• Tidak ada hasil yang ditemukan

Laporan Maes Aspek Tanah docs

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Laporan Maes Aspek Tanah docs"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Indonesia merupakan negara berkembang dengan jumlah penduduk sebagian besar tinggal di daerah pedesaan. Hal ini menandakan bahwa penduduk Indonesia lebih banyak hidup di desa, dimana pada umumnya bermata pencaharian dalam bidang pertanian. Daerah Batu merupakan daerah pertanian dan perkebunan yang subur. Daerah yang beriklim sejuk ini cocok untuk ditanami tanaman Hortikultura seperti tanaman Jeruk. Tanaman Jeruk ini memiliki nilai gizi yang cukup tinggi dan memberi penghasilan yang tidak sedikit artinya apabila diusahakan dengan secara sungguh-sungguh. Disamping itu, jeruk merupakan salah satu bahan makanan tambahan yang mengandung zat-zat pengatur proses dalam tubuh manusia yang setiap hari mutlak dibutuhkan dan makin digemari masyarakat.

Seiring dengan perkembangannya terdapat alih fungsi lahan dari lahan perkebunan Jeruk menjadi lahan pemukiman dan Infrastruktur yang lain. Hal tersebut tentu saja berakibat pada semakin menyempitnya lahan perkebunan Jeruk dan tentu saja akan berimbas pada menurunnya produksi komoditas Jeruk. Selain itu, produktivitas Jeruk juga menurun dikarenakan kualitas tanah yang semakin tidak produktif. Beberapa hal yang menyebabkan menurunnya produktifitas tanaman jeruk ialah adanya pertanian intensif dengan penggunaan bibit unggul,aplikasi pupuk buatan,pestisida,penerapan mekanisasi pertanian,pemanfaatan air irigasi tidak ada masa istirahat tanah. (Tandisau P, dan Herniawati,2009).

(2)

1.2 Tujuan

Memahami pengelolaan agroekosistem pada lahan perkebunan yang sehat serta mengetahui kualitas dan kesehatan tanah pada perkebunan jeruk.

1.3 Manfaat

(3)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Kualitas Tanah

Doran & Parkin (1994) memberikan batasan kualitas tanah adalah kapasitas suatu tanah untuk berfungsi dalam batas-batas ekosistem untuk melestarikan produktivitas biologi, memelihara kualitas lingkungan, serta meningkatkan kesehatan tanaman dan hewan. Johnson et al. (1997) mengusulkan bahwa kualitas tanah adalah ukuran kondisi tanah dibandingkan dengan kebutuhan satu atau beberapa spesies atau dengan beberapa kebutuhan hidup manusia.

Kualitas tanah diukur berdasarkan pengamatan kondisi dinamis indikator-indikator kualitas tanah. Pengukuran indikator-indikator kualitas tanah menghasilkan indeks kualitas tanah.Indeks kualitas tanah merupakan indeks yang dihitung berdasarkan nilai dan bobot tiap indikator kualitas tanah. Indikator-indikator kualitas tanah dipilih dari sifat-sifat yang menunjukkan kapasitas fungsi tanah.

2.2 Indikator Kualitas Tanah

Indikator kualitas tanah adalah sifat, karakteristik atau proses fisika, kimia dan biologi tanah yang dapat menggambarkan kondisi tanah (SQI, 2001). Menurut Doran & Parkin (1994), indikator-indikator kualitas tanah harus (1) menunjukkan proses-proses yang terjadi dalam ekosistem, (2) memadukan sifat fisika tanah, kimia tanah dan proses biologi tanah, (3) dapat diterima oleh banyak pengguna dan dapat diterapkan di berbagai kondisi lahan, (4) peka terhadap berbagai keragaman pengelolaan tanah dan perubahan iklim, dan (5) apabila mungkin, sifat tersebut merupakan komponen yang biasa diamati pada data dasar tanah. Karlen et al. (1996) mengusulkan bahwa pemilihan indikator kualitas tanah harus mencerminkan kapasitas tanah untuk menjalankan fungsinya yaitu:

(4)

3. Menyaring, menyangga, merombak, mendetoksifikasi bahan bahan anorganik dan organik, meliputi limbah industri dan rumah tangga serta curahan dari atmosfer.

4. Menyimpan dan mendaurkan hara dan unsur lain dalam biosfer.

5. Mendukung struktur sosial ekonomi dan melindungi peninggalan arkeologis terkait dengan permukiman manusia.

Berdasarkan fungsi tanah yang hendak dinilai kemudian dipilih beberapa indikator yang sesuai. Pemilihan indikator berdasarkan pada konsep minimum data set (MDS), yaitu sesedikit mungkin tetapi dapat memenuhi kebutuhan. Penelitian ini mendasarkan pada MDS menurut Mausbach & Seybold (1998)

2.3 Pengertian Kesehatan Tanah

Kesehatan tanah merupakan optimasi sifat tanah (fisik, kimia dan biologi) yang bertujuan untuk peningkatan produktivitas dan kualitas tanah, tanaman dan lingkungan (Idowu, et.al 2008a,b, Gugino et.al 2007). Hal tersebut juga dinyatakan oleh Doran and Zeiss (2000) dalam Karlen et.al (2001) bahwa kesehatan tanah merupakan kapasitas keberlanjutan sistem hiduo tanah yang vital, dengan mengetahui kesehatan dan kandungan unsur biologi tanah dapat dijadikan kunci pada fungsi ekosistem dalam batasan penggunaan lahan. Fungsi tersebut dapat menopang produktifitas biologi dan menjaga kualitas lingkungan serta berperan penting dalam meningkatkan hasil tanaman, hewan dan kesehatan manusia.

2.4 Indikator Kesehatan Tanah

Kelas kesehatan tanah digolongkan atas dasar persentase skor total indikator tanah. Kelas kesehatan tanah sebagai berikut: tanah Sangat Sehat (>85%), tanah Sehat (70-85%), tanah Cukup Sehat (55-70%), tanah Kurang Sehat (40-55%), dan tanah Tidak Sehat (<40%) (OSU, 2009).

(5)

a. Mikro fauna

Mikro fauna merupakan binatang yang berukuran sangat kecil (kurang dari 0,2 mm). mikro fauna terdiri dari protozoa dan nematoda.

b. Meso fauna

Meso fauna adalah semua binatang yang hidup di dalam tanah dengan ukuran tubuh yang lebih kecil yaitu berkisar antara 0,2 mm – 10 mm. Meso fauna tanah terdiri dari Collembola, Acari, Enchytraeida, dll.

c. Makro fauna

Makro fauna merupakan semua binatang tanay yang dapat dilihat langsung dengan mata karena memiliki ukuran tubuh yang besar (lebih dari 10 mm). Yang termasuk makro fauna tanah yaitu pelubang tanah, misalnya tikus; Cacing tanah; dan Arthropoda.

(6)

BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

Kota Batu merupakan daerah pertanian dan perkebunan yang subur. Kota Batu merupakan salah satu sentra penghasil komoditas buah-buahan, salah satunya ialah tanaman Jeruk dan terpusat di kecamatan Bumiaji. Kota ini terkenal dengan industri buah-buahan yang cukup berhasil. Jeruk merupakan salah satu tanaman yang memiliki nilai ekonomi cukup tinggi. Tanaman Jeruk adalah tanaman buah tahunan yang berasal dari China, sedangkan Jeruk yang ada sekarang di Indonesia dipercaya merupakan peninggalan orang Belanda yang mendatangkan jeruk manis dan keprok dari Amerika dan Italia (Kemal Prihatman,2000). Karena tanaman Jeruk di introduksi dari negara lain, banyak orang pada masa itu beranggapan mustahil untuk memproduksi tanaman Jeruk. Akan tetapi seiring berjalannya waktu tanaman Jeruk dapat berproduksi, tentunya dengan usaha budidaya yang dilakukan oleh petani. Mulai dari pengolahan lahan, input berupa pupuk dan pestisida, pengaturan sistem irigasi, pemilihan varietas dan pengaturan jarak tanam.

Tanaman Jeruk dapat tumbuh dan berbuah baik pada ketinggian 700-1200 m dpl (Rukmana,2003). Hal ini sesuai dengan ketinggian daerah di Malang Raya yang berkisar antara 800-1000 m dpl. Tanaman Jeruk memiliki temperatur optimal 25-300C dan membutuhkan sinar matahari yang cukup, karena itu jeruk

(7)

Tabel 1. Beberapa Faktor Penentuan Lokasi untuk Perkebunan Jeruk

3 Bibit jeruk Tersedia bibit jeruk untuk dataran rendah dan dataran tinggi

4 Iklim dan curah hujan Daerah tropis dan subtropis (850 LU – 850

(8)

Alternatif bahan pupuk yang dapat digunakan sebagai pengganti pupuk buatan adalah pupuk organik dan bahan amelioran. Salah satu bahan amelioran yaitu abu tandan kelapa sawit hasil limbah industri pertanian. Dengan kegiatan pemberian pupuk organik secara teratur dan terus-menerus maka akan terjadi proses peningkatan kesuburan tanah di lahan Jeruk. Bahan organik secara langsung menyediakan hara makro dan mikro, tetapi selama perombakan akan dihasilkan pula asam-asam organik maupun asam humat-fulvat yang membentuk khelasi dengan Fe,Mn,Zu dan Cu. Penurunan produktifitas tanaman Jeruk Malang juga dapat disebabkan oleh pengurasan unsur hara termasuk akibat erosi, penurunan bahan organik tanah, peningkatan residu bahan kimia (pestisida), kerusakan ekosistem (penggundulan hutan), kenaikan suhu dan penurunan masukan pupuk. Penurunan kapasitas simpan air tanah dan pohon jeruk yang sudah tua juga dipertimbangkan sebagai faktor yang terlibat dalam produktifitas Jeruk yang rendah.

Usaha budidaya yang dilakukan petani seperti pemberian pupuk kimia, pengaplikasian pestisida kimia, yang diharapkan dapat meningkatkan nilai produksi dari tanaman budidayanya ini ternyata malah berdampak kurang baik terhadap produktivitas tanaman budidayanya. Seperti yang ditemukan pada lahan perkebunan Jeruk di Indonesia, bahwa ketergantungan petani terhadap pestisida cukup tinggi meskipun banyak alternatif lain yang dapat dilakukan untuk memenuhi kebutuhan unsur hara maupun membasmi hama penyakit. Pemberian bahan kimia yang berlebih atau tidak tepat dosis justru malah akan merusak ekosistem. Di lapangan, aplikasi pestisida masih cukup banyak dilakukan petani dengan cara disemprotkan dan disebarkan. Aplikasi pestisida dengan cara tersebut mengakibatkan sebagian besar deposit pestisida jatuh pada permukaan tanah.

(9)

kecuali tanah organik. Kadar C organik yang ideal untuk kebun Jeruk adalah 3-5 %.Penambahan pupuk kandang/bahan organik secara teratur dapat meningkatkan C organik tanah yang berguna memperbaiki kesuburan fisik,kimia maupun biologi tanah, serta sebagai sumber unsur hara makro dan mikro.

Pengolahan tanah secara terus-menerus juga dapat meyebabkan penurunan kualitas tanah. Dampak negatif yang ditimbulkan antara lain pemampatan atau pemadatan pada tanah, berkurangnya ketersediaan air tanah, semakin kurang berkembangnya sistem perakaran tanaman, penurunan kandungan bahan organik, kerusakan struktur dan agregat tanah. Selain itu pengolahan tanah secara intensif juga dapat menyebabkan kerusakan struktur tanah, mempercepat terjadinya erosi tanah, dan penurunan kadar bahan organik tanah yang berpengaruh juga terhadap keberadaan biota tanah, termasuk cacing tanah. Keberadaan cacing tanah juga merupakan salah satu indikator untuk menentukan tingkat kesuburan tanah di suatu lahan.

Menurut Ansyori (2004), cacing tanah merupakan komponen utama biomassa makrofauna di dalam tanah. Cacing tanah hidup kontak langsung dengan tanah dan memiliki kontribusi penting terhadap proses siklus unsur hara di dalam lapisan tanah,tempat akar tanaman terkonsentrasi. Selain itu lubang yang dibuat cacing tanah sering merupakan proporsi utama ruang pori makro di dalam tanah, sehingga cacing tanah dapat secara nyata mempengaruhi kondisi tanah yang berhubungan dengan hasil tanaman.

Pada lahan yang diolah secara berlebihan akan menyebabkan tanah mengalami pemadatan dan menjadi rawan terhadap erosi dan dapat menyebabkan hilangnya bahan organik. Pengolahan tanah dapat merusak agresi tanah dan meningkatkan degradasi bahan organik (Rovira dan Greacen, 1957, dalam Busyra, 1995). Oleh karena itu sangat diperlukan tindakan perbaikan atau rehabilitasi tanah untuk memperbaiki serta mempertahankan kesuburan tanah. Upaya tersebut antara lain dapat dilakukan dengan cara : (1) penggunaan mulsa sisa tanaman, (2) penggunaan bahan organik, dan (3) olah tanah konservasi (Nursyamsi, 2004).

(10)

pengaruhi oleh kehadiran hewan tanah yang ada di daerah tersebut. Keanekaragaman fauna berperan penting dalam menjaga kestabilan ekosistem, hal ini dipengaruhi oleh faktor lingkungan,faktor biotik meliputi (tumbuhan dan hewan), faktor abiotik (antara lain air,tanah,udara,cahaya dan keasaman tanah) (Kramadibrata,1995). Hewan tanah memiliki kontribusi yang sangat besar untuk menentukan tingkat kesuburan tanah. Makrofauna akan merombak substansi nabati yang mati,kemudian bahan tersebut akan dikeluarkan dalam bentuk kotoran.

Secara umum keberadaan aneka macam fauna tanah pada tanah yang tidak terganggu seperti padang rumput, karena siklus hara berlangsung secara kontinyu. Arief (2001) menyebutkan, terdapat suatu peningkatan nyata pada siklus hara, terutama nitrogen pada lahan-lahan yang ditambahkan mesofauna tanah sebesar 20%-50%. Mesofauna tanah akan merombak bahan dan mencampurkan dengan sisa-sisa bahan organik lainnya, sehingga menjadi fragmen berukuran kecil yang siap untuk didekomposisi oleh mikrobio tanah (Arief 2001). Fauna tanah yang berperan sebagai detritivor juga dapat membantu dalam rehabilitasi tanah dan juga berpengaruh terhadap kehidupan disekitar fauna tanah itu berada. Perbedaan jenis tanaman dan perbedaan kondisi lahan juga berpengaruh terhadap keanekaragaman dan kelimpahan hewan tanah.

Penurunan produktivitas Jeruk di daerah Malang Raya tidak hanya diakibatkan oleh faktor budidaya dari sistem pertanian itu sendiri. Faktor dari non pertanian seperti industri juga sangat berdampak nyata pada penurunan produksivitas buah Jeruk di Malang Raya. Hal ini terbukti dari perkembangan daerah Malang Raya terutama Kota Batu yang sangat dikenal sebagai kota wisata. Banyak didapati tempat-tempat wisata beserta fasilitas-fasilitasnya seperti rumah makan atau restoran, rumah penginapan seperti villa dan hotel dijumpai di Kota Batu. Pembangunan-pembangunan gedung yang dilakukan ini berpengaruh pada menyempitnya lahan pertanian khususnya perkebunan Jeruk.

(11)

pembusukan tanaman dan binatang yang telah mati. Secara alami proses penguraian bahan organik tergantung dari jumlah bahan organik, keberadaan bakteri, pH, suhu, oksigen, waktu dan lain-lain. Proses penguraian bahan organik di dalam tanah tidak akan mampu berjalan dengan cepat bila tidak ditunjang oleh kegiatan makrofauna tanah. Makrofauna tanah mempunyai peranan penting dalam dekomposisi bahan organik tanah dan menyediakan unsur hara (Rahmawati,1996).Borror (1992) menambahkan bahwa serangga tanah dapat menambahkan kandungan bahan organik. Peran makrofauna tanah lainnya adalah dalam perombakan materi tumbuhan dan hewan yang mati, pengangkutan materi organik dari permukaan ke dalam tanah,perbaikan struktur tanah dan proses pembentukan tanah. Dengan demikian makrofauna tanah berperan aktif untuk menjaga kesuburan tanah atau kesehatan tanah (Adianto,1993;Foth,1994).

Bahan organik pada tanaman Jeruk berasal dari pembusukan seresah tanaman perkebunan Jeruk, maupun sisa-sisa hasil pemangkasan bagian tanaman. Sehingga semakin sedikitnya tanaman Jeruk akibat menyempitnya lahan akan berpengaruh terhadap menurunnya bahan organik tanah serta sedikitnya jumlah arthropoda dalam tanah. Karena bahan organik merupakan substrat bagi kehidupan biota tanah khususnya arthropoda tanah.

Collembola merupakan salah satu fauna tanah atau biota tanah dari filum Arthopoda. Collembola sangat berperan dalam menentukan keadaan tanah dan dekomposisi bahan organik. Fauna tanah ini berperan dalam proses humifikasi dan mineralisasi atau pelepasan hara, bahkan ikut bertanggungjawab terhadap pemeliharaan struktur tanah (Tian,G.1997). Mikro flora dan fauna tanah ini saling berinteraksi dengan kebutuhannya akan bahan organik, karena bahan organik menyediakan energi untuk tumbuh dan bahan organik memberikan karbon sebagai sumber energi.

(12)

biota tanah Colembola beserta persebarannya. Penelitian yang banyak dilakukan saat ini yaitu fungsi Collembola sebagai indikator perubahan tanah. Collembola merupakan hewan yang mempunyai peran aktif dalam pengaturan perbandingan C/N tanah. Perbandingan C/N tanah merupakan parameter laju perombakan bahan organik. Tumbuhan tidak dapat mengasimilasi apabila perbandingan C/N bahan organik dalam tanah lebih dari 20% (Susetya, 2012).

Perombakan bahan organik merupakan salah satu peristiwa yang terjadi dalam tanah. Peristiwa ini berlangsung dengan tujuan untuk merombak bahan-bahan organik. Proses dekomposisi setiap bahan-bahan organik berbeda-beda dan kecepatan dekomposisinya bervariasi untuk spesies tanaman yang berbeda. Proses dekomposisi dalam tanah tidak akan mampu berjalan dengan cepat bila tidak ditunjang oleh kegiatan fauna tanah seperti Collembola. Walaupun pengaruhnya terhadap pembentukan tanah dan dekomposisi bahan organik bersifat tidak langsung, secara umum Collembola dapat dipandang sebagai pengatur terjadinya proses dalam tanah.

Sedangkan untuk tingkat erosi yang terjadi di Kota Batu masuk dalam kategori sedang dan berat sehingga erosi menjadi salah satu pembatas utama dari penggunaan lahan yang berkelanjutan bagi tanaman Jeruk. Erosi menghanyutkan lapisan tanah permukaan secara terus-menerus, maka yang tertinggal adalah lapisan bawah yang kurang subur (Hakim et al., 1986). Disamping itu, apabila suatu lahan mengalami erosi berat, maka kedalaman tanahnya menjadi tipis sebaliknya lahan yang mengalami erosi ringan kedalaman tanahnya relatif dalam (solum tebal) (Senawi, 1999).

Tekstur tanah yang ada di Kota Batu sebagian besar masuk ke dalam kategori agak halus. Hal ini tentu sangat baik untuk media tumbuh tanaman Jeruk yang membutuhkan tekstur tanah halus dan banyak mengandung unsur hara. Tekstur tanah mempengaruhi sifat fisik tanah dan kimia tanah, terutama struktur tanah, kapasitas menahan air dan ketersediaan hara. Liat merupakan fraksi tanah yang memiliki kemampuan besar dalam memegang air (Darmawijaya, 1997).

(13)

bagi pertumbuhan tanaman Jeruk dengan demikian tanaman Jeruk mampu menyerap unsur hara dan dapat berkembang dengan baik (Djaenuddin et al.,1997).

Kandungan C–organik yang terdapat pada sebagian besar lahan di Kota Batu memiliki nilai lebih dari 1,2. Bahan organik merupakan bahan penting dalam menentukan kesuburan tanah, sumber hara tanaman dan sumber energi dari sebagian besar organisme tanah. Bahan organik berpengaruh terhadap sifat fisik maupun kimia tanah, terutama tekstur, struktur dan drainase bagi tanaman Jeruk (Hakim et al., 1986). Bahan organik merupakan sumber utama nitrogen, fosfor dan belerang. Bahan organik cenderung meningkatkan jumlah air yang tersedia bagi tanaman Jeruk dan akhirnya sebagai sumber energi bagi jasad mikro (Soepardi,1983).

Kandungan KTK di seluruh wilayah Kota Batu memiliki nilai lebih dari 16 cmol/kg. Kapasitas tukar kation (KTK) menunjukkan kemampuan tanah untuk menahan kation – kation dan mempertukarkan kation – kation tersebut. Sebagai penunjuk dalam ketersediaan unsur hara. Tanah dengan KTK sedang hingga sangat tinggi akan mempunyai kelas kesesuian lahan tertinggi untuk tanaman Jeruk (Hardjowigeno, 1993). Besarnya nilai KTK dipengaruhi oleh kadar dan jenis liat. Tekstur liat mempunyai KTK yang tinggi. Semakin tinggi jumlah liat suatu jenis tanah yang sama, KTK juga bertambah besar (Hakim et al., 1986).

Kadar pH tanah yang terdapat di seluruh wilayah Kota Batu berkisar antara 5,5 – 7,8. Reaksi tanah (pH) menunjukkan tinggi rendahnya konsentrasi ion hidrogen di dalam tanah dan merupakan parameter bagi keasaman tanah (Santoso, 1994). Nilai pH tanah umumnya digunakan untuk menduga ketersediaan hara (ketersediaan P dan K) dan kelarutan unsur yang bersifat meracun bagi tanaman. Tanah yang memiliki pH antara 6 dan 7 merupakan pH netral. Tanah disebut masam apabila nilai pH < 7 dan bersifat basa apabila > 7 (Hakim et al., 1986).

(14)
(15)

BAB IV PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Kualitas tanah adalah kapasitas suatu tanah untuk berfungsi dalam batas-batas ekosistem untuk melestarikan produktivitas biologi, memelihara kualitas lingkungan, serta meningkatkan kesehatan tanaman dan hewan. Kualitas tanah dapat dilihat dengan memadukan sifat fisika tanah, kimia tanah dan proses biologi tanah. Sedangkan kesehatan tanah adalah optimasi sifat tanah (fisik, kimia dan biologi) yang bertujuan untuk peningkatan produktivitas dan kualitas tanah, tanaman dan lingkungan. Kesehatan tanah dapat dilihat dari kondisi sifat tanah seperti sifat biologi tanah yang ditandai dengan keberadaan fauna yang ada di dalam tanah.

Untuk kondisi lahan perkebunan Jeruk yang ada di daerah Batu cukup baik, namun terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi kondisi kualitas dan kesehatan tanah di lahan perkebunan Jeruk. Salah satunya ialah penggunaan pestisida dan pupuk kimia secara intensif dapat menurunkan kualitas lahan yang ditunjukan dengan berkurangnya bahan organik yang ada di dalam tanah. Kandungan bahan organik akan mempengaruhi keberadaan arthropoda di dalam tanah. Selain itu pada lahan perkebunan Jeruk, sistem pengolahan tanahnya tidak dilakukan secara terus-menerus sehingga kalitas tanahnya masih dalam kategori cukup baik. Karena dengan pengolahan tanah secara terus-menerus dapat mengakibatkan pemadatan tanah,penurunan kandungan bahan organik serta kerusakan struktur dan agregat tanah.

(16)

lapisan tanah, tempat akar tanaman terkonsentrasi sehingga secara nyata dapat mempengaruhi kondisi tanah yang berhubungan dengan hasil tanaman.

4.2 Saran

(17)

DAFTAR PUSTAKA

Adianto.1993. Biologi Pertanian Pupuk Kandang, Pupuk Organik dan Insektisida. Bandung. Penerbit Alumni

Ansyori. 2004. Potensi Cacing Tanah Sebagai Alternatif Bio-Indikator Pertanian Berkelanjutan. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Arief,A.2001. Hutan dan Kehutanan. Jakarta.Kanisius

Borror,D.J,.Triplehorn,C.A., dan Johnson,N.F.1992.Pengenalan Pengajaran Serangga Edisi Keenam.Terjemah oleh Soetiyono Partosoedjono.Yogyakarta: Gadjah Mada University Press

Darmawijaya, M. I., 1997. Klasifikasi Tanah. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. 411 Hal

Djaenuddin. D, et al.1997.Kriteria Kesesuaian Lahan Untuk Komoditas Pertanian. Pusat Penelitian Tanah danAgroklimat. Bogor.

Doran, D.J dan M.R. Zeiss. 2000. Soil health and sustainability: managing the biotic component of soil quality. Aplied Soil Ecology 15:3-11.

Doran, JW. & TB. Parkin, 1994. Defining and Assessing Soil Quality, In Defining

Hakim. N, et al.1986.Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Penerbit Universitas Lampung. Lampung.

Hardjowigeno, S.et al. 1993. Kesesuaian Lahan Dan Perencanaan Tata Guna Tanah. Jurusan Tanah. FakultasPertanian. Institut Pertanian Bogor.Bogor. Idowu, J., Moebius, B., van Es, H., Schindelbeck, R.R., Abawi G., Wolfe D.,

Thies J., Gugino, B., Clune, D. 2008b. Soil Health Assessment and Management: Measurements and Results.

(18)

Johnson, DL., SH. Ambrose, TJ. Basset, ML. Bowen, DE. Crummey, JS. Isaacson, DN. Johnson, P. Lamb, M. Sul & AE. Winter-Nelson. 1997. Meaning of Environmental Terms. J. Environ. Qual.. 26:581-589

Karlen, DL., MJ. Mausbach, JW. Doran,RG. Cline, RF. Harris, & GE. Schuman. 1996. Soil Quality: Concept, Rationale and Research Needs. Soil.Sci.Am.J: 60:33-43

Kemal Prihatman (2000).Sistem Informasi Manajemen Pembangunan di Pedesaan.BAPPENAS, Jakarta

Kramadibrata,I.1995.Entomologi Hewan.Bandung:ITB

Mausbach, MJ, & CA. Seybold, 1998. Assessment of Soil Quality. Dalam R. Lal (ed). Soil Quality and Agricultural Sustainability. Ann Arbor Press, Chelsea, Michigan, pp.33-43.

Notohadiprawiro, T., 2006. Metode Penelitian dan Penulisan Ilmiah. Repro:UGM. Yogyakarta

Nursyamsi, D. 2004.Beberapa Upaya untuk Meningkatkan Produktivitas Tanah di Lahan Kering.Makalah Pribadi Falsafah Sain.Institut Pertanian Bogor : Bogor

OSU (2009). Ohio State Health Card. OSU Centers at Piketon: Piketon Research & Extension Enterprise Center, OHIO. http://www.ag ohio-state deu/-prec October 5, 2010

Purnomosidhi, P., Suparman, J. M. Roshetko, dan Mulawarman, 2007.Perbanyakan dan Budidaya Buah-Buahan: durian, mangga, jeruk, melinjo, dan sawo. Pedoman Lapangan, Edisi Kedua. World Agroforestry Center & Winrock Internasional, Bogor

Rovira, A. D. and E. L. Greacen, 1957. The Effect of Agregate Disruption on theActivity of Microorganism in the Soil.Aust J. Agr. Res. 8: 6-59

Rukmana. (2003). Kaktus. Cet 5. Kanisius.Yogyakarta

Santoso. B. 1994. Pelestarian Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup. Penerbit IKIP malang. Malang.

Senawi. 1999.Evaluasi Dan Tata Guna Lahan. Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.

(19)

SQI, 2001. Guidelines for Soil Quality Assessment in Conservation Planning. Soil Quality Institute. Natural Resources Conservation Services. USDA. Sunarjono, H.H., 2004. Bertanam 30 Jenis Sayur. Penebar Swadaya.

Jakarta.Halaman 38 - 47

Susetya, Darma. 2012. Panduan Lengkap Pembuatan Pupuk Organik. Yogyakarta: Pustaka Baru Press.

Tandisau P. Dan Herniawati 2009. Prospek pengempangan pertanian organik di sulawesi selatan. Sulawesi selatan. Balai pengkajian Teknologi pertanian Tian,G., L. Brussard, B.T., Kang,&Swift, M.J. 1997.Soil fauna-decomposition of

plant residues under contreined environmental and residue quality condition. In Driven by Nature Plant Litter Quality and Decomposition. (Eds. Cadisch, G. & Giller, K.E.). Wey College, University of London, UK.

Gambar

Tabel 1. Beberapa Faktor Penentuan Lokasi untuk Perkebunan Jeruk

Referensi

Dokumen terkait

dibuat menjadi kompos atau pupuk organik yang berkualitas dan dapat memperbaiki struktur tanah di lahannya yang ditanami salak. Petani dan peternak dapat memperoleh

sayuran, selain itu penggunaan pupuk organik dapat memperbaiki struktur fisik dan kimia tanah juga dapat meningkatkan kadar pH tanah. Naiknya pH tanah dapat

Pupuk kascing merupakan bahan organik yang cukupbaik karena selain dapat memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah khususnya pada tanah yang kurang subur seperti

Pemberian pupuk organik dapat mengurangi penggunaan dan meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk kimia dan akan menyumbangkan unsur hara bagi tanaman serta meningkatkan serapan

Pengusahaan bawang merah di tingkat petani masih menggunakan pupuk anorganik dan pestisida kimia secara berlebih, selain itu produksinya belum sesuai dengan

Sementara itu untuk perilaku petani dalam mengadopsi input organik sebagai substitusi pupuk ataupun pestisida kimia terkategori beragam mulai dari tidak

Dalam melakukan budidaya kemangi, para petani di daerah penelitian menggunakan pupuk organik dan non organik serta beberapa jenis pestisida. Pupuk yang digunakan

Pupuk organik cair dapat membantu meningkatkan produksi tanaman, meningkatkan kualitas produk tanaman, mengurangi penggunaan pupuk anorganik dan sebagai alternatif pengganti pupuk