• Tidak ada hasil yang ditemukan

analisis faktor risiko BBLR di

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "analisis faktor risiko BBLR di"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS FAKTOR RISIKO KEJADIAN BAYI BERAT BADAN LAHIR

RENDAH (BBLR) DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KALIJAGA,

LARANGAN DAN SITOPENG KOTA CIREBON

TAHUN 2014–2016

Faadia Islami1, Defa Rahmatun Nisaa’2, Thysa Thysmelia Affandi2

1) Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Swadaya Gunung Jati, 2) Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Swadaya Gunung Jati

Email: [email protected]

ABSTRAK

Pendahuluan: Berat badan lahir rendah terus menerus menjadi masalah kesehatan masyarakat yang signifikan secara global dan berhubungan dengan berbagai risiko jangka pendek maupun jangka panjang. Indonesia memiliki prevalensi 10% BBLR dari total persalinan. Angka kejadian BBLR di Kota Cirebon adalah 208 setiap 5.504 kelahiran. Tujuan: Mengetahui distribusi BBLR dan faktor risiko yang mempengaruhi kejadian BBLR di Puskesmas Kalijaga, Larangan dan Sitopeng Kota Cirebon. Metode Penelitian: Cross sectional dengan jumlah sampel 2935 ibu yang melahirkan di wilayah kerja Puskesmas Kalijaga, Larangan dan Sitopeng tahun 2014–2016. Teknik pengambilan sampel total sampling. Data yang digunakan adalah data sekunder. Analisis bivariat dengan metode tabel 2x2 rasio prevalensi (RP) dengan confidential interval (CI) 95% menggunakan uji analisis statistik Chi Square. Analisis multivariat menggunakan regresi logistik. Hasil Penelitian: Responden yang mengalami BBLR sebanyak 185 (6,3%). Terdapat hubungan usia ibu (p= 0,000), pendidikan ibu (p= 0,000), usia kehamilan (p= 0,000), status gizi ibu (p= 0,000), pemeriksaan antenatal (p= 0,000), hipertensi (p= 0,002), anemia (p= 0,000), preeklampsia (p= 0,000), tingkat ekonomi (p= 0,000) dengan kejadian BBLR. Sedangkan jumlah paritas (p= 0,530) tidak mempunyai hubungan yang bermakna dengan kejadian BBLR. Hasil multivariat didapatkan faktor risiko yang mempengaruhi kejadian BBLR adalah usia ibu, pendidikan ibu, usia kehamilan, status gizi ibu, anemia, preeklampsia dan tingkat ekonomi. Variabel yang paling dominan mempengaruhi kejadian BBLR adalah usia kehamilan. Kesimpulan: Distribusi responden yang mengalami BBLR sebanyak 185 (6,3%). Faktor risiko yang berpengaruh terhadap kejadian BBLR adalah usia ibu, pendidikan ibu, usia kehamilan, status gizi ibu, anemia, preeklampsia dan tingkat ekonomi. Kata kunci: BBLR, faktor risiko BBLR.

ABSTRACT

(2)

PENDAHULUAN

Berat badan lahir rendah terus menerus menjadi masalah kesehatan masyarakat yang signifikan secara global dan berhubungan dengan berbagai risiko baik jangka pendek maupun jangka panjang. Diperkirakan 15% sampai 20% dari semua kelahiran di seluruh dunia adalah kelahiran bayi dengan berat badan lahir rendah, yang mewakili lebih dari 20 juta kelahiran per tahun.(WHO, 2012) Penelitian yang dilakukan oleh Larroque, Bertrais, Czernichow, dan Leger dalam studi kohort berjudul ”School difficulties in 20 years old who were born small for gestational age”

mengungkapkan faktor risiko BBLR diantaranya adalah induksi awal persalinan atau kelahiran caesar (karena alasan medis atau non medis), kehamilan kembar, infeksi dan kondisi kronis seperti diabetes mellitus, preeklampsia, eklampsia, dan hipertensi pada ibu hamil.(Larroque, Bertrais, Czernichow, & Léger, 2001; Tjekyan, 2010)

Jaya menjelaskan dalam penelitiannya bahwa faktor risiko kejadian BBLR meliputi usia ibu, paritas, status gizi berdasarkan ukuran LILA,

dan pelayanan antenatal.(Jaya, 2009) Indonesia memiliki prevalensi yang cukup tinggi untuk kejadian BBLR, yaitu 10% dari total persalinan.(Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, 2013)

Tujuan penelitian ini adalah mengetahui distribusi BBLR dan faktor risiko yang mempengaruhinya, mengetahui faktor risiko yang paling dominan mmpengaruhi BBLR. METODE

Penelitian ini adalah jenis penelitian survey analitik. Rancangan penelitian yang digunakan adalah cross sectional. Data yang digunakan adalah data sekunder. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh Ibu yang melahirkan bayi BBLR pada tahun 2014–2016 di wilayah kerja Puskesmas Kalijaga, Larangan dan Sitopeng Kota Cirebon yang berjumlah 2935 responden. Sampel penelitian memakai total sampling.

Instrumen yang digunakan adalah buku partus, buku kohort ibu, buku KIA, dan buku pelacakan BBLR yang ada di Puskesmas Kalijaga, Larangan, dan Sitopeng periode 2014–2016. Analisis menggunakan tabel 2x2 (Two by two table) maka didapatkan rasio prevalens (RP) dengan 95% confidential interval (CI). Analisis multivariat menggunakan analisis regresi logistik untuk memprediksi variabel independen yang dominan mempengaruhi terhadap BBLR.

HASIL

A. Analisis Univariat

Tabel 1. DIstribusi responden berdasarkan analisis univariat

Variabel Kategori JumlahN %

BBL BBLR 185 6,3

Tidak BBLR 2750 93,7 Usia Ibu <20 tahun dan >30 tahun 645 22

20–30 tahun 2290 78 Pendidikan

Ibu ≤SMP 223 7,6

>SMP 2712 92,4 Usia

Kehamilan

<37 minggu atau >40

minggu 111 3,8

37–40 minggu 2824 96,2 Jumlah

paritas >4 181 6,2

1–4 2754 93,8

Status Gizi

Ibu LILA <23,5 cm 326 11,1 LILA ≥23,5 cm 2609 88,9

ANC <4x 105 3,6

≥4x 2830 96,4

Hipertensi Hipertensi 16 0,5 Tidak

hipertensi 2919 99,5

Anemia Anemia 125 4,3

Tidak Anemia 2810 95,7 Preeklampsia Preeklampsia 10 0,3

Tidak

preeklampsia 2835 99,7

Eklampsia Eklampsia 0 0

Tidak

eklampsia 2935 2935 Tingkat

Ekonomi <Rp. 1.200.000,- 912 31,1 ≥Rp.

1.200.000,- 2023 68,9 Hasil univariat dapat dilihat pada tabel 1. diperoleh usia ibu berisiko sebanyak 645 orang dari total responden dengan presentase 22%. Pendidikan ibu yang menempuh pendidikan taraf SMP dan di bawah SMP berjumlah 223 responden dan sisanya menempuh pendidikan di atas taraf sekolah menengah pertama.

(3)

Distribusi responden dengan status gizi kurang adalah 326 responden, lebih dari satu perlima dari total responden yang diteliti. 105 responden yang melakukan pemeriksaan antenatal kurang dari 4 kali dan tidak memenuhi kriteria pemeriksaan antenatal yang ideal.

Responden dengan hipertensi hanya berjumlah 16 dari 2935 responden yang diteliti. Terdapat 125 responden yang mengalami dari total responden yang tidak memiliki usia berisiko terdapat 67% yang melahirkan bayi dengan BBLR. Hasil analisis hubungan didapatkan bahwa nilai p sebesar 0,000 (p= ≤0,005) yang memiliki arti terdapat hubungan yang bermakna antara usia ibu dengan kejadian BBLR. Parameter kekuatan hubungan adalah rasio prevalens (RP) yaitu sebesar 1,747 dengan 95% CI 1,302–2,343. Berdasarkan uji statistik usia ibu merupakan salah satu faktor risiko kejadian BBLR karena RP >1. Responden yang mempunyai usia diperoleh nilai p = 0,000 dan rasio prevalens (RP) sebesar 19,74.

Responden yang memiliki usia kehamilan berisiko dan melahirkan BBLR sebanyak 106 responden, sedangkan respoden dengan usia kehamilan 37–40 minggu dan melahirkan BBLR hanya terdapat 79 responden (42,7 %). Hasil uji statistik diperoleh nilai p = 0,000 dan RP sebesar 34,13 yang memilki makna bahwa responden dengan usia kehamilan <37 atau >40 minggu mempunyai risiko insidensi 34,13 kali untuk melahirkan bayi BBLR.

Terdapat 9 (4,9%) responden yang memiliki jumlah paritas berisiko dan melahirkan bayi BBLR, sedangkan sebanyak

176 (42,7%) responden yang jumlah paritasnya tidak berisiko dan melahirkan bayi BBLR. Hasil uji statistik didapatkan p = 0,530

Tabel 2. Hubungan usia ibu, pendidikan ibu, usia kehamilan, jumlah paritas, status

gizi, ANC, hipertensi, anemia, analisis bivariat didapatkan nilai p= 0,000 dan RP 3,56.

(4)

bayi BBLR terdapat 31 responden (16,8%), melahirkan bayi BBLR terdapat 180 responden (97,3%). Hasil uji statistik didapatkan nilai p = 0,002 dengan nilai RP 5,42.

Sebanyak 37 (20%) responden anemia yang melahirkan bayi BBLR, sedangkan responden tidak anemia yang melahirkan bayi BBLR terdapat 148 (80%) responden. Hasil uji statistik menunjukkan nilai p sebesar 0,000 yang memiliki arti bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara anemia pada ibu hamil dengan kejadian BBLR dan memiliki nilai RP sebesar 5,62.

Responden preeklampsia yang melahirkan bayi BBLR berjumlah 6 (3,2%) responden, sedangkan responden yang tidak mengalami preeklampsia dan melahirkan bayi BBLR melahirkan bayi BBLR, sedangkan terdapat 48 (25,9%) responden yang memiliki tingkat regresi logistik untuk memprediksi variabel independen yang dominan terhadap BBLR. Setelah dilakukan analisis bivariat antara masing-masing variabel independen dengan variabel dependen kemudian dilihat besarnya nilai p yang dihasilkan. Variabel yang mempunyai nilai p <0,25 maka variabel tersebut dapat diikutsertakan ke dalam model multivariat.

Berdasarkan tabel 3. pada langkah 1 hasil analisis variabel yang berpengaruh secara signifikan terhadap BBLR adalah usia ibu, pendidikan, usia hamil, gizi, anemia, preeklampsia, dan tingkat ekonomi (sig <0,05), sedangkan pemeriksaan antenatal, dan hipertensi mempunyai nilai sig >0,05 sehingga pengaruhnya tidak signifikan jika dibandingkan dengan variabel lainnya yang selanjutnya akan dieliminasi di langkah 2 dan 3.

Hasil analisis langkah 3 menunjukkan variabel yang selanjutnya dikeluarkan adalah anemia yang semua mempunyai nilai sig 0,553 (>0,05) pada langkah 2. Hasil analisis multivariat variabel yang berpengaruh terhadap BBLR adalah usia ibu, pendidikan, usia kehamilan, status gizi, anemia, dan preeklampsia. Hasil analisis ini dilihat dari nilai sig variabel tersebut adalah <0,05. Variabel

Tabel 3. Hasil analisis multivariat regresi logistik

(5)

Penelitian ini didukung dengan hasil penelitian Jaya di Rumah Sakit Ibu dan Anak Siti Fatimah Kota Makassar yang membuktikan bahwa terdapat hubungan bermakna antara usia ibu dengan kejadian BBLR. Menurut Jaya, ibu dengan usia kurang dari 20 dan lebih dari 35 tahun berisiko 6,92 kali lebih besar untuk melahirkan BBLR dibandingkan responden yang tidak mempunyai usia berisiko.(Jaya, 2009)

Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya BBLR dan prematur diantaranya adalah usia ibu <20 tahun atau >35 tahun. Kehamilan yang terjadi pada ibu yang memiliki umur berisiko tidak hanya akan melahirkan bayi BBLR saja, tetapi juga mengakibatkan terjadinya abortus, pertumbuhan janin yang terhambat sehingga akan menyebabkan BBLR, anemia dan cacat janin. Usia ibu saat hamil mempengaruhi kondisi kehamilan ibu karena berhubungan dengan kematangan organ reproduksi dan kondisi psikologis. (Proverawati, 2010)

Penelitian yang dilakukan Monita, Suhaemi, dan Ernalia di RSUD Arifin Achmad Riau membuktikan adanya hubungan antara usia ibu dengan kejadian BBLR dengan nilai ratio prevalens (RP) 4,947 yang memiliki arti ibu dengan usia berisiko mempunyai kemungkinan 4,947 kali untuk melahirkan BBLR.(Monita, Suhaimi, & Ernalia, 2016) Berbeda dengan Jaya dan Monita dkk, hasil penelitian Pujiarti di Puskesmas Klangenan Kabupaten Cirebon menyatakan tidak ada hubungan bermakna antara usia ibu dengan kejadian BBLR. Hal ini dapat terjadi karena BBLR dipengaruhi faktor lain seperti anemia dan usia kehamilan. (Pujiarti, 2012) Pendidikan Ibu

Pendidikan yang dimaksudkan dalam penelitian ini dikategorikan menurut pendidikan terakhir yang berhasil ditempuh oleh responden dengan pendidikan minimal tamat SMP sesuai dengan program wajib belajar yang dicanangkan oleh pemerintah dalam Undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional, dan pendidikan cukup bagi responden yang berpendidikan terakhir minimal setingkat SMA. Menurut penelitian, pendidikan yang ditamatkan mempunyai pengaruh terhadap perilaku reproduksi, kelahiran, kematian, dan kepedulian terhadap kesehatan keluarga. (Badan Pusat Statistik, 2014)

Hasil uji bivariat menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara pendidikan ibu dengan BBLR. Ibu dengan berpendidikan rendah mempunyai kemungkinan 19,74 kali

untuk melahirkan BBLR dibandingkan dengan ibu berpendidikan cukup.

Hasil penelitian ini selaras dengan penelitian yang dilakukan Cahyani di RS dr. Oen Surakarta tahun 2014 yang menunjukkan bahwa adanya hubungan yang bermakna antara tingkat pendidikan ibu dengan kejadian BBLR. Cahyani mengemukakan bahwa ibu berpendidikan rendah berisiko 3,46 kali lipat melahirkan bayi BBLR.(Cahyani, 2015)

Usia Kehamilan

Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa usia kehamilan berisiko merupakan salah satu faktor risiko BBLR. Hasil uji statistik diperoleh adanya hubungan yang bermakna antara usia kehamilan dengan BBLR. Ibu dengan usia kehamilan berisiko terdapat 106 (57,%) responden yang melahirkan BBLR, sedangkan hanya terdapat 79 responden yang memiliki usia kehamilan cukup bulan dan melahirkan bayi BBLR. Rasio prevalens sebesar 34,13 yang memiliki arti ibu dengan usia kehamilan berisiko mempunyai kemungkinan 34,13 kali untuk melahirkan bayi BBLR.

Hal ini menunjukkan bahwa salah satu penyebab terjadinya BBLR adalah usia kehamilan dibawah 37 minggu atau lebih dari 40 minggu yang disebabkan antara lain karena solusio plasenta atau terlepasnya sebagian atau keseluruhan plasenta dari implantasi normalnya setelah kehamilan 20 minggu dan sebelum janin lahir, kehamilan ganda, kelainan uterus atau tidak normalnya bentuk dan fungsi rahim yang dimiliki seorang ibu yang terjadi karena faktor bawaan, dan beberapa penyebab terjadinya ketuban pecah dini diakibatkan karena anemia dan gizi yang tidak baik sehingga dapat melahirkan pada usia kehamilan yang belum cukup atau dibawah 37 minggu. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Rahmi di RSIA Pertiwi Makassar yang menunjukkan ada hubungan antara usia kehamilan ibu dengan kejadian BBLR dengan nilai p=0,000.(Rahmi, Arsyad, & Rismayanti, 2013)

(6)

Berat badan lahir rendah terjadi karena sistem reproduksi ibu sudah mengalami penipisan akibat dari sering melahirkan, hal ini dapat terjadi karena jumlah paritas lebih dari 4 kali yang disebut grandemultipara. Semakin tinggi paritas ibu makin kurang baik endometrium (dinding uterus). Hal ini diterangkan bahwa setiap kehamilan yang disusul dengan persalinan akan menyebabkan kelainan pada uterus. Kehamilan yang berulang-ulang mempengaruhi sirkulasi nutrisi ke janin dimana jumlah nutrisi akan berkurang dibanding dengan kehamilan sebelumnya. Keadaan ini menyebabkan gangguan pertumbuhan janin sehingga dilahirkan BBLR.(Wiknjosastro, 2009)

Hal tersebut bertolak belakang dengan hasil analisis bivariat pada penelitian ini yang diperoleh tidak terdapat hubungan yang bermakna antara paritas ibu dengan kejadian BBLR sehingga pada analisis multivariat variabel jumlah paritas dieliminasi terlebih dahulu. Penelitian ini didukung dengan penlitian yang dilakukan oleh Khairina yang menyatakan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara jumlah paritas dengan kejadian BBLR di Wilayah Kerja Puskesmas Cipayung Depok tahun 2013.(Khairina, 2013) Berbeda dengan penelitian Khairina, penelitian yang dilakukan oleh Pamungkas, Argadireja dan Sakinah menyatakan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara jumlah paritas dan kejadian BBLR di Wilayah Kerja Puskesmas Plered Cirebon. (Pamungkas, Argadireja, & Sakinah, 2014) Status Gizi Ibu

Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara status gizi ibu hamil terhadap kejadian BBLR. Hal ini diperkuat dengan nilai rasio prevalens sebesar 3,56. Hasil penelitian ini didukung oleh Jaya yang menyatakan bahwa status gizi memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian BBLR di RS Ibu dan Anak Siti Fatimah Makassar.(Jaya, 2009)

Status gizi ibu hamil selain berpengaruh terhadap ibu juga berpengaruh terhadap tumbuh kembang janin yang sedang dikandung. Ibu hamil dengan kekurangan zat gizi akan menyebabkan ibu kekurangan energi selama kehamilan maupun setelah persalinan. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa status gizi pada ibu hamil merupakan salah satu faktor risiko yang mempengaruhi kejadian BBLR di Puskesmas Kalijaga, Larangan dan Sitopeng. Hal ini didukung oleh penelitian yang dilakukan Suwarni yang menyatakan ibu dengan status gizi kurang

berpeluang 22,168 kali untuk melahirkan bayi BBLR.(Suwarni, 2012)

Pemeriksaan antenatal (ANC)

Pemeriksaan antenatal idealnya dilakukan 4 kali dengan rincian 1 kali pada trimester pertama, 1 kali pada trimester kedua, dan 2 kali pada trimester akhir. Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara pemeriksaan antenatal dan kejadian BBLR. Penelitian ini didukung oleh penelitian Rahmi yang menyatakan terdapat hubungan antara pemeriksaan antenatal dengan kejadian BBLR di RSIA Pertiwi Makassar.(Rahmi et al., 2013)

Berbeda dengan Rahmi, penelitian yang dilakukan Khairina menyatakan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara pemeriksaan antenatal dengan kejadian BBLR.(Khairina, 2013) Hal ini didukung oleh Pujiarti yang melakukan penelitian di Puskesmas Klangenan Kabupaten Cirebon. (Pujiarti, 2012)

Hasil multivariat menunjukkan pemeriksaan antenatal bukan merupakan salah satu faktor risiko yang dominan terhadap kejadian BBLR di Puskesmas Kalijaga, Larangan dan Sitopeng periode tahun 2014– 2016.

Hipertensi

Hasil analisis bivariat hipertensi dan BBLR menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara hipertensi dan BBLR dengan rasio prevalens (RP) sebesar 5,06. Hasil penelitian ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Andammori di RSUP dr. M. Djamil Padang yang mengemukakan terdapat hubungan yang signifikan antara hipertensi dengan kejadian BBLR.(Andammori, 2013) Tekanan darah tinggi dalam kehamilan (hipertensi) dapat mengakibatkan penurunan aliran darah ke plasenta yang akan mempengaruhi persediaan oksigen dan nutrisi pada bayi. Hal ini dapat memperlambat pertumbuhan bayi dan meningkatkan risiko saat melahirkan. Penelitian yang dilakukan oleh Faiqah di RSUP NTB menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara hipertensi dan kejadian BBLR, sebanyak 61,3% responden yang mengalami hipertensi melahirkan bayi dengan BBLR.(Faiqah, 2013) Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Khairina. Khairina menyatakan bahwa ibu hamil dengan hipertensi memiliki risiko 6 kali melahirkan bayi BBLR dibandingkan dengan ibu hamil yang tidak hipertensi.(Khairina, 2013)

(7)

dominan terhadap kejadian BBLR di Puskesmas Kalijaga, Larangan dan Sitopeng periode tahun 2014–2016.

Anemia

Anemia gizi besi terjadi karena tidak cukupnya zat gizi besi yang diserap dari makanan sehari-hari guna pembentukan sel darah merah sehingga menyebabkan ketidakseimbangan antara pemasukan dan pengeluaran zat besi dalam tubuh. Hal ini dapat menyebabkan distribusi oksigen ke jaringan akan berkurang yang akan menurunkan metabolisme jaringan sehingga pertumbuhan janin akan terhambat, dan berakibat berat badan lahir bayi rendah. (Proverawati, 2011)

Hasil analisis bivariat menujukkan terdapat hubungan yang bermakna antara anemia dan kejadian BBLR. Hasil uji statistik menyatakan ibu hamil dengan anemia mempunyai kemungkinan 5,62 kali untuk melahirkan bayi BBLR.

Hasil penelitian ini didukung oleh Yana yang melakukan penelitian di Martapura. Yana menyatakan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara anemia pada ibu hamil dengan kejadian BBLR di wilayah kerja Puskesmas Martapura. Responden dengan status anemia saat hamil memiliki kemungkinan 7,286 kali untuk melahirkan bayi dengan status BBLR.(Yana & Yulidasari, 2016) Preeklampsia

Hasil analisis bivariat menunjukkan nilai p sebesar 0,000 yang memiliki arti bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara preeklampsia dengan kejadian BBLR.dengan nilai rasio prevalens (RP) sebesar 9,80 dengan 95% CI 5,79–16,58. Hasil uji statistik RP dapat diartikan responden dengan preeklampsia mempunyai risiko insidensi 9,80 kali untuk melahirkan bayi BBLR dibandingkan responden yang tidak preeklampsia.

Hasil penelitian ini didukung oleh Tintyarza yang mengemukakan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara preeklampsia pada ibu hamil dengan kejadian BBLR di RSUD RA. Kartini Jepara. Sebanyak 20,9% responden dengan preeklampsia melahirkan bayi dengan BBLR. Tintyarza menyatakan bahwa ibu hamil yang mengalami preeklampsia memiliki risiko 2,33 kali untuk melahirkan BBLR dibandingkan ibu hamil yang tidak preeklampsia.(Tintyarza, 2013)

Penelitian Lukito dan Dewi tahun 2007 mendapatkan gambaran kelainan pembuluh darah pada pemeriksaan histopatologi plasenta penderita preeklampsia/eklampsia berupa trombosis, proliferasi subintima,

deposit fibrin, hiperplasia tunika intima, dan aterosi akut akibat dari invasi trofoblas gelombang kedua gagal atau tidak sempurna. Diameter arteri spiralis mengalami penurunan yang cukup jauh pada penderita preeklampsia jika dibandingkan dengan kehamilan normal. Kelainan pada arteri spiralis tersebut diduga sebagai penyebab perfusi yang tidak adekuat dari darah ibu ke ruang intervillous. Gangguan aliran darah uteroplasenta menyebabkan penurunan suplai nutrien berupa glukosa, oksigen, asam amino, dan faktor pertumbuhan untuk janin yang berakibat pada berkurangnya pertumbuhan janin yang meliputi jaringan subkutan, rangka aksial, dan organ vital yang akhirnya dapat menyebabkan berat badan lahir rendah.(Lukito JS. Dewi P, 2007)

Tingkat Ekonomi

Terdapat 74,1% responden yang memiliki tingkat ekonomi rendah dan melahirkan bayi BBLR, sedangkan hanya 25,9% responden yang memiliki tingkat ekonomi menengah dan melahirkan bayi BBLR. Hasil analisis bivariat pada penelitian ini menunjukkan hubungan yang bermakna antara tingkat ekonomi keluarga dengan kejadian BBLR. Nilai rasio prevalens sebesar 6,33 yang memiliki arti bahwa responden yang memiliki tingkat ekonomi rendah memiliki insidensi 6,33 kali untuk melahirkan bayi BBLR dibandingkan dengan responden yang memiliki tingkat ekonomi keluarga cukup.

Hasil penelitian ini berbeda dengan penelitian yang dilakukan Pujiarti. Pujiarti menyatakan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara tingkat ekonomi dengan kejadian BBLR di Puskesmas Klangenan Kabupaten Cirebon tahun 2011. Presentase responden yang memiliki tingkat ekonomi rendah dan melahirkan bayi BBLR hanya 15,4%.(Pujiarti, 2012) Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Khairina di Puskesmas Cipayung Depok. Khairina menyatakan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara tingkat ekonomi keluarga dengan kejadian BBLR. Nilai p adalah sebesar 0,247. Hanya terdapat 7% ibu dengan status ekonomi rendah melahirkan bayi BBLR.(Khairina, 2013)

(8)

SIMPULAN

Angka kejadian BBLR adalah sebanyak 185 dari total 2935 sampel atau sebesar 6,3%; usia ibu, pendidikan ibu, usia kehamilan, status gizi, pemeriksaan antenatal, hipertensi, anemia, preeklampsia, dan tingkat ekonomi adalah mempunyai hubungan yang bermakna dengan kejadian BBLR. Jumlah paritas tidak mempunyai hubungan dengan kejadian BBLR; terdapat 7 variabel dari 11 variabel yang dianalisis yang merupakan faktor risiko BBLR, yaitu usia ibu, pendidikan ibu, usia kehamilan, status gizi, anemia, preeklampsia dan tingkat ekonomi; usia kehamilan merupakan faktor risiko yang paling berpengaruh dibandingkan dengan variabel lainnya; prevalensi masing-masing faktor risiko yang berpengaruh pada kejadian BBLR adalah sebagai berikut; usia ibu berisiko mempunyai prevalensi sebesar 22%, pendidikan rendah sebesar 7,6%, usia kehamilan berisiko mempunyai prevalensi 3,8%, ibu dengan status gizi kurang mempunyai prevalensi 11,1%, anemia 4,3%, preeklampsia 0,3%, eklampsia 0%, dan tingkat ekonomi rendah memiliki prevalensi paling tinggi yaitu 31,1%.

DAFTAR PUSTAKA

Andammori, F. (2013). Hubungan Tekanan Darah Ibu Hamil Aterm Dengan Berat Badan Lahir di RSUP Dr. M.Djamil Padang, 2(2), 67–69.

Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. (2013). Riset kesehatan dasar tahun 2013. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Badan Pusat Statistik. (2014). Indonesia -Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2002-2003.

Cahyani, W. (2015). Hubungan antara Tingkat Pendidikan, Umur, Peritas, dan Kadar Hemoglobin pada Maternal dengan Kejadian Berat BAdan Lahir Rendah (BBLR) di RS dr. Oen Surakarta Tahun 2014.

Faiqah, S. (2013). Hubungan Tekanan Darah Ibu Bersalin dengan Kejadian Berat Badan Lahir Rendah. Media Bina Ilmiah, 60–63.

Jaya, N. (2009, January). Analisis faktor risiko kejadian bayi berat badan lahir rendah.

Media Gizi Pangan, VII.

Khairina. (2013). Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Bayi Berat Lahir Rendah ( BBLR ) di Wilayah Kerja Puskesmas Kecamatan Cipayung Kota Depok Provinsi Jawa Barat Tahun 2013, 1–16.

Larroque, B., Bertrais, S., Czernichow, P., &

Léger, J. (2001). School difficulties in 20-year-olds who were born small for gestational age at term in a regional cohort study. Pediatrics, 108(1), 111– 115.

https://doi.org/10.1542/peds.108.1.111 Lukito JS. Dewi P. (2007). Gambaran

histopatologi arteri spiralis alas plasenta pada preeklampsia/eklampsia dan kehamilan normotensif. Majalah Kedokteran Nusantara, 40(3), 173–179. Monita, F., Suhaimi, D., & Ernalia, Y. (2016).

Hubungan Usia, Jarak Kelahiran dan Kadar Hemoglobin Ibu Hamil dengan Kejadian Berat Badan Lahir Rendah di RSUD Arifin Achmad Provinsi Riau. Jom FK, 3(1), 1–17.

Pamungkas, R. S., Argadireja, D. S., & Sakinah, R. K. (2014). Hubungan Usia Ibu dan Paritas dengan Tingkat Kejadian BBLR di Wilayah Kerja Puskesmas Plered, Kecamatan Plered Kabupaten Purwakarta Tahun 2014, 989–994. Proverawati, A. (2010). Nutrisi Janin dan Ibu

Hamil. Yogyakarta: Nuha Medika.

Pujiarti. (2012). Faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian bayi berat lahir rendah di Puskesmas Klangenan Kabupaten Cirebon tahun 2011. Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia.

Rahmi, Arsyad, D. S., & Rismayanti. (2013). Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Bayi Berat Badan Lahir Rendah Di Rsia Pertiwi Makassar, 1–11. Suwarni, Y. (2012). Hubungan antara Paritas,

LILA, Kadar Haemoglobin dan Usia Ibu Hamil dengan Berat Lahir Bayi, 60–66. Tintyarza, A. G. (2013). Hubungan

Preeklampsia/Eklampsia dengan Kejadian BBLR pada Bayi di RSUD RA. Kartini Jepara. Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Tjekyan, R. (2010). Faktor risiko dan prognosis berat badan lahir rendah (BBLR) dan berat badan lahir sangat rendah (BBLSR) dan kejadian lahir mati di Kota Palembang tahun 2010. Jurnal Kesehatan Kedokteran Universitas Sriwijaya, (3).

WHO. (2012). Low Birth Weight. University of Maryland Medical Center, 1–8. https://doi.org/10.1001/jama.287.2.270 Wiknjosastro, H. (2009). Ilmu Kebidanan (4th

ed.). Jakarta: Bina Pustaka Sarwono Prawodihardjo.

(9)

Gambar

Tabel 1. DIstribusi responden berdasarkan
Tabel 2. Hubungan usia ibu, pendidikan
Tabel 3. Hasil analisis multivariat regresi

Referensi

Dokumen terkait

Status sosial ekonomi, pendidikan ibu, penyakit penyerta, ASI, BBLR, dan kelengkapan imunisasi merupakan faktor risiko kejadian gizi buruk balita.Faktor risiko

Variabel dalam penelitian ini adalah kejadian sectio caesarea pada ibu bersalin berdasarkan faktor risiko umur, paritas, dan komplikasi kehamilan Jumlah sampel yang digunakan

Terdapat beberapa faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian kelaianan kongenital pada bayi, yaitu: usia ibu, multi- paritas, riwayat abortus, kelainan kongenital

Hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh faktor risiko ibu terhadap persalinan caesarean section yang meliputi variabel usia, paritas, jarak kelahiran, riwayat bekas

Fokus penelitian adalah faktor risiko kejadian pendek pada anak usia 0-2 tahun antara lain pendidikan ibu, pengetahuan ibu, status pemberian ASI eksklusif, status BBLR dan

Kejadian Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) lebih sering terjadi pada ibu yang. mempunyai paritas tinggi dibanding dengan ibu dengan paritas rendah,

Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan yang signifikan antara sembilan variabel dengan kejadian BBLR yaitu umur ibu, kadar Hb, jarak paritas, jumlah kunjungan

Penelitian ini bertujuan menganalisis pertambahan berat badan, dan status gizi ibu hamil sebagai faktor risiko kejadian Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR) di Puskesmas Gayamsari