ISSN 1907-7459
PUBLIKASI ILMIAH
ANNUAL MEETING
ON TESTING AND QUALITY
AMTeQ 2016
30
-
31 Agustus 2016
Graha Widya Bhakti Puspiptek
Kawasan PUSPIPTEK, Tangerang Selatan
Banten 15314
ISSN 1907-7459
PUBLIKASI ILMIAH
ANNUAL MEETING
ON TESTING AND QUALITY
AMTeQ 2016
REVIEWERS
1. Prof. Riset. Ir. Jimmy Pusaka, M.Sc 2. Dr. Ir. Fatimah Zulfah Padmadinata, DEA 3. Dr. Ir. R. Harry Arjadi, M. Sc
4. Dr. Hasballah Zakaria, S.T.,M.Sc. 5. Marga Alisyahbana, Ph.D
6. Dr. Ir. Basrul Bahar
7. Dr. Ir. Trina Fizzanty, M.Si 8. Dr. Ir. Eddy Herjanto, SE.,M.Sc. 9. Dr. Suprijanto, S.T., M.T. 10. Dr. Ratno Nuryadi
11. Dr. Rahmat Nurcahyo 12. Dr. Ghufron Zaid
13. Drs. Rahman Mustar, M.Sc. 14. Sik Sumaedi,S.T.,M.M
EDITOR PELAKSANA Nanang Kusnandar Bayu Utomo Amelia Febri Ariani Yudhistira Tri Rakhmawati Khusnul Khotimah
MINAT STARTUP TERHADAP PENERAPAN ISO 9001:2008 (STUDI KASUS TENANT INKUBATOR TEKNOLOGI LIPI)
Oleh: Adi Setiya Dwi Grahito, Aris Yaman ... 359 EVALUASI IMPLEMENTASI MANAJEMEN RISIKO PROSES PENELITIAN BERBASIS
SNI ISO 31000 : 2011 (STUDI KASUS PADA PUSAT PENELITIAN X)
Oleh: Muh Azwar Massijaya ... 367 PENGARUH KEBERADAAN LABEL “100 % CINTA INDONESIA” TERHADAP
PERSEPSI KONSUMEN INDONESIA
Oleh: I Gede Mahatma Yuda Bakti ... 379 ANALISIS RISIKO PADA PROSES PENGADAAN MELALUI E-PROCUREMENT DI
PUSAT PENELITIAN X
Oleh: Amelia Febri Ariani, Rahmi Kartika Jati ... 392 ANALISA KUALITAS WEBSITE INTRA LIPI BERBASIS PENDEKATAN WEBQUAL
DAN IMPORTANCE PERFORMANCE ANALYSIS: STUDI KASUS DI SATKER X Oleh: Darmawan Napitupulu, Amelia Febri Ariani, Jimmy Abdel Kadar ... 404 PEMETAAN KOMPETENSI DAN ANALISIS KEBUTUHAN PELATIHAN ANGGOTA
KELOMPOK PENELITIAN X PUSAT PENELITIAN ABC
Oleh: Sih Damayanti, Tri Rakhmawati ... 420 PENYUSUNAN MODEL PENILAIAN DAN ANALISIS EFEKTIVITAS PENDIDIKAN
DAN PELATIHAN (DIKLAT) PEGAWAI DI PUSAT PENELITIAN X
Oleh: Tri Rakhmawati, Sih Damayanti ... 438 PENGUKURAN PERFORMA WEBSITE SISTEM LAYANAN TERPADU (SILAT)
DENGAN WEBQUAL DAN IPA
Oleh: Rahmi Kartika Jati, Darmawan Napitupulu ... 454 MODEL PENGHARGAAN MANAJEMEN MUTU UNTUK LABORATORIUM PENGUJIAN DAN KALIBRASI BERBASIS MBNQA DAN SNI ISO/IEC ISO 17025 : 2008
Oleh: Muh Azwar Massijaya ... 467 ANALYTIC NETWORK PROCESS (ANP) DAN TOPSIS: KERANGKA PENILAIAN PEMASOK PADA INSTITUSI PENELITIAN SEBAGAI PEMENUHAN TERHADAP ISO 9001:2015
Oleh: Tri Widianti ... 484 MODEL KEPUASAN PELANGGAN BAGI INSTANSI PELAYANAN PUBLIK : INTEGRASI INDEK KEPUASAN MAYSARAKAT (IKM) DENGAN NATIONAL CUSTOMER SATISFACTION INDEX (NCSI)
Oleh: Medi Yarmen, I Gede M. Yuda Bakti, Sik Sumaedi ... 501 PENGEMBANGAN SISTEM INFORMASI PEMINJAMAN UANG PADA KSU
SEJAHTERA ABADI BEKASI
Oleh: Darmawan Napitupulu ... 516
STANDARDISASI
PERSYARATAN PENGUJIAN BUNGKUSAN TIPE B UNTUK MENDUKUNG KESELAMATAN RADIASI DALAM PENGANGKUTAN ZAT RADIOAKTIF
Oleh: Nanang Triagung Edi Hermawan ... 525 PENINGKATAN MUTU PENGUKURAN VOLUME DAN DENSITAS STANDAR
DENSITAS PADATAN DENGAN MEMINIMALKAN KESALAHAN ACAK
Oleh: Heri Sutanto, Renanta Hayu ... 537
INSTRUMENTASI
STUDI KARAKTERISTIK PESAWAT SINAR-X/ YXLON-MG325 UNTUK KALIBRASI ALAT UKUR RADIASI (AUR)
ANALISIS RISIKO PADA PROSES PENGADAAN MELALUI E-PROCUREMENT DI PUSAT PENELITIAN X
Amelia Febri Ariani1), Rahmi Kartika Jati2)
1,2)Pusat Penelitian Sistem Mutu dan Teknologi Pengujian (P2SMTP) -LIPI
Kawasan Puspiptek Gedung 417, Setu, Tangerang Selatan, Banten, 15314 Korespondensi: [email protected]), [email protected]2)
INTISARI
Salah satu permasalahan dalam pelaksanaan Reformasi Birokrasi tahun 2010-2014 adalah pengadaan barang dan jasa yang belum diselenggarakan secara efektif dan efisien. Membuat e-procurement di Pusat Penelitian X diharapkan dapat membantu pelaksanaan pengadaan barang dan jasa menjadi lebih terbuka dan berjalan efektif dan efisien. Dalam pengembangan sistem baru seperti e-procurement perlu memperhatikan risiko yang mungkin terjadi. Oleh karena itu, perlu dilakukan analisis risiko agar dapat menanggulangi terjadinya risiko tersebut. Risiko yang telah diidentifikasi kemudian diberikan peringkat menggunakan metode FMEA, melalui pengisian kuisioner oleh responden. Berdasarkan hasil analisis risiko menggunakan metode FMEA, didapat tiga risiko dengan prioritas tertinggi yaitu pengguna tidak menerima notifikasi permintaan barang telah berhasil dibuat, laporan permintaan barang tidak dapat diunggah, dan permintaan barang/jasa tidak dapat ditindaklanjuti. Dari penilaian risiko, dapat dikembangkan rekomendasi tindakan untuk mengurangi atau menghilangkan potensi terjadinya risiko, sehingga e-procurement yang dibuat akan lebih stabil dalam menghadapi perubahan dan mampu mencakup seluruh proses pengadaan barang dan jasa.
Kata Kunci: analisis risiko, e-procurement, FMEA, pengadaan
ABSTRACT
One of Bureaucratic Reform (RB) problems during 2010 until 2014 is ineffective and inefficiency on procurement of goods and services. E-procurement in government organization, would help procurement process more efficient and effective. There could be some risks during deveopment of e-procurement in Research Center X. Therefore, risk analysis is needed in planning process of e-procurement, in order to cope with the risks. Risks that have been identified are ranked using FMEA method, by filling the
questionnaire by the respondents. Based on risks analysis result using FMEA, there’s three high-risks found. The risks are user do not receive notification if the procurement request is made successfully,
procurement report can’t be uploaded, and procurement request can’t be proceed. From the analysis,
mitigation recommendation can be made to reduce or eliminate the risks, so that the e-procurement is made to be more stable towards changes and is able to cover the whole process of procurement.
Keywords: e-procurement, FMEA, procurement, risk analysis
1. PENDAHULUAN
Pelaksanaan reformasi birokrasi pada periode 2010-2014 masih menyisakan beberapa permasalahan strategis, salah satunya birokrasi belum efektif dan efisien, termasuk di dalamnya adalah pengadaan barang dan jasa [2]. Masih banyak kasus korupsi yang ditemukan dalam proses pengadaan barang dan jasa. Berdasarkan data Komisi Pemberantasan Korupsi [3], selama tahun 2006-2015 selalu ada penindakan kasus korupsi dikarenakan pengadaan.
Gambar 1. Data Tindak Pidana Korupsi dalam Pengadaan Barang/Jasa [3-6]
Menurut pemerintah, salah satu penyebab adanya korupsi dalam proses pengadaan barang dan jasa karena belum seluruh proses pengadaan dilakukan secara elektronik [2]. Oleh karena itu, e-procurement perlu diterapkan di instansi pemerintah, termasuk di pusat penelitian X sebagai bagian dari Lembaga Pemerintah Non Kementerian (LPNK).
E-procurement dipilih karena dapat diterapkan dalam berbagai lini usaha, seperti pada perusahaan [7], usaha kecil dan menengah [8], dan juga di pemerintahan [9]. Dalam pemanfaatan sistem baru seperti e-procurement perlu memperhatikan risiko yang mungkin terjadi, agar tidak terjadi kegagalan proses pada saat menggunakan e-procurement. Oleh karena itu, diperlukan analisis risiko untuk menghadapi masalah tersebut [10].
Dalam analisis risiko, ada beberapa metode yang dapat digunakan, salah satunya adalah
Failure Mode and Effect Analysis (FMEA). Makalah ini akan membahas penggunaan FMEA dalam tahap desain e-procurement di Pusat Penelitian X, agar dapat diketahui risiko yang mungkin terjadi dan dapat dikembangkan tindakan untuk mencegah risiko tersebut ketika e-procurement telah diterapkan. FMEA dipilih karena fleksibilitasnya, sehingga metode ini banyak dilakukan di beberapa produk atau proses, seperti fase desain sistem motor elektrik [12], analisis korupsi [13], pembangkit listrik tenaga panas bumi [14], dan sebagainya. Selain itu, metode ini dapat mengidentifikasi potensi permasalahan pada proses, kontrol proses, dan mengidentifikasi apa yang bisa salah ketika sebuah proses benar-benar dijalankan. Hal ini akan memungkinkan kesempatan untuk mengurangi masalah sebelum terjadi [15]. E-procurement dalam Pusat Penelitian X hanya melingkupi permintaan barang/jasa oleh pengguna, monitoring status permintaan barang/jasa, dan penyerahan barang/jasa oleh tim pengadaan ke pengguna. Proses keuangan terkait pengadaan barang/jasa serta proses pemilihan pemasok tidak tercakup dalam e-procurement yang akan dibuat. E-procurement ini juga hanya berlaku untuk proses pengadaan barang/jasa di lingkungan internal Pusat Penelitian X, dan tidak tercakup dalam sistem informasi LPSE milik pemerintah.
0 5 10 15 20
2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015
Ju
m
la
h
2. DASAR TEORI
2.1. Risiko dan Manajemen Risiko
Berdasarkan definisinya, risiko adalah efek positif atau negatif dari kemungkinan yang dapat terjadi pada sebuah obyek [16]. Semua kegiatan dalam sebuah organisasi mengandung risiko, oleh karena itu diperlukan manajemen risiko untuk mengarahkan dan mengendalikan kegiatan organisasi yang mengandung risiko [16]. Proses penerapan manajemen risiko dapat selalu dikembangkan dan ditingkatkan kinerjanya, agar organisasi bisa mengintegrasikan proses pengelolaan risiko tersebut menjadi bagian dari sistem tata kelola organisasi secara keseluruhan [16]. Proses manajemen risiko digambarkan seperti pada Gambar 2.
Komunikasi dan Konsultasi
Menetapkan konteks
Identifikasi risiko
Analisis risiko
Evaluasi risiko
Tindakan terhadap risiko
Pemantauan dan Kaji
Ulang Penilaian risiko
Gambar 2. Manajemen Risiko [16]
Dalam proses manajemen resiko, terdapat analisis risiko yang berfungsi untuk mengidentifikasi risiko, sehingga dapat ditentukan rencana tindakan terhadap risiko tersebut [15]. Ketika risiko tidak dapat dihilangkan, organisasi harus dapat menentukan risiko yang telah diidentifikasi dapat dikurangi atau dapat diterima [15].
2.2. FMEA
penyebab serta efek dari kegagalan pada suatu proses [17]. FMEA berawal pada tahun 1940-an ketika digunakan oleh militer Amerika Serikat, dan kemudian dikembangkan lebih lanjut dan diterapkan oleh industri penerbangan dan otomotif. Kemudian pada tahun 1980 hingga 1990, FMEA mulai diterapkan secara luas oleh industri lain [18]. FMEA mampu mengidentifikasi dan mengevaluasi potensi kegagalan suatu produk atau proses dan efek yang mungkin muncul, serta tindakan yang diperlukan untuk menghilangkan atau mengurangi potensi kegagalan yang mungkin terjadi [11].
Urutan proses dalam FMEA adalah [15]: a. Mendeskripsikan proses dalam sistem,
b. Mengidentifikasi potensi kegagalan dari masing-masing proses,
c. Mengidentifikasi efek kegagalan (dan penyebabnya) dari masing-masing proses, d. Menentukan tingkat efek kegagalan (severity),
e. Mengestimasikan peluang terjadinya kegagalan (occurence), f. Mengidentifikasi tindakan deteksi kegagalan (detection),
g. Membuat peringkat dan prioritas (menggunakan analisis Risk Priority Number / RPN),
h. Merekomendasikan tindakan pencegahan,
i. Melaksanakan rekomendasi dan memperbarui analisis.
Nilai RPN dihitung berdasarkan perumusan berikut [18]:
RPN = S x O x D (1)
dengan: S = tingkat potensi efek kegagalan (severity)
O = tingkat peluang terjadinya kegagalan (occurence) D = tingkat potensi deteksi kegagalan (detection)
Skala penilaian S, O, dan D adalah 1-10 dengan deskripsi masing-masing seperti tampak pada Tabel 1 hingga Tabel 3.
Tabel 1. Skala Severity [19] Skala Deskripsi
10 Kegagalan sistem yang menghasilkan efek sangat berbahaya
9 Kegagalan sistem yang menghasilkan efek berbahaya 8 Sistem tidak beroperasi
7 Sistem beroperasi tetapi tidak dijalankan secara penuh
6 Sistem beroperasi dan aman tetapi mengalami penurunan performa sehingga mempengaruhi output
Tabel 2. Skala Occurence [19]
1 Hampir tidak ada kegagalan
Tabel 3. Skala Detection [19] Skala Deskripsi
10 Pengecekan tidak pernah mampu untuk mendeteksi penyebab potensial atau mekanisme kegagalan dan mode kegagalan
9 Pengecekan memiliki sangat sedikit kemungkinan untuk mendeteksi penyebab potensial atau mekanisme kegagalan dan mode kegagalan
8 Pengecekan memiliki sedikit kemungkinan untuk mendeteksi penyebab potensial atau mekanisme kegagalan dan mode kegagalan
7 Pengecekan memiliki kemungkinan sangat rendah untuk mendeteksi penyebab potensial atau mekanisme kegagalan dan mode kegagalan
6 Pengecekan memiliki kemungkinan rendah untuk mendeteksi penyebab potensial atau mekanisme kegagalan dan mode kegagalan
5 Pengecekan memiliki kemungkinan yang cukup untuk mendeteksi penyebab potensial atau mekanisme kegagalan dan mode kegagalan
4 Pengecekan memiliki kemungkinan cukup tinggi untuk mendeteksi penyebab potensial atau mekanisme kegagalan dan mode kegagalan
3 Pengecekan memiliki kemungkinan tinggi untuk mendeteksi penyebab potensial atau mekanisme kegagalan dan mode kegagalan
2 Pengecekan memiliki kemungkinan pada sangat tinggi untuk mendeteksi penyebab potensial atau mekanisme kegagalan dan mode kegagalan
1 Pengecekan akan selalu mampu mendeteksi penyebab potensial atau mekanisme kegagalan dan mode kegagalan
2.3. E-procurement
E-procurement dapat didefinisikan sebagai proses dimana organisasi memanfaatkan sistem informasi untuk membuat kesepakatan untuk membeli barang/jasa dengan imbalan pembayaran [7]. Menurut peraturan perundangan di Indonesia, e-procurement
atau pengadaan secara elektronik adalah pengadaan barang/jasa yang dilaksanakan dengan menggunakan teknologi informasi dan transaksi elektronik sesuai dengan peraturan perundang-undangan [20]. Pengadaan barang/jasa di instansi pemerintah merupakan kegiatan untuk memperoleh barang/jasa oleh Kementerian/Lembaga/Satuan Kerja Perangkat Daerah/Institusi yang prosesnya dimulai dari perencanaan kebutuhan sampai diselesaikannya seluruh kegiatan untuk memperoleh Barang/Jasa. Tujuan pengadaan barang/jasa pemerintah secara elektronik bertujuan untuk [21]:
a. Meningkatkan transparansi dan akuntabilitas,
d. Mendukung proses monitoring dan audit,
e. Memenuhi kebutuhan akses informasi yang real time.
E-procurement lebih unggul dalam hal efisiensi, transparansi, dan memberikan kesempatan pengadaan kepada publik. Beberapa manfaat dari penerapan e-procurement
antara lain peningkatan efisiensi, tercapainya manajemen rantai pasokan, meningkatnya tingkat pelayanan ke pelanggan, pengurangan waktu proses, pengurangan tugas operasional, dan pengurangan biaya transaksi [7]. Namun dalam penerapannya juga terdapat kendala seperti keengganan organisasi untuk menerapkan e-procurement, dengan alasan pengguna sudah nyaman dengan praktik pengadaan secara manual, kurangnya sumber daya yang memadai, terlalu mahal untuk diimplementasikan, persepsi pengguna bahwa e-procurement tidak memberikan manfaat sama sekali, masalah keamanan data, dan pengetahuan yang kurang memadai dalam menerapkan e-procurement [7]. Untuk menanggulangi hal tersebut, organisasi perlu berkomitmen dalam menerapkan e-procurement, antara lain dengan membuat proses pembelian akuntabel dan mengatur perubahan struktural, menyediakan sumber daya manusia yang mengelola sistem informasi dan memiliki keahlian tentang internet, perampingan proses persetujuan dan sistem alur kerja, serta keterlibatan dan komitmen manajemen puncak.
3. METODOLOGI
Tahapan analisis risiko desain e-procurement dengan metode FMEA dapat dilihat pada Gambar 3. Alur penelitian dapat dijelaskan dalam beberapa tahap, yaitu:
a. Observasi lapangan dilakukan pada proses pengadaan barang/jasa di Pusat Penelitian X yang meliputi tahap permintaan barang/jasa dari pengguna ke bidang umum, proses persetujuan oleh atasan pengguna, monitoring status permintaan barang/jasa ke tim pengadaan, penerimaan barang/jasa dari tim pengadaan ke pengguna, pemeriksaan barang/jasa yang diterima untuk mengetahui kesesuaian dengan jumlah dan spesifikasi yang diminta saat proses penerimaan barang, dan penandatanganan formulir oleh pengguna sebagai bukti barang/jasa telah diterima. Observasi ini dilakukan ketika kegiatan pengadaan barang/jasa ketika masih menggunakan formulir yang bersifat paper based.
b. Wawancara dengan tim pengadaan untuk mengetahui user requirement terhadap e-procurement. Metode wawancara yang digunakan adalah wawancara tak berstruktur untuk mendapatkan informasi yang lebih dalam dari responden [22]. Tim pengadaan yang berjumlah 3 orang dipilih sebagai responden karena tim tersebut yang memiliki pemahaman dan pengalaman yang lebih baik tentang setiap kegiatan pengadaan barang/jasa dibandingkan pengguna.
Observasi lapangan
Wawancara dengan tim pengadaan untuk mengetahui user requirement e-procurement
Identifikasi potensi mode kegagalan
Identifikasi efek dari kegagalan
Identifikasi penyebab kegagalan
Identifikasi tindakan deteksi kegagalan
Memberikan peringkat severity, occurence, dan detection untuk
tiap kegagalan
Perhitungan nilai RPN
Rekomendasi untuk pengembangan e-procurement
Pemeringkatan RPN
Gambar 3. Bagan Alur Penelitian
rekomendasi dalam pengembangan e-procurement, agar risiko tersebut dapat dieliminasi.
4. HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil penilaian risiko dapat dilihat pada Tabel 4. Nilai S, O, dan D diperoleh dari nilai rata-rata yang diberikan oleh seluruh responden. Kemudian nilai tersebut dikalikan untuk mendapatkan RPN, lalu diurutkan peringkatnya sesuai dengan nilai RPN yang paling besar. Hasil pemeringkatan ini untuk mengetahui mode kegagalan dengan risiko yang paling tinggi agar dapat ditentukan tindakan untuk mengeliminasi atau mengurangi risiko tersebut [23].
Nilai RPN tertinggi, yaitu 150, terdapat pada proses notifikasi permintaan barang berhasil tidak diterima oleh pengguna. Penyebab kegagalan ini adalah adanya gangguan pada server email sehingga permintaan barang tidak dapat diproses. Risiko tertinggi kedua dengan nilai RPN 148, adalah laporan permintaan barang tidak dapat diunggah sehingga tidak dapat dilihat oleh pihak terkait. Penyebab dari risiko ini adalah adanya gangguan pada koneksi internet. Risiko ketiga dengan nilai RPN 144 adalah permintaan barang/jasa tidak dapat ditindaklanjuti, karena permintaan barang belum disetujui oleh penanggung jawab kegiatan. Ketiga risiko tertinggi ini akan disampaikan kepada pihak pembuat e-procurement di Pusat Penelitian X agar dijadikan pertimbangan dalam mengembangkan sistem tersebut, agar tidak terjadi kegagalan tersebut saat e-procurement telah dijalankan. Risiko yang teridentifikasi juga dapat diaplikasikan oleh
pengembang e-procurement lainnya sebagai bahan pertimbangan dalam
mengembangkan sistem yang serupa.
5. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil analisis risiko yang telah dilakukan terhadap pengembangan e-procurement, diperoleh prioritas risiko sebagai berikut:
a. Prioritas risiko pertama dengan nilai RPN 150 adalah pengguna tidak menerima notifikasi permintaan barang telah berhasil dibuat, yang disebabkan oleh gangguan pada server email.
b. Prioritas risiko kedua dengan nilai RPN 148 adalah laporan permintaan barang tidak dapat diunggah, yang disebabkan oleh gangguan koneksi internet.
c. Prioritas risiko ketiga dengan nilai RPN 144 adalah permintaan barang/jasa tidak dapat ditindaklanjuti, yang disebabkan permintaan barang belum disetujui oleh penanggung jawab kegiatan.
Tabel 4. Hasil Analisis Risiko dengan FMEA
No Proses e-procurement Potensi Mode Kegagalan Potensi efek dari kegagalan S Potensi penyebab kegagalan O Potensi deteksi kegagalan D RPN
1 Registrasi Pengguna Pengguna tidak bisa
didaftarkan
Pengguna tidak dapat
mengakses aplikasi 6,86 alamat email salah 3,43
Notifikasi "pengiriman
konfirmasi email gagal" 2,71 64
2 Login Pengguna Pengguna tidak bisa log in ke
dalam sistem
3,86 Notifikasi berupa "user belum
terdaftar" 2,29 62
Ada required field yang belum
terisi 5,57 diberi role untuk monitoring permintaan barang
4,57 Menu monitoring permintaan
barang tidak tersedia 3,00 100
Permintaan barang belum
dengan kondisi riil 5,29
Tabel 4. Hasil Analisis Risiko dengan FMEA (lanjutan)
No Proses e-procurement Potensi Mode Kegagalan Potensi efek dari kegagalan S Potensi penyebab kegagalan O Potensi deteksi kegagalan D RPN
7 Laporan Permintaan
Barang
Data e-procurement tidak bisa
di-generate ke dalam laporan Tidak ada laporan 5,86
Kesalahan dalam pemrograman
e-procurement 5,86
Error saat mengeksekusi
proses generate laporan 3,00 103
Laporan tidak dapat diunduh oleh pengguna
Pengguna tidak dapat melihat
laporan 6,71 Koneksi internet terganggu 6,14
Tidak ada berkas yang
terunduh 3,43 141
Pengguna tidak dapat mengunggah laporan
Dokumen tidak terunggah sehingga laporan tidak dapat dilihat oleh pihak terkait
6,71
Format file tidak terdaftar 4,57 Notifikasi error file tidak
terdaftar 3,86 118
File melebihi ukuran batas
maksimal yg ditetapkan 5,57
Notifikasi error file melebihi
batas ukuran 3,29 123
File rusak 3,57 Notifikasi error file rusak 3,14 75
Koneksi internet terganggu 6,43 Tidak ada berkas yang
terunggah 3,43 148
Data e-procurement tidak bisa diekspor ke format excel
Data tidak dapat diubah ke format pelaporan sesuai keinginan pengguna
6,29 Kesalahan dalam pemrograman
e-procurement 5,86
Tidak ada file format excel
UCAPAN TERIMA KASIH
Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada responden yang telah meluangkan waktunya untuk berpartisipasi dalam penelitian ini, yaitu Rizki Maulana, Endang Tejowati, Dodi Gunawan, Asep Rahmat Hidayat, Sri Kadarwati, Dewi Indah Vebriyanti, dan Yana Mardiyana.
DAFTAR PUSTAKA
[1] Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 81 Tahun 2010 tentang Grand Design Reformasi Birokrasi 2010 – 2025.
[2] Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi. (2015).
Road Map Reformasi Birokrasi Tahun 2015 – 2019.
[3] Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). (2012). Laporan Tahunan Komisi Pemberantasan Korupsi Tahun 2012. Jakarta: KPK.
[4] Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). (2013). Laporan Tahunan Komisi Pemberantasan Korupsi Tahun 2013. Jakarta: KPK.
[5] Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). (2014). Laporan Tahunan Komisi Pemberantasan Korupsi Tahun 2014. Jakarta: KPK.
[6] Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). (2015). Laporan Tahunan Komisi Pemberantasan Korupsi Tahun 2015. Jakarta: KPK.
[7] Gunasekaran, A., Ngai, E.W.T. (2008). Adoption of e-procurement in Hong Kong: An empirical research. International Journal of Production Economics, vol. 113, pp. 159 – 175.
[8] Gunasekaran, A., et. al. (2009). E-procurement adoption in the Southcoast SMEs.
International Journal of Production Economics, vol. 122, pp. 161 – 175.
[9] Panayiotou, N.A., Gayialis, S.P., dan Tatsiopoulos, I.P. (2004). An e-procurement system for governmental purchasing. International Journal of Production Economics, vol. 90, pp. 79 – 102.
[10] Dewi, D.S., Syairudin, B., dan Nikmah, E.N. (2015). Risk management in new product development process for fashion industry: Case study in hijab industry.
Procedia Manufacturing, vol. 4, pp. 383 – 391. doi: 10.1016/j.promfg.2015.11.054
[11] Chin, K., Chan, A., dan Yang, J. (2008). Development of a fuzzy FMEA based product design system. The International Journal of Advanced Manufacturing Technology, vol. 36, pp. 633-649.
[12] Cassanelli, G., et. al. (2006).Failure Analysis-assisted FMEA. Microelectronics Reliability, vol. 46, pp. 1795-1799.
[13] Ochrana, F., Pucek, M., dan Placek, M. (2015). The Use of FMEA for the analysis of corruption:A case study from Bulgaria. Procedia Economics and Finance, vol. 30, pp. 613-621.
[14] Feili, H.R., et. al. (2013). Risk analysis of geothermal power plants using Failure Modes and Effects Analysis (FMEA) technique. Energy Conversion and Management, vol. 72, pp. 69-76.
[15] Mollah, H., Baseman, H., Long, M. (2013) Risk Management Applications in Pharmaceutical and Biopharmaceutical Manufacturing. New Jersey: John Wiley & Sons.
[17] Dyadem Press. (2003). Guidelines for Failure Mode and Effects Analysis, For Automotive, Aerospace, and General Manufacturing Industries. Florida: CRC Press LLC.
[18] Jenab, K., Kelley, T.K. (2015). Bayesian Failure Modes and Effects Analysis: Case Study for the 1986 Challenger Failure. International Journal of Engineering Research & Technology, vol. 4, pp. 685-690.
[19] Firdaus, H., Widianti, T. (2015) Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) sebagai Tindakan Pencegahan pada Kegagalan Pengujian. Prosiding AMTeQ 2015, pp. 131-142.
[20] Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2015 tentang Perubahan Keempat Atas Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah.
[21] Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah.
[22] Sugiyono. (2012). Metode Penelitian Bisnis. Bandung: Alfabeta.
[23] McDermott, R.E., Mikulak, R.J., dan Beauregard, M.R. (2009). The Basics of FMEA 2nd Edition. New York: CRC Press.
DISKUSI
Nama Penanya : Sri Supadmi
Instansi : P2SMTP LIPI
Pertanyaan :
Proses pengadaan yang dimaksud dalam makalah apakah untuk pengadaan yang melibatkan rekanan? Atau yang dilihat hanya proses secara internal saja?
Jawaban: