• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jihad Selfie Peran Media Sosial dalam Pe

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Jihad Selfie Peran Media Sosial dalam Pe"

Copied!
4
0
0

Teks penuh

(1)

Wiwit Tri Rahayu (071311233082) Globin Week 2 : Review Film [email protected]

Jihad Selfie, Peran Media Sosial dalam Perekrutan ISIS

Film garapan Noor Huda Ismail ini menceritakan tentang bagaimana terorisme berhasil menjadikan media sosial sebagai sarana untuk melakukan perekrutan anggota. Film ini kemudian menceritakan tentang keberadaan Teuku Akbar Maulana, yaitu murid asal Aceh, Indonesia yang sedang mendapakan beasiswa di Imam Katip High School, Kayseri. Akbar merupakan murid yang cerdas di sekolahnya dan merasa sedang berada pada titik nyaman sehingga berusaha untuk mencari aktivitas lain untuk membuat dirinya bermanfaat. Dalam upaya tersebut, Akbar kemudian tertarik dengan slogan yang diagungkan oleh para pejihad, “Hidup mulia atau mati syahid”. Akbar yang merupakan pengguna aktif internet menemukan slogan tersebut pada linimasa Yazid, temannya dari Indonesia yang telah lebih dulu bergabung dengan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS). Sebagai seorang yang sedang mencari jatidiri, Akbar tertarik berada di posisi Yazid, yaitu menjadi bagian dari perubahan dunia dan juga dikenal oleh banyak orang. Akbar kagum dengan kegagahan Yazid saat membawa senjata AK-47 dan ingin membuktikan bahwa ia pun bisa melakukannya.

Yazid merupakan anggota ISIS yang aktif menunjukkan kegiatannya di media sosial. Dari laman media sosial tersebutlah Yazid kemudian mencoba mengajak Akbar untuk bergabung dengan ISIS. Selain Yazid, keinginan Akbar juga dipengaruhi oleh Bagus, temannya yang telah lebih dulu berhasil direkrut oleh Yazid. Keinginan besar Akbar untuk bergabung dengan kelompok jihad ISIS tersebut disampaikan kepada kedua orangtuanya dan meminta izin untuk pergi ke Syria. Namun keinginan tersebut ditolak oleh orangtua Akbar. Yazid kemudian mengungkapkan kepada Akbar bahwasannya untuk berjihad dan mati syahid tidak memerlukan ijin orangtua. Dari sinilah kemudian Akbar goyah, mengingat ucapan Yazid tidak sesuai dengan hadist Rasulullah SAW yang menyatakan bahwa berbakti kepada orangtua lebih utama daripada jihad dan hijrah. Pemahaman inilah yang kemudian membuat Akbar mengurungkan niatnya dan lebih memilih untuk kembali kepada orangtuanya. Sedangkan Yazid dan Bagus telah meninggal dalam bom bunuh diri di Iraq.

(2)

Wiwit Tri Rahayu (071311233082) Globin Week 2 : Review Film [email protected]

menceritakan bahwa proses menuju jihad dipersiapkan dengan melihat video yang ada di media sosial. Hal ini diperkuat dengan ungkapan Syafii selaku pengurus, bahwa pesantren tersebut dijadikan sebagai tempat transit bagi santri sebelum berjihad atau menjadi pendakwah. Hal serupa juga sempat terjadi di Pondok Pesantren Al-Islam, Lamongan. Pesantren tersebut mengakui bahwa dulunya santri diajari tentang kemiliteran hingga membuat bom. Hal ini dilatarbelakangi oleh mayoritas santri yang berasal dari wilayah konflik. Terhitung sudah ada 5 (lima) santrinya yang bergabung dengan ISIS. Namun secara tegas, Al-Islam menyatakan bahwa sudah tidak lagi mendukung ISIS.

Sedangkan menurut para mantan anggota ISIS, banyak penyesalan yang dirasakan setelah bergabung. Ahamd Junaidi misalnya, setelah bergabung selama enam bulan dan akhirnya ditangkap, ia menyampaikan bahwa sebaiknya tidak tergesa-gesa untuk bergabung. Ahmad menyadari bahwa spekulasinya untuk membantu konflik di Syria teramat jauh dengan kenyataannya ketika bergabung dengan ISIS. Bahkan ketika kembali ke negar asal, Ahmad harus jadi mata-mata bagi ISIS. Sedangkan Yusuf yang merupakan mantan anggota terorisme MORO menyatakan bahwa status mati syahid yang diagungkan oleh ISIS terlalu instan. Dalam artian, entah apa penyebab kematiannya akan tetap digelari sebagai mati syahid, sedangkan hal tersebut tidak benar.

Dari beberapa kisah tersebut dapat dilihat pentingnya peran media sosial dalam mempengaruhi anak muda yang notabene merupakan digital native. Hal ini yang kemudian membuat model perekrutan terorisme turut berubah, dari model konvensional ke pola yang lebih baru. Model konvensional merupakan perekrutan terorisme yang umumnya terjadi pada wilayah konflik, dimana orang memutuskan untuk bergabung ketika sudah ada konflik. Sedangkan pola baru lebih kepada perekrutan melalui media sosial yang berhasil mengumpulkan orang-orang untuk dilatih menjadi teroris. Keadaan inilah yang menuntut adanya digital literacy atau kemampuan untuk dapat mengkritisi informasi yang didapat dari media digital. Selain itu, peran orangtua juga sangat penting untuk terus mengawasi dan menjadi tujuan utama anak saat mengalami kebimbangan. Dari kisah Akbar tersebut, diketahui bahwa kedekatan Akbar dengan orangtualah yang kemudian berhasil membuatnya terlepas dari keinginan untuk bergabung dengan ISIS. Berbeda dengan Yazid dan Bagus yang renggang dengan kedua orangtuanya.

(3)

Wiwit Tri Rahayu (071311233082) Globin Week 2 : Review Film [email protected]

terhadap informasi-informasi yang ada. Keadaan ini turut mendorong mudahnya penyebarluasan informasi yang salah serta menciptakan tindakan-tindakan prematur akibat informasi yang dilebih-lebihkan oleh media massa. Informasi yang tidak sesuai inilah yang menciptakan ketidakstabilan perilaku dalam masyarakat (Shubik, 1997: 402-3). Sedangkan Bockstette (2010: 11-4) menambahkan bahwa media massa, khususnya internet menjadi aset komunikasi yang strategis dan menguntungkan bagi teroris yang sedang melakukan perlawanan asimetris. Hal ini dikarenakan akses internet mampu melampaui kedaulatan negara. Keberadaan internet seolah menjadi kompensasi atas kerugian asimetris yang muncul untuk melawan state actor. Sehingga wajar apabila terorisme ingin menguasai media untuk mencapai target publisitas maksimum agar pengaruhnya lebih dikenal. Contohnya, Al-Qaida yang sebelumnya menggunakan propaganda dan media cetak untuk berkomunikasi dengan anggotanya, pada akhir 1998 mengubah strategi komunikasinya terkait dengan kemajuan tekhnologi. Al-Qaida menggunakan channel al-Jazeera untuk menyampaikan pesannya kepada seluruh umat Muslim di dunia, dan juga mengirim rekaman ke pihak lain seperti CNN. Dari sini dapat diketahui bahwa ada hubungan yang erat antara terorisme dan media, terorisme tidak akan berimbas massive apabila tidak dibantu dengan penyebaran media. Sedangkan media tidak dapat dihentikan untuk terus memberitakan tentang terorisme.

(4)

Wiwit Tri Rahayu (071311233082) Globin Week 2 : Review Film [email protected]

Referensi :

Ismail, Noor Huda. 2016. Jihad Selfie [film]. Indonesia.

Shubik, Martin. 1977. “Terrorism, Technology, and the Socioeconomics of Death”, dalam Comparative Strategy, Vol. 16. Connecticut: Tyor & Francis.

Referensi

Dokumen terkait

Pada bagian ini penulis menyajikan kesimpulan berdasarkan hasil penelitian yang penulis peroleh setelah melakukan pengkajian dan analisis terhadap permasalahan

Konsentrasi terbaik ekstrak etanol okra ( Abelmoschus esculentus ) terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus epi- dermidis pada sabun cair antibakteri terdapat pada formulasi 5

8 Berdasarkan uraian di atas dengan permasalahan yang berada dalam perusahaan, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Analisa Hubungan

Metode yang digunakan untuk mensintesis data adalah dengan melakukan literature review (studi literatur) terhadap artikel ilmiah dalam jurnal terpublikasi di

Pertama , Sesuai dengan jenis penelitian, maka sebelum teknik  , Sesuai dengan jenis penelitian, maka sebelum teknik  analisis korelasi yang digunakan untuk menguji

Tidakan pembelajaran mengenai kemampuan membaca wacana beraksara Bali melalui penggunaan metode drill yang dirancang dalam refleksi siklus I digunakan sebagai acuan dalam

Menimbang , bahwa untuk mendukung permohonan bandingnya, Penggugat/ Pembanding dalam perkara ini telah mengajukan memori banding tertanggal 24 Agus tus 2012 yang diterima di

Mencoba mengelola masalah menjadi sebuah kekuatan adalah sebuah hal yang penting dalam menjalankan sebuah usaha, kenapa demikian, karena hal ini mengajarkan kepada