• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAKALAH AKUNTANSI KEUANGAN DESA KEL 2.do

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "MAKALAH AKUNTANSI KEUANGAN DESA KEL 2.do"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

TUGAS KELOMPOK “Akuntansi Keuangan Desa”

Disusun Oleh :

ANNISA AMELIA ( 155310820 ) YOLANDARI ( 155310244 )

DUMA SARI ( 155310243 ) MITA ANDINI ( 155310944 )

JURUSAN AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS ISLAM RIAU

(2)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

(3)

berdasarkan peraturan yang berlaku. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 desa memiliki kewenangan dalam bidang penyelenggaraan pemerintah, pembangunan, pembinaan kemasyarakatan, dan pemberdayaan desa. Sehingga berdasarkan wewenang tersebut desa merupakan wujud bangsa yang paling kongkrit sebagai miniatur suatu Negara, akan tetapi dalam melaksanakan kewenangan tersebut pemerintah desa masih mengalami kendala, khususnya dalam hal keuangan seperti sumber pendapatan desa yang rendah, baik dari pendapatan asli desa maupun dari bantuan pemerintah. Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah pasal 212 menyebutkan ayat (1) keuangan desa adalah semua hak dan kewajiban desa yang dapat dinilai dengan uang, serta segala sesuatu yang baik berupa uang maupun berupa barang yang dapat dijadikan milik desa berhubungan dengan pelaksanaan hak dan kewajiban. Ayat (2) menyatakan bahwa hak dan kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menimbulkan pendapatan, belanja dan pengelolaan keuangan desa. Dengan demikian pengertian pengelolaan keuangan desa sebagaimana disebut dalam Permendagri Nomor 113 Tahun 2014 adalah seluruh kegiatan yang meliputi perencanaan, pelaksanaan, penatausahaan, pelaporan, dan pertanggungjawaban keuangan desa. Pemegang kekuasaan pengelolaan keuangan desa adalah Kepala Desa. Kepala desa sebagai pemegang kekuasaan pengelolaan keuangan desa mempunyai kewenangan sebagai berikut:

(4)

2. Menetapkan Kebijakan tentang Pengelolaan Keuangan Desa

3. Menetapkan Bendahara Desa

4. Menetapkan petugas yang melakukan pemungutan penerimaan desa

5. Menetapkan petugas yang melakukan pengelolaan barang milik desa Asas-asas pengelolaan keuangan desa sebagaimana tertuang dalam Permendagri Nomor 113.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan diatas, makarumusan masalahpenelitian ini adalah: bagaimana akuntabilitas pengelolaan keuangan di Desa Gagaksipat Kecamatan Ngemplak Kabupaten Boyolali dikaji dari aspek perencanaan, pelaksanaan, penatausahaan, 6 pelaporan dan pertanggungjawabannya berdasarkan Peraturan Menteri dalam Negeri Nomor 113 Tahun 2014?

C. Tujuan Penelitian

(5)

Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat pada banyak pihak, diantara lain :

1. Bagi Pemerintah Desa Gagaksipat, hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai evaluasi untuk meningkatkan tata kelola Desa Gagaksipat agar menjadi lebih baik.

2. Bagi peneliti, digunakan untuk mengukur kemampuan peneliti dalam menerapkan ilmu yang didapat dalam hal akuntansi sektor publik khususnya pengelolaan keuangan yaitu salah satunya pengelolaan Keuangan Desa.

3. Bagi masyarakat sekitar, hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan untuk menilai dan mengetahui bagaimana hasil pengelolaan keuangan di Desa Gagaksipat.

(6)

BAB II

ISI

A. Pengertian Akuntansi Desa

Akuntansi desa adalah pencatatan dari proses transaksi yang terjadi di desa, dibuktikan dengan nota-nota kemudian dilakukan pencatatan dan pelaporan keuangan sehingga akan menghasilkan informasi dalam bentuk laporan keuangan yang digunkan pihak-piihak yang berhubungan dengan desa.

Pihak-pihak yang menggunakan informasi keuangan desa diantaranya adalah:

1. Masyarakat desa.

(7)

3. Pemerintahan daerah.

4. Pemerintahan pusat.

C. Musyawarah Desa ( MUSDES )

Musyawarah Desa, selanjutnya disebut Musdes, merupakan forum permusyawaratan tertinggi di tingkat desa. Musdes sebagai forum yang mempertemukan seluruh elemen masyarakat, baik berbasis kepentingan maupun kewilayahan, untuk membahas dan mengambil keputusan atas hal/isu strategis yang terjadi di desa.

Musdes diikuti oleh Badan Permusyawaratan Desa (BPD), Pemerintah Desa, dan unsur masyarakat. Hasil Musdes berbentuk kesepakatan-kesepakatan yang dituangkan dalam keputusan hasil musyawarah. Selanjutnya, hasil Musdes menjadi dasar bagi BPD dan Pemerintah Desa untuk menetapkan kebijakan pemerintahan desa.

Musdes diselenggarakan selambat-lambatya satu kali dalam setahun. BPD menjadi lembaga yang bertugas menyelenggarakan Musdes, tentu dengan dukungan anggaran dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes). Sebagai forum

permusyawaratan tertinggi di desa, Musdes musti direncanakan dan dipersiapkan dengan baik agar menghasilkan keputusan-keputusan yang bermutu dan merakyat.

Bagaimana tata cara penyelenggaraan Musdes? Penyelenggaraan Musdes menganut prinsip musyawarah untuk mufakat. Sebaiknya, prosedur dan tata cara

(8)

Secara umum, UU No 6 tahun 2014 pasal 54 memberikan pedoman penyelenggaraan Musdes. Pada pasal 54 disebutkan:

(1) Musyawarah Desa merupakan forum permusyawaratan yang diikuti oleh Badan Permusyawaratan Desa, Pemerintah Desa, dan unsur masyarakat Desa untuk

memusyawarahkan hal yang bersifat strategis dalam penyelenggaraan Pemerintahan Desa.

(2) Hal yang bersifat strategis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: a. penataan Desa;

b. perencanaan Desa; c. kerjasama Desa;

d. rencana investasi yang masuk ke Desa; e. pembentukan BUM Desa;

f. penambahan dan pelepasan Aset Desa; dan g. kejadian luar biasa.

(3) Musyawarah Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan paling kurang sekali dalam 1 (satu) tahun.

(4) Musyawarah Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibiayai dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa.

D. Perencanaan Pembangunan Desa

Pemerintah desa menyusun perencanaan pembangunan desa sesuai dengan

kewenangannya dengan mengacu pada perencanaan pembangunan kabupaten dan

kota. Rencana pembangunan desa disusun untuk menjamin keterkaitan dan

(9)

Mekanisme perencanaan menurut Permendagri No 113 Tahun 2014 adalah sebagai berikut:

Sekretaris Desa menyusun Rancangan Peraturan Desa tentang APBDesa

berdasarkan RKPDesa. Kemudian Sekretaris Desa menyampaikan kepada Kepala

Desa.

Rancangan Peraturan Desa tentang APBDesa disampaikan Kepala Desa

kepada Badan Permusyawaratan Desa untuk pembahasan lebih lanjut.

Rancangan tersebut kemudian disepakati bersama, dan kesepakatan

tersebut paling lambat bulan Oktober tahun berjalan.

Rancangan Peraturan Desa tentang APBDesa yang telah disepakati

bersama, kemudian disampaikan oleh Kepala Desa kepada Bupati/Walikota

melalui camat atau sebutan lain paling lambat 3 hari sejak disepakati untuk

dievaluasi. Bupati/Walikota dapat mendelegasikan evaluasi Rancangan Peraturan

Desa tentang APBDesa kepada camat atau sebutan lain.

Bupati/Walikota menetapkan hasil evaluasi Rancangan APBDesa paling

lama 20 hari kerja sejak diterimanya Rancangan Peraturan Desa tentang

APBDesa. Jika dalam waktu 20 hari kerja Bupati/Walikota tidak memberikan

hasil evaluasi maka Peraturan Desa tersebut berlaku dengan sendirinya.

Jika kepala desa melakukan penyempurnaan paling lama 7 hari kerja

(10)

Apabila Bupati/Walikota menyatakan hasil evaluasi Rancangan Peraturan

Desa tentang APBDesa tidak sesuai dengan kepentingan umum dan peraturan

perundang-undangan yang lebih tinggi, maka kepala desa melakukan

penyempurnaan paling lama 7 hari kerja terhitung sejak diterimanya hasil

evaluasi.

Apabila hasil evaluasi tidak ditindaklanjuti oleh Kepala Desa dan Kepala

Desa tetap menetapkan Rancangan Peraturan Desa tentang APBDesa menjadi

Peraturan Desa, Bupati/Walikota membatalkan Peraturan Desa dengan Keputusan

Bupati/Walikota.

Pembatalan Peraturan Desa, sekaligus menyatakan berlakunya pagu

APBDesa tahun anggaran sebelumnya. Dalam hal pembatalan, Kepala Desa hanya

dapat melakukan pengeluaran terhadap operasional penyelenggaraan Pemerintah

Desa.

Kepala Desa memberhentikan pelaksanaan Peraturan Desa paling lama 7

hari kerja setelah pembatalan dan selanjutnya Kepala Desa bersama BPD

(11)

BAB III

PENUTUP

1. Kesimpulan

1. Anggara Dana Desa diatur secara khusus didalam Undang-Undang Nomor 6

Tahun 2014 tentang Desa. Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2014

tentang Desa Pasal 93 pengelolaan keuangan desa meliputi: perencanaan,

pelaksanaan, penganggaran, penatausahaan, pelaporan dan pertanggungjawaban.

Setelah melalui proses panjang Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang

(12)

menjawab dua problem utama, yaitu mengembalikan otonomi asli desa

sebagaimana pernah dirampas orde baru, serta pada saat yang sama

mengembangkan otonomi desa untuk membatasi intervensi otonomi daerah pasca

reformasi. Pengawasan Badan Permusyawaratan

2. Faktor pendukung dalam melaksanakan pengelolaan Anggaran Dana Desa

adalah parsitisipasi masyarakat. Tingkat partisipasi masyarakat dalam proses

perencanaan pelaksanaan Anggaran Dana Desa cukup tinggi. Faktor penghambat

dalam pengelolaan Anggaran Dana Desa dalam pemberdayaan masyarakat

selanjutnya yaitu rendahnya swadaya masyarakat, padahal swadaya masyarakat

merupakan Pendapatan Asli Desa yang sah. Kurangnya swadaya masyarakat

merupakan cerminan dari tingkat kesejahteraan masyarakat desa yang dinilai

masih kurang sejahtera.

2 Saran

1. Dengan adanya pengaturan hukum Anggaran Dana Desa, Pengelolaan

Anggaran Dana Desa dapat optimal sehingga menunjukkan hasil yang maksimal

seperti, rendahnya kemiskinan adanya peningkatan Pendapatan Asli Desa tingkat

pendidikan yang tinggi, tebentuknya Badan Usaha Milik Desa (BUMDesa) dan

juga optimalnya keswdayaan masyarakat, karena Kurangnya swadaya masyarakat

merupakan cerminan dari tingkat kesejahteraan masyarakat desa yang dinilai

(13)

kepentingan di desa, diharapkan terjadi perbaikan tata kelola pemerintahan desa.

Pengawalan implementasi Undang-Undang Desa akan berjalan dengan baik.

2. Kementrian Desa, PDT, dan Transmigrasi melakukan evalusai peraturan

perundang-undangan di bidang Dana Desa yang menghambat upaya peningkatan

pengelolaan Anggaran Dana Desa melalui meningkatkan kembali partisipasi

masyarakat. Kesiapan warga untuk terlibat aktif dalam proses perencanaan dan

kemampuan melakukan monitoring terhadap program-program yang dilakukan di

desa. Meningkatkan sumberdaya manusia dapat dilihat dari pendidikan

masyarakat dan perangkat desa, sehingga ada bentuk kreativitas dan inovasi dalam

Referensi

Dokumen terkait

Kesiapan Pemerintah Desa di Kabupaten Ogan Ilir dalam implementasi Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 113 tahun 2014 tentang Pengelolaan Keuangan Desa dilihat dari

Agar kebijakan pengelolaan keuangan Desa sesuai amanah peraturan perundangan yang berlaku, salah satu diantaranya Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 113 Tahun

bahwa sesuai dengan ketentuan Pasal 33 dan Pasal 34 Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 113 Tahun 2014 Tentang Pengelolaan Keuangan Desa, Kepala Desa menetapkan

Agar kebijakan pengelolaan keuangan Desa sesuai amanah peraturan perundangan yang berlaku, salah satu diantaranya Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 113 Tahun 2014

bahwa sesuai dengan ketentuan Pasal 38 Peraturan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor 113 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Keuangan Desa, Kepala Desa

Agar kebijakan pengelolaan keuangan Desa sesuai amanah peraturan perundangan yang berlaku, salah satu diantaranya Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 113 Tahun

Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 113 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Keuangan Desa (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 2093); Peraturan Menteri Desa,

―Analisis Pengelolaan Keuangan Desa Addrejo Kecamatan Kanor Kabupaten Bojonegoro Tahun Anggaran 2017 Perspektif Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 113 Tahun 2014 Tentang Pengelolaan