• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Efisiensi Serapan N Pertumbuhan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Analisis Efisiensi Serapan N Pertumbuhan"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

Analisis Eisiensi Serapan N, Pertumbuhan, dan Hasil Be

-berapa Kultivar Kedelai Unggul Baru dengan Cekaman

Kekeringan dan Pemberian Pupuk Hayati

Analysis of Physiology Eficiency of Nitrogen Absorbtion,

Growth, and Yield of Several New Soybean Cultivars

with Drought Stress and Biofertilizer Application

Totok Agung D. H. dan Ahadiyat Yugi Rahayu1)

ABSTRACT

experiment was conducted from June 2002 to December 2002. Objective of this research was to study the

difference between Physiology Eficiency of Nitrogen Absorbsion (EPN), Crop Growth Rate (CGR), Relative Growth Rate (RGR), Net Assimilation Rate (NAR) and Seed Yield Production of the new soybean cultivars planted with biofertilization and low nitrogen fertilizer input. Cultivars (V) of Slamet, Argomulyo, Pangrango, Burangrang,

Anjasmara and Mahameru were the main subject of the experimen. The result showed that water stress decreased Physiology

Eficiency of Nitrogen Absorbs ion (EPN), Crop Growth Rate (CGR), Relative Growth Rate (RGR), Net Assimilation Rate (NAR) and Seed Yield Production. There was an interaction between cultivars and water stress on plant height. Physiology Eficiency of Nitrogen Absorbs ion (EPN) and number of pod were highly correlated with seed yield production.

Keywords: Soybean Cultivars, Growth Rate, Eficiency Nitrogen, Seed Yield, and Drought Stress

PENDAHULUAN

Peranan kedelai dalam mencukupi kebutuhan

protein nabati saat ini sangat diperlukan. Sebenarnya

hasil yang diperoleh dari tahun ke tahun terus mening-kat, namun laju peningkatan hasil masih relatif lamban. Pada umumnya petani mengusahakan palawija termasuk kedelai, setelah panen padi sawah yaitu pada saat irigasi dihentikan atau saat menjelang kemarau tiba.

Air merupakan faktor yang penting bagi tana-man, karena berfungsi sebagai pelarut hara, berperan dalam translokasi hara dan fotosintesis (Fitter dan Hay, 1994). Pada peride kering tana-man sering mendapat-kan cekaman kekeringan, karena kurang suplai air di daerah perakaran dan atau laju transpirasi melebihi laju absorbsi air oleh tanaman (Dornbos et al., 1987). Apabila cekaman kekeringan berkepanjangan maka

tanaman akan mati. Cekaman kekeringan mempenga -ruhi pembukaan stomata, makin tinggi tegangan air akan

mengurangi pembukaan stomata (Sutoro dkk., 1989).

Cekaman kekeringan yang terjadi pada saat

pertumbuhan generatif, misalnya saat pengisian polong, akan menurunkan produksi (Dornbos et al., 1987). Kekeringan dapat juga menurunkan bobot biji, sebab

bobot biji sangat dipengaruhi oleh jumlah air yang

di-berikan dalam musim tanam (Scott et al., 1987). Balittan

Malang (1990) melaporkan bahwa pemberian air yang intensif akan berpengaruh terhadap hasil biji kedelai. Pemberian air setiap 10 hari selama musim tanam dapat meningkatkan hasil menjadi 2 ton/ha diban dibanding-kan pemberian 3 kali selama musim tanam (1.71 ton/ha) dan tanpa irigasi teratur hanya 1.47 ton/ha.

Penggunaan pupuk mikroorganisma yang dicam-pur dengan pupuk anorganik dan bahan sumber energi dengan perbandingan tertentu yang dikenal dengan isti-lah Pupuk hayati teisti-lah dilaporkan mampu meningkatkan

eisiensi serapan hara, memperbaiki pertumbuhan dan

hasil serta meningkatkan ketahanan terhadap serangan hama dan penyakit (Hardianto, 2000). Efektivitas pupuk hayati pada kondisi cekaman kekeringan perlu dikaji leb-ih jauh karena pupuk hayati telah menunjukan pengaruh

yang signiikan dalam memperbaiki pertumbuhan dan

meningkatkan hasil pada tomat, padi, dan pearl millet. Pupuk hayati berperan dalam mempengaruhi

ketersedi-aan unsur hara makro dan mikro, eisiensi hara, kinerja

sistem enzim, meningkatkan metabolisme, pertumbuhan dan hasil tanaman. Teknologi ini mempunyai prospek yang lebih menjanjikan di samping karena pengaruhnya

(2)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil Sidik Ragam terhadap eisiensi serapan N,

laju pertumbuhan dan penampilan agronomik ditunjukan pada Tabel 1. Kultivar memberikan respon yang berbeda

pada tinggi tanaman. Cekaman kekeringan berpengaruh

nyata pada laju pertumbuhan tanaman (LPT), laju per-tumbuhan relatif (LPR), tinggi tanaman (TT), jumlah

polong isi (JPI), bobot polong (BP), bobot biji per tanaman (BB/T), bobot biji per petak efektif (BB/P), eisiensi serapan nitrogen (ESN), eisiensi penggunaan

yang nyata dalam meningkatkan hasil, juga lebih ramah lingkungan.

Tujuan penelitian ini adalah 1) mempelajari

eisiensi serapan nitrogen, pertumbuhan dan hasil enam

kultivar kedelai yang diberi perlakuan pupuk hayati, 2) mengetahui pengaruh cekaman kekeringan terhadap

eisiensi serapan nitrogen, pertumbuhan dan hasil

enam kultivar, 3) mempelajari interaksi antara kultivar dan cekaman kekeringan, kultivar dan pupuk hayati, pupuk hayati dan kekeringan, serta kultivar dan pupuk hayati dan kekeringan, 4) mempelajari tingkat keeratan

hubungan antara karakter-karakter isiologis dan hasil

biji, dan 5) mempelajari tingkat keeratan hubungan beberapa karakter agronomi dan hasil biji.

BAHAN DAN METODE

Percobaan ini menggunakan enam kultivar kede-lai unggul baru sebagi materi utama. Kultivar tersebut

terdiri atas Slamet, Argomulyo, Pangrango, Burangrang,

Anjasmara dan Mahameru. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok Lengkap

pola faktorial. Faktor I adalah Kultivar (V) terdiri atas enam kultivar yaitu Slamet (V

1), Pangrango (V2),

Ar-gomulyo (V

3), Burangrang (V4), Anjasmoro (V5) dan

Mahameru (V

6); Faktor II terdiri atas dua taraf pembe-rian air (K): kapasitas lapang (K

0) dan 50 % kapasitas lapang (K

1); Faktor III adalah perlakuan pupuk hayati

(B) terdiri atas : diberi perlakuan pupuk hayati (B

1)

dan tanpa perlakuan pupuk hayati (B

0). Kombinasi perlakuan berjumlah 24 dan tiap perlakuan diulang dua kali, sehingga terdapat 48 pot percobaan.

Pengamatan karakter isiologi meliputi : eisiensi fisiologis serapan N (ESN), Efisiensi Penggunaan Nitrogen (EPN), Laju Pertumbuhan Tanaman (LPT),

Laju Pertumbuhan Relatif (LPR) dan Laju Asimilasi

Bersih (LAB).

Eisiensi Penggunaan Nitrogen (EPN) dihitung meng -gunakan rumus berikut.

Eisiensi Serapan Nitrogen (ESN) dihitung den -gan menggunakan rumus (Isfan dkk., 1993) berikut.

Laju Pertumbuhan Tanaman (LPT), Laju

Per-tumbuhan Relatif (LPR), Laju Asimilasi Bersih (LAB)

menggunakan rumus (Fitter dan Hay, 1998).

Keterangan :

1= pengamatan awal dari periode pengamatan mingguan

t

2= pengamatan berikutnya dari periode pengamatan mingguan

Bobot kering tanaman dan luas daun diamati

pada 4 mst dan 6 mst (minggu setelah tanam). Karakter agronomi yang diamati adalah tinggi tanaman, jumlah polong isi, bobot polong, bobot biji per tanaman dan bobot biji per petak. Pengamatan lain

antara lain kandungan kloroil, dan luas daun.

Pengaruh perlakuan dan interaksi dianalisis dengan uji F, perbedaan nilai rata-rata perlakuan dianalisis dengan

uji LSD. Analisis dilakukan dengan progran IRRIStat

versi 3/93 (IRRI, 1993). Pola hubungan antar karakter dianalisis dengan korelasi.

Teknologi pupuk hayati yang digunakan adalah

aplikasi dari formula kombinasi : 3 mL EMBio ditambah

20 gr Urea dan 25 gr gula pasir dalam 15 L air. Formula kombinasi tersebut kemudian difermentasi selama 24 jam sebelum diaplikasikan pada tanaman umur 4 dan

6 minggu setelah tanam. Pupuk N diberikan dengan

(3)

Tabel 1. Hasil sidik ragam pengaruh perlakuan pupuk hayati pada kondisi cekaman kekeringan dengan pupuk N rendah

Keterangan : SK = Sumber keragaman, V = Kultivar, N = Pupuk N, B = Pupuk hayati

Laju pertumbuhan, laju asimilasi bersih, hasil

biji dan eisiensi serapan N yang tinggi pada kondisi nitrogen (EPN), tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap laju asimilasi bersih (LAB) dan kandungan kloroil

(KK). Pupuk hayati menunjukan pengaruh yang tidak nyata untuk seluruh variabel pengamatan. Interaksi kultivar dan cekaman kekeringan terdapat pada tinggi tanaman. Tidak ada interaksi yang nyata antara kultivar dan pupuk hayati, pupuk hayati dan cekaman kekerin-gan, kultivar dan kekerinkekerin-gan, maupun interaksi antara kultivar dan pupuk hayati dan kekeringan, kecuali pada tinggi tanaman.

Pada penelitian lain dilaporkan bahwa interaksi genotipe pearl millet dengan sumber pupuk nitrogen ada pada karakter jumlah tomngkol (Totok dan Utari, 2002). Interaksi genotipe pearl millet dengan lokasi ta-nam dan genotipe dengan pupuk hayati mempengaruhi laju pertumbuhan relatif, interaksi lokasi dengan pupuk pertumbuhan dan laju asimilasi juga telah dilaporkan (Totok, 2003).

Perbedaan nilai rata-rata variabel pengamatan ditunjukan pada Tabel 2 yang memperlihatkan tanaman

tertinggi adalah kultivar burangrang (V4= 94.8 cm). Kultivar ini menunjukan laju pertumbuhan tanaman,

laju asimilasi bersih dan kandungan kloroil yang lebih

tinggi. hayati mempengaruhi laju pertumbuhan abso-lut, relatif dan asimilasi bersih telah dilaporkan (Totok, 2003), Adanya interaksi genotipe dengan lokasi tanam dan pupuk hayati yang mempengaruhi laju pertumbuhan dan laju asimilasi juga telah dilaporkan (Totok, 2003)

Cekaman kekeringan memberikan pengaruh

yang nyata. Taraf perlakuan kapasitas lapang (100 %) memberikan hasil lebih baik dibandingkan dengan 50 %

kapasitas lapang. Cekaman kekeringan (50 % kapasitas

lapang) menurunkan laju pertumbuhan tanaman, laju pertumbuhan relatif, tinggi tanaman, jumlah polong isi,

bobot polong, bobot biji per tanaman, eisiensi serapan nitrogen, dan eisiensi penggunaan nitrogen.

kapasitas lapang menunjukan bahwa pertumbuhan terse-but memterse-butuhkan air yang tersedia untuk penampilan optimal. Doorrenbos dan Kassan (1979) menyatakan bahwa ketersediaan air diperlukan untuk menyesuai-kan diri dan digunamenyesuai-kan untuk pertumbuhan tanaman,

di antaranya untuk peningkatan luas daun. Deisit air

dalam jangka waktu yang pendek hanya berpengaruh

pada kapasitas pertukaran gas dan eisiensi fotosintesis,

sedangkan untuk jangka panjang mengakibatkan

menu-runnya eisiensi pembentukan bahan kering (Munchow

et al., 1986). Kekurangan air mengakibatkan

berku-rangnya laju fotosintesis karena dehidrasi protoplas akan menurunkan kapasitas fotosintesis (Thomas dan Lasminingsih, 1994).

Air yang cukup akan mendukung pening-ka-tan luas daun sehingga berhubungan dengan tingkat

produksi tanaman (Gardner et al., 1991). Rendahnya

jumlah air akan menyebabkan terbatasnya perkemban-gan akar, sehingga mengperkemban-ganggu penyerapan unsur hara

oleh akar tanaman (Santosa, 1995). Sloane et al. (1990)

menyatakan bahwa cekaman air pada masa generatif, misalnya pada saat pengisian polong, akan menurunkan

produksi. Tanaman kedelai yang mengalami deisit air,

translokasi fotosintat ke biji akan terhambat ( Abdul Rizal, 1997).

Tabel 3 memperlihatkan hubungan koei-sien

korelasi yang positif antara karakter agronomi yang diamati dan pengaruh langsung terhadap hasil biji

per-tanaman. Nilai koeisien korelasi yang sama dengan

nilai pengaruh langsung menunjukan derajat hubungan

yang sebenarnya (Sigh dan Chaundhary, 1985).

Tabel 4 memperlihatkan koefisien korelasi

pada variabel pengamatan LPT, LPR, LAB, EPN dan ESN. ESN menunjukan nilai korelasi tertinggi (r =

0.981) dibandingkan variabel lainnya terhadap hasil

biji/tanaman. ESN berkorelasi positif dengan hasil biji

(4)

Tabel 2. Perbedaan nilai rata-rata pertumbuhan, hasil dan eisiensi N kedelai dengan perlakuan pupuk hayati

pada kondisi cekaman kekeringan

Keterangan : Nilai rata-rata yang diikuti oleh huruf yang sama menunjukan tidak berbeda nyata pada taraf keper -cayaan

V

5 = Anjasmara, V6 = Mahameru, K = Cekaman Air, K0 = Kapasitas Lapang, K1 = 50 % Kapasitas

Lapang, B = Pupuk hayati, B

0 = tanpa pupuk hayati, B1 = diberi pupuk hayati

Tabel 3. Koeisien korelasi antar karakter agronomik

(5)

KESIMPULAN

1. Eisiensi serapan nitrogen, pertumbuhan dan hasil

enam kultivar kedelai tidak dipengaruhi oleh pupuk hayati.

2. Kekeringan menurunkan eisiensi serapan nitrogen,

pertumbuhan, dan hasil enam kultivar kedelai. 3. Ada interaksi kultivar dengan kekeringan terhadap

tinggi tanaman kedelai

4. Karakter isiologis yang paling berhubungan den -gan hasil biji kedelai secara berturut-turut adalah

Eisiensi Serapan N, Laju Pertumbuhan Tanaman, Eisiensi Penggunaan N, Laju Pertumbuhan Relatif, dan Laju Asimilasi Bersih.

5. Karakter agronomi yang paling berpengaruh terha-dap hasil biji kedelai berturut-turut adalah Jumlah

Polong Isi, Bobot Polong, dan Tinggi Tanaman.

DAFTAR PUSTAKA

Abdul Rizal. 1997. Pengaruh ketersediaan air dan macam gulma terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman kedelai. AGRIVET Vol. 1 No.1.

Balittan Malang. 1990. Hasil Penelitian Balittan Malang Tahun 1989/1990. Badan Litbang Pertanian.

Departemen Pertanian. Malang.

Doorrenbos, V. and Kassam A. 1979. Yield Respons to Water Irrigation and Drainage. Food and Agric.

Org. Toronto. Canada.

Dornbos Jr., D.L., R.E. Mullen and R.M. Shibles.1987. Drought stress effect during seed illing on soy -bean: seed germination and vigor. Crop Science 29(2):467 - 480.

Fitter, A.H. dan R.K.M. Hay. 1994. Fisiologi Lingkungan

Tanaman. Penerjemahan: Andani S dan E.D. Pur

-bayanti. Gajah Mada University Press. Indonesian

Ed. Yogyakarta.

Gardner, F.P., R.B Pearce and R.L Mitchel. 1991. Fisi-ologi Tanaman Budidaya. Ed. bahasa Indonesia.

Universitas Indonesia Press.

Hardianto, R. 2000. Kembalikan Kesuburan Tanah

den-gan Pemanfaatan Mikro-orden-ganisme Efektif (EM) dan Bokasi. BPTP Karangploso.

IRRI. 1993. IRRIStat Mannual. Ver.3/93. IRRI. Philip -pine.

Isfan, D. 1993. Genotypic variability for physiologi

-cal eficiency index of in oats. Plant and Soil J.

154:53-59.

Munchow, R.C. , T.R. Sinclair, J.M. Benneth and L.C.

Hammond. 1986. Respons of leaf growth, leaf nitrogen and stomatal conductance on water

deicit during vegetation growth of ield growth

soybean. Crop. Sci. 26:1190-1195.

Santosa, B. 1995. Pengaruh Kandungan Air Tanah dan Pemupukan terhadap Penyerapan Nitrogen Tana-man Tebu Lahan Kering Varietas F 154. Fakultas

Pertanian Unibraw. Malang.

Scott, H. D., J.A. Fergusson and L.S. Wood. 1987. Wa -ter use, yield, and dry mat-ter accumulation by ddeterminate soybean grown in humid region.

Agron. J. 79(5): 870 - 875.

Singh, R.K. and B.D. Chaundhary. 1985. Biometrical Method in Quantitative Genetic Analysis.

Kal-phani Publisher. New Delhi. India. p. 55-67. Sloane, R.J., R.P. Patterson and L.S. Wood. 1990. Field

drought tolerance of soybean plant introduction.

Crop Sci. 30(1):118-123.

Sudaryanto, T. 1988. Prosfektif pengembangan kedelai

di lahan kering. Makalah Penunjuang Seminar

Pembangunan Pertanian Lahan Kering. 19 - 20

September 1988. Universitas Lampung. Bandar

Lampung.

Sutoro, Iskandar Somadiredja dan Susanto Tirtoutomo.

1989. Pengaruh cekaman air dan reaksi pemu-lihan tanaman jagung dan sorghum pada fase pertumbuhan vegetatif. Penelitian Pertanian

Vol. 9 (4): 148 - 151.

Thomas dan Muji Lasminingsih. 1994. Respons be-berapa klon karet terhadap kekeringan. Buletin

Perkaretan. 12(3): 1-4.

Totok A.D.H. dan R.S. Utari. 2002. Pengaruh interaksi

genotipe x lingkungan terhadap penampilan per-tumbuhan dan hasil biji pearl millet (Pennisetum

typhoideum Rich.) Laporan Penelitian. Fakultas

Pertanian Unsoed Purwokerto.

—————————. 2003. Penampilan agronomik, hasil dan analisis pertumbuhan biji pearl millet

(Pennisetum typhoideum Rich.) berumur pendek

Gambar

Tabel  1.    Hasil sidik ragam pengaruh perlakuan pupuk hayati pada kondisi cekaman kekeringan dengan pupuk N rendah
Tabel 4.  Koeisien korelasi  LPT, LPR, LAB, EPN, ESN dengan hasil biji

Referensi

Dokumen terkait

Pada organisasi dengan budaya organisasi yang kuat nilai-nilai tersebut akan mempengaruhi orang-orang didalam organisasi dan dalam perilaku mereka sehari-hari.Sebuah organisasi

Alat pemindah barang menggunakan aplikasi android berbasis Bluetooth merupakan sebuah alat yang dapat memudahkan pekerjaan manusia dalam mengangkat dan memindahkan barang

Menurut Marikova dan marik dalam konecny (2011) EVA mempunyai kelebihan dibandingkan dengan analisis rasio keuangan diantaranya: komponen EVA memiliki keterkaitan yang

Kecamatan/ District Ibukota Capital Jumlah Desa Number of Rural Villages Jumlah Kelurahan Number of Urban Villages Jumlah Total (1) (2) (3) (4) (5) 17.

bahwasanya saat ini beredar sms di kalangan mahasiswa dengan mengatasnamakan Direktur Poltekkes Surakarta (Satino,SKM,MSc.N) yang menginformasikan adanya dana beasiswa

kemudian dimasukkan ke GDWD LQSXW ¿OH 3URVHV VLPXODVL PRGHO 6:$7 GLODNXNDQ PHODOXL WDKDSDQ \DLWX GHOLQLDVL '$6 SHPEHQWXNDQ hydrological response unit +58 SHQJRODKDQ GDWD GDQ

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kecenderungan financial distress, low balling, ukuran perusahaan, reputasi kantor akuntan publik dan opini going concern dengan

v   What are the sort of things you need to look at in order to ascertain rights of ownership under the applicable categories of IP law, being. ü   C opyright (expression of the