• Tidak ada hasil yang ditemukan

Optimal Power Flow Menggunakan Particle Swarm Optimization Dengan Contriction Factor

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Optimal Power Flow Menggunakan Particle Swarm Optimization Dengan Contriction Factor"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

OPTIMIZATIO

OPTIMIZATION DENGAN

N DENGAN CONTRICTION FACTOR 

CONTRICTION FACTOR 

Johny Custer Johny Custer

Politeknik Negeri B

Politeknik Negeri Bengkalis, engkalis, Desa Sungai Desa Sungai Alam, Bengkalis Alam, Bengkalis 2876128761 E-mail :

E-mail : johny_custer@polb [email protected]

 Abstrak   Abstrak 

 Pembangkit listrik menghasilkan

 Pembangkit listrik menghasilkan daya listrik kemudian daya listrik kemudian dialirkan melalui jaringan dialirkan melalui jaringan transmisi dan transmisi dan didistribusikandidistribusikan ke beban. Untuk menjaga kontinyunitas pelayanan kepada konsumen, pembangkit pembangkit yang ada ke beban. Untuk menjaga kontinyunitas pelayanan kepada konsumen, pembangkit pembangkit yang ada terhubung interkoneksi. Dalam sistem interkoneksi, semua pembangkit perlu dikoordinir agar dicapai biaya terhubung interkoneksi. Dalam sistem interkoneksi, semua pembangkit perlu dikoordinir agar dicapai biaya  pembangkitan

 pembangkitan yang yang minimum.minimum. Optimal Optimal Power Power Flow Flow (OPF) (OPF) berdasarkan berdasarkan Contriction Contriction Factor Factor Particle Particle SwarmSwarm Optimization (CFPSO)

Optimization (CFPSO) digunakan untuk digunakan untuk menentukan kmenentukan kombinasi pembangkitan ombinasi pembangkitan yang paling yang paling minimal.minimal. FungsiFungsi objektif yang digunakan dalam proses optimisasi adalah fungsi biaya setiap pembangkit. Metoda yang diusulkan objektif yang digunakan dalam proses optimisasi adalah fungsi biaya setiap pembangkit. Metoda yang diusulkan disimulasikan pada sistem standar IEEE 26 bus. Hasil simulasi menunjukan kombinasi optimisasi pembangkitan disimulasikan pada sistem standar IEEE 26 bus. Hasil simulasi menunjukan kombinasi optimisasi pembangkitan dihasilkan mampu melakukan penghematan sebesar 0,0045 % biaya pembangkitan bila dibandingkan dengan dihasilkan mampu melakukan penghematan sebesar 0,0045 % biaya pembangkitan bila dibandingkan dengan OPF tanpa CFPSO. Simulasi yang dilakukan menggunakan software Matlab 2008a.

OPF tanpa CFPSO. Simulasi yang dilakukan menggunakan software Matlab 2008a.  Kata kunci : optimal power flow, particle swarm

 Kata kunci : optimal power flow, particle swarm optimization, economic dispatchoptimization, economic dispatch

I.

I. PENDPENDAHULAHULUANUAN

Pada operasi sistem tenaga listrik, daya Pada operasi sistem tenaga listrik, daya listrik dihasilkan oleh pembangkit listrik  listrik dihasilkan oleh pembangkit listrik  kemudian dialirkan melalui jaringan kemudian dialirkan melalui jaringan transmisi

transmisi dan dan didistribusikan didistribusikan ke ke beban.beban. Untuk menjaga kontinyunitas pelayanan Untuk menjaga kontinyunitas pelayanan kepada konsumen, pembangkit pembangkit kepada konsumen, pembangkit pembangkit yang a

yang ada terda terhubuhubungng inteinterkonrkonekseksi. Dali. Dalamam sistem interkoneksi, semua pembangkit sistem interkoneksi, semua pembangkit  perlu

 perlu dikoordinir dikoordinir agar agar dicapai dicapai biayabiaya  pembangkitan

 pembangkitan yang yang minimum minimum namun namun tetaptetap memperhatikan mutu dan keandalan. memperhatikan mutu dan keandalan. Pembangkitan dalam sistem interkoneksi Pembangkitan dalam sistem interkoneksi merupakan pembangkitan terpadu dari merupakan pembangkitan terpadu dari semua pusat listrik yang ada dalam sistem semua pusat listrik yang ada dalam sistem  pembagian

 pembagian beban beban antara antara pusat pusat pusat pusat listrik listrik   pada

 pada sistem sistem interkoneksi interkoneksi yangyang menghasilkan aliran daya dalam saluran menghasilkan aliran daya dalam saluran transmisi (Djiteng Marsudi, 2005).

transmisi (Djiteng Marsudi, 2005).

Pengoperasian pembangkit merupakan Pengoperasian pembangkit merupakan  biaya

 biaya terbesar terbesar dalam dalam sistem sistem tenaga tenaga listrik listrik  sehingga sangat diperlukan cara sehingga sangat diperlukan cara  pengoperasian

 pengoperasian pembangkitan pembangkitan yang yang efisien.efisien. Salah satu solusi bagi produsen listrik  Salah satu solusi bagi produsen listrik  untuk menekan biaya operasi adalah untuk menekan biaya operasi adalah dengan menentukan aliran daya yang dengan menentukan aliran daya yang optimal (

optimal (optimal power flowoptimal power flow). Analisis). Analisis aliran daya optimal adalah perhitungan aliran daya optimal adalah perhitungan untuk meminimalkan suatu fungsi tujuan, untuk meminimalkan suatu fungsi tujuan,

memperoleh biaya pembangkitan yang memperoleh biaya pembangkitan yang minimal dapat dilakukan dengan mengatur  minimal dapat dilakukan dengan mengatur   pembangkitan

 pembangkitan daya daya aktif aktif dan dan daya daya reaktif reaktif  setiap pembangkit pada nilai atau besar  setiap pembangkit pada nilai atau besar   beban

 beban sistem sistem yang yang terinterkoneksi terinterkoneksi dengandengan memperhatikan batas batas tertentu. memperhatikan batas batas tertentu. Umumnya batasan yang digunakan dalam Umumnya batasan yang digunakan dalam analisis aliran daya adalah batas minimum analisis aliran daya adalah batas minimum dan maksimum daya aktif (P

dan maksimum daya aktif (Pminmindan Pdan Pmaxmax).).

Sebelumnya para peneliti telah melakukan Sebelumnya para peneliti telah melakukan  penelitian

 penelitian untuk untuk mendapatkan mendapatkan nilainilai ekonomis dalam operasi sistem tenaga ekonomis dalam operasi sistem tenaga listrik baik secara konvensional maupun listrik baik secara konvensional maupun menggunakan

menggunakan artificial intelligenceartificial intelligence (AI).(AI). Masalah

Masalah economic economic dispatchdispatch secarasecara konv

konvensensionaionall dapadapat dt diseliselesaesaikan ikan dengdenganan met

metoda poda pengaengali lagli lagrangerange (Al(Allen J Wolen J Woodod dan Wollenberg Bruce F, 1996). Namun dan Wollenberg Bruce F, 1996). Namun metoda ini tidak efektif dan kurang optimal metoda ini tidak efektif dan kurang optimal untuk menyelesaikan permasalahan karena untuk menyelesaikan permasalahan karena  pada

 pada perkembanganya perkembanganya fungsi fungsi biaya biaya padapada  pembangkitan

 pembangkitan listrik listrik modren modren tidak tidak linier linier  (C.H. Chen dan S. N. Yeh, 2006). Teknik  (C.H. Chen dan S. N. Yeh, 2006). Teknik  teknik untuk menyelesaikan masalah ED teknik untuk menyelesaikan masalah ED dengan menggunakan algoritma

dengan menggunakan algoritma artificial artificial  intelligence

intelligence (AI) dalam meningkatkan(AI) dalam meningkatkan  penyelesaian

 penyelesaian yang yang lebih lebih optimal optimal jugajuga  berkembang.

 berkembang. Metoda Metoda AI AI yang yang seringsering digunakan diantaranya

digunakan diantaranya  Particle Swarm Particle Swarm Optimization

(2)

suatu populasi (Kennedy dan R. C. Eberhart, 1995). Kemudian Clerc dan Kennedy (2002) memperkenalkan PSO dengan faktor penyempitan (contriction  factor ) yang bertujuan untuk memastikan konvergensi dari algoritma PSO. Shi Yao Lim dkk (2009) mencoba menerapkan faktor penyempitan (contriction factor  approach) untuk perhitungan economic dispatch.

Pada makalah ini diusulkan analisis  pencarian biaya pembangkitan termurah menggunakan Optimal Power Flow

 berdasarkan Particle Swarm Optimization

menerapkan Contruction Factor (CFPSO). Diharapkan dari hasil optimisasi menentukan daya aktif pada masing masing pembangkit menggunakan CFPSO kemudian dijadikan input pada analisa

 power flow akan diperoleh biaya  pembangkitan yang paling ekonomis. Data yang digunakan pada simulasi adalah data standar IEEE 26 Bus.

II. METODOLOGI PENELITIAN

 Flowchart  dari tahapan yang dilakukan dalam penelitian ditunjukan pada gambar  1.

Gambar 1. Flowchart tahapan penelitian

2.1. Perhitungan Biaya Pembangkitan

Penyelesaian masalah operasi ekonomis  pembangkit dalam sistem tenaga listrik 

adalah menentukan masing-masing unit  pembangkit untuk mensupalai kebutuhan  beban dengan biaya yang seminimal mungkin dengan tetap memperhatikan  batas-batas daya yang dibangkitkan oleh masing-masing pembangkit. Dalam memodelkan fungsi biaya pembangkitan diperlukan data berupa karakteristik heat  rate (H) yang dinyatakan dalam satuan Btu/h serta biaya bahan bakar (cost ) dalam satuan Rp/MBtu. Maka fungsi biaya  pembangkitan dapat diperoleh melalui  persamaan (1).

cost H

F   (1)

Setelah diperoleh besar biaya  pembangkitan pada beberapa titik nilai daya aktif kemudian dilakukan proses interpolasi pada titik-titik fungsi biaya  pembangkitan terhadap daya aktif sehingga diperoleh persamaan eksponensial. Persamaan yang diperoleh tersebut merupakan persamaan karakteristik biaya  pembangkitan pada suatu pembangkit. Secara matematis fungsi biaya dari  pembangkit dapat diformulasikan sebagai suatu fungsi obyektif seperti yang diberikan dalam persamaan (2) dan (3).

1 ( ) n T i i i  F F P   

(2) 2

( )

i i i i i i i

 F P

 

a

b P c P 

(3) dengan :

FT = total biaya pembangkitan (Rp)

Fi(Pi) = fungsi biaya input-output dari  pembangkit i (Rp/jam).

ai, bi, ci = koefisien biaya dari  pembangkit i.

Pi = output pembangkiti (MW) n = jumlah unit pembangkit.

i = indeks daridispatchable unit

Batasan batasan yang dipenuhi dalam  perhitungan adalah :

 equality constraint 

Menentukan Parameter CFPSO

Menentukan Optimisasi Biaya Pembangkitan Menggunakan CFPSO

OPF CFPSO dengan Metoda Newton

Selesai Data Saluran Data Pembebanan Data Pembangkitan

(3)

Pada kesetimbangan daya, equality constraint  harus dipenuhi yaitu total daya yang dibangkitkan oleh masing masing pembangkitan harus sama dengan total kebutuhan beban pada sistem.  Equality constraint 

kesetimbangan daya adalah :

P P P D L  N 1 i i  

 (4)  inequality constraint 

Output setiap unit pembangkit mempunyai batas maksimum dan minimum yang harus dipenuhi (inequality constraint ), yaitu :

Pimin ≤ Pi ≤ Pimax (5)

2.2. Particle Swarm Optimization (PSO)

J. Kennedy dan R. C. Eberhart (1995) memperkenalkan algoritma  Particle Swarm Optimization (PSO), proses algoritmanya diinspirasi oleh perilaku sosial dari hewan, seperti sekumpulan serangga, ikan, burung dalam suatu swarm. Perilaku sosial terdiri dari tindakan individu (partikel) dan pengaruh tindakan individu tersebut terhadap kelompoknya. Setiap individu berprilaku secara terdistribusi berdasarkan kecerdasanya masing masing dan dipengaruhi oleh  perilaku kelompoknya. Menurut Budi Santoso dan Paul Willy (2011) setiap  partikel diasumsikan memiliki dua karakteristik, yaitu posisi dan kecepatan. Setiap partikel bergerak dalam satu ruang ( space) tertentu dan mengingat posisi terbaik yang pernah dilewati atau ditemukan terhadap sumber makanan atau nilai fungsi objektif. Setiap partikel akan menginformasikan posisi terbaiknya kepadanya partikel yang lain dan menyesuaikan posisi dan kecepatannya  berdasarkan informasi yang diterima mengenai posisi yang terbaik. Dalam suatu  bentuk dimensi ruang, posisi dan kecepatan (velocity ) partikel digambarkan dengan formulasi matematika sebagai  berikut : V i=vi1 ,vi2 ,…,viN  (7) dengan,  X  = posisi partikel V  = kecepatan partikel i = indeks partikel

 N  = ukuran dimensi ruang

Mekanisme update velocity pada individu i

dimodelkan dengan persamaan matematis  berikut : = + − + − (8) 1 1 k k k  i i i  X   X V   (9) dengan,

Vik  = Velocity individui pada iterasi k 

Xik  = posisi individui pada iterasi k  c1 , c2 = koefisien akselerasi

r 1 , r 2 = jumlah random antara 0 dan 1

Pbest ik  = Pbest individu i sampai iterasi k  Gbest k  = Gbest kelompok sampai iterasi k  P best mempresentasekan personal best dari

 partikel ke i, sedangkan G best

mempresentasikan global best dari seluruh kawanan. c1 dan c2 adalah suatu konstanta

yang bernilai positif, r 1 dan r 2 adalah suatu

 bilangan random yang bernilai antara 0 sampai 1. Persamaan (8) digunakan untuk  menghitung kecepatan partikel yang baru  berdasarkan kecepatan sebelumnya, kemudian partikel berpindah menuju posisi yang baru berdasarkan persamaan (9). Persamaan modifikasi velocity pada setiap

 particle dengan menggunakan constriction  factor  (faktor penyempitan) dapat dinyatakan dengan persamaan (10) berikut (Shi Yao Lim dkk, 2009) :

= ∗ [ + − +

− ] (10)

(4)

=

=

(11)

dengan    c1 c2 dan   4.0

2.3. Aliran Daya

Pada studi aliran daya bus dikelompokan menjadi 3 (tiga) macam, yaitu:

1. Slack bus atau  swing bus atau bus  piket

2. Voltage controlled bus atau bus generator 

3. Load busatau bus beban

Setiap bus sistem terdapat empat parameter  atau besaran yaitu:

1. Daya aktif (real power ) mempunyai simbol P.

2. Daya reaktif  (reactive power ) mempunyai simbol Q.

3. Besaran (magnitude) tegangan, mempunyai simbul |V|.

4. Sudut fasa tegangan, mempunyai simbol.

Dari empat parameter tersebut di atas, pada tiap tiap bus hanya 2 (dua) macam besaran ditentukan sedangkan kedua besaran yang lain merupakan hasil akhir dari  perhitungan. Besaran besaran yang

ditentukan adalah :

1. Slack bus; harga skalar |V| dan sudut fasenya 

2. Generator bus; Daya aktif P dan harga skalar |V|

3. Load bus; Daya aktif P dan daya reaktif Q

Metoda Newton Raphson dianggap efektif  dan menguntungkan untuk perhitungan aliran daya pada sistem jaringan yang  besar. Dengan metoda Newton Raphson  persamaan aliran daya dirumuskan dalam  bentuk polar. Arus yang memasuki bus i

dapat dihitung dengan menggunakan  persamaan persamaan (12) (Hadi Saadat,

2004) : n 1  j ij 1 Y V  j  I 

  (12)

Apabila ditulis dalam bentuk polar,  persamaan (12) menjadi :  j ij n 1  j 1 

      j ij V  Y   I  (13) Untuk menentukan daya kompleks pada  bus i adalah : i * i i i  jQ V  I   P   (14) Ii  pada persamaan (13) disubsitusikan kedalam persamaan (14) akan menghasilkan :  j ij  j n  j ij i i i i  jQ V  Y  V   P    

    1 (15)

Bagian riil dan imajiner dipisahkan sehingga persamaan (15) menjadi :

) cos( 1  j i ij ij  j n  j i i V  V  Y   P  

       (16) ) sin( 1  j i ij ij  j n  j i i V  V  Y  Q 

         (17)

Persamaan (16) dan (17) akan membentuk   persamaan aljabar non linier dengan

variabel sendiri. Dalam bentuk singkat Matriks Jacobian dapat ditulis dengan  persamaan (18) berikut:                         V J J J J Q P 4 3 2 1 (18)

Hadi Saadat (2004) mengatakan jumlah elemen matrik jacobian ditentukan dengan  persamaan (2n-2-m) x (2n-2-m) dengan n

adalah jumlah bus pada sistem, m adalah  banyaknya bus generator pada sistem. J1

didapat dari (n-1) x (n-1), J2 dari (n-1) x

(n-1-m), J3 dari (n-1-m) x (n-1), J4

diperoleh dari (n-1-m) x (n-1-m)

Elemen diagonal dan elemen off diagonal untuk J1:

(5)

) sin( Y V V P  j i ij ij  j 1  j i i i   

 (19) i  j Y  V  V   P   j i ij ij  j i  j i   ) sin(        (20)

Elemen diagonal dan elemen off diagonal untuk J2:

 j

cos Y V cos Y V 2 V P i ij ij i  j  j ii ii i i i  

 (21)

 j

 j i cos Y V V P i ij ij i  j i   (22) Elemen diagonal dan elemen off diagonal untuk J3: ) cos( Y V V Q  j i ij ij  j 1  j i i i   

 (23)

 j

 j i Y  V  Q i ij ij i  j i           cos (24)

Elemen diagonal dan elemen off diagonal untuk J4:

 j

sin Y V sin Y V 2 V Q i ij ij i  j  j ii ii i i i  

 (25)

 j

 j i sin Y V V Q i ij ij i  j i   (26)

 Power residual  atau sisa daya adalah  perbedaan nilai  P i(k )dan ( k )

i

Q

 yang

terjadwal dengan yang dihitung. Nilai

 power residual dihitung dengan persamaan ) k ( i sc h i ) k ( i P P P    (27) ) k ( i sc h i ) k ( i Q Q Q    (28)

Estimasi baru untuk sudut fasa dan tegangan bus adalah :

) k  ( i ) k  ( i ) 1 k  ( i       (29) ) k  ( i ) k  ( i ) 1 k  ( i V V V     (30)

Proses iterasi akan berhenti jika sudah terpenuhi :    (k ) i P (31)    (k ) i Q (32)

III. HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1 Data Plant

Sistem tenaga listrik IEEE 26 Bus terdiri dari 6 unit pembangkit yang berada  pada bus 1, bus 2, bus 3, bus 4, bus 5, dan  bus 26, dimana bus 1 dijadikan sebagai

 slack  bus. One Line Diagram sistem IEEE 26 bus ditunjukkan pada Gambar 2.

Gambar 2. One Line Diagram Sistem IEEE 26 Bus

Batasan kemampuan pembangkitan daya aktif dan fungsi biaya masing masing  pembangkit pada sistem IEEE 26 bus

(6)

Tabel 1. Data Generator Sistem IEEE 26 Bus

 No Pembangkit Daya Aktif (MW) Fungsi Biaya ($/Jam)

Minimum Maksimum 1 Pembangkit 1 (bus 1) 100 500 C1= 240 + 7.0 P1+ 0.0070 P12 2 Pembangkit 2 (bus 2) 50 200 C2= 200 + 10.0 P1+ 0.0095 P1 3 Pembangkit 3 (bus 3) 80 300 C3= 220 + 8.5 P1+ 0.0090 P12 4 Pembangkit 4 (bus 4) 50 150 C4= 200 + 11.0 P1+ 0.0090 P12 5 Pembangkit 5 (bus 5) 50 200 C5= 220 + 10.5 P1+ 0.0080 P12 6 Pembangkit 6 (bus 26) 50 120 C26= 190 + 12.0 P1+ 0.0075 P12

3.2. Hasil Simulasi OPF

Hasil simulasi sistem IEEE 26 bus dengan menggunakan OPF metode Newton Raphson ditunjukkan pada Tabel 2 berikut.

Tabel 2. Hasil Simulasi Sistem IEEE 26 Bus dengan Menggunakan OPF

N o Nama Daya Aktif  (MW) Daya Reaktif  (MVar) Biaya ($/h) 1 Pemb. 1 447,66 250,58 4776,839 2 Pemb. 2 173,08 57,30 2216,901 3 Pemb. 3 263,36 78,28 3084,454 4 Pemb. 4 138,71 33,45 1900,381 5 Pemb. 5 166,09 142,89 2178,034 6 Pemb.6 86,939 27,89 1291,113 Total 1.275,8 590,39 15447.72 Total Losses = 12,815

3.3. Hasil Simulasi OPF - CFPSO

Tabel 3. Hasil Simulasi Sistem IEEE 26 Bus Menggunakan OPF - CFPSO

No Percobaan Total Cost  (Rp/jam)  Losses (MW) % Error Cost % Error Losses 1 15447,77 12,817 0,0002 0,0052 2 15447,89 12,819 0,0010 0,0208 3 15447,34 12,815 0,0025 0,0104 4 15447,83 12,818 0,0006 0,0130 5 15447,84 12,818 0,0007 0,0130 6 15447,79 12,817 0,0004 0,0052 7 15447,90 12,819 0,0011 0,0208 8 15447,82 12,818 0,0006 0,0130 9 15447,72 12,816 0,0001 0,0026 10 15447,72 12,816 0,0001 0,0026 11 15447,89 12,819 0,0010 0,0208 12 15447,73 12,816 0,0000 0,0026 13 15447,95 12,820 0,0014 0,0286 14 15447,77 12,817 0,0002 0,0052 15 15447,03 12,800 0,0045 0,1274 rata-rata 15447,73 12,816 0,00097 0,019

Hasil simulasi menggunakan metoda CFPSO untuk sistem IEEE 26 bus ditunjukkan pada Tabel 3 dan 4 Parameter 

yang digunakan untuk 

mengimplementasikan algoritma CFPSO yang diusulkan dalam menyelesaikan optimisasi pembangkit sistem IEEE 26 bus adalah sebagai berikut :

1. Jumlah swarm = 50 2. Jumlah partikel = 6

3. Maksimum iterasi = 1000

4. Koefisien akselerasi,ac1 = 2.05 dan

ac2 = 2.05 5. PD= 1263

Dari simulasi optimisasi menggunakan CFPSO akan diperoleh nilai P (daya aktif) masing masing pembangkit yang ekonomis untuk melayani beban. Jumlah beban sebesar 1.263 MW (dari data pembebanan) dijadikan beban dasar dalam simulasi CFPSO.

Tabel 4. Hasil Simulasi Pembangkitan Biaya Terkecil Sistem IEEE 26 Bus

Menggunakan OPF - CFPSO

N o Nama Daya Aktif  (MW) Daya Reaktif  (MVar) Biaya ($/h) 1 Pembangkit 1 447,498 250,622 4.775,52 2 Pembangkit 2 172,912 57,305 2.215,96 3 Pembangkit 3 263,273 78,314 3.083,50 4 Pembangkit 4 138,632 33,455 1.899,40 5 Pembangkit 5 169,153 142,336 2.184,03 6 Pembangkit 6 84,331 28,258 1.288,59 Total 1.275,80 590.29 15.447,03

(7)

Tabel 3 menunjukan besar persentase nilai rata rata perbedaan antara setiap kali  percobaan dibandingkan dengan nilai rata rata keseluruhan percobaan. Persentase  perbedaan untuk jumlah total biaya  pembangkitan adalah 0,00097% dan  persentase perbedaan untuk nilai kerugian (losses) pada jaringan sebesar 0,019%. Tabel 3 juga menunjukan pada percobaan ke 15 (lima belas) diperoleh nilai hasil total  biaya pembangkitan yang termurah, yaitu sebesar $ 15.447,03/jam. Uraian hasil simulasi dari percobaan kelima belas untuk  masing masing pembangkitan ditunjukan  pada tabel 3.

Tabel 4 menunjukan hasil simulasi sistem IEEE 26 Bus menggunakan metoda CFPSO. Total daya aktif yang dibangkitkan sebesar 1.275,8 MW untuk  memenuhi kebutuhan beban sebesar 1.263 MW ditambah dengan daya yang hilang dijaringan sebesar 12,8 MW. Apabila

dijumlahkan daya pada beban dengan daya yang hilang pada jaringan akan diperoleh daya sebesar 1.275,8 MW.

Hasil ini menunjukan untuk batasan keseimbangan daya (equality constraints) terpenuhi, dimana P (daya) yang dihasilkan  pembangkit (Pi) jumlahnya sama dengan

daya pada beban (PD) ditambah daya yang

hilang pada jaringan (PL). Untuk batasan

minimum dan minimum daya aktif  (inequality constraints) dapat dilihat tabel 5 kolom 3 dan tabel 1 kolom 3 dan 4, dengan : P1 : 100 < 447,498 < 500 P2 : 50 < 172,912 < 200 P3 : 80 < 263,273 < 300 P4 : 50 < 138,632 < 150 P5 : 50 < 169,153 < 200 P6 : 50 < 84,331 < 120

Tabel 5. Perbandingan Hasil Optimasi Menggunakan OPF Dengan OPF - CFPSO

Daya Output (MW) OPF OPF – CFPSO

P1 447,661 447,498 P2 173,087 172,912 P3 263,363 263,273 P4 138,716 138,632 P5 166,099 169,153 P6 86,939 84,331 Losses (MW) 12,815 12,800 Total Pembangkitan (MW) 1.275,815 1.275,800

Total Biaya Pembangkitan ($/jam) 15.447,72 15.447,03

Dari hasil simulasi yang dilakukan pada sistem IEEE 26 bus dengan menggunakan OPF diperoleh total biaya pembangkitan sebesar 15.447,72 $/jam. Dengan menggunakan metoda OPF - CFPSO diperoleh total biaya pembangkitan sebesar  15.447,03 $/jam. Untuk mensuplai beban yang sama, OPF - CFPSO bisa menekan 0,69 $/jam atau sekitar 0,0045 %.

IV. KESIMPULAN

Hasil simulasi menunjukan bahwa dengan menggunakan CFPSO pada analisa aliran daya bisa diperoleh biaya pembangkitan

yang digunakan, dengan OPF – CFPSO diperoleh total biaya pembangkitan sebesar  15.447,03 $/jam. Apabila hanya menggunakan OPF saja pada data yang sama diperoleh total biaya pembangkitan sebesar 15.447,72 $/jam. Dalam hal ini  bearti

1. ada penekanan biaya sebesar 0,69 $/jam atau penghematan sebesar 0,0045 %. 2. Pembebanan masing masing

 pembangkit dari hasil metoda OPF –  CFPSO yang diusulkan dalam menentukan biaya pembangkitan

(8)

keseimbangan daya (equality constraint ) dan batasan minimal dan maksimal (inequality constraint ).

3. Losses atau kerugian pada jaringan dari hasil OPF – CFPSO bila dibandingkan dengan hasil OPF biasa, berkurang dari 12,815 MW menjadi 12,800 MW.

V. UCAPAN TERIMA KASIH

Ucapan terima kasih dan penghargaan  penulis sampaikan kepada Bapak Ontoseno Penangsang, Bapak Adi Soeprijanto, Bapak Indar Chaerah Gunadin. Terima kasih juga diucapkan kepada Politeknik   Negeri Bengkalis atas fasilitas yang

disediakan dan rekan rekan S2 angkatan 2009 Teknik Sistem Tenaga Jurusan Teknik Elektro ITS.

VI. DAFTAR PUSTAKA

Allen J. Wood, Woolenberg Bruce F. (1996).  Power Generation, Operational, and  Control , 2nd Ed., Jhon Wiley & Sons, Inc., New York.

Budi Santoso dan Paul Willy. (2011). Metoda Metaheuristik Konsep dan Implementasi, Guna Widya, Surabaya.

C.H. Chen, S. N. Yeh. (2006).  Particle Swarm Optimization for Economic Power   Dispatch with Valve Point Effect, IEEE PES Transmission and Distribution

Conference and Exposition Latin America, Venezuela, pp.1-5.

Djiteng Marsudi. (2005). Pembangkitan Energi Listrik , Erlangga, Jakarta.

Hadi Saadat. (2004). Power Sistem Analysis, Second Edition, McGraw-Hill International Edition,Singapore.

James Kennedy and Russel Eberhart. (1995).  Particle Swarm Optimization, IEEE,  pp.1942-1948.

Jong Bae Park, Yun Won Jeong, Hyun Houng Kim and Joong Rin Shin. (2006).  An  Improved Particle Swarm Optimization for Economic Dispatch with Valve-Point   Effect, International Journal of Innovations in Energy Systems and Power, Vol. 1,

no. 1. Nov., pp.1-7.

M. Clerc and J. Kennedy. (2002).The particle swarm-explosion, stability, and  convergence in a multidimensional complex space, IEEE Trans. On Evolutionary Computation, Vol. 6, No. 1, Feb., pp.58-73.

Russell Eberhart, James Kennedy. (1995). A New Optimizer Using Particle Swarm Theory, Sixth International Symposium on Micro Machine and Human Science, IEEE, pp. 39-43.

Shi Yao Lim, Mohammad Montakhab, and Hassan Nouri.(2009). Economic Dispatch of   Power System Using Particle Swarm Optimization with Constriction Factor ,

International Journal of Innovations in Energy System and Power, Vol 4 No 2, Oct., pp. 29-34.

Gambar

Gambar 1. Flowchart tahapan penelitian 2.1. Perhitungan Biaya Pembangkitan
Gambar 2. One Line Diagram Sistem IEEE 26 Bus
Tabel  3.  Hasil  Simulasi  Sistem  IEEE  26 Bus Menggunakan OPF - CFPSO
Tabel 3 menunjukan besar persentase nilai rata  rata  perbedaan  antara  setiap  kali  percobaan  dibandingkan  dengan  nilai  rata rata  keseluruhan  percobaan

Referensi

Dokumen terkait

Optimal power flow (OPF) merupakan optimisasi sistem tenaga dalam penjadwalan pembangkit dengan perhitungan aliran daya yang memperhatikan batasan pada saluran sehingga

Pemodelan sistem dari minimisasi rugi-rugi transmisi pada sistem kelistrikan 500 kV Jawa-Bali yang diusulkan, terdiri dari dua fase yakni fase awal untuk menentukan

Dalam melakukan optimisasi injeksi daya reaktif dan tegangan dengan fungsi objektif mencari nilai rugi daya aktif saluran transmisi yang minimum, variabel kontrol

Dalam melakukan optimisasi pengaturan daya reaktif dan tegangan dengan fungsi objektif mencari nilai rugi daya aktif saluran transmisi yang paling minimum, variabel

Dari hasil simulasi ini dapat disimpulkan bahwa dengan pembebanan yang sama, yaitu 9.836 MW, Particle Swarm Optimization mampu mengurangi total biaya pembangkitan Jawa Bali

 Injeksi daya aktif dan reaktif dari unit DG kedalam sistem pembangkit dapat dilakukan dengan rugi daya saluran menurun dan tegangan pada bus tetap berada pada batas aman. 

Pemodelan sistem dari minimisasi rugi-rugi transmisi pada sistem kelistrikan 500 kV Jawa-Bali yang diusulkan, terdiri dari dua fase yakni fase awal untuk menentukan

Cao Yijia College of Electrical Engineering, Zhejiang University, Hangzhou, China [email protected] [email protected] Abstract--This paper presents solution of optimal power