• Tidak ada hasil yang ditemukan

Definisi Tujuan dan Model Kebijakan Luar

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Definisi Tujuan dan Model Kebijakan Luar"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

KEBIJAKAN LUAR NEGERI

Makalah ini Ditujukan Untuk Memenuhi Mata Kuliah: Politik Internasional

Dosen Pengampu: Andar Nubowo, DEA

Oleh :

Auditya Rachmaniyah 111 211 3000 008

Khairi Fuady 111 111 3000 043

Labib Syarief 111 211 3000 033

Muhammad Sulthon 111 111 3000 031

Nurvika Vidyana Kesuma 111 211 3000 026

JURUSAN ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UIN SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

(2)

i

KATA PENGANTAR

Segala Puji Bagi Allah Swt yang telah menganugerahkan segala nikmat, di antaranya nikmat Islam, Iman dan sehat. Sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah “Kebijakan

Luar Negeri” dengan baik. Shalawat serta salam, dihaturkan kepada Nabi Muhammad saw,

Nabi akhir zaman, yang membawa umatnya dari zaman yang penuh kegelapan, tanpa adanya ilmu, ke zaman yang terang benderang, dengan banyaknya ilmu.

Makalah ini membahas pentingnya instrumen kebijakan luar negeri sebagai alat analisis dinamika politik internasional. Kami selaku penulis berterimakasih kepada semua pihak yang mendukung untuk penyelesaian makalah ini. Terima kasih kepada Bpk. Andar Nubowo selaku dosen yang membimbing, mengarahkan dan mengajarkan Politik Internasional yang sangat bermanfaat. Penulis memohon maaf, apabila makalah ini terdapat banyak kekurangan dan jauh dari kesempurnaan dalam penyusunan makalah ini. Penulis berharap makalah ini bisa bermanfaat, khususnya untuk kalangan akademik, baik itu mahasiswa dan dosen.

Jakarta, 5 April 2014, Penulis,

(3)

ii

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR... i

DAFTAR ISI ... ii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 1

C. Tujuan dan Manfaat ... 1

D. Tinjauan Pustaka ... 2

E. Kerangka Teori ... 2

F. Metode Penelitian Makalah ... 2

BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian Kebijakan Luar Negeri ... 3

B. Kapabilitas Negara dan Kebijakan Luar Negeri ... 4

C. Proses Perumusan Kebijakan Luar Negeri ... 8

D. Model Kebijakan Luar Negeri ... 8

a. Faktor Psikologi dalam Kebijakan Luar Negeri ... 9

b. Rational Decision Actor Making Model ... 11

1. Rational Actor Model ... 11

2. Organizational Process Models ... 13

3. Bureaucratic Political Models... 13

c. Faktor Domestik ... 14

a) James N. Rosenau ... 14

b) Alex Mintz ... 15

d. Faktor Sistem Internasional dalam Kebijakan Luar Negeri ... 16

BAB III PENUTUP A. Kesimpulan ...19

B. Saran ... 19

(4)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pasca Westphalia muncul state sebagai entitas baru yang memiliki kedaulatan dan terdiri

dari pemerintahan, rakyat, teritorial, dan diakui oleh negara lain. Waktu terus berjalan, manusia terus memperbaiki peradabannya dengan menemukan teknologi yang berdampak pada kecanggihan alat militer. Hingga terjadi perang dunia satu dan dunia kedua dengan intensitas korban yang banyak akibat canggihnya alat militer. Oleh karena itu, politik internasional mengkaji bagaimana pola interaksi dunia antar negara terjadi, baik itu berupa perang, diplomasi, dan lainnya.

Salah satu instrumen penting dalam menganalisa tindakan negara dalam sistem internasional adalah melalui kebijakan luar negerinya. Bila kita mengetahui kebijakan luar negeri mengetahui kita akan membaca arah politik internasional saat ini. Maka dari itu, makalah ini akan membahas pengertian kebijakan luar negeri dari berbagai tokoh yang ahli dalam bidangnya, tujuan dan proses dibuatnya, mengkaji tindakan tiap negara dalam sistem internasional, serta model-model kebijakan internasional

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan paparan yang dijelaskan di atas, agar pembahasan tidak melebar, rumusan masalah akan dikerucutkan kedalam beberapa pertanyaan, sebagai berikut:

1. Apa pengertian kebijakan luar negeri?

2. Apa tujuan dilakukakannya kebijakan luar negeri?

3. Bagaimana kapabilitas negara mempengerahi kebijakan luar negerinya?

4. Apa saja model kebijakan luar negeri?

C. Tujuan dan Manfaat

(5)

dosen, tentang dinamika pergerakan negara dalam politik internasional berdasarkan kacamata kebijakan luar negerinya.

D. Tinjauan Pustaka

Dalam menjelaskan tiap bagian dalam makalah, penulis mengambil dari informasi primer berupa buku, dari beberapa tokoh, di antaranya, K. J. Holsti, James N. Rosenau, Graham T. Allison, Alex Mintz, serta lainnya. Untuk memperjelas tinjauan teoritis dengan kasus, maka penulis mengambil dari beberapa media massa, sehingga penyusunan makalah ini terarah dang kongkrit.

E. Kerangka Teori

Kerangka teori yang digunakan untuk menganalisa kasus-kasus yang berfokus pada kebijakan luar negeri, sehingga perlu dijelaskan secara terperinci tentang pengertian kebijakan luar negeri, serta melihat model-model kebijakannya yang menyebabkan mengapa negara melakukan tindakan tersebut. Kerangka teori diambil dari tokoh-tokoh termuka di antaranya, K. J. Holsti, James N. Rosenau, Graham T. Allison, Alex Mintz, serta lainnya. Sehingga memudahkan penulis menganlisis setiap kejadian KLN dalam politik internasional

F. Metode Penelitian Makalah

1. Pendekatan Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, sebab pemaparan dalam penelitian ini berbentuk penggambaran secara rinci dan mendalam, serta menganalisisnya dalam bentuk kalimat. Interpretasi penelitian berdasarkan fakta dan literatur yang telah dikumpulkan.

2. Metode Pengumpulan Data

(6)

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian dan Tujuan Kebijakan Luar Negeri

Menurut Joshua Goldstein mengatakan bahwa pengertian Kebijakan Luar Negeri adalah kebijakan luar negeri adalah strategi-strategi yang diambil oleh pemerintah dalam

menentukan aksi mereka di dunia internasional.1 Sedangkan menurut K.J. Holsti, kebijakan

luar negeri adalah tindakan atau gagasan yang dirancang untuk memecahkan masalah atau

membuat perubahan dalam suatu lingkungan.2

Tiap negara memiliki perbedaan tujuan kebijakan luar negerinya. Namun, negara mengeluarkan kebijakannya untuk memenuhi dan mencapai kepentingan pribadi maupun kolektifnya. Pada umumnya kebijakan luar negeri suatu negara dilakukan agar dapat mempengaruhi terhadap negara lain, menjaga keamanan nasional, memiliki prestise, serta benefit untuk negaranya. Mereka bertindak berdasarkan sumber daya yang ada.

Menurut Rosenau tujuan dari kebijakan luar negeri sebenarnya merupakan fungsi dari proses dimana tujuan negara disusun. Tujuan tersebut dipengaruhi oleh sasaran yang dilihat

dari masa lalu dan aspirasi untuk masa yang akan datang.3 KJ. Holsti membagi tujuannya

menjadi tiga kriteria utama, sebagai berikut:

1. Nilai, yang diletakkan pada tujuan negara, sebagai faktor utama mendorong pembuat

kebijakan, hal itu dilakukan berdasarkan sumber daya yang dimiliki untuk mencapai tujuan.

2. Unsur Waktu, jangka waktu untuk mencapai tujuan.

3. Jenis tuntutan tujuan, negara tujuan akan dibebankan dari negara yang mengeluarkan

kebijakan luar negeri.4

Menurut KJ. Holsti, dua tujuan yang lebih dominan dalam negara adalah, tujuan jangka menengah dan jangka panjang. Tujuan jangka menengah adalah meningkatkan prestise negara dalam sistem itu, indikator ini dinilai berdasarkan industri, teknologi, bantuan dana

1

Joshua Goldstein, International Relations, (New York: Longman, 1999), 147.

2

K.J. Holsti, International Politics : A Framework for Analysis. (New Jersey: Prentice-Hall, 1983) 107.

3

James N. Rosenau. International Politics and Foreign Policy: A Reader in Research and Theory, (New York: The Free Press, 1969), 167.

4

(7)

dan, militer.5 Sedangkan Tujuan jangka panjang adalah rencana, impian dan pandangan mengenai organisasi politik atau ideology terakhir dalam sistem internasional, ideologi

tersebut merupakan aturan yang mengatur tindakan negara dalam sistem internasional.6 Bagi

Rosenau tujuan jangka panjang adalah untuk perdamiaan, kekuasaan dan keamanan.7

B. Kapabilitas Negara dan Kebijakan Luar Negeri

Seperti yang telah dibahas sebelumnya, kebijakan luar negeri adalah segala tindakan suatu pemerintah terhadap negara lain dalam politik internasional, dengan didasarkan pada serangkaian asumsi dan tujuan tertentu,serta dimaksudkan untuk menjamin keamanan nasional.

Kebijakan luar negeri mempunyai beberapa komponen didalamnya antara lain pandangan, sikap dunia luar dan keputusan. Namun ada komponen lain yang digunakan untuk menjalankan kebijakan luar negeri tersebut.

Komponen itu bernama tindakan. Tindakan merupakan pencerminan kapabilitas atau

power sebuah negara. Tindakan dapat dilakukan dengan adannya power.8 Dalam politik luar

negeri, kebijakan luar negeri adalah tindakan dalam bentuk komunikasi atau isyarat untuk

mengubah atau mendukung perilaku negara9. Tujuannya adalah untuk menghasilkan orientasi

dalam mempertahankan tujuan tertentu.

a. Proses Tindakan Kebijakan Luar Negeri10

Proses politik internasional mulai ketika contohnya, negara A berusaha melalui berbagai tindakan atau isyarat untuk mengubah atau mendukung perilaku (perilaku :

tindakan, kebijakan, citra) negara B dengan menggunakan kapabilitasnya (power). Proses

tindakan kebijakan luar negeri terjadi juga ketika negara A menetapkan tujuan yang mungkin dicapai apabila negara B melakukan tindakan x. Negara A membujuk negara B untuk tidak melakukan tindakan x supaya tujuan negara A dapat tercapai.

Kemampuan negara A dalam mengendalikan perilaku dengan kebijkaan luar negeri ini menggunakan power. Power untuk mengendalikan perilaku ini dapat dilihat dengan beberapa cara, antara lain :

Robert Jervis, The Logic of Images in International Relations, (New Jersey: Princeton University Press. 1970). 34.

10

(8)

1. Pengaruh.

Pengaruh pada dasarnya adalah alat untuk mencapai tujuan. Pengaruh digunakan oleh pemerintah atau negarawan untuk mencapai atau mempertahankan tujuan lain yang mencakup gengsi, wilayah, jiwa, bahan mentah, keamanan, atau persekutuan.

2. Mobilisasi Sumber Daya Tertentu

Sumber Daya disini berarti objek fisik atau mental yang tersedia sebagai alat bujukan atau untuk membujuk, member imbalan, atau menghukum negara yang menjadi tujuan politik.

3. Tindakan mempengaruhi dan menyangkut hubungan kedua negara

Tindakan yang mempengaruhi B jelas menyangkut hubungannya dengan A walaupun tidak ada komunikasi diantara kedua negara. Hal ini jika berlangsung dalam waktu yang lama dapat dikatakan sebagai proses.

4. Pengaruh dan kekuasaan.

Jika negara A dapat mempengaruhi negara B tetapi tidak sebaliknya, dapat dikatakan bahwa negara A lebih kuat daripada negara B

b. Aspek Kekuasaan dalam Kebijakan Luar Negeri

Pada intinya, kekuasaan dapat dilihat dari beberapa aspek. Kekuasaan (power) merupakan

suatu alat, didasarkan pada sumbernya, ia adalah hubungan dan suatu proses, serta dapat diukur.

Aspek kekuasaan ini terdiri dari 3 hal yaitu: 1. Tindakan

Aspek kekuasaan tercermin dalam kebijakan internasional ketika mempunyai pengaruh. Pengaruh dilihat ketika negara A berhasil membuat negara B meneruskan suatu kebijakan di negara B sesuai kepentingan negara A. Pengaruh ini bersifat multilateral, maksudnya tidak hanya negara B yang terkena pengaruh negara A melainkan negara lain juga dan mewujudkan tujuan negara A. Negara A mendapatkan reaksi yang diharapkan dari kekuasaannya.

2. Sumber daya

Sumber daya adalah media yang digunakan sebuah negara untuk memobilisasi, mendukung tindakan, dan mempengaruhi negara B. dilihat dari pertumbuhan ekonomi, pendidikan, tingkat pertumbuhan penduduk, militer. Hal ini bertujuan untuk menunjang

(9)

3. Tanggapan

Tanggapan adalah reaksi dari negara yang menerima pengaruh dari tindakan dan sumber daya. Contohnya dari tindakan sebuah negar ke negara lain dan mobilisasi dengan sumber daya, negara lain ini merespon. Responnya tergantung sekuat apa negara tadi memengaruhinya.

c. Variabel yang Mempengaruhi Pelaksanaan Pengaruh Kebijakan Luar Negeri 11

1. Relevansi sumber daya terhadap situasi diplomatik

Suatu negara yang mempunyai sumber daya, contohnya sumber daya militer atau senjata nuklir. Sumber daya ini besar, namun tiada artinya apabila sumber daya ini tidak dapat digunakan untuk memobilisasi negara lain untuk melakukan keinginan negara tersebut.

2. Ketergantungan diantara dua negara dalam suatu hubungan pengaruh

Variabel ini menentukan sukses atau gagalnya hubungan diantara kedua negara. Umunya, negara yang membutuhkan sesuatu rentan terhadap pengaruh negara lain. Inilah alasan kenapa negara yang lemah mendapatkan konsensi dari negara yang kuat. Contohnya ketergantungan Amerika dengan Arab Saudi. Walaupun amerika lebih berpengaruh, tetapi Arab mempunyai minyak dan Amerika tergantung kepadannya. Pengaruh Arab Saudi kuat terhadap Amerika.

3. Tingkat keahlian teknis suatu negara

Jumlah isu meningkat dalam kebijakan luar negeri sekarang ini sangat bersifat teknis, sepeti hukum laut, siaran satelit, isu moneter dimana isu teknis jauh lebih penting dibandingkan tipe sumber daya lainnya. Pemerintah yang memiliki data statistic yang lengkap, teknologi yang maju, sepenuhnya menguasai sifat masalah dan dapat menyelesaikannya dengan ilmu pengetahuan jauh lebih berpengaruh dibandingkan negara yang lainnya.

d. Cara Menjalankan Pengaruh dalam Kebijakan Luar Negeri12

1. Persuasi

Persuasi adalah pengaruh yang dijalankan oleh sebuah negara yang isinya mencakup protes dan penolakan yang tidak melibatkan ancaman nyata.

11

Ibid., 165.

12

(10)

2. Tawaran imbalan

Untuk meningkatkan dukungan diplomatik pada sebuah kasus, sebuah negara mungkin memberikan penawaran untuk meningkatkan pembayaran bantuan luar negeri, membantu fasilitas komunikasi dan teknologi, atau berjanji untuk menghapuskan hukuman sebelumnya.

3. Pemberian imbalan

Pemberian imbalan adalah bukti mematuhi sebuah persetujuan yang telah dibuatnya. Seperti contohnya pada kasus gencatan senjata, tidak ada negara yang ingin mendemiliterisasi terlebih dahulu kecuali ada imbalan yang benar-benar nyata.

4. Ancaman hukuman

Hampir sama seperti tawaran imbalan, ancaman hukuman digunakan untuk menjalankan pengaruh kebijakan luar negeri. Ancaman hukuman terbagi menjadi dua yaitu 1) ancaman positif. Yaitu ancaman penaikan tariff atau melakukan ancaman kekerasan. 2) ancaman pencabutan, seperti mencabut bantuan luar negeri, atau menahan keuntungan untuk negara yang sedang diancam.

5. Tindakan hubungan tanpa kekerasan

Merupakan sebuah ancaman yang dilakukan untuk mengubah sikap sebuah negara yang tidak bisa diubah dengan cara lain.

6. Kekerasan

Kekerasan adalah salah satu proses yang dilakukan dalam perundingan. Kekerasan adalah taktik yang efisien apabila kekuasaan negara ini lebih tinggi daripada negara yang dilakukan kekerasan didalamnya. Tetapi pada masa sekarang sudah banyak cara pembujuk lain yang menggantikan cara ini.

e. Pola pengaruh dalam sistem internasional 13

1. Hubungan konsensus

Hubungan antar negara yang memiliki sedikit ketidaksepakatan kebijakan luar negeri. Mereka memiliki tingkat ketangkapan, interaksi dan juga keterlibatan yang rendah atas urusan negara satu sama lain.

13

(11)

2. Hubungan manipulasi terbuka

Dalam hubungan ini terdapat ketidaksepakatan atau konflik mengenai tujuan kebijakan luar negeri yang tidak disetujui oleh salah satu negara. Dalam hubungan ini ada perseprsi bahwa sebenarnya dari kedua negara berada dalam hubungan saling ketergantungan.

3. Hubungan paksaan

Dalam hubungan paksaan ada ketidaksepakatan yang fundamental diantara kedua negara terhadap tujuan politik luar negeri.

4. Hubungan kekerasan

Dalam hubungan kekerasan terjadi ketidaksepakatan total mengenai tujuan kebijakan luar negeri dan bidang consensus terbatas pada tingkat tinggi.

C. Proses Perumusan Kebijakan Luar Negeri

Keputusan kebijakan luar negeri dipengaruhi oleh faktor internal maupun eksternal, lalu dipilah oleh pembuat keputusan berdasarkan kepentingan yang siginfikan bagi dalam negaranya. Hal ini digambarkan oleh para akdemisi tentang skema proses perumusan

kebijakan luar negeri sebagai berikut14:

D. Model Kebijakan Luar Negeri

(12)

a. Faktor Psikologi dalam Kebijakan Luar Negeri (Alex Mintz)

Faktor seperti kepribadian dan kepercayaan dari pemimpin, gaya kepemimpinan, emosi, images, cognitive consistency, dan penggunaan analogi pengaruh dan ketajaman pembuatan kebijakan luar negeri. Hal ini adalah tekanan dalam pembuat pilihan untuk sedikitnya menjauh dari ide rasional dan melihat lebih kearah teori dasar model pembentuk

keputusan. Dalam hal ini Alex Mintz menjelaskan faktor kerbagi menjadi tujuh bentuk15.

Antara lain;

1. Leader’s Personality

Kepribadian dari pemimpin dapat membuat kita mengerti kenapa beberapa pemimpin membuat beberapa keputusan, dimana pemimpin yang mengalami situasi yang sama namun membuat keputusan yang sangat berbeda. Kepribadian pemimpin membuat efek dalam pilihan strategi dan keputusan. Contoh kasus, kepribadian pemimpin yang melihat kearah perluasan wilayah dan dasar kekuasaan dalam level nasionalisme, kepercayaan diri, motivasi kekuatan, dan ketidakpercayaan. Hal ini ditunjukkan oleh karakteristik Saddam Hussein selama invasi ke Kuwait.

2. Cognitive Consistency

Gaya dalam mempengaruhi pembuatan keputusan. Pembuat keputusan menurunkan setiap keputusan terhadap kesesuaian dengan gambaran dan kepercayaan. Informasi didapat dari proses gamabaran yang ada sebelumnya dan pembuat keputusan merasa apa yang seharusnya ada terhadap kebijakannya. Hal ini hapir sama dengan membuka pikiran terhadap apapun yang tidak sesuai dengan kepercayaan sebelumnya selama membuat keputusan. Contoh kasus, The Falklands War 1982 dimana pemimpin militer Argentina tidak menyangka adanya serangan balik terhadap Inggris dalam meginvasi pulau tersebut. Argentina beranggapan invasinya dapat berlangsung cepat dalam kemenangan tapi tidak mengetahui adanya serangan balik oleh Inggris.

3. Evoked Set

Dalam hal ini informasi baru dapat dicerna dengan berbagai macam kondisi. Fokusnya adalah bagaimana perhatian aktor dapat mempengaruhi informasi baru yang di dapat. Untuk tahu merupakan hal terpenting didalam pikiran pembuat keputusan yang dapat menolong untuk memprediksi dan mengerti setiap keputusan. Contoh kasus, penembakan pesawat Libya oleh pesawat tempur Israel yang tujuannya ke Kairo, hal terpenting adalah dimana pilot pesawat

15

(13)

Libya yang mencari arah ke bandara udara. Dimana Israel salah menanggapi bahwa peaswat tersebut adalah peasamat komersial. Dalam hal ini kedua belah pihak terlalu menafsirkan informasi yang baru.

4. Emotions

Pembuatan keputusan dalam keadaan emosi buruk dapat menimbulakan keputusan yang salah sebab saat itu keputusan akan berada pada keadaan yang sangat tidak menguntungkan. Emosi yang buruk dapat membuat keputusan jauh dari sifat objektif. Namun emosi seperti simpati dan empati sangat mempengaruhi pembuatan keputusan yang baik. Contoh kasus, terbunuhnya 130 warga Israel oleh pasukan Hamas Palestine yang menimbulkan adanya rasa dendam Israel yang berujung terhadap Isreal’s Operation Defensive Shield.

5. Images

Dalam melihat setiap keputusan, kita dapat melihat bagaimana gamabaran yang dilihat oleh pemimpin untuk membuat keputusan yang baik bagi negaranya. Pada awalnya images atau gambaran lebih terfokus bagaimana pembuat keputusan untuk melihat keadaan internasional kedalam kebijakan luar negeri. Contoh kasus, pembuat keputusan Amerika Serikat terhadap lingkungan politik Uni Soviet di masa Perang Dingin.

6. Belief and Belief Systems

Proses kebijakan luar negeri dapat membentuk kepercayaan terhadap suatu hal pada negara itu. Hal ini membuat bingakai yang kuat terhadapa keadaan keputusan. Kepercayaaan juga dapat menutup adanya informasi yang baru, pengaruh dari dalam negeri, dan faktor internasional dalam membuat keputusan yang menengahi kepercayaan dari pemimpin. Contoh kasus, kepercayaan Amerika Serikat terhadap adanya senjata pemusnah masal di Irak.

7. Analogies and learning

Adanya pengaruh dari masa lalu membuat kebijakan luar negeri dapat berubah. Adanya pengalaman dari peristiwa yang pernah dialami dapat membuat suatu kebijakan luar negeri yang hampir sama dengan peristiwa yang lampau menjadi berpotensi baik terhadap negaranya. Namun adanya perhitungan situasi yang tidak sama dengan pengalaman dapt menjadi sangat berbahaya terhadap negara. Contoh kasus, pengalaman Amerika Serikat terhadap perang Vietnam mengubah pandangan Amerika terhadap masalah-masalah Asia yang harus diselesaikan oleh negara Asia sendiri.

(14)

terbaik untuk membuat kebijakan luar negeri negaranya. Graham T. Allison menyebutkan tiga model dari proses pembuatan kebijakan luar negeri, yang akan dijelaskan antara lain Rational Actor/Unitary Government, Governmental/Bureaucratic Politics Model, dan Organizational Process Model.

b. Rational Decision-Making Model

Salah satu hal yang paling sering digunakan dalam proses pembuatan kebijakan luar

negeri yaitu ‘Rational Decision-Making Model’ atau yang lebih sering dikenal dengan

Rational Choice Theory. Analisis ini digunakan dalam melihat bagaimana menjelaskan pilihan dan perilaku pemimpin di dalam krisis internasional. Namun yang paling dominan

adalah bagaimana caranya untuk mengetahui dasar dari prinsip dan asumsi Rational Actor

Model yang meliputi dasar dari Rational Choice Theory.

Rational Choice Theory muncul sebagai alat dari analisis politik sejak awal 1950-an, lebih khusus setelah berakhirnya Perang Dunia II pada 1945 dan awal dari Perang Dingin. Munculnya sangat bertepatan dengan menonjolnya pandangan Realis dalam hubungan internasional, dan Amerika Serikat terutam sekali memakai pandangan ini. Dimana pilihan paling rasional sangat popular saat itu. Salah satu dari fundamental beliefs dalam realisme klasik adalah negara bertindak secara rasional, menghitung biaya dan keuntungan dari aksi alteratif dan memilih salah satu yang paling menguntungakan kepentingannya. Inti dar i Rational Choice Theory adalah ide dari pilihan optimal yang terhubung baik dengan empat dasar asumsi yang dikenal oleh berbagai penulis antara lain, utility maximasation, bering consistency, expected value, dan individuals.

1. Rational Actor Model

Yang paling tersebar luas dan memaksa dalam proses pembentukan kebijakan luar negeri adalah Rational Actor Model. Model ini menyebar keseluruh ilmu sosial, terutama teori ekonomi. Asumsi dasar dari Rational Choice Theory adalah lingkungan internasional menentukan aksi negara sebagai aktor, semua pembentuk pilihan kebijakan luar negeri hampir sama dalam mengutamakan proses pembentukan kebijakan, setiap pilihan negara membuat proses dapat dilihat sebagai satu kesatuan aktor dalam membuat pilihan, setiap satu

kesatuan aktor membuat pilihan yang rasional.16

16

(15)

Sebagai negara atau lebih tepatnya pemerintahan akan mengasumsi hampir sama dengan individual rasional yang mempunyai nilai (atau biaya perhitungan), maksud, dan menggunakan alat untuk memerintah taktik. Aktor ini kemudian mengumpulkan pilihan, informasi, resiko berat, yang kemudian memilih dan membuat rencana dari setiap aksi sebagai salah satu cara meilhat apa yan akan terjadi dan apa saja keuntungannya jika salah satu terpilih. Maka jika Rational Actor gagal atau tidak dapat keuntungan sebesar-besarnya, hal itu merupakan kesalahan dalam pengumpulan data informasi, perhitungan salah, atau

pilihan rasional yang salah.17

National Interest

“Leader”

National Power

Model ini dikenal pula sebagai model strategik (model aksi-reaksi) yang digunakan para analis (terutama para ahli sejarah diplomasi) untuk menerapkan tiap respon sebagai suatu perhitungan rasional (rational calculation) untuk menghadapi tindakan yang dilakukan pihak lain. Kelemahan yang melekat pada model ini adalah asumsi mengenai perhitungan rasional dari para pembuat keputusan. Sering terjadi suatu keputusan yang rasional bagi seseorang belum tentu rasional pula bagi orang lain. Dalam banyak literatur mengenai studi politik luar negeri dijelaskan bahwa para pengambil keputusan akan bertindak rasional. Kesulitan muncul ketika kita mencoba mendefinsikan apa yang dimaksud dengan keputusan atau tindakan rasional, dipandang rasional oleh siapa atau rasional untuk siapa?

Secara konvensional, rasionalitas terjadi ketika seorang pembuat keputusan akan memilih alternatif terbaik dari sekian banyak alternatif yang tersedia. Untuk itu para

17

Lawrence S Falkowski, Psychological Models in International Politics, (Colorado: Westview Press: 1974) 15-46.

(16)

pengambil keputusan membutuhkan informasi-informasi yang terbaik pula. Bila hal ini tidak terpenuhi, tentunya para pengambil keputusan tidak dapat memilih alternatif yang terbaik. Contoh Kasus: Rational Decision-Making Model (Perang Irak)

Kasus mencul setelah 11 September dimana keamanan Amerika mulai terguncang. Dalam kasus ini Presiden Bush yang berinisiatif terhadap Invasi Irak yang menghasilkan tiga opsi, military force, vigilant containment, dan do nothing. Jika menggunakan militer terhadap Irak, dengan alasan kepercayaan adanya senjata pemusnah massal di Irak. Outcomes: Removal of Saddam; Destruction of WMD; Democracy in the region; Military casualties (US and allies); Civilian casualties; High monetary cost; Lengthy occupation (quagmire); Complicated relations with other countries. Laternatif yang lain adalah vigilant containment dimana strategi untuk menekan Saddam, termasuk persetujuan ekonomi dan diplomasi, yang

juga berarti penguatan oposisi dengan Irak. Outcomes: Saddam remains in power; Risk of

continued development of WMD Risk of terrorism; International cooperation; Sanctions are undermined by smuggling and non-compliance. Dan terakhir do nothing dimana Amerika

Serikat tidak akan melakukan apapun terhadap Irak, yang Outcomes-nya kepentingan dari

Amerika Serikat terhadap dirinya sendiri terlebih dahulu setelah 11 September.

2. Organizational Process Models (OPM)

Graham T Allison menjelaskan bahwa organisasi, dalam hal ini kementrian dalam pemerintah, dapat bergerak sendiri sebagai pengambil keputusan. OPM menganggap tujuan dan sasaran dibentuk secara baik, membatasi pilihan berdasarkan, menggunakan standar operasional prosedur (SOP), membuka jalan pembuatan kebijakan yang dipengaruhi oleh organisasi-organisasi kunci atau lembaga dalam negara, setiap organisasi memiliki masing-masing fungsi dan misi. serangkaian program dikembangkan demi mencapai tujuan, tergantung pada anggaran (dana keuangan), SOP meningkatkan efisiensi dan kinerja, Kepuasan yang dihasilkan lebih diutamakan daripada optimalisasi.

3. Bureaucratic Political Models (OPM)

Di samping itu, Graham T Allison juga menjelasakan model kebijakan luar negeri

lainnya, yaitu Bureaucratic political models (BPM), dimana unit analisisnya berdasarkan

(17)

persepsi dan prioritas antar birokrasi, berbeda birokrasi berbeda saran yang diajukan kepada pemimpin, hubungan komunikasi antar kekuasaan informal dan formal dalam negara.

Kemudian ia menjelaskan, bahwa BPM juga merupakan tindakan pemerintah: hasil dari proses tawar-menawar politik di antara pemain kunci, tawar-menawar dan kompromi hasil dalam kepuasan tidak mengoptimalkan pengambilan keputusan: pemilihan berdasarkan dukungan dari birokrasi yang sukses melobi pemimpin, ambisi pribadi menjadi pertimbangan birokrasi ketika membuat keputusan, permusuhan dan persahabatan terjadi antara birokrasi, serta pendapat pribadi tentang isu-isu yang terjadi, dapat menyimpang sesuai kebutuhan kebijakan publik yang seharusnya diambil.

Keuntungan dari model ini adalah, model menambahkan gambaran penting yang rinci tentang politik dalam negeri, membantu menjelaskan peran birokrasi dalam pemerintah, membantu menjelaskan mengapa tiap birokrasi bekerja sesuai perannya, namun terjadi pertentangan dengan kepentingan pemerintah pada umumnya, membantu menjelaskan mengapa kebijakan terkadang muncul irasional berdasarakan perspektif kesatuan pemerintah (eksekutif), tetapi kelemahannya yaitu, sulit untuk mempelajari dan menganalisis dan terlalu banyak variabel.

c. Faktor Domestik dalam Model Kebijakan Luar Negeri

a) James N. Rosenau18

Menurut James N. Rosenau yaitu. Pertama, societal sources (Economic Development, Cultural and History, Sosial structure, dan Moods of Opinion). Kedua, Governmental sources (Political accountability and governmental structure).

1. Societal Sources

a. Economy

Pemerintah mengedepankan kepentingan ekonomi dalam kebijakan luar negerinya, hal itu dipandang dari masyarakat industri memiliki kebutuhan yang berbeda dari masyarakat agrikutural, mereka perlu mengimpor berbagai jenis komoditas dan harus memiliki hubungan moneter dengan mitra dagang mereka di luar negeri, pengambil keputusan harus merumuskan kebijakan luar negeri untuk melayani keragaman kepentingan negaranya, yang akan menghasilkan pembangunan ekonomi.

18

(18)

b. Cultural and history

Pemerintah mengeluarkan kebijakannya berdasarkan norma dan tradisi mendasari hubungan antar anggota suatu masyarakat, memandang budaya dalam memberikan norma untuk menafsirkan dan menolak dalam kebijakan luar negerinya.

c. Social sctructure

Memandang seharusnya masyarakat mendapat pendidikan yang tidak terbatas karena ras, para pemimpin politik direkrut serta sumber daya manusia yang dikembangkan akan membentuk efektivitas tindakan negara.

d. Mood opinion

Melihat bahwa dalam sebuah negara otoriter , dengan presepsi negatif dari masyarakat tidak dapat mempengaruhi negara dalam kebijakan luar negeri, sebaliknya dalam negara demokrasi, presepsi masyarakat mempengaruhi kebijakan luar negeri sumber pemerintah. 2. Governmental sources

Menjelaskan bahwa pemerintah yang demokrasi kurang efisien dalam dana, namun fleksibel dalam kebijakan luar negeri sebab menerima saran dan kritik, sebaliknya pemerintah yang otoriter sangat efisien dan hanya memobiliasi massa sesuai kehendak pemerintah. Di samping itu, sistem dua partai pemerintah kemungkinan akan menghasilkan saran dan masukan kebijakan luar negeri yang berbeda dengan multi partai.

b) Alex Mintz

Model selanjutnya dijelaskan oleh Alex Mintz19, untuk menjelaskan bagaimana

kebijakan luar negeri suatu negara berdasarkan faktor domestiknya, yaitu:

1. Diversionary Tactics, adalah kebijakan luar negeri yang dilakukan apabila terjadi

perselisihan dalam sebuah negara, dan untuk mempertahankan posisi pemimpin dalam negara, dengan mengalihkan isu tersebut terhadap isu yang muncul dari ancaman luar.

2. Economic Interests and Foreign Policy Decision, adalah kebijakan ekpansi sebuah

negara yang sering dipandang untuk mengejar kepentingan ekonomi mereka. Motivasi imperialistik menjadi faktor utama untuk kebijakan luar negerinya.

Studi Kasus: Jepang melakukan politik dumping agar produk mereka diterima

dan dibeli negara lain, demi menaikkan income negaranya dan mencari pangsa pasar perusahaannya, berupa elektronik, mobil, dan lainnya.

19

(19)

3. The Role of Public Opinion, adalah opini publik yang dapat menekan, memaksa, dan mempengaruhi pemimpin dalam negara demokrasi untuk menerapkan keinginannya dalam kebijakan luar negeri. Mereka juga dimungkinkan menjadi pengaruh utama dalam penggunaan dan penghentian kekuatan militer negara dalam krisis.

Studi Kasus: Opini publik masyarakat Perancis terhadap perang Vietnam

pada 1950, bahwa publik menyukai untuk mengakhiri perang, mereka menganggap perang adalah tindakan tidak bermoral dan illegal, sehingga terjadi pergeseran opini untuk memilih jalan kooperasi.

4. Electoral Cycles, banyak bukti menggambarkan pemilu berperan penting dalam

menganalisa pembuatan kebijakan oleh pemimpin. Jangka waktu dalam pemilu digunakan untuk mempertahankan politik dan melawan rivalnya. Pemimpin yang ingin bertahan dalam politik tergantung pada konstituennya untuk menyetujui kebijakan yang mereka inginkan agar mereka senang. Sehingga, dapat dimungkinkan

kesempatan terpilih kembali pemimpin tersebut–jika baru satu periode di negara

demokrasi–sangat besar dalam pemilu selanjutnya.

d. Faktor Sistem Internasional dalam Kebijakan Luar Negeri

Setelah menjelaskan faktor domestik dalam KLN, selanjutnya Alex Mintz menjelaskan bahwa dalam level sistem dapat menentukan kebijakan suatu negara,

menurutnya terdiri dari empat kriteria20, yaitu:

1. Deterrence and Arms Races. Deterrence adalah kebijakan luar negeri dengan

pencegahan atau penangkalan ancaman militer dari negara lain dengan memperluas pangkalan militer. Hal ini dilakukan berdasarkan asumsi realis, bahwa negara terancam dari negara lain dan sistem bersifat anarki, sehingga untuk memperkuat kekuatan militer dan mencegah serangan negara lain dengan menaruh pangkalan

militer berdasarkan kalkulasi cost-benefit.

Arms Races, adalah analisa dari turunan pemikiran realis ke game theory, di mana bila suatu negara menaikkan kapabilitas militernya, hal itu akan mempengaruhi negara lainnya, sehingga akan memilih beberapa kebijakan luar

negeri alternatif akibat security dilemma. Di antaranya, menurut Chasman dan

Mingst21 alternatif tersebut yaitu, Pertama, mengalahkan rival dengan menguatkan

20

Ibid., 121-127.

21

(20)

militer yang superior. Kedua, melakukan perlombaan peningkatan militer. Ketiga, membuat kerjasama militer dengan negara yang telah menguatkan militernya. Keempat atau alternatif terakhir, yaitu tidak melakukan apa-apa, akibat kekurangan anggaran, atau disebut sebagai pihak yang kalah dalam perlombaan peningkatan kapabilitas militer.

Studi Kasus: Deterrence: Kehadiran militer Inggris di Belize yang bersifat jangka panjang adalah untuk mencegah serangan dan klaim wilayahnya dari Guatemala. Begitupun dengan AS menempatkan pangkalan militer di Darwin, Australia. Hal itu dilakukan untuk mencegah dominasi dan serangan militer China di Asia Timur maupun Asia Tenggara. Kebijakan ini telah dikalkulasi secara matang, walaupun

cost penempatan militer mahal, tetapi benefit didapatkan lebih banyak.

Strategic Surprise, menurut John Lewis Gaddis, strategic surprise adalah

kebijakan yang dikeluarkan disebabkan kekuatan militer digunakan dalam cara yang tidak diperkirakan pada waktu yang tidak diperkirakan pula untuk melawan

target yang tidak diperkirakan sebelumnya.22

Studi Kasus: Pasca serangan terorisme 9/11, Presiden Bush langsung

mengeluarkan kebijakan melawan terorisme, dan menganggap Afghanistan serta Irak sebagai sarang Taliban. Padahal sebelumnya tidak ada rencana untuk menginvasi dua negara tersebut.

2. Alliances, salah satu keputusan kebijakan luar negeri yang penting adalah

pemimpin negara membuat atau bergabung pada suatu aliansi. Yang pada umumnya berbentuk aliansi militer, adalah perjanjian yang ditandatangani negara

terjadinya penyatuan militer. Menurut Bruce Bueno de Mesquita23 menggambarkan

tiga aliansi negara, yaitu. Pertama, netral atau non-agresi, negara yang menandatangani perjanjian ini berjanji tidak akan mengambil bagian untuk menyerang satu sama lain. Kedua, Etente, salah satu negara lebih memilih aliansi yang B, daripada aliansi A, jika ingin menyerang negara X di aliansi A. Ketiga, Defence Pact, bila salah satu negara anggotanya diserang, maka anggota negara lain harus membela negara tersebut.

Studi Kasus: Pada Februari 2013, Turki meminta perlindungan terhadap NATO

akibat kemungkinan negaranya diserang oleh Syria. Sekjen NATO Anders Fogh

22

Ibid., 125.

23

(21)

Rasmussen berkomitmen untuk menjaga wilayah teritorial negara anggotanya. Sehingga NATO memutuskan untuk menempatkan rudal-rudal patriot di perbatasan

Turki-Syria.24

3. Regime Type of the Adversary, kebijakan yang yang dikeluarkan oleh negara

berdasarkan kesamaan ideologi atau perbedaan ideologi. Negara yang memiliki kesamaan ideologi, negara lain yang sama ideologinya cenderung membelanya. Sebaliknya, negara yang memiliki perbedaan ideologi, cenderung dianggap rival. Studi Kasus: Saudi Arabia dengan Iran selalu dianggap bermusuhan karena

perbedaan ideologi antara wahabi dan syiah, hal ini akan menentukan pergerakan mereka dalam membela salah satu pihak dalam konflik Syria. Iran menganggap pemerintahan As’ad adalah teman seideologinya, sedangkan pemberontak adalah lawan. Bagi Arab Saudi pemberontak harus didukung, baginya pemerintahan As’ad yang Syiah adalah lawan.

24 Endah Hapsari, “Turki

Diserang, NATO Siap Pasang Badan”,

(22)

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan dan Saran

Interaksi negara dalam politik internasional tidak lepas dari instrumen utama dari tiap negara yaitu kebijakan luar negeri. Perlu ditinjau secara mendalam untuk melihat tiap interaksi antar negara apabila salah satu negara telah mengeluarkan kebijakan luar negerinya yang mempengaruhi negara lain dan dinamika politik internasional. Dengan mengetahui KLN, kita dapat menganalisis dan memprediksi tiap pergerakan negara selanjutnya. Di samping itu, model-model kebijakan luar negeri sangat membantu secara khusus faktor apa yang melatarbelakangi negara membuat kebijakannya. Dengan demikian, KLN memiliki relevansi yang dekata sangat penting dalam membaca gejolak politik internasional.

(23)

DAFTAR PUSTAKA

A. BUKU

Falkowski, Lawrence S. Psychological Models in International Politics. Colorado.

Westview Press. 1974.

Holsti, K.J. International Politics. New Jersey. University of British Columbia Press.

1983.

Jensen, Loyd. Explaining Foreign Policy. New Jersey. Englewood Cliffs. 1982.

Jervis, Robert. The Logic of Images in International Relations. Princeton New Jersey:

Princeton University Press. 1970.

Mintz, Alex. Karl Derouen. Understanding Foreign Policy Making: Decision Making.

New York: Cambridge University Press, 2010.

Perwita, Anak Agung Banyu. Yanyan Mochamad Yani. Pengantar Ilmu Hubungan

Internasional. Bandung. Remaja Rosda Karya. 2006.

Rosenau, James N. International Politics and Foreign Policy: A Reader in Resea rch

and Theory. New York. The Free Press. 1969.

B. INTERNET

Endah Hapsari. “Turki Diserang, NATO Siap Pasang Badan”. Diakses pada 5 April

2014 dari

Referensi

Dokumen terkait

Oogenesis hanya dapat menghasilkan satu sel telur matang dalam sekali waktu, berbeda dengan spermatogenesis yang menghasilkan satu sel telur matang dalam sekali waktu, berbeda

Dengan demikian, intensi berwirausaha merupakan keinginan atau niat di dalam diri yang terdiri dari keyakinan pada perilaku, norma dan kontrol perilaku untuk melakukan

MS 004 /POKJA/BULUSPESANTREN/2017 YULIANTI P CILACAP, 07 JULI 1981 DS SETROJENAR RT 01/V

Setiap kata dalam keterangan tabel menggunakan huruf kapital, kecuali untuk kata-kata pendek seperti yang tercantum pada bagian III-B.. Keterangan angka tabel

Jika A adalah suatu matriks sembarang, maka ruang baris dan ruang kolom dari A memiliki dimensi yang sama. Dimensi umum dari ruang baris baris dan ruang kolom dari suatu matriks

Ketika kata-kata masyarakat mengalami proses evolusi menjadi kewarganegaraan, seperti yang dikatakan di atas bahwa tanggung jawab individu akan negara muncul, manusia tidak

Tabel 2. Kandungan bahan organik media fermentasi G. lucidum pada level Cr dan lama fermentasi berbeda. TKS= campuran tandan kosong sawit dan serat sawit dengan perbandingan

Hasil analisa menunjukkan bahwa pemberian pupuk kompos limbah domestik memberikan pengaruh nyata terhadap pertumbuhan vegetatif tanaman tebu (tinggi tanaman, jumlah