Puji syukur kami panjatkan ke Hadirat Allah SWT, karena atas rahmat, hidayah dan perkenan-Nya-lah buku Laporan Akhir Studi Kelayakan Pembangunan Wisma Atlet ini dapat diselesaikan dengan baik.
Tak lupa kami menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Badan Perencanaan Pembangunan Derah Kabupaten Banyuwangi atas kepercayaaan yang telah diberikan kepada kami serta kepada semua fihak yang telah mendukung
terselesaikannya penyusunan laporan hasil
penelitian ini. Kami juga memohon maaf apabila masih banyak terdapat kekurang-sempurnaan dan kekhilafan dalam penyusunan laporan ini
Semoga buku ini dapat menjadi masukan dan inspirasi bagi perbaikan dan pengembangan penyelenggaraan pembangunan di Kabupaten Banyuwangi pada masa-masa yang akan datang.
Banyuwangi, 2013
Tim Penyusun
kata pengantar
Hal
DAFTAR ISI
1.5. Lingkup Kegiatan ... 2
1.6. Keluaran ... 3
BAB 2 KAJIAN PUSTAKA 2.1. Keolahragaan di Indonesia ... 4
2.2. Definisi Wisma Atlet ... 6
2.3. Tinjauan Mengenai Ruang ... 6
2.4. Tinjauan Khusus ... 7
2.4.1. Tinjauan Terhadap Istirahat Atlet ... 7
2.4.2. Faktor - Faktor Yang Mempengaruhi Kualitas Istirahat ... 9
2.4.3. Tinjauan Mengenai Desain Ruang Kamar dan Perilaku Atlet ... 9
2.4.4. Perancangan Kamar ... 11
2.5. Perbandingan Beberapa Wisma Atlet ... 13
2.5.1. Wisma Atlet Ragunan ... 13
2.5.2. London Athlete Village ... 15
2.5.3. Daegu Athlete Village ... 16
BAB 3 METODOLOGI 3.1. Pendekatan ... 19
3.2. Metodologi ... 19
3.3. Variabel dan Indikator ... 20
3.4. Kebutuhan Dan Sumber Data ... 20
3.5. Teknik Pengumpulan dan Pengolahan Data ... 21
3.6. Teknik Analisis Data ... 21
BAB 4 ANALISIS KONDISI AWAL BIDANG KEOLAHRAGAAN 4.1. Kondisi Umum Keolahragaan ... 24
4.2. Potensi Keolahragaan Untuk Pengembangan ... 26
4.3. Identifikasi Sarana Prasarana Olah Raga Yang Telah Ada dan Kebutuhan Sarana Prasarana dalam Pengembangan Keolahragaan ... 30
4.4. Urgensi Pembangunan Wisma Atlet ... 34
5.2. Analisa Penentuan Lokasi ... 39
5.2.1. Konsep Pembangunan Wisma Atlet... 39
5.2.2. Potensi Pasar Industri Perhotelan ... 40
5.2.3. Penentuan Lokasi ... 45
5.3. Analisa Kebutuhan Fisik Bangunan ... 55
5.3.1. Analisis Program Fungsi dan Program Ruang ... 56
5.3.2. Analisis Luasan Ruang ... 59
5.3.3. Analisis Hubungan Ruang ... 61
BAB 6 ANALISIS KELAYAKAN ASPEK SOSIAL, EKONOMI, DAN LINGKUNGAN 6.1. Analisa Aspek Sosial Ekonomi ... 65
6.2. Taksiran Dampak Lingkungan ... 67
6.2.1. Dampak Lingkungan Tahap Pra Konstruksi ... 68
6.2.2. Tahap Konstruksi ... 68
6.2.3. Tahap Operasional ... 70
6.3. Arahan Pengelolaan Lingkungan ... 72
6.3.1. Pendekatan Teknologi ... 72
6.3.2. Pendekatan Sosial-Ekonomi-Budaya... 74
6.3.3. Pendekatan Institusional... 76
BAB 7 ANALISIS KELAYAKAN KEUANGAN 7.1. Asumsi-asumsi ... 78
7.2. Perhitungan Cash flow Wisma Atlet tahun 2013-2022 ... 80
BAB 8 ANALISIS KELAYAKAN MODEL MANAJEMEN 8.1. Ketersediaan dan Kualitas Sumber Daya ... 87
8.2. Model Pengelolaan ... 88
BAB 9 KESIMPULAN DAN REKOMENDASI 9.1. Kesimpulan ... 90
DAFTAR TABEL
Tabel 1 Agenda Olahraga di Kabupaten Banyuwangi ... 26
Tabel 2 Keberadaan Cabang-Cabang Olah Raga Kabupaten Banyuwangi Tahun 2012 .... 27
Tabel 3 Perolehan Medali PORPROV IV Madiun 2013 ... 28
Tabel 4 Lapangan Olahraga Di Kabupaten Banyuwangi Tahun 2012 ... 30
Tabel 5 Jumlah Lapangan, Atlet dan Perbandingan Intensitasnya ... 31
Tabel 6 Perbandingan Penggunaan Lapangan ... 33
Tabel 7 Proyeksi PDB Dunia ... 40
Tabel 8 Faktor Penentu Lokasi Wisma Atlet ... 47
Tabel 9 Penentuan Ranking dengan Zero – One ... 47
Tabel 10 Ranking Kriteria ... 48
Tabel 11 Bobot Kriteria ... 48
Tabel 12 Penentuan Lokasi dengan Matriks Evaluasi ... 54
Tabel 13 Estimasi Kebutuhan Kamar ... 56
Tabel 14 Analisis Kebutuhan Ruang Wisma Atlet ... 57
Tabel 15 Analisis Luasan Ruang Fasilitas Penunjang ... 60
Tabel 16 Matrik identifikasi Dampak Potensial ... 71
Tabel 17 Weighted Average Cost of Capital Analysis (WACC) ... 79
Tabel 18 Perhitungan Cash Flow Wisma Atlet ... 81
Tabel 19Perhitungan Cash Flow Wisma Atlet Half Capacity ... 85
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1 Peta Kawasan Gelora Ragunan ... 14
Gambar 2 London Athlete Village ... 15
Gambar 3 Kamar Atlet di Perkampungan Atlet London ... 15
Gambar 4 Daegu Athlete Village ... 16
Gambar 5 Kamar Atlet di Perkampungan Atlet Daegu ... 17
Gambar 6 Alur Pikir Kegiatan ... 20
Gambar 7 Alternatif Lokasi Wisma Atlet ... 35
Gambar 8 Perpsektif Tapak ... 50
Gambar 9 Fasilitas Umum Sekitar Lokasi ... 52
Gambar 10 Hubungan Ruang Secara Umum ... 61
Gambar 11 Hubungan uang di Dalam Cafetaria ... 62
Gambar 12 Hubungan Ruang di Dalam Ruang Briefing ... 63
Gambar 13 Hubungan Ruang dalam Ruang Serbaguna ... 63
Gambar 14 Hubungan Ruang di Dalam Poliklinik ... 64
Gambar 15 Hubungan Ruang di Dalam Hall of Fame ... 64
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Didalam sistem keolahragaan nasional, setiap warga negara mempunyai hak yang sama melakukan kegiatan olahraga, memperoleh pelayanan dalam kegiatan olahraga, memilih dan mengikuti jenis cabang olahraga yang sesuai dengan bakat dan minatnya, memperoleh pengarahan, dukungan, bimbingan, pembinaan dan pengembangan dan pengembangan dalam keolahragaan, menjadi pelakuolah raga dan mengembangkan industri olahraga.
Perkembangan olahraga di Kabupaten Banyuwangi saatini berkembang sangat pesat. Beberapa event olahraga baik nasional maupun internasional telah dilaksanakan di Kabupaten Banyuwangi. Penyelenggaraan event olahraga tersebut tidak hanya memberikan manfaat dari sisi prestasi olahragawan daerah saja tetapi juga memberikan efek dari sisi pariwisata (lebih dikenal dan kunjungan wisatawan meningkat) yang pada akhirnya akan memberikan kontribusi terhadap bidang ekonomi.
Dalam upaya untuk meningkatkan prestasi olahraga, pembinaan bibit atlet sejak dini dan juga merealisasikan kebijakan pengembangan keolahragaan nasional yakni melakukan peningkatan kualitas dan kuantitas prasarana dan sarana olahraga maka dirasa perlu bagi Kabupaten Banyuwangi untuk membangun Wisma Atlet. Untuk itu, pada tahun anggaran 2013 Pemerintah Kabupaten Banyuwangi akan melakukan Studi Kelayakan Pembangunan Wisma Atlet.
1.2. Maksud dan Tujuan 1.2.1. Maksud
Maksud dari kegiatan ini adalah melakukan Studi Kelayakan Pembangunan Wisma Atlet yang dapat dijadikan sebagai acuan bagi pemangku kebijakan dan pihak-pihak terkait dalam pengambilan keputusan.
1.2.2. Tujuan
Tujuan dari kegiatan ini adalah
1. Memperoleh gambaran mengenai kondisi pengembangan
kelolahragaan di Kabupaten Banyuwangi;
2. Memperoleh gambaran atas rencana pembangunan Wisma Atlet,
terutama gambaran kelayakan aspek teknis, ekonomis, finansial, lingkungan dan aspek sosial ekonomi masyarakat di sekitar kawasan.
3. Mendapatkan bahan masukan dan bahan pertimbangan bagi pengambil
1.3. Sasaran
Untuk mencapai tujuan pekerjaan, beberapa sasaran yang diharapkan tercapai dari pekerjaan ini adalah :
a. Menunjang peningkatan akses dan kualitas pembangunan keolahragaaan di
Kabupaten banyuwangi
b. Tersedianya gambaran yang lengkap tentang pembangunan wisma atlet dari
sisi lokasi, kebutuhan sarana dan prasarana serta unsur lainnya.
c. Diperoleh rekomendasi kelayakan secara teknis, ekonomis, finansial, lingkungan dan aspek sosial pembangunan wisma atlet di Kabupaten Banyuwangi.
1.4. Referensi Hukum
1. Undang-UndangNomor 3 Tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional
2. Undang-UndangNomor 2 Tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah Bagi
Pembangunan Untuk Kepentingan Umum
3. Undang-UndangNomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung
4. Undang No. 36 Tahun 2005 tentang Peraturan Pelaksanaan
Undang-undang No. 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung.
5. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2007 tentang Penyelenggaraan Keolahragaan.
6. Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2007 tentang Penyelenggaraan Keolahragaan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 35, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4702);
7. Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2007 tentang Pekan dan Kejuaraan
Olahraga (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 36, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4703);
8. Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 2007 tentang Pendanaan Olahraga
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 37, TambahanLembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4704);
9. Peraturan Presiden No. 22 Tahun 2010 tentang Program Indonesia Emas.
10. Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah No.
332/Kpts/M/2002 tanggal 21 Agustus 2002 tentang Pedoman Teknis Pembangunan Bangunan Negara
1.5. Lingkup Kegiatan
Lingkup kegiatan Studi Kelayakan Pembangunan Wisma Atlet meliputi :
a. Analisis mengenai existing condition pembangunan bidang keolahragaan di Kabupaten Banyuwangi, meliputi
3) Identifikasi sarana prasarana olah raga yang telah ada dan kebutuhan sarana prasarana dalam pengembangan keolahragaan
b. Analisis Kelayakan Wisma Atlet, meliputi:
1) Analisis kesesuaian dengan rencana tataruang (land use)
2) Analisis penentuan lokasi dengan mempertimbangkan aksesibilitas, lokasi sarana prasarana olah raga yang telah ada, kondisi topografi dan lingkungan sekitar
3) Analisis kebutuhan sarana dan prasarana fisik wisma atlet yang mempertimbangkan rencana cakupan, event olah raga yang akan diikuti dan diselenggarakan, jenis cabang olahraga yang telah dan akan dikembangkan dengan mengacu dari kajian kebutuhan sebagai tempat pembinaan dan pengembangan atlet (program fungsi dan program ruang);
4) Analisis dampak sosial, ekonomi, budaya dan lingkungan (eksternalitas) yang meliputi:
a) Identifikasi masalah sosial, ekonomi dan budaya yang akan timbul pada saat pra, pembangunan dan pasca pembangunan, dan rumusan alternatif pemecahannya
b) Identifikasi multiplayer effect yang akan timbul akibat pembangunan 5) Analisis pembiayaan (finansial) dengan mempertimbangkan perkiraan kebutuhan dana investasi pembangunan awal serta operasional dan pemeliharaan serta alternatif sumber pembiayaan
6) Analisis managemen pengelolaan
c. Rekomendasi Kelayakan Wisma Atlet, meliputi:
1) Rekomendasi Lokasi
2) Rekomendasi Kelayakan Teknis Pembangunan
3) Rekomendasi Kelayakan dari sisi sosial, ekonomi, budaya dan lingkungan
4) Rekomendasi finansial
5) Rekomendasi manajemen pengelolaan
6) Pembuatan blockplan Wisma Atlet
1.6. Keluaran
Keluaran dari pekerjaan ini antara lain:
a. Terlaksananya study kelayakan pembangunan wisma atlet
b. Tersedianya Dokumen Studi Kelayakan Pembangunan Wisma Atlet di
Kabupaten Banyuwangi
BAB 2
KAJIAN PUSTAKA
2.1. Keolahragaan di Indonesia
Olahraga adalah serangkaian gerak yang teratur dan terencana untuk mempertahankan hidup dan meningkatkan kualitas hidup. Pengertian ini memiliki makna filosofis dan jika dikaji bersama akan memberikan sedikit bayangan tentang hal-hal apa yang akan dilakukan untuk membangun dan mengedepankan olahraga itu sendiri. Olahraga merupakan suatu aktivitas fisik yang dikenal sebagai kegiatan terbuka bagi semua orang sesuai dengan kemampuan, kesenangan dan kesempatan, tanpa membedakan hak, status, sosial, budaya, atau derajat di masyarakat (Harsono, 2008: 2). Hal ini senada dengan apa yang dikemukakan Supandi (1998: 5) bahwa asas olahraga bagi semua orang (sport for all) kini makin memasyarakat. Dengan demikian, saat ini olahraga telah merasuk kesetiap lapisan masyarakat sebagai bagian dari budaya manusia. Dengan katalain, olahraga dilakukan bagi semua orang tanpa memandang jenis ras, kepercayaan, politik dan geografi.
Di dalam olahraga terdapat slogan men sana in corpora sano, yang berarti hidup tidak hanya membutuhkan badan yang sehat, melainkan juga jiwa yang sehat. Oleh karena itu, kita perlu memahami pentingnyaberolahraga untuk menjaga kesehatan.Upaya meningkatkan derajat kesehatan dilakukan dengan melaksanakan aktivitas fisik atau aktivitas dalam berbagai cabang olahraga. Kegiatan tersebut merupakan sebagian kebutuhan pokok dalam kehidupan sehari-hari yang seharusnya dapat meningkatkan kebugaran. Selain itu, olahraga juga dapat digunakan sebagai upaya untuk meningkatkan prestasi (Janet B. Parks, 1990: 2). Dari penjelasan tersebut nampaklah bahwa olahraga telah menjadi komitmen bersama untuk diyakini sebagai salah satu instrument dalam menciptakan tatanan dunia yang lebih baik.
Arah pembangunan olahraga selama ini lebih fokus pada upaya meraih kemajuan prestasi secara instan. Artinya, menganggap prestasi adalah lambang sebuah gengsi yang pemerolehannya cukup dilakukan dalam sekejap melalui berbagai cara. Masyarakat, bahkan telanjur mencitrakan bahwa olahraga itu identik dengan perlombaan dan pertandingan untuk meraih kemenangan yang diwujudkan dalam bentuk medali atau penghargaan bentuk lain. Citra itu tidak sepenuhnya salah, namun ketika proses penyederhanaan pandangan mengenai olahraga tidak dibarengi dengan wawasan tentang bagaimana seharusnya olahraga itu dibangun maka nilai olahraga tidak akan membaik pada masa yang akan datang. Strategi apapun yang hendak diterapkan dan bentuk manajemen pembangunan seperti apa yang akan digunakan maka orientasi pembangunan tidak boleh secara instan hanya memfokus pada satu lingkup olahraga saja.
Kebutuhan akan instrumen yang standar untuk menilai kemajuan pembangunan olahraga makin mendesak untuk dipenuhi seiring dengan arah kebijakan pembangunan nasional dari pola sentralistik ke desentralisasi. Dengan kewenangan baru yang dimiliki, daerah/kota dapat berkompetisi memajukan pembangunan olahraga. Orientasi baru dalam melihat keberhasilan pembangunan olahraga daerah/kota, kini telah dirintis bahkan telah diujicobakan di beberapa propinsi, yakni melalui sebuah pengkajian indeks pembangunan olahraga yang dikenal dengan sport development index (SDI).
Indeks Pembangunan Olahraga atau Sport Development Indeks (SDI) merupakan indeks gabungan 4 (empat) dimensi dasar pembangunan olahraga, yaitu: partisipasi, ruang terbuka, kebugaran, dan sumber daya manusia. Dimensi partisipasi merujuk pada banyaknya anggota masyarakat suatu wilayah yang melakukan kegiatan olahraga. Dimensi ruang terbuka merujuk padaluasnya tempat yang diperuntukkan untuk kegiatan berolahraga bagi masyarakat dalam bentuk lahan dan/atau bangunan. Ruang terbuka ditentukan berdasarkan kriteria: a) digunakan untuk kegiatan berolahraga; b) sengaja dirancang untuk kegiatan berolahraga, dan c) dapat diakses oleh masyarakat luas. Dimensi kebugaran jasmani merujuk pada kesanggupan tubuh untuk melakukan aktivitas tanpa mengalami kelelahan yang berarti.
nasional dan internasional, sebagaimana yang diamanatkan pasal 27 ayat 1 UU No. 3 Tahun 2005, yaitu pembinaan dan pengembangan olahraga prestasi dilaksanakan dan diarahkan untuk mencapai prestasi olahraga di tingkat daerah, nasional, dan internasional. Hal tersebut disebabkan oleh terbatasnya upaya pembibitan atlet unggulan, belum optimalnya penerapan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kesehatan olahraga dalam rangka peningkatan prestasi, serta terbatasnya jumlah dan kualitas tenaga keolahragaan. Dengan demikian, tenaga keolahragaan, olahragawan, serta organisasi olahraga di Indonesia harus dapat menciptakan pola-pola pembinaan prestasi yang menerapkan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi olahraga modern serta standardisasi komponen-komponen pendukung pada pembinaan prestasi olahraga.
2.2. Definisi Wisma Atlet
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2001) pengertian wisma (wis.ma) adalah bangunan untuk tempat tinggal, kantor, kumpulan rumah, kompleks perumahan, permukiman. Peruntukan wisma adalah jenis peruntukan lokasi tanah atau lahan yang dapat didirikan bangunan untuk penggunaan rumah atau tempat tinggal. Sedangkan menurut Peraturan Organisasi Aeromodelling Indonesia (2010), atlet adalah olahragawan baik laki-laki maupun perempuan yang melatih kemampuan secara khusus untuk bersaing dalam pertandingan yang melibatkan kemampuan fisik, kecepatan atau daya tahan.
Kemudian menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2001) pengertian atlet (at.let) adalah olahragawan, terutama yang mengikuti perlombaan atau pertandingan (kekuatan, ketangkasan, dan kecepatan). Berdasarkan jurnal "Kampung Atlet di Surabaya" (2008), wisma atlet adalah penggabungan dari pengertian atlet dan wisma, sehingga dapat disimpulkan bahwa wisma atlet merupakan sarana hunian/tempat tinggal/kompleks perumahan yang diperuntukkan bagi olahragawan ketika akan mengikuti pertandingan atau pemusatan pelatihan.
2.3. Tinjauan Mengenai Ruang
Hal ini juga menunjukkan adanya perbedaan antara dunia pikir yang ideal dan dunia nyata, atntara the transcendent ideal dan the transient, corruptible physical state sehingga dalam perancangan arsitektur selalu meliputi kedua hal ini. Pemenuhan kebutuhan di satu sisi juga harus diimbangi dengan keberhasilan pemenuhan kebutuhan di sisi lain. Arsitektur berperan dalam mewadahi dan menata aktivitas dan perilaku manusia dalam relasi dan interaksinya dengan orang lain. Sebelum merancang sebuah ruang untuk berbagai kegiatan manusia, harus dipahami terlebih dahulu tentang perilaku mereka. Ruang harus menjadi perhatian perancang dan mungkin menjadi aspek yang paling berpengaruh pada tahap analisa dalam merancang penyelesaian sebuah masalah desain.
Tubuh manusia yang berupa daging berbungkus kulit, tidak mampu menembus dinding yang masif. Lalu bagaimana cara kita mencapai keinginan kita yaitu menembus dinding? Tentu saja dengan membuat lubang pada dinding. Pintu dipasang untuk membedakan jenis ruang atau menjaga privasi. Dengan demikian, jelas fungsi arsitektur adalah mengakomodasi kebutuhan tubuh kita. Arsitektur adalah pengalaman ruang bagi tubuh manusia. Ini yang dipahami Traceurs dan sering dilupakan oleh para arsitek. Traceurs mencoba mengubah paradigma itu dan memberi pemaknaan baru mengenai arsitektur. Traceur memandang arsitektur sebagai 'rintangan' yang harus dilalui oleh tubuh mereka sendiri. Arsitektur adalah sarana pembelajaran bagi tubuh manusia agar menjadi lebih baik secara fisik dan mental.
Ruang dalam arti luas adalah suatu bagian dimana berbagai komponen-komponen lingkungan hidup bisa menempati dan melakukan proses lingkungan hidupnya. Dengan demikian, dimana pun terdapat suatu komponen, berarti disitu telah terdapat ruang. Sedangkan pengertian ruang yang lebih sempit berasal dari bahasa Latin spatium yang berarti ruangan atau luas (extent) dan bahasa Yunani yaitu tempat (topos) atau lokasi (choros) dimana ruang memiliki ekspresi kualitas tiga dimensional. Kata oikos dalam bahasa Yunani yang berarti pejal, massa dan volume, dekat dengan pengertian ruang dalam arsitektur, sama halnya dengan kata oikos yang berarti ruangan (room). Dalam pemikiran Barat, Aristoteles mengatakan bahwa ruang adalah suatu yang terukur dan terlihat, dibatasi oleh kejelasan fisik, enclosure yang terlihat sehingga dapat dipahami keberadaanya dengan jelas dan mudah.
2.4. Tinjauan Khusus
2.4.1. Tinjauan Terhadap Istirahat Atlet
cukup agar tetap sehat dan kuat. Istirahat yang cukup sama pentingnya dengan komitmen untuk berlatih keras. Tanpa istirahat, maka kondisi fisik dan mental para atlet dapat terganggu. Istirahat merupakan keadaan yang tenang, relaks tanpa tekanan emosional dan bebas dari kegelisahan (ansietas).
Menurut Dr. Edlund (2010) ada beberapa jenis istirahat aktif, antara lain : 1. Sosialisasi
Ini didefinisikan sebagai menghabiskan waktu bersama teman dan hubungan dan bahkan mengobrol dengan rekan-rekan. Menurut penelitian terbaru, sosialisasi membantu manusia terhindar dari kanker, melawan penyakit menular dan kemudahan depresi serta mengurangi resiko kematian akibat serangan jantung. Hanya mengobrol dengan teman-teman telah terbukti mengurangi tingkat hormon stres dan memberikan manfaat hormonal dan psikologis.
2. Istirahat Mental
Salah satu ide dari pentingnya istirahat mental adalah untuk mendapatkan kondisi 'khusyuk' pada suatu hal yang sederhana. Membaca buku dapat dikategorikan sebagai istirahat mental.
3. Istirahat Fisik
Cara terbaik untuk melakukan istirahat fisik ini adalah dengan tidur. Tidur berasal dari kata bahasa latin "somnus" yang berarti alami periode pemulihan, keadaan fisiologi dari istirahat untuk tubuh dan pikiran. Tidur merupakan keadaan hilangnya kesadaran secara normal dan periodik (Lanywati, 2001) Tidur merupakan suatu keadaan tidak sadar yang di alami seseorang, yang dapat dibangunkan kembali dengan indra atau rangsangan yang cukup (Guyton 1981 : 679).
Perilaku istirahat atlet dibagi menjadi 2, yaitu perilaku istirahat untuk cabang olah raga beregu/kelompok dan cabang olahraga individu. Berdasarkan sejumlah penelitian Weiberg dan Gould (dalam buku Dasar-Dasar Psikologi Olahraga, 2000) mengutip beberapa laporan hasil penelitian tentang atlet sebagai berikut: Atlet yang bermain dalam olahraga beregu cenderung lebih ekstrovert, dan lebih dependen (menggantungkan diri pada orang lain). Sedangkan Humara (dalam buku Psikologi Olahraga Prestasi, 2008) menyatakan bahwa olahraga yang bersifat individual menciptakan tekanan yang lebih besar dibandingkan dengan cabang olahraga beregu.
2.4.2. Faktor - Faktor Yang Mempengaruhi Kualitas Istirahat
Adapun faktor-faktor yang dapat mempengaruhi istirahat seseorang menurut Kozier (1993) adalah faktor usia, lingkungan, kelelahan (fatigue), gaya hidup, stress psikologis, alkohol dan stimulant, diet, merokok, motivasi, sakit, dan medikasi. Sedangkan menurut Potter dan Perry (1993) faktor yang mempengaruhi istirahat individu meliputi keadaan sakit fisik, obat dan zat, gaya hidup, pola tidur, stres emosional, lingkungan, latihan dan kelelahan, dan asupan kalori. Sementara itu menurut Craven dan Hirnle (2000) mengidentifikasi faktor yang mempengaruhi istirahat individu meliputi kebutuhan (need); lingkungan, hubungan kerja shift, nutrisi dan metabolisme, pola eliminasi, latihan dan termoregulasi, kewaspadaan (vigilance), kebiasaan dan gaya hidup, sakit, medikasi dan zatkimia, dan kondisi alam perasaan (mood).
Dari teori-teori di atas, dapat dilihat bahwa faktor lingkungan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi istirahat seseorang. Menurut Loo dalam buku Arsitektur Lingkungan dan Perilaku, lingkungan diklasifikasikan menjadi lingkungan fisik dan lingkungan sosial. Lingkungan fisik menyangkut dimensi. tempat, densitas, serta suasana suatu ruang atau tempat (warna, susunan perabot, dll). Dalam hal ini akan dibahas tentang lingkungan fisik berupa kamar yang mempengaruhi kualitas istirahat atlet.
2.4.3. Tinjauan Mengenai Desain Ruang Kamar dan Perilaku Atlet
Desain dalam kamus bahasa Indonesia berarti sebagai rancangan. Desain kamar merupakan perancangan serta perencanaan atau penyusunan tata ruang di dalam kamar. Manusia membentuk ruang, ruang membentuk manusia. "People modify the spaces they live in, in turn are modified by them''',, (Edward Soja, 2005 dalam buku Arsitektur, Komunitas Dan Modal Sosial), hal ini memiliki arti bahwa manusia membentuk dan menggubah ruang, dan kemudian ruang juga akan membentuk dan menggubah manusia.
Menurut Halpern, perilaku manusia termasuk bentuk-bentuk respon psikologis, relasi, dan interaksi sosialnya, merupakan suatu produk dari upaya mempersepsi lingkungan, termasuk lingkungan binaan seperti wisma. Artinya, tata ruang dalam suatu bangunan, khususnya wisma, secara teoritik memiliki pengaruh terhadap tumbuhnya berbagai perilaku manusia, termasuk dalam interaksi social dan aktivitas bersama guna memecahkan persoalan bersama dan untuk kemanfaatan bersama.
Dalam arsitektur, fungsi selalu dihubungkan dengan program bangunan, menyangkut persyaratan ruang, yang didasarkan atas fungsi ruang dan
kecocokannya dengan konteks bangunan. Program misalnya akan
ruang tersebut dan berapa lama, serta hubungan antar ruang yang menggambarkan tatanan sosial yang mungkin tercipta dalam bangunan tersebut (Frederic A. Jules, 1979).
Dalam proses desain diperlukan perencanaan dalam penataan ruang atau sering disebut dengan zoning. Untuk menyamakan persepsi maka terlebih dahulu perlu disampaikan beberapa definisi tentang apa yang dimaksud dengan zona dan zoning. Zona adalah kawasan atau area yang memiliki fungsi dan karakteristik yang spesifik. Zoning adalah pembagian kawasan ke dalam beberapa zona sesuai dengan fungsi dan karakteristik semula atau diarahkan bagi pengembangan fungsi-fungsi lain.
Dalam kaitannya dengan manusia, hal paling penting dari pengaruh ruang terhadap perilaku manusia adalah fungsi atau pemakaian ruang tersebut. Pengaruh ruang-ruang tersebut terhadap perilaku pemakainya cukup jelas, karena pemakai melakukan kegiatan tertentu di masing-masing ruang tersebut. Sesuai dengan fungsinya, ruang-ruang tersebut diharapkan mempunyai bentuk, perabot, dan kondisi ruang tertentu. Ruang dirancang untuk memenuhi fungsi yang lebih fleksibel. Masing-masing perancangan fisik ruang tersebut mempunyai variabel independen yang berpengaruh terhadap perilaku pemakainya. Variabel tersebut adalah ukuran dan bentuk, perabot dan penataannya, warna serta unsur lingkungan ruang (suara, temperatur, dan pencahayaan).
Berdasarkan buku Psikologi Arsitektur dan Arsitektur dan Perilaku Manusia maka disimpulkan bahwa ada beberapa konsep dasar yang perlu diketahui dalam membentuk sebuah ruang fisikal :
a. Antropometri
Antropometri sering disebut juga faktor-faktor manusiawi (human factor). Menurut Grandjean dalam buku Psikologi Arsitektur, data antropometri digunakan untuk menentukan spesifikasi dimensi fisik ruang, dalam hal ini adalah kamar, perabotan, peralatan sampai ke pemakaiannya. Prinsipnya adalah memantaskan atau menyamankan manusia dan untuk menghindari ketidakcocokan fisik antara dimensi desain dengan dimensi pemakai. b. Privasi
Irwin Altman menyatakan model pengaturan diri manusia secara konseptual, dimana manusia menganggap ruang personal dan territorial menjadi mekanisme utama untuk mendapatkan privasi. Privasi sebagai kemampuan untuk memisahkan diri orang lain, serta adanya ukuran-ukuran fisik dari ruang untuk mendapatkan privasi.
• Ruang Personal (personal space)
jarak tersebut sangat ditentukan oleh kualitas hubungan antar orang yang bersangkutan.
Ruang personal dimiliki oleh setiap orang. Dengan kata lain, ruang personal ini merupakan bagian dari kemanusiaan seseorang. Dengan tidak adanya ruang personal, dapat mengakibatkan rasa tidak nyaman, rasa tidak aman, stress, adanya ketidakseimbangan, komunikasi yang buruk, dan segala kendala pada rasa kebebasan. Jadi, ruang personal berperan dalam menentukan kualitas hubungan seorang individu dengan individu lainnya.
• Teritorialitas (Territoriality)
Seperti halnya ruang personal, teritorialitas merupakan perwujudan "ego" seseorang karena orang tidak ingin diganggu atau dapat dikatakan sebagai perwujudan dari privasi seseorang.
Teritori dibagi dalam beberapa golongan, salah satunya adalah teritori primer. Teritori primer adalah tempat-tempat yang sangat pribadi sifatnya, hanya boleh dimasuki oleh orang-orang yang sudah sangat akrab atau sudah mendapat izin khusus. Teritori ini dimiliki oleh perseorangan atau sekelompok orang yang juga mengendalikan penggunaan teritori tersebut secara relatif tetap, berkenaan dengan kehidupan sehari-hari ketika keterlibatan psikologis penghuninya sangat tinggi. Misalnya, ruang tidur.
c. Kesesakan dan Kepadatan (Crowding and Density)
Bentuk lain dari persepsi terhadap lingkungan adalah kesesakan (crowding). Stokols (dalam Arsitektur dan Perilaku Manusia, 2004) menyatakan bahwa kepadatan adalah kendala keruangan (spatial constraint). Sementara itu, kesesakan adalah respons subjektif terhadap ruang yang sesak. Kesesakan dan kepadatan saling berhubungan, semakin banyak jumlah manusia berbanding luasnya ruangan, makin padatlah keadaannya.
2.4.4. Perancangan Kamar
Kamar tidur merupakan area yang paling pribadi. Seiring perkembangan zaman, kamar tidur tidak hanya digunakan sebagai tempat untuk tidur. Sehingga mengubah yang terstruktur menjadi bentuk-bentuk baru dari pola yang tradisional dan standar. Kamar tidur saat ini bisa dijadikan juga sebagai tempat untuk menghabiskan waktu senggang. Berdasarkan literatur yang bersumber dari buku maupun internet, dalam perancangan ruang kamar, hal-hal detail yang harus diperhatikan adalah :
a. Ukuran dan Proporsi
Untuk memberikan kegunaan dan kenyamanan, semuanya itu harus dirancang lebih dahulu agar mampu merespon atau berhubungan dengan dimensi pengguna ruang tersebut, jarak ruang yang diperlukan oleh pola gerakan, dasar aktivitas yang dilakukan.
b. Tempat Tidur dan Meja
Tempat tidur bersama (bunk bed) menggunakan ruang vertikal untuk tingkat tidur yang bertumpuk. Permukaan meja dan penyimpanan juga dapat digabungkan ke dalam sistem. Penggunaan sistem ini dapat membuat kamar lebih efisien dan efektif.
c. Lemari Pakaian
Lemari built-in dapat membantu menjaga garis ruangan tetap bersih dan menghindari kekacauan.
d. Pintu dan Jendela
Pintu menentukan jalur pergerakan dan menetapkan aksesibilitas zona-zona tertentu. Letak pintu berhubungan dengan peletakkan perabot di dalam kamar, sebisa mungkin hindari pintu berhadapan langsung dengan tempat tidur karena bermasalah dalam hal privasi.
Jendela
Ukuran, bentuk, dan penempatan jendela mempengaruhi integritas visual permukaan dinding dan rasa lingkup yang diberikan. Jendela dapat dipandang sebagai area terang di dalam dinding atau bidang gelap di malam hari. Ventilasi serta cahaya matahari masuk melalui jendela. Semakin besar dan semakin tinggi jendela, semakin banyak cahaya matahari yang masuk. Memasukkan cahaya matahari juga dapat menimbulkan efek buruk ke dalam bangunan, yaitu akan membawa panas dan silau bagi penghuni ruang, akan tetapi dapat disiasati dengan overstek atau penggunaan awning pada jendela.
Bentuk ruang
interior ruang menentukan kesan yang timbul. Bentuk ruang yang sederhana terdiri dari empat dinding, lantai dan langit-langit. Bentuk ruang semacam itu jelas dan memberi kesan ke arah vertical serta horisontal, menyempit atau membebasluaskan. Ruang yang tidak tinggi atau lebar akan terasa menyesakkan, sebaliknya ruang yang terlalu tinggi akan menyebabkan kita merasa kecil dan tertelan oleh ruang tersebut. (Sumber : Wilkening, Fritz, Tata Ruang, Kanisius, Yogyakarta, 1987 hal 42).
Kebisingan
Suara yang terlalu keras akan berpengaruh buruk bagi seseorang. Suara juga dapat mengganggu privasi seseorang, misalnya di sebuah kamar hotel terdengar dengan jelas suara-suara dari kamar sebelah atau jika letak ruang tidur berdekatan dengan jalan, sehingga dapat menyebabkan ketidaknyamanan.
Penghawaan
Penghawaan dalam bangunan dibagi menjadi 2, yaitu penghawaan alami dan buatan. Sistem yang paling baik digunakan untuk merancang sistem sirkulasi udara (penghawaan) yang alami adalah dengan sistem ventilasi silang (cross ventilation), pada sistem ventilasi silang sirkulasi udara diatur sedemikian rupa agar bisa mengalir dari satu titik ventilasi udara menuju titik ventilasi udara lain, dan begitu sebaliknya. Dengan adanya perbedaan tekanan didalam dan diluar bangunan, maka aliran udara tidak akan 'terjebak' di dalam ruang, yang menyebabkan terasa pengap dan panas.
2.5. Perbandingan Beberapa Wisma Atlet 2.5.1. Wisma Atlet Ragunan
Gelora Ragunan berlokasi di Jalan Harsono RM, Pasar Minggu,Jakarta Selatan dibangun pada tahun 1973 dan diperuntukkan sebagai :
1 Tempat penampungan bagi para atlet DKI Jakarta dalam pembinaan prestasi
olahraga.
2 Pusat Pendidikan dan Pembinaan olahraga bagi pelajar-pelajar berprestasi dalam olahraga.
3 Training Centre bagi atlet-atlet Nasional sebelum mengikuti event-event Internasional.
Gambar 1 Peta Kawasan Gelora Ragunan
Pada kawasan Gelora Ragunan terdapat Wisma Atlet, yang terdiri dari 3 lantai dimana pada lantai 1 terdiri dari 20 kamar untuk wanita, lantai 2 terdiri dari 26 kamar untuk pria, dan lantai 3 terdiri dari 26 kamar untuk pelatnas. Pencapaian ke Gelora Ragunan ini dapat dikatakan tidak terlalu mudah karena sedikitnya kendaraan umum yang masuk ke dalam kawasan ini. Hal tersebut dirasakan oleh beberapa atlet yang tinggal di wisma ini, mereka mengatakan bahwa sulit untuk berpergian dengan menggunakan kendaraan umum.
2.5.2. London Athlete Village
Gambar 2 London Athlete Village
(Sumber : http://www.thisislondon.co.uk)
Perkampungan atlet London ini didirikan untuk digunakan pada event Olimpiade 2012. Pada perkampungan atlet ini terdapat fasilitas-fasilitas serta hunian untuk para atlet sebanyak 2400 unit yang terbagi dalam 14 bangunan, tiap bangunan memiliki 10 lantai. Luasan kamar tersebut tidak kurang dari 12m2, 1 kamar diisi oleh 2 orang atlet. Total tempat tidur pada penginapan atlet tersebut adalah 16.900 buah, 10.500 untuk atlet-atlet, 6.400 untuk team officials.
Gambar 3 Kamar Atlet di Perkampungan Atlet London
2.5.3. Daegu Athlete Village
Perkampungan atlet Daegu berlokasi di Yulha 2 Housing Development District, Dong-gu, luas lahan yang dipakai untuk hunian atlet sebesar 49.975m2. Menurut Mr.Young Soo Kim, Direktur Daegu Athlete Village, kondisi fisik dan mental atlet-atlet adalah kunci dari acara perlombaan internasional para atlet-atlet. Oleh karena itu, perkampungan atlet harus memiliki ruang yang nyaman.
Hal utama dalam perkampungan atlet ini adalah kenyamanan. Perkampungan atlet Daegu berlokasi di depan sungai dan tingkat kepadatan kendaraan pun rendah. Sebagai tambahan, tidak hanya akomodasi tetapi ada 20 fasilitas penunjang yang disediakan untuk para atlet, seperti salon, bank, laundry, kantor pos, dll. Penginapan untuk para atlet akan dibagi menjadi 4 gaya yang berbeda; ada 528 unit di 9 bangunan dimana tersedia sebanyak 2.032 kamar.
Gambar 4 Daegu Athlete Village
(Sumber : http://daegu2011.blogspot.com)
Gambar 5 Kamar Atlet di Perkampungan Atlet Daegu
(Sumber : http://daegu2011.blogspot.com/2011)
Dari beberapa contoh wisma atlet diatas dapat dibandingkan sebagai berikut:
Item
Wisma Atlet
Ragunan London Daegu
Bentuk segiempat segiempat segiempat
Perabot Tempat tidur, lemari, meja
kerja dan kursi, nakas
Tempat tidur, lemari,nakas
Tempat tidur,lampu untuk membaca, coffee pot, microwaves, meja, sofa
Tipe Kamar adanya perbedaan kamar
atlet cabang olahraga
individu dan beregu,
perbedaan kamar pria dan wanita
adanya perbedaan
kamar antar pria dan wanita
adanya perbedaan kamar
atlet cabang olahraga
individu dan beregu, antar pria dan wanita
Kapasitas 2-4 orang 2 orang 1-2 orang
Ukuran Kamar ± 4m x 6,5m ± 3m x 4m ± 4m x 5m
Pintu Swing door 200cm x 85cm Ada Ada
Secara umum, perbandingan wisma atlet dengan wisma umum adalah sebagai
berikut :
Wisma
Wisma Atlet Wisma Umum
Perabot Secara umum, tempat tidur, lemari,
meja kerja dan kursi, nakas
Secara umum, tempat tidur, lemari, meja kerja dan kursi, nakas, TV, sofa/tempat duduk.
Bentuk Segiempat Segiempat
Tipe Kamar memiliki beberapa macam tipe
kamar, adanya perbedaan kamar berdasarkan cabang olahraga dan juga perbedaan gender
memiliki beberapa macam tipe kamar dengan berbagai daya tampung, tidak ada perbedaan kelompok kamar, biasanya untuk hunian sementara keluarga atau keperluan bisnis.
Pintu swing door swing door
BAB 3
METODOLOGI DAN PROGRAM KERJA
3.1. Pendekatan
Untuk mencapai tujuan sesuai sasaran yang ditentukan di dalam kerangka Acuan Kerja maka sebelum dibuat metode terperinci perlu ditentukan lebih dahulu prinsip-prinsip dasar dan penyederhanaan pelaksanaan. Harus lebih dahulu dipastikan tujuan dan prinsip yang benar sehingga keputusan yang akan diambil dapat mencapai sasaran. Tanpa hal ini maka program yang dilaksanakan kemungkinan akan gagal dan tidak efisien selama pelaksanaannya sehingga tujuan akhir tidak tercapai.
Sangat diperlukan membuat identifikasi dan mengerti ruang lingkup, pekerjaan yang akan dilaksanakan nantinya sebelum memutuskan metode pelaksanaan yang diperlukan. Untuk mencapai tujuan sesuai sasaran yang ditentukan di dalam Kerangka Acuan Kerja maka sebelum dibuat metode terperinci perlu ditentukan lebih dahulu prinsip-prinsip dasar dan penyederhanaan pelaksanaan. Harus lebih dahulu dipastikan tujuan dan prinsip yang benar sehingga keputusan yang akan diambil dapat mencapai sasaran. Tanpa hal ini maka program yang dilaksanakan kemungkinan akan gagal dan tidak efisien selama pelaksanaannya sehingga tujuan akhir tidak tercapai. Sangat diperlukan membuat identifikasi dan mengerti ruang lingkup, pekerjaan yang akan dilaksanakan nantinya sebelum memutuskan metode pelaksanaan yang diperlukan.
3.2. Metodologi
Gambar 6 Alur Pikir Kegiatan
3.3. Variabel dan Indikator
Variabel dan indikator yang digunakan dalam studi ini dikelompokkan berdasarkan jenis analisis kelayakan yang digunakan, yaitu :
1. Analisis kelayakan teknis, yang meliputi variabel lokasi (topografi dan geografis), kapasitas/daya tampung atlet, kebutuhan tenaga kerja, fasilitas air, fasilitas listrik, transportasi, dan lain-lain.
2. Analisis kelayakan finansial, dengan variabel jumlah/kebutuhan investasi untuk tanah dan bangunan, peralatan dan biaya pemasangannya, perawatan serta biaya-biaya lainnya, biaya tetap, biaya tidak tetap, dan sumber pembiayaan.
3. Analisis kelayakan lingkungan meliputi aspek-aspek kedekatan dengan
pemukiman penduduk, jalur transportasi, dan tempat pembuangan limbah.
3.4. Kebutuhan Dan Sumber Data
Data yang dibutuhkan terdiri dari data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh langsung dari nara sumber yang antara terdiri dari atas :
2. Tokoh Masyarakat dan pemangku kepentingan, untuk mengetahui respons dan feedback masyarakat, sehubungan dengan adanya rencana pendirian Wisma Atlet tersebut.
3. Pengusaha/Distributor Peralatan olahraga, untuk mendapatkan informasi mengenai harga peralatan yang akan digunakan Wisma Atlet.
Sedangkan data sekunder diperoleh melalui bahan publikasi yang diterbitkan oleh instansi terkait dan berhubungan langsung dengan studi ini.
3.5. Teknik Pengumpulan dan Pengolahan Data
Studi ini dibagi dalam dua tahap pengumpulan data. Tahap pertama di fokuskan kepada aktivitas desk research yang meliputi telaah pustaka dan pencarian data sekunder. Tahap kedua akan memfokuskan pada pencirian data primer melalui wawancara mendalam (indepth interview) dengan nara sumber terpilih baik dari kalangan pejabat pemerintahan, maupun masyarakat. Adapun teknik pengolahan data didasarkan kepada aspek-aspek analisis kelayakan yang antara lain :
1. Aspek Kelayakan Teknis, melalui teknik analisis deskriptif terhadap variabel-variabel yang telah ditentukan.
2. Aspek Kelayakan Finansial, melalui Net Present Value (NPV), Internal Rate of Returns (IRR) dan Net Benefit Cost Ratio.
3. Aspek Kelayakan Lingkungan diterapkan secara deskriptif untuk mengetahui dan mengukur kemanfaatan dan kerugian yang diprediksi akan muncul dengan adanya fasilitas Wisma Atlet.
3.6. Teknik Analisis Data
Teknik analisis yang digunakan dalam studi ini adalah : 1. Teknik Analisis Deskriptif yang meliputi,
Kecenderungan (trend) / animo masyarakat;
Perkembangan keolahragaan;
Dampak lingkungan.
Kecenderungan lain yang bersifat tipikal
2. Teknik Analisis Kelayakan Teknis dan Lokasi, yang mencakup : Analisis kelayakan lokasi
analisis mengggunakan teknik pembobotan Zero-One. 3. Teknik Analisis Kelayakan Finansial
Analisa kelayakan keuangan merupakan analisa dari berbagai aspek yang saling berkaitan untuk mengetahui dan mengukur seberapa besar prospek usaha Perseroan setelah diversifikasi usaha, serta untuk mengukur tingkat pengembalian (return) yang diperoleh dari jumlah investasi yang ditanamkan. Terdapat beberapa indikator untuk dapat mengetahui kelayakan usaha suatu proyek yang digunakan dalam Laporan Studi Kelayakan ini, diantaranya adalah Net Present Value ("NPV"), Internal Rate of Return ("IRR") dan Benefit Cost Ratio ("BCR").
Berikut adalah langkah yang digunakan untuk menghitung indikator-indikator kelayakan usaha:
a. Membuat proyeksi Laporan Keuangan sampai periode berakhirnya
usaha;
b. Membuat perkiraan Free Cash Flow yaitu proyeksi arus kas dari aktivitas operasi perusahaan setelah dikurangi dengan pajak, ditambahkan kembali biaya depresiasi dan amortisasi, dikurangi dengan perubahan modal kerja dan perubahan biaya modal;
c. Menentukan discount factor Perseroan dengan menggunakan metode Weighted Average Cost of Capital (WACC) perusahaan pembanding dimana discount factor yang digunakan telah mempertimbangkan tingkat pengembalian dan risiko pasar;
d. Menilai risiko dan menentukan cost of capital sebagai discount factor terhadap arus kas yang akan diperoleh di masa datang;
e. Menghitung present value dari arus kas yang diharapkan akan terjadi di masa yang akan datang. Setelah kelima langkah tersebut, maka dapat ditentukan nilai indikator kelayakan sebagai berikut:
Rumus yang digunakan untuk penilaian NPV adalah :
g. IRR merupakan nilai tingkat pengembalian investasi pada saat discount factor Perseroan sama dengan 0, yang artinya tingkat pengembalian dan risiko dari total investasi pada saat ini adalah sama dengan tingkat pengembalian dan risiko dari pasar. Sehingga apabila IRR proyek lebih besar dari WACC, maka proyek ini layak dikerjakan dan apabila IRR proyek lebih kecil dari WACC maka proyek ini tidak layak dikerjakan; Formula persamaan untuk menghitung nilai IRR adalah :
BAB 4 ANALISIS KONDISI AWAL BIDANG KEOLAHRAGAAN
4.1. Kondisi Umum Keolahragaan
Olahraga adalah serangkaian gerak yang teratur dan terencana untuk mempertahankan hidup dan meningkatkan kualitas hidup. Pengertian ini memiliki makna filosofis dan jika dikaji bersama akan memberikan sedikit bayangan tentang hal-hal apa yang akan dilakukan untuk membangun dan mengedepankan olahraga itu sendiri. Olahraga merupakan suatu aktivitas fisik yang dikenal sebagai kegiatan terbuka bagi semua orang sesuai dengan kemampuan, kesenangan dan kesempatan, tanpa membedakan hak, status, sosial, budaya, atau derajat di masyarakat (Harsono, 2008:2). Hal ini senada dengan apa yang dikemukakan Supandi (1998:5) bahwa asas olahraga bagi semua orang (sport for all) kini makin memasyarakat. Dengan demikian, saat ini olahraga telah merasuk kesetiap lapisan masyarakat sebagai bagian dari budaya manusia. Dengan katalain, olahraga dilakukan bagi semua orang tanpa memandang jenis ras, kepercayaan, politik dan geografi.
Hak tiap warga negara untuk berolahraga merupakan kebutuhan bernilai universal, yang harus terfasilitasi secara lebih memadai. Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional memformulasikan secara tegas bahwa tiap warga negara memiliki kesempatan yang sama untuk melakukan olahraga tanpa ada diskriminasi; tiap warga negara berhak memilih dan mengikuti jenis olahraga yang diminati; tiap warga negara berhak memperoleh pelayanan berolahraga untuk mencapai derajat kesehatan dan kebugaran jasmani serta mendapatkan bimbingan prestasi bagi yang berbakat; pemerintah wajib memberikan dukungan dana, ruang terbuka, dan tenaga keolahragaan guna mewujudkan pembangunan olahraga. (Suara Merdeka, 10 September 2011).
serta masyarakat dalam kegiatan keolahragaan; (j)pengembangan kerja sama dan informasi keolahragaan; (k) pembinaan dan pengembangan industri olahraga; (l) penyelenggaraan akreditasi dan sertifikasi;(m) pencegahan dan pengawasan terhadap doping; (n)pemberian penghargaan; (o) pelaksanaan pengawasan; dan (p)evaluasi nasional terhadap pencapaian standar nasional keolahragaan.
Arah pembangunan olahraga selama ini lebih fokus pada upaya meraih kemajuan prestasi secara instan. Artinya, menganggap prestasi adalah lambang sebuah gengsi yang pemerolehannya cukup dilakukan dalam sekejap melalui berbagai cara. Masyarakat, bahkan telanjur mencitrakan bahwa olahraga itu identik dengan perlombaan dan pertandingan untuk meraih kemenangan yang diwujudkan dalam bentuk medali atau penghargaan bentuk lain. Citra itu tidak sepenuhnya salah, namun ketika proses penyederhanaan pandangan mengenai olahraga tidak dibarengi dengan wawasan tentang bagaimana seharusnya olahraga itu dibangun maka nilai olahraga tidak akan membaik pada masa yang akan datang. Strategi apapun yang hendak diterapkan dan bentuk manajemen pembangunan seperti apa yang akan digunakan maka orientasi pembangunan tidak boleh secara instan hanya memfokus pada satu lingkup olahraga saja.
Di tengah masyarakat saat ini mulai terlihat peningkatan aktifitas keolahragaan. Data Susenas menunjukkan bahwa persentase penduduk berumur 10 tahun ke atas yang melakukan kegiatan olahraga sendiri tercatat pada tahun 2003 sebesar 30,6% menjadi 26,9% pada tahun 2006 dan pada tahun 2009 menjadi 21,76. Pada tahun 2012 angka ini meningkat cukup signifikan menjadi 24,99 persen.
Arah kebijakan pengembangan keolahragaan di Kabupaten Banyuwangi sebagaimana termuat dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah tahun 2010-2015 secara eksplisit masuk kedalam misi yang ketiga yaitu mewujudkan aksesibilitas dan kualitas pelayanan bidang pendidikan, kesehatan dan kebutuhan dasar lainnya dengan arah kebijakan meningkatkan partisipasi pemuda dalam pembangunan dan menumbuhkan budaya olah raga.
Dinas Pemuda dan Olahraga sebagai leading sector urusan pemuda dan olahraga kemudian menjabarkannya dalam program pembangunan sebagai berikut:
1. Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Olahraga
2. Program Pembinaan Pemuda dan Olahraga
3. Program Peningkatan Peran Serta Kepemudaan
4. Program Peningkatan Upaya Pertumbuhan Kewirausahaan dan
Kecakapan Hidup Pemuda
5. Program Upaya Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba
Program pembangunan keolahragaan ini diwujudkan dengan kegiatan pembangunan berupa pembinaan keolahragaan termasuk pembinaan atlet, penyediaan sarana dan sarana olahraga dan berbagai program pengembangan keolahragaan lain yang terkait. Sebagai
4.2. Potensi Keolahragaan Untuk Pengembangan
Bidang keolahragaan di Kabupaten Banyuwangi saat ini tumbuh dengan pesat antara ditandai oleh banyaknya even olahraga baik yang berskala lokal, regional, nasional maupun internasional. Even berskala internasional yang rutin diselenggarakan antara lain Tour de Ijen. Lomba balap sepeda Banyuwangi Tour de Ijen yang digelar Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, pada 7-9 Desember 2012 lalu diikuti sebanyak 115 atlet yang tergabung dalam tim profesional dari 16 negara. Negara yang meramaikan Banyuwangi Tour de Ijen antara lain Australia, Belanda, Jerman, Inggris, Iran, Irlandia, China, Singapura, Thailand, Malta, Jepang, Korea Selatan, Selandia Baru dan Filipina. Lomba balap sepeda Banyuwangi Tour de Ijen telah resmi terdaftar dalam agenda rutin Organisasi Balap Sepeda Internasional (UCI). Selain sebagai even olahraga Banyuwangi Tour de Ijen diharapkan menjadi promosi publik yang dapat memberikan dampak positif bagi Kabupaten Banyuwangi, sekaligus untuk membangun sebuah kesan bahwa Banyuwangi menjadi destinasi utama wisata internasional.
Selain itu even internasional lain yang diselenggarakan adalah Red Island International Surfing Competition 2013 yang diselenggarakan pada bulan mei 2013 dan diikuti oleh Kompetisi akan diikuti oleh kurang lebih 192 peselancar dari 20 negara dan akan dihadiri oleh kurang lebih 10.000 orang yang meliputi penonton dan pendukung acara serta memperebutkan hadial total USD 4.600 (sumber: http://banyuwangiredislandsurfing.com).
Adapun beberapa even olahrga yang diselenggarakan di Kabupaten Banyuwangi antara lain:
Tabel 1 Agenda Olahraga di Kabupaten Banyuwangi
No Nama Kegiatan Skala
1. Tour de Ijen Internasional
2. Red Island International Surfing Competition Internaional
3. Pekan Olahraga Pelajar Daerah (2014) Regional
4. Pekan Olahraga SD dan MI Regional
No Nama Kegiatan Skala
6. Kejurda Bulu Tangkis Regional (Jawa Bali)
7. Kejurda Sepakbola Regional (Jawa Bali)
8. Kejurda Balap Sepeda Regional (Jawa Bali)
9. Liga Premier Indonesia Nasional
10. Pro Liga Volley Ball Nasional
Sumber : Dinas Pemuda dan Olahraga Kabupaten Banyuwangi
Selain itu dalam rangka pengembangan keolahragaan; Pemerintah Kabupaten Banyuwangi melalui Dinas Pemuda dan Olahraga serta Koni secara aktif memberikan pembinaan kepada cabang-cabang olahraga yang ada. Pembinaan tidak saja ditujukan pada atlet namun juga kepada pelatih dan wasit serta menyediaan sarana olahraga. Berdasarkan data Dinas Pemuda dan Olahraga terdapat 26 cabang olahraga yang terdapat di Kabupaten Banyuwangi.
Beberapa cabang olahraga yang memiliki atlet terbanyak antara lain bola volley sebanyak 24.280 atlet 6 diantaranya berstatus atlet nasional, cabang olahraga sepakbola dengan atlet sebanyak 8.450 atlet dan 2 diantaranya atlet nasional. Atlet nasional terbanyak diisi oleh cabang olahraga atletik dengan 9 atlet. Cabang olahraga selam juga memiliki 6 atlet kelas nasional. Adapun keberadaan Cabang Olahraga di Kabupaten Banyuwangi adalah sebagai berikut:
Tabel 2 Keberadaan Cabang-Cabang Olah Raga Kabupaten Banyuwangi Tahun 2012
NO CABANG OR PELATIH WASIT ATLET JUMLAH
Keterangan : LK Lokal, RG Regional, NAS Nasional
Sumber : Dinas Pemuda dan Olahraga Kabupaten Banyuwangi
Kabupaten Banyuwangi secara aktif terlibat dalam even olahraga regional dan
nasional serta internasional. Pada Pekan Olahraga Provinsi IV yang
diselenggarakan di Madiun tahun 2013, Kabupaten Banyuwangi mengirimkan 217
atlet untuk mengikuti kompetisi pada 23 cabang olah raga (Cabor) Porprov.
Cabang olahraga unggulan dalam even tersebut antara lain yakni atletik, wushu,
taekwondo, panjat tebing, voli pantai dan silat. Adapun hasil perolehan medali
dalam Porprov IV tersebut adalah:
Tabel 3 Perolehan Medali PORPROV IV Madiun 2013
No Kota Emas Perak Perunggu
12 Ponorogo 5 8 5
13 Lumajang 5 5 11
14 Tuban 5 4 13
15 Jombang 3 7 11
16 Pamekasan 3 7 7
17 Blitar 5 3 6
18 Batu 3 7 6
19 Kab.Mojokerto 3 4 12
20 Tulungagung 2 8 8
21 Jember 5 1 9
22 Probolinggo 3 4 5
23 Mojokerto 5 0 7
24 Ngawi 4 3 3
25 Kab.Probolinggo 3 4 5
26 Bojonegoro 2 5 7
27 Madiun 2 8 14
28 Magetan 3 1 7
29 Nganjuk 3 1 7
30 Pacitan 1 3 1
31 Kab.Kediri 1 1 7
32 Pacitan 1 2 2
33 Kab.Madiun 0 4 2
34 Bondowoso 2 0 1
35 Trenggalek 1 1 2
36 Sumenep 0 1 6
37 Bangkalan 0 1 1
38 Situbondo 0 0 2
Sumber : KONI Provinsi Jawa Timur
4.3. Identifikasi Sarana Prasarana Olah Raga Yang Telah Ada dan Kebutuhan Sarana Prasarana dalam Pengembangan Keolahragaan
Sarana dan prasarana keolahragaan di Kabupaten Banyuwangi yang telah ada saat ini adalah sebagai berikut:
Tabel 4 Lapangan Olahraga Di Kabupaten Banyuwangi Tahun 2012
No Cabang Olahraga
Sumber : Dinas Pemuda dan Olahraga Kabupaten Banyuwangi
Berdasarkan jumlah lapangan yang tersedia dibandingkan dengan jumlah atlet yang ada
No Cabang OR
Lapangan Atlet
Jumlah Club
Perbandingan
Sp P Go Jml Lk Rg Nas Jml Atlet/
Lap.
Club/ Lap.
Atlet /Lap. Permanen
Club /Lap. Permanen
1 Atletik - 2 - 2 538 13 9 560 26 280 13 280 13
2 Sepeda - 2 - 2 592 5 3 600 48 300 24 300 24
3 Basket 96 28 - 124 1.400 20 2 1.422 141 11 1 51 5
4 Billiard - 96 - 96 925 - - 925 96 10 1 10 1
5 Bola Volley - 1.213 1 1.214 24.250 24 6 24.280 839 20 1 20 1 6 Bulutangkis - 823 3 826 8.434 14 2 8.450 872 10 1 10 1 7 Catur - 5.214 - 5.214 1.912 6 2 1.920 24 0 0 0 0 8 Drum Band - 125 - 125 3.696 50 4 3.750 182 30 1 30 1
9 Judo - 1 - 1 39 15 1 55 2 55 2 55 2
10 Forki/ Karate - 16 - 16 527 - - 527 20 33 1 33 1 11 Fkti 17 3 - 20 1.147 14 2 1.163 17 58 1 388 6
12 Menembak - 2 - 2 21 5 1 27 2 14 1 14 1
13 Panahan - 3 - 3 42 - - 42 3 14 1 14 1
14 Panjat Tebing - 16 - 16 400 - - 400 16 25 1 25 1 15 Pencak Silat 13 20 - 33 5.127 15 1 5.143 33 156 1 257 2 16 Angkat Besi dan Berat 10 4 3 17 593 7 - 600 17 35 1 150 4 17 Renang 22 1 - 23 1.521 80 3 1.604 32 70 1 1.604 32 18 Persani 10 24 - 34 4.495 5 - 4.500 34 132 1 188 1
19 Selam 1 - 1 120 - - 120 1 120 1 0 0
20 Sepak Bola 214 2 - 216 4.288 26 6 4.320 272 20 1 2.160 136
21 Sepak Takraw 25 - 25 238 - - 238 25 10 1 0
No Cabang OR
Club
Sp P Go Jml Lk Rg Nas Jml Atlet/
Lap.
Club/
Lap. /Lap. Permanen
Club /Lap. Permanen
23 Pelti 47 5 - 52 1559 1 - 1.560 156 30 3 312 31 24 Tenis Meja - 1267 - 1.267 7.602 - - 7.602 27 6 0 6 0
25 Tinju - 3 - 3 45 - - 45 3 15 1 15 1
26 Wushu - 2 - 2 13 22 - 35 2 18 1 18 1
lapangan permanen) :
Tabel 6 Perbandingan Penggunaan Lapangan
No Cabang OR
Sumber : Dinas Pemuda dan Olahraga Kabupaten Banyuwangi, data diolah
4.4. Urgensi Pembangunan Wisma Atlet
Pembangunan Wisma Atlet penting untuk dilaksanakan dengan pertimbangan sebagai berikut:
1. Saat ini di Kabupaten Banyuwangi belum terdapat pusat pembinaan dan akomodasi atlet yang representatif dan komprehensif. Hal ini penting mengingat makin intensifnya pembinaan keolahragaan di Kabupaten Banyuwangi membutuhkan sarana dan prasarana yang memadai.
2. Pada tahun 2015, Kabupaten Banyuwangi dipercaya menjadi Tuan Rumah Pekan Olahraga Provinsi V (Porprov V) Jawa Timur. Pada porprov ini dipertandingan 35 cabang olahraga dan 1 cabang olahraga eksibisi. Sebagai tuan rumah tentunya Kabupaten Banyuwangi membutuhkan persiapan yang lebih baik termasuk untuk pelatihan atlet yang bertanding di Porprov. Keberadaan Wisma Atlet ini diharapkan dapat mengoptimalkan pelatihan atlet.
3. Even olahraga Porprov ini membutuhkan dukungan sarana dan prasarana
BAB 5
ANALISIS KELAYAKAN LOKASI
5.1. Analisis Kesesuaian dengan Rencana Tataruang (Land Use)
Alternatif lokasi pembangunan Wisma Atlet adalah di sekitar Gelanggang Olahraga. Lokasi A menempati area yang saat ini ditempati oleh restoran Ikan Bakar Gajahmada. Lokasi B menempati area di belakang kolam renang GOR sedangkan Lokasi C menempati lokasi Kantor Dinas Kebersihan dan Pertamanan.
Gambar 7 Alternatif Lokasi Wisma Atlet
Sumber : RTRW Kab. Banyuwangi Tahun 2012-2032
Wilayah Pengembangan Banyuwangi Utara yang meliputi Kecamatan Banyuwangi, Kecamatan Wongsorejo, Kalipuro, Giri, Licin dan Glagah ditetapkan sebagai pusat pengembangan seluruh Kabupaten Banyuwangi . Adapun fungsi utama dari Kota Banyuwangi adalah :
Pusat pemerintahan skala kabupaten
Pusat perdagangan dan jasa skala kabupaten Pusat fasilitas umum skala kabupaten
Pusat pendidikan skala kabupaten
Pusat pergudangan skala kabupaten
Sedangkan untuk wilayah belakangnya meliputi Kecamatan Wongsorejo, Kalipuro, Giri, Licin dan Glagah, dan berfungsi sebagai :
Kawasan pertanian,
Kawasan perkebunan,
Kawasan perikanan,
Kawasan peternakan
Kawasan industri,
Kawasan pelabuhan,
Kawasan lindung
Kawasan wisata
Dengan arahan pengembangan tersebut, keberadaan Wisma Atlet sebagai penyedia layanan jasa masih diperbolehkan untuk dibangun.
Untuk Lokasi A dan Lokasi C yang masuk dalam Kawasan Sarana Umum Zona Sarana Umum (SU) jenis penggunaan ruang yang diperbolehkan adalah :
a. Ruang terbuka hijau (RTH), permukiman, perdagangan dan jasa.
b. Pemakaman dan Tempat Pembuangan Sampah Sementara (TPS) dengan
syarat-syarat tertentu.
Sedangkan untuk Lokasi B yang masuk zonasi kawasan ruang terbuka hijau kawasan perkotaan ketentuan umum penggunaannya adalah sebagai berikut:
a. diperbolehkan pemanfaatan ruang untuk kegiatan rekreasi;
b. penerapan konsep taman kota pada lokasi yang potensial di seluruh kabupaten untuk menjaga kualitas ruang dan estetika lingkungan; c. diizinkan seluruh kegiatan untuk menambah RTH agar mencapai 30%
(tiga puluh persen);
d. pendirian bangunan dibatasi hanya untuk bangunan penunjang kegiatan rekreasi dan fasilitas umum lainnya; dalam hal ini Wisma Atlet masuk kedalam bangunan penunjang Gelanggang Olahraga.
e. rencana pengelolaan RTH sepanjang perbatasan wilayah kabupaten adalah minimum 50 (lima puluh) meter dari kiri kanan garis batas wilayah kecuali pada kawasan perbatasan yang sudah padat bangunan-bangunan mengacu pada rencana pola ruang;rencana pengelolaan ruang terbuka sepanjang jalur instalasi listrik tegangan tinggi mengacu pada ketentuan yang berlaku; dan pemanfaatan ruang terbuka non hijau diprioritaskan pada fungsi utama kawasan dan kelestarian lingkungan yang sekaligus berfungsi sebagai tempat evakuasi bencana;
f. dilarang seluruh kegiatan yang bersifat alih fungsi RTH; dan
g. pengawasan ketat dari pemerintah terkait kegiatan budidaya yang mempengaruhi fungsi RTH atau menyebabkan alih fungsi RTH.
5.2. Analisa Penentuan Lokasi
5.2.1. Konsep Pembangunan Wisma Atlet
Pertimbangan pemberian layanan hospitality ini antara lain:
1. Pemusatan latihan tidak berlangsung sepanjang tahun sehingga terdapat kamar-kamar atlet yang tidak digunakan secara optimal.
2. Pengelolaan yang lebih profesional dengan standar pelayanan yang tinggi sesuai taraf hotel berbintang.
3. Biaya investasi, biaya pemeliharaan dan perawatan gedung yang tinggi. 4. Makin banyaknya even budaya, olahraga dan seni yang diadakan Pemerintah
Kabupaten Banyuwangi membutuhkan akomodasi yang memadai.
5. Meningkatkan pendapatan asli Daerah melalui pajak hotel dan restoran serta pembagian dividen.
6. Meningkatkan citra Pemerintah Kabupaten Banyuwangi.
Pemberian pelayanan hospitality ini nantinya diatur semikian rupa sehingga fungsi utama sebagi wisma atlet tetap terlayani dengan baik.
5.2.2. Potensi Pasar Industri Perhotelan
Industri layanan jasa perhotelan tidak terlepas dari keadaan perekonomian global dan nasional. Pada tahun 2013 perekonomian global diperkirakan tumbuh lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya. Beberapa perkembangan positif di akhir tahun 2012 dan awal tahun 2013 seperti tercapainya kesepakatan di AS mengenai penurunan defisit anggaran (fiscal cliff, meningkatkan optimisme prospek pertumbuhan global yang lebih baik di tahun 2013. Walaupun demikian, masih terdapat berbagai faktor risiko ke depan yang perlu diwaspadai seperti proses negosiasi penetapan pagu utang (debt ceilnng dan pemotongan belanja secara otomatis (automatic spending cut di AS, kemungkinan terjadinya pertumbuhan ekonomi yang tertahan di China, Jepang dan India, serta penyelesaian krisis Eropa.
Perkiraan pertumbuhan perekonomian global yang lebih tinggi diikuti dengan perkiraan kegiatan volume perdagangan dan harga komoditas yang meningkat. Bank Indonesia memprakirakan volume perdagangan dunia tumbuh sebesar 4,1%. Sejalan dengan lebih tingginya pertumbuhan volume perdagangan dunia, harga komoditas nonmigas diprakirakan juga akan mengalami peningkatan sebesar 1,7%.
Tabel 7 Proyeksi PDB Dunia
Negara/Kawasan Proyeksi
2012 2013 2014
PDB Dunia 3.1 3.4 3.9
Jepang 2.2 0.8 1.1
Negara/Kawasan Proyeksi
Kinerja perekonomian Indonesia pada tahun 2012 cukup menggembirakan di tengah perekonomian dunia yang melemah dan diliputi ketidakpastian. Pertumbuhan ekonomi dapat dipertahankan pada tingkat yang cukup tinggi, yaitu 6,2%, dengan inflasi yang terkendali pada tingkat yang rendah (4,3%) sehingga berada pada kisaran sasaran inflasi 4,5±1%. Di tengah menurunnya kinerja ekspor, pertumbuhan ekonomi lebih banyak ditopang oleh permintaan domestik yang tetap kuat. Hal ini didukung oleh kondisi ekonomi makro dan sistem keuangan yang kondusif sehingga memungkinkan sektor rumah tangga dan sektor usaha melakukan kegiatan ekonominya dengan lebih baik. Selain itu, kuatnya permintaan domestik di tengah melemahnya kinerja ekspor menyebabkan terjadinya ketidakseimbangan neraca transaksi berjalan.
Arah kebijakan tersebut akan dilakukan melalui lima pilar bauran kebijakan. Pertama, kebijakan moneter akan ditempuh secara konsisten untuk mengarahkan inflasi tetap terjaga dalam kisaran sasaran yang ditetapkan. Kedua, kebijakan nilai tukar akan diarahkan untuk menjaga pergerakan rupiah sesuai dengan kondisi fundamentalnya. Ketiga, kebijakan makroprudensial diarahkan untuk menjaga kestabilan sistem keuangan. Keempat, penguatan strategi komunikasi kebijakan untuk mendukung efektivitas kebijakan Bank Indonesia. Kelima, penguatan koordinasi Bank Indonesia dan Pemerintah dalam mendukung pengelolaan ekonomi makro dan stabilitas sistem keuangan.
Di sepanjang tahun 2013, pertumbuhan ekonomi Jatim diproyeksikan tumbuh pada batas bawah dari rentang 7,00% s.d 7,25% (yoy), sedikit lebih rendah dibandingkan 2012. Namun demikian, pertumbuhan ini diperkirakan masih yang tertinggi dibandingkan provinsi lainnya di Pulau Jawa maupun nasional. Masih tingginya konsumsi masyarakat seiring meningkatnya proporsi usia produktif di Jawa Timur masih menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi Jatim. Selain itu, adanya momentum PILKADA pada Agustus 2013 diperkirakan turut mendorong pertumbuhan ekonomi Jatim baik dari konsumsi rumah tangga maupun pemerintah. Namun demikian, konsumsi barang tahan lama khususnya kendaraan bermotor roda empat akan sedikit tertahan jika kebijakan pengurangan subsidi BBM jadi diberlakukan pada tahun ini. Sementara itu, berbagai upaya pemerintah melalui perbaikan infrastruktur, penyederhanaan birokrasi pengajuan izin usaha serta upaya peningkatan kerjasama investasi melalui kunjungan antar negara/daerah diharapkan dapat terus mendorong minat investor asing dan dalam negeri.
Selanjutnya, optimisme pengusaha akan perbaikan kinerja ekspor luar negeri Jatim dengan berbagai strategi perusahaan dan pemerintah diharapkan terus mengalami perbaikan, khususnya dengan adanya insentif pemerintah untuk mengembangkan produk hortikultura dan pertanian organik di beberapa sentra produksi Jatim. Mencermati perkembangan sektor industri pengolahan yang diperkirakan akan membaik pada triwulan II dan III, yang dipicu oleh meningkatnya konsumsi domestik dengan berbagai momentum perayaan keagamaan akan mempengaruhi perbaikan transaksi impor luar negeri terutama untuk intermediate goods yang menjadi bahan baku sektor industri pengolahan. Secara keseluruhan, transaksi perdagangan luar negeri diperkirakan kembali mencatat nilai netekspor. Indikator berikutnya yaitu belanja modal pemerintah berdasarkan data rencana APBD 2013 diperkirakan mengalami
peningkatan dengan didukung membaiknya awareness pemerintah daerah
tingkat kab/kota.
meningkatnya peranan Kota Surabaya sebagai sub hub ke Indonesia Timur yang terindikasi dari bertambahnya jumlah hotel kelas bisnis di Surabaya. Optimisme pelaku usaha sektor industri pengolahan yang tercermin melalui berbagai survei diharapkan terus berlanjut hingga akhir tahun, dengan didorong berbagai insentif pemerintah melalui peningkatan peran sertausaha mikro, kecil dan menengah di Jatim.
Sejumlah isu penting seputar perkembangan industri pariwisata di Indonesia serta peluang investasi khususnya di sektor perhotelan menunjukkan bahwa kekuatan pariwisata domestik Indonesia sangat signifikan hal ini terlihat dari pergerakan wisatawan nusantara (wisnus) yang setiap tahun tumbuh sekitar 5%. Sehingga bila tahun 2013 pergerakan wisnus sebesar 250 juta, pada tahun 2022 mendatang diproyeksikan menjadi 400 juta. Tingginya pergerakan wisnus ini dipicu oleh meningkatnya kelas menengah masyarakat Indonesia terutama kelompok muda.
Pariwisata Indonesia juga ditopang oleh kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) yang tahun lalu tumbuh 5,04%, yakni dari 7,6 juta pada 2011 meningkat menjadi 8 juta pada 2012, sementara target tahun 2013 ditetapkan sebesar 8,6 juta untuk target moderat dan 9 juta target optimistis. Selain itu sektor pariwisata juga didukung oleh meningkatnya nilai investasi pariwisata. Tahun 2012 jumlah nilai investasi sektor pariwisata sebesar US$869.8 juta terdiri atas US$786.3 juta PMA dan US$101.5 juta Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) atau mengalami pertumbuhan hingga 210,86% dibandingkan tahun sebelumnya 2011 dengan total investasi sebesar US$279.8 juta.
Diperkirakan untuk mengantisipasi pertumbuhan wisatawan dibutuhkan tambahan kamar hotel sebanyak 100 ribu kamar atau sebanyak 700 hingga 800 hotel baru dalam dekade mendatang. Hotel merupakan usaha jasa pelayanan dengan menyediakan fasilitas-fasilitas; kamar tidur (kamar tamu), makanan dan minuman, pelayanan-pelayanan penunjang lainnya tempat rekreasi, fasilitas olah raga, dan laundry. Hotel merupakan salah satu jenis akomodasi yang sangat dikenal oleh masyarakat, di samping akomodasi komersil lainnya. Usaha perhotelan sekarang ini sudah merupakan suatu industri hotel yang memerlukan sumber dana dan sumber daya manusia dalam jumlah besar, dengan resiko kerugian atau keuntungan yang besar pula.
Secara umum karakteristik khusus industri perhotelan dapat digambarkan dalam kerangka industri yang dapat dijadikan dasar dalam menjalankan industri perhotelan adalah berikut ini :
1. Capital Intensive