BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Audit internal merupakan suatu penilaian atas keyakinan, independen,

Teks penuh

(1)

9 2.1 Audit Internal

2.1.1 Pengertian Audit Internal

Audit internal merupakan suatu penilaian atas keyakinan, independen, obyektif dan aktivitas konsultasi yang dirancang untuk menambah nilai dan meningkatkan operasi organisasi. Ini membantu organisasi mencapai tujuannya dengan membawa pendekatan yang sistematis dan disiplin untuk mengevaluasi dan meningkatkan efektivitas proses manajemen risiko, pengendalian, dan tata kelola. Audit internal adalah katalis untuk meningkatkan efektivitas organisasi dan efisiensi dengan memberikan wawasan dan rekomendasi berdasarkan analisis dan penilaian data dan proses bisnis. Dengan komitmen untuk integritas dan akuntabilitas, audit internal yang memberikan nilai kepada mengatur badan dan manajemen senior sebagai sumber tujuan saran independen. Profesional yang disebut auditor internal yang digunakan oleh organisasi untuk melakukan kegiatan audit internal.

Pengertian audit internal menurut Hiro Tugiman (2006:11) adalah sebagai berikut :

(2)

“internal auditing atau pemeriksaan internal adalah suatu fungsi penilaian yang independen dalam suatu organisasi untuk menguji dan mengevaluasi kegiatan organisasi yang dilaksanakan.”

Profesi sebagai audit internal disebut auditor internal, Menurut Mulyadi (2002:29) didefinisikan sebagai berikut :

“Audit intern adalah auditor yang bekerja dalam perusahaan (perusahaan negara maupun perusahaan swasta) yang tugas pokoknya adalah menentukan apakah kebijakan dan prosedur yang ditetapkan oleh manajemen puncak telah dipatuhi, menentukan baik atau tidaknya penjagaan terhadap kekayaan organisasi, menentukan efisiensi dan efektivitas prosedur kegiatan organisasi, serta menentukan keandalan informasi yang dihasilkan oleh berbagai bagian organisasi.”

Sedangkan menurut Sukrisno Agoes (2012:204), adalah :

“Internal audit (pemeriksaan intern) adalah pemeriksaan yang dilakukan oleh bagian internal audit perusahaan, baik terhadap laporan keuangan dan catatan akuntansi perusahaan, maupun ketaatan terhadap kebijakan manajemen puncak yang telah ditentukan dan ketaatan terhadap peraturan pemerintah dan ketentuan-ketentuan dari ikatan profesi yang berlaku. Peraturan pemerintah misalnya peraturan di bidang perpajakan, pasar modal, lingkungan hidup, perbankan, perindustrian, investasi dan lain-lain.”

(3)

Dari definisi diatas dapat diartikan bahwa audit internal adalah suatu aktivitas independen dalam suatu perusahaan yang memberikan jaminan keyakinan yang dirancang untuk memberikan suatu nilai tambah serta meningkatkan kegiatan operasional perusahaan. Audit internal membantu organisasi dalam usaha mencapai tujuannya dengan cara memberikan suatu pendekatan disiplin yang sistematik untuk mengevaluasi dan meningkatkan keefektifan manajemen resiko, pengendalian dan proses pengaturan dan pengelolaan organisasi.

2.1.2 Tujuan Dan Ruang Lingkup Audit Internal

Tujuan dari audit internal adalah memberikan pelayanan kepada organisasi, dalam rangka membantu semua anggota organisasi tersebut. Bantuan yang diberikan sebagai tujuan akhir adalah agar semua anggota organisasi dapat melaksanakan tanggung jawab yang dibebankan kepadanya secara efektif, atau lebih jauh lagi mencapai efektivitas optimal.

Menurut Hiro Tugiman (2006:2) tujuan dari audit internal adalah sebagai berikut:

“Membantu para anggota organisasi agar dapat menyelesaikan tanggung jawabnya secara efektif. Untuk itu, pemeriksa internal akan melakukan analisis, penilaian, dan mengajukan saran-saran. Tujuan pemeriksaan mencakup pula pengembangan pengawasan yang efektif dengan biaya yang wajar.”

Sedangkan menurut Hery (2010:39) tujuan dari audit internal adalah sebagai berikut :

(4)

“Audit internal secara umum memiliki tujuan untuk membantu segenap anggota manajemen dalam menyelesaikan tanggung jawab mereka secara efektif, dengan memberi mereka analisis, penilaian, saran dan komentar yang objektif mengenai kegiatan atau hal-hal yang diperiksa.”

Ruang lingkup pemeriksaan internal menilai keefektivan sistem pengendalian internal serta pengevaluasian terhadap kelengkapan dan keefektivan sistem pengendalian internal yang dimiliki organisasi, serta kualitas pelaksanaan tanggung jawab yang dimiliki organisasi, serta kualitas pelaksanaan tanggung jawab tang diberikan. Pemeriksaan internal Hiro Tugiman (2006:99) harus:

a. Mereview keandalan (reliabilitas dan integritas) informasi finansial dan operasional serta cara yang dipergunakan untuk mengidentifikasi, mengukur, mengklasifikasi, dan melaporkan informasi tersebut.

b. Mereview berbagai sistem yang telah ditetapkan untuk memastikan kesesuaiannya dengan berbagai kebijaksanaan, rencana, prosedur, hukum, dan peraturan yang dapat berakibat penting terhadap kegiatan organisasi, serta harus menentukan apakah organisasi telah mencapai kesesuaian dengan hal-hal tersebut.

c. Mereview berbagai cara yang dipergunakan untuk melindungi harta dan, bila dipandang perlu, memverifikasi keberadaan harta-harta tersebut.

d. Menilai keekonomisan dan keefisienan penggunaan berbagai sumber daya.

(5)

e. Mereview berbagai operasi atau program untuk menilai apakah hasilnya akan konsisten dengan tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan dan apakah kegiatan atau program tersebut dilaksanakan sesuai dengan yang direncanakan.

Penjelasan diatas menerangkan bahwa ruang lingkup fungsi audit internal luas dan fleksibel, yang sejalan dengan kebutuhan dab harapan manajemen. Dapat diketahui bahwa sebagian besar auditor bertugas untuk menentukan, memverifikasi atau memastikan apakah sesuatu itu ada atau tidak, menilai, menaksir atau mengevaluasi pengendalian dan operasi berdasarkan kriteria yang sesuai dan merekomendasikan tindakan korektif kepada manajemen. Semua hal tersebut dilakukan dengan independen dalam organisasi.

2.1.3 Fungsi dan Tanggung Jawab Audit Internal

Fungsi dari audit internal meliputi penilaian kelayakan efektivitas pengendalian intern yang telah ditetapkan oleh perusahaan dan penilaian terhadap para petugas yang melaksanakannya. Ukuran yang bisa dijadikan dasar penilaian antara lain prosedur-prosedur perusahaan yang telah ditetapkan, kebijakan-kebijakan perusahaan, standar yang telah ditentukan, dan peraturan-peraturan pemerintah yang berlaku umum.

Menurut Konsorium Organisasi Profesi Audit Internal (2004:19) adalah sebagai berikut:

(6)

“Penanggungjawab fungsi audit internal harus mengelola fungsi audit internal secara efektif dan efisien untuk memastikan bahwa kegiatan fungsi tersebut memberikan nilai tambah bagi organisasi.”

Fungsi dari audit internal dapat dikatakan lebih merupakan fungsi staf karena auditor tidak mempunyai tanggung jawab langgsung terhadap organisasi. 2.1.4 Tahap-Tahap Pelaksanaan Audit Internal

Di dalam pelaksanaan audit internal terdapat tahap-tahap penting yang harus dilaksanakan agar dapat menghasilkan suatu infoormasi yang dibutuhkan oleh manajemen agar perusahaan dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Auditor dalam melaksanakan auditnya memiliki langkah-langkah kerja. Langkah-langkah kerja tersebut dijelaskan oleh Hiro Tugiman (2006:53) sebagai berikut:

1. Perencanaan pemeriksaan mencakup :

a. Penetapan tujuan audit dan ruang lingkup pekerjaan.

b. Memperoleh informasi dasar (background information) tentang kegiatan yang akan diperiksa.

c. Penentuan berbagai tenaga yang diperlukan untuk melaksanakan pemeriksaan.

d. Pemberitahuan kepada pihak-pihak yang dipandang perlu.

e. Melaksanakan survei secara tepat untuk lebih mengenali kegiatan yang diperlukan, risiko-risiko, dan pengawasan-pengawasan, untuk mengidentifikasi area yang ditekankan dalam pemeriksaan, serta untuk memperoleh berbagai ulasan dan sasaran dari pihak yang akan diperiksa.

(7)

f. Penulisan program pemeriksaan.

g. Memperoleh persetujuan bagi rencana kerja pemeriksaan.

2. Pengujian dan pengevaluasian informasi, pemeriksa internal haruslah mengumpulkan, menganalisis, menginterpretasi, dan membuktikan kebenaran informasi untuk mendukung hasil pemeriksaan. Hal ini meliputi: a. Mengumpulkan berbagai informasi tentang seluruh hal yang

berhubungan dengan tujuan dan ruang lingkup kerja audit.

b. Informasi haruslah mencukupi, kompeten, relevan dan berguna untuk membuat dasar yang logis bagi temuan audit dan rekomendasi.

c. Prosedur pemeriksaan, termasuk teknik pengujian dan penarikan contoh yang dipergunakan harus terlebih dahulu diseleksi.

d. Proses pengumpulan, analisis, penafsiran, dan pembuktian kebenaran informasi haruslah diawasi.

e. Pemeriksa harus membuat kertas kerja pemeriksaan sebagai dokumen yang akan ditinjau atau direview oleh manajemen bagian audit internal.

3. Hasil pemeriksa intern harus dilaporkan.

4. Tindak lanjut hasil pemeriksaan, auditor internal harus terus menerus meninjau dan melakukan tindak lanjut (follow up) untuk memastikan bahwa terhadap temuan pemeriksaan yang dilaporkan telah dilakukan tindakan yang tepat. Hal ini meliputi:

(8)

untuk menentukan kecukupan, keefektifan, dan ketepatan waktu dari berbagai tindakan yang dilakukan oleh manajemen terhadap berbagai temuan pemeriksaan yang dilaporkan.

b. Tanggung jawab untuk melakukan tindak lanjut harus didefinisikan dalam ketentuan yang memuat tujuan, kewenangan, dan tanggung jawab bagian audit internal

c. Manajemen bertanggung jawab menentukan tindakan yang perlu dilakukan sebagai tanggapan terhadap temuan pemeriksaan yang dilaporkan.

Menurut Sawyers (2009:281) pelaksanaan audit internal merupakan tahapan penting yang dilakukan oleh seorang auditor internal dalam proses auditing untuk menentukan prioritas, arah dan pendekatan dalam proses audit internal. Dalam pelaksanaan audit internal terdapat teknik-teknik audit yang dilakukan sesuai dengan kondisi. Ada beberapa teknik yang dapat dilakukan dalam berbagai kondisi, yaitu:

“Teknik-teknik audit seperti melakukan pengamatan, mengajukan pertanyaan, menganalisis, memverifikasi, menginvestigasi, dan mengevaluasi diterapkan pada beragam kondisi.”

2.1.5 Laporan Audit Internal

Laporan audit internal merupakan suatu refleksi dan pandangan profesional seorang pemeriksa. Pelaporan yang efektif dihasilkan oleh kualitas

(9)

yang baik dari kerja sebelumnya. Namun, pemeriksaan yang baik akan sia-sia hanya karena cara pelaporan yang tidak memadai.

Laporan audit internal dibuat setelah selesai melakukan audit laporan yang ditunjukkan kepada manajemen. Pada dasarnya audit internal dirancang untuk meperkuat sistem pengendalian internal, untuk menentukan ditaatinya prosedur atau kebijakan yang telah digariskan oleh manajemen dan meyakinkan bahwa pengendalian internal yang ditetapkan cukup baik, ekonomis dan efektif. Oleh karena itu, auditor internal haruslah melaporkan kepada manajemen apabila terdapat penyimpangan-penyimpangan yang berarti dan mengusulkan cara-cara perbaikannya, apabila disetujui, oleh manajemen, auditor internal akan mengawasi perbaikan tersebut.

Laporan audit dianggap baik jika memnuhi persyaratan yang dikemukakan Hiro Tugiman dan dikutip oleh Nova Paulina (2009:23) sebagi berikut:

1. Objektivitas

Suatu laporan audit objektif membicarakan pokok persoalan dalam audit, bukan perincian procedural atau hal-hal yang diperlukan dalam proses.

2. Kewibawaan (Authoritativeness)

Laporan yang berwibawa adalah laporan audit harus dapat dipercaya dan mendorong pembacanya untuk setuju dengan substansi yang terdapat dalam pelaporan tersebut. Meskipun para pembaca belum tentu akan menerima temuan, simpulan dan rekomendasi auditor internal, namun mereka cenderung untuk tidak menolak. Hal tersebut

(10)

dikarenakan mereka percaya pada laporan yang dibuat oleh auditor internal.

3. Keseimbangan

Laporan audit yang seimbang adalah laporan yang memberikan gambaran tentang organisasi dan aktivitas yang ditinjau secara wajar dan realitas.

4. Cara penulisan yang profesional

Laporan yang ditulis secara profesional adalah laporan yang ditulisdengan memperhatikan sejunlah unsur, yaitu struktur, kejelasan, keringkasan, nama laporan dan pengendalian.

2.1.6 Kualitas Audit Internal

Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) menyatakan bahwa audit yang dilakukan auditor dikatakan berkualitas, jika memenuhi standar auditing dan standar pengendalian mutu.

Menurut De Angelo (1981) Kualitas audit didefinisikan sebagai berikut : “Kualitas audit merupakan probability bahwa auditor akan menemukan dan melaporkan penyimpangan dalam sistem akuntansi klien. Probabilitas auditor menemukan salah saji material tergantung pada kualitas pemahaman auditor (kompetensi) sementara melaporkan salah saji tergantung pada independensi auditor”.

Kualitas audit internal profesional menurut Sawyer (2005:47) menyatakan bahwa :

(11)

“Auditor profesional membutuhkan seorang staf yang profesional. Lingkup yang luas dari audit internal modern mensyaratkan pengetahuan yang luas mengenai metode-metode dan teknik-teknik audit. Persyaratan ini menetapkan standar yang tinggi pula dalam audit internal – standar yang sudah tidak bisa dikompromikan lagi”.

Menurut Acep dkk (2017) , kualitas audit internal terbagi atas empat macam diantaranya yaitu :

1. Independensi

Audit internal harus mandiri dan terpisah dari berbagai kegiatan yang diperiksa oleh objektivitas para pemeriksa (internal auditor). Status organisasi dari unit audit internal haruslah memberi keleluasan dan menyelesaikan tugas pemeriksaan yang diberikan kepada unit audit tersebut. (Hiro Tugiman, 2006)

2. Kemampuan Profesional

Audit internal harus dilaksanakan dengan keahlian dan ketelitian profesional. Kemampuan profesional merupakan tanggung jawab bagian audit internal dan stiap auditor internal, pimpinan audit internal dalam setiap pemeriksaan haruslah menugaskan orang-orang secara bersama atau keseluruhan memiliki pengetahuan, kemampuan, dan berbagai disiplin ilmu yang diperlukan untuk melaksanakan pemeriksaan secara tepat dan pantas. (Hiro Tugiman, 2006)

(12)

3. Lingkup Pekerjaan

Lingkup pekerjaan auditor internal harus meliputi pengujian dan evaluasi terhadap kecukupan dan keefektifan sistem pengendalian internal yang dimiliki organisasi dan kualitas pelaksanaan tanggung jawab yang diberikan. Lingkup pekerjaan meliputi :

a. Keandalan informasi; pemeriksa internal harus memeriksa keandalan (reliabilitas dan integritas) informasi keuangan dan pelaksanaan pekerjaan dan cara-cara yang dipergunakan untuk mengidentifikasi, mengukur, mengklasifikasi, dan melaporkan suatu informasi tersebut.

b. Kesesuaian dengan kebijaksanaan, rencana, prosedur dan peraturan perundang-undangan; pemeriksa internal harus memeriksa sistem yang telah ditetapkan untuk meyakinkan apakah sistem tersebut telah sesuai dengan kebijaksanaan, rencana, prosedur, hukum, dan peraturan yang memiliki akibat penting terhadap pekerjaan-pekerjaan atau operasioperasi, laporan-laporan serta harus menentukan apakahorganisasi telah memenuhi hal-hal tersebut. c. Perlindungan terhadap harta; pemeriksa internal harus memeriksa

alat atau cara yang dipergunakan untuk melindungi harta atau aktiva, dan bila dipandang perlu, memverifikasi keberadaan berbagai harta organisasi.

(13)

d. Penggunaan sumber daya secara ekonomis dan efisien; pemeriksa internal harus menilai keekonomisan dan efisiensi penggunaan sumber daya yang ada.

e. Pencapaian tujuan; pemeriksa internal harus menilai pekerjaan, operasi, atau program untuk menentukan apakah hasil-hasil yang dicapai sesuai dengan tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan, dan apakah suatu pekerjaan, operasi atau program telah dijalankan secara tepat.

4. Pelaksanaan pekerjaan pemeriksaan

Kegiatan pemeriksaan harus meliputi perencanaan pemeriksaan, pengujian serta mengevaluasi informasi, pemberitahuan hasil dan menindaklanjuti (Follow up). Pelaksanaan pekerjaan pemeriksaan antara lain meliputi :

a. Perencanaan pemeriksaan; pemeriksa internal harus merencanakan setiap pemeriksaan

b. Pengujian dan pengevaluasian informasi; pemeriksa internal harus mengumpulkan, menganalisis, menginterpretasi dan membuktikan kebenaran informasi untuk mendukung hasil pemeriksaan.

c. Penyampaian hasil pemeriksaan; pemeriksa internal harus melaporkan hasil-hasil pemeriksaan yang diperoleh oleh kegiatan pemeriksaannya.

d. Tindak lanjut hasil pemeriksaan; pemeriksa internal harus terus meninjau atau melakukan Follow up untuk memastikan bahwa

(14)

terhadap temuan-temuan pemeriksaan yang melaporkan telah dilakukan tindak lanjut yang tepat. (Hiro Tugiman, 2006)

2.2 Good Corporate Governance

2.2.1 Pengertian Good Corporate Governance

Definisi Good Corporate Governance (GCG) menurut Peraturan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara (BUMN) nomor: PER-01/MBU/2011 pasal 1 ayat 1 tentang Penerapan Tata Kelola Perusahaan Yang Baik (Good Corporate Governance) pada BUMN sebagai berikut :

“Tata Kelola Perusahaan yang Baik (Good Corporate Governance), yang selanjutnya disebut GCG adalah prinsip-prinsip yang mendasari suatu proses dan mekanisme pengelolaan perusahaan berlandaskan peraturan perundang-undangan dan etika berusaha.”

Sedangkan menurut Forum Corporate Governance in Indonesian dalam Hery (2010:11) adalah sebagai berikut:

“Good Corporate Governance (GCG) adalah seperangkat peraturan yang mengatur hubungan antarapemegang saham, pengurus perusahaan, pihak kreditur, pemerintah, karyawan sertapara pemegang kepentingan intern dan ekstern lainnya yang berkaitan dengan hak-hak dan kewajiban mereka.” Kemudian Tjager dkk (2003:27) mendefinisikan Corporate Governance sebagai berikut:

“Mekanisme administratif yang mengatur hubungan-hubungan antara manajemen perusahaan, komisaris, direksi, pemegang saham, dan

(15)

kelompok-kelompok kegiatan (stakeholders) yang lain. Hubungan-hubungan ini dimanifestasikan dalam bentuk berbagau aturan permainan dan sistem insentif sebagai framework yang diperlukan untuk menentukan tujuan-tujuan perusahaan serta pemantauan kinerja yang menghasikan”.

Dari beberapa definisi diatas, dapat disimpulkan bahwa definisi dari Corporate Governance adalah sistem yang mengatur, mengelola dan mengawasi proses pengendalian usaha untuk menaikan nilai saham, sekaligus sebagai bentuk perhatian kepada stakeholder, karyawan, kreditor dan masyarakat. Good Corporate Governanve berusaha menjaga keseimbangan di antara pencapaian tujuan ekonomi dan tujuan masyarakat.

2.2.2 Prinsip-Prinsip Good Corporate Governance

Menurut Komite Nasional Kebijakan Governance (2006:5), setiap perusahaan harus memastrikan bahwa prinsip GCG diterapkan pada setiap aspek bisnis dan di semua jajaran perusahaan. Prinsip GCG yaitu tranparansi, akuntabilitas, responsibilitas, independensi, serta kewajaran diperlukan untuk mencapai kesinambungan usaha perusahaan dengan memperhatikan pemangku kepentingan (stokeholders).

Prinsip-prinsip Good Corporate Governance merupakan suatu kaidah, norma ataupun pedoman korperasi yang diperlukan dalam sistem pengelolaan BUMN yang sehat. Berikut ini adalah prinsip-prinsip GCG yang dimaksudkan dalam Keputusan Menteri BUMN Nomor: Kep-117/M-MBU/2002 tentang penerapan praktek Good Corporate Governance pada Badn Usaha milik Negara

(16)

(BUMN) adalah:

1. Transparansi, yaitu keterbukaan dalam melaksanakan proses pengambilan keputusan dan keterbukaan dalam mengemukakan informasi materil dan relevan mengenai perusahaan.

2. Kemandirian, yaitu suatu keadaan di mana perusahaan dikelola secara profesional tanpa benturan kepentingan dan pengaruh dari pihak manapun yang tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan prinsip-prinsip korperasi yang sehat.

3. Akuntabilitas, yaitu kejelasan fungsi, pelaksanaan dan pertanggungjawaban organisasi sehingga pengelolaan perusahaan terlaksana secara efektif. 4. Pertanggungjawaban, yaitu kesesuaian di dalam pengelolaan perusahaan

terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku dan prinsip-prinsip korperasi yang sehat.

5. Kewajaran, yaitu keadilan dan kesejahteraan di dalam memenuhi hak-hak stokeholder yang timbul berdasarkan perjanjian dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

2.2.3 Unsur-Unsur Good Corporate Governance

Menurut pedoman GCG yang dilakukan oleh Komite Nasional kebijakan Govermance (2006:25) pada dasarnya ada sembilan pihak yang terlibat di dalam penerapan GCG, yaitu:

1. Pemegang saham

Pemegang saham adalah orang atau individu-individu atau suatu instansi yang mempunyai hak dan kewajiban akan suatu perusahaan

(17)

sesuai dengan saham yang disetornya. Hak pemegang saham, yaitu: a. Menghadiri dan memberikan suara dalam rapat umum

pemegang saham

b. Memperoleh informasi perusahaan c. Menerima pembagian keuntungan 2. Dewan komisaris

Menurut Undang-Undang pasal 1 Tahun 1995, komisaris adalah organ perseroan yang bertugas melakukan pengawasan secara umum dan atau khusus serta memberikan nasihat kepada direksi dalam menjalakan perseroan.

3. Direksi

Dewan direksi bertugas mengelola perseroan dan direksi wajib mempertanggungjawabkan pelaksanaan tugasnya kepada pemegang saham melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).

4. Komite Audit

Komite audit adalah organ tambahan yang diperlukan dalam pelaksanaan prinsip GCG. Komite audit dibentuk oleh dewan komisaris untuk melakukan pemeriksaan atau penelitian yang dianggap perlu terhadap pelaksanaan fungsi direksi dalam melaksanakan tugas penting berkaitan dengan sistem pelaporan keuangan. Komite audit dituntut untuk bertibdak secara independen.

5. Auditor Eksternal

(18)

terhadap laporan keuangan perusahaan. Laporan auditor independen adalah ekspresi dari opini profesi mereka mengenai laporan keuangan. Meskipun laporan keuangan adalah tanggung jawab manajemen, auditor eksternal bertanggung jawab untuk menilai kewajaran pernyataan manajemen dalam laporan audit yang dibuat.

6. Auditor Internal

Auditor internal bertanggungjawab kepada direktur utama dan memiliki akses langsung ke komite audit. Hal ini memberikan ruang gerak yang lebih fleksibel kepada auditor internal dalam melaksanakan tugasnya. Auditor internal membantu manajemen senior dalam menilai risiko-risiko utama yang dihadapi perusahaan dan mengevaluasi struktur pengendalian.

7. Sekretaris Perusahaan

Fungsi sekretaris harus dilaksanakan oleh salah seorang direktur perusahaan tercatat yang khusus ditunjuk untuk menjalanan fungsi tersebut.

8. Manajer dan Karyawan

Sumber kekuasaan manajer dari kombinasi keahlian manajerial mereka dan tanggung jawab organisasional yang diberikan untuk melaksanakan pekerjaan yang diperlukan. Manajer semakin cenderung mempertimbangkan tanggung jawab mereka terutama kepada perusahaan dan pemegang saham. Karyawan khususnya yang diwakili oleh serikat pekerja atau mereka yang memiliki saham dalam

(19)

perusahaan dapat mempunyai kebijakan tata kelola perusahaan tertentu. 9. Pihak-pihak yang berkepentingan

Pemerintah terlibat dalam corpotare governance melalui hukum dan peraturan perundang-undangan. Kreditor yang mempunyai pinjaman mungkin juga mempunyai kebijakan perusahaan.

2.2.4 Manfaat dan Tujuan Penerapan Good Corporate Governance

Menurut Hery (2010:5) manfaat yang dapat diperoleh perusahaan yang menerapkan Good Corporate Governance, yaiutu sebagai berikut:

1. Good Corporate Governance secara tidak langsung akan dapat mendorong pemantafan sumber daya perusahaan kearah yang lebih efektif dan efisien, yang pada gilirannya akan turut membantu terciptanya pertumbuhan atau perkembangan ekonomi nasional.

2. Good Corporate Governance dapat membantu perusahaan dan perekonomian nasional dalam hal menarik modal investor dengan biaya yang lebih rendah melalui perbaikan kepercayaan investor dan kreditor domestik maupun internasional.

3. Membantu pengelolaan perusahaan dalam memastikan/ menjanim bahwa perusahaan telah taat pada ketentuan hukum dan peraturan. 4. Membantu manajemen dan corporate board dalam pemantaian

penggunaan aset perusahaan. 5. Mengurangi korupsi.

(20)

bahwa tujuan dari penerapan Good Corporate Governance pada BUMN adalah: 1. Memaksimalkan nilai BUMN

2. Mendorong pengelolaan BUMN

3. Mendoronh agar keputusan yang dibuat dilandasi: nilai moral tinggi, kepatuhan terhadap perundang-undangan, kesadaran akan tanggung jawab, sosial BUMN terhadap stakeholders dan lingkungan sekitar. 4. Meningkatkan kontribusi BUMN dan perekonomian nasional. 5. Meningkatkan iklim investasi nasional.

6. Mensukseskan program prativasi.

Menurut Achmad, Mas Daniri (2005:14) konsep dan penerapannya dalam Konteks Indonesia. Jika perusahaan menerapkan GCG secara konsisten dan efektif maka akan dapat memberikan manfaat antara lain:

1. Mengurangi agency cash, yaitu biaya yang harus ditanggung pemegang saham akibat pendelegasian wewenang kepada pihak manajemen. 2. Mengurangi biaya modal (cash of capital)

3. Meningkatkan nilai saham perusahaan sekaligus dapat meningkatkan citra perusahaan dimata publik dalam jangka panjang.

4. Menciptakan dukungam para stakeholders dalam lingkungan perusahaan terhadap keberadaan perusahaan dan berbagai strategi dan kebijakan yang ditempuh perusahaan.

(21)

2.2.5 Hubungan Audit Internal dengan Good Corporate Governance

Salah satu maksud implementasi GCG sesuai dengan pedoman GCG yang dikeluarkan oleh Komite Nasional Kebijakan Corporate Governance yaitu untuk memaksimalkan nilai perusahaan bagi pemegang saham dengan cara meningkatkan prinsip keterbukaan, akuntabilitas, dapat dipercaya, bertanggung jawab, dan andil agar perusahaan memiliki daya saing yang kuat baik secara nasional maupun internasional serta dengan demikian mendukung ondisi investasi.

Menurut Achmad, Mas Daniri (2005) keberhasilan penerapan GCG juga memiliki persyaratan tersendiri. Ada dua faktor yang memegang peranan, faktor eksternal dan internal. Salah satu faktor internalnya yaitu terdapat sistem audit yang efektif dalam perusahaan untuk menghindari setiap penyimpangan yang mungkin akan terjadi. Dan salah satu faktor eksternalnya yaitu terdapat contoh pelaksanaan GCG yang tepat yang dapat menjadi standar pelaksanaan GCG yang efektif dan profesional. Salah satu elemen yang cukup signifikan dalam proses implementasi GCG adalah fungsi pengawasan internal yang baik yang dilakukan oleh auditor internal. Dengan demikian eksistensi departemen audit internal itu sendiri merupakan salah satu wujud implementasi dari GCG. Selain itu audit internal berperan sangat strategis dalam membantu manajemen dalam upaya mewujudkan GCG keddalam praktik-praktik bisnis manajemen. Definisi pemeriksaan internal menurut Sawyer (2005:10) adalah :

Sebuah penilaian yang sistematis dan objektif yang dilakukan auditor internal terhadap operasi dan kontrol yang berbeda-beda dalam organisasi untuk menentukan apakah :

(22)

1. Informasi keuangan dan operasi telah akurat dan dapat diandalkan; 2. Risiko yang dihadapi perusahaan telah diidentifikasi dan diminimalisasi; 3. Peraturan eksternal serta kebijakan dan prosedur internal yang bisa diterima

telah diikuti;

4. Kriteria operasi yang memuaskan secara efisien dan ekonomis; 5. Sumber daya telah digunakan secara efisien dan ekonomis;

6. Tujuan organisasi telah dicapai secara ekeftis – semua dilakukan dengan tujuan untuk dikonsultasikan dengan manajemen dan membanttu anggota organisasi dalam menjalankan tanggung jawabnya secara efektif.

Sesuai dengan definisi diatas, pengawasan internal menurut pedoman GCG adalah suatu proses yang bertujuan untuk mencapai kepastian berkenaan dengan :

1. Kebenaran informasi keuangan

2. Efektivitas dan efisiensi proses pengelolaan perusahaan, dan 3. Kepatuhan dan peraturan perundang-undangan yang terkait.

Dalam kaitannya dengan implementasi GCG, audit internal mempunyai peranan yang sangat besar untuk mendorong terwujudnya pengelolaan bisnis perusahaan yang bersih dan transparan. Dari pemahaman tentang fungsi pengawasan intern, dapat diketahui bahwa salah satu tugas audit internal yaitu melakukan review terhadap sistem yang ada untuk mengetahui tingkat kesesuaiannya dengan peraturan-peraturan eksternal, kebijakan dan prosedur internal yang ditetapkan termasuk prinsip-prinsip yang tertuang dalam pedoman

(23)

Good Corporate Governance. 2.3 Penelitian Terdahulu

Penelitian terdahulu mengenai hubungan audit internal terhadap penerapan good corporate governance telah dilakukan oleh beberapa peneliti sebelumnya, diantaranta:

Penelitian Riefki Ariefiansyah (2015) yang membahas tentang pengaruh kualitas audit internal terhadap penerapan good corporate governance pada beberapa BUMN, hasil penelitian menyatakan bahwa variabel kualitas audit internal berpengaruh secara signifikan terhadap variabel penerapan good corporate governance. Semakin tinggi kualitas audit internal, maka akan semakin tinggi pula penerapa good corporate governance yang dilakukan suatu perusahaan.

Penelitian Dila Adikuasa (2014) yang membahas tentang pengaruh audit internal terhadap penerapan good corporate governance pada bank syariah mandiri, berdasarkan hasil perhitungan korelasi Rank Spearman, korelasi antara audit internal dengan penerapan Good Corporate Governance dapat dikatakann kuat. hasil uji hipotesis menunjukan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan audit internal terhadap penerapan Good Corporate Governance pada bank syariah mandiri.

Penelitian Hafizhah Ekasari Ulfany (2016) yang berjudul “Pengaruh Kompetensi Audit Internal Terhadap Penerapan Prinsip-Prinsip Good Corporate Governance”. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa kecermatan profesional auditor internal berpengaruh secara signifikan terhadap efektivitas Good Corporate Governance. Semakin tingginya skeptisme profesional dan keyakinan memadai

(24)

dalam sikap kecermatan profesional yang dijalankan oleh auditor internal untuk mempertimbangkan kecukupan dan efektivitas proses governance, serta dengan dapat dipatuhinya prinsip-prinsip good corporate governance maka akan semakin meningkatkan good corporate governance, sehingga suatu pemilik perusahaan pemerintah (BUMN) maupun swasta akan memiliki tata kelola perusahaan yang tercipta dengan baik.

Lulu Lutfia Jayanegara (2014) yang berjudul “Peranan Audit Internal dalam Penerapan Good Corporate Governance”. Hasil penelitian menunjukan bahwa audit internal berperan dalam penerapan Good Corporate Governance (GCG) pada Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirtawening Kota Bandung. Pelaksanaan audit internal pada Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirtawening Kota Bandung telah memadai karena pelaksanaanya sudah terarah sesuai dengan program-program yang telah ditetapkan perusahaan. Pelaksanaan audit internal ini dilakukan untuk membantu anggota organisasi dalam bentuk pertanggungjawaban yang efektif. Selain itu, penerapan prinsip Good Corporate Governance pada Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirtawening Kota Bandung juga telah memadai sejalan dengan pelaksanaan audit internal yang memadai. PDAM Tirtawening Bandung melakukan aktivitasnya sesuai prinsip transparan, akuntabilitas, kemandirian, pertanggungjawaban, dan kewajaran.

2.4 Kerangka Pemikiran

Perwujudan Good Corporate Governance ternyata sangat membutuhkan peran akuntan perusahaan, baik peran dari akuntan manajemen maupun peran auditor internal. Auditor internal yang bertugas meneliti dan mengevaluasi

(25)

bekerjanya sistem akuntansi disamping menilai seberapa jauh kebijakan dan program kerja manajemen dijalankan memiliki peran yang penting dalam perusahaan. Auditor sebagai salah satu profesi yang menunjang terwujudnya Good Corporate Governance saat ini telah menjadi komponen utama dalam mewujudkan pengelolaan perusahaan secara sehat. Bahkan untuk pengendalian korporasi yang lebih luas, pertanggungjawaban bagi publik ditampilkan dengan kewajiban pembentukan Audior Internal dan Dewan Audit (Hasnati 2004).

Salah satu fungsi dari auditor internal adalah menghasilkan informasi yang akurat dan dapat dipercaya untuk pengambilan keputusan. Namun adanya konflik kepentingan antara pihak iternal dan eksternal perusahaan, menuntut auditor internal untuk menghasilkan laporan auditan yang berkualitas yang dapat digunakab oleh pihak-pihak tersebut (Prasetyo, Irfan 2014).

Penjelasan mengenai hubungan kualitas audit internal terhadap pelaksanaan Good Corporate Governance dapat dilihat secara singkat melalui kerangka pemikiran. Kerangka pemikiran berupa gambar skema untuk lebih menjelaskan mengenai hubungan antara variabel independen dan variabel dependen.

Gambar 2.1

Gambar Kerangka Pemikiran

Variabel Independen Variabel Dependen

Kualitas Audit Internal (X)

Penerapan Good Corporate Governance

(26)

Kerangka pemikiran Gambar 2.1 menunjukan kualitas audit internal sebagai variabel independen (X) dapat memberikan hubungan positif atau negatif terhadap pelaksanaan Good Corporate Governance.

Figur

Memperbarui...

Related subjects :