• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN"

Copied!
44
0
0

Teks penuh

(1)

55   

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Gambaran Umum Tempat Penelitian

4.1.1 Sejarah PT. Garuda Maintenance Facility AeroAsia

Garuda Indonesia sebagai salah satu perusahaan penerbangan Indonesia yang melayani Jasa Angkutan Udara Nasional dan Internasional, telah memiliki pusat perawatan amarda yaitu PT. Garuda Maintanance Facility (GMF) AeroAsia yang berlokasi dikawasan Bandara Internasional Soekarno Hatta.

Pada tanggal 19 Agustus 2002 lalu, PT. Garuda Indonesia dan PT. GMF AeroAsia melaksanakan penandatanganan perjanjian kerjasama, dimana PT. Garuda Indonesia menyerahkan masalah perawatan pesawatnya, penugasan sumber daya manusia (SDM) serta pengalihan Vice Precident (VP) dan General Manager (GM) kepada PT. GMF AeroAsia, berlokasi digedung management PT. GMF AeroAsia. Acara tersebut telah menjadi momentum dari rangkaian kegiatan dalam proses pembentukan Strategic Bussiness Unit (SBU) GMF AeroAsia menjadi anak perusahaan PT. Garuda Indonesia.

Pembentukan PT. Garuda Maintenance Facility AeroAsia dilaksanakan berdasarkan surat keputusan menteri negara Badan Usaha Milik Negara (BUMN) RI No.S-26t1/M-BUMN/2002 tanggal 8 Maret 2002, kemudian ditindak lanjuti dengan pendirian anak perusahaan dengan akta pendirian PT. GMF AeroAsia No. 93 tanggal 26 April 2002 yang dikeluarkan oleh kantor notaris Arry Supratni SH.

(2)

Dalam kaitan dengan proses pendirian PT. GMF AeroAsia, saat ini telah diselesaikan aspek-aspek administratif yang meliputi antara ketentuan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP), surat ijin usaha perdagangan, pengesahan oleh Departemen kehakiman dan HAM serta Tanda Daftar Perseroan Terbatas (TDPT ) persetujuan tentang penetapan PT. GMF AeroAsia sebagai kawasan berikat yang telah diberikan melalui surat keputusan mentri keuangan pada tanggal 30 Agustus 2002.

Perubahan SBU GMF menjadi PT. GMF AeroAsia telah dilaksanakan berbagai pihak seperti regulator kelayakan udara, pemasok, pelanggan dan pihak ketiga lainya. Demikian secara bertahap PT. GMF AeroAsia akan beroperasian secara bertahap pula SBU GMF resmi diberhentikan.

Setiap perusahaan maskapai penerbangan sebenarnya wajib untuk memiliki fasilitas sarana dan prasarana untuk melakukan perawatan pesawat terbang maskapainya masing-masing, hal ini, bertujuan untuk mengantisipasi perkembangan teknologi pesawat terbang pada masa yang akan datang. Selain itu juga mengefisiensikan waktu perawatan maskapai mereka masing-masing, pada akhirnya dapat memperlancar perusahaan maskapai penerbangan dalam mengoperasikan armada-armada dari pesawat yang dimiliki perusahaan maskapai tersebut dan tentunya untuk menekankan biaya perawatan pesawatnya.

Keberadaan Garuda Mantenance Facility (GMF) AeroAsia sudah akui oleh dunia penerbangan internasional, dimana PT. GMF AeroAsia telah diakui

(3)

57   

penerbangan milik negara Amerika Serikat pada tahun 1992 dan EASA badan keselamatan penerbangan Eropa pada tahun 2003 dan masih banyak.

NO NATION AUTORITHY CERTIFACAT

NUMBER

SINCE

1 USA FAA WGFY076F 1992

2 EUROPE EASA EASA 145.0062 2003

3 SINGAPORE CAAS AWI/139 1995

4 BANGLADESH CAAB CAA/5525/36/AELD 1998

5 THAILAND DCA 181/2538 2001

6 GHANA GCAA 063 2001

7 NIGERIA NCAA AMO/PK/GMF 2002

8 YEMEN CAMA 018 & 38 2003

9 SOUTH AFRICA CAA 945 2003

10 INDIA DGCA 5-1638/2005/A1(2) 2005

11 KENYA KCAA K/AMO/F/008 2005

12 ZIMBAWE CAAZ 176/157 2005

13 MALAYSIA DCA AO/0120/06 2006

14 OMAN DGCAM AWR/AMO/GMF136/07 2007

15 UKRAINE SAA BP 0256 2007

( Sumber: Corporate Communication 2012 ) Tabel 2.1 Customer PT.GMF AeroAsia

(4)

( sumber: Corporate Communication 2011 )

Gambar 1.1 Perusahaan Garuda Indonesia dan anak perusahaan

4.1.2 Visi Dan Misi

Visi : Menjadi pemain utama di industri perawatan pesawat terbang,

atau yang lebih dikenal dengan sebutan MRO ( Maintanance,

Repair, and Overhaul )

Misi : Menyediakan jasa solusi untuk perawatan, perbaikan, dan overhaul yang terintegrasi dan terperaya sehingga dapat tercipta rasa yang aman dan nyaman bagi semua makhluk hidup.

4.1.3 Aspek Bidang Usaha

PT. GMF AeroAsia bergerak pada bidang jasa perbaikan dan perawatan pesawat, maka seluruh pelanggan atau costumer-nya pun berasal dari berbagai

(5)

59   

perusahaan maskapai penerbangan pesawat internasional maupun perusahaan pesawat dan perbaikan pesawat. PT. GMF AeroAsia melakukan perawatan dan perbaikan pesawat tersebut sesuai dengan persayaratan dan ketentuan internasional pada umumnya. PT. GMF AeroAsia memiliki beberapa penghargaan yang diberikan oleh organisasi atau perusahaan penerbangan lain, seperti penghargaan FAA dari Amerika serta penghargaan EASA dari Eropa. Berikut daftar penghargaan lainya:

NOYear Name of Events Remarks

1

2005

Repair Station Manual (RMS) Mendapatkan pengakuan dari DGAC & FAA

CASR/FAR Part 145-207

2

EASA Approval untuk A330 & B 744 Line Maintenance

3

GMF Terima Perpanjangan Sertifikat AMO dari DSKU

4

2006

Sertifikat 147 Aircraft Maintenance Training Organization (AMTO) dari DGCA

5

Apresiasi dari Yemen Airways untuk On Time Performance

6 2007

Approval 147 dari Civil Aviation & Metrology Authority (CAMA) Yemen

(6)

kepada GMF Learning Service

7

Apresiasi dari Qantas Airlines kepada GMF

8

Direktorat Sertifikasi Kelaikan Udara (DSKU) menyerahkan Certificate 57 kepada Unit Trade & Asset Management

Distributor part & component pesawat

9

Approval ISO 9001-2000 kepada BP IGTE

Perawatan Industrial gas Turbine Engine

10

2008

GMF Masuk Dalam 5 (Lima) Besar HR Excellent Award 2007 Majalah SWA di 3 (Tiga) Kategori

Kategori Manajemen SDM Umum dan kategori Manajemen Kinerja, GMF berada di peringkat keempat

Kategori Pelatihan dan Pengembangan, GMF berada di peringkat ketiga

11 GMF Terima Ozone Award 2007

Partisipasi aktif dan kontribusi GMF dalam mendukung program perlindungan lapisan ozon

GMF terlibat aktif dalam pengelolaan halon di Indonesia dengan membentuk GMF-Indonesia Halon bank

(7)

61   

12

Apresiasi Japan Airlines (JAL) untuk pencapaian On Time Performance lebih dari 95% selama empat tahun berturut-turut

13

CEO GMF Terima Anugerah Men & Women of The Year

CEO GMF Richard Budihadianto merupakan penerima Indonesian Award

14 2009

GMF AeroAsia menerima penghargaan dari PT Garuda Indonesia sebagai Best Subsidiary 2008

15

CEO GMF Terpilih Sebagai Ketua IAMSA periode 2009 – 2012

16

GMF Meraih Penghargaan dalam Annual Report Award 2009

PT GMF AeroAsia menduduki posisi ketiga untuk kategori private, non listed, dan non finance

17

GMF Terima Sertifikat Approval AMTO 147

18 2010

Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) memberikan apresiasi kepada PT GMF AeroAsia atas diraihnya penghargaan 2010 U.S. EPA Montreal Protocol Award yang diterima GMF AeroAsia untuk

Satu-satunya perusahaan di luar USA

(8)

kategori perusahaan

19

Penerimaan perpanjangan Sertifikat AMO 145 dan Distributor 57 oleh DGCA

20

Unit IGTE GMF terima sertifikasi ISO 9001:2008

21

GMF AeroAsia Terima The Indonesia Aerospace Awards Safety Leadership of the Year oleh Frost & Sullivan

PT GMF AeroAsia telah menjadikan safety sebagai prioritas dalam menjalankan

bisnisnya yang diimplementasikan dalam

berbagai program

(sumber: Corporate Communication 2012) Tabel 2.2 penghargaan PT.GMF AeroAsia

Berikut costumer perusahaan PT. GMF AeroAsia dari maskapai penerbangan domestik maupun maskapai penerbangan internasional serta perusahaan perawatan dan perbaikan pesawat yang bekerjasama demgam PT. GMF AeroAsia:

(9)

63   

( sumber: Corporate Communication 2011 ) Gambar 2.1 Costumer International PT. GMF AeroAsia

( sumber: Corporate Communication 2011 ) Gambar 2.2 Costumer Domestic PT. GMF AeroAsia.

(10)

4.1.4 Aspek Sarana dan Prasarana

( sumber: Corporate Communication 2011 ) Gambar 2.3 Area PT. GMF AeroAsia

PT. GMF AeroAsia berdiri diatas lahan seluas 115 ha dengan memiliki tiga buah hangar dan tiga buah workshop. Dimana pada masing-masing hangar memiliki fungsi yang berbeda. Hangar satu merupakan tempat untuk melakukan perawatan dan perbaikan pesawat berbadan besar atau istilahnya Wide Body Aircraft digunakan oleh pesawat dari International dan pesawat national. Hangar 2 digunakan untuk tempat pengecheckan dan perawatan pesawat yang berbadan kecil ( narrow body aircraft ) dan pesawat berbadan besar ( wide body aircraft ) dimana hangar 2 merupakan perawatan khusus pesawat Garuda Indonesia. Terakhir, hangar 3 merupakan tempat perawatan perbaikan khusus pesawat non garuda yang berbadan kecil.

Selain itu, PT. GMF AeroAsia memiliki 2 workshop dan 1 engine shop. Engine shop yang merupakan tempat untuk melakukan perawatan khususnya

(11)

65   

untuk bagian engine shop yang merupakan tempat untuk melakukan perawatan khususnya untuk bagian engine atau mesin pesawat. Workshop pada PT. GMF AeroAsia terbagi menjadi dua dengan memiliki fungsi yang berbeda yaitu workshop 1 dan workshop 2, dimana workshop 1 merupakan bengkel mekanika yang terdiri dari bengkel landing gear (peralatan mendarat), sheet metal (lembaran metal), mesin pesawat, rem pesawat dan ban pesawat serta laundry and up holstry atau berupa kain pelapis. Sedangkan workshop 2 terdiri dari bengkel IERA, hidrolik, elektrik, pneumatic, bahan bakar dan perlengkapan gawat darurat.

Selain itu ada gedung untuk menguji mesin atau yang disebut dengan gedung Test Cell, fasilitas lainya adalah gudang material, mesin-mesin di gedung utility sebagai penyedia listrik dan Air Conditioner (AC) untuk semua unit bangunan diarea perkantoran GMF AeroAsia, gedung penyimpanan bahan bakar untuk bensin dan solar dengan kapasitas 30.000 liter dan avtur dengan kapasitas 15.000 liter, dan lapangan parkir seluas 18.500 m².

PT. GMF AeroAsia juga memberikan sarana dan prasarananya yang dikhususkan untuk pegawai – pegawainya seperti mobil jemputan karyawan, mushola, kantin disetiap gedung – gedung yang ada diwilayah PT. GMF AeroAsia, koperasi karyawan seperti GMF Employee Club (GEC).

Hangar : 8.7 Ha Workshop : 9.7 Ha

Engine Test Cell and Utility : 1.5 Ha Apron, taxy way dan run-up bay : 44.4 Ha Central store dan engine shop : 1.7 Ha

(12)

Perkantoran : 0.6 Ha Pertamanan : 53.4 Ha

Gedung management dan pusat olahraga : 0.95 Ha

4.1.5 Fungsi GMF Dalam Penanganan Aircraft Maintenance

Setelah keluarnya surat izin pemerintah bagi perusahaan-perusahaan penerbangan yang lain untuk mendatangkan pesawat-pesawat berbadan kecil seperti Boeing 737 series, F-28 serta DC-9, PT. GMF AeroAsia melihat ada peluang besar pada pasar dalam negri terutama pesawat yang telah didatangkan tersebut dalam melakukan perawatan dan perbaikan besar.

Dengan adanya PT. GMF AeroAsia, diharapkan perusahaan penerbangan didalam negeri dapat melakukan penghematan biaya operasional dalam perawatan dan perbaikan pesawat. Sebab biaya untuk perawatan dan perbaikan pesawat international memerlukan biaya operasional yang tidak sedikit, dan banyak administrasi dan prosedur yang wajb dilengkapi oleh masing-masing maskapai penerbangan.

Dengan jaminan yang diberikan oleh PT. GMF AeroAsia dimana para tekhnisi wajib memiliki lisensi yang harus mereka dapatkan baik dari dalam negeri maupun luar negeri melalui beberapa training atau pelatihan dari PT. GMF AeroAsia dan telah membuktikan kepada costumer dengan melakukan penanganan pesawat F-28 dan DC-9 sejak tahun 1974 hingga tahun 1990-an. Selain itu, PT. GMF AeroAsia juga mampu melakukan overhaul pesawat Airbus 300, DC-10 dan Boeing 747.

(13)

  Jam GMF Aer dalam me yang san merupakan 4.1.6 Str PT and CEO, President terhadap u Unit Corp ( VP ). minan ketep roAsia kep elakukan pe gat maksim n denyut na ruktur Orga ( s Gamb T. GMF Ae , dalam me and COO. unit Quality porate Secra patan waktu pada sodtum enyelesaian mal. Karen adi dalam m anisasi PT. G sumber: Co bar 2.4 Struk roAsia dipi enjalankan Selain itu, y Assurance atary yang m 67 u perawatan mer atau p , PT. GMF na bagi PT menjalankan GMF AeroA rporate Com ktur Organis impin oleh perusahaan President a e and Safety masing-masi n dan perba pelangganny F AeroAsia T. GMF A n roda perus Asia mmunicatio sasi PT. GM seorang dir n direktur u and CEO be y, unit Inte ing unit dip

aikanpun dib ya, selain k a juga mem AeroAsia s ahaan. on 2011 ) MF AeroAsi rektur utam utama diban ertanggung ernal Audit pegang oleh berikan oleh ketetapan w mberikan ku sendiri cost ia ma atau Prec ntu oleh D jawab lang and Contro Vice Presid h PT. waktu ualitas tumer cident eputy gsung ol dan dent

(14)

4.1.7 Unit PT. GMF AeroAsia

Unit-unit yang ada di PT. GMF AeroAsia sebagai berikut:

1. TQ ( Quality Control )

Merupakan wakil pemerintah dari departmen perhubungan yang bergabung dengan PT. GMF AeroAsia. Departemen ini bertanggung jawab langsung kepada Direktur Utama ( President dan CEO )

2. TI ( Internal Audit and Control )

Bertanggung jawab terhadap tertib administrasi perusahaan, bahwa perusahaan menjalankan bisnisnya sesuai dengan kaidah Good Coorporate Government (GCG). Memastikan bahwa semua rencana bisnis dapat terselenggara sesuai dengan anggaran (tertib anggaran) dan menjalankan fungsi pengawasan kontrol.

3. TB ( Base Maintanance )

Melakukan perawatan pesawat sesuai dengan schedule atau jadwal yang telah ditentukan oleh operator.

4. TL ( Line Maintanance )

GMF AeroAsia bertanggung jawab dalam menyediakan layanan line maintanance services untuk semua pesawat Garuda dan pesawat komersial yang mendarat di Bandara International Soekarno-Hatta Cemgkareng dan bandara lainnya.

5. TE ( Engine Maintanance )

(15)

69   

6. TC ( Corporate Maintanance )

Melakukan perawatan pesawat diluar engine.

7. TE ( Engineering service )

Memprogram waktu (kapan) pesawat masuk, membangun biaya program maintanance yang efektif dan fleksibel serta program kesinambungan dengan OEM ( produksi suku cadang asli ).

8. TM ( trade & asset management )

- Bertanggung jawab atas gudang/penjualan aset-aset pesawat terbang

- Bertanggung jawab terhadap penyediaan spare part pesawat terbang

9. TS ( corporate communications )

Dinas yang mewadahi kegiatan corporate and development.

10. TA ( corporate finance )

Bertanggung jawab atas ketersediaan dana perusahaan.

11. TP ( bussiness corporatetion and development )

Melakukan fungsi marketing dari sisi strategi maupun produk. 12. TH

Pengelolaan sumber daya manusia. Bertanggung jawab dalam masalah kuantitas karyawan.

13. TX

Treasury Management. Bertanggung jawab terhadap pengelolaan keuangan perusahaan.

(16)

Aircraft Maintanance Planning and Control. Bertanggung jawab terhadap pelaksanaan perawatan pesawat dan kapasitas komponen-komponen engine pesawat.

15. TW

Pelatihan dan manajemen pengetahuan. Bertanggung jawab terhadap kualitas dari karyawan dan teknisi dalam mengembangkan bisnis perusahaan.

16. TD

Corporate Development and Information. Bertanggung jawab terhadap pengembangan bisnis dan informasi perusahaan.

4.2 Gambaran Umum Corporate Communication PT. GMF AeroAsia

PT. GMF AeroAsia adalah perusahaan yang bergerak di bidang perbaikan dan perawatan pesawat. PT. GMF AeroAsia yaitu bengkel pesawat terbesar seAsia Tenggara dan sudah bertaraf International serta mempunyai reputasi yang baik. Hal tersebut terbukti dengan banyaknya award yang diraih baik dari nasional maupun internasional.

PT. Garuda Maintenace Facility AeroAsia resmi berdiri sendiri dan menjadi anak perusahaan Garuda pada tahun 2002 dan menjadi perusahaan berserikat. Di PT. GMF AeroAsia yang menjalankan tugas dan fungsi Public

Relations adalah divisi Corporate Communication yang tergabung pada

(17)

71   

Banyak tugas dan kegiatan kehumasan yang dijalankan oleh Corporate

Communication salah satunya adalah program CSR. Melalui program CSR di PT. GMF AeroAsia diharapkan bisa menumbuhkembangkan reputasi perusahaan menjadi lebih baik. Salah satu program CSR yang rutin diadakan oleh PT. GMF AeroAsia adalah kegiatan Public Visit. Public Visit adalah kegiatan kunjungan yang diadakan secara berkesinambungan. Kegiatan ini dikemas sebagai CSR karena kegiatan ini tidak dipungut biaya. Tujuannya diadakan kegiatan Public Visit adalah untuk mengedukasi masyarakat luas umumnya dan siswa dari tingkat TK sampai SMA, Mahasiswa, dan Instansi yang ada di Indonesia agar mengenal teknologi canggih dan bisa memberikan informasi tentang perawatan dan perbaikan pesawat terbang.

Adapun bentuk kegiatan CSR yang dilakukan oleh PT. GMF AeroAsia yaitu meliputi :

1. Program Pemberdayaan Masyarakat

2. Pelayanan Masyarakat meliputi Pendidikan dan Edukasi Masyarakat,

Program Magang (Internship Program) dan Kesehatan

3. Peningkatan Kualitas dan Kuantitas GMF

4. Lingkungan

5. Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)

Adapun tahapan-tahapan menurut M. Cutlip Center agar dapat berjalan dengan baik dalam melaksanakan proses “Program CSR bagi public visit PT.

(18)

Garuda Maintenance Facility AeroAsia dalam rangka membentuk pengetahuan

tentang maintenance facility pesawat bagi anak sekolah “,yaitu melalui:

1. Fact Finding (Mendefinisikan Masalah)

2. Planning and Programming (Perencanaan dan Program) 3. Communication and Action (Aksi dan Komunikasi) 4. Evaluation (Evaluasi)

4.3 Hasil penelitian

Setelah peneliti melakukan penelitian melalui pendekatan kualitatif yaitu

dengan wawancara beberapa narasumber internal dari Corporate Communication

PT. GMF AeroAsia secara mendalam dan melakukan observasi yaitu pengamatan secara langsung ke PT. GMF AeroAsia. Narasumber peneliti, yaitu: Bapak

Mochammad Aviv selaku General Manager Corporate Communication PT. GMF

AeroAsia, Ibu Sisca Tobing selaku Staff Corporate Communication dan Bapak

Darojattul Ulla Selaku Staff Corporate Communication. Narasumber tersebut

adalah orang-orang yang mempunyai peranan penting terhadap program Public Relations yang berkaitan langsung dengan kegiatan dengan khalayak internal maupun eksternal termasuk program CSR khususnya Public Visit yang sesuai dengan judul skripsi ini.

Selain itu wawancara juga dilakukan kepada salah satu pengunjung Public Visit yaitu Sdr. Rizky Firmansyah yang pernah mengikuti kegiatan Public Visit, karena peneliti ingin mengetahui apakah pesan yang disampaikan melalui program Public Visit sudah tepat sasaran sesuai dengan harapan.

(19)

73   

Wawancara terhadap narasumber internal dilaksanakan pada tanggal 29 Juli 2013. Wawancara yang di lakukan dengan narasumber secara tatap muka

secara mendalam (indept interview). Pertanyaan yang diajukan oleh peneliti

bersifat umum yang kemudian menjadi berkembang berjalan dengan sendirinya.

Sedangkan pengambilan data dengan staff Corporate Communication mulai 9

November 2012 pada saat peneliti melaksanakan Praktek Kerja lapangan di PT. GMF AeroAsia.

Dalam melakukan wawancara dilakukan dengan tatap muka secara mendalam selain itu peneliti memberikan pertanyaan kepada narasumber

menggunakan tekhnik pertanyaan 5W+1H (What, Where, When, Who Why, dan

How). Setelah data yang diperoleh peneliti mengadakan perbandingan dan pertimbangan kemudian dikategorisasikan, hasil yang akan dijelaskan yaitu Program CSR bagi public visit PT. Garuda Maintenance Facility AeroAsia dalam

rangka membentuk pengetahuan tentang maintenance facility pesawat bagi anak

sekolah. Data yang diperoleh adalah sebagai berikut:

4.3.1 Fact Finding (Mendefinisikan Masalah)

Berdasarkan fokus penelitian pada tahapan pertama peneliti mengumpulkan data melalui beberapa langkah. Pertama peneliti harus mengetahui awal permasalahan yang dihadapi PT. GMF AeroAsia. Peneliti juga memantau pengetahuan, opini, perilaku dan berkomunikasi secara informal dengan pihak yang terkait mengenai program CSR bagi Public Visit dalam rangka membentuk

(20)

Public Relations sebagai fungsi manajemen harus mampu membuat hubungan baik ke stakeholder eksternal dan internalnya melalui program-program

Public Relations. Melalui salah satu program humas yaitu Corporate Social

Responsibility seorang Public Relations, banyak manfaat yang diperoleh perusahaan, yaitu dapat menjangkau khalayak eksternal agar dapat mengenal dan lebih dekat dengan perusahaan. Selain itu melalui program CSR pula Public Relations dapat menyampaikan pesan-pesan perusahaan.

Banyak program CSR yang dijalankan di PT. GMF AeroAsia yang dibagi menjadi beberapa bidang. Suatu program dapat berhasil tergantung bagaimana perusahaan mengelolanya karena dapat menunjang keberhasilan perusahaan. Dengan melihat masalah yang terjadi bahwa GMF sebagai perusahaan yang menjadi satu-satunya bengkel pesawat di Indonesia dalam bidang pelayanan jasa perawatan armada angkutan udara memiliki tanggung jawab kepada masyarakat Indonesia dan anak sekolah khususnya dalam bidang pendidikan bahwa PT. GMF AeroAsia perlu memberikan edukasi tentang adanya teknologi canggih dalam merawat dan memperbaiki pesawat untuk menambah pengetahuan dan pengalaman. Mengingat banyak masyarakat Indonesia khususnya anak sekolah yang belum mengetahui tentang perawatan dan perbaikan pesawat.

CSR dalam bidang pendidikan dilakukan GMF secara berkesinambungan terutama dalam kegiatan Public Visit yang rutin diadakan GMF. Hal ini menunjukkan bahwa PT. GMF AeroAsia peduli terhadap pendidikan di Indonesia. Sebagai bengkel pesawat satu-satunya di Indonesia GMF mempunyai tanggung

(21)

75   

tentang perbaikan dan perawatan pesawat. Melalui bidang edukasi ini pula, dalam menjalankan CSRnya yaitu agar pendidikan seseorang bisa bertambah dan akan lebih mudah diajak bicara. Seperti yang diutarakan Bapak Mochammad Aviv yang menjelaskan latar belakang alasan GMF membuat program CSR dalam kegiatan Public Visit, berikut penyataan beliau:

“Public Visit adalah tanggung jawab sosial kita dalam bidang edukasi karena perusahaan kita adalah aset negara maka sebaiknya diketahui oleh masyarakat mengenai teknologi tinggi tentang perawatan pesawat terbang. Itulah latar belakang kita membuat program Public Visit. 20.000 sampai 22.000 pengunjung setiap tahun dari semua pihak dari tingkat TK sampai instansi mengikuti kegiatan Public Visit. Alasan kenapa kita masuk kedalam bidang pendidikan karena dengan bertambahnya pendidikan seseorang jadi akan lebih mudah diajak bicara atau berkomunikasi.”64

Persepsi yang sama diuraikan pula oleh Ibu Siska Tobing selaku Staff Corporate Communication PT. GMF AeroAsia. Berikut penjelasan beliau:

“Yang melatarbelakangi yaitu sebagai upaya GMF membantu dunia pendidikan di Indonesia terutama di bidang pendidikan. Karena tidak semua orang di Indonesia dan di dunia tidak banyak yang memahami tentang industri perawatan pesawat terbang secara khususnya. Jadi bila perlu mengajak masyarakat dan anak-anak sekolah khususnya masuk kelingkungan GMF agar kedepannya mereka dapat mengetahui tentang perawatan pesawat terbang.”65

Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan oleh peneliti, kemudian peneliti menyimpulkan bahwa melalui program CSR Public Visit GMF sebagai aset negara mempunyai tanggung jawab sosial terutama dalam bidang pendidikan untuk memberikan informasi berupa pengetahuan tentang teknologi canggih yang ada dibengkel pesawat dan bagaimana cara memperbaiki dan merawat pesawat       

64

 Hasil wawancara dengan Bapak Mochammad Aviv, General Manager Divisi Corporate Communication pada tanggal 29 Juli 2013 pada jam 13.00 diruang divisi Corporate Communication Gedung Management lantai 3 

65

 Hasil wawancara dengan Ibu Siska Tobing, Staff Divisi Corporate Communication pada tanggal 29 Juli 2013 pada jam 14.00 diruang divisi Corporate Communication Gedung Management lantai 3 

(22)

kepada masyarakat dan anak-anak sekolah khususnya. Dengan adnaya program ini menjadikan inspirasi anak-anak sekolah untuk menjadikan salah satu pilihan cita-cita mereka dimasa depan. Selain itu Program ini merupakan salah satu cara publikasi agar GMF lebih dikenal publiknya dan diharapkan dengan adanya program ini dapat memperoleh keuntungan laba, kualitas kerja karyawan maupun hubungan baik dengan masyarakat.

Dengan melakukan tahapan mendefinisikan masalah, diharapkan program Public Visit menjadi tolak ukur bagaimana masyarakat memandang dan menilai PT. GMF AeroAsia agar reputasi GMF berkembang menjadi lebih baik kedepannya.

4.3.2 Planning and Programming (Perencanaan dan Program)

Setelah melakukan langkah pertama dan mendapat informasi yang ada di PT. GMF AeroAsia kemudian peneliti melanjutkan ketahap kedua yaitu tahap perencanaan. Adanya perencanaan dan tujuan program karena dilatarbelakangi oleh permasalahan yang terjadi dari hasil pengumpulan data yang dilakukan.

Di tahap ini, untuk membuat atau menjalankan suatu program diperlukan suatu tujuan agar program jelas dalam pelaksanaannya. Dalam membuat perencanaan diperlukan pengelolaan yang baik agar dapat mencapai tujuan yang diinginkan perusahaan. Dalam hal ini, Bapak Mochammad Aviv sebagai

penanggung jawab perencanaan program yang dilaksanakan Corporate

Communication, menuturkan mengenai tujuan diadakannya program CSR “Public Visit”:

(23)

77   

“Tujuannya adalah agar GMF lebih dikenal oleh masyarakat luas dan meningkatkan reputasi juga untuk memberikan pengetahuan kepada masyarakat luas bahwa di Indonesia ada perusahaan yang menggunakan alat-alat teknologi tinggi untuk memelihara pesawat.”66

Peneliti juga mewawancarai Sdr. Rizky Firmansyah untuk mengetahui apakah pesan yang disampaikan GMF dalam program CSR “Public Visit”. berikut penuturannya :

“Setahu saya agar kita bisa mengetahui bahwa ada bengkel pesawat disini.”

GMF adalah perusahaan yang peduli terhadap pendidikan yang ada di Indonesia. GMF merasa perlu memberikan suatu informasi tentang teknologi canggih yang ada di dalam bengkel pesawat tersebut. Setelah peneliti melakukan

observasi, dalam program CSR “Public Visit” tentu Corporate Communication

mempunyai target khalayak. Target Khalayak program CSR “Public Visit adalah pelajar dari tingkat TK sampai SMA, Mahasiswa, dan Instansi. Hal tersebut dijelaskan oleh Bapak Mochammad Aviv:

“Seluruh khalayak dari akademis dan non akademis.”67

Sedangkan hasil wawancara dengan narasumber kedua yaitu menurut Ibu Siska Tobing lebih diperjelas mengenai target khalayak adalah sebagai berikut:

“Secara umum dunia pendidikan level TK sampe perguruan tinggi serta Instansi.”68

      

66

 Hasil wawancara dengan Bapak Mochammad Aviv, General Manager Divisi Corporate Communication pada tanggal 29 Juli 2013 pada jam 13.00 diruang divisi Corporate Communication Gedung Management lantai 3 

67

 Hasil wawancara dengan Bapak Mochammad Aviv, General Manager Divisi Corporate Communication pada tanggal 29 Juli 2013 pada jam 13.00 diruang divisi Corporate Communication Gedung Management lantai 3 

(24)

Ibu Siska Tobing juga menuturkan alasannya mengapa khalayak tersebut dijadikan target dalam program CSR “Public Visit”:

“Karena didunia pendidikan karena sifatnya memberikan ilmu kepada pengunjung dan mengedukasi. Kalo instansi lebih condong ke Benchmark. Tukar menukar ilmu atau studi banding. Jadi pada saat kunjungan mereka mendapat ilmu begitu juga kita.69

Dengan mengajukan pertanyaan yang sama dengan Bapak Mochammad Aviv dan Ibu Siska Tobing tentang target khalayak dan alasannya, Bapak Darojjatul Ulla menyatakan hal sebagai berikut:

“Masyarakat umum secara khususnya yaitu dari tingkat TK sampai SMA, Perguruan Tinggi dan Instansi.”70

Mengenai alasan khayalak tersebut dijadikan target Bapak Darojjatul Ulla menambahkan penjelasan:

“Karena GMF bengkel pesawat dan bengkel pesawat identik dengan teknologi tingkat tinggi.jadi pengenalan terhadap teknologi itu perlu kepada pelajar yang ada di Indonesia agar menambah wawasan. Hal ini juga menjadi latar belakang mengapa program Public Visit diadakan.”71

Dalam melaksanakan suatu program adanya kekurangan dan kelebihan sudah menjadi hal yang lumrah. Justru dengan seorang PR mengetahui adanya kekurangan dan kelebihan dapat membuat program yang dijalankan perusahaan lebih disempurnakan agar jadi lebih baik kedepannya. Begitu pula dengan        

68 

Hasil wawancara dengan Ibu Siska Tobing, Staff Divisi Corporate Communication pada tanggal 29 Juli 2013 pada jam 14.00 diruang divisi Corporate Communication Gedung Management lantai 3 

69

 Hasil wawancara dengan Ibu Siska Tobing, Staff Divisi Corporate Communication pada tanggal 29 Juli 2013 pada jam 14.00 diruang divisi Corporate Communication Gedung Management lantai 3 

70

 Hasil wawancara dengan Bapak Darojattul Ulla, Staff Divisi Corporate Communication pada tanggal 29 Juli 2013 pada jam 15.45 diruang divisi Corporate Communication Gedung

Management lantai 3 

71

 Hasil wawancara dengan Bapak Darojattul Ulla, Staff Divisi Corporate Communication pada tanggal 29 Juli 2013 pada jam 15.45 diruang divisi Corporate Communication Gedung

(25)

79   

program CSR “public Visit” yang diadakan di PT. GMF AeroAsia. Bapak Mochammad Aviv sebagai narasumber pertama menjelaskan mengenai kekurangan dan kelebihan program CSR “Public Visit yang dikelola oleh Corporate Communication. Berikut penjelasannya:

“Kekurangan hampir tidak ada. Karena kita terus menyempurnakan, secara kelompok kita memberikan booklet mini yang isinya tentang keterangan GMF.”72

Komentar juga dilontarkan oleh narasumber eksternal yaitu Sdr. Rizky Firmansyah disela-sela wawancara beliau mengikuti kunjugan Public Visit. Berikut penjelasannya:

“Kekurangannya pengunjung tidak bisa masuk kedalam pesawat. Kelebihannya menambah wawasan tentang dunia pesawat.”

Dalam suatu program yang ada diperusahaan tentu menginginkan setiap program yang dijalankan memperoleh manfaat yang positif untuk banyak pihak.

Begitu pula progam CSR “Public Visit” yang dijalankan Corporate

Communication PT. GMF AeroAsia. Dengan adanya program Public Visit diharapkan adanya manfaat untuk target khalayak. Hal itu pula yang dirasakan oleh Sdr. Rizky Firmansyah yang pernah mengikuti program Public Visit di PT. GMF AeroAsia:

“Mendapat tambahan ilmu pesawat terbang kan saya sekolah penerbangan jadi tahu lebih banyak karena sesuai dengan jurusan.”

      

72

 Hasil wawancara dengan Bapak Mochammad Aviv, General Manager Divisi Corporate Communication pada tanggal 29 Juli 2013 pada jam 13.00 diruang divisi Corporate Communication Gedung Management lantai 3 

(26)

Selain tujuan dan manfaat yang terpenting dalam membuat suatu program. Dalam perusahaan pasti memiliki suatu harapan agar program tersebut dapat

dijalankan sesuai dengan planning. Khalayak dapat lebih mengenal GMF dan

pesawat-pesawat di Indonesia dirawat oleh orang-orang yang profesional adalah salah satu harapan GMF dalam melaksanakan program CSR “Public Visit”. Hal tersebut diungkapkan oleh Bapak Mochammad Aviv:

“Harapan GMF lebih dikenal dimasyarakat. Dan harapan keluarnya bahwa Garuda Maintenance Facility adalah bengkel pesawat terbesar seAsia Tenggara. Agar khalayak juga mengetahui bahwa banyak pesawat dari Indonesia sendiri dan luar negeri dirawat dan dipelihara oleh GMF yang sudah mempunyai reputasi Internasional dan kualitas global. Jadi semua tahu pesawat di Indonesia dirawat oleh orang-orang yang professional.”73

Dari hasil pengamatan peneliti, dapat disimpulkan bahwa dengan diadakan program CSR “public Visit” sudah ditentukan target-target khalayak yang diharapkan bisa mencapai tujuan dan harapan yang kedepannya GMF dapat lebih dikenal oleh masyarakat dan dapat memberikan pengetahuan berupa edukasi kepada target khalayak dari tingkat TK sampai dengan SMA, dan memberikan pengalaman untuk perguruan tinggi dan instansi.

Perencanaan ini dilakukan sebagai salah satu langkah menuju Aksi dan

Komunikasi yang dilakukan Corporate Communication GMF agar lebih

terkoordinasi dengan baik sesuai tujuan dan harapan yang ingin dicapai.

      

73

 Hasil wawancara dengan Bapak Mochammad Aviv, General Manager Divisi Corporate Communication pada tanggal 29 Juli 2013 pada jam 13.00 diruang divisi Corporate

(27)

81   

4.3.3 Action andCommunication (Aksi dan Komunikasi)

Berdasarkan analisis peneliti setelah melakukan tahap perencanaan, langkah ketiga yang dilakukan oleh Public Relation adalah mengimplementasikan program aksi dan komunikasi untuk mencapai tujuan dan harapan perusahaan. Pada tahap ini, Public Relations menjelaskan informasi atau pesan mengenai apa saja yang dilakukan, siapa yang melakukan, kapan dilakukan, dimana program tersebut dilakukan dan melalui media apa program tersebut dipublikasikan.

Dalam melaksanakan suatu program diperlukan adanya publikasi untuk menjangkau khalayak agar bisa mengikuti kegiatan Public Visit di GMF. Media

Internal adalah salah satu upaya Corporate Communication dalam

mempublikasikan adanya program CSR “Public Visit”. Berdasarkan hasil wawancara, hal tersebut diungkapkan oleh Bapak Mochammad Aviv:

“Media internal yang digunakan untuk mempublikasikan yaitu Intranet. Karena media sosial itu bisa dikunjungi banyak orang sehingga bisa diketahui banyak orang sekitar tentang program tersebut. Tetapi GMF tidak memiliki niat untuk bekerja sama dengan media elektronik ataupun cetak. Sebenarnya buat GMF itu b to b yaitu bisnis to bisnis. Jadi kita menerima kunjungan tujuannya untuk memperkuat brand Image Garuda. kita sendiri garuda dirawat ditempat yang benar yaitu GMF. Karena kalo b to b itu GMF dikenal di Indonesia seberapa besarpun tidak berguna juga. Karena tidak membawa pesawat kesini tapi buat Garuda itu sangat penting.”74

Hal tersebut berbeda dengan yang diungkapkan oleh Ibu Siska Tobing yang mengatur segala kegiatan CSR “Public Visit”:

“Kita tidak menggunakan media cetak maupun elektronik untuk menmpublikasikan. Program Public Visit hanya dari mouth to mouth. GMF tidak       

74

 Hasil wawancara dengan Bapak Mochammad Aviv, General Manager Divisi Corporate Communication pada tanggal 29 Juli 2013 pada jam 13.00 diruang divisi Corporate Communication Gedung Management lantai 3 

(28)

pernah mengundang media. Tetapi karena program tersebut sudah mulai dikenal justru biasanya media sendiri yang datang untuk meliput kegiatan Public Visit.”75

Untuk mempublikasikan program tersebut, GMF menggunakan media internal yaitu Intranet GMF AeroAsia karena media sosial banyak dikunjungi oleh orang sehingga banyak yang mengetahui program tersebut. Selain itu program ini

juga melalui mouth to mouth yang dilakukan oleh karyawan Garuda Indonesia dan

PT. GMF AeroAsia.

Dalam proses pelaksanaan yang dilakukan pada saat menjalankan kegiatan Public Visit yaitu dengan mengunjungi unit-unit yang ada di PT. GMF AeroAsia seperti Engine Shop, Engine Test Cell, dan Hanggar 1, 2, dan 3 untuk melihat secara langsung fungsi masing-masing unit dalam merawat dan memperbaiki pesawat. Dimana program ini untuk mengedukasi dan memberikan pengalaman kepada peserta pengunjung Public Visit khususnya anak-anak sekolah. Berikut ungkapan Bapak Mochammad Aviv:

“Pengunjung kita ajak untuk mengelilingi Hangar dan melihat fisik pesawat. Kegiatan tersebut penting terutama buat anak-anak agar mereka tahu pesawat itu dirawatnya seperti apa dan pada saat pesawat sedang di overhoul dan “ditelanjangkan” seperti apa.”76

      

75

 Hasil wawancara dengan Ibu Siska Tobing, Staff Divisi Corporate Communication pada tanggal 29 Juli 2013 pada jam 14.00 diruang divisi Corporate Communication Gedung Management lantai 3 

76

 Hasil wawancara dengan Bapak Mochammad Aviv, General Manager Divisi Corporate Communication pada tanggal 29 Juli 2013 pada jam 13.00 diruang divisi Corporate

(29)

83   

Ungkapan tersebut juga dijelaskan oleh Ibu Siska Tobing. Beliau juga mengungkapkan bahwa dalam melaksanakan kunjungan harus disesuaikan dengan target khalayak sesuai dengan kebutuhan. Berikut penuturannya:

“Kalau targetnya anak TK sampai SMP biasanya kita mengajak mereka untuk mengelilingi Hangar 1, 2, dan 3 melihat pesawat secara langsung dan menjelaskan informasi tentang perawatan pesawat. Sedangkan SMA, perguruan tinggi, dan Instansi kita mengajak peserta kunjungan ke bagian Workshop, Engine Shop, Engine Test Cell. Ya pokoknya tergantung dengan kebutuhan peserta kunjungan.”77

Seperti yang diungkapkan Ibu Siska Tobing diatas, hal senada juga dituturkan oleh Bapak Darojattul Ulla. Dalam pelaksanaan program tersebut disesuaikan dengan target serta kurikulum dengan tema yang ada di sekolah tersebut:

      

77

 Hasil wawancara dengan Ibu Siska Tobing, Staff Divisi Corporate Communication pada tanggal 29 Juli 2013 pada jam 14.00 diruang divisi Corporate Communication Gedung Management lantai 3 

Perbaikan mesin pesawat terbang sebelum diterbangkan yang dilakukan tekhnisi di Hanggar 2 PT. GMF AeroAsia

(30)

“Tergantung masing-masing tujuan kunjungan, kalau kebutuhan akan kunjungan akan disesuaikan dengan kurikulum sekolah tersebut misalnya anak TK ada temanya tentang pesawat kemana lagi kalau bukan kebengkel pesawat yang pesawatnya ada makanya mereka melakukan kunjungan kesini. Ada juga siswa SMA jurusan Tekhnisi atau sekolah penerbangan maka kita akan membawa mereka ke bagian Engine Shop dan Workshop. Tetapi setiap pengunjung akan kita bawa ke Hangar untuk melihat pesawat secara langsung. Kita tidak menyediakan apapun selain perizinan dan infomasi. Itu kembali lagi kepada mereka yang melakukan kunjungan kesini.”78

Program ini dilakukan oleh Corporate Communication secara

berkesinambungan dan diagendakan oleh perusahaan. Hal tersebut diungkapkan pula oleh bapak Mochammad Aviv:

“Kita mengadakan program CSR “Public Visit” seminggu 2 kali yaitu hari selasa dan kamis.”79

Hal serupa juga diungkapkan oleh Ibu Siska Tobing yang mengatur segala kegiatan kunjungan Public Visit:

      

78

 Hasil wawancara dengan Bapak Darojattul Ulla, Staff Divisi Corporate Communication pada tanggal 29 Juli 2013 pada jam 15.45 diruang divisi Corporate Communication Gedung

Management lantai 3 

79

 Hasil wawancara dengan Bapak Mochammad Aviv, General Manager Divisi Corporate Communication pada tanggal 29 Juli 2013 pada jam 13.00 diruang divisi Corporate

Salah satu target khalayak Public Visit yaitu TK pada saat mendengarkan penjelasan dari pemandu tentang pesawat terbang di Hanggar 2 PT. GMF AeroAsia

(31)

85   

“Jadwal sudah ditentukan secara berkesinambungan oleh Corporate Communication yaitu pada hari Selasa dan Kamis dan dilaksanakan selama 2 jam yaitu pada jam 9 sampai 11 siang. Sedangkan Benchmark itu waktunya di tentukan oleh pihak Corporate Communication dan Instansi itu sendiri. Dari Garuda Group juga ada Benchmark tetapi lebih cenderung mengenalkan Garuda Indonesia secara keseluruhan.”80

Ditahap aksi dan komunikasi ini, dalam melaksanakan kegiatan Public

Visit unit yang ditugaskan untuk mengelola adalah (TSC) Corporate

Communication. Berikut pernyataan yang disampaikan Ibu Siska Tobing bahwa Corporate Communication dan unit lain seperti unit dari Engine Shop, Engine Test Cell, dan Hangar 1, 2, dan 3 turut berperan dalam proses pelaksanaan Public Visit yaitu menjelaskan tentang masing-masing fungsi unit tersebut serta Security berperan dalam menjaga keamanan peserta kunjungan. Berikut penjelasannya:

“Pihak TSC Corporate Communication, dan unit produksi. Tergantung juga pada permintaan peserta pengunjung ingin berkunjung dimana. Misalnya Engine Shop, Hangar 1, 2, 3 dan 4, Komponen dan Security.”81

Untuk mengatur jadwal program tersebut diperlukan kesepakatan antara

pihak peserta kunjungan dengan Corporate Communication. Selain itu pihak

Corporate Communication juga menetapkan waktu yang dijadwalkan yaitu pada jam 9.00 sampai jam 11.00 wib seperti yang dijelaskan oleh Ibu Siska Tobing:

“Jangka waktu minimal agar bisa mengikuti Public Visit yaitu 3 bulan pada saat setelah mendaftar. Untuk waktu pelaksanaanya dilakukan selama 2 jam dari jam 9.00 sampai jam 11.00 wib.”82

      

80

 Hasil wawancara dengan Ibu Siska Tobing, Staff Divisi Corporate Communication pada tanggal 29 Juli 2013 pada jam 14.00 diruang divisi Corporate Communication Gedung Management lantai 3 

81

 Hasil wawancara dengan Ibu Siska Tobing, Staff Divisi Corporate Communication pada tanggal 29 Juli 2013 pada jam 14.00 diruang divisi Corporate Communication Gedung Management lantai 3 

82

 Hasil wawancara dengan Ibu Siska Tobing, Staff Divisi Corporate Communication pada tanggal 29 Juli 2013 pada jam 14.00 diruang divisi Corporate Communication Gedung Management lantai 3 

(32)

Dalam melaksanakan kegiatan ini cukup lama yaitu 3 bulan dan maksimal 1 tahun untuk menunggu kesepakatan waktu. Hal tersebut diungkapkan Ibu Siska Tobing di sela-sela wawancara. Hal serupa juga diungkapkan oleh Bapak Darojattul Ulla:

“Tergantung jadwal. Kalo pelaksanaan 2 jam dari jam 9.00 sampai jam 11.00 wib.”83

Pada tahap ini diuraikan langkah-langkah yang dilakukan oleh Corporate

Communication dalam pelaksanaan program CSR “Public Visit” yaitu dengan mengelilingi Hangar 1,2, dan 3, Engine Shop, Workshop, dan Engine Test Cell yang disesuaikan dengan target khalayak dan kebutuhannya. Pemilihan yang

dipilih Corporate Communication melalui mouth to mouth yang kemudian

berkembang ke media internal PT. GMF AeroAsia dan ditentukan pula kesepakatan jadwal agar semua proses pelaksanaan dapat berjalan sesuai dengan tujuan.

4.3.4 Evaluation (Evaluasi)

Tahap terakhir dalam proses penelitian ini setelah melaksanakan tahap mendefinisikan masalah, tahap perencanaan, dan tahap pelaksanaan selanjutnya melakukan tahap evaluasi yaitu tahap dimana kita bisa mengetahui program CSR

“Public Visit yang dijalankan oleh Corporate Communication dapat berjalan

sesuai dengan harapan ataupun sebaliknya. Tahap ini bertujuan untuk memantau seberapa baik program CSR “Public Visit” dijalankan perusahaan dan terus       

83

 Hasil wawancara dengan Bapak Darojattul Ulla, Staff Divisi Corporate Communication pada tanggal 29 Juli 2013 pada jam 15.45 diruang divisi Corporate Communication Gedung

(33)

87   

mengembangkan program menjadi lebih baik lagi kedepannya. Dalam evaluasi ini seorang PR harus melihat bagaimana reaksi dan respon masyarakat terhadap program yang dijalankan perusahaan.

Dalam melakukan suatu evaluasi biasanya diperlukan suatu metode khusus atau riset agar seorang Public Relation dapat mengetahui seberapa besar keberhasilan program yang dijalankan diperusahaannya. Tetapi hal tersebut berbeda dengan apa yang dilakukan oleh PT. GMF AeroAsia. Walaupun GMF mempunyai target pengunjung untuk program Public Visit, tetapi bentuk evaluasi

yang dijalankan Corporate Communication saat ini menyangkut ketertiban yaitu

merubah peraturan untuk kunjungan agar program tersebut lebih baik dan efektif untuk dijalankan. Hal tersebut dituturkan oleh Bapak Mochammad Aviv selaku General Manager PT. GMF AeroAsia:

“Untuk kunjungan kita memiliki target tetapi realisasinya tidak kurang dari 20.000 sampai 22.000 pengunjung dalam setahun. Bentuk evaluasi itu menyangkut ketertiban dengan merubah peraturan menjadi lebih baik. Karena pada saat kita melakukan kunjungan dihari kerja terkadang akan menggangu yang sedang bekerja di GMF karena pengunjung sulit diatur. Sehingga kita dapat feedback dari orang-orang yang kerja itu akan menjadi evaluasi kita nantinya. Selama mereka yang bekerja tidak complain berarti mereka tidak terganggu. Tetapi mereka pernah merasa terganggu bukan tidak pernah."84

Penuturan berbeda Ibu Siska Tobing mengenai evaluasi program CSR “Public Visit berbeda dengan yang dijelaskan oleh Bapak Mochammad Aviv. Berikut penuturan Ibu Siska Tobing:

“Evaluasi belum ada. So far kalau mereka merasa puas mereka akan mengirim email ke GMF bahwa mereka puas dengan informasi yang kita berikan       

84

 Hasil wawancara dengan Bapak Mochammad Aviv, General Manager Divisi Corporate Communication pada tanggal 29 Juli 2013 pada jam 13.00 diruang divisi Corporate Communication Gedung Management lantai 3 

(34)

dan memberikan kenang-kenangan berupa foto siswa-siswi ataupun miniatur logo perusahaan mereka.”85

Ibu Siska juga menambahkan bahwa yang dilakukan saat ini Corporate

Communication hanya merekab data pengunjung yang datang. Disela-sela wawancara Ibu Siska Tobing menjelaskan bahwa pengunjung yang datang biasanya tidak kurang dari 50 orang dan lebih intens dikunjungi oleh anak-anak sekolah. Hal tersebut memperkuat bahwa program tersebut banyak diminati oleh masyarakat khususnya dalam bidang pendidikan dalam memberikan edukasi. Berikut penjelasan dari Ibu Siska Tobing:

“Untuk saat ini pihak Corporate Communication hanya membuat rekab data pengunjung. Dari situ kita dapat mengetahui berapa banyak peserta Public Visit yang hadir. Dan untuk evaluasi kedepannya kita akan membuat kuesioner untuk pengunjung setelah mereka melaksanakan kunjungan. Biasanya setelah mereka kunjungan jika mereka puas mereka juga sering mengirim ke email mengenai tanggapan kepuasan mereka.”86

Pendapat senada juga dijelaskan oleh Bapak Darojattul Ulla mengenai

evaluasi program Public Visit yang dijalankan Corporate Communication PT.

GMF AeroAsia:

“Untuk saat ini belum ada evaluasi, tetapi kedepan rencananya kita akan membuat kuesioner. Tetapi saat ini yang kita lakukan hanya merekab data pengunjung.”87

Bapak Darojattul Ulla juga menjelaskan bagaimana bentuk evaluasi yang beliau jalankan. Berikut penjelasannya:

      

85

 Hasil wawancara dengan Ibu Siska Tobing, Staff Divisi Corporate Communication pada tanggal 29 Juli 2013 pada jam 14.00 diruang divisi Corporate Communication Gedung Management lantai 3 

86

 Hasil wawancara dengan Ibu Siska Tobing, Staff Divisi Corporate Communication pada tanggal 29 Juli 2013 pada jam 14.00 diruang divisi Corporate Communication Gedung Management lantai 3 

87

 Hasil wawancara dengan Bapak Darojattul Ulla, Staff Divisi Corporate Communication pada tanggal 29 Juli 2013 pada jam 15.45 diruang divisi Corporate Communication Gedung

(35)

89   

“Merekab data berapa daftar kunjungan selama setahun dan tiap bulan berapa dan dibikin presentase berapa bnayak dalam sebulan dan ditotal secara keseluruhan selama setahun dan direkab.”88

Dari hasil kegiatan yang dilakukan Corporate Communication PT. GMF

AeroAsia banyak masalah internal dan eksternal pada saat melaksanakan program Public Visit. Seperti yang diungkapkan oleh Ibu Siska Tobing yang mengelola program tersebut bahwa adanya peraturan perusahaan yang berubah sedangkan salah satu masalah yang terjadi dari segi keamanan yaitu kurangnya persediaan

tangga untuk masuk kedalam cabin pesawat ataupun pihak security yang sering

menghilang pada saat dibutuhkan membuat Ibu Siska Tobing yang juga berperan sebagai pemandu sedikit kesulitan. Berikut ungkapan Ibu Siska Tobing:

“Kendala banyak sekali. Dulu peserta Public Visit bisa masuk kedalam cabin pesawat tetapi sekarang tidak bisa lagi. Pada saat mau masuk cabin diperlukan tangga yang aman guna keselamatan para pengunjung. Karena kita sering dapat teguran dari pihak quality mengenai tangga karena pengunjung adalah anak sekolah. Jenis pesawat selalu berbeda dengan jenis tangga yang berbeda pula dan tidak sesuai dengan pola keselamatan. Sedangkan Security pada saat dibutuhkan tidak mengawasi anak anak. Bahkan pada saat dibutuhkan mereka kabur atau hilang. Itu adalah masalah internal. Sedangkan masalah eksternal, bahwa peraturan peserta Public Visit tidak diperkenankan membawa orangtua siswa masuk kedalam kunjungan. Tetapi pihak sekolah masih banyak yang membawa dan ingin ikut masuk. Sehingga pada saat kunjungan berlangsung kita harus memberi pengarahan kepada orang tua siswa. Banyak juga anak-anak yang nakal dan sulit diatur. Karena pada saat kunjungan, pengunjung adalah tanggung jawab penuh kami. Maka jika terjadi sesuatu kami juga yang mengalami kerepotan. Selain itu terkadang pihak sekolah memberikan uang pelicin kepada pihak GMF agar proses public visit bisa lebih dipercepat. Padahal diawal pendaftaran pihak GMF memberitahukan peraturan bahwa program Public Visit tidak dikenakan biaya sedikitpun. Tetapi sebetulnya cara-cara seperti

      

88

 Hasil wawancara dengan Bapak Darojattul Ulla, Staff Divisi Corporate Communication pada tanggal 29 Juli 2013 pada jam 15.45 diruang divisi Corporate Communication Gedung

(36)

itu tidak akan mempengaruhi apapun sekalipun mereka karyawan GMF sendiri.”89

Persepsi yang diungkapkan Bapak Mochammad Aviv sebagai penanggung

jawab program yang dijalankan oleh Corporate Communication sedikit berbeda

dengan yang dijelaskan oleh Ibu Siska Tobing. Bapak Mochammad Aviv menyatakan sebagai berikut:

”Hampir tidak ada secara umum. Hanya tadinya diawal kita buka program Public Visit peraturannya orang tua murid diperbolehkan masuk. Tetapi kalau orangtua ikut masuk, anak murid itu tidak bisa dikendalikan oleh gurunya. Jadi mereka cenderung memaksa orang tuanya untuk tidak lepas dari barisan. Itu yang kita evaluasi terus sampai pada akhirnya kita membuat peraturan baru untuk orangtua dilarang mendampingi dan hanya guru yang diperbolehkan karena anak murid kalau dengan guru pasti patuh. Dan itu sudah terbukti dalam kunjungan orangtua diperbolehkan ikut mengantar tetapi dilarang masuk kunjungan.”90

Sedangkan menurut Bapak Darojattul Ulla selaku Staff Corporate

Communication yang juga turut berperan langsung sebagai pemandu selain Ibu Siska, memberikan penjelasan bahwa tidak ada kendala pada saat pelaksanaan Public Visit berlangsung tetapi hanya sedikit masalah koordinasi ke divisi yang akan dikunjungi peserta Public Visit. Berikut penjelasaan Bapak Darojattul Ulla:

”Tidak ada kendala. Hanya sedikit masalah internal yaitu pada saat kita berkunjung ke Engine Shop ataupun Workshop kita biasanya minta izin dan koordinasi kekaryawan yang ada dibidang tersebut untuk menjelaskan mengenai keterangan secara detail apa fungsi bidang tersebut terhadap pesawat-pesawat

      

89

 Hasil wawancara dengan Ibu Siska Tobing, Staff Divisi Corporate Communication pada tanggal 29 Juli 2013 pada jam 14.00 diruang divisi Corporate Communication Gedung Management lantai 3 

90

 Hasil wawancara dengan Bapak Mochammad Aviv, General Manager Divisi Corporate Communication pada tanggal 29 Juli 2013 pada jam 13.00 diruang divisi Corporate

(37)

91   

yang dirawat di GMF AeroAsia. Dan ini sebetulnyapun bukan masalah tetapi lebih kekordinasinya.”91

Dalam melaksanakan suatu program diharapkan dapat berhasil sesuai

dengan tujuan perusahaan bahwa GMF peduli dengan dunia pendidikan setelah menjalankan program CSR “Public Visit” dalam rangka membentuk pengetahuan bagi anak sekolah. Seperti yang dituturkan oleh Ibu Siska Tobing selaku Staff Corporate Communication yang juga menangani kegiatan kehumasan khususnya CSR. Berikut penuturannya:

“Setelah menjalankan kegiatan Public Visit tetapi kita dapat melihat bahwa program ini sangat banyak peminatnya terutama dalam bidang pendidikan.”92

Hal tersebut diperkuat oleh bapak Darojattul Ulla bahwa adanya program Public Visit dapat mengenalkan teknologi canggih yang ada di PT. GMF AeroAsia. Berikut penuturan Bapak Darojattul Ulla:

“Ya jelas untuk bisa lebih dekat dengan teknologi tinggi itukan tidak gampang membuka diri orang-orang bisa lebih memahami bahwa GMF lebih peduli terhadap dunia pendidikan.”93

Bagian yang terpenting dalam melaksanakan tahap yang ketiga ini adalah bagaimana kita bisa mengetahui respon dan tanggapan dari khalayak karena respon suatu khalayak menjadi acuan apakah program yang dilaksanakan suatu perusahaan positif dan bermanfaat atau tidak. Begitupula program Public Visit       

91

 Hasil wawancara dengan Bapak Darojattul Ulla, Staff Divisi Corporate Communication pada tanggal 29 Juli 2013 pada jam 15.45 diruang divisi Corporate Communication Gedung

Management lantai 3 

92

 Hasil wawancara dengan Ibu Siska Tobing, Staff Divisi Corporate Communication pada tanggal 29 Juli 2013 pada jam 14.00 diruang divisi Corporate Communication Gedung Management lantai 3 

93

 Hasil wawancara dengan Bapak Darojattul Ulla, Staff Divisi Corporate Communication pada tanggal 29 Juli 2013 pada jam 15.45 diruang divisi Corporate Communication Gedung

(38)

yang dijalankan Corporate Communication PT. GMF AeroAsia. Seperti yang diungkapkan Bapak Mochammad Aviv:

“Positif. Misalnya penghargaan tanda mereka puas biasanya mereka memberikan souvenir atau cinderamata atau karya gambar lukisan yang dibuat siswanya sendiri.”94

Hal senada juga diungkapkan oleh Ibu Siska Tobing selaku Staff Corporate Communication tentang respon dari khalayak program CSR “Public Visit”. Berikut penjelasan Ibu Siska Tobing:

“Baik sekali tanggapannya. Seperti yang sudah dijelaskan tadi, mereka suka memberikan kita (Corporate Communication) dalam bentuk barang yaitu miniatur logo perusahaan mereka atau lukisan itu kita dapat menerima. Tetapi mereka suka memberikan kita uang, tetapi kita tidak pernah menerimanya dalam bentuk uang karena program kita bentuknya adalah CSR dan tidak dipungut biaya sedikitpun.”95

Dengan mengajukan pertanyaan yang sama dengan kedua narasumber sebelumnya, hal serupa juga dinyatakan oleh Bapak Darojattul Ulla selaku Staff Corporate Communication bahwa peserta kunjungan mempunyai pengalaman tentang pesawat. Berikut penjelasan Bapak Darojattul Ulla:

“Sejauh ini menunjukkan bahwa mereka menyukai program Public Visit karena mendapatkan pengalaman baru tentang pesawat.”96

      

94

 Hasil wawancara dengan Bapak Mochammad Aviv, General Manager Divisi Corporate Communication pada tanggal 29 Juli 2013 pada jam 13.00 diruang divisi Corporate Communication Gedung Management lantai 3 

95

 Hasil wawancara dengan Ibu Siska Tobing, Staff Divisi Corporate Communication pada tanggal 29 Juli 2013 pada jam 14.00 diruang divisi Corporate Communication Gedung Management lantai 3 

96

 Hasil wawancara dengan Bapak Darojattul Ulla, Staff Divisi Corporate Communication pada tanggal 29 Juli 2013 pada jam 15.45 diruang divisi Corporate Communication Gedung

(39)

93   

Dalam tahap evaluasi tentu seorang PR mengharapkan suatu program yang dijalankannya dapat efektif dan efisien sehingga dapat menunjang keberhasilan

suatu perusahaan yang bermuara pada peningkatan value.

Pernyataan berbeda disampaikan oleh Ibu Siska Tobing. Berdasarkan hasil wawancara dengan beliau bahwa program CSR “Public Visit belum efektif tetapi disamping itu GMF menunjukkan eksistensi karena terus menyempurnakan program tersebut menjadi lebih baik lagi. Berikut pernyataan Ibu Siska Tobing:

“Kalo efektif belum. Karena kita masih perlu banyak perbaikan. Tetapi sejauh ini Public Visit terus berkembang menjadi lebih baik karena kita sudah membuat buku panduan Public Visit yang nantinya pada saat kunjungan akan kita berikan kepada pengunjung Public Visit secara gratis.”97

Hasil wawancara yang dilakukan peneliti dengan narasumber eksternal Sdr. Rico Tuerah juga memberikan pendapatnya mengenai keefektifan program CSR “Public Visit” dalam meningkatkan reputasi. Berikut penuturannya:

” Cukup efektif, tetapi harus ada perkembangan lagi dalam agenda Public Visit misalnya dalam ranah pengetahuan, materi diperluas ke tipe-tipe pesawat, dan juga ada sesuatu yang bisa dibagikan kepada pengunjung seperti cinderamata.”

Dengan melakukan tahap evaluasi yang menjadi tahap terpenting, tahap ini yang menentukan apakah program CSR “Public Visit” yang dijalankan oleh Corporate Communication PT. GMF AeroAsia optimal. Program tersebut perlu banyak perbaikan dalam masalah internal dan eksternal secara tekhnis dan nontekhnis agar program tersebut dapat berjalan lebih baik kedepannya. Misalnya

pada saat Corporate Communication menerima keluhan dari unit-unit, kemudia

      

97

 Hasil wawancara dengan Ibu Siska Tobing, Staff Divisi Corporate Communication pada tanggal 29 Juli 2013 pada jam 14.00 diruang divisi Corporate Communication Gedung Management lantai 3 

(40)

GMF memperbaharui peraturan program Public Visit agar program tersebut dapat berjalan dengan baik sesuai dengan harapan.

4.4 Pembahasan

Dari hasil penelitian yang dijelaskan oleh peneliti dengan mewawancarai narasumber internal Bapak Mochammad Aviv selaku General Manager, Ibu Siska

Tobing selaku Staff Corporate Communication dan pengelola program Public

Visit, dan Bapak Darojattul Ulla selaku Staff Corporate Communication dan juga

orang yang berperan sebagai pemandu kunjungan Public Visit, serta dari narasumber eksternal yang merupakan peserta pengunjung yaitu Sdr. Rizky Firmansyah yang dilakukan wawancara secara mendalam dan observasi. Setelah peneliti memperoleh data dari narasumber kemudian peneliti melakukan analisa untuk mencari hubungan antara teori dan konsep dengan hasil penelitian yang

diperoleh. Program Public Relations yang dijalankan oleh Corporate

Communication PT. GMF AeroAsia melalui program CSR “Public Visit” dalam membentuk pengetahuan karena cukup dipahami dan diterima oleh target khalayak.

Dalam suatu perusahaan, seorang PR harus bisa mengkomunikasikan suatu program sebaik mungkin agar dapat mencapai tujuan perusahaan. Melalui

program-program yang dijalankan oleh PR diharapkan dapat menciptakan good

will. Dewasa ini, Corporate Social Responsibility merupakan program yang

banyak dijalankan perusahaan. Tanggung jawab sosial perusahaan salah satu cara media agar pihak perusahaan lebih dekat dengan khalayaknya yaitu dapat

(41)

95   

mengenal lebih dalam mengenai perusahaan tersebut. Melalui program CSR diharapkan adanya opini publik yang positif.

Menurut Scoot M. Cutlip Center & Allen H. Center dalam bukunya Rhenald Kasali yaitu Manajemen Public Relations, dalam menyusun program Public Visit dalam membentuk pengetahuan bagi anak sekolah yang dilakukan Corporate Communicationn PT. GMF AeroAsia sudah dilakukan sebagaimana mestinya. Untuk mempermudah tugas-tugasnya program PR, mengacu pada empat tahap penting yaitu mengumpulkan data (Fact Finding), Perencanaan (Planning), Aksi dan Komunikasi (Action and Communication), dan evaluasi (Evaluation).

Tahap pertama adalah mendefinisikan masalah, dimana tahap ini adalah

rumusan awal peneliti mengumpulkan data atau fakta yang ada di Corporate

Communication PT. GMF AeroAsia. Ditahap ini menjadi acuan untuk menyusun tahap selanjutnya yaitu tahap perencanaan. Berdasarkan wawancara yang dilakukan dengan narasumber pertama yaitu Bapak Mochammad Aviv, beliau menguraikan mengenai latar belakang mengadakan program Public Visit dimana Public Visit menjadi tanggung jawab sosial perusahaan dalam bidang edukasi yang sebaiknya diketahui oleh masyarakat luas mengenai teknologi canggih perawatan pesawat terbang karena GMF merupakan aset negara, karena bertambahnya pendidikan seseorang jadi akan lebih mudah diajak bicara atau berkomunikasi. Begitupula apa yang diungkapkan oleh Ibu Siska Tobing yang

menjadi narasumber kedua selaku Staff Corporate Communication

(42)

Indonesia terutama anak sekolah yang masih perlu diberikan edukasi karena banyak yang belum memahami tentang industri pesawat terbang. Dengan adanya program ini bertambahnya pengetahuan seseorang dan dari program ini menjadikan inspirasi anak-anak sekolah untuk menjadikan salah satu pilihan cita-cita mereka dimasa depan.

Tahap kedua yaitu Perencanaan setelah mengumpulkan fakta dan

menganalisis masalah agar program yang dijalankan lebih terarah dalam proses

pelaksanaannya. Dalam tahap ini Corporate Communication PT. GMF AeroAsia

menyusun program, menentukan tujuan dan target khalayak program CSR “Public Visit” dalam membentuk pengetahuan Maintenance Facility pesawat bagi anak sekolah.

Berdasarkan hasil penelitian target khalayak dari program Public Visit

adalah Corporate Communication yaitu menerima kunjungan yang bersifat formal

maupun non-formal siswa/i dari tingkat TK sampai dengan SMA, Perguruan Tinggi, dan Instansi. Kunjungan ini sifatnya untuk menjalin kemitraan kerja atau membuka wawasan tentang dunia penerbangan khususnya bagi anak sekolah dan dalam hal ini PT. GMF AeroAsia sebagai tuan rumah. Program tersebut dilakukan secara berkesinambungan dengan waktu pelaksanaan seminggu 2 kali yaitu pada

hari selasa dan kamis. Selain itu dalam tahap ini divisi Corporate Communication

juga menetapkan tujuan melalui program CSR “Public Visit” yaitu agar GMF lebih dikenal oleh masyarakat luas dan untuk memberikan pengetahuan kepada masyarakat luas bahwa di Indonesia ada perusahaan yang menggunakan alat-alat

(43)

97   

Corporate Communication juga berharap agar khalayak juga mengetahui bahwa banyak pesawat dari Indonesia dan luar Indonesia yang dirawat dan dipelihara oeleh GMF yang sudah mempunyai reputasi Internasional serta kualitas global dan pesawat yang dirawat di GMF adalah orang-orang yang professional dalam bidangnya.

Tahap ketiga yang dilakukan adalah tahap Aksi dan Komunikasi dimana tahap ini merealisasikan dari tahap perencanaan. Di tahap Aksi dan Komunikasi ini dalam pemilihan media untuk mempublikasikan program Public Visit yaitu menggunakan media internal perusahaan yaitu Intranet. Sedangkan dalam pelaksanaannya program Public Visit dilaksanakan secara berkesinambungan dan diagendakan oleh perusahaan yaitu seminggu 2 kali pada hari Selasa dan Kamis. Kegiatan ini mengunjungi unit-unit yang ada di PT. GMF AeroAsia yaitu ke Engine Shop, Engine Test Cell, Workshop, dan Hangar 1, 2, dan 3 pada jam 9.00

sampai dengan 11.00 wib. Pihak dari divisi Corporate Communication dan

pemandu juga akan memberi penjelasan tentang mekanisme pesawat, perawatan pesawat dan gambaran umum mengenai PT. GMF AeroAsia, yang dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Dalam memberikan paparannya biasanya pemandu akan menunjuk perwakilan dari salah satu unit yang dikunjungi (orang yang ahli di bidangnya) untuk memberikan informasi fungsi unit tersebut.

Tahap terakhir yaitu tahap evaluasi. Melalui tahap ini kita dapat mengetahui apakah program yang dijalankan perusahaan berhasil atau tidak. Melalui program CSR Public Visit dalam rangka membentuk pengetahuan anak sekolah yang dijalankan PT. GMF AeroAsia cukup cukup berhasil karena

(44)

pesan-pesan yang disampaikan dalam pelaksanaan program tersebut diterima cukup baik

oleh pengunjung. Tetapi dalam tahap ini Corporate Communication belum

mempunyai metode khusus untuk mengetahui keberhasilan program. Evaluasi yang saat ini dilakukan yaitu terus memperbaharui peraturan-peraturan program tersebut untuk lebih baik kedepannya untuk mengantisipasi kendala-kendala yang terjadi dan juga merekab data pengunjung Public Visit. Untuk kedepannya Pihak Corporate Communication akan memberikan kuesioner kepada pengunjung tetapi metode ini belum sempat terealisasikan.

Referensi

Dokumen terkait

Pada peta fasies model dari estuarine ini, tidal sand bar ini merupakan bagian terluar dari tide dominated estuarine, memanjang sejajar dengan arusnya, dan dari peta

4 99-120 Sangat Tinggi Diperlukan tindakan perbaikan sesegera mungkin Hasil dari uji paired sample T-test menggunakan SPSS statistics 20 terhadap rata-rata skor kelelahan

Sedangkan lingkungan kerja tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kecelakaan kerja (R = 0,003), dan pada tingkat pendidikan mempengaruhi secara signifikan

Perlakuan Rootone-F memberikan pengaruh nyata pada 4 MST terhadap tolok ukur persentase stek hidup d m jumlah akar, sedangkan pada 8 MST berpengaruh sangat

Berdasarkan hasil uji t yang dilakukan oleh peneliti, Terpaan Media (X) secara parsial berpengaruh secara signifikan terhadap Citra Positif Polisi dalam Perspektif

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui apakah Return On Asset, Debt to Equity Ratio dan Ukuran Perusahaan Terhadap Income Smoothing pada perusahaan Manufaktur

Hasil yang ditunjukkan juga berbeda jika tidak dilakukan penyetelan treshold, seperti yang ditunjukkan pada Gambar 3 (a) bahwa dapat diindikasikan treshold dari algoritma

bahwa dalam rangka mewujudkan penegakan hukum dalam penyelenggaraan penataan ruang yang menyangkut tindak pidana bidang penataan ruang, telah ditetapkan Peraturan Menteri