REVIEW HASIL PENELITIAN ISLAM :
PERSPEKTIF EKONOMI
Judul buku : Islam, Economic, And Sociaty (Menggagas Ilmu Ekonomi Islam) Pengarang : Syed Nawad Haider Naqvi
Pernerjemah : M. Saiful Anam
Muhammad Ufuqul Mubin
Pengantar : Khurshid Ahmad
Institut of Policy Studies Islamabad, Pakistan
Penerbit : Pustaka Pelajar
Tahun : Cetakan 1, Desember 2003
Presensi : Moh. Mujib Zunari
Karya Syed Nawad Haidir Naqvi ini diinspirasikan oleh karya L. Robbin (1932), yang dirancang untuk menyoroti perbedaan pendekatan antara ilmu ekonomi (neo-klasik) positif dan ilmu ekonomi Islam yang menekankan pentingnya unsur etika dalam ilmu ekonomi Islam. Sementara Robin dan paradigma neo-klasik lain menolak peranan etika, para ekonomi Islam memandang itu mutlak sentral untuk menentukan keabsahan pernyataan-pernyataan ekonomi.
Para ekonom klasik, Karl Menger di Austria, Stanley Jevons di Inggris, dan Leon Walras di Perancis, menciptakan ilmu ekonomi modern dengan teori “marginal
utility” mereka, lalu enam puluh tahun kemudian, ketika terjadi Great Depression
yang menggoncangkan teori neo-klasik, John Maynard Keynes membuat sintesis baru, teori ekonomi Negara-negara bangsa. Dalam teori ini, teori marginal utility
sebagai ilmu ekonomi mikro1. Teori ekonomi yang dibungkus di dalam asumsi-asumsi paradigma klasik dan neo-klasik patut diragukan pada situasi ini. Masalah dan tantangan yang dihadapi ahli ekonomi masa kini lebih kompleks, bahkan lebih fundamental, daripada yang dihadapi pendahulunya. Paradigma neo-klasik,
individualistic, rasionalistik dan utilitarianistik yang menggiurkan yang diterapkan
tidak hanya dibidang ekonomi, tapi juga, meningkat pada susunan relasi-relasi social, dari teman sampai keluarga. Paradigama neo-klasik bukan hanya mengabaikan
dimensi moral, melainkan secara aktif menolak dimasukkannya dimensi moral tersebut.
Yang sangat menarik dari tulisan-tulisannya, bahwa pemikiran dan kemampuannya yang selalu konsisten untuk mengangkat ajaran Islam sebagai suatu system yang komprehensif bagi kehidupan manusia, meskipun sikap pemikirannya itu membuat gentar para pengkritiknya yang cenderung dangkal dalam berfikir. Namun semua kritikan itu ditanggapi dengan lapang dada dan ilmiah, karena sebagian besar kritikan tersebut mempertanyakan nukilan tulisan yang jadi pokok bahasannya. Bisa jadi karya-karya Syed Nawad Haider Naqvi sebagai alternative jawaban atas berbagai persoalan yang sedang melanda umat Islam dalam bidang ekonomi.
Pada karyanya yang sekarang menjadi bahan resensi ini akan sangat jelas ide-ide beliau dalam memaparkan persoalan ekonomi Islam dan mengecam paradigma klasik dan neo-klasik yang mengabaikan dimensi moral. Bahkan dia mengatakan bahwa kesuksesan atau tidaknya dunia ekonomi Islam ditentukan oleh sejauh mana nilai-nilai etika-religius itu diwujudkan dalam kehidupan riil. Disamping itu, untuk melengkapi gagasannya tentang ekonomi Islam juga telah ditulis karyanya, Ethics and Econimic : An Islamic Synthesis,2 dia berhasil mengembangkan suatu frame-work/bingkai analitik-sistematik yang berisi sebagian besar nilai-etik-dasar Islam, yang bisa digunakan sebagai dasar dalam melakukan deduksi logis pedoman kebijakan ekonomi.
1 Petter F. Drucker, The New Realities, Oxford, 1989, hal. 149
2
Bagaimana teori ekonomi Islam menurut Syed Nawad Haider Naqvi
?
Menurut Syed Nawad Haidir Naqvi, ekonomi Islam berakar pada pandangan dunia khas Islam dan premis-premis nilainya diambil dari ajaran-ajaran etik-sosial al-Qur’an dan Sunnah. Ekonomi Islam berpijak pada landasan hukum yang pasti yang mempunyai manfaat untuk mengatur masalah kemasyarakatan, sehingga hukum harus mampu menjawab segenap masalah manusia, baik masalah yang besar sampai sesuatu masalah yang belum dianggap masalah.3 Sumber hukum yang diakui sebagai landasan hukum ekonomi Islam terdiri dari Al-Qur’an, Al-Hadits, Ijtihad, Qiyas, dan sumber hukum yang lain : Urf, Istihsan, Istishlah, Istishab dan Mashlaha Al-Mursalah.4
Ekonomi syariah atau istilah lain orang menyebutnya dengan ekonomi Islam, merupakan suatu sistem perekonomian yang diatur berdasarkan syariat islam, tentunya berpedoman kepada al-qur’an dan hadits. Orang awam sering membedakan, bahwa sistem ekonomi kapitalis-liberal dibangun dengan prinsip menang-kalah. Siapa yang kuat dialah yang mendominasi dan dialah yang jaya, sedangkan ekonomi islam atau ekonomi syariah mempunyai prinsip kebersamaan, dan yang lebih penting rekomendasi langsung dari pemegang otoritas, yaitu Allah SWT. Oleh karena itu, Al-Qur’an dan Sunnah menjadi referensi yang mutlak.5
Islam sebagai way of life, menyatukan dua dimensi alam pada dirinya, yaitu materiil dan immateriil (duniawi dan ukhrawi). Kedua implikasi tersebut perimplikasi pada sebuah tanggung jawab bagi penganutnya, yaitu reward atau punishment dari Allah, aturan secara lengkap di sinyalir dalam al-Qur’an dan hadits sebagai pedoman utamanya. Oleh karena itu, dalam Islam, segala hal yang terkait dengan kepentingan
3
Nurcholis Majid, Islam Doktrin dan Peradapan, Paramadina, Jakarta, 1992, hal. 319
4
Heri Sudarsono, Konsep Ekonomi Islam Suatu Pengantar, Ekonesia, Yogyakarrta, 2002, 25
5
ummat di atur didalamnya, mulai dari hubungan dengan tuhan, hingga hubungan interaksi kepada sesama umat manusia dan makhluk lainnya, dengan berbagai aturan dan tata caranya yang disusun secara tertib dan rapi. Sehingga keberadaan Islam sebagai rahmatan lil alamin bagi ajaran ajarannya itu tidak dapat di pungkiri lagi, tidak hanya mengatur masalah ritual saja antara hamba dan Tuhannya, tapi juga mengatur masalah masalah sosial yang ada.6
A. Intisari buku ini
Buku ini memuat XII BAB. Adapun gambaran masing-masing BAB sebagai berikut :
BAB I :Hakekat dan Makna Ilmu Ekonomi Islam. Pada bab ini membahas tentang masalah definisi, etika dan ilmu ekonomi, menggagas ilmu ekonomi Islam serta adakah ilmu ekonomi Islam.
Ilmu ekonomi Islam, singkatnya, merupakan kajian tentang prilaku ekonomi orang Islam representative dalam masyarakat muslim modern. Berdasarkan komposisinya, ia bersifat normative, bukan bersifat positif sebagaimana ilmu ekonomi neo-klasik. Usaha Robbin untuk memisahkan etika dan ilmu ekonomi tidak diakui sejumlah ahli sebagai “tindakan benar” bahkan dalam ilmu ekonomi modern. Tetapi, usaha demikian itu dalam ilmu ekonomi Islam secara keseluruhan salah alamat karena ilmu ekonomi Islam menuntut dimasukkannya secara eksplisit nilai-nilai etik ke dalam kalkulus ekonomi, yakni menerima agama (Islam) sebagai sumber nilai etik.
BAB II : Dasar-dasar Etik. Pada bab ini membahas masalah garis besar etika Islam serta aksioma-aksioma etik ekonomi Islam sebagai berikut :
1. Kesatuan (Tauhid)
6
2. Keseimbangan / Kesejahteraan (Al’adlu wal Ihsan) 3. Kehendak bebas (Ikhtiyar)
4. Tanggung Jawab (Fardh)
Dalam skema etika Islam, seorang manusia menegakkan tiga hubungan secara simultan ; dengan Tuhan, dirinya sendiri, dan masyarakat.
BAB III : Merumuskan Kerangka Aksioma Etik Islam. Pada bab ini membahas tentang Agama sebagai sumber aksioma etik Islam, Karakteristik system aksioma etik, efisiensi system aksioma etik Islam, serta menuju ilmu ekonomi Islam Normatif.
BAB IV : Kaidah Prilaku Ekonomi dalam Ekonomi Islam. Pada bab ini membahas tentang dari aksioma menuju akidah-akidah, perilaku rasional dan lingkungan etik, etika dan keadilan distributive, etika dan peran pemerintah serta problem pilihan social dalam ekonomi Islam.
BAB V : Persepektif Perbandingan Inter Sistemik. Pada bab ini membahas tentang Islam dan sosialisme, Islam dan kapitalisme, serta Islam dan doktrin Walfare State
BAB VI : Menentukan Sasaran Kebijakan Dalam Ekonomi Islam. Pada bab ini membahas tentang sasaran-sasaran dasar.
BAB VII : Taksonomi Instrumen Kebijakan. Pada bab ini membahas tentang.beberapa masalah kebijakan pokok yang terdiri dari institusi kepemilikan pribadi, kebijakan-kebijakan peningkatan pertumbuhan, system jaminan social, serta masalah kepemilikan public.
BAB VIII : Problem Penghapusan Bunga : I. Pada bab ini membahas tentang pandangan Islam tentang Bunga
BAB IX : Masalah Penghapusan Bunga : II. Pada bab ini membahas tentang bisakah bunga dihapus dengan Fiat Administrasi ?, PLS-Equiti-Obligasi
BAB X : Menuju Sebuah Solusi terhadap Problem. Pada bab ini membahas tentang mengatur system PLS, pembuatan indeks pengembalian atas tabungan,
serta pemerintah dan transaksi-transaksi antar Bank.
BAB XI : Dari Idialitas Menuju Realitas. Pada bab ini membahas tentang tantangan transisi, reformasi financial di Pakistan, kesulitan-kesulitan transisi. BAB XII : Menuju Realitas Sosial Baru. Pada bab ini membahas tentang dorongan-dorangan utama filsafat ekonomi Islam, serta sensitivitas-konsekuensi filsafat ekonomi Islam.
B. Pendekatan yang digunakan untuk mengkaji
Penulis menggunakan pendekatan dogmatis, artinya gagasan-gagasan yang dimunculkannya dalam merumuskan teori dalam ekonomi Islam adalah berawal dari dogma yang ada dalam Al-Qur’an dan As-Sunah. Namun, penulis juga mencoba berfikir pragmatis, mengingat ide yang ditawarkan berbeda dengan konsep ekonomi pada umumnya yang bukan hanya mengabaikan moral, melainkan secara aktif menolak dimasukkannya dimensi moral tersebut. Hal ini sangat berbeda dengan konsepnya Shed Nawab Haider Naqvi yang menjelaskan bahwa kesuksesan atau tidaknya dunia ekonomi Islam ditentukan sejauh mana nilai-nilai etika-religius itu diwujudkan dalam kehidupan riil.
C. Pendapat Presensi
Karya Syed Nawab Haider Naqvi dalam mengupas ilmu ekonomi Islam memberikan angin segar dan kontribusi yang penting ke arah pelempangan jalan bagi munculnya suatu paradigma alternatif dan lebih penting lagi pada upaya integrasi etika dan ekonomi ke dalam satu frame-work yang independen dan konsisten dan upaya pencapaiannya dalam suatu cara yang realistik sehingga perhatian terhadap ”ordinary bussiness of life” tidak terkikis dan tidak pula terpinggirkan karena obsesi yang utopis. Hal ini cukup unik, karena seperti yang telah kita ketahui bersama bahwa ilmu ekonomi neo-klasik berusaha memisahkan etika dan ilmu ekonomi. Tetapi Ilmu ekonomi Islam dapat digunakan sebagai
jembatan yang penting antara pendekatan Barat terhadap ilmu ekonomi dan literatur yang dihasilkan para ekonom Muslim kearah ekonomi Islam.
Suatu penomena yang menarik di indonesia belakangan bahwa ekonomi syariah berkembang sangat pesat. Dalam perkembangannya itu ekonomi syariah mampu mengimbangi sistem ekonomi konvensional yang sudah berlaku sejak lama. Dalam kondisi seperti ini, ekonomi Islam mempunyai peluang yang sangat besar untuk kemaslahatan umat Islam khususnya di indonesia. Dan bukan untuk menjadi alternatip akan tetapi pilihan yang memang harus di pilih untuk menyelamatkan bangsa ini dari keterpurukan ekonomi yang terus berlanjut.
Dengan demikian, tidak benar kalau Islam hanya diidentikan dengan pakai sorban, pakai jenggot, baw a tasbih, pandangan kuno dan kolot, serta sederet cacian dan hinaan kepada Islam yang dilontarkan oleh orang orang yang sinis terhadap Islam. Tetapi ajaran yang di ajarkan Islam adalah ajaran yang komprehensif dan mampu menjangkau dan bersaing dengan kemajuan jaman.
Berkaitan dengan itu, hal yang paling krusil yang di hadapi setiap umat manusia adalah kaitannya dengan muamalah (hubungan sosial), lebih khusus lagi dalam bidang ekonomi, yang sering kali membawa malapetaka bagi kelangsungan peradaban hidup umat manusia.
Ekonomi merupakan salah satu bagian dari kajian Islam yang harus di kaji secara mendalam dan komprehensif sesuai dengan perkembangan jaman, tanpa harus melanggar norma norma atau etika yang ada dalam al-qur’an dan hadits. Hal ini lah yang memerlukan ijtihad atau fatwa dari para ulama’. Karena ekonomi Islam adalah ekonomi yang berlandaskan pada nilai nilai ilahiyah dengan perpaduan antara pencurahan tenaga dan pemikiran yang di miliki oleh manusia dengan wahyu yang bersumber dari Allah SWT. Hal inilah yang menjadi landasan perbedaan utamanya dengan ilmu ekonomi konvensional, di mana ilmu
ekonomi Islam sangat mengutamakan nilai nilai moral yang bersumber dari wahyu Allah, yang tidak semata memikirkan tentang untung dan rugi semata, tetapi juga dari sisi norma-norma yang harus di pertanggung jawabkan, bukan semata antara personal saja, namun menyangkut pertanggung jawaban seseorang dengan Allah SWT.
Pergerakan pengembangan ekonomi terutama ekonomi Islam merupakan suatu kesinambungan yang memerlukan waktu dan upaya semaksimal mungkin dari semua individu maupun entitas ekonomi Islam.
D. Kesimpulan
Ilmu Ekonomi syariah atau istilah lain orang menyebutnya dengan ilmu ekonomi Islam, merupakan suatu sistem perekonomian yang diatur berdasarkan syariat Islam representatif dalam masyarakat muslim modern, tentunya berpedoman kepada al-qur’an dan hadits. Berdasarkan komposisinya, ia bersifat normatif, bukan bersifat positif sebagaimana ilmu ekonomi neo-klasik. Orang awam sering membedakan, bahwa sistem ekonomi neo-klasik identik kapitalis-liberal dibangun dengan prinsip menang-kalah. Siapa yang kuat dialah yang medominasi dan dialah yang jaya, sedangkan ekonomi slam atau ekonomi syariah mempunyai prinsip kebersamaan, dan yang lebih penting rekomendasi langsung dari pemegang otoritas, yaitu Allah SWT.
BIBLIOGRAPHY
Abdullah Abdul Husain at-Tariqi, Ekonomi Islam Prinsip, Dasar, dan Tujuan, Insania Pres, 2004
Heri Sudarsno, Konsep Ekonomi Islam Suatu Pengantar, Ekonesia, Yogyakarta. Imamuddin Yuliadi, Ekonomi Islam Sebuah Pengantar, Pustaka Pelajar,
Yogyakarta, 2001.
Petter F. Drucker, The New Realities, Oxford, 1989.
Syed Nawab Haider Naqvi, Menggagas Ilmu Ekonomi Islam, Pustaka Pelajar, Cetakn 1, 2003