BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Produksi, merupakan salah satu aktivitas ekonomi yang dilakukan manusia dalam rangka memanfaatkan sumber daya yang telah Allah sediakan. Baik kegiatan tersebut dilakukan oleh masing-masing individu maupun secara berkelompok. Hal ini tidak lain menjadi salah satu refleksi dari upaya memenuhi kebutuhan hidup manusia itu sendiri. Dengan memiliki produktivitas yang tinggi maka diharapkan mampu membantu manusia untuk memenuhi kebutuhan hidup serta meningkatkan ibadah kepada Allah SWT.
Kegiatan produksi dalam perspektif Islam tidak lepas dari aturan Alquran dan Hadits. Dua sumber hukum ini yang seharusnya menjadi acuan bagi semua umat muslim dalam menjalankan kehidupan termasuk dalam kegiatan ekonomi (tidak terkecuali kegiatan produksi). Sehingga apapun bentuk kegiatan produksi yang dilakukan dan dikembangkan, tetap dengan misi mewujudkan kemaslahatan baik bagi produsen sendiri maupun pihak lain.
Prinsip halalan toyyiban adalah salah satu ketentuan yang harus kita jaga. Halal dan baik dalam kegiatan produksi sangat penting. Dengan demikian, bagaimana Islam memperhatikan kegiatan produksi yang halalan toyyiban tersebut? Untuk menjawab pertanyaan ini, penulis rangkum pembahasan yang lebih rinci melalui makalah yang telah disusun ini.
B. Ruang Lingkup Pembahasan
1. Ayat dan hadits tentang produksi dalam lingkup yang halal 2. Ayat dan hadits tentang menjaga sumber produksi
3. Ayat dan hadits tentang kegiatan produksi yang tidak menzalimi
C. Tujuan
BAB II
PEMBAHASAN
A. Ayat dan Hadits tentang Berproduksi dalam Lingkup Halal
Menurut perspektif ekonomi Islam, tidak semua barang dapat diproduksi dan dikonsumsi. Oleh sebab itu dilarang memproduksi dan memperdagangkan komoditas yang haram. Produk yang dihasilkan harus memberikan manfaat yang baik bagi konsumen, tidak membahayakan atau tidak mudharat bagi konsumen baik dari sisi kesehatan maupun moral. Mutu dan kualitas produk harus baik dan tentu harus halal.(Diana, 2008, p.49)
Berkaitan dengan hal di atas, pandangan Adiwarman Karim (2016, p. 74) mengemukakan bahwa konteks maqashid syariah dalam hal kewajiban bekerja dan memproduksi merupakan suatu kewajiban. Di antara ketentuan yang merealisasikan maqashid kewajiban bekerja adalah bahwa memberikan hak kepada pengelola usaha dalam bagi hasil untuk mendapatkan keuntungan atas usahanya. Berikutnya adalah melindungi kepemilikan seseorang selama harta tersebut dihasilkan dengan cara-cara yang halal, memberikan kewenangan dan hak kepada setia pemilik barang/jasa untuk memanfaatkannya dan menggunakannya sesuai dengan cara-cara yang diperbolehkan syariat dan melarang setiap perilaku yang merampas hak kepemilikan ini seperti pencurian, pengrusakan dan lain-lain. Sebagaimana firman Allah SWT : kamu beristirahat pada malam itu dan supaya kamu mencari sebahagian dari karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepada -Nya. (QS. Al-Qashash [28] : 73)
Sebuah hadits Nabi dari Ibnu Majah (Diana, 2008, p. 48-49) :
يبأ ْنع جْي ج نْب ْنع م ْسم نْب ْيلوْل ث ح ي ْ حْل
ْل نْب حم ث ح
ل يأ م س هْي ع ه لص ه ْوس ق ق ه ْ ع نْب ب ج ْنع ْيب ل
ه و ت
ْجأ
ْ إ ق ْ يف ْو ْست ح ْو ت ْنل سْ ن ف ب ل يف و
أ ْبأ
ح موع لح م خ ب ل ْيف و ْجأ ه ْو ت ف ْ ع
Matan:
Nabi Bersabda: wahai manusia bertaqwalah pada allah berbuatlah yang indah dalam mencari rezeki, sesungguhnya setiap orang tidak akan mati sampai dicukupi rezekinya sekalipun terlabat. Maka bertaqwalah pada allah berbuatlah yang indah dalam mencari rezeki , ambil yang halal dan jauhi yang haram.
Berdasarkan dalil di atas, dapat dipahami bahwa Allah memberi kebebasan dalam mencari karuniaNYA (rezeki) dengan tetap memperhatikan kehalalan dan menjauhi usaha mencari rezeki yang sudah diharamkan. Halal adalah sesuatu yang diperbolehkan leh syariat untuk dilakukan, digunakan, atau diusahakan, karena telah terurai tali atau ikatan yang mencegahnya atau unsur yang membahayakannya dengan disertai perhatian cara memperolehnya, bukan dengan hasil muamalah yang dilarang. (Muchtar Ali, Kemenag, Journal)
1. Barang yang Diproduksi
Harahap (p.136) sebelumnya menggolongkan praktek bisnis yang haram salah satunya adalah memproduksi serta menjual barang yang merusak jiwa, badan, dan masyarakat. Muhammad (dalam Harahap, 2011, p.137) mengemukakan bahwa beberapa dintaranya adalah produksi dan perdagangan alkohol, obat terlarang, bisnis produksi patung, memproduksi minuman keras/memabukkan.
Dan dari buah korma dan anggur, kamu buat minuman yang memabukkan dan rezeki yang baik. Sesunggguhnya pada yang demikian itu benar -benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang memikirkan (QS.
Hadits di atas menunjukkan sebuah kisah sahabat tentang konsumsi khamr yang telah diharamkan oleh Nabi Muhammad SAW. Berikutnya surah An-Nahl [16]:5 memberikan penunjuk bahwa kegiatan produksi juga bisa dilakukan dari pemanfaatan binatang ternak :
ء أف يف أم ل ۖ خ مٰعأن أۡٱ
(bulu) yang menghangatkan dan berbagai-bagai manfaat, dan sebahagiannya kamu makan. (QS. An-Nahl [16] : 5)Tafsir: Allah menjadikan binatang an’am (unta, lembu, kerbau, dan kambing) untuk kamu. Dari bulunya kamu dapat membuat pakaian yang bisa memanaskan tubuhmu dan dagingnya dapat kamu makan dan banyak lagi faedahnya yang lain. Ayat ini menganjurkan pembangunan ekonomi yaitu membuat pakaian dari bulu binatang atau dari kapas, untuk keperluan menutupi tubuh. Sebab itulah kaum muslimin harus mengusahakan itu dengan mendirikan pabrik-pabrik tenun dan pabrik benang, karena ini merupakan sebuah keperluan kita. (Yunus, 2008, p. 378)
Namun secara umum Surah An-Nahl : 80 juga berbicara tentang adanya kegiatan menghasilkan/produksi dari ketersediaan sumber daya yang telah Allah berikan :
Dan Allah menjadikan bagimu rumah-rumahmu sebagai tempat tinggal dan Dia menjadikan bagi kamu rumah-rumah (kemah-kemah) dari kulit binatang ternak yang kamu merasa ringan (membawa)nya di waktu kamu berjalan dan waktu kamu bermukim dan (dijadikan-Nya pula) dari bulu domba, bulu unta dan bulu kambing, alat-alat rumah tangga dan perhiasan (yang kamu pakai) sampai waktu (tertentu). (QS. An-Nahl [16] :80)
yang dikaruniai oleh Allah kamu dapat membuat rumah untuk tempat kediaman dan membuat pondok-pondok kecil dari kulit-kulit binatang yang mudah kamu angkat kian kemari dalam perjalanan mu. (Yunus, p. 391)
Dzulkarnain berkata: " Apa yang telah dikuasakan oleh Tuhanku kepadaku terhadapnya adalah lebih baik, maka tolonglah aku dengan kekuatan (manusia dan alat-alat), agar aku membuatkan dinding antara kamu dan mereka 96. berilah aku potongan-potongan besi" . Hingga apabila besi itu telah sama rata dengan kedua (puncak) gunung itu, berkatalah Dzulkarnain: " Tiuplah (api itu)" . Hingga apabila besi itu sudah menjadi (merah seperti) api, diapun berkata: " Berilah aku t embaga (yang mendidih) agar aku kutuangkan ke atas besi panas itu (QS. Al-Kahf:[18]: 95-96)
Muhammad Ghazali (2004, p. 278) menceritakan bahwa Dzukarnain merintis pembuatan benteng-benteng militer yang dilebur didalamnya besi tembaga dan batu batu besar. Ia membuat bangunan yang tinggi dengan memperkuat dasarnya. Hal ini merupakan sebuah keterampilan yang menunjukkan juga aktivitas produksi.
Dari keterangan di atas, dapat dipahami bahwa kegiatan menghasilkan atau memproduksi juga bisa dengan menggunakan sumber daya alam yang akhirnya memberikan hasil berupa barang dan manfaat yang berguna bagi manusia. Al-Quran surah Saba ayat 13 memberikan penjelasan yang lebih gedung-gedung yang tinggi dan patung-patung dan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk yang tetap (berada di atas tungku). Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih (QS. An-Naba [34] :13)
Dalam sebuah tafsir ayat di atas memiliki makna yaitu kisah Nabi Sulaiman yang menemukan sumber mata air ( tambang) tembaga dan dari sana banyak sekali keluar tembaga dan dipergunakan untuk membuat perkakas sebagaiman nabi Daud banyak mempergunakan besi. ((Yunus, p. 630). Maka sudah tidak asing lagi pada saat ini banyak area pertambangan yang merupakan salah satu sektor usaha produksi oleh sebagian orang bahkan perusahaan besar. Diantaranya tambang emas, nikel, tembaga, batu bara. Semua petunjuknya berasal dari al-Quran.
Tidak berhenti sampai disana, al-Quran surah Huud : 37 juga menerangkan bahwa kegiatan produksi yang diperbolehkan lainnya adalah kegiatan menciptakan produk perkapalan :
zalim itu; sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan (QS. Huud:11:37)
Ayat ini turun karena sebuah kisah nabi Nuh yang diperintahkan Allah untuk membuat perahu, tetapi kaumnya mmperolok-olokkan dengan menyebut nabi Nuh tukang kayu, pandai membuat perahu yang berlayar di kapal yang penuh muatan (QS. asy-Syu’ara : 26: 119)
Surah al-Maidah : 96 tentang produksi makanan dari buruan laut
Dihalalkan bagimu binatang buruan laut dan makanan (yang berasal) dari laut sebagai makanan yang lezat bagimu, dan bagi orang-orang yang dalam perjalanan; dan diharamkan atasmu (menangkap) binatang buruan darat, selama kamu dalam ihram. Dan bertakwalah kepada Allah Yang kepada-Nya-lah kamu akan dikumpulkan (QS. Al-Maidah : 5:96)
jala. Yang dimaksud laut adalah bukan saja laut besar tapi termasuk diperbolehkan dalam Islam. Adapun hadits berikut menceritakan kisah para sahabat bersama Rasulullah yang berkaitan dengan produksi:
Karena itu, Abu Ubaidah membagi-bagikannya kepada kami sebuah demi
sebuah. Abu Az Zubair berkata, Lantas saya berkata, Apa yang dapat
kalian perbuat dengan sebuah kurma itu? Jabir menjawab, Kami menghisap-hisapnya seperti bayi. Kemudian kami meminum air. Hal itu sudah cukup bagi kami untuk sehari sampai malam. P ernah juga kami gugurkan dedaunan dengan tongkat, kemudian kami siram dengan air lalu kami memakannya. Setelah kami sampai di pantai lautan, kami dihadapkan dengan suatu pemandangan yang tampaknya seperti gundukan air, ketika kami hampiri ternyata itu adalah hewan laut yang disebut 'anbar (sejenis ikan yang panjang dan besar kepalanya). Jabir berkata, Lalu Abu Ubaidah berkata, Itu adalah bangkai. kemudian dia melanjutkan, Namun tidak mengapa, kita adalah utusan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang mengembang tugas fi sabilillah dan kalian dalam keadaan terpaksa,
karena itu kalian boleh memakannya. Jabir berkata, Kami menetap di
tempat itu selama sebulan, dan jumlah kami semuanya ada tiga ratus orang, dan kami menjadi gemuk semuanya (karena makan daging itu).
Jabir melanjutkan, Sungguh kami telah mengetahui, saat itu kami mengambil minyaknya dari rongga matanya dan menampungnya dengan tempayan besar. Kemudian kami potong-potong dagingnya seperti memotong seekor lembu. Kemudian Abu Ubaidah memanggil tiga belas prajurit untuk masuk ke rongga mata ikan, lalu mereka mengambil kerangkanya dan menegakkannya, kemudian unta kami yang paling besar disuruh berjalan di bawah kerangka ikan tersebut. Kami lalu ambil daging ikan itu sebagai perbekalan kami dan untuk kami masak. Setelah kami tiba di Madinah, kami menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan
memberitahukan hal itu kepada beliau, maka belia u bersabda: Itu adalah
rizki yang diberikan Allah kepada kalian, apakah kalian membawa sedikit dagingnya untuk kami makan? Jabir berkata, Lantas kami kirimkan daging tersebut kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam lalu beliau memakannya. (HR. Bukhari)
lainnya. Menciptakan alat transportasi seperti kapal juga merupakan contoh produksi yang disebutkan dalam al-Quran.
2. Proses Produksi
Kegiatan produksi barang dan jasa juga harus memperhatikan cara dan proses yang dilalui sehingga tetap menjaga nilai-nilai kehalalan serta tidak merusak nilai maqashid syariah. Bahkan dalam menyembelih binatang pun Allah beri ketentuan yang benar sebagaimana terdapat dalam surah Al-Hajj [22] :30 dan 34 :
Demikianlah (perintah Allah). dan Barangsiapa mengagungkan apa -apa yang terhormat di sisi Allah[ 989] Maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Tuhannya. dan telah Dihalalkan bagi kamu semua binatang ternak,
terkecuali yang diterangkan kepadamu keharamannya, Maka jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan dusta. (QS. Al-Hajj [22] :30)
Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang
telah direzekikan Allah kepada mereka, maka Tuhanmu ialah Tuhan Ya ng Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada -Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah) (QS. Al-Hajj [22] 34)
bagimu memakan hewan-hewan tersebut kecuali yang telah diharamkan kepadamu, sebab itulah peliharalah batas-batas yang telah diatur Allah SWT. Sesekali janganlah engkau mengharamkan apa-apa yang telah Allah halalkan bagimu atau menghalalkan apa-apa yang telah Allah haramkan bagimu. (Yunus, p.486-487)
Dalam mengkonsumsi/menggunakan daging hewan hendaklah disembelih dengan menyebut nama Allah SWT. Apalagi dalam suatu kegiatan produksi yang akan memanfaatkan binatang, hal penyembelihan tetap harus diperhatikan.
Saat ini untuk menjamin kehalalan suatu produk dari produsen, telah ada lembaga pengkajian pangan dan obat-obatan dibawah naungan Majelis Ulama Indonesia yang juga melahirkan sertifikasi halal bagi setiap produsen yang telah memenuhi kriteria dan uji kehalalan produksi sesuai standar yang ditentukan.
3. Jenis Aktivitas Produksi yang Diharamkan
Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah[ 394] , daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya[ 395] , dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah[ 396] , (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. pada hari ini[ 397] orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada -Ku. pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu Jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa[ 398] karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, Sesungguhnya Allah Maha P engampun lagi Maha P enyayang.
Ayat di atas menjelaskan tentang apa-apa yang Allah haramkan untuk dimakan (a) Bangkai, yaitu hewan yang mati tanpa disembelih, (b) Darah yang mengalir, (c) Daging babi (d) Binatang yang disembelih atas nama selain Allah (e) Binatang atau burung yang mati karena tercekik (f) Yang mati karena terpukul batu dan kayu (g) Yang mati karena terjatuh (h) Yang mati karena tertanduk. Selanjutnya ayat tersebut juga menjelaskan bahwa penyembelihan binatang harusnya dengan menyebut nama Allah dan mempergunakan alat yang tajam. (Yunus, p. 145)
Berikut adalah hadits tentang penggunaan alat penyembelihan yang artinya :
beringas, jika kalian mampu, maka hendaklah kalian melakukannya seperti ini. (HR. Bukhari)
4. Etika dalam Kegiatan Produksi
Harahap (p.108) mengemukakan bahwa etika produksi yang harus dilakukan oleh manajemen perusahaan adalah :
a) Memberikan jasa atau memproduksi barang yang dibolehkan dalam syariat Islam
b) Menetapkan harga sesuai dengan ekspektasi laba yang normal dan tidak merugikan masyarakat
c) Tidak menetapkan harga sebelum pihak terkait mengetahui situasi atau informasi pasar
B. Ayat dan Hadits tentang Menjaga Sumber Produksi
Firman Allah dalam surah al-Hijr : 20 tentang Sumber Penghidupan
Dan Kami telah menjadikan untukmu di bumi keperluan-keperluan hidup, dan (Kami menciptakan pula) makhluk-makhluk yang kamu sekali-kali buka n pemberi rezeki kepadanya (QS. Al-Hijr:15:20)
Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, setelah (diciptakan) dengan baik. berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik (QS. Al-A’raf [7] :56)
Hadits tentang menjaga sumber produksi diantaranya :
Matan Hadits :
Tidak akan menjadi miskin orang yang hidup sederhana
Berbagai faktor produksi yang tersedia meliputi sumber daya alam, sumber daya manusia, modal serta didukung oleh adanya manajemen organisasi. Sumber daya alam diciptakan Allah untuk dikelola oleh umat manusia untuk kepentingan dan kebutuhan manusia. Manusia sebagai khalifah di bumi diharapkan dapat memakmurkan bumi dan tidak menjadi perusak atau pengeksploitasi alam secara tidak bertanggung jawab. Dengan kemampuan akal-rasionalnya manusia diperintahkan Allah agar mengelola alam untuk kesinambungan alam itu sendiri. (Idri, 2015, p.81)
Ketika berbicara tentang manusia, maka hal itu akan berkaitan dengan etika manusia dalam menjalankan aktivitas produksi atau disebut produsen. Menurut Panuju (Harahap, 2011, p.107) etika terkait sumber daya manusia dalam Islam antara lain :
a) Memilih pegawai/karyawan harus selektif dilihat dari keahlian dan kedalaman ilmunya
b) Dilarang mengeksploitasi seseorang atau binatang dalam bekerja c) Memberikan hak konsumen berupa keamanan dan kesehatan
d) Memberikan informasi yang benar dan lengkap tentang produk termasuk dalam hal spesifikasi, cara pemakaian, bahaya yang mungkin ditimbulkan, dosis yang benar, expire date dan sebagainya.
e) Memberikan hak untuk memilih secara bebas tanpa dipaksa atau disudutkan
f) Memberikan hak kepada konsumen untuk mengembalikan barang yang dibeli jika tidak puas
g) Memenuhi semua kewajiban kepada negara, karyawan dan sosial sesuai dengan aturan
C. Ayat dan Hadits tentang Tidak Menzalimi
Kegiatan produksi yang dilakukan hendaklah jauh dari tindakan zalim. Baik itu berkaitan dengan hubungan produsen dan konsumen, maupun manajemen perusahaan dengan para karyawan (pihak internal) yang terlibat dalam suatu aktivitas produksi. Bahkan diharapkan tidak menzalimi masyarakat sekitar. Beberapa bentuk kezaliman (Izzan dan Tanjung, p. 312-313) adalah : kaum yang lain[ 1054] " ; Maka Sesungguhnya mereka telah berbuat suatu kezaliman dan Dusta yang besar. (QS. Furqan [25] : 4)
memperhatikan bagaimana akibat (yang diderita) oleh orang-orang sebelum mereka? orang-orang itu lebih kuat dari mereka (sendiri) dan telah mengolah bumi (tanah) serta memakmurkannya lebih banyak dari apa yang telah mereka makmurkan. Dan telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata. Maka Allah sekali-kali tidak berlaku zalim kepada mereka, akan tetapi merekalah yang berlaku zalim kepada diri sendiri
Dan janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya dan janganlah kamu merajalela di muka bumi dengan membuat kerusakan
Harahap (2011, p. 107) mengemukakan bahwa etika perusahaan terhadap hubungan dengan karyawan diantaranya berupaya memberikan kemudahan bukan mempersulit orang lain, memberikan hak hak pekerja termasuk memberikan reward berdasarkan kinerja, upaya, kreasi dan keunggulannya. Tidak hanya itu, produsen /manajemen perusahaan
menerapkan esensi pesan “membayar upah sebelum keringat kering”.
mengabarkannya bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, dia tidak
menzhaliminya dan tidak membiarkannya untuk disakiti. Siapa yang membantu kebutuhan saudaranya maka Allah akan membantu kebutuhannya. Siapa yang menghilangkan satu kesusahan seorang muslim, maka Allah menghilangkan satu kesusahan baginya dari kesusahan-kesusahan hari qiyamat. Dan siapa yang menutupi (aib) seorang muslim maka Allah akan menutup aibnya pada hari qiyamat. (HR. Bukhari)
سنأ نْب ْ ب يبأ نْب َ ْي ع ن ْخأ مْي ه ث ح ْيش يبأ نْب ْ ع ث ح
ْع َ يض كل م نْب سنأ ع س ليو ل ْي ح
َ وس ق و ي ه
مو ْظم ْ أ ل خأ ْ ْن م س هْي ع َ ص
29.4/2263. Telah menceritakan kepada kami 'Utsman bin Abi Syaibah telah menceritakan kepada kami Husyaim telah mengabarkan kepada kami 'Ubaidullah bin Abi Bakar bin Anas dan Humaid Ath-Thowil dia mendengar Anas bin Malik radliallahu 'anhu berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 'Tolonglah saudaramu yang berbuat zhalim (aniaya) dan yang dizhalimi.(HR. Bukhari)
ْل وبأ ث ح
َ ْ ع نْب حْ ي ث ح ق ْه ل ْنع بْيعش ن ْخأ ي
هْ ع َ يض ْي نْب يعس أ ْخأ لْ س نْب ْ ع نْب ن ْح ل ْ ع أ
هْي ع َ ص َ وس تْع س ق
ْيش ْ ْۡ ْنم م ْنم و ي م س
نيض أ عْ س ْنم هق و
29.13/2272. Telah menceritakan kepada kami Abu Al Yaman telah mengabarkan kepada kami Syu'aib dari Az Zuhriy berkata, telah menceritakan kepadaku Tholhah bin 'Abdullah bahwa 'Abdurrahman bin 'Amru bin Sahal mengabarkan kepadanya bahwa Sa'id bin Zaid radliallahu 'anhu berkata, aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: Siapa yang pernah berbuat aniaya terhadap sebidang tanah (di muka bumi ini) maka na nti dia akan dibebani (dikalungkan pada
lehernya) tanah dari tujuh bumi.(HR. Bukhari)
Pembahasan di atas merupakan jabaran dari prinsip-prinsip produksi dalam Islam diantaranya :
a. Memproduksi barang dan jasa yang halal pada setiap tahapan produksi b. Mencegah kerusakan di muka bumi, termasuk membatasi polusi,
c. Produksi dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan individu dan masyarakat serta mencapai kemakmuran
d. Produksi dalam islam tidak bias dilepaskan dari tujuan kemandirian umat
e. Produksi dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia baik kualitas mental-spritual ataupun fisik
f. Teknik produksi diserahkan kepada keinginan manusia, kapasitas dan kemampuan manusia dalam berinovasi dan bereksperimen
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Aktivitas produksi dalam ekonomi Islam mencakup usaha/pekerjaan termasuk didalamnya memproduksi. Produksi yang bermakna menghasilkan sesuatu harus mengikuti aturan syariat Islam yaitu halal dan baik. Dalam Alquran dan hadist terdapat banyak dalil yang menunjukkan mana produksi yang diperbolehkan dan mana diantara aktivitas produksi yang dilarang.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Quran dan terjemahan
Kadar. M. Yusuf, Tafsir Ayat Ahkam Tafsir Tematik Ayat-Ayat Hukum. Jakarta, Amzah: 2011
Sofyan S. Harahap, Etika Bisnis dalam P erspektif Islam. Jakarta. Salemba Empat: 2011
Adiwarman Karim dan Oni Sahroni, Maqhasid Bisnis dan Keuangan Sintesis Fikih dan Ekonomi (Jakarta; Raja Grafindo) 2016
Ilfi Nur Diana, Hadits-Hadits Ekonomi. Malang. UIN-Malang Press. 2008
Ahmad Izzan dan Syahril Tanjung, Referensi Ekonomi Syariah; Ayat-Ayat al-Quran Berdimensi Ekonomi.Bandung. Remaja Rosdakarya. 2006
Kitab hadits muslim dan bukhari (Software Kitab Hadist)
Muhammad Ghazali, Tafsir Tematik dalam Quran . Jakarta, Gaya Media. 2004 Mahmud Yunus, Tafsir Quran Karim 2008. Jakarta. Fatih Mahmud
Idri. Hadis Ekonomi Ekonomi dalam P erspektif Hadis Nabi Jakarta. Prenada Media Group