PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE
STAD DENGAN PENDEKATAN SAINTIFIK TERHADAP HASIL BELAJAR
MATEMATIKA PESERTA DIDIK
Nurhidayah1
(Prodi Pendidikan Matematika, Universitas Al Asyariah Mandar) Emaiil: [email protected]
Abstract
This study aimed to describe the effect of cooperative learning model type STAD with scientific approach towards students mathematics learning outcomes. The research was quasi experiment research with posttest only control group design. The population of this study is X IPS grade student of SMAN 1 Wonomulyo academic year 2017/2018, with sample are X IPS 1 and X IPS 2. Analysys
data using indenpendent t test. The results showed that: (1) the students’ mathematics learning
outcomes without cooperative learning model type STAD with scientific approach the average is 70,29, and (2) the students’ mathematics learning outcomes without cooperative learning model type
STAD with scientific approach the average is 80,30, (3) cooperative learning model type STAD with
scientific approach significantly better impact on learning outcomes compared than without cooperative learning model type STAD with scientific approach.
Keywords: cooperative learning model type STAD, scientific approach, students mathematics learning outcomes
1. PENDAHULUAN
Sejalan dengan perkembangan masyarakat dewasa ini pendidikan banyak mengalami berbagai tantangan. Salah satu tantangan yang sangat menarik adalah berkenaan dengan peningkatan mutu pendidikan, yang disebabkan masih rendahnya prestasi belajar. Berbagai usaha telah dilakukan oleh pengelola pendidikan dalam rangka meningkatkan prestasi belajar peserta didik, salah satunya dengan melakukan perubahan kurikulum sekolah. Langkah ini merupakan langkah awal untuk meningkatkan mutu pendidikan. Namun kenyataannya prestasi belajar peserta didik terutama dalam bidang matematika masih tergolong rendah.
Fakta tersebut menunjukkan bahwa banyaknya waktu yang diperlukan peserta didik untuk belajar matematika ternyata tidak mampu meningkatkan hasil belajar mereka. Hal ini tentunya tidak lepas dari peran seorang guru dalam mengajar di kelas. Pemilihan metode pembelajaran yang monoton merupakan salah satu penyebabnya karena
dengan metode pembelajaran seperti itu memungkinkan peserta didik menjadi jenuh dalam belajar. Kejenuhan dalam belajar menyebabkan perhatian peserta didik terhadap materi menjadi menurun sehingga materi yang disampaikan tidak dapat diserap dengan optimal.
Pada dasarnya belajar matematika merupakan belajar konsep, sedangkan konsep– konsep dasar matematika merupakan kesatuan yang bulat dan utuh. Untuk itu dalam proses belajar mengajar yang terpenting adalah bagaimana guru dapat mengajarkan konsep itu, dan peserta didik dapat memahaminya. Walaupun pengajaran matematika dilakukan dengan memperhatikan urutan konsep dan dimulai dari hal sederhana, tetapi sampai saat ini matematika masih dianggap sebagai pelajaran yang sulit. Akibatnya banyak peserta didik yang bersikap acuh dalam proses belajar mengajar matematika.
ini terbukti, masih ada peserta didik kurang memperhatikan materi yang diajarkan guru di kelas, beberapa terlihat mengantuk di dalam kelas dan ada pula yang bercengkrama dengan temannya yang lain, serta tugas yang diberikan oleh guru terkadang tidak dikerjakan. Hal ini yang menyebabkan rendahnya hasil belajar matematika, yakni tidak mencapai nilai standar kriteria ketuntasan minimal (yaitu .
Penyebab rendahnya hasil belajar peserta didik adalah perencanaan dan implementasi pembelajaran yang dilakukan oleh para guru matematika tanpaknya masih dengan metode transfer informasi. Kondisi pembelajaran matematika seperti ini akan menimbulkan kebosanan bagi peserta didik, Unsur penyebab masalah ini karena kurangnya minat peserta didik terhadap Pembelajaran matematika dan kurangnya rasa percaya diri peserta didik untuk bertanya langsung kepada guru, mereka lebih cenderung senangnya bertanya kepada teman-temannya, maka perlu adanya perhatian lebih terhadap kemampuan tersebut, salah satu bentuk perhatian yang dapat dilakukan dengan menggunakan model pembelajaran inkuiri dengan pendekatan saintifik.
Dengan menerapkan pendekatan saintifik akan melatih peserta didik untuk mengkonstruksi pengetahuan mereka sehingga pengetahuan tersebut akan tersimpan jangka panjang dalam ingatan peserta didik. Selain itu, dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD akan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk dapat berdiskusi dengan peserta didik yang lain, sehingga diharapkan kesulitan yang dihadapi bisa diminimalisir bahkan peserta didik dapat dengan mandiri memecahkan masalah dengan jawaban yang bervariasi dan berperan aktif dalam proses pembelajaran.
Menurut Sanjaya (2010:241) model pembelajaran kooperatif adalah rangkaian kegiatan belajar yang dilakukan oleh peserta didik dalam kelompok-kelompok tertentu untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan. Situasi kooperatif merupakan bagian dari peserta didik untuk
mencapai tujuan kelompok, peserta didik harus merasakan bahwa mereka akan mencapai tujuan, maka peserta didik lain dalam kelompoknya memiliki kebersamaan, artinya tiap anggota kelompok bersikap kooperatif dengan sesama anggota kelompoknya.
Menurut Slavin (Rusman, 2012:201), pembelajaran kooperatif menggalakkan peserta didik berinteraksi secara aktif dan positif dalam kelompok yang membolehkan pertukaran ide sendiri dalam suasana yang tidak terancam, sesuai dengan falsafah konstruktivisme. Dengan demikian, model pembelajaran ini dimaksudkan untuk lebih memberikan kesempatan yang luas kepada peserta didik untuk meningkatkan aktivitas agar benar-benar merasa ikut ambil bagian dan berperan aktif dalam proses belajar mengajar untuk mengatasi masalah atau menyelesaikan soal-soal yang diberikan guru.
Setiap kelompok diberikan kesempatan untuk bertemu muka dan berdiskusi. Kegiatan interaksi ini akan memberi peserta didik bentuk inergi yang menguntungkan semua anggota. Guru menjadwalkan waktu bagi kelompok untuk megevaluasi proses kerja kelompok dan hasil kerja sama mereka agar selanjutnya bisa bekerja sama lebih efektif.
Belajar kooperatif peserta didik belajar bersama sebagai suatu tim dalam menyelesaikan tugas-tugas kelompok untuk mencapai tujuan bersama. Jadi setiap anggota kelompok memiliki tanggung jawab untuk keberhasilan kelompoknya. Belajar kooperatif mempunyai ide bahwa setiap peserta didik bekerjasama untuk belajar dan bertanggung jawab pada kemampuan belajar temannya dan menekankan pada tujuan dan kesuksesa kelompok. Semua itu dapat dicapai jika anggota kelompok mencapai tujuan atau penguasaan materi. Dengan kerja sama tersebut dapat mempererat hubungan antara peserta didik dari latar belakang etnik dan kemampuan.
pentingnya usaha bersaama di samping usaha secara individual, (2) guru menghendaki pemerataan perolehan hasil dalam belajar, (3) guru ingin menanamkan tutor sebayaatau belajar melalui teman sendiri, (4) guru menghendaki adanya pemerataan partisifasi aktif peserta didik, (5) guru menghendaki kemampuan pesertadidik dalam memecahkan berbagai permasalahan.
Model pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student Teams Achievement Division) menurut Trianto (2010:68) merupakan salah satu tipe dari pembelajaran kooperatif dengan menggunakan kelompok-kelompok kecil dengan jumlah anggota tiap kelompok 4-5 orang peserta didik secara heterogen.
Menurut Slavin (Nur, 2000:26) menyatakan bahwa pada STAD peserta didik ditempatkan dalam tim belajar beranggotakan 4-5 orang yang merupakan campuran menurut tingkat prestasi, jenis kelamin, dan suku. Guru menyajikan pelajaran, dan kemudian peserta didik bekerja dalam tim mereka memastikan bahwa seluruh anggota tim telah menguasai pelajaran tersebut. Kemudian, seluruh peserta didik diberikan tes tentang materi tersebut, pada saat tes ini mereka tidak diperbolehkan saling membantu.
Menurut Yusran (anifah, dkk, 2014) alam pembelajaran STAD masing-masing kelompok atau tim menerima lembar kerja dari guru untuk dikerjakan sendiri-sendiri yang kemudian didiskusikan melalui tanya jawab antar sesama anggota kelompok.
Adapun sintaks model pembelajaran kooperatif tipe STAD (Trianto: 2010:71) yaitu Tabel 2.2 Fase-Fase Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD
Fase
Kegiatan Guru
Fase 1
Menyampai
kan tujuan
dan
memotivasi
peserta
didik
Menyampaikan
semua
tujuan pelajaran yang ingin
dicapai
pada
pelajaran
tersebut dan memotivasi
peserta didik belajar
Fase 2
Menyajikan
informasi
Menyajikan
/menyampai
kan
informasi
kepada
peserta
didik
dengan
jalan
mendemonstrasikan
atau
lewat bahasa bacaan.
Fase 3
Mengorgani
sasikan
peserta
didik dalam
kelompok-kelompok
belajar
Menjelaskan
kepada
peserta didik bagaimana
caranya
membentuk
kelompok
belajar
dan
membantu
setiap
kelompok agar melakukan
transisi secara efisien.
Fase 4
Membimbin
g kelompok
bekerja dan
belajar
Membimbing
kelompok-kelompok belajar pada saat
mereka mengerjakan tugas
mereka.
Fase 5
Evaluasi
Mengevaluasi hasil belajar
tentang materi yang telah
diajarkan
atau
masing-masing
kelompok
mempresentasikan
hasil
kerjanya.
Fase 6
Memberika
n
penghargaa
n
Mencari cara-cara untuk
menghargai baik upaya
maupun
hasil
belajar
individu dan kelompok.
Didalam kamus Besar Bahasa Indonesia (Hosnan, 2014:32) pengertian pendekatan adalah (1) proses, perbuatan, cara mendekati ; (2) usaha dalam rangka aktivitas pengamatan untuk mengadakan hubungan dengan orang yang diteliti, metode-metode untuk mencapai pengertian tentang masalah pengamatan. Sedangkan menurut Fauziah (2013) pendekatan saintifik mengajak siswa langsung dalam menginferensi masalah yang ada dalam bentuk rumusan masalah dan hipotesis, rasa peduli terhadap lingkungan, rasa ingin tahu dan gemar membaca.
tujuan pembelajaran dengan pendekatan saintifik adalah sebagai berikut : (Hosnan, 2014:36)
1) Untuk meningkatkan kemampuan intelek, khususnya kemampuan berpikir tingkat tinggi peserta didik.
2) Untuk membentuk kemampuan peserta didik dalam menyelesaikan suatu masalah secara sistematik.
3) Terciptanya kondisi pembelajaran dimana peserta didik merasa bahwa belajar itu merupakan suatu kebutuhan.
4) Diperolehnya hasil belajar yang tinggi. 5) Untuk melatih peserta didik dalam
mengomunikasikan ide-ide, khususnya dalam menulis artikel ilmiah.
6) Untuk mengembangkan karakter peserta didik.
Adapun langkah-langkah dalam pendekatan pembalajaran saintifik (Hosnan, 2014:39) adalah (a) mengamati (observing), yakni Melihat, mengamati, membaca, mendengar, menyimak (tanpa dan dengan alat), (b) Menanya (questioning), yakni Mengajukan pertanyaan dari yang faktual sampai yang bersifat hipotesis; diawali dengan bimbingan guru sampai dengan mandiri (menjadi suatu kebiasaan), (c) Mengumpulkan data (experimenting), yakni Menentukan data yang diperlukan dari pertanyaan yang diajukan, menentukan sumber data (benda, dokumen, buku, eksperimen), mengumpulkan data, (d) mengasosiasi (associating), yakni Menganalisis data dalam bentuk membentuk kategori, menentukan hubungan data/kategori, menyimpulkan dari analisis data, (d) mengomunikasikan, yakni Menyampaikan hasil konseptualisasi dalam bentuk lisan, tulisan, diagram, bagan, gambar atau media lainnya.
Penerapan saintifik melalui model pembelajaran kooperatif tipe STAD merupakan proses pembelajaran dengan menggabungkan langkah-langkah model pembelajaran STAD dengan kegiatan saintifik (Naviano dan Wutsqa, 2017). Selanjutnya Yusuf (Naviano dan Wutsqa, 2017) mengatakan bahwa pembelajaran kooperatif
tipe STAD-PS (STAD dengan pendekatan saintifik), selain siswa mempunyai kemampuan kerjasama tim dalam kelompok untuk menyelesaian permasalahan matematika yang diberikan, tanpa ada persaingan, mereka juga dituntut harus mampu memahami materi secara keseluruhan. Selanjutnya, dengan cara tersebut, siswa dapat terlibat secara proaktif dalam pembelajaran dan siswa akan terlatih menemukan keterkaitan konsep-konsep pengetahuan yang dimiliki sebelumnya Yusuf (Naviano dan Wutsqa, 2017). Sehingga dengan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk aktif bekerjasama dengan teman kelompoknya dengan menggunakan model pembelajaran STAD dan mengasah keterampilan berpikir tinggi peserta didik melalui pendekatan saintifik diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar matematika peserta didik.
Berdasarkan kajian teori dan kerngka pikir yang telah diuraikan maka dibuat hipotesis sebagai berikut :
a. Hipotesis penelitian
Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan pendekatan saintifik berpengaruh terhadap hasil belajar matematika peserta didik.
b. Hipotesis Statistik
Untuk keperluan penguji statistik maka hipotesis statistik dirumuskan sebagai berikut
H0 : µ1 = µ2
H1 : µ1 ≠ µ2 Keterangan :
µ1 = skor rata-rata hasil belajar matematika peserta didik yang diajar tanpa menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan pendekatan saintifik
µ2 = skor rata-rata hasil belajar matematika peserta didik yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan pendekatan saintifik
Penelitian ini adalah penelitian quasi eksperiment yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan pendekatan saintifik terhadap hasil belajar matematika. Penelitian eksperimen dapat diartikan sebagai metode penelitian yang digunakan untuk mencari pengaruh perlakuan tertentu terhadap yang lain dalam kondisi yang terkendalikan (Sugiyono, 2012:72).
Dalam penelitian ini digunakan satu kelas sebagai kelas eksperimen dengan penerapan model kooperatif tipe STAD dengan pendekatan saintifik dan satu kelas sebagai kelas kontrol dengan pembelajaran tanpa menerapkan kooperatif tipe STAD dengan pendekatan saintifik.
Adapun yang menjadi variabel dalam penelitian ini adalah hasil belajar matematika pada peserta didik dengan perlakuan penerapan model kooperatif tipe STAD dengan pendekatan saintifik. Definisi operasional variabel dalam penelitian ini skor rata-rata hasil belajar matematika peserta didik yang diberikan pada kelas kontrol dan kelas eksperimen.
Desain penelitian ini adalah the posttest-only control group design. Desain ini menggunakan dua kelompok yang dibentuk secara acak. Pada kedua kelompok satu kelompok diberikan perlakuan (eksperimen) dan kelompok yang satu tanpa perlakuan (kontrol) dan akhirnya diberikan posttest (testnya sama).
Tabel 3.1 Skema Desain Penelitian
R
E
X
1O
1R
K
X
2O
2Keterangan :
R : Randomisasi
E : Kelompok eksperimen K : KeIompok kontrol
X1 : Perlakuan dengan penerapan model kooperatif tipe STAD dengan pendekatan saintifik
X2 : Perlakuan dengan pembelajaran konvensional
O1 : Postes di kelas eksperimen O2 : Postes di kelas kontrol
Adapun populasi dalam penelitian ini adalah seluruh peserta didik kelas X IPS di SMA Negeri 1 Wonomulyo. Kemudian dengan menggunakan teknik simple random sampling dipilih 2 kelas secara acak sebagai sampel, yakni X IPS 1 dan X IPS 2 Yang masing-masing kelas terdiri dari 36 peserta didik. Penelitian ini dilaksanakan pada semester ganjil tahun pelajaran 2017-2018.
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes hasil belajar berupa yang diberikan pada kelas eksperimen dan kelas kontrol setelah proses pembelajaran selesai. Data yang terkumpul merupakan skor untuk masing-masing peserta didik.
Data-data hasil penilitian yang diperoleh, dikumpulkan kemudian dianalisis dengan statistik deskriptif dan statistik inferensial.
Analisis statistik deskriptif digunakan untuk mendeskriptifkan hasil belajar matematika peserta didik untuk kelompok penelitian. Analisis ini meliputi rata-rata, standar deviasi, nilai maksimum, nilai minimum, dan tabel distribusi frekuensi. Kategorisasi data nilai hasil belajar sebagai berikut:
Untuk menguji hipotesis penelitian digunakan teknik statistika inferensial, yaitu analisis yang menekankan pada hubungan antar variabel dengan melakukan pengujian hipotesis dan menyimpulkan hasil penelitian.
Analisis statistika inferensial digunakan untuk menguji hipotesis penelitian dengan menggunakan uji-t. Namun sebelum dilakukan pengujian hipotesis, terlebih dahulu dilakukan uji normalitas dan homogenitas
yang berdistribusi normal jika nilai p >
= 0,05.Sementara untuk pengujian homogenitasnya yang digunakan adalah Levene’s for equality of variances, yang bertujuan untuk mengetahui apakah variansi data homogen. Data hasil belajar matematika yang diperoleh dikatakan homogen jika p >
= 0,05.Untuk keperluan hipotesis digunakan statistik inferensial dengan bantuan program SPSS yaitu statistika uji-t (independent t-test). Pengujian hipotesis dimaksudkan untuk menjawab hipotesis penelitian yang telah diajukan. Dimana p <
= 0,05, berarti H0ditolak dan H1 diterima.
3. HASIL DAN PEMBAHASAN
Analisis Statistik Deskriptif
Skor rata-rata hasil belajar matematika peserta didik yang diajar tanpa menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan pendekatan saintifik adalah 70,29. Skor terendah yang diperoleh 50 dari skor yang tertinggi 91 dari skor ideal 100. Sedangkan skor rata-rata hasil belajar matematika peserta didik yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan pendekatan saintifik adalah 80,30. Skor terendah yang diperoleh 66 dari skor yang tertinggi 96 dari skor ideal 100. Serta hasil belajar matematika peserta didik setelah diajar tanpa menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan pendekatan saintifik yang tidak tuntas (tidak mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal 60) sebanyak 5 peserta didik dengan persentase 13,89% dan yang tuntas sebanyak 31 peserta didik dengan persentase 86,11%. Sedangkan peserta didik setelah diajar dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan pendekatan saintifik telah mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal 60 dengan persentase 100%. Hal ini menunjukan bahwa hasil belajar peserta didik meningkat setelah menggunakan model pembelajaran
kooperatif tipe STAD dengan pendekatan saintifik dibandingkan tanpa menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan pendekatan saintifik.
Analisis Statistik Inferensial
Berdasarkan hasil analisis inferensial dengan bantuan program SPSS versi 20.0. diperoleh hasil dari uji normalitas, diperoleh data bahwa skor hasil belajar matematika peserta didik di kelas kontrol diperoleh nilai p-value = 0,136, sedangkan untuk uji normalitas skor hasil belajar matematika peserta didik di kelas eksperimen diperoleh p-value = 0,136. Kedua p-value lebih besar dari α = 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa data tentang hasil belajar matematika peserta didik dikelas kontrol dan eksperiman berasal dari populasi yang berdistribusi normal.
Sedangkan hasil uji homogenitas nilai signifikansi 0,429 yang berarti bahwa signifikansi yang diperoleh yaitu 0,429 > 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa data hasil belajar matematika peserta didik untuk kedua kelas berasal dari populasi yang homogen.
Berdasarkan hasil analisis data, kedua kelompok berdistribusi normal dan homogen, sehingga pengujian hipotesis dilakukan dengan menggunakan uji independent t-test. Berdasarkan statistik uji-t dengan SPSS 20 diperoleh sig 0,000 < 0,05. Hal ini berarti H0 ditolak, atau dengan kata lain dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan pendekatan saintifik berpengaruh terhadap hasil belajar matematika peserta didik.
bahwa model pembelajaran STAD dengan pendekatan saintifik efektif ditinjau dari motivasi dan prestasi belajar peserta didik.
Dengan menerapkan pendekatan saintifik menuntut peserta didik untuk memecahkan masalah matematika sehingga materi akan tersimpan jangka panjang dalam ingatan peserta didik. Selain itu, dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk berdikusi, bertukar informasi dalam memecahkan masalah matematika. Hal ini membantu peserta didik mengetahui secara langsung manfaat belajar matematika berkaitan dengan kehidupan nyata, serta melatih kemampuan berpikir, menalar, serta berkomunikasi peserta didik dalam menyelesaikan masalah matematika.
Penerapan pendekatan saintifik memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengkonstruksi pengetahuannya sendiri sehingga mampu memahami konsep matematika dengan baik, selanjutnya memanfaatkan kemampuan kognisinya dalam upaya mengingat, mengidentifikasi, dan menggunakan rumus serta menghubungkan, menganalisis, mengevaluasi untuk memecahkan masalah dari soal yang diberikan.
4. KESIMPULAN
Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) rata-rata hasil belajar matematika peserta didik yang diajar tanpa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan pendekatan saintifik yaitu 70,29, (2) rata-rata hasil belajar matematika peserta didik yang diajar dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan pendekatan saintifik yaitu 80,30, (3) penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan pendekatan saintifik berpengaruh terhadap hasil belajar matematika peserta didik.
5. REFERENSI
Anifah, N 2014, Pengaruh Model Pembelajaran Student Teams Achievement Divisions (STAD) dan Konvensional Terhadap Prestasi Belajar Siswa Ditinjau dari Minat Belajar Pada Mata Pelajaran IPS Kleas VIII MTs Negeri di Kabupaten Kudus. Jurnal Teknologi pendidikan dan Pembelajaran, Vol. 2, no.2, hh. 185-198.
Fauziah, R 2013, Pembelajaran Saintifik Elektronika dasar Berorientasi Pembelajaran Berbasis Masalah Journal Invotec, Vol. 9, no.2, hh. 165-187.
Hosnan, 2014, Pendekatan Saintifik dan Kontekstual dalam Pembelajaran Abad 21, Bogor, Ghalia Indonesia.
Naviano, R, Wutsqa, UD 2017, Keefektifan Pembelajaran Matematika dengan Pendekatan Saintifik Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Student Team Achievement Division (STAD) dan Think Pair Share (TPR) Ditinjau dari Motivasi dan Prestasi Peserta Didik Kleas XI SMKN 4 Surakarta, Jurnal Pendidikan Matematika dan Sains, Vol.6, no.4, hh. 79-88.
Nur, M 2000, Pendekatan-pendekatan Konstrruktivis dalam Pembelajaran, Surabaya, IKIP Surabaya.
Rusman, 2012, Model-Model Pembelajaran Mengembangkan Profesionalisme Guru, Jakarta, RajaGrafindo Persada.
Sanjaya, W 2010, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, Jakarta, Kencana.
Sugiyono, 2012, Metode Penelitian Kuantitatif, Kulaitatif, dan R & D, Bandung, Alfabeta.