• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH PERTANIAN LIDAH BUAYA TERHADAP

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PENGARUH PERTANIAN LIDAH BUAYA TERHADAP"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

Dosen Pembimbing

Dr. Ir. Eko Budi Santoso, Lic.rer.reg. Belinda Ula Aulia, ST, MSc.

Disusun oleh

Titisari Haruming Tyas (3615100084)

INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER

(2)

PENGARUH PERTANIAN LIDAH BUAYA TERHADAP

PEMBANGUNAN EKONOMI LOKAL DI KOTA PONTIANAK

I. PENDAHULUAN

Indonesia adalah negara agraris yang dapat dibuktikan dengan banyaknya

penduduk yang bekerja dibidang pertanian. Pertanian adalah salah satu

Pengembangan Ekonomi Lokal yang dapat memberikan keuntungan bagi

masyarakat. Pengembangan Ekonomi Lokal muncul sebagai strategi baru dalam

pengembangan suatu wilayah. Dalam hal ini masyarakat dituntut untuk dapat

mandiri dalam mengembangkan daerahnya sebagai upaya untuk meningkatkan

taraf hidup masyarakat lokal.

Salah satu kota yang penduduknya sebagian besar bekerja sebagai petani

adalah kota Pontianak. Salah satu kecamatan di kota Pontianak adalah kecamatan

Pontianak Utara yang memiliki sentra budidaya lidah buaya (Aloe vera sp).

Budidaya lidah buaya adalah salah satu Pengembangan Ekonomi Lokal (PEL)

yang dijalankan di kota Pontianak khususnya di kecamatan Pontianak Utara.

Pembahasan mengenai budidaya lidah buaya ini termuat dalam jurnal yang ditulis

oleh Dicky Kurniawan dengan judul “Alternatif Pengembangan Ekonomi Lokal di Kota Pontianak Studi Kasus Pertanian Lidah Buaya”.

Pembahasan yang diuraikan dalam artikel terbagi menjadi lima bagian

utama. Pertama adalah pendahuluan yang membahas mengenai latar belakang

pembangunan ekonomi lokal di kota Pontianak dan fokusan yang diambil yaitu

pengaruh budidaya lidah buaya. Kedua adalah pertanian pengembangan ekonomi

lokal yang ditinjau dengan teori-teori oleh para ahli. Ketiga adalah penjelasan

mengenai pendekatan komoditas unggulan. Keempat adalah analisis mengenai

peran pertanian lidah buaya bagi pengembangan ekonomi lokal. Bagian kelima

adalah kesimpulan berdasarkan analisis yang telah dilakukan. Dengan demikian,

diketahui bahwa jurnal yang ditulis bertujuan untuk menganalisis peran pertanian

lidah buaya bagi pengembangan ekonomi lokal di Kecamatan Pontianak Utara.

Selain itu kajian mengenai teori, prinsip, praktek pengembangan ekonomi lokal,

tahap pengembangan ekonomi lokal, identifikasi pengembangan ekonomi lokal

(3)

II. SUMMARY

Kota Pontianak merupakan salah satu Pusat Kegiatan Nasional (PKN).

PKN adalah simpul utama kegiatan ekspor-impor atau pintu gerbang menuju

kawasan internasional. Hingga saat ini kota Pontianak memiliki produksi

budidaya lidah buaya yang menjadi icon pertanian di daerah tersebut. Produktifitas yang dihasilkan oleh budidaya lidah buaya cukup tinggi. Pada tahun

2001 produksi lidah budaya sebesar 7.726 ton dan meningkat menjadi 14.346 ton

di tahun 2005. Dari data tersebut dapat diketahui bahwa selama kurun waktu

empat tahun produksi lidah buaya meningkat sebesar dua kali lipat. Sesuai dengan

peran kota Pontianak sebagai PKN, lidah buaya hasil budidaya di kecamatan

Pontianak Utara menjadi komoditas ekspor. Beberapa Negara tujuannya adalah

Jepang, Hongkong, Taiwan, Singapura, Malaysia, dan Brunei Darussalam.

PEL menekankan adanya perubahan mendasar pada stakeholder yang terlibat dalam pembangunan. Stakeholder yang terlibat adalah pemerintah,

masyarakat, dunia usaha, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) /

Non-Government Organization (NGO), dan lain sebagainya. Menurut Helmsing (2001), PEL adalah multi sektor, mengacu pada sektor publik, sektor privat, dan

masyarakat. Dengan kata lain, keberhasilan PEL sangat ditentukan oleh

kemampuan memobilisasi berbagai komponen lokal tersebut. Kedua,

pembangunan yang dilakukan didasarkan atas potensi (sumber daya) lokal yang

dimiliki. Pembangunan tidak akan seragam, karena tiap daerah berbeda potensi

dan kondisinya.

Pertanian menjadi salah satu sektor yang memiliki daya tahan tinggi dan

tidak terlalu sensitive terhadap perubahan ekonomi internasioanl. Selain itu,

pertanian juga memiliki peran yang strategis dalam perekonomian nasional. Hal

ini terbukti dari peristiwa krisis ekonomi nasional pada tahun 1997-1998.

Kota-kota besar mengalami pertambahan penduduk miskin sebesar 80%, namun di

perdesaan hanya 20% (Argo,2005). Selain itu saat terjadi krisis sektor pertanian

menjadi penyelamat meskipun dengan laju pertumbuhan 0,26%.

Sektor pertanian terkait pengembangan ekonomi lokal di suatu wilayah

memiliki beberapa strategi menurut Menurut Todaro (2000) dan Sumodiningrat

(4)

berkembang secara menyeluruh dari hulu ke hilir. Kedua, pertanian memenuhi

kebutuhan pangan lokal yang berpotensi sebagai komoditas ekspor, produk

pertanian juga dapat memenuhi kebutuhan pasar domestik. Ketiga, pertanian

memacu pertumbuhan investasi wilayah dengan cara perkembangan pertanian

yang pesat. Keempat, pertanian sebagai pemerata kesenjangan wilayah(regional disparity). Pertanian bisa dijadikan sebagai alat pembangunan desa-desa tertinggal mengingat hanya pertanian yang sesuai dengan kondisi (karakteristik) perdesaan.

Penulis menggunakan teknik sampling untuk mengetahui permasalah kesejahteraan petani, belanja petani dan keterkaitan pertanian lidah buaya

terhadap industri pengolahannya. Teknik sampling yang digunakan adalah simple random sampling yang artinya setiap unit populasi memiliki kesempatan yang sama untuk dipilih menjadi responden. Dengan jumlah petani sebanyak 105

petani, jumlah sampel sebanyak 52 petani. Hasil ini didapat dengan menggunakan

perhitungan Slovin dengan derajat kepercayaan 10%. Pendekatan yang dilakukan

dalam menganalisis peran pertanian yaitu pendekatan kualitatif dan kuantitatif.

Pendekatan kualitatif dilakukan dengan analisis deskriptif.

Dari hasil analisis didapatkan hasil bahwa peran lidah buaya terhadap

pendapatan Kecamatan Pontianak Utara masih rendah. Data menunjukkan bahwa

kontribusi tertinggi lidah buaya terhadap pendapatan wilayah hanya 1,7 % pada

tahun 2004 (sepanjang tahun 2002 – 2006). Sedangkan pada tahun 2005-2007 hanya sebesar 0,2 % sepanjang tahun 2005 – 2007.

Analisis kesejahteraan menunjukkan bahwa pertanian lidah buaya

memberikan pendapatan sedikit lebih tinggi dari pendapatan per kapita Kota

Pontianak. Sebagian besar petani menilai pendapatan tersebut cukup untuk

memenuhi beberapa kebutuhan dasar, seperti: pangan, pendidikan, kesehatan,

transportasi, komunikasi, dan kredit motor setiap bulannya. Selain itu, sebagian

besar petani mengalami peningkatan pendapatan dibandingkan sebelum menjadi

petani lidah buaya. Dengan demikian, pertanian lidah buaya telah berperan untuk

memperbaiki kesjahteraan petani meskipun dalam nominal yang relatif kecil.

Pertanian lidah buaya mendorong berkembangnya industri pengolahan

lidah buaya yang saat ini setidaknya terdapat 15 unit di Kota Pontianak. Industri

(5)

pengolahan lidah buaya menyerap tenaga kerja dari lingkungan nya. Jika terdapat

banyak industri yang berlokasi di luar kecamatan, kebocoran wilayah akan

semakin besar (konsep PEL). Jumlah tenaga kerja industri lokal lebih besar

daripada tenaga kerja industri non lokal. Hal ini berarti keberadaan industri

pengolahan lidah buaya memberikan keuntungan bagi pengembangan ekonomi

lokal Kecamatan Pontianak Utara.

Namun, industri pengolahan lidah buaya masih berupa industri rumah

tangga (home industry) dan masih terbatas pada produk olahan bernilai tambah rendah (minuman kemasan atau diekspor berupa lidah buaya mentah). Selain itu,

keterkaitan pertanian lidah buaya terhadap kegiatan penunjang (jasa keuangan dan

transportasi) masih sangat rendah. Terlepas dari kondisi diatas, pertanian lidah

buaya telah berperan dalam pengembangan ekonomi lokal Kecamatan Pontianak

Utara melalui efek pengganda yang diciptakannya.

III. ANALISIS DAN RESPON

Jurnal yang ditulis oleh Dicky Kurniawan lebih mengkaji mengenai peran

pertanian lidah buaya bagi pengembangan ekonomi lokal di Kecamatan Pontianak

Utara, yang ditelusuri melalui kajian: peran makro (peran pertanian terhadap

pendapatan dan tenaga kerja wilayah) dan peran mikro (kesejahteraan dan pola

belanja petani). Dalam jurnal telah dijelaskan mengenai fakta-fakta yang

mendukung budidaya lidah buaya menjadi salah satu pengembangan ekonomi

lokal di kota Pontianak. Salah satu fakta yang diberikan yaitu mengenai peran

kota Pontianak sebagai Pusat Kegiatan Nasional (PKN) dan produksi lidah buaya

dari tahun 2001 hingga tahun 2005 yang meningkat dua kali lipat menjadi 14.346

ton.

Kesesuaian kajian jurnal dengan teori para ahli sudah cukup terlihat.

Terbukti dengan diberikannya kutipan teori para ahli seperti Blakeley, World Bank Urban Development Unit, Coffey, dan lainnya yang disesuaikan dengan hasil analisis dari pertanian lidah buaya. Salah satu contoh teori yang

dikemukakan oleh Blakeley (1989) yang berbunyi, “Local economic development

(6)

which local government and/or community-based group manage their existing resources and enter new partnership arrangements with the private sector, or with each other, to create a new jobs and stimulate economic activity in a well-defined economic zone” (Pengembangan Ekonomi Lokal (PEL) adalah proses di mana pemerintah lokal dan organisasi masyarakat terlibat untuk mendorong,

merangsang, memelihara, aktivitas usaha untuk menciptakan lapangan pekerjaan).

kutipan tersebut sesuai dengan adanya lowongan pekerjaan bagi masyarakat lokal.

Pertanian lidah buaya mendorong berkembangnya industri pengolahan lidah

buaya yang saat ini setidaknya terdapat 15 unit di Kota Pontianak. Industri ini

telah menyerap tenaga kerja dan meningkatkan pendapatan wilayah.

Namun jika dilihat dari stakeholder yang ada, pengkajian pada jurnal tidak menunjukkan peran pemerintah kota Pontianak dalam pengembangan ekonomi

lokal pada pertanian lidah buaya. Stakeholder yang terlihat dalam kajian jurnah hanya pihak swasta yaitu 15 unit industri dan masyarakat. Tidak adanya

keterangan mengenai peran pemerintah Pontianak menjadikan kebingungan

apakah terdapat bantuan dari pemerintah atau tidak. Selain itu, jika suatu

pengembangan ekonomi lokal tidak memiliki stakeholder dari pemerintah maka PEL yang dilakukan akan sulit untuk berkembang.

Prinsip yang biasa digunakan untuk menentukan komoditas unggulan

terkait PEL adalah aspek sosial ekonomi, teknis dan kelembagaan. Dilihat dari

tujuan pengkajian studi kasus pada jurnal tersebut sudah memenuhi beberapa

prinsip pengembangan ekonomi lokal. Dari prinsip ekonomi terbukti dengan hasil

analisis belanja petani menunjukkan bahwa sebagian besar aktivitas belanja

berlangsung di dalam lokal kecamatan, meskipun untuk belanja pakaian,

elektronik, dan kendaraan bermotor memiliki proporsi pembelian yang cukup

tinggi di luar kecamatan. Dengan demikian, belanja petani telah memberikan efek

positif bagi pengembangan ekonomi lokal Kecamatan Pontianak Utara.

Berbeda dengan aspek kemitraan yang membahas mengenai stakeholder

dalam PEL budidaya lidah buaya. Aspek ini memiliki kekurangan yaitu tidak

dibahasnya salah satu stakeholder penting yaitu pemerintah kota Pontianak dalam jurnal. Hal ini dapat mengurangi makna dari PEL itu sendiri karena stakeholder

(7)

Namun berbeda dengan prinsip kelembagaan dari analisis budidaya lidah

buaya. Prinsip ini sama sekali tidak dibahas di dalam jurnal. Penulis jurnal tidak

menjelaskan mengenai ada tidaknya keberadaan fasilitas dialog diantara

stakeholder untuk menghasilkan suatu ide dan inisiatif. Jika terdapat pembahasan mengenai prinsip kelembagaan maka akan diketahui apa saja kebutuhan dari

kegiatan ekonomi yang sedang berlangsung.

Praktek pengembangan eknomi lokal dalam jurnal tidak dijelaskan melalui

tahapan-tahapan. Tahapannya sendiri terdiri dari identifikasi prioritas dalam

menciptakan iklim usaha yang kondusif, memilih klaster, membentuk kemitraan

stakeholder, pengutan kemitraan, mempromosikan klaster dan replikasi klaster. Padahal tahapan-tahapan ini penting untuk mengetahui perkembangan PEL di

suatu wilayah. Dengan adanya tahapan maka dapat mengetahui seberapa jauh PEL

tersebut berjalan.

Identifikasi pengembangan ekonomi pada jurnal ditekankan pada peran

pertanian lidah buaya bagi pengembangan ekonomi lokal di Kecamatan Pontianak

Utara. Peran pertanian lidah buaya terhadap pendapatan kecamatan Pontianak

Utara dapat dilihat dari tingkat produktivitas petani. Hal ini menjadi indicator

utama dalam menilai performa suatu sektor ekonomi di suatu wilayah. Hasil

analisis dalam jurnal terlihat bahwa perkembangan produksi lidah buaya sempat

mengalami penurunan pada tahun 2004. Hal tersebut terjadi karena turunnya

harga jual lidah buaya yang semula dapat dijual dengan harga 1.200/kg sekarang

hanya dapat dijuga dengan harga 800/kg. selain itu harga pupuk yang mahal

(8)

Ada empat kemungkinan bagi petani lidah buaya dalam menjual hasil

produksi, yakni: ke Perseroan Terbatas (PT.), PT. Niramas (cabang PT. Inaco), ke

pasar lokal, ke industri rumah tangga (home industry), dan ekspor ke luar negeri. PT. Niramas merupakan industri besar yang mengolah lidah buaya mentah

menjadi minuman kemasan, 99 % produknya diekspor ke Jepang. Berdasarkan

survei diketahui bahwa hampir seluruh petani (dari 52 responden) menjual hasil

produksi mereka ke PT. Niramas dan kios pasar minggu yang ada di Kelurahan

Siantan Hulu (Kecamatan Pontianak Utara). Hanya sedikit petani yang menjual

hasil produksi ke home industry atau ekspor ke luar negeri. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa pertanian lidah buaya di Kecamatan Pontianak Utara hanya

melibatkan beberapa pelaku usaha dan pembeli (pasar) saja yang dikenal dengan

pasar oligopsoni.

Selain itu ada juga identifikasi terhadap tenaga kerja kecamatan Pontianak

Utara. Memiliki kesamaan dengan indentifikasi terhadap pendapatan kecamatan

Pontianak Utara, tenaga kerja di budidaya lidah buaya juga mengalami penurunan

sebesar 4,8% pada tahun 2005, 4,4% ditahun 2004 dan 4,1% ditahun 2007.

Sementara itu, rasio tenaga kerja pertanian lidah buaya terhadap tenaga kerja

wilayah jauh lebih kecil yakni 0,2 % sepanjang tahun 2005 – 2007. Hal ini dapat diartikan bahwa peran pertanian lidah buaya terhadap ekonomi lokal masih terlalu

(9)

Identifikasi yang terakhir adalah mengenai kesejahteraan petani lidah

buaya. Indikator kesejahteraan yang digunakan mengacu pada versi Badan Pusat

Statistik (BPS). Indikator yang digunakan adalah pendapatan petani, kualitas jenis

lantai rumah, dan kepemilikan kendaraan bermotor. Tiap indikator dilihat

perubahannya dari sebelum menjadi petani lidah buaya sampai saat ini (sebagai

petani lidah buaya), sehingga dapat disimpulkan peran pertanian lidah buaya

dalam kesejahteraan petani. Diketahui beberapa data yang pertama mengenai

pendapatan per kapita kota Pontianak pada tahun 2007 sebesar Rp.1.074.000.

Sedangkan jika dibandingkan dengan pendapatan petani jauh lebih baik.

Besar belanja petani lidah buaya dihitung berdasarkan kebutuhan pangan,

pendidikan, kesehatan, kredit kendaraan bermotor, dan biaya transportasi dan

komunikasi setiap bulannya. Menurut jenis lantai dihasilkan data yaitu sebagian

besar petani memiliki kualitas jenis lantai papan. Kemudian menurut kepemilikan

kendaraan bermotor dihasilkan data peningkatan jumlah kendaraan motor selain

pendapatan adalah adanya fasilitas kredit. Belanja kebutuhan pangan petani

sebagian besar sebanyak Rp. 500.000,00 – Rp. 999.999,00. Untuk kebutuhan sandang sebagian besar sebanyak Rp. 1.000.000,00 – Rp. 1.400.000,00. Sedangkan untuk kebutuhan pendidikan sebagian besar Rp. 0,00. Dan untuk

kebutuhan komunikasi sebesar Rp. 50.000,00 – Rp. 99.000,00. Terakhir adalah kebutuhan transportasi yang dilakukan dengan wawancara dan diketahui bahwa

69,23 % petani tidak memiliki keterkaitan terhadap adanya transportasi umum di

lokal kecamatan.

IV. KESIMPULAN

Secara garis besar kajian yang dilakukan dalam jurnal untuk mengetahui

peran pertanian budidaya lidah buaya terhadap pembangunan ekonomi lokal di

kecamatan Pontianak Utara. Dengan adanya budidaya lidah buaya dapat

meningkatkan pendapatan petani, namun pada tahun 2005 terjadi penurunan

pendapatan karena harga pupuk yang mahal dan daya beli konsumen berkurang.

(10)

Analisis kesejahteraan menunjukkan bahwa pertanian lidah buaya

memberikan pendapatan sedikit lebih tinggi dari pendapatan per kapita Kota

Pontianak. Serta belanja petani menunjukkan bahwa sebagian besar aktivitas

belanja berlangsung di dalam lokal kecamatan, meskipun untuk belanja pakaian,

elektronik, dan kendaraan bermotor memiliki proporsi pembelian yang cukup

tinggi di luar kecamatan. Dengan demikian, belanja petani telah memberikan

dampak baik bagi pertumbuhan ekonomi lokal di kecamatan Pontianak Utara.

Selain itu, keberadaan industri pengolahan lidah buaya memberikan keuntungan

bagi pengembangan ekonomi lokal Kecamatan Pontianak Utara.

Terdapat dua poin penting yang harus digarisbawahi dari pemahaman di

atas. Pertama, PEL menekankan adanya perubahan mendasar pada aktor-aktor

yang terlibat dalam pembangunan. Pemerintah tidak lagi menjadi aktor tunggal

yang menentukan pembangunan, tetapi juga harus melibatkan aktor lain seperti

masyarakat, dunia usaha, Lembaga Swadaya.

V. DAFTAR PUSTAKA

digilib.unila.ac.id/11624/17/BAB%20II.pdf diunduh pada tanggal 13 Oktober 2016 pukul 07.00 WIB

Kurniawan, Dicky. 2010. Alternatif Pengembangan Ekonomi Lokal di Kota Pontianak Studi Kasus Pertanian Lidah Buaya. Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, Vol. 21, No. 1, hlm. 19-36. Pontianak

Referensi

Dokumen terkait

Gel lidah buaya merupakan bahan yang mudah mengalami perubahan terutama karena peristiwa oksidasi dan kontaminasi mikroba.Dalam kaitan tersebut, maka pada proses pembuatan sirup

Zat-zat yang terkandung dalam gel lidah buaya (Aloe vera) antara lain adalah zat lignin yang mempunyai kemampuan penyerapan yang tinggi pada lapisan kulit terutama lapisan

: Pengaruh Peruunbahan Bahan Hidrokoloid t«hadap Pembentukan Gel Lidah Buaya (Aloe vera L.) : Rahrmwati. : 99215

Berdasarkan hasil analisa keragaman terhadap sabun transparan dengan konsentrasi gel lidah buaya 5, 10, 15, dan 20% pada tingkat kepercayaan 95% (α = 0,05) menunjukkan

Berdasarkan hasil analisa keragaman terhadap sabun transparan dengan konsentrasi gel lidah buaya 5, 10, 15, dan 20% pada tingkat kepercayaan 95% (α = 0,05) menunjukkan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa zat bioaktif pada lidah buaya semi likuid (SLLB) mempunyai potensi lebih baik daripada pemberian lidah buaya kering (LBK) dan anthrakinon

Variabel yang digunakan dalam penelitian ini yaitu lidah buaya ( Aloe vera ) dan waktu penutupan luka sayat pada mukosa rongga mulut tikus wistar.. Lidah buaya diambil

Zat-zat yang terkandung dalam gel lidah buaya (Aloe vera) antara lain adalah zat lignin yang mempunyai kemampuan penyerapan yang tinggi pada lapisan kulit terutama lapisan