• Tidak ada hasil yang ditemukan

A. PENGERTIAN - ASUHAN KEPERAWATAN STROKE HEMORAGIK

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "A. PENGERTIAN - ASUHAN KEPERAWATAN STROKE HEMORAGIK"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

ASUHAN KEPERAWATAN STROKE HEMORAGIK

A.

    

PENGERTIAN

Menurut WHO stroke adalah adanya tanda-tanda klinik yang berkembang cepat akibat gangguan fungsi otak fokal (atau global) dengan gejala-gejala yang berlangsung selama 24 jam atau lebih yang menyebabkan kematian tanpa adanya penyebab lain yang jelas selain vaskuler. (Hendro Susilo, 2000)

Stroke hemoragik adalah disfungsi neurologi fokal yang akut dan disebabkan oleh perdarahan primer substansi otak yang terjadi secara spontan bukan oleh karena trauma kapitis, disebabkan oleh karena pecahnya pembuluh arteri, vena dan kapiler. (Djoenaidi Widjaja et. al, 1994)

B.

    

ANATOMI FISIOLOGI

1.      Otak

Berat otak manusia sekitar 1400 gram dan tersusun oleh kurang lebih 100 triliun neuron. Otak terdiri dari empat bagian besar yaitu serebrum (otak besar), serebelum (otak kecil), brainstem (batang otak), dan diensefalon. (Satyanegara, 1998)

Serebrum terdiri dari dua hemisfer serebri, korpus kolosum dan korteks serebri. Masing-masing hemisfer serebri terdiri dari lobus frontalis yang merupakan area motorik primer yang bertanggung jawab untuk gerakan-gerakan voluntar, lobur parietalis yang berperanan pada kegiatan memproses dan mengintegrasi informasi sensorik yang lebih tinggi tingkatnya, lobus temporalis yang merupakan area sensorik untuk impuls pendengaran dan lobus oksipitalis yang mengandung korteks penglihatan primer, menerima informasi penglihatan dan menyadari sensasi warna.

Serebelum terletak di dalam fosa kranii posterior dan ditutupi oleh duramater yang menyerupai atap tenda yaitu tentorium, yang memisahkannya dari bagian posterior serebrum. Fungsi utamanya adalah sebagai pusat refleks yang mengkoordinasi dan memperhalus gerakan otot, serta mengubah tonus dan kekuatan kontraksi untuk mempertahankan keseimbangan sikap tubuh.

(2)

aquedikus sylvius, beberapa traktus serabut saraf asenden dan desenden dan pusat stimulus saraf pendengaran dan penglihatan.

Diensefalon di bagi empat wilayah yaitu talamus, subtalamus, epitalamus dan hipotalamus. Talamus merupakan stasiun penerima dan pengintegrasi subkortikal yang penting. Subtalamus fungsinya belum dapat dimengerti sepenuhnya, tetapi lesi pada subtalamus akan menimbulkan hemibalismus yang ditandai dengan gerakan kaki atau tangan yang terhempas kuat pada satu sisi tubuh. Epitalamus berperanan pada beberapa dorongan emosi dasar seseorang. Hipotalamus berkaitan dengan pengaturan rangsangan dari sistem susunan saraf otonom perifer yang menyertai ekspresi tingkah dan emosi. (Sylvia A. Price, 1995)

2.      Sirkulasi darah otak

Otak menerima 17 % curah jantung dan menggunakan 20 % konsumsi oksigen total tubuh manusia untuk metabolisme aerobiknya. Otak diperdarahi oleh dua pasang arteri yaitu arteri karotis interna dan arteri vertebralis. Da dalam rongga kranium, keempat arteri ini saling berhubungan dan membentuk sistem anastomosis, yaitu sirkulus Willisi.(Satyanegara, 1998)

Arteri karotis interna dan eksterna bercabang dari arteria karotis komunis kira-kira setinggi rawan tiroidea. Arteri karotis interna masuk ke dalam tengkorak dan bercabang kira-kira setinggi kiasma optikum, menjadi arteri serebri anterior dan media. Arteri serebri anterior memberi suplai darah pada struktur-struktur seperti nukleus kaudatus dan putamen basal ganglia, kapsula interna, korpus kolosum dan bagian-bagian (terutama medial) lobus frontalis dan parietalis serebri, termasuk korteks somestetik dan korteks motorik. Arteri serebri media mensuplai darah untuk lobus temporalis, parietalis dan frontalis korteks serebri.

Arteria vertebralis kiri dan kanan berasal dari arteria subklavia sisi yang sama. Arteri vertebralis memasuki tengkorak melalui foramen magnum, setinggi perbatasan pons dan medula oblongata. Kedua arteri ini bersatu membentuk arteri basilaris, arteri basilaris terus berjalan sampai setinggi otak tengah, dan di sini bercabang menjadi dua membentuk sepasang arteri serebri posterior. Cabang-cabang sistem vertebrobasilaris ini memperdarahi medula oblongata, pons, serebelum, otak tengah dan sebagian diensefalon. Arteri serebri posterior dan cabang-cabangnya memperdarahi sebagian diensefalon, sebagian lobus oksipitalis dan temporalis, aparatus koklearis dan organ-organ vestibular. (Sylvia A. Price, 1995)

(3)

kelompok vena eksterna yang terletak di permukaan hemisfer otak, dan mencurahkan darah, ke sinus sagitalis superior dan sinus-sinus basalis lateralis, dan seterusnya ke vena-vena jugularis, dicurahkan menuju ke jantung. (Harsono, 2000)

C.

     

ETIOLOGI

Beberapa keadaan dibawah ini dapat menyebabkan stroke antara lain : 1.      Thrombosis Cerebral.

Thrombosis ini terjadi pada pembuluh darah yang mengalami oklusi sehingga  menyebabkan iskemi jaringan otak yang dapa menimbulkan oedema dan kongesti  di sekitarnya.Thrombosis biasanya terjadi pada orang tua yang sedang tidur atau  bangun tidur. Hal ini dapat terjadi karena penurunan aktivitas simpatis dan  penurunan tekanan darah yang dapat menyebabkan iskemi serebral.Tanda dan  gejala neurologis seringkali memburuk pada 48 jam sete;ah thrombosis. Beberapa keadaandibawah ini dapat menyebabkan thrombosis otak :

a. Atherosklerosis

Atherosklerosis adalah mengerasnya pembuluh darah serta berkurangnya  kelenturan atau elastisitas dinding pembuluh darah. Manifestasi klinis 

atherosklerosis bermacam-macam. Kerusakan dapat terjadi melalui mekanisme  berikut :

- Lumen arteri menyempit dan mengakibatkan berkurangnya aliran darah. - Oklusi mendadak pembuluh darah karena terjadi thrombosis.

-.Merupakan tempat terbentuknya thrombus, kemudian melepaskan kepingan  thrombus (embolus)

- Dinding arteri menjadi lemah dan terjadi aneurisma kemudian robek dan terjadi  perdarahan.

b. Hypercoagulasi pada polysitemia

Darah bertambah kental , peningkatan viskositas /hematokrit meningkat dapat  melambatkan aliran darah serebral.

c. Arteritis( radang pada arteri )

2.      Emboli

Emboli serebral merupakan penyumbatan pembuluh darah otak oleh bekuan  darah, lemak dan udara. Pada umumnya emboli berasal dari thrombus di jantung  yang terlepas dan menyumbat sistem arteri serebral. Emboli tersebut berlangsung  cepat dan gejala timbul kurang dari 10-30 detik. Beberapa keadaan dibawah ini  dapat menimbulkan emboli :

(4)

b. Myokard infark

c. Fibrilasi,. Keadaan aritmia menyebabkan berbagai bentuk pengosongan  ventrikel sehingga darah terbentuk gumpalan kecil dan sewaktu-waktu kosong  sama sekali dengan mengeluarkan embolus-embolus kecil.

d. Endokarditis oleh bakteri dan non bakteri, menyebabkan terbentuknya  gumpalan-gumpalan pada endocardium.

3.      Haemorhagi

Perdarahan intrakranial atau intraserebral termasuk perdarahan dalam ruang  subarachnoid atau kedalam jaringan otak sendiri. Perdarahan ini dapat terjadi  karena atherosklerosis dan hypertensi. Akibat pecahnya pembuluh darah otak  menyebabkan perembesan darah kedalam parenkim otak yang dapat 

mengakibatkan penekanan, pergeseran dan pemisahan jaringan otak yang  berdekatan ,sehingga otak akan membengkak, jaringan otak tertekan, sehingga  terjadi infark otak, oedema, dan mungkin herniasi otak.

Penyebab perdarahan otak yang paling lazim terjadi : a. Aneurisma Berry,biasanya defek kongenital. b. Aneurisma fusiformis dari atherosklerosis.

c. Aneurisma myocotik dari vaskulitis nekrose dan emboli septis.

d. Malformasi arteriovenous, terjadi hubungan persambungan pembuluh darah  arteri, sehingga darah arteri langsung masuk vena.

e. Ruptur arteriol serebral, akibat hipertensi yang menimbulkan penebalan dan  degenerasi pembuluh darah.

4.      Hypoksia Umum

a. Hipertensi yang parah. b. Cardiac Pulmonary Arrest

c. Cardiac output turun akibat aritmia 5.       Hipoksia setempat

a. Spasme arteri serebral , yang disertai perdarahan subarachnoid. b. Vasokontriksi arteri otak disertai sakit kepala migrain.

(5)
(6)

E.

     

TANDA DAN GEJALA

         nyeri kepala mendadak

         kehilangan keseimbangan

         tekanan darah tinggi

         purunan kesadaran

         kehilangan control diri

         gangguan penglihatan

         kehilangan komunikasi

         muntah-muntah

F.

     

TEST DIAGNOSTIK

1.      Pemeriksaan radiologi

a.       CT scan : didapatkan hiperdens fokal, kadang-kadang masuk ventrikel, atau menyebar ke permukaan otak. (Linardi Widjaja, 1993)

b.      MRI : untuk menunjukkan area yang mengalami hemoragik. (Marilynn E. Doenges, 2000)

c.       Angiografi serebral : untuk mencari sumber perdarahan seperti aneurisma atau malformasi vaskuler. (Satyanegara, 1998)

d.      Pemeriksaan foto thorax : dapat memperlihatkan keadaan jantung, apakah terdapat pembesaran ventrikel kiri yang merupakan salah satu tanda hipertensi kronis pada penderita stroke. (Jusuf Misbach, 1999)

2.      Pemeriksaan laboratorium

a.       Pungsi lumbal : pemeriksaan likuor yang merah biasanya dijumpai pada perdarahan yang masif, sedangkan perdarahan yang kecil biasanya warna likuor masih normal (xantokhrom) sewaktu hari-hari pertama. (Satyanegara, 1998)

b.      Pemeriksaan darah rutin

c.       Pemeriksaan kimia darah : pada stroke akut dapat terjadi hiperglikemia. Gula darah dapat mencapai 250 mg dalam serum dan kemudian berangsur-angsur turun kembali. (Jusuf Misbach, 1999)

d.      Pemeriksaan darah lengkap : unutk mencari kelainan pada darah itu sendiri. (Linardi Widjaja, 1993)

G.

    

KLASIFIKASI

Klasifikasi stroke menurut defisit neurologisnya

(7)

Merupakan gangguan pembuluh darah otak yang menyebabkan timbulnya defisit neurologis akut yang berlangsung kurang dari 24 jam.Stroke ini tidak akan meninggalkan gejala sisa sehingga pasien tidak terlihat pernah mengalami serangan stroke. Akan tetapi adanya TIA merupakan suatu peringatan akan serangan stroke selanjutnya sehingga tidak boleh diabaikan begitu saja.

Reversible Ischemic Neurological Deficit (RIND)

Kondisi RIND hampir sama dengan TIA, hanya saja berlangsung lebih lama, maksimal 1 minggu (7 hari). RIND juga tidak meninggalkan gejala sisa.

Complete stroke

Merupakan gangguan pembuluh darah otak yang menyebabkan deficit neurologist akut yang berlangsung lebih dari 24 jam. Stroke ini akan meninggalkan gejala sisa.

Stroke in Evolution (Progressive Stroke)

Stroke ini merupakan jenis yang terberat dan sulit ditentukan prognosanya. Hal ini disebabkan kondisi pasien yang cenderung labil, berubah-ubah, dan dapat mengarah ke kondisi yang lebih buruk.

http://infostroke.wordpress.com/klasifikasi-stroke/

H.

    

KOMPLIKASI

         TIK meningkat

         Aspirasi

      Atelektasis

      Kontraktur

      Disritmia jantung

         Malnutrisi

         Gagal napas

I.

       

FAKTOR RESIKO

Faktor-faktor resiko stroke dapat dikelompokan sebagai berikut ::

      Akibat adanya kerusakan pada arteri, yairtu usia, hipertensi dan DM.          Penyebab timbulnya thrombosis, polisitemia.

         Penyebab emboli MCI. Kelainan katup, heart tidak teratur atau jenis penyakit 

(8)

         Penyebab haemorhagic, tekanan darah terlalu tinggi, aneurisma pada arteri dan 

penurunan faktor pembekuan darah (leukemia, pengobatan dengan anti koagulan )

         Bukti-bukti yang menyatakan telah terjadi kerusakan pembuluh darah arteri 

sebelumnya : penyakit jantung angina, TIA., suplai darah menurun pada  ektremitas.

Dari hasil data penelitian di Oxford,Inggris bahwa penduduk yang mengalami  stroke disebabkan kondisi-kondisi sebagai berikut :

1. Tekanan darah tinggi tetapi tidak diketahui 50-60% 2. Iskemik Heart Attack 30%

3. TIA 24%

4. Penyakit arteri lain 23% 5. Heart Beat tidak teratur 14% 6. DM 9%

Kemudian ada yang menunjukan bahwa yang selama ini dianggap berperan dalam meningkatkan prevalensi stroke ternyata tidak ditemukan pada penelitian tersebut  diantaranya, adalah:

      Merokok, memang merokok dapat merusak arteri tetapi tidak ada bukti kaitan 

antara keduanya itu.

         Latihan, orang mengatakan bahwa latihan dapat mengurangi resiko terjadinya 

stroke. Namun dalam penelitian tersebut tidak ada bukti yang menyatakan hal  tersebut berkaitan secara langsung. Walaupun memang latihan yang terlalu berat  dapat menimbulkan MCI.

         Seks dan seksual intercouse, pria dan wanita mempunyai resiko yang sama 

terkena serangan stroke tetapi untuk MCI jelas pria lebih banyak daripada wanita.

         Obesitas. Dinyatakan kegemukan menimbulkan resiko yang lebih besar, namun 

tidak ada bukti secara medis yang menyatakan hal ini.

         Riwayat keluarga.

J.

       

PENATALAKSANAAN

Secara umum, penatalaksanaan pada pasien stroke adalah:

1. Posisi kepala dan badan atas 20-30 derajat, posisi miring jika muntah dan 

boleh dimulai mobilisasi bertahap jika hemodinamika stabil

2. Bebaskan jalan nafas dan pertahankan ventilasi yang adekuat, bila perlu 

diberikan ogsigen sesuai kebutuhan

3. Tanda-tanda vital diusahakan stabil

4. Bed rest

5. Koreksi adanya hiperglikemia atau hipoglikemia

(9)

7. Kandung kemih yang penuh dikosongkan, bila perlu lakukan kateterisasi

8. Pemberian cairan intravena berupa kristaloid atau koloid dan hindari 

penggunaan glukosa murni atau cairan hipotonik

9. Hindari kenaikan suhu, batuk, konstipasi, atau suction berlebih yang dapat 

meningkatkan TIK

10. Nutrisi per oral hanya diberikan jika fungsi menelan baik. Jika kesadaran 

menurun atau ada gangguan menelan sebaiknya dipasang NGT

11. Penatalaksanaan spesifik berupa:

 Stroke non hemoragik: asetosal, neuroprotektor, trombolisis, antikoagulan, obat

hemoragik

 Stroke   hemoragik:   mengobati   penyebabnya,   neuroprotektor,   tindakan

pembedahan, menurunkan TIK yang tinggi

K.

     

PENCEGAHAN

Beberapa tindakan pencegahan yang dapat dilakukan adalah :

         Pembatasan makan garam; dimulai dari masa muda, membiasakan memakan  makanan tanpa garam atau makanan bayi rendah garam.

         Khususnya pada orang tua, perawatan yang intensif untuk mempertahankan tekanan  darah selama tindakan pembedahan. Cegah jangan sampai penderita diberi obat  penenang berlebihan dan istirahat ditempat tidur yang terlalu lama.

         Peningkatan kegiatan fisik; jalan setiap hari sebagai bagian dari program kebugaran.

         Penurunan berat badan apabila kegemukan

         Berhenti merokok

        Penghentian pemakaian kontrasepsi oral pada wanita yang merokok, karena resiko  timbulnya serebrovaskular pada wanita yang merokok dan menelan kontrasepsi oral  meningkat sampai 16 kali dibandingkan dengan wanita yang tidak merokok dan tidak  menelan pil kontrasepsi. 

L.

      

PROGNOSIS

Prognosis pada perdarahan intraserebral dipengaruhi oleh beberapa faktor:

1.

     Tingkat kesadaran: sadar (16% meninggal), somnolen (39% meninggal), sopor 

(71% meninggal), koma (100% meninggal).

2.

     Usia: pada usia 70 tahun atau lebih, angka kematian meningkat tajam

3.

      Jenis kelamin: lelaki lebih banyak (61%) yang meninggal daripada perempuan 

(41%)

4.

     Tekanan darah : Tensi tinggi prognosis jelek

5.

     Lain-lain: misalnya cepat dan tepatnya pertolongan.

(10)

6.

     Etiologi: lebih buruk pada aneurisma

7.

     Lesi tunggal/multipel: aneurisma multipel lebih buruk

8.

     Lokasi aneurisma/lesi: pada arteri komunikans anterior dan arteri serebri anterior 

lebih buruk, karena sering perdarahan masuk ke intraserebral atau ke ventrikel  (perdarahan ventrikel)

9.

     Umur: prognosis jelek pada usia lanjut

10.

      Kesadaran: bila koma lebih dari 24 jam, buruk hasilnya

11.

      Gejala: bila kejang, memperburuk keadaan/prognosis

12.

      Spasme, hipertensi, dan perdarahan ulang, semuanya merugikan bagi 

prognosis

ASUHAN KEPERAWATAN  PADA KLIEN STROKE

A.    Pengkajian

Adapun data yang perlu dikumpulkan adalah sebagai berikut : a.       Pengkaian awal 

Meliputi nama pasien, jenis kelamin, umur, agama, suku bangsa, pekerjaan,  pendidikan, alamat rumah serta tanggal masuk rumah sakit.

b.      Pengkajian Data Dasar

1.      Riwayat kesehatan dahulu

  Biasanya pernah menderita hipertensi, penyakit jantung dan diabetes mellitus.

(11)

  Kadangkala pernah mengalami stroke.

2.      Riwayat kesehatan Sekarang

  Pada umumnya kejadian secara mendadak dan adanya perubahan tingkat kesadaran 

yang disertai dengan kelumpuhan.

  Diawali dengan gangguan keluhan penglihatan seperti penglihatan kabur, kembar, 

dapat juga nyeri kepala, kadang kala seperti berputar, lupa ingatan sementara dan  kaku leher.

  Biasanya pasien mengeluh adanya perubahan mental emosi yang labil, mudah 

marah, dapat juga disorientasi maupun menarik diri.

  Dapat juga keluhan pasien setelah kejang mulutnya, mencong disertai gangguan 

berbicara, kesemutan dan tangan terasa lemah atau tidak dapat diangkat sendiri. 3.      Riwayat kesehatan keluarga

  Biasanya adanya riwayat keluarga yang menderita hipertensi, kelainan jantung dan 

diabetes mellitus.

  Sering juga terdapat riwayat keluarga yang menderita kelainan pembuluh darah 

seperti artera vehol malformasi, asma bronchial dan penyakit paru aobtruksi  menahun (PPOM).

c.        Data Fisik Bilogis (Doenges, M.E, 1999 : 290)

  Aktivitas/ istirahat

Gejala : Merasa kesulitan untuk melakukan aktivitas karena kelemahan,  kehilangan sensasi atau paralysis (hemiplegia).

Tanda : Gangguan tonus otot (flaksid, spastis), paralistik (hemiplegia), dan terjadi  kelemahan umum.

Gangguan penglihatan. Gangguan tingkat kesadaran.

  Sirkulasi

Gejala : Adanya penyakit jantung (MCl, rematik/penyakit jantung vaskuler, GJK,  endokarditis bakterial) polisitemia, riwayat hipotensi postural.

Tanda : hipertensi arterial (dapat diotemukan/terjadi pada CVA) sehubungan  dengan adanya embolisme/ malformasi vaskuler.

Nadi : Frekuensi jantung bervariasi (karena ketidakstabilan fungsi jantung/kondisi jantung, obat-obatan, efek stroke pada pusat vasomator).

Distrima,perubahanEKG

Desiran pada karotis, temoralis dan arteri iliaka/aorta yang abnormal.

  Integritas Ego

Gejala : Perasaan tidak berdaya ,perasaan putu sasa.

(12)

  Eliminasi

Gejala : Perubahan pola brkemih, seperti inkontinensia urine, anuria, distensi  abdomen (distensi, kandung kemih berlebihan), bising.

d.      Data Psikologis

  Dampak dari masalah fisik terhadap psikologi pasien (emosi, perasaan, konsep diri, 

dayapikir, kreatifitas)

Pasien biasanya mengalami hemiparesis kiri maupun hemiparesis kanan serta  mengalami gangguan fisik sehingga pasien mampu memperlihatkan dampak dari  masalah fisiknya terhadap psikologis seperti :

  Mudah tersinggung, akibat ketidakmampuannya dalam melakukan aktivitas sehari - 

hari.

  Takut karena pasien berada dalam situasi yang mengancam dimana suatu waktu 

maut dapat saja menyemputnya atau pasien tidak bisa lagi berjalan

  Cemas, kecemasan yang terjadi adalah sebagian respon dari rasa takut akan 

terjadinya kehilangan uakan sesuatu yang bernilai bagi dirinya yaitu kehidupan  atau fungsi tubuh serta pekerjaannya.

  Rasa bersalah, ini timbul karena diri pasien tidak berhati-hati dan disiplin sehingga 

penyakitnya kambuh.

  Marah dan bermusuhan, ini timbul karena perasaan jengkel karena berkurangnya 

kemampuan pasien dan juga berkurangnya peran pasien di dalam keluarga dan  masyarakat.

  Mudah lelah, adanya kecenderungan mudah capek bila membaca, bercakap-cakap 

dan dalam melakukan pekerjaan.

  Ingatan berkurang.

  Inisiatif berkurang.

e.       Data Sosial Ekonomi

  Dampak terhadap sosial : keluarga, masyarakat dan pekerjaan.

  Stroke mungkin dirasakan sebagai masalah besar bagi keluarga, karena keadaan 

yang mengancam pasien merupakan ancaman bagi keluarga. Pasien mengalami  stroke hampir seluruh kebutuhannya tergantung pada keluarga.

  Data - data yang berkaitan dengan penghasilan

Semua data-data yang berkaitan dengan penghasilan diantaranya sumber  penghasilan tetap dan sumber penghasilan tambahan.

  Sumber - sumber yang mendukung

  Makanan/cairan

Gejala : nafsu makan hilang

Mual, muntah selama fase akut (peningkatan TIK)

(13)

Adanya riwayat diabetes, peningkatan lemak dalam darah.

Tanda : kesulitan menelan (gangguan pada refleks palatum dan faringeal),  obesitas (faktor resiko).

  Neurosensori

Gejala : Sinkope/pusing (sebelum serangan CSV/selama TIA). Sakit kepala akan berat dengan adanya perdarahan intraserebral atau  subarakhnoid.

Kelemahan/kesemutan/kebas (biasanya terjadi selama serangan TIA, yang  ditemukan dalam berbagai derajat pada stroke jenis yang lain), sisi yang terkena  terlihat seperti mati/ lumpuh.

Penglihatan menurun, seperti buta total, kehilangan daya lihat sebagian (kebutaan  monokuler), penglihatan ganda, (diplopia) atau gangguan yang lain

Gangguan rasa pengecapan dan penciuman.

Tanda : Status mental tingkat kesadaran : biasanya terjadi koma pada tahap awal  hemoragis, dan biasanya akan tetap sadar jika penyebabnya adalah trombosis yang bersifat alamai, gangguan tingkah laku (seperti letargi apatis menyerang), 

gangguan fungsi kognitif (seperti penurunan memory, pemecahan masalah).  Ekstremitas : kelemahan/paralysis (kontra lateral pada semua jenis stroke)  gangguan tidak sama, refleks respon melemah secara kontra laterl, pada wajah  terjadi paralysis atau parese (ipsilateral). Afasia moyorik (kesulitan untuk  mengungkapkan kata), afasia sensorik (kesulitan untuk memahami kata-kata  secara bermakna) atau afasia global (gabungan dari kedua hal di atas.) kehilangan  kemampuan untuk mengenali masuknya rangsang visual, pendengaran, taktil  (agnosia). Kehilangan kemampuan menggunakan motorik saat pasien ingin  menggerakkan (apraksia). Ukuran atau reaksi pupil tidak sama, dilatasi atau  miosis pupil ipsilateral (perdarahan/herniasi)

  Nyeri/keamanan

Gejala : Sakit kepala dengan intensitas yang berbeda-beda (karena arteri karotis  terkena)

Tanda : tingkah laku yang tidak stabil, gelisah, ketegangan pada otot/fasia.

  Pernapasan

Gejala : Meerokok (faktor resiko)

Tanda : Ketidakmampuan menelan/batuk/hambatan jalan napas. Timbulnya  pernapasan sulit dan/atau tak teratur. Suara napas terdengar/ronki (aspirasi  sekresi).

  Keamanan

Tanda : Motorik/sensorik : Masalah dengan penglihatan

(14)

untuk melihat objek dari sisi kiri (pada stroke kanan). Hilang kewaspadaan  terhadap bagian tubuh yang sakit. Tidak mampu mengenai objek, warna kata dan  wajah yang pernah dikenalinya dengan baik.

Gangguan berespon terhadap panas dan dingin/gangguan regulasi suhu tubuh.  Kesulitan dalam menelan, tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan nutrisi  sendiri (mandiri).

Gangguan dalam memutuskan, perhatian sedikit terhadap keamanan, tidak sabar/  kurang kesadaran diri (stroke kanan).

  InteraksiSosial

Tanda : Masalah bicara, ketidakmampuan untuk berkomunikasi.

  Penyuluhan/Pembelajaran

Gejala : Adanya riwayat hipertensi pada keluarga, stroke (faktor risiko) Pemakaian kontrasepsi oral.

Kecanduan alkohol (faktor risiko).

DIAGNOSA KEPERAWATAN

N O

DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Gangguan perfusi jaringan otak berhubungan dengan perdarahan  intracerebral ditandai dengan :

DS : -DO :

         tingkat kesadaran spoor comatus         TD : 150/90 mmHg

2. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan hemiparese/hemiplagia  ditandai dengan :

DS :-DO:

        Terpasang Dower cateter         Terpasang NGT

(15)

sensori ditandai dengan :

DS : pasien mengatakan tidak mengenali orang tersebut DO :

        Perubahan pola komunikasi

(16)

NURSING CARE PLAN

1. Gangguan perfusi  jaringan otak 

         tingkat kesadaran 

spoor comatus

        TD : 150/90 

mmHg

         Klien tidak 

gelisah

         Tidak ada 

keluhan nyeri kepala

         GCS 456

         Tanda-tanda 

vital 

a.       Tentukan 

factor-faktor 

b.      

Pantau tanda-tanda vital dan

a.      Kerusakan/

kemunduran  b.      Hipertensi/hipotensi 

(17)

pada kedua  lengan.

c.       Pertahankan 

keadaan tirah 

e.       Berikan obat 

antikoagulan 

c.       Aktivitas/stimulasi 

yang kontinu dapat  d.      Menurunkan 

hipoksia yang dapat  e.       Dapat digunakan 

(18)

Coumadin,  heparin,  antitrombosit,  dipiridamol.

f.       Berikan obat 

antifibrolitik  seperti asam  aminokaproid  (Amicar)

perdarahan.

f.       Penggunaan dengan 

hati-hati dalam 

2. Gangguan mobilitas fisik berhubungan 

        Terpasang Dower 

cateter

        Terpasang NGT

Setelah 

         Bertambahn

ya kekuatan 

b.      Ubah posisi 

minimal setiap

a.       Mengidentifikais 

kekuatan/kelemahan 

b.      Menurunkan resiko 

(19)

untuk  meningkatka n mobilitas

         Tidak terjadi

kontraktur 

c.       Observasi 

pada daerah  d.      Susun tujuan 

dengan pasien/ e.       Bantulah 

dengan  c.       Jaringan yang 

mengalami edema 

d.      Meningkatkan 

harapan terhadap  e.       Dapat membantu 

memulihkan  kekuatan otot dan  meningkatkan  control otot  volunteer.

f.       Mungkin diperlukan

untuk 

(20)

sesuai  indikasi.

f.       Berikan obat 

relaksan otot,  3. Gangguan persepsi 

sensori 

        Perubahan pola 

komunikasi

        Disorientasi 

terhadap waktu, 

         Klien dapat 

mempertahan

b.      Mintalah 

pasien untuk  c.       Tunjukan 

objek dan 

a.       Membantu 

menentukan daerah 

b.      Melakukan 

penilaian terhadap  adanya kerusakan  sensorik (afasia  sensorik)

c.       Melakukan 

penilaian terhadap  d.      Meningkatkan 

(21)

         Klien dapat 

menunjukkan perilaku  untuk 

mengkompen sasi terhadap  perubahan  sensori

minta pasien  untuk 

menyebutkan  nama benda  tersebut.

d.      Diskusikan 

mengenai hal-hal yang  dikenal pasien

bermakna dan  memberikan  kesempatan.

Diposkan oleh oda sunrise di 08.24

Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook

Referensi

Dokumen terkait

Pelayanan kesehatan pra usia lanjut dan usia lanjut yang dimaksudkan adalah penduduk usia 45 tahun ke atas yang mendapatkan pelayanan kesehatan sesuai dengan standar oleh

Sodium hipoklorit termasuk golongan halogen. Sodium hipoklorit merupakan bahan germisidal yang kuat dan dapat membunuh sebagaian besar bakteri. Sodium hipoklorit

Buku ini akan menemani teman-teman menulis selama 21 hari, buku yang kelak akan dibaca kembali dan menjadi catatan yang bermanfaat.. Buku ini merupakan modul menulis SiDU,

Dalam beberapa kasus, menjadi social entrepreneur dalam konteks ini mengabdi sebagai volunteer atau amil lembaga zakat belumlah menjadi pilihan utama sebagian

Pengertian Current Ratio menurut Kasmir (2014:134) menyatakan bahwa rasio lancar atau (Current Ratio) merupakan rasio untuk mengukur kemampuan perusahaan

Diagram konteks dibuat untuk menggambarkan sumber serta tujuan data yang akan di proses atau dengan kata lain diagram tersebut digunakan untuk menggambarkan

Tujuan dari penelitian ini ialah untuk mengevaluasi kesesuaian tingkat kenyamanan termal, visual, dan akustik lingkungan pabrik dengan standard yang berlaku, dan

Keberhasilan kegiatan belajar mengajar dikelas, tidak hanya tergantung dalam penguasaan bahan ajar atau penggunaan metode pembelajaran, tetapi proses pembelajaran yang baik