PETANI KARET RAKYAT DAN KONTRIBUSINYA DALAM
PROGRAM PEREMAJAAN KARET RAKYAT DI
PROVINSI JAMBI
Disajikan Pada Kegiatan Seminar Daerah Upaya Percepatan Program
Peremajaan Karet di Provinsi Jambi.
Sertifikat No. 43/Panpel-SEMINAR DAERAH/BEM FPM-UNJA/IV/2007
Jambi, 3 Mei 2007.
Oleh
Dr. Dompak Napitupulu
JURUSAN SOSIAL EKONOMI PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS JAMBI
Copy
PETANI KARET RAKYAT DAN KONTRIBUSINYA DALAM PROGRAM
PEREMAJAAN KARET RAKYAT DI PROVINSI JAMBI
1Oleh: Dr. Dompak Napitupulu2
ABSTRACT
Natural Rubber has been the Jambi Province trade mark commodity since a long time ago. This commodity has been planted well around the province. How ever, due to the traditional plantation technology adopted, the magnificent commodity failed to served farmer wealth lately. The Local Government then effort to re-attain back the glory of natural rubber by programming to replant 130.656 Ha of small holder old plant with high yielding new variety natural rubber in five year. A very key success factors to the program was not only the availability of seedling and fertilizer as it was seemly priorities but also the readiness of farmer to replant its old natural rubber. This paper was written to contribute in accelerating the natural rubber replanting program in Jambi Province. Based on the farmer readiness point of view, it was suggested to hasten the program by reducing the minimum 1 hectare requirement for joining the replanting program; offering more subsidies; enhancing the farmer access to high quality input and capital; and training farmer to be able to self prepare their own natural rubber replanting.
A. PENDAHULUAN
Karet alam telah sejak lama menjadi salah satu komoditi trade mark dari Provinsi Jambi. Komoditi ini bahkan telah diusahakan secara turun temurun dan diperdagangkan di wilayah Provinsi Jambi bahkan sejak jaman penjajahan Belanda sehingga usahatani karet dapat dikatakan telah menjadi bagian dari budaya masyarakat Jambi. Pada tahun 2004, areal perkebunan karet di Provinsi Jambi tercatat seluas 567.042 Ha dan menyerap 425.282 orang tenaga kerja dengan jumlah rumah tangga petani sebanyak 216.724 keluarga. Luas areal perkebunan karet tersebut kemudian meningkat 8,86 % menjadi 622.192 Ha yang diusahakan oleh 226.908 keluarga petani pada Tahun 2005. Selain itu, komoditi karet berperan sebagai penyumbang yang cukup berarti terhadap perekonomian Provinsi Jambi. Selama tiga tahun terakhir, terdapat kecendrungan
1Disajikan Pada Kegiatan Seminar Daerah/BEM FP-UNJA Tanggal : 3 Mei 2007
peningkatan ekspor komoditi ini, baik dalam volume maupun nilainya. Pada tahun 2002, volume ekspor tercatat sebesar 82.259 ton dan pada tahun 2004 meningkat menjadi 125.974 ton. Demikian pula, nilai ekspor meningkat dari US$.56.924.000 pada tahun 2002 menjadi US$.141.304.352 pada tahun 2004. Keseluruhan produksi karet alam tersebut diperoleh dari perkebunan rakyat, perkebunan swasta besar, serta perkebunan negara. Sesuai dengan perkiraan Dirjenbun, sebesar 76,1 persen produksi karet alam nasional dihasilkan oleh perkebunan karet rakyat.
Meskipun peran komoditi karet cukup berarti dalam perekonomi Provinsi Jambi, akan tetapi perannya terhadap peningkatan kesejahteraan petani belum signifikan. Telah menjadi suatu fenomena bahwa petani karet rakyat identik dengan kemiskinan. Hasil penelitian Zulkifli, dkk (2006) menunjukkan bahwa rata rata penerimaan petani karet rakyat di Provinsi Jambi berkisar antara Rp 2.133.300 per tahun di Kabupaten Batang Hari dan Rp 3.090.573 per tahun di Kabupaten Sarolangun. Temuan penting lain menunjukkan bahwa usahatani karet tersebut adalah merupakan sumber pendapatan utama bagi keluarga mereka. Kebutuhan hidup sehari-hari dengan demikian digantungkan pada hasil penerimaan dari usahatani karet yang dilakukan.
Keberhasilan peremajaan karet yang diprogramkan oleh pemerintah tersebut diyakini tidak hanya tergantung pada jaminan pasokan bibit serta sarana produksi pupuk dan obat obatan yang justru kurang berhasil diadakan pada tahun 2006 yang lalu. Disamping ketersediaan faktor produksi tersebut, kesiapan petani untuk dapat berkontribusi dalam peremajaan karet perlu untuk mendapat perhatian. Tulisan ini ditujukan untuk menyajikan kondisi sosial ekonomi petani dan kesiapannya untuk berkontribusi dalam mensukseskan program peremajaan karet rakyat di Provinsi Jambi.
B. PETANI KARET RAKYAT
Sebagaimana diungkapkan terlebih dahulu, karet alam di Indonesia mayoritas (76,1 %) dihasilkan oleh petani karet rakyat. Petani karet rakyat di Provinsi Jambi sebagaimana juga secara umum dijumpai di wilayah lain di Indonesia dapat digolongkan kedalam tiga kelompok petani yakni: petani pemilik, petani penyadap dan petani pemilik penyadap. Kelompok petani pemilik adalah petani karet rakyat yang umumnya memiliki areal perkebunan karet yang cukup luas sehingga petani tersebut tidak mampu untuk memanen (menderes) sendiri lahan perkebunan karet yang dimiliki. Petani pemilik pada umumnya hanya berperan dalam mengusahakan kebun karet yang dimiliki dari sejak persiapan tanam, serta melakukan perawatan seperlunya hingga tanaman karet siap sadap. Setelah tanaman karet siap sadap, petani pemilik kemudian menyerahkan pengelolaan “menderes” tanaman karet tersebut kepada petani lain yang lebih dikenal dangan buruh potong.
Kelompok petani karet rakyat kedua adalah petani penyadap yang umumnya adalah petani yang tidak memiliki lahan karet sendiri. Hasil penelitian Zulkifli, Napitupulu, dan Elwamendri (2006) menunjukkan bahwa sekitar 40 % dari petani karet di Kabupaten Bungo dan 60 % petani karet rakyat di Kabupaten Merangin memotong karet orang lain. Diperkirakan bahwa separuh (50 %) dari petani penyadap tersebut berasal dari Pulau Jawa (pendatang) dan 50 % lainnya adalah merupakan warga asli di daerahnya masing masing.Petani penyadap tersebut berkewajiban melakukan perawatan dan pemanenan kebun karet serta menjual bahan olahan karet kering (bokar) yang dihasilkan. Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa petani pemilik umumnya berperan menjadi pembeli bokar yang dihasilkan oleh petani penyadap.
Fenomena lainnya yang mewarnai usaha perkebunan karet rakyat khususnya yang dikelola dengan sistem bagi hasil adalah penguasaan teknologi usaha perkebunan karet yang dimiliki oleh buruh potong umumnya hanya terbatas pada kemampuan sadap dan pengolahan getah menjadi bokar yang siap dipasarkan. Hasil penelitian Napitupulu (2004) menunjukkan bahwa petani penyadap sesuai dengan status yang dimiliki tidak memiliki motivasi yang cukup untuk menguasai teknologi usahatani pada fase persiapan tanam, tanam dan perawatan tanaman hingga siap panen. Lebih dari pada itu, petani penyadap juga memiliki motivasi yang sangat rendah untuk melakukan perawatan tanaman berproduksi yang diusahakannya. Petani cenderung untuk menghemat biaya dengan tidak melakukan penyiangan (piringan), pemberantasan hama, serta pemupukan yang dibutuhkan oleh tanaman untuk dapat tumbuh dengan baik. Hal ini menyebabkan kebun karet rakyat yang dikelola dengan sistem bagi hasil umumnya terkesan berbentuk hutan karet yang sangat minim perawatan. Pola pengelolaan usahatani yang dilakukan menyebabkan produktivitas tanaman karet yang diusahakan menjadi sangat rendah. Kecilnya luas areal sadap, rendahnya produktivitas per hektar serta lemahnya posisi tawar yang dimiliki oleh buruh sadap dalam pemasaran bokar yang dihasilkan menyebabkan kelompok petani kedua tersebut umumnya memiliki pendapatan yang relatif rendah.
karet yang diusahakan. Rasa memiliki yang ada pada petani pemilik penyadap menyebabkan kelompok petani ini pada umumnya mengusahakan perkebunan karet yang dimiliki lebih baik dari kelompok petani penyadap. Disamping itu, pada beberapa kasus tertentu dimana petani tidak terikat kepada pedagang tertentu menyebabkan kelompok petani pemilik penyadap bebas memilih waktu dan tempat yang lebih menguntungkan baginya dalam memasarkan bokar yang dihasilkan.
C. FENOMENA PRODUKSI PETANI KARET RAKYAT
Cukup besarnya jumlah petani penyadap (40 % – 60 %, tergantung pada daerahnya) sangat mewarnai industri karet rakyat di wilayah Provinsi Jambi. Salah satu fenomena umum yang mewarnai industri karet rakyat di Provinsi Jambi dewasa ini adalah mutu bokar yang dihasilkan tergolong rendah bahkan lebih buruk lagi memiliki trend yang mengarah pada mutu bokar yang semakin rendah. Ilusi memperoleh pendapatan lebih yang menjadi motivasi berproduksi petani penyadap diduga menjadi salah satu faktor pemicu rendahnya mutu bokar yang dihasilkan oleh petani karet rakyat. Perkebunan karet rakyat yang dikelola oleh petani dapat dikategorikan kedalam pola pengusahaan tradisional. Meskipun usahatani karet adalah merupakan sumber pendapatan utama petani karet rakyat, petani belum memandang usaha perkebunan karet ini sebagai suatu unit bisnis (komersil), dalam mengelola perkebunan karet tersebut. Dalam prakteknya diperoleh gambaran bahwa perkebunan karet yang dikelola petani masih dipandang sebagai suatu cara hidup (way of life). Belum terlihat adanya upaya petani untuk memperhitungkan berbagai variabel ekonomi seperti input, output, biaya, penerimaan kotor dan pendapatan bersih dalam mengelola usahatani karet.
Selain terdapat sejumlah petani yang melakukan sistem sadap berat, dalam pengolahan lateks atau pasca panenpun petani tidak melakukan sesuai dengan cara-cara pasca panen yang dianjurkan. Khususnya di wilayah Provinsi Jambi diperkirakan sekitar 80,12 persen petani masih menggunakan benda asing berupa kotoran kedalam bongkahan karet kering yang dihasilkan. Berbagai bahan asing yang umum disertakan petani kedalam bongkahan bokar diantaranya adalah: tatal (kulit batang bekas sadapan), dedaunan, ranting, dan kayu. Meski belum terdeksi secara nyata, bahkan pada daerah tertentu telah mulai ditemui sejumlah petani yang sengaja mencampurkan tanah liat putih untuk dibekukan bersama sama dengan getah karet. Selain mencampurkan benda asing kedalam bokar yang dihasilkan, mayoritas petani karet rakyat ditengarai menggunakan bahan koagulum selain cuka getah yang dianjurkan.
Adapun alasan petani untuk memasukkan benda asing kedalam bongkahan karet diantaranya adalah mencegahnya hilangnya getah segar dari mangkok tampungan pada saat turun hujan. Pencampuran tatal pada hari pertama sadap berfungsi untuk mempercepat pembekuan karet pada mangkuk sehingga jika hujan turun maka karet yang ada pada mangkuk tidak terhanyutkan oleh air hujan. Selain secara teknis bermanfaat untuk mencegah kehilangan karet pada saat musim hujan, petani juga telah terjebak pada fallacy dog and cat dimana petani berupaya menambah bobot bokar untuk mengimbangi adanya anggapan pembeli melakukan kecurangan mengurangi berat bokar pada saat penimbangan dilakukan sebagai upaya menambah bobot bokar. Alasan lain bagi petani untuk enggan menghasilkan karet kering mutu baik adalah tidak adanya insentif bagi petani untuk menghasilkan bokar dengan kualitas baik.
Kondisi sosial ekonomi petani karet yang hampir tidak memiliki posisi tawar dalam transaksi pemasaran karet merespon perilaku pedagang dengan menghasilkan bokar kualitas rendah. Siklus tersebut berlangsung hingga kualitas karet yang diperdagangkan mencapai titik terendah yang layak diperdagangkan. Ironisnya, perilaku destruktif mutu karet kering tersebut dapat tumbuh dengan subur sebab pasar masih tetap tersedia bagi komoditas karet kering mutu buruk.
D. PETANI DAN PEREMAJAN KARET RAKYAT
Sebagaimana diuraikan terlebih dahulu, petani karet rakyat identik dengan kelompok masyarakat yang masih belum mampu melepaskan diri dari batas garis kemiskinan. Dengan rata rata pendapatan berkisar antara dua hingga tiga juta rupiah per keluarga per tahun berarti rata rata pendapatan petani karet rakyat masih belum mampu mencapai batas garis kemiskinan menurut standar bank Dunia yakni satu dollar Amerika Serikat per kapita pertahun.
Salah satu upaya Pemerintah Daerah Provinsi Jambi yang terkini dalam lingkup peningkatan kesejahteraan petani karet rakyat adalah Kebijakan Pengembangan Karet Rakyat Jambi yang terdiri dari Program Peremajaan Karet Rakyat yang dilakukan secara bertahap hingga seluas 130.656 Ha selama periode tahun 2006 - 2010 dan Program Perluasan Areal Karet rakyat seluas 25.294 Ha pada periode tahun yang sama. Meskipun belum terpenuhi dengan baik, program peremajaan tersebut direncanakan telah akan meremajakan karet rakyat seluas 17.500 Ha pada tahun 2006 yang lalu. Berbagai kendala teknis dan non teknis yang saling berkaitan seperti penentuan CPCL, ketersediaan bibit, distribusi sarana produksi pertanian serta iklim yang tidak kondusif ditengarai menjadi faktor penyebab belum terwujudnya luasan areal peremajaan karet rakyat sesuai dengan yang direncanakan. Bermodalkan pengalaman dari belum berhasilnya program pada tahun pertama tersebut, program peremajaan karet rakyat Provinsi Jambi direncanakan akan mewujudkan luasan target areal yang gagal dicapai pada tahun 2006 pada tahun 2007.
Selain mencermati faktor pemicu kegagalan program sebagaimana ditengarai diatas, kesiapan petani karet rakyat sebagai subyek dalam pelaksanaan program peremajaan karet rakyat juga perlu mendapatkan perhatian. Sebagaimana telah diuraikan terlebih dahulu, terdapat tiga kelompok petani karet rakyat di wilayah Provinsi Jambi. Pola keterlibatan emosional masing masing kelompok petani karet rakyat tersebut dalam proses produksi menyebabkan penguasaan teknologi dan faktor produksi diantara mereka menjadi berbeda. Beberapa permasalahan yang diduga dapat menjadi kendala keberhasilan petani sebagai subyek dalam program peremajaan karet rakyat dengan demikian adalah menyangkut penguasaan faktor produksi lahan, modal yang meliputi input produksi, sumberdaya manusia petani yang menyangkut penguasaan teknologi, serta kelembagaan petani.
D.1. Sumberdaya Lahan
rendah. Tiga gambaran yang pada hakekatnya saling terkait tersebut pada kondisi tertentu dapat menjadi kendala bagi petani karet rakyat untuk merelakan sebahagian dari lahan tersebut untuk diremajakan.
D.2. Sumberdaya Modal
Gambaran lain dari petani karet rakyat pemilik penggarap adalah penggunaan teknologi produksi yang masih tradisional. Tanaman karet yang diusahakan pada umumnya masih berasal dari bibit sapuan dengan kemampuan produksi yang masih rendah. Rata rata tingkat produktivitas usahatani karet rakyat di Provinsi Jambi masih 714 Kg/Ha/tahun (KKK = 100 %). Dengan rata rata harga karet alam KKK = 100 % senilai US $ 1,84 /Kg, yakni harga ratarata karet kering SIR-20 pada bulan September 2006, maka rata rata petani karet rakyat Jambi hanya mampu memperoleh pendapatan sebesar Rp. 11.823.840 per Keluarga per petani. Rata rata pendapatan tersebut masih lebih rendah dari pendapatan minimal pendapat keluarga untuk lepas dari garis kemiskinan menurut standar Bank Dunia. Rata rata pendapatan tersebut akan semakin rendah dengan masih besarnya keinginan pedagang perantara untuk menekan harga bokar ditingkat petani hingga serendah mungkin.
Poin penting yang ingin ditunjukkan dalam hal ini adalah bahwa petani karet rakyat Provinsi Jambi masih memiliki keterbatasan kemampuan penumpukan modal untuk dapat mendukung keberhasilan program peremajaan karet rakyat. Rendahnya kemampuan sumberdaya modal yang dimiliki oleh petani karet rakyat sayangnya tidak ditunjang oleh tersedianya dana khusus (paket kredit) dengan suku bunga yang wajar yang dapat dimanfaatkan petani karet rakyat untuk menunjang keberhasilan peremajaan tanaman karet yang dimiliki.
D.3. Sumberdaya Manusia
sapuan lebih tahan terhadap hama dan gulma menyebabkan sejumlah petani masih enggan menggunakan bibit unggul dan mengusahakan perkebunan karet yang mereka miliki dengan menggunakan input dan perawatan minimal. Gambaran umum yang dapat dilihat hampir pada seluruh areal perkebunan karet rakyat di Provinsi Jambi adalah areal hutan karet yang bercampur dengan semak belukar serta jarak tanaman yang tidak beraturan.
E. PENUTUP
Keberhasilan program peremajaan karet rakyat disamping perlu mengantisipasi faktor teknis pengadaan bibit, distribusi sarana produksi serta ketidak bersahabatan iklim, juga perlu secara lebih matang mempersiapkan calon petani peserta dan memposisikan mereka sebagai subyek dalam pelaksanaan program tersebut. Masih tergolong rendahnya kemampuan petani karet rakyat dalam melakukan penumpukan modal (tabungan) kiranya perlu diantisipasi dengan cara pemberian alternatif pendapatan sebagai pengganti dari sebahagian areal perkebunan karet yang diremajakan. Bantuan sarana produksi tanaman musiman yang dapat diusahakan sebagai tanaman sela menjelang tanaman yang diremajakan dapat memberikan hasil sebagai misal dapat diikutkan dalam paket peremajaan karet rakyat yang dilakukan. Kesiapan petani untuk mau dan mampu berkontribusi dengan baik dalam program peremajaan karet rakyat kiranya perlu di pacu dengan memperbaiki akses petani terhadap modal murah serta input pertanian berkualitas secara lokal. Motivasi petani untuk lebih bersedia menghasilkan karet alam dengan kualitas yang lebih baik sebagaimana yang menjadi salah satu pemikiran yang mendasari program peremajaan karet juga perlu ditunjang dengan upaya perbaikan sistem pemasaran bokar di Provinsi Jambi.