• Tidak ada hasil yang ditemukan

Meneropong LGBTIQ Apa yang Teologi Iman

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Meneropong LGBTIQ Apa yang Teologi Iman"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

Suatu Kritik Ideologi

Dr. Abraham Silo Wilar, M.Th, M.A2

Gereja?

“Orang-normal” saja banyak yang tidak dipedulikan gereja, bagaimana lagi dengan LGBTIQ? (Bevy Joseph)

Pendahuluan

Topik ini adalah topik panas. Tepatnya, bagi saya, topik ini adalah suatu pencobaan! Mengapa demikian? Karena apapun yang disampaikan di tulisan ini, saya merasa gagasan-gagasan di sini akan menuai pro-kontra. Bukan hanya di sini, tetapi juga di gereja di mana saya berada, pro-kontra itu akan berlanjut di gereja.

Sebelum melangkah lebih jauh. Saya ingin mengajak kita semua untuk mencermati beberapa foto di bawah ini:

Gambar 1 –diambil oleh Nicole Cambré

Sumber: http://www.dailymail.co.uk/news/article-3539525/Gay-pride-Two-male-lions-spotted-mating-Botswana-safari-park-ignoring-pregnant-lioness.html Gambar 2

                                                                                                               

1  Disampaikan  di  Acara  PWKI,  Makassar,  28  Mei  2016  

(2)

Sumber: http://listverse.com/2013/04/20/10-animals-that-practice-homosexuality/

Terlepas dari label apapun yang akan saya terima, saya ingin memulai makalah ini dengan pro-kontra. Itu dilakukan bukan karena saya ingin mengulang tetapi karena saya ingin bertolak dari sesuatu yang historis. Selanjutnya, dari yang historis itu, saya ingin menyoroti bagaimana teologi atau iman Kristen berfungsi membangun pro-kontra tersebut dengan argumentasi masing-masing –dan karena itu, kemudian, teologi menjadi ideologi. Setelah melihat bagaimana teologi di-fungsikan untuk pro-kontra, saya ingin mengulas fenomena teologi yang mendukung pro-kontra sebagai pluralitas teologi yang di balik pluralitas tersebut ada pluralitas ideologi. A. Pro-Kontra LGBTIQ

Masing-masing grup telah mengeluarkan publikasi yang menyuarakan

pandangan/posisi grup atas LGBTIQ. Dengan melihat publikasi yang ada, posisi dari setiap pandangan disusun berdasarkan suatu metodologi tertentu di dalam membaca “ayat-ayat homoseksual”. Di samping metodologi di dalam membaca, perlu dicatat di sini bahwa setiap pandangan (baik pro ataupun kontra) dapat dilihat sebagai suatu ideologi dari pembaca; sehingga, ayat-ayat homoseksual yang didekati dengan metodologi tertentu (apapun itu bentuk metodologi yang dipilih dan digunakan) tidak hanya berbicara soal dimensi metodologis tetapi dimensi ideologi pembaca.

David J. A. Clines mengulas hal ideologi dari para pembaca dan para penulis Kitab Suci Yahudi di dalam bukunya “Interested Parties: The Ideology of Writers and Readers of the Hebrew Bible” (1995).3 Di buku tersebut, Clines mengambil beberapa teks dari Kitab Suci Yahudi dan menggunakan ideology criticism sebagai metodologi untuk mencari dan menunjukkan ideologi dari teks-teks tersebut, ideologi dari para                                                                                                                

(3)

penulis teks-teks di Kitab Suci tersebut dan ideologi dari para pembaca teks-teks tersebut. Singkatnya, teks-teks di Kitab Suci Yahudi sudah memiliki ideologi-nya sendiri, dan para pembaca yang membaca teks-teks tersebut juga memiliki ideologi mereka sendiri. Istilah ideologi, menurut Clines, memiliki denotasi dan konotasi. Baik denotasi ataupun konotasi memiliki beberapa pengertian tentang ideologi. Dengan melihat denotasi dan konotasi dari ideologi, Clines tidak memandang ideologi sebagai hal negatif, yaitu: 1. Ide yang dibagi bersama; 2. Ide yang utamanya di-asumsikan daripada di-argumentasikan; dan seterusnya.4

Di tempat lain, Walter Brueggemann misalnya memandang ideologi sebagai “kepentingan-yang-diteruskan sebagai kebenaran” (1988).5 Artinya; ideologi adalah suatu interest yang diterima sebagai kebenaran, dan kebenaran itu diterima secara

taken for granted. Dengan melihat pengertian ideologi dari Clines dan Brueggemann, kita dapat memahami bahwa “ideologi” bersifat komunal dan personal dan dapat dikatakan bahwa ideologi sejajar dengan “keyakinan atau faith” dari suatu pandangan. Dengan demikian, ada ideologi atau interest yang terkandung di masing-masing pihak, baik pro ataupun kontra LGBTIQ.

Lebih lanjut, Gust A. Yep, Karen E. Lovaas, dan John Elia di dalam artikel yang ditulis bersama menyatakan bahwa ideologi me-refleksikan dan me-reproduksi relasi kuasa di dalam masyarakat.6 Oleh karena itu, pro-kontra di seputar LGBTIQ tidak hanya sekedar soal penerimaan dan penolakan tetapi berhubungan dengan konstruksi relasi-kuasa; sehingga, pada titik ini, pro-kontra memiliki dimensi kuasa di samping dimensi ideologi.

Bertolak dari kerangka teoritis tentang ideologi yang ada di seputar pro-kontra, ada beberapa pertanyaan yang menarik untuk diajukan, yaitu: Mengapa teologi (menjadi) suatu ideologi? Apa yang sebenarnya sedang iman Kristen hadapi ketika berhadapan dengan isu LGBTIQ? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut saya ingin meninjau pihak pro dan kontra, khususnya argumen dan ideologi dari masing-masing pihak serta pluralitas teologi yang menjadi realitas tersendiri di isu LGBTIQ.

                                                                                                                4  Ibid.,  10.  

(4)

1. Kontra LGBTIQ

Robert K. Gnuse menyebutkan sejumlah ayat-ayat homoseksual yang sering dikutip untuk mengutuk homoseksual, yaitu:7

Noah and Ham (Genesis 9:20-27); Sodom and Gomorrah (Genesis 19:1-11); Leviticus laws condemning same-sex relationships (Leviticus 18:22, 20:13); two words in two Second Testament vice lists (1 Corinthians 6:9–10; 1 Timothy 1:10), and Paul’s letter to the Romans (Romans 1:26-27).

Di samping ayat-ayat di atas, narasi penciptaan manusia, yaitu pria dan wanita, sering dijadikan rujukan untuk menolak orang-orang LGBTIQ, termasuk pernikahan

sesama-jenis. Sejalan dengan penolakan terhadap pernikahan sesama-jenis, The United Methodist Church pada bagian Social Principles and Creeds menyatakan bahwa definisi pernikahan adalah persatuan seorang pria dan perempuan.8 Sejalan dengan Sinode Gereja Metodis di atas, GPIB pada Akta Gereja butir B.5.2.3 menyatakan bahwa Homoseksual tidak dapat dibenarkan. Roma 1:27; 1 Timotius 1:10-11 dijadikan landasan untuk tidak-membenarkan homoseksualitas.9

Innocent Himbaza di dalam tulisannya di the Bible on the Question of Homosexuality, memberi kesan netral terhadap LGBTIQ. Itu ia tunjukkan ketika membahas kisah Sodom dan Gomora di Kejadian 19, dan Gibeah di Hakim-Hakim 19:11-25 dan pembahasannya memberi indikasi bahwa homoseksualitas sudah ada di masa kitab-kitab tersebut, tetapi homoseksualitas yang ada pada masa kini berbeda dengan homoseksualitas yang ada di kedua teks itu. Namun demikian, kesan netral tersebut seolah lenyap ketika tulisannya memberikan evaluasi negatif terhadap homoseksualitas.10 Buku ini mengangkat kisah-kisah di Perjanjian Lama, seperti Sodom dan Gomora, Gibeah (Hakim-Hakim 19:11-25) dan Daud dan Yonathan, dan                                                                                                                                                                                                                                                                                                                               6  Gust  A.  Yep,  Karen  E.  Lovaas,  and  John  P.  Elia,  “A  Critical  Appraisal  of  

Assimilationist  and  Radical  Ideologies  Underlying  Same-­‐Sex  Marriage  in  LGBT   Communities  in  the  United  States”.  Journal  of  Homosexuality,  45:1,  48.  

7  Robert  K.  Gnuse,  “Seven  Gay  Texts:  Seven  Passages  Used  to  Condemn   Homosexuality”.  Biblical  Theology  Bulletin  Volume  45  Number  2  (2015),  68.     8  www.umc.org/what-­‐we-­‐believe/the-­‐nurturing-­‐community#human-­‐sexuality.   Diakses  Mei  25,  2016.      

9  Gereja  Protestan  di  Indonesia  bagian  Barat,  Pemahaman  Iman  &  Akta  Gereja   (Buku  I).  Jakarta:  2015,  239-­‐240.    

(5)

juga membahas dua tokoh di Perjanjian Baru, yaitu Paulus dari Tarsus dan Yesus di dalam kaitannya dengan homoseksualitas

1.1. Argumen yang digunakan oleh Pihak Kontra 1.1.1. Alkitabiah

Argumentasi semacam ini digunakan karena Alkitab menuliskan demikian maka apa yang tercetak di Alkitab harus ditaati. Di sini, setiap kata dari Alkitab dan format penulisan dilihat sebagai Firman Allah as it is sehingga pembaca sudah merasa cukup membaca apa yang tertulis dan mengikuti yang tertulis tanpa perlu melihat latar historis dari setiap ayat-ayat homoseksual

1.1.2. Allah berkata demikian

Argumentasi ini berhubungan dengan poin 2.1.1. Karena seluruh isi Alkitab, termasuk setiap kata dan format penulisan dipahami sebagai Firman Allah, maka Allah yang ada di setiap kata dan format itu merupakan otoritas tertinggi untuk menilai homoseksual.

1.2. Ideologi dari Pihak Kontra: Bibliocracy

Dengan melihat argumentasi yang diajukan oleh kelompok ini, yaitu: otoritas Alkitab dan Allah, maka apa yang mereka sampaikan merefleksikan suatu ideologi “bibliocracy”, yaitu, suatu bentuk relasi-kuasa yang berpusatkan kepada Alkitab. Di dalam ideologi ini, Allah hanya dikenal melalui tulisan-tulisan yang sudah ada di Alkitab; Allah tidak eksis di luar tulisan-tulisan itu.

2. Pro LGBTIQ

Di kelompok ini, ayat-ayat homoseksual yang dikutip untuk mengutuk homoseksual dikaji ulang secara berbeda. Hasil dari kajian-ulang tersebut adalah suatu perspektif yang sungguh-sungguh berbeda dari perspektif pihak Pro.

2.1. Argumen yang digunakan oleh Pihak Pro

(6)

Kanaan –dan Kanaan yang disebut di pasal 10 ini sudah disebutkan di Kejadian 9:25 yang di dalam ayat tersebut Kanaan secara khusus sudah di-kutuk. Dengan

menempuh cara ini, Carden ingin menunjukkan bahwa kisah Sodom dan Gomora merupakan suatu “disaster story”, kisah bencana. Untuk menguatkan genre ini, Carden menelusuri mitologi Yahudi tentang kisah bencana di sejumlah kota dari masyarakat Yahudi, dan menemukan bahwa kota-kota dihukum oleh Yang Ilahi sebagai bentuk hukuman Tuhan karena perilaku-perilaku tidak pantas terhadap orang-asing, sang liyan.12 Dengan kata-lain, kutukan Tuhan atas Sodom dan Gomorah pertama-tama disebabkan karena kota-kota ini telah menjadi pusat ketidak-adilan dan penindasan, bukan karena homoseksualitas. Hal tersebut terlihat dari usaha

pemerkosaan orang-asing. Tuhan menghukum kota-kota ini adalah ekspresi dari usaha Tuhan untuk menghilangkan ketidak-adilan dan penindasan.13

2.1.2. Metodologi “Lintas-Ilmu”: Perspektif non-Biblis Memahami homoseksualitas tidak cukup hanya menggunakan ayat-ayat homoseksualitas di Alkitab. Realitas ini disadari oleh banyak ilmuwan, termasuk ilmuwan Kristen. Contoh, Aldo Poiani melalui bukunya Animal Homosexuality

mengajak audiens (baca: para pembaca bukunya) untuk melihat homoseksualitas dalam bingkai biologi (baca: genetik), psikologi, dan sosial agar homoseksualitas sungguh dapat dipahami lebih mendalam.14 Di bukunya Poiani menyatakan bahwa homoseksualitas bukan suatu kondisi medis (baca: sakit terkait organ tubuh, misalnya, kulit ter-silet lalu bisa disembuhkan) tetapi suatu fenomena, yang saya istilahkan sebagai, natural organism. Fenomena ini terjadi di antara animals, termasuk manusia (bandingkan: ungkapan rational animal untuk menyebut manusia sebagai binatang yang rasional dan zoology philosophy of Elias Canetti). Lebih lanjut, Poiani menyebutkan ada banyak gen yang berkaitan dengan homoseksualitas.15 Misalnya, gen yang berkaitan dengan “manusia kembar” merupakan pintu masuk bagi para ilmuwan gen untuk mempelajari homoseksualitas.16 Singkat cerita, Poiani

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              11  Michael  Carden,  Sodomy:  A  History  of  a  Christian  Biblical  Myth.  London:  

Equinox,  2004.   12  Ibid.,  15   13  Ibid.,  39.    

14  Aldo  Poiani,  Animal  Homosexuality:  A  Biosocial  Perspective.  Cambridge:   Cambridge  University  Press,  2010.  

(7)

memaparkan banyak teori, dan metodologi yang berkembang di isu homoseksualitas. Sebagai tambahan, Jacques Arènes, seorang Kristen-Perancis yang sekaligus ilmuwan Psikoanalisa, juga memandang penting untuk menggunakan Psikoanalisa sebagai ilmu untuk memahami homoseksualitas. Di dalam ilmu ini, ada tiga tipe homoseksualitas, yaitu: le type névrotique, le type pervers, dan le type narcissique.17

Bertolak dari tulisan Poiani dan Arène menunjukan bahwa kajian lintas-ilmu sangat menolong untuk menyingkapkan hal- hal yang tidak tersingkapkan oleh ayat-ayat Alkitab ketika berbicara tentang homoseksualitas.

2.2. Ideologi dari Pihak Pro

Dengan melihat argumentasi yang diajukan oleh kelompok ini, yaitu: membaca-ulang ayat-ayat homoseksual, maka apa yang disampaikan oleh kelompok ini

mencerminkan suatu “ideologi seksual” –meminjam istilah Yep, Lovaas dan Elia. Di dalam ideologi ini, terdapat dua kelompok, yaitu: kelompok asimilasionis, dan kelompok radikal. Masing-masing muncul dan mengembangkan eksistensi mereka di dalam dunia politik di Amerika.18

Untuk konteks Indonesia, menurut saya, isu LGBTIQ dan gerakan yang dilakukan oleh para aktivis LGBTIQ dapat dilihat sebagai “ideologi radikal” yang berkompetisi dengan sejumlah isu lokal, seperti penutupan masjid Ahmadiyah, kebencian terhadap kelompok Shi’a, dan seterusnya. Sebab, seperti yang ditunjukan oleh Hélène Bouvier, masyarakat Indonesia cukup akrab dengan banci di dalam dunia kesenian.19 Tetapi, relasi internasional di era digital ini, yang memungkinkan transfer informasi dan ideologi dari satu wilayah ke wilayah lain lebih cepat, telah membuat keakraban dengan banci yang sudah ada di masyarakat telah menjadi suatu gerakan perjuangan yang me-radikalisasi keakraban tersebut yang terkesan stagnan dan pro status quo terhadap kaum hetero. Dengan radikalisasi ini, isu LGBTIQ bukan suatu “ideologi seksual” (seperti yang terjadi di Amerika) tetapi suatu ideologi radikal yang mendorong pengakuan dan penerimaan terhadap kelompok LGBTIQ mengalami                                                                                                                

17  Jacques  Arènes,  “Il  est  difficile  de  transformer  une  homosexualité  de  type   nevrotique  en  hétésexualité”  en  Claire  Lesegretain,  Les  Chrétiens  &  

l’homosexualité:  L’enquête.  Paris:  Presses  de  la  Renaissance,  2004,  61.   18  Gust  A.  Yep,  Karen  E.  Lovaas,  and  John  P.  Elia,  “A  Critical  Appraisal  of  

Assimilationist  and  Radical  Ideologies  Underlying  Same-­‐Sex  Marriage  in  LGBT   Communities  in  the  United  States”.  Journal  of  Homosexuality,  45:1,  51.  

(8)

percepatan. Dalam pengertian inilah, istilah radikal saya gunakan di “ideologi radikal”.

B. Pluralitas Teologi: Pluralitas Ideologi

Willard M. Swartley mencatat pola kecenderungan di dalam membaca ayat-ayat homoseksual, yaitu: Yesus dan Kitab Injil dipandang sebagai sumber yang tidak mengutuk LGBTIQ, dan teks-teks Perjanjian Lama dan Paulus dipandang sebagai sumber yang mengutuk LGBTIQ. 20 Bertolak dari realitas tersebut, kita dapat melihat bahwa ada pluralitas teologi, dan pluralitas teologi itu merujuk kepada pluralitas ideologi. Dengan kata-lain, suatu teologi adalah ideologi. Contoh, sejarah mencatat bahwa Gereja Timur terpecah-belah karena Kristologi secara khusus persoalan

hakikat Kristus. Perpecahan ini karena masing-masing pihak memiliki teologi tentang Kristus dan teologi yang dianut merupakan ideologi dari masing-masing kelompok.

Di dalam pemahaman spesifik ini, maka pertentangan teologi di isu LGBTIQ sebenarnya adalah suatu bentuk clash of ideology. Artinya; pihak pro dan kontra dengan segala bentuk argumentasi mereka sedang berusaha menduduki ruang-publik melalui kontes-argumen dan aksi-aksi yang dilakukan. Pada titik ini, pertanyaan yang perlu diajukan: “mengapa teologi (menjadi) ideologi?

Dalam amatan saya, teologi menjadi ideologi karena ia berada pada posisi sebagai produk dari proses pelembagaan suatu kepercayaan/keyakinan; sehingga, teologi mewakili suatu institusi tertentu. Teologi menjadi ideologi karena kondisi-kondisi baku dan tertutup; sehingga, tidak ada ruang negosiasi dan self-criticism. Minimnya ruang itu membuat suatu teologi (yang baku dan tertutup itu) menjadi abadi yang tidak memiliki masa-akhir, sejajar dengan Tuhan.

C. Postscriptum: Mencari-ulang jalan beriman Kristen di era lintas-ilmu

Scott Thumma menuliskan risetnya tentang identitas religius dari sekelompok orang Kristen Evangelis yang orientasi seksualnya adalah homoseksual.21 Riset Thumma meneliti pergumulan dari kaum muda gay Injili, yang di satu sisi mereka hidup bersama dengan istilah “lahir-baru”, “konservatifisme”, dan seterusnya, dan di sisi lain, mereka adalah gay, dan berhasil menunjukan kepada kita bahwa identitas relijius itu adalah suatu konstruksi yang dibangun di dalam suatu proses dan waktu                                                                                                                

20  Willard  M.  Swartley,  Homosexuality:  Biblical  and  Moral  Discernment.  Waterloo,   Ontario:  Herald  Press,  2003,  18.    

(9)

tertentu. Itu berarti suatu identitas relijius, yang utamanya dibentuk oleh teologi tertentu, dapat berubah.

Menyadari itu, identitas suatu gereja yang misalnya anti-gay sesungguhnya dapat berubah sebab orang-orang yang di dalam gereja yang membentuk identitas gereja tersebut tidak dapat menghindari diri dari dekonstruksi-rekonstruksi sebab identitas suatu gereja yang anti gay adalah (juga) produk yang dibuat pada periode tertentu dan waktu tertentu. Oleh karena itu, mencari-ulang jalan beriman sangat perlu dilakukan. Contoh, apakah di dalam proses beriman kajian lintas-ilmu tidak

dibutuhkan oleh teologi? Apakah kita memeluk suatu teologi atau ideologi di dalam kehidupan bergereja?

Bahan Bacaan

Arènes, Jacques. 2004. “Il est difficile de transformer une homosexualité de type nevrotique en hétésexualité” en Claire Lesegretain, Les Chrétiens & l’homosexualité: L’enquête. Paris: Presses de la Renaissance, 2004, 61 Brueggemann, Walter. 1988. Israel’s Praise: Doxology against Idolatry and

Ideology. Philadelphia: Fortress Press.

Bouvier, Hélène . 2002. Lèbur! Seni Musik dan Pertunjukan dalam Masyarakat Madura. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Carden, Michael. 2004. Sodomy: A History of a Christian Biblical Myth. London: Equinox.

Clines, David J. A. 1995. Interested Parties: The Ideology of Writers and Readers of the Hebrew Bible. Sheffield: Sheffield Academic Press.

Gnuse, Robert K. 2015. “Seven Gay Texts: Seven Passages Used to Condemn Homosexuality”. Biblical Theology Bulletin Volume 45 Number 2, 68. Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat. 2015. Pemahaman Iman & Akta

Gereja (Buku I). Jakarta, 239-240

Himbaza, Innocent. 2012. “Old Testament Stories and Homosexuality”, in Innocent Himbaza, Adrien Schenker, and Jean-Baptiste Edart, the Bible on the Question of Homosexuality. Washington, DC: the Catholic University of America Press, 22.

(10)

Swartley, Willard M. 2003. Homosexuality: Biblical and Moral Discernment.

Waterloo, Ontario: Herald Press.

Thumma, Scott. 1991. “Negotiating a religious identity: the case of the Gay Evangelical”. Sociological Analysis, 52:4, 333-347.

Yep, Gust A, Lovaas, Karen E, and Elia, John P. 2003. “A Critical Appraisal of Assimilationist and Radical Ideologies Underlying Same-Sex Marriage in LGBT Communities in the United States”. Journal of Homosexuality, 45:1, 51.

Situs

www.umc.org/what-we-believe/the-nurturing-community#human-sexuality. Diakses

Gambar

Gambar 1 –diambil oleh Nicole Cambré

Referensi

Dokumen terkait

Menurut Soejono Trimo (1992), pelayanan perpustakaan yang baik ditentukan oleh tiga faktor, yaitu fasilitas dan kelengkapan gedung atau ruang perpustakaan (5%), koleksi

Bangunan Indies sendiri merupakan akulturasi yang riil dan dapat dibuka melalui pengetahuan bahasa yang digunakan dulu yaitu bahasa Belanda dengan sejarah dan

Pengaruh Pendekatan Terhadap Kecemasan Siswa Dalam Pembelajaran Aquatik Pada Siswa Kelas VII SMPN 3 Darangdan Kabupaten Purwakarta. Universitas Pendidikan Indonesia |

PEMERINTAH KOTA BAUBAU SEKRETARIAT DAERAH. UNIT LAYANAN PENGADAAN

Selain itu, inventaris juga merupakan daftar yang memuat semua barang milik kantor yang dipakai dalam melaksanakan tugas (Budiono, 2005). Berdasarkan hasil wawancara penulis

lalampahan cukup lancar jeung béntés (henteu arapap-eureupeup) sarta lentong cukup merenah nepi ka omonganana masih bisa dicangkem” kalayan rata-rata 3,3. 2) Kamampuh

Alat-alat tersebut (untuk selanjutnya disebut headset) memang bermanfaat untuk mengurangi kebisingan dari suara luar yang tidak ingin kita dengar. Selain itu, headset juga

ditandai oleh infeksi-infeksi oportunistik dan kerentanan terhadap bentuk–bentuk kanker tertentu. Jumlah CD4 pasien sudah berada pada taraf kritis, hingga dibawah 200sel/ul