TEORI TEORI SOSIAL
Fenomena Model Cilik Kristena Pimenova Ditinjau dari Teori
Alienasi Alison Jaggar
Disusun Oleh:
1. M. Zaadul Haq 12/335951/FI/03732 2. Ridwan Firdaus 12/335928/FI/03730 3. Syafrida Putri Yeni 12/337965/FI/03737
FAKULTAS FILSAFAT
UNIVERSITAS GADJAH MADA
BAB I PENDAHULUAN A. Pengantar
Kapitalisme telah mengakar jauh ke sendi kehidupan manusia. Ia menampar tidak hanya sistem ekonomi masyarakat, tetapi lebih jauh ia mendaur ulang kebudayaan manusia lengkap dengan pengetahuan manusia di dalamnya. Kapitalisme akan melakukan berbagai cara demi terjaganya ideologi yang dibawanya. Berangkat dari kepentingan untuk mengubah sistem perekonomian, pada akhirnya ia pun mengubah apapun yang tersisa di dunia dan berpotensi untuk dapat diubah. Di dalam melancarkan tujuannya, kapitalisme menggunakan beragam cara agar tujuannya itu dapat dicapai.
Akan tetapi di dalam prosesnya, konsekuensi logis dari kerja kapitalisme ialah mengubah esensi kerja menjadi alienasi. Para pekerja yang membantu penyebaran proses kapitalisme ini akhirnya mendapatkan keterasingan dari tindakan yang ia perbuat, serta dari hasil kerjanya sendiri. Di era kontemporer, perempuan semakin banyak dipakai sebagai bagian dari kerja kapitalisme. Kapitalisme membutuhkan bantuan gender agar usahanya tersebut berhasil.
Salah satunya terjadi di dalam dunia permodelan. Dunia modelling merupakan ladang subur bagi kapitalisme di dalam menelurkan benih-benih alienasi bagi sang model. Di dalam hal ini, perempuan menjadi korban terbanyak dari proses alienatif ini. Alison Jaggar (dalam Tong, 2006: 182) menyatakan bahwa alienasi tidak terjadi hanya pada sistem produksi, tetapi terselubung pada seksualitas, motherhood¸dan intelektualitas. Perempuan yang bergelut di bidang permodelan mengalami ketiga aspek alienasi tersebut, tulisan ini akan mengarahkan ketiga aspek tersebut.
Terkait dengan model perempuan sebagai obyek pembahasan, baru-baru ini penulis menemukan ada suatu kegegaran di dunia maya terkait kasus model perempuan. Seperti yang dilansir dari situs (www.womandailymagazine.com) Kristena Pimenova, seorang anak perempuan berusia sembilan tahun dinobatkan sebagai gadis tercantik di dunia. Tentu saja hal tersebut tidak terlepas dari profesi yang ia geluti sebagai model cilik. Sejak usia tiga tahun, ibu dari Pimenova sudah mendorongnya untuk terjun ke dalam dunia entertaintment.
proses keterasingan satu sama lain. Pimenova tidak merasakan bagaimana didikan seorang ibu secara normal yang mengasuhnya di rumah, karena sejak kecil ia dituntut untuk menjadi seorang model. Dengan demikian, ia jatuh di tangan asuhan siapa saja. Selain itu, ibunya menganggap bahwa anak, yakni Pimenova, sebagai miliknya. Sehingga, ia dapat menentukan nasib Pimenova semaunya, sesuai dengan apa yang dianggapnya baik, meskipun justru kemauannya melanggengkan sistem patriarki dalam kehidupan sang anak.
Meski belum memiliki kesadaran seksual, tetapi model cilik asal Rusia tersebut sudah memiliki potensi keterasingan seksual semenjak ia kecil. Prosesnya untuk tumbuh sejak awal sebagai seorang perempuan sudah diarahkan sebelum ia dapat memilih tubuhnya akan dijadikan dan digunakan apa. Penasbihannya sebagai gadis tercantik, menegaskan bahwa identitas keperempuanannya sudah ditentukan, bahkan bukan oleh dirinya sendiri. Selain itu, ancaman bagi tubuhnya semakin meningkat dengan eksploitasi yang datang pada tubuhnya. Pimenova menjadi sangat rawan dari ancaman para pedfeel yang melihat pose-pose cantiknya.
Kemudian, ia pun terasing secara intelektual. Proses pengembangan dirinya untuk memperoleh pengetahuan yang sewajarnya bagi anak seusia dirinya menjadi terhalangi. Pendidikan yang seharusnya diterima oleh Pimenova, sebagai seorang anak, disubstitusikan oleh pendidikan dari dunia yang bukan miliknya. Dunia Pimenova ialah dunia milik orang lain, ia tidak mengalami proses didiknya sewajarnya sebagai anak-anak. Pimenova dipaksa untuk dewasa, menjadi perempuan dewasa yang tidak sama sekali menunjukkan indentitas sebenarnya yang ia pilih.
Tulisan ini akan memakai obyek formal feminisme dengan titik tekannya pada teori alienasi Alison Jaggar untuk membedah kasus Kristina Pimenova. Tiga aspek keterasingan atas motherhood, seksualitas, dan intelektualitas milik Alison Jaggar menjadi titik tumpu analisis di dalam tulisan ini.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang permasalah diatas, dapat dirumuskan beberapa pokok permasalahan yaitu sebagai berikut:
a. Apa yang dimaksud Alison Jaggar dengan alienasi seksual, motherhood dan intelektual?
BAB II PEMBAHASAN
A. Feminisme Sosialis dan Teori Alienasi Alison Jaggar
Feminisme sosialis muncul sebagai ketidakpuasan terhadap feminisme Marxis. Feminisme sosialis lebih menekankan persoalan keterkaitan kapitalisme dalam menumbuhkan patriaki. Feminisme sosialis berusaha menjelaskan cara kapitalisme berinteraksi dengan patriaki secara jauh lebih buruk dari laki-laki. Meskipun dilain pihak sosialis setuju dengan feminis Marxis bahwa pembebasan perempuan tergantung pada penghapusan kapitalisme. Mereka mengklaim bahwa kapitalisme tidak dapat dihancurkan apabila sistem patriaki masih berjaya. Kapitalisme akan hilang jika sistem patriaki juga dihilangkan.
Salah satu kritik terhadap feminisme Marxis mucul dari pemikir Amerika, Alison Jaggar. Melalui konsep alienasi Marxis ia membangun konstruksi pemikirannya. Mencoba memahami oppresi terhadap wanita sebagai bentuk alienasi.
Alison Jaggar adalah seorang profesor dalam bidang filsafat dan kajian wanita di Universitas Colorado. Jaggar juga seorang pendiri Society for Women in Philosophy, dan juga mantan ketua American Philosophical Association Committee on the Status of Women (http://www.cddc.vt.edu/feminism/Jaggar.html). Ia dikenal luas sebagai aktivis perempuan yang aktif, dan juga seorang akademisi yang konsen terhadap permasalahan perempuan.
Sama seperti tokoh yang lainnya, Jaggar juga mengajukan satu konsep feminisme yang representatif. Dalam bukunya Feminist Politics and Human Nature, ia mengidentifikasi “alienasi” sebagai suatu konsep yang cukup kuat untuk mengakomodasi pandangan utama feminis Marxis, radikal, bahkan liberal.
Sebagai seorang feminis sosialis Jaggar memahami alienasi Marxis dengan sedemikian radikal. Untuk menjadi teralienasi seseorang tidak harus berpartisipasi langsung dalam hubungan produksi kapitalis. Jika pada teori Marxis bentuk alienasi seseorang berupa hubungan subordinat pekerja dengan majikannya, Jaggar memahami alienasi dengan cara yang lebih komprehensif dari sudut pandang feminisme. Bagaimanapun bentuk relasinya, perempuan akan selalu teralienasi. Tidak hanya perempuan yang tidak mendapat upah (tidak bekerja di sektor publik) yang teralienasi tetapi perempuan yang mendapat upah juga teralienasi.
Pembahasan tentang alienasi Jaggar di atur dalam rubrik seksualitas, motherhood, dan intelektual. Sama seperti buruh yang dialienasi atau dipisahkan dari produk yang dikerjakannya, seorang perempuan juga dialienasi dari produk yang dihasilkannya (tubuh). Seorang perempuan yang bersikeras melakukan diet, mempercantik tubuhnya dan berpakaian untuk menyenangkan diri, akan tetapi pada kenyataanya, ia membentuk dan menghias tubuhnya untuk kenikmatan laki-laki. Seorang perempuan bahkan memiliki sedikit hak bicara mengenai dimana, bagian apa dan dimana tubuhnya akan digunakan, karena tubuhnya tersebut dapat dipakai atau dimanfaatkan tanpa izin darinya melalui berbagai tindakan seperti pemerkosaan, atau tindakan seseorang yang berdiri di pojok dan memandangi semua gadis yang melaluinya. Dalam tingkatan yang sama, buruh juga teralienasi, dimana tubuhnya mulai terasa seperti benda semata, sekedar mesin untuk mengeluarkan tenaga untuk mengahasilkan produksi.
Motherhood, sebagaimana seksualitas, juga merupakan bagian alienasi bagi perempuan, menurut Jaggar seorang perempuan dalienasi dari produk pekerjaan produksinya ketika orang lan dan bukan dirinya sendiri yang memutuskan, misalnya berapa jumlah anak yang ia kandung. Dalam masyarakat yang tenaga kerja anak-anaknya dimanfaatkan sebanyak tenaga kerja orang dewasa, perempuan ditekan hamil sebanyak mungkin selama fisiknya masih memungkinkan. Dalam masyarakat yang anak-anak dipandang beban ekonomi, perempuan dicegah untuk memiliki anak sebanyak yang diinginkan. Banyak perempuan dipaksa untuk melakukan aborsi atau sterilisasi.
Jaggar menjelaskan bagaimana praktek pengasuhan anak pada masa kini hingga pada akhirnya mengalienasi atau mengasingkan ibu dari anak-anaknya.
social recognition. She sees the child as her product, as something that should improve her life and that often instead stands againts her, as something of supreme value, that is held cheap by society. The social relations of contemporary motherhood make it impossible for her to see the child as a whole person, part of a larger community to which both mother and child belong” (Jaggar, 1983:315)
Berdasarkan kutipan dari buku Jaggar diatas, dapat diartikan bahwa kebergantungan mutual yang sangat ekstrim antara ibu dan anaknya mendorong ibu untuk mendifinisi anak-anaknya semata-mata dengan mengacu kepada kebutuhannya sendiri untuk mendapatkan pengakuan, baik dalam hal makna, cinta maupun pengakuan sosial. Seorang ibu akan melihat anaknya sebagai produknya, sesuatu yang harus memperbaiki hidupnya. Hubungan sosial dari motherhood kontemporer memungkinkan perempuan untuk melihat anak sebagai seorang yang lengkap, bagian dari komunitas yang lebih besar, baik anak maupun ibu adalah bagian dari komunitas itu sendiri.
Salah satu ciri yang paling menyedihkan atas alienasi ibu dari anaknya adalah ketidakmampuannya untuk melihat anaknya sebagai manusia yang sama dengan ketidakmampuan sang anak untuk melihat ibunya sebagai manusia. beradasarkan feminis psikoanalisa, jaggar menggambarkan bagaimana anak-anak secara perlahan memandang ibunya bukan sebagai manusia, melainkan sebagai objek yang melakukan terlalu banyak hal untuk mereka. Selain memisahkan ibu dan anak motherhood masa kini juga menarik batas antara ibu dan ayah. Adanya pertengkaran antara ibu dan ayah, dimana ayah terlalu banyak menuntut dan menetapkan aturan dalam rumah tangga, dan ibu yang merasa kesal dalam melaksanakannya.
Menurut Jaggar, pada akhirnya perempuan bukan hanya teralienasi dari seksualitasnya, dan dari produk dan proses motherhood, perempuan juga teralienasi dari kapasitas intelektualnya. Kondisi dapat kita temukan ketika seorang perempuan dibuat untuk merasa sangat tidak yakin akan dirinya sendiri, ia ragu mengungkapkan pemikirannya di depan publik, karena takut pandangannya tidak layak untuk diungkapkan. Ia takut akan disoroti sebagai orang yang hanya berpura-pura memiliki dan bukan pemilik yang sungguh-sungguh dari pengetahuan. Selama laki-laki yang menetapkan kerangka pemikiran dan wacana, perempuan tidak akan pernah merasa nyaman.
perempuan memahami sumber intelektual sesungguhnya dari kebahagiaan mereka, maka perempuan akan berada di dalam posisi untuk melawannya.
A. Kristina Pimenova dan Kapitalisme: Potret Perempuan Teralienasi
Kristina Pimenova adalah gadis cilik yang berasal dari Rusia, di umurnya yang masih belia yaitu sembilan tahun, ia telah memiliki karier yang sukses dalam dunia modelling, bahkan ia digadang-gadangkan sebagai wanita tercantik di dunia. Pimenova memulai kariernya semenjak ia berusia tiga tahun. Bakat modelling yang ia miliki diturunkan dari ibunya yang juga seorang model, dimana ketika waktu kecil ia ikut dengan ibunya, banyak yang mengatakan bahwa Pimenova cantik. Akhirnya ibunya pun mencoba peruntungan Pimenova di dunia modelling. Tak disangka anaknya menyukai profesi barunya, terutama ketika berjalan di panggung catwalk fashion show.
Ketika Kristina mengenakan busana anak-anak, dalam menjalani sesi foto, dia tetap harus mengenakan riasan wajah yang kadang mengundang komentar dari para followernya di media sosial. Ketenaran yang diraih oleh bocah ini juga menimbulkan banyak komentar. Beberapa orang menilai bahwa gadis kecil ini rawan menjadi korban predator online. Pose Kristina yang mengenakan hot pants atau rok pendek dinilai tak pantas.
Fenomena tersebut terjadi dalam sebuah dunia dimana kapitalisme menjadi nahkoda dari setiap gerak kehidupan. Kristina Pimenova yang seorang model cilik, adalah salah satu bagian kecil individu perempuan yang terkungkung struktur ekonomi kapitalis. Kapitalisme memaksa aktivitas kerja Pimenova, tidak menciptakan kesadaran kemanusiaan. Singkatnya Pimenova teralienasi. Pekerjaan yang intinya untuk menjadikan diri manusia nyata (Magnis, 2005:890), tidak dapat terjadi ketika struktur kapitalisme mengendalikan segalanya.
Lalu bagaimana fenomena tersebut dapat dijelaskan secara lebih rinci melalui konsep Alison Jaggar tentang alienasi yang diturunkan dari teori Marxis tentang hal serupa. Penjelasan tersebut menjadi penting kaitanya dengan kredo feminisme untuk membongkar setiap fenomena kehidupan yang di dalamnya perempuan tanpa sadar ditempatkan secara subordinat dari laki-laki oleh konstruksi patriarki.
mengutarakan itu kemudian akan masuk secara lebih khusus dengan menggunakan 3 pokok teori alienasi Alison, untuk membaca fenomena kasus Pimenova.
Asumsi dasar yang diyakini para feminis Marxis dan sosialis adalah segala opresi perempuan sesungguhnya bukanlah pilihan individualnya. Melainkan produk dari struktur sosial, ekonomi, dan politik tempat individu itu hidup (Tong, 2010:139). Melalui asumsi dasar tersebut lalu bisa kita fahami bahwa kasus Pimenova, terkait dengan pilihanya untuk menjadi model cilik, sebenarnya adalah tekanan dari sebuah struktur ekonomi yang berkembang era ini, yaitu kapitalisme. Kasus Pimenova akhirnya harus difahami melalui sebuah analisis struktural tentang kapitalisme, yang mampu menghilangkan pilihan bebas individu digantikan oleh paksaan memilih melalui struktur yang menekan tanpa disadari.
Hal diatas terkait dengan konsepsi dasar marx tentang modus produksi dari kehidupan sosial, ekonomi, politik, menentukan kesadaran eksistensi manusia. Manusia tidak menentukan kesadarannya secara benar-benar bebas dari struktur.
Terkait dengan uraian tersebut, struktur kapitalisme yang menguasai kehidupan dewasa ini adalah akibat dari sifat dasar kapitalisme, sebagai hubungan kekuasaan yang eksploitatif. Manusia dieksploitasi oleh struktur ekonomi.
Dalam proses eksploitasi tersebut manusia teralienasi dari produk kerjanya. Tanpa sebuah upah yang memadai manusia dieksploitasi tenaganya. Dalam hal ini perempuan yang seringkali menjadi buruh juga teralienasi.
Teori marx tentang alienasi yang buta gender dibaca kembali secara radikal oleh Alison Jaggar. Sebagaimana yang telah dipaparkan pada poin sebelumnya bahwa perempuan teralienasi bukan hanya ketika ia berpartisipasi langsung dalam hubungan produksi kapitalis. Bentuk alienasi perempuan adalah akibat struktur kapitalisme yang telah jauh mengakar dalam sendi-sendi kehidupan. Klaim Jaggar adalah, bukan hanya perempuan tanpa upah yang teralienasi tetapi juga perempuan yang mempunyai upah juga teralienasi. Dengan bantuan sistem patriarki, menurut Jaggar perempuan akan selalu teralienasi bagaimanapun bentuk relasinya.
Kasus Pimenova jika dilihat dari pandangan Alison merepresentasikan sosok perempuan yang teralinasi sebagai pekerja, walapaun dia memiliki upah yang mencukupi. Kemudian Alison menjelaskan lebih lanjut konsepnya tentang alienasi dalam tiga pokok soal, seksual, motherhood, dan intelektual
dilakukan atas tubuhnya. Perempuan mendapatkan persetujuan dan pengesahan dari laki-laki. Sebab ia gagal memahami kebertubuhnya sebagai dasar identitasnya. Ketika kebertubuhan tidak dipahami dalam konteks kepentingannya dalam membangun identitas, maka kebertubuhan hanya menjadi objek yang harus diperindah bagi laki-laki dan bagi dirinya sendiri. Menurut Alison Jaggar:
Seorang perempuan dialienasi dari produk yang dihasilkannya—tubuhnya. Seorang perempuan mungkin dapat bersikeras bahwa ia melakukan diet, latihan, dan berpakaian untuk menyenangkan diri, tetapi pada kenyataannya, ia membentuk dan menghias tubuhnya untuk kenikmatan laki-laki. (Tong, 2003:182)
Dengan dinobatkannya Pimenova sebagai gadis tercantik membuat gadis berusia sembilan tahun tersebut tentu merasa puas—secara semu. Terlebih dari sisi material ia mendapat banyak keuntungan dengan menjadi model terkenal, fotonya menjadi sampul majalah fashion ternama dan memiliki banyak penggemar dengan jutaan followers. Dalam kondisi tersebut sebenarnya Pimenova sedang teralienasi seksualnya, dalam hal ini tubuh. Tubuhnya diatur sedemikian rupa agar memenuhi selera pasar dalam kapitalisme. Apa yang dilihat dalam tubuh Pimenova, bukanlah keinginan pribadinya, akan tetapi tuntutan dari stuktur kapilisme yang mewujud melalui bisnis modelling, yang tentu tidak memperbolehkan seseorang tampil seadanya. Sejalan dengan usaha yang dilakukan Pimenova untuk memperindah tubuhnya, akhirnya tubuhnya hanya menjadi objek laki-laki.
Ketika Pimenova diarahkan menjadi model oleh ibunya. Sesunguhnya telah terjadi alienasi bentuk ke dua yaitu motherhood. Kebergantungan mutual yang sangat ekstrim antara ibu dan anaknya mendorong ibu untuk mendifinisi anak-anaknya semata-mata dengan mengacu kepada kebutuhannya sendiri untuk mendapatkan pengakuan, baik dalam hal makna, cinta maupun pengakuan sosial. Seorang ibu akan melihat anaknya sebagai produknya, sesuatu yang harus memperbaiki hidupnya. Hubungan sosial dari motherhood yang seperti itu nyata dalam kasus Pimenova.
. Ibu melihat Pimenova sebagai produk yang ia hasilkan dan harus tampil sempurna, dan Pimenova yang meihat ibunya bukan sebagai manusia, tetapi objek yang memintanya ini dan itu dengan semaunya. Ibu secara bebas menentukan nasib Pimenova. Sehingga sebelum Piemenova mendifinisikan dirinya, sang ibu telah menentukan definisi untuknya. Proses dehumanisasi ini muncul akibat keterdesakan ibu atas permintaan patriarkal yang telah terstruktur dalam kapitalisme.
Akibatnya segala aspek kesadaran psikis keinginan pribadi seoarang anak dikesampingkan. Marginalisasi kesadaran itu bukan karena keinginan individu melainkan akibat kondisi sosial yang telah tertata rapi menjadi pola pikir masyarakat. Tentunya terciptanya kondisi demikian tidak lepas dari dominasi peran maskulin dalam negara dan pekerjaan, sedangkan perempuan hanyalah sebagai konsumen atas sebuah struktur yang telah diciptakan.
Menurut Jaggar, pada akhirnya perempuan bukan hanya teralienasi dari seksualitasnya, dan dari produk dan proses motherhood, perempuan juga teralienasi dari kapasitas intelektualnya. Kondisi dapat kita temukan ketika seorang perempuan dibuat untuk merasa sangat tidak yakin akan dirinya sendiri, ia ragu mengungkapkan pemikirannya di depan publik, karena takut pandangannya tidak layak untuk diungkapkan. Bentuk alienasi ketiga tersebut, dalam kasus Pimenova terjadi ketika seorang anak seusia Pimenova tidak berpikiran seumumya anak pada usia itu. Apa yang dipikirkan dan kemudian dikatanya sebenarnya adalah sebuah pikiran yang lahir dari struktur kapitalisme. Tidak mungkin anak seusia 9 tahun berpikir bahwa dia harus merawat pahanya, dan memakai hot pants, agar difoto menarik. Tentu kita semua tahu itu bukan pikiran anak usia 9 tahun tapi itu pikiran struktur kapitalisme yang mewujud dalam dunia modelling yang digeluti Pimenova.
BAB III PENUTUP A. Kesimpulan
1. Praktik kapitalisme telah mengendalikan kesadaran manusia. Salah satu indikator hal itu dapat dilihat melalui fenomena pekerjaan. Pekerjaan yang seharusnya dapat menjadikan manusia utuh justru mengalienasi mereka. Feminisme Sosialis melihat alienasi Marxis sebagai titik tolak gagasannya. Konsep alienasi Marxis ditangan Jaggar tidak hanya dipahami sebagai bentuk keterasingan dalam lingkaran kerja kapitalis. Akan tetapi setiap perempuan yang gagal memahami kesadaran dirinya secara utuh atas kebertubuhannya juga akan teralienasi. Alienasi dalam pemahaman seperti itu terjadi dalam tiga cara, seksualitas, motherhood, dan intelektualitas.
DAFTAR PUSTAKA
Jaggar, Alison M. 1983. Feminist Politics and Human Nature. United Stated Of America: The Harvetes Press
Suseno, Frans-Magnis, 2005, Karl Marx dari Sosialisme Utopis ke Revisionisme, Jakarta Gramedia.
Tong, Rosemarie Putnam, 2010, Feminist Thought, Yogyakarta, Jalasutra.
(http://www.cddc.vt.edu/feminism/Jaggar.html). diakses tanggal6 Desember 2014. http://female.kompas.com/read/2014/12/01/212900120/