• Tidak ada hasil yang ditemukan

REORIENTASI KEBIJAKAN LUAR NEGERI REPUBL

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "REORIENTASI KEBIJAKAN LUAR NEGERI REPUBL"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

1 1.1Latar Belakang Penelitian

Studi Hubungan Internasional merupakan studi yang sangat kompleks,

karena studi ini mencakup banyak aspek yang terlibat di dalamnya. Studi

Hubungan Internasional dapat diartikan sebagai studi yang mempelajari segala

bentuk transaksi lintas batas baik secara politik, ekonomi, dan sosial. Hubungan

Internasional juga mempelajari hubungan diplomatis - strategis antar - negara dan

memiliki fokus pada isu-isu perang dan perdamaian, konflik, kerjasama dan

kebijakan luar negeri suatu negara.

Kebijakan luar negeri merupakan ide-ide atau tindakan yang dirancang

oleh pembuat keputusan untuk menghasilkan atau mendorong terjadinya

perubahan dalam kebijakan, sikap, atau tindakan suatu negara. Kebijakan luar

negeri tersebut meskipun ditujukan kepada negara lain, namun pada dasarnya

dibuat untuk mencapai kepentingan dalam negeri. Terdapat tiga hal penting

menurut Holsti dalam perumusan kebijakan luar negeri salah satunya yaitu

orientasi (Holsti, 1983 : 97 - 144).

Orientasi memiliki definisi sebagai sikap dan komitmen umum suatu

negara terhadap lingkungan eksternal, strategi dasar negara yang digunakan untuk

mencapai tujuan dan aspirasi baik domestik maupun eksternal (Holsti, 1987 :

(2)

saja, akan tetapi merupakan hasil dari serangkaian keputusan kumulatif yang

dibuat dalam rangka menyelaraskan tujuan, nilai, dan kepentinganya terhadap

kondisi dan karakteristik, baik itu lingkungan domestik maupun lingkungan

eksternalnya (Holsti, 1987 : 137) sehingga K.J. Holsti mendefinisikan kebijakan

luar negeri sebagai tindakan atau gagasan yang dirancang untuk memecahkan

masalah atau membuat perubahan dalam suatu lingkungan (Holsti, 1983 : 107)

Perubahan kebijakan luar negeri erat kaitanya dengan reorientasi yang

dikemukakan oleh K.J Holsti. Reorientasi merupakan sebuah istilah yang

mengacu pada adanya niat dari pembuat kebijakan untuk merestrukturisasi

hubungan negaranya dengan negara-negara lain. Perubahan tersebut akan selalu

terjadi dan menjadi acuan dari kualitas pembuat kebijakan, yaitu pemerintah.

Transaksi-transaksi dalam hubungan suatu negara selalu memiliki pola. Secara

alamiah pola-pola tersebut berubah sepanjang waktu sebagaimana pemerintah dan

perusahaan-perusahaan swasta lainya akan melakukan tindakan atau dengan kata

lain respon terhadap kondisi baru dan peluang-peluang dalam lingkungan

eksternal mereka (Holsti, 1982 : 2).

Orientasi Tiongkok dalam pemenuhan kebutuhan akan impor minyak

tertuju pada kawasan Timur Tengah dan Afrika. Hal tersebut didasarkan pada

kayanya sumber daya alam dalam hal ini minyak di kawasan tersebut. Tiongkok

tercatat sebagai sebuah negara konsumen minyak kedua terbesar di dunia.Total

konsumsi minyak Tiongkok mengalami peningkatan sejak tahun 1980 dimana

kebutuhan minyak Tiongkok berkisar 1.87 juta barel per hari menjadi 6.5 juta

(3)

mengimpor 40% minyak dari luar negeri dengan pasokan sekitar 3 juta barel per

harinya. EIA juga memprediksikan kebutuhan minyak Tiongkok akan terus

mengalami peningkatan hingga mencapai 14.2 juta barel per hari di tahun 2025

(EIA, 2005).

Gambar 1.1 : Tiongkok’s crude oil imports

Pada diagram diatas menunjukan bahwa selama ini negara-negara kawasan

Timur Tengah dan Afrika yang menjadi negara penyuplai minyak dijadikan

sebagai orientasi dalam pemenuhan kebutuhan energi bagi Tiongkok yang paling

mendominasi.Sebagian besar minyak Tiongkok, yakni lebih dari 62% dari Saudi

Arabia, Angola, Oman, Sudan, Kuwait, Libya harus disalurkan dengan cara

diangkut melalui kapal-kapal tangker. Transportasi melalui kapal ini lebih

(4)

Selama ini, Tiongkok mengimpor minyak untuk kebutuhan energinya dari

Timur Tengah dan Afrika juga memperhatikan proses distribusi melalui jalur yang

dilalui kapal tankernya. Dalam rangka mengamankan atau menjaga kiriman

minyak tersebut, Tiongkok menerapkan sebuah strategi yang dikenal dengan

String of Pearls. Istilah String of Pearls sendiri merupakan sebuah istilah yang

diberikan oleh tim ahli dari perusahaan konsultan Booz Allen yang berbasis di

Amerika Serikat untuk menyebut strategi yang dilakukan oleh Tiongkok di

sepanjang SLOC atau Sea lines of Communication. Jalur String of Pearls ini

merupakan jalur pengiriman utama untuk kegiatan impor dan ekspor minyak

Tiongkok dimana jalur ini menghubungkan jalur laut mulai dari Teluk

ArabSamudera HindiaSelat Malaka Laut Tiongkok Selatan. Menurut

Tiongkok sendiri, jalur ini merupakan jalur paling utama untuk kegiatan

perdagangan mereka dikarenakan jalur tersebut merupakan jalur tercepat yang

menghubungkan Tiongkok dengan negara-negara pengekspor energi yang

berguna dalam pemenuhan kebutuhan industri dalam negeri Tiongkok (Erickson

dan Goldstein, 2009 : 45) .

Alasan lain terkait strategi ini adalah berkaitan dengan keamanan dalam

distribusi minyak mentah, dimana menurut Tiongkok sendiri kondisi keamanan

wilayah-wilayah yang menjadi pemasok energi tersebut tidak stabil. Tiongkok

memiliki kekhawatiran akan jalur perdagangan bagi kapal-kapal dagangnya yang

membawa pasokan minyak domestik, dimana terdapat sejumlah lokasi

penyempitan bagi rute perdagangan ini dianggap rawan akan ancaman

(5)

Kawasan-kawasan tersebut juga dipandang sebagai kawasan dengan sejumlah

permasalahan keamanan seperti pemerintahan yang rentan dengan kudeta,

pemberontakan, perompakan dan saling tumpang tindihnya kepentingan negara

importir lainya ( Chen, 2010 ).

Permasalahan yang dipaparkan pada paragraf sebelumnya, dianggap

sebagai suatu hambatan dalam pemenuhan kebutuhan energi dalam negeri.

Respon Tiongkok dalam menghadapi hambatan tersebut dimulai dengan melihat

kawasan Amerika Latin sebagai kawasan paling berpotensi untuk memenuhi

kebutuhan energinya dalam hal ini minyak selain Timur Tengah dan Afrika.

Upaya memenuhi kebutuhan energinya, pada tahun 2010, 13 kontrak besar baru

dibuat oleh perusahaan minyak Tiongkok di Amerika Latin, termasuk merger dan

akuisisi dengan perusahaan - perusahaan minyak internasional seperti Repsol, Pan

American Energy dan Perminyakan Oksidental. Tiongkok dan Amerika Latin

secara bertahap memperkuat kerja sama energi mereka dalam perdagangan

minyak mentah, investasi, pembelian peralatan teknis dan pelayanan, merger dan

akuisisi. Negara-negara mitra yang bekerja sama dengan Cina di Amerika Latin di

antaranya Venezuela, Brazil, Ekuador, Meksiko, Kuba, Kosta Rika, Peru,

Argentina dan Kolombia (Sun Hongbo, 2011 ).

Pada akhir 2012, NOCs Cina telah berhasil mendapatkan kesepakatan

bilateral oil-for-loan dengan beberapa negara, yang berjumlah sekitar $108

milyar. Cina memberikan pinjaman kepada negara-negara yang membutuhkan

modal untuk mengekstrak cadangan energi terutama minyak bumi dan

(6)

ditetapkan dengan Venezuela, Brazil, Ekuador, Bolivia, Peru dan negara Amerika

Latin lainya (EIA, 2014).

Dengan rata-rata pertumbuhan ekonomi 10% pertahun, Tiongkok menjadi

negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di dunia dan konsumen 50%

minyak, gas, dan sumber daya alam global. Bahkan, 12% pertumbuhan ekonomi

dunia berasal dari pertumbuhan ekonomi Tiongkok, sehingga Tiongkok diprediksi

menjadi kekuatan ekonomi terbesar di dunia pada tahun 2020-2050. Hal tersebut

didukung dengan posisi Tiongkok sebagai sebuah negara dengan jumlah

penduduk terbesar di dunia dengan total penduduk lebih dari satu milyar jiwa,

jumlah angkatan bersenjata terbesar di dunia yaitu 2,5 juta personil, memiliki

senjata nuklir, dan anggaran belanja militer diatas 10% setiap tahun dalam

beberapa tahun terakhir. Pertumbuhan ekonomi Tiongkok ini berbanding lurus

dengan pertumbuhan konsumsi energinya (Shwe Gas Movement, 2009 : 8).

Hal tersebut dilatarbelakangi oleh kebijakan Deng Xiao Ping, pemimpin

reformis Tiongkok tahun 1978 yang melakukan modernisasi Tiongkok dengan

membuka seluas-luasnya Tiongkok sebagai aktor ekonomi internasional. Dengan

memanfaatkan sumber daya manusia dan sumber daya alam yang melimpah maka

Tiongkok menjadi tujuan investasi industri negara besar seperti Amerika Serikat,

negara-negara Eropa Barat dan Jepang ( Marbun, 2007 : 81). Namun, Tiongkok

kini bersaing dengan negara-negara tersebut dalam mengejar akses sumber energi

dunia. Hal ini dikarenakan seluruh strategi modernisasi Tiongkok berlandaskan

(7)

diimpor. Bahkan, Tiongkok akhirnya menjadi negara importir bersih minyak sejak

tahun 1993 ( EIA, 2005 ).

Pertumbuhan konsumsi energi Tiongkok yang cepat secara garis besar

dikarenakan oleh beberapa hal di antaranya: (a) pertumbuhan ekonomi yang

cepat, (b) Industrialisasi yang cepat, (c) urbanisasi yang cepat, (d) pertumbuhan

ekspor yang cepat ( Wesley, 2007 : 48) . Tiongkok menyadari energi, khususnya

minyak merupakan faktor utama penggerak perekonomianya terutama sektor

industri dan transportasi maka Tiongkok pun melakukan berbagai kebijakan untuk

memenuhi kebutuhan energinya. Tiongkok pun menyadari bahwa minyak menjadi

sumber daya alam yang terbatas sehingga Tiongkok mencari sumber daya energi

ini melalui ekspansi global. Maka, dapat diketahui bahwa kepentingan energi

Tiongkok yaitu memastikan kebutuhan minyak tidak menahan pertumbuhan

ekonomi dan terjaminya akses energi dalam menghindari gejolak sosial dan

mencapai kesejahteraan masyarakat Tiongkok ( Hongbo, 2011 ).

Semenjak menjadi importer minyak tahun 1993, ketergantungan minyak

Tiongkok selalu mengalami trends kenaikan mulai dari 6,3% pada 1993 menjadi

30% pada tahun 2000 dan 46% pada tahun 2004 (Wesley,2007: 48). Menurut

EIA, konsumsi energi Tiongkok diprediksi mencapai 14 mbpd dimana angka

tersebut lebih besar 11% dari Amerika Serikat ( EIA, 2005 ).

Peningkatan kebutuhan akan minyak tersebut dibarengi dengan

pertumbuhan ekonomi Tiongkok yang mengalami peningkatan yang signifikan.

(8)

sekiranya akan dipergunakan untuk pembangunan dan pertumbuhan ekonomi

negaranya sehingga Tiongkok mengimpor kebutuhan minyaknya dengan tujuan

untuk mempertahankan kestabilan pertumbuhan ekonominya. Tiongkok

mengimpor minyak untuk kebutuhan energinya dari Timur Tengah dan Afrika

(EIA, 2005).

Ketergantungan Tiongkok terhadap impor minyak bumi dari Timur

Tengah membawa kerentanan dan kekhawatiran tersendiri menginggat adanya

politik yang tidak stabil serta dominasi Amerika Serikat di kawasan yang menjadi

sumber impor minyak Tiongkok ini terutama setelah peristiwa 9/11 (Lai, 2007 :

525). Kerentanan selanjutnya berkaitan dengan distribusi minyak yang dikirim ke

Tiongkok melalui Selat Hormuz dan Selat Malaka. Wilayah tersebut merupakan

wilayah rawan pembajakan. Suplai minyak bumi Tiongkok dari negara-negara di

Afrika juga memiliki tantangan tersendiri. Hal ini dikarenakan negara-negara

seperti Angola dan Sudan baru saja terlepas dari perang sipil yang

menghancurkan infrastruktur-infrastruktur di negara tersebut ( Bustelo, 2005 : 3 ).

Semakin tidak menentunya kondisi politik wilayah pemasok energi dan

rentanya keamanan rute perdagangan minyak beresiko tersendatnya pasokan

energi nasional. Hal ini dapat menghambat pertumbuhan ekonomi, tersendatnya

sejumlah rencana pembangunan, terciptanya pengangguran dan tumbuh keresahan

di masyarakat ini menandakan pentingnya negara seperti Tiongkok untuk

mendapatkan akses energi yang aman, stabil dan berkelanjutan menanggapi

(9)

kekuatannya. Tiongkok menjadikan energi sebagai prioritas agenda pemenuhan

kebutuhan domestik (Holsti, 1987 : 491-492).

Hal tersebut dapat dikatakan sebagai sebuah strategi yang didasarkan pada

pertimbangan yang dapat dilakukan dengan berbagai cara tergantung pendekatan

yang dilakukan masing-masing negara. Namun, hal yang sangat penting adalah

kepentingan nasional menjadi sesuatu yang tidak dapat terbantahkan lagi bagi

semua negara. Dalam upaya mencapai kepentingan nasional ini pula banyak

negara yang rela melakukan berbagai cara apapun demi memperoleh apa yang

diinginkan dan apa yang menjadi tujuan strategis mereka (Holsti, 1987 : 32).

Minyak menjadi komoditas energi strategis dalam pertumbuhan ekonomi

dan menjadi faktor ketidakseimbangan politik global karena kelangkaan dan

diperebutkan oleh berbagai negara. Harga minyak yang fluktuatif bahkan pada

tahun 2008 mencapai 120 dollar per barrel terjadi karena kenaikan permintaan,

khususnya di negara-negara berkembang Asia seperti Tiongkok yang diprediksi

mengalami peningkatan konsumsi energi 156% di tahun 2025. Selain itu, hal

tersebut dipicu juga oleh ketidakstabilan politik dan keamanan negara penyuplai

minyak bagi Tiongkok ( EIA, 2012 ). Ini menjadi hal yang sulit dihindari karena

tidak ada yang dapat menjamin stabilitas suatu negara. Tiongkok menganggap

akses energi menentukan keberlangsungan hidup negara di dalam memenuhi

kebutuhannya. Negara sangat memerlukan energi untuk menjalankan roda

perekonomianya terutama bidang industri yang mengalami trends kenaikan

(10)

Pada bulan November 2003, Pemerintah Tiongkok mengeluarkan

garis-garis besar tentang kebijakan energi hingga tahun 2020, dimana di dalamnya

tercantum tujuanya untuk mengamankan lebih banyak pemasok di luar negeri

(Engardio, 2008 : 382). Sehingga apa pun rintangan geopolitis yang menghadang

di jalan, diplomasi energi akan bergerak terus melewatinya (Engardio, 2008 :

390). Diplomasi energi Tiongkok yang sangat mengedepankan soft power

menyebabkan kebijakan energi Tiongkok di luar negeri dipenuhi dengan berbagai

kebijakan yang menyertainya, dengan faktor yang mempengaruhi yaitu tujuan dan

orientasi internasional. Kerjasama ekonomi, kerjasama infrastruktur dan berbagai

macam kerjasama lainya merupakan contoh kebijakan yang menyertai kebijakan

energi Tiongkok di luar negeri dilakukan melalui kerjasama dengan berbagai

negara (Holsti, 1992 : 10).

Kerjasama dengan berbagai negara dilakukan dalam sektor eksploitasi dan

distribusi energi. Adapun tiga kawasan sumber energi strategis Tiongkok yaitu

Asia Tengah dan Rusia, Timur Tengah dan Afrika Utara (Wesley, 2007: 56).

Adanya kondisi politik yang cenderung tidak stabil dan rute perjalanan impor

yang panjang maka Tiongkok pun semakin memperhatikan kawasan lain di luar

kawasan utama sebagai negara pengimpor minyak bagi Tiongkok. Hal tersebut

bisa kita amati dari adanya kerentanan transportasi minyak bumi yang melewati

daerah rawan pembajakan di Samudra Hindia sedangkan sebanyak lebih dari 75%

suplai minyak bumi Tiongkok melewati wilayah ini. Hal tersebut menjadi salah

satu faktor bagi Tiongkok untuk memperhatikan kawasan lain yang lebih stabil

(11)

Beberapa penelitian terdahulu seperti “Analisis Strategi Tiongkok Dalam

Pemenuhan Keamanan Energi Domestik (2004-2013)” karya dari Christine H.

Radityas memaparkan mengenai strategi keamanan energi Tiongkok dalam

memenuhi kebutuhan domestiknya. Pertumbuhan ekonomi yang pesat membuat

konsumsi energi khususnya minyak bumi negara ini semakin meningkat. Akan

tetapi hal ini tidak diikuti dengan kemampuan Tiongkok untuk memenuhi

konsumsi minyak bumi secara mandiri dan membuat negara ini memiliki

ketergantungan yang tinggi akan impor minyak bumi. Disaat yang bersamaan,

impor minyak bumi Tiongkok dari Timur Tengah dan Afrika memiliki beberapa

tantangan seperti dominasi Amerika Serikat di Timur Tengah dan perang saudara

di Afrika. Oleh karena itu, dalam tulisan Christine ini dijelaskan bagaimana

strategi-strategi keamanan energi yang dilakukan Tiongkok untuk menjamin

ketersediaan suplai energinya agar perekonomian nasional dapat terus berjalan.

Penelitian selanjutnya yang berjudul A Model for Energy Cooperation

between Tiongkok and Latin America karya Sun Hongbo pada tahun 2013

memaparkan kawasan Amerika Latin sebagai mitra strategis Tiongkok dalam

melakukan kerjasama dengan minyak sebagai prioritasnya. Tiongkok memiliki

tujuan utama untuk meningkatkan ketahanan energi secara maksimal dan

mengoptimalkan sumber-sumber impor minyak dari Amerika Latin .

Mengedepankan diplomasi sebagai instrumen dalam kebijakanya yang kemudian

diimplementasikan dalam sebuah bentuk kerjasama dimana pemerintah Tiongkok

dan perusahaan - perusahaan minyak yang mencoba untuk memaksimalkan

(12)

Penelitian terdahulu lainya yang berjudul “ Chinese Foreign Policy in

Transition : Trends and Implications” karya Baohui Zhang memaparkan bahwa

kebijakan luar negeri Tiongkok dalam masa transisi dan bertransformasi yang

disesuaikan dengan kepentingan nasionalnya yang didasarkan pada faktor-faktor

yang mempengaruhi perubahan tersebut. Penelitian ini memaparkan perubahan

kebijakan luar negeri Tiongkok dimana berorientasi pada kemitraan penuh

dengan Amerika Latin.

Pemaparan adanya hambatan pasokan impor minyak yang disebabkan

faktor politik, geografis dan keamanan dari Afrika dan Timur – Tengah. Zhang

dalam penelitianya juga memaparkan strategi keamanan ekonomi global yang

bertujuan untuk memberikan kontribusi terhadap Tiongkok dalam pemenuhan

kebutuhan dalam negeri terutama industri. Perubahan Kebijakan Tiongkok ini

dilakukan dengan cara lebih mengedepankan diplomasi dalam pencapaian

kepentingan ekonomi yang ditujukan langsung pada negara-negara Amerika Latin

(Zhang, 2010).

Penelitian terdahulu lainya seperti Fay Susan Kelly dan Sigve Reierstan

Lelang dengan penelitianya yang berjudul "Oil actually: Chinese and US Energy

Security Policies in the Caspian Region” (Kelly dan Lelang, 2007) dan juga

Brandon Valeriano yang berjudul "Complex Interstate Rivals" (Valeriano, 2011)

yang sama-sama melakukan penelitian terkait Tesisnya mengenai kebijakan dan

keamanan energi yang berfokus pada persaingan antara dua negara besar yang

sama-sama sebagai importir minyak terbesar di dunia yaitu Amerika Serikat dan

(13)

strategi yang dilakukan untuk pemenuhan kebutuhan energi dalam negerinya demi

keberlangsungan perekonomian negara masing-masing. Menjalin kerjasama

dengan negara-negara utama pengimpor minyak bagi kebutuhan Amerika dan

Tiongkok.

Berdasarkan pada sejumlah penelitian terdahulu yang dipaparkan di atas,

umumnya penelitian terdahulu lebih memaparkan mengenai faktor – faktor yang

melatarbelakangi dan kerjasama yang dilakukan dalam upaya pemenuhan

kebutuhan akan energi, sehingga memunculkan peluang bagi peneliti untuk

meneliti hal yang berkaitan dengan apa yang dilakukan Tiongkok ke Amerika

Latin. Sebelum ke Amerika Latin, jika berdasar kepada Teori Reorientasi yang

dikemukakan oleh Holsti, mengandalkan Timur Tengah sebagai kawasan utama

impor minyak bagi Tiongkok yang telah dilakukan selama ini, fenomena seperti

itu dimungkinkan masuk ke tipologi ketergantungan (dependence), setelah ada

perubahan orientasi ke Amerika Latin, itu dimungkinkan dapat dikategorikan ke

dalam tipologi diversifikasi (diversification).

Negara-negara yang menjadi mitra strategis Tiongkok dalam pemenuhan

kebutuhan energinya adalah negara-negara berkembang di berbagai kawasan.

Negara-negara tersebut melakukan kerjasama dengan Tiongkok diiringi dengan

berbagai kebijakan lainya terutama kerjasama di bidang ekonomi. Pendekatan

ekonomi menjadi salah satu pilihan efektif untuk mendapatkan jaminan akses

energi. Pada umumnya negara tersebut menyambut baik kerjasama ekonomi

(14)

mengikuti jejak Tiongkok dalam mencapai kesuksesan di bidang ekonomi. Hal ini

juga memudahkan Tiongkok dalam melakukan ekspansi minyak secara global.

Kebutuhan energi Tiongkok terutama minyak yang merupakan kebutuhan

utama dalam menjamin keberlangsungan perekonomian Tiongkok berada dalam

kelangkaan bahkan krisis karena berbagai ancaman keamanan energi. Krisis

minyak pada tahun 1973-1974 menjadi salah satu contoh nyata dimana negara

penyuplai minyak di kawasan Timur Tengah mengembargo minyak sehingga

harga minyak melonjak tinggi, kemudian maraknya pembajakan tanker minyak

Tiongkok dalam pelayaran internasional yang menghambat pasokan minyak, serta

perebutan sumber daya minyak antara Tiongkok, Amerika Serikat, Eropa dan

negara Asia lainya.

Berdasarkan pemaparan latar belakang di atas, berbagai kawasan di

seluruh dunia mendapat perhatian Tiongkok sebagai sumber daya energinya.

Kawasan tersebut tidak hanya mengandalkan tiga kawasan sumber energi strategis

seperti yang telah dilakukan selama ini akan tetapi Tiongkok juga memunculkan

pemain baru dalam bidang energi seperti kawasan Amerika Latin. Amerika Latin

dianggap memiliki sumber daya energi yang cukup besar dan dianggap pula

sebagai salah satu kawasan dengan sumber energi sebagai penggerak

pertumbuhan ekonomi Tiongkok akan terjamin persediannya.

Berdasarkan permasalahan diatas maka peneliti tertarik melakukan

(15)

terkait potensi krisis energi yang dihadapi Tiongkok, dalam penelitian yang

berjudul:

REORIENTASI KEBIJAKAN LUAR NEGERI REPUBLIK RAKYAT

TIONGKOK DARI TIMUR TENGAH DAN AFRIKA KE AMERIKA

LATIN DALAM KONTEKS PEMENUHAN ENERGI PERIODE TAHUN

2008 -2013

1.2. Rumusan Masalah

Dalam penelitian ini, peneliti merumuskan masalah yaitu:

“Bagaimana Reorientasi dari Ketergantungan ke Diversifikasi dalam Kebijakan

Luar Negeri Republik Rakyat Tiongkok dalam Pemenuhan Kebutuhan Energi dari

Timur Tengah dan Afrika ke Amerika Latin pada Periode 2008-2013?”

1.3. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menggambarkan perubahan

orientasi kebijakan luar negeri Tiongkok dari kawasan Timur Tengah ke kawasan

Amerika Latin dalam rangka pemenuhan energi pada tahun 2008-2013 dalam

menghadapi potensi krisis energi akibat industrialisasi yang telah dilakukan dan

mengenali reorientasi serta menggambarkan faktor-faktor apa saja yang menjadi

pertimbangan Tiongkok melakukan reorientasi kebijakan energi dari kawasan

(16)

1.4. Manfaat Penelitian

1.4.1. Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam

kemajuan ilmu pengetahuan serta dapat menjadi bahan kajian untuk

memperluas wawasan tentang isu hubungan internasional dan politik yang

dikaji melalui sejumlah teori yang relevan dengan objek penelitian.

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangsi bagi bidang kaji

HI dalam subject matters yang dimana salah satunya adalah Kebijakan

Luar Negeri.

1.4.2. Manfaat Praktis

Penelitian ini diharapkan dapat digunakan oleh individu atau

peneliti lainya serta lembaga sebagai sumber data maupun bahan

pertimbangan dalam penelitian berikutnya. Selain itu, diharapkan pula

agar dapat menambah wawasan dan pengetahuan pembaca serta

memberikan sumbangan pemikiran dan pertimbangan bagi praktisi

mengenai topik yang berkaitan dengan kebijakan luar negeri yang

dilakukan Tiongkok dalam bidang energi dengan Teori Reorientasi dan

Gambar

Gambar 1.1 : Tiongkok’s crude oil imports

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini membahas tentang peran kelompok lobi Israel yang mendominasi dalam kebijakan luar negeri AS ke Timur Tengah pada masa pemerintahan George W.. Metode yang

0 PROSES PENGAMBILAN KEBIJAKAN LUAR NEGERI AMERIKA SERIKAT TERHADAP MEKSIKO TERKAIT DENGAN EMBARGO TUNA PADA TAHUN

Walaupun demikian, ada satu perbedaan yang jelas antara penempatan di Kawasan Asia Pasifik dan Amerika dengan Kawasan Timur Tengah dan Afrika, dimana penempatan pada kawasan

Hasil temuan dalam tulisan ini terbagi ke dalam 3 alasan, yaitu (1) kepentingan Tiongkok untuk mengamankan jalur pasokan energi ke Timur Tengah dan Asia Tengah lewat

Dengan menggunakan Teori Peran dan Kebijakan Luar Negeri dari Holsti, kebijakan atau politik luar negeri Tiongkok diperoleh melalui pengamatan penulis

Pengaruh reformasi demokrasi ini terlihat dalam beberapa kebijakan luar negeri Maroko di Afrika Utara selama tahun 2011-2013, seperti kepemimpinan

Disisi lain, Kongres memiliki peran penting dalam pembuatan kebijakan politik luar negeri dimana Kongres dapat membatalkan kebijakan politik luar negeri Amerika

Kebijakan Balancing dan Engaging Australia terhadap Meningkatnya Pengaruh Tiongkok di Kawasan Indo- Pasifik Pembahasan dalam bab ini akan berfokus pada implementasi kebijakan luar