• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN KUNJUNG LAPANG KTNA KOTA SEMARAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "LAPORAN KUNJUNG LAPANG KTNA KOTA SEMARAN"

Copied!
36
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN KUNJUNG LAPANG

KTNA KOTA SEMARANG

KE KABUPATEN BOYOLALI

DAN KABUPATEN KARANGANYAR

KEGIATAN PENYULUHAN DAN PENDAMPINGAN

PETANI DAN PELAKU AGRIBISNIS

TAHUN ANGGARAN 2015

DINAS PERTANIAN KOTA SEMARANG

Jl. Kompak No. 2 - 3 Semarang

(2)

KATA PENGANTAR

Puji syukur ke hadirat Tuhan yang Maha Esa atas segala nikmat, rahmat, dan hidayah-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan Laporan Kunjung Lapang KTNA Kota Semarang ke Kabupaten Boyolali dan Kabupaten Karanganyar Tahun 2015 ini. KTNA Kota Semarang sebagai komunitas petani dan nelayan yang anggota-anggotanya terpilih untuk mewakili Kota Semarang serta memiliki kualifikasi kemampuan lebih di sektor pertanian dan perikanan, juga memiliki karakter perintis (pionir) dan patriotis dalam pengembangan agribisnis di Kota Semarang.

Dalam rangka pengembangan sektor pertanian, khususnya subsektor tanaman obat, dan sektor perikanan, dilaksanakan Kunjung Lapang KTNA Kota Semarang ke Kabupaten Boyolali dan Kabupaten Karanganyar, guna meningkatkan kemampuan, ketrampilan, wawasan agribisnis, dan profesionalisme anggota-anggota KTNA, dalam rangka mewujudkan kemandirian pertanian dan perikanan Kota Semarang.

Kami mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang terkait dengan kegiatan Kunjung Lapang KTNA ini, atas segala bentuk kerja sama, perhatian, dan bantuannya, sehingga Kunjung Lapang dapat diselesaikan dengan baik dan Laporan Kunjung Lapang yang disusun ini dapat menjelaskan secara baik tentang hal-hal apa saja telah dilaksanakan dalam kegiatan tersebut.

Kami menerima segala bentuk kritik yang membangun, sehubungan dengan tidak sempurnanya laporan ini, serta kami sangat mengharapkan saran-saran guna memperbaiki kualitas kunjung lapang yang hendak dijalankan Dinas Pertanian Kota Semarang di masa mendatang. Amin.

Semarang, 30 November 2015 Kepala Bidang Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya

ARI PATRIA WIJANARKO, SH.MM. Pembina

NIP. 19650327 199310 1 001 Mengetahui,

Kepala Dinas Pertanian Kota Semarang

Ir. W.P. RUSDIANA, MP. Pembina Utama Muda NIP. 19641221 199001 2 001

(3)

DAFTAR ISI

halaman

KATA PENGANTAR ... i

DAFTAR ISI ... ii

DAFTAR FOTO ... iii

DAFTAR BAGAN ... iv

BAB I. PENDAHULUAN ... 1

A. LATAR BELAKANG ... 1

B. DASAR PELAKSANAAN ... 3

C. TUJUAN... 4

D. WAKTU PELAKSANAAN ... 5

D. PELAKSANA ... 5

BAB II. HASIL KEGIATAN ... 6

BAB III PEMBAHASAN ... 14

BAB IV PENUTUP ... 19

LAMPIRAN ... 20

(4)

DAFTAR FOTO

halaman

Foto 1. Rombongan KTNA Kota Semarang didampingi Dinas Pertanian

Kota Semarang tiba di Lokasi ... 21

Foto 8. Serah terima cinderamata dari Dinas Pertanian Kota Semarang kepada Dinas Pertanian Kabupaten Boyolali ... 23

Foto 9. Rombongan KTNA Kota Semarang bersama Dinas Pertanian Kota Semarang sebelum berangkat dari lokasi KWT Ngudi Mulyo ... 23

Foto 10. Rombongan tiba di lokasi B2P2TOOT ... 24

Foto 11. Rombongan berada di Ruang Sinema Fitomedika, lokasi untuk memvisualisasikan penyebaran informasi tentang tanaman obat dan obat tradisional ... 24

Foto 12. Session pendahuluan, sebelum pengarahan/penyampaian presentasi dari perwakilan B2P2TOOT ... 25

Foto 13. Perwakilan dari B2P2TOOT memberikan presentasi tentang seluk-beluk B2P2TOOT, tanaman obat, dan obat tradisional ... 25

Foto 14. Penyerahan cinderamata kepada perwakilan dari B2P2TOOT ... 26

Foto 15. Rombongan berada di lokasi kebun pembibitan tanaman obat ... 26

Foto 16. Museum Jamu Hortus Medicus ... 27

Foto 17. Rombongan berada di lokasi kebun pembibitan tanaman obat ... 27

Foto 18. Kebun Tlogodlingo ... 28

Foto 19. Kebun Kalisoro ... 28

(5)

DAFTAR BAGAN

halaman

Bagan 1. Struktur Organisasi Poklahsar Karya Wanita Tanjungsari “Ngudi Mulyo”, Desa Tanjungsari, Kecamatan Banyudono, Kabupaten Boyolali ... 28 Bagan 2. Struktur Organisasi B2P2TOOT, Kecamatan Tawangmangu,

Kabupaten Karanganyar ... 29 Bagan 3. Proses Pembuatan Stick Ikan Lele, Crispy Sirip Lele,

Crispy Kulit Lele, dan Tepung Duri Lele di KWT Ngudi Mulyo ... 30

(6)

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Meskipun peran sektor pertanian, perikanan, dan kehutanan dalam memacu pertumbuhan ekonomi nasional tidak sebesar sektor industri, namun peran sektor-sektor ini lebih luas terutama dalam konteks mendistribusikan hasil-hasil pembangunan utamanya kepada masyarakat miskin di wilayah pedesaan, sehingga sektor pertanian, perikanan, dan kehutanan tetap dipandang strategis dalam pembangunan nasional, dimana ketiga sektor tersebut memiliki peranan strategis sebagai penyedia pangan nasional, penyediaan bahan baku industri, penyedia bioenergi, dan penyerapan tenaga kerja. Sektor-sektor tersebut berdampak sangat positif pada penurunan tingkat kemiskinan dan menjaga pelestarian lingkungan. Sejalan dengan hal tersebut, Kementerian Pertanian Tahun 2005 – 2025 telah menetapkan tujuan akhir pembangunan pertanian yaitu mewujudkan kesejahteraan masyarakat pertanian melalui sistem pertanian industrial, berorientasi pada peningkatan kualitas hidup masyarakat pertanian, dengan sasaran jangka panjang pembangunan pertanian sebagai berikut :

1. Mewujudkan sistem pertanian industrial yang berdaya saing. 2. Memantapkan ketahanan pangan secara mandiri.

3. Menciptakan kesempatan kerja penuh bagi masyarakat pertanian.

4. Menghapus kemiskinan dari masyarakat pertanian dan meningkatkan pendapatan petani sebesar US$ 2.500 per kapita per tahun.

Mengacu pada sasaran-sasaran tersebut, maka visi pembangunan pertanian tahun 2025 dirumuskan sebagai berikut :

Terwujudnya Sistem Pertanian Industrial yang Berdaya Saing, Berkeadilan, dan

Berkelanjutan, guna Menjamin Ketahanan Pangan dan Kesejahteraan Masyarakat

Pertanian.

Berdasarkan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Kelompok KTNA, KTNA merupakan kontak tani nelayan yang diandalkan dan dipilih untuk mewakili aspirasi petani dan nelayan dari tingkat desa/kelurahan hingga tingkat nasional, yang diputuskan dalam Rembug Paripurna. Kelompok KTNA merupakan organisasi kontak tani nelayan yang bersifat sosial ekonomi, yang menjadi lembaga masyarakat dan yang tumbuh dari bawah serta bersifat independen, beranggotakan petani dan nelayan yang mempunyai keahlian, ketrampilan, dan kepedulian di sektor pertanian, perikanan, dan kehutanan. Kelompok KTNA bertujuan :

(7)

1. Mengembangkan profesionalisme petani dan nelayan.

2. Membangun rasa tanggung jawab, kesetiakawanan, dan keadilan sosial.

3. Menumbuhkembangkan dan melestarikan nilai-nilai perjuangan KTNA dalam mengentaskan kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan.

4. Membangun watak petani dan nelayan yang ber-etos kerja tinggi, berdisiplin, produktif, berkualitas, hemat, mandiri, dan berperilaku mulia dalam kehidupan. Kelompok KTNA memiliki fungsi-fungsi sebagai berikut :

1. Menyalurkan aspirasi masyarakat petani dan nelayan kepada lembaga eksekutif, legislatif, dan yudikatif, serta pihak-pihak lainnya, untuk memajukan sektor pertanian, perikanan, dan kehutanan.

2. Mengkomunikasikan kebijakan dan informasi edukasi di sektor pertanian, perikanan, dan kehutanan.

3. Meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan petani dan nelayan, untuk menerapkan teknologi tepat guna dan modern, dari tahap produksi hingga tahap pemasaran, dengan memperhatikan pelestarian dan peningkatan mutu lingkungan. Sehubungan dengan tugas dan fungsi KTNA tersebut, maka dapat dikatakan bahwa KTNA sangatlah besar perannya dalam penyuluhan pertanian dan pengembangan sumber daya pertanian.

Kenyataan teknis di lapangan menunjukkan bahwa 70 % keberhasilan sektor pertanian ditentukan oleh penyuluh pertanian dan 30 % ditentukan oleh pemberdayaan petani. Berlandaskan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2006 tentang Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan, penyuluhan sebagai suatu upaya untuk membangun pertanian, perikanan, dan kehutanan secara berkelanjutan, untuk memenuhi kebutuhan pangan, papan, dan bahan baku industri, serta untuk memperluas lapangan kerja dan lapangan usaha, meningkatkan kesejahteraan rakyat, khususnya petani dan nelayan, dan mengentaskan masyarakat dari kemiskinan di perdesaan, membutuhkan sumber daya manusia yang andal, berkemampuan manajerial kewirausahaan, berkemampuan organisasi, dan mampu membangun usaha dari hulu hingga hilir yang berdaya saing tinggi dan berkelanjutan. Penyuluhan pertanian berperan penting dalam membina dan membimbing petani dan nelayan atau kelompok tani dan kelompok nelayan, dalam meningkatkan produktivitas, efisiensi usaha, pendapatan, kesejahteraan, dan kesadaran dalam melestarikan fungsi lingkungan hidup, dilaksanakan berasaskan demokrasi, manfaat, kesetaraan, keterpaduan, keseimbangan, keterbukaan, kerja sama, partisipatif, kemitraan, berkelanjutan, perikeadilan, pemerataan, dan bertanggung jawab, menitikberatkan fokus pada petani dan nelayan, yang tergabung dalam organisasi Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA).

(8)

Pemberdayaan petani dan keluarganya melalui penyelengaraan penyuluhan pertanian tidak mungkin dilaksanakan dengan pendekatan individual , karena jumlah dan sebaran petani sangat besar dan luas serta terbatasnya sumberdaya penyuluhan, sehingga diperlukan pendekatan kelompok. Pendekatan ini mendorong petani dan nelayan untuk mampu membentuk kelembagaan petani dan nelayan yang kuat, sehingga mampu membangun sinergi di antara petani dan nelayan. Pemberdayaan petani dan nelayan merupakan kondisi yang menumbuhkan kemandirian petani dan nelayan, melalui pemberian daya, kesempatan memilih alternatif, dan memilih keputusan, sesuai dengan tingkat kesadaran, kemampuan dan keinginan masyarakat petani dan nelayan tersebut. Melalui usaha-usaha yang dilaksanakan KTNA, masyarakat petani dan nelayan diberi kesempatan untuk mempelajari segala bentuk keberhasilan dan kegagalan, kemudian memberikan respon positif terhadap perubahan, sehingga masyarakat petani dan nelayan mampu mengendalikan masa depannya.

B. DASAR PELAKSANAAN

Adapun dasar pelaksanaan Kunjung Lapang KTNA Kota Semarang ke Kabupaten Boyolali dan Kabupaten Karanganyar Tahun 2015 adalah :

1. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4437) juncto Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4844);

2. Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2009 tentang Pembiayaan, Pembinaan, dan Pengawasan Penyuluhan Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 87, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5018);

3. Peraturan Menteri Pertanian Nomor 19/Permentan/HK.140/4/2015 Tahun 2015 tentang Rencana Strategis Kementerian Pertanian Tahun 2015 – 2019;

4. Peraturan Menteri Pertanian Nomor 82/Permentan/OT.140/8/2013 Tahun 2013 tentang Pedoman Pembinaan Kelompok Tani dan Gabungan Kelompok Tani; 5.Peraturan Daerah Kota Semarang Nomor 12/2008 Tahun 2008 Tentang Organisasi

dan Tata Kerja Dinas Daerah Kota Semarang;

6.Peraturan Daerah Kota Semarang Nomor 11 Tahun 2014 tentang Anggaran pendapatan dan Belanja Daerah Kota Semarang Tahun Anggaran 2015 (Lembaran Daerah Kota Semarang Tahun 2014 Nomor 11);

7.Peraturan Walikota Semarang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Penjabaran Tugas Pokok dan Fungsi Dinas Pertanian Kota Semarang;

(9)

8.Peraturan Walikota Semarang Nomor 40 Tahun 2014 tentang Penjabaran Anggaran Pendapatan dan belanja Daerah Kota Semarang Tahun Anggaran 2015 (Berita Daerah Kota Semarang Tahun 2014 Nomor 40);

9.Keputusan Walikota Semarang Nomor 910/756/2014 Tahun 2014 tentang Penunjukan Pengguna Anggaran (PA) pada SKPD di Lingkungan Pemerintah Kota Semarang Tahun Anggaran 2015;

10.Keputusan Walikota Semarang Nomor 910/802/2014 Tahun 2014 tentang Penunjukan Kuasa pengguna Anggaran (KPA), Bendahara Penerimaan Pembantu, dan Bendahara Pengeluaran Pembantu pada SKPD di Lingkungan Pemerintah Kota Semarang Tahun Anggaran 2015;

11.Keputusan Walikota Semarang Nomor 910/6/2015 Tahun 2015 tentang Pelimpahan Kekuasaan kepada Satuan Kerja Pengelolaan Keuangan Daerah (SKPKD) sebagai Pejabat Pengelolaan Keuangan Daerah (PPKD) Tahun Anggaran 2015;

12.Keputusan Walikota Semarang Nomor 910/9/2015 Tahun 2015 Penunjukan Kepala SKPD selaku Pengguna Anggaran sebagai Pejabat yang diberi Wewenang Mengesahkan Surat Pertanggungjawaban (SPJ) Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kota Semarang Tahun Anggaran 2015;

13. Keputusan Walikota Semarang Nomor 910/11/2015 Tahun 2015 tentang Penunjukan Bendahara Pengeluaran dan Bendahara Penerimaan di Lingkungan Pemerintah Kota Semarang Tahun Anggaran 2015;

14. Keputusan Kepala Dinas Pertanian Kota Semarang Nomor 910/043 Tahun 2015 tentang Penetapan Personil Pengelola Keuangan Dinas Pertanian Kota Semarang Tahun Anggaran 2015;

C. TUJUAN

Tujuan diselenggarakannya Kunjung Lapang KTNA Kota Semarang ke Kabupaten Boyolali dan Kabupaten Karanganyar Tahun 2015 adalah :

1. Menambah wawasan KTNA Kota Semarang dalam mengembangkan usaha pertanian dan perikanan dari segenap kelompok tani dan kelompok nelayan yang tergabung di dalamnya, sehingga usaha pertanian dan perikanan yang dilaksanakan akan bersifat agribisnis, mandiri, profesional, dan berkelanjutan.

2. Menggali informasi yang lebih banyak tentang teknologi pertanian dan perikanan yang dapat diterapkan pada pengolahan komoditas pertanian dan perikanan potensial di Kota Semarang, sehingga nantinya diharapkan KTNA Kota Semarang mampu mengaplikasikan teknologi-teknologi tersebut, untuk kemajuan pertanian dan perikanan Kota Semarang.

(10)

D. WAKTU PELAKSANAAN

Kunjung Lapang KTNA Kota Semarang ke Kabupaten Boyolali dan Kabupaten Karanganyar Tahun 2015 dilaksanakan pada tanggal 26 November 2015, dengan tujuan :

1. Kelompok Wanita Tani (KWT) Ngudi Mulyo, Desa Tanjungsari, Kecamatan Banyudono, Kabupaten Boyolali. KWT Ngudi Mulyo mengusahakan komoditas ikan lele sebagai bahan baku pembuatan berbagai produk olahan pangan.

2. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional (B2P2TOOT), Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, yang beralamat di Jalan Lawu no. 11, Tawangmangu, Karanganyar.

E. PELAKSANA

Pelaksana Kegiatan Kunjung Lapang KTNA Kota Semarang ke Kabupaten Boyolali dan Kabupaten Karanganyar Tahun 2015 adalah Bidang Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya – Dinas Pertanian Kota Semarang, dengan peserta terdiri dari Petugas Dinas Pertanian Kota Semarang terkait, pengurus dan anggota Kelompok Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kota Semarang, penyuluh swadaya, serta petani biofarmaka, dengan jumlah peserta 50 (lima puluh) orang.

(11)

BAB II HASIL KEGIATAN

Kunjung Lapang KTNA Kota Semarang dilaksanakan berdasarkan Surat Perintah Tugas Nomor: 800/4941 Tanggal 20 November 2015, berdasarkan DPA-SKPD Dinas Pertanian Kota Semarang Nomor 101/DPPA/2015 Tanggal 26 Oktober 2015. Kunjung Lapang KTNA Kota Semarang dilaksanakan di 2 (dua) lokasi :

1. Kelompok Wanita Tani (KWT) Ngudi Mulyo, Desa Tanjungsari, Kecamatan Banyudono, Kabupaten Boyolali

Program Minapolitan yang telah dicanangkan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan sejak tahun 2010 telah menunjukkan hasil sangat positif di masyarakat. Konsep pembangunan kelautan dan perikanan yang berbasis wilayah. Minapolitan telah menempatkan Kabupaten Boyolali sebagai salah satu sentra lele terpadu di Indonesia. Kabupaten Boyolali telah berperan besar dalam merealisasikan visi Kementerian Kelautan dan Perikanan yaitu mewujudkan Indonesia sebagai negara penghasil produk perikanan terbesar pada tahun 2015. Lele termasuk di dalam 10 (sepuluh) komoditas perikanan unggulan yang ditetapkan Kementerian Kelautan dan Perikanan. Target produksi perikanan budidaya yang pada tahun 2010 sebesar 5,26 juta Ton telah meningkat 353 % menjadi 16,90 juta Ton pada tahun 2014.

Kabupaten Boyolali merupakan salah satu dari 35 kabupaten di Provinsi Jawa Tengah, dengan luas wilayah 101.510,1955 Ha atau 3,11 % dari luas wilayah Provinsi Jawa Tengah. Secara administratif, kabupaten ini terdiri dari 19 kecamatan, yang meliputi 267 desa/kelurahan. Kabupaten Boyolali terletak di 110o22’ - 110o50’ Bujur Timur (BT) dan 7o36’ - 7o71’, dengan ketinggian tempat rata-rata 75 – 1500 meter di atas permukaan laut. Memiliki ketinggian minimum 75 mdpl dan ketinggian maksimum 1.500 mdpl.

Kabupaten Boyolali sebagai kawasan pengembangan wisata minapolitan di Provinsi Jawa Tengah, merupakan suatu kawasan Minapolitan percontohan sejak tahun 2011, bersama-sama Kabupaten Bogor dan Kabupaten Gunung Kidul. Kawasan Minapolitan ini menjadi pusat pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Boyolali dan berperan sangat besar dalam menyerap tenaga kerja dan meningkatkan pendapatan masyarakat setempat karena kegiata usaha budi daya dan pengolahan lele ini dilaksanakan dari hulu hingga hilir. Kawasan Minapolitan merupakan suatu bentuk Pengembangan Usaha Mina Pedesaan (PUMP) yang bertujuan untuk meningkatkan produksi, menumbuhkan wira usaha, dan

(12)

meningkatkan kesejahteraan masyarakat perikanan di pedesaan. Adapun jenis-jenis ikan yang dikembangkan di wilayah Kabupaten Boyolali meliputi ikan tawas, mujair, nila, lele, dan karper. Kapasitas berat dari masing-masing jenis tersebut, baik di dalam kolam maupun di perairan, meliputi :

a. Ikan Tawas

Di dalam kolam, rata-rata 42.157 kg. Di perairan, rata-rata 25.813 kg. b. Ikan Mujair

Di dalam kolam, rata-rata 34.216 kg. Di perairan, rata-rata 27.525 kg. c. Ikan Nila

Di dalam kolam, rata-rata 45.860 kg. Di perairan, rata-rata 39.875 kg. d. Ikan Lele

Di dalam kolam, rata-rata 4.380.000 kg. Di perairan, rata-rata 48.139 kg.

e. Ikan Karper

Di dalam kolam, rata-rata 72.541 kg. Di perairan, rata-rata 31.245 kg.

Ika lele (catfish atau Clarias sp.) adalah salah satu jenis ikan air tawar yang digemari masyarakat sebagai lauk-pauk untuk konsumsi. Selain terjangkau harganya, ikan lele mengandung protein yang sangat berguna bagi kesehatan tubuh. Umumnya, ikan lele berwarna kehitaman dan berbentuk menyerupai belut. Ikan lele berukuran besar, misalnya lele dumbo, kurang laku di pasaran sebagai konsumsi sehingga diperlukan upaya diversifikasi produk olahan lele. Ikan lele dibuat menjadi berbagai olahan pangan agar konsumen tertarik mengkonsumsi produk tersebut.

Kelompok Wanita Tani (KWT) Ngudi Mulyo yang berlokasi di RT 05/ RW I, Dukuh Karangkepoh, Desa Tanjungsari, Kec. Banyudono, Kab. Boyolali, merupakan kelompok wanita tani kelas Lanjut yang memproduksi olahan pangan yang berasal dari bahan baku ikan lele, menjadi produk olahan ber-merk Al Fadh. Kelompok tani ini beranggotakan ibu-ibu rumah tangga di Dukuh Karangkepoh, yang berupaya meningkatkan penghasilan keluarga. KWT Ngudi Mulyo mengembangkan usaha pengolahan lele ini dengan tujuan memperbaiki proses produksi dan memperluas jaringan pemasaran ke luar Kabupaten Boyolali.

(13)

Produk olahan pangan bernilai gizi tinggi karena mengandung asam amino esensial (isoleusin, leusin, lisin, dan fenil alanin), omega 3, omega 6, dan omega 9, serta layak dikonsumsi dan telah memperoleh izin :

a. BPOM HK. 00.05.5.1540 sejak tanggal 30 April 2003. b. BPOM MUI No. 1503006060612.

c. DEPKES P-IRT No. 2.02.3309.01.134

Setiap bulannya, KWT Ngudi Mulyo memerlukan bahan baku sebesar ± 600 kg lele segar untuk diolah/diproses menjadi produk-produk yaitu abon ikan lele, keripik kulit lele, keripik sirip lele, kerupuk lele, dendeng lele, pastel lele, stick duri lele, kue nastar lele, stick daging lele, bakso lele, nugget lele, gelatin lele, sosis lele, otak-otak lele, dan lele crunch tanpa duri. KWT Ngudi Mulyo memperoleh pembinaan dari BBP4B KP – Balitbang KP Kementerian Kelautan dan Perikanan RI. KWT Ngudi Mulyo telah meraih Juara II Tingkat Nasional dalam Lomba Inovasi Produk Perikanan dan Juara II Lomba Usaha Mikro, Kecil dan Menengah. Untuk menunjang produktivitas KWT Ngudi Mulyo, pihak Pemerintah Desa Tanjungsari telah membangun restoran kuliner bernama Sri Bening – Tanjungsari, dengan kapasitas produksi dari 135 unit kolam lele dan restoran tersebut telah diresmikan oleh Bpk. Seno Samodro, Bupati Boyolali, pada tanggal 11 Februari 2015.

Pemasaran produk olahan KWT Ngudi Mulyo belum begitu luas, karena masih mengandalkan pesanan yang datang. Jumlah anggota aktif KWT Ngudi Mulyo ialah 12 orang wanita.. Sistem pemasaran melalui 2 (dua) cara yaitu : a. Tunai (cash)

Pembayaran dilakukan dengan cara penitipan di toko-toko oleh-oleh di wilayah Kota Solo dan Kota Boyolali, dalam skala kecil. Pesanan yang yang datang dari Yogyakarta, Semarang, dan Klaten umumnya merupakan pembeli, yang kemudian menjual lagi produk-produk olahan tersebut ke luar Pulau Jawa.

b. Pemesanan

Pemesanan dilakukan melalui beberapa cara yaitu : 1) email [email protected]

2) BB message, dengan Pin BB : 326931ee

3) Kontak HP, melalui contact person : Eka Supriyatin. No. HP. 081915324748 dan 085867411774,

Selanjutnya, pembayaran dilakukan melalui no. rekening bank yang telah ditetapkan oleh contact person.

(14)

Pemasaran produk-produk KWT Ngudi Mulyo mengalami peningkatan yang cukup signifikan sejak tahun 2015, dimana KWT Ngudi Mulyo menerima pesanan yang bersifat “beli-putus” dari PT Carefour – Jakarta. Setiap minggu omzet penjualan mencapai 1.000 bungkus, per bungkus 75 gr. Selain itu, KWT Ngudi Mulyo juga melakukan terobosan pemasaran ke Warung SS (Special Sambel) di kota-kota terdekat dengan Boyolali.

2. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional (B2P2TOOT)

B2P2TOOT beralamat di Jalan Raya Lawu no. 10 – 11, Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah. Beberapa alamat lainnya yang dimiliki B2P2TOOT meliputi :

Website : www.b2p2toot.litbang.depkes.go.id e-mail : [email protected]

FB (Indonesia) : https://www.facebook.com/SaintifikasiJamu

FB (Inggris) : https://www.facebook.com/Indonesia.Traditional.Medicine

B2P2TOOT bermula dari kebun koleksi tanaman obat milik Romo Santoso, yang dirintis sejak awal tahun kemerdekaan, di suatu area kebun yang disebut Kebun Obat Dlingo. Pada awalnya hanya terdapat sekitar 250 jenis tanaman obat di Kebun Dlingo. Selanjutnya, sejak bulan April 1948 pengelolaan kebun koleksi tanaman obat tersebut dilakukan oleh Pemerintah Republik Indonesia, dalam kendali Lembaga Eijkman dan diberi nama Hortus Medicus Tawangmangu. Pada tahun 1963 – 1968 balai ini berada di bawah koordinasi Direktorat Jenderal Farmasi (Lembaga Farmasi Nasional). Pada tahun 1975 – 1979 berdasarkan kebijakan pemerintah pusat, Hortus Medicus berada di bawah pengawasan Direktorat Pengawasan Obat Tradisional, Ditjen POM, dan Depkes RI.

Pada tahun 2006, berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 491/Per/Menkes/VII/2006 tertanggal 17 Juli 2006, BPTO bertransformasi menjadi Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional (B2P2TOOT). Transformasi ini menjadikan Balai Besar ini memiliki kemampuan yang lebih besar dalam melestarikan, membudidayakan, dan mengembangkan tanaman obat dan obat tradisional, guna mendukung pencapaian derajat kesehatan masyarakat yang optimal. Berdasarkan SK Menteri Kesehatan Nomor 149/Menkes/SK/IV/78 Tanggal 28 April 1978, kebun koleksi tanaman obat tersebut berubah namanya menjadi Balai Penelitian Tanaman Obat (BPTO), sebagai Unit Pelaksana Teknis pada Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan dari Departemen Kesehatan RI. BPTO berperan besar dalam

(15)

pengelolaan jenis-jenis tanaman obat menjadi jamu yang bermanfaat untuk memelihara kesehatan dan mencegah berbagai jenis penyakit.

Pada tahun 2010, berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 003 Tahun 2010 tertanggal 4 Januari 2010, B2P2TOOT memprioritaskan penelitian dan pengembangannya pada Saintifikasi Jamu, dari tingkat hulu hingga hilir. Dimulai dari riset etnofarmatologi tanaman obat dan jamu, pelestarian, budidaya, pascapanen, riset praklinik, riset klinik, teknologi dan manajemen bahan jamu, penelitian ilmu dan pengetahuan serta teknologi, serta diseminasi teknologi hingga pada community empowerment. Setelah pembentukan B2P2TOOT ini, terjadi penambahan jumlah yang sangat signifikan di Kebun Obat Dlingo, dimanas jumlah tanaman obat yang tercatat mencapai jumlah 250 jenis.

B2P2TOOT memiliki sumber daya manusia (SDM) sebesar 88 orang, yang meliputi 77 PNS dan 11 CPNS. Bidang-bidang keilmuan yang digeluti yaitu biologi, agronomi, teknologi pertanian, biokimia, farmakologi, kedokteran, farmasi, analisis kesehatan, kesehatan masyarakat, dan komunikasi. Selain anggota PNS dan CPNS, B2P2TOOT didukung oleh tenaga-tenaga teknis kebun, tenaga laboratorium, dan tenaga klinik Saintifikasi Jamu, sebanyak 57 orang.

B2P2TOOT memiliki tugas yaitu melaksanakan penelitian dan pengembangan tanaman obat dan obat tradisional. Sedangkan fungsi-fungsinya meliputi :

a. Perencanaan, pelaksanaan, evaluasi penelitian tanaman obat dan obat tradisional.

b. Pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi konservasi dan pelestarian plasma nuftah tanaman obat.

c. Pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi standarisasi tanaman obat dan obat tradisional.

d. Pelaksanaan eksplorasi, inventarisasi, identifikasi, adaptasi, dan koleksi plasma nuftah tanaman obat.

e. Pelaksanaan jejaring kerja sama dan kemitraan yang berkaitan dengan tanaman obat dan obat tradisional.

f. Pelaksanaan urusan tata usaha dan rumah tangga.

Kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh B2P2TOOT meliputi : a. Melaksanakan saintifikasi jamu, berbasis pelayanan.

b. Mengembangkan bahan baku jamu yang terstandarisasi. c. Mengembangkan jejaring kerja sama.

d. Mengembangkan teknologi tepat guna.

e. Mengembangkan karir dan mutu sumber daya manusia.

(16)

f. Mengembangkan sarana dan prasarana.

g. Melaksanakan diseminasi, sosialisasi, dan pemanfaatan hasil penelitian dan pengembangan tanaman obat dan obat tradisional.

h. Menyusun draft regulasi dan kebijakan teknis penelitian dan pengembangan tanaman obat dan obat tradisional.

Berlandaskan tugas dan fungsi-fungsi B2P2TOOT tersebut, mulai dari penanaman tanaman obat, panen, pengumpulan bahan jamu, proses racikan, hingga pemanfaatan jamu, dilaksanakan sepenuhnya di B2P2TOOT ini. Di kawasan pengembangan tanaman obat ini, masyarakat dapat lebih mengenal dan memahami jenis-jenis dan fungsi masing-masing tanaman, yang ditata cukup rapi dan mudah dipelajari.

Pada tanggal 30 April 2012 dibentuk Klinik Saintifikasi Jamu Hortus Medicus sebagai rintisan Rumah Riset Jamu (Griya Paniti Pirsa Jamu) yang

merupakan tempat uji klinik, dilengkapi rawat inap. Jumlah pasien yang datang berobat ke klinik semakin meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 2007 hanya sekitar 10 pasien per hari, tetapi pada tahun 2012 jumlah pasien mencapai 100 orang per hari. Biaya pemeriksaan relatif sangat murah, yaitu biaya pendaftaran Rp 3.000,- dan biaya penggantian jamu Rp 30.000,-. Di Klinik Saintifikasi Jamu, pasien menjadi subjek penelitian, sehingga pada saat pendaftaran pasien menandatangani inform consent terlebih dahulu. Metode pemeriksaan sama dengan pada pemeriksaan kesehatan umumnya yaitu anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang, dan diagnosis. Pada pemeriksaan penunjang telah disediakan alat-alat kedokteran seperti USG, CT-SCAN, dan EKG. Pemberian resep obat diberikan maksimal 1 bulan, guna mencegah adanya hama akibat kelembaban pada galenik yang diberikan. Resep obat dapat diambil di Griya Jamu. Pelayanan kepada pasien bisa menggunakan subsidi dan pasien boleh memilih obat dalam bentuk jamu atau kapsul.

Di samping klinik, B2P2TOOT juga menyelenggarakan pelatihan-pelatihan, yaitu :

a. Pelatihan Dokter Saintifikasi Jamu

Pelatihan ini telah berlangsung untuk 6 angkatan, yang diikuti 165 dokter. Kompetensi sumber daya manusia-nya dibentuk melalui pelatihan terstruktur selama 50 jam.

b. Pelatihan Apoteker Saintifikasi Jamu

Pelatihan ini telah baru berlangsung untuk 1 angkatan, yang diikuti 15 apoteker.

(17)

c. Pelatihan Perawat Saintifikasi Jamu

Pelatihan ini belum berlangsung, baru pada tahap inisiasi. Struktur organisasi B2P2TOOT dapat dijelaskan sebagai berikut : a. Bagian Tata Usaha

Melaksanakan urusan bagian perlengkapan umum serta pengelolaan keuangan.

b. Bidang Program Kerja Sama dan Informasi

Melaksanakan penyusunan, perencanaan, koordinasi, pelaksanaan, dan evaluasi program dan anggaran, kerjasama, kemitraan, penyediaan, dan desiminasi informasi serta evaluasi dan pelaporan.

c. Bidang Pelayanan Penelitian

Melaksanakan koordinasi pelaksanaan dan evaluasi pelayanan penelitian. d. Instalasi dan Laboratorium

Berada di bawah kendali Bidang Pelayanan Penelitian. Merupakan fasilitas penunjang penelitian dan pengembangan tanaman obat dan obat tradisional. e. Kelompok Jabatan Fungsional Tertentu

Melaksanakan kegiatan sesuai jabatan fungsional peneliti, berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

f. Fasilitas dan Sarana

Fasilitas dan sarana yang dimiliki B2P2TOOT meliputi : 1) Gedung laboratorium terpadu 3 lantai.

2) Gedung kantor untuk manajemen penelitian dan pengembangan, 3 lantai. 3) Klinik Saintifikasi Jamu Hortus Medicus, yang ditetapkan sebagai Klinik

Tipe A.

4) Gedung pertemuan, berdaya tampung 400 orang.

5) Perpustakaan, dengan koleksi 1.238 koleksi pustaka berupa jurnal ilmiah, majalah ilmiah, dan buku-buku terbitan dalam dan luar negeri.

6) Laboratorium pascapanen.

7) Rumah kaca 2 unit, untuk adaptasi dan pelestarian.

8) Kebun Penelitian, Etalase Tanaman Obat, dan Kebun Produksi, yang terdiri dari :

a) Kebun Karangpandan seluas 1,8 Ha pada ketinggian 600 mdpl. b) Kebun Kalisoro seluas 2 Ha pada ketinggian 1.200 mdpl.

9) Sinema Fitomedika, untuk memvisualisasikan penyebaran informasi tentang tanaman obat dan obat tradisional.

10) Museum Mini Obat Tradisional Herbarium Kering dan Basah.

(18)

B2P2TOOT membuat obat menurut Sistem CPOB (Cara Pembuatan Obat yang Baik), dimana pembuatan obat dimaksudkan untuk menjamin obat memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan dan sesuai dengan tujuan penggunaannya. CPOB mencakup seluruh aspek produksi dan pengendalian mutu. Sedangkan sistem kedua yang dilaksanakan adalah CPOTB (Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik), yang bertujuan menjamin produk memenuhi persyaratan mutu, bergantung kepada bahan awal, proses produksi, dan pengawasan mutu, bangunan, peralatan, dan personalia yang menangani. Penerapan CPOTB merupakan persyaratan kelayakan dasar untuk menerapkan sistem jaminan mutu yang diakui internasional.

B2P2TOOT membutuhkan bahan baku berupa Simplisia, bahan alamiah yang dipergunakan sebagai obat tradisional yang belum mengalami pengolahan apa pun, kecuali jika dinyatakan lain merupakan bahan yang dikeringkan. Tahap-tahap proses produksi simplisia meliputi :

a. Pengumpulan bahan baku. b. Sortasi basah.

c. Pencucian. d. Perajangan. e. Pengeringan. f. Sortasi kering.

g. Pengepakan dan penyimpanan.

Tanaman obat hasil panen yang telah diolah sesuai dengan Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik (CPOTB) akan menghasilkan simplisia bermutu baik dan terstandar. B2P2TOOT hanya menerima tanaman obat sebagai bahan baku, yang ditanam hanya oleh para petani binaan di lokasi sekitar wilayah B2P2TOOT. Tanaman obat tersebut akan segera diolah setelah bahan ini tiba. Simplisia-simplisia tersebut disimpan dan didistribusikan ke Klinik Hortus Medicus dan di klinik tersebut simplisia akan diracik dan diserahkan kepada pasien. Beberapa contoh jamu hasil olahan Hortus Medicus meliputi jamu hipertensi, jamu hiperglikemi, jamu hiperkolesterolemi, dan jamu hiperurisemi.

(19)

BAB III PEMBAHASAN

Kelompok Wanita Tani (KWT) Ngudi Mulyo, Desa Tanjungsari, Kecamatan Banyudono, Kabupaten Boyolali merupakan contoh yang kompeten bagi produsen produk olahan perikanan darat, yang sudah didukung sepenuhnya oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan RI. Sebenarnya, keberhasilan kelompok tani ini tidak karena kemampuan sendiri semata-mata, tetapi karena adanya pencanangan Program Minapolitan Percontohan pada tahun 2011 oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan RI (KKP RI) di 41 kawasan, yang meliputi 24 lokasi kawasan Minapolitan berbasis perikanan budidaya, 9 lokasi perikanan tangkap, dan 8 lokasi pengembangan garam nasional, dimana Kabupaten Boyolali menjadi salah satu kabupaten percontohan, yang totalnya adalah 300 kabupaten. KKP RI juga mengucurkan dana bantuan sebesar Rp 5 milyar atau 50 paket, dari Rp 27 milyar yang dialokasikan di Provinsi Jawa Tengah. KKP RI melakukan desiminasi teknologi di 300 kabupaten tersebut, melalui 3 langkah yaitu peningkatan ketrampilan masyarakat pelaku utama perikanan, pengukuhan penyuluh perikanan swadaya yang menjadi mitra Penyuluh PNS dan Instansi Penyuluhan dari kabupaten/kota, serta peningkatan pendidikan melalui pemberian bantuan beasiswa kepada anak-anak pelaku utama usaha perikanan. Kabupaten Boyolali pun pernah mendapatkan bantuan sebaran benih lele sebanyak 5.000 benih, yang disebar di Desa Tanjungsari, Kecamatan Banyudono, Kabupaten Boyolali. Hal ini tentu saja mendorong kemajuan perikanan budidaya di Desa Tanjungsari, sehingga kemajuan ini cepat menyebar di seluruh Kabupaten Boyolali.

Namun, di samping adanya bantuan yang telah disebutkan di atas, KWT Ngudi Mulyo juga secara mandiri melaksanakan budidaya dan proses pengolahan lele secara sistematis dan modern. Diversifikasi produk olahan dari bahan baku lele telah dilaksanakan secara optimal dan berkelanjutan, yang didukung oleh izin layak konsumsi yang diberikan BPOM HK, BPOM MUI, dan DEPKES P-IRT. Izin-izin yang diberikan ini menunjukkan bahwa produk olahan KWT Ngudi Mulyo benar-benar bermutu baik dan mampu bersaing dengan produk olahan sejenis dari luar kabupaten. Meskipun sudah cukup dikenal oleh masyarakat luas, sistem pemasaran KWT Ngudi Mulyo ini masih terbatas jangkauannya pada kota-kota besar di dekat Kabupaten Boyolali karena memiliki pesaing-pesaing unggul dari kabupaten-kabupaten lainnya di luar Provinsi Jawa Tengah. Meskipun demikian, terobosan-terobosan telah dilakukan cukup optimal oleh KWT Ngudi Mulyo, sehingga produk olahannya mampu bertahan di suatu wilayah pemasaran. Terobosan ini didukung

(20)

penuh oleh Pemerintah Kabupaten Boyolali dan dibuktikan dengan didirikannya Restoran Kuliner bernama Sri Bening. Restoran ini merupakan suatu sarana pemasaran yang efektif, sehingga konsumen lebih mengenal dan memahami keunggulan jenis-jenis produk olahan lele yang ada. Meskipun produk olahan lele dari KWT Ngudi Mulyo dapat dikatakan higienis dan bermutu baik, namun dalam pembenihan dan proses pengolahan lele, petani dan anggota KWT Ngudi Mulyo belum menerapkan Standard Operational and Procedures (SOP) secara utuh, sehingga kualitas bahan baku lele yang dihasilkan masih sangat variatif. Selain itu, petani pembenih juga belum tergabung di dalam kelompok pembenihan atau masuk ke dalam kelompok yang ada, sehingga belum ada satu kesatuan persepsi dan bagi pengalaman di antara anggota dan belum memperoleh akses yang lebih besar pada kemitraan dengan pemerintah.

Obat tradisional merupakan kebutuhan vital kesehatan manusia, yang memiliki efek samping rendah, sehingga dikembangkan secara berkelanjutan oleh B2P2TOOT. Melalui suatu sistem yang disebut Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik (CPOTB), simplisia yang hendak dihasilkan untuk obat tradisional akan bermutu baik/tinggi, sehingga berdampak sangat positif pada pengobatan maupun pemulihan kesehatan pasien. Stabilitas mutu simplisia di B2P2TOOT ini didukung oleh kinerja laboratorium-labotorium canggih, yang meliputi :

1. Laboratorium Sistematika Tumbuhan

Untuk mengidentifikasi, determinasi, dan mengembangkan database. Kegiatan rutin berupa pembuatan spesimen berbentuk preparat mikroskopis, herbarium basah, herbarium kering, dan determinasi tanaman.

2. Laboratorium Hama dan Penyakit Tanaman

Untuk mengidentifikasi jumlah dan intensitas serangan hama dan penyakit tanaman dan penelitian tentang cara pengendalian hama dan penyakit tanaman. 3. Laboratorium Galenika

Untuk mengolah simplisia menjadi bentuk sediaan, yang siap digunakan, melalui pembuatan ekstrak dan minyak atsiri.

4. Laboratorium Fitokimia

Untuk mengidentifikasi kandungan kimia tanaman yang meliputi penapisan fitokimia, pembuatan profil Kromatografi Lapis Tipis (KLT), isolasi zat aktif, dan penetapan kadar senyawa aktif.

5. Laboratorium Formulasi

Untuk mengembangkan poroduk dan bentuk sediaan, di antaranya sabun sehat, minuman instan, minyak gosok, aromaterapi, lulur, dan masker.

(21)

6. Laboratorium Toksikologi dan Farmakologi

Untuk mendukung penelitian praklinik, melalui pengkajian khasiat, manfaat, dan tingkat keamanan (safety) dari formula jamu.

7. Laboratorium Bioteknologi

Untuk mengidentifikasi dan menganalisis kultur jaringan tanaman dan biologi molekuler.

Di samping laboratorium yang canggih, B2P2TOOT juga dilengkapi Etalase Tanaman Obat dan Kebun Koleksi, yang menyimpan sejumlah besar tanaman obat vital, di antaranya ialah :

1.Andrographis paniculata (Burm.f) Ness (Acanthaceae)

Nama lokal : sambiloto. Berkhasiat untuk menyembuhkan demam, sakit kulit, dan masuk angin.

2.Canangium adoratum Heil

Nama lokal : kenanga. Daunnya berkhasiat untuk kosmetik dan aromaterapi. 3.Crocus sativus L

Nama lokal : kuma-kuma. Berkhasiat untuk peluruh haid (emenagogue). 4.Chrisantemum indicum L

Nama lokal : krisan. Bunganya berkhasiat untuk menyembuhkan bengkak pada mata.

5.Cuphea hyssopifolia H.B.K.

Nama lokal : taiwan beauty. Untuk menyembuhkan rematik. 6.Althenantera sp.

Nama lokal : bayeman. Berkhasiat untuk menyembuhkan nyeri dan diare. 7.Hibiscus radiatus Cav.

Nama lokal : mrambos merah. Daunnya berkhasiat untuk meluruhkan air seni (diuretik).

8.Agave atteunata saim-dyck

Nama lokal : ciklok. Untuk mendinginkan perut.

Sedangkan di Museum Jamu Hortus Medicus terdapat berbagai jenis tanaman obat, baik yang sudah langka maupun tidak, di antaranya ialah :

1.Bengkoang

Untuk memutihkan kulit wajah. 2.Jebuk Sari

Untuk menghilangkan bekas jerawat. 3.Pilis

Untuk wanita yang baru melahirkan.

(22)

4.Dupa Kayu

Untuk wewangian. 5.Kayu Legi

Untuk obat batuk dan tukak lambung. 6.Kayu Manis

Untuk insektisida, antibakteri, antijamur, dan antioksidan. 7.Terong Mandras

Untuk hipertensi dan penyegar. 8.Mahoni

Untuk antidiabetes, antibakteri, dan antijamur. 9.Tomat

Untuk menyembuhkan demam, antijerawat, antisembelit, dan antiwasir. 10. Althenantera sp.

Nama lokal : bayeman. Berkhasiat untuk menyembuhkan nyeri dan diare.

Kegiatan di B2P2TOOT yang meliputi penanaman tanaman herbal, proses pemanenan, pembuata ekstrak, penelitian tentang kandungan dan khasiat tanaman herbal, hingga pada pengobatan di Klinik Hortus Medicus, berperan sangat besar dalam perkembangan pengobatan alami herbal yang dirintis di Indonesia sejak masa silam. Dengan adanya kebun-kebun produksi di beberapa lokasi yaitu :

1.Kebun Karangpandang

Luas 1,80 Ha pada ketinggian 600 m dpl. 2.Kebun Kalisoro

Luas 2,00 Ha pada ketinggian 1.200 m dpl. 3.Kebun Tlogodlingo

Luas 12,00 Ha pada ketinggian 1.800 m dpl. Kebun Tlogodlingo adalah kebun untuk tanaman subtropis dan aromatik. Salah satunya adalah Matricaria chamomilla (kelembak), yang bunganya dipergunakan untuk obat fertilitas, sedangkan akarnya untuk obat sembelit.

Ketersediaan bahan baku obat tradisional dapat dikatakan cukup/memadai. B2P2TOOT sudah mengembangkan berbagai jenis obat tradisional bermutu tinggi, yaitu jamu diabetes melitus, hipertensi, asam urat, kolesterol, wasir, pelancar asi, sendi, dan jamu untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Kepala Balitbangkes Dr. dr. Trihono, M.Sc. pada Dialog Nasional Kemandirian Bahan Baku Jamu didampingi Ibu Indah Yuning Prapti, Kepala B2P2TOOT, pada tanggal 9 Desember 2011 menyatakan bahwa kelima ramuan jamu utama dari B2P2TOOT telah mendapatkan izin dari Kementerian Kesehatan RI. Beliau menambahkan bahwa sejumlah dokter di Indonesia telah menggunakan obat-obatan tradisional untuk pengobatan modern-nya, bahkan

(23)

jamu telah dikampanyekan secara nasional agar seluruh kalangan masyarakat benar-benar memahami manfaat dari berbagai jenis jamu/ramuan tradisional yang sudah maupun sedang dikembangkan. Jika jamu telah menjadi bagian dari sistem pengobatan di Indonesia, maka dapat menghemat anggaran bidang kesehatan, terutama dalam hal anggaran penyediaan obat penyakit. Indonesia menjadi harapan dan garda depan dalam persaingan dunia kesehatan, yang berhadapan dengan kekuatan Cina. Posisi garda depan Indonesia ini menyebabkan perlu adanya kajian lebih lanjut tentang jenis-jenis tanaman yang kandungannya, agar dunia jamu Indonesia semakin berkembang dan maju.

(24)

BAB IV P E N U T U P

Kunjung Lapang KTNA Kota Semarang Tahun 2015 telah membuka wawasan agribisnis di subsektor perikanan budidaya dan subsektor tanaman obat, sehingga KTNA Kota Semarang termotivasi untuk lebih memajukan usaha tani dan perikanan yang saat ini telah dikelola. Melalui upaya-upaya peningkata kemitraan dan kerja sama dengan pihak-pihak luar yang terkait di subsektor tanaman obat dan subsektor perikanan budidaya dan olahannya, diharapkan anggota-anggota KTNA Kota Semarang semakin mampu mempelajari, menguasai, dan memahami pengetahuan dan ilmu-ilmu terapan (aplikasi) yang bermanfaat bagi kemajuan pertanian dan perikanan di Kota Semarang, sehingga nantinya Kota Semarang memiliki subsektor tanaman obat dan subsektor perikanan budidaya dan olahannya yang handal, maju, dan kompeten di kancah persaingan Pasar Bebas.

(25)
(26)

1. Kunjung Lapang KTNA Kota Semarang ke Desa Tanjungsari, Kecamatan Banyudono, Kabupaten Boyolali

Foto 1. Rombongan KTNA Kota Semarang didampingi Dinas Pertanian Kota Semarang tiba di lokasi KWT Ngudi Mulyo – Banyudono.

Foto 2. Proses pencucian dan pemisahan ikan lele.

(27)

Foto 3. Proses pembersihan organ dalam ikan lele.

Foto 4. Penjemuran krupuk lele.

Foto 5. Ruang proses produksi.

Foto 6. Produk-produk olahan KWT Ngudi Mulyo.

(28)

Foto 7. Produk-produk olahan KWT Ngudi Mulyo.

Foto 8. Serah terima cinderamata dari Dinas Pertanian Kota Semarang kepada Dinas Pertanian Kabupaten Boyolali. .

Foto 9. Rombongan KTNA Kota Semarang bersama Dinas Pertanian Kota Semarang sebelum berangkat dari lokasi KWT Ngudi Mulyo.

(29)

2. Kunjung Lapang KTNA Kota Semarang ke Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional (B2P2TOOT), Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar

Foto 10. Rombongan tiba di Lokasi B2P2TOOT – Tawangmangu.

Foto 11. Rombongan berada di Ruang Sinema Fitomedika, lokasi untuk memvisualisasikan penyebaran informasi tentang tanaman obat dan obat tradisional.

(30)

Foto 12. Session pendahuluan, sebelum pengarahan/penyampaian presentasi dari perwakilan dari B2P2TOOT.

Foto 13. Perwakilan dari B2P2TOOT memberikan presentasi tentang seluk-beluk B2P2TOOT, tanaman obat, dan obat tradisional di ruang Sinema Fitomedika.

(31)

Foto 14. Penyerahan cinderamata kepada perwakilan dari B2P2TOOT.

Foto 15. Rombongan berada di lokasi kebun pembibitan tanaman obat.

(32)

Foto 16. Museum Jamu Hortus Medicus.

Foto 17. Rombongan berada di lokasi kebun pembibitan tanaman obat.

(33)

Foto 18. Kebun Tlogodlingo.

Foto 19. Kebun Kalisoro.

(34)

Bagan 1. Struktur Organisasi Poklahsar Karya Wanita Tanjungsari (KWT) “Ngudi Mulyo”, Desa Tanjungsari, Kecamatan Banyudono, Kabupaten Boyolali.

K E T U A Eka Supriyatin

SEKRETARIS Yani Utami

BENDAHARA

Fenti Nissanti

PRODUKSI Maimunah

PENGEMASAN Sri Mulyani

PEMASARAN Daiyah

ANGGOTA

Trisnawati Poni Sulasmi Darwinem Ekawati Endar Dewi Darmi Giyarni

(35)

Bagan 2. Struktur Organisasi B2P2TOOT, Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar.

Lampiran 1. Bagan Struktur Organisasi B2P2TOOT.

Bagan 1. Struktur Organisasi Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional (B2P2TOOT).

(36)

Bagan 3. Proses produksi Stick Ikan Lele, Crispy Sirip Lele, Crispy Kulit Lele, dan Tepung Duri Lele di KWT Ngudi Mulyo.

Pencucian

Minyak Stick Ikan Lele

Referensi

Dokumen terkait