Efektivitas Video Tutorial dalam Mengembangkan Keterampilan Membuat Aloevera Candy bagi Anak Tunarungu

Download (0)

Teks penuh

(1)

e-isssn : 2655- 0865 Email : ranahresearch@gmail.com Online: https://jurnal.ranahresearch.com.

27

Efektivitas Video Tutorial dalam Mengembangkan Keterampilan

Membuat Aloevera Candy bagi Anak Tunarungu

Melly Syahara Firdiana1, Armaini2

1,2) Universitas Negeri Padang, Indonesia

KATA KUNCI A B S T R A K

Video Tutorial, Aloevera Candy, Tunarungu

Penelitian dilatarbelakangi oleh masalah yang ditemukan di SLB Yappat Lubuksikping, kelas XI SLB. Berdasarkan pengamatan saat pelaksanaan pembelajaran vokasional yaitu tataboga, diperoleh temuan yaitu anak kesulitan dalam melaksanakan pembelajaran, seperti tidak paham dengan takaran masakan, kesulitan pengenalan bahan dan alat, sulit menentukan lama proses pembuatan masakan, serta timbulnya rasa jenuh dan bosan. Oleh sebab itu peneliti ingin memberikan pembelajaran memasak menggunakan video tutorial yang menyenangkan serta masakan yang variatif dan inovatif guna membantu mengembangkan potensi anak. Metode dalam pelaksanaan penelitian adalah pre-ekperimental design yang terbagi atas tiga tahapan pelaksanaan yaitu dimulai dengan pre-test guna

mendapatkan informasi tentang pengetahuan anak

tunarungu sebelum diberikan intervensi. Tahapan

selanjutnya adalah pemberian trearment, berupa pemberian video tutorials sebagai media belajar yang memudahkan anak dalam memahami pembuatan aloevera candy. Tahapan terakhir yaitu post-test, mengetahui perkembangan

kemampuan anak tunarungu setelah diberikannya

intervensi. Nilai yang diperoleh dari tahapan pre-test serta post-test akan diolah menggunakan SPSS Uji Wilcoxon Sign rank untuk melihat perbandingan serta menilai hipotesa penelitian. Berdasarkan hasil pengolahan data tersebut, terbukti video tutorial efektif diterapkan pada kegiatan pembelajaran vokasional memasak aloevera candy di SLB Yappat Lubuksikaping. KORESPONDEN No. Telepon: +62 82286160662 E-mail: mellysyaharafirdiana@gmail.com PENDAHULUAN

Setiap anak memiliki kesempatan untuk mendapat pembelajaran yang layak guna mencapi cita-cita yang diharapkan. Hal tersebut juga berlaku bagi peserta didik yang mempunyai kesulitan baik jasmani atau intelektualnya, seperti anak dengan hambatan pendengaran yang merupakan individu yang mempunyai suatu kelainan fungsi indera pendengaran pada tingkatan yang ringan, sedang, maupun berat, yang mengakibatkan terlambatnya dalam memperoleh informasi, sehingga dalam pembelajarannya anak membutuhkan pelayanan pendidikan khusus. Sejalan dengan hal tersebut Krug (2016:4) menjelaskan bahwa anak tunarungu merupakan “the interactions tthat exits between a person

and the surrounding environment are connected thorugh the human senses. The sense of hearing in particular fundamental facilitates communication and fastest social interaction.

(2)

28

”Berdasarkan kondisi yang dimiliki oleh anak tunarungu maka guru harus mampu memberikan

pembelajaran yang dapat bermanfaat bagi kehidupan yang akan datang.

Melalui pembelajaran keterampilan hidup yang diberikan maka anak akan dapat mengembangkan potensi serta kemampuan yang dimiliki. Keterampilan vokasional merupakan strategi pembelajaran yang dapat diberikan untuk anak hambatan pendengaran, agar melalui pembelajaran ini akan menambah pengetahuan sebagai bekal dimasa mendatang (Jaya, 2017:53). Sejalan dengan itu Indita dalam Zuliansyah (2018:14) menyatakan “Kegiatan menyeluruh melibatkan segala aspek berpikir, tanggapan, dan motorik ketika menyelesaikan pekerjaan.” Pembelajaran yang diberikan kepada peserta didik tunarungu memerlukan strategi khusus karena semua karakteristik anak berbeda. Hal ini sesuai dengan pendapat Iswari (2017:132) yang menjelaskan “General urpose of the career guidance service in special

schools, namely to help students understand their abilities themselves and theirenvironment in making ruling, palnning, career directions and work for the welfare of life.”

Salah satu keteampilan yang dapat diberikan adalah keterampilan memasak atau tata boga. Melalui keterampilan memasak yang memadai, maka anak akan mampu membuat makanan yang dapat menguasai pasar seperti membuat makanan yang unik, menarik, namun memiliki nilai jual. Menu tata boga yang akan dilatihkan adalah membuat gula-gula dari lidah buaya. Tanaman ini sendiri mempunyai kandungan antioksidan yang dapat memberikan manfaat bagi kesehatan tubuh. Gel lidah buaya dapat dimanfaatkan sebagai komponen penyedap dan pengawet suatu makanan. Peneltian yang telah dilaksanakan Kulveer (2011:14) mengungkapkan “Aloevera gel is also used as a flavoring and preservative component in some

foods. Therefore, it is necessary to develop simple and efficient food processing techniques, especially for ordinary people and school children.” Adapun alasan lainnya memilih lidah

buaya sebagai bahan dasar pembuatan permen ini adalah lidah buaya merupakan tanaman yang cukup mudah dijumpai maupun dibudidayakan di Kabupaten Pasaman, harganya pun terbilang murah bahkan jarang diolah oleh masyarakat setempat sehingga keberadaannya pun tidak dianggap penting.

Sejalan dengan observasi yang peniliti lakasanakn di SLB Yapat Lubuksikaping pada tingkatan SMA menggunakan K13 dan termasuk ke dalam mata pembelajaran muatan lokal. Berbagai masalah yang ditemukan saat belajar tataboga yaitu pendidik melaksanakn pembelajaran memakai startegi pembelajaran ceramah yang cenderung membuat anak merasa bosan dan tidak tertarik. Selain itu metode langsung juga tidak efektif bila digunakan pada anak tunarungu karena keterbatasan pendengaran yang dimiliki membuat anak menjadi sulit memehami perintah yang diberikan guru dalam melaksanakan pembelajaran memasak. Selain itu masakan yang diberikan juga kurang variatif. Serong guru yang professional akan memberikan rasa nyaman dan menyenangkan bagi anak dalam proses belajar mengajar. Sejalan dengan pendapat Afandi (2013:12) menyatakan “Strategi pelaksanaan pembelajaran yang melibatkan guru dan siswanya secara aktif serta sesuai dengan substansi, tahapan, serta karateristik anak guna mencapai tujuanyang telah ditetap.”

Berdasarkan temuan masalah tersebut, peneliti ingin membantu anak dalam meningkat keterampilan memasak menggunakan video tutorial. Penerapan video tutorial yang interaktif dengan menyesuaikan pada kebutuhan anak tunarungu tentu akan lebih efektif digunakan mengingat media dilengkapi subtitle untuk memudahkan tunarungu dalam memanfaatkan

(3)

29 indera penglihatannya dalam memahami langkah-langkah pelaksanaan pembelajaran. Sejalan dengan pendapat Harmono dan Hakim dalam Sukerti (2019: 174) menyatakan “Video Tutorial merupakan suatu kesatuannya yang berisi visual, audio, atau bacaan yang telah disusun secara runtut sehngga memberikan kemudahan dalam menmahami isi pembelajaran.” Selain itu video tutorial akan dilengkapi juga dengan animasi-animasi serta gambar yang dapat menambah wawasan dan efektivitas hasil belajar peserta didik. Selain itu, juga sebagai media belajar memperhatikan serta meniru hasil pelatihan (Elvida,2018:173)

Segala hal mempunyai kelebihan serta kekurangan begitupun dengan media pembelajaran video tutorial. Sesuai dengan pendapat Sanaky (2011) yang menyatakan kelebihan video tutorial yaitu: (1) Penyampaian pembelajaran secara konkret dan realistis, (2) Pembelajaran lebih menarik, (3) Menambah pengalaman belajar anak, (4) Meningkatkan pencapaian psikomotorik, (5) Mengurangi rasa jenuh dan bosan pada anak, (5)Membantu peserta didik tunarungu memanfaatkan seluruh indera yang masih tersisa, (6) Menambah daya ingat anak. (7) dll. Sedangkan kelemahan video tutorial adalah: (1) Bergantung pada energy listrik (2) Tidak adanya feedback.

METODE PENELITIAN Jenis Penelitian

Jenis penelitiannya adalah ekperiment, melalui metode ini diharapkan dapat memberikan jawaban terhadap keefektifan video tutorials untuk meningkatkan keahlian dalam memasak permen lidah buaya. Rakhmat dalam Setyanto (2013:39) mengungkapkan “Metode ekperiment mempunyai tujuan mengetahui sebab dan akibat melalui manipulasi satu atau lebih vaeriabel dalam eksperimen kelompoknya.”

Adapun design metode penelitiannya adalah Pre-ekperimental Design untuk mengetahui apakah ada pengaruh dari variable independent terhadap variable dependent. Sehingga akan diketahui perbandingan sebelumnya dan setelah pemberian intevensi dalam membuat aloevera

candy untuk peserta didik Tunarungu. Pelaksanaan penelitian pada design ini mempunyai

tahapan seperti pelaksanaan pengamatan yang dilaksanakan sebanyak dua kali atau one groub

pre-test and post-test.

Waktu dan Tempat Penelitian

Pelaksanaan penelitian selama lebih kurang dua bulan, dimulai dari bulang Februari hingga April 2021 bertempat di SLB Yappat Lubuksikaping, Pauh, Lubuksikaping, Pasaman, Sumatera Barat, Indonesi.

Populasi dan Sampel Populasi

Populasi merupakan keseluruhan dari subjek penelitian (Arikunto.2014:173). Subjek dari penelitian yang dimaksud adalah peserta didik tunarungu kelas XI B di SLB Yappat Lubuksikaping.

Sampel

Sampel merupakan separuh dari populasi yang diteliti. Adapun sampel yang dipakai ialah peserta didik tunarungu kelas XI B di SLB Yappat Lubuksikaping sebanyak lima orang. Sebelum dilaksanakan, lakukan pengambilan sampling sesuai prosedur pelaksanaan atau disebut teknik sampling (Sugiyono,2016:56).

(4)

30 Teknik sampling yang digunakan adalah sampling jenuh, karena keseluruhan dari populasi dapat dijadikan sampel karena jumlahnya relative sedikit yaitu kurang dari 5 orang peserta didik tunarungu di SLB Yappat Lubuksikaping.

Variabel Penelitian

Variabel adalah suatu hal yang dipergunakan untuk mendapatkan informasi, guna memperoleh kesimpulan (Arikunto,2014:173). Penelitian menggunakan dua variable yaitu variabel bebas dan terikat. Variable bebasnya adalah media video tutorial dan variabel terikatnya keterampilan membuat aloevera candy.

Tahapan Eskperimen

Tahapan pelaksanaan ekperimen yang akan dilaksanakan pada peserta didik tunarungu yaitu: pelaksanaan Pre-test: Peneliti memberikan tes awal kepada peserta didik tunarungu tanpa adanya intevensi, guna mengetahui kemampuan awal peserta ddik. Adapun tahapannya yaitu: (a) Peneliti menyiapkan peserta didik dalam kondisi siap belajar, (b) Melaksanakan doa dan absensi, (c) Peserta didik diminta menyediakan alat dan bahan untuk pembelajaran (d) Peserta didik diminta untuk melaksanakan kegiatan memasak aloevera candy sesuai pengetahuan awal.

Treatment: Tahapan Intervensi ini, menjadikan video tutorials sebagai sarana

pembelajaran dengan langkah-langkah: (a) Menyiapkan kondisi dan ruang pembelajaran serta menyampaikan tujuan dari pembelajaran, (b) Melalui video tutorials, substansi pembelajaran memuat bahan, peralatan, serta tahapan memasak. (c) Selanjunya, penayangan video tutorials tentang pembelajaran hari ini yaitu membuat aloevera candy. (d) Peneliti melakukan pengamatan dan membantu peserta didik tunarungu dalam proses memasak aloevera candy. (e) Setelah kegiatan selesai, diadakan sesi tanyajawab serta umpan balik terhadap pemahaman dalam pembelajaran hari ini. (f) Melaksanakan penilaian terhadap hasil kerja peserta didik tunarungu. (g) Peserta didik akan diberikan kesempatan mengulang pembelajaran untuk meningkatkan keterampilanya.

Tahapan Post-test bertujuan memberikan gambaran terhadap kemampuan anak dalam membuat aloevera candy setelah diberikan treatment berupa video tutorial. Langkah pelaksanaannya adalah: (a) Mempersiapkan ruangan belajar, peralatan, dan peserta didik tunarungu untuk siap belajar. (b) Peneliti mengajak anak untuk berdo’a, absensi, serta apersepsi. (c) Peserta didik diminta mempraktekkan cara memasak aloevera candy.

Teknik dan Alat Pengumpulan Data Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang peneliti gunakan adalah test perbuatan dan menilai hasil kerja yang telah dilaksanakan dengan menjumlahkan skor yang diperoleh oleh anak sesuai dengan criteria yang telah ditetapkan. Menurut Gozali N (2012:147) ”Test perbuatan adalah suatu rangkaian kegiatan yang disusun secara sistematis dan telah distandarisasikan dalam bentuk penugasan, dimana anak atau kelompok mengerjakan test baik dalam bentuk lisan, tulisan, maupun tindakan.” Teknik ini digunakan untuk mengetahui kemampuan peserta didik tunarungu dalam mengembangkan keterampilannya membuat aloevera candy menggunakan video tutorials.

(5)

31 Alat Pengumpulan Data

Penelitian menggunakan alat pengumpulan data berupa intrumen penelitian yang bertujuan agar penelitian menjadi sistemarik. Adapun bentuk instrument penelitiannya adalah

Ratting Scalle. Penggunaan intrumen penelitian dengan cara menceklis kemampuan anak saat

pelaksanaan penelitian membuat aloevera candy bagi peserta didik tunarungu. Teknik Analisis Data

Teknik yang digunakan dalam menganalisis data ialah statistic non parametric, sebab subjek penelitian relative kecil serta tidak memerlukan uji normalitas. Uji statistiknya menggunakan Wilcoxon Sign Rank Text, guna mengidentifikasi hasil dari observasi pada kedua data yang telah diuji apakah mempunyai perbedaan.

Tahapan pelaksanaan Wilcoxon Sign Rank Text adalah:

1) Perumusan hipotesis berupa Ho: α hitung (Asymp. Sig.(2-tailed) > α (taraf signifikasi yaitu 5% atau 0,05) yang berarti video tutorials tidak efektif digunakan untuk mengembangkan keterampilan memasak aleovera candy bagi anak tunarungu). Ha: α hitung (Asymp. Sig. (2-tailed) < α (taraf Signifikansi 0.5)

2) Taraf signifikan yang digunakan adalah α = 5% atau 0,05. 3) Menggunakan SPSS 22 dalam penentuan uji statistik

𝑧= T − µT óT 4) Keputusan Pengujian

Apabila α hitung Asymp. Sig. (2-tailed) < α (taraf sig. sebesar 0,05) maka Ha diterima dan Ho ditolak yang berarti video tutorials efektif digunakan untuk mengembangkan keterampilan memasak aloevera candy bagi peserta didik tunarungu, sedangkan jika α hitung (Asymp. Sig. (2-tailed) > α (taraf signifaksi sebesar 0,05) maka Ha ditolak dan Ho diterima, berarti video tutorial tidak efektif digunakan untuk mengembangkan keterampilan memasak aloevera candy bagi anak tunarungu.

HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian

Berdasarkan penelitian yang telah dilaksanakan yaitu melalui metode experiment dengan desain pre-eksperimental tanpa adanya perbandingan kelompok. Dilaksanakan di SLB Yappat Lubuksikaping setelah jam pulang, hal tersebut karena jam belajar mengajar selama pendemi dipersingkat menjadi 20 menit per jam pelajaran. Data hasil penelitian yang diperoleh berdasarkan kemampuan anak tunarungu kelas XI SLB dalam melaksanakan keterampilan membuat aloevera candu melalui video tutorial akan diuji dengan teknik analisis data dengan rumus Uji Wilcoxon Sign Rank SPSS.

Adapun hasil kerja anak pada pelaksanaan pre-test dan postest dalam keterampilan membuat aloevera candy bagi anak tunarungu adalah:

(6)

32 Tabel 1. Hasil Pretest dan Posttest

No. Subjek Penelitian Nilai Hasil Pretest (X I)

Nilai Hasil Posttes (X 2) 1 NA 60 92 2 TF 61 97 3 DA 61 95 4 PY 77 91 5 VV 57 89 Jumlah 310 464

Berdasarkan tabel 1 di atas maka dapat didefenisikan persentase dari pengetahuan awal dan sesudah treatment.

1. Data Nilai Pretest

Tabel 2. Descriptive Statistic Pre-test

N Min Max Mean

Std. Deviation

Pre Test 5 57 77 63.20 7.887

Valid N

(Listwise) 5

2. Data Nilai Post Test

Tabel 3. Descriptive Statistics Post Test

N Min Max Mean

Std. Deviation

Posttest 5 89 97 92.80 3.194

Valid N

(Listwise) 5

3. Data Nilai Post Testj dan Post Test

Tabel 4. Descriptive Statistics Pretest dan Post-test Descriptive Statistics

N Min Max Mean

Std. Deviation Pretest 5 57 77 63.20 7.887 Posttest 5 89 97 92.80 3.194 Valid N (Listwise) 5

Berdasarkan penjabaran dari tabel terdapat nilai terendah pada tahapan pretest yaitu 57 dan tertinggi adalah 77 dengan nilai rata-rata (Mean) 63,20 dan simpangan baku ( Std. Deviation) 7,887. Sedangkan pada nilai Post Test, nilai terendah yaitu 89 dan tertinggi 97, dengan nilai rata-rata (Mean) adalah 92,80 dan simpangan baku ( Std. Deviation) yaitu 3,194.

(7)

33 Pengolahan Data

Pengolahan data dilaksanakan untuk menentukan Rank dari nilai subjek sebelum dan sesudah diberikan intevensi yang diolah menggunakan uji statistics Wilcoxon Sign Rank. Persyaratan pelaksanaan analisis data dengan perbandingan Asymp. Sig. (2-tailed) dengan taraf signifikasi yaitu 0,05 atau 5%. Agar lebih memperjelas disajikan tabel di bawah ini yatu:

Tabel 5. Syarat Uji Hipotesis

Hipotesis Asymp

(2-Tailed)

Sig. Taraf (α).

Kesimpulan Video tutorial tidak efektif digunakan

dalam mengembangkan keterampilan membuat aloevera candy bagi anak tunarungu kelas XI di SLB Yappat Lubuksikaping.

>0,05 0,05 Ho diterima dan Ha ditolak

Video tutorial efektif digunakan dalam mengembangkan keterampilan membuat aloevera candy bagi anak tunarungu kelas XI di SLB Yappat Lubuksikaping.

<0,05 0,05 Ho ditolak dan Ha diterima

Berdasarkan penjebaran di atas maka, terbukti bahwa video tutorials dapat mengembangkan keterampilan dalam memasak aloevera candy untuk anak tunarungu kelas XI di SLB Yappat Lubuksikaping, digunakanlah uji analisis Wilcoxon Sign Rank Test. Adapun hasil dari pengujian sebagai berikut:

Tabel 6. Hasil Uji Analisis Posttest-Pretest

Z -2.032b

Asymp. Sig.

(2-tailed) 0.042

a. Wilcoxon Signed Rank Test b. Based on negative ranks

Hasil dari pengujian data menggunakan Wilcoxon Signed rank Test pada nilai pretest dan post-test adalah Zhitung = -2,032 dan Asymp. Sig. (2-tailed) adalah 0,042. Selanjutnya

dilakukan perbandingan dari nilai yang didapat dari uji analisis dengan nilai yang ditentukan yaitu α = 0,05 maka Zhitung memiliki nilai yang kurang dari probabilitas yang telah ditentukan

(0,042<0,05).

Berdasarkan penjelasan diatas maka dapat disimpulkan bahwa nilai peluang Zhitung uji

Rank lebih kecil dibandingkan dengan probabilitas yang telah ditetapkan yaitu 5% atau 0,05 serta hasil analisis deskriptif mendapat perolehan rata-rata pretest 63,20% dan post-test 92,80%. Berdasarkan perolehan tersebut maka “Video Tutorial Efektif untuk mengembangkan keterampilan membuat aloevera candy bagi anak tunarungu kelas XI di SLB Yappat Lubuksikaping.”

(8)

34 KESIMPULAN

Berdasarkan perolehan hasil dari penelitian serta pembahasan di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa video tutorials efektif bila digunakan untuk mengembangkan kemampuan membuat aloevera candy bagi anak tunarungu kelas XI di SLB Yappat Lubuksikaping. Hal tersebut diperkuat dengan hasil dari pengolahan data yang telah diuji menggunakan Wilcoxon Sign Rank Test dengan Zhitung -2,302 dengan Asymp Sig. (2-tailed) 0,042 maka Ha diterima

dan Ho ditolak.

DAFTAR RUJUKAN

Afandi, M., Chamalah, E., & Wardani, O. P. (2013). Model Dan Metode Pembelajaran Di Sekolah. In Perpustakaan Nasional Katalog Dalam Terbitan (KDT) (Vol. 392, Issue 2). Arikunto, S. (2014). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik.Jakarta:Rineka Cipta. Elvida, R. (2018). Efektivitas Media Video Tutorial terhadap Keterampilan Membuat Lip

Balm bagi Tunarungu. 6, 172–177.

Iswari, M. (2017). Career Guidance Model In Independence of Deaf Children in Time After Special Senior High School. Journal of ICSAR (Jilid I). ICSAR. Vol 1. ISSN.2548-8619 Gozali.N, N. T. . S. &. (2012). Metode Penelitian Kualitatif .Bandung:CV Pustaka Setia. Jaya, H. (2017). Keterampilan Vokasional Bagi Anak Berkebutuhan Khusus Perawatan dan

Perbaikan Alat Elektronika. fakultas MIPA Universitas Negeri Makassar.

Krug, E., Cieza, A., Chadha, S., Sminkey, L., Martinez, R., White, K., Neumann, K., Olusanya, B., Stringer, P., Vaughan, G., Warick, R., Bohnert, A., Henderson, L., Basanez, I., Legeoff, M., Fougner, V., Bright, T., & Brown, S. (2016). CHILDHOOD HEARING Strategies for prevention and care Contributors. Who, 1–30.

Kulveer, Sing Ahlawat,dkk.(2011). Processing, Food Aplications and Safety of Aloevera Products:a review.Journal Food Sci Thecnol.Vol.48(5). DOI.10.1007.

Sanaky, H. (2011). Media Pembelajaran Buku Pegangan Guru dan Dosen. Yogyakarta:Kaukuba Dipantara.

Setyanto, A. E. (2013). Memperkenalkan Kembali Metode Eksperimen dalam Kajian Komunikasi. Jurnal ILMU KOMUNIKASI, 3(1), 37–48.

Sugiyono. (2016). Peneliti Kualitatif, Kuantitatif, dan R&D.Bandung:Alfabeta.

Sukerti, N. W. (2019). PENERAPAN VIDEO PEMBELAJARAN EKOSISTEM MANGROVE

KONSEP EKOSISTEM SISWA TUNARUNGU Application of Mangrove Ecosystem Learning Video Based on Komtal Communication to Improve Ecosystem Mastery Concept on Hearing Impairment Student. 10(2), 172–179.

Zuliansyah, Muhammad, . &, & Hasan, Y. (2018). Pelaksanaan Program Layanan Keterampilan Vokasional Pangkas Rambut Bagi Siswa SMALB Tunarungu di SLB Negeri 2 Tanjungpinang. Jurnal Penelitian Pendidikan Khusus, 6.

Figur

Tabel 2. Descriptive Statistic Pre-test

Tabel 2.

Descriptive Statistic Pre-test p.6

Referensi

Related subjects :

Pindai kode QR dengan aplikasi 1PDF
untuk diunduh sekarang

Instal aplikasi 1PDF di