• Tidak ada hasil yang ditemukan

Reformulasi Konsep Ekoturisme Berbasis P

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Reformulasi Konsep Ekoturisme Berbasis P"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

Reviewer:

Dr. Eng. Islamy Rusyida.,MT

Dr. Ibrahim Ali, M.Sc

Editor:

Ima Rahmawati Sushanti, ST.,M.MT

Fariz Primadi Hirsan, ST.,MT

Baiq Harly Widayanti, ST.,MM

Febrita Susanti, ST.,M.Eng

Sri Apriani Puji Lestari, ST.,MT

Yusril Ihza Mahendra, ST.,MT

Desain Sampul:

Ardi Yuniarman ST.,M.Sc

Agus Kurniawan, S.Ip.,M.Eng

Rasyid Ridha ST.,M.Si

Nahrul Hayat Imansyah, ST.,M.Si

Diterbitkan Oleh:

Program Studi Perencanaan Wilayah Dan Kota

Fakultas Teknik

Universitas Muhammadiyah Mataram

Hak cipta dilindungi Undang-Undang

Dilarang memperbanyak karya tulis ini dalam bentuk dan dengan cara apapun

tanpa ijin tertulis dari penerbit

Prosiding Seminar Nasional Planoearth#1 2017

Program Studi Teknik Perencanan Wilayah dan Kota

Universitas Muhammadiyah Mataram-NTB

Alamat: Jl. KH. Ahmad Dahlan No 1 Pagesangan

Kota Mataram

83127

Telp/Fax : (0370) 631904

Online: http://planoearth.ummat.ac.id

Tema: Implementasi New Urban Agenda Melalui Pengembangan Pariwisata Yang Berbasis

Budaya Lokal dan Pemberdayaan Komunitas

Isi:

1

.

Pembicara Utama

/ Keynote Speaker

2. Studi Pariwisata Perkotaan

3. Pengembangan Infrastruktur dan Sistem Informasi Terhadap Kepariwisataan

4. Pemberdayaan Komunitas Terhadap Kepariwisataan

5. Pengelolaan Lingkungan Terhadap Kepariwisataan

(3)

Reformulasi

Belajar dari kegagalan penyelesaian persoalan kerusakan lingkungan atau relasi disharmonis antara manusia dan lingkungan alam selama ini, maka perlu menempatkan pemahaman filosofis sebagai standpoint terhadap persoalan lokal-kontemporer relasi manusia dengan alam. Ini hanya dapat digali melalui pemahaman tentang relasi manusia dengan ruang atau lingkungan. Dalam

kerangka pandangan tersebut, maka konsep ―ekoturisme‖ adalah alat untuk mewujudkan tujuan penyelenggaraan kepariwisataan yang memegang teguh dan menerapkan nilai yang dikandung dalam prinsip penyelenggaraan kepariwisataan Indonesia dan konsep sustainable and responsible tourism seperti yang dirumuskan oleh UNWTO (2005). Dalam hal ini, pemahaman tentang budaya atau cara manusia berkomunikasi, melestarikan dan mengembangkan pengetahuan serta sikapnya terhadap ruang hidup dan kehidupannya adalah titik tolak bagi upaya preskriptif-implementatif berkenaan dengan pelestarian budaya dan lingkungan, khususnya basis praksis pengembangan dan keberlanjutan sektor ekonomi-pariwisata.

Trend pemikiran tentang pembangunan berkelanjutan yang menuntut adanya partisipasi masyarakat dalam setiap upaya pembangunan berlandaskan pandangan politikal-ekonomi liberal, dikhawatirkan menuai runtuhnya makna penting dari objek itu sendiri. Eksistensi sebuah jalinan ruang alam dan buatan dengan pandangan hidup-kehidupan, gagasan, cita-cita, orientasi nilai dan sistem kepercayaan dari suatu individu/kelompok yang terwariskan dari generasi ke generasi, yang menjadi identitas lokal dan perlu dilestarikan. Karena itu, penerapan ekoturisme harus dikembalikan kepada tujuan dasarnya, yaitu pelestarian. Demikian, sehingga reformulasi konsep ekoturisme signifikan untuk dilakukan.

Kata kunci: Ekoturisme, Partisipasi Masyarakat, Reformulasi

I. PENDAHULUAN

Every time we travel, for whatever reason, we are part of a global movement; a movement that has the power to drive inclusive development, create jobs and build the sustainable societies we want for our future; a movement that builds mutual understanding and can help us safeguard our shared natural and cultural heritage.‖

(4)

menemukan realitanya, namun karena keduanyalah maka pariwisata senantiasa dipandang dengan positif.

Beberapa tahun terakhir, terutama pada era pemerintahan Indonesia saat ini, pariwisata menggeliat menjadi primadona dan dicap sebagai juru selamat dari rutinitas yang dianggap membosankan. Dengan kemasan industri yang cantik, pariwisata menjadi sumber pemasukan utama bagi negara.3 Tak dapat dihindari, pariwisata pun identik dengan bisnis, perhotelan, hospitality, dan banyak hal lain yang terkait dengan mendatangkan, memanjakan dan mengeruk ―kantong‖ wisatawan di destinasi. Seperti yang tersirat dibalik slogan yang melekat pada peringatan World Tourism Day 2015, ―1 Billion Tourists, 1 Billion Opportunities‖. Harapan munculnya sejuta peluang yang

bermuara pada tujuan devisa negara.

Di Indonesia, studi kritis tentang pariwisata masih merupakan barang langka. Hal ini mungkin disebabkan oleh segala keindahan yang ditawarkan. Gejala yang sama juga berlaku di dunia. Namun demikian, pada tahun 1970-an mulai tampak adanya perkembangan analisis kritis soal pariwisata. Holden (2016) mencatat bahwa status pariwisata sebagai ―smokeless industry‖ pada era tersebut, mulai digugat.

Banyak ahli juga membeberkan berbagai dampak negatif pariwisata terhadap lingkungan, juga terhadap budaya lokal. Holden menyatakan bahwa wisata budaya etnik mencapai puncaknya sekitar tahun 1980-an. Analisis kritis tentang ekses negatif pariwisata pun bermunculan pada waktu tersebut. Di Indonesia, Bali dan Toraja menjadi contoh muram objek pariwisata yang sering diekspos.

Gigantisme sektoral yang terjadi di Indonesia tak dapat dipungkiri dipicu oleh industri pariwisata yang selalu menempati urutan ke-4 atau ke-5 penghasil devisa bagi negara dalam beberapa tahun terakhir. Dengan target kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) tahun 2019 sebesar 20 juta dan wisatawan nusantara (wisnus) sebesar 275 juta, maka pemerintah menetapkan pariwisata sebagai salah satu sektor unggulan dan memberikan anggaran belanja yang naik cukup signifikan demi tercapainya target utama pembangunan (Kemenpar RI, 2015). Tak dapat dipungkiri, target pembangunan kepariwisataan adalah identik dengan target utama pembangunan. Implikasinya, demi tercapainya target tersebut, maka komodifikasi budaya kontemporer hingga warisan leluhur dan atau lanskap alamiah --pegunungan dan lautan-- dianggap sah dan terjadi hampir di seluruh wilayah Indonesia.

Sejalan dengan tujuan mewujudkan penyelenggaraan kepariwisataan yang memegang teguh dan menerapkan nilai dalam prinsip penyelenggaraan kepariwisataan Indonesia dan konsep sustainable and responsible tourism yang dirumuskan UNWTO (2005), yaitu: 1) kepariwisataan berbasis budaya, yang dimengerti sebagai kegiatan kepariwisataan berlandaskan nilai-nilai agama, budaya, adat-istiadat dan tradisi bangsa Indonesia; 2) kepariwisataan berbasis masyarakat, yaitu bertujuan utama mensejahterakan masyarakat setempat dengan memberdayakan, peran serta langsung serta kepemilikan secara proporsionalitas untuk kemanfaatan sebesar-besarnya bagi masyarakat; dan 3) kepariwisataan berbasis lingkungan, menempatkan alam pada kedudukan yang sama sebagai ciptaan Tuhan, menggunakan sekaligus melestarikan alam agar dapat dimanfaatkan oleh

3

Disampaikan oleh Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Investasi Pariwisata Kementerian Pariwisata (DBPDIP Kemenpar) pada Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Kemenpar

dala te a Akselerasi Pembangunan Kepariwisataan dalam Rangka Pencapaian Target 12 JutaWisman

(5)

generasi yang akan datang; maka tulisan ini mengajukan refleksi kritis tentang konsep ―ekoturisme berbasis partisipasi masyarakat‖.

Dalam kerangka tujuan tersebut, maka pemahaman tentang budaya atau cara manusia berkomunikasi, melestarikan dan mengembangkan pengetahuan serta sikapnya terhadap ruang hidup dan kehidupannya adalah standpoint bagi upaya preskriptif-implementatif dalam pelestarian budaya dan lingkungan, sebagai basis praksis pengembangan dan keberlanjutan sektor ekonomi pariwisata.

II. METODE

Tulisan ini didasarkan pada kajian yang bersifat desk study dan dikategorikan dalam jenis penelitian content analysis. Pilihan jenis penelitian ini menuntut berlakunya beberapa prinsip, yaitu 1) melakukan analisis hanya terhadap isi teori atau dokumen yang tersedia secara sekunder; 2) analisis dilakukan terhadap: definisi, tema, topik, ideologi, paradigma, dan atau pernyataan-pernyataan khusus; 3) dilakukan secara obyektif dan sistematis dengan cara mendialogkan dengan sumber lain yang relevan; dan 4) membangun generalisasi ilmu dan atau teori, sehingga hasil akhirnya harus memberikan sumbangan teoritik yang relevan. Berdasarkan prinsip tersebut, maka sumber data utama dalam penelitian ini adalah dokumen sekunder atau tertulis, sehingga tidak menuntut adanya kunjungan lapangan.

Prinsip analisis dalam metode content analysis adalah melakukan analisis inter-textual atau memaknai teks melalui dialog dengan teks lain. Langkah analisis dalam metode ini adalah: 1) penentuan unit analisis; 2) kategorisasi unit analisis; 3) pemaknaan unit-unit yang serumpun berdasarkan karakteristiknya; 4) pemaknaan melalui dialog dengan teks atau sumber-sumber teori lain; dan 5) konsepsualisasi atau teorisasi hasil dialog (no 4) (Sudaryono, 2000).

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Pembangunan: perkembangan paradigmatis

Terminologi ―pembangunan‖ selama ini dimengerti sebagai sebuah kata benda yang berarti proses atau usaha yang dilakukan demi tercapainya tujuan peningkatan kondisi: 1) lahiriah seperti sandang, pangan, papan; 2) batiniah seperti pendidikan, rasa aman, rasa keadilan, rasa sehat; dan 3) hidup berkeadilan sosial yang meliputi seluruh rakyat (Salim, 1987; Fakih, 2001). Dalam pengertian tersebut, ―pembangunan‖ dapat dimengerti sebagai sebuah ―perubahan sosial‖. Lebih dari itu, ―pembangunan‖ dipahami pula sebagai sebuah pandangan ideologis, teoritis dan praktik perubahan sosial. Karenanya, membicarakan pembangunan adalah membicarakan keyakinan ideologis atau ―isme‖ yang menjadi latar belakang terjadinya perubahan sosial.

Gagasan tentang pembangunan mengalami perkembangan luar biasa dan seolah menjadi ―agama‖ karena janjinya untuk menyelesaikan persoalan sosial, ekonomi, politik, dan kultural. Dalam naungan payung paradigma filsafat positivisme hingga fenomenologis, gagasan tersebut berkembang dalam kerangka pandangan

(6)

subjektivitas dan menolak cara berpikir deterministik dan reduksionistik. Meski menjadi tradisi besar dalam perkembangan pengetahuan, namun kalangan ilmuwan sosial menganggap bahwa pengetahuan dalam naungan pandangan ini tidak dimaksudkan sebagai proses yang membebaskan. Anggapan ini mengarahkan pada munculnya pandangan baru, yaitu pandangan critical atau emancipatory knowledge yang dipahami sebagai proses atau gerakan mempercepat perubahan untuk pembebasan manusia dari ketidakadilan. Seperti halnya pandangan interpretatif yang menolak cara berpikir deterministik dan reduksionistik, pandangan kritis meyakini bahwa pengetahuan tidak mungkin bersifat netral. Berbeda dengan instumental knowledge, pandangan kritis ini menempatkan rakyat sebagai subjek utama dalam proses perubahan, penciptaan dan pengontrol pengetahuan mereka. Demikian, sehingga dalam pandangan ini subjektivitas, keberpihakan dan kesadaran berperan penting dalam membangun pengetahuan.

Pada akhirnya, pandangan critical atau emancipatory knowledge menjadi dasar ideologis dan teoritik bagi gerakan partisipatoris, baik dalam riset maupun praksis proses perubahan sosial. Dalam pembangunan, pandangan ini juga menaungi model pendekatan pembangunan politikal-ekonomi.

B. Pembangunan: pendekatan politikal-ekonomi

Pada prinsipnya, ekonomi dan politik dibedakan dalam tiga hal, yaitu 1) tujuan; 2) arena dan lembaga; dan 3) aktor utama atau pelaku (Clark, 1991). Ekonomi bertujuan untuk mencapai kesejahteraan melalui pasar sebagai institusi, dengan pelaku-pelaku individual yang dominan. Politik mencapai tujuan keadilan kolektif menggunakan institusi pemerintah, dengan masyarakat sebagai pelaku utama. Sementara itu, politikal-ekonomi sebagai sebuah alternatif yang berupaya mengintegrasikan antara market dan pemerintah untuk mencapai tujuan kolektif, yaitu kesejahteraan dan keadilan.

Berdasarkan ketiga prinsip tersebut, dikenal pandangan individualism,

hierarchism, communitarianism, dan egalitarianism yang menjadi asumsi dasar dari paradigma politikal-ekonomi. Pandangan filosofis ini menjadi dasar kategorisasi paradigma dalam pendekatan politikal-ekonomi, yaitu: paradigma liberal klasik, radikal, konservatif, dan modern liberal (neo liberal). Penganut paradigma liberal klasik

meyakini bahwa kesejahteraan ekonomi dapat dicapai melalui pembentukan hierarki sosial yang menjamin kebebasan individual. Dipengaruhi oleh semangat

enlightenment, kelompok radikal memberikan respon kepada paradigma liberal klasik dengan menawarkan rekonstruksi sosial melalui egalitarianisme. Dalam paradigma radikal diyakini bahwa pembangunan manusia dan ekonomi hanya tercapai bila seluruh masyarakat diberdayakan melalui pembentukan lembaga-lembaga kolektif, penguatan partisipasi masyarakat, dan penggunaan sumber daya secara kolektif. Paradigma ini menjadi ide dasar dari gerakan-gerakan politik progresif yang berkembang luar biasa di United State demi tercapainya reformasi kapitalisme ekonomi melalui institusionalisme. Sebuah tradisi berpikir dalam kerangka pandangan radikal yang mempercayai pentingnya peran pemerintah sebagai pengontrol dan pengarah kegiatan perekonomian untuk mencapai tujuan kesejahteraan bersama. Sebagai respon terhadap semangat enlightenment, muncul paradigma konservatif

yang dipengaruhi semangat romanticism. Penganut paradigma konservatif meyakini pentingnya mempertahankan hierarki sosial untuk mencapai tujuan-tujuan individual. Pandangan ini menganggap bahwa kekuatan hierarki sosial adalah cermin loyalitas dan persatuan antar individu dalam masyarakat. Kaum neo liberal atau dikenal sebagai

(7)

Gambar 1. Konsep pembangunan berkelanjutan dalam payung paradigma politikal-ekonomi.

Pergeseran paradigma tersebut tentu saja diikuti oleh pergeseran konsep pembangunan. Belakangan, konsep pembangunan berkelanjutan muncul dan diyakini sebagai jawaban atas persoalan-persoalan kemanusiaan dan lingkungan yang terjadi oleh praktik-praktik pembangunan sebelumnya.

C. Pembangunan Berkelanjutan: keadilan sosial dan kelestarian

"...development that meets the needs of the present without compromising the ability of future generations to meet their own need.

Sejak tahun 1987, sudah dinyatakan oleh World Commission bahwa pembangunan berkelanjutan adalah sebuah proses pemenuhan kebutuhan manusia saat ini dengan jaminan terpenuhinya kebutuhan generasi di masa mendatang oleh sumber daya yang ada. Dalam pengertian tersebut, maka semestinya dipahami bahwa keadilan sosial dan kelestarian sumber daya adalah ruh dalam setiap upaya pembangunan saat ini. Karenanya, pembangunan berkelanjutan sebenarnya adalah sebuah etika politik pembangunan, yang didalamnya terkandung komitmen moral tentang tatacara pencapaian tujuan dalam pembangunan.

Tersirat dari 17 tujuan yang ingin dicapai, terdapat tiga perspektif dasar dari pembangunan berkelanjutan, yaitu ekonomi, sosial-budaya (manusia), dan lingkungan hidup (ekologi). Sejalan dengan pandangan Hoehn (1996), ketiganya dipahami sebagai sebuah kesatuan integratif yang tidak dapat saling menegasikan. Demikian, sehingga perlu merenungkan kembali pandangan maupun orientasi pembangunan yang berlaku. Benarkah menempatkan satu aspek sebagai aras utama, dan kedua aspek lainnya sebagai penunjang dalam orientasi pembangunan? Jika ketiganya memiliki bobot yang sama, bagaimana halnya dengan pandangan tentang pembangunan yang kontekstual? Yang terikat oleh ruang, pelaku, dan waktu. Bukankah setiap ruang, setiap komunitas, setiap waktu memiliki persoalan dan membutuhkan pemecahan yang khas?

(8)

menempatkan manusia dan lingkungan sekedar sebagai faktor produksi. Meski secara teoritik keberdayaan manusia adalah tujuan yang dicita-citakan, tetapi bagaimana realitanya? Apakah keberdayaan itu cukup hanya dipahami dari turunnya angka kemiskinan, dari kemampuan produktif yang meningkatkan nilai tambah, kehadiran dalam sejumlah kelembagaan, kehadiran dalam setiap acara yang diprogramkan lembaga formal setempat? Terpenuhinya kursi-kursi atau lembar-lembar absensi? Apakah keberdayaan tidak terkait erat dengan eksistensi individu maupun komunitas setempat? Apakah kehadiran sama dengan keberadaan? Sama dengan eksistensi? Apakah eksistensi hanya terjadi secara eventual? Bagaimana kesehariannya?

Implementasi keadilan sosial sebagai ruh pembangunan menuai kesangsian mendasar, dan persoalan partisipasi masyarakat pun memerlukan refleksi mendalam. Bagaimana dengan kelestarian lingkungan?

Gambar 2. Konsep pembangunan berkelanjutan.

D. Ekoturisme: Trend pengembangan pariwisata berkelanjutan.

Selama ini ditemukan hubungan kontradiktif antara praktik pembangunan (developmental) dan pelestarian. Beberapa pihak menganggap bahwa pelestarian berorientasi ekosentrisme dan mengabaikan kehidupan manusia di dalamnya. Sementara itu, praktik developmental dianggap berlandaskan pada pandangan antroposentrisme, sehingga berbuah kerusakan lingkungan alam.

Ekoturisme, yang muncul pada tahun 1900-an, memberi jawaban atas hubungan kontradiktif tersebut. Kemunculannya dilatar belakangi oleh anggapan bahwa pariwisata merupakan kegiatan ekonomi global terbesar yang dapat menjadi jalan untuk menyediakan sumber pembiayaan bagi upaya konservasi alam dan meningkatkan nilai lahan yang dibiarkan dalam kondisi alamiahnya (Lindberg and Donald, 1993). Seiring dengan pandangan tersebut, muncul kesadaran bahwa aktivitas konservasi alam tak dapat dilangsungkan dengan mengorbankan warga yang selama ini hidup dalam lingkungan tersebut. Masyarakat lokal berhak mendapat keadilan atas ruang hidupnya. Ekoturisme menggabungkan komitmen kuat terhadap alam dan tanggung jawab sosial. Dapat dikatakan bahwa ekoturisme adalah wujud gerakan pembangunan berkelanjutan.

(9)

konservasi, keanekaragaman hayati, dan pembangunan berkelanjutan. Ekoturisme sebagai alat pembangunan dapat digunakan untuk mencapai tiga tujuan dasar Konvensi Keanekaragaman Hayati, yakni :

1. melindungi keanekaragaman hayati dan budaya;

2. mempromosikan penggunaan secara berkelanjutan terhadap keanekaragaman hayati, dengan menghasilkan pendapatan, lapangan kerja di ekoturisme;

3. membagikan keuntungan dari pembangunan ekowisata secara adil terhadap masyarakat lokal, dengan melibatkan mereka dalam perencanaan dan manajemen ekoturisme (Wood, 2002).

Demikian, sehingga ekoturisme adalah identik dengan sustainable tourism. Prinsip sustainabilitas mengacu pada terbangunnya keseimbangan aspek lingkungan, sosio-kultural; dan ekonomi berkelanjutan dalam pengembangan kegiatan wisata (UNEP and UNWTO, 2005).

Di Indonesia, partisipasi menjadi konsep yang problematis, terutama dalam kaitannya dengan pengembangan ekoturisme. Masyarakat Ekoturisme Internasional (The International Ecotourism Society-TIES) menuntut pemenuhan prinsip dasar untuk mencapai tujuan ekoturisme, yaitu:

1. menghormati budaya lokal serta sensitif terhadap keberadaan dan pengembangan budaya; menghindari dampak negatif yang dapat merusak integritas atau keunikan lingkungan;

2. mendidik wisatawan mengenai pentingnya konservasi dengan menyediakan layanan informasi atau pendidikan bagi pengunjung dalam menikmati alam dan atau budaya lokal;

3. menekankan pentingnya perencanaan dan pertumbuhan berkelanjutan dalam industri pariwisata, dan meneliti agar pembangunan pariwisata tidak melampaui daya dukung sosial dan lingkungan;

4. melakukan penanganan kegiatan wisata yang memberikan efek terbaik dalam memelihara kelestarian ekologi melalui penggunaan infrastruktur yang bersahabat dengan lingkungan;

5. menjadikan aspirasi pengunjung sebagai masukan dalam mengembangkan kegiatan wisata;

6. memberikan kontribusi pendapatan untuk konservasi lingkungan dan warisan budaya setempat;

7. mengarahkan pendapatan bagi kehidupan sosial-ekonomi masyarakat lokal berkelanjutan;

8. mempertahankan presentase pendapatan yang tinggi bagi negara penyelenggara pariwisata dengan mengutamakan penggunaan fasilitas dan jasa lokal (Wood, 1996; 2002).

Dalam tujuan tersebut, tersirat bahwa kelestarian budaya lokal dan lingkungan alam setempat yang terwariskan dari generasi ke generasi, juga keadilan bagi masyarakat lokal untuk mendapat kesempatan mengelola dan mencapai kesejahteraan hidupnya adalah tujuan dasar dalam pengembangan ekoturisme. Mempertimbangkan hal tersebut, semestinya disadari bahwa partisipasi sosial atau partisipasi masyarakat, yang selama ini digunakan sebagai basis upaya preskriptif pariwisata atau perencanaan pembangunan seperti yang dilakukan dalam riset-riset terapan lain, sebenarnya adalah bagian dari budaya hidup atau potensi cultural living

(10)

masyarakat‖ adalah salah satu tradisi yang telah terwariskan dari generasi ke generasi (Pangarsa, 2006; Rukmi, 2014; 2015). Karena itu, ―partisipasi masyarakat‖ semestinya

dipahami sebagai bagian dari ―cultural heritage‖ itu sendiri. Jadi, mengapa dalam tradisi pembangunan Indonesia saat ini, khususnya ekonomi-pariwisata, partisipasi masyarakat atau gotong-royong diposisikan sekadar sebagai alat pembangunan?

Mengingat sejarah perkembangannya yang panjang, di Indonesia problem tersebut terjadi karena konsep partisipatif ini muncul dari tradisi hidup masyarakat Barat yang khas. Tradisi partisipasi kontradiksi dengan tradisi hidup masyarakat Barat yang dominan individualis, berbasis konsumen, dan dominasi rasionalisme yang menolak sosialisasi dengan kelompok-kelompok masyarakat tradisional. Karenanya, menumbuhkan kesadaran, yang menjadi fokus dasar dalam gerakan partisipasi, adalah sebuah tantangan berat bagi para pelaku pembangunan dalam menyelesaikan persoalan sosialisasi pada konsumen-konsumen yang pasif. Implikasinya, tokenisme justru muncul dan menciptakan citra keberhasilan sosialisasi antar komunitas.

Tujuan pembangunan, ekoturisme, yang telah dirumuskan disosialisasikan pada kelompok masyarakat lokal. Ketika masyarakat lokal tersebut dikumpulkan untuk mendapat informasi tentang program pembangunan yang akan dilakukan atas diri mereka dan ruang hidupnya demi kesejahteraan, apakah telah diketahui kesejahteraan dalam pandangan mereka? Apakah mereka memang betul-betul memerlukan peningkatan pendapatan untuk memenuhi kesejahteraannya? Dalam konteks kelestarian lingkungan, apakah sudah dipahami bagaimana masyarakat berhubungan dengan lingkungan hidupnya? Bagaimana mereka memandang lingkungannya?

Program-program pengembangan tiba-tiba datang, diinformasikan dan ―dikonsultasikan‖ kepada rakyat, tetapi mereka sebenarnya sangat sedikit atau bahkan tidak punya sama sekali kekuatan untuk mempengaruhi keputusan dalam program-program tersebut. Jadi, sebenarnya siapa yang diberdayakan dalam proses partisipatif tersebut? Persoalan hospitality sudah bukan lagi rahasia merupakan perilaku hidup masyarakat tradisional di Indonesia yang terwariskan secara turun-temurun. Mengundang, memuliakan, dan membawa tamu dalam kehidupan keseharian, juga bekerja sama dengan sesama warga tak sekadar kebiasaan, namun disadari sebagai kewajiban dan kebutuhan bagi masyarakat lokal setempat. Jadi, mengapa harus diajarkan dan diperjual belikan?

Program-program ekoturisme berbasis partisipasi masyarakat sebenarnya penuh lubang. Lubang yang membuat terperosok ke dalam ―kosmetikanisasi‖, eksploitasi, ko-optasi demi jaminan tercapainya motif-motif yang telah dirumuskan, dan kolonisasi pandangan. Jika direnungkan kembali, penyimpangan dari idealisme awal perumusan konsep tersebut menyimpan kejahatan tersembunyi. Dehumanisasi yang menuai socio-cultural cost tak ternilai di kemudian hari.

(11)

E. Pemahaman kembali konsep sustainable and responsible tourism: reformulasi.

Bukan berarti sikap skeptis terhadap konsep ekoturisme berbasis partisipasi masyarakat dapat dibenarkan. Yang diperlukan adalah pemahaman kembali ruh dari konsep ekoturisme yang menjadi manifestasi pembangunan berkelanjutan, yaitu keadilan sosial dan kelestarian. Berdasarkan kasus-kasus implementatif yang terjadi, maka reformulasi konsep ekoturisme berbasis partisipasi masyarakat perlu dipertimbangkan dalam kerangka: 1) tujuan bagi setiap individu dan kelompok masyarakat; 2) peran lembaga lokal atau tradisional dalam setiap pengambilan keputusan atau perencanaan program; dan 3) hak keterlibatan individu dan komunitas sebagai subjek dalam setiap proses pembangunan.

Tujuan pengembangan ekoturisme diarahkan pada tercapainya kesejahteraan dan keadilan bersama. Demi tercapainya tujuan tersebut, maka diperlukan pemahaman tentang konsepsi ―kesejahteraan, keadilan, dan kelestarian‖ yang menjadi azas hidup masyarakat setempat dan bersumber dari pandangan hidup (keyakinan religius dan atau kepercayaan mitologis), orientasi nilai, kesatuan ide yang mewujud dalam tradisi dan sikap perilaku dalam beraktivitas keseharian (Rukmi, 2015; 2016). Pengungkapan konsepsi lokal tersebut akan menjadi landasan penting dalam upaya pencapaian kepentingan dan pengembangan karakter individual untuk memberikan kontribusi pada kesejahteraan dan keadilan bersama. Demi mencapai kesejahteraan kolektif dan melindungi lingkungan, maka pengembangan ekoturisme perlu mempertahankan keteranyaman individu-individu tersebut dalam jalinan kerjasama kooperatif atas dasar tanggung jawab bersama. Karenanya, regulasi-regulasi lokal dalam upaya perlindungan lingkungan yang diproduksi berdasar konsensus bersama harus mendapat dukungan. Demikian, sehingga kekuatan sosial yang ada sangat memungkinkan dan memfasilitasi individu untuk melakukan kontrol atasnya.

Berdasarkan prinsip tersebut, maka diharapkan lubang-lubang penerapan konsep ekoturisme berbasis partisipatif tak lagi ditemukan. Pengungkapan pengetahuan lokal masyarakat, penghargaan terhadap individu dan lembaga sosial setempat tidak memungkinkan para perencana untuk berjarak dengan lingkungan, yaitu manusia dan alam setempat. Inilah humanisasi yang dicita-citakan konsep pembangunan berkelanjutan dan ekoturisme secara khusus.

(12)

IV. KESIMPULAN: EKOTURISME BERBASIS OBJEK

Kesadaran bahwa ekoturisme menjadi bagian dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan, mengarahkan pada kesadaran baru bahwa keadilan sosial dan kelestarian sumber daya adalah ruh dalam setiap upaya pengembangannya. Keinginan untuk mewujudkan pembangunan yang berkeadilan sosial, berdampak pada banyak upaya penerapan konsep ekoturisme berbasis partisipasi masyarakat.

Di Indonesia, partisipasi masyarakat menjadi konsep yang problematis. Program-program ekoturisme berbasis partisipasi masyarakat yang dijalankan sangat memungkinkan untuk terperosok ke dalam lubang dehumanisasi. Karena itu reformulasi konsep ekoturisme berbasis partisipasi masyarakat harus didasarkan pada upaya pengungkapan pengetahuan lokal yang berazas pada potensi kultural masyarakat, serta penghargaan terhadap karakter individual dan lembaga sosial setempat. Hal ini mustahil untuk dapat dilakukan oleh para perencana atau peneliti dengan mempertahankan objektivitas dan mengabaikan keberpihakan terhadap lingkungan, yaitu manusia dan alam lokal. Dengan demikian, partisipasi masyarakat diposisikan kembali sebagai bagian dari nilai kultural yang harus dilestarikan. Akhirnya, konsep ekoturisme perlu dirumuskan kembali untuk menempatkan objek, yaitu objek warisan budaya (manusia) dan lingkungan alam lokal, sebagai basis pengembangan.

DAFTAR PUSTAKA

Agus, M. (2011). Pengelolaan Ekowisata Petungkriyono Berbasis Partisipasi Masyarakat, Prosiding, Seminar dan Lokakarya Nasional “Ekowisata

Petungkriyono Berbasis Kewirausahaan”. Pekalongan: Universitas Pekalongan, 24 – 25 September 2011.

Attar, M., Luchman, H. dan Bagyo, Y. (2013). Analisis Potensi dan Arahan Strategi Kebijakan Pengembangan Desa Ekowisata Di Kecamatan Bumiaji – Kota Batu. Journal Of Indonesian Tourism and Development Studies, Vol. 1 No. 2 April, 2013.

Black, J.K. (1997). Development in Theory and Practice. Boulder, CO: Westview Press.

Clark, B. (1991). Political Economy. A Comparative Approach. New York: Praeger. Djaelani, MS. (2011). Etika Lingkungan dalam Pembangunan Berkelanjutan.

Econosains. Vol. IX No. 1 Maret 2011.

Fakih, M. (2002). Runtuhnya Teori Pembangunan dan Globalisasi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Fandeli, C.; Raharjana,D.T.; Kaharudin. (2003). Pengembangan Kawasan Pedesaan sebagai Objek Wisata (Perencanaan Model Kelembagaan, Pasar dan Paket Wisata Pedesaan Sekitar Gunung Merapi) Yogyakarata.

Yogyakarta: Lembaga Penelitian Universitas Gadjah Mada.

Fowler, P.J. (2003). World Heritage Cultural Landscapes 1992 – 2002. Paris, Perancis : UNESCO World Heritage Centre.

Inskeep, E. (1991). Tourism Planning, and Integrated and Sustainable Development Approach. New York: Van Nostrand.

James, P.E and Martin, G. (1981). All Possible Worlds: A History of Geographical Ideas. New York: John Wiley & Sons.

Morgan, D. (1979). Merchant of Grain. New York: Viking.

Pannell, S. (2006). Reconciling Nature and Culture in a Global Context: Lessons form the World Heritage List. Australia: James Cook University.

(13)

Rukmi, W.I.; Achmad, Dj.; Sudaryono S.; Heddy S.A. (2016). The Construction of Spatial Concept Based Upon Beliefs and Life Orientation. Nobility Building Space of Majapahit Ancient City, Indonesia. Proceeding. Sriwijaya International Conference on Engineering, Science and Technology (SICEST). Bangka: Universitas Sriwijaya, 9-10 November 2016.

Rukmi, W.I. (2015). Ruang Kemulian: Konstruksi Gerak Meruang Dalam Kawasan Pusat Situs Purbakala Majapahit. Tidak dipublikasikan. Disertasi. Yogyakarta: UGM.

Rukmi, W.I.; Achmad, Dj.; Sudaryono S.; Heddy S.A. (2015). Monopluralitas Dalam Ruang Pusaka Majapahit di Trowulan. Proceeding. Seminar Nasional dan Workshop Sustainable Culture Architecture and Nature (SCAN) #6. Finding the Fifth Element. Yogyakarta: UAJY, 21 Mei 2015.

Sudaryono. (2000). Bahan Kuliah Metodologi Penelitian untuk Program S2 MPKDI.

Yogjakarta: UGM.

Suryawan, I.B. (2013). Pengelolaan Potensi Ekowisata di Desa Cau Belayu Kecamatan Marga Kabupaten Tabanan. Analisis Wisata, Vol. 13 No. 1 Tahun 2013, Fakultas Pariwisata Universitas Udayana, Denpasar.

UNEP and UNWTO. (2005). Making Tourism More Sustainable - A Guide for Policy Makers.

(14)

Gambar

Gambar 1. Konsep pembangunan berkelanjutan dalam payung paradigma politikal-ekonomi.
Gambar 2. Konsep pembangunan berkelanjutan.
Gambar 3. Relasi ekoturisme, ruang, dan konsep pembangunan berkelanjutan.
Gambar 4. Ekoturisme berbasis warisan kultural-lingkungan.

Referensi

Dokumen terkait

Menjadikan Program Studi Pendidikan Biologi PPs Universitas Negeri Malang sebagai lembaga yang menghasilkan sumberdaya manusia yang unggul dalam bidang pendidikan

Kadar abu pada snack bars tepung millet dan tepung pisang ini cenderung lebih tinggi dari penelitian yang telah dilakukan Pradipta dan Lapin tahun 2011 karena

perencanaan awal. Pada tahap ini pelaksanaan pembelajaran yang telah dilaksanakan berdasarkan langkah-langkah pembelajaran model kooperatif tipe jigsaw. 3)Tahap pengamatan

Menentukan Tujuan Dalam menghadapi anak (peserta didik) masa kini seorang pendidik dituntut untuk memiliki kecerdasan emosi dan sosial, suatu kemampuan untuk

Oleh karena itu, dilakukan pengujian isolat agensia hayati Pseudomonad fluoresens untuk mengetahui isolat Pf yang paling baik dalam menekan perkembangan laju

k!mih) ) >agina) $uga 0rola0sus ut!ri. #!ningkatkan daya ingatan yang mulai #!ningkatkan daya ingatan yang mulai %!rkurang.. B!rh!nti m!rokok akan sangat su00orti6 yang

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi perairan ditinjau dari parameter lingkungan, mengetahui fitoplankton yang melimpah dan mengtahui hubungan antara

Di dalam kasus ahli waris pengganti di desa Kalisoka, peneliti menyimpulkan bahwa pembagian harta ahli waris pengganti tidak sesuai dengan pembagian yang ada di