• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. URAIAN TEORITIS 2.1.1. Brand Loyalty 2.1.1.1 Merek (Brand) - Pengaruh Trust In a Brand Terhadap Brand Loyalty Pada Konsumen Susu UHT Merek Ultramilk Di Wilayah Kelurahan Titi Rantai Medan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. URAIAN TEORITIS 2.1.1. Brand Loyalty 2.1.1.1 Merek (Brand) - Pengaruh Trust In a Brand Terhadap Brand Loyalty Pada Konsumen Susu UHT Merek Ultramilk Di Wilayah Kelurahan Titi Rantai Medan"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. URAIAN TEORITIS 2.1.1. Brand Loyalty 2.1.1.1 Merek (Brand)

Branding adalah keseluruhan proses bisnis dalam memilih janji, nilai, dan

komponen apa yang akan dimiliki oleh suatu entitas. (Patricia, 2007:5). Keahlian

yang sangat unik dari pemasar profesional adalah kemampuannya untuk

menciptakan, memelihara, melindungi, dan meningkatkan merek.

Merek adalah sejumlah citra dan pengalaman dalam benak konsumen yang

mengkomunikasikan manfaat yang dijanjikan produk yang diproduksi oleh

perusahaan tertentu. Menurut Kotler & Keller (2007:332), bahwa merek adalah

nama, istilah, tanda, simbol, desain atau kombinasi keseluruhannya, yang

dimaksudkan untuk mengidentifikasikan barang atau jasa yang ditawarkan

perusahaan sekaligus untuk mendiferensiasikannya dari barang atau jasa pesaing.

Selain membedakan satu produk dengan produk yang lain, merek juga

memberi manfaat bagi konsumen diantaranya membantu mengidentikasi manfaat

yang ditawarkan dan kualitas produk. Konsumen lebih mempercayai produk

dengan merek tertentu daripada produk tanpa merek meskipun manfaat yang

ditawarkan sama (Ferinadewi, 2008:135). Merek dapat memiliki enam level

(2)

1. Atribut: merek mengingatkan pada atribut tertentu. Mercedes memberi kesan

sebagai mobil yang mahal, dibuat dengan baik, dirancang dengan baik, tahan lama,

dan bergengsi tinggi.

2. Manfaat: bagi konsumen, kadang sebuah merek tidak sekadar menyatakan

atribut, tetapi manfaat. Mereka membeli produk tidak membeli atribut, tetapi

membeli manfaat. Atribut yang dimiliki oleh suatu produk dapat diterjemahkan

menjadi manfaat fungsional dan atau emosional. Sebagai contoh : atribut “tahan

lama” diterjemahkan menjadi manfaat fungsional “tidak perlu cepat beli lagi,

atribut “mahal“ diterjemahkan menjadi manfaat emosional “bergengsi”, dan lain

lain.

3. Nilai: merek juga menyatakan sesuatu tentang nilai produsen. Jadi, Mercedes

berarti kinerja tinggi, keamanan, gengsi, dan lain-lain.

4. Budaya: merek juga mewakili budaya tertentu. Mercedes mewakili budaya

Jerman, terorganisasi, efisien, bermutu tinggi.

5. Kepribadian: merek mencerminkan kepribadian tertentu. Mercedes

mencerminkan pimpinan yang masuk akal (orang), singa yang memerintah

(binatang), atau istana yang agung (objek).

6. Pemakai: merek menunjukkan jenis konsumen yang membeli atau menggunakan

produk tersebut. Mercedes menunjukkan pemakainya seorang diplomat atau

eksekutif.

Pada intinya merek adalah penggunaan nama, logo, trade mark, serta slogan

untuk membedakan perusahaan perusahaan dan individu-individu satu sama lain

(3)

atau logo membuat merek tersebut segera dapat dikenali oleh konsumen sehingga

segala sesuatu yang berkaitan dengannya tetap diingat. Dengan demikian, suatu

merek dapat mengandung tiga hal, yaitu sebagai berikut:

1) Menjelaskan apa yang dijual perusahaan.

2) Menjelaskan apa yang dijalankan oleh perusahaan.

3) Menjelaskan profil perusahaan itu sendiri.

Suatu merek memberikan serangkaian janji yang didalamnya menyangkut

kepercayaan, konsistensi, dan harapan. Dengan demikian, merek sangat penting,

baik bagi konsumen maupun produsen. Bagi konsumen, merek bermanfaat untuk

mempermudah proses keputusan pembelian dan merupakan jaminan akan kualitas.

Sebaliknya, bagi produsen, merek dapat membantu upaya-upaya untuk membangun

loyalitas dan hubungan berkelanjutan dengan konsumen.

Persoalan merek menjadi salah satu persoalan yang harus dipantau secara

terus menerus oleh setiap perusahaan. Merek bisa memiliki nilai tinggi karena ada

brand building activity yang bukan sekadar berdasarkan komunikasi, tetapi

merupakan segala macam usaha lain untuk memperkuat merek tersebut.

Adanya komunikasi, merek bisa menjanjikan sesuatu, bahkan lebih dari

janji, merek juga mensinyalkan sesuatu (brand signaling). Merek akan mempunyai

reputasi jika ia memiliki kualitas dan karisma. Agar memiliki karisma, merek harus

mempunyai aura, harus konsisten, kualitasnya harus dijaga dari waktu ke waktu,

selain tentunya juga harus mempunyai kredibilitas.

Merek terbaik, tentu suatu merek harus terlihat baik di pasar hingga mampu

(4)

memiliki costumer value jauh di atas merek-merek yang lain. Selain itu, harus

mampu meningkatkan keterlibatan emosi pelanggan sehingga pelanggan

mempunyai ikatan dan keyakinan terhadap merek tersebut.

2.1.1.2. Kesetiaan Merek (Brand Loyalty)

Loyalitas merupakan hasil dari pembelajaran konsumen pada suatu entitas

tertentu (merek, produk, jasa, atau toko) yang dapat memuaskan kebutuhannya.

(Ruly, 2006:68). Kesetiaan merek (brand loyalty) merupakan suatu konsep yang

sangat penting dalam strategi pemasaran karena memberikan banyak manfaat bagi

perusahaan termasuk pembelian berulang dan dapat mengurangi biaya pemasaran.

(Ruly, 2006:68). Loyalitas dapat diartikan sebagai suatu komitmen yang mendalam

untuk melakukan pembelian ulang produk atau jasa yang menjadi preferensinya

secara konsisten pada masa yang akan datang dengan cara membeli ulang merek

yang sama meskipun ada pengaruh situasional dan usaha pemasaran yang dapat

menimbulkan peralihan perilaku.

Loyalitas merek menunjukkan adanya suatu ikatan antara pelanggan dengan

merek tertentu dan ini sering kali ditandai dengan adanya pembelian ulang dari

pelanggan. Minor dan Mowen (2002:109) mengemukakan bahwa loyalitas dapat

didasarkan pada perilaku pembelian aktual produk yang dikaitkan dengan proporsi

pembelian. Berdasarkan dari pandangan tersebut maka loyalitas merek

didefinisikan sebagai: keinginan konsumen untuk melakukan pembelian ulang.

Perusahaan yang mempunyai basis pelanggan yang mempunyai loyalitas

merek yang tinggi dapat mengurangi biaya pemasaran perusahaan karena biaya

(5)

mendapatkan pelanggan baru. Loyalitas merek yang tinggi dapat meningkatkan

perdagangan. Dan dapat menarik minat pelanggan baru karena mereka memiliki

keyakinan bahwa membeli produk bermerek minimal dapat mengurangi risiko.

Keuntungan lain yang didapat dari loyalitas merek adalah perusahaan dapat lebih

cepat untuk merespons gerakan pesaing.

2.1.2. Kepercayaan Terhadap Merek (Trust in Brand)

Menurut Turnbull dkk (dalam Bennet dan Gabriel, 2001) sifat dari sebuah

hubungan yang dekat adalah adanya kondisi yang lebih stabil, lebih mudah saling

memprediksi perilaku partner dan usia dari sebuah hubungan sehingga konsumen

menjadi enggan untuk berganti penyedia produk. Determinan hubungan yang

dekat adalah kepercayaan. Bagi pemasar, merek mewakili hubungan pemasaran

yang tercipta dengan konsumen. (Ferinadewi, 2008: 146)

Kepercayaan memiliki peran yang penting dalam pemasaran industri.

Dinamika lingkungan bisnis yang cepat memaksa pemasaran perusahaan untuk

mencari cara yang lebih kreatif dan fleksibel untuk beradaptasi. Untuk tetap

bertahan dalam situasi tersebut, perusahaan akan mencari cara yang kreatif melalui

pembentukan hubungan yang kolaboratif dengan pelanggan. Kepercayaan

dianggap sebagai cara yang paling penting dalam membangun dan memelihara

hubungan dengan pelanggan dalam jangka panjang.

Kepercayaan adalah sejumlah keyakinan spesifik terhadap integritas

(kejujuran pihak yang dipercaya dan kemampuan menepati janji, benevolence

(perhatian dan motivasi yang dipercaya untuk bertindak sesuai dengan kepentingan

(6)

melaksanakan kebutuhan yang mempercayai) dan predictability (konsistensi

perilaku pihak yang dipercaya). Hal ini menjelaskan bahwa penciptaan awal

hubungan dengan partner didasarkan pada trust (kepercayaan). (Lau dan Lee,

1999:344)

Dalam pasar konsumen, ada begitu banyak konsumen yang tidak

teridentifikasi, sehingga sulit bagi perusahaan untuk membangun hubungan

personal dengan setiap pelanggan. Cara lain yang ditempuh oleh pemasar untuk

membangun hubungan personal dengan pelanggan adalah melalui sebuah simbol,

yaitu merek (brand). Dalam situasi tersebut, merek berperan sebagai substitute

hubungan person-to-person antara perusahaan dengan pelanggannya, selanjutnya

kepercayaan dapat dibangun melalui merek.

Kepercayaan terhadap merek merupakan kesediaan atau kemauan

konsumen dalam menghadapi resiko yang berhubungan dengan merek yang dibeli

akan memberikan hasil yang positif atau menguntungkan. Terdapat tiga faktor yang

mempengaruhi kepercayaan terhadap merek. Ketiga faktor ini berhubungan dengan

tiga entitas yang tercakup dalam hubungan antara merek dan konsumen. Adapun

ketiga faktor tersebut adalah merek itu sendiri, perusahaan pembuat merek, dan

konsumen. Kepercayaan terhadap merek akan menimbulkan loyalitas merek. (Lau

dan Lee, 1999:344).

Hubungan ketiga faktor tersebut dengan kepercayaan merek dapat

(7)

Trust in a Brand Brand Characteristic

• Brand Reputation • Brand Predictability • Brand Competence

Gambar 2.1 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Brand Loyalty Sumber: Lau dan Lee, 1999:345

1. Karakteristik Merek (Brand Characteristics)

Karakteristik merek memainkan peran yang vital dalam menentukan apakah

pelanggan memutuskan untuk percaya pada suatu merek. Karakteristik merek

umumnya didefinisikan segala hal yang terkait dengan merek yang ada di benak

konsumen. Dalam konteks hubungan pelanggan-merek, kepercayaan pelanggan

dibangun berdasarkan pada reputasi merek, prediktabilitas merek, dan kompetensi

merek. Penjelasan dari tiga karakteristik merek dapat ditunjukkan sebagai berikut:

a.Brand Reputation

Brand reputation berkenaan dengan opini dari orang lain bahwa merek itu baik dan

(8)

melalui advertising dan public relation, tapi juga dipengaruhi oleh kualitas dan

kinerja produk. Pelanggan akan mempersepsikan bahwa sebuah merek memiliki

reputasi baik, jika sebuah merek dapat memenuhi harapan mereka, maka reputasi

merek yang baik tersebut akan memperkuat kepercayaan pelanggan.

b. Brand Predictability

Brand predictability berkenaan dengan kemampuan suatu kelompok untuk

memprediksi perilaku dari kelompok lain. Predictable brand adalah merek yang

memungkinkan pelanggan untuk mengharapkan bagaimana sebuah merek akan

memiliki performance pada setiap pemakaian. Predictability mungkin karena

tingkat konsistensi dari kualitas produk. Brand predictability dapat meningkatkan

keyakinan konsumen karena konsumen mengetahui bahwa tidak ada sesuatu yang

tidak diharapkan akan terjadi ketika menggunakan merek tersebut. Karena itu,

brand predictability akan meningkatkan kepercayaan terhadap merek karena

predictability menciptakan ekspektasi positif.

c. Brand Competence

Brand competence adalah merek yang memiliki kemampuan untuk menyelesaikan

permasalahan yang dihadapi oleh pelanggan, dan dapat memenuhi kebutuhannya.

Kemampuan berkaitan dengan keahlian dan karakteristik yang memungkinkan

suatu kelompok memiliki pengaruh dalam suatu wilayah tertentu. Ketika diyakini

bahwa sebuah merek itu mampu untuk menyelesaikan permasalahan dalam diri

pelanggan, maka pelanggan tersebut mungkin berkeinginan untuk meyakini merek

tersebut.

(9)

Karakteristik perusahaan yang berpengaruh terhadap kepercayaan

pelanggan pada sebuah merek adalah kepercayaan pelanggan terhadap perusahaan,

reputasi perusahaan, motif-motif dari perusahaan yang dipersepsikan, dan integritas

perusahaan yang dipersepsikan.

Karakteristik perusahaan juga dapat mempengaruhi tingkat kepercayaan

pelanggan pada sebuah merek. Pengetahuan konsumen terhadap perusahaan

kemungkinan akan mempengaruhi penilaiannya terhadap merek perusahaan.

a. Trust in the Company

Dalam kasus perusahaan dan mereknya, perusahaan merupakan entitas terbesar dan

merek merupakan entitas terkecil dari entitas terbesar tersebut. Sehingga, pelanggan

yang percaya terhadap perusahaan kemungkinan percaya terhadap mereknya.

b. Company Reputation

Ketika pelanggan mempersepsikan opini orang lain bahwa perusahaan dikenal adil

dan jujur, maka pelanggan akan merasa lebih aman dalam memperoleh dan

menggunakan merek perusahaan. Dalam konteks saluran pemasaran, ketika

perusahaan dinilai memiliki reputasi yang baik, maka pelanggan kemungkinan

besar akan percaya pada pengecer dan vendor).

c. Company Perceived Motives

Intentionality merupakan cara dimana kepercayaan dibangun dalam hubungan

antara penjual dan pembeli. Benevolence of motives merupakan faktor penting

(10)

suatu perusahaan layak dipercaya dan bertindak sesuai dengan kepentingan mereka,

maka pelanggan akan mempercayai merek perusahaan.

d. Company Integrity

Integritas perusahaan merupakan persepsi pelanggan yang melekat pada

sekumpulan dari prinsip-prinsip yang dapat diterima. Perusahaan yang memiliki

integritas tinggi tergantung pada konsistensi dari tindakannya di masa lalu,

komunikasi yang akurat tentang perusahaan dari kelompok lain, keyakinan bahwa

perusahaan memiliki sense of justice yang kuat, serta tindakannya sesuai dengan

janji-janjinya. Jika perusahaan dipersepsikan memiliki integritas tersebut, maka

kemungkinan merek perusahaan akan dipercaya oleh pelanggan (Lau dan Lee,

1999:348).

3. Karakteristik Pelanggan-Merek (Consumer-Brand Characteristics)

Suatu hubungan tidaklah hanya satu arah, setiap kelompok saling

mempengaruhi dalam hubungannya dengan kelompok lain. Begitu pula dalam hal

ini, karakteristik pelanggan merek dapat mempengaruhi kepercayaan pelanggan

terhadap merek. Karakteristik dalam hubungan pelanggan dengan merek mencakup

kesamaan (similarity) antara self-concept pelanggan dengan citra merek, kesukaan

pelanggan terhadap merek, pengalaman pelanggan, kepuasaan pelanggan, serta

dukungan dari rekan (peersupport).

a. Similarity between Consumer Self-Concept dan Brand Personality

Dalam pasar dengan persaingan yang sangat tinggi dimana barang atau jasa saja

tidak cukup untuk menarik suatu pasar baru atau bahkan mempertahankan klien

(11)

membentuk konsep suatu merek yang hebat. “Emosional” adalah bagaimana suatu

merek menggugah perasaan dan emosi konsumen; bagaimana suatu merek menjadi

hidup bagi masyarakat dan membentuk hubungan yang mendalam dan tahan lama.

Penelitian dalam hubungan interpersonal menunjukkan bahwa similaritas dari

karakteristik dua kelompok dapat memberikan kecenderungan tumbuhnya

kepercayaan. Seorang pelanggan akan mengevaluasi dan menilai sebuah merek jika

sebuah merek memiliki kesamaan dengan dirinya sendiri. Jika atribut atau

personality fisik merek dinilai sama dengan self-image pelanggan, maka pelanggan

kemungkinan mempercayai merek tersebut.

b. Liking the Brand

Untuk mengawali suatu hubungan, suatu kelompok harus disenangi oleh kelompok

lain. Dalam pemasaran konsumen, jika seorang pelanggan suka terhadap suatu

merek, maka pelanggan tersebut kemungkinan besar akan mempercayai merek itu.

c. Experience with the Brand

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, konsumen belajar dari pengalaman masa

lalunya, dan perilaku di masa akan datang dapat diprediksi berdasarkan pada

perilaku masa lalunya. Ketika konsumen memperoleh pengalaman lebih dengan

sebuah merek, maka mereka akan memahami merek dengan lebih baik dan

menumbuhkan kepercayaan lebih terhadap merek tersebut.

d. Satisfaction with the Brand

Kepuasan terhadap sebuah merek dapat didefinisikan sebagai hasil dari evaluasi

subjektif bahwa merek alternatif yang dipilih memenuhi atau melampaui ekspektasi

(12)

pemenuhan janji (promise) merupakan antecedent bagi kepercayaan dalam

hubungan pemasaran industri. Ketika pelanggan puas dengan suatu merek setelah

menggunakan merek tersebut, maka pada situasi yang sama kepuasaan pada suatu

merek juga akan terpenuhi. Ketika suatu merek telah mempertahankan janjinya,

maka pelanggan kemungkinan besar akan mempercayai merek tersebut.

e. Peer Support

Bearden, dalam Lau dan Lee, 1999:351 mengusulkan bahwa faktor yang penting

dalam menentukan perilaku individu adalah pengaruh individu lainnya, dan

menyatakan bahwa pengaruh sosial merupakan faktor yang penting dalam

menentukan perilaku konsumen. Karena itu, pelanggan kemungkinan akan percaya

terhadap merek yang mana orang/pihak lain yang berarti bagi mereka

memperlihatkan kepercayaannya pada suatu merek.

2.2. Penelitian Terdahulu

(13)
(14)

“Pengaruh Trust in a

trust in a brand terhadap

brand loyalty adalah

Kepercayaan konsumen pada merek hanya dapat diperoleh bila pemasar

dapat menciptakan dan mempertahankan hubungan emosional yang positif dengan

konsumen. Hubungan emosional yang positif ini harus dibangun selama jangka

waktu yang tidak pendek namun harus dilakukan secara konsisten. Semakin tinggi

rata-rata pembelian kembali pelanggan terhadap satu merek, maka pelanggan

tersebut dapat dikatakan loyal.

Konsumen yang loyal pada satu merek (brand loyalty) akan bersedia

membayar lebih untuk merek tersebut karena ia merasa telah mendapatkan nilai

(15)

tersebut didapat melalui kepercayaan yang lebih besar terhadap merek tersebut

(brand trust).

Merek bisa memiliki nilai tinggi karena ada brand building activity yang

bukan sekadar berdasarkan komunikasi, tetapi merupakan segala macam usaha lain

untuk memperkuat merek tersebut. Dari komunikasi, merek bisa menjanjikan

sesuatu, bahkan lebih dari janji, merek juga mensinyalkan sesuatu (brand

signaling). Merek akan mempunyai reputasi jika ia memiliki kualitas dan karisma.

Agar memiliki karisma, merek harus mempunyai aura, harus konsisten, kualitasnya

harus dijaga dari waktu ke waktu, selain tentunya juga harus mempunyai

kredibilitas.

Konsumen akan merasa nyaman akan pilihan mereka karena merek yang

mereka pilih sesuai dengan konsep diri. Ketika merek tersebut memiliki

kepribadian yang sesuai konsep dirinya maka sikap konsumen terhadap merek

cenderung positif. Sikap yang positif ini akan mendorong niat atau intensi yang

positif dan dorongan niat ini akan nampak pada perilaku konsumsinya.

Menurut Lau dan Lee (1999:344), terdapat tiga faktor yang mempengaruhi

kepercayaan terhadap merek. Ketiga faktor ini berhubungan dengan tiga entitas

yang tercakup dalam hubungan antara merek dan konsumen. Adapun ketiga faktor

tersebut adalah Brand characteristic, Company characteristic, dan Consumer

brand characteristic. Selanjutnya Lau dan Lee memproposisikan bahwa

(16)

Kepercayaan terhadap merek merupakan kesediaan atau kemauan

konsumen dalam menghadapi resiko yang berhubungan dengan konsumen yang

akan memberikan hasil yang positif atau menguntungkan.

Karakteristik merek umumnya didefinisikan segala hal yang terkait dengan

merek yang ada di benak konsumen, Karakteristik perusahaan merupakan

pemahaman konsumen mengenai perusahaan, sedangkan Karakteristik

konsumen-merek yaitu totalitas pemikiran dan perasaan individu dengan acuan dirinya sebagai

objek terhadap merek.

Berdasarkan pada pemikiran diatas serta tinjauan teori, maka dalam

penelitian ini dapat dibuat model penelitian sebagai berikut:

Trust in a Brand

Brand Characteristic

(X1)

Sumber : Lau dan Lee (1999) (diolah)

Gambar 2.2 Kerangka Konseptual

Company Characteristic

(X2)

Consumer-Brand Characteristic (X3)

(17)

2.4. Hipotesis

Berdasarkan perumusan masalah yang ditetapkan maka hipotesis yang

diberikan peneliti adalah :

Kepercayaan Terhadap Merek (Trust in a Brand) yang terdiri dari : Brand

Characteristic, Company Characteristic, dan Consumer-Brand Characteristic

berpengaruh positif terhadap Loyalitas Merek (Brand Loyalty) Pada Konsumen

Gambar

Gambar 2.1 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Brand LoyaltySumber: Lau dan Lee, 1999:345
Gambar 2.2 Kerangka Konseptual

Referensi

Dokumen terkait

Variabel karakteristik merek (X1), karakteristik Perusahaan (X2), karaktristik konsumen merek (X3) merupakan variabel yang memiliki pengaruh yang positif dan signifikan

Hasil analisis menunjukkan bahwa hipotesis kedua terbukti bahwa brand awareness berpengaruh positif terhadap brand loyalty pada konsumen air minum merek AQUA, ini

Untuk memgetahui pengaruh secara persial variabel brand characteristic , company caracteristic dan consumer-brand caracteristic terhadap brand loyalty pada konsumen sabun

Dengan penjelasan singkat yang telah dikemukakan sebelumnya, penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan variabel citra merek (Brand Image) dan kepercayaan merek

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh Brand Trust (kepercayaan terhadap merek) seperti,: Brand Characteristic, Company Characteristic dan

Herawati, 2011“ Pengaruh Brand Characteristic, Company Characteristic, Consumer Brand Characteristic terhadap Brand Loyalty Melalui Trust in A Brand Teh dalam KemasanMerek

Ditinjau dari tiap-tiap variabel, yang memengaruhi loyalitas merek produk Teh Botol Sosro menunjukkan bahwa variabel consumer-brand characteristic memberikan pengaruh yang

Sesuai dengan permasalahan yang telah dirumuskan, tujuan penelitian yang hendak dicapai adalah : untuk menganalisis faktor yang mempengaruhi trust in a brand