• Tidak ada hasil yang ditemukan

On A Generalized Köthe-Toeplitz Duals

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "On A Generalized Köthe-Toeplitz Duals"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

On A Generalized Köthe-Toeplitz Duals

Sumardyono1, Supama2, dan Soeparna Darmawijaya3

1PPPPTK Matematika, [email protected]

2Mathematics Department, Gadjah Mada University, [email protected] 3Mathematics Department, Gadjah Mada University

ABSTRACT. In this paper, we generalized the notion of Kothe-Toeplitz duals of sequence space on introducing the concept sequence of sequences. Some properties of the generalized dual are obtained.

Keywords: Köthe-Toeplitz duals, Generalized dual spaces, Sequence of sequences

ABSTRAK. Pada paper ini dibahas mengenai dual Kothe-Toeplitz yang diperumum dari ruang barisan ke ruang barisan dengan suku barisan. Selain itu, akan dibahas juga mengenai sifat-sifat dari dual tersebut.

Kata Kunci: dual Kothe-Toeplitz, ruang dual yang diperumum, barisan dari barisan

1. PENDAHULUAN

Konsep ruang dual merupakan konsep penting dalam studi analisis. Salah satu bahasan mengenai dualitas suatu ruang telah disampaikan Köthe dan Toeplitz (1934), Garling (1967), dan juga Ruckle (1967) dengan memperkenalkan tipe-tipe dual ruang barisan yaitu dual-, dual-, dual-, dan dual-. Sifat-sifat dual-, dual-, dan dual- di atas juga telah dibahas oleh Kamthan & Gupta.

Berangkat dari pengertian di atas, kami memperluas konsep , dual-, dual-, dan dual- dari ruang barisan ke ruang barisan dengan suku barisan.

2. PERLUASAN DUAL KÖTHE-TOEPLITZ

(2)

Hasil kali dan penjumlahan dua barisan {xn}dan {yn} didefinisikan secara

pointwise sebagai berikut.

{xn}.{yn} = {x1, x2, x3, ...}. {y1, y2, y3, ...} = { x1.y1, x2.y2, x3.y3, ...} {xn}+ {yn} = {x1, x2, x3, ...} + {y1, y2, y3, ...}

= { x1+ y1, x2 + y2, x3 + y3, ...}

Dengan penjumlahan pointwise dan perkalian skalar, maka  menjadi ruang vektor atas C.

Himpunan semua permutasi dari N dinotasikan dengan .

Definisi 2.1 ([6], [1], [5]) Dipandang ruang vektor tak nol    maka

didefinisikan dual-, dual-, dual-, dan dual- dari  berturut-turut sebagai berikut.  = {x : x  ,

1 i xiyi , y  }  = {x : x  ,

1 i xiyi , y  }  = {x : x  ,

n i i i n 1x y sup , y  }  = {x : x  ,

1 () i xiyi , y  , dan   }

Selanjutnya, untuk setiap x = {xn}  , beberapa notasi didefinisikan sebagai berikut.

x1 = {xn}1 = x1 + x2 + x3 + ... dan x = {xn} = {x1, x2, x3, ... } . Sehingga x1  C sedang x  .

Barisan dengan entri di  dinotasikan dengan huruf kapital X = {x(n)} dengan x(n) menyatakan suku ke-n pada X.

X = {x(1), x(2), x(3), ... }

(3)

x(2) = {x21, x22, x23, ...}  

x(3) = {x31, x32, x33, ...}   ...

Dimisalkan  koleksi semua barisan X = {x(n)} dengan x(n)  . Hasil kali dan penjumlahan pada  dilakukan secara pointwise sebagai berikut.

Untuk setiap X, Y   maka

X.Y = {x(n)}. {y(n)} = { x(1).y(1), x(2).y(2), x(3).y(3), .... }

X +Y = {x(n)} + {y(n)} = { x(1) + y(1), x(2) + y(2), x(3) + y(3), .... } Dengan penjumlahan bersifat pointwise dan perkalian skalar, maka  menjadi sebuah ruang vektor atas C.

Definisi 2.2 Dipandang    sebuah ruang vektor atau ruang linear yang tak

nol. Dengan X = {x(n)} dan Y = {y(n)}, x(n), y(n)   maka didefinisikan berturut-turut,  = { X : X  ,

1 1 ) ( ) ( i i i y x   , Y   }  = { X : X  , 1 1 ) ( ) (

ii i y x   , Y   }  = { X : X  , 1 1 ) ( ) ( sup

n i i i n x y   , Y   }  = { X : X  , 1 1 ) ( ) (

ii i y x    , Y   dan    }

Selanjutnya, berturut-turut ruang  ,  ,  , dan  disebut dual-, dual-,

dual-, dan dual- dari .

Dengan mengingat bahwa untuk setiap x = {xn}  , bentuk x1 didefinisikan sebagai x1 + x2 + x3 + ... maka diperoleh sebagai berikut.

1 1 ) ( ) (

ii i y x = ... 1 ) 3 ( ) 3 ( 1 ) 2 ( ) 2 ( 1 ) 1 ( ) 1 (    y x y x y x

(4)

 1 13 12 11 13 12 11, , ,...}.{ , , ,...} {x x x y y y + 1 23 22 21 23 22 21, , ,...}.{ , , ,...} {x x x y y y + 1 33 32 31 33 32 31, , ,...}.{ , , ,...} {x x x y y y + ... = 1 13 13 12 12 11 11. , . , . ,...} {x y x y x y + 1 23 23 22 22 21 21. , . , . ,...} {x y x y x y + 1 33 33 32 32 31 31. , . , . ,...} {x y x y x y + ... = { x11y11 + x12y12 + x13y13 + ... } + { x21y21 + x22y22 + 23 23y x + ... } + { x31y31 + x32y32 + x33y33 + ... } + ... =

1 1 1 j x jy j +

j1x2jy2j +

j1 x3jy3j + ... =

 

1 1 i j xijyij

Selanjutnya dengan cara yang sama diperoleh berturut-turut.

1 1 ) ( ) (

ii i y x =

 

1 1 j i xijyij supn 1 1 ) ( ) (

n i i i y x = supn

 

1 1 j n i xijyij 1 1 ) ( ) (

ii i y x  =

 

1 1 () i j xijyi j

Dengan demikian, dual-, dual-, dual-, dan dual- dari  dapat dinyatakan kembali sebagai berikut.

Definisi 2.3 Dipandang    sebuah ruang vektor atau ruang linear yang tak

nol. Dengan X = {x(n)} dan Y = {y(n)}, x(n), y(n)   serta x(i) = {xij} dan y(i) = {yij} maka didefinisikan berturut-turut,

 = { X : X  ,

 

1 1 i j xijyij   , Y   }  = { X : X  ,

 

1 1 j i xijyij   , Y   }  = { X : X  , supn

 

1 1 j n i xijyij   , Y   }

(5)

 = { X : X  ,

 

1 1 ()

i j xijyi j   , Y   dan    }

Pandang koleksi * = {X   : X = {x(n)}, xn = {xn, 0, 0, 0, ...}, n  1} dan   * ruang vektor tak nol, maka

 

i1 j1xijyij =

i1 xiyi ,

 

j1 i1xijyij =

i1xiyi supn

 

1 1 j n i xijyij = supn

n i 1xiyi

 

i1 j1xijy(i)j =

i1xiy(i) Diperoleh bahwa.  = , = , = , = 

dengan  = {{yj} : yj  C }  , dan  = {{xj} : xj  C }

Jadi  ,  ,  , dan  merupakan suatu perluasan atau generalisasi dari  , 

,  , dan  .

Sementara, untuk koleksi ** = {X   : X = {x(1), 0, 0, 0, .... } } dan   ** ruang vektor tak nol, maka

 =  =  =  =  dengan  = {{yj} : yj  C }  , dan  = {{xj}

: xj  C }

3. BEBERAPA SIFAT PERLUASAN DUAL KÖTHE-TOEPLITZ

Pada bagian akhir ini, kami sampaikan beberapa sifat Perluasan dual Köthe-Toeplitz yang masih serupa dengan sifat-sifat pada dual Köthe-Köthe-Toeplitz.

Proposisi 3.1   

Bukti: Diambil sebarang X   maka untuk sebarang Y   diperoleh

 

j1 i1xijyij =

j1x1jy1jx2jy2jx3jy3j ... 

  

1 1 1 2 2 3 3 ... j x jy j x jy j x jy j =

 

1 1 j i xijyij =

 

1 1 i j xijyij  

(6)

Sehingga, X   .

Proposisi 3.2   

Bukti: Diambil sebarang X   maka

 

j1 i1xijyij   untuk setiap Y  .

Dengan kata lain, barisan

 

1 1

j n

i xijyij konvergen (ke suatu

bilangan kompleks).

Karena konvergen, maka barisan

 

1 1

j n

i xijyij merupakan barisan

Cauchy.

Selanjutnya, karena barisan Cauchy, maka barisan

 

1 1

j n

i xijyij

terbatas.

Dengan kata lain, untuk setiap n berlaku

 

1 1

j n

i xijyij  .

Dengan demikian diperoleh, supn

 

1 1 j n i xijyij  . Sehingga, X   . Proposisi 3.3   

Bukti: Diambil sebarang X   maka

 

i1 j1xijy(i)j   untuk setiap Y   dan setiap permutasi 

 .

Karena    maka dapat dipilih  = N sehingga diperoleh (i) = i dan

 

i1 j1xijyij  

Sehingga, X   .

Proposisi 3.4 Jika  maka  , dengan = , , , atau

Bukti: Misal    . Diambil sebarang X  .

Untuk sebarang Y   maka Y  . Lalu karena Y   sedang X  

maka berlaku

 

i1 j1xijyij   di mana xij dan yij berturut-turut adalah entri

(7)

Jadi, untuk sebarang Y   berlaku

 

1 1

i j xijyij  . Ini artinya

bahwa X  .

Jadi,   .

Untuk dual-, dual-, dan dual-, bukti serupa di atas.

Proposisi 3.5 Jika = 12 maka  = 12 dengan = , , , atau

Bukti: Dimisalkan bahwa  = 1  2 diperoleh 1, 2  .

Karena 1   maka   1 , juga karena 2   maka   2. Dengan demikian, diperoleh   

1  2 ... (i)

Di lain pihak, jika diambil sebarang X  1  2 maka X  1 dan X  2 . Dengan demikian,

 

i1 j1xijyij   untuk setiap Y  1 .... (i) dan

 

i1 j1xijyij   untuk setiap Y  2 ... (ii)

Sekarang, diambil sebarang H   = 1  2 maka H  1 atau H  2 .

Jika H  1 maka berdasarkan (i) diperoleh

 

1 1

i j xijhij   .

Jika H  2 maka berdasarkan (ii) diperoleh

 

1 1

i j xijhij   .

Karena berlaku untuk sebarang H   maka X  .

Dengan demikian, 1  2   ... (ii) Dari (i) dan (ii) maka  = 

1  2 .

Untuk dual-, dual-, dan dual-, bukti serupa di atas.

Proposisi 3.6 Jika  =

n i i 1   maka  =

n i i 1    dengan  = , , , atau 

Bukti: Untuk n = 1 maka benar bahwa  =  maka  = .

Misalkan pernyataan benar untuk n = k yaitu  =

k i i 1   maka  =

k i i 1   

Selanjutnya akan dibuktikan bahwa pernyataan benar untuk n = k + 1.  =

1 1    k i i =      

k i i 1  k+1

(8)

maka  =             1 1 k k i i

=          1 1 k k i i

=

1 1     k i i

Jadi, benar bahwa jika  =

n

i i 1   maka  =

n i i 1   

Proposisi 3.7    dengan  = , , , atau 

Bukti: Dipandang dual- berikut.

 = { X : X  ,

 

1 1

i j xijyij   , Y   }

Lalu, jika diambil sebarang Y   maka

 

1 1

i j xijyij   , X  

Pernyataan terakhir menyatakan bahwa Y  ()

Jadi,   

Untuk dual-, dual-, dan dual-, bukti serupa di atas.

Secara umum tidak berlaku  =  . Untuk ruang barisan  yang memenuhi

kesamaan  =  maka  disebut ruang sempurna (perfect space). Proposisi 3.8  =  dengan  = , , , atau 

Bukti: Untuk setiap    berlaku   

Oleh karena itu, untuk ruang barisan  berlaku   () atau 

 ... (i)

Sebaliknya, oleh karena    maka ()   atau    ...

(ii)

Dari (i) dan (ii) maka  =  .

Beberapa akibat langsung dari proposisi di atas antara lain sebagai berikut.

Proposisi 3.9 Dengan  = , , , atau  maka

(1) Untuk setiap    maka  merupakan ruang sempurna.

(2) Ruang barisan  merupakan ruang sempurna jika terdapat ruang barisan    sedemikian hingga  = 

(9)

DAFTAR PUSTAKA

Chillingworth, H.R. (1958). Generalized “dual” sequence spaces. Nederl. Akad.

Wetensch. Indag. Math. 20

Choudhary, B, dan Mishra, S.K. (1993). On Kothe-Toeplitz Duals of Certain Sequence Spaces and Their Matrix Transformations. Indian Jurnal Pure

apllied Math, 24(5): 291-301

Conway, J. B. (1990). A Course in Functional Analysis. Springer-Verlag. Garling, D.J.H. (1967). The - and -duality. Proc. Cambridge Philos. Soc. 63

Kamthan, P.K. dan Gupta, M. (1981). Sequence spaces and series. New York. Marcel Dekker, Inc.

Köthe, G. & Toeplitz. (1934). Lineare Räume mit unendlich vielen Koordinaten und Ringe unendlicher Matrizen, Jour. Reine angew. Math. 171

Royden, H. L. (1988). Real Analysis. MacMillan Publishing Company. New York.

Rudin, W. (1973). Functional analysis. New York: McGraw-Hill Book Company Wilansky, A. (1984). Summability through Fuctional Analysis. Amsterdam: North

Referensi

Dokumen terkait

Dengan model tersebut maka upaya pemberdayaan yang dilakukan sendiri merupakan solusi yang baik bagi individu untuk melakukan penilaian tugas mereka sehingga motivasi kerja

3 Penelitian yang dilakukan oleh P S Puranik pada tahun 2012 menunjukkan bahwa perencanaan produksi harus terintegrasi dengan kapasitas produksi sehingga

Penelitian ini dilatar belakangi oleh kesulitan mahasiswa dalam mempelajari ilmu Balaghah. Kesulitan tersebut muncul karena berbagai faktor, seperti sebagian besar

PENGARUH HEDONIC SHOPPING MOTIVATION TERHADAP IMPULSE BUYING PADA NIKE STORE di

Penelitian ini memiliki tujuan untuk menguji dan menganalisis pengaruh variabel ukuran Perusahaan, Jaminan, Leverage, Umur Obligasi, serta Reputasi Auditor yang

Berdasarkan uraian di atas, perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui pengaruh pemberian batang dan daun meniran terhadap hati mencit yang diinduksi oleh etanol,

Hal ini juga sejalan dengan penelitian-penelitian terdahulu diantaranya penelitian yang dilakukan oleh Rahman, G.D., dan Khairunnisa (2016) yang membuktikan bahwa nilai

Hani‟ah selaku Sekretaris Program Studi S1 Teknik Geodesi sekaligus dosen pembimbing II yang telah banyak memberikan masukan dalam penyusunan Tugas Akhir ini.. selaku dosen