Agenda Reformasi Birokrasi di Tubuh Institusi Semi Militer
(Studi Kasus Kantor Imigrasi Kelas I Yogyakarta Seksi Lalu Lintas
Keimigrasian dalam Proses Penguatan Kapasitas Organisasi Publik)
Laporan Observasi
Oleh:
Ahmad Naufal Azizi
15/384251/SP/26963
Departemen Politik dan Pemerintahan
Universitas Gadjah Mada
2017
Bagian Pertama
Prolog
1.1 Mengapa Memilih Kantor Imigrasi?
Ditengah kemudahan berpergian ke luar negeri saat ini –apalagi ke kawasan ASEAN yang membebaskan biaya visa– peningkatan jumlah pelancong asal Indonesia ke luar negeri menjadi konsekuensi wajib bagi pemberlakuan kebijakan ini. Kepala Bagian Humas dan Umum Ditjen Imigrasi, Agung Sampurno mengatakan, di awal tahun 2017 lalu, jumlah pemohon paspor meningkat menjadi 52.838 di seluruh Indonesia. Jumlah yang jauh lebih tinggi dibanding dengan awal tahun 2016 yang hanya berkisar pada angka 30 ribu pemohon.1
Di samping itu, gencarnya pemerintah dalam melakukan perbaikan insfratruktur dan pembaharuan destinasi wisata lokal saat ini, juga turut mengundang wisatawan mancanegara dalam menentukan paket berlibur mereka. Deputi Bidang Statistik, Distribusi, dan Jasa Badan Pusat Statistik Nasional, Sasmito Hadi Wibowo mengungkapkan, bahwa dampak dari gencarnya pemerintah dalam melakukan promosi terhadap sektor pariwisata, tidak hanya berkontribusi terhadap perbaikan akses jalan dan infrastruktur destinasi wisata, tetapi juga diimbangi oleh peningkatan jumlah wisatawan mancanegara yang melancong ke Indonesia.2 Peningkatan jumlah kunjungan
wisatawan ini dapat dilihat dari meningkatnya jumlah permintaan izin tinggal, hunian kamar hotel, pengunjung wisata asing, penumpang angkutan udara, laut, maupun darat.
Kementerian Pariwisata Republik Indonesia telah merilis data perbandingan kunjungan wisatawan mancanegara setiap bulannya pada bulan Januari hingga Desember tahun 2015 hingga 2016. Terjadi peningkatan yang sangat signifikan dari
1 Mulyana, Permintaan Membludak, Ditjen Imigrasi Batasi Kuota Pembuatan Passpor, diakses dari laman http://www.jawapos.com/read/2017/01/09/100984/permintaan-membeludak-ditjen-imigrasi-batasi-kuota-pembuatan-paspor, pada tanggal 3 April 2017
data statistik yang ditampilkan. Jumlah pelancong mancanegara pada bulan Januari 2015 hingga Mei 2016 masih berkisar di bawah angka 1 juta setiap bulannya. Namun, Juni hingga Desember 2016, wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Indonesia konsisten bertahan di atas 1 juta pelancong setiap bulannya.
Dari sini, kita sama-sama dapat melihat, Indonesia sedang memasuki dunia globalisasi yang sangat pesat dan cepat. Orang-orang tidak menunggu waktu lama lagi untuk bisa berpergian dari satu negara ke negara lainnya. Dunia sekarang semakin sempit dengan segala kemudahan fasilitas dan akses terhadap negara lainnya. Dunia seakan terhubung oleh satu portal bersama yang kita sebut sebagai arus globalisasi.
Namun, walaupun arus globalisasi berjalan cepat dengan bantuan teknologi informasi dan berbagai kemudahan lainnya, negara –sebagai institusi resmi yang memiliki teritori kekuasaan– dituntut tegas agar semakin berhati-hati dalam menjalankan kebijakan arus keluar-masuk pelancong baik yang hendak ke luar negeri maupun ke dalam negeri. Negara melalui institusinya, dalam hal ini Kantor Imigrasi menjadi bagian penting dalam menyediakan layanan utama bagi masyarakat Indonesia maupun masyarakat asing untuk mendapatkan layanan dan akses terhadap dunia global. Oleh karena itu, Kantor Imigrasi sebagai pengejawantahan dari institusi negara yang melaksanakan fungsi tersebut menjadi urgent untuk kita bahas saat ini. Bukan hanya karena tuntutan arus globalisasi, tetapi juga kewajiban negara dalam memberikan layanan terbaik dengan jargon ‘reformasi birokrasi sepenuh hati’.
Kantor Imigrasi yang berada di bawah langsung Direktorat Jenderal Imigrasi Kementerian Hukum dan HAM Republik Indonesia, dalam perjalanannya juga tak luput dari agenda besar reformasi birokrasi di Indonesia. Penyegaran terhadap pemberlakuan sistem dan tata kelola yang berlaku saat ini salah satunya dapat dilakukan dengan penguatan kapasitas organisasi publik. Penguatan kapasitas organisasi publik adalah sebuah upaya yang dilakukan lembaga pelayanan publik dalam meningkatkan kapasitas individu, organisasi, maupun sistem yang berlaku guna memaksimalan kinerja lembaga agar sesuai dengan tugas pokok dan fungsi yang telah diatur dengan berbagai program maupun agenda penguatan kapasitas.
terakhir. Observasi ini ingin mendeskripsikan, bagaimana lembaga semi militer ini melawan karakter dan jati diri mereka yang sejatinya tertutup, kaku, dan tidak transparan dengan berbagai agenda penguatan kapasitas organisasi publik yang modern
di bawah Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Hukum dan HAM (BPSDM) Kementrian Hukum dan HAM Republik Indonesia. Lokus kajian yang dipilih yaitu Kantor Imigrasi Kelas I Yogyakarta pada Seksi Lalu Lintas Keimigrasian.
1.2 Pertanyaannya
1. Bagaimana implementasi dan strategi penguatan kapasitas Kantor Imigrasi Kelas I Yogyakarta secara umum dan Seksi Lalu Lintas Keimigrasian secara khusus sebagai organisasi publik?
2. Apa dampak dari adanya program penguatan kapasitas terhadap kinerja pelayanan Kantor Imigrasi Kelas I Yogyakarta?
3. Bagaimana kaitannya program penguatan kapasitas Kantor Imigrasi Kelas I Yogyakarta dengan agenda reformasi birokrasi dan konsep penguatan kapasitas organisasi publik?
1.3 Untuk Mengetahui
1. Bagaimana strategi pengimplementasian program penguatan kapasitas Kantor Imigrasi Kelas I Yogyakarta secara umum dan Seksi Lalu Lintas Keimigrasian secara khusus.
2. Dampak yang ditimbulkan dengan adanya program penguatan kapasitas terhadap kinerja pelayanan Kantor Imigrasi Kelas I Yogyakarta.
3. Bagaimana korelasi antara program penguatan kapasitas Kantor Imigrasi Kelas I Yogyakarta dengan agenda reformasi birokrasi dan konsep penguatan kapasitas organisasi publik.
1.4 Manfaat Observasi 1.4.1 Manfaat Teoritis
1. Sebagai bahan pertimbangan teoritis dan tambahan khazanah ilmu pengetahuan bagi pembaca atau observer lain yang tertarik dengan lembaga pelayanan publik dan proses penguatan kapasitas organisasi publik.
1.4.2 Manfaat Praktis
Sebagai bahan masukan konstruktif bagi lembaga pelayanan publik khususnya Kantor Imigrasi Kelas I Yogyakarta, maupun lembaga pelayanan publik lain dalam rangka merumuskan dan mengevaluasi kebijakan dan program mereka agar berdasar pada kebutuhan organisasi. Sehingga, pelayanan yang diberikan dilandasi bukan hanya kebutuhan akan mempercantik bentuk fisik kantornya, namun juga kebutuhan untuk membangun manusia yang ada di dalamnya dengan agenda reformasi birokrasi yang salah satunya dengan penguatan kapasitas organisasi.
1.5 Metode Observasi
Metode penelitian yang digunakan pada observasi ini yaitu deskriptif kualitatif, yaitu dengan cara menggambarkan fenomena yang terjadi di lapangan dengan menjabarkan melalui kalimat.
1.6 Teknik Pengumpulan Data
Bagian Kedua
Sumber Rujukan
2.1 Konsep Penguatan Kapasitas
Milen (2006) dalam (Kamariah, 2013) memberikan definisi bahwa kapasitas ialah kemampuan individu, organisasi, atau sistem untuk menjalankan fungsi sebagaimana mestinya secara efektif, efisien, dan terus menerus. Lebih lanjut, UNDP dan Canadian International Development Agency (CIDA) dalam Karamiah (2013) memberikan pendefinisian tetang penguatan kapasitas sebagai proses individu, kelompok, organisasi, institusi, dan masyarakat meningkatkan kemampuan mereka untuk (a) menghasilkan kinerja pelaksanaan tugas pokok dan fungsi, memecahkan permasalahan, merumuskan dan mewujudkan pencapaian tujuan yang telah ditetapkan, dan (b) memahami dan memenuhi kebutuhan pembangunan dalam konteks yang lebih luas dalam cara yang berkelanjutan.
Pada intinya, definisi mengenai penguatan kapasitas pada dasarnya mengandung kesamaan dalam tiga aspek, yaitu sebagai berikut; (a) bahwa penguatan kapasitas merupakan suatu proses, (b) bahwa proses tersebut harus dilaksanakan pada tiga level yaitu individu, institusi/organisasi, maupun sistem, dan (c) bahwa proses tersebut dimaksudkan untuk menjamin kesinambungan organisasi melalui pencapaian tujuan dan sasaran organisasi yang bersangkutan.
Tiga level dimensi dan fokus penguatan kapasitas menurut Soeprapto (2003) dalam (Sari, dkk, 2014) yaitu:
1. Tingkatan Individu, seperti potensi-potensi individu, keterampilan individu, pengelompokan pekerjaan dan motivasi-motivasi dari pekerjaan individu dalam organisasi
2. Tingkatan institusi/organisasi, seperti struktur organisasi, prosedur dan mekanisme pekerjaan, proses pengambilan keputusan di dalam organisasi, pengaturan sarana dan prasarana, hubungan dan jaringan organisasi
3. Tingkatan sistem, seperti kerangka kerja yang berhubungan dengan peraturan, kebijakan dan kondisi dasar yang mendukung pencapaian objektifitas kebijakan tertentu
Menurut Soeprapto (2003) dalam (Sari, dkk, 2014) dalam sebuah artikel yang dibuatnya secara khusus menyampaikan bahwa faktor-faktor signifikan yang mempengaruhi penguatan kapasitas organisasi meliputi tiga hal pokok, yaitu:
1. Komitmen bersama
Menurut Milen (2004) dalam (Sari, dkk, 2014) karena proses penguatan kapasitas ini merupakan proses yang lama dan semua pihak harus terlibat, maka diperlukan suatu komitmen bersama dalam mennjalankan agenda ini. Komitmen tidak hanya untuk kalangan pemegang kekuasaan saja, namun meliputi seluruh komponen yang ada dalam organisasi tersebut.
2. Kepemimpinan yang kondusif
Yaitu proses mempengaruhi dari pemimpin kepada bawahannya untuk mencapai tujuan organisasi. Kepemimpinan yang kondusif merupakan kepemimpinan yang dinamis yang membuka kesempatan luas bagi setiap elemen organisasi yang dapat menyelenggarakan suatu penguatan kapasitas. Dengan kepemimpinan yang kondusif seperti ini, maka akan menjadi alat pemicu untuk reformasi birokrasi yang berjalan lebih lancar dan tepat sasaran. 3. Reformasi kelembagaan
Pada intinya reformasi kelembagaan ini menunjuk adanya budaya kerja yang mendukung penguatan kapasitas. Struktur dan kultur kelembagaan harus dikelola dengan baik dan menjadi aspek penting dan kondusif dalam menopang program penguata kapasitas.
4. Peningkatan Kekuatan dari kelemahan yang dimiliki
Cara mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan organisasi agar dapat disusun menjadi program kapasitas yang baik bagi individu dari organisasi harus dapat memahami dan mengutarakan tentang kelemahan dan kekuatan yang dimiliki oleh suatu organisasi tersebut, agar kelemahan tersebut cepat diperbaiki dan dicari solusinya dan kekuatan yang dimiliki tetap dipertahankan.
Bagian Ketiga
3.1 Lokasi dan Waktu Pelaksanaan Observasi
3.1.1 Lokasi Observasi
Dalam observasi ini, penulis mengambil lokasi di Kantor Imigrasi Kelas I Yogyakarta yang berlokasi di Jalan Solo Kilometer 10 Yogyakarta
3.1.2 Waktu Pelaksanaan Observasi
Penulis telah melaksanakan observasi selama empat kali dengan hari dan tanggal yang berbeda. Waktu yang digunakan dirangkum ke dalam penjelasan di bawah ini:
a) Jum’at, 10 Maret 2017. Agenda perkenalan dan meminta izin untuk melakukan observasi. Pada tahap ini, penulis sudah melakukan wawancara dengan Bapak Yanuar Teguh (Staff Bagian Umum Kantor Imigrasi) selaku yang menerima kedatangan penulis dan menjelaskan overview observasi yang akan dilakukan
b) Selasa, 14 Maret 2017. Penulis menyerahkan surat pengantar kepada bagian umum Kantor Imigrasi.
c) Jum’at, 24 Maret 2017. Penulis mendatangi Kantor Imigrasi untuk memastikan waktu observasi dan disambut langsung oleh Kepala Subbagian Tata Usaha, Ibu Eni Indriyanti. Penulis kembali menjelaskan maksud observasi dan melakukan wawancara dengan Ibu Eni. Pada saat ini pula, penulis menerima permintaan Ibu Eni untuk membuat proposal atas rencana observasi yang dimaksud.
d) Senin, 27 Maret 2017. Penulis menyerahkan proposal observasi kepada pihak Kantor Imigrasi dan kemudian mewawancarai Kepala Urusan Kepegawaian, Ibu Marfuah dan Kepala Subseksi Informasi, Ibu Retno Dewi sesuai arahan dari Ibu Eni.
e) Kamis, 30 Maret 2017. Tahap finalisasi observasi dengan mewawancarai pihak bagian umum, kepegawaian, dan seksi informasi keimigrasian.
3.2 Subyek Observasi
3.2.1 Kantor Imigrasi Kelas I Yogyakarta
pada tanggal 19 Agustus 2004, Kantor Imigrasi Yogyakarta berubah nama menjadi Kantor Imigrasi Kelas I Yogyakarta sesuai dengan Surat Keputusan Menteri Kehakiman RI No. M.05.07.04.2004.
Kantor Imigrasi kelas I Yogyakarta beralamat di Jl. Solo Kilometer 10 Yogyakarta dan berdiri diatas tanah seluas 2.329 Meter persegi. Kantor ini mempunyai 5 wilayah kerja yang mencakup semua jumlah kabupaten/kota Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta yaitu: Kotamadya Yogyakarta, Kab. Gunungkidul, Kab. Kulon Progo, Kab Bantul, dan Kab. Sleman.
Adapun tugas dan fungsi Kantor Imigrasi Kelas I Yogyakarta antara lain: a) Sebagai aparatur pelayanan masyarakat.
b) Sebagai pengawasan dan penegakan hukum. c) Sebagai fasilitator ekonomi nasional.
d) Sebagai aparatur pelayanan masyarakat. e) Sebagai pengawasan dan penegakan hukum. f) Sebagai fasilitator ekonomi nasional.
3.2.2 Visi dan Misi Kantor Kantor Imigrasi Kelas I Yogyakarta
Visi dan Misi Kantor ini merupakan adopsi dari visi dan misi Kantor Imigrasi Pusat, Kementerian Hukum dan HAM Republik Indonesia.
Visi : Masyarakat Memperoleh Kepastian Hukum
3.2.3 Struktur Organisasi Kantor Imigrasi Kelas I Yogyakarta
Forsakim : Informasi dan Sarana Komunikasi Keimigrasian Lantaskim : Lalu Lintas Keimigrasian
Wasdakim : Pengawasan dan Penindakan Keimigrasian
Statuskim : Status Keimigrasian
3.2.4 Tugas Pokok dan Fungsi Seksi Lalu Lintas Keimigrasian Kantor Imigrasi Kelas I Yogyakarta
Tugas Pokok Seksi Lantaskim:
Melakukan kegiatan keimigrasian yang meliputi pemberian perlintasan, pemberian pemohonan dokumen perjalanan izin berangkat atau kembali bagi warga negara asing atau warga negara Indonesia, serta kegiatan dalam hal perjalanan, pendaratan, urusan haji, pengiriman tenaga kerja Indonesia ke luar negeri, pengurusan anak kapal dan izin masuk darurat sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku dalam rangka menunjang kelancaran pelayanan keimigrasian.
a) Tupoksi Subseksi Perizinan:
Melakukan pemberian dokumen perjalanan, izin berangkat dan izin kembali bagi WNA maupun WNI sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku guna tertibnya WNA atau WNI yang keluar maupun masuk negara Indonesia.
b) Tupoksi Subseksi Lintas Batas:
Bagian Keempat
Hasil dan Pembahasan
4.1 Kendala dalam Pengumpulan Data dan Observasi
Sebelum melangkah lebih jauh, penulis sengaja mendahulukan kendala dalam pengumpulan data dan observasi sebagai overview awal kepada pembaca bagaimana kesulitan penulis dalam menggali informasi lebih dalam tentang penguatan kapasitas pada Kantor Imigrasi Kelas I Yogyakarta. Dalam observasi ini, penulis awalnya dapat menjelaskan dengan mudah kepada pegawai Bagian Umum dan Tata Usaha maksud dari observasi yang hendak dilaksanakan. Namun, setelah mengajukan proposal observasi seperti yang diminta pihak kantor, mereka mulai terlihat selektif dalam memberikan informasi. Bahkan di hari terakhir observasi, penulis diminta mengirimkan draft makalah hasil observasi sebelum dikirimkan kepada dosen untuk dilihat terlebih dahulu konten yang penulis sajikan agar terkesan tidak mengkritik pihak kantor.
Penulis tidak bisa mengobservasi lebih jauh mengenai informasi detil tentang penguatan kapasitas, terlebih kepada bagian Seksi Lalu Lintas Keimigrasian yang menjadi lokus kajian observasi ini. Penulis bersama observer lain –Mawaddatush Sholiha yang mengkaji tentang Seksi Informasi dan Komunikasi Keimigrasian (Forsakim) dan Oktafia Kusuma yang mengkaji tentang Seksi Pengawasan dan Penindakan Keimigrasian (Wasdakim)– sudah diarahkan terlebih dahulu oleh Ibu Eni Indriyanti selaku Kepala Subbagian Tata Usaha Kantor Imigrasi siapa saja yang bisa dijadikan narasumber. Narasumber yang dipilih yaitu Kepala Urusan Kepegawaian, Ibu Marfuah dan Kepala Subseksi Informasi, Ibu Retno Dewi.
Informasi lebih banyak penulis dapatkan pada Kepala Subseksi Informasi, Seksi Informasi dan Komunikasi Keimigrasian Ibu Retno Dewi. Pada tahap ini, walaupun tetap tidak terlalu detil. Ibu Retno bisa terlihat lebih relax dalam memberikan gambaran keseharian yang terjadi pada kantor dan bagaimana proses penguatan kapasitas di implementasikan disini.
Selain itu, kendala yang paling besar menurut penulis adalah ketidakmampuan penulis dalam mengakses dan memperoleh data pasti bagaimana tingkat keberhasilan atau peningkatan kinerja individu maupun organisasi setelah program penguatan kapasitas diimplementasikan. Penulis hanya menerima deskripsi tentang bagaimana program ini berjalan dari beberapa narasumber yang telah disebutkan di atas. Alasannya tetap sama, bahwa itu adalah dokumen negara dan sifatnya rahasia –tidak disebarluaskan untuk umum.
Namun, mari berfikir kritis. Benarkah demikian? Benarkah keterbukaan informasi publik sesuai amanat reformasi birokrasi tidak mencakup hal demikian? Lantas, bagaimana masyarakat dapat menilai program penguatan kapasitas bagi instansi pemerintah tersebut sudah berhasil dilaksanakan atau tidak? Atau memang, bagi instansi semi militer seperti Kantor Imigrasi Kelas I Yogyakarta, pada hakikatnya belum mengenal reformasi birokrasi sepenuh hati.
4.2 Penguatan Kapasitas di Kantor Imigrasi Kelas I Yogyakarta
Program dari BPSDM kemudian di kelola oleh bagian Urusan Kepegawaian dan bagian Umum Kantor Imigrasi sebagai koordinator dan monitoring implementasi kebijakan penguatan kapasitas, baik di tingkat individu maupun organisasi. Adapun bentuk penguatan kapasitas bagi kantor Imigrasi Kelas I Yogyakarta secara umum dapat dibagi menjadi dua hal, yaitu program yang difasilitasi oleh BPSDM dan program kultural dari pihak Kantor dengan berpedoman pada Standar Operasional Pelayanan (SOP) lembaga pelayanan publik.
4.2.1 Penguatan Kapasitas Kantor Imigrasi Kelas I Yogyakarta: Program BPSDM
Pada tahap ini, ada beberapa program yang disediakan BPSDM yang pernah diikuti Kantor Imigrasi beberapa tahun terakhir dalam meningkatkan kinerja pegawai. Dalam menunjang kegiatan teknis pelayanan Kantor Imigrasi mengikuti Diklat Pelayanan Publik dan dalam teknis keimigrasian kantor mengikuti Diklat Penilaian Kinerja PNS, Diklat Pengawasan dan Penindakan Orang Asing, dan Diklat Peningkatan Kapasitas HAM bagi petugas Permasyarakat dan Imigrasi.
a) Diklat Peningkatan Kapasitas HAM bagi petugas Permasyarakatan dan Imigrasi
Diklat ini dilandasi atas kewajiban dan tanggungjawab negara yang dilaksanakan oleh aparatur negara di bidang Pemasyarakatan dan Keimigrasian dalam pelayanan masyarakat yang terkait dengan prinsip-prinsip hak asasi manusia. Dalam Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia Pasal 8, Pasal 71 dan 72 bahwa penghormatan, perlindungan, pemenuhan, penegakan dan pemajuan HAM merupakan tanggungjawab negara terutama pemerintah.
Dengan adanya perubahan paradigma dan orientasi pelayanan, diharapkan pelayanan publik yang diberikan di bidang permasyarakatan dan keimigrasian dapat memberikan kepuasan bagi masyarakat dan sejalan dengan prinsip hak asasi manusia.
Diklat ini didasari pada kondisi Negara Indonesia yang merupakan salah satu tempat favorit wisata bagi orang asing, sedang menghadapi pasar bebas Asean (MEA), program pemerintah tentang Bebas Visa Kunjungan untuk 169 negara yang ditetapkan dalam Kepres No. 21 Tahun 2016 yang semuanya berdampak kepada banyaknya orang asing yang masuk ke Indonesia. Hal ini tidak hanya berdampak positif, tetapi juga beresiko memunculkan dampak negatif berkaitan dengan penyalahgunaan izin tinggal beserta modus-modusnya.
Seiring hal tersebut, tugas dan fungsi keimigrasian dalam pengawasan terhadap orang asing menuntut untuk lebih ekstra. Sehingga perlu dilakukan pengembangan sumber daya bagi pegawai Imigrasi di bagian pengawasan dan penindakan untuk mampu mendukung terhadap kebijakan pemerintah.
c) Diklat Penilaian Kinerja PNS
Penilaian kinerja PNS adalah penilaian secara periodik atas pekerjaan/kinerja dalam pelaksanaan tugas dan fungsinya dalam penyelenggaraan pelayanan bagi masyarakat. Hasil penilaian kinerja ini dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan pengembangan karir PNS. Penilaian kinerja PNS dilakukan berdasarkan sistem prestasi kerja dan sistem karir yang dititikberatkan pada sistem prestasi kerja. Penilaian prestasi kerja PNS diarahkan sebagai pengendalian perilaku kerja produktif yang diisyaratkan untuk mencapai hasil kerja yang disepakati.
d) Diklat Pelayanan Publik
Diklat ini merupakan diklat yang diikuti oleh Seksi Lalu Lintas Keimigrasian dan akan dijelaskan lebih lanjut dalam poin bahasan selanjutnya.
4.2.2 Penguatan Kapasitas Kantor Imigrasi Kelas I Yogyakarta: Program Kultural Kantor (berpedoman pada SOP lembaga pelayanan publik)
kultural yang dijadikan kebiasaan yang mampu berdampak positif pada peningkatan efektifitas kinerja pegawai. Hal tersebut penulis jabarkan dalam beberapa poin, yaitu sebagai berikut:
1. Apel pagi dan sore. Paling tidak hari Jum’at, Kantor Imigrasi Jogja selalu melakukan apel pagi dan sore untuk membiasakan kedisiplinan pegawai. Apel ini juga bermakna bahwa Kantor Imigrasi selalu menyampaikan capaian kerja selama satu minggu sekali.
2. Briefing. Dilakukan minimal dua kali dalam satu bulam. Pada briefing ini setiap seksi melakukan evaluasi dalam dua minggu terakhir terkait apa saja yang sudah mereka lakukan, kendala yang ditemui, sharing masalah, isu-isu keimigrasian, hingga urusan yang bersifat pribadi. Pada intinya kegiatan ini untuk merekatkan tali kekeluargaan antara ketua seksi dengan jajaran staff keimigrasian.
3. Pembuatan Jurnal Harian. Jurnal ini merupakan program resmi dari Kementerian Hukum dan HAM untuk kantor yang ada di bawahnya dengan mewajibkan setiap pegawai menuliskan apa saja yang dikerjakan mereka pada hari itu. Sistem dari jurnal harian ini terintegrasi langsung ke pusat sehingga Kepala Seksi dan Kepala Kantor hanya bisa mengkonfirmasi tanpa bisa mengedit konten yang dibuat masing-masing pegawai. Hasil dari evaluasi jurnal harian ini akan diberikan langsung oleh Kemenkum HAM kepada kantor yang bersangkutan untuk bahan evaluasi untuk bulan (Forsakim) untuk bahan evaluasi sistem tata kelola layanan Kantor Imigrasi 5. Beasiswa. Bukan hanya reward kantor terbaik sebagai apresiasi kelembagaan
terbaik, beasiswa kepada pegawai yang berprestasi juga merupakan salah satu reward agenda penguatan kapasitas dari level pegawai.
7. Pelatihan programer. Karena reformasi birokrasi menuntut pelayanan publik harus dipangkas seramping mungkin. Maka penggunaan teknologi seperti komputer menjadi prioritas bagi semua pegawai kantor. Dalam pembekalan tahap awal menjadi pegawai, pelatihan programer menjadi hal yang wajib. 8. Kunjungan kerja, mengikuti seminar, dan workshop. Sama halnya dengan
kebiasaan kebanyakan lembaga pelayanan publik, ketiga hal di atas adalah hal yang efektif dalam menigkatkan kapasitas level individu maupun organisasi.
4.3 Penguatan Kapasitas pada Seksi Lalu Lintas Keimigrasian
Pada Seksi Lalu Lintas Keimigrasian, program penguatan kapasitas yang pernah diikuti seksi ini satu tahun terakhir secara khusus yaitu Diklat Pelayanan Publik dari BPSDM. Alasan seksi Lalu Lintas Keimigrasian mengikuti agenda ini didasari atas tupoksi dari Seksi Lalu Lintas Keimigrasian yang mengharuskan pegawainya berurusan langsung oleh citizen dan harus memiliki standar minimal pelayanan publik yang baik. Hal ini juga dimaksudkan sebagai kewajiban dan janji pelayanan yang berkualitas, cepat, mudah, terjangkau, dan terukur bagi Kantor Imigrasi. Selain itu, juga sebagai bentuk untuk menyelaraskan kemampuan penyelenggara pelayanan publik dengan kebutuhan masyarakat dan kondisi lingkungan yang ada agar tidak ketinggalan zaman, baik dari segi informasi maupun teknologi.
Output yang diterima pegawai Seksi Lalu Lintas dalam mengikuti agenda ini dapat dilihat dari indikator keberhasilan Diklat Pelayanan Publik yaitu, dapat memperpendek proses pelayanan (menghindari birokrasi yang rumit dengan teknologi), mampu mewujudkan proses pelayanan yang cepat, mudah, murah, transparan, pasti, dan terjangkaui, dapat mendekatkan pelayanan kepada masyarakat, mampu memberikan perlindungan dan kepastian hukum kepada masyarakat, dan mampu memberikan akses yang lebih luas kepada masyarakat untuk memperoleh pelayanan.
4.4 Dampak Penguatan Kapasitas pada Tingkat Kinerja
1. Bagi individu. Program penguatan kapasitas ini mampu memberikan pelatihan bagi pegawai untuk menyelesaikan pekerjaan mereka dengan berpedoman dengan aturan yang berlaku.
2. Bagi masing-masing seksi keimigrasian. Program ini mampu memberikan motivasi untuk masing-masing seksi untuk berlomba-lomba dalam meningkatkan kualitas kinerja dan capaian pelayanan mereka masing-masing. 3. Bagi sistem tata kelola pelayanan publik. Program ini dapat membantu pegawai
memahami perubahan dan gejala yang terjadi baik dari internal maupun tuntutan masyarakat agar bekerja lebih cepat dan tanggap untuk menyelesaikan segala permasalahan tata kelola yang ada. Selain itu, penguatan kapasitas juga dapat dimaksudkan untuk penyempurnaan sistem tata kelola pelayanan publik agar sesuai dengan tuntutan zaman.
4.5 Analisis: Relasi dengan Reformasi Birokrasi dan Konsep Penguatan Kapasitas yang Ideal
Seperti yang penulis jelaskan pada bagian awal pembahasan, bahwa dalam pengumpulan data, penulis tidak dapat mengakses bagaimana dampak program penguatan kapasitas ini secara rigit berdasarkan angka, sebagai contoh perbandingan keberhasilan Sasaran Kinerja Pegawai (SKP) dari bulan Januari ke bulan Februari 2017, atau apakah program penguatan kapasitas yang sudah dilaksanakan sudah berhasil atau belum berhasil. Penulis hanya mendapatkan narasi-narasi baik dari narasumber tanpa bisa meminta secara jelas bagaimana neraca keberhasilan yang dimaksudkan dengan basis angka. Mereka berdalih bahwa hal itu adalah rahasia negara dan tidak dapat dipertontonkan ke publik. Oleh sebab itu, penulis mengkategorikan Kantor Imigrasi masih belum secara penuh merombak tata kelola birokrasinya menjadi transparan dan akuntabel seperti tuntutan reformasi birokrasi –keterbukaan informasi publik.
program penguatan kapasitas di Kantor Imigrasi Kelas I Yogyakarta sudah masuk ke dalam kategori baik.
Bagian Kelima
Epilog
5.1 Kesimpulan
Perjalalan Kantor Imigrasi sebagai lembaga pelayanan publik yang mengurus berbagai kebutuhan luar negeri masyarakat Indonesia maupun orang asing yang masuk ke negara Indonesia sejauh ini juga tidak luput dari agenda besar reformasi birokrasi. Reformasi birokrasi dimaksudkan untuk menyederhanakan sistem tata kelola yang dahulu terkesan kaku, tidak transparan, dan tidak akuntabel menjadi sebaliknya yang lebih baik. Perwujudan reformasi birokrasi salah satunya diwujudkan dengan pemberlakuan program penguatan kapasitas organisasi publik, baik di tingkat terkecil yaitu pegawai, seksi organisasi, hingga sistem lembaga yang berlaku.
Kantor Imigrasi Kelas I Yogyakarta yang berada langsung di bawah Kementerian Hukum dan HAM memiliki dua agenda besar penguatan kapasitas.
Pertama, yaitu yang difasilitasi langsung oleh Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Hukum dan HAM (BPSDM). Kedua yaitu program kultural dari pihak kantor sendiri yang dibuat berpedoman pada SOP lembaga pelayanan publik. Berdasarkan dampak yang dipaparkan pada pembahasan di atas, terdapat beberapa keuntungan dari program ini baik di level kinerja individu, organisasi, maupun sistem yang berlaku.
pada tataran prosedural. Lebih jauh, ia dimaknai dengan sebutan reformasi birokrasi sepenuh hati.
5.2 Rekomendasi
Daftar Pustaka
Jurnal dan Website
Ardhian, M. (2016, Desember 1). Didominasi Cina, Turis Asing pada Oktober Bertahan di Atas 1 Juta. Dipetik April 3, 2017, dari http://katadata.co.id/berita/2016/12/01/cina-masih-mendominasi-kunjungan-wisatawan-asing-pada-oktober-2016
Kemenpar.go.id. (2017). Kunjungan Bulanan Wisatawan Mancanegara. Dipetik April
3, 2017, dari kemenpar.go.id:
http://www.kemenpar.go.id/image/contenttransaction/3139.png
Mulyana. (2017, january 9). Permintaan Membeludak, Ditjen Imigrasi Batasi Kuota Pembuatan Paspor. Dipetik April 3, 2017, dari http://www.jawapos.com/read/2017/01/09/100984/permintaan-membeludak-ditjen-imigrasi-batasi-kuota-pembuatan-paspor
Sari, N. (2014). Penguatan Kapasitas Kelembagaan Pemerintah Daerah dalam Meningkatkan Kualitas Pelayanan Perizinan Terpadu (Studi pada Kantor Pelayanan dan Perizinan Terpadu Kabupaten Kediri). Jurnal Administrasi Publik, 2(4), 634-640
Tim peneliti STIA LAN Makassar. (2012). Capacity Building: Birokrasi Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota di Indonesia. Diambil kembali dari firdaus.org: http://fridaus.org/docs/penelitian/stiacapacitybulding.pdf