PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA BERBASIS TEKS DI KELAS
X SMA NEGERI 1 SINGARAJA
Pt. Suryani, I Wyn. Wendra, I Ngh. Suandi
Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Universitas Pendidikan Ganesha
Singaraja, Indonesia
e-mail:
{[email protected], [email protected],
[email protected]}@undiksha.ac.id
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) perencanaan pembelajaran, (2) pelaksanaan proses pembelajaran, dan (3) penilaian hasil dan penilaian proses pembelajaran bahasa Indonesia berbasis teks pada siswa kelas X SMA Negeri 1 Singaraja. Subjek penelitian ini adalah guru bahasa Indonesia SMA Negeri 1 Singaraja. Objek penelitian ini adalah (1) perencanaan pembelajaran, (2) pelaksanaan proses pembelajaran, (3) penilaian hasil dan penilaian proses pembelajaran bahasa Indonesia berbasis teks pada siswa kelas X.IA5 dan X.IA6 SMA Negeri 1 Singaraja. Metode pengumpulan data yang digunakan, yaitu metode dokumentasi, observasi, dan wawancara (tidak terstruktur). Instrumen penelitian ini adalah peneliti sendiri dengan memanfaatkan pedoman observasi, pedoman pengamatan RPP, dan pedoman penilaian. Data dianalisis dengan menggunakan model analisis deskriptif-kualitatif. Hasil penelitian ini adalah (1) Perencanaan pembelajaran sebagian besar sudah sesuai silabus dan sesuai lampiran IV Permendikbud No. 81A Tahun 2013. Ada beberapa rincian masih perlu diperbaiki, khususnya pada beberapa rincian Indikator, KD, Tujuan, Materi, Penilaian, dan Langkah-langkah Pembelajaran. (2) Pelaksanaan pembelajaran sebagian besar sudah dilaksanakan sesuai isi skenario pembelajaran. Empat tahapan pembelajaran bahasa Indonesia berbasis teks cenderung sudah tampak dalam pelaksanaan pembelajaran. Metode discovery
learning dan pendekatan saintifik masih perlu diaplikasikan secara tepat, khususnya
dalam penyampaian keutuhan materi dan penyesuaian pertanyaan dari siswa. (3) Penilaian proses dan penilaian hasil pembelajaran bahasa Indonesia berbasis teks pada siswa Kelas X SMA Negeri 1 Singaraja cenderung sudah sesuai dengan pedoman pengamatan penilaian Permendikbud, No. 66 Tahun 2013, Bab II: 4-5 tentang Standar Penilaian Pendidikan. Namun, teknis penilaian hasil dan pelaksanaan penilaian masih cenderung belum terlaksana secara utuh.
Kata kunci: pembelajaran, berbasis teks, Kurikulum 2013
Abstract
This research aimed at determining (1) the planning of learning, (2) the implementation of the learning process, and (3) assessment of the results and the process of learning the Indonesian language text based on class X SMA Negeri 1 Singaraja. The subjects were Indonesian teacher at SMAN 1 Singaraja. The objects of this study are (1) ) the planning of learning, (2) the implementation of the learning process, and (3) assessment of the results and the process of learning the Indonesian
language text based in the classroom X.IA5 and X.IA6 SMA Negeri 1 Singaraja. The data collection methods used are documentation, observation, and interviews (unstructured). The research instruments used in this study are the observation, observation RPP guidelines, and assessment guidelines. The data were analyzed by using descriptive-qualitative analysis model. The results of this study were (1) Planning learning already contains most of the components and details of the contents of the corresponding components of the lesson plan syllabus and guidelines for the translation of the corresponding RPP component attachment Permendikbud No. IV. 81A in 2013 on the Implementation of the General Education Curriculum Guidelines. (2) The implementation of most of the learning has been implemented according to the contents of the learning scenario based on Permendikbud No. IV. 81A in 2013. Application discovery learning methods and scientific approach as well as the four stages of learning the Indonesian language text-based tend to be seen in the implementation of learning. (3) Assessment process and assessment of learning outcomes Indonesian text based on Class X students of SMA Negeri 1 Singaraja tends observations are in accordance with the valuation guidelines Permendikbud, No.66 In 2013, Chapter II: 4-5 of Educational Assessment Standards. However, the technical assessment of the results tend to note again that the assessment could be carried out in accordance allocation of time in learning.
Keywords: learning, text -based, Curriculum 2013 PENDAHULUAN
Kurikulum 2013 sudah berlangsung di beberapa sekolah dasar hingga sekolah menengah selama satu semester. Salah satu jenjang pendidikan yang dimaksud-kan yakni jenjang Sekolah Menengah
Atas. Seperti pada jenjang SD,
Kompetensi peserta didik di SMA juga tidak terlepas dari berbagai peraturan pendidikan secara nasional.
Seperti diketahui, Permendikbud
No.54 Tahun 2013 adalah peraturan yang mengatur tentang Standar Kompetensi Lulusan Pendidikan Dasar dan Menengah. Standar Kompetensi Lulusan didefinisikan
sebagai kriteria mengenai kualifikasi
kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan.
Tercapai atau tidak tercapainya kompetensi lulusan tersebut berkenaan
dengan proses pembelajaran yang
melibatkan perencanaan pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran serta penilaian proses pembelajaran. Hal itu
tercermin dalam kutipan Bab I
Permendikbud No. 65 Tahun 2013 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah.
Pembelajaran bahasa Indonesia
tahun pelajaran 2013/2014, khususnya
jenjang SMA/SMK yang telah
menggunakan Kurikulum 2013,
sepatut-nya diarahkan untuk menerapkan
pembelajaran bahasa Indonesia berbasis teks. Pembelajaran berbasis teks adalah
pembelajaran yang menjadikan teks
sebagai dasar, asas, pangkal, dan
tumpuan (Sufanti, 2013).
Pembelajaran bahasa Indonesia
berbasis teks menjadi sangat penting
untuk diterapkan di sekolah-sekolah
karena pembelajaran tersebut
berdasarkan empat prinsip yang mungkin sering terabaikan. Prinsip-prinsip itu meliputi (1) bahasa hendaknya dipandang
sebagai teks, bukan semata-mata
kumpulan kata atau kaidah kebahasaan,
(2) penggunaan bahasa merupakan
proses pemilihan bentuk-bentuk
kebahasaan untuk mengungkapkan
makna, (3) bahasa bersifat fungsional, yaitu penggunaan bahasa yang tidak pernah dapat dilepaskan dari konteks karena bentuk bahasa yang digunakan itu mencerminkan ide, sikap, nilai, dan ideologi penggunanya, dan (4) bahasa
merupakan sarana pembentukan
kemampuan berpikir manusia
(Kemendikbud, 2013b:v).
Selama ini, khususnya dalam
pembelajaran bahasa Indonesia berbasis KTSP, masih ditemukan pembelajaran
yang menerapkan pendekatan teks secara
setengah-setengah. Mahsun (2013)
bahkan menyatakan dengan mencermati Kompetensi Dasar, maka penyusunan kurikulum bahasa Indonesia pada KTSP dapat dikatakan masih dilakukan dengan
setengah berlandaskan pendekatan
struktural dan setengahnya lagi
berlandaskan pada pendekatan teks. Terlebih lagi, dalam KTSP, pembelajaran bahasa Indonesia juga masih diajarkan untuk mencapai kompetensi keterampilan
berbahasa (menyimak, membaca,
menulis, dan berbicara) secara terpisah.
Pembelajaran bahasa Indonesia
untuk jenjang Pendidikan Menengah Kelas X disusun dengan berbasis teks, baik lisan
maupun tulis, dengan menempatkan
bahasa Indonesia sebagai wahana untuk
mengekspresikan perasaan dan
pemikiran. Siswa diharapkan mampu menggunakan dan memproduksi berbagai teks sesuai dengan tujuan dan fungsi
sosialnya dalam Kurikulum 2013
(Kemendikbud, 2013a). Untuk itu dalam pengajarkan bahasa Indonesia dengan menggunakan buku bahasa Indonesia, guru hendaknya menempuh empat tahap pembelajaran, yaitu (1) tahap pem-bangunan konteks, (2) tahap pemodelan teks, (3) tahap pembuatan teks secara bersama-sama, dan (4) tahap pembuatan
teks secara mandiri (Kemendikbud,
2013b: vi).
Dalam prawacana pembelajaran teks (Kemendikbud, 2013b) tersebut juga
dinyatakan bahwa tahapan pertama
berkenaan dengan tahap pembangunan
konteks yang dilanjutkan dengan
pemodelan. Pembangunan konteks
dimaksudkan sebagai langkah awal yang dilakukan oleh guru bersama siswa untuk mengarahkan pemikiran ke dalam pokok persoalan yang akan dibahas pada setiap pelajaran. Tahapan kedua berkenaan
dengan tahap pemodelan. Tahap
pemodelan adalah tahap yang berisi pembahasan teks yang disajikan sebagai model pembelajaran. Pembahasan yang dimaksud diarahkan kepada semua aspek
kebahasaan yang menjadi sarana
pembentuk teks itu secara keseluruhan.
Tahapan ketiga berkenaan dengan
pembangunan teks secara bersama-sama. Pada tahapan ini semua siswa dan guru sebagai fasilitator menyusun kembali teks seperti yang ditunjukkan pada model. Tugas-tugas yang dilakukan berkaitan dengan semua aspek kebahasaan yang sesuai dengan ciri-ciri yang dituntut dalam jenis teks yang dimaksud. Tahapan terakhir, yaitu tahapan kegiatan belajar mandiri. Pada tahap ini, siswa diharapkan dapat mengaktualisasikan diri dengan menggunakan dan mengkreasikan teks sesuai dengan jenis dan ciri-ciri seperti yang ditunjukkan pada pemodelan teks
Penelitian terkait perencanaan dan
pelaksanaan pembelajaran berjudul
“Implementasi Pengintegrasian Sikap
Spiritual dan Sikap Sosial dalam
Pembelajaran Bahasa Indonesia Berbasis Kurikulum 2013 di Kelas VII SMP Negeri 1 Singaraja” pernah dilakukan oleh Ni Putu
Ariantini (2014). Penelitian terkait
perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi
penelitian lain, yakni berjudul
“Pembelajaran Bahasa Indonesia
Berdasarkan Pendekatan Saintifik
(Problem Based Learning) sesuai
Kurikulum 2013 di Kelas VII SMP Negeri 2 Amlapura”. Sementara itu, penelitian
terkait komponen perencanaan,
pelaksanaan, dan evaluasi dalam
pembelajaran berbicara di Kelas VIII-2 SMP Laboratorium Undiksha Singaraja juga pernah diteliti oleh Ni Made Yuliani Warlina (2013). Ketiga penelitian tersebut memiliki kesamaan dalam beberapa masalah penelitian yaitu terkait aspek perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian. Walaupun demikian, penelitian terkait
masalah (1) perencanaan, (2)
pelaksanaan, dan (3) penilaian proses serta penilaian hasil pembelajaran bahasa Indonesia berbasis teks di Kelas X tergolong ke dalam penelitian baru. Oleh sebab itu, peneliti berencana meneliti ketiga masalah tersebut sebagai masalah dalam penelitian ini.
Peneliti memutuskan untuk
Singaraja karena beberapa pertimbangan. Pertimbangan tersebut yakni SMA Negeri 1 Singaraja adalah salah satu sekolah yang sudah menerapkan Kurikulum 2013
sejak semester ganjil tahun ajaran
2013/2014. Hal itu terbukti melalui hasil wawancara dengan seorang guru, Dra. Ni Made Halustini. Beliau menyatakan bahwa semua siswa di kelas yang ia ajar memiliki
folder hasil belajar atau portofolio
pelajaran bahasa Indonesia sejak
semester ganjil 2013/2014. Berkaitan dengan pembelajaran bahasa Indonesia berbasis teks, dinyatakan pula bahwa guru cenderung menggunakan buku paket bahasa Indonesia (wajib) daripada LKS
Kurikulum 2013. Berdasarkan
pertimbangan tersebut peneliti tertarik meneliti pembelajaran bahasa Indonesia berbasis teks (sesuai Kurikulum 2013) melalui penelitian ini.
Berdasarkan hal yang telah
disampaikan, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) perencanaan pembelajar-an bahasa Indonesia berbasis teks di Kelas X SMA Negeri 1 Singaraja, (2)
pelaksanaan pembelajaran bahasa
Indonesia berbasis teks di Kelas X SMA Negeri 1 Singaraja, dan (3) penilaian proses dan penilaian hasil pembelajaran bahasa Indonesia berbasis teks di Kelas X SMA Negeri 1 Singaraja .
Adapun manfaat yang bisa diperoleh dari penelitian ini dapat dibedakan menjadi manfaat teoretis dan praktis.
Secara teoretis, hasil penelitian ini dapat memberikan konfirmasi terhadap keberlangsungan pembelajaran bahasa
Indonesia yang sudah berlangsung
selama ini. Pembelajaran tersebut
khususnya pembelajaran bahasa
Indonesia yang sudah sepatutnya
dilaksanakan berbasis teks (Kurikulum 2013) pada tahun ajaran 2013/2014 semester genap di Kelas X SMA Negeri 1 Singaraja.
Secara praktis, hasil penelitian ini akan bermanfaat untuk beberapa pihak. Bagi pihak sekolah, hasil penelitian ini dapat dijadikan masukan bagi sekolah dalam upaya lebih menyempurnakan
pelaksanaan pembelajaran bahasa
Indonesia berbasis teks di kelas X. Bagi
guru, hasil penelitian ini dapat
dimanfaatkan sebagai referensi dalam pengajaran bahasa Indonesia berbasis
teks, baik dari segi perencanaan,
pelaksanaan maupun penilaian
pembelajaran. Bagi peneliti lain, hasil penelitian ini bisa digunakan sebagai inspirasi dan referensi untuk melakukan penelitian sejenis yang lebih luas dan mendalam terhadap pembelajaran bahasa Indonesia berbasis teks erat kaitannya dengan pelaksanaan Kurikulum 2013. METODE
Penelitian ini menggunakan
rancangan deskriptif-kualitatif. Peneliti kualitatif harus bersifat ‘perspetif emic’ artinya memperoleh data bukan ‘sebagai mana seharusnya’, tidak berdasarkan pada yang dipikirkan oleh peneliti, tetapi berdasarkan sebagaimana adanya yang terjadi di lapangan, dirasakan, dialami, dan dipikirkan oleh partisipan atau sumber data (Sugiyono, 2008).
Subjek dalam penelitian ini adalah guru kelas X SMA Negeri 1 Singaraja.
Subjek yang digunakan yakni guru
pengajar siswa kelas X.IA5 dan X.IA6, yakni Dra. Ni Made Halustini. Subjek penelitian ini ditentukan dengan teknik sampling bertujuan (sampling purposive), yaitu teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu.
Secara umum, objek penelitian ini berupa pembelajaran bahasa Indonesia berbasis teks di kelas X SMA Negeri 1 Singaraja. Secara lebih khusus, objek penelitian ini yakni (1) perencanaan pembelajaran, (2) pelaksanaan proses pembelajaran, (3) penilaian hasil dan penilaian proses pembelajaran bahasa Indonesia berbasis teks di kelas X.IA5 dan X.IA6 SMA Negeri 1 Singaraja.
Pengumpulan data dalam penelitian
ini dilaksanakan dengan metode
dokumentasi, observasi, dan wawancara (tidak terstruktur). Metode dokumentasi digunakan untuk memeroleh data berupa perencanaan pelaksanaan pembelajaran
(RPP) dan hasil karya (tugas) siswa kelas X.IA5 dan X.IA6 SMA Negeri 1 Singaraja.
Metode observasi digunakan untuk
memperoleh data mengenai pelaksanaan proses pembelajaran serta penilaian hasil
dan penilaian proses pembelajaran
berbasis teks dalam pembelajaran.
Metode wawancara tidak terstruktur
digunakan untuk memperoleh informasi atau data yang lebih akurat (yang tidak diperoleh melalui metode observasi dan
dokumentasi) mengenai pembelajaran
bahasa Indonesia berbasis teks (sesuai Kurikulum 2013).
Instrumen utama dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri. Peneliti kualitatif sebagai human instrument, berfungsi menetapkan fokus penelitian, memilih informan sebagai sumber data, melakukan pengumpulan data, menilai kualitas data, analisis data, menafsirkan data dan membuat kesimpulan atas temuannya (Sugiyono, 2008). Selain itu, instrumen
lain yang peneliti gunakan adalah
pedoman pengamatan RPP untuk metode
dokumentasi; pedoman observasi,
pedoman pengamatan gambaran
kemungkinan penilaian dan kamera
digital berkapasitas video untuk metode
observasi; catatan lapangan berupa buku catatan untuk metode wawancara tidak terstruktur.
Kegiatan analisis data dilakukan dengan metode deskriptif kualitatif. Data-data yang terkumpul dari hasil observasi, dokumentasi, dan wawancara (wawancara tidak terstruktur) akan dianalisis melalui langkah-langkah, seperti (1) reduksi data, (2) penyajian data, dan (3) penyimpulan. Hal itu sesuai dengan yang dikemukakan oleh Miles dan Hubermen. Miles dan Hubermen (dalam Sugiyono, 2008: 337) menyatakan aktivitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan
berlangsung secara terus-menerus
sampai tuntas hingga data jenuh. Aktivitas dalam analisis data, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan simpulan. HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil dan pembahasan penelitian ini mencakup perencanaan pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran, dan penilaian hasil dan penilaian proses pembelajaran bahasa Indonesia berbasis teks pada siswa kelas X SMA Negeri 1 Singaraja.
Perencanaan pembelajaran bahasa Indonesia berbasis teks pada siswa Kelas X SMA Negeri 1 Singaraja dapat diketahui dari rencana pelaksanaan pembelajaraan (RPP) guru. Sebagian besar komponen dan isi rincian komponen RPP sudah
memuat komponen dan isi rincian
komponen RPP sesuai silabus dan sesuai pedoman penjabaran komponen RPP lampiran IV Permendikbud No. 81A Tahun 2013 tentang Implementasi Kurikulum Pedoman Umum Pembelajaran. Rincian Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar
sudah sesuai dengan silabus mata
pelajaran bahasa Indonesia SMA kelas X semester genap Kurikulum 2013. Di samping itu, rincian dalam Identitas, Indikator, Tujuan, Materi, dan Metode Pembelajaran, Media, alat, dan sumber belajar, Langkah-Langkah Pembelajaran,
serta rincian dalam Penilaian juga
sebagian besar sudah sesuai dengan
pedoman penjabaran komponen RPP lampiran IV Permendikbud No. 81A Tahun 2013 tentang Implementasi Kurikulum Pedoman Umum Pembelajaran.
Beberapa hal yang masih kurang dalam RPP yakni perincian Indikator masih sulit dicapai karena memuat lebih dari satu bentuk perilaku yang ingin diukur. Sanjaya (2012:58) menyatakan salah satu petunjuk dalam merumuskan indikator yakni sebaiknnya setiap indikator hanya mengandung satu bentuk perilaku.
Perincian Kompetensi Dasar dan Indikator belum dituliskan serangkai pada setiap pertemuan dalam RPP dua kali
pertemuan. Padahal, dalam format
komponen RPP lampiran IV
Permendikbud No. 81A Tahun 2013 diterakan komponen Kompetensi Dasar dan Indikator menjadi satu kesatuan dalam komponen poin B dalam RPP.
Satu dari tiga tujuan pembelajaran
belum menggunakan kata kerja
operasional. Seperti diketahui, kata kerja operasional itu penting sekali untuk dimunculkan dalam tujuan agar aspek yang ingin diukur menjadi jelas.
Materi pembelajaran belum
terperinci sehingga kedalaman materi sulit
diketahui oleh pembaca RPP. Di samping itu, rincian materi akan sangat berperan
dalam menguji kesahihan penilaian.
Bahan pelajaran memegang peranan penting untuk dideskripsikan secara terinci karena hal itu dapat dimanfaatkan untuk menguji kesahihan isi alat penilaian itu sendiri (Nurgiyantoro, 2001:50).
Metode lain seperti project based
learning dan problem based learning juga
masih bisa direncanakan dalam RPP seperti yang disarankan dalam Materi
Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013
SMA/SMK Bahasa Indonesia untuk
pengajaran sesuai Kurikulum 2013.
Hakikat Project Based Learning dan
Problem Based Learning sama-sama
mendasarkan pembelajaran terkait
permasalahan dunia nyata yang harus dicarikan solusi oleh siswa.
Demi kesempurnaan, media, alat, dan sumber belajar sebenarnya masih bisa ditambahkan lagi agar lebih beragam dan dapat disesuaikan dengan situasi dan kondisi dalam pembelajaran. Media bisa
ditambahkan dengan penggunaan
powerpoint contoh surat penawaran. Alat
pembelajaran bisa ditambahkan dengan LCD dan sumber belajar bisa berupa artikel dari internet dan sumber relevan lainnya.
Pencantuman diksi ‘materi’ dalam
kegiatan pendahuluan dapat
meng-indikasikan bahwa guru akan
menyampaikan materi pembelajaran
dalam kegiatan pendahuluan. Sementara itu, terkait rincian komponen penilaian, pedoman konvensi angka dan kunci jawaban tidak ada melengkapi pedoman
pengeskoran dalam RPP. Padahal,
penentuan patokan (konvensi angka) bisa dengan Penghitungan Persentase untuk Skala Lima E sampai A (sangat baik, baik,
cukup, kurang, dan gagal). Nurgiantoro (2001: 397) menyatakan jika kita akan mengubah skor mentah ke nilai jadi, masalah pertama yang timbul adalah
standar, norma, acuan, kriteria,
pendekatan manakah yang akan
dipergunakan? Nurgiantoro (2001) juga menambahkan, untuk itu pihak guru haruslah menguasai teknik penyusunan
dan penilaian alat evaluasi, serta
penafsiran terhadap hasil penilaian yang diperoleh, baik berupa data kuantitatif maupun kualitatif.
Demikianlah beberapa hal yang masih kurang dalam RPP penelitian. Walaupun demikian, ada lebih banyak hal-hal yang sudah sesuai dengan pedoman
penjabaran komponen RPP lampiran IV Permendikbud No. 81A Tahun 2013.
Pelaksanaan pembelajaran sebagi-an besar sudah dilakssebagi-anaksebagi-an sesuai isi skenario pembelajaran sesuai lampiran IV Permendikbud No. 81A Tahun 2013. Pengaplikasian metode discovery learning dan pendekatan saintifik serta empat tahapan pembelajaran bahasa Indonesia berbasis teks cenderung sudah tampak dalam pelaksanaan pembelajaran.
Yang belum terlaksana secara
maksimal yakni guru menjelaskan materi pelajaran secara rinci dalam kegiatan pendahuluan sehingga hakikat metode
discovery learning pun tidak berlangsung
dengan sesuai. Seharusnya materi
dijelaskan tidak secara utuh karena siswalah yang akan menggali materi lebih banyak. Dalam teori discovery learning dinyatakan materi atau bahan pelajaran yang akan disampaikan tidak disampaikan dalam bentuk final, akan tetapi siswa sebagai peserta didik didorong untuk
mengidentifikasi sesuatu yang ingin
diketahui dilanjutkan dengan mencari informasi sendiri kemudian mengorgani-sasi atau membentuk (konstruktif) sesuatu yang mereka ketahui dan mereka pahami dalam suatu bentuk akhir.
Dalam hal mengamati, siswa lebih banyak mengamati penjelasan materi pelajaran yang disampaikan (ceramah)
(Kurikulum 2013) dinyatakan aplikasi kegiatan mengamati yakni guru membuka secara luas dan bervariasi kesempatan
peserta didik untuk melakukan
pengamatan melalui kegiatan: melihat, menyimak, mendengar, dan membaca. Dalam Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 (Kemendikbud, 2013g: 144) bahkan dinyatakan salah satu
aplikasi pengembangan aktivitas
pembelajaran untuk meningkatkan daya menalar peserta didik dapat dilakukan
dengan cara guru tidak banyak
menerapkan metode ceramah atau
metode kuliah. Tugas utama guru adalah memberi instruksi singkat tapi jelas
dengan disertai contoh-contoh, baik
dilakukan sendiri maupun dengan cara simulasi.
Dalam hal menanya, siswa belum mampu menyiapkan pertanyaan untuk dirinya sendiri saat guru mempersilakan siswa bertanya. Justru siswa bertanya ketika siswa menghadapi kendala saat pengerjaan tugas. Dalam penelitian terkait kegiatan menanya ini, sesungguhnya guru sudah sudah memancing pertanyaan dari
siswa dengan mengatakan “Ada
pertanyaan?” (siswa diam), guru
melanjutkan bertanya, “Baik, ada
pertanyaan?, Baik Tidak!, Bisa dipahami, Nak? Bisa? Kemudian siswa menjawab “Bisa”. Ketika guru bertanya seperti itu, siswa pun menjawab pertanyaan guru dengan suara yang tidak tegas dan tidak kompak. Terkesan ada keragu-raguan dalam jawaban siswa. Hal itu semakin dikuatkan dalam pengerjaan tugas siswa mulai banyak bertanya tentang tugasnya.
Dalam pelatihan implementasi
Kurikulum 2013 (Kemendikbud,
2013g:138) dinyatakan “Pada saat guru
bertanya, pada saat itu pula dia
membimbing atau memandu peserta didiknya belajar dengan baik. Ketika guru menjawab pertanyaan peserta didiknya, ketika itu pula dia mendorong asuhannya
itu untuk menjadi penyimak dan
pembelajar yang baik.” Pada penelitian sejenis karya Ariantini (2014) dinyatakan bahwa pertanyaan diajukan oleh guru
untuk mendorong rasa percaya diri siswa dalam merespons pernyataan guru. “Guru memberikan beberapa pertanyaan terkait dengan peristiwa alam yang ada dalam teks untuk mendorong siswa menunjukkan
perilaku percaya dirinya dalam
memberikan respons (dalam artikel
Ariantini, 2014: 8). Dalam Standar Proses (Kurikulum 2013) bahkan dinyatakan aplikasi kegiatan menanya “Dari kegiatan kedua dihasilkan sejumlah pertanyaan. Melalui kegiatan bertanya dikembangkan rasa ingin tahu peserta didik. Semakin terlatih dalam bertanya maka rasa ingin
tahu semakin dapat dikembangkan.
Pertanyaan tersebut menjadi dasar untuk mencari informasi yang lebih lanjut dan beragam dari sumber yang ditentukan guru sampai yang ditentukan peserta didik, dari sumber yang tunggal sampai sumber yang beragam”.
Dalam hal mengumpulkan informasi, informasi yang diperoleh siswa masih terbatas bila tidak diimbangi dengan adanya materi yang disiapkan sebelum
pembelajaran di kelas. Siswa
mengumpulkan informasi dengan cara bertanya pada guru, mengamati contoh surat dalam buku paket dan LKS, mengamati contoh surat yang telah dibawa siswa, dan mengecek catatan yang telah dibuat siswa. Dalam Standar Proses yang terkait dengan pelaksanaan kegiatan inti bahkan dinyatakan tindak lanjut dari bertanya adalah menggali dan mengumpulkan informasi dari berbagai sumber melalui berbagai cara. Untuk itu peserta didik dapat membaca buku yang lebih banyak, memperhatikan fenomena atau objek yang lebih teliti, atau bahkan melakukan eksperimen. Dari kegiatan tersebut terkumpul sejumlah informasi.
Dalam hal mengasosiasikan, materi pembelajaran atau temuan siswa terkait jawaban atas masalah masih kurang diolah. Siswa cenderung mengikuti saja penggunaan bahasa yang ditemukannya dalam sumber. Dalam Permendikbud No.
81A Tahun 2013 halaman 35-37
dinyatakan kegiatan mengasosiasikan
berupa mengolah informasi yang sudah dikumpulkan baik terbatas dari hasil kegiatan mengamati maupun hasil dari
kegiatan mengumpulkan informasi.
Pengelolaan informasi yang dikumpulkan dari yang bersifat menambah keluasan
dan kedalaman sampai kepada
pengolahan informasi yang bersifat
mencari solusi dari berbagai sumber yang memiliki pendapat yang berbeda sampai kepada yang bertentangan.
Dalam hal mengomunikasikan hasil
pembelajaran, waktu pembelajaran
cenderung tidak mencukupi untuk
melakukan kegiatan pengomunikasikan hasil untuk seluruh siswa sehingga tugas mempresentasikan hasil secara lisan menjadi tugas yang dikumpulkan dan yang dinilai adalah tugas berbentuk tulis. Permendikbud No. 81A Tahun 2013 halaman 35-37 menyatakan kegiatan
menyampaikan hasil pengamatan,
kesimpulan berdasarkan hasil analisis secara lisan, tertulis, atau media lainnya. Sekalipun hasil pekerjaan siswa bisa disampaikan secara lisan, tertulis, atau media tertentu, tetap saja kesesuaian isi perencanaan tetap menjadi acuan utama dalam pelaksanaan pembelajaran.
Di sisi lain, bila pelaksanaan pembelajaran dikaitkan dengan tahapan
pembelajaran berbasis teks, sudah
tampak ada tahap pembangunan konteks saat guru mengupayakan pemberian apersepsi, menyampaikan KD, dan tujuan
pembelajaran. Kegiatan pemodelan
diupayakan oleh guru dengan melibatkan contoh surat penawaran barang. Namun, contoh teks masih perlu diupayakan agar
sesuai dengan konteks situasi
(kontekstual) siswa. Dalam penelitian sejenis (dalam artikel Bintari, 2014: 9) dinyatakan “Kendala yang dihadapi guru adalah contoh-contoh yang disajikan
dalam buku pegangan siswa tidak
kontekstual sehingga menyulitkan siswa untuk memahami materi pelajaran yang disampaikan”. Sementara itu, tahapan pembuatan teks secara bersama-sama dan secara individu juga sudah tampak dalam pertemuan pertama dan pertemuan
kedua dalam penelitian. Keempat tahapan
tersebut penting untuk diperhatikan
sekaligus dilaksanakan mengingat dalam
prawacana pembelajaran teks
(Kemendikbud, 2013b: vi) dinyatakan
bahwa untuk mengajarkan bahasa
Indonesia dengan menggunakan buku
bahasa Indonesia, guru hendaknya
menempuh empat tahap pembelajaran, yaitu (1) tahap pembangunan konteks, (2)
tahap pemodelan teks, (3) tahap
pembuatan teks secara bersama-sama, dan (4) tahap pembuatan teks secara mandiri. Hanya saja pemberian tugas secara individu pada pertemuan kedua berakibat pada penyampaian hasil atau pengomunikasian hasil dari presentasi berubah menjadi tugas yang dikumpulkan dan dikoreksi oleh guru.
Dalam kegiatan penutup pertemuan kedua, guru juga belum mendapatkan skor
tugas secara langsung setelah
pembelajaran selesai dilaksanakan. Bila dikaitkan dengan penelitian sejenis karya Ni Made Yuliani Warlina (2013), ternyata penilaian secara langsung juga tidak bisa dilaksanakan secara langsung dalam pembelajaran. Pada kegiatan akhir guru
tidak melakukan evaluasi langsung
setelah pembelajaran berakhir (Warlina,
2013). Padahal, salah satu tujuan dan fungsi penilaian yakni untuk memberikan
umpan balik bagi kegiatan belajar
mengajar yang dilakukan. Penilaian yang dilakukan sewaktu kegiatan pengajaran masih berlangsung, penilaian yang dikenal sebagai tes formatif, hasilnya dapat
digunakan untuk mempertimbangkan
apakah suatu (bahan) pelajaran dapat
diteruskan atau perlu diulang
(Nurgiyantoro, 2001:16). Dengan
demikian, bila nilai yang diperoleh siswa
tidak diketahui dalam pembelajaran
melainkan di luar jam pembelajaran, kesesuaian kegiatan umpan balik dan kegiatan tindak lanjut sedikit banyaknya pasti juga akan terpengaruhi dalam kegiatan penutup pembelajaran. Hal itu terjadi disebabkan oleh belum adanya pertimbangan atau pemprediksian secara pasti terhadap skor yang diperoleh siswa.
Penilaian proses dan penilaian hasil pembelajaran bahasa Indonesia berbasis teks pada siswa Kelas X SMA Negeri 1
Singaraja cenderung sudah sesuai
dengan pedoman pengamatan penilaian Permendikbud, No. 66 Tahun 2013, Bab
II: 4-5 tentang Standar Penilaian
Pendidikan. Namun, teknis penilaian hasil cenderung perlu diperhatikan lagi agar penilaian bisa dilaksanakan secara utuh atau dengan kata lain sesuai alokasi waktu dalam pembelajaran. Hal itu bertentangan dengan yang termuat dalam teori yang menyatakan, tujuan evaluasi merupakan bagian yang sangat penting
karena merupakan pijakan dalam
merencanakan kegiatan-kegiatan selanjut-nya (Warlina, 2013).
Terkait penilaian terhadap proses pembelajaran, sudah tepat bila guru menilai kompetensi sikap siswa. Hanya
saja, pedoman pengamatan belum
digunakan oleh guru padahal pedoman itu
sudah direncanakan dan sudah
dilampirkan dalam lampiran RPP. Dalam
penelitian sejenis dinyatakan bahwa
hambatan perencanaan pembelajaran
terletak pada tidak adanya pedoman yang pasti mengenai pengintegrasian sikap
spiritual dan sikap sosial dalam
perencanaan pembelajaran (dalam artikel Ariantini, 2014: 9). Ariantini dalam hasil penelitiannya juga menyatakan “Guru
mengamati sikap siswa dengan
menggunakan metode nontes—sesuai
dengan Permen No. 81A Tahun 2013”. Dalam Standar Penilaian Pendidikan Permendikbud, No. 66 Tahun 2013, Bab II bahkan dinyatakan “Observasi merupakan teknik penilaian yang dilakukan secara berkesinambungan dengan menggunakan indera, baik secara langsung maupun tidak langsung dengan menggunakan pedoman observasi yang berisi sejumlah indikator perilaku yang diamati”.
Terkait penilaian terhadap hasil pembelajaran, sudah tepat bila guru
melakukan penilaian kompetensi
pengetahuan dengan menggunakan
instrumen penugasan. Dalam Standar
Penilaian Pendidikan Permendikbud, No.
66 Tahun 2013, Bab II dinyatakan dalam
penilaian kompetensi pengetahuan,
pendidik menilai kompetensi pengetahuan melalui tes tulis, tes lisan, dan penugasan. Di samping itu, sudah tepat bila guru
melakukan penilaian kompetensi
keterampilan dengan menggunakan
penilaian kinerja dengan menyesuaikan format penulisan dalam portofolio. Dalam
Standar Penilaian Pendidikan
Permendikbud, No. 66 Tahun 2013, Bab II
juga dinyatakan dalam penilaian
kompetensi keterampilan, pendidik menilai kompetensi keterampilan melalui penilaian kinerja, yaitu penilaian yang menuntut peserta didik mendemonstrasikan suatu kompetensi tertentu dengan mengguna-kan tes praktik, projek, dan penilaian portofolio. Format pembuatan tugas siswa dalam portofolio yaitu nomor, tanggal, topik, kegiatan, rangkuman atau isi, nilai, dan paraf.
Di samping kesesuaian terhadap
penilaian hasil, ada pula beberapa
kekurangan lain dalam melakukan
penilaian hasil. Penilaian hasil tidak selalu
langsung dapat dilakukan oleh guru dalam
pembelajaran. Guru memberikan penilaian
terhadap hasil pembelajaran setelah
pembelajaran selesai dilaksanakan. Bila dikaitkan dengan penelitian sejenis karya Ni Made Yuliani Warlina (2013), ternyata penilaian secara langsung juga tidak bisa dilaksanakan secara langsung dalam pembelajaran. Pada kegiatan akhir guru
tidak melakukan evaluasi langsung
setelah pembelajaran berakhir (Warlina, 2013). Dengan kata lain, penilaian tidak
selalu bisa diselesaikan dalam
pembelajaran dalam kelas. Oleh sebab itu,
sudah saatnya guru membuat
perencanaan yang diimbangi dengan
upaya pelaksanaan yang betul-betul
sesuai dalam pembelajaran di kelas. Peneliti mengamati sekalipun dalam RPP tidak dicantumkan konvensi makna angka dan kunci jawaban, saat proses
pemberian nilai ternyata guru bisa
mengimbangi kekurangan tersebut
dengan melakukan penilaian di luar jam
menunjukkan rata-rata nilai siswa adalah berada pada kategori baik, namun masih berada di bawah KKM 8,00. Oleh sebab itu, siswa yang bersangkutan harusnya diberikan remidial. Dalam prinsip-prinsip pengembangan RPP bahkan dicantumkan pemberian pembelajaran remedi dilakukan setiap saat setelah suatu ulangan atau ujian dilakukan, hasilnya dianalisis, dan kelemahan setiap peserta didik dapat
teridentifikasi. Pemberian remidial
pembelajaran diberikan sesuai dengan kelemahan peserta didik.
Guru memberikan nilai dengan mengacu pada penggunaan konvensi nilai skala lima yakni dari E sampai A. A kategori baik sekali, B kategori baik, C kategori cukup, D kategori kurang, dan E kategori gagal. Setelah diproses ternyata
rata-rata siswa memperoleh nilai baik
namun masih berada di bawah KKM, 8,00.
Bila ditelusuri lebih jauh, ternyata hal itu
sudah sesuai dengan proses
penghitungan berikut ini.
Dalam Tabulasi Skor Distribusi Tunggal diketahui bahwa skor yang diperoleh siswa cukup beragam. Dari 34 siswa yang ada di kelas X.IA 5, terdapat 5 siswa mendapat skor 7,1; 20 siswa mendapat skor 7,9; dan 9 siswa lainnya mendapat skor 8,6. Sementara itu, dari 34 siswa yang ada di kelas X.IA 6, terdapat 9 siswa mendapat skor 7,1; 21 siswa mendapat skor 7,9; 3 siswa mendapat 8,6; dan hanya 1 siswa mendapat skor 9,2. Bila data tersebut dijabarkan dengan mengadaptasi contoh penulisan tabulasi skor distribusi tunggal dan bergolong dalam buku Penilaian dalam Pengajaran
Bahasa dan Sastra karya Nurgiantoro
(2001), skor-skor siswa dalam penelitian tergambarkan sebagai berikut.
Tabel 1. Tabulasi Skor Distribusi Tunggal Nomor
urut Skor Cacahan Frekuensi (f)
1 9,2 I 1
2 8,6 IIII IIII II 12
3 7,9
IIII IIII IIII IIII IIII IIII IIII IIII I
41
4 7,1 IIII IIII IIII 14
Jumlah (=N) = 68 Tabel 2. Tabulasi Skor Distribusi Bergolong Nomor urut Kelas Interval Titik tengah Cacahan Frekuensi (f) 1 9,6 – 10,0 9,8 - - 2 9,1 – 9,5 9,3 I 1 3 8,6 – 9,0 8,8 IIII IIII II 12 4 8,1 – 8,5 8,3 - 5 7,6 – 8,0 7,8
IIII IIII IIII IIII IIII IIII IIII IIII I
41
6 7,1 – 7,5 7,3 IIII IIII IIII 14
Jumlah (=N) = 68 Bila data dalam bentuk tabulasi skor
distribusi bergolong di atas dikaitkan dengan penggunaan konvensi angka skala lima yakni dari E-A, akan diperoleh hasil sebagai berikut.
Hasilnya adalah 1 siswa mendapat skor 9,2 mendapat nilai A kategori baik sekali, 12 siswa mendapat skor 8,6 mendapat nilai A kategori baik sekali, 41 siswa mendapat skor 7,9 mendapat nilai B kategori baik, dan 14 siswa lainnya
mendapat skor 7,1 mendapat nilai C kategori cukup. Jadi, mayoritas siswa mendapat nilai kategori baik. Di samping itu, bila dinyatakan dalam bentuk rata-rata, rata-rata kelas diketahui sebesar 7,87 yang juga ada dalam kategori baik. Oleh sebab itu sudah tepat kalau rata-rata nilai siswa adalah nilai kategori baik, namun masih berada di bawah KKM 8,00. Oleh sebab itu, siswa yang bersangkutan harusnya diberikan remidial.
Penelitian ini terbatas pada
penelitian pembelajaran bahasa Indonesia materi teks negosiasi untuk kelas X.
Dalam pembelajaran tersebut
sesungguhnya ada lima jenis teks yang diajarkan untuk dua semester jenjang SMA kelas X. Namun, dalam penelitian ini, empat jenis teks lainnya, yaitu teks eksposisi, teks laporan hasil observasi, teks anekdot, dan teks prosedur kompleks masih luput dalam penelitian ini. Untuk itu, peneliti lain diharapkan meneliti aspek yang masih luput tersebut, khususnya terkait teks eksposisi, teks laporan hasil
observasi, teks anekdot, dan teks
prosedur kompleks. SIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan hasil dan pembahasan, dapat disimpulkan beberapa hal mengenai penelitian ini. Pertama, perencanaan
pembelajaran sebagian besar sudah
memuat komponen dan isi rincian
komponen RPP sesuai silabus dan sesuai penjabaran komponen RPP lampiran IV Permendikbud No. 81A Tahun 2013 tentang Implementasi Kurikulum Pedoman
Umum Pembelajaran. Namun, ada
beberapa rincian masih perlu diperbaiki, khususnya pada rincian Indikator, KD, Tujuan, Materi, Penilaian, dan Langkah-langkah Pembelajaran.
Kedua, pelaksanaan pembelajaran
sebagian besar sudah dilaksanakan
sesuai isi skenario pembelajaran sesuai lampiran IV Permendikbud No. 81A Tahun
2013. Empat tahapan pembelajaran
bahasa Indonesia berbasis teks
cenderung sudah tampak dalam
pelaksanaan pembelajaran. Namun,
metode discovery learning dan
pendekatan saintifik masih belum
teraplikasikan secara tepat sesuai teori, khususnya dalam penyampaian keutuhan materi dan penyesuaian pertanyaan dari siswa.
Ketiga, penilaian proses dan
penilaian hasil pembelajaran bahasa Indonesia berbasis teks pada siswa Kelas X SMA Negeri 1 Singaraja cenderung
sudah sesuai dengan pedoman
pengamatan penilaian Permendikbud, No. 66 Tahun 2013, Bab II: 4-5 tentang Standar Penilaian Pendidikan. Namun, teknis penilaian hasil dan pelaksanaan penilaian cenderung belum terlaksana secara utuh sesuai yang direncanakan dalam RPP.
Berdasarkan hasil penelitian dan simpulan di atas, saran-saran yang dapat disampaikan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
Saran untuk guru, yaitu pemahaman
terhadap perencanaan pelaksanaan
pembelajaran (RPP), pelaksanaan
pembelajaran, dan penilaian proses dan penilaian hasil pembelajaran berbasis teks sangat penting untuk dikuasai guru. Oleh sebab itu, guru perlu memahami lagi isi lampiran IV Permendikbud No. 81A Tahun 2013 tentang Implementasi Kurikulum
Pedoman Umum Pembelajaran dan
Permendikbud, No. 66 Tahun 2013, Bab
II: 4-5 tentang Standar Penilaian
Pendidikan.
Secara lebih mengkhusus, guru perlu memahami isi komponen-komponen RPP yang meliputi KD yang dirinci serangkai dengan Indikator, kata kerja operasional dan unsur ABCD dalam tujuan pembelajaran, hakikat metode discovery
learning, penjabaran aspek kebahasaan
dalam langkah-langkah kagiatan
pembelajan, dan pedoman pengeskoran dalam penilaian yang belum menyertakan
konvensi makna angka dan kunci
jawaban. Terkait pelaksanaan
pem-belajaran, pembelajaran bahasa Indonesia berbasis teks harus didukung dengan pengajaran teks yang melibatkan contoh
sehingga dapat dikembangkan, dimaknai, dan dipahami oleh siswa. Tahapan pembelajaran berdasarkan pendekatan ilmiah sesuai amanat Kurikulum 2013 yang terdiri atas kegiatan mengamati,
menanya, mengumpulkan informasi,
mengasosiasikan, dan mengomunikasikan hasil juga harus senantiasa diupayakan untuk dilaksanakan dalam mengiringi tahapan pembelajaran berbasis teks yang terdiri atas kegiatan membangun konteks, pemodelan teks, pembuatan teks secara bersama-sama, dan pembuatan teks secara mandiri. Yang paling menonjol yakni guru perlu mengupayakan agar
kegiatan menanya bisa maksimal
dilaksanakan dalam kegiatan menanya. Selain itu, guru juga disarankan agar senantiasa melaksanakan empat kegiatan
tahapan pembelajaran berbasis teks
dalam setiap kali pertemuan di kelas. Terkait penilaian dalam pembelajaran,
guru perlu merencanakan kegiatan
mengomunikasikan hasil agar sesuai dengan alokasi waktu supaya dalam
pelaksanaannya nanti guru bisa
melakukan penilaian secara langsung
terhadap sikap, pengetahuan, dan
keterampilan dalam kelas. Hal itu penting diperhatikan supaya pemberian umpan balik dan tindak lanjut setiap akhir pembelajaran juga bisa sesuai dengan isi perencanaan dalam RPP, khususnya dalam komponen penilaian. Yang tidak bisa dilupakan lainnya, yakni penilaian terhadap sikap terkait KI-1 dan KI-2 juga perlu diupayakan untuk dievaluasi agar evaluasi terhadap sikap dan nilai-nilai karakter siswa dapat diketahui secara tepat dengan alat ukur yang tepat.
Penelitian terhadap pembelajaran bahasa Indonesia berbasis teks ini dapat
dikatakan sebagai penelitian baru.
Penelitian ini peneliti lakukan serangkaian dengan kemunculan Kurikulum 2013 yang
masih hangat diperdebatkan dan
diperbincangan di ruang publik. Kurikulum 2013 ini juga tidak sertamerta dapat dihindarkan dari keberagaman interpretasi kaum intelektual seperti yang dialami oleh guru belakangan ini. Oleh sebab itu,
semakin banyak dan beragam penelitian atau kajian terhadap Kurikulum 2013, khususnya terkait pembelajaran bahasa Indonesia berbasis teks tentunya akan semakin utuh pula konsep ideal Kurikulum 2013 dapat diaplikasikan oleh guru. Terkait hal itu, peneliti selanjutnya disarankan untuk melakukan penelitian
sejenis terkait pembelajaran bahasa
Indonesia berbasis teks, utamanya demi
mendapatkan keidealan penerapan
tahapan pembelajaran bahasa Indonesia berbasis teks, khususnya meneliti aspek yang masih luput dalam penelitian ini, yakni teks eksposisi, teks laporan hasil
observasi, teks anekdot, dan teks
prosedur kompleks. DAFTAR PUSTAKA
Ariantini, Ni Putu. 2014. “Implementasi Pengintegrasian Sikap Spiritual dan Sikap Sosial dalam Pembelajaran
Bahasa Indonesia Berbasis
Kurikulum 2013 di Kelas VII SMP Negeri 1 Singaraja”. Tesis (Tidak
Diterbitkan). Program Studi
Pendidikan Bahasa Progam
Pascasarjana: Universitas Pendi-didkan Ganesha Singaraja.
Bintari, Ni Luh Gede Riwan Putri. 2014. “Pembelajaran Bahasa Indonesia Berdasarkan Pendekatan Saintifik (Problem Based Learning) sesuai Kurikulum 2013 di Kelas VII SMP Negeri 2 Amlapura”. Tesis (Tidak
Diterbitkan). Program Studi
Pendidikan Bahasa Progam
Pascasarjana: Universitas Pendi-didkan Ganesha Singaraja.
Kemendikbud. 2013a. Buku Guru: Bahasa
Indonesia Ekspresi Diri dan
Akademik untuk Kelas X. Jakarta:
Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan.
_______. 2013b. Buku Siswa: Bahasa
Indonesia Ekspresi Diri dan
Akademik untuk Kelas X. Jakarta:
Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan.
_______. 2013c. Salinan Peraturan
Nomor 81A Tahun 2013 Tentang Pedoman Implementasi Kurikulum
2013. Jakarta: Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan
(sumber
http://bsnp-indonesia.org/id/).
_______. 2013d. Salinan Lampiran
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 54 Tahun 2013
Tentang Standar Kompetensi
Lulusan Pendidikan Dasar Dan
Menengah 2013. Jakarta:
Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan (sumber
http://bsnp-indonesia.org/id/).
_______. 2013e. Salinan Lampiran
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 65 Tahun 2013 Tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta:
Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan (sumber
http://bsnp-indonesia.org/id/).
_______. 2013g. “Modul Pelatihan
Implementasi Kurikulum 2013”.
Naskah (tidak diterbitkan). Jakarta:
Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan.
_______. 2013h. Salinan Lampiran
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 66 Tahun 2013
Tentang Standar Penilaian
Pendidikan. Jakarta: Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan
(sumber
http://bsnp-indonesia.org/id/).
Nurgiyantoro, Burhan. 2001. Penilaian
dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra. Edisi ketiga. Yogyakarta:
BPFE-Yogyakarta.
Sanjaya, H. Wina. 2012. Perencanaan dan
Desain Sistem Pembelajaran
Cetakan ke-5. Jakarta: Kencana. Sufanti, Main. 2013. “Pembelajaran
Bahasa Indonesia Berbasis Teks: Belajar Dari Ohio Amerika Serikat”. http://publikasiilmiah.ums.ac.id diakses 16 Januari 2014.
Sugiyono. 2008. Metode Penelitian
Pendidikan (Pendidikan Kuantitatif, Kualitatif dan R&D). Bandung: Alfabeta.
Warlina, Ni Made Yuliani. 2013.
“Problematika dalam Pembelajaran Berbicara di Kelas VIII-2 SMP Laboratorium Undiksha Singaraja”.
Skrinpsi (tidak diterbitkan). Jurusan
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia: Universitas Pendididkan Ganesha Singaraja.
http://kemdikbud.go.id/kemdikbud/artikel-kurikulum-mahsun diakses pada 11 Desember 2013.
http://perangkat-rpp-silabus.blogspot.com/2013/07/silabu s-kurikulum-2013-sma.html diakses 29 November 2013.