53
Pada bab ini penulis akan memaparkan tentang hasil penelitian yang berhubungan dengan sikap toleransi dalam pembelajaran pendidikan agama Islam di SMPN 1 Sungai Aur Kabupaten Pasaman Barat. Hasil penelitian ini penulis dapat dari hasil wawancara penulis dengan para guru yang mengajar pendidikan agama Islam, peserta didik, kepala sekolah, serta hasil observasi di SMPN 1 Sungai Aur Kabupaten Pasaman Barat. Namun sebelumnya peneliti membahas tentang gambaran umum SMPN 1 Sungai Aur.
SMPN 1 Sungai Aur terletak di Tanah Bakali Kecamatan Sungai Aur Kabupaten Pasaman Barat. SMP ini letaknya di keramaian sekeliling sekolah terdapat rumah warga dan sekolah ini juga terletak di tepi jalan raya sehingga transportasi sangat lancar dan SMP ini yang pertama didirikan di Kecamatan Sungai Aur. Sehingga SMP ini menjadi sekolah favorit di kalangan peserta didik.
SMPN 1 Sungai Aur ini didirikan pada tahun 1984 dengan status negeri, dengan bantuan dana dari daerah setempat.1 Berdasarkan wawancara penulis dengan karyawan tata usaha, maka ia mengatakan bahwa:
"SMP ini didirikan pada awal tahun 1984 dibantu oleh pemerintah daerah setempat. Pada awalnya sekolah ini hanya terdiri dari dua gedung belajar yang terdiri dari 6 lokal dan satu kantor kepala dan majelis guru. Namun pada saat ini sudah direnovasi dengan ruang kelas 21 lokal, ruang kepala, ruang majelis guru, perpustakaan, labor IPA, Bahasa dan Komputer, ruang keterampilan, ruang kesenian dan wc."2
1
Dokumentasi, SMPN 1 Sungai Aur Kabupaten Pasaman Barat, Tanggal 28 Juli 2017
2
Rita, karyawan tata usaha, di SMPN 1 Sungai Aur, Wawancara Langsung, Tanggal 25 Juli 2017 Pukul 9.00
SMPN 1 Sungai Aur ini sekarang (2017) dipimpin oleh Bapak Supardi, S. Ag, M. Pd. Siswanya kebanyakan berasal dari daerah Tanah Bakali dan daerah sekitar Kecamatan Sungai Aur. Jumlah siswanya dari tahun ke tahun naik turun. Untuk lebih jelas berikut tabel data siswa dari tahun 2013 sampai 2017:
Tabel 4.1
Data siswa dari tahun 2013-2017
TP Jlh(pend
aftaran calon siswa baru)
Kelas VII Kelas VIII Kelas IX Jlh Kls VII,
VIII, IX Jlh Siswa Jlh Rombel JLh Siswa Jlh Rombel Jlh Siswa Jlh Rombel Jlh Siswa Jlh Rombel 2013 256 org 230 6 224 6 165 6 619 18 2014 257 org 211 6 202 6 180 6 593 18 2015 216 org 211 6 204 6 189 6 604 18 2016 211 org 211 7 197 7 183 7 591 20 2017 225 org 225 7 202 7 199 7 626 21
Dari table di atas dapat kita lihat perubahan jumlah siswa di SMPN 1 Sungai Aur naik turun namun di 2017 ini meningkat dimana jumlah siswa sebanyak 626 orang dengan jumlah rombel 21. Adapun visi misi SMPN 1 Sungai Aur sebagai berikut:
VISI
“Generasi berprestasi , berkepribadian yang di landasi iman dan takwa” MISI
1. Melaksanakan pembelajaran secara efektif sehingga semua siswa dapat berkembang secara maksimal.
2. Mendorong dan membantu siswa untuk mengenali potensi dirinya, sehingga dapat berkembang secara optimal.
3. Melaksanakan pembinaan ibadah untuk mengembangkan keimanan dan ketakwaan sebagai dasar kepribadian.
4. Menumbuhkan semangat berolahraga dan kreasi seni serta melaksanakan pembinaan secara berkesinambungan.
5. Menanamkan pola hidup bersih dan sehat dalam kehidupan sehari-hari. 6. Melaksanakan disiplin serta mematuhi tata tertib guna menciptakan
keadaan yang aman dan kondusif dalam pembelajaran.
7. Melaksanakan manajemen partisipatif dengan melibatkan seluruh warga sekolah.
8. Meningkatkan keterampilan siswa dan warga sekolah dalam penguasaan teknologi informasi.3
A. Toleransi di Dalam Kelas
Toleransi merupakan sikap saling menghargai terhadap orang lain yang berbeda atau bertolak belakang dengan kita. Sikap toleransi sangat perlu kita tanamkan karena kita hidup tidak sendiri ada orang lain yang hidup berdampingan dengan kita yang berbeda suku, agama, bahasa dan lainnya. Karena Indonesia ini Negara yang majemuk oleh sebab itu kita perlu menanamkan sikap toleransi.
Sebagaimana yang dikatakan oleh Bapak Adi Irawan S.Pd pada saat penulis wawancarai bahwa toleransi adalah menghormati dan menghargai perbedaan orang lain. Sehingga kita sebagai seorang pendidik harus dapat menanamkan sikap toleransi kepada para siswa dengan memberikan contoh
3
sikap toleransi dimanapun kita berada, khususnya dilingkungan sekolah. Dan untuk mengetahui para siswa sudah bertoleransi atau belum, beliau tidak hanya melihat dari penilaian kognitif saja, namun beliau juga melihat dari penilaian afektif dan psikomotor. Seperti saat istirahat guru diam-diam memantau kegiatan dan sikap para siswa. Kemudian guru PAI juga bekerja sama dengan guru mata pelajaran yang lain untuk memperhatikan sikap para siswa saat mengajar di kelas. Wujud konkrit adanya toleransi beragama tersebut dapat dilihat dari keseharian dan juga sikap siswa terhadap adanya perbedaan.
Sikap toleransi sangat penting dalam kehidupan kita sehari-hari apalagi kita hidup di dunia ini tidak sendiri bahkan banyak sekali perbedaan perbedaan yang kita miliki dengan orang lain, seperti siswa di SMPN 1 Sungai Aur ini terdiri dari agama, bahasa, dan suku yang berbeda-beda. Oleh sebab itu, di SMPN 1 Sungai Aur ini di ajarkan sikap toleransi, baik di mata pelajaran Pendidikan kewarganegaraan ataupun Pendidikan Agama Islam. Sebagaimana wawancara penulis dengan salah seorang guru PAI Bapak Adi beliau mengatakan:
Kami mengajarkan siswa tentang toleransi, karena sikap toleransi itu sangat penting, karna baik di dalam pembelajaran pendidikan agama Islam ataupun kewarganegaraan juga ada materi toleransi yang harus diajarkan kepada siswa. Apalagi siswa disini beda-beda agama jadi sangat penting materi itu diajarkan agar tidak terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan nantinya. Saya mengajarkan siswa saling tolong menolong sekalipun kita tidak kenal orang tersebut dan saya juga mengajarkan siswa saling menghargai satu sama lainnya. Itulah yang saya ajarkan kepada siswa namun apakah saya mengajarkan siswa toleransi dalm pembelajaran PAI itu belum karena saya
mengajar kelas satu dan dua sedangkan materi tersebut diajarkan di kelas tiga.4
Hal senada juga dikatakan oleh ibu Mardiah ketika peneliti tanya apakah di smp ini diajarkan toleransi dalam pembelajaran pendidikan Agama Islam maka beliau menjawab “ya didalam silabus kelas 3 semester satu ada materi tentang toleransi jadi materi tersebut kami ajarkan kepada siswa agar siswa siswi disini dapat memahami dan mengetahui betapa pentingnya toleransi karena tanpa toleransi Indonesia ini akan hancur.5
Peneliti juga mewawancarai Dina Sapitri siswa kelas IX ia juga mengatakan hal yang sama mereka diajarkan toleransi oleh guru pendidikan agama Islam pada pertemuan kedua sesmester 1.6
Pendapat di atas diperkuat oleh kepala sekolah beliau mengatakan memang di SMP ini siswa di ajarkan toleransi sesuai dengan kurikulum yang ada dan beliau juga mengatakan bahwa sebenarnya toleransi ini tidak saja di SMPN 1 Sungai Aur ini namun di SMP lain juga ada seperti SMPN 2 Padang Timbalun.7
Peneliti juaga bertanya tentang sikap toleransi apa saja yang di ajarkan di SMP ini lalu ibu mardiah selaku tenaga pengajar PAI menjawab:
Kami mengajarkan siswa bidang ibadah dan muamalah dan saat pembelajaran pendidikan agama Islam berlangsung kami menyuruh siswa yang nonmuslim untuk keluar kelas tetapi
4
Adi Irawan, Guru Pendidikan Agama Islam, di SMPN 1 Sungai Aur Kabupaten Pasaman Barat, Wawancara Langsung, Tanggal 15 Mei 2017 Pukul 9.00
5
Mardiah, Guru Pendidikan Agama Islam, di SMPN 1 Sungai Aur, Wawancara Langsung, Tanggal 16 Mei 2017 Pukul 9.30
6
Dina Sapitri, Siswa kelas IX , di SMPN 1 Sungai Aur Kabupaten Pasaman Barat, Wawancara Langsung, Tanggal 5 Juni 2017, Pukul 9.30
7
Supardi, Kepala Sekolah SMPN 1 Sungai Aur Kabupaten Pasaman Barat, di Sungai Aur, Wawancara Langsung, Tanggal 18 Mei 2017, Pukul 9.00
terkadang mereka tidak mau keluar mereka tetap didalam namun kami membiarkannya asalkan tidak menggangu proses pembelajaran berlangsung.8
Bapak Muhammad Yazi juga mengatakan saat pembelajaran pendidikan agama Islam berlangsung siswa yang nonmuslim tetap di dalam. Namun kami biarkan asal tidak menggangu temannya karna sekalipun ia keluar di suruh ke perpustakaan misalnya takutnya di berkeliaran di sekolah karna tidak ada yang memantau.9
Ihsan siswa kelas VIII 1 juga mengatakan hal yang sama ketika peneliti tanya mereka jawab “saat belajar agama mereka tetap di dalam kak tapi tidak mendengarkan, mereka hanya duduk dan diam saja”10
Peneliti juga bertanya kepada Bapak Adi Irawan apakah siswa sering bertengkar karena perbedaan pendapat, suku, agama, atau bahasa lalu beliau menjawab: “kalau hal-hal seperti itu pasti ada kalau di lokal misalnya ketika kerja kelompok, dalam satu kelompok itu pasti ada yang berbeda pendapat dimana yang satu menginkan pendapatnya yang diikuti dan yang satunya lagi sebaliknya. Hal seperti itu pasti pernah terjadi tapi dengan motivasi dan nasehat kejadian seperti itu tidak di ulang lagi oleh siswa.”.11
Prinsip kerukunan hidup umat beragama itu sebenarnya menyangkut hal-hal yang sangat rumit, karena berkaitan dengan segi-segi emosional dan perasaan mendalam dalam kehidupan manusia. Pelaksanaanya baru berjalan dengan baik bila masing-masing pemeluk agama mampu mencegah emosi atas
8
Mardiah, Guru Pendidikan Agama Islam, di SMPN 1 Sungai Aur, Wawancara Langsung, Tanggal 16 Mei 2017 Pukul 9.30
9
Ahmad Yasi, Guru Pendidikan Agama Islam, di SMPN 1 Sungai Aur, Wawancara Langsung, Tanggal 17 Mei 2017, Pukul 8.00
10
Ihsan, Siswa kelas VII, di SMPN 1 Sungai Aur, Wawancara Langsung, Tanggal 15 Juli 2017, Pukul 10.00
11
Adi Irawan, Guru Pendidikan Agama Islam, di SMPN 1 Sungai Aur Kabupaten Pasaman Barat, Wawancara Langsung, Tanggal 15 Mei 2017 Pukul 9.00
pertimbangan akal sehat. Kemampuan itu sendiri menyangkut tingkat kedewasaan serta kemantapan pada diri sendiri, baik pada tingkat individu maupun kolektif.
Begitu juga yang dikatakan oleh Ibuk Nurniati guru Kewarganegaraan toleransi yang mereka ajarkan adalah untuk menanamkan sikap toleransi dalam kehidupan sosial di masyarakat kami kira tidak begitu sulit. Kami menanamkan sikap tersebut dengan cara melatih kebiasaan siswa untuk saling bergotong royong dan bekerja sama serta menyelesaikan perselisihan. Jika memang terdapat perselisihan terhadap sesama teman ataupun dengan guru. Guru PAI bekerjasama dengan guru-guru yang lain dalam hal pembiasaan ini namun tidak ada dipaksakan. Semua berjalan sesuai dengan hati nurani masing-masing dan rasa empati siswa serta kasih sayang terhadap sesama yang dirasa perlu untuk lebih ditingkatkan.12
Berdasarkan observasi peneliti di SMPN 1 Sungai Aur siswa SMP Negeri 1 Sungai Aur Kabupaten Pasaman Barat berasal dari latar belakang yang berbeda. Mereka memiliki latar belakang agama yang berbeda, ada 3 agama yang dianut siswa SMP Negeri 1 Sungai Aur, yaitu agama Islam, Kristen dan Katolik. Dari 591 siswa di SMPN 1 Sungai Aur 29 orang yang beragama nonmuslim.
Sikap toleransi antar siswa juga dapat dilihat di dalam kelas saat pembelajaran berlangsung, hal ini berdasarkan hasil observasi peneliti saat mengikuti kegiatan belajar mengajar di dalam kelas. Saat guru memberikan tugas kelompok dan menyuruh siswa untuk membentuk kelompok sendiri, maka antara siswa muslim dan nonmuslim dapat berbaur, mereka tidak membeda-bedakan satu sama lain, seperti muslim dengan muslim saja
12
Nurniati, Guru Pendidikan Kewarganegaraan, Di SMPN 1 Sungai Aur, Wawancara Langsung, Tanggal 11 Juli 2017, Pukul 9.00
sedangkan yang nonmuslim tidak diacuhkan, tetapi mereka justru berbaur dan saling menghargai satu sama lain. Meski demikian, hal tersebut tidak berarti mempengaruhi aqidah masing-masing siswa. Siswa mampu memilah dan memahami batasan bergaul dengan teman yang beda agama.13
Namun demikian dengan adanya perbedaan agama tersebut mereka saling bekerja sama, saling menghargai satu sama lain. Sehingga kerukunan antar umat beragama di SMP Negeri 1 Sungai Aur terjalin sangat baik. Dapat dikatakan bahwa hampir seluruh siswa mampu bersikap atau bertingkah laku secara toleran kepada temannya yang berlainan agama, walaupun di dalam pembelajaran tersebut ada sedikit siswa yang tidak toleran misalnya mengganggu temannya yang sedang belajar, ada yang caci maki temannya karena buku temannya yang jelek, saling benci karena pendapatnya tidak diterima sedangkan pendapat temannya di terima.
Sebagaimana dikatakan oleh Nadia siswa kelas VIII jika ada kerja kelompok kami tidak pilih-pilih teman kak, baik itu muslim atau non muslim. Kita harus memiliki rasa toleransi yang tinggi terhadap yang berbeda agama, tapi kadang-kadang saat pramuka ketika doa bersama ada teman yang mengganggu yang melirik-lirik atau menyenggol kita saat doa tersebut .14
Penadapat di atas juga senada dengan pendapat Muhammad Ihsan siswa kelas IX kalau kami kerja kelompok Ibu guru sengaja membagi kelompok dengan teman yang berbeda-beda tidak boleh teman dekat kita
13
Observasi, di SMPN 1 Sungai Aur Kabupaten Pasaman Barat, Tanggal 16 Mei 2017, Pukul 7.30
14
Nadia, Siswa kelas VIII, di SMPN 1 Sungai Aur, wawancara langsung, Tanggal 10 Juli 2017 Pukul 9.00 Wib
sendiri agar kita semua saling kenal, dan akan mempererat tali silaturrahmi kita dan begitu juga ketika olahraga Bapak guru selalu mengganti kelompok setiap minggu.15
Mereka sadar ketika mereka dihadapkan pada keadaan dimana mereka harus bersikap baik dan toleran mereka bisa membawa diri, tetapi sejauh mana mereka bertoleran, mereka tahu hanya sebatas mua’malah dan urusan lainnya kecuali urusan aqidah. Karena pada dasarnya kita tidak boleh mengusik kepercayaan yang dianut oleh orang lain.
Meski siswa yang nonmuslim di SMP Negeri 1 Sungai Aur adalah minoritas, tetapi tidak menutup kemungkinan siswa yang nonmuslim ikut berpartisipasi dalam kegiatan OSIS, mereka yang nonmuslim juga aktif dalam kegiatan bakti sosial, hal ini menunjukkan bahwa antara siswa nonmuslim dengan muslim dapat berbaur dan bekerja sama. Fakta membuktikan bahwa organisasi intern yang ada di sekolah juga mendukung adanya sikap toleransi, dengan tidak membeda-bedakan golongan minoritas.
Selain itu Bapak Supardi selaku kepala sekolah di SMPN 1 Sungai Aur ini juga mengatakan kami tidak membeda-bedakan siswa yang beragama Islam dan selain Islam bagi kami itu sama saja walaupun agama nonmuslim disini minoritas dan di sekolah ini kebanyakan tenaga pengajarnya juga beragama muslim. Tetapi ini tidak menutup kemungkinan untuk siswa yang beragama minoritas untuk ikut berpartasipasi didalam kegiatan sekolah seperti kegiatan sosial dan humanisasi.16
Sintia siswa kelas tujuh juga mengatakan Bapak/Ibuk guru tidak membeda-bedakan antara siswa yang beragama Islam dan yang tidak beragama Islam semuanya sama saja. Hal ini dibuktikan ketika
15
Muhammad Ihsan, Siswa kelas IX,, di SMPN 1 Sungai Aur, Wawancara langsung, Tanggal 5 Junii 2017 Pukul 10.00 Wib
16
Supardi, Kepala Sekolah SMPN 1 Sungai Aur Kabupaten Pasaman Barat, di SMPN 1 Sungai Aur, Wawancara Langsung, tanggal 18 Mei 2017 Pukul 9.00
pembelajaran berlangsung di kelas. Jika ada suatu pertanyaan misalnya Bapak guru tidak bertanya kepada yang beragama Islam saja tetapi semuanya, begitu juga dengan nilai, semuanya berdasarkan kemampuan kita sendiri tanpa pilih kasih.17
Di SMPN 1 Sungai Aur ini siswa di ajarkan toleransi di bidang ibadah dan muamalah (kemasyarakatan), kalau toleransi di bidang ibadah di jelaskan oleh Ibuk Mardiah tentang bagaimana Islam mentoleran ummatnya misalnya ketika orang sakit saat bulan ramadhan maka ia boleh tidak berpuasa tetapi diganti di hari lain selain itu keringan juga bagi orang yang sakit, ketika shalat apabila tidak bisa berdiri maka diperbolehkan shalat duduk apabila duduk juga tidak bisa maka di perbolehkan berbaring dan seterusnya. Itulah beberapa contoh tentang toleransi Islam kepada ummatnya.
Jadi dapat penulis simpulkan bahwa kita sebagai ummat Islam hendaklah bersikap toleran kepada orang yang berbeda dengan kita karena Allah juga sangat toleran kepada ummatnya. Jadi kalau Allah bersikap toleran kenapa kita tidak maka dari itu kita harus menanamkan sikap toleransi kepada sesama Islam ataupun tidak.
Adapun bentuk toleransi di dalam kelas di SMPN 1 Sungai Aur adalah sebagai berikut:
a. Pemanfaatan sumber belajar
Di dalam pemanfaatan sumber belajar sekolah ini menggunakan sumber belajar dari buku-buku umum yang tidak hanya terfokus kepada Islam saja tetapi lebih multikultural.
b. Memilih gaya guru mengajar yang baik (gaya demokrasi)
17
Sintia, Siswa kelas VII, di SMPN 1 Sungai Aur, Wawancara Langsung, Tanggal18 Mei 2017, Pukul 9.30
Berdasarkan observasi yang penulis lihat gaya guru Agama dalam mengajar yaitu dengan gaya demokrasi dimana semua siswa boleh berbicara, semua siswa harus aktif dalam proses pembelajaran. c. Penerapan variasi metode dan memilih metode yang sesuai
Metode guru dalam mengajar bervariasi dimana kadang guru menggunakan metode ceramah, Tanya jawab, audio, atau audio visual ini bermanfaat untuk siswa agar kita mengetahui metode apa yang disukai oleh peserta didik agar pelajaran dapat dengan mudah di serap oleh peserta didik.
d. Menciptakan komunikasi dengan siswa
Saat pembelajaran berlangsung guru mengadakan atau menciptakan komunikasi yang baik dengan siswa agar materi yang di ajarakan dapat ditangkap anak didik begitu juga yang dilakukan di SMPN 1 Sungai Aur ini saat penulis observasi dimana guru mengadakan hubungan timbal balik dengan siswa, dengan cara guru bertanya dan peserta didik menjawab.18
Berdasarkan hasil wawancara dan observasi di atas dapat penulis simpulkan bahwa sikap toleransi beragama di SMP Negeri 1 Sungai Aur sudah baik, walaupun masih ada siswa yang masih usil terhadap siswa nonmuslim, seperti yang dikatakan oleh Nadia, bahwa saat ada ekstrakulikuler pramuka, dimana seluruh siswa muslim sedang mengadakan doa bersama, ada saja salah satu siswa yang mengganggu saat doa bersama. Hal ini bisa terjadi
18
karena usia anak SMP adalah usia remaja, dimana masa peralihan yang di tempuh oleh seorang dari kanak-kanak menuju dewasa.
Dapat dikatakan bahwa usia mereka belum mencapai kematangan emosional, sehingga masih sering mengganggu temannya. Namun hal ini bisa diatasi dengan adanya bimbingan dari guru.
B. Toleransi di Luar Kelas
Diluar kelas guru PAI memberikan contoh sikap menghormati dan menghargai semua warga sekolah. Seperti menegur saat bertemu dengan warga sekolah, bekerjasama dengan pihak sekolah untuk menerapkan 3S (senyum, sapa, salam). Yang bertujuan untuk mengakrabkan semua warga sekolah dan bertoleransi, membiasakan siswa mencium tangan guru saat masuk dan pulang sekolah.19
Demikian penjelasan tentang bentuk toleransi di dalam kelas. Ada kalanya hidup berdampingan terhadap masyarakat yang beragama baik di lingkungan sekolah maupun di masyarakat secara luas perlu di adakan pembiasaan-pembiasaan yang penting guna terbentuknya rasa kasih sayang terhadap sesama dan terwujudnya kehidupan yang aman dan damai.
Proses penanaman nilai-nilai toleransi di SMPN 1 Sungai Aur Kabupaten Pasaman Barat dapat dilihat pada saat pembelajaran PAI berlangsung pada suatu kelas. Karena dalam satu kelas ada beberapa siswa yang memiliki agama berbeda yaitu Islam dan Kristen. Maka pada saat pembelajaran PAI berlangsung siswa yang beragama nonmuslim diberi
19
Observasi, di SMPN 1 Sungai Aur Kabupaten Pasaman Barat, Tanggal 12 Juli 2017, Pukul 7.30
kesempatan memilih untuk mengikuti pembelajaran PAI di kelas atau di suruh keluar kelas. Namun hampir seluruh siswa memilih untuk tetap didalam kelas mereka mengikuti pembelajaran sebagaimana teman-temannya, tetapi mereka tidak mendengarkan apa yang yang disampaikan oleh guru. Mereka hanya diam terkadang adapula yang tertidur akan tetapi guru PAI tersebut membiarkannya asal mereka tidak mengganggu temannya.
Dan saat penulis mewawancarai Kepala Sekolah beliau juga mengatakan peserta didik nonmuslim ini sering kali tidur atau hanya menempelkan kepalanya ke meja, beliau mengatakan kami biarkan saja asal tidak mengganggu teman atau ribut dari pada keluar dia berkeliaran entah kemana karena dia tidak dalam pengawasan kita maka takutnya nanti dia mengganggu temannya ke lokal lain.
Kevin siswa kelas VIII juga mengatakan hal yang sama saat pembelajran PAI berlangsung siswa yang beragama nonmuslim tetap berada di dalam kelas tetapi mereka tidak mendengarkan guru menjelaskan pelajaran.20
Jadi penulis simpulkan bahwa siswa nonmuslim di SMPN 1 Sungai Aur ini saat pembelajaran PAI berlangsung tetap di dalam namun tidak mendengarkan pembelajaran tersebut.
Saat penulis wawancarai tentang nilai-nilai toleransi apa saja yang ditanamkan di SMPN 1 Sungai Aur maka Bapak Ahmad Yasi selaku guru Pendidikan Agama Islam menjawab bahwa sebagai guru agama saya mengajarkan anak didik saya tolong menolong dan bermusyawarah, nah dengan musyawarah ini
20
Kevin, Siswa Kelas VIII, di SMPN 1 Sungai Aur, Wawancara Langsung, Tanggal 10 Juli 2017 Pukul 10.00
nantinya diharapkan peserta didik ini saling menghargai walaupun pendapat yang satu dengan yang lain berbeda. Jadi dari musyawarah inilah peserta didik belajar saling mengharagai.21
Bapak Adi Irawan juga mengatakan hal yang sama nilai-nilai toleransi yang ditanamkan di SMPN 1 Sungai Aur ini yaitu tolong menolong dan bermusyawarah, dengan musyawarah ini peserta didik saling menghargai walaupun pendapat mereka berbeda. Dengan musyawarah ini juga peserta didik belajar saling menghargai.22
Pendapat di atas juga senada dengan pendapat Raniya siswa kelas VIII mengatakan bahwa mereka diajarkan untuk saling tolong menolong, saling menghormati juga menghargai pendapat orang lain kalau di kelas tidak boleh menertawakan teman yang salah.23
Berdasarkan observasi, penulis juga melihat ketika penulis masuk ke kelas VIII 3 ketika bapak Adi mengajar dan waktu itu beliau bertanya kepada siswa tentang pembelajaran yang telah lalu dan dengan semangatnya abel salah satu siswa di kelas tersebut menujuk tangan dan menjawab dan ketika ia jawab teman-temannya tertawa karena jawaban siswa ini salah dan bapak Adi langsung memukul meja dan menyuruh siswa lainnya diam, beliau memberikan nasehat kepada siswa bahwa ketika teman kita salah kita tidak boleh menertawakannya karena tidak ada manusia yang sempurna, tidak ada manusia yang tak bersalah. Yang dikatakan abel sebenarnya tidak salah memang benar pelajaran terakhir bagi abel memang itu karena minggu lalu ia
21
Ahmad Yasi, Guru Pendidikan Agama Islam, di SMPN 1 Sungai Aur, Wawancara Langsung, Tanggal 17 Mei 2017 Pukul 9.00
22
Adi Irawan, Guru Pendidikan Agama Islam, di SMPN 1 Sungai Aur Kabupaten Pasaman Barat, Wawancara Langsung, Tanggal 15 Mei 2017 Pukul 9.00
23
Raniya, Siswa kelas VIII, di SMPN 1 Sungai Aur, Wawancara Langsung, Tanggal 10 Juli 2017 Pukul 10.00
libur saat belajar agam Islam, ujar bapak Adi selaku guru PAI di kelas tersebut.24
Jadi dapat penulis simpulkan bahwa nilai-nilai toleransi yang biasanya di ajarkan di SMPN 1 Sungai Aur Kabupaten Pasaman Barat adalah yang berkaitan dengan nilai saling tolong menolong, bermusyawarah, saling menghormati dan saling mengenal antara umat beragama satu sama lain baik itu Kristen katolik, Protestan maupun Islam. Nilai-nilai toleransi ini di ajarkan kepada mereka karena dilingkungan sekitar mereka hidup masyarakat yang berbeda agama.
Penulis mewawancarai seorang siswa tentang sikap siswa nonmuslim terhadap siswa Muslim lalu ia menjawab mereka sangat baik-baik sekalipun kita usil kepada mereka mereka diam aja dan tidak kapok berteman dengan kita sekalipun dia sangat marah kepada kita namun itu hanya sebentar besoknya dia sudah baik lagi begitulah sikap mereka kepada agama mayoritas.25
Peneliti juga bertanya kepada Kevin tentang bagaimana solusi jika ada peserta didik yang tidak bersikap toleransi lalu Kevin menjawab siswa tersebut dibawa ke ruang BK lalu di berikan peringatan agar tidak mengulangi perbuatannya lagi dan menasehati siswa tersebut dan apabila siswa tersebut sudah sering berbuat salah maksudnya kasus-kasusnya di sekolah ini sudah banyak maka ia akan dihukum misalnya di suruh hormat bendera sampai istirahat.26 Dalam hal ini penulis juga melihat sendiri ketika anak ada masalah
24
Observasi, di SMPN 1 Sungai Aur Kabupaten Pasaman Barat Tanggal 7 Juni 2017, Pukul 10.00
25
Kurnia Akbar, Siswa kelas VIII, di SMPN 1 Sungai Aur, Wawancara Langsung, Tanggal 7 Juni 2017, Pukul 9.30
26
Kevin, Siswa Kelas VIII, di SMPN 1 Sungai Aur, Wawancara Langsung, Tanggal 12 Juli 2017 Pukul 10.00
maka anak tersebut di bawa ke ruang BK untuk di berikan pengarahan dan nasehat.
Dalam menjalani kehidupan sosial tidak bisa dipungkiri akan ada gesekan-gesekan yang terjadi antar kelompok masyarakat, baik yang berkaitan dengan agama atau ras. Dalam rangka menjaga kesatuan dan persatuan dalam masyarakat maka diperlukan sikap saling menghormati dan menghargai, sehingga gesekan-gesekan yang terjadi tidak menimbulkan pertikaian.
Berdasarkan wawancara dengan guru pendidikan agama Islam dalam mengembangkan sikap toleransi dilakukan melalui beberapa kegiatan yaitu belajar mengajar dimana siswa mengikuti pembelajaran sesuai dengan agamanya masing-masing, kemudian melalui kegiatan gotong royong dan olahraga bersama dan kegiatan sosial.27
Hal tersebut seperti yang dijelaskan Boa Nasita siswa yang beragama nonmuslim dimana ia mengatakan kami belajar agama di greja dengan guru agama kami, karena di SMPN 1 Sungai Aur tidak ada guru agama Kristen, jadi kami belajar di lingkungan masing-masing.28
Berdasarkan hasil wawancara tersebut, menunjukkan bahwa pembelajaran untuk siswa yang nonmuslim belum dilaksanakan di dalam lingkungan sekolah, hal ini tidak sesuai dengan indikator toleransi beragama di sekolah yaitu siswa berhak medapatkan pengajaran agama sesuai kepercayaan masing-masing, jadi toleransi dalam hal ini belum dikatakan
27
Adi Irawan, Guru Pendidikan Agama Islam, di SMPN 1 Sungai Aur Kabupaten Pasaman Barat, Wawancara Langsung, Tanggal 15 Mei 2017 Pukul 9.00
28
Boa Nasita, Siswa kelas IX, di SMPN 1 Suungai Aur, Wawancara Langsung,Tanggal 6 Juni 2017, Pukul 9.30
baik, seharusnya pihak sekolah mendatangkan guru agama Kristen untuk memberikan materi kepada siswa nonmuslim, sehingga siswa nonmuslim tidak saja mendapatkan materi agama di gereja tetapi di sekolah mereka juga belajar.
Berdasarkan hasil observasi proses pengembangan sikap toleransi beragama di SMP Negeri 1 Sungai Aur dilakukan melalui beberapa kegiatan, diantaranya :
a. Kegiatan belajar mengajar
Kegiatan belajar mengajar ini yaitu setiap siswa mengikuti pembelajaran agama sesuai dengan agamanya masing-masing dengan bimbingan guru yang seagama dengan siswa. Dengan adanya toleransi semacam ini maka siswa yang nonmuslim, bebas memilih pembelajaran agamanya, tetapi untuk pembelajaran siswa nonmuslim tidak di sekolah namun di lingkungan masing-masing. Karena di sekolah ini tidak ada guru agama untuk yang nonmuslim.
b. Kegiatan humanisasi
Humanisasi adalah menumbuhkan rasa perikemanusiaan. SMP Negeri 1 Sungai Aur memliki kegiatan sendiri untuk menciptakan lingkungan yang pluralis, yaitu dengan adanya kegiatan humanisasi, kegiatan itu meliputi, olah raga bersama, keagamaan dan kebersihan. c. Kegiatan sosial yang tidak membedakan suku dan agama.
Kegiatan sosial yang tidak membedakan suku dan agama misalnya ketika ada siswa yang beragama muslim atau non muslim terkena musibah
maka, pihak osis meminta sumbangan sukarela kepada seluruh siswa. Nantinya bantuan itu akan diberikan kepada keluarga duka, baik secara moril maupun materil.
Dari serangkaian kegiatan-kegiatan yang ada di SMP Negeri 1 Sungai Aur menunjukkan bahwa SMP ini menjujung tinggi nilai-nilai toleransi, saling menghargai dan belajar dari perbedaan, anak yang nonmuslim dan muslim mereka dipandang sama, mendapatkan hak yang sama tidak ada diskriminasi kaum minoritas di lingkungan SMP Negeri 1 Sungai Aur.29
Berdasarkan observasi yang penulis lihat sikap Muslim terhadap nonmuslim sangat baik walaupun ada sebagian kecil siswa yang usil dan saling ejek kepada teman yang berbeda agamanya. Dimana ketika proses pembelajaran berlangsung siswa menarik jilbab temannya dari belakang. Seperti yang penulis lihat sepertinya agama mayoritas agak berkuasa di dalam suatu hal misalnya mereka merasa bangga dan merasa di tinggikan karena mereka lebih banyak dari agama yang minoritas.
Sedangkan penulis lihat kalau sikap nonmuslim terhadap Muslim sangat baik dan toleran jika waktu shalat tiba maka mereka tidak menggangu bahkan mereka menyuruh temannya shalat ketika waktu shalat zuhur tiba. Untuk mengantisipasi sikap Muslim terhadap nonmuslim yang kurang baik maka perlu ditanamkan kepada peserta didik untuk bersikap toleransi dan saling menghargai agar antara guru, peserta didik,
29
Observasi, di SMPN 1 Sungai Aur Kabupaten Pasaman Barat Tanggal 19 Mei 2017, Pukul 9.00
masyarakat aman dan damai di lingkungan sekolah tersebut. Namun jika ada siswa yang tidak bertoleran maka siswa tersebut di bawa ke ruang BK untuk di mediasi dan diberi pengarahan.30
Berdasarkan hasil wawancara dan observasi tersebut dapat penulis simpulkan untuk mengembangkan sikap toleransi siswa di SMPN 1 Sungai Aur melakukan beberapa kegiatan yaitu belajar mengajar, kegiatan humanisasi atau menumbuhkan rasa kemanusiaan dan kegiatan sosial yang tidak membedakan suku dan bangsa.
C. Pergaulan Siswa di SMPN 1 Sungai Aur Kabupaten Pasaman Barat Pergaulan merupakan proses interaksi yang dilakukan oleh individu dengan individu, dapat juga oleh individu dengan kelompok. Seperti yang dikemukakan oleh Aristoteles bahwa manusia sebagai makhluk sosial tidak lepas dari kebersamaan dengan manusia lain. Pergaulan mempunyai pengaruh yang besar dalam pembentukan kepribadian seorang individu.
Melalui wawancara dengan Bapak Adi beliau mengatakan bahwa pergaulan siswa di SMPN 1 Sungai Aur ini sangat baik itu dapat dilihat dari sikap siswa dalam bergaul dengan temannya. Pergaulan tersebut terlihat bahwa tidak ada pengaruh dari luar yang membuat siswa bersikap tidak baik. Mereka sangat pandai dalam bergaul dengan temannya mereka bisa menyesuaikan diri walaupun mereka berbeda-beda.
30
Observasi, di SMPN 1 Sungai Aur Kabupaten Pasaman Barat Tanggal 16 Mei 2017, Pukul 9.30
Faktor pendukung sikap toleransi
Faktor pendukung adalah faktor pendorong jalannya kegiatan yang dilaksanakan dalam mengembangan sikap toleransi siswa. Adapun yang menjadi faktor pendukung sikap toleransi sebagaimana wawancara penulis dengan guru pendidikan agama Islam yaitu Bapak Ahmad Yasi mengatakan bahwa:
Faktor pendukung sikap toleransi adalah adanya keragaman. Indonesia dikenal sebagai negara besar ketiga di dunia yang demokratis sekaligus negara besar yang paling banyak orang Islamnya. Bagaimana Islam di Indonesia? Saya pikir kondisi Islam di Indonesia ini adalah salah satu faktor pendorong untuk bersikap toleransi. Dan yang kedua adalah pancasila ada ungkapan jawa tertua “bhineka Tunggal Ika” berbeda-beda tapi tetap satu jadi ungkapan ini saya rasa termasuk kedalam faktor pendukung sikap toleransi.31
Selain pendapat di atas maka ibuk Mardiah juga mengatakan saat penulis wawancarai bahwa ada beberapa hal yang menjadi faktor pendukung sikap toleransi yaitu sebagai berikut:
a. Adanya sifat bangsa Indonesia yang religious
b. Adanya nilai-nilai luhur budaya yang telah berakar dalam masyarakat seperti gotong royong, saling hormat menghormati.
c. Kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama masing-masing.
31
Ahmad Yasi, Guru Pendidikan Agama Islam, di SMPN 1 Sungai Aur, Wawancara Langsung, Tanggal 17 Mei 2017 Pukul 9.00
d. Kerja sama dikalangan ummat beragama dan pemerintah32
Berdasarkan observasi yang penulis lakukan yang menjadi faktor pendukung sikap toleransi adalah dengan adanya perbedaan-perbedaan antar siswa baik itu dari segi agam, suku, ataupun bahasa. Dari perbedaan-perbedaan tersebut maka muncullah dalam diri kita untuk selalu bersikap toleransi agar kehidupan kita aman dan damai. Selain itu yang menjadi faktor pendukung pengembangan sikap toleransi adalah adanya sifat gotong royong yang tertanam dalam diri peserta didik dan saling menghargai dan menghormati seperti yang dikatakan sebelumnya bahwa di SMPN 1 Sungai Aur ini di terapakan 3S yaitu senyum, sapa, dan salam.33
Jadi dari hasil wawancara dan observasi tersebut dapat penulis simpulkan yang menjadi faktor pendukung sikap toleransi adalah adanya keragaman seperti yang penulis lihat di SMPN 1 Sungai Aur ini siswanya beragam dari segi agama suku, dan bahasa. Kalau penulis lihat dari segi agama maka agama yang dianut siswa ada agama Islam, Katolik dan Protestan. Dilihat dari suku, suku yang dianut siswa ada lubis, Nasution, Batubara, dan lainnya. Kemudian dilihat dari bahasa, bahasa yang dipakai siswa sehari-hari ada yang mandhailing, melayu, jawa, dan Bahasa Indonesia.
32
Mardiah, Guru Pendidikan Agama Islam, di SMPN 1 Sungai Aur, Wawancara Langsung, Tanggal 16 Mei 2017 Pukul 9.30
33
Observasi, di SMPN 1 Sungai Aur Kabupaten Pasaman Barat Tanggal 6 Juni 2017, Pukul 9.30
Faktor penghambat sikap toleransi
Faktor penghambat merupakan kendala yang dihadapi seseorang dalam melaksanakan suatu kegiatan, yang dimaksud disini adalah kendala guru terhadap sikap toleransi dalam pembelajaran pendidikan agama Islam di SMPN 1 Sungai Aur Kabupaten Pasaman Barat. Adapun faktor penghambat atau kendala yang dihadapi guru adalah sebagai berikut.
Berdasarkan hasil intervew dan observasi di SMP Negeri 1 Sungai Aur, maka dapat di kemukakan beberapa faktor penghambat dari sikap toleransi beragama di Sekolah.
a) Tingkat kematangan emosional siswa yang tidak sama antara satu sama lain.
Tingkat kematangan emosional siswa sangat berbeda apalagi anak yang umurnya masih beranjak dewasa itu sangat susah sekali untuk mengontrol seperti yang di katakan oleh Sintia siswa kelas VII “pada saat peneliti wawancarai bahwa ia mengatakan pada saat upacara atau kultum mereka sering usil terhadap teman yang lain misalnnya menarik jilbab temannya dari belakang”.34
“Muhammad Azhari juga mengatakan bahwa saat mereka sedang belajar kelompok siswa yang satu sering mencoret buku teman yang lain”.35
b) Keterbatasan waktu belajar
34
Sintia, Siswa kelas VII, di SMPN 1 Sungai Aur, Wawancara Langsung, Tanggal 15 Juli 2017, Pukul 9.30
35
Muhammad Azhari, Siswa kelas VII, di SMPN 1 Sungai Aur, Wawancara Langsung, Tanggal 10 Juli 2017, Pukul 10.00
Berdasarkan wawancara peneliti dengan guru pendidikan agama Islam Bapak Adi Irawan mengatakan sebenarnya jam mata pelajaran agama sedikit sekali dimana hanya dua jam seminggu seharusnya jam mata pelajaran agama ini diperbanyak.
Belajar agama ini sangat penting untuk menjadikan anak didik menjadi anak yang berakhlak, berbudi pekerti yang baik, bertoleran dan menjadikan peserta didik sebagai anak yang berguna bagi nusa dan bangsa nantinya.36
c) Kurangnya pendidik agama Kristen
Berdasarkan observasi yang penulis lihat peserta didik di SMPN I sungai Aur ini memerlukan pelajaran agama masing-masing di sekolah sebagai tambahan dari ajaran orang tuanya di rumah.37
Berdasarkan wawancara penulis dengan bapak Supardi selaku kepala sekolah di SMPN 1 Sungai Aur beliau mengatakan Bahwa memang benar hal tersebut sangat diperlukan peserta didik yang Beragama nonmuslim ini akan haus dengan ilmu agama karena menurut kepala sekolah ini mereka jarang belajar agama.
Menurut beliau dimana mereka belajar di sekolah tidak ada sedang di rumah oarng tua peserta didik ini sangat sibuk dengan
36
Adi Irawan, Guru Pendidikan Agama Islam, di SMPN 1 Sungai Aur Kabupaten Pasaman Barat, Wawancara Langsung, Tanggal 19 Mei 2017 Pukul 9.00
37
tugasnya masing-masing. Karena banyak siswa yang bergama nonmuslim ini datang dari jauh.38
Untuk mengatasi kendala-kendala diatas, maka upaya-upaya yang dilakukan oleh sekolah adalah :
1) Selalu mengadakan kegiatan bersama, yaitu humanisasi agar sikap toleransi antar siswa dapat terwujud dengan baik dan guru harus membimbing siswanya agar memahami makna toleransi beragama. 2) Guru harus lebih kreatif dalam memilih dan mengaplikasikan
model pembelajaran yang sesuai dengan materi yang terkait.
3) Sekolah harus mengupayakan ada pendidik agama Kristen, sehingga siswa yang nonmuslim mendapatkan pelajaran agama tidak diluar sekolah, yaitu di greja dengan pendidik agama non muslim.
4) Sekolah harus memliki fasilitas yang menunjang akan sikap toleransi antar umat beragama.
C. Pembahasan
1. Toleransi di dalam kelas
Toleransi berarti sifat menenggang, membiarkan atau membolehkan. Dengan kata lain toleransi adalah sikap lapang dada terhadap prinsip orang lain. Sifat toleran akan menjadi lebih baik jika diiringi dengan sifat pemaaf. Orang yang memiliki sifat toleransi akan mejaga diri dari amarah dan kedengkian. Toleransi beragama adalah
38
Supardi, Kepala Sekolah SMPN 1 Sungai Aur Kabupaten Pasaman Barat, di SMPN 1 Sungai Aur, wawancara langsung, Tanggal 23 Mei 2017, Pukul 10.00
memberikan kebebasan atau kesempatan kepada orang lain untuk memeluk agamanya dan beribadah sesuai dengan agamanya masing-masing.39
Adapun bentuk-bentuk toleransi di SMPN 1 Sungai Aur adalah toleransi di dalam kelas meliputi pemanfaatan sumber belajar, memilih gaya guru mengajar, memilih metode yang sesuai dan menciptakan komunikasi yang baik dengan siswa.
Berdasarkan wawancara toleransi di dalam kelas sebagai berikut; e. Pemanfaatan sumber belajar
Di dalam pemanfaatan sumber belajar sekolah menggunakan sumber belajar dari buku-buku umum yang tidak hanya terfokus kepada Islam saja tetapi lebih multikultural.
f. Memilih gaya guru mengajar yang baik (gaya demokrasi)
Gaya guru Agama dalam mengajar yaitu dengan gaya demokrasi dimana semua siswa boleh berbicara, semua siswa harus aktif dalam proses pembelajaran.
g. Penerapan variasi metode dan memilih metode yang sesuai
Metode guru dalam mengajar bervariasi dimana kadang guru menggunakan metode ceramah, Tanya jawab, audio, atau audio visual ini bermanfaat untuk siswa agar kita mengetahui metode apa yang disukai oleh peserta didik agar pelajaran dapat dengan mudah di serap oleh peserta didik.
39
h. Menciptakan komunikasi dengan siswa
Saat pembelajaran berlangsung guru mengadakan atau menciptakan komunikasi yang baik dengan siswa agar materi yang di ajarakan dan dapat ditangkap anak didik.40
Jadi dapat penulis simpulkan toleransi siswa di dalam kelas dengan teori yang penulis dapat sudah sesuai dengan apa yang seharusnya diharapkan, karena toleransi di dalam kelas dilakukan melalui pemanfaatan sumber belajar, dari gaya guru mengajar dan penerapan variasi metode mengajar.
2. Toleransi di luar kelas
Toleransi sangat penting dikembangkan dalam kehidupan kita sehar-hari. Adapun cara mengembangkan sikap toleransi tersebut adalah seorang muslim harus menghargai dan menghormati kepercayaan yang dianut oleh agama lain, meskipun jelas kepercayaan itu pasti berbeda dengan kepercayaan yang diajarkan oleh Islam, sikap muslim terhadap agama lain hendaknya tidak bermaksud memaksakan kehendak ajaran Islam terhadap mereka, meskipun seorang muslim yakin bahwa agama yang dianggap benar adalah Islam dan sikap muslim terhadap agama lain haruslah netral, dalam menyukai atau membenci penganut agama lain. Setiap agama, sesuai dengan normanya, tentu mempunyai kelebihan dan kelemahan. Kelebihan yang mungkin dimiliki oleh agama lain tidak seharusnya menyeret seorang muslim untuk berpindah agama atau
40
Adi Irawan, Guru Pendidikan Agama Islam, di SMPN 1 Sungai Aur,Wawancara Langsung, Tanggal 15 Mei 2017 Pukul 9.00
membuat turun imannya. Seorang muslim harusnya menatap kelebihan itu sebagai sesuatu yang wajar sebagaimana adanya.41
Diluar kelas guru PAI memberikan contoh sikap menghormati dan menghargai semua warga sekolah. Seperti menegur saat bertemu dengan warga sekolah, bekerjasama dengan pihak sekolah untuk menerapkan 3S (senyum, sapa, salam). Yang bertujuan untuk mengakrabkan semua warga sekolah dan bertoleransi, membiasakan siswa mencium tangan guru saat masuk dan pulang sekolah.42
Berdasarkan penjelasan di atas bahwa teori tentang toleransi di luar sekolah sesuai dengan apa yang diterapkan di SMP ini walaupun cara penerapannya berbeda-beda.
3. Pergaulan siswa di SMPN 1 Sungai Aur Kabupaten Pasaman Barat Pergaulan merupakan proses interaksi yang dilakukan oleh individu dengan individu, dapat juga oleh individu dengan kelompok. Seperti yang dikemukakan oleh Aristoteles bahwa manusia sebagai makhluk sosial tidak lepas dari kebersamaan dengan manusia lain. Pergaulan mempunyai pengaruh yang besar dalam pembentukan kepribadian seorang individu.
Berdasarkan wawancara dengan Bapak Adi beliau mengatakan bahwa pergaulan siswa di SMPN 1 Sungai Aur ini sangat baik itu dapat dilihat dari sikap siswa dalam bergaul dengan temannya. Pergaulan tersebut terlihat bahwa tidak ada pengaruh dari luar yang membuat siswa bersikap
41
Abdullah Ali, Agama dalam Ilmu Perbandingan, ( Bandung: Nuansa Aulia, 2007), h. 121-124
42
Observasi, di SMPN 1 Sungai Aur Kabupaten Pasaman Barat, Tanggal 12 Juli 2017, Pukul 7.30
tidak baik. Mereka sangat pandai dalam bergaul dengan temannya mereka bisa menyesuaikan diri walaupun mereka berbeda-beda.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pergaulan siswa di SMPN 1 Sungai Aur sudah baik hal ini terlihat dari sikap siswa bergaul dengan teman-temannya di sekolah dimana mereka saling menghargai satu sama lain walaupun mereka berbeda.