KARYA ILMIAH
DAMPAK PERKEBUNAAN TANAMAN KARET dalam MENINGKATKAN EKONOMI MASYARAKAT RIMBO BUJANG
RITA NINGSIH SIGIARTO RRC1A013005
UNIVERSITAS NEGERI JAMBI
FAKULTAS EKONOMI REGULER MANDIRI ILMU EKONOMI STUDY PEMBANGUNAN
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah Subhanahu Wata’ala (SWT),karena berkat dan rahmat-Nya lah penulis dapat menyelesaikan tugas ini sebagai sebuah makalah Dampak Perkebunan Tanaman Karet dalam Meningkatkan Ekonomi Masyarakat Rimbo Bujang. Makalah ini disusun berdasarkan sumber-sumber yang berkaitan dengan Dampak Perkebunan Tanaman Karet dalam Meningkatkan Ekonomi Masyarakat Rimbo Bujang.
Penulis mengucapkan terimakasih kepada Bapak PROF. H. YUNDI FITRAH selaku pembimbing atau dosen bahasa indonesia yang mengajar di kelas C prodi IESP.
Penulis menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini masih banyak kekurangan dan jauh dari sempurna. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini. Agar penulis lebih mencapai kemajuan dari sebelumya dalam hal yang sama. Penulis berharap makalah yang disampaikan ini dapat bermanfaat bagi pembaca.
Jambi, 22 Mei 2014
Daftar isi Kata
pengantar...i
Daftar isi ...ii
BAB 1 PENDAHULUAN...1
1.1 Latar belakang ...1
1.2 Rumusan Masalah ...2
1.3 Tujuan Masalah...2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA...3
2.1 Pengertian Ekonomi Pembangunan...3
2.2 Bagaimana Cara Pembudayaan Tanaman Karet...4
BAB III. PEMBAHASAN...5
3.1 Apa Dampak Perkebunan Tanaman Karet dalam Meningkatkan Ekonomi Masyarakat Rimbo Bujang...5
BAB IV. PENUTUP...8
3.1 Kesimpulan...8
3.2 Saran...8
1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah.
Sejarah karet pertama kali ditemukan sebagai tanaman yang tumbuh secara liar sampai dijadikan tanaman perkebunan secara besar-besaran, karet memilki sejarah yang cukup panjang. Apalagi setelah ditemukan beberapa cara pengolahan dan pembuaatan barang dari bahan baku karet. Para ilmuwan berminat untuk menyelidiki kandungan yang terdapat dalam bahan tersebut agar dapat digunakan untuk membuat alat yang bermanfaat bagi kehidupan manusia sehari-hari. Dengan peralatan dan pengetahuan yang masih serba terbatas, ilmuwan di zaman dahulu memisahkan karet menjadi tiga unsur yaitu susu, lilin, dan bahan ringan dan bening.
Karet adalah polimer hidrokarbon yang terkandung pada lateks beberapa jenis tumbuhan. Sumber utama produksi karet dalam perdagangan internasional adalah para atau Hevea brasiliensis (suku Euphorbiaceae). Karet industri sekarang dapat diproduksi secara sintetis dan menjadi saingan dalam industri perkaretan. Selama ini telah banyak usaha yang dilakukan pemerintah Indonesia dalam rangka meningkatkan kesejahteraan petani di pedesaan.
penyajian, pengembangan kegunaan, serta langkah-langkah promosi yang tepat. Perdagangan alam beberapa tahun terakhir mengalami penurunan. Sebenarnya banyak sekali barang atau peralatan yang dapat dibuat dengan bahan baku karet alam. Dengan bahan baku karet alam dapat dihasilkan ban mobil, peralatan kendaraan, pembungkus kawat listerik dll.
Pembahasan yang akan dipaparkan adalah mengenai salah satu perkebuanan tanaman karet dalam meningkatkan ekonomi masyarakat Rimbo Bujang. Tanaman karet merupakan sumber penghasilan masyarkat Rimbo Bujang pada umumnya. Menurut Haris Rachim, selain didukung pola pemberdayaan penduduk miskin seperti itu, pembangunan transmigrasi di Jambi berhasil selama ini juga didukung potensi sumber daya alam (SDA). Potensi SDA yang memiliki dukungan besar terhadap pembangunan transmigrasi di daerah tersebut ialah perkebunan karet. Hingga saat ini, UPT-UPT yang maju pesat di Jambi merupakan sentra perkebunan karet.
1.2 Rumusan Masalah.
Berdasarkan uraian latar belakang di atas yang menjadi rumusan masalah dalam pembahasan ini adalah. Apa Dampak Perkebunan Tanaman Karet dalam Meningkatkan Ekonomi Masyarakat Rimbo Bujang.?
1.3 Tujuan Masalah
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Ekonomi Pembangunan.
Pembangunan ekonomi adalah suatu proses kenaikan pendapatan total dan pendapatan perkapita dengan memperhitungkan adanya pertambahan penduduk dan disertai dengan perubahan fundamental dalam struktur ekonomi suatu negara dan pemerataan pendapatan bagi penduduk suatu negara. Pembangunan ekonomi tak dapat lepas dari pertumbuhan ekonomi (economic growth). Pembangunan ekonomi mendorong pertumbuhan ekonomi, dan sebaliknya, pertumbuhan ekonomi memperlancar proses pembangunan ekonomi. Yang dimaksud dengan pertumbuhan ekonomi adalah proses kenaikan kapasitas produksi suatu perekonomian yang diwujudkan dalam bentuk kenaikan pendapatan nasional. Suatu negara dikatakan mengalami pertumbuhan ekonomi apabila terjadi peningkatan GNP riil di negara tersebut. Adanya pertumbuhan ekonomi merupakan indikasi keberhasilan pembangunan ekonomi.
pertanian ke struktur ekonomi industri dalam upaya menuju pertumbuhan (dalam aspek ini pengertian pertumbuhan asosiatif dengan pembangunan) ekonomi.
2.2 Bagaimana Cara Pembudayaan Tanaman Karet.
Karet akan baik pertumbuhannya jika ditanam di daerah yang memiliki ketingian antara 0-400 m diatas permukaan laut, dengan kemiringan maksimum
450 . Jika ditanam didaerah yang memiliki ketinggian diatas 400 m dari permukaan laut, maka pertumbuhannya menjadi lambat. Dalam penanaman tanaman karet dikenal dua istilah yaitu replanting dan newplanting. Replanting merupakan penanaman ulang tanaman karet seteleh tanaman yang lama dianggap tidak ekonomis lagi. Sedangkan newplanting merupakan penanaman bukaan baru yang sebelumnya tidak ditanami karet.
III. PEMBAHASAN
3.1 Dampak Perkebunan Tanaman Karet dalam Meningkatkan Ekonomi Masyarakat Rimbo Bujang
Rimbo Bujang adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Tebo, Jambi, Indonesia. Rimbo Bujang adalah kecamatan yang yang paling maju di Wilayah
Kabupaten Tebo, dengan jumah penduduk paling tinggi, dan tingkat pendidikan yang tinggi pula. Rimbo Bujang menjadi tempat percontohan Lokasi Transmigrasi yang berhasil. Tahun 2009 Rimbo Bujang mulai menampakkan jati dirinya di dunia Nasional sebagai Nominator Lomba Posyandu Tingkat Nasional.
Rimbo bujang terdiri dari 1 kelurahan 7 desa yaitu : Desa Perintis, Kelurahan Wirotho Agung, Desa Rimbo Mulyo, Desa Purwoharjo, Desa Tegal Arum, Desa Tirta Kencana, Desa Sapta Mulia dan Desa Pematang Sapat. Kabupaten Tebo Memiliki penduduk sejumlah ± 224.944 jiwa dengan 75 % adalah petani. Rimbo bujang merupakan daerah yang lahannya banyak yang digunakan untuk budidaya tanaman karet. Selain itu juga Memiliki 1 Buah Pusat Kesehatan yaitu Rumah sakit Umum Daerah Sultan Thaha Syariffudin, dibantu oleh 12 Pusat kesehatan Masyarakat (PKM) di 12 kecamatannya.
umumnya menjadi sumber tanaman karet alam. Tanaman karet yang mampu tumbuh hingga setinggi 25 m ini, memiliki batang yang mengandung getah yang dikenal dengan istilah lateks.
Latek inilah yang merupakan bahan baku utama dan sangat penting bagi berbagai industri, termasuk industri otomotif. Harga jualnya pun terbilang mahal yaitu pada media 34 Februari 2011 Rp. 27.700,- / kg, untuk sadapan berumur sebulan. Pada saat ini atau akhir-akhir ini pada tahun 2014 harga jualnya pun terbilang murah Rp. 5000- Rp.7000,/kg. Tanaman karet merupakan tanaman yang dapat menghasilkan uang jika benar dalam memanfaatkannya yaitu dengan merawat dan terutama memberikan pupuk pada setiap tanaman karet sebulan sekali, mengapa harus satu bulan sekali ? karena jika dipupuk terus menerus suatu pohon karet akan ketergantungan pada pupuk tersebut seperti manusia jika di kasih obat maka akan ketergantungan sepertih itu juga tanaman karet. Dampak dari hal tersebut akan memepengaruhi pohon dan ketah karet tersebut.
diyakini mampu mengatasi kemiskinan di daerah tersebut karena program transmigrasi sudah termasuk "mendarah daging" bagi masyarakat tersebut.
Pada UU Nomor 54 Tahun 1999, Muara Tebo berhasil menjadi ibu kota Kabupaten Tebo, buah pemekaran dari Kabupaten Bungo Tebo. Setelah hampir 35 tahun berdiam diri, sekarang Muaro Tebo harus berbenah lagi. Kota kecil dikelilingi hutan yang dulunya sepi, mulai dilengkapi berbagai sarana prasarana. Kompleks perkantoran "Seentak Galah Serengkung Dayung" misalnya, dibangun diatas lahan 96 hektar. Kemudian rumah sakit, terminal, perumahan, dan fasilitas-fasilitas umum lainnya. prasarana. Tahun 1999 misalnya, fasilitas perdagangan (pasar) di Rimbo Bujang berjumlah 18 buah, sedang di Tebo Tengah hanya 3 buah. Jumlah penduduknya pun memang lebih banyak dibandingkan kecamatan lokasi Muara Tebo itu.
Bekas transmigran Rimbo Bujang saat pertama kali datang ke lokasi tahun 1974-1975 mendapat jatah lahan 5 hektar tiap keluarga. Semua lahannya di tanami karet. Pengelolaannya diserahkan kepada perkebunan negara (PTPN VI) bekerja sama dengan Departemen Transmigrasi dengan pola Perkebunan Inti Rakyat (PIR) Trans. Bertahun-tahun mereka mengandalkan hidupnya dengan berkebun karet. Sampai akhirnya lahan itu sudah menjadi milik mereka dan sekarang kebun karet total dikelola oleh masyarakat.
IV. PENUTUP 4.1 Kesimpulan
Dengan bukti tersebut dapat disimpulkan bahwa daerah Rimbo Bujang dalam perekonomian dikatakan sudah maju. Majunya perekonomian Rimbo Bujang sangat dipengaruhi oleh perkebunan tanaman karet. Selain menghasilkan uang bagi masyarakat tetapi tanaman karetjuga dapat di olah menjadi ban mobil, peralatan kendaraan, pembungkus kawat listerik dan masih banyak sekali barang atau peralatan yang dapat dibuat dengan bahan baku karet alam.
4.2 Saran.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim.2005.karet strategi Budidaya dan Pengolahan.Depok:Suadaya
Arsyad,Lincolin.2010.Ekonomi pembangunan.Yongyakarta:Unit penerbit dan pencetakan.STIIM YKPN Yogyakarta.