausaha secara bersama-sama meningkatkan minat berwirausaha 8. Zulianto, dkk. (2013) Pengaruh Efikasi Diri dan Pendidikan Kewirausahaan terhadap Minat Berwirausaha Mahasiswa Pendidikan Tata Niaga Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang Tahun 2013 Dependen : Minat Berwirausaha Independen : 1. Efikasi Diri 2. Pendidikan Kewirausahaa n Regresi Linear Berganda 1. Terdapat pengaruh yang signifikan antara efikasi diri terhadap minat berwirausaha. 2. Terdapat pengaruh yang tidak signifikan antara pendidikan kewirausahaan terhadap minat berwirausaha

(27)

Lanjutan Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu

No.

Peneliti

(Tahun) Judul Penelitian Variabel Penelitian

Teknik

Analisis Data Hasil 9. Widhari (2012) Analisis Faktor-Faktor yang Memotivasi Mahasiswa Berkeinginan Menjadi Wirausaha Dependen : Berkeinginan Menjadi Wirausaha Independen : Faktor-Faktor yang Memotivasi Regresi Linear Berganda Faktor-Faktor Motivasi (keberhasilan diri, toleransi akan risiko, dan kebebasan bekerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap keinginan mahasiswa berwirausaha. 10. Wulandari (2012) Pengaruh Efikasi Diri terhadap Minat Berwirausaha pada Siswa kelas XII di SMK Negeri 1 Surabaya Dependen : Minat Berwirausaha Independen: Efikasi Diri Regresi Linear Sederhana

Efikasi diri secara parsial memiliki pengaruh yang signifikan terhadap minat berwirausaha pada siswa kelas XII di SMK Negeri 1 Surabaya. Sumber : Berbagai Penelitian Terdahulu

2.3 Kerangka Konseptual

Menurut Kuncoro (2009: 52) kerangka konseptual atau kerangka

pemikiran adalah pondasi utama dimana sepenuhnya proyek penelitian ditujukan,

dimana hal ini merupakan jaringan hubungan antarvariabel yang secara logis

diterangkan dan dikembangkan dari perumusan masalah yang telah diidentifikasi

melalui proses wawancara, observasi, dan survei literatur. Pada penelitian ini

kerangka konseptual yang dijelaskan adalah variabel efikasi diri dan motivasi

berpengaruh terhadap minat berwirausaha.

2.3.1 Pengaruh Efikasi Diri Terhadap Minat Berwirausaha

Efikasi diri adalah keyakinan akan kemampuan individu untuk dapat

mengorganisasi dan melaksanakan serangkaian tindakan yang dianggap perlu

(28)

spesifik yaitu suatu pemahaman mengenai prestasi akan menjadi penentu tingkah

laku yang penting untuk masa depan. Setiap individu memiliki efikasi diri yang

berbeda-beda pada situasi yang berbeda tergantung pada kemampuan yang

menuntut, kehadiran orang lain atau saingan, keadaan fisiologis dan emosional

seperti cemas, murung, lelah, dan lain sebagaianya. Efikasi diri atau keyakinan

diri telah mempengaruhi mahasiswa, terutama dalam bidang kewirausahaan

sehingga dapat mendorong perilaku yang menghasilkan pencapaian yaitu minat

untuk berwirausaha.

2.3.2 Pengaruh Motivasi Berwirausaha Terhadap Minat Berwirausaha

Motivasi adalah keadaan dalam pribadi seseorang yang mendorong

keinginan individu untuk melakukan kegiatan-kegiatan berwirausaha guna

mencapai tujuan (Handoko, 1998: 252). Dalam berwirausaha peran motivasi

untuk berhasil menjadi sangat penting. Sebab di dalam motivasi terdapat sejumlah

motif yang akan menjadi pendorong (drive/stimulus) tercapainya keberhasilan.

Apalagi di dalam motivasi berwirausaha diperlukan daya juang untuk sukses, mau

belajar melihat keberhasilan orang lain, memiliki dorongan kuat untuk mengatasi

semua kendala dalam berwirausaha.

Minat diartikan sebagai suatu kondisi yang terjadi apabila seseorang

melihat ciri-ciri atau arti sementara situasi yang dihubungkan dengan

keinginan-keinginan atau kebutuhan-kebutuhannya sendiri. Oleh karena itu, apa yang dilihat

seseorang sudah tentu akan membangkitkan minatnya sejauh apa yang dilihat itu

mempunyai hubungan dengan kepercayaannya sendiri. Hal ini menunjukkan

(29)

(biasanya disertai dengan perasaan senang), karena itu merasa ada kepentingan

dengan sesuatu itu.

Berdasarkan uraian tersebut maka kerangka konseptual dapat dilihat

sebagai berikut:

Sumber: Bandura (1997) dan Handoko (1998)

Gambar 2.1

Kerangka Konseptual Penelitian 2.4 Hipotesis Penelitian

Menurut Sugiyono (2006: 81), “hipotesis merupakan taksiran terhadap

parameter populasi, melalui data-data sampel”. Dari kerangka konseptual di atas,

maka hipotesa yang diajukan dalam penelitian ini ialah efikasi diri dan motivasi

berwirausaha berpengaruh positif dan signifikan terhadap minat berwirausaha

mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara. Efikasi Diri (X1) Motivasi Berwirausaha (X2) Minat Berwirausaha (Y)

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :