• Tidak ada hasil yang ditemukan

Serat Mudhatanya: Suntingan Teks dan Ajaran Kepemimpinan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Serat Mudhatanya: Suntingan Teks dan Ajaran Kepemimpinan"

Copied!
172
0
0

Teks penuh

(1)

commit to user

SERAT MUDHATANYA

:

Suntingan Teks dan Ajaran Kepemimpinan

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi sebagian Persyaratan guna Melengkapi Gelar Sarjana Sastra Jurusan Sastra Daerah

Fakultas Sastra dan Seni Rupa Universitas Sebelas Maret

Disusun oleh

USWATUN CHASANAH

C0105050

FAKULTAS SASTRA DAN SENI RUPA

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

(2)

commit to user

ii

SERAT MUDHATANYA:

Suntingan Teks dan Ajaran Kepemimpinan

Disusun oleh: USWATUN CHASANAH

C0105050

Telah disetujui oleh pembimbing

Pembimbing I

Dra. Endang Tri W., M.Hum NIP 195811011986012001

Pembimbing II

Drs. Sisyono Eko W., M.Hum NIP 196205031988032001

Mengetahui

Ketua Jurusan Sastra Daerah

(3)

commit to user

iii

SERAT MUDHATANYA:

Suntingan Teks dan Ajaran Kepemimpinan

Disusun oleh USWATUN CHASANAH

C0105050

Telah disetujui oleh Tim Penguji Skripsi

Fakultas Sastra dan Seni Rupa Universitas Sebelas Maret Pada Tanggal 13 Agustus 2009

Jabatan Nama Tanda Tangan

Ketua Drs. Imam Sutarjo, M.Hum

NIP 196001011987031004 ………..

Sekretaris Dra. Hartini, M.Hum NIP 195001311978032001

………..

Penguji I Dra. Endang Tri Winarni, M.Hum NIP 195811011986012001

………..

Penguji II Drs. Sisyono Eko Widodo, M.Hum NIP 196205031988032001

………..

Dekan

Fakultas Sastra dan Seni Rupa Universitas Sebelas Maret

(4)

commit to user

iv

PERNYATAAN

Nama : Uswatun Chasanah NIM : C0105050

Menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi berjudul Serat Mudhatanya: Suntingan Teks dan Ajaran Kepemimpinan adalah betul-betul karya sendiri, bukan

plagiat, dan tidak dibuatkan oleh orang lain. Hal-hal yang bukan karya saya, dalam skripsi ini diberi tanda citasi (kutipan) dan ditunjukkan dalam daftar

pustaka.

Apabila di kemudian hari terbukti pernyataan ini tidak benar, maka saya bersedia menerima sanksi akademik berupa pencabutan skripsi dan gelar yang diperoleh dari skripsi tersebut.

Surakarta, 13 Agustus 2009

Yang membuat pernyataan,

(5)

commit to user

v

MOTTO

“Setiap kesuksesan dan keberhasilan membutuhkan syarat.”

Believe yourself. You can do it.

Doa, effort, tawakkal!”

(iluvislam.com)

“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.”

(QS. Al Insyirah: 5-6)

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.”

(QS. Ar Ra’d: 11)

“Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain.” (Al Hadits)

“Mimpi adalah kunci untuk kita menaklukan dunia. Berlarilah, tanpa lelah sampai engkau meraihnya.

Laskar pelangi tak kan terikat waktu.

Bebaskan mimpimu di angkasa, warnai bintang di jiwa.

Menarilah dan terus tertawa, walau dunia tak seindah surga. Bersyukurlah pada Yang Kuasa.”

(6)

commit to user

vi

PERSEMBAHAN

Kupersembahkan skripsi ini kepada:

- Ibundaku tercinta - Keluarga

(7)

commit to user

vii

KATA PENGANTAR

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, puji syukur hanya kepada Allah, Tuhan

semesta alam, yang telah memberikan kesempatan dan kemampuan kepada hamba-Nya, sehingga penulisan skripsi yang berjudul “Serat Mudhatanya:

Suntingan Teks dan Ajaran Kepemimpinan” ini dapat terselesaikan.

Penulisan skripsi ini tidak mungkin selesai bila tanpa bimbingan dan

dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih kepada:

1. Drs. Sudarno, M.A., selaku Dekan Fakultas Sastra dan Seni Rupa Universitas

Sebelas Maret, yang telah memberikan kesempatan untuk menyusun skripsi ini.

2. Drs. Imam Sutarjo, M.Hum., selaku Ketua Jurusan Sastra Daerah Fakultas Sastra dan Seni Rupa Universitas Sebelas Maret, yang juga telah memberikan kesempatan dan ilmunya dalam penyusunan skripsi ini.

3. Dra. Endang Tri Winarni, M.Hum., selaku Pembimbing Pertama, dengan penuh kesabaran telah berkenan untuk mencurahkan perhatiannya pada

pembimbingan skripsi ini, juga proses kelulusan penulis.

4. Drs. Sisyono Eko Widodo, M.Hum., selaku Pembimbing Kedua, yang juga telah berkenan untuk mencurahkan perhatiannya pada pembimbingan skripsi

ini, juga proses kelulusan penulis.

5. Siti Muslifah, S.S., M.Hum., selaku Pembimbing Akademik, yang telah

(8)

commit to user

viii

6. Bapak dan ibu dosen Jurusan Sastra Daerah Fakultas Sastra dan Seni Rupa yang telah memberikan ilmunya kepada penulis sehingga memberikan

kontribusi nyata dalam penulisan skripsi ini.

7. Kepala dan staff Perpustakaan Fakultas Sastra dan Seni Rupa dan

Perpustakaan Pusat Universitas Sebelas Maret, yang telah memberikan kemudahan pelayanan kepada penulis.

8. Kepala dan staff Perpustakaan Museum Sana Budaya Yogyakarta yang telah

memberikan pelayanan terbaiknya selama proses pengumpulan data.

9. Seluruh staf dan karyawan Tata Usaha Fakultas Sastra dan Seni Rupa

Universitas Sebelas Maret, yang telah membantu penulis.

10. Rekan-rekan mahasiswa Sastra Daerah angkatan 2005, khususnya Filologi: Mita, Daning, Ruma, Ebi, mbak Wik, mbak Ambar, Tantri, Ama yang telah

memberikan semangat untuk terus maju kepada penulis.

11. Saudara-saudariku pengurus dan anggota SKI, BPM, BKM, dan BEM FSSR UNS atas perhatian, dukungan, pelajaran, kebersamaan dan indahnya

ukhuwah selama ini.

12. Berbagai pihak yang namanya tidak dapat penulis sebutkan satu per satu.

Semoga amal kebaikannya mendapat balasan dari Allah SWT. Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu penulis mengharapkan kritik yang membangun demi perbaikan selanjutnya.

Akhirnya, semoga skripsi ini bermanfaat bagi para pembaca dan pemerhati masalah filologi di Indonesia.

Surakarta, Agustus 2009

(9)

commit to user

ix

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ……….. i

HALAMAN PERSETUJUAN ………. ii

HALAMAN PENGESAHAN ……… iii

HALAMAN PERNYATAAN ……….. iv

HALAMAN PERSEMBAHAN ………. v

HALAMAN MOTTO ……….… vi

KATA PENGANTAR ……….… vii

DA FT AR IS I …… ………… ………… … ………… ………… … … i x DAFTAR TABEL ………...……….... xi

DAFTAR SINGKATAN ……… xii

ABSTRAK ………..… xiii

BAB I PENDAHULUAN ……… 1

A. Latar Belakang ……… 1

B. Batasan Masalah ………. 16

C. Rumusan Masalah……….. 17

D. Tujuan Penelitian ……….. 17

E. Manfaat Penelitian ……… 17

F. Sistematika Penulisan ……… 18

BAB II LANDASAN TEORI ………... 20

A. Pengertian Filologi ……… 20

B. Objek Filologi ……...……… 21

(10)

commit to user

x

D. Pengertian Sastra Piwulang …..……….… 25

E. Kepemimpinan Jawa ……….… 26

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ……….. 29

A. Bentuk dan Jenis Penelitian ...……….……. 29

B. Sumber Data dan Data Penelitian ……… 29

C. Teknik Pengumpulan Data ……… 30

D. Teknik Analisis Data ……… 31

BAB IV ANALISIS DATA ………... 33

A. Kajian Filologis ………..………...………… 33

1. Deskripsi Naskah….………... 33

2. Kritik Teks ……….. 49

3. Pedoman Transliterasi ……… 58

4. Suntingan dan Aparat Kritik ………..…… 60

5. Sinopsis ………..… 116

B. Kajian Isi ………..………...…. 123

1. Dialog I….………..………... 123

2. Dialog II ………..……….………. 128

3. Dialog III ……….………...……… 137

4. Dialog IV ………..………..…… 139

BAB V PENUTUP ………. 147

A. Simpulan ………. 147

B. Saran ……… 148

DAFTAR PUSTAKA ……… 150

(11)

commit to user

xi

DAFTAR TABEL

Tabel 4.1 Ketebalan naskah SM ... 34

Tabel 4.2 Lakuna ... 50

Tabel 4.3 Adisi ... 52

Tabel 4.4 Substitusi ... 52

Tabel 4.5 Transposisi ... 54

Tabel 4.6 Ketidakkonsitenan penulisan kata ‘kagaliya’ dengan ‘kagaliha’ ………. 54 Tabel 4.7 Ketidakkonsistenan penulisan kata ‘dhahuru’ dengan ‘dahuru’ ……… 55 Tabel 4.8 Ketidakkonsistenan penulisan kata ‘kalentu’, ‘kêlèntu’ dan ‘kalintu’ ……… 55 Tabel 4.9 Ketidakkonsistenan penulisan kata ‘asreng’ dengan ‘angsring’ ……….. 55 Tabel 4.10 Ketidakkonsistenan penulisan kata ’Mukammat’, ’Mukammad’ dan ’Mukamad’ ... 56 Tabel 4.11 Ketidakkonsitenan dalam penulisan bunyi vocal ... 56

Tabel 4.12 Variasi penulisan kata ‘blêdug’ dan kata ‘balêdug’ ... 57

Tabel 4.13 Variasi penulisan kata ‘saknagari’ dan kata‘saknêgari’ ... 57

Tabel 4.14 Variasi penulisan kata ‘glêpung’dan kata ‘galêpung’ ... 57

(12)

commit to user

xii

DAFTAR SINGKATAN

cm : menunjukkan ukuran centimeter

dkk : dan kawan-kawan hal. : halaman

M : Masehi, menunjuk pada tahun Masehi Manassa : Masyarakat Pernaskahan Nusantara PB : Paku Buwana

R.Ng : Raden Ngabehi R.T. : Raden Tumenggung

(13)

commit to user

xiii

ABSTRAK

Uswatun Chasanah. C0105050. 2009. Serat Mudhatanya: Suntingan Teks dan Ajaran Kepemimpinan. Skripsi: Jurusan Sastra Daerah, Fakultas Sastra dan Seni

Rupa, Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Latar belakang penelitian ini adalah mengkaji naskah yang mengalami

korup (rusak) karena ditemukan banyak sekali kesalahan penulisan dan

ketidakkonsistenan penulisan. Keadaan ini menunjukkan bahwa naskah perlu dibersihkan dari kesalahan-kesalahan. Permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini, yaitu bagaimana suntingan teks dari Serat Mudhatanya yang bersih

dari kesalahan sesuai dengan cara kerja filologi serta ajaran apa yang terkandung di dalam Serat Mudhatanya. Tujuan penelitian ini adalah menyajikan suntingan

teks dari Serat Mudhatanya yang bersih dari kesalahan sesuai dengan cara kerja

filologi, serta mengungkapkan ajaran yang terkandung di dalam Serat Mudhatanya.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif. Sumber data penelitian ini adalah katalog-katalog yang memuat informasi tentang keberadaan naskah Serat Mudhatanya. Dari hasil inventarisasi

ditemukan 1 buah naskah yakni Serat Mudhatanya dengan nomor katalog PB

C56. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan teknik fotografis, print out, dan

transliterasi. Teknik analisis data dalam penelitian ini adalah teknik analisis deskriptif dan analisis interpretasi. Teknis analisis deskriptif mengacu pada cara kerja penelitian filologi. Metode penyuntingan teks menggunakan metode edisi standar, melalui tahapan-tahapan: (1) deskripsi naskah, (2) transliterasi naskah, (3) kritik teks, (4) suntingan teks dan aparat kritik, (5) sinopsis. Teknik analisis interpretasi digunakan untuk menginterpretasikan isi naskah melalui berbagai sudut pandang peneliti.

Hasil akhir penelitian ini dapat disimpulkan bahwa naskah SM adalah

naskah pertama dan naskah tunggal dengan kode PB C56, sehingga digunakan metode suntingan edisi standar untuk menghasilkan suntingan teks yang bersih dari kesalahan. Suntingan teks SM ini adalah suntingan atau edisi teks yang pertama dan bersih dari kesalahan (penulisan dan ejaan). Teks ini merupakan karya R.T.Purbadipura, seorang Abdidalem Bupati Anom Gedong Tengen Karaton Surakarta, ditulis oleh Wignyaukara dan R.T.Purbadipura sendiri. Dari hasil kritik teks ditemukan beberapa kesalahan tulis, yaitu lakuna, adisi, substitusi, ditografi, dan transposisi, juga ditemukan beberapa ketidakkonsistenan penulisan dan variasi penulisan kata. Jadi, disimpulkan bahwa naskah ini rusak/ korup. Secara garis besar, diketahui bahwa teks SM ini menjelaskan tentang ajaran

kepemimpinan dalam hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang dilengkapi dengan beberapa contoh gaya kepemimpinan para Nabi, dan para sahabat Nabi Muhammad SAW, serta gaya kepemimpinan raja-raja di Jawa. Ada delapan ajaran kepemimpinan yang harus dipahami dan diterapkan oleh seorang pemimpin dalam memimpin keluarga, masyarakat, bangsa dan negaranya, yakni:

(14)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Indonesia adalah negara yang sangat kaya akan kebudayaan beserta

peninggalan-peninggalan masa lampaunya. Bentuk peninggalan masa lampau yang masih dapat dilihat dan dinikmati adalah artefak yang umumnya berupa bangunan, seperti candi, masjid, kraton, dan bangunan lainnya. Tetapi sebenarnya,

masih ada satu jenis artefak lagi yang sering diabaikan dan ditinggalkan oleh masyarakat yakni peninggalan kebudayaan yang berupa naskah. Naskah adalah

karangan tulisan tangan, baik yang asli maupun salinannya, yang mengandung teks atau rangkaian kata-kata yang merupakan bacaan dengan isi tertentu (Darusuprapta, 1984:10).

Naskah di Indonesia jumlahnya sangat banyak, jenisnya pun sangat beragam, berbanding lurus dengan jumlah suku bangsa yang ada di Indonesia.

Hampir setiap suku mempunyai peninggalan naskah ini. Salah satunya adalah masyarakat Jawa, yang secara kepemilikan naskah menduduki urutan pertama dari suku-suku yang lain. Naskah-naskah tersebut perlu segera dilakukan upaya

penanganan berupa penyelamatan, penelitian, pelestarian, pendayagunaan, dan penyebarluasan hasil penelitian agar karya luhur nenek moyang kita tidak sekedar

menjadi benda pajangan di dalam museum-museum.

Suatu bidang ilmu yang erat kaitannya dengan upaya penanganan naskah adalah filologi. Cara kerja filologi diperlukan sebelum naskah didayagunakan dan

(15)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

2

mendapatkan kembali naskah yang bersih dari kesalahan, yang memberi pengertian sebaik-baiknya dan yang bisa dipertanggungjawabkan pula sebagai

naskah yang paling dekat dengan aslinya (Haryati Soebadio, 1975:3).

Girardet-Susanto (1983) mengklasifikasikan jenis naskah Jawa sebagai

berikut:

1. Kronik, Legende dan Mite

Di dalamnya termasuk naskah-naskah: babad, pakem, wayang purwa, panji,

pustakaraja dan silsilah. 2. Agama, Filsafat dan Etika

Di dalamnya termasuk naskah-naskah yang mengandung unsur-unsur: Hinduisme-Budhisme, Islam, mistik Jawa, Kristen, magic dan ramalan, sastra wulang.

3. Peristiwa kraton, hukum, peraturan-peraturan

4. Buku teks dan penuntun, kamus, ensiklopedi tentang linguistik, obat-obatan, pertanian, antropologi, geografi, perjalanan, perdagangan, masak-memasak

dan sebagainya.

Dari beberapa jenis naskah Jawa yang telah disebutkan di atas, penulis

tertarik untuk mengkaji naskah Jawa jenis sastra piwulang. Sejarah telah mencatat bahwa naskah Jawa jenis piwulang sempat mengalami masa keemasan setelah melewati masa-masa populernya kembali karya sastra Jawa Kuna di zaman

Surakarta awal. Naskah-naskah jenis piwulang bermunculan salah satu sebabnya sebagai wujud reaksi atas kondisi sosial masyarakat saat itu.

Salah satu dari sekian banyak karya sastra piwulang tersebut adalah Serat

(16)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

3

yakni ”mudha” dan ”tanya”. Menurut W.J.S.Poerwadarminta dalam Baoesastra

Djawa, kata “mudha” mempunyai dua arti yakni ”enom” yang berarti ”muda”

dan ”bodho” yang berarti ”bodoh” (hal. 323). Kata “tanya” berarti ”bertanya”

(hal. 592). Dari pemaknaan secara etimologis dari judul tersebut, bisa diketahui

bahwa teks ini berisikan tentang seorang pemuda yang bertanya karena ketidak-tahuannya.

Inventarisasi naskah sebagai langkah awal penelitian filologi dilakukan

melalui penelusuran terhadap berbagai katalog diantaranya:

1. Descriptive Catalogus of the Javanese manuscripts and Printed Book in the

Main Libraries of Surakarta and Yogyakarta (Girardet-Sutanto, 1983)

2. Javanese Language Manuscripts of Surakarta Central Java A Preliminary

Descriptive Catalogus Level I and II (Nancy K. Florida, 1994)

3. Katalog Induk Naskah-Naskah Nusantara Jilid I Museum Sana Budaya Yogyakarta (T.E. Behrend, 1990)

4. Katalog Induk Naskah-Naskah Nusantara Jilid 3-B (Fakultas Sastra

Universitas Indonesia, 1998)

5. Katalog Induk Naskah-Naskah Nusantara Jilid 4 Perpustakaan Nasional

Republik Indonesia (Lindstay, Jennifer, 1994)

6. Katalog Induk Naskah-Naskah Nusantara jilid 2 Keraton Yogyakarta,

7. Daftar Naskah Perpustakaan Museum Radyapustaka Surakarta, Daftar Naskah

Perpustakaan Sasanapustaka Keraton Surakarta, Daftar Naskah Perpustakaan Reksapustaka Pura Mangkunagaran Surakarta, Daftar Naskah Perpustakaan

(17)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

4

Hasil inventarisasi dari berbagai katalog tersebut hanya ditemukan satu naskah yang berjudul Serat Mudhatanya dalam Katalog Induk Naskah-Naskah

Nusantara Jilid I Museum Sana Budaya Yogyakarta (T.E. Behrend, 1990) dengan nomor PB C56 dan dalam katalog Girardet-Susanto tahun 1983 dengan nomor

68615 (PB C56) berjudul Mudha Tanaya.

Langkah selanjutnya adalah melakukan pengecekan langsung ke tempat penyimpanan naskah yakni di perpustakaan museum Sana Budaya Yogyakarta.

Berdasarkan pengecekan ke tempat penyimpanan naskah tersebut, naskah SM dalam kondisi masih tersimpan disana dan hanya berjumlah 1 buah naskah.

Serat Mudhatanya terdapat pada sebuah buku cukup tipis yakni terdiri

dari 130 halaman, berukuran 21,2 cm x 16,8 cm. Selain Serat Mudhatanya

ternyata dalam naskah ini ada satu judul lain, yakni Serat Kawontenanipun

Pergerakan Komunis. Hal itu bisa dilihat dalam cover luar naskah ini yang

bertuliskan ”Serat Moedatanya. Serat Kawontenanipoen Pergerakan

Koemoenis”, berikut gambarnya:

(18)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

5

Kemudian pada cover dalam naskah juga terdapat perbedaan lagi, judul naskah bertuliskan ”Moedatanya (Koemoenis)”, berikut gambarnya:

Setelah dibaca secara teliti, ternyata naskah ini terdiri dari 2 bentuk teks, yakni prosa dan tembang macapat. Dua bentuk teks yang berbeda jika dihubungkan dengan dua judul naskah yang berbeda penulisannya pula, ada

beberapa kemungkinan seperti berikut:

1. Jika didasarkan pada gambar 1.1, dua teks yang berbeda bentuk memiliki judul masing-masing, yakni teks yang berbentuk prosa memiliki judul ”Serat

Mudhatanya”, sedangkan teks yang berbentuk tembang macapat memiliki

judul ”Serat Kawontenanipun Pergerakan Koemunis”, sehingga bisa

dikatakan diantara keduanya berdiri sendiri.

2. Jika didasarkan pada gambar 1.2, dua teks yang berbeda bentuk tersebut

include dalam satu judul, yakni judul Serat Mudhatanya, sehingga bisa

dikatakan diantara keduanya saling berkaitan.

Teks yang berbentuk prosa disajikan dalam bentuk dialog antara dua

tokoh. Hal-hal yang didialogkan atau didiskusikan antara dua tokoh tersebut seputar kehidupan bermasyarakat tentang etika dan norma-norma, juga

(19)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

6

kepemimpinan yang dilengkapi dengan kisah beberapa Nabi (Nabi Muhammad, Nabi Adam, Nabi Daud, Nabi Sulaiman, dan Nabi Yusuf) dan sahabat-sahabat

Nabi Muhammad yang biasa disebut dengan khulafaur rasyidin (Abu Bakar

ash-Shidiq, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib). Juga

beberapa kisah tentang gaya kepemimpinan beberapa pemimpin atau raja-raja di Jawa mulai dari Kyai Ageng Sela hingga Paku Buwana VIII.

Teks yang berbentuk tembang macapat terdiri dari tiga pupuh, yaitu

Durma (24 bait), Pangkur (32 bait), dan Asmaradana (38 bait). Gaya tulisannya sama dengan gaya tulisan teks yang berbentuk prosa. Teks ini berisi tentang

sejarah pemberontakan gerakan komunis yang terjadi di Banten, Bandung, dan Batavia. Dalam katalog Behrend disebutkan bahwa teks lain ini merupakan surat edaran yang ditandatangani oleh pepatih dalem K.R.A.Jayanagara, tertanggal 15

November 1926, menyebutkan bahwa tahun tersebut di Batavia, Banten, dan Bandung sedang terjadi pemberontakan Komunis (hal. 504).

Setelah kedua teks ini dibaca lebih teliti lagi, ternyata di antara keduanya

tidak mempunyai keterikatan. Keduanya saling berdiri sendiri dengan isi atau informasi yang dimiliki masing-masing, judul Serat Mudhatanya mewakili teks

yang berbentuk prosa, sedangkan judul Serat Kawontenanipoen Pergerakan

Koemoenis mewakili teks yang berbentuk tembang macapat. Teks yang berbentuk

prosa termasuk dalam kategori naskah Jawa jenis sastra piwulang, sedangkan teks

yang berbentuk tembang macapat termasuk dalam kategori naskah Jawa jenis sejarah. Akhirnya, secara otomatis teks yang berbentuk tembang macapat, yang

(20)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

7

dengan sasaran objek penelitian ini, yakni naskah Jawa manuskrip jenis sastra piwulang.

Teks Serat Mudhatanya terdapat pada halaman 1-37 dan halaman 53-90,

sedangkan teks Serat Kawontenanipoen Pergerakan Koemoenis terdapat pada

halaman 38-52. Pada halaman 63-70, teks dicoret dengan tanda silang oleh penulis sebagai penanda bahwa teks tersebut sudah tidak terpakai (tidak perlu dibaca). Tinta yang digunakan dari awal sampai akhir tidak sama. Ada 3 jenis

tinta yang digunakan: tinta sejenis pulpen boxi berwarna hitam kebiru-biruan dan cukup tebal (halaman iv & 1-52); tinta sejenis pulpen biasa berwarna hitam

kecoklatan dan sangat tipis (halaman 53-74 & 74i-90); tinta sejenis pulpen boxi berwarna hitam pekat dan sangat tebal (halaman 74a-74f).

SM merupakan naskah tulisan tangan (manuscript) dengan huruf Jawa

berbahasa Jawa Baru ragam krama dan ngoko. Naskah ini dikarang oleh RT

Purbadipura, Abdidalem Bupati Anom Gedhong Tengen di Surakarta pada Kamis

Legi, 28 Sura, Jimakir 1858 (28 Juli 1927). Naskah ini ditulis oleh dua orang

penulis, yakni Wignyaukara dan R.T.Purbadipura sendiri. SM pada halaman 1-37 ditulis oleh Wignyaukara, halaman 53-90 ditulis RT Purbadipura sendiri.

Informasi mengenai pengarang naskah SM bisa dilihat dari kutipan berikut:

“Sêrat Mudhatanya punika, ingkang ngarang Raden Tumênggung Purbadipura, Abdi Dalêm Bupati Anom Gêdhong Têngên ing Surakarta Hadiningrat. Pangarangipun nalika dintên Kêmis Lêgi tanggal kaping 28 wulan Sura taun Jimakir angka 1858 utawi kaping 28 Juli taun angka 1927. Gagriya salêbêting nagari ing kampung Kratonan Kidul, ondêr dhistrik Sêrêngan, sakilène Pasar Gêmblêgan.”

Terjemahan:

(21)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

8

Hadiningrat. Pembuatannya ketika hari Kamis Legi tanggal 28 bulan Sura tahun Jimakir 1858 atau 28 Juli 1927. Bertempat tinggal di kampung Kratonan Kidul, distrik Serengan, sebelah barat Pasar Gemblegan.”

Informasi tentang pengarang dan penulis naskah SM dikuatkan lagi oleh

gambar berikut:

Ada empat alasan mengapa Serat Mudhatanya dijadikan objek kajian

dalam penelitian ini. Pertama, sejauh ini penelitian yang dilakukan terhadap

naskah Serat Mudhatanya baru sebatas deskripsi naskah untuk inventarisasi bagi

pembuatan katalog yang dilakukan oleh T.E. Behrend pada tahun 1990 dan Girardet-Susanto pada tahun 1983, sedangkan penelitian secara filologis dan telaah isi belum pernah dilakukan.

a

b

Gambar 1.3 Akhir teks SM bagian pertama ditutup dengan tanda semacam tanda tangan pengarang dan penulisnya, dan disertai keterangan teks tersebut

berlanjut ke halaman 53

a. Tulisan RT Purbadipura, bertuliskan “nyandhak kaca angka 53. Purbadipura”

(22)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

9

Kedua, di dalam teks SM ini ditemui banyak sekali ketidakaturan

pemakaian ejaan dan kesalahan-kesalahan penulisan. Hal ini yang mendorong

peneliti untuk segera mengkaji naskah ini secara filologi untuk menghasilkan sebuah teks yang diperkirakan paling mendekati aslinya dan menyediakan

terbitan naskah yang bersih dari kesalahan dan mudah dipahami oleh pembaca. Berikut sebagian contoh dari ketidakaturan pemakaian ejaan dan kesalahan-kesalahan penulisan tersebut:

1) Ketidakkonsistenan dalam penulisan kata, berikut sebagian contohnya: - kata ”kalèntu” dengan kata ”kalintu”, berikut kutipannya:

Wasana manawi wontên kalintu tuwin lêpating atur kula” (SM: 15)

manawi botên kalèntu, criyosipun sabên…” (SM: 53c)

- kata ”dhahuru” dengan kata ”dahuru”, berikut kutipannya:

uyang wayang wuyung botên raharja: dahuru” (SM: 56)

“Dhahuru têgêsipun rêbut suwala lahir batin” (SM: 57)

2) Variasi penulisan kata, berikut contohnya:

- kata ”balêdug” dengan kata ”blêdug” dan kata ”balêduga”, berikut

kutipannya:

Nyirêp balêduga ron-ronan sami lembaka ijêm ariyu-riyu sakeca dhatêng paningal” (SM: 53a)

miwah mawi angin agêng blêdug angampak-ampak dhatêng mripat sêpêt sakit” (SM: 53c)

tilem boten sakeca, balêdug angampak-ampak kabur…” (SM: 58a)

- kata ”saknagari” dengan kata ”saknêgari”, berikut kutipannya:

kawêwahan ningali solah bawanipun tiyang saknagari” (SM: 53)

tiyang saknêgari manahipun tamtu suka rêna” (SM: 54)

- kata ”panjênêngan” dengan kata ”pênjênêngan

Pancen kula ajêng-ajêng rawuh panjênêngan” (SM: 53c)

(23)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

10

3) Kesalahan penulisan kata, berikut contohnya:

tiyang-tiyang sanakari ingkang dados wêwêngkonipun” (SM: 60)

4) Kekurangan penulisan kata, seperti kata ”gadha”, ”pamrentaha”, ”gri”,

jantu”, dan lain-lain. Berikut kutipannya:

Siyang dalu tansah kuwatir kêtir-kêtir. Gadharaos bok bilih…” (SM: 57)

angsal duduka saking ingkang nyêpêng pamrentaha kadakwa botên anu-anu.” (SM: 57)

Dhatêng manah sumpêg namung muntêl wontên salêbêting gri kemawon.”

(SM: 58b)

Sirah punika isi utêg, utêg panggenan budi, budi tumurun dhateng jantu

jantung anggèn pikir-pikir awon ingkang sae ingkang ngriku…” (SM: 61)

Ketiga, ada beberapa hal yang sangat menarik dari naskah SM ini, yakni

tentang gaya penulis naskah SM dalam menulis teks. Berikut uraiannya:

a. Pemakaian tanda berhenti di setiap kalimat dibuat sama, yakni dengan tanda

pada lingsa (,). Tanda pada lungsi (.) peneliti temukan hanya dipakai ketika

menuliskan judul teks. Berikut gambarnya:

Gambar 1.4 Penulisan pada lungsi (.) pada judul teks SM (SM: 1)

Tanda

pada lungsi

Tanda

pada lingsa

(24)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

11

b. Penulisan kata ’Allah’ dengan huruf Arab. Berikut gambarnya:

c. Pemakaian huruf Latin ketika menuliskan dua tokoh yang sedang berdialog, yakni ditulis dengan huruf “a” dan “b” (“a”:orang pertama yang diasumsikan sebagai ‘seorang kyai’, “b”:orang kedua yang diasumsikan sebagai ‘seorang

murid’). Berikut gambarnya:

d. Penggunaan angka Romawi ketika menuliskan pembagian poin-poin kedelapan ajaran (kuwasa, purba, wisesa, kukum, adil, paramarta, dana, dan

pariksa). Berikut gambarnya:

Gambar 1.6 Penulisan kata ‘Allah’ dengan huruf Arab. (SM: 23)

(25)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

12

Setiap penulis naskah mempunyai gaya masing-masing yang khas dalam

menuliskan suatu teks. Dan gaya menulis tersebut bukan suatu permasalahan filologi melainkan suatu ciri tersendiri dari penulis naskah sebagai bentuk wujud kreativitas. Di antara keempat gaya penulis naskah SM tersebut, ada satu yang

dikategorikan bisa menjadi permasalahan filologi yakni gaya penulis naskah yang hanya menggunakan tanda pada lingsa (,) (untuk selanjutnya disingkat PLi) di

bagian tengah maupun di akhir kalimat. Hal tersebut akan mengganggu pembaca dalam memahami teks. Oleh sebab itu, dibutuhkan hasil suntingan teks yang bersih dari kesalahan-kesalahan sehingga didapatkan teks yang mudah dibaca dan

dimengerti oleh pembaca. Berikut contoh penggunaan tanda PLi atau koma dalam paragraf:

(26)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

13

Transliterasi:

”Lamba punapa rangkêp (PLi) anggèr kêdah waspada (PLi) dados botên kablowok ing rêmbag (PLi) sawatawis dipunêmong (PLi) mangatur-aturipun kêdah kagalih ingkang panjang (PLi) sampun kasêsa anyagahi (PLi) nanging bilih sampun sagah sampun ngantos nyidrani (PLi) ingkang sampun kasagahakên kêdah kalêksanan (PLi) anggèr kêdah adhadhasar panggalih lamba rumiyin (PLi) kaliyan pangandika arum manis mardawa mamalad driya ingkang narik suka rêna (PLi) sampun ngêtrapakên pangandika sêrêng sora (PLi) ingkang sarèh rèrèh ririh (PLi) sawatawis ingkang radi sumarah ing karsa (PLi) ingkang botên rêkasa sangsara (PLi)

Keempat, isi dari naskah Serat Mudhatanya ini sangat menarik, yakni

tentang ajaran kepemimpinan (leadership). Kepemimpinan dalam hidup

bermasyarakat bagi generasi muda yang disajikan dalam bentuk dialog antara seorang pemuda dengan seorang kyai atau ulama. Dalam Baoesastra Djawa

halaman 323 karya W.J.S.Poerwadarminta kata “mudha” diartikan sebagai

”enom” (muda) dan ”bodho” (bodoh). Dan pada halaman 592 kata “tanya”

diartikan sebagai ”takon” (bertanya).

Ajaran kepemimpinan dalam hidup bermasyarakat ini memuat tentang bekal apa saja yang harus dimiliki bagi generasi muda ketika kelak terjun dalam

(27)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

14

pedoman yang benar-benar harus dipahami, yaitu kuwasa, purba, wisesa, kukum,

adil, paramarta, dana, dan pariksa. Dalam teks SM ini, kedelapan pedoman

tersebut diartikan sebagai berikut:

1. Kuwasa berarti wewenang yang dimiliki untuk memutuskan segala sesuatunya

secara bijak. Berikut kutipannya:

”Kuwasa: wênang ngewahi tatanan ingkang kirang murakabi dhatêng kulawarga” (SM: 7)

2. Purba berarti bertanggungjawab atas semua semua permasalahan dalam

kehidupan keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Berikut kutipannya:

”Purba: mêngku dhatêng samukawis agêng alit, amis bacin, èwêt pêkèwêt, gampil angèl, ruwêt rêntêng, papa sangsara. Sadaya kukubanipun ing ngriku, punika anggèr ingkang kajibah mêngku.” (SM: 7)

3. Wisesa berarti tegas terhadap siapapun untuk senantiasa berbuat kebajikan.

Berikut kutipannya:

”Wisesa: punika satêngah amêksa dhatêng tindak sae. Angancam-ancam sintên ingkang nglampahi lêpat badhe tampi pamisesa ing samurwatipun nanging saderengipun kêdah dipundhawuhakên. Yen ala bakal nemu ala. Yen becik bakal nemu becik.” (SM: 8)

4. Kukum berarti perlakuan hukum yang sama terhadap siapapun. Berikut

kutipannya:

”Kukum: kêdah nindakakên ing salêrêsipun. Têgêsipun: botên bahu kapine sintên-sintêna bilih botên lêrês inggih kêdah kalêrêsakên. Manawi mêksa botên purun mantuni tindakipun ingkang awon. Ing ngriku sampun sêdhêngipun katindakakên prakawisipun.” (SM: 8)

5. Adil berarti bersikap adil terhadap siapapun, sesuai dengan usaha yang telah

dilakukan. Berikut kutipannya:

(28)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

15

Têgêsipn yen si dhadhap kang utang, mung nyaur samene, yen si waru kang utang kudu nyaur samene, punika dlêmok cung namanipun. Sampun ngantos makatên, kêdah sami-sami pamidananipun, sarta kêdah têtêp ingkang sampun kasêbut ing anggèr, anggèr botên kenging mèncèng.” (SM: 8)

6. Paramarta berarti berhati lembut dan mempunyai sifat belas kasihan terhadap

siapapun, sabar dan pemaaf. Berikut kutipannya:

”Paramarta: punika bilih putra wayah sadhèrèk santana abdi gadhah prakawis dhatêng anggèr, ingkang sanès prakawis agêng, kadosta kalentu ing patrap, dêksura, kumasurun, anggêgampil kagunganipun anggèr ingkang botên sapintêna, punika kêdah dipunparingi paramarta. Sampun lajêng katêtêpakên ing kalêpatanipun. Kêdah dipunaring-aringi supados asrêp manahipun. Saupami lêpat sakêdhik kemawon dhatêng angger lajêng kapidana awrat, sarta lajêng kauwus-uwus ingkang botên sampun-sampun, punika botên prayogi.” (SM: 9)

7. Dana berarti rajin berderma dengan pemberian yang terbaik. Berikut

kutipannya:

”Dana: inggih ingkang kêrêp paparing. Manawi paparing barang ingkang enggal risak, kadosta dhahar-dhaharan, sêmbêt sapanunggilanipun, punika kêdah ingkang kêrêp. Manawi paparing barang ingkang sagêd lami kanggenipun kadosta: ingkang warni mas, intên, dhuwung, tumpakan tuwin griya papan semahan. Punika kêdah ingkang awis-awis.” (SM: 9)

8. Pariksa berarti sungguh-sungguh ketika melakukan proses pemantauan dan

kontrol terhadap kinerja bawahannya, tidak didelegasikan tetapi terjun

langsung ke bawah. Berikut kutipannya:

”Pariksa: pikajêngipun inggih ingkang pariksa sayêktos. Têgêsipun ingkang botên kaliyan aturing liyan, ingkang awon ingkang sae anggèr kêdah matitisakên piyambak dhatêng tiyangipun, botên mawi lalantaran utusan sabab utusan punika asring suda wêwah kaliyan nyatanipun.” (SM: 12)

Kedelapan ajaran diatas relevan sekali dengan kenyataan hidup bermasyarakat saat ini. Seorang pemuda yang nantinya bakal menjadi seorang

(29)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

16

sosial ekonomi masyarakatnya. Masyarakat yang adil dan makmur lahir dari kumpulan keluarga-keluarga yang harmonis dan selalu mentaati norma-norma

yang berlaku di masyarakat. Piwulang atau ajaran ini juga dilengkapi dengan kisah kehidupan rumah tangga dan kepemimpinan Rosulullah Muhammad SAW

dan kisah perjuangan Nabi-Nabi sebelumnya seperti Nabi Adam, Daud, Sulaiman, Yusuf serta kisah beberapa khalifah seperti Abu Bakar ash-Shidiq, Umar bin

Khattab, Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib (SM: 18-35). Juga beberapa kisah

tentang gaya kepemimpinan beberapa pemimpin atau raja-raja di Jawa mulai dari Kyai Ageng Sela hingga Paku Buwana VIII (SM: 75-90).

B. Batasan Masalah

Banyaknya permasalahan yang ada dalam Serat Mudhatanya,

kemungkinan naskah ini bisa diteliti dari berbagai sudut pandang. Untuk itu diperlukan pembatasan masalah untuk mencegah melebarnya pembahasan. Batasan masalah tersebut lebih ditekankan pada dua kajian utama, yakni kajian

filologis dan kajian isi. Kajian filologis digunakan untuk mengupas permasalahan seputar uraian-uraian dalam naskah melalui cara kerja filologis, yakni meliputi

inventarisasi naskah, deskripsi naskah, transliterasi naskah, kritik teks, aparat kritik dan terjemahannya. Sehingga diperoleh suntingan teks yang bersih dari kesalahan-kesalahan. Kajian isi berfugsi untuk mengungkapkan isi yang

(30)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

17

C. Rumusan Masalah

Berdasarkan pembatasan masalah di atas, maka perumusan masalah dalam

penelitian teks Serat Mudhatanya sebagai berikut:

1. Bagaimana suntingan teks dari Serat Mudhatanya yang bersih dari kesalahan

sesuai dengan cara kerja filologi?

2. Bagaimana ajaran yang terkandung di dalam Serat Mudhatanya?

D. Tujuan Penelitian

Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian adalah sebagai berikut:

1. Menyajikan suntingan teks dari Serat Mudhatanya yang bersih dari kesalahan

sesuai dengan cara kerja filologi.

2. Mengungkapakan ajaran yang terkandung di dalam Serat Mudhatanya.

E. Manfaat Penelitian

Manfaat yang diharapkan dalam penelitian ini terbagi menjadi dua, yakni

manfaat praktis dan teoretis, sebagai berikut: 1. Manfaat Praktis

a. Menyelamatkan data dalam naskah Serat Mudhatanya dari kerusakan dan

hilangnya data dalam naskah tersebut.

b. Mempermudah pemahaman isi teks Serat Mudhatanya, sekaligus

(31)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

18

2. Manfaat Teoretis

a. Memberikan kontribusi dan membantu peneliti lain yang relevan untuk

mengkaji lebih lanjut naskah Serat Mudhatanya khususnya dan naskah

Jawa pada umumnya dari berbagai disiplin ilmu.

b. Menambah kajian terhadap naskah Jawa yang masih banyak dan belum terungkap isinya.

F. Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan bertujuan untuk memberikan gambaran yang lebih

jelas mengenai laporan hasil penelitian. Laporan penelitian ini akan dibagi menjadi lima bab, yang akan disusun sebagai berikut:

BAB I Pendahuluan

Bab ini merupakan uraian tentang latar belakang masalah, batasan masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian dan sistematika penulisan.

BAB II Kajian Teoritis

Bab ini menguraikan pengertian filologi, objek penelitian filologi

dan cara kerja filologi. BAB III Metodologi Penelitian

Bab ini menguraikan bentuk dan jenis penelitian, sumber data dan

data, teknik pengumpulan data dan teknik analisis data. BAB IV Pembahasan

(32)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

19

BAB V Penutup

Dalam bab ini akan dikemukakan mengenai simpulan dari yang

telah diuraikan dalam bab-bab sebelumnya. Selain simpulan, dalam bab ini juga akan dikemukakan saran-saran.

(33)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

20

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Pengertian Filologi

Filologi secara etimologis menurut Siti Baroroh Baried (1994), berasal

dari bahasa Yunani philologia yang berupa gabungan kata Philos yang berarti

“senang” dan Logos yang berarti “pembicaraan” atau “ilmu”. Jadi Filologi berarti

“senang berbicara”, yang kemudian berkembang menjadi “senang belajar”,

“senang kepada ilmu”, “senang kepada tulisan-tulisan”, dan kemudian “senang kepada tulisan-tulisan yang bernilai tinggi” seperti karya-karya sastra (hal.2).

Istilah filologi muncul pada saat para ahli dihadapkan pada upaya mengungkapkan kandungan suatu naskah yang merupakan produk masa lampau, yaitu beratus-ratus tahun sebelum peneliti lahir. Dalam sejarah perkembangannya,

istilah filologi mengalami perubahan dan perkembangan.

Menurut Edward Djamaris (1977), filologi adalah ilmu yang objek penelitiannya naskah-naskah lama (hal.2). Sedangkan menurut Achadiati Ikram

(1980), filologi dalam arti luas adalah ilmu yang mempelajari segala segi kehidupan di masa lalu seperti yang ditemukan dalam tulisan. Di dalamnya

tercakup bahasa, sastra, adat istiadat, hukum dan lain sebagainya (hal.1).

Tugas utama filologi adalah menyediakan sebuah teks yang diperkirakan paling mendekati aslinya dan menyediakan terbitan naskah yang mudah dipahami.

Dr. Haryati Soebadio menyatakan bahwa pekerjaan utama dalam penelitian filologi ialah mendapatkan kembali naskah yang bersih dari kesalahan (dalam

(34)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

21

Robson dalam Prinsip-prinsip Filologi Indonesia menyatakan bahwa agar

sebuah karya sastra klasik ‘terbaca/dimengerti’ pada dasarnya ada dua hal yang

harus dilakukan: menyajikan dan menafsirkannya (Robson, S.O. 1994:12).

B. Objek Filologi

Edward Djamaris (1977) mengemukakan bahwa, objek penelitian filologi terdiri dari dua hal yakni naskah dan teks (hal.2). Siti Baroroh Baried pun

berpendapat sama, filologi mempunyai objek naskah dan teks (hal.3). Dijelaskan juga bahwa objek penlitian filologi adalah naskah tulisan tangan yang menyimpan

berbagai ungkapan pikiran dan perasaan sebagai hasil budaya masa lampau (hal.54).

Semua bahan tulisan tangan itu disebut naskah (handschrift atau

manuschrift), sedangkan teks adalah kandungan atau muatan naskah sesuatu yang

abstrak yang hanya dapat dibayangkan saja dan memuat berbagai ungkapan pikiran serta perasaan penulis yang disampaikan kepada pembacanya.

C. Langkah Kerja Penelitian Filologi

Langkah kerja penelitian filologi menurut Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa), terdiri atas: penentuan sasaran penelitian, inventarisasi naskah, observasi pendahuluan, penentuan naskah dasar, transliterasi naskah, dan

penerjemahan teks. Sedangkan menurut Edward Jamaris (1977), langkah kerja yang dilakukan dalam penelitian filologi meliputi inventarisasi naskah, deskripsi

(35)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

22

digunakan apabila peneliti menemukan naskah jamak atau naskah yang lebih dari satu. Teori tersebut tak selamanya harus dipaksakan bisa diterapkan pada semua

naskah. Masing-masing naskah mempunyai kondisi yang berbeda-beda.

Serat Mudhatanya ini penanganannya menggunakan tahapan/langkah

kerja penelitian filologi Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa) yang dipadukan dengan langkah kerja menurut Edward Djamaris. Karena Serat

Mudhatanya adalah naskah tunggal, maka tidak terdapat perbandingan naskah.

Secara terperinci langkah kerja penelitian filologi sebagai berikut:

1. Penentuan sasaran penelitian

Langkah pertama adalah menentukan sasaran, karena banyak ragam yang perlu dipilih, baik tulisan, bahan, bentuk, maupun isinya. Ada naskah yang bertuliskan huruf Arab, Jawa, Bali dan Batak. Ada naskah yang ditulis pada

kertas, daun lontar, kulit kayu, atau rotan. Ada naskah yang berbentuk puisi dan ada pula yang berbentuk prosa. Ada naskah yang berisi sejarah/babad, kesusastraan, cerita wayang, cerita dongeng, primbon, adat-istiadat,

ajaran/piwulang, dan agama.

Berdasarkan hal tersebut, ditentukan sasaran yang ingin diteliti adalah

sebagai berikut: naskah bertuliskan huruf Jawa carik, ditulis pada kertas, berbentuk prosa dan berisi masalah piwulang/ajaran. Keseluruhan bentuk di atas terangkum di dalam Serat Mudhatanya.

2. Inventarisasi naskah sasaran

(36)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

23

Edi S. Ekadjati (1980) bila hendak melakukan penelitian filologi, pertama-tama harus mencari dan memilih naskah yang akan dijadikan pokok penelitian, dengan

mendatangi tempat-tempat koleksi naskah atau mencarinya melalui katalog. Langkah ini dilakukan untuk mengetahui jumlah naskah, dimana tempat

penyimpanannya, dan penjelasan lain tentang keadaan naskah.

3. Observasi Pendahuluan dan Deskripsi Naskah

Observasi pendahuluan ini dilakukan dengan mengecek data secara langsung ke tempat koleksi naskah sesuai dengan informasi yang diungkapkan

oleh katalog. Setelah mendapatkan data yang dimaksud yakni Serat Mudhatanya

maka diadakan deskripsi naskah dan ringkasan isi.

Deskripsi naskah ialah uraian ringkas naskah terperinci. Deskripsi naskah

penting sekali untk mengetahui keadaan naskah dan sejauh mana isi naskah itu. Emuch Sumantri (1986) menguraikan bahwa deskripsi naskah merupakan sarana untuk memberikan informasi mengenai: judul naskah, nomor naskah, tempat

penyimpanan naskah, asal naskah, ukuran naskah dan teks, keadaan naskah, jumlah baris setiap halaman, huruf, aksara, tulisan, cara penulisan, bahan naskah,

bahasa naskah, bentuk teks, umur naskah, fungsi sosial naskah serta ikhtisar teks (halm.2). Sedangkan ringkasan isi naskah digunakan untuk mengetahui garis besar kandungan naskah sesuai dengan urutan cerita dalam naskah.

4. Transliterasi naskah

(37)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

24

selengkap-lengkapnya dan sebaik-baiknya, agar mudah dibaca dan dipahami. Transliterasi dilakukan dengan menyusun kalimat yang jelas disertai tanda-tanda

baca yang teliti, pembagian alinea dan bab untuk memudahkan konsentrasi pikiran (Edward Djamaris, 1977:25).

5. Kritik teks

Kegiatan kritik teks dilakukan setelah naskah dideskripsikan. Pengertian

kritik teks menurut Paul Mass dalam Darusuprapta (1984) adalah menempatkan teks pada tempat yang sewajarnya, memberi evaluasi terhadap teks, meneliti atau

mengkaji lembaran naskah dan lembaran bacaan yang mengandung kalimat-kalimat atau rangkaian kata-kata tertentu.

6. Suntingan teks dan aparat kritik

Suntingan teks adalah menyajikan teks dalam bentuk aslinya, yang bersih dari kesalahan berdasarkan bukti-bukti yang terdapat dalam naskah yang dikritisi.

Aparat kritik merupakan suatu pertanggungjawaban dalam penelitian naskah yang menyertai suntingan teks dan merupakan kelengkapan kritik teks.

Segala kelainan bacaan yang ditampilkan merupakan kata-kata atau bacaan salah yang terdapat dalam naskah tampak dalam aparat kritik. Jika peneliti melakukan perubahan (conjecture), pengurangan (eliminatio), dan penambahan (divinatio) itu

(38)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

25

7. Sinopsis

Sinopsis adalah penuturan yang ringkas suatu teks yang mencakup

keseluruhan isi secara utuh. Maksud mengemukakan sinopsis suatu teks yaitu untuk memudahkan pembaca agar memperoleh gambaran isi teks secara

menyeluruh.

D. Pengertian Sastra Piwulang

Istilah serat wulang berasal dari kata serat dan wulang. Serat mempunyai arti tulisan dan wulang piwulang mempunyai arti ajaran, pelajaran

(Prawiroatmojo, 1989-1990: 190&328). Dengan demikian serat wulang/piwulang adalah tulisan yangh berisi tentang suatu ajaran. Ajaran tersebut tentunya mengandung nilai-nilai keluhuran moral yang di dalamnya memuat

pemikiran-pemikiran tentang pengajaran moral secara baik menurut ukuran suatu bangsa. Ajaran dalam serat wulang pada umumnya merupakan nilai-nilai yang berasal dari pemikiran para pujangga. Keberadaan pujangga pada masa kesusastraan Jawa

Baru ini mempunyai kedudukan sebagai abdi dalem di kraton, kabupaten, sebagai

wali, kyai, atau guru di pondok pesantren. Para pujangga yang berfungsi sebagai

juru jarwa, juru anggit, juru penget, juru citra, juga juru penglipur

(Darusuprapta, 1980:12).

Serat wulang/piwulang merupakan karya sastra yang dominan dalam

sastra Jawa. Sebagai karya sastra lama, serat wulang ini mengandung nilai-nilai rohani dan ajaran moral/etika yang ditujukan pada masyarakat pembacanya. Hal

(39)

memisah-perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

26

misahkan nilai-nilai luhur yang dimiliki yakni nilai religius, filosofis, etis dan estetis. Karya sastra yang sarat dengan nilai-nilai estetis (menyangkut tata karma,

norma, dan nilai-nilai kehidupan sehari-hari).

Serat piwulang sebagai fungsi didaktis ini pada umumnya dijadikan

sebagai pegangan hidup dalam membentuk sikap pribadi yang ideal (Sadewa, 1989:14). Serat wulang lebih banyak mengajarkan kehidupan praktis, kehidupan lahiriah yang disebut budi luhur, seperti mematuhi aturan berumah tangga, aturan

pemerintah, aturan agama, mendidik bawahan, mendidik anak, bercita-cita luhur, mencintai tanah air, mengendalikan hawa nafsu, menjauhi berbuat jahat. Terdapat

pula ajaran untuk mendekatkan diri kepada Tuhan sebagai upaya untuk mendasari motivasi ajaran lahiriah (Moh. Ardani, 1995:45).

E. Kepemimpinan Jawa

Pada zaman pemerintah Islam di Jawa (seperti pemerintahan Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Ngayogyakarta) para leluluhur atau pujangga Jawa

mewariskan nilai-nilai atau pemikiran budaya Jawa kepada generasi sekarang melalui naskah-naskah lama, baik berupa fiksi maupun nonfiksi yang cukup

melimpah. Karya sastra Jawa lama itu memuat berbagai hal, seperti bahasa, filsafat, sastra, etika, hukum, obat-obatan dan sebagainya. Sejumlah warisan naskah Jawa itu banyak yang berisi ajaran kepemimpinan yang disampaikan oleh

para pujangga atau para raja pada masa itu (Pardi Suratno, 2009:2)

Nilai-nilai kepemimpinan dalam naskah-naskah Jawa itu tampaknya

(40)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

27

Sebagai sosok intelektual dan pemimpin rakyat yang menyadari dirinya sebagai wakil Tuhan tentunya menyadari bahwa dirinya mempunyai tanggung jawab

menyampaikan ajaran yang memiliki nuansa universal dan melampaui batas waktu itu kepada masyarakat luas (Pardi Suratno, 2009:2).

Diantara sejumlah naskah Jawa yang memuat ajaran kepemimpinan adalah

Sêrat Wulangrèh, Asthabrata, Sêrat Sabdatama, Sêrat Wedhatama, Sêrat

Tripama, Sêrat Wirawiyata, Sêrat Pepali, dan sebagainya. Realitas menunjukkan

bahwa ajaran kepemimpinan itu disampaikan oleh para pemimpin pemerintahan Jawa saat itu, seperti yang dilakukan oleh Pakubuwana IV (melalui karya yang

sangat popular Sêrat Wulangrèh), Paku Buwana IX (Sêrat Wulangputra),

Mangkunagara IV (Sêrat Tripama, Sêrat Wirawiyata, Sêrat Wedhatama), dan

sebagainya. Asthabrata merupakan salah satu ajaran kepemimpinan yang paling

terkenal di Jawa. Ajaran Asthabrata terdapat dalam Sêrat Rama Jarwa atau

Sêrat Nitisruti. Di dalamnya disampaikan ada 8 ajaran yang harus dimiliki oleh

seorang pemimpin, yakni sebagai berikut:

1. Pemimpin berwatak bumi: mampu menampung seluruh rakyatnya; kuat

santosa; suci.

2. Pemimpin berwatak matahari: kekuatan, kesabaran, dan sumber energi.

3. Pemimpin berwatak rembulan: keindahan, kelembutan, kehadirannya sangat

dinantikan karena dapat menyenangkan semua pihak.

4. Pemimpin berwatak angin: kepekaan dan empati.

5. Pemimpin berwatak samudra: keikhlasan dan lapang.

6. Pemimpin berwatak geni: ketegasan, keberanian, dan keadilan hukum.

(41)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

28

8. Pemimpin berwatak mendung (awan): pengayoman, perlindungan, keamanan,

(42)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

29

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Bentuk dan Jenis Penelitian

Bentuk penelitian terhadap Serat Mudhatanya ini adalah penelitian

filologi. Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif, artinya melalui pendekatan kualitatif yang bersifat deskriptif, yang berarti semata-mata menggambarkan, melukiskan, menuliskan, melaporkan objek penelitian pada saat ini berdasarkan

data yang ditemukan atau sebagaimana adanya. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Bogdan R.C dan S.K. Bikeln dalam M. Attar Semi (1993) bahwa pendekatan

kualitatif yang bersifat deskriptif ini berpandangan bahwa semua hal yang berupa sistem tanda tidak ada yang patut diremehkan, semuanya penting dan semuanya mempunyai pengaruh dan berkaitan dengan yang lain. Dengan mendeskripsikan

segala macam bentuk tanda (semiotik) mungkin akan membentuk dan memberikan suatu pemahaman yang lebih komprehensif mengenai apa yang sedang dikaji (hal.24).

Sedangkan jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian pustaka atau library research yaitu penelitian yang menggunakan sumber-sumber tertulis

untuk memperoleh data (Edi Subroto, 1992:42).

B. Sumber Data dan Data Penelitian

Sumber data penelitian ini adalah Katalog Induk Naskah-Naskah

Nusantara Jilid I Museum Sana Budaya Yogyakarta karya T.E. Behrend pada

(43)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

30

Printed Book in the Main Libraries of Surakarta and Yogyakarta karya

Girardet-Sutanto pada tahun 1983. Data penelitian adalah naskah dan teks yang berjudul

Serat Mudhatanya koleksi museum Sana Budaya dengan nomor katalog PB C56.

Data sekunder dalam penelitian ini berupa buku-buku, makalah, artikel

dan sumber informasi penunjang lainnya yang dapat membantu memberikan informasi yang berkaitan dengan penelitian naskah tentang Serat Mudhatanya.

C. Teknik Pengumpulan Data

Dalam teknik pengumpulan data ini, mengacu pada langkah awal dari cara

kerja penelitian filologi yaitu inventarisasi naskah. Inventarisasi naskah dilaksanakan sesuai dengan sasaran penelitian yang telah diputuskan di awal, yakni naskah jenis piwulang. Pengertian inventarisasi naskah dalam penelitian ini

adalah usaha-usaha mendata, mengumpulkan data. Salah satu caranya adalah dengan membaca katalog. Kemudian mendaftar semua judul naskah yang sama. Melalui katalog tersebut akan diperoleh beberapa informasi dan keterangan

tentang naskah yang dimaksud, misalnya jumlah naskah, tempat penyimpanan naskah, deskripsi naskah (nomor catalog, ukuran naskah, tulisan naskah, bahasa

naskah, isi kandungan naskah), dan lain-lain.

Setelah mendapat informasi dari katalog-katalog, langkah selanjutnya adalah mengecek langsung ke lokasi penyimpanan naskah dan melakukan

pengamatan (observasi). Langkah selanjutnya teknik fotografi digital, yaitu memotret naskah dengan kamera digital (tanpa blitz). Teknik wawancara juga

(44)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

31

D. Teknik Analisis Data

Analisis data adalah mengolah data sesuai dengan cara kerja filologi.

Analisis data akan diolah sesuai dengan teori tahapan/langkah kerja penelitian filologi Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa) yang telah dipadukan

dengan langkah kerja menurut Edward Djamaris, yakni mulai dari penentuan sasaran penelitian, inventarisasi naskah, observasi pendahuluan dan deskripsi naskah, transliterasi naskah, kritik teks, suntingan teks dan aparat kritik, dan

terjemahan. Pada naskah tunggal, langkah kerja perbandingan naskah dan dasar-dasar penentuan naskah yang akan ditransliterasi tidak berlaku. Analisis data pada

kajian isi dilakukan setelah terjemahan. Karena secara garis besar isi naskah secara keseluruhan dapat diketahui dan lebih jelas setelah kerja filologi yang lain selesai.

Penyuntingan naskah tunggal dapat dilakukan dengan dua metode, yaitu metode edisi standar dan metode edisi diplomatik. Untuk teks Serat Mudhatanya

ini menggunakan metode edisi standar (biasa). Edisi standar menurut Lubis dalam

Naskah, Teks dan Metose Penelitian Filologi, yaitu:

Edisi standar adalah suatu usaha perbaikan dan meluruskan teks sehingga terhindar dari berbagai kesalahan dan penyimpangan-penyimpangan yang timbul ketika proses penulisan. Tujuannya ialah untuk menghasilkan suatu edisi yang baru dan sesuai dengan kemajuan dan perkembangan masyarakat, misalnya dengan mengadakan pembagian alinea-alinea, pungtuasi, huruf besar dan kecil, membuat penafsiran (interpretasi) setiap bagian atau kata-kata yang perlu penjelasan, sehingga teks tampak mudah dipahami oleh pembaca modern. (Nabilah Lubis, 2001:96).

Metode edisi standar digunakan jika isi naskah dianggap sebagai cerita

biasa, bukan cerita yang dianggap suci atau penting dari sudut agama atau bahasa, sehingga tidak perlu diperlakukan secara khusus atau istimewa (Edward Djamaris,

(45)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

32

membetulkan kesalahan teks, membuat catatan perbaikan, memberi komentar atau tafsiran, menyusun daftar kata sulit sehingga memudahkan pembaca atau peneliti

membaca dan memahami teks.

Tahap akhir dari analisa data dengan mengungkapkan isi yang terkandung

dalam teks ini yakni dengan teknik analisis interpretasi digunakan untuk menginterpretasikan isi naskah melalui berbagai sudut pandang peneliti yang didukung dengan data penunjang, yakni buku-buku, artikel-artikel,

(46)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

33

BAB IV

ANALISA DATA

A. Kajian Filologis

Kajian filologis memiliki tujuan menggambarkan, melukiskan,

menuliskan, melaporkan obyek penelitian pada saat ini, berdasarkan data yang ditemukan atau sebagaimana adanya. Kajian ini terdiri atas lima bagian, yakni: deskripsi naskah, transliterasi naskah, kritik teks, suntingan teks dan aparat kritik,

serta terjemahan.

Kelima bagian tersebut selengkapnya akan diuraikan sebagaimana berikut

ini:

1. Deskripsi Naskah

Deskripsi naskah adalah gambaran secara ringkas dan terperinci mengenai

wujud fisik naskah maupun isi naskah dengan tujuan untuk mempermudah pengenalan terhadap naskah beserta konteks isinya. Deskripsi naskah yang dilakukan terhadap naskah yang menjadi objek penelitian ini berpedoman pada

pendapat yang dikemukakan oleh Emuch Hermansoemantri (1986) yang disesuaikan dengan karakteristik naskah yang diteliti.

Hal-hal yang diungkapkan dalam deskripsi naskah antara lain menyangkut informasi atau data mengenai: (1) judul naskah; (2) nomor naskah; (3) tempat penyimpanan naskah; (4) identitas pengarang/ penyalin; (5) manggala/ kolofon;

(6) ukuran naskah; (7) ukuran teks; (8) tebal naskah/ jumlah halaman; (9) jumlah baris pada setiap halaman; (10) cara penulisan; (11) bahan naskah; (12) bahasa

(47)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

34

umur naskah; (17) ikhtisar teks/ cerita; dan (19) catatan lain. Berikut deskripsi lengkap naskah SM.

(1) Judul naskah

Naskah ini tercatat dalam katalog T.E. Behrend, Katalog Induk

Naskah-Naskah Nusantara Jilid I Museum Sana Budaya Yogyakarta (1990), pada halaman 504, dengan judul Serat Mudatanya. Ketika dilakukan pengecekan langsung ke tempat penyimpanan naskah, judul pada cover luar naskah

bertuliskan “Serat Moedatanya. Serat Kawontenanipoen Pergerakan

Koemoenis” dan pada cover dalam naskah juga pada bagian jilidan luar

bertuliskan “Moedatanya (Koemoenis)”.

Dua bentuk teks yang berbeda jika dihubungkan dengan dua judul naskah yang berbeda penulisannya pula, ada beberapa kemungkinan seperti berikut:

1. Jika didasarkan pada judul di hard cover, dua teks yang berbeda bentuk

memiliki judul masing-masing, yakni teks yang berbentuk prosa memiliki judul ”Serat Mudhatanya”, sedangkan teks yang berbentuk tembang

macapat memiliki judul ”Serat Kawontenanipun Pergerakan Koemunis”,

sehingga bisa dikatakan diantara keduanya berdiri sendiri.

2. Jika didasarkan pada judul di bagian jilidan luar dan cover dalam, dua teks yang berbeda bentuk tersebut menjadi satu dalam satu judul, yakni judul

Serat Mudhatanya, sehingga bisa dikatakan diantara keduanya saling

berkaitan.

Setelah kedua teks ini dibaca lebih teliti lagi, ternyata di antara keduanya tidak

(48)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

35

dalam kategori naskah Jawa jenis piwulang, sedangkan teks yang berbentuk tembang macapat termasuk dalam kategori naskah Jawa jenis sejarah. Karena

sasaran penelitian ini adalah naskah manuskrip jenis piwulang bukan sejarah, maka judul yang dipilih adalah Serat Mudhatanya. Dan judul Serat

Kawontenanipun Pergerakan Koemunis merupakan judul milik teks lain yang

berbentuk tembang macapat.

(2) Nomor naskah

Dalam katalog T.E. Behrend, Katalog Induk Naskah-Naskah Nusantara Jilid I Museum Sana Budaya Yogyakarta (1990) pada halaman 504, naskah ini

terdaftar dengan nomor PB C56 dengan nomor rol film 112 no.10.

(3) Tempat penyimpanan naskah

Museum Sana Budaya Yogyakarta.

(4) Identitas pengarang/ penyalin

Teks SM dikarang oleh R.T.Purbadipura, hal ini dapat dilihat dari kutipan halaman iv teks SM, yaitu:

“Sêrat Mudhatanya punika, ingkang ngarang Raden Tumênggung Purbadipura, Abdi Dalêm Bupati Anom Gêdhong Têngên ing Surakarta Hadiningrat. Pangarangipun nalika dintên Kêmis Lêgi tanggal kaping 28 wulan Sura taun Jimakir angka 1858 utawi kaping 28 Juli taun angka 1927. Gagriya salêbêting nagari ing kampung Kratonan Kidul, ondêr dhistrik Sêrêngan, sakilène Pasar Gêmblêgan.”

Terjemahan:

”Serat Mudhatanya ini yang mengarang Raden Tumenggung Purbadipura, Abdi Dalem Bupati Anom Gedhong Tengen di keraton Surakarta Hadiningrat. Pembuatannya ketika hari Kamis Legi tanggal 28 bulan Sura tahun Jimakir 1858 atau 28 Juli 1927. Bertempat tinggal di kampung Kratonan Kidul, distrik Serengan, sebelah barat Pasar Gemblegan.”

R.T.Purbadipura merupakan seorang Abdi Dalêm Bupati Anom Gêdhong

(49)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

36

Pakubuwana X. R.T.Purbadipura adalah abdi dalem kesayangan Pakubuwana

X. Beliau seorang sastrawan yang sering menggubah perjalanan-perjalanan

PB X dalam bentuk tembang. R.T.Purbadipura merupakan ayah dari R.Ng. Poerbacaraka. R.T.Purbadipura selain sebagai pengarang naskah SM ini juga

sekaligus sebagai penulis teks SM, tetapi beliau hanya menulis pada halaman 53a-90, sedangkan halaman-halaman sebelumnya ditulis oleh seorang jurutulis bernama Wignyaukara. Hal ini bisa dilihat dari kutipan halaman 37 teks SM

berikut:

”... a : inggih nggèr ndhèrèkakên wilujêng b : sampun kyai

a : ya nak, silahkan. Semoga selamat. b : cukup sekian kyai

a : ya

Yang mengarang Purbadipura Yang menulis Wignyaukara”

Selain naskah Serat Mudhatanya, beliau juga aktif menulis lebih dari 15 judul.

Sebagian besar bertemakan ajaran didaktik yang bernuansa Islam, etika hidup manusia dan sejarah. Karya-karya tersebut diantaranya Serat Sri Karongron,

Serat Sri Papara, Serat Resi Danardana, Serat Sriyatna, Serat Sri Hascarya,

Serat Sri Sekaringpuri, Serat Sri Dirgayuswa, Serat Sri Hutomo, Bab

Dodotan, Cathetan Warni-warni, Essing Purbadipura, Kiyamat Kubra I-IV,

(50)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

“Sêrat Mudhatanya punika, ingkang ngarang Raden Tumênggung Purbadipura, Abdi Dalêm Bupati Anom Gêdhong Têngên ing Surakarta Hadiningrat. Pangarangipun nalika dintên Kêmis Lêgi tanggal kaping 28 wulan Sura taun Jimakir angka 1858 utawi kaping 28 Juli taun angka 1927. Gagriya salêbêting nagari ing kampung Kratonan Kidul, ondêr dhistrik Sêrêngan, sakilène Pasar Gêmblêgan.”

Terjemahan:

”Serat Mudhatanya ini yang mengarang Raden Tumenggung Purbadipura, Abdi Dalem Bupati Anom Gedhong Tengen di keraton Surakarta Hadiningrat. Pembuatannya ketika hari Kamis Legi tanggal 28 bulan Sura tahun Jimakir 1858 atau 28 Juli 1927. Bertempat tinggal di kampung Kratonan Kidul, distrik Serengan, sebelah barat Pasar Gemblegan.”

(6) Bahan naskah

Naskah SM dikemas dalam sebuah buku tulis cukup tebal dengan ketebalan 1,1 cm. Kertas yang dipakai kertas lokal, bergaris (garisnya berwarna biru muda). Kertasnya cukup tebal. Terdapat garis bantu dengan pensil untuk

batas margin.

Penulis menemukan ada 2 jenis kertas lain di luar kertas asli dari buku yang

digunakan untuk menuliskan teks SM. Kertas-kertas tersebut tidak setebal kertas asli dari buku. Dua jenis kertas lain tersebut yang satu ditempelkan dengan kertas asli dari buku, yang satunya hanya disisipkan, tidak

ditempelkan. Berarti dalam satu buku ada 3 jenis kertas, yaitu:

1) Kertas asli dari buku itu sendiri: kertas lokal, bergaris (garisnya

(51)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

38

baris, berukuran 21,2 cm x 16, 8 cm, warna kertas coklat muda agak kekuning-kuningan.

2) Kertas yang ditempel: kertas lokal, bergaris (garisnya berwarna hitam), tiap halaman ada 23 baris, kualitas kertas lebih tipis bila dibandingkan

denga kertas asli dari buku, ukuran kertas sama dengan kertas yang asli dari buku, yaitu 21,2 cm x 16, 8 cm, warna kertas coklat muda agak kekuning-kuningan.

3) Kertas yang disisipkan: kertas lokal, bergaris (garisnya berwarna hitam), kualitas kertas tipis, berwarna coklat (coklatnya lebih gelap bila

dibandingkan dengan 2 jenis kertas di atas, berukuran 17,4 cm x 15,4 cm.

(7) Keadaan naskah

Keadaan naskah secara fisik baik utuh/ lengkap, tidak ada lembaran-lembaran naskah yang hilang, ada beberapa lubang kecil di halaman bagian awal tetapi tidak sampai mengenai tulisan, dijilid, hard cover berwarna hitam bercorak

keemasan. Ada sekitar 2-3 lembar di bagian pertengahan naskah yang disobek secara sengaja dan terlihat pemotongannya rapi untuk menempelkan kertas

lain (kertas tambahan).

Teks pada halaman 63-70 (8 hal) dicoret dengan tanda silang oleh penulis sebagai penanda bahwa teks tersebut sudah tidak terpakai (tidak perlu dibaca).

(8) Ukuran naskah

Gambar

Gambar 1.1 Judul pada cover depan
Gambar 1.2 Judul pada cover dalam
Gambar 1.3 Akhir teks SM bagian pertama ditutup dengan tanda semacam
Gambar 1.5 Penulisan pada lingsa (,) di dalam paragraph. (SM: 1)
+7

Referensi

Dokumen terkait

Seorang pemimpin pembelajaran yang baik seharusnya mempunyai tipe demokratis sehingga proses pembelajaran dapat berjalan dengan baik karena guru memberikan kebebasan kepada

Tujuan penelitian ini adalah (1) Menyediakan suntingan teks Hifzhu `l- m n yang baik dan benar (2) Mendeskripsikan struktur sastra kitab yang terdapat dalam teks Hifzhu

Menurut Pramudita (2013) jauh dari tindakan fraud diperlukan sosok seorang figur pemimpin yang baik dimata karyawan, seorang karyawan yang mempunyai persepi yang buruk terhadap

Penelitian berjudul “ Serat Wasita Dyah Utama : Suntingan Teks disertai Ajaran Keutamaan Hidup“ didasari oleh suatu pemikiran bahwa Serat Wasita Dyah Utama merupakan salah

Ajaran moral yang dimisalkan dengan lima jari yang merupakan tingkah laku yang dipandang baik bagi kaum wanita, khususnya para putri PB X .Wanita harus memahami fungsi, peran,

Secara garis besar makna filosofis dari aturan sikap di atas, mengandung nilai seperti apa yang dituangkan dalam Serat Wulangreh dan Serat Raja Kapakapa, bahwa seorang abdi

Tujuan penelitian ini adalah (1) Menyediakan suntingan teks Hifzhu `l- īmān yang baik dan benar (2) Mendeskripsikan struktur sastra kitab yang terdapat dalam teks Hifzhu

Kepemimpinan visioner dapat menjadikan seorang guru menjadi lebih baik lagi diantaranya guru memiliki karakter tanggung jawab melalui tugas dari kepala madrasah yakni setiap guru diberi