• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEANGGOTAAN UMUM DAN EFEKTIFITAS CORPORA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "KEANGGOTAAN UMUM DAN EFEKTIFITAS CORPORA"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

KEANGGOTAAN UMUM DAN EFEKTIFITAS CORPORATE GOVERNANCE: BUKTI DARI AUDIT DAN KOMITE KOMPENSASI

Pendahuluan

Literatur ini telah intensif mengeksplorasi biaya dan manfaat dari direktur umum di sebuah perusahaan (misalnya, Ferris, Jagannathan, & Pritchard, 2003; Loderer & Peyer, 2002). Namun, terdapat beberapa bukti relatif mengenai efektivitas keanggotaan umum pada beberapa komite dalam sebuah perusahaan. Menurut kode etik dan prinsip-prinsip tata kelola perusahaan, direktur independen tidak seharusnya menduduki jabatan sebagai principal board committees secara bersamaan (Higgs, 2003). Mendelegasikan fungsi board yang berbeda kepada komite yang berbeda merupakan pemisahan tugas dan fungsi dan sangat dianjurkan sebagai mekanisme yang cocok untuk meningkatkan tata kelola perusahaan (Kesner, 1988;Leptospira & Bender, 2004). Namun, dari 1500 perusahaan S&P, lebih dari setengahnya memiliki direktur yang bertugas di beberapa komite antara tahun 2004 dan 2008.

Penelitian ini mengevaluasi apakah keanggotaan umum merupakan suatu skema pengawasan yang efektif. Dengan meneliti faktor-faktor ekonomi dan efektivitas terkait dengan direksi umum di komite kompensasi dan komite audit (selanjutnya disebut "keanggotaan umum"). Penelitian fokus pada komite audit yang bertugas mengawasi proses pelaporan keuangan, dan komite kompensasi yang bertugas sebagai pengaturan dan pemantauan gaji eksekutif, karena kedua komite tersebut harus seluruhnya terdiri dari direktur independen bagi perusahaan-perusahaan yang terdaftar di bursa saham AS (NYSE, NASDAQ). Selain itu, keputusan struktur kompensasi berhubungan langsung dengan risiko yang akan ditanggung oleh komite audit. Koordinasi antara komite audit dan komite kompensasi sangat penting (Hermanson, Tompkins, Veliyath&Ye, 2012; Moody Investors Service, 2006). Meskipun banyak studi meneliti karakteristik khusus dari komite audit dan komite kompensasi secara terpisah, tetapi sangat sedikit studi menyelidiki interaksi antara komite .

(2)

keanggotaan umum memiliki insentif untuk mengurangi tanggung jawab monitoring sebagai komite audit dengan merancang kompensasi berbasis insentif rendah ( Laux & Laux, 2009).

Di sisi lain, keanggotaan umum dapat bermanfaat karena memungkinkan director memperoleh pengetahuan yang berbeda dari komite lain (Chandar, Chang, & Zheng, 2008; Zheng & Cullinan, 2010), yang dapat memfasilitasi koordinasi antara komite kompensasi dan komite audit (Hermanson et al., 2012; Moody Investors Service, 2006). Sebagai kompensasi berbasis insentif dapat meningkatkan insentif eksekutif untuk mengelola pendapatan, sementara koordinasi antara komite audit dan komite kompensasi dapat berkontribusi untuk meningkatkan efektivitas perusahaan.

Pertanyaan empiris penelitian ini, apakah keanggotaan umum dapat mewakili tata kelola perusahaan yang efektif. Untuk mengurai dua kemungkinan, penelitian ini menguji hubungan antara keputusan keanggotaan umum perusahaan dengan permintaan perusahaan untuk koordinasi antara kedua komite dan kekuatan indikator tata kelola perusahaan. Jika keanggotaan umum adalah skema yang efektif, diberharap terdapat hubungan positif antara permintaan koordinasi dengan indikator tata kelola yang baik. Dengan menggunakan perusahaan di Standard & Poor (S&P) indeks 1.500 pada tahun fiskal 2004-2008, bukan untuk menemukan bukti bahwa keputusan keanggotaan umum dimaksudkan untuk mengatasi konflik antara komite audit dan komite kompensasi. Sebaliknya,ditemukan bahwa perusahaan dengan tata kelola yang lemah, kemungkinan memiliki keanggotaan umum.

Kami juga menemukan bahwa keanggotaan umum digunakan untuk mengkompensasi keterbatasan sumber daya yang melekat dalam perusahaan. Lebih tepatnya, kemungkinan keanggotaan umum berhubungan positif dengan kendala keuangan perusahaan yang diukur dengan ketidakpastian pendapatan dan risiko distress. Hal ini juga berhubungan positif dengan ukuran komite, dan berhubungan negatif dengan kesibukan direktur independen. Sedangkan hasil mencerminkan bahwa terdapat kesulitan merekrut direktur independen yang berkualitas untuk perusahaan dengan kondisi keuangan yang lemah karena mengancam reputasi direksi (Yermack, 2004).

(3)

keanggotaan umum tidak mendukung tata kelola yang efektif, konsisten dengan argumen teoritis sebelumnya yang mendukung adanya pemisahan tugas dewan komite.

Jurnal ini memberikan beberapa kontribusi, Pertama, studi ini memberikan kontribusi kepada literatur yang terbatas mengenai keanggotaan umum dengan menyelidiki faktor-faktor dan efektivitas terkait dengan keputusan keanggotaan umum. Kedua, penelitian ini adalah penelitian pertama yang menguji secara empiris teori Laux dan Laux (2009) dan memberikan bukti empiris bahwa keanggotaan umum menyebabkan sensitivitas pay-performance lebih rendah serta kualitas laba yang lebih rendah. Ketiga, berkontribusi untuk literatur tentang komite audit, komite kompensasi, dan struktur dewan dengan menunjukkan bahwa keanggotaan umum bukan merupakan praktek tata kelola yang efektif.

Tinjauan Pustaka dan Hipotesis

Pada bagian ini meninjau literatur yang berkaitan dengan karakteristik dan sistem komite, menjelaskan dua kemungkinan terkait dengan efektivitas keanggotaan umum, dan pembentukan hipotesis.

Literature Review

Karakteristik Board. Literatur sebelumnya telah meneliti bagaimana karakteristik dewan komite yang berhubungan dengan fungsi dewan komite dan kinerja perusahaan. Salah satu aliran penelitian (Jensen, 1993; Lipton & Lorsch, 1992; Yermack, 1996) berpendapat bahwa ukuran dewan komite yang lebih kecil akan lebih efektif dan mengarah pada kinerja perusahaan yang lebih baik daripada ukuran dewan komite yang lebih besar. Pengambilan keputusan akan lebih efisien karena koordinasi dewan komite kecil hanya membutuhkan sedikit usaha. Namun, menurut hasil penelitian lainnya, dewan komite yang lebih kecil tidak memiliki basis pengetahuan yang cukup untuk memenuhi peran penasehat board (Coles et al.,2005) dan memiliki kemampuan yang lebih rendah untuk mendistribusikan tugas pemantauan direksi (Anderson, Mansi&Reeb, 2004). Dewan komite yang kecil merugikan karena mengorbankan spesialisasi tugas komite (Klein, 2002a). Dari beberapa bukti menunjukkan bahwa biaya dan manfaat dari sebuah ukuran dewan komite tergantung pada fungsi sistem komite. Tanpa mengetahui karakteristik komite dan tugas untuk masing-masing direktur, sulit untuk mengetahui efek dari ukuran dewan komite.

(4)

secara keseluruhan untuk membahas isu-isu kunci dan vote pada berbagai hal, tapi kebanyakan pengambilan keputusan berlangsung dalam kelompok-kelompok kecil atau komite (Bacon & Brown, 1973;Lorsch&MacIver, 1989). Dewan komite telah menjadi bagian integral dari mekanisme corporate governance (Vance, 1983; Waldo, 1985).

Penelitian sebelumnya telah meneliti karakteristik yang terkait dengan pembentukan komite dan keanggotaan komite. Sementara penelitian ini menekankan pada manfaat dari memiliki komite yang efektif dan anggota komite berkualitas tinggi, perhatian yang besar diletakkan pada karakteristik dua komite, yaitu: komite audit dan komite kompensasi. Efektivitas komite audit berhubungan positif dengan persentase direktur independen, persentase anggota komite audit yang ahli keuangan, dan frekuensi pertemuan komite audit (Bedard, Chtourou&Courteau,2004; Xie, Davidson&DaDalt,2003). Perusahaan-perusahaan yang memiliki komite audit lebih efektif, mengurangi tindakan manajemen laba dan kualitas pelaporan keuangan akan lebih tinggi (Abbott, Parker, & Peters, 2004; Agrawal & Chadha, 2005; Carcello & Neal, 2003; Karamanou & Vafeas, 2005; Klein, 2002b). Sementara itu, perusahaan yang mempunyai anggota yang lebih independen dalam komite kompensasi, komite kompensasi yang lebih besar, dan skema kepemilikan saham direktur dengan desain kompensasi yang lebih tinggi yang akan meningkatkan sensitivitas pay-performance dari CEO kompensasi (misalnya, Conyon & Peck, 1998; Mishra & Nielsen, 2000; Ozerturk, 2005, Sun & Cahan, 2009).

Penelitian sebelumnya mendokumentasikan serangkaian karakteristik yang terkait dengan efektivitas komite audit dan komite kompensasi. Sangat sedikit studi mengeksplorasi interaksi antara komite dan bagaimana efek fungsi keanggotaan umum kedua komite.

Keanggotaan umum

Keanggotaan umum sebagai skema yang efektif. Keanggotaan umum dapat bermanfaat bagi pemegang saham karena dua alasan. Pertama, direksi dengan keanggotaan umum dapat menerapkan pengetahuan yang dipelajari dari komite audit (komite kompensasi) untuk peran pengawasan mereka dalam komite kompensasi (komite audit). Dengan demikian Efek spillover pengetahuan dapat membantu meningkatkan pemantauan proses pelaporan keuangan (Chandar et al.,2008) dan membantu merancang skema kompensasi yang akan mengurangi insentif manajer untuk misreporting (Zheng & Cullinan, 2010).

(5)

untuk menyelaraskan tujuan yang berbeda. Hermanson et al. (2012) menemukan bahwa koordinasi dengan komite audit membantu komite kompensasi memahami risiko salah saji akuntansi yang potensial diciptakan oleh insentif kompensasi. Komite Kompensasi perlu memahami apa yang dianggap komite audit sebagai risiko utama pelaporan keuangan, dan komite audit juga harus memiliki pemahaman yang menyeluruh tentang insentif eksekutif sehingga mereka menyadari motivasi manajer dalam pelaporan (Moody Investors Service, 2006). Dengan demikian, direksi dengan keanggotaan umum dapat menyelaraskan perbedaan tujuan dari komite audit dan komite kompensasi dan melakukan pengawasan yang konsisten dengan keputusan dewan keseluruhan ( Haunschild & Beckman, 1998; Mizruchi, 1996).

Keanggotaan umum dapat menjadi skema tata kelola yang tidak efektif. Higgs (2003) mengatakan bahwa seorang direktur tidak boleh diberikan terlalu banyak pengaruh dan harus dihindari untuk melayani di beberapa komite dalam satu waktu. Keanggotaan umum bisa mehabiskan waktu dan usaha direksi yang dikhususkan untuk masing-masing komite. Jika direksi tidak punya banyak waktu untuk melakukan tugas masing-masing komite, efektivitas pengawasan akan berkurang (Ferris et al., 2003; Jiraporn, Singh, & Lee, 2009). Studi empiris cenderung menunjukkan bahwa perusahaan dengan dewan direksi yang sibuk memiliki tata kelola perusahaan yang lebih lemah dan kinerja operasi yang lebih rendah (Core, Holthausen & Larcker, 1999; fich & Shivdasani, 2006).

Selain itu, biaya potensial dari keanggotaan umum adalah bahwa individu yang melayani di dua komite mungkin tidak mau menanggung beban kerja tambahan. Laux dan Laux (2009) berpendapat bahwa ketika anggota komite kompensasi juga menjabat sebagai komite audit, dia akan khawatir tentang peningkatan tugas pengawasan yang dihasilkan dari model kompensasi yang akan mengurangi penggunaan kompensasi insentif. Argumen ini menunjukkan bahwa direksi dengan keanggotaan umum melalaikan tanggung jawab mereka dalam pemantauan komite audit (komite kompensasi) dengan mengorbankan tujuan dari komite kompensasi (komite audit).

Singkatnya, apakah keanggotaan umum dapat menjadi skema pengawasan yang efektif atau masih membingungkan. Untuk mengurai dua kemungkinan, kita menguji apakah keanggotaan umum dikaitkan dengan permintaan untuk menyelaraskan tujuan antara komite audit dan komite kompensasi dan indikator tata kelola perusahaan.

Pengembangan Hipotesis: Penentu Keanggotaan Umum

(6)

audit dan komite kompensasi. Penelitian ini menggunakan dua proxy untuk permintaan koordinasi antara komite.

Pertama, diperkirakan bahwa perusahaan-perusahaan yang menyajikan kembali pendapatan di masa lalu memiliki konflik tujuan antara komite kompensasi dan komite audit. Penyajian kembali laporan keuangan sering melibatkan kelalaian akuntansi atau salah saji dalam laporan keuangan periode sebelumnya. Jadi perusahaan melakukan penyajian kembali cenderung memiliki permintaan yang tinggi untuk menyelaraskan tujuan yang saling bertentangan antara komite audit dan komite kompensasi. Dinyatakan dalam hipotesis berikut:

Hipotesis 1: Jika keanggotaan umum antara komite audit dan komite kompensasi adalah skema pengawasan yang efektif, keanggotaan umum berhubungan positif dengan penyajian kembali kejadian masa lalu.

Kedua, kumpulan penelitian telah mendokumentasikan bahwa kebebasan dasar kompensasi memberikan manajer lebih banyak insentif, kemudian secara positif terkait dengan manajemen laba (Bergstresser & Philippon, 2006; Luka bakar & Kedia, 2006; Cheng & Warfield, 2005; Jiang et al. 2010). Jika keanggotaan umum dapat memfasilitasi koordinasi antara komite kompensasi dan komite audit, diharap bahwa perusahaan yang persentase kebebasan dasar kompensasi yang lebih tinggi akan memilih keanggotaan umum. Dinyatakan dalam hipotesis berikut:

Hipotesis 2: Jika keanggotaan umum antara audit dan komite kompensasi adalah skema pengawasan yang efektif, keanggotaan umum berhubungan positif dengan proporsi kebebasan dasar kompensasi.

Tata Kelola Perusahaan. Perusahaan dengan tata kelola perusahaan yang baik cenderung untuk memilih keanggotaan umum jika mereka percaya keanggotaan umum memberikan kontrol yang efektif. Di sisi lain, jika keanggotaan umum bukan merupakan kontrol yang efektif, maka keanggotaan umum lebih berkaitan terhadap perusahaan dengan tata kelola yang buruk. Penelitian ini menguji tiga indikator tata kelola, yaitu: kekuatan CEO, kekuatan kreditur, dan kepemilikan institusional.

(7)

tindakan manajemen (Lipton & Lorsch, 1992). Semakin lama masa jabatan CEO, CEO lebih cenderung mendapatkan banyak kekuatan untuk mendominasi dewan direksi (Hermalin & Weisbach, 1998). Jadi, dengan menggunakan dualitas CEO dan kepemilikan CEO sebagai proxy untuk kekuatan CEO, diharapkan jika keanggotaan umum berkontribusi efektif (tidak efektif) dalam pengawasan, CEO bertenaga tinggi kurang (lebih) cenderung untuk menciptakan keanggotaan umum, yang nantinya akan mengarah ke hubungan negatif (positif) antara keanggotaan umum dan kekuasaan CEO. Dinyatakan dalam hipotesis berikut:

Hipotesis 3a: Jika keanggotaan umum antara komite audit dan komite kompensasi adalah skema pengawasan yang efektif, keanggotaan umum berhubungan negatif dengan kekuatan CEO.

Hipotesis 3b: Jika keanggotaan umum antara komite audit dan komite kompensasi adalah skema monitoring yang tidak efektif, keanggotaan umum berhubungan positif dengan kekuatan CEO.

Kedua, penelitian sebelumnya menyatakan bahwa kreditur dapat memantau integritas laporan keuangan perusahaan dengan mensyaratkan adanya skema pengawasan yang efektif (Klein, 2002a). McConaughy dan Mishra (1996) menemukan bahwa perusahaan meningkatkan sensitivitas pay-performance kompensasi CEO bila kekuatan kreditur tinggi. Pendapat tersebut didukung oleh Khan dan Watts (2009) bahwa kreditur berperan penting dalam pengawasan. Jika kreditur percaya keanggotaan umum meningkatkan efektivitas dewan, kemungkinan keanggotaan umum akan meningkat karena pengawasan kreditur meningkat. Dengan menggunakan leverage sebagai proxy pengaruh kreditur, diharapkan kekuatan kreditur dapat mempengaruhi keputusan untuk mempekerjakan keanggotaan umum, yang mengarah ke hipotesis berikut:

Hipotesis 4a: Jika keanggotaan umum antara komite audit dan komite kompensasi adalah skema pengawasan yang efektif, keanggotaan umum berhubungan positif dengan kekuatan kreditur perusahaan.

Hipotesis 4b: Jika keanggotaan umum antara komite audit dan komite kompensasi adalah skema pengawasan yang tidak efektif, keanggotaan umum berhubungan negatif dengan kekuatan kreditur perusahaan.

(8)

dianggap efektif bagi perusahaan jika perusahaan memiliki investor institutional yang lebih tinggi. Oleh karena itu, dapat dikembangkan hipotesis sebagai berikut:

Hipotesis 5a: Jika keanggotaan umum antara komite audit dan komite kompensasi adalah skema pengawasan yang efektif, keanggotaan umum berhubungan positif dengan kepemilikan institusional suatu perusahaan.

Hipotesis 5b: Jika keanggotaan umum antara komite audit dan komite kompensasi adalah skema pengawasan yang tidak efektif, keanggotaan umum berhubungan negatif dengan kepemilikan institusional suatu perusahaan.

Desain penelitian a. Model empiris

Dalam penelitian ini digunakan model Probit:

dimana:

COMMON = bernilai 1 jika terdapat direktur biasa yang juga menduduki komite audit dan komite kompensasi; bernilai 0 jika tidak

RES = bernilai 1 jika perusahaan menyajikan kembali labanya dalam 5 tahun terakhir; bernilai 0 jika tidak

OPTION = Proporsi kompensasi berbasis opsi saham dibandingkan dengan total kompensasi untuk CEO

DUAL = bernilai 1 jika CEO juga menduduki dewan direktur; bernilai 0 jika tidak TENURE = lama waktu (dalam tahun) CEO menduduki jabatannya

LEV = total utang dibagi dengan total aktiva

INST = persentase saham biasa yang dimiliki investor lembaga

Adapun variabel kontrol yang digunakan dalam penelitian ini adalah: EAR_VOL = standar deviasi laba dalam 5 tahun terakhir

LOSS = bernilai 1 jika perusahaan mengalami kerugian

DISTRESS = bernilai 1 jika perusahaan mengalami krisis, diukur dengan nilai Z

Terkait keterbatasan komite jika direktur merangkap jabatan, maka variabel lain yang digunakan adalah ukuran komite audit (AUSIZE), ukuran komite kompensasi (COSIZE), dan persentasi dewan direktur independen (IND).

PROB

(

COMMON

it

)=

α

0

+

β

1

RES

it

+

β

2

OPTION

it

+

β

3

DUAL

it

+

β

4

TENURE

it

+

β5LEVit+β6INSTit+

i=7 13

(9)

b. Data dan sample

Sample yang digunakan dalam penelitian ini adalah 6.955 perusahaan antara tahun 2004 s.d 2008 yang disediakan antara lain oleh ExecuComp, sebelum dikurangi 325 observasi yang tidak memenuhi persyaratan.

Hasil Penelitian

a. Statistika deskriptif

Hal yang perlu digarisbawahi adalah 64,5% sample perusahaan di Amerika mempunyai direktur biasa yang merangkap jabatan sebagai komite audit dan kompensasi dan 64,4% direktur adalah independen.

b. Faktor-faktor yang memengaruhi kenggotaan biasa Hasil-hasil penelitian ini antara lain sebagai berikut:

1. Keanggotaan biasa tidak mempunyai hubungan dengan terjadinya penyajian kembali laba dan proporsi kompensasi berbasis opsi

2. CEO yang berpengaruh terhadap dewan direktur biasanya merangkap jabatan sebagai komite audit atau kompensasi dan merupakan manifestasi mekanisme tata pamong yang tidak efektif.

3. Perusahaan yang mempunyai tata pamong yang buruk (kekuatan CEO besar, pengawasan kreditor lemah, dan kepemilikan institusi kecil) biasanya terdapat keanggotaan biasa.

4. Kehadiran keanggotaan biasa menunjukkan tata pamong yang baik, tidak terkait permintaan koordinasi.

Analisis Tambahan

Hubungan antara Common Membership dan Kualitas Komite Kompensasi

Pada table 2 (hal.86) menyarankan bahwa common membership tidak dipekerjakan untuk mengurangi konflik dari manajemen laba berdasarkan insentif, tapi merupakan konsekuensi dari tata kelola yang buruk. Hal ini yang membuat penulis memperkirakan bahwa efektifitas dari komite kompensasi lebih rendah pada perusahaan dengan common membership. Penulis mengukur kualitas komite kompensasi menggunakan sensitivitas dari kompensasi CEO terhadap kinerja akuntansi dan saham.

(10)

Hubungan antara Common Membership dan Kualitas Komite Audit

Hipotesis awal penulis mengenai hal ini adalah common membership secara negatif mempengaruhi fungsi komite audit diukur dengan kualitas laba. Penulis menggunakan ukuran kualitas akrual yang dikembangkan oleh Dechow dan Dichev (2002) yang dimodi-fikasi oleh McNichols (2002) dan Francis, LaFond, Olsson, dan Schipper (2005) sebagai pengukur utama dari kualitas laba.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa perusahaan dengan keberadaan common mem-bership memiliki kualitas laba yang lebih rendah. Hasil ini memperkuat hipotesis bahwa common membership berkaitan dengan tata kelola yang tidak efektif dan menurunkan kualitas keputusan komite audit.

Kesimpulan

Penelitian ini merupakan salah satu penelitian awal yang mengajukan argument teoritis untuk menunjukkan bukti empiris terkait faktor yang menentukan common membership. Bukti empiris menunjukkan bahwa sumber daya perusahaan memainkan peranan penting dalam keputusan menerapkan common membership. Struktur tata kelola yang buruk ikut berkontribusi terhadap praktek common membership.

Keterbatasan dalam penelitian ini adalah:

1. Penggunaan perusahaan Amerika sebagai sampel. Amerika Serikat merupakan negara yang terkenal dengan aturan yang ketat, sehingga penelitian selanjutnya dapat mengambil sampel dari negara dengan aturan yang tidak terlalu ketat, terutama mengenai persyaratan tata kelola terkait komposisi komite.

2. Penelitian ini berfokus pada common membership antara audit dan komite kompensasi. Praktek antara common membership dan komite lainnya bisa dijadikan penelitian lebih lanjut.

3. Hasil penelitian merupakan subjek atas ketahanan dari dua pengukuran yang menangkap permintaan untuk koordinasi sebagai satu keuntungan dari common membership. Penelitian selanjutnya dapat mencoba desain riset untuk mensahkan apakah kos masih lebih besar dari manfaat diterapkannya common membership.

4. Penelitian ini menggunakan hubungan linear dalam meneliti keuntungan dari common membership, sementara bisa saja efeknya dalam bentuk non-linear.

(11)

Referensi

Dokumen terkait

Sebuah aliran di jaringan

Instrumen sandbox yang dibangun di Laboratorium Teknik Geologi FT-UGM khusus digunakan untuk memodelkan deformasi pada rezim kompresi, namun instrumen ini juga dapat dimodifikasi

Tingkatan dalam konversi agama sangatlah beragam pada diri individu, ada yang dangkal adapula yang dalam. Ada juga yang secara tiba-tiba dan ada pula yang secara bertahap. Secara

Karena nilai probabilitas lebih kecil dari nilai signifikansi maka hal ini menunjukkan secara simultan manajemen laba dapat dijelaskan oleh variabel

Pengolah Bahasa Alami Sebagai Query Fuzzy Tes Darah Seorang Pria mampu menampilkan hasil tes darah untuk pasien pria RSU Antonius, apakah asam uratnya rendah, normal, atau tinggi;

Chairuddin Siregar dan Mamanda tersayang Arbiah Mariani, yang telah mendidik ananda dengan senantiasa dan penuh kesabaran membimbing serta memberikan kasih sayangnya kepada penulis

Sesungguhnya kemenangan dan kesuksesan umat ini dengan mendapat apa yang mereka harapkan, berhasilnya mereka dari segala yang mereka takutkan, dan selamatnya mereka dari segala

Adapun skripsi ini disusun dengan tujuan untuk memenuhi salah satu syarat dalam rangka menyelesaikan program pendidikan S-1 pada program studi Akuntansi Fakultas Ekonomi dan