Laporan Akhir III-1
BAB 3
ARAHAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL DAN
STRATEGI BIDANG CIPTA KARYA KABUPATEN KEPAHIANG
3.1 KONSEP PERENCANAAN DAN PELAKSANAAN PROGRAM DITJEN CIPTA KARYA
Rencana pembangunan infrastruktur permukiman disusun dengan yang mengacu pada rencana tata ruang maupun rencana pembangunan, baik skala nasional maupun skala provinsi dan kabupaten/kota. Dengan memperhatikan kondisi eksisting, perencanaan dan pelaksanaan pembangunan bidang Cipta Karya juga mengacu pada amanat pembangunan nasional dan amanat internasional seperti Agenda Habitat, Amanat RIO +20, amanat Milenium Development Goals, dan amanat pembangunan internasional lain. Pembangunan bidang Cipta Karya juga memperhatikan Isu-isu Strategis yang mempengaruhi pembangunan pada suatu wilayah seperti lokasi rawan bencana alam, dampak terjadinya perubahan iklim, faktor daya beli masyarakat akibat kemiskinan, reformasi birokrasi, kepadatan penduduk khususnya pada kawasan perkotaan, serta green economy. Pelaksanaan pembangunan bidang Cipta Karya merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah dengan melibatkan unsur masyarakat dan stakeholder dari dunia usaha (swasta) supaya tercipta permukiman yang Layak Huni dan Berkelanjutan.
Laporan Akhir III-2 Dalam pelaksanaannya RPI2JM Bidang Cipta Karya yang merupakan perencanaan investasi jangka menengah, akan menjadi salah satu aspek yang dipertimbangkan dalam penyusunan anggaran atau rencana kerja tahunan, baik di tingkat pusat maupun di tingkat provinsi dan Kabupaten/Kota. Dalam arti bahwa rencana pembangunan dalam RPI2JM tersebut harus tertuang dalam rencana kerja /RKP/RKPD.
Dengan demikian jelas bahwa RPI2JM Bidang Cipta Karya merupakan perwujudan rencana dari berbagai macam kebijakan yang menyangkut pembangunan infrastruktur Bidang Cipta Karya, sesuai dengan sistem perencanaan pembangunan nasional yang berlaku Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. Penyusunan Program bidang Cipta Karya merupakan rangkaian aktivitas penyiapan usulan kegiatan ke-Cipta Karya-an di tingkat kabupaten/kota sampai dengan provinsi yang selaras dengan pencapaian sasaran kinerja DJCK dan penanganan isu-isu strategis bidang Cipta Karya bersumber pada dokumen RPI2JM.
Gambar 3.1 Konsep Perencanaan dan Pelaksanaan Pembangunan Bidang Cipta Karya
Laporan Akhir III-3 Gambar 2.1 memaparkan konsep perencanaan pembangunan infrastruktur Bidang Cipta Karya, yang membagi amanat pembangunan infrastruktur Bidang Cipta Karya dalam 4 (empat) bagian, yaitu amanat penataan ruang/spasial, amanat pembangunan nasional dan direktif presiden, amanat pembangunan Bidang Pekerjaan Umum, serta amanat internasional.
3.2 AMANAT PEMBANGUNAN NASIONAL TERKAIT BIDANG CIPTA KARYA
Amanat pembangunan nasional dimaksudkan sebagai suatu panduan dalam perencanaan pembangunan. Infrastruktur permukiman memiliki fungsi strategis dalam pembangunan nasional karena turut berperan serta dalam mendorong pertumbuhan ekonomi, mengurangi angka kemiskinan, maupun menjaga kelestarian lingkungan. Oleh sebab itu, Ditjen Cipta Karya berperan penting dalam implementasi amanat kebijakan pembangunan dan perencanaan nasional. Adapun dalam amanat pembangunan nasional yang dimaksudkan meliputi RPJP Nasional, RPJM Nasional, MP3EI, MP3KI, KEK dan Direktif Presiden.
3.2.1Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Nasional 2005 – 2025
Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Nasional yang ditetapkan melalui UU No. 17 Tahun 2007 adalah dokumen perencanaan pembangunan nasional yang merupakan jabaran dari tujuan dibentuknya Pemerintahan Negara Indonesia yang tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dalam bentuk visi, misi, dan arah pembangunan nasional untuk masa 20 tahun ke depan yang mencakupi kurun waktu mulai dari tahun 2005 hingga tahun 2025. RPJP Nasional ditetapkan dengan maksud memberikan arah sekaligus menjadi acuan bagi seluruh komponen bangsa (pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha) di dalam mewujudkan cita-cita dan tujuan nasional sesuai dengan visi, misi, dan arah pembangunan yang disepakati bersama sehingga seluruh upaya yang dilakukan oleh pelaku pembangunan bersifat sinergis, koordinatif, dan saling melengkapi satu dengan lainnya di dalam satu pola sikap dan pola tindak.
Dalam penjabarannya RPJPN mengamanatkan beberapa hal sebagai berikut dalam pembangunan bidang Cipta Karya, yaitu:
Laporan Akhir III-4 kebutuhan dasar masyarakat serta kebutuhan sektor-sektor terkait lainnya, seperti industri, perdagangan, transportasi, pariwisata, dan jasa sebagai upaya mendorong pertumbuhan ekonomi. Pemenuhan kebutuhan tersebut dilakukan melalui pendekatan tanggap kebutuhan (demand responsive approach) dan pendekatan terpadu dengan sektor sumber daya alam dan lingkungan hidup, sumber daya air, serta kesehatan.
b. Dalam mewujudkan pembangunan yang lebih merata dan berkeadilan maka Pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat yang berupa air minum dan sanitasi diarahkan pada (1) peningkatan kualitas pengelolaan aset (asset management) dalam penyediaan air minum dan sanitasi, (2) pemenuhan kebutuhan minimal air minum dan sanitasi dasar bagi masyarakat, (3) penyelenggaraan pelayanan air minum dan sanitasi yang kredibel dan profesional, dan (4) penyediaan sumber-sumber pembiayaan murah dalam pelayanan air minum dan sanitasi bagi masyarakat miskin.
c. Salah satu sasaran dalam mewujudkan pembangunan yang lebih merata dan berkeadilan adalah terpenuhinya kebutuhan hunian yang dilengkapi dengan prasarana dan sarana pendukungnya bagi seluruh masyarakat untuk mewujudkan kota tanpa permukiman kumuh. Peran pemerintah akan lebih difokuskan pada perumusan kebijakan pembangunan sarana dan prasarana, sementara peran swasta dalam penyediaan sarana dan prasarana akan makin ditingkatkan terutama untuk proyek-proyek yang bersifat komersial.
d. Upaya perwujudan kota tanpa permukiman kumuh dilakukan pada setiap tahapan RPJMN, yaitu:
RPJMN ke 2 (2010-2014): Daya saing perekonomian ditingkatkan melalui percepatan pembangunan infrastruktur dengan lebih meningkatkan kerjasama antara pemerintah dan dunia usaha dalam pengembangan perumahan dan permukiman.
Laporan Akhir III-5 RPJMN ke 4 (2020-2024): terpenuhinya kebutuhan hunian yang dilengkapi dengan prasarana dan sarana pendukung sehingga terwujud kota tanpa permukiman kumuh.
3.2.2Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Nasional 2010 – 2014
RPJM Nasional merupakan penjabaran dari visi, misi dan program Presiden hasil Pemilihan Umum tahun 2009. RPJM Nasional memuat strategi pembangunan nasional, kebijakan umum, program Kementerian/Lembaga dan lintas Kementerian/Lembaga, kewilayahan dan lintas kewilayahan, serta kerangka ekonomi makro yang mencakup gambaran perekonomian secara menyeluruh termasuk arah kebijakan fiskal dalam rencana kerja yang berupa kerangka regulasi dan kerangka pendanaan yang bersifat indikatif. RPJM Nasional sebagaimana dimaksud pada ayat berfungsi sebagai:
a. Pedoman bagi Kementerian/Lembaga dalam menyusun Rencana Strategis Kementerian/Lembaga;
b. Bahan penyusunan dan perbaikan RPJM Daerah dengan memperhatikan tugas pemerintah daerah dalam mencapai sasaran Nasional yang termuat dalam RPJM Nasional;
c. Pedoman Pemerintah dalam menyusun Rencana Kerja Pemerintah.
RPJMN 2010-2014 yang ditetapkan melalui Peraturan Presiden No. 5 Tahun 2010 ini menyebutkan bahwa infrastruktur merupakan salah satu prioritas pembangunan nasional untuk mendorong pertumbuhanekonomi dan sosial yang berkeadilan dengan mendorong partisipasi masyarakat Dalam rangka pemenuhan hak dasar untuk tempat tinggal dan lingkungan yang layak sesuai dengan UUD 1945 Pasal 28H, pemerintah memfasilitasi penyediaan perumahan bagi masyarakat berpendapatan rendah serta memberikan dukungan penyediaan prasarana dan sarana dasar permukiman, seperti air minum, air limbah,persampahan dan drainase.
Dokumen RPJMN juga menetapkan sasaran pembangunan infrastrukturpermukiman pada periode 2010-2014, yaitu:
Laporan Akhir III-6 b. Terwujudnya kondisi Stop Buang Air Besar Sembarangan (BABS) hingga akhir tahun 2014, yang ditandai dengan tersedianya akses terhadap sistem pengelolaan air limbah terpusat (off-site) bagi 10% total penduduk, baik melalui sistem pengelolaan air limbah terpusat skala kota sebesar 5% maupun sistem pengelolaan air limbah terpusat skala komunal sebesar 5 % serta penyediaan akses dan peningkatan kualitas sistem pengelolaan air limbah setempat (on-site) yang layak bagi 90 % total penduduk.
c. Tersedianya akses terhadap pengelolaan sampah bagi 80 % rumah tangga di daerah perkotaan.
d. Menurunnya luas genangan sebesar 22.500 Ha di 100 kawasan strategis perkotaan. Untuk mencapai sasaran tersebut maka kebijakan pembangunan diarahkan untuk meningkatkan aksesibilitas masyarakat terhadap layanan air minum dan sanitasi yang memadai, melalui:
a. menyediakan perangkat peraturan di tingkat Pusat dan/atau Daerah, b. memastikan ketersediaan air baku air minum,
c. meningkatkan prioritas pembangunan prasarana dan sarana permukiman,
d. meningkatkan kinerja manajemen penyelenggaraan air minum, penanganan air limbah, dan pengelolaan persampahan,
e. meningkatkan sistem perencanaan pembangunan air minum dan sanitasi, f. meningkatkan cakupan pelayanan prasarana permukiman,
g. Meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS),
h. Mengembangkan alternatif sumber pendanaan bagi pembangunan infrastruktur, i. meningkatkan keterlibatan masyarakat dan swasta,
j. mengurangi volume air limpasan, melalui penyediaan bidang resapan.
Laporan Akhir III-7 diharapkan pertumbuhan ekonomi riil rata-rata sekitar 7-9 persen per tahun secara berkelanjutan.
Berdasarkan arahan Peraturan Presiden Nomor 32 Tahun 2011 tentang Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia 2011-2025, Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) merupakan arahan strategis dalam percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi Indonesia untuk periode 15 (lima belas) tahun terhitung sejak tahun 2011 sampai dengan tahun 2025 dalam rangka pelaksanaan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional 2005-2025 dan melengkapi dokumen perencanaan.
Pelaksanaan MP3EI dilakukan untuk mempercepat dan memperluas pembangunan ekonomi melalui pengembangan 8 (delapan) program utama yang terdiri dari 22 (dua puluh dua) kegiatan ekonomi utama. Strategi pelaksanaan MP3EI dilakukan dengan mengintegrasikan 3 (tiga) elemen utama yaitu:
1. Mengembangkan potensi ekonomi wilayah di 6 (enam) Koridor Ekonomi Indonesia, yaitu: Koridor Ekonomi Sumatera, Koridor Ekonomi Jawa, Koridor Ekonomi Kalimantan, Koridor Ekonomi Sulawesi, Koridor Ekonomi Bali–Nusa Tenggara, dan Koridor Ekonomi Papua – Kepulauan Maluku
2. Memperkuat konektivitas nasional yang terintegrasi secara lokal dan terhubung secara global (locally integrated, globallyconnected)
3. Memperkuat kemampuan SDM dan IPTEK nasional untuk mendukung pengembangan program utama di setiap koridor ekonomi.
Dalam dokumen MP3EI tersebut pembangunan setiap koridor ekonomi dilakukan sesuai tema pembangunan masing-masing dengan prioritas pada kawasan perhatian investasi (KPI MP3EI). Ditjen Cipta Karya diharapkan dapat mendukung penyediaan infrastruktur permukiman pada KPI Prioritas untuk menunjang kegiatan ekonomi di kawasan tersebut. Kawasan Perhatian Investasi atau KPI dalam MP3EI adalah adalah satu atau lebih kegiatan ekonomi atau sentra produksi yang terikat atau terhubung dengan satu atau lebih faktor konektivitas dan SDM IPTEK. Pendekatan KPI dilakukan untuk mempermudah identifikasi, pemantauan, dan evaluasi atas kegiatan ekonomi atau sentra produksi yang terikat dengan faktor konektivitas dan SDM IPTEK yang sama.
Laporan Akhir III-8 terikat atau terhubung dengan satu atau lebih faktor konektivitas dan SDM IPTEK. Pendekatan KPI dilakukan untuk mempermudah identifikasi, pemantauan, dan evaluasi atas kegiatan ekonomi atau sentra produksi yang terikat dengan faktor konektivitas dan SDM IPTEK yang sama. KPI dapat menjadi KPI prioritas dengan kriteria sebagai berikut:
a. Total nilai investasi pada setiap KPI yang bernilai signifikan
b. Keterwakilan Kegiatan Ekonomi Utama yang berlokasi pada setiap KPI
c. Dukungan Pemerintah dan Pemerintah Daerah terhadap sentra-sentra produksi di masing-masing KPI
d. Kesesuaian terhadap beberapa kepentingan strategis (dampak sosial, dampak ekonomi, dan politik) dan arahan Pemerintah (Presiden RI)
Berdasarkan arahan Peraturan Presiden Nomor 32 Tahun 2011 tentang Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia 2011-2025 Kabupaten Kepahiang termasuk ke dalam wilayah pengembangan MP3EI Koridor Ekonomi Sumatera dengan kegiatan sentra produksi dan pengolahan hasil bumi dan Lumbung Energi Nasional.
3.2.4Masterplan Percepatan dan Perluasan Pengurangan Kemiskinan Indonesia (MP3KI) Sesuai dengan agenda RPJMN 2010-2014, pertumbuhan ekonomi perlu diimbangi dengan upaya pembangunan yang inklusif dan berkeadilan. Dalam upaya menekan angka kemiskinan, pemerintah sejak 2009 mendesain program Masterplan Percepatan dan Perluasan Pengurangan Kemiskinan di Indonesia (MP3KI). Dalam MP3KI, upaya penanggulangan kemiskinan diarahkan untuk mempercepat laju penurunan angka kemiskinan dan memperluas jangkauan penurunan tingkat kemiskinan di semua daerah dan di semua kelompok masyarakat. Program ini langsung menyasar masyarakat bawah yang mengalami kemiskinan ekstrim di Indonesia.
Dalam mencapai misi penanggulangan kemiskinan pada tahun 2025, MP3KI bertumpu pada sinergi dari tiga strategi utama, yaitu:
a. Mewujudkan sistem perlindungan sosial nasional yang menyeluruh, terintegrasi,dan mampu melindungi masyarakat dari kerentanan dan goncangan,
Laporan Akhir III-9 c. Mengembangkan penghidupan berkelanjutan (sustainable livelihood) masyarakat miskin dan rentan melalui berbagai kebijakan dan dukungan di tingkat lokal dan regional dengan memperhatikan aspek.
Kementerian Pekerjaan Umum, khususnya Ditjen Cipta Karya, berperan penting dalam pelaksanaan MP3KI, terutama terkait dengan pelaksanaan program pemberdayaan masyarakat (PNPMPerkotaan/P2KP, PPIP, Pamsimas, Sanimas dsb) serta Program Pro Rakyat.
3.2.5Kawasan Ekonomi Khusus (KEK)
Dalam UU No. 39 Tahun 2009, Kawasan Ekonomi Khusus, yang selanjutnya disebut KEK, adalah kawasan dengan batas tertentu dalam wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia yang ditetapkan untuk menyelenggarakan fungsi perekonomian dan memperoleh fasilitas tertentu. KEK dikembangkan melalui penyiapan kawasan yang memiliki keunggulan geoekonomi dan geostrategi dan berfungsi untuk menampung kegiatan industri, ekspor, impor, dan kegiatan ekonomi lain yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan daya saing internasional. KEK terdiri atas satu atau beberapa zona, yaitu: Pengolahan ekspor; Logistik; Industri; Pengembangan teknologi; Pariwisata; Energi; dan/atau dan Ekonomi lain.
Pembentukan KEK tersebut dapat melalui usulan dari Badan Usaha yang didirikan di Indonesia, pemerintah kabupaten/kota, dan pemerintah provinsi, yang ditujukan kepada Dewan Nasional. Selain itu, Pemerintah Pusat juga dapat menetapkan suatu wilayah sebagai KEK yang dilakukan berdasarkan usulan kementerian/lembaga pemerintah non kementerian. Sedangkan lokasi KEK yang diusulkan dapat merupakan area baru maupun perluasan dari KEK yang sudah ada. Lokasi yang dapat diusulkan untuk menjadi KEK harus memenuhi kriteria:
a. Sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah dan tidak berpotensi mengganggu kawasan lindung
b. Pemerintah provinsi/kabupaten/kota yang bersangkutan mendukung KEK;
c. Terletak pada posisi yang dekat dengan jalur perdagangan internasional atau dekat dengan jalur pelayaran internasional di Indonesia atau terletak pada wilayah potensi sumber daya unggulan, dan
Laporan Akhir III-10 Di samping zona ekonomi, didalam KEK juga dilengkapi fasilitas pendukung dan perumahan bagi pekerja. Di dalam setiap KEK disediakan lokasi untuk usaha mikro, kecil, menengah (UMKM), dan koperasi, baik sebagai Pelaku Usaha maupun sebagai pendukung kegiatan perusahaan yang berada di dalam KEK.
Ditjen Cipta Karya dalam hal ini diharapkan dapat mendukung infrastruktur permukiman pada kawasan tersebut sehingga menunjang kegiatan ekonomi di KEK. Berdasarkan arahan Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2011 tentang Penyelenggaraan Kawasan Ekonomi Khusus, Kabupaten Kepahiang tidak termasuk ke dalam Kawasan Ekonomi Khusus maupun usulan lokasi Kawasan Ekonomi Khusus. Kawasan Ekonomi Khusus di wilayah Sumatera meliputi KEK Sei Mangke dan KEK Tanjung Api-api.
3.2.6Direktif Presiden Progam Pembangunan Berkeadilan
Dalam Inpres No. 3 Tahun 2010, Presiden RI mengarahkan seluruh Kementerian, Gubernur, Walikota/Bupati, untuk menjalankan program pembangunan berkeadilan yang meliputi Program pro rakyat, Keadilan untuk semua, dan Program Pencapaian MDGs. Ditjen Cipta Karya memiliki peranan penting dalam pelaksanaan Program Pro Rakyat terutama program air bersih untuk rakyat dan program peningkatan kehidupan masyarakat perkotaan. Sedangkan dalam pencapaian MDGs, Ditjen Cipta Karya berperan dalam peningkatan akses pelayanan air minum dan sanitasi yang layak serta pengurangan permukiman kumuh.
3.3 AMANAT PERATURAN PERUNDANGAN PEMBANGUNAN TERKAIT BIDANG CIPTA KARYA
Ditjen Cipta Karya dalam melakukan tugas dan fungsinya selalu dilandasi peraturan perundangan yang terkait dengan bidang Cipta Karya, antara lain UU No. 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman, UU No. 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung, UU No. 7 tahun 2008 tentang Sumber Daya Air, UU No. 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Persampahan, target Direktorat Jenderal Cipta Karya, dan Standar Pelayanan Minimal.
3.3.1 Undang-Undang No. 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Permukiman
Laporan Akhir III-11 a. Menyusun dan melaksanakan kebijakan dan strategi pada tingkat kabupaten/kota di bidang perumahan dan kawasan permukiman dengan berpedoman pada kebijakan dan strategi nasional dan provinsi.
b. Menyusun dan rencana pembangunan dan pengembangan perumahan dan kawasan permukiman pada tingkat kabupaten/kota.
c. Menyelenggarakan fungsi operasionalisasi dan koordinasi terhadap pelaksanaan kebijakan kabupaten/kota dalam penyediaan rumah, perumahan, permukiman, lingkungan hunian, dan kawasan permukiman.
d. Melaksanakan pengawasan dan pengendalian terhadap pelaksanaan peraturan perundang-undangan, kebijakan, strategi, serta program di bidang perumahan dan kawasan permukiman pada tingkat kabupaten/kota.
e. Melaksanakan kebijakan dan strategi pada tingkat kabupaten/kota.
f. Melaksanakan melaksanakan peraturan perundang-undangan serta kebijakan dan strategi penyelenggaraan perumahan dan kawasan permukiman pada tingkat kabupaten/kota.
g. Melaksanakan peningkatan kualitas perumahan dan permukiman.
h. Melaksanakan kebijakan dan strategi provinsi dalam penyelenggaraan perumahan dan kawasan permukiman berpedoman pada kebijakan nasional.
i. Melaksanakan pengelolaan prasarana, sarana, dan utilitas umum perumahan dan kawasan permukiman.
j. Mengawasi pelaksanaan kebijakan dan strategi nasional dan provinsi di bidang perumahan dan kawasan permukiman pada tingkat kabupaten/kota.
k. Menetapkan lokasi Kasiba dan Lisiba.
Adapun wewenangPemerintah Kabupaten/Kota dalam menjalankan tugasnya yaitu: a. Menyusun dan menyediakan basis data perumahan dan kawasan permukiman pada
tingkat kabupaten/kota.
b. Menyusun dan menyempurnakan peraturan perundang-undangan bidang perumahan dan kawasan permukiman pada tingkat kabupaten/kota.
Laporan Akhir III-12 d. Melaksanakan sinkronisasi dan sosialisasi peraturan perundangundangan serta kebijakan dan strategi penyelenggaraan perumahan dan kawasan permukiman pada tingkat kabupaten/kota.
e. Mencadangkan atau menyediakan tanah untuk pembangunan perumahan dan permukiman bagi MBR.
f. Menyediakan prasarana dan sarana pembangunan perumahan bagi MBR pada tingkat kabupaten/kota.
g. Memfasilitasi kerja sama pada tingkat kabupaten/kota antara pemerintah kabupaten/kota dan badan hukum dalam penyelenggaraan perumahan dan kawasan permukiman.
h. Menetapkan lokasi perumahan dan permukiman sebagai perumahan kumuh dan permukiman kumuh pada tingkat kabupaten/kota.
i. Memfasilitasi peningkatan kualitas terhadap perumahan kumuh dan permukiman kumuh pada tingkat kabupaten/kota.
Di samping mengatur tugas dan wewenang, Undang-Undang ini juga mengatur penyelenggaraan perumahan dan kawasan permukiman, pemeliharaan dan perbaikan, pencegahan dan peningkatan kualitas terhadap perumahan kumuh dan permukiman kumuh, penyediaan tanah pendanaan dan pembiayaan, hak kewajiban dan peran masyarakat. Undang-Undang ini mendefinisikan permukiman kumuh sebagai permukiman yang tidak layak huni karena ketidakteraturan bangunan, tingkat kepadatan bangunan yang tinggi, dan kualitas bangunan serta sarana dan prasarana yang tidak memenuhi syarat. Untuk itu perlu dilakukan upaya pencegahan, terdiri dari pengawasan, pengendalian, dan pemberdayaan masyarakat, serta upaya peningkatan kualitas permukiman, yaitu pemugaran, peremajaan, dan permukiman kembali.
3.3.2 Undang-Undang No. 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung
Undang-Undang No 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung merupakan undang– undang yang dibuat oleh Pemerintah Republik Indonesia dalam mengatur semua pekerjaan yang berkaitan dengan pembangunan terutama Gedung, sehingga dapat dikontrol dan diuji kualitasnya. Undang–undang ini menjadi dasar pedoman pelaksanaan semua proses pembangunan geduang di Indonesia.
Laporan Akhir III-13 sebagian atau seluruhnya berada di atas dan/atau di dalam tanah dan/atau air, yang berfungsi sebagai tempat manusia melakukan kegiatannya, baik untuk hunian atau tempat tinggal, kegiatan keagamaan, kegiatan usaha, kegiatan sosial, budaya, maupun kegiatan khusus. Adapun penyelenggaraan bangunan gedung adalah kegiatan pembangunan yang meliputi proses perencanaan teknis dan pelaksanaan konstruksi, serta kegiatan pemanfaatan, pelestarian, dan pembongkaran.
Setiap bangunan gedung harus memenuhi persyaratan administratif dan persyaratan teknis sesuai dengan fungsi bangunan gedung. Persyaratan administratif meliputi persyaratan status hak atas tanah, status kepemilikan bangunan gedung, dan izin mendirikan bangunan. Sedangkan persyaratan teknis meliputi persyaratan tata bangunan dan persyaratan keandalan bangunan gedung. Persyaratan tata bangunan meliputi persyaratan peruntukan dan intensitas bangunan gedung, arsitektur bangunan gedung, dan persyaratan pengendalian dampak lingkungan, yang ditetapkan melalui Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL).
Di samping itu, peraturan tersebut juga mengatur beberapa hal sebagai berikut:
a. Keseimbangan, keserasian, dan keselarasan bangunan gedung dengan lingkungannya harus mempertimbangkan terciptanya ruang luar bangunan gedung, ruang terbuka hijau yang seimbang, serasi, dan selaras dengan lingkungannya. Di samping itu, sistem penghawaan, pencahayaan, dan pengkondisian udara dilakukan dengan mempertimbangkan prinsip-prinsip penghematan energi dalam bangunan gedung (amanat green building).
b. Bangunan gedung dan lingkungannya yang ditetapkan sebagai cagar budaya sesuai dengan peraturan perundang-undangan harus dilindungi dan dilestarikan. Pelaksanaan perbaikan, pemugaran, perlindungan, serta pemeliharaan atas bangunan gedung dan lingkungannya hanya dapat dilakukan sepanjang tidak mengubah nilai dan/atau karakter cagar budaya yang dikandungnya.
c. Penyediaan fasilitas dan aksesibilitas bagi penyandang cacat dan lanjut usia merupakan keharusan bagi semua bangunan gedung.
3.3.3 Undang-Undang No. 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air
Laporan Akhir III-14 longsor. Namun kekurangan air terutama pada musim kemarau juga menimbulkan masalah, yaitu timbulnya bencana kekeringan. Keberadaaan, ketersediaan, kebutuhan dan penggunaan sumber daya air tergantung dari banyak aspek yang saling mempengaruhi saling memberikan dampak baik yang positif maupun negatif. Sejarah terbitnya Undang-Undang Sumber Daya Air ini merupakan suatu proses yang cukup panjang. Ada yang pro maupun ada yang kontra untuk diterbitkan. Isu-isu timbul selama proses penerbitannya, antara lain privatisasi, ekspor air, peningkatan fungsi ekonomi dan berkurangnya fungsi sosial yang akan menimbulkan kerugian bagi masyarakat. Hal ini sekaligus membuktikan bahwa air merupakan kepentingan semua pihak (water is everyone's business).
Kebutuhan masyarakat terhadap air yang semakin meningkat mendorong lebih menguatnya nilai ekonomi air dibanding nilai dan fungsi sosialnya. Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan konflik kepentingan antarsektor, antarwilayah dan berbagai pihak yang terkait dengan sumber daya air. Di sisi lain, pengelolaan sumber daya air yang lebih bersandar pada nilai ekonomi akan cenderung lebih memihak kepada pemilik modal serta dapat mengabaikan fungsi sosial sumber daya air. Berdasarkan pertimbangan tersebut undang-undang ini lebih memberikan perlindungan terhadap kepentingan kelompok masyarakat ekonomi lemah dengan menerapkan prinsip pengelolaan sumber daya air yang mampu menyelaraskan fungsi sosial, lingkungan hidup, dan ekonomi.
Hak guna pakai air untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari bagi perseorangan dan pertanian rakyat yang berada di dalam sistem irigasi dijamin oleh Pemerintah atau pemerintah daerah. Hak guna pakai air untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari bagi perseorangan dan pertanian rakyat tersebut termasuk hak untuk mengalirkan air dari atau ke tanahnya melalui tanah orang lain yang berbatasan dengan tanahnya. Pemerintah atau pemerintah daerah menjamin alokasi air untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari bagi perseorangan dan pertanian rakyat tersebut dengan tetap memperhatikan kondisi ketersediaan air yang ada dalam wilayah sungai yang bersangkutan dengan tetap menjaga terpeliharanya ketertiban dan ketentraman.
Laporan Akhir III-15 Pemerintah, pemerintah provinsi, dan pemerintah kabupaten/kota didasarkan pada keberadaan wilayah sungai yang bersangkutan, yaitu:
a. Wilayah sungai lintas provinsi, wilayah sungai lintas negara, dan/atau wilayah sungai strategis nasional menjadi kewenangan Pemerintah.
b. Wilayah sungai lintas kabupaten/kota menjadi kewenangan pemerintah provinsi; c. Wilayah sungai yang secara utuh berada pada satu wilayah kabupaten/kota menjadi
kewenangan pemerintah kabupaten/kota;
Di samping itu, undang-undang ini juga memberikan kewenangan pengelolaan sumber daya air kepada pemerintah desa atau yang disebut dengan nama lain sepanjang kewenangan yang ada belum dilaksanakan oleh masyarakat dan/atau oleh pemerintah di atasnya. Kewenangan dan tanggung jawab pengelolaan sumber daya air tersebut termasuk mengatur, menetapkan, dan memberi izin atas peruntukan, penyediaan, penggunaan, dan pengusahaan sumber daya air pada wilayah sungai dengan tetap dalam kerangka konservasi dan pengendalian daya rusak air.
Pengusahaan sumber daya air diselenggarakan dengan tetap memperhatikan fungsi sosial sumber daya air dan kelestarian lingkungan hidup. Pengusahaan sumber daya air yang meliputi satu wilayah sungai hanya dapat dilakukan oleh badan usaha milik negara atau badan usaha milik daerah di bidang pengelolaan sumber daya air atau kerja sama antara keduanya, dengan tujuan untuk tetap mengedepankan prinsip pengelolaan yang selaras antara fungsi sosial, fungsi lingkungan hidup, dan fungsi ekonomi sumber daya air.
3.3.4 Undang-Undang No. 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Persampahan
Definisi sampah, sebagaimana yang tertulis dalam Undang-Undang No. 18 Tahun 2008, adalah sisa kegiatan sehari-hari manusia dan/atau proses alam yang berbentuk padat. Yang termasuk jenis sampah adalah sampah rumah tangga (tidak termasuk tinja), sampah sejenis sampah rumah tangga yang berasal dari kawasan komersial, kawasan industri, kawasan khusus, fasilitas sosial, fasilitas umum dan fasilitas lainnya serta sampah spesifik. Yang terakhir ini adalah sampah yang mengandung bahan berbahaya dan beracun dan limbah bahan berbahaya dan beracun, sampah yang timbul akibat bencana, puing bongkaran bangunan, sampah yang secara teknologi belum dapat diolah, dan sampah yang timbul secara tidak periodik.
Laporan Akhir III-16 untuk meningkatkan kesehatan masyarakat dan kualitas lingkungan serta menjadikan sampah sebagai sumber daya. Pengelolaan sampah rumah tangga dan sampah sejenis sampah rumah tangga dilakukan dengan pengurangan sampah, dan penanganan sampah. Upaya pengurangan sampah dilakukan dengan pembatasan timbulan sampah, pendauran ulang sampah, dan pemanfaatan kembali sampah. Sedangkan kegiatan penanganan sampah meliputi:
a. pemilahan dalam bentuk pengelompokan dan pemisahan sampah sesuai dengan jenis, jumlah, dan/atau sifat sampah,
b. pengumpulan dalam bentuk pengambilan dan pemindahan sampah dari sumber sampah ke tempat penampungan sementara atau tempat pengolahan sampah terpadu,
c. pengangkutan dalam bentuk membawa sampah dari sumber dan/atau dari tempat penampungan sampah sementara atau dari tempat pengolahan sampah terpadu menuju ke tempat pemrosesan akhir,
d. pengolahan dalam bentuk mengubah karakteristik,komposisi, dan jumlah sampah, e. pemrosesan akhir sampah dalam bentuk pengembalian sampah dan/atau residu hasil
pengolahan sebelumnya ke media lingkungan secara aman.
Dalam undang-undang pengelolaan sampah ini juga disebutkan larangan bagi setiap orang untuk memasukkan sampah ke dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, mengimpor sampah, mencampur sampah dengan limbah berbahaya dan beracun, mengelola sampah yang menyebabkan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan, membuang sampah tidak pada tempat yang telah ditentukan dan disediakan, melakukan penanganan sampah dengan pembuangan terbuka di tempat pemrosesan akhir serta membakar sampah yang tidak sesuai dengan persyaratan teknis pengelolaan sampah. Oleh karena itu, Pemerintah daerah harus menutup tempat pemrosesan akhir sampah yang menggunakan sistem pembuangan terbuka dan mengembangkan TPA dengan sistem controlled landfill ataupun sanitary landfill.
3.3.5Undang-Undang No. 20 Tahun 2011 tentang Rumah Susun
Laporan Akhir III-17 distrukturkan secara fungsional, baik dalam arah horizontal maupun vertikal dan merupakan satuan-satuan yang masing-masing dapat dimiliki dan digunakan secara terpisah, terutama untuk tempat hunian yang dilengkapi dengan bagian bersama, benda bersama, dan tanah bersama. Peraturan ini juga mengatur perihal pembinaan, perencanaan, pembangunan, penguasaan, pemilikan, dan pemanfaatan, pengelolaan, peningkatan kualitas, pengendalian, kelembagaan, tugas dan wewenang, hak dan kewajiban, pendanaan dan sistem pembiayaan, dan peran masyarakat.
3.3.6 Target Direktorat Jenderal Cipta Karya
Dalam konteks nasional terdapat target dalam Bidang Cipta Karya yang diharapkan tercapai pada tahun 2020. Target tersebut adalah target 100-0-100, yaitu:
a. Target capaian air minum tahun 2020 adalah 100% seluruh masyarakat Indonesia b. Target capaian rumah kumuh tahun 2020 adalah 0% di Indonesia
c. Target capaian sanitasi tahun 2020 adalah 100% seluruh masyarakat Indonesia. 3.3.7 Permen PU No. 01 Tahun 2014 (Standar Pelayanan Minimal Bidang Cipta Karya)
Standar Pelayanan Minimal untuk Bidang Cipta Karya menurut Permen PU No. 01 Tahun 2014 tentang Standar Pelayanan Minimal Bidang Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang adalah:
a. Penyediaan Air Minum. Air minum adalah air minum rumah tangga yang melalui proses pengolahan atau tanpa proses pengolahan yang memenuhi syarat kesehatan dan dapat langsung diminum. Penyediaan air minum adalah kegiatan menyediakan air minum untuk memenuhi kebutuhan masyarakat agar mendapatkan kehidupan yang sehat, bersih, dan produktif. Sasaran yang ingin dicapai adalah meningkatnya kualitas layanan air minum permukiman perkotaan. Adapun target capaian tahun 2019 untuk SPM ini adalah 81,77% penduduk mendapatkan akses air minum yang aman melalui SPAM dengan jaringan perpipaan dan bukan jaringan perpipaan terlindungi dengan kebutuhan pokok minimal 60 liter/orang/hari.
Laporan Akhir III-18 limbah, persampahan dan drainase) permukiman perkotaan. Target pencapaian untuk SPM ini untuk tahun 2019 adalah:
i. Pengelolaan Air Limbah Permukiman. Target SPM untuk pengelolaan air limbah permukiman adalah 60% penduduk terlayani sistem pengelolaan air limbah yang memadai.
ii. Pengelolaan Sampah. Target SPM untuk pengelolaan sampah adalah 20% penduduk pengurangan sampah di perkotaan, 70% penduduk terlayani sistem pengangkutan sampah di perkotaan, dan 70% pengoperasian Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) sampah.
iii. Drainase. Target SPM untuk drainase adalah 50% penduduk terlayani sistem jaringan drainase skala kota dan pengurangan luas genangan (lebih dari 30 cm selama 2 jam, lebih dari 2 kali setahun) sebanyak 50%.
c. Penataan Bangunan dan Lingkungan. Penataan bangunan dan lingkungan ini sangat terkait dengna penerbitan Izin Mendirikan Bangunan (IMB). Izin Mendirikan Bangunan (IMB) adalah perizinan yang diberikan oleh pemerintah kabupaten/kota, dan oleh pemerintah atau pemerintah provinsi untuk bangunan gedung fungsi khusus kepada pemilik bangunan gedung untuk kegiatan meliputi:
Pembangunan bangunan gedung baru, dan/atau prasarana bangunan gedung; Rehabilitasi/renovasi bangunan gedung dan/atau prasarana bangunan gedung
meliputi perbaikan/perawatan, perubahan, perluasan/pengurangan; dan Pelestarian/pemugaran.
Sasaran untuk SPM ini adalah meningkatnya tertib pembangunan gedung. Adapun target untuk SPM in pada tahun 2019 adalah jumlah IMB yang diterbitkan sebanyak 60%.
Laporan Akhir III-19 3.4 AMANAT INTERNASIONAL
Pemerintah Indonesia secara aktif terlibat dalam dialog internasional dan perumusan kesepakatan bersama di bidang permukiman. Beberapa amanat internasional yang perlu diperhatikan dalam pengembangan kebijakan dan program bidang Cipta Karya meliputi Agenda Habitat, Konferensi Rio+20, Millenium Development Goals, serta Agenda Pembangunan Pasca 2015.
3.4.1Agenda Habitat
Pada tahun 1996, di Kota Istanbul Turki diselenggarakan Konferensi Habitat II sebagai kelanjutan dari Konferensi Habitat I di Vancouver tahun 1976. Konferensi tersebut menghasilkan Agenda Habitat, yaitu dokumen kesepakatan prinsip dan sasaran pembangunan permukiman yang menjadi panduan bagi negara-negara dunia dalam menciptakan permukiman yang layak dan berkelanjutan.
Salah satu pesan inti yang menjadi komitmen negara-negara dunia, termasuk Indonesia, adalah penyediaan tempat hunian yang layak bagi seluruh masyarakat tanpa terkecuali, serta meningkatkan akses air minum, sanitasi, dan pelayanan dasar terutama bagi masyarakat berpenghasilan rendah dan kelompok rentan. Pemukiman manusia harus direncanakan, dikembangkan dan ditingkatkan dengan cara yang memperhitungkan penuh prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan dan semua komponennya, sebagaimana tercantum dalam Agenda 21 dan terkait hasil dari Konferensi PBB tentang Lingkungan dan Pembangunan. Pembangunan pemukiman manusia berkelanjutan harus menjamin pembangunan ekonomi, kesempatan kerja dan kemajuan sosial, selaras dengan lingkungan. Ini mencakup prinsip-prinsip Deklarasi Rio tentang Lingkungan Hidup dan Pembangunan, yang merupakan hasil dari Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Lingkungan dan Pembangunan, prinsip-prinsip pendekatan kehati-hatian, pencegahan polusi, perhatian terhadap daya dukung ekosistem, dan pelestarian peluang untuk generasi masa depan. Produksi, konsumsi dan transportasi harus dikelola dengan cara yang dapat melindungi dan melestarikan stok sumber daya. Ilmu pengetahuan dan teknologi memiliki peran penting dalam membentuk pemukiman manusia yang berkelanjutan dan mempertahankan ekosistem mereka.
3.4.2Rio + 20
Laporan Akhir III-20 PBB terbesar yang pernah diselenggarakan dengan jumlah peserta sebanyak 29.373 orang yang terdiri dari para pemimpin Pemerintah, bisnis dan organisasi kemasyarakatan, pejabat PBB, akademisi, wartawan dan masyarakat umum (Delegasi sekitar 12.000 orang, LSM dan Kelompok Utama 10.047 orang dan Media 3.989 orang).
KTT Rio+20 menyepakati Dokumen The Future We Want yang menjadi arahan bagi pelaksanaan pembangunan berkelanjutan di tingkat global, regional, dan nasional. Dokumen memuat kesepahaman pandangan terhadap masa depan yang diharapkan oleh dunia (common vision) dan penguatan komitmen untuk menuju pembangunan berkelanjutan (renewing political commitment). Dokumen ini memperkuat penerapan Rio Declaration 1992 dan Johannesburg Plan of Implementation 2002.
Dalam dokumen The Future We Want, terdapat 3 (tiga) isu utama bagi pelaksanaan pembangunan berkelanjutan, yaitu:
1. Green Economy in the context of sustainable development and poverty eradication, 2. pengembangan kerangka kelembagaan pembangunan berkelanjutan tingkat global
(Institutional Framework for Sustainable Development), serta
3. kerangka aksi dan instrumen pelaksanaan pembangunan berkelanjutan (Framework for Action and Means of Implementation). Kerangka aksi tersebut termasuk penyusunan Sustainable Development Goals (SDGs)post-2015 yang mencakup 3 pilar pembangunan berkelanjutan secara inklusif, yang terinspirasi dari penerapan Millennium Development Goals (MDGs).
Bagi Indonesia, dokumen ini akan menjadi rujukan dalam pelaksanaan rencana pembangunan nasional secara konkrit, termasuk dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2014-2019, dan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (2005-2025). Untuk itu, Kementerian Lingkungan Hidup, instansi Pemerintah terkait dan seluruh pemangku kepentingan akan menyusun langkah tindak lanjut yang lebih konkrit untuk pelaksanaan kebijakan di lingkup masing-masing.
Laporan Akhir III-21 Konferensi Rio+20 ini menghasilkan lebih dari US$ 513 Milyar yang dialokasikan dalam komitmen untuk pembangunan berkelanjutan, termasuk di bidang energi, transportasi, ekonomi hijau, pengurangan bencana, kekeringan, air, hutan dan pertanian. Selain itu terbangun sebanyak 719 komitmen sukarela untuk pembangunan berkelanjutan oleh pemerintah, dunia usaha, kelompok masyarakat sipil, universitas dan lain-lain.
3.4.3Millenium Development Goals
Millennium Development Goals (MDGs) atau dalam bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi Tujuan Pembangunan Milenium, adalah sebuah paradigma pembangunan global, dideklarasikan Konperensi Tingkat Tinggi Milenium oleh 189 negara anggota Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) di New York pada bulan September 2000. Dasar hukum dikeluarkannya deklarasi MDGs adalah Resolusi Majelis Umum Perserikatan Bangsa Bangsa Nomor 55/2 Tangga 18 September 2000, (A/Ris/55/2 United Nations Millennium Development Goals).
Deklarasi MDGs merupakan hasil perjuangan dan kesepakatan bersama antara negara-negara berkembang dan maju. Negera-negara-negara berkembang berkewajiban untuk melaksanakannya, termasuk salah satunya Indonesia dimana kegiatan MDGs di Indonesia mencakup pelaksanaan kegiatan monitoring MDGs. Sedangkan negara-negara maju berkewajiban mendukung dan memberikan bantuan terhadap upaya keberhasilan setiap tujuan dan target MDGs.
Semua negara yang hadir dalam pertemuan tersebut berkomitment untuk mengintegrasikan MDGs sebagai bagian dari program pembangunan nasional dalam upaya menangani penyelesaian terkait dengan isu-isu yang sangat mendasar tentang pemenuhan hak asasi dan kebebasan manusia, perdamaian, keamanan, dan pembangunan. Deklarasi ini merupakan kesepakatan anggota PBB mengenai sebuah paket arah pembangunan global yang dirumuskan dalam beberapa tujuan yaitu:
1. Menanggulangi Kemiskinan dan Kelaparan, 2. Mencapai Pendidikan Dasar untuk semua,
3. Mendorong Kesetaraan Gender, dan Pemberdayaan Perempuan, 4. Menurunkan Angka Kematian Anak,
5. Meningkatkan Kesehatan Ibu,
Laporan Akhir III-22 8. Membangun Kemitraan Global untuk Pembangunan.
Setiap tujuan menetapkan satu atau lebih target serta masing-asing sejumlah indikator yang akan diukur tingkat pencapaiannya atau kemajuannya pada tenggat waktu hingga tahun 2015. Secara global ditetapkan 18 target dan 48 indikator. Meskipun secara global ditetapkan 48 indikator namun implementasinya tergantung pada setiap negara disesuaikan dengan kebutuhan pembangunan dan ketersediaan data yang digunakan untuk mengatur tingkat kemajuannya. Indikator global tersebut bersifat fleksibel bagi setiap negara.
Setiap tujuan (goals) dalam MDGs memiliki satu ataupun beberapa target pencapaian. Dimana antara satu goals MDGs satu dengan yang lainnya saling berkaitan. Adapun pencapaian target (goals) MDGs dalam bidang Cipta Karya tercantum dalam Goal 7: Menjamin kelerstarian lingkungan hidup, dengan memaparkan target :
Target 7C:
Menurunkan hingga separuhnya proporsi rumah tangga tanpa akses berkelanjutan terhadap air minum layak dan sanitasi layak pada tahun 2015.
Target 7D:
Mencapai peningkatan yang signifikan dalam kehidupan penduduk miskin di permukiman kumuh pada tahun 2020.
Adapun indikator MDGs dalam bidang Cipta Karya meliputi: 1. Air Minum yang Layak
Air minum yang layak, adapun indikator yang digunakan dalam pencapaian tersebut adalah:
Sumber air minum yang layak meliputi air minum perpipaan dan air minum non-perpipaan terlindung yang berasal dari sumber air berkualitas dan berjarak sama dengan atau lebih dari 10 meter dari tempat pembuangan kotoran dan/atau terlindung dari kontaminasi lainnya
Sumber air minum layak meliputi air leding, keran umum, sumur bor atau pompa, sumur terlindung dan mata air terlindung, serta air hujan.
Laporan Akhir III-23 2. Sanitasi yang Layak
Indikator yang digunakan dalam pencapaian sanitasi yang layak adalah:
Sarana sanitasi yang aman, higienis dan nyaman yang dapat menjauhkan pengguna dan lingkungan di sekitarnya dari kontak dengan kotoran manusia,
Meliputi kloset dengan leher angsa, toilet guyur (flush toilet) terhubung dengan sistem pipa saluran pembuangan atau tangki septik, termasuk jamban cemplung (pit latrine) terlindung dengan segel slab dan ventilasi serta toilet kompos baik untuk pemakaian pribadi atau bersama
3. Permukiman Kumuh
Indikator dalam permukiman kumuh adalah :
Tidak adanya akses terhadap sumber air minum layak, tidak adanya akses terhadap sanitasi dasar yang layak,
luas minimal lantai hunian >7,2 m2 per kapita (Permenpera Nomor 22/PERMEN/M/2008),
daya tahan material hunian.
Keterkaitan MDGs dengan pembangunan terpaparkan dalam target-target MDGS yang telah diakomodasikan dalam RPJMN sebagai suatu mainstreaming dalam bentuk program, indikator maupun target. Selain itu juga keterkaitan tersebut terlihat dalam adanya indikatif dukungan pembiayan.
Laporan Akhir III-24 3.4.4 Agenda Pembangunan Pasca 2015
Pada Juli 2012, Sekjen PBB membentuk sebuah Panel Tingkat Tinggi untuk memberi masukan kerangka kerja agenda pembangunan global pasca 2015. Panel ini diketuai bersama oleh Presiden Indonesia, Bapak Susilo Bambang Yudhoyono, Presiden Ellen Johnson Sirleaf dari Liberia, dan Perdana Menteri David Cameron dari Inggris, dan beranggotakan 24 orang dari berbagai negara. Pada Mei 2013, panel tersebut mempublikasikan laporannya kepada Sekretaris Jenderal PBB berjudul “A New Global Partnership: Eradicate Poverty and Transform Economies Through Sustainable
Development”. Isinya adalah rekomendasi arahan kebijakan pembangunan global pasca-2015 yang dirumuskan berdasarkan tantangan pembangunan baru, sekaligus pelajaran yang diambil dari implementasi MDGs.
Dalam dokumen tersebut, dijabarkan 12 sasaran indikatif pembangunan global pasca 2015, sebagai berikut:
1. Mengakhiri kemiskinan
2. Memberdayakan perempuan dan anak serta mencapai kesetaraan gender 3. Menyediakan pendidikan yang berkualitas dan pembelajaran seumur hidup 4. Menjamin kehidupan yang sehat
5. Memastikan ketahanan pangan dan gizi yang baik 6. Mencapai akses universal ke Air Minum dan Sanitasi 7. Menjamin energi yang berkelanjutan
8. Menciptakan lapangan kerja, mata pencaharian berkelanjutan, dan pertumbuhan berkeadilan
9. Mengelola aset sumber daya alam secara berkelanjutan
10. Memastikan tata kelola yang baik dan kelembagaan yang efektif 11. Memastikan masyarakat yang stabil dan damai
12. Menciptakan sebuah lingkungan pemungkin global dan mendorong 13. pembiayaan jangka panjang.
Dari sasaran indikatif tersebut, Ditjen Cipta karya berkepentingan dalam pencapaian sasaran 6 yaitu mencapai akses universal ke air minum dan sanitasi. Adapun target yang diusulkan dalam pencapaian sasaran tersebut adalah:
Laporan Akhir III-25 b. Mengakhiri buang air besar sembarangan dan memastikan akses universal ke sanitasi di sekolah dan di tempat kerja, dan meningkatkan akses sanitasi di rumah tangga sebanyak x%,
c. Menyesuaikan kuantitas air baku (freshwater withdrawals) dengan pasokan air minum, serta meningkatkan efisiensi air untuk pertanian sebanyak x%, industri sebanyak y% dan daerah-daerah perkotaan sebanyak %,
d. Mendaur ulang atau mengolah semua limbah cair dari daerah perkotaan dan dari industri sebelum dilepaskan.
Selain memperhatikan sasaran dan target indikatif, dokumen laporan tersebut juga menekankan pentingnya kemitraan baik secara global maupun lokal antar pemangku kepentingan pembangunan. Kemitraan yang dimaksud memiliki prinsip inklusif, terbuka, dan akuntabel dimana seluruh pihak duduk bersama-sama untuk bekerja bukan tentang bantuan saja, melainkan juga mendiskusikan kerangka kebijakan untuk mencapai pembangunan berkelanjutan.
3.5 ARAHAN STRATEGIS BIDANG CIPTA KARYA DALAM PENATAAN RUANG DI KABUPATEN KEPAHIANG
3.5.1 Kabupaten Kepahiang dalam Konteks Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional
Rencana Tata Ruang Wilayah memuat arahan struktur ruang dan pola ruang. Struktur ruang adalah susunan pusat-pusat permukiman dan sistem jaringan prasarana dan sarana yang berfungsi sebagai pendukung kegiatan sosial ekonomi masyarakat yang secara hirarkis memiliki hubungan fungsional, sedangkan pola ruang adalah distribusi peruntukan ruang dalam suatu wilayah yang meliputi peruntukan ruang untuk fungsi lindung dan peruntukan ruang untuk fungsi budidaya. Pembangunan bidang Cipta Karya harus memperhatikan arahan struktur dan pola ruang yang tertuang dalam RTRW, selain untuk mewujudkan permukiman yang layak huni dan berkelanjutan juga dapat mewujudkan tujuan dari penyelenggaraan penataan ruang yaitu keharmonisan antara lingkungan alam dan lingkungan buatan, keterpaduan dalam penggunaan sumber daya alam dan sumber daya buatan dengan memperhatikan sumber daya manusia, serta peRlindungan fungsi ruang dan pencegahan dampak negatif terhadap lingkungan akibat pemanfaatan ruang.
Laporan Akhir III-26 wilayah nasional; perwujudan keterpaduan, keterkaitan, dan keseimbangan perkembangan antarwilayah provinsi, serta keserasian antarsektor; penetapan lokasi dan fungsi ruang untuk investasi; penataan ruang untuk kawasan strategis nasional, dan penataan ruang wilayah provinsi dan kabupaten/kota. Penataan ruang wilayah nasional diperlukan untuk dapat mewujudkan:
a. ruang wilayah nasional yang aman, nyaman, produktif, dan berkelanjutan; b. keharmonisan antara lingkungan alamdan lingkungan buatan;
c. keterpaduan perencanaan tata ruang wilayah nasional, provinsi, dan kabupaten/kota;
d. keterpaduan pemanfaatan ruang darat, ruang laut, dan ruang udara, termasuk ruang di dalam bumi dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia;
e. keterpaduan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah nasional, provinsi, dan kabupaten/kota dalam rangka pelindungan fungsi ruang dan pencegahan dampak negatif terhadap lingkungan akibat pemanfaatan ruang;
f. pemanfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat;
g. keseimbangan dan keserasian perkembangan antarwilayah; h. keseimbangan dan keserasian kegiatan antar sektor; dan
i. pertahanan dan keamanan negara yang dinamis serta integrasi nasional.
Untuk dapat mencapai tujuan seperti tersebut di atas, diperlukan kebijakan penataan ruang yang dapat mendukung pencapaian tujuan tersebut, di antaranya kebijakan struktur ruang dan kebijakan pola ruang.
Kebijakan pengembangan struktur ruang meliputi:
a. peningkatan akses pelayanan perkotaan dan pusat pertumbuhan ekonomi wilayah yang merata dan berhierarki; dan
b. peningkatan kualitas dan jangkauan pelayanan jaringan prasarana transportasi, telekomunikasi, energi, dan sumber daya air yang terpadu dan merata di seluruh wilayah nasional.
Kebijakan pengembangan kawasan lindung meliputi:
Laporan Akhir III-27 Kebijakan pengembangan kawasan budi daya meliputi:
a. perwujudan dan peningkatan keterpaduan dan keterkaitan antarkegiatan budi daya; dan
b. pengendalian perkembangan kegiatan budi daya agar tidak melampaui daya dukung dan daya tampung lingkungan.
Kebijakan pengembangan kawasan strategis nasional meliputi:
a. pelestarian dan peningkatan fungsi dan daya dukung lingkungan hidup untuk mempertahankan dan meningkatkan keseimbangan ekosistem, melestarikan keanekaragaman hayati, mempertahankan dan meningkatkan fungsi perlindungan kawasan, melestarikan keunikan bentang alam, dan melestarikan warisan budaya nasional;
b. peningkatan fungsi kawasan untuk pertahanan dan keamanan negara;
c. pengembangan dan peningkatan fungsi kawasan dalam pengembangan perekonomian nasional yang produktif, efisien, dan mampu bersaing dalamperekonomian internasional;
d. pemanfaatan sumber daya alam dan/atau teknologi tinggi secara optimal untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat;
e. pelestarian dan peningkatan sosial dan budaya bangsa;
f. pelestarian dan peningkatan nilai kawasan lindung yang ditetapkan sebagai warisan dunia, cagar biosfer, dan ramsar; dan
g. pengembangan kawasan tertinggal untuk mengurangi kesenjangan tingkat perkembangan antarkawasan.
Arahan-arahan RTRW Nasional yang harus ditindaklanjuti dalam RPI2JM Kabupaten Kepahiang adalah arahan untuk Bidang Cipta Karya, penetapan Pusat Kegiatan Nasional (PKN), Pusat Kegiatan Wilayah (PKW), Pusat Kegiatan Strategis Nasional (PKSN), dan Kawasan Strategis Nasional (KSN). Dalam RTRW Nasional, Kabupaten Kepahiang termasuk ke dalam PKL dan Kawasan Andalan Bengkulu dan Sekitarnya.
3.5.2 Kabupaten Kepahiang dalam Konteks Tata Ruang Wilayah Pulau Sumatera
A. Arahan Pola Pengelolaan Struktur Ruang Wilayah Pulau Sumatera
Arahan pengelolaan struktur ruang wilayah Pulau Sumatera ini terdiri atas : sistem pusat permukiman, dan sistem jaringan prasarana wilayah.
Laporan Akhir III-28 Untuk penetapan PKN (Pusat Kegiatan Nasional), ternyata di Priopinsi Bengkulu tidak ditetapkan adanya PKN. Dalam penetapan PKW (Pusat Kegiatan Wilayah), di Propinsi Bengkulu ditetapkan 2 PKW, yaitu : Bengkulu, dan Manna; yang arah pengembangannya sebagai pusat pelayanan sekunder yang dibatasi perkembangannya sesuai dengan daya dukung lingkungannya. Dalam penetapan Kabupaten Kepahiang termasuk PKL (Pusat Kegiatan Lokal) yang didorong pengembangannya.
2. Arahan Pola Pengelolaan Sistem Jaringan Prasarana Wilayah
Arahan pola pengelolaan sistem jaringan jalan Sumatera yang diprioritaskan penanganannya yang terletak di Propinsi Bengkulu meliputi :
a. Pengembangan jaringan jalan Lintas Barat yang menghubungkan : Bandar Lampung – Manna – Bengkulu – Painan – Padang – Tarutung – Tapaktuan – Meulaboh – Banda Aceh;
b. Pengembangan jaringan jalan pengumpan Lintas Barat – Lintas Timur, yang menghubungkan : Lubuk Linggau – Curup – Bengkulu.
Arahan pola pengelolaan jaringan jalan rel di wilayah Sumatera yang terkena dengan wilayah Propinsi Bengkulu adalah jaringan lintas cabang dengan prioritas tinggi pada ruas-ruas :
Tebing Tinggi – Bengkulu; Bengkulu – Padang.
Arahan pola pengelolaan sistem jaringan prasarana transportasi laut yang diprioritaskan penanganannya yang terletak di Propinsi Bengkulu adalah :
Pelabuhan Pulau Baai, sebagai Pelabuhan Nasional dengan prioritas sedang; Pelabuhan Enggano, sebagai Pelabuhan Pengumpan Regional dengan prioritas
tinggi.
Arahan pengembangan jalur penyeberangan lintas pulau di Propinsi Bengkulu, yaitu jalur Enggano – Bengkulu.
Arahan pola pengelolaan sistem jaringan prasarana transportasi udara yang terletak di Propinsi Bengkulu adalah Bandar Udara Bengkulu, sebagai pelabuhan udara Pusat Penyebaran Sekunder dengan prioritas sedang.
Laporan Akhir III-29 Peningkatan kapasitas tenaga listrik pada PLTA Musi,
Pengembangan jaringan untuk : Curup – Lubuk Linggau.
Arahan pola pengelolaan sistem jaringan prasarana sumber daya air permukaan yang diprioritaskan penanganannya yang terdapat di Propinsi Bengkulu meliputi :
Satuan Wilayah Sungai (SWS) dengan prioritas tinggi pada SWS Musi,
Satuan Wilayah Sungai (SWS) dengan prioritas sedang pada SWS Lais-Bintunan, dan SWS Ipuh-Teramang.
Pemeliharaan, peningkatan dan perluasan jaringan irigasi teknis pada sentra-sentra produksi pangan nasional, yang meliputi : kawasan pertanian tanaman pangan di semua kabupaten, kawasan perkebunan di semua kabupaten, dan kawasan perikanan di Manna.
B. Arahan Pengelolaan Pola Pemanfaatan Ruang
Arahan pengelolaan pola pemanfaatan ruang meliputi : arahan pola pengelolaan kawasan lindung dan arahan pola pengelolaan kawasan budidaya.
1. Arahan Pola Pengelolaan Kawasan Lindung
Arahan pola pengelolaan kawasan yang memberikan perlindungan pada kawasan bawahannya yang diprioritaskan penanganannnya adalah pengendalian luasan kawasan hutan lindung wilayah Sumatera yang meliputi 9.936.680 Ha, dan yang terletak di Propinsi Bengkulu adalah 328.500 Ha.
Arahan pola pengelolaan kawasan suaka alam, pelestarian alam dan cagar budaya yang diprioritaskan penanganannya di Propinsi Bengkulu mencakup :
Pengelolaan Cagar Alam, meliputi : Konak, Daspetah I/II, Manna, Pagar Gunung I/II/III, Taba Penanjung, Cawang I/II, Dusun Besar, Raflesia Serbojadi I/II;
Pengelolaan Taman Buru, meliputi : Semidang Bukit Kabu, Gunung Nanu’ua; Pengelolaan Taman Nasional, meliputi : Taman Nasional Kerinci-Sebelat (TNKS),
dan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS); Pengelolaan Taman Hutan Raya (Tahura) Rajo Lelo.
Arahan pola pengelolaan kawasan rawan bencana lingkungan yang diprioritaskan penanganannya di Propinsi Bengkulu mencakup :
Laporan Akhir III-30 Pengendalian kota-kota dan kawasan budidaya dari bencana gerakan tanah atau
longsor di Kabupaten Rejang Lebong. 2. Arahan Pola Pengelolaan Kawasan Budidaya
Arahan pola pengelolaan kawasan andalan yang diprioritaskan penanganannya di Propinsi Bengkulu mencakup :
Penanganan kawasan dengan prioritas sedang pada Kawasan Andalan Bengkulu dan sekitarnya;
Penanganan kawasan dengan prioritas rendah pada Kawasan Andalan Manna dan sekitarnya.
Arahan pola pengelolaan kawasan andalan laut yang diprioritaskan penangannya di Propinsi Bengkulu mencakup :
Penanganan kawasan dengan prioritas sedang pada Kawasan Andalan Laut Bengkulu;
Pengembangan kota pantai di Manna, yang dilengkapi dengan prasarana dan sarana pendukung budidaya kelautan.
C. Arahan Pola Pengelolaan Konflik Lintas Wilayah dan Lintas Sektor
Arahan pola pengelolaan konflik lintas wilayah dan lintas sektor yang terkena dengan Propinsi Bengkulu adalah arah pengelolaan Kawasan Taman Nasional Kerinci Sebelat dan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan.
Arahan pola pengelolaan kawasan perbatasan lintas propinsi yang diprioritaskan penanganannya yang terkena dengan Propinsi Bengkulu adalah penanganan kawasan perbatasan antar propinsi yakni antara :
Propinsi Bengkulu – Propinsi Sumatera Selatan – Propinsi Jambi; Propinsi Bengkulu – Propinsi Lampung – Propinsi Sumatera Selatan.
D. Keterkaitan Propinsi Bengkulu – Propinsi Sumatera Selatan
Laporan Akhir III-31 Kabupaten Muara Enim, dan Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan di Propinsi Sumatera Selatan.
Secara fisik geografis, perbatasan kedua wilayah ini selain komplek Pegunungan Bukit Barisan juga hamparan dataran lereng sisi timurnya. Salah satu yang menonjol adalah DAS Sungai Musi, di mana hulunya terdapat di Propinsi Bengkulu (Kabupaten Rejang Lebong dan Kabupaten Kepahiang) sementara hilirnya di Propinsi Sumatera Selatan. Selain itu di bagian selatan terdapat pula DAS Luas, yang hulunya berada di Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan sementara hilirnya berada di Kabupaten Kaur.
Secara fungsi kawasan, yang sangat menonjol adalah kawasan lindung yakni Kawasan Taman Nasional Kerinci Sebelat di bagian utara, Taman Nasional Bukit Barisan Selatan di bagian selatan, serta hutan lindung di punggungan pegunungan di bagian tengah. Selain itu terdapat juga kawasan budidaya yang menerus di bagian tengah (Kabupaten Rejang Lebong dan Kabupaten Kepahiang dengan Kabupaten Musi Rawas, Kota Lubuk Linggau dan Kabupaten Lahat).
Dari aspek ekonomi dan transportasi hubungan sangat menonjol antara Propinsi Bengkulu dengan Propinsi Sumatera Selatan ini, terutama dengan adanya jaringan jalan yang menghubungkannya. Arus pemasaran produksi wilayah dan arus distribusi bahan kebutuhan antara kedua wilayah ini sangat menonjol, demikian juga dengan mobilitas penduduk. Jaringan jalan yang dapat mengindikasikan adanya keterkaitan yang kuat tersebut adalah :
Jalan Bengkulu – Curup – Lubuk Linggau; Jalan Kepahiang – Pagar Alam – Lahat; Jalan Manna – Tanjung Sakti – Pagar Alam;
Laporan Akhir III-32 3.5.3 Kabupaten Kepahiang dalam Konteks Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi
Bengkulu
A. Struktur Ruang Provinsi Bengkulu
1. Kabupaten Kepahiang Sebagai Pusat Kegiatan Wilayah Promosi (PKWp)
Kabupaten Kepahiang dengan mengacu pada Rencana Struktur Ruang Wilayah Provinsi, dan memperhatikan Rencana Struktur Ruang Wilayah Kabupaten/Kota yang berbatasan, ibukota kabupaten Kepahiang yaitu Kota kepahiang (Kecamatan Kepahiang) dipromosikan menjadi Pusat Kegiatan Wilayah atau yang bisa disebut Pusat Kegiatan Wilayah Promosi (PKWp). Hal ini berdasarkan kriteria penilaian sebagai kawasan perkotaan yang berfungsi atau berpotensi sebagai pusat kegiatan industri, perdagangan dan jasa yang melayani skala provinsi atau beberapa kabupaten; dan/atau kawasan perkotaan yang berfungsi atau berpotensi sebagai simpul transportasi yang melayani skala provinsi atau beberapa kabupaten.
Berdasarkan kondisi saat ini dan juga melihat kebutuhan pada saat mendatang, Kota Kepahiang tidak dapat dipisahkan dari fungsinya sebagai pusat kegiatan perkonomian bagi Kabupaten Kepahiang dan beberapa kabupaten di wilayah Provinsi Bengkulu. Dengan semua fasilitas yang ada khususnya untuk menunjang perekonomian dan sebagai pusat koleksi dan distribusi hasil pertanian dan perkebunan dan hasil sumberdaya alam lain di Kabupaten Kepahiang, untuk itu perlu ditingkatkan pelayanannya dengan memperbaiki dan menyempurnakan sistem pelayanan sesuai dengan fungsi yang diembannya.
Beberapa fasilitas yang mendukung Kota Kepahiang sebagai PKWp, meliputi: Perkantoran Kabupaten; Pelayanan dan jasa penunjang kegiatan pemerintahan; Pusat pemerintahan kabupaten; Pusat perdagangan dan jasa dengan skala pelayanan beberapa kabupaten; Simpul transportasi untuk beberapa kabupaten; Pusat kegiatan Pertanian dan Perkebunan (teh) skala wilayah; Pariwisata Alam. 2. Kabupaten Kepahiang memiiki Pusat Kegiatan Lokal (PKL)
Laporan Akhir III-33 Kota Keban Agung berfungsi sebagai pusat perkantoran kecamatan, yang melayani beberapa kecamatan yang ada di Kabupaten Kepahiang, Kota Keban Agung memiliki fungsi pelayanan perdagangan dan jasa. Beberapa fasilitas yang mendukung Kota Keban Agung sebagai PKL pusat primer dengan fungsi jasa dan pemerintahan meliputi: Perkantoran Kecamatan; Pusat Pemerintahan Kecamatan; Pusat Perdagangan dan jasa skala lokal; Pusat Pertanian dan Perkebunan karet, kelapa sawit, kopi dan kelapa skala lokal.
3. Rencana Sistem Jaringan Transportasi pada Kabupaten Kepahiang
Pengembangan, pemantapan dan pembangunan jaringan jalan penghubung yang berfungsi menghubungkan Jalan Lintas Barat dengan Jalan Lintas Tengah Sumatera, yaitu: pemantapan jaringan jalan arteri primer meliputi Nakau-Batas Kota Kepahiang, Jalan Santoso, Jalan Lintas Bengkulu di kepahiang, Batas Kota Kepahiang– SP Taba Mulan – Batas Kota Curup, Jalan Thamrin, Jalan Merdeka, Jalan A. Yani, Curup – S. Nangka, SP. Nangka – Batas Prov. Sumsel;
4. Rencana Sistem dan Strategi Pengembangan Jaringan Sumber Daya Air
Strategi pengembangan prasarana irigasi, meliputi: pengembangan jaringan irigasi diutamakan untuk mengairi areal pertanian potensial yang antara lain wilayah Kabupaten Bengkulu Utara, Kabupaten Mukomuko, Kabupaten Kaur, Kabupaten Kepahiang, Kabupaten Rejang Lebong, Kabupaten Lebong, Kabupaten Seluma, dan Kabupaten Bengkulu Selatan.
Rencana Pengembangan dan Kriteria Sistem Jaringan Sumber Daya Air Lintas Provinsi dan Kabupaten/Kota melalui Pengelolaan wilayah sungai lintas provinsi beserta DAS yang termasuk di dalamnya, meliputi: WS Musi (Sumatera Selatan – Bengkulu – Lampung) yang meliputi DAS Musi, DAS Lakitan, DAS Kelingi, DAS Rawas, DAS Semangus, dan DAS Batanghari Leko).
B. Pola Ruang Provinsi Bengkulu
1. Rencana Pengelolaan Kawasan Lindung Provinsi Bengkulu yang ada di Kabupaten Kepahiang adalah:
Laporan Akhir III-34 luas kurang lebih 7.829 (tujuh ribu delapan ratus dua puluh sembilan) hektar; kawasan hutan lindung Konak di kecamatan Kepahiang dengan luas kurang lebih 11 (sebelas) hektar; kawasan hutan lindung Rimbo Donok di kecamatan Bermani Ilir dan kecamatan Tebat Karai dengan luas kurang lebih 433 (empat ratus tiga puluh tiga) hektar; dan kawasan hutan lindung Bukit Balai Rejang di Kecamatan Muara Kemumu dengan luas kurang lebih 1.315 (seribu tiga ratus lima belas) hektar. 2. Kawasan Suaka, Kawasan Pelestarian Alam, dan Cagar Alam, dan Taman Hutan
Raya terdiri atas:
Taman wisata alam berupa taman wisata alam Bukit Kaba, terletak di Kecamatan Kabawetan dengan luas kurang lebih 8.518 (delapan ribu lima ratus delapan belas) hektar. Kawasan cagar alam meliputi: Cagar Alam Pagar Gunung 1 Register 105 di Kecamatan Kepahiang dengan luas kurang lebih 1,80 (satu koma delapan puluh) hektar; Cagar Alam Pagar Gunung 2 Register 105A di Kecamatan Kepahiang dengan luas kurang lebih 0,80 (nol koma delapan puluh) hektar; Cagar Alam Pagar Gunung 3 Register 105B di Kecamatan Kepahiang dengan luas kurang lebih 0,25 (nol koma dua puluh lima) hektar; Cagar Alam Pagar Gunung 4 Register 106A di Kecamatan Kepahiang dengan luas kurang lebih 0,22 (nol koma dua puluh dua) hektar; dan Cagar Alam Pagar Gunung 5 Register 106B.
3. Kawasan Lindung Geologi:
Kawasan lindung geologi di Kabupaten Kepahiang meliputi Kawasan rawan gerakan tanah terletak di Kecamatan Ujan Mas, Kepahiang, Tebat Karai, Kabawetan, Muara Kemumu dan Seberang Musi. Kawasan rawan bencana letusan gunung berapi Bukit Kaba denhan daerah bahaya dengan radius 5 (lima) kilometer dari pusat erupsi terletak di: Kecamatan Merigi; Kecamatan Kabawetan; dan Kecamatan Ujan mas. Daerah waspada dengan radius 10 (sepuluh) kilometer dari pusat erupsi terletak di daerah-daeah sekitar aliran sungai yang berhulu di sekitar Bukit Kaba.
Kawasan rawan bencana akibat pergeseran patahan Semangko dengan kerentanan tinggi terletak di wilayah kecamatan: Tebat Karai; Seberang Musi; Muara Kemumu; Ujan Mas; Kabawetan; dan Kepahiang.
4. Pengembangan Kawasan Budidaya
Laporan Akhir III-35 Kabupaten Bengkulu Tengah, Kabupaten Mukomuko, Kabupaten Rejang Lebong, Kabupaten Lebong dan Kabupaten Kepahiang. Adapun kawasan pengembangan perkebunan di Kabupaten Kepahiang dengan luas kurang lebih 25.535 (dua puluh lima ribu lima ratus tiga puluh lima) hektar tersebar di seluruh wilayah kecamatan di wilayah kabupaten.
Kawasan peruntukan perikanan di Provinsi Bengkulu salah satunya terdapat pada pengembangan kawasan budi daya perikanan darat di Kabupaten Kepahiang. pengembangan kegiatan budidaya ikan di kolam air deras terletak di wilayah Kecamatan Kepahiang; Bermani Ilir; dan Tebat Karai. Sedangkan sarana dan prasarana berupa Balai Benih Ikan (BBI) Kepahiang seluas 51.650 (lima puluh satu ribu enam ratus lima puluh) meter persegi terletak di Desa Peraduan Binjai Kecamatan Tebat Karai.
Kawasan pertambangan di Provinsi Bengkulu khususnya di Kabupaten Kepahiang meliputi pasir kuarsa, mineral, batu bara, panas bumi, emas, andesit, dan marmer meliputi: Kecamatan Seberang Musi mencakup kawasan pertambangan batu bara dan emas, Kecamatan Ujan Mas mencakup kawasan pertambangan batu bara dan mas; Kecamatan Kabawetan mencakup sumber daya energi panas bumi; Kecamatan Kepahiang mencakup kawasan pertambangan kaolin, andesit, pasir vulkanik dan pasir kerakal; Kecamatan Tebat Karai mencakup kawasan pertambangan andesit; Kecamatan Muara Kemuru mencakup kawasan pertambangan obsidian; Kecamatan Bermani Ilir mencakup kawasan pertambangan andesit dan obsidian; dan Kecamatan Merigi mencakup kawasan pertambangan pasir vulkanik, pasir kerakal. Kawasan peruntukan permukiman di Kabupaten Kepahiang diarahkan untuk permukiman berkepadatan sedang yaitu Kota Kepahiang di Kecamatan Kepahiang; Kecamatan Ujan Mas; dan Kecamatan Tebat Karai.
Laporan Akhir III-36 Curug Tembak, air terjun Curug layak, air terjun Bertingkat, air terjun Karang Endah, air terjun Air Ketapang, air terjun Pering, air terjun Air Durian, air terjun Curug Trombone dan air Panas. Kawasan wisata budaya meliputi: Situs Kebun Teh, Graha Utama, Pabrik Teh, Mes Pegawai Kebun Teh yang berada di Kecamatan Kabawetan; Situs Masjid Jamik, Gereja Katolik, Situs Benteng Kuto Aur, Meriam Kuno, Makam Kolonel Santoso, Abjad Rikung, Podium Semen Lapangan Santoso yang berada di Kecamatan Kepahiang; Situs Meriam Kuno dan Corong Sakti yang berada di Kecamatan Seberang Musi; Situs Batu Menhir Keris dan Batu Menhir Belarik yang berada di Kecamatan Bermani Ilir; Pure suro Bali, Situs Keramat Tik Kotok di Kecamatan Tebat Karai; dan Situs Kuburan Panjang di kecamatan Muara Kemumu. Situs rumah pesirah Bermani Ilir di Kecamatan Bermani Ilir. Kawasan wisata buatan berupa wisata arung jeram di Desa Muara Langkap Kecamatan Bermani Ilir.
3.5.4 Arahan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Kepahiang
Rencana Tata Ruang Kabupaten Kepahiang diatur dalam Peraturan Daerah Kabupaten Kepahiang Nomor 08 Tahun 2012 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Kepahiang Tahun 2012 - 2032. Dalam penyususnan dokumen RPI2-JM Bidang Cipta Karya, hal-hal yang perlu diperhatikan dari Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten/Kota di antaranya adalah sebagai berikut:
a. Penetapan Kawasan Strategis Kabupaten/Kota (KSK) yang didasari sudut kepentingan pertahanan keamanan, ekonomi, lingkungan hidup, sosial budaya serta pendayagunaan sumberdaya alam atau teknologi tinggi.
b. Arahan pengembangan pola ruang dan struktur ruang yang mencakup 1. Arahan pengembangan pola ruang
Arahan pengembangan kawasan lindung dan budidaya; dan
Arahan pengembangan pola ruang terkait bidang Cipta Karya seperti pengembangan RTH.
2. Arahan pengembangan struktur ruang terkait keciptakaryaan seperti pengembangan prasarana sarana air minum, air limbah, persampahan, drainase, RTH, Rusunawa, maupun Agropolitan.