auditor independen
Laporan keuangan beserta laporan auditor
independen tahun yang berakhir pada
tanggal-tanggal 31 Desember 2011 dan
2010
Daftar Isi
Halaman Laporan Auditor Independen
Neraca ………. 1-5
Laporan Laba Rugi ………... 6-7
Laporan Perubahan Ekuitas ... 8
Laporan Arus Kas ... 9 - 10 Laporan Perubahan Dana Investasi Terikat ... 11
Laporan Rekonsiliasi Pendapatan dan Bagi Hasil ... 12
Laporan Sumber dan Penggunaan Dana Zakat ……… 13
Laporan Sumber dan Penggunaan Dana Kebajikan ………. 14 Catatan atas Laporan Keuangan ... 15-96
Catatan 2011 2010
ASET
KAS 2a 1.052.994.796.839 692.115.355.059
GIRO DAN PENEMPATAN PADA
BANK INDONESIA 2a,2d,3 7.097.490.254.294 4.813.140.015.549
GIRO PADA BANK LAIN 2a,2b,2c,
2e,4,37
Pihak berelasi 148.376.481.266 121.932.295.040 Pihak ketiga 437.733.463.461 351.839.657.674
Jumlah giro pada bank lain 586.109.944.727 473.771.952.714 Penyisihan kerugian (6.150.962.855) (5.301.810.828)
Bersih 579.958.981.872 468.470.141.886
PENEMPATAN PADA BANK LAIN 2b,2c,2f
Pihak berelasi 5,37 50.000.000.000 170.000.000.000 Pihak ketiga 131.607.500.000 20.000.000.000
Jumlah penempatan pada bank lain 181.607.500.000 190.000.000.000 Penyisihan kerugian (1.816.075.000) (1.900.000.000)
Bersih 179.791.425.000 188.100.000.000
INVESTASI PADA SURAT BERHARGA 2b,2c,2g,
termasuk selisih nilai perolehan 6,37
dibanding nilai nominal yang belum
diamortisasimasing-masing
sebesar (Rp7.011.317.003) dan
(Rp9.364.275.470) pada tanggal
31 Desember 2011 dan 2010
Pihak berelasi
Dimiliki hingga jatuh tempo 1.537.977.108.655 1.535.608.236.865 Tersedia untuk dijual 76.665.000.000 31.170.000.000 Nilai wajar melalui laporan laba rugi 5.702.000.000 8.557.440.000
Pihak ketiga
Dimiliki hingga jatuh tempo 494.424.939.400 528.541.466.945 Tersedia untuk dijual 75.093.194.175 78.482.665.803
Jumlah investasi pada surat berharga 2.189.862.242.230 2.182.359.809.613 Penyisihan kerugian (73.044.263.739) (60.876.491.643)
Bersih 2.116.817.978.491 2.121.483.317.970
31 Desember 2011 dan 2010
(Disajikan dalam Rupiah penuh kecuali dinyatakan lain)
Catatan 2011 2010 PIUTANG 2b,2c,2h Murabahah 7,37
setelah dikurangi pendapatan yang
ditangguhkan masing-masing sebesar
Rp7.427.725.731.882 dan Rp4.623.719.525.199 pada 31 Desember 2011 dan 2010 Pihak berelasi 137.849.986.050 142.237.630.202 Pihak ketiga 19.635.963.400.494 12.538.895.379.527
Jumlah piutang murabahah 19.773.813.386.544 12.681.133.009.729
Istishna
setelah dikurangi pendapatan yang
ditangguhkan masing-masing sebesar Rp13.725.898.813 dan Rp24.725.771.115 pada 31 Desember 2011 dan 2010 Pihak ketiga 66.489.643.446 76.471.432.790 Piutang Ijarah Pihak ketiga 62.451.306.841 33.130.363.616 Jumlah piutang 19.902.754.336.831 12.790.734.806.135 Penyisihan kerugian (536.435.791.361) (421.920.226.756) Bersih 19.366.318.545.470 12.368.814.579.379 PINJAMAN QARDH 2c,2j,8 Pihak ketiga 6.529.509.884.957 2.258.330.412.604 Penyisihan kerugian (41.644.571.227) (22.468.377.113) Bersih 6.487.865.313.730 2.235.862.035.491 PEMBIAYAAN 2b, 2c,2i,9, Mudharabah 10,37 Pihak berelasi 197.358.726.136 188.610.690.771 Pihak ketiga 4.473.781.229.217 4.052.312.065.938 Jumlah mudharabah 4.671.139.955.353 4.240.922.756.709 Penyisihan kerugian (80.359.109.429) (67.240.959.259) Bersih 4.590.780.845.924 4.173.681.797.450 Musyarakah Pihak berelasi 660.072.398.675 677.818.873.016 Pihak ketiga 4.768.128.541.589 3.912.371.646.041 Jumlah musyarakah 5.428.200.940.264 4.590.190.519.057 Penyisihan kerugian (316.028.507.531) (368.885.363.346) Bersih 5.112.172.432.733 4.221.305.155.711
ASET YANG DIPEROLEH UNTUK IJARAH 2k,11 Nilai perolehan 332.727.800.804 163.980.276.610 Akumulasi penyusutan (137.654.335.091) (75.689.492.430) Bersih 195.073.465.713 88.290.784.180 ASET TETAP 2m,12 Nilai perolehan 844.071.677.841 619.293.140.143 Akumulasi penyusutan (333.008.588.637) (254.031.622.091) Nilai buku 511.063.089.204 365.261.518.052 ASET LAIN
Aset pajak tangguhan 2ab,18 91.241.445.677 80.678.184.688 Agunan yang diambil alih 2c 22.062.119.787 22.062.119.787 Penyisihan kerugian (22.062.119.787) (22.062.119.787)
Bersih - -
Lainnya 2c,2n,13 1.290.381.450.914 664.670.257.080
Jumlah aset lain 1.381.622.896.591 745.348.441.768
JUMLAH ASET 48.671.950.025.861 32.481.873.142.495
KEWAJIBAN, DANA SYIRKAH
TEMPORER DAN EKUITAS
KEWAJIBAN
KEWAJIBAN SEGERA 2b,2o,14, 37
Pihak berelasi 99.074.290.311 68.560.289.981 Pihak ketiga 538.722.842.526 407.628.063.837
Jumlah 637.797.132.837 476.188.353.818
BAGI HASIL DANA SYIRKAH
TEMPORER DAN BONUS WADIAH
PIHAK KETIGA YANG
BELUM DIBAGIKAN 2w,15 106.841.886.190 106.034.008.867 SIMPANAN WADIAH 2b,2p,16,37 Giro wadiah Pihak berelasi 1.270.429.356.269 1.427.255.645.001 Pihak ketiga 3.313.093.195.715 2.502.865.423.866 Tabungan wadiah Pihak ketiga 512.339.658.054 244.542.828.207
Jumlah simpanan wadiah 5.095.862.210.038 4.174.663.897.074
SIMPANAN DARI BANK LAIN 2b,2q,17,37
Giro wadiah
Pihak berelasi 2.161.483.231 217.599.581
Pihak ketiga 31.331.677.909 13.703.131.260
Sertifikat Investasi Mudharabah
Antarbank (SIMA) 45.337.500.000 -
31 Desember 2011 dan 2010
(Disajikan dalam Rupiah penuh kecuali dinyatakan lain)
Catatan 2011 2010
HUTANG PAJAK 2ab,18 73.338.262.934 85.681.452.770
PEMBIAYAAN DITERIMA 2r,19 750.000.000.000 -
ESTIMASI KERUGIAN KOMITMEN
DAN KONTINJENSI 2c,20 2.700.565.929 3.333.689.644
KEWAJIBAN LAIN-LAIN 2o,21 295.768.714.447 150.012.532.114
JUMLAH KEWAJIBAN 7.041.139.433.515 5.009.834.665.128
SURAT BERHARGA SUBORDINASI
YANG DITERBITKAN 2s,22,37 Pihak berelasi 172.000.000.000 75.000.000.000 Pihak ketiga 528.000.000.000 125.000.000.000 Jumlah 700.000.000.000 200.000.000.000
DANA SYIRKAH TEMPORER 2b,2t,23,37
Bukan bank Investasi terikat Pihak ketiga Giro 83.633.335.280 83.690.205.991 Tabungan 400.376.751.410 234.253.061.416
Jumlah investasi terikat 484.010.086.690 317.943.267.407
Investasi tidak terikat tabungan
mudharabah
Pihak berelasi 86.870.115.112 20.503.348.301 Pihak ketiga 13.424.240.012.138 9.373.992.474.363
Jumlah investasi tidak
terikat tabungan mudharabah 13.511.110.127.250 9.394.495.822.664
Investasi tidak terikat deposito mudharabah Pihak berelasi 5.915.186.653.403 3.690.023.115.649
Pihak ketiga 17.609.525.131.090 11.420.378.430.010
Jumlah investasi tidak terikat
deposito mudharabah 23.524.711.784.493 15.110.401.545.659
Jumlah dana syirkah
temporer bukan bank 37.519.831.998.433 24.822.840.635.730
Bank
Investasi tidak terikat tabungan mudharabah
Pihak ketiga 162.546.191.785 100.531.632.672
Investasi tidak terikat deposito mudharabah
Pihak ketiga 173.199.352.575 326.647.543.317
Catatan 2011 2010
DANA SYIRKAH TEMPORER(lanjutan) 2b,2t,23,37
Musyarakah - giro mudharabah
musytarakah
Pihak ketiga 1.968.580.682 1.403.590.673
JUMLAH DANA SYIRKAH TEMPORER 37.857.546.123.475 25.251.423.402.392
EKUITAS
Modal saham - nilai nominal
Rp5.000 per saham
Modal dasar - 200.000.000 saham
pada tanggal 31 Desember 2011
dan 2010
Modal ditempatkan dan disetor
penuh - 231.648.713 saham
pada 31 Desember 2011 dan
131.648.713 saham pada
31 Desember 2010 24 1.158.243.565.000 658.243.565.000
Keuntungan bersih yang belum
direalisasi atas surat-surat
berharga tersedia untuk dijual -
bersih setelah pajak tangguhan 5.068.645.632 3.489.499.353
Saldo laba
Telah ditentukan penggunaannya 26 206.993.157.660 206.993.157.660 Belum ditentukan penggunaannya 1.702.959.100.579 1.151.888.852.962
JUMLAH EKUITAS 3.073.264.468.871 2.020.615.074.975
JUMLAH KEWAJIBAN, DANA SYIRKAH
TEMPORER DAN EKUITAS 48.671.950.025.861 32.481.873.142.495
Tahun yang berakhir pada tanggal-tanggal 31 Desember 2011 dan 2010
(Disajikan dalam Rupiah penuh kecuali dinyatakan lain)
Catatan 2011 2010
PENDAPATAN PENGELOLAAN DANA
OLEH BANK SEBAGAI MUDHARIB
Pendapatan dari jual beli
Pendapatan keuntungan murabahah 2.172.847.508.517 1.366.531.646.062 Pendapatan bersih istishna 7.731.671.704 12.037.882.633
Jumlah pendapatan dari jual beli 2u,28 2.180.579.180.221 1.378.569.528.695
Pendapatan dari sewa
Pendapatan ijarah - bersih 2u,28,37 14.758.990.829 8.605.747.174
Pendapatan dari bagi hasil 28
Pendapatan bagi hasil mudharabah 636.927.647.725 550.451.734.756 Pendapatan bagi hasil musyarakah 558.024.693.202 442.861.296.984
Jumlah pendapatan bagi hasil 2u,28 1.194.952.340.927 993.313.031.740
Pendapatan usaha utama lainnya 2v,28 380.981.026.004 387.583.613.714
Jumlah pendapatan pengelolaan
dana oleh Bank sebagai Mudharib 3.771.271.537.981 2.768.071.921.323
HAK PIHAK KETIGA ATAS BAGI HASIL
DANA SYIRKAH TEMPORER 2w,29 (1.780.550.413.371) (1.161.680.077.049)
PENDAPATAN USAHA LAINNYA 2y,30,37
Pendapatan imbalan jasa perbankan 1.067.492.411.463 551.815.273.801 Pendapatan imbalan investasi terikat 14.255.350.919 14.726.865.411
Jumlah pendapatan usaha lainnya 1.081.747.762.382 566.542.139.212
BEBAN USAHA
Beban kepegawaian 2b,2z,31,37 (964.882.009.934) (622.678.606.035) Beban administrasi 32 (767.925.636.211) (502.977.877.819)
Beban penyisihan kerugian
aset produktif 2c,33 (346.336.682.145) (310.941.853.712) Beban penyusutan aset tetap 12 (87.995.205.053) (46.914.897.050) Beban bagi hasil pembiayaan diterima 19 (13.042.140.484) -
Beban bagi hasil surat berharga
subordinasi yang diterbitkan 22 (28.151.736.252) (27.233.577.472)
Pemulihan penyisihan
kerugian aset non-produktif 2c,33 - 4.152.719.270
Pemulihan/(beban) estimasi
kerugian komitmen dan kontinjensi 2c,33 640.386.142 (705.682.094)
Beban usaha lain: 34
Beban bonus simpanan wadiah (32.904.844.599) (26.982.602.492) Beban lainnya (71.048.304.429) (58.972.529.617)
Jumlah beban usaha (2.311.646.172.965) (1.593.254.907.021)
Catatan 2011 2010
PENDAPATAN DAN BEBAN
NON-USAHA 2aa,35
Pendapatan non-usaha 6.758.004.149 4.277.019.433
Beban non-usaha (468.673.011) (640.875.430)
Jumlah pendapatan dan beban
non-usaha 6.289.331.138 3.636.144.003
LABA SEBELUM ZAKAT DAN
MANFAAT/(BEBAN) PAJAK
PENGHASILAN 767.112.045.165 583.315.220.468
ZAKAT 40 (19.177.801.129) (14.582.880.512)
LABA SEBELUM MANFAAT/
(BEBAN) PAJAK PENGHASILAN 747.934.244.036 568.732.339.956
MANFAAT/(BEBAN) PAJAK PENGHASILAN Kini 2ab,18 (207.953.639.500) (198.460.083.250) Tangguhan 11.089.643.081 48.247.561.253
Beban pajak penghasilan - bersih (196.863.996.419) (150.212.521.997)
LABA BERSIH 551.070.247.617 418.519.817.959
Tahun yang berakhir pada tanggal-tanggal 31 Desember 2011 dan 2010
(Disajikan dalam Rupiah penuh kecuali dinyatakan lain)
Keuntungan yang
Belum Direalisasi
atas Surat-surat Saldo Laba
Berharga Tersedia
Modal Saham untuk Dijual - Telah Belum Ditempatkan dan Bersih setelah Ditentukan Ditentukan Jumlah Catatan Disetor Penuh Pajak Tangguhan Penggunaannya Penggunaannya Ekuitas
Saldo per 31 Desember 2009 658.243.565.000 1.853.691.959 206.993.157.660 733.369.035.003 1.600.459.449.622
Keuntungan yang belum
direalisasi atas surat-surat berharga yang tersedia untuk dijual - bersih setelah
pajak tangguhan - 1.635.807.394 - - 1.635.807.394
Laba bersih tahun 2010 - - - 418.519.817.959 418.519.817.959
Saldo per 31 Desember 2010 658.243.565.000 3.489.499.353 206.993.157.660 1.151.888.852.962 2.020.615.074.975
Keuntungan yang belum direalisasi atas surat-surat berharga yang tersedia untuk dijual - bersih setelah
pajak tangguhan - 1.579.146.279 - - 1.579.146.279
Penambahan modal saham 25 500.000.000.000 - - - 500.000.000.000
Laba bersih tahun 2011 - - - 551.070.247.617 551.070.247.617
Saldo per 31 Desember 2011 1.158.243.565.000 5.068.645.632 206.993.157.660 1.702.959.100.579 3.073.264.468.871
Catatan 2011 2010
ARUS KAS DARI AKTIVITAS OPERASI
Penerimaan pendapatan bagi hasil,
jual beli dan sewa 3.714.216.461.512 2.669.860.359.533 Pembayaran bagi hasil dana syirkah temporer (1.779.926.256.731) (1.130.809.145.642) Penerimaan pendapatan usaha lainnya 1.081.747.762.381 573.628.649.220 Penerimaan dari pembiayaan dan piutang
yang dihapusbukukan 31.763.274.900 27.540.159.211 Pembayaran beban karyawan (896.088.086.603) (510.645.727.861) Pembayaran tansiem 27 (17.912.648.208) (12.452.344.506)
Pembayaran beban usaha selain beban
karyawan (903.943.475.691) (607.198.299.528)
Pembayaran pajak (227.814.619.580) (197.792.476.306)
Pembayaran zakat (392.800) (15.768.446.780)
Penyaluran dana kebajikan (1.073.549.147) (1.570.632.778)
Penerimaan pendapatan/(pembayaran)
beban non-usaha 1.231.209.960 (410.804.749)
Penurunan/(kenaikan) aset usaha:
Penempatan pada Bank Indonesia (100.000.000.000) - Penempatan pada bank lain (45.337.500.000) -
Surat berharga - diukur pada nilai wajar
melalui laba rugi 2.855.440.000 (8.557.440.000) Piutang (7.164.740.230.496) (4.533.399.653.813) Pinjaman qardh (4.271.387.735.998) (1.196.897.455.225) Pembiayaan mudharabah (439.237.572.611) (911.763.415.639) Pembiayaan musyarakah (979.162.543.860) (1.421.525.475.633) Aset yang diperoleh untuk ijarah (106.782.681.534) (13.624.926.820) Aset lain-lain (636.717.643.826) (379.576.772.475)
Kenaikan/(penurunan) kewajiban usaha:
Kewajiban segera 134.572.108.550 210.795.040.978 Simpanan wadiah 921.198.312.964 1.493.645.571.825 Simpanan dari bank lain 64.909.930.299 3.256.705.987
Hutang pajak 8.044.172.336 15.643.587.251
Kewajiban lain 94.891.136.711 (75.819.213.269)
Kenaikan dana syirkah temporer
Investasi tidak terikat 12.439.490.911.791 8.095.041.256.254 Investasi terikat 166.066.819.283 148.200.320.863 Investasi musyarakah 564.990.010 572.666.672
Arus kas bersih diperoleh dari
aktivitas operasi 1.091.427.593.612 2.220.372.086.770
ARUS KAS DARI AKTIVITAS INVESTASI
Pembelian surat berharga tersedia untuk dijual
dan dimiliki hingga jatuh tempo (8.851.266.047) (145.766.416.155) Pembelian aset tetap 12 (233.796.776.301) (188.231.262.926) Hasil penjualan aset tetap 12 5.058.121.274 3.685.504.327
Arus kas bersih digunakan untuk
aktivitas investasi (237.589.921.074) (330.312.174.754)
Tahun yang berakhir pada tanggal-tanggal 31 Desember 2011 dan 2010
(Disajikan dalam Rupiah penuh kecuali dinyatakan lain)
Catatan 2011 2010
ARUS KAS DARI AKTIVITAS PENDANAAN
Setoran modal 24,25 500.000.000.000 -
Pembiayaan diterima 19 750.000.000.000 -
Surat berharga subordinasi yang diterbitkan 22 500.000.000.000 -
Arus kas bersih diperoleh dari
aktivitas pendanaan 1.750.000.000.000 -
KENAIKAN BERSIH KAS DAN SETARA KAS 2.603.837.672.538 1.890.059.912.016
KAS DAN SETARA KAS AWAL TAHUN 6.169.027.323.322 4.278.967.411.306
KAS DAN SETARA KAS AKHIR TAHUN 8.772.864.995.860 6.169.027.323.322
Kas dan setara kas akhir tahun terdiri dari:
Kas 1.052.994.796.839 692.115.355.059
Giro pada Bank Indonesia 3 2.048.515.173.897 1.360.104.737.542
Giro pada bank lain 4 586.109.944.727 473.771.952.714
Penempatan pada Bank Indonesia yang
jatuh tempo dalam periode 3 bulan
dari tanggal akuisisi 3 4.948.975.080.397 3.453.035.278.007
Penempatan pada bank lain yang jatuh
tempo dalam periode 3 bulan dari
tanggal akuisisi 5 136.270.000.000 190.000.000.000
Jumlah 8.772.864.995.860 6.169.027.323.322
Catatan 2011 2010 Saldo awal tahun dana investasi terikat 2a 283.762.452.339 275.229.713.261
Penerimaan dana investasi terikat 58.220.907.131 133.739.489.439
Keuntungan dana investasi terikat 31.402.394.058 25.811.644.075
Imbalan Bank sebagai agen investasi 30 (14.255.350.919) (14.726.865.411)
Penarikan dana investasi terikat (115.965.168.373) (136.291.529.025)
Saldo akhir tahun dana investasi terikat 42 243.165.234.236 283.762.452.339
DAN BAGI HASIL
Tahun yang berakhir pada tanggal-tanggal 31 Desember 2011 dan 2010
(Disajikan dalam Rupiah penuh kecuali dinyatakan lain)
Catatan 2011 2010
Pendapatan usaha utama (akrual) 2a,2u,28 3.771.271.537.981 2.768.071.921.323
Pengurang:
Pendapatan tahun berjalan yang kas atau
setara kasnya belum diterima:
Pendapatan keuntungan murabahah 7 132.460.608.275 93.647.446.307 Pendapatan sukuk negara dan
perusahaan 13 46.054.713.737 46.049.947.374
Pendapatan amortisasi selisih nilai
perolehan surat berharga dibanding
nilai nominal 28 2.352.958.467 2.425.537.194 Pendapatan sewa ijarah 7 62.451.306.841 33.130.363.616
Pendapatan Sertifikat Bank Indonesia
Syariah 13 3.292.041.667 14.303.258.027
Jumlah pengurang 246.611.628.987 189.556.552.518
Penambah:
Pendapatan tahun sebelumnya yang
kasnya diterima pada tahun berjalan:
Penerimaan pelunasan piutang:
Keuntungan murabahah 7 93.647.446.307 44.672.768.106 Pendapatan sewa ijarah 7 33.130.363.616 4.532.461.803
Pendapatan Sertifikat
Bank Indonesia Syariah 14.303.258.027 3.186.689.584
Pendapatan sukuk negara dan
perusahaan 13 46.049.947.374 29.435.406.445
Pendapatan amortisasi selisih
nilai perolehan surat berharga
dibanding nilai nominal 13 2.425.537.194 9.517.664.790
Jumlah penambah 189.556.552.518 91.344.990.728
Pendapatan yang tersedia
untuk bagi hasil 2a 3.714.216.461.512 2.669.860.359.533
Bagi hasil yang menjadi hak Bank 1.933.666.048.141 1.508.180.282.484
Bagi hasil yang menjadi hak pemilik
dana dirinci atas: 1.780.550.413.371 1.161.680.077.049
Hak pemilik dana atas bagi hasil
yang sudah didistribusikan 1.676.056.389.819 1.057.810.210.137
Hak pemilik dana atas bagi hasil
yang belum didistribusikan 15 104.494.023.552 103.869.866.912
Catatan 2011 2010
Sumber dana zakat 2a,2x,40
Zakat dari Bank 19.177.801.129 14.582.880.512 Zakat dari nasabah dan umum 1.032.212.149 1.009.591.669 Zakat dari pegawai Bank 4.731.292.190 2.498.668.165
Jumlah sumber dana zakat 24.941.305.468 18.091.140.346
Penggunaan dana zakat
Disalurkan melalui LAZNAS BSM 392.800 15.768.155.376
Jumlah penggunaan dana zakat 392.800 15.768.155.376 Keuntungan/(beban) selisih kurs - bersih 252.632 (291.404)
Kenaikan dana zakat 24.941.165.300 2.322.693.566 Saldo awal dana zakat 22.984.673.715 20.661.980.149
Saldo akhir dana zakat 47.925.839.015 22.984.673.715
Tahun yang berakhir pada tanggal-tanggal 31 Desember 2011 dan 2010
(Disajikan dalam Rupiah penuh kecuali dinyatakan lain)
Catatan 2011 2010
Sumber dana kebajikan 2a
Denda 41 637.436.361 782.206.353
Penerimaan non-halal 14 610.212.906 561.546.776 Dana sosial lainnya 2e 1.183.423.316 470.697.846
Jumlah sumber dana kebajikan 2.431.072.583 1.814.450.975
Penggunaan dana kebajikan
disalurkan melalui LAZNAS BSM 1.073.549.147 1.570.632.778
Jumlah penggunaan dana kebajikan 1.073.549.147 1.570.632.778
Keuntungan/(beban) selisih kurs 58.335 (24.805.408)
Kenaikan dana kebajikan 1.357.581.771 219.012.789
Saldo awal dana kebajikan 1.804.291.533 1.585.278.744
Saldo akhir dana kebajikan 3.161.873.304 1.804.291.533
a. Latar Belakang
PT Bank Syariah Mandiri (Bank) didirikan pertama kali dengan nama PT Bank Industri Nasional disingkat PT BINA atau disebut juga PT National Industrial Banking Corporation Ltd., berkantor pusat di Jakarta, berdasarkan Akta No. 115 tanggal 15 Juni 1955 dibuat di hadapan Meester Raden Soedja, S.H., Notaris di Jakarta. Akta tersebut telah mendapat pengesahan dari Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia (dahulu Menteri Kehakiman Republik Indonesia) berdasarkan Surat Keputusan No. J.A.5/69/23 tanggal 16 Juli 1955, dan telah didaftarkan pada buku register di Kantor Pengadilan Negeri Jakarta Selatan No. 1810 tanggal 6 Oktober 1955 dan telah diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia No. 37 tanggal 8 Mei 1956, Tambahan No. 390.
Sesuai dengan Akta Perubahan Anggaran Dasar No. 12 tanggal 6 April 1967 yang diubah dengan Akta Perubahan Anggaran Dasar No. 37 tanggal 4 Oktober 1967, keduanya dibuat di hadapan Adlan Yulizar, S.H., Notaris di Jakarta, yang mana telah diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia No. 34 tanggal 29 April 1969, Tambahan No. 55, nama Bank diubah dari PT Bank Industri Nasional disingkat PT BINA atau disebut juga PT National Industrial Banking Corporation Ltd. menjadi PT Bank Maritim Indonesia.
Sesuai dengan Akta Berita Acara Rapat No. 146 tanggal 10 Agustus 1973 dibuat di hadapan Raden Soeratman, S.H., No. 146, Notaris di Jakarta, yang telah diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia No. 79 tanggal 1 Oktober 1974, Tambahan No. 554, nama Bank diubah dari PT Bank Maritim Indonesia menjadi PT Bank Susila Bakti.
Sesuai dengan Akta Pernyataan Keputusan Rapat No. 29 tanggal 19 Mei 1999 dibuat dihadapan Machrani Moertolo Soenarto, S.H., Notaris di Jakarta yang telah mendapat persetujuan dari Menteri Kehakiman Republik Indonesia dengan Surat Keputusan No. C2-1210.HT.01.04.TH 99 tanggal 1 Juli 1999 serta diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia No. 87 tanggal 31 Oktober 2000, Tambahan No. 6587, nama Bank diubah dari PT Bank Susila Bakti menjadi PT Bank Syariah Sakinah Mandiri.
Sesuai dengan Akta Pernyataan Keputusan Rapat No. 7 tanggal 7 Juli 1999 dibuat di hadapan Machrani Moertolo Soenarto, S.H., Notaris di Jakarta, yang diubah berturut-turut dengan Akta Berita Acara Rapat No. 6 tanggal 22 Juli 1999 dan Akta Berita Acara No. 9 tanggal 23 Juli 1999, keduanya dibuat di hadapan Hasanal Yani Ali Amin, S.H., Notaris di Jakarta, serta Akta Pernyataan Keputusan Rapat Perubahan Anggaran Dasar No. 23 tanggal 8 September 1999 dibuat di hadapan Sutjipto, S.H., Notaris di Jakarta, yang telah mendapat persetujuan dari Menteri Kehakiman Republik Indonesia dengan Surat Keputusan No. 16495.HT.01.04.TH.99 tanggal 16 September 1999 serta diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia No. 87 tanggal 31 Oktober 2000, Tambahan No. 6588, nama Bank diubah dari PT Bank Syariah Sakinah Mandiri menjadi PT Bank Syariah Mandiri.
Selanjutnya Bank mendapatkan izin usaha dari Bank Indonesia berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Bank Indonesia No. 1/24/KEP.GBI/1999 tanggal 25 Oktober 1999 sebagai bank umum berdasarkan prinsip syariah dan mulai beroperasi sejak tanggal 1 November 1999. Sesuai dengan Akta Pernyataan Keputusan Rapat Perubahan Anggaran Dasar No. 38 tanggal 10 Maret 2000 dibuat di hadapan Lia Muliani, S.H., pengganti dari Sutjipto, S.H., Notaris di Jakarta, Bank melakukan perubahan jumlah modal saham yang telah mendapat persetujuan dari Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia berdasarkan Surat Keputusan No. C-11545.HT.01.04.TH.2000 tanggal 6 Juni 2000, serta telah diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia No. 87 tanggal 31 Oktober 2000, Tambahan No. 6589.
Pada tahun 2006 terdapat perubahan terhadap anggaran dasar sebagaimana dimuat dalam Akta Pernyataan Keputusan Rapat PT Bank Syariah Mandiri No. 59 tanggal 17 Mei 2006, dibuat di hadapan Imas Fatimah, S.H., Notaris di Jakarta, serta telah diumumkan dalam Berita Negara
Tahun yang berakhir pada tanggal-tanggal 31 Desember 2011 dan 2010 (Disajikan dalam Rupiah penuh kecuali dinyatakan lain)
1. UMUM (lanjutan)
a. Latar Belakang (lanjutan)
Bank telah mengubah dan menyesuaikan anggaran dasarnya dengan Undang-undang RI No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas sebagaimana dimuat dalam Akta No. 10 tertanggal 19 Juni tahun 2008, yang dibuat di hadapan Badarusyamsi, S.H., Notaris di Jakarta. Anggaran dasar ini telah mendapatkan persetujuan dari Menteri Hukum dan Hak Azasi Manusia Republik Indonesia melalui Surat Keputusan No. AHU-729922.01.02 tahun 2008 tertanggal 13 Oktober 2008.
Sesuai dengan hasil Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa yang dilaksanakan pada tanggal 31 Desember 2008, pemegang saham memutuskan menyetujui penambahan modal disetor sebesar Rp199.871.000.000 atau sebanyak 39.974.200 saham yang akan dikeluarkan dari saham portepel. Keseluruhan saham-saham tersebut diambil bagian seluruhnya oleh PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.
Penyetoran saham-saham tersebut dilakukan dengan cara sebagai berikut: a. Sebesar Rp100.000.000.000 disetor penuh secara tunai ke dalam kas Bank.
b. Sebesar Rp99.871.000.000 disetor dengan cara non-tunai (inbreng) berupa tanah dan bangunan milik PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.
Setoran modal secara non-tunai (inbreng) sebesar Rp99.871.000.000 telah dilaksanakan pada tanggal 31 Desember 2008 dan setoran modal tunai sebesar Rp100.000.000.000 telah dilaksanakan pada tanggal 5 Januari 2009. Setoran modal tersebut dituangkan dalam Akta No. 211 tanggal 31 Desember 2008 yang dibuat oleh Aulia Taufani, S.H., sebagai Notaris Pengganti dari Sutjipto, S.H. Notaris di Jakarta, yang pemberitahuannya telah diterima dan dicatat dalam database Sistem Administrasi Badan Hukum (Sisminbakum) Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia tertanggal 23 Februari 2009 No. AHU-AH.01.01-00922 tentang Penerimaan Pemberitahuan Perubahan Anggaran Dasar PT Bank Syariah Mandiri.
Anggaran dasar dilakukan perubahan kembali dengan Akta Berita Acara Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa Perseroan Terbatas PT Bank Syariah Mandiri No. 28 tanggal 25 Juni 2009, dibuat di hadapan Harun Kamil, S.H., Notaris di Jakarta, atas akta tersebut telah diumumkan dalam Berita Negara No. 85, tanggal 25 Oktober 2011, Tambahan no. 131/L; Anggaran dasar dilakukan perubahan kembali berturut-turut dengan Akta Berita Acara Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa Perseroan Terbatas PT Bank Syariah Mandiri No. 16 tanggal 29 Juni 2010, dibuat di hadapan Harun Kamil, S.H., Notaris di Jakarta, Akta Pernyataan Keputusan Pemegang Saham Diambil Diluar Rapat Umum Pemegang Saham PT Bank Syariah Mandiri No. 19 tanggal 21 Maret 2011, dibuat di hadapan Badarusyamsi, SH, MKn, notaris di Jakarta dan telah mendapatkan persetujuan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia No.AHU-22426.AH.01.02.TH 2011 tanggal 4 Mei 2011 dan terakhir diubah dengan Akta Pernyataan Keputusan Rapat Pemegang Saham sebagai pengganti Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa PT Bank Syariah Mandiri No. 42 tanggal 29 Desember 2011, dibuat di hadapan Efran Yuniarto, S.H., M.Kn., notaris di Jakarta dan telah mendapatkan Penerimaan Pemberitahuan dari Menteri Hukum dan HAM No.AHU-AH.01.10-00527 tanggal 5 Januari 2012.
Kantor Pusat Bank berlokasi di Jalan M.H. Thamrin No. 5 Jakarta 10340. Sampai dengan tanggal 31 Desember 2011, Bank memiliki 125 kantor cabang, 406 kantor cabang pembantu, 38 kantor kas, 85 payment point dan, 15 kantor layanan syariah.
a. Latar Belakang (lanjutan)
2011 2010
Dewan Pengawas Syariah
Ketua: Prof. Dr. Komaruddin Hidayat Prof. K.H. Ali Yafie
Anggota: Drs. Mohamad Hidayat, MBH., MH. Drs. Mohamad Hidayat, MBH., MH. Anggota: Dr. M. Syafii Antonio, M.Ec. Dr. M. Syafii Antonio, M.Ec.
Sesuai dengan Peraturan Bank Indonesia (PBI) No. 11/3/PBI/2009 tanggal 29 Januari 2009 tentang Bank Umum Syariah, Dewan Pengawas Syariah (DPS) bertugas dan bertanggung jawab memberikan nasihat dan saran kepada Direksi serta mengawasi kegiatan Bank agar sesuai dengan prinsip syariah.
Berdasarkan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan dan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa tanggal 28 Juni 2011 yang berita acaranya telah dituangkan dalam Akta Berita Acara Rapat Umum Para Pemegang Saham Tahunan Perseroan Terbatas PT Bank Syariah Mandiri No. 19 dan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan dan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa tanggal 29 Juni 2010 yang berita acaranya telah dituangkan dalam Akta Berita Acara Rapat Umum Para Pemegang Saham Tahunan Perseroan Terbatas PT Bank Syariah Mandiri No. 16, susunan pengurus Bank pada tanggal 31 Desember 2011 dan 2010 adalah sebagai berikut:
2011 2010
Dewan Komisaris
Komisaris Utama merangkap
Komisaris Independen: Achmad Marzuki Achmad Marzuki
Komisaris Independen: Abdillah Abdillah
Komisaris Independen: Ramzi A. Zuhdi Ramzi A. Zuhdi
Komisaris: Tardi Tardi
Komisaris: Lilis Kurniasih Lilis Kurniasih
Direksi
Direktur Utama: Yuslam Fauzi Yuslam Fauzi
Direktur: Hanawijaya Hanawijaya
Direktur: Amran P. Nasution Amran P. Nasution
Direktur: Zainal Fanani Zainal Fanani
Direktur: Sugiharto Sugiharto
Direktur: Achmad Syamsudin Achmad Syamsudin
Berdasarkan Akta Pernyataan Keputusan Rapat PT Bank Syariah Mandiri No. 59 tanggal 17 Mei 2006, dibuat Imas Fatimah, S.H., Notaris di Jakarta, yang telah dituangkan dalam Berita Negara Republik Indonesia No. 74 tanggal 15 September 2006, Tambahan No. 960, tentang perubahan penyebutan Presiden Komisaris dan Presiden Direktur menjadi Komisaris Utama dan Direktur Utama, dan perubahan mengenai tugas, wewenang dan tanggung jawab Dewan Pengawas Syariah disesuaikan dengan ketentuan yang berlaku.
Susunan Komite Audit, Komite Pemantau Risiko dan Komite Remunerasi dan Nominasi pada tanggal 31 Desember 2011 dan 2010 adalah sebagai berikut:
2011 2010
Komite Audit
Ketua: Abdillah Abdillah
Anggota: Ramzi A. Zuhdi Ramzi A. Zuhdi
Anggota: Tjeppy Kustiwa Tjeppy Kustiwa
(Disajikan dalam Rupiah penuh kecuali dinyatakan lain) 1. UMUM (lanjutan)
a. Latar Belakang (lanjutan)
2011 2010
Komite Pemantau Risiko
Ketua: Ramzi A. Zuhdi Ramzi A. Zuhdi
Anggota: Abdillah Abdillah
Anggota: Lilis Kurniasih Lilis Kurniasih Anggota: Edyanto Rachman Edyanto Rachman
Anggota: Tjeppy Kustiwa -
Komite Remunerasi
dan Nominasi
Ketua: Achmad Marzuki Achmad Marzuki
Anggota: Abdillah Abdillah
Anggota: Tardi Tardi
Anggota: Achmad Fauzi Achmad Fauzi
Anggota: Eka Bramantya Danuwirana Eka Bramantya Danuwirana
Gaji dan kompensasi lainnya yang dibayarkan kepada Direksi, Dewan Komisaris dan Dewan Pengawas Syariah per 31 Desember 2011 dan 2010 adalah sebagai berikut:
2011 2010
Direksi 19.793.182.023 15.882.434.870
Dewan Komisaris 5.477.444.835 4.026.193.361 Dewan Pengawas Syariah 836.763.232 772.000.000
Jumlah 26.107.390.090 20.680.628.231
Jumlah karyawan Bank pada tanggal 31 Desember 2011 dan 2010 masing-masing adalah 7.802 orang dan 5.580 orang.
2. IKHTISAR KEBIJAKAN AKUNTANSI a. Dasar Penyusunan Laporan Keuangan
Laporan keuangan disusun berdasarkan Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia termasuk Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 101, “Penyajian Laporan Keuangan Syariah”, PSAK No. 102, “Akuntansi Murabahah”, PSAK No. 104, “Akuntansi Istishna”, PSAK No. 105, “Akuntansi Mudharabah”, PSAK No. 106, “Akuntansi Musyarakah”, PSAK No. 107, “Akuntansi Ijarah” dan Pedoman Akuntansi Perbankan Syariah Indonesia (PAPSI).
Laporan keuangan disajikan berdasarkan konsep biaya historis dan konsep akrual dengan beberapa pengecualian sebagai berikut:
1) Surat berharga tertentu dinyatakan sebesar nilai wajar (Catatan 2.g),
2) Aset yang diambil alih sehubungan dengan penyelesaian pembiayaan dicatat sebesar nilai bersih yang dapat direalisasikan (Catatan 2.c),
3) Perhitungan pendapatan yang tersedia untuk bagi hasil yang menggunakan dasar kas (Catatan 2.w), dan
a. Dasar Penyusunan Laporan Keuangan (lanjutan)
Berdasarkan PSAK No. 101, laporan keuangan bank syariah terdiri dari komponen-komponen sebagai berikut:
(i) Neraca;
(ii) Laporan laba rugi;
(iii) Laporan perubahan ekuitas; (iv) Laporan arus kas;
(v) Laporan perubahan dana investasi terikat; (vi) Laporan rekonsiliasi pendapatan dan bagi hasil; (vii) Laporan sumber dan penggunaan dana zakat; (viii) Laporan sumber dan penggunaan dana kebajikan; dan (ix) Catatan atas laporan keuangan.
Neraca, laporan laba rugi, laporan arus kas dan laporan perubahan ekuitas merupakan laporan keuangan yang mencerminkan kegiatan komersial Bank sesuai prinsip syariah.
Laporan arus kas disusun dengan menggunakan metode langsung yang dimodifikasi dengan mengelompokkan arus kas dalam aktivitas operasi, investasi dan pendanaan. Untuk tujuan laporan arus kas, kas dan setara kas mencakup kas, giro pada Bank Indonesia dan giro pada bank lain, penempatan pada Bank Indonesia dan bank lain yang jatuh tempo dalam 3 (tiga) bulan dari tanggal akuisisi.
Laporan perubahan dana investasi terikat merupakan laporan yang mencerminkan perubahan dalam investasi terikat yang dikelola oleh Bank untuk pemanfaatan pihak-pihak lain berdasarkan akad mudharabah muqayyadah atau agen investasi.
Laporan rekonsiliasi pendapatan dan bagi hasil merupakan rekonsiliasi antara pendapatan Bank yang menggunakan dasar akrual (accrual basis) dengan pendapatan yang dibagihasilkan kepada pemilik dana yang menggunakan dasar kas (cash basis).
Laporan sumber dan penggunaan dana zakat dan dana kebajikan merupakan laporan yang mencerminkan peran Bank sebagai pemegang amanah dana kegiatan sosial yang dikelola secara terpisah.
Laporan sumber dan penggunaan zakat merupakan laporan yang menunjukkan sumber dana, penggunaan dalam jangka waktu tertentu serta dana zakat yang belum disalurkan pada tanggal tertentu.
Laporan sumber dan penggunaan dana kebajikan merupakan laporan yang menunjukkan sumber dan penggunaan dana kebajikan selama jangka waktu tertentu serta saldo dana kebajikan pada tanggal tertentu.
Investasi terikat adalah investasi yang bersumber dari pemilik dana investasi terikat dan sejenisnya yang dikelola oleh Bank sebagai agen investasi berdasarkan akad mudharabah
muqayyadah. Investasi terikat bukan merupakan aset maupun kewajiban Bank karena Bank tidak
mempunyai hak untuk menggunakan atau mengeluarkan investasi tersebut serta Bank tidak memiliki kewajiban mengembalikan atau menanggung risiko investasi. Bank mendapatkan imbalan jasa (fee) atas penyaluran dana tersebut. Sisa dana yang belum tersalurkan dicatat dalam perkiraan kewajiban segera.
Tahun yang berakhir pada tanggal-tanggal 31 Desember 2011 dan 2010 (Disajikan dalam Rupiah penuh kecuali dinyatakan lain) 2. IKHTISAR KEBIJAKAN AKUNTANSI (lanjutan)
a. Dasar Penyusunan Laporan Keuangan (lanjutan)
Akad mudharabah muqayyadah adalah suatu kegiatan penyediaan dana oleh shahibul maal untuk modal investasi atau kerja kepada mudharib untuk melakukan kegiatan usaha sesuai akad dengan pembagian keuntungan dibagi bersama sesuai dengan kesepakatan.
Zakat adalah sebagian dari harta yang wajib dikeluarkan oleh muzaki (pembayar zakat) untuk diserahkan kepada mustahiq (penerima zakat). Sumber dana zakat, infak dan shadaqah berasal dari Bank dan pihak lain yang diterima Bank untuk disalurkan kepada pihak yang berhak sesuai dengan prinsip syariah.
Bank tidak secara langsung menjalankan fungsi pengelolaan dana zakat, infak, dan shadaqah dan dana kebajikan.
b. Transaksi dengan Pihak-pihak Berelasi
Dalam usahanya, Bank melakukan transaksi dengan pihak-pihak berelasi sebagaimana yang didefinisikan dalam PSAK No. 7 (Revisi 2010) tentang “Pengungkapan Pihak-pihak Berelasi”. Jenis transaksi dan saldo dengan pihak-pihak berelasi, baik yang dilaksanakan dengan ataupun tidak dilaksanakan dengan syarat serta kondisi normal yang sama untuk pihak yang tidak berelasi, diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan.
Sejak 1 Januari 2011, berdasarkan PSAK No. 7 (Revisi 2010) “Pengungkapan Pihak-pihak Berelasi”, transaksi antara Bank dengan Badan Usaha Milik Negara/Daerah lain, entitas dan institusi lain yang terkait dengan Pemerintah Republik Indonesia, dewan komisaris, direksi, dan karyawan kunci diperhitungkan sebagai transaksi dengan pihak-pihak berelasi. Kebijakan akuntansi tersebut telah diterapkan secara retrospektif untuk laporan keuangan tanggal 31 Desember 2010 dan tahun yang berakhir pada tanggal tersebut.
c. Penyisihan Kerugian Aset Produktif, Aset Non-produktif serta Estimasi Kerugian Komitmen dan Kontinjensi
1) Aset produktif terdiri dari giro dan penempatan pada Bank Indonesia dalam bentuk Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS), Fasilitas Simpanan Bank Indonesia Syariah (FASBIS), Reverse
Repo SBSN BI, giro pada bank lain, penempatan pada bank lain, investasi pada surat berharga,
piutang, pinjaman qardh, pembiayaan musyarakah, pembiayaan mudharabah, aset yang diperoleh untuk ijarah dan komitmen dan kontinjensi yang memiliki risiko kredit seperti bank garansi dan letter of credit (LC) yang tidak dapat dibatalkan dan standby letters of credit.
Penyisihan kerugian aset produktif dan aset non-produktif bank umum yang melaksanakan kegiatan berdasarkan prinsip syariah diatur dalam Peraturan Bank Indonesia (PBI) No. 8/21/PBI/2006 tanggal 5 Oktober 2006 tentang Penilaian Kualitas Aktiva Bank Umum yang Melaksanakan Kegiatan Usaha Berdasarkan Prinsip Syariah sebagaimana telah diubah berdasarkan PBI No. 9/9/PBI/2007 tanggal 18 Juni 2007, PBI No. 10/24/PBI/2008 tanggal 16 Oktober 2008 dan terakhir dengan PBI No. 13/13/PBI/2011 tanggal 24 Maret 2011.
Pedoman pembentukan penyisihan kerugian aset produktif berdasarkan Peraturan Bank Indonesia tersebut adalah sebagai berikut:
c. Penyisihan Kerugian Aset Produktif, Aset Non-produktif serta Estimasi Kerugian Komitmen dan Kontinjensi (lanjutan)
b) Cadangan khusus, sekurang-kurangnya sebesar:
(1) 5% dari aset produktif yang digolongkan Dalam Perhatian Khusus setelah dikurangi agunan; dan
(2) 15% dari aset produktif yang digolongkan Kurang Lancar setelah dikurangi agunan; dan
(3) 50% dari aset produktif yang digolongkan Diragukan setelah dikurangi agunan; dan (4) 100% dari aset produktif yang digolongkan Macet setelah dikurangi nilai agunan. c) Kewajiban untuk membentuk penyisihan kerugian aset produktif tidak berlaku bagi aset
produktif untuk transaksi sewa dengan perpindahan hak milik berupa akad ijarah atau ijarah
muntahiyah bittamlik. Bank wajib membentuk penyusutan/amortisasi terhadap aset ijarah muntahiyah bittamlik (Catatan 2k).
Khusus untuk surat berharga dan penempatan pada bank kualitasnya ditetapkan menjadi 3 (tiga) golongan yaitu lancar, kurang lancar dan macet. Sedangkan untuk penyertaan modal kualitasnya ditetapkan menjadi 4 (empat) golongan yaitu lancar, kurang lancar, diragukan dan macet.
Penyisihan kerugian kewajiban komitmen dan kontinjensi dicatat pada akun “Estimasi Kerugian Komitmen dan Kontinjensi”.
Apabila manajemen berpendapat bahwa suatu aset produktif sudah tidak dapat ditagih kembali, maka aset tersebut harus dihapusbukukan dengan cara saldo aset produktif dikurangkan dari masing-masing penyisihan kerugiannya. Penerimaan kembali aset produktif yang telah dihapusbukukan dicatat sebagai penambahan penyisihan kerugian tahun berjalan.
2) Aset non-produktif adalah aset Bank selain aset produktif yang memiliki potensi kerugian, antara lain dalam bentuk Agunan Yang Diambil Alih (AYDA), Properti Terbengkalai, Rekening Antar Kantor dan Suspense Account.
AYDA adalah aset yang diperoleh Bank, baik melalui pelelangan maupun di luar pelelangan berdasarkan penyerahan secara sukarela oleh pemilik agunan atau berdasarkan kuasa untuk menjual di luar lelang dari pemilik agunan dalam hal nasabah tidak memenuhi kewajibannya kepada Bank.
Bank wajib melakukan upaya penyelesaian terhadap AYDA yang dimiliki dan mendokumentasikan upaya penyelesaian AYDA. Bank wajib melakukan penilaian kembali terhadap AYDA atas dasar nilai realisasi bersih:
(1) pada saat pengambilalihan agunan, dan
(2) pada masa-masa berikutnya setelah dilakukan pengambilalihan agunan.
Penetapan nilai realisasi bersih wajib dilakukan oleh penilai independen, untuk AYDA dengan nilai Rp5.000.000.000 (lima milyar Rupiah) atau lebih. Sementara untuk AYDA dengan nilai di bawah Rp5.000.000.000 (lima milyar Rupiah) dapat menggunakan penilai internal Bank.
Tahun yang berakhir pada tanggal-tanggal 31 Desember 2011 dan 2010 (Disajikan dalam Rupiah penuh kecuali dinyatakan lain) 2. IKHTISAR KEBIJAKAN AKUNTANSI (lanjutan)
c. Penyisihan Kerugian Aset Produktif, Aset Non-produktif serta Estimasi Kerugian Komitmen dan Kontinjensi (lanjutan)
Bank wajib menggunakan nilai yang terendah apabila terdapat beberapa nilai dari penilai independen atau penilai internal Bank.
AYDA yang telah dilakukan upaya penyelesaian, ditetapkan memiliki kualitas: - Lancar, apabila dimiliki sampai dengan 1 (satu) tahun;
- Macet, apabila dimiliki lebih dari 1 (satu) tahun.
Agunan yang diambil alih sehubungan dengan penyelesaian pembiayaan (disajikan dalam akun aset lain) diakui sebesar nilai realisasi bersih. Nilai realisasi bersih adalah nilai wajar aset setelah dikurangi estimasi biaya pelepasan. Selisih antara nilai bersih yang dapat direalisasikan dengan saldo piutang atau pembiayaan yang tidak dapat ditagih diakui sebagai penambah atau pengurang penyisihan kerugian piutang atau pembiayaan.
3) Rekening Antar Kantor adalah akun tagihan yang timbul dari transaksi antar kantor yang belum diselesaikan dalam jangka waktu tertentu.
Bank wajib melakukan upaya penyelesaian rekening antar kantor. Kualitas rekening antar kantor ditetapkan sebagai berikut:
- Lancar, apabila tercatat dalam pembukuan Bank sampai dengan 180 (seratus delapan puluh) hari.
- Macet, apabila tercatat dalam pembukuan Bank lebih dari 180 (seratus delapan puluh) hari.
d. Penempatan pada Bank Indonesia
Penempatan pada Bank Indonesia terdiri dari Giro wadiah pada Bank Indonesia, Fasilitas Simpanan Bank Indonesia Syariah (FASBIS), Tagihan Reverse Repo SBSN Bank Indonesia dan Sertifikat Bank Indonesia Syariah yang merupakan sertifikat yang diterbitkan Bank Indonesia sebagai bukti penitipan dana berjangka pendek dengan prinsip jualah.
e. Giro pada Bank Lain
Giro pada Bank lain dinyatakan sebesar saldo giro dikurangi dengan penyisihan kerugian. Bonus yang diterima Bank dari bank umum syariah diakui sebagai pendapatan usaha lainnya. Penerimaan jasa giro dari bank non-syariah tidak diakui sebagai pendapatan Bank dan digunakan untuk dana kebajikan (qardhul hasan). Penerimaan jasa giro dari bank non-syariah tersebut sebelum disalurkan dicatat sebagai kewajiban Bank.
f. Penempatan pada Bank Lain
Penempatan pada bank lain adalah penanaman dana Bank pada bank syariah lainnya dan/atau bank perkreditan rakyat syariah antara lain dalam bentuk wadiah, deposito berjangka dan/atau tabungan mudharabah, pembiayaan yang diberikan, dan bentuk-bentuk penempatan lainnya berdasarkan prinsip syariah. Penempatan pada bank lain disajikan sebesar saldo penempatan dikurangi dengan penyisihan kerugian.
g. Investasi pada Surat Berharga
Surat berharga syariah adalah surat bukti penanaman dalam surat berharga berdasarkan prinsip syariah yang lazim diperdagangkan di pasar uang syariah dan/atau pasar modal syariah antara lain obligasi syariah, sertifikat reksadana syariah dan surat berharga lainnya berdasarkan prinsip syariah.
Investasi pada surat berharga diklasifikasikan berdasarkan tujuan manajemen pada saat pembelian surat berharga tersebut didasarkan atas klasifikasi sesuai PSAK No. 55 (Revisi 2006) tentang “Instrumen Keuangan: Pengakuan dan Pengukuran” sebagai berikut:
1) Dimiliki hingga jatuh tempo disajikan sebesar biaya perolehan yang disesuaikan dengan premi dan/atau diskonto yang belum diamortisasi. Premi dan diskonto diamortisasi selama periode hingga jatuh tempo.
2) Tersedia untuk dijual, yang dinyatakan sebesar nilai wajar. Keuntungan atau kerugian yang belum direalisasi, akibat kenaikan atau penurunan nilai wajar, setelah pajak tangguhan, diakui dan disajikan sebagai komponen ekuitas. Keuntungan atau kerugian yang belum direalisasi tersebut dikreditkan atau dibebankan pada saat realisasi pada laporan laba rugi tahun berjalan.
3) Diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi, yang dinyatakan sebesar nilai wajar. Keuntungan atau kerugian yang belum direalisasi akibat kenaikan atau penurunan nilai wajarnya disajikan dalam laporan laba rugi periode yang bersangkutan. Atas penjualan surat berharga yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi, perbedaan antara harga jual dengan harga perolehan diakui sebagai keuntungan atau kerugian penjualan pada periode dimana surat berharga tersebut dijual.
Investasi dalam unit penyertaan reksadana syariah dinyatakan sebesar nilai pasar sesuai nilai aset bersih dari reksadana pada tanggal neraca.
Wesel ekspor merupakan transaksi yang timbul karena adanya pembayaran dimuka kepada pihak lain sehubungan dengan transaksi ekspor impor nasabah. Wesel ekspor dinyatakan sebesar saldonya.
Penyisihan kerugian disajikan sebagai pengurang dari akun surat berharga.
h. Piutang
Piutang adalah tagihan yang timbul dari pembiayaan berdasarkan akad murabahah, akad istishna dan/atau akad ijarah.
Akad murabahah adalah akad pembiayaan suatu barang dengan menegaskan harga belinya kepada pembeli dan pembeli membayarnya dengan harga yang lebih sebagai keuntungan yang disepakati.
Piutang murabahah dinyatakan sebesar jumlah piutang setelah dikurangi dengan marjin yang ditangguhkan yang dapat direalisasikan dan penyisihan kerugian. Bank menetapkan penyisihan kerugian sesuai dengan kualitas piutang murabahah berdasarkan penelaahan atas masing-masing saldo piutang.
Akad istishna adalah akad pembiayaan barang dalam bentuk pemesanan pembuatan barang tertentu dengan kriteria dan persyaratan tertentu yang disepakati antara pemesan atau pembeli (Mustashni’) dan penjual atau pembuat (Shani’).
Tahun yang berakhir pada tanggal-tanggal 31 Desember 2011 dan 2010 (Disajikan dalam Rupiah penuh kecuali dinyatakan lain) 2. IKHTISAR KEBIJAKAN AKUNTANSI (lanjutan)
h. Piutang (lanjutan)
Piutang istishna disajikan sebesar tagihan kepada pembeli dikurangi penyisihan kerugian. Bank menetapkan penyisihan kerugian sesuai dengan kualitas piutang istishna berdasarkan penelaahan atas masing-masing saldo piutang.
Akad ijarah adalah akad penyediaan dana dalam rangka memindahkan hak guna atau manfaat dari suatu barang atau jasa berdasarkan transaksi sewa, tanpa diikuti dengan pemindahan kepemilikan barang itu sendiri kepada penyewa.
Akad ijarah muntahiyah bittamlik adalah akad penyediaan dana dalam rangka memindahkan hak guna atau manfaat dari suatu barang atau jasa berdasarkan transaksi sewa dengan opsi pemindahan kepemilkan barang kepada penyewa.
Perpindahan hak milik obyek sewa kepada penyewa dalam ijarah muntahiyah bittamlik dapat dilakukan dengan:
(i) hibah;
(ii) penjualan sebelum akad berakhir sebesar harga yang sebanding dengan sisa cicilan sewa; (iii) penjualan pada akhir masa sewa dengan pembayaran tertentu yang disepakati pada awal
akad; dan
(iv) penjualan secara bertahap sebesar harga tertentu yang disepakati dalam akad.
Piutang pendapatan ijarah diakui pada saat jatuh tempo sebesar sewa yang belum diterima dan disajikan sebesar nilai bersih yang dapat direalisasikan, yakni sebesar saldo piutang.
i. Pembiayaan
Pembiayaan bagi hasil dapat dilakukan dengan akad mudharabah dan akad musyarakah.
Akad mudharabah dalam pembiayaan adalah akad kerja sama suatu usaha antara pihak pertama (malik, shahibul mal, atau bank syariah) yang menyediakan seluruh modal dan pihak kedua (amil,
mudharib, atau nasabah) yang bertindak selaku pengelola dana dengan membagi keuntungan
usaha sesuai dengan persentase tertentu yang disepakati dalam akad, sedangkan kerugian ditanggung sepenuhnya oleh bank syariah kecuali jika pihak kedua melakukan kesalahan yang disengaja, lalai atau menyalahi perjanjian.
Pembiayaan mudharabah dinyatakan sebesar saldo pembiayaan dikurangi dengan penyisihan kerugian. Bank menetapkan penyisihan kerugian sesuai dengan kualitas pembiayaan berdasarkan penelaahan atas masing-masing saldo pembiayaan.
Apabila pembiayaan mudharabah mengalami penurunan nilai akibat hilang, rusak atau faktor lain sebelum dimulainya usaha karena adanya kerusakan atau sebab lainnya tanpa adanya kelalaian atau kesalahan pihak pengelola dana, maka rugi tersebut mengurangi saldo pembiayaan
mudharabah dan diakui sebagai kerugian Bank. Apabila pembiayaan mudharabah mengalami
penurunan nilai akibat hilang, rusak atau faktor lain setelah dimulainya usaha tanpa adanya kelalaian atau kesalahan pengelola dana maka kerugian penurunan nilai tersebut diperhitungkan pada saat bagi hasil. Kerugian pembiayaan mudharabah akibat kelalaian atau kesalahan pengelola dana dibebankan pada pengelola dana dan tidak mengurangi pembiayaan
mudharabah.
i. Pembiayaan (lanjutan)
Akad musyarakah adalah akad kerja sama di antara dua pihak atau lebih untuk suatu usaha tertentu dimana masing-masing pihak memberikan porsi dana dengan ketentuan bahwa keuntungan akan dibagi sesuai dengan persentase yang disepakati, sedangkan kerugian ditanggung sesuai dengan porsi dana masing-masing.
Musyarakah permanen adalah pembiayaan akad musyarakah dengan ketentuan bagian dana
setiap mitra ditentukan sesuai akad dan jumlahnya tetap hingga akhir masa akad.
Musyarakah menurun (musyarakah mutanaqisha) adalah musyarakah dengan ketentuan bagian
dana salah satu mitra akan dialihkan secara bertahap kepada mitra lainnya sehingga bagian dananya akan menurun dan pada akhir masa akad mitra lain tersebut akan menjadi pemilik penuh usaha tersebut.
Pembiayaan musyarakah dinyatakan sebesar saldo pembiayaan dikurangi dengan penyisihan kerugian. Bank menetapkan penyisihan kerugian sesuai dengan kualitas pembiayaan berdasarkan penelaahan atas masing-masing saldo pembiayaan musyarakah.
j. Pinjaman Qardh
Pinjaman qardh adalah penyaluran dana dengan akad qardh.
Akad qardh adalah akad pinjaman dana kepada nasabah dengan ketentuan bahwa nasabah wajib mengembalikan dana yang diterimanya pada waktu yang telah disepakati.
Pinjaman qardh meliputi pembiayaan dengan akad hawalah dan rahn. Akad hawalah adalah akad pengalihan utang dari pihak yang berutang (nasabah) kepada pihak lain (Bank) yang wajib menanggung atau membayar. Atas transaksi ini Bank mendapatkan imbalan (ujrah) dan diakui pada saat diterima.
Rahn merupakan transaksi gadai barang atau harta dari nasabah kepada Bank dengan uang
sebagai gantinya. Barang atau harta yang digadaikan tersebut dinilai sesuai harga pasar dikurangi persentase tertentu. Atas transaksi ini Bank mendapatkan imbalan (ujrah) dan diakui selama periode akad.
Pinjaman qardh diakui sebesar jumlah dana yang dipinjamkan pada saat terjadinya. Kelebihan penerimaan dari pinjaman atas qardh yang dilunasi diakui sebagai pendapatan pada saat terjadinya. Pinjaman qardh disajikan sebesar saldonya dikurangi penyisihan kerugian. Bank menetapkan penyisihan kerugian qardh berdasarkan penelaahan atas masing-masing saldo.
k. Aset yang Diperoleh untuk Ijarah
Aset yang diperoleh untuk ijarah adalah aset yang dijadikan obyek sewa (ijarah) dan diakui sebesar harga perolehan. Obyek sewa dalam transaksi ijarah disusutkan sesuai kebijakan penyusutan aset sejenis, sedangkan obyek sewa dalam ijarah muntahiyah bittamlik disusutkan sesuai masa sewa.
Aset yang diperoleh untuk ijarah disajikan sebesar nilai perolehan dikurangi dengan akumulasi penyusutan dan amortisasi.
Tahun yang berakhir pada tanggal-tanggal 31 Desember 2011 dan 2010 (Disajikan dalam Rupiah penuh kecuali dinyatakan lain) 2. IKHTISAR KEBIJAKAN AKUNTANSI (lanjutan)
l. Aset Istishna dalam Penyelesaian
Aset istishna dalam penyelesaian adalah aset istishna yang masih dalam proses pembuatan. Jika penyelesaian pembayaran dilakukan bersamaan dengan proses pembuatan aset istishna, maka:
1) Biaya ditangguhkan yang berasal dari biaya pra akad diakui sebagai aset istishna dalam penyelesaian pada saat akad ditandatangani.
2) Biaya istishna diakui sebagai aset istishna dalam penyelesaian pada saat terjadinya.
3) Biaya istishna paralel diakui sebagai aset istishna dalam penyelesaian pada saat diterimanya tagihan dari sub kontraktor sebesar jumlah tagihan.
m. Aset Tetap
Aset tetap disajikan sebesar harga perolehan dikurangi akumulasi penyusutan. Aset tetap disusutkan sejak bulan ketika aset tersebut digunakan dengan menggunakan metode garis lurus selama taksiran masa manfaat aset sebagai berikut:
Tahun
Bangunan 20
Instalasi, inventaris kantor dan kendaraan bermotor 5 Tanah dicatat berdasarkan biaya perolehan dan tidak disusutkan.
Biaya perbaikan dan pemeliharaan dibebankan pada saat terjadinya, pemugaran dan peningkatan daya guna dalam jumlah signifikan dikapitalisasi. Pada saat aset tetap sudah tidak digunakan lagi atau dijual, nilai buku dan akumulasi penyusutan dari aset tetap tersebut dikeluarkan dari akun aset tetap dan keuntungan atau kerugian yang terjadi diakui dalam laporan laba rugi tahun berjalan.
Nilai tercatat aset tetap dihentikan pengakuannya pada saat dilepaskan atau saat tidak ada manfaat ekonomis masa depan yang diharapkan dari penggunaan atau pelepasannya. Laba atau rugi yang timbul dari penghentian pengakuan aset (dihitung sebagai perbedaan antara jumlah neto hasil pelepasan dan jumlah tercatat dari aset) diakui dalam laporan laba rugi pada tahun aset tersebut dihentikan pengakuannya.
Nilai yang dapat diperoleh kembali atas suatu aset diestimasikan ketika kejadian atau perubahan keadaan mengindikasikan bahwa nilai tercatat mungkin tidak sepenuhnya dapat diperoleh kembali. Penurunan nilai aset, jika ada, diakui sebagai kerugian pada laporan laba rugi tahun berjalan.
n. Biaya Dibayar Dimuka
Biaya dibayar dimuka (disajikan dalam akun “Aset Lain-lainnya”) diamortisasi selama masa manfaat masing-masing biaya dengan menggunakan metode garis lurus (straight-line method).
o. Kewajiban Segera
Kewajiban segera merupakan kewajiban Bank kepada pihak lain yang sifatnya wajib segera dibayarkan sesuai dengan perintah pemberi amanat atau perjanjian yang ditetapkan sebelumnya.
p. Simpanan Wadiah
Simpanan wadiah merupakan simpanan pihak lain dalam bentuk giro wadiah dan tabungan
wadiah. Giro wadiah dapat digunakan sebagai instrumen pembayaran, dan dapat ditarik setiap
saat melalui cek dan bilyet giro. Giro wadiah serta tabungan wadiah mendapatkan bonus sesuai kebijaksanaan Bank. Simpanan dalam bentuk giro wadiah dan tabungan wadiah dinyatakan sebesar kewajiban Bank.
q. Simpanan dari Bank Lain
Simpanan dari bank lain adalah kewajiban Bank kepada bank lain dalam bentuk giro wadiah, tabungan wadiah dan Sertifikat Investasi mudharabah Antarbank (SIMA). Simpanan dari bank lain dinyatakan sebesar kewajiban Bank kepada bank lain.
r. Pembiayaan Diterima
Pembiayaan diterima merupakan dana yang diperoleh dari entitas lain dengan kewajiban pembayaran kembali sesuai dengan persyaratan dalam akad. Pembiayaan diterima diakui sebesar nilai nominalnya pada saat perjanjian ditandatangani.
s. Surat Berharga Subordinasi yang Diterbitkan
Surat berharga subordinasi yang diterbitkan disajikan sebesar nilai nominal. Biaya-biaya yang timbul dari penerbitan surat berharga diamortisasi secara garis lurus selama jangka waktunya.
t. Dana Syirkah Temporer
Dana syirkah temporer adalah dana yang diterima oleh Bank. Bank mempunyai hak untuk mengelola dan menginvestasikan dana, baik sesuai dengan kebijakan Bank atau kebijakan pembatasan dari pemilik dana, dengan keuntungan dibagikan sesuai dengan kesepakatan. Hubungan antara Bank dan pemilik dana syirkah temporer merupakan hubungan kemitraan berdasarkan akad mudharabah muthlaqah, mudharabah muqayyadah atau musyarakah. Contoh dari dana syirkah temporer adalah penerimaan dana dari investasi mudharabah muthlaqah,
mudharabah muqayyadah, mudharabah musytarakah, dan akun lain yang sejenis.
1) Mudharabah muthlaqah adalah mudharabah dimana pemilik dana (shahibul maal) memberikan kebebasan kepada pengelola dana (mudharib/Bank) dalam pengelolaan investasinya.
2) Mudharabah muqayyadah adalah mudharabah dimana pemilik dana memberikan batasan kepada pengelola dana, antara lain mengenai tempat, cara dan atau obyek investasi.
3) Mudharabah musytarakah adalah bentuk mudharabah dimana pengelola dana juga menyertakan modal atau dananya dalam kerja sama investasi.
Dana syirkah temporer tidak dapat digolongkan sebagai kewajiban. Hal ini karena Bank tidak berkewajiban untuk mengembalikan jumlah dana awal dari pemilik dana kecuali akibat kelalaian atau wanprestasi ketika mengalami kerugian. Di sisi lain dana syirkah temporer tidak dapat digolongkan sebagai ekuitas karena mempunyai waktu jatuh tempo dan pemilik dana tidak mempunyai hak kepemilikan yang sama dengan pemegang saham seperti hak voting dan hak atas realisasi keuntungan yang berasal dari aset lancar dan aset non-investasi (current and other