• Tidak ada hasil yang ditemukan

Performa Broiler dengan Ransum Mengandung Campuran Ampas Sagu dan Ampas Tahu yang Difermentasi dengan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Performa Broiler dengan Ransum Mengandung Campuran Ampas Sagu dan Ampas Tahu yang Difermentasi dengan"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

Gambar

Tabel l. Komposisi dan kandungan nutrien ransum broiler yang menggunakan campuran ampas sagu dan ampas tahu yang difermentasi dengan Neurospora crassa
Tabel 2. Performa broiler yang diberi ransum mengandung campuran ampas sagu dan ampas tahu yang difermentasi dengan Neurospora crassa selama 42 hari
Tabel 3. Kandungan asam amino produk campuran ampas sagu dan ampas tahu sebelum (A) dan sesudah (B) fermentasi dengan Neurospora crassa (%)

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan uji statistik pemberian bungkil inti sawit tidak berpengaruh nyata terhadap konsumsi ransum ayam pada setiap perlakuan, namun pemberian bungkil inti

terhadap komposisi fisik karkas broiler umur 6 minggu, di samping itu juga dapat memberi informasi kepada petani peternak tentang penggunaan ampas tahu difermentasi

Nilai IOFC ayam pedaging pada penelitian ini, perlakuan yang diberi 95 % pakan komersial + 5 % tepung jagung mendapatkan nilai IOFC yang paling tinggi dari

Pengaruh perlakuan terhadap konsumsi ransum, pertambahan bobot badan, konversi ransum, persentase karkas dan lemak abdo- men ayam broiler selama penelitian terdapat pada Tabel

Asam amino esensial merupakan asam amino yang harus disediakan dalam pakan karena ternak tidak mampu mensintesanya, sedangkan asam amino non esensial merupakan asam

Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan nilai guna ampas tahu sebagai bahan pakan ayam ras pedaging, dengan mengukur konsumsi pakan, pertambahan berat badan, konversi

Hasil analisis ragam (Tabel 3) dan uji kontras ortogonal (Tabel 4) memperlihatkan bahwa bobot badan dan pertambahan bobot badan ayam broiler yang diberi ransum

Berdasarkan analisis ragam menunjukkan antar perlakuan tidak memberikan pengaruh yang nyata (P>0,05) terhadap konsumsi ransum ayam ras pedaging yang dihasilkan, hal ini