TEORI CLASSICAL CONDITIONING
MAKALAH
DIAJUKAN UNTUK MEMENUHI TUGAS
MATA KULIAH
PSIKOLOGI PENDIDIKAN
DOSEN PENGAMPU : DRS. YUSRAN ADENIN, MA
OLEH
YUSRAH
PRODI / SEMESTER : PAI - IV A
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM
JAM’IYAH MAHMUDIYAH
TANJUNG PURA
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah segala puji dan syukur Penulis haturkan kehadirat Allah SWT. Karena dengan rahmat dan ridho-Nya kami dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul” Teori Classical Conditioning ” dan tidak lupa pula shalawat serta salam, kami sampaikan kepada baginda Nabi besar Muhammad SAW. Beserta keluarga, sahabat dan para pengikut beliau hingga akhir zaman.
penulis menyadari betul bahwa masih banyak kesalahan dan kekurangan didalamnya. Oleh karena itu, penulis memohon dengan ikhlas kepada pembaca makalah ini untuk berkenan memberikan kritik dan saran guna membangun demi kesempurnaan makalah yang lebih baik.
Tanjung Pura, 12 juni 2017
Yusrah
KATA PENGANTAR...i
DAFTAR ISI...ii
BAB I...1
PENDAHULUAN...1
A. Latar Belakang...1
B. Rumusan Masalah...1
C. Tujuan Penulisan...1
BAB II...2
PEMBAHASAN...2
A. Pengertian Teori Classical Coditioning...2
B. Teori Classical Coditioning dan eksperimennya...3
C. Implikasi teori Clasik Conditioning pada dunia pendidikan...7
BAB III...13
PENUTUP...13
A. Kesimpulan...13
B. Saran...13
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam pembelajaran kegiatan belajar yang efektif dan efisien sangatlah penting bagi mahasiswa dan guru karena beberapa faktor-faktor yang mempengaruhinya, karena belajar merupakan tanggung jawab mahasiswa.
Melihat hal tersebut maka ini sesuai dengan Teori Classical Conditioning yaitu dimana belajar adalah suatu proses perubahan yang terjadi karena adanya syarat-syarat atau ‘conditions’ yang kemudian menimbulkan respons. Hal inilah yang menjadi latar belakang penyusunan makalah yang berjudul “Classical Conditioning .Selain itu, penyusunan makalah ini juga tidak terlepas untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Psikologi Pendidikan.
B. Rumusan Masalah
a. Apa pengertian Teori Classical Conditioning ? b. Bagaimana ekperimen Teori Classical Conditioning ? c. Bagaimana Implikasi Teori Classical Conditioning ?
C. Tujuan Penulisan
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Teori Classical Coditioning
1. Ivan petrovich pavlov
Merupakan ahli psikologi dari rusia yang lahir di kota Rayasan Rusia pada tahun 1949. Istilah lain dari classical conditioning adalah Pavlovianisme yang di ambil dari nama Pavlov sebagai peletak pertama dasar teori tersebut. ia mengadakan percobaan dengan anjing, dalam serangkaian penelitiannya mengenai pengeluaran cairan-cairan pencernaan pada anjing, dia mencatat bahwa hewan-hewan dapat mengeluarkan air liur yang tidak hanya disebabkan oleh makanan saja. Misalnya hewan itu dapat berliur ketika melihat si pemberi makan. Keluarnya air liur ini, yang semula merupakan hal yang mengganggu, justru kemudian memancing keinginan Pavlov untuk lebih banyak meneliti hal ini. Kemudian dia bersama teman-temannya merancang suatu situasi tertentu sedemikian rupa sehingga dapat memancing keluarnya air liur hewan.1
Teori di atas disebut teori classical, yang merupakan sebuah prosedur penciptaan refleks baru dengan cara mendatangkan stimulus sebelum terjadinya refleks tersebut. teori ini juga disebut respondent conditioning ( pembiasaan yang dituntut ). Teori ini juga di sebut contemporary behaviorist atau juga disebut S-R psychologist yang berpendapat bahwa tingkah laku manusia itu di kendalikan oleh ganjaran ( reward) atau penguatan (reinforcement) dari lingkungan.
2. Pandangan Pavlov tentang belajar
Pevlov dengan teori classical conditioningnya adalah termasuk aliran behavioristik. Aliran ini mengutamakan perilaku atau perubahan tingkahlaku organisme melalui hubungan stimulus –respons. Dengan demikian belajar hendaknya mengkondisikan stimulus agar bisa menimbulkan respons.
1 Sumadi Suryabrata, Psikologi Pendidikan (Jakarta: Raja
Belajar adalah suatu perubahan tingkah laku yang terus menerus yang timbul sebagai akibat dari persyaratan kondisi, dan sifatnya adalah membentuk hubungan antara stimulus dengan respons.hal ini menunjukkan bahwa belajar dan perubahan tingkah laku tidak bisa di pisahkan. Jadi setiap perubahan adalah belajar, dan sebaliknya setiap belajar adalah perubahan.
Pavlov berasumsi bahwa, tindakan atau tingkah laku organisme disebabkan oleh rangsangan atau stimulus yang diterimanya. Dengan kata lain, perilaku organisme dikontrol oleh stimulus
B. Teori Classical Coditioning dan eksperimennya
Ivan Pavlov adalah seorang ahli psikologi refleksologi dari rusia yang mengadakan percobaan pada anjing . moncong anjing dibedah sehingga kelenjar ludahnya berada di luar pipinya dan dimasukkan di kamar gelap serta ada sebuah lubang di depan moncong empat menyodrkan makanan atau menyemprotkan cahaya . pada moncng yang dibedah dipasang selang yang dihubungkan dengan tabung di luar kamar sehingga dapat diketahui keluar atau tidaknya air liur pada waktu percobaan. Hasil percobaan mengatakan bahwa gerakan reflex itu juga dapat dipelajari dan dapat berubah karena mendapat latihan, sehingga dapat dibedakan dua macam refleks, yaitu refleks bersyarat/refleks yang dipelajari, yaitu keluarnya air liur karena menerima/bereaksi terhadap warna sinar tertentu, atau terhadap suatu bunyi tertentu.2
Teori di atas juga disebut dengan teori classical, yang merupakan sebuah prosedur penciptaan refleks baru dengan cara mendatangkan stimulus sebelum terjadinya refleks tersebut. Disebut classical karena yang mengawali nama teori ini untuk menghargai karya ivan Pavlov yang paling pertama di bidang conditioning (upaya pembiasan) , serta untuk membedakan dari teori lainnya. Teori ini disebut juga respondent conditioning (pembiasan yang dituntut). Teori ini sering disebut juga contemporary behaviorists atau juga disebut S-R psychologists yang berpendapat bahwa tingkah laku manusia itu dikendalikan oleh ganjaran (reward) atau penguatan (reinforcement) dari lingkungan. Jadi
2Nana Sudjana, Teori-teori Belajar Untuk Pengajaran, (Lembaga
tingkah laku belajar terdapat jalinan yang erat antara reaksi behavioral dengan stimulasinya. Guru yang menganut pandangan ini bahwa masa lalu dan pada masa sekarang dan segenap tingkah laku merupakan reaksi terhadap lingkungan mereka merupakan hasil belajar. Teori ini menganalis kejadian tingkah laku dengan mempelajari latar belakang penguatan (reinforcement) terhadap tingkah laku tersebut.
Pavlov berpendapat, bahwa kelenjar-kelenjar yang lain pun dapat dilatih. Bectrev murid Pavlov menggunakan prinsip-prinsip tersebut dilakukan pada manusia, yang ternyata diketemukan banyak reflek bersyarat yang timbul tidak disadari manusia. Eksperimen yang dilakukan oleh pavlov menggunakan anjing sebagai subjek penelitian. Berikut adalah gambar dari experimen Pavlov.
Berikut adalah tahap-tahap eksperimen dan penjelasan dari gambar diatas.3
1. Gambar pertama. Dimana anjing, bila diberikan sebuah makanan (UCS) maka secara otonom anjing akan mengeluarkan air liur (UCR).
2. Gambar kedua. Jika anjing dibunyikan sebuah bel maka ia tidak merespon atau mengeluarkan air liur.
3 ]
3. Gambar ketiga. Dalam eksperimen ini anjing diberikan sebuah makanan (UCS) setelah diberikan bunyi bel (CS) terlebih dahulu, sehingga anjing akan mengeluarkan air liur (UCR) akibat pemberian makanan.
4. Gambar keempat. Setelah perlakukan ini dilakukan secara berulang-ulang, maka ketika anjing mendengar bunyi bel (CS) tanpa diberikan makanan, secara otonom anjing akan memberikan respon berupa keluarnya air liur dari mulutnya (CR).
Dari percobaan ini adalah bahwa tingkah laku sebenarnya tidak lain daripada rangkaian refleks berkondisi, yaitu refleks-refleks yang terjadi setelah adanya proses pengondisian (conditioning process) di mana refleks-refleks yang tadinya dihubungkan dengan rangsang-rangsang tak berkondisi lama-kelamaan dihubungkan dengan rangsang berkondisi.
Berdasarkan eksperimen dengan menggunakan anjing, Pavlov menyimpulkan bahwa untuk membentuk tingkah laku tertentu harus dilakukan secara berulang-ulang dengan melakukan pengkondisian tertentu. Pengkondisian itu adalah dengan melakukan semacam pancingan dengan sesuatu yang dapat menumbuhkan tingkah laku itu. Hal ini dikarenakan classical conditioning adalah sebuah prosedur penciptaan refleks baru dengan cara mendatangkan stimulus sebelum terjadinya refleks tersebut.
Suatu stimulus akan menimbulkan respons tertentu apabila stimulus itu sering diberikan bersamaan dengan stimulus lain yang secara alamiah menimbulkan respons tersebut. Dalam hal ini perubahan perilaku terjadi karena adanya asosiasi antara kedua stimulus tersebut.4
Berdasarkan hasil eksperimen tersebut, Pavlov juga menyimpulkan bahwa hasil eksperimennya itu juga dapat diterapkan kepada manusia untuk belajar. Implikasi hasil eksperimen tersebut pada kegiatan belajar manusia adalah
bahwa belajar pada dasarnya membentuk asosiasi antara stimulus dan respons secara reflektif, proses belajar akan berlangsung apabila diberi stimulus bersyarat.
Kondisional klasik seringkali digunakan untuk menjelaskan mengapa orang terkadang menampilkan respons secara emosional terhadap apa yang mungkin dianggap orang lain sebagai stimulus-stimulus netral. Ketika sebuah stimulus khusus dikaitkan dengan sesuatu yang membuat kita bahagia atau rileks, stimulus tersebut dapat menimbulkan perasaan bahagia atau rileks yang sama. Ketika sebuah stimulus dikaitkan dengan sesuatu yang membuat kita takut atau cemas, hal tersebut juga menimbulkan perasaan takut dan cemas yang sama.
Dua fenomena umum dalam kondisioning klasik adalah generalisasi dan ekstinksi.
a. Generalisasi
Generalisasi yaitu fenomena dimana seseorang mempelajari sebuah respons terhadap stimulus tertentu dan kemudian membuat respons yang sama terhadap stimulus yang serupa; dalam kondisioning klasik, hal ini mencakup membuat respons terkondisi terhadap suatu stimulus yang serupa dengan stimulus terkondisi.5
Ketika orang mempelajari respons terkondisi terhadap stimulus baru, respon yang sama terhadap stimulus yang serupa juga bisa terjadi fenomena ini dikenal dengan nama generalisasi. Sebagai contoh, seorang anak laki2 yang mereka pelajari dalam satu situasi ke situasi yang baru. Di sini kita melihat satu alasan lagi mengapa siswa seharusnya mengaitkan (asociatea0 perasaan-perasaan yang menyenangkan dengan materi peljaran di kelas. Reaksi2 siswa terhadap
topic pelajaran, kegiatan, atau konteks tertentu dapat digeneralisasikan yaitu mereka mengalihkannya ke topic kegiatan, atau konteks yang serupa.
b. Ekstinksi
Ekstinksi penghilangan secara bertahap sebuah respons yang telah diperoleh; dalam kondisioning klasik , hal itu merupakan hasil kehadiran secara berulang dari stimulus terkondisi tanpa disertai kehadiran stimulus tak terkondisi. Pavlov menemukan bahwa respoms terkondisi tidak bertahan selamanya. Dengan memasangkan cahaya dan daging , Pavlov mengkondisikan seekor anjing supaya air liur hanya terhadap cahaya. Tetapi selanjutnya, ketika Pavlov menyalakan cahaya berulang-ulang tanpa dilanjutkan tanpa pemberian daging, air liur anjing semakin berkurang. Pada akhirnya anjing tidak lagi mengeluarkan air liur ketika melihat kilatan cahaya. Ketika stimulus terkondisi muncul berulang-ulang tanpa disertai stimulus tak terkondisi misalnya ketika pelajaran matematika tidak pernah lagi dihubungkan dengan kegagalan, atau ketika guru tidak pernah lagi diasosiasikan dengan penghinaan, respons terkondisi akan berkurang dan pada akhirnya menghilang. Dengan kata lain , ekstinksi telah terjadi.
Banyak respons terkondisi hilang seiring berjalannya waktu. Sayangnya banyak respons lain yang bertahan. Ketakutan seorang anak terhadap air atau kecemasan mengenai mata pelajaran matematika bisa terus bertahan selama bertahun2. Satu alasan yang membuat ketakutan dan kecemasan bisa bertahan dalam jangka waktu yang lama adalah orang2 yang belajar cenderung menghindari situasi2 yang menyebabkan reaksi2 emosional negative. tetapi jika orang yang belajar itu menghindar dari stimulus menyebabkan mereka ketakutan, mereka tidak pernah memiliki kesempatan untuk mengalami stimulus itu bila stimulus tak terkondisi yang awalnya berpasangan dengan stimulus itu tidak ada/hadir. Akibatnya mereka tidak memiliki kesempatan belajar menjadi tidak takut, tidak ada lagi kesempatan bagi respons itu untuk mengalami ekstinksi.
C. Implikasi teori Clasik Conditioning pada dunia pendidikan
mengembangkan atau memberikan kontribusi pada psikologi pendidikan pada umumnya dan teori belajar khususnya. Untuk menjadikan seseorang itu belajar haruslah kita memberikan syarat-syarat tertentu. Yang terpenting dalam belajar menurut teori conditioning ialah adanya latihan-latihan yang kontinyu. Yang diutamakan dalam teori ini ialah belajar yang terjadi secara otomatis. Segala tingkah laku manusia tidak lain adalah hasil daripada latihan-latihan atau kebiasaan kebiasaan mereaksi terhadap syarat-syarat tertentu yang dialaminya dalam kehidupannya. 6
Perasaan dan akal pikiran yang potensial pada manusia menyebabkan stimulus yang sama tidak selalu menimbulkan respons sama, dan sebaliknya, respons sama tidak selalu disebabkan stimulus yang sama. Namun demikian, ada baiknya bila kita dapat menggunakan kerangka teori Pavlov untuk membantu menjelaskan proses belajar secara fleksibel. Contohnya, sikap ramah seorang guru memiliki kecendrungan menimbulkan respons positif pada subjek didik, meskipun ada kemungkinan timbulnya respons negatif pada subjek didik manja. Pada awal pelajaran, konsep-konsep yang sulit dapat menimbulkan shock symbol pada sebagian subjek didik, tetapi justru dapat pula merangsang subjek didik belajar gigih agar memahaminya.
Eksperimen-eksperimen Pavlov awalnya tidak bertujuan menemukan teori belajar, meskipun sangat dipengaruhi oleh psikologi behaviorisme. Sesuai dengan kedudukannya sebagai ahli fisiologi, eksperimen pavlov lebih bertujuan memahami fungsi otak.
Hasil-hasil eksperimen Pavlov ternyata sangat berguna bagi pengembangan teori belajar. Oleh karena itu, tidak berlebihan apabila banyak ahli pendidikan mengadopsi hasil eksperimen paplov untuk mengembangkan teori belajar. Namun demikian, apa yang diperoleh Pavlov bukan suatuyang final sehingga kita sebaiknya fleksibel menggunakannya.
6 Toeti Soekamto dan Udin Saripudin Winaputra, Teori Belajar dan
1. Penerapan Prinsip-prinsip Teori Belajar Classical Conditioning dalam Pengajaran
Pengaruh keadaan klasik membantu menjelaskan banyak pelajaran di mana satu stimulus diganti / digantikan untuk yang lain. Satu contoh yang penting tentang proses ini adalah pelajaran atraksi emosional dan ketakutan. Bahwa bentakkan seorang guru seringkali membuat takut murid-muridnya, hal yang sama seorang polisi mempermainkan penjahat dengan ancungan tangannya, atau seorang perawat hendak memberi suntikan kepada pasiennya. Semua perilaku ini menciptakan tanggapan perhatian dan ketakutan di hati orang-orang tersebut dibawah kesadaran mereka. Situasi ini memberikan pengaruh ketakutan bila stimulus tidak netral: 7
Guru Sorak ( UCS) Perhatian dan Ketakutan anak ( UCR)
Polisi mendorong dengan penuh ancaman (UCS) Perhatian dan Ketakutan masyarakat (UCR)
Perawat memberi suntikan (UCS) Perhatian dan Ketakutan pasien (UCR)
Manapun stimulus netral yang berulang-kali terjadi bersama-sama dengan stimuli ini cenderung untuk dikondisikan (C) ke ketakutan sebagai respon. Jika seorang guru selalu meneliti seorang anak, kemudian hanya memperhatikan dia tanpa mengkritik boleh jadi membuat dia menaruh perhatiannya. Hal yang ekstrim, anak bisa berhubungan dengan guru di kelas dengan perhatian dan ketakutannya yang ia kembangkan samarata, atau ketakutan yang kadang tidak masuk akal. Hal yang sama juga dialami masyarakat phobia polisi, atau pasien, tentang perawat.
Tetapi tanggapan positif dapat dibangun secara sederhana untuk mengkondisikan stimulus. Jika seorang guru memuji seorang siswa akan menimbulkan hal positif baginya, bahkan ketika dia tidak lagi dipuji. Pada akhirnya, proses ini dapat membangun hubungan baik di kelas. Hal yang sama
7 Robert E. Slavin , Psikologi pendidikan teori dan praktik, , jilid 1,
untuk polisi, perawat, atau orang yang bekerja dengan orang-orang: stimuli yang dapat dipercaya menimbulkan hal positif tanggapan tersebut dapat dikondisikan untuk lain. Penggantian stimulus dapat membantu bahkan pada pelajaran tertentu yang tidak berisi unsur perasaan. Pengaruh tersebut tidak memerlukan refleks sebagai titik awal.8
Beberapa Psikolog menyebutnya belajar berlanjut atau asiosatif learning, hanya memerlukan dua stimuli yang tidak bertalian terjadi bersama-sama pada suatu tanggapan atau keduanya dari stimulus yang ada. Jika seorang anak telah mempelajari bagaimana cara menggunakan unit balok kecil, kemudian stimuli ini dapat dipasangkan dengan hal yang lebih abstrak, mereka akan dapat menulis padanan menulis padanan yang menghasilkan apa yang diinginkan dengan baik.
Dalam praktek pendidikan mungkin bisa kita temukan seperti lonceng berbunyi mengisyaratkan belajar dimulai dan atau pelajaran berakhir. Pertanyaan guru diikuti oleh angkatan tangan siswa, suatu pertanda siswa dapat menjawabnya. Kondisi-kondisi tersebut diciptakan untuk memanggil suatu respon atau tanggapan ahli pendidikan lain juga menyarankan bahwa panduan belajar dengan mengkombinasikan gambar dan kata-kata dalam mempelajari bahasa, akan sangat berguna dalam mengajar perbendaharaan kata-kata. Memasangkan kata-kata dalam bahasa Inggris dengan kata-kata bahasa lainnya akan membantu para siswa dalam membuat perbendaharaan kata dalam bahasa asing.
Dalam pengertian yang lebih luas lagi misalnya memasangkaan maakna suatu konsep dengan pengalaman siswa sehari-harinya akan membantu siswa dalam memahami konsep-konsep lainnya. Walaupun classical conditioning terus menjadi bidang yang aktif dalam psikologi saat ini, sebagian para ahli telah mulai meninggalkan teori psikologi ini.
2. Penerapan Prinsip-prinsip Teori Belajar Classical Conditioning di Kelas
Berikut ini beberapa tips yang ditaawarkan oleh Woolfolk (1995) dalam menggunakan prinsip-prinsip kondisioning klasik di kelas. Titin Nurhidayati,
Implementasi Teori Belajar Ivan Petrovich Pavlov (Classical Conditioning ) dalam Pendidikan.9
a. Memberikan suasana yang menyenangkan ketika memberikan tugas-tugas belajar, misalnya: menciptakaan ruang membaca (reading corner) yang nyaman dan enak serta menarik, dan lain sebagainya. menyimpaan apa yang dipelajari dengan baik;
Jika siswa takut berbicara di depan kelas, mintalah siswa untuk membacakan sebuah laaporan di depan kelompok kecil sambil duduk di tempat, kemudian berikutnya dengan berdiri. Setelah dia terbiasa, kemudian mintalah ia untuk membaca laporan di depaan seluruh murid di kelas.
c. Membantu siswa untuk mengenal perbedaan dan persamaan terhadap situasi-situasi sehingga mereka dapat membedakan dan menggeneralisasikan secara tepat. Misalnya, dengan: 10
Meyakinkan siswa yang cemas ketika menghadapi ujian masuk sebuah sekolah yang lebih tinggi tingkatannya atau perguruan tinggi, bahwa tes tersebut sama dengan tes-tes prestasi akademik lain yang pernah mereka lakukan;
9 Djaali, Psikologi pendidikan, cet.3, (Jakarta:Bumi Aksara, 2008), hal.
85-86
Menjelaskan bahwa lebih baik menghindari hadiah yang berlebihan dari orang yang tidak dikenal, atau menghindar tetapi aman daan dapat menerima penghargaan dari orang dewasa ketika orangtua ada.
d. Memberikan suasana yang menyenangkan ketika memberikan tugas-tugas belajar, Contoh: Menekankan pada kerja sama dan kompetisi antar kelompok daripada individu, banyak siswa yang akan memiliki respons emosional secara negatif terhadap kompetisi secara individual, yang mungkin akan digeneralisasikan dengan pelajaran- lainnya adalah membuat kegiatan membaca menjadi menyenangkan dengan menciptakan ruang membaca yang nyaman dan enak serta menarik.
e. Membantu siswa mengatasi secara bebas dan sukses situasi-situasi yang mencemaskan atau menekan, Contoh: Mendorong siswa yang pemalu untuk mengajarkan siswa lain cara memahami materi pelajaran, misalnya dengan memberikan tes harian, mingguan, agar siswa dapat menyimpan apa yang dipelajari dengan baik. Jika siswa takut berbicara di depan kelas mintalah siswa untuk membacakan sebuah laporan di depan kelompok kecil sambil duduk ditempat, kemudian berikutnya dengan berdiri. Setelah dia terbiasa, kemudian mintalah ia untuk membaca laporan di depan seluruh murid di kelas.
f. Membantu siswa untuk mengenal perbedaan dan persamaan terhadap situasi-situasi sehingga mereka dapat membedakan dan menggeneralisasi secara tepat. Contoh : Meyakinkan siswa yang cemas ketika menghadapi ujian masuk sebuah perguruan tinggi, bahwa tes tersebut sama dengan tes-tes prestasi akademik lain yang pernah mereka lakukan.
tempat mandinya kemudian bergerak perlahan-lahan ke air yang lebih dalam, maka ia akan merasa lebih nyaman untuk mencoba berenang. 11
Tidak ada hal yang paling membanggakan pada guru selain membantu dan membuat siswa menjadi sukses dan merasa senang di kelas. Satu hal yang perlu guru ingat bahwa kelas dapat membuat perilaku baik siswa, meningkat atau justru melemahkannya.
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Classic conditioning (pengondisian klasik) adalah proses yang ditemukan Pavlov melalui percobaannya terhadap anjing, dimana perangsang asli dan netral dipasangkan dengan stimulus bersyarat secara berulang-ulang sehingga memunculkan reaksi yang diinginkan.
2. Berdasarkan eksperimen dengan menggunakan anjing, Pavlov menyimpulkan bahwa untuk membentuk tingkah laku tertentu harus dilakukan secara berulang-ulang dengan melakukan pengkondisian tertentu. Pengkondisian itu adalah dengan melakukan semacam pancingan dengan sesuatu yang dapat menumbuhkan tingkah laku itu.
3. Dalam bidang pendidikan, teori pengondisian klasik digunakan untuk mengembangkan sikap yang menguntungkan terhadap pesrta didik untuk termotivasi belajar dan membantu guru untuk melatih kebiasaan positif peserta didik.
B. Saran
Setelah adanya pemaparan diatas diharapkan mahasiswa dapat memahami
DAFTAR PUSTAKA
Sumadi Suryabrata, Psikologi Pendidikan .Jakarta: Raja Grafindo,2004.
Nana Sudjana, Teori-teori Belajar Untuk Pengajaran, Lembaga Penerbit FE-UI, 1990.
http://rantandj.files.wordpress.com/2013/02/makalah-pengkondisian-klasik-pavlov-baru.doc , pukul 15.28, 29 April 2017
Toeti Soekamto dan Udin Saripudin Winaputra, Teori Belajar dan Model-model Pembelajaran (Jakarta, Dikti, 1977.
Robert E. Slavin , Psikologi pendidikan teori dan praktik, , jilid 1, Jakarta:PT Indeks, 2011.