11
A. Tinjauan Pustaka
1. Renang Gaya Crawl
a. Pengertian Renang Gaya Crawl
Renang gaya crawl menyerupai cara berenang seekor binatang, oleh sebab itu disebut dengan “crawl” yang artinya merangkak. Gerakan asli dari gaya ini adalah menirukan gerakan dari anjing yang berenang atau dikenal juga dengan “renang anjing” (dog-style). Gaya crawl ini juga disebut dengan gaya rimau, yang berasal dari kata “harimau”.
Renang gaya crawl ini adalah gaya dalam renang yang paling sering digunakan dalam perlombaan renang nomor renang gaya bebas, karena renang gaya crawl adalah gaya dalam renang yang paling cepat jika dibandingkan dengan gaya lainnya. Indik karnadi (2008:2.3) berpendapat bahwa “dalam renang gaya ini memiliki koordinasi gerak yang baik dan hambatannya paling minim. Ciri khas dari renang gaya ini adalah gerakan lengannya berputar mirip dengan gerakan baling-baling pesawat dan gerakan tungkai tungkainya naik turun secara menyilang”. Ermat Suryatna & Adang Suherman (2004:67) mengatakan hasil catatan sejarah kompetisi renang Olimpiade menunjukan bahwa tidak ada stroke lain yang sebanding dengan stroke gaya bebas ini, bila dilihat dari kecepatan luncuran yang dihasilkan.
Gaya crawl oleh sebagian orang disebut gaya bebas. Istilah ini kurang tepat, sebab gaya bebas merupakan nama pada nomor perlombaan renang, sedangkan gaya crawl merupakan salah satu teknik renang. Pada setiap perlombaan nomor gaya bebas hampir semua perenang memilih gaya crawl oleh sebab itu gaya crawl sering disebut sebagai gaya bebas. Dalam aturan FINA (Federation Internationale De Natation) (2013:193) disebutkan bahwa gaya bebas (freestyle) berarti nomor perlombaan yang memungkinkan perenang menggunakan berbagai macam gaya, kecuali pada nomor gaya ganti atau
individu, gaya bebas berarti bebas menggunakan gaya selain gaya punggung (backstroke), gaya dada (breaststroke) atau gaya kupu-kupu (butterfly).
Renang gaya crawl merupakan cara berenang dengan badan telungkup kemudian lengan bergerak menjangkau jauh kedepan secara bergantian seperti baling-baling dan gerakan kaki yang bergerak mencambuk air naik turun secara bergantian.
b. Teknik Renang Gaya Crawl 1) Posisi Badan
Untuk bisa berenang gaya crawl secara efisien ternyata terdapat beberapa kunci utamanya, yaitu dengan memperkecil tahanan air (drag) dan memperbesar gaya dorong (propulsi). Anandita (2010:33) mengatakan bahwa “jika memperbesar gaya dorong kita bisa berenang lebih efisien hingga 30%, sedangkan jika memperkecil tahanan air, kita bisa berenang lebih efisien hingga 70%.”
Menurut Anandita (2010:33) bahwa untuk memperkecil tahanan air ada beberapa kunci, yang pertama adalah body strime line yaitu posisi badan dengan memasukkan kepala ke dalam air dan arahkan pandangan ke dalam kolam, maka tungkai kita akan bisa mengapung dengan mudah. Kedua, jadikan tubuh kita lebih panjang, cara agar tubuh kita bisa menjadi lebih panjang adalah dengan menyorongkan lengan ekstensi kita sejauh-jauhnya ke depan. Jadi begitu tangan masuk kedalam air jangan langsung mengayun tapi julurkan beberapa saat sejauh mungkin ke depan. Ketiga, miringkan tubuh kita (body rolling) ke sisi kiri dan ke sisi kanan. Kemiringan ini bukan hanya dada, melainkan seluruh tubuh, tahanan air akan lebih kecil ketika tubuh kita miringkan.”
Sedangkan Indik Karnadi (2008:2.3) berpendapat bahwa dalam bernapas sikap kepala harus menoleh kearah samping, bukan mengangkat kepala, jadi gerakan kepala harus pada axis garis sepanjang badan, bukan axis garis kiri atau kanan. Kepala merupakan sebuah kemudi, apabila kita mengangkat kepala keatas saat mengambil napas, maka Hukum Newton akan berlaku yang mengakibatkan tubuh bagian bawah akan turun yaitu pinggang
dan tungkai. Dalam melakukan dayungan juga akan mempengaruhi sikap badan yang strime line, apabila terlalu melakukan dorongan yang keras kearah bawah saat melakukan dayungan akan mengakibatkan tubuh terdorong ke atas sebagaimana Hukum Newton ke III aksi reaksi.
Jadi posisi badan dalam melakukan gerakan renang gaya crawl adalah mengapung, telungkup, horizontal dengan permukaan air (strime line), dan ketika melakukan gerakan mengayun memperkecil dorongan kearah bawah dan atas sehingga tubuh tidak naik dan turun (stabil) dan ketika mengambil napas kepala tidak diangkat namun ditolehkan kearah samping. Semua hal tersebut dimaksudkan untuk memperkecil tahanan.
Gambar 2.1 Posisi Badan Strime Line pada Renang Gaya Crawl (Ermat Suryatna & Adang Suherman, 2004:72)
2) Gerakan lengan
Ermat Suryatna dan Adang Suherman (2004:67) mengatakan bahwa Sumber penghasil power yang utama dalam gaya bebas datangnya dari kayuhan kedua lengan, yang secara bergantian melaukukan recovery di udara dan melakukan dorongan keseimbangan terhadap gerakan lengan dengan cara melakukan gerakan kebawah dan atas di dalam udara. Hal serupa juga diungkapkan Sukintoto dan Sukarno (1983:91) dalam renang gaya crawl gerakan maju sebagian besar ditentukan oleh gerakan lengan, sedangkan gerakan kaki terutama berfungsi sebagai alat keseimbangan dan alat untuk menjaga agar kaki tetap tinggi untuk memperoleh posisi datar.
Indik karnadi (2008:2.11) menjelaskan bahwa dalam melakukan gerakan lengan gaya crawl kedua lengan secara bergantian bergerak mendayung kearah depan mirip dengan gerakan baling-baling pesawat. Siklus gerakan lengan dalam gaya crawl ini dimulai dengan entry (masuk dalam air), pull-push (tarikan dan dorongan) dan recovery (pengembalian).
a) Entry, yaitu gerakan masuknya lengan dan tangan ke dalam air, yang masuk terlebih dahulu adalah jari kelingking, dan gerakannya dilakukan dengan halus tidak dipukulkan. Entry dilakukan oleh ujung jari masuk terlebih dahulu kedalam air kira-kira 30 cm di depan kepala. Siku masih tertekuk dan masih tinggi, tangan masuk kedalam air secara menusuk.
Gambar 2.2 Gerakan Lengan Masuk ke Dalam Air (Entry) (Indik Karnadi, 2008:2.11)
b) Pull-push, setelah entry dimulai lengan diusahakan lurus, posisi siku lebih tinggi dari telapak tangan. kemudian dimulailah tarikan lengan (pull), tarikan dilakukan dibawah badan dengan cara membengkokan siku ke arah dalam dengan sudut bengkok sekitar 45-90 derajat, tarikan dimulai dari dari pelan kearah cepat sehingga menghasilkan dorongan yang efektif. Tangan terus menekan air dan membentuk huruf “S” sepanjang tarikan dan berhenti sewaktu tangan melewati bawah bahu dan dada, dimana tekanan siku mencapai maksimal. Setelah telapak tangan mencapai garis bahu dimulailah dorongan lengan (push) dengan mengubah arah telapak tangan tertuju pada paha, dorongan berakhir ketika ibu jari mencapai paha.
Gambar 2.3 Gerakan Lengan Mendayung Menyerupai Huruf “S” (Indik Karnadi, 2008:2.13)
c) Recovery, dilakukan dengan mengangkat siku keluar dari permukaan air dan mengarahkan kedepan, lengan bawah dan telapak tangan mengikuti
gerakan siku. Gerakan ini di lakukan dengan rileks dan tidak diperkenankan melempar lengan ke arah kanan atau kiri tetapi ke arah depan. Jika lengan mengarah ke arah kanan atau kiri badan akan menyebabkan renang berbelok-belok.
Gambar 2.4 Gerakan Lengan Saat Recovery (Indik Karnadi, 2008:2.15)
Urutan gerakan lengan gaya crawl seperti pada gambar 2.5 dengan urutan yaitu pertama posisi lengan kiri pada saat permulaan recovery, dengan mulai mengangkat siku yang tinggi. Sedangkan lengan kanan telah melakukan entry dan mulai bergerak pada tarikan lengan (pull). Kemudian posisi tangan kiri tepat berada recovery, disini terlihat urutan siku paling tinggi sedangkan jari-jari tangan tarikan paling bawah, dimana lengan membengkokkan ke arah dalam. Lalu posisi lengan kiri berada pada entry dengan jari-jari masuk lebih dahulu, sedangkan posisi lengan kanan pada tahap akhir dari tarikan. Kemudian posisi lengan kiri pada permulaan tarikan lengan, sedang posisi lengan kanan berada pada tahap dorongan, telapak tangan berubah dari arah diagonal ke arah paha kanan. Kecepatan dayungan mencapai maksimal. Posisi lengan kiri masih pada permulaan tarikan lengan. Dengan arah telapak tangan agak ke luar. Sedangkan posisi lengan kanan pada akhir dari dorongan, di mana jari telah menyentuh paha. Pada dayungan bebas. Dari entry jari-jari tangan, tarikan di mana lengan dari keadaan lurus kemudian dibengkokkan dengan ke arah dalam, dan dorongan lengan di mana telapak tangan mengarahkan ke luar. Telapak tangan mula-mula menghadap ke luar, kemudian menghadap ke dalam dan akhirnya menghadap ke luar lagi.
Gambar 2.5 Urutan Gerakan Lengan Gaya Crawl (Indik Karnadi, 2008:2.16)
3) Gerakan Tungkai
Dalam renang gaya crawl fungsi gerakan tungkai adalah sebagai stabilisator dan membantu untuk gerakan tubuh kedepan. Dalam renang gaya crawl sumber utama gerakan maju perenang adalah luncuran dan gerakan dayungan lengan, namun gerakan dari tungkai juga memberikan kontribusi untuk gerakan maju perenang. Anandita (2010:34) mengatakan bahwa “gerakan tungkai seperlunya, sekedar untuk mengimbangi gerakan tubuh lainnya. Kecuali pada perlombaan sprint, kita bisa mempercepat gerakan
tungkai untuk menambah dorongan”. Dalam beberapa penelitian yang di kutip Indik Karnadi (2008:2.6) menyebutkan bahwa :
a) Pemakaian energi pada renang gaya crawl dengan menggunakan tungkai saja lebih banyak dari pada renang dengan lengan saja atau renang dengan memakai lengan dan tungkai.
b) Pemakaian energi pada renang dengan lengan saja, kurang kurang daripada dengan lengan dan tungkai pada kecepatan renangan rendah. Akan tetapi pada kecepatan tinggi, pemakaian energi renang yang menggunakan lengan saja menjadi lebih banyak dibandingkan dengan renang yang menggunakan lengan dan tungkai.
Jadi sebaiknya untuk nomor perlombaan renang gaya bebas yang menggunakan gaya crawl pada sprint sebaiknya menggunakan perpaduan gerakan tungkai dan lengan secara maksimal. Gerakan kaki haruslah dilakukan dengan frekuensi tinggi atau pada umumnya dilakukan dengan 6 kali tendangan untuk setiap satu kali putaran lengan. Sedangkan pada nomor jarak menengah atau jauh (800 meter dan 1500 meter) menggunakan 2 kali tendangan setiap satu kali putaran lengan, karena kemampuan jantung untuk menyalurkan darah pada lengan dan tungkai secara bersamaan dan dengan kebutuhan yang tinggi terbatas.
Gerakan tungkai kaki gaya crawl dilakukan naik turun bergantian secara menyilang, gerakannya mirip dengan gerakan sewaktu berjalan, seperti pada gambar dibawah ini :
Gambar 2.6 Gerakan Tungkai Gaya Crawl Mirip Gerakan Berjalan (Indik Karnadi : 2008:2.7)
Gerakan tungkai dalam renang gaya crawl sebagai berikut :
a) Gerakan kaki dilakukan dengan naik turun pada bidang vertikal, bergantian antara tungkai kanan dan kiri.
b) Gerakan dimulai dari pangkal paha dan pada gerakan menendang (kebawah) tertekuk pada lutut, untuk kemudian diluruskan pada akhir tendangan.
c) Pada saat tendangan dilakukan, telapak kaki bergerak , tungkai lurus dan telapak kaki bengkok pada akhir dari tendangan. Jadi gerakan telapak kaki dari plantar flexi dorsal flexi.
d) Gerakan tungkai ke atas dilakukan dengan sikap yang lurus. Amplitudo gerakan yaitu jarak antara satu tungkai maksimal di atas dan tungkai yang lain maksimal dibawah kira-kira 25 sampai 40 cm. Sedang ritme atau kecepatan gerakan, tergantung dari masing-masing perenang.
e) Mengenai kekuatan atau kecepatan gerakan tungkai adalah sebagai berikut : pada gerakan ke bawah atau gerakan tendangan dilakukan dengan keras (kekuatan penuh), sedangkan pada waktu gerakan kaki ke atas dilakukan dengan agak pelan (rileks).
Urutan gerakan tungkai dan kaki dalam gaya crawl seperti pada gambar 2.7 berikut ini :
Gambar 2.7 Urutan Gerakan Tungkai Renang Gaya Crawl (Indik Karnadi, 2008:2.8-2.10) 1 3 2 4 5 6 8 7
Kesalahan umum dalam melakukan gerakan tungkai dalam renang gaya crawl antara lain :
a) Poros gerakan tungkai kaki tidak mempergunakan sendi panggul, tetapi sendi lutut. Akibatnya tidak ada cambukan tetapi gerakannya seperti mendayung sepeda.
b) Gerakan kaki ditekuk terlampau tinggi, sehingga keluar dari permukaan air. Hal ini akan menghasilkan gerakan mencebu-cebur atau geraknnya terlampau kecil (amplitudonya sempit) dan menghasilkan gerakan kaki yang menggelepar.
c) Gerakan tungkai kaki kuat sebelah, hal ini akan menghasilkan cambukan yang tidak seimbang.
4) Pernapasan
Kemampuan mengendalikan napas dalam renang gaya crawl sangat diperlukan, jika tidak dapat melakukan teknik pengambilan napas dengan baik dapat menggangu atau merusak gerakan renang keseluruhan dan mengurangi kecepatan. Sukintoko & Sukarno (1983:99) menjelaskan bahwa “dalam pengambilan napas dapat dilakukan dengan dua teknik yaitu dengan pengambilan napas secara eksplosif dan ritmis, pengambilan napas eksplosif dilakukan dengan pengambilan napas melalui mulut dan hidung ketika kepala ditolehkan kesamping keluar dari permukaan air dan napas dibuang di luar air sesaat sebelum pengambilan napas, sedangkan pengambilan napas ritmis dilakukan dengan mengambil napas melalui mulut dan hidung ketika kepala ditolehkan kesamping dan membuang napas secara perlahan melalui mulut dan hidung ketika berada di dalam air.”
Menurut anandita (2010:33) “ada beberapa kunci agar renang gaya crawl dapat lebih efisien, salah satunya dengan menjaga ritme pernapasan dan sebisa mungkin melakukan pernapasan dua sisi (bilateral breathing), yakni dengan mengambil napas setiap tiga kali dayungan lengan sehingga akan bergantian ke sisi kanan dan kiri dengan harapan tubuh kita akan tetap seimbang”.
Pernapasan dalam renang gaya crawl akan sangat mempengaruhi posisi badan untuk strime line. Putaran kepala untuk mengambil napas harus dilakukan dengan axis (sumbu putar) garis sepanjang badan sehingga kepala tidak akan naik terlalu tinggi dari permukaan air dan sesuai hukum Newton III maka tubuh bagian bawah akan turun sehingga posisi badan sudah tidak strime line lagi.
Dalam melakukan pernapasan dilakukan ketika lengan kanan masuk kedalam air (entry) dan melakukan dayungan (push) kepala menoleh ke sisi kanan dan mengambil napas melalui mulut lebar lebar pada ketinggian permukaan air yang ditimbulkan oleh kepala. Dan ketika lengan kanan melakukan recovery kepala ditolehkan kebawah dan mata melihat arah kolam. Pengeluaran napas tepat sebelum kepala diputar untuk mengambil napas.
Anandita (2010:93) mengatakan bahwa pada perenang jarak pendek (sprint) dengan jarak 50 meter dan 100 meter biasanya perenang menahan nafas selama mungkin karena kecepatan mereka akan berkurang ketika mengambil napas, baru ketika tidak mampu lagi mereka akan mengambil napas.
5) Koordinasi gerakan
Koordinasi gerakan gaya crawl adalah serangkaian gerakan yang terpadu dari semua unsur gerakan yang ada pada gaya crawl yaitu mulai dari meluncur yang dilanjutkan dengan gerakan tungkai, lengan, pernapasan dengan seksama sehingga terwujudlah suatu gaya crawl yang baik. Yang perlu diperhatikan pertama adalah setelah melakukan luncuran membuat posisi tubuh untuk menjadi strime line, kemudian melakukan gerakan koordinasi antara lengan dan tungkai yang seirama, apakah menggunakan 6 kali tendangan setiap satu kali dayungan lengan kemudian mengkoordinasikan dengan gerakan pernapasan.
David G.Thomas.MS (2007:16) menjelaskan bahwa ada berbagai variasi dalam pola koordinasi tungkai lengan yang sering digunakan oleh perenang kelas dunia, ada yang menggunakan pola klasik 6-hitungan, terutama
para perenang cepat dan ada yang menggunakan pola 4 atau 2-hitungan terutama perenang jarak jauh.
c. Mekanika Fluida dan Prinsip Dalam Renang Gaya Crawl
Tubuh manusia pada dasarnya dirancang untuk kegiatan di daratan, sehingga butuh banyak adaptasi untuk melakukan kegiatan/gerakan di dalam air seperti viskositas air, tekanan di dalam air, gesekan dengan air, tahanan dan sebagainya.
Di dalam olahraga renang terdapat suatu prinsip mengeluarkan tenaga sekecil-kecilnya dan memperoleh laju seoptimal mungkin. Untuk mengimplementasikan prinsip tersebut, maka diperlukan suatu penerapan pengetahuan khususnya tentang teori mekanika fluida renang. Fluida merupakan zat alir seperti contonya adalah udara dan air. Dalam mekanika zat cair dikenal adanya gaya apung dan gaya dinamis. McGinnis (2005:194) mengatakan bahwa ada dua macam gaya yang bekerja pada benda yang berada dalam zat cair, yaitu gaya apung karena perendaman dalam cairan dan gaya dinamis fluida karena gerak relatif dalam cairan.
Gambar 2.8 Tekanan pada Zat Cair (McGinnis, 2005:196)
Dalam hubungannya dengan gaya apung terdapat faktor yang menjadi penyebabnya, yaitu tekanan dan berat jenis. Menurut McGinnis (2005:194) mengatakan bahwa air memberikan tekanan, tekanan air bekerja pada semua arah dengan besar yang sama selama pada level yang sama, semakin dalam posisi di dalam air maka semakin besar pula tekanannya. Oleh karena itu posisi perenang
adalah sedatar mungkin dengan permukaan air, sehingga tekananya akan semakin kecil. Semakin dalam posisi perenang di dalam air maka semakin besar pula tekanan yang akan diterima oleh perenang termasuk tekanan dari arah depan tubuh perenang yang akan menghambat gerakan maju perenang. Tekanan didefinisikan sebagai gaya per satuan luas. 1 meter3 air besarnya gaya 97800 N, sehingga tekanan dalam air pada kedalaman 1 meter adalah 9800N/m3.
Selanjutnya besarnya gaya apung sama dengan besarnya volume air yang dipindahkan oleh objek. McGinnis (2005:196) untuk sebuah objek dapat mengapung, maka gaya apung harus sama besarnya dengan berat objek tersebut. Selain berat sebuah objek yang dapat mempengaruhi gaya apung di dalam air adalah massa jenis. Pada tubuh seorang perenang otot dan tulang memiliki massa jenis yang lebih besar dari pada air (massa jenis air 1000 kg/m3), namun lemak memiliki massa jenis lebih kecil dari massa jenis air. Seseorang yang memiliki lebih sedikit lemak akan lebih mudah mengapung karena paru-paru dan rongga-rongga tubuh lainnya memungkinkan untuk terisi oleh udara dan gas lain yang memiliki massa jenis lebih kecil dari air. Sehingga menambah kapasitas tubuh tesebut untuk dapat mengapung.
Gaya dinamis fluida disebabkan karena gerak relatif, bisa terjadi ketika air yang bergerak dan melewati sebuah objek yang diam, maupun sebuah objek yang bergerak di dalam air yang diam. Besarnya gaya tarik/drag ini sebanding dengan percepatan/perlambatan dari molekul zat cair saat sebuah objek bergerak. Gaya dinamis fluida sebanding dengan kepadatan cairan, luas permukaan objek yang tenggelam dalam cairan, dan kuadrat yang sama dari kecepatan relatif dari objek untuk cairan. Gaya dinamis fluida ini dihasilkan dari dua komponen yaitu gaya tarikan/drag dan gaya dorongan. Gaya tarikan/drag dihasilkan oleh dua cara yang berbeda yaitu gaya tarikan/drag permukaan dan bentuk tarikan/drag. Gaya tarikan permukaan sering disebut sebagai gaya gesek, yaitu gaya gesekan antara permukaan dengan molekul zat cair. Gaya gesek permukaan sebanding dengan total massa molekul yang diperlambat oleh gaya gesek dan rata-rata perubahan kecepatan dari molekul tersebut.
Bentuk hambatan merupakan salah satu dari yang menyebabkan hambatan, bentuk hambatan ini terjadi ketika sebuah molekul yang bergerak
kemudian menabrak sebuah objek kemudian memantul dan mendorong molekul-molekul lain. Bentuk dari gerakan molekul-molekul-molekul-molekul tersebut cenderung mengikuti bentuk objek yang bergerak di dalam air tersebut. McGinnis (2005:201) menggambarkan contoh aliran laminar (mulus) dan aliran air yang menimbulkan turbulensi, seperti pada gambar 2.9 berikut :
Gambar 2.9 Contoh Aliran Dalam Air (McGinnis, 2005:201)
Seperti halnya dengan gaya hambatan permukaan/gaya gesek, bentuk hambatan juga dipengaruhi oleh tekstur permukaan. Permukaan kasar akan menyebabkan aliran turbulen dengan kecepatan lebih rendah dari permukaan halus. Telah sampaikan di atas bahwa besarnya gaya tarik dipengaruhi oleh koefisien gaya tarik, kepadatan fluida, area objek dan kecepatan relative objek sehubungan dengan cairan.
Tidak seperti halnya dengan lumba-lumba yang dapat berenang tanpa menimbulkan turbulensi sebesar manusia karena manusia menggunakan gerakan lengan dan tungkai untuk menghasilkan gerakan kedepan dalam berenang. Untuk mengurangi turbulensi maka perenang dapat memperkecil hambatan dan gesekan dengan cara memposisikan badan sedatar mungkin dengan permukaan air (stream line) dan memperkecil gesekan permukaan tubuh dengan air dengan memakai pakaian renang yang khusus, bahkan mencukur bulu pada tubuhnya untuk memperkecil gesekan.
Setiap pergerakan maju dalam gerakan renang merupakan hasil dari dua kekuatan, yaitu kekuatan tahanan dan dorongan. Kekuatan yang pertama adalah kekuatan yang disebut tahanan atau hambatan yaitu kekuatan yang menahan perenang untuk bergerak maju yang disebabkan oleh air di depan perenang yang menahan untuk bergerak maju. Kemudian kekuatan yang kedua adalah dorongan yaitu kekuatan yang menyebabkan perenang bergerak maju yang dihasilkan oleh gerakan lengan dan tungkai dalam berenang. Kedua kekuatan tersebut mempengaruhi dalam gerakan berenang ke depan, maka perenang harus memahami dan mampu mengembangkan kekuatan-kekuatan tersebut untuk dapat memaksimalkan pergerakan renangnya untuk mencapai prestasi renang yang baik dimana perenang harus mampu mengurangi dan melawan tahanan serta memperbesar dorongan.
1) Prinsip Tahanan
Terdapat tiga jenis tahanan dalam berenang, yaitu : a) Tahanan Depan
Menurut Indik Karnadi (2008,1.15) tahanan depan adalah tahanan yang secara langsung menahan badan perenang. Tahanan ini disebabkan oleh air yang berada di depan perenang. Sedangkan Sukintoko dan Sokarno (1983,74) berpendapat bahwa hambatan depan ialah hambatan terhadap gerakan maju yang ditimbulkan oleh air yang ada di depan perenang atau di depan setiap bagian tubuhnya. Jadi tahanan depan adalah tahanan yang disebabkan oleh air yang berada di depan perenang atau air yang berada di depan dari luas permukaan tubuh perenang secara vertikal yang menghalangi gerakan maju dari perenang. Tahanan depan ini besar sehingga perenang perlu memperhatikan bagaimana untuk memperkecil hambatan depan ini, salah satu caranya adalah dengan memperkecil luas permukaan tubuh perenang secara vertikal.
b) Tahanan geseran air
Tahanan geseran air disebabkan oleh gerakan air yang melewati atau melalui tubuh perenang. Air yang bergeseran dengan tubuh perenang ini menghasilkan hambatan atau tahanan bagi perenang. Namun tahanan
yang dihasilkan sangat kecil, sehingga hanya sedikit berpengaruh terhadap gerakan maju dari perenang.
c) Tahanan Pusaran Air
Tahanan pusaran air adalah tahanan yang disebabkan oleh air yang tidak cepat mengisi di belakang bagian-bagian yang kurang datar sehingga badan harus menarik sejumlah molekul-molekul air.
Di dalam berenang posisi badan perenang di dalam air dapat diubah menjadi sedemikian rupa sehingga mendapatkan bentuk yang mempunyai tahanan yang sangat kecil. Posisi badan yang paling baik dan mempunyai tahanan sangat kecil adalah posisi badan strime line, yaitu posisi badan atau bentuk bdan yang sangat datar atau sejajar dengan permukaan air sehingga tahanan depan menjadi kecil.
Gambar 2.10 Tahanan dalam Renang Gaya Crawl (Sukintoko & Sukarno, 1983:76)
2) Prinsip Dorongan
Dorongan adalah kekuatan yang mendorong perenang maju kedepan. Dorongan dihasilkan oleh lengan maupun tungkai perenang yang melakukan gerakan menekan air kebelakang. Prinsip yang selalu digunakan dalam teknik setiap gaya adalah hukum Newton III yaitu hukum aksi reaksi. Dalam hukum tersebut menyatakan bahwa setiap aksi akan menimbulkan reaksi yang besarnya sama dengan besar aksi dan berlawanan arah dengan aksi.
Pada renang gaya crawl tendangan tungkai dan dayungan lengan (aksi) akan mengakibatkan badan perenang maju ke depan (reaksi), sehingga makin kuat tendangan tungkai dan dayungan lengan makin kuat atau besar pula pergerakan maju perenang.
Gambar 2.11 Aksi Reaksi Dalam Renang Gaya Crawl (Indik Karnadi, 2008:1.20)
Hukum Aksi dan reaksi juga bekerja pada kecepatan dayungan lengan, kecepatan dayungan renang bertujuan untuk mempercepat gerakan maju tubuh perenang. Pada gambar 2.12 berikut tergambarkan posisi gerakan dalam dayungan lengan dan hukum aksi reaksi yang bekerja.
Gambar 2.12 Aksi Reaksi Dayungan Lengan Dalam Renang Gaya Crawl (Indik Karnadi, 2008:1.22)
Pada gerakan lengan yang mengarah ke bawah (A) harus dilakukan dengan gerakan yang rileks/tidak kuat, karena apabila dilakukan dengan kuat maka akan timbul reaksi yang kuat pula, sesuai dengan hukum Newton aksi reaksi yang akan mengakibatkan tubuh bagian depan terdorong ke atas dan bagian tubuh belakang turun, tenaga yang dikeluarkan tidak menghasilkan gerakan maju namun justru keatas dan membuat posisi badan menjadi tidak strime line. Kemudian pada gerakan mendayung ke arah belakang (B), merupakan gerakan dorongan ke belakang, sesuai dengan hukum Newton aksi reaksi maka apabila kita melakukan dorongan kebelakang akan muncul reaksi yang mendorong kita kedepan, maka semakin memperbesar tekanan ke belakang akan memperbesar pula dorongan yang akan mengakibatkan tubuh
Aksi Reaksi
bergerak maju. Dan kemudian pada gerakan menarik ke atas (C) harus dilakukan dengan rileks agar tidak mengakibatkan tubuh tertekan ke bawah dan menjadi tidak strime line.
Dorongan juga dapat diberikan oleh gerakan tangan, dimana posisi tangan yang paling baik adalah tangan dalam posisi datar, kelima jari-jari tidak rapat da tidak terbuka lebar. Tangan dan jari-jari tangan dalam keadaan rileks. Sebuah penelitiaan menyatakan bahwa sikap tangan datar dengan jari-jari sedikit terbuka memberikan tahanan yang paling besar atau dengan kata lain posisi tersebut mendorong air lebih banyak. Pada kecepatan tertentu air tidak mudah melewati lubang diantara jari-jari tangan, dengan demikian maka penampang tangan dan jari-jarinya menjadi lebih luas sehingga air yang di dorong kebelakang lebih banyak.
Mekanika dorongan dari gaya dalam renang harus menggunakan prinsip kelangsungan gerakan. Penggunaan dorongan maju yang teratur adalah lebih efektif dari pada penggunaan yang tak teratur untuk mendorong tubuh kedepan. Inilah salah satu sebab gaya crawl merupakan gaya yang lebih cepat dibanding dengan gaya kupu-kupu (butterfly) atau dada (breaststroke). Dalam melaksanakan dorongan harus selalu diingat prinsip gerakan yang berkelanjutan (the contunuity of moment). Dalam melakukan dayungan lengan maupun tendangan tungkai adalah lebih efisien gerakan yang terus-menerus daripada gerakan lengan yang besar tetapi terputus-putus.
d. Prestasi Renang Gaya Crawl 50 meter
Secara umum prestasi olahraga merupakan hasil yang dicapai oleh atlet pada cabang olahraga tertentu, setelah mengikuti dan memenangkan suatu perlombaan/pertandingan. Dalam olahraga renang prestasi renang adalah kemampuan seorang perenang melakukan gerakan renang dalam menempuh jarak tertentu dengan waktu yang secepat-cepatnya. Jadi dalam perlombaan renang gaya crawl 50 meter prestasinya adalah perenang yang mampu berenang dengan menggunakan gaya apa saja selain gaya punggung (backstroke), gaya dada (breaststroke) dan gaya kupu-kupu (butterfly) sejauh 50 meter dalam waktu yang secepat-cepatnya.
Menurut Magill (1993:258) . Jadi faktor genetik dan nongenetik dalam hubunganya dengan kemampuan gerak individu seperti luas persegi panjang yang di tentukan oleh panjang dan lebar. Dan kemampuan gerak individu yang baik menjadi sebuah modal dasar dan modal yang besar untuk pencapaian prestasi olahraga yang maksimal.
Gambar 2.13 Penampilan Prestasi Olahraga (M Furqon H, 1995:7)
M. Furqon H (1995:5) menjelaskan bahwa, prestasi olahraga adalah tindakan yang sangat kompleks yang tergantung kepada banyak faktor, kondisi, dan pengaruh-pengaruh lain. Selanjutnya Martin dalam M. Furqon H (1995:5) menetapkan unsur-unsur prestasi olahraga sebagai berikut:
1) Keterampilan dan teknik yang diperlukan, dikembangkan, dikuasai, dan dimantapkan (diotomatisasikan).
2) Kemampuan-kemampuan yang didasarkan pada pengaturan-pengaturan latihan penyehatan badan, kemampuan gerak, kemampuan belajar dan koordinasi.
3) Tingkah laku yang memadai untuk situasi sportif tertentu, misalnya perubahan kompetitif atau kondisi-kondisi latihan, stress, kekalahan dan sebagainya.
4) Pengembangan strategi (taktik)
Prestasi Olahraga Unsur-unsur prestasi psikologis Unsur prestasi dari luar Unsur-unsur prestasi gerakan Tingkah laku taktis Unsur-unsur prestasi kondisional Unsur-unsur prestasi koordinatif
5) Kualitas tingkah laku afektif, kognitif, dan sosial.
Prestasi olahraga merupakan gabungan dari watak pribadi, kemampuan dan bakat yang bearsal dari dalam (Inner factor) yang kurang lebih bisa dipengaruhi dengan latihan, sedangkan faktor lain juga disebut (outer factor) seperti faktor lingkungan, berupa unsur-unsur seperti perlengkapan, fasilitas, lawan, penonton, cuaca, iklim dan sebagainya.
Prestasi olahraga mampu tercapai dengan baik akibat dari latihan yang terprogram, teratur, dan terukur dengan melibatkan berbagai disiplin ilmu dan teknologi. Selain itu M. Anwar Pasau dalam Sajoto (1988:3) berpendapat bahwa faktor-faktor penentu pencapaian prestasi prima dalam olahraga dikelompokkan dalam 4 aspek :
1) Aspek biologis
a) Kemampuan dasar tubuh (fundamental motor skill) b) Fungsi organ tubuh
c) Postur dan organ tubuh d) Gizi
2) Aspek psikologis a) Intelektual b) Motivasi c) Kepribadian
d) Koordinasi kerja otot dan saraf 3) Aspek lingkungan
a) Sosial
b) Prasarana dan sarana olahraga c) Cuaca iklim sekitar
d) Orang tua keluarga dan masyarakat 4) Aspek penunjang
a) Pelatih yang berkualitas
b) Program yang tersusun secara sistematis c) Penghargaan dari masyarakat dan pemerintah
2. Karakteristik Usia 10-15 Tahun
Pada perempuan umur 10-15 tahun merupakan periode masa remaja. Gallahue dan Ozmun (1998:337) mengatakan Pada mulanya masa remaja terjadi pada rentang umur 13-18 tahun, namun sekarang terjadi lebih awal yakni pada rentang umur 10-20 tahun atau lebih. Hal serupa dikatakan oleh sugiyanto (1998:48) yang dipaparkan pada tabel 2.1 berikut :
Tabel 2.1 Periodisasi perkembangan berdasarkan umur kronologis. Periode Perkembangan Perkiraan Umur Kronologis Fase sebelum lahir :
Awal Embrio
Janin
Selama 9 bulan 10 hari
Saat pembuahan sampai 2 minggu 2 sampai 8 minggu
8 minggu sampai menjelang lahir Bayi :
Neonatal
Saat lahir sampai 1 atau 2 tahun Saat lahir sampai 4 minggu Anak-anak :
Anak kecil Anak besar
1 atau 2 sampai 6 tahun 6 sampai 10 tahun Adolesensi : Perempuan Laki-laki 10 sampai 18 tahun 12 sampai 20 tahun Dewasa: Dewasa muda Dewasa madya Dewasa tua
18 atau 20 sampai 40 tahun 40 tahun sampai 60 tahun 60 tahun lebih
Sugiyanto (1998:176) mengatakan bahwa adolesensi atau masa remaja adalah masa transisi dari masa kanak-kanak menuju dewasa. Adolesensi dimulai dengan percepatan rata-rata pertumbuhan sebelum mencapai kematangan seksual, kemudian timbul fase perlambatan dan berhenti setelah tidak terjadi pertumbuhan
lagi, yaitu setelah mencapai masa dewasa. Berikut di paparkan Sugiyanto (1998:176) mengenai karakteristik yang terjadi pada masa adolesensi :
a. Ukuran dan proporsi tubuh
Perempuan akan mengalami pertumbuhan yang lebih ceapat di awal masa adolesensi dibanding laki-laki, akan tetapi keadaan itu tidak akan lama, dan kemudian pertumbuhan laki-laki akan mengungguli pertumbuhan perempuan, seperti tinggi togok, panjang tungkai, lebar bahu, lebar pinggul, ukuran lengan dans ebagainya. Kematangan organ reproduksi juga sudah di mulai pada masa adolesensi ini, dimana pada perempuan sudah mulai mengalami menstruasi, tumbuhnya buah dada, rambut kemaluan, rambut ketiak, dan pada laki-laki percepatan pertumbuhan kantung kemaluan dan testis, tumbuh rambut kemaluan dan ketiak, tumbuh jakun dan sebagainya.
Peningkatan yang pesat pada perempuan terjadi pda rentang umur 11 hingga 13,5 tahundengan pertambhan tinggi rata-rata 3,25 inchi (8,25 cm) setiap tahun, sedangkan pada laki-laki antara usia 13 hingga 15,5 tahun dengan pertambhan rata-rata 4 inchi (10,16 cm) setiap tahun.
b. Pertumbuhan jaringan tubuh
Pertumbuhan jaringan tubuh berkaitan dengan bertambahnya tulang dan jaringan lemak yang sejalan dengan penambahan tinggi dan berat badan.pertumbuhan tulang dan otot sama antara laki-laki dan perempuan, namun penurunan volume jaringan lemak lebih nampak pada laki-laki, sehingga perempuan menjadi lebih berlemak dan laki-laki berotot.
c. Perubahan Fisiologis
Perubahan fisiolgis yang terjadi pada masa adolesensi baik pada laki-laki maupun perempuan adalah berangsur –angsur menurunya denyut nadi basal. Penururnan denyut nadi tersebut lebih besar pada laki-laki setelah umur 12 tahun dan ketika memasuki dewasa perempuan memiliki denyut nadi istirahat lebih besar 10% dibanding dengan laki-laki.
d. Perkembangan Gerak
Perubahan-perubahan dalam penampilan gerak pada masa adolesensi cenderung mengikuti perubahan-perubahan dalam ukuran badan, kekuatan dan fungsi fisiologis. Peningkatan perkembangan gerak terjadi secara terus menerus
pada perempuan, namun stelah masa mentruasi justru terjadi penurunan. Perempuan mencapai kecepatan maksimal hingga usia 13 tahun dan terjadi penurunan pada kemampuan melempar dan melompat. Pada usia 12-14 tahun terjadi kemampuan maksimal pada perempuan dalam kemampuan keseimbangan tubuh.
Gallahue dan Ozmun (1998:337) mengatakan pada masa remaja ini merupakan masa yang mengalami perkembangan dan pertumbuhan. Pada masa ini juga terjadi percepatan pertumbuhan yang sangat pesat (growth spurt), pada perempuan Growth spurt terjadi dimulai dari usia 9 tahun kemudian puncak kecepatan pada usia 11 tahun dan berujung pada usia kira-kira 13 tahun.
Dari beberapa pendapat tersebut telah diketahui berbagai macam karakteristik pertumbuhan dan perkembangan khususnya perempuan pada masa adolesensi atau remaja. Pertumbuhan dan perkembangan tersebut berbeda-beda tentunya pada setiap individu yang dipengaruhi oleh faktor ketururnan (genetik), faktor asupan makanan, faktor aktivitas fisik, dan lingkungan.
3. Kondisi Fisik
a. Pengertian Kondisi Fisik
Menurut Sajoto (1988:57) Kondisi fisik adalah satu kesatuan utuh dari komponen-komponen yang tidak dapat dipisahkan, baik peningkatan maupun pemeliharaanya, artinya bahwa setiap usaha peningkatan kondisi fisik, maka harus mengembangkan seluruh komponen tersebut. Kondisi fisik adalah salah satu prasyarat yang sangat diperlukan dalam setiap usaha peningkatan prestasi seorang atlet, bahkan dapat dikatakan dasar landasan titik tolak suatu awalan olahraga prestasi.
Sedangkan Djoko Pekik I (2002:65) menjelaskan bahwa kualitas fisik sangat berpengaruh terhadap prestasi seorang olahragawan untuk meraih prestasi sebab teknik, taktik dan mental akan dapat dikembangkan lebih lanjut jika memiliki kualitas fisik yang baik. Sasaran latihan fisik adalah meningkatkan kualitas sistem otot dan kualitas energi yakni melatih unsur gerak atau biomotor. M Furqon H (1995:1) mengatakan bahwa kondisi fisik dalam olahraga
didefinisikan sebagai kapasitas penampilan atlet. Ungkapan atau pernyataan yang digunakan untuk kondisi fisik dalam domain penampilan olahraga yang tinggi adalah kesegaran jasmani (physical fitness).
Harsono (1988:153), menjelaskan bahwa, kondisi fisik atlet memegang peranan yang sangat penting dalam program latihannya. Program latihan kondisi fisik haruslah direncanakan secara baik dan sistematis dan ditujukan untuk meningkatkan kesegaran jasmani dan kemampuan fungsional dari sistem tubuh sehingga dengan demikian memungkinkan atlet untuk mencapai prestasi yang lebih baik. Lebih lanjut, Harsono (1988), mengemukakan bahwa, kondisi fisik yang baik akan berpengaruh terhadap fungsi dan organisme tubuh, diantaranya:
1) Akan ada peningkatan dalam kemampuan sistem sirkulasi dan kerja jantung. 2) Akan ada peningkatan dalam kekutan, kelentukan, stamina, dan komponen
fisik lainnya.
3) Akan ada ekonomi gerak yang lebih baik pada waktu latihan.
4) Akan ada pemulihan yang lebih cepat dalam organ-organ tubuh setelah latihan.
5) Akan ada respon yang cepat dari organisme tubuh kita apabila sewaktu-waktu respon demikian diperlukan.
Dari beberapa pendapat ahli di atas mengenai definisi dari kondisi fisik, maka kondisi fisik dapat didefinisikan sebagai kualitas atau kemampuan tubuh dalam melakukan penampilan olahraga yang terdiri dari berbagai macam komponen-komponen gerak fisik.
Status kondisi fisik seseorang dapat diketahui dengan cara penilaian yang berbentuk tes dan pengukuran. Tes ini dapat dilakukan di dalam laboratorium ataupun lapangan. Meskipun tes yang dilakukan dilaboratorium memerlukan tes tersebut hendaknya dilakukan agar hasil penilaian benar-benar objektif. Kondisi fisik dapat mencapai titik optimal jika latihan dimulai sejak usia dini dan dilakukan secara terus menerus. Karena untuk mengembangkan kondisi fisik bukan merupakan pekerjaan mudah, harus secara terus menerus. Karena untuk mengembangkan kondisi fisik bukan merupakan pekerjaan yang mudah, harus mempunyai pelatih fisik yang mempunyai kualifikasi tertentu sehingga mampu
membina perkembangan fisik atlet secara menyeluruh tanpa menimbulkan efek dikemudian hari. Kondisi fisik yang baik mempunyai keuntungan diantaranya atlet mampu dan mudah mempelajari keterampilan yang relatif sulit, tidak mudah lelah saat mengikuti latihan maupun pertandingan, program latihan dapat diselesaikan tanpa mempunyai banyak kendala serta dapat menyelesaikan latihan yang berat.
Kondisi fisik sangat diperlukan oleh seorang atlet, karena tanpa di dukung oleh kondisi fisik yang prima maka pencapaian prestasi puncak akan mengalami banyak kendala, dan mustahil dapat berprestasi tinggi. Dalam hal ini dikenal empat macam kelengkapan yang perlu dimiliki, apabila seseorang akan mencapai suatu prestasi yang optimal. Sekarang ini, telah berkembang suatu istilah yang lebih populer dari physical build-up, yaitu physical conditioning yaitu pemeliharaan kondisi fisik/keadaan fisik.
Kondisi fisik adalah prasarat yang sangat diperlukan dalam usahan peningkatan prestasi seorang atlet, bahkan dapat dikatakan sebagai keperluan dasar yang tidak dapat ditunda atau ditawar-tawar lagi. Kondisi fisik adalah suatu kesatuan komponen-komponen yang tidak dapat dipisahkan begitu saja, baik peningkatan maupun pemeliharaanya. Artinya, bahwa didalam usaha peningkatan kondisi fisik maka seluruh komponen tersebut harus dikembangkan. Menurut Sajoto (1988 : 57), bahwa komponen kondisi fisik meliputi :
1) Kekuatan (strength), adalah komponen kondisi fisik seseorang tentang kemampuannya dalam mempergunakan otot untuk menerima beban sewaktu bekerja.
2) Daya tahan (endurance), ada dua macam daya tahan, yaitu :
a) Daya tahan umum (general endurance), adalah kemampuan seseorang dalam mempergunakan sistem jantung, paru-paru dan peredaran darahnya secara efektif dan efisien untuk menjalankan kerja secara terus menerus yang melibatkan kontraksi sejumlah otot dengan intensitas tinggi dalam waktu yang cukup lama.
b) Daya tahan khusus (local endurance), adalah kemampuan seseorang dalam mempergunakan ototnya untuk berkontraksi secara terus menerus dalam waktu yang relatif lama dengan beban tertentu.
3) Daya tahan otot (muscular power), yaitu kemampuan seseorang dalam mempergunakan kekuatan maksimum yang digunakan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.
4) Kecepatan (speed), yaitu kemampuan seseorang untuk melakukan gerakan berkesinambungan dalam bentuk yang sama dalam waktu sesingkat-singkatnya.
5) Fleksibilitas (flexibility), yaitu efektifitas seseorang dalam penyesuaian diri untuk segala aktifitas dengan penguluran tubuh yang luas.
6) Kelincahan (agility), yaitu kemampuan seseorang mengubah posisi di area tertentu. Seseorang yang mampu mengubah satu posisi yang berbeda dalam kecepatan yang tinggi dan dengan koordinasi yang baik, maka dapat dikatakan bahwa kelincahannya cukup baik.
7) Koordinasi (coordination), yaitu kemampuan seseorang melakukan bermacam-macam gerakan yang berbeda ke dalam pola gerakan tunggal secara efektif.
8) Keseimbangan (balance), yaitu kemampuan seseorang mengandalkan organ-organ saraf otot, seperti dalam hand stand atau dalam mencapai keseimbangan sewaktu seseorang sedang berjalan kemudian tergelincir. Dalam olahraga banyak hal yang harus dilakukan atlet dalam masalah keseimbangan, baik dalam menghilangkan maupun mempertahankan keseimbangan.
9) Ketepatan (accuracy), yaitu kemampuan seseorang untuk mengendalikan gerakan bebas terhadap suatu sasaran, sasaran ini dapat merupakan suatu jarak atau subjek langsung yang harus dikenali dengan salah satu bagian tubuh.
10) Reaksi (reaction), yaitu kemampuan seseorang untuk segera bertindak secepatnya dalam menggapai rangsangan yang ditimbulkan melalui indera, syaraf atau feeling lainnya. Seperti dalam mengantisipasi datangnya bola yang harus ditangkap dan lain-lain.
Gambar 2.14 Ilustrasi Interdependensi Antara Kemampuan Gerak (Bompa, 1994:260)
b. Faktor-faktor yang mempengaruhi kondisi fisik
Kondisi fisik merupakan faktor yang utama yang harus dimiliki oleh seroang atlet walaupun tidak meninggalkan aspek lain seperti teknik, taktik dan aspek mental. Kondisi fisik yang dimiliki seorang atlet berbeda-beda, untuk dapat memiliki, memelihara dan meningkatkan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Menurut Kusriyanti (2004) yang dikutip oleh Nur Subekti (2014:75) menerangkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi kondisi fisik yaitu :
1) Faktor latihan
Menurut Harsono (1992) yang dikutip oleh James Tangkudung (2012:42) latihan adalah suatu proses yang sistematis dari berlatih atau yang dilakukan berulang-ulang dengan kian hari kian meningkat jumlah beban latihan serta intensitas latihannya. Sedangkan menurut Dietrich Martin yang di kutip oleh M Furqon H (1995:2) menyatakan bahwa latihan olahraga adalah suatu program yang direncanakan yang mengembangkan penampilan olahraga yang komplek dengan memakai isi latihan, tindakan-tindakan organisasional yang sesuai dengan maksud dan tujuan.
Latihan harus ditekankan kepada komponen-komponen fisik seperti daya tahan, kekuatan, kecepatan, kelincahan, kelentukan, daya ledak (power), stamina dan lain-lain faktor yang penting guna pengembangan fisik
Strenght Endurance Speed Co-Operation Flexibility
Muscular Endurance Speed Endurance Max Strengt Agility Mobility Power Anaerobic Endurance Aerobic Endurance Max Speed Perfect Coordination Full Range of Flexibility
secara keseluruhan atlet. Menurut Harsono (1992) yang dikutip oleh James Tangkudung (2012:42) bahwa tujuan serta sasaran utama dari latihan atau training adalah membantu atlet meningkatkan keterampilan atau prestasi semaksimal mungkin. Untuk mencapai hal itu ada empat aspek latihan yang perlu diperhatikan dan dilatih secara saksama oleh atlet, yaitu :
a) Latihan fisik (physical training)
Perkembangan kondisi fisik yang menyeluruh sangat penting, oleh karena tanpa kondisi yang baik atlet tidak akan dapat mengikuti latihan-latihan dengan sempurna. Beberapa komponen kondisi fisik yang perlu diperhatikan untuk dikembangkan adalah daya tahan kardiovaskular, daya tahan kekuatan, kekuatan otot (strength), kelentukan (flexibility), kecepatan, stamina, kelincahan (agility), power. Komponen-komponen tersebut adalah yang utama harus dilatih dan dikembangkan oleh atlet tersebut.
b) Latihan teknik (technical training)
Latihan teknik adalah latihan untuk mempermahir teknik-teknik gerakan yang diperlukan untuk melakukan cabang olahraga yang dilakukan atlet. Latihan teknik adalah latihan yang di khususkan guna membentuk dan memperkembangkan kebiasaan-kebiasaan motorik atau perkembangan neuromuscular. Kesempurnaan teknik-teknik dasar dari setiap gerakan adalah penting oleh karena akan menentukan gerak keseluruhan. Oleh karena itu, gerak-gerak dasar setiap bentuk teknik yang diperlukan dalam setiap cabang olahraga harus dilatih dan di kuasai secara sempurna.
c) Latihan taktik (tactical training)
Tujuan latihan taktik adalah untuk menumbuhkan perkembangan interpretive atau daya tafsir pada atlet. Teknik-teknik gerakan yang telag dikuasai dengan baik, kini haruslah dituangkan dan doprganisir dalam pola-pola permainan, bentukp-bentuk dan formasi-formasi permainan serta strategi-strategi dan taktik-taktik pertahanan dan penyerangan, sehingga berkembang menjadi suatu kesatuan gerak yang sempurna.
d) Latihan mental (psychological training)
Perkembangan mental atlet tidak kurang pentingnya dari perkembangan katiga faktor diatas, sebab betapa sempurnanya perkembangan fisik, teknik dan taktik atlet, apabila mentalnya tidak turut berkembang, prestasi tinggi mungkin tidak akan tercapai. Latihan-latihan mental adalah latihan-latihan yang lebih menekankan pada perkembangan kedewasaan (maturitas) atlet serta perkembangan emosional dan impulsif, misalnya semangat bertanding, sikap pantang menyerah, keseimbangan emosi meskipun berada dalam situasi stress, sportivitas, pecaya diri, kejujuran dan sebagainya.
2) Kebiasaan hidup sehat
Kebiasaan hidup sehat dalam kehidupan sehari-hari harus dijaga dengan baik, apalagi dalam kehidupan berolahraga. Dengan demikian manusia akan terhindar dari penyakit. Kebiasaan hidup sehat dapat dilakukan dengan cara, yaitu :
a) Selalu menjaga kebersihan pribadi dan lingkungan sekitar.
b) Makan makanan yang higienis dan mengandung gizi misalnya empat sehat lima sempurna.
3) Faktor lingkungan
Lingkungan dapat diartikan tempat dimana seseorang tinggal dalam waktu yang lama. Lingkungan ini meliputi lingkungan fisik dan lingkungan sosial ekonomi.
Hal ini dapat dimulai dari lingkungan pergaulan, lingkungan pekerjaan, lingkungan daerah tempat tinggal dan sebagainya. Keadaan lingkungan yang baik akan menunjang kehidupan yang baik pula. Dengan demikian manusia tersebut harus bisa mengantisipasi dan menjaga lingkungan dengan baik supaya terhindar dari berbagai penyakit lingkungan Kelelahan adalah suatu indikator keterbatasan fungsi tubuh manusia. Untuk itu istirahat sangat diperlukan agar tubuh memiliki kesempatan melakukan recovery (pemulihan) sehingga dapat melakukan kerja atau aktivitas sehari-hari dengan nyaman.
4) Faktor Makanan dan Gizi
Seorang atlet untuk mencapai prestasi yang maksimal pada suatu cabang olahraga yang digeluti, memerlukan sistem pelatihan yang optimal, termasuk ketersediaan dan kecukupan gizi yang sesuai dengan jenis olahraganya. Untuk meningkatkan prestasi atlet Indonesia ke depan, dirasakan perlu untuk memperbaiki dan menyempurnakan sistem pembinaan dan pelatihan olahraga, terutama dalam melakukan pendekatan dan penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, olahraga termasuk gizi olahraga.
Pemenuhan asupan gizi merupakan kebutuhan dasar bagi atlet. Berdasarkan teori olahraga dijelaskan bahwa gizi dan latihan fisik menghasilkan prestasi. Bahkan federasi sepak bola dunia telah mengeluarkan pernyataan bahwasanya gizi berperan dalam keberhasilan satu tim. Namun demikian sebagian besar asupan gizi atlet tidak tepat karena kurangnya pengetahuan dan pemahaman atlet dalam memilih makanan, kurangnya edukasi tentang pentingnya gizi olahraga prestasi bagi atlet. pelatih, pengurus serta kurangnya ketersediaan tenaga gizi dan kesehatan yang memahami dan memiliki kompetensi dalam ilmu gizi olahraga prestasi. Peranan gizi dalam olahraga prestasi menuntut tenaga gizi dan kesehatan yang terampil untuk menjaga secara khusus dan intensif kebutuhan zat gizi atlet.
Pada dasarnya pengaturan gizi untuk atlet adalah sama dengan pengaturan gizi untuk masyarakat biasa yang bukan atlet, dimana perlu diperhatikan keseimbangan energi yang diperoleh dari makanan dan minuman dengan energi yang dibutuhkan tubuh untuk metabolisme, kerja tubuh dan penyediaan tenaga (energi) pada waktu istirahat, latihan dan pada waktu pertandingan, oleh karena kelebihan maupun kekurangan zat-zat gizi dapat menimbulkan dampak negatif, baik untuk kesehatan apalagi di dalam menunjang prestasi. Menurut Kemenkes (2014:21) mengemukakan bahwa zat-zat gizi di dalam makanan dapat dikelompokan menjadi :
a) Zat Gizi Sumber energi
dengan baik, peredaran, persarafan, pernapasan, gerak otot sehingga atlet dapat berlatih dan bertanding dengan baik. Energi ini didapat dari zat gizi hidrat arang, lemak dan protein yang dikonsumsi melalui makanan. b) Zat gizi pembangun tubuh
Zat gizi protein sebagai pembangun tubuh dangat diperlukan untuk membentuk struktur tubuh, terutama di dalam pembentukan jaringan baru, juga pembentukan enzim, hormon dan antibodi. Selain protein, untuk membangun tubuh manusia diperlukan air, karena 60-70% tubuh manusia terdiri dari air.
c) Zat Gizi Pengatur
Untuk mengatur jalanya proses metabolisme didalam tubuh, diperlukan vitamin dan mineral yang banyak didapat dari sayur-sayuran berwarna hijau dan juga buah-buahan berwarna kuning dan merah. Dengan demikian agar fungsi tubuh berjalan dengan baik dan tubuh menjadi sehat diperlukan makanan dan minuman yang di dalamnya terkandung zat-zat gizi lengkap. Namun demikian kebutuhan akan zat-zat gizi tergantung pada umur, jenis kelamin tinggi badan/berat badan, cabang olahraga dan SDA.
c. Kecepatan
Kecepatan merupakan salah satu komponen kondisi fisik yang diperlukan dalam setiap cabang olahraga. Setiap aktivitas olahraga baik yang bersifat permainan, perlombaan, maupun pertandingan selalu memerlukan komponen kondisi fisik kecepatan. Untuk itu kecepatan merupakan salah satu unsur kondisi fisik dasar yang harus dilatihkan dalam upaya mendukung pencapaian prestasi olahragawan.
Bompa (1994) kecepatan adalah kemampuan untuk menutupi jarak jauh dengan cepat. Djoko Pekik Irianto (2002:73) Kecepatan (speed) adalah perbandingan antara jarak dan waktu atau kemampuan untuk bergerak dalam waktu singkat. Elemen kecepatan meliputi : waktu reaksi, frekuensi gerak per satuan waktu dan kecepatan gerak melewati jarak. James Tangkudung (2012:71)
mengatakam bahwa kecepatan adalah kemampuan untuk berjalan berlari dan bergerak dengan sangat cepat.
Sedangkan Harsono (1988:216) mengatakan bahwa kecepatan adalah kemampuan untuk melakukan gerakan-gerakan yang sejenis
secara berturut-turut dalam waktu yang sesingkat-singkatnya atau kemampuan untuk menempuh jarak dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Sukadiyanto (2011:116) kecepatan adalah kemampuan otot atau sekelompok otot untuk menjawab rangsang (sesingkat) mungkin atau kemampuan seseorang melakukan gerak atau serangkaian gerak dalam waktu secepat mungkin. Kemudian kecepatan di bagi menjadi dua, yaitu kecepatan reaksi dan kecepatan gerak. M Furqon H (1995:62) kecepatan merupakan kualitas kondisional yang memungkinkan seseorang atlet untuk bereaksi secara cepat bila dirangsang dan untuk melakukan gerakan secepat mungkin.
Dari beberapa pendapat ahli tersebut, maka kecepatan adalah kemampuan tubuh atau bagian tubuh dalam menanggapi rangsang dan atau melakukan gerakan berulang-ulang secepat-cepatnya atau menempuh jarak tertentu dalam waktu sesingkat-singkatnya.
Gambar 2.15 Faktor yang Mempengaruhi Kualitas Kecepatan (M Furqon H, 1995:62)
Kecepatan
Perangsangan-penghentian Mobility proses
syaraf Kekuatan kecepatan
dan daya tahan kecepatan Kontraksi-relaksasi Peregangan dan kontraksi kapasitas otot-otot Elastisitas otot Koordinasi otot antara sinergis dan antagonis Teknik olahraga Daya kehendak
Gerakan-gerakan kecepatan dilakukan melawan tahanan yang berbeda (berat badan, berat alat, air, udara dan sebagainya) dengan efek bahwa pengaruh kekuatan juga menjadi faktor penentu. Karena gerakan –gerakan kecepatan dilakukan dalam waktu yang sesingkat mungkin, maka kecepatan secara langsung tergantung pada waktu yang ada dan pengaruh kekuatan. Menurut M Furqon H (1995:62) faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas kecepatan digambarkan dalam gambar 2.15.
Sedangkan Sukadiyanto (2011:119) menyatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan yaitu : (1) Keturunan, kemampuan proses persyarafan, koordinasi neuromuskular, impuls-impuls saraf dan jenis otot sangat dominan dari keturunan, (2) Waktu reaksi, (3) Kekuatan, dalam melakuka sebuah gerakan dengan cepat dibutuhkan kekuatan dalam menghadapi tahanan baik internal maupun eksternal, (4) Teknik kecepatan, (5) Elastisitas otot, berfungsi pada saat otot melakukan kontraksi dan relaksasi secara cepat dan silih berganti antara otot agonis dan antagonis, (6) Jenis otot, McArdle (1986) membagi jenis otot menjadi dua yaitu otot cepat (fast twitch) atau otot putih yang menggunakan energi anaerobik dan otot lambat (slow twitch) atau otot merah yang memerlukan energi aerobik, (7) konsentrasi dan kemauan, yang merupakan unsur psikis yang akan mempengaruhi performa fisik.
Kecepatan bukan hanya berarti menggerakan seluruh tubuh dengan cepat, akan tetapi dapat pula terbatas pada menggerakkan anggota-anggota tubuh dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Dalam lari sprint misalnya, kecepatan lari ditentukan oleh gerakan berulang-ulang dari tungkai yang dilakukan secepat-cepatnya. Kecepatan pada umumnya terbagi menjadi 3 bentuk seperti yang dinytakan oleh Ballretch yang dikutip oleh M. Furqon H (1995:65) bahwa kecepatan dapat dibagi menjadi 3 yaitu kecepatan reaksi, kecepatan gerak dan kecepatan kekuatan gerak.
Sedangkan Sukadiyanto (2011:118) membagi kecepatan kedalam 2 jenis yaitu kecepatan reaksi dan kecepatan gerak. Kecepatan reaksi merupakan kemampuan seseorang dalam menjawab sebuah rangsangan dalam waktu sesingkat mungkin. Kecepatan reaki dibagi menjadi kecepatan reaksi tunggal dan majemuk. Sedangkan kecepatan gerak adalah kemampuan seseorang dalam
melakukan gerak atau serangkaian gerak dalam waktu sesingkat mungkin. Kecepatan gerak dibagi menjadi dua, yaitu kecepatan gerak siklus dan kecepatan gerak non siklus. Kecepatan gerak siklus adalah kemampuan sistem neuromuskular untuk melakukan serangkaian gerak dalam waktu sesingkat mungkin. Gerak siklus adalah satu macam aktivitas yang dilakukan secara berkesinambungan atau gerak yang berangkai. Contohnya antara lain dalam bentuk gerak jalan, lari, berenang dan bersepeda. Sedangkan kecepatan gerak non siklus adalah kemampuan sistem neuromuskular untuk melakukan gerak tunggal dalam waktu sesingkat mungkin. Bentuk kecepatan gerak non siklus adalah gerak yang hanya dilakukan dalam satu kali gerak atau gerak tunggal, misalnya melempar, menendang, memukul, melompat dan meloncat.
Dalam olahraga renang prestasi renang merupakan ukuran seberapa cepat perenang mampu berenang dan menempuh jarak tertentu dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Oleh karena itu unsur kecepatan dibutuhkan dalam olahraga renang gaya crawl. Kecepatan dimulai dari kecepatan dalam menanggapi rangsang ketika aba-aba start, kemudian semakin cepat perenang mampu mendayung dengan lengan dan menendang air dengan tungkai maka akan semakin cepat pula pergerakan perenang untuk maju. Dalam olahraga renang yang menggunakan gaya crawl gerakan lengan yang mendayung secara berulang-ulang dan gerakan tungkai yang menendang air secara berulang-ulang merupakan unsur kecepatan siklis. Gerakan-gerakan lengan dan tungkai dalam renang gaya crawl dilakukan dengan melawan tahanan yang berasal dari air sehingga unsur kecepatan dalam olahraga renang tidak dapat dipisahkan dari unsur kekuatan. Maka dengan memiliki kecepatan yang tinggi akan menghasilkan gerakan lengan dan tungkai yang cepat yang akan berdampak pada kecepatan perenang bergerak maju.
d. Kekuatan
Kekuatan otot merupakan salah satu komponen kondisi fisk yang penting dalam mendukung aktivitas olahraga. Selain itu, kekuatan otot merupakan unsur penting dalam mencapai prestasi yang maksimal dalam olahraga. Sukadiyanto (2011:91) menjelaskan bahwa, kekuatan secara umum adalah kemampuan otot
atau sekelompok otot untuk mengatasi beban atau tahanan. Bompa (1994) kekuatan didefinisikan sebagai kerja maksimal (maximal force) atau torque (rotational force) yang dihasilkan otot atau sekelompok otot. Selain itu kekuatan didefinisikan sebagai kemampuan system neuromuskular menghasilkan gaya melawan tahanan eksternal. Menurut Ismaryati (2008:111) kekuatan adalah tenaga kontraksi otot yang dicapai dalam usaha maksimal. Usaha maksimal ini dilakukan oleh otot atau sekelompok otot untuk mengatasi suatu tahanan.
Sedangkan menurut Harsono (1988:176) “strength adalah kemampuan otot untuk membangkitkan tegangan terhadap suatu tahanan”. Menurut Pate, McClenaghan dan Rotella (1984:181) kekuatan adalah tenaga yang dipakai untuk mengubah keadaan gerak atau bentuk dari sebuah benda. Gerak mendorong atau menarik mengakibatkan suatu benda bergerak, berhenti atau berubah arah tergantung pada sifat fisik benda dan besarnya kekuatan, titik tumpuan dan arah kekuatan. Sebagian besar penampilan pada olahraga melibatkan gerakan-gerakan yang disebabkan oleh kekuatan yang dihasilkan dari kontraksi otot, kekuatan gaya berat dan kekuatan yang digunakan oleh sesuatu dari luar.
Berdasarkan pendapat yang telah diuraikan, dapat disimpulkan bahwa kekuatan merupakan suatu kemampuan otot atau sekelompok otot untuk melakukan kontraksi atau tegangan dalam menerima atau melawan suatu beban/tahanan saat beraktivitas.
Kekuatan merupakan unsur yang sangat penting dalam aktivitas olahraga, karena kekuatan merupakan daya penggerak, dan pencegah cedera. Selain itu kekuatan memainkan peran penting dalam komponen-komponen kemampuan fisik yang lain misalnya power, kelincahan, dan kecepatan. Senada dengan pendapat tersebut Harsono (1988:177) menjelaskan bahwa, kekuatan adalah komponen yang sangat penting guna meningkatkan kondisi fisik secara keseluruhan. Oleh karena, (1) kekuatan merupakan daya penggerak setiap aktivitas fisik, (2) kekuatan memegang peran yang penting dalam melindungi atlet dari kemungkinan cidera, (3) oleh karena dengan kekuatan atlet dapat lari lebih cepat, melempar atau menendang lebih jauh dan lebih efisien, memukul dengan keras, demikian pula dapat membantu memperkuat stabilitas sendi-sendi. Lebih lanjut Harsono dalam bukunnya menjelaskan bahwa, meskipun aktivitas olahraga
lebih memerlukan agilitas, fleksibilitas, kecepatan, keseimbangan, koordinasi, dan sebagainya, akan tetapi faktor-faktor tersebut tetap harus dikombinasikan dengan faktor kekuatan agar diperoleh hasil yang baik. Jadi, kekuatan tetap merupakan basis dari semua komponen kondisi fisik.
Menurut Harre yang dikutip Suharno HP. (1993:40) membedakan kekuatan menjadi tiga jenis yaitu:
1) Kekuatan maksimal adalah kemampuan otot dalam kontraksi maksimal serta dapat melawan/menahan beban yang maksimal pula.
2) Explosive power (kekuatan daya ledak) adalah kemampuan sebuah otot atau segerombolan otot untuk mengatasi suatu tahanan beban dengan kecepaan tinggi dalam satu gerakan yang utuh.
3) Daya tahan kekuatan otot (power endurance) adalah kemampuan tahan lamanya kekuatan otot untuk melawan tahanan beban dengan intensitas tinggi.
Selain jenis kekuatan diatas, kekuatan dapat dibedakan atas jenis kontraksi otot. Sudjarwo (1993:26) menyatakan bahwa “Sesuai dengan cara atau tipe kontraksi otot, maka dapat dibedakan dua macam kekuatan yaitu, kontraksi isotonik dan kontraksi isometrik. Dalam kontraksi isotonik ini akan terlihat adanya perubahan sikap atau gerakan-gerakan dari anggota tubuh yang disebabkan memanjang dan memendeknya otot". Kekuatan dinamis (isotonik) merupakan kekuatan otot yang dikembangkan oleh otot dalam kelangsungan gerak terhadap suatu tahanan, dengan ditandai adanya perubahan memanjang dan memendeknya otot. Sedangkan kekuatan statis atau isometrik merupakan kekuatan otot yang dapat dikembangkan oleh otot-otot atau sekelompok otot terhadap tahanan yang tetap. Jenis kekuatan yang banyak digunakan dalam olahraga adalah kekuatan dinamis.
Bompa (1994:268-270) membagi tipe kekuatan menjadi beberapa jenis kekuatan, antara lain:
1) Kekuatan umum
Kekuatan umum mengacu pada kekuatan sistem otot secara keseluruhan.
Kekuatan khusus dianggap sebagai kekuatan otot-otot yang khusus untuk gerakan olahraga yang dipilih.
3) Kekuatan maksimum
Kekuatan maksimum mengacu pada kekuatan tertinggi yang dapat dilakukan oleh sistem neuromuskular selama kontraksi secara maksimal. Hal ini ditunjukkan oleh beban terberat yang seorang atlet dapat mengangkat beban tersebut sekali waktu.
4) Daya tahan otot
Daya tahan otot biasanya diartikan sebagai kemampuan otot untuk mempertahankan pekerjaan dalam jangka waktu yang lama.
5) Power
Power merupakan produk dari dua kemampuan yaitu kekuatan dan kecepatan dan dianggap sebagai kemampuan untuk melakukan kekuatan maksimum dalam periode waktu terpendek.
6) Kekuatan absolut (AS)
Kekuatan absolut mengacu pada kemampuan seorang atlet untuk mengerahkan gaya maksimum terlepas dari berat badan sendiri (BW). Dalam tujuan supaya sukses dalam beberapa olahraga seperti angkat besi, gulat, tolak peluru, kekuatan absolut sangat dibutuhkan untuk meraih level yang tinggi.
7) Kekuatan relatif
Kekuatan relatif ditunjukkan sebagai perbandingan antara kekuatan absolut atlet dan berat badannya sendiri.
8) Kekuatan cadangan
Kekuatan cadangan dianggap sebagai perbedaan antara kekuatan atlet dan jumlah kekuatan yang diperlukan untuk melakukan keterampilan di bawah kondisi kompetitif.
Dalam upaya meningkatkan kekuatan otot dapat dilakukan dengan latihan secara sistematis dan teratur dengan program latihan yang tepat dan harus memahami faktor-faktor yang mempengaruhi kekuatan otot Sukadiyanto (2011:91) Secara fisiologi, kekuatan adalah kemampuan neoromuskuler untuk mengatasi tahanan beban luar dan beban dalam. Artinya, tingkat kekuatan
olahragawan diantaranya dipengaruhi oleh keadaan: panjang pendeknya otot, besar kecilnya otot, jauh dekatnya titik beban dengan titik tumpu, tingkat kelelahan, jenis otot, potensi otot, pemanfaatan potensi otot, teknik, dan kemampuan kontraksi otot. Sedangkan Suharno HP (1993:39-40) bahwa faktor-faktor penentu baik tidaknya kekuatan seseorang antara lain:
1) Besar kecilnya potongan melintang otot (potongan morfologis yang tergantung dari proses hypertropy otot).
2) Jumlah fibril otot yang turut bekerja dalam melawan beban, makin banyak fibril otot yang bekerja berarti kekuatan bertambah besar.
3) Tergantung besar kecilnya rangka tubuh, makin besar skelet makin besar kekuatan.
4) Innervasi otot baik pusat maupun perifer. 5) Keadaan zat kimia dalam otot (glycogen, ATP).
6) Keadaan tonus otot saat istirahat, tonus makin rendah berartikekuatan otot tersebut pada saat bekerja makin besar.
7) Umur dan jenis kelamin juga menentukan baik dan tidaknya kekuatan otot. Sajoto (1988:108) mengemukakan selain faktor fisiologis, ada beberapa faktor yang mempengaruhi kekuatan otot. Faktor tersebut adalah biomekanik, sistem pengungkit, ukuran otot, jenis kelamin dan faktor umur.
1) Faktor biomekanik
Dilihat dari faktor biomekanik, sangat mungkin bila dua orang yang mempunyai jumlah tegangan otot yang sama akan berbeda dalam mengangkat beban. Sebagai contoh A dan B dapat mengangkat beban dengan gaya 200 pound. Keduanya memiliki panjang lengan bawah 12 cm. Tetapi A memiliki panjang jarak antara titik insersio dengan sudut siku 1,5 cm. B memiliki titik insersio dengan sudut siku 2 cm. Maka benda yang dapat diangkat dengan flexi sudut pada siku 900 berbeda jumlahnya.
200 1,5
12 = 25
200 2
2) Faktor pengungkit
Setiap gaya yang ada hubungannya dengan pengungkit dapat dihitung secara mekanik, sehingga letak gaya yang berbeda akan menghasilkan kekuatan yang berbeda. Menurut Sajoto (1988:109) pengungkit dikelompokkan dalam 3 kelas yaitu dibagi menurut letak sumbu pengungkit, gaya beban, dan gaya gerak mengangkat.
Gambar 2.16. Sistem Pengungkit Sajoto (1988:110)
a) Kelompok III : letak gaya angkat berada diantara sumbu dengan gaya beban
b) Kelompok II : letak beban diantara sumbu dengan gaya angkat c) Kelompok I : letak sumbu diantara gaya beban dan gaya
angkat. 3) Faktor ukuran
Besar kecilnya suatu otot berpengaruh pada kekuatan tersebut. Semakin besar serabut otot seseorang, maka semakin kuat pula otot tersebut. Dan semakin panjang ukuran ototnya, semakin kuat juga ototnya. Pembesaran otot disebabkan karena bertambah luasnyaserabut otot akibat dari suatu latihan dan bukan akibat dari pecahnya serabut per serabut otot. Pembesaran pada otot disebut dengan hypertrophy otot dan mengecilnya otot disebut dengan atrophy.
4) Faktor jenis kelamin
Meskipun wanita yang mengikuti program latihan beban akan berkembang kekuatannya sama dengan perkembangan pada pria. Dan kekuatan otot laki-laki dan perempuan tiap centimeter sama besar. Namun fakta menunjukkan bahwa pada akhir masa puber, anak laki- laki mulai memiliki ukuran otot yang lebih besar dibanding dengan wanita.
Dalam olahraga renang gaya crawl gerakan lengan mendayung dan tungkai yang menendang air merupakan gerakan yang mendapat beban atau tahanan dari air. Dibutuhkan kekuatan untuk dapat melawan tahanan air dan menghasilkan dorongan kedepan. Kekuatan dibutuhkan tanpa kekuatan maka gerakan yang dilakukan tidak menghasilkan dorongan. Sesuai dengan hukum Newton III aksi reaksi besarnya gaya yang dikeluarkan oleh otot lengan dan otot tungkai dalam melawan tahanan air akan menghasilkan reaksi dari air yang besarnya sama dengan arah berlawanan, sehingga lebih besar gaya yang dikeluarkan oleh lengan dan tungkai dalam melakukan gerakan renang gaya crawl maka akan menghasilkan reaksi berupa dorongan dari air yang sama besarnya dan arah yang berlawanan yaitu arah kedepan, sehingga semakin besar kekuatan yang diberikan pada air akan semakin besar/cepat pergerakan maju tubuh perenang.
e. Power
Menurut Sajoto (1995:8) power adalah daya ledak otot (muscular power) kemampuan seseorang untuk mempergunakan power lengan maksimum yang dikerahkan dalam waktu yang sependek-pendeknya dalam hal ini dapat dinyatakan bahwa daya ledak otot = power lengan (force) x kecepatan (velocity). Harsono (1998:176) mengatakan power adalah hasil dari kekuatan dan kecepatan. Selanjutnya definisi power yang dikemukakan oleh Hatfield (1989) yang dikutip oleh Ismaryati (2008:59) bahwa power merupakan hasil perkalian antara gaya (force) dan jarak (distance) dibagi dengan waktu (time). Jadi power merupakan penampilan fungsi kerja otot maksimal dengan cepat persatuan waktu, yang dapat dinyatakan dengan rumus :