“KEKUASAAN PEMERINTAHAN NEGARA
BERDASARKAN UUD NEGARA REPUBLIK
INDONESIA TAHUN 1945”
DISUSUN OLEH :
Chartilia Gendis Napinilit
Sulastri (E0014388)
Tri Kusumawardani (E0014404)
Tyas Sekar Mawarni (E0014406)
Vanny Ritasari (E0014411)
Grace Ayu (E0014434)
UNIVERSITAS NEGERI SEBELAS MARET
SURAKARTA
BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG
Pemerintahan adalah segala urusan yang dilakukan oleh negara dalam menyelenggarakan kesejahteraan masyarakat dan kepentingan negara. Dengan ungkapan lain, pemerintahaan adalah bestuurvoering atau pelaksanaan tugas pemerintah, sedangkan pemerintah ialah organ/alat atau aparat yang menjalankan pemerintahan.
Menurut Soehardjo, pemerintahan sebagai organisasi bilamana kita mempelajari ketentuan – ketentuan susunan organisasi, termasuk didalamnya fungsi, penugasan, kewenagan, dan kewajiban masing – masing departemen pemerintahan, badan – badan, instansi serta dinas – dinas pemerintahan.
Adanya pembagian kekuasaan penyelenggaraan negara sebagai salah satu ciri negara demokrasi, terdapat berbagai badan penyelenggaraan kekuasaan seperti, badan legislatif, eksekutif, yudikatif, dan lain-lain. Umumnya negara yang menerapkan sistem pembagian euasaan mengacu pad teori trias politica, montesquie dengan melakukan beberapa variasa dan pengembangan dari teori teressbut dalam penerapannya.
Trias politica adalah danggapan bahwa kekuasaan negara terdiri tiga macam kekuasasan : oertama kekuasaan legislatif atau kekuasaanmembuat undang-unf=dang dalam istilah baru sering diesebut rule making function; kedua, kekuasan ekesekutif atau kekuasaan melaksanakan undang-undang dalam perisstilahan baru sering disebut rule application function ;ketiga , kekuasaan yudikatif atau kekuasaan mengadili atas pelanggaran undang-undang dalam peristilaha n baru sering disebut rule of adjudication function. Trias politica adalh suatu prinsip normatif bahwa kekuasaan ini sebaiknya tidak diserahkan pada orangyang sama untuk mencegah penyalahgunaan kekuasaan oleh orang yang berkuasa.
meliputi MPR, DPR, presiden, dan Wapres , Mentri, MA, MK, BPK, DPA, Gubernur , bupati, sampai tingkat RT.
Lembaga-lembaga yang berkuasa ini berfungsi sebagai perwakilan dari suara dan tangan rakyat sebab Indonesia menganut sistem demokrasi. Dalam sistem demokrasi, pemilik kekuasaan tertinggi dalam negara adalah rakyat.kekuasaan bahkan di idealkan penyelenggaraannya bersama-sama dengan rakyat. Pada kurun waktutahun 1999 sampai 2002, UUD NRI 1945 telah mengalami 4 kali amandemen. Perubahan atau amandemen telah membawa implikasi terhadap sistem ketatanegaraan Indonesia. Dengan berubahnya sistem ketatanegaraan Indonesia, maka berubah pula susunan lembaga-lembaga negara.
1.2 RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana perbandingan kekuasaan pemerintahan sebelum perubahan UUD Negara Republik Indonesia 1945 dan setelah perubahan UUD Negara Republik Indonesia?
BAB II PEMBAHASAN
1. Perbandingan Kekuasaan Pemerintah sebelum dan sesudah perubahan UUD Negara Republik Indonesia 1945
A. Sebelum Amandemen
Gambar 1.1
Sebelum diamandemen,UUD Negara Republik Indonesia 1945 mengatur lembaga tertinggi dan lembaga tinggi negara, serta hubungan antar lembaga – lembaga tersebut. UUD merupakan hukum tertinggi, kemudian kedaulatan rakyat diberikan seluruhnya kepada MPR (Lembaga Tertinggi ). MPR mendistribusikan kekuasaannya kepada 5 Lembaga Tertinggi yang sejajar kedudukannya, yaitu DPR, Presiden, BPK, DPA, MA.
Sebelum terjadi amandemen :
MPR menerima kekuasaan tertinggi dari rakyat
Presiden sebagai kepala penyelenggara pemerintahan
DPR berperan sebagai pembuat Undang - Undang
BPK berperan sebagai badan pengaudit keuangan
MA berperan sebagai lembaga pengadilan dan penguki aturan yang diterbitkan pemerintah.
B. Sesudah Amandemen
Gambar 1.2
Sistem ketatanegaraan Indonesia sesudah Amandemen UUD Negara Republik Indonesia 1945, dapat dijelaskan sebagai berikut : UUD Negara Republik Indonesia 1945 merupakan hukum tertiggi dimana kedaulatan berada ditangan rakyat dan dijalankan sepenuhnya berdasarkan UUD Negara Republik Indonesia 1945 yang mana membagi kekuasaan antar lembaga negara (MPR, Presiden, DPR, BPK, DPD,MA,MK ) dengan kedudukan yang sama atau sejajar.
Kekuasaan legislatif lebih dominan
Presiden tidak dapat membubarkan DPR
Rakyat memilih secara langsung presiden dan wakil presiden
MPR tidak berperan sebagai lembaga tertinggi lagi
Anggota MPR terdiri dari seluruh anggota DPR ditambah anggota DPD yang dipilih secar langsung oleh rakyat
2. Tugas dan Wewenang Kekuasaan Pemerintahan Negara berdasarkan UUD Negara Republik Indonesia 1945
A. Sebelum Amandemen
1.1 Badan Eksekutif
Kekuasaan Presiden Menurut UUD 1945.
Undang-Undang Dasar 1945 menempatkan kedudukan Presiden pada posisi yang sangat penting dalam struktur ketatanegaraan Indonesia. Dua fungsi penting yang dimiliki oleh presiden, yaitu fungsi sebagai kepala negara dan fungsi sebagai kepala pemerintahan. Kekuasaan yang dimiliki presiden menembus pada area kekuasaan-kekuasaan yang lain, seperti kekuasaan legislatif dan kekuasaan yudisial.
Kekuasaan di Bidang Penyelenggaraan Pemerintah.
Pasal 4 ayat (1) jelas mengatakan: “Presiden Republik Indonesia memegang kekuasaan pemerintah menurut Undang-Undang Dasar.” Ketentuan Pasal tersebut mempunyai makna bahwa Presiden RI adalah satu-satunya orang yang memimpinseluruh pemerintahan. Hal ini berarti wewenang diatur di dalam UUD sehingga pembatasan wewenang tersebut terletak sesuia apa yang tertulis di dalam UUD tersebut. Indonesia adalah negara hukum, maka presiden juga harus tunduk pada ketentuan-ketentuan peraturan perundang-undangan yang lain.
UUD 1945 memberikan kekuasaan legislatif kepada presiden untuk membentuk Undang-Undang bersama DPR. Selain itu, dalam kondisi kegentingan yang memaksa presiden juga mempunyai kekuasaan membentuk peraturan pemerintah sebagai pengganti undang-undang (perpu). Serta berhak menetapkan peraturan pemerintah untuk menjalankan undang-undang. Presiden juga memiliki kekuasaan untuk menentukan anggaran dan pendapatan negara seperti dalam Pasal 23 Ayat (1) UUD 1945 yang mengatakan: “anggaran pendapatan dan belanja ditetapkan dengan undang-undang. Apabila Dewan Perwakilan Rakyat tidak menyetujui anggaran yang diusulkan pemerintah, maka pemerintah menjalankan anggaran tahun yang lalu.”
Kekuasaan di Bidang Yudisial.
Presiden, menurut UUD 1945, juga mempunyai beberapa kekuasaan yudisial, yaitu: pertama, kekuasaan memberikan grasi kepada orang yang dihukum, baik berupa penghapusan hukuman maupun pengurangan hukuman. Kedua, presiden mempunyai kekuasaan untuk menghentikan penuntutan terhadap orang atau segolongan orang yang telah melakukan sesuatu tindak pidana dengan memberikan abolisi. Ketiga, presiden mempunyai wewenang untuk memberikan amnesti. Keempat, presiden mempunyai kekuasaan untuk melakukan rehabilitasi kepada seseorang yang haknya telah hilang akibat putusan pengadilan.
Kekuasaan di Bidang Militer.
Pasal 10 UUD 1945 berbunyi: “Presiden memegang kekuasaan yang tertinggi atas Angkatan Darat, Angkatan Laut, dan Angkatan Darat.” Yang dalam praktiknya dipahami bahwa presiden merupakan Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata. Selain itu presiden, dengan persetujuan DPR, mempunyai kekuasaan untuk menyatakan perang dan membuat perdamaian dengan negara lain.
Kekuasaan Hubungan Luar Negeri.
Dewan Perwakilan Rakyat menyatakan perang, membuat perdamaian dan perjanjian dengan negara lain.”
Kekuasaan Mengangkat atau Menetapkan Pejabat Tinggi Negara.
Pejabat tinggi negara yang secara eksplisit dikatakan oleh UUD 1945 diangkat dan diberhentikan oleh presiden adalah: menteri-menteri, duta dan konsul. Namun karena presiden mempunyai kewenangan membentuk undang-undang dengan persetujuan DPR, dan mempunyai kekuasaan untuk membentuk peraturan pemerintah, maka hampir semua pejabat tinggi diangkat oleh presiden, seperti: hakim-hakim agung, jaksa agung, ketua badan pemeriksa keuangan, dan lain-lain.
1.2 Badan Legislatif
1. MPR (Majelis Permusyawaratan Rakyat)
Tugas dan wewenang MPR tercantum didalam Pasal 3 dan Pasal 6 UUD 1945 serta Pasal 3 Ketetapan MPR No. 1/MPR/ 1983, dan dinyatakan sebagai berikut:
Menetapkan Undang Undang Dasar tahun 1945 (Pasal 3 UUD 1945)
Menetapkan Garis-Garis Besar Haluan Negara (Pasal 3 UUD 1945)
Memilih (dan mengangkat) presiden dan wakil Presiden (Pasal 6 UUD 1945)
Meminta pertanggungjawaban Presiden ditengah jabatannya karena dakwaan pelanggaran melalui persidangan istimewa (Pasal 8 juncto Penjelasan UUD 1945)
2. DPR (Dewan Perwakilan Rakyat)
Tugas dan wewenang DPR tercantum didalam dengan Undang-Undang Pasal 19 Ayat (1). Keanggotaan DPR tidak disebutkan secara jelas di dalam UUD. Tugas dan wewenang DPR dinyatakan sebagai berikut:
Memberikan persetujuan atas RUU (Pasal 20 Ayat (1) UUD 1945).
Memberikan persetujuan atas PERPU (Pasal 22 Ayat (2) UUD 1945).
Memberikan persetujuan atas Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (Pasal 23 Ayat (1) UUD 1945).
3. BPK (Badan Pemeriksa Keuangan)
Tugas dan wewenang Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) adalah memeriksa tanggung jawab tentang keuangan negara diatur dalam Pasal 23 Ayat (5) UUD 1945 yang berbunyi: “Untuk memeriksa tanggung jawab tentang keuangan negara dilakukan suatu Badan Pemeriksa Keuangan yang peraturannya ditetapkan dengan undanng-undang. Hasil pemeriksaan itu diberitahukan kepada Dewan Perwakilan Rakyat.”
1.3 Badan Yudikatif
1. MA (Mahkamah Agung)
Mahkamah Agung dan lain-lain badan kehakiman yang berpuncak pada Mahkamah Agung memegang kekuasaan kehakiman sesuai dengan Pasal 24 Ayat (1) UUD 1945. Lembaga ini dalam tugasnya diakui bersifat mandiri dalam arti tidak boleh diintervensi atau dipengaruhi oleh cabang-cabang kekuasaan lainnya, terutama eksekutif (Penjelasan UUD 1945 Bab IX Pasal 24 dan 25).
Tugas dan wewenang dari Mahkamah Agung (MA) adalah Mahkamah Agung berwenang dalam kekuasaan kehakiman secara utuh dijelaskan dalam Pasal 24 Ayat (1) UUD 1945 yang berbunyi: “Kekuasaan kehakiman dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan lain-lain badan kehakiman menurut undang-undang”.
2. MK (Mahkamah Konstitusional)
KATA PENGANTAR
Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas anugerah dan ridho-Nya, maka kami dapat menyelesaikan tugas untuk memenuhi mata kuliah Hukum Administrasi Negara mengenai kekuasaan pemerintahan berdasarkan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945. Kami mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang turut memberikan dukungan baik secara moral maupun material. Kami mengucapkan terima kasih kepada:
1. Bp. Djoko Wahyu Winarno, S.H, M. H. Selaku dosen pembimbing mata kuliah Hukum Administrasi Negara.
2. Orang tua yang memberikan dukungannya baik dalam bentuk doa maupun motivasi demi tersusunnya tugas ini.
3. Teman-teman dan staff Fakultas Hukum Universitas Negeri Sebelas Maret Surakarta yang turut serta dalam memberikan dukungan dalam penyelesaian tugas ini.
(Penulis)