• Tidak ada hasil yang ditemukan

JURNAL PENELITIAN TINDAKAN DAN PENDIDIKAN 2020, Vol. 6, No. 3, Ahmad Taufik *

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "JURNAL PENELITIAN TINDAKAN DAN PENDIDIKAN 2020, Vol. 6, No. 3, Ahmad Taufik *"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

Artikel Penelitian

Upaya Meningkatkan Prestasi Belajar Penjaskes Materi Permainan Bola

Kecil melalui Metode Pembelajaran Kooperatif Model STAD (

Student Teams

Achievement Division

) pada Siswa Kelas VI SDN Bangkiling Tahun Pelajaran

2015/2016

Ahmad Taufik *

SDN Bangkiling Kecamatan Banua Lawas Kabupaten Tabalong Kalimantan Selatan, Indonesia Histori artikel:

Pengiriman Juli 2020 Revisi Agustus 2020 Diterima September 2020

ABSTRAK

Kegiatan belajar bersama dapat membantu memacu belajar aktif. Kegiatan belajar dan mengajar di kelas memang dapat menstimulasi belajar aktif, na-mun kemampuan untuk mengajar melalui kegiatan kerjasama kelompok kecil akan memungkinkan untuk menggalakkan kegiatan belajar aktif dengan cara khusus. Apa yang didiskusikan siswa dengan teman-temannya dan apa yang diajarkan siswa kepada teman-temannya memungkinkan mereka untuk memperoleh pemahaman dan penguasaan materi pelajaran. Penelitian ini berdasarkan permasalahan: (a) Bagaimanakah peningkatan prestasi belajar Penjaskes dengan diterapkannya metode pembelajaran kooperatif model STAD? (b) Bagaimanakah pengaruh Metode Pembelajaran kooperatif ter-hadap Prestasi belajar Penjaskes. Sedangkan tujuan dari penelitian ini ada-lah: (a) Ingin mengetahui peningkatan prestasi belajar Penjaskes setelah dit-erapkannya pembelajaran kooperatif. (b) Ingin mengetahui pengaruh moti-vasi belajar Penjaskes setelah diterapkannya pembelajaran kooperatif. (c) memberikan gambaran metode pembelajaran yang tepat dalam upaya meningkatkan prestasi belajar siswa dan menjadikan siswa aktif dalam kegiatan belajar mengajar. Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan

(action research) sebanyak tiga putaran. Setiap putaran terdiri dari empat tahap, yaitu: rancangan, kegiatan dan pengamatan, refleksi, dan revisi. Sasa-ran penelitian ini adalah siswa Kelas VI SDN Bangkiling tahun pelajaSasa-ran 2015/2016. Data yang diperoleh berupa hasil tes formatif, lembar observasi kegiatan belajar mengajar. Dari hasil analisis didapatkan bahwa prestasi belajar siswa mengalami peningkatan dari siklus I Pertemuan ke 1, siklus I pertemuan ke 2, siklus II pertemuan ke 1 sampai siklus II Pertemuan ke 2, yaitu (25,93%), (44,44%), (62,96%) dan (92,59%). Simpulan dari penelitian ini adalah metode pembelajaran kooperatif dapat berpengaruh positif ter-hadap prestasi dan motivasi belajar siswa Kelas VI SDN Bangkiling Tahun Pelajaran 2015/2016, serta model pembelajaran ini dapat digunakan sebagai salah satu alternative pembelajaran Penjaskes.

Keywords:Penjaskes, metode pembelajaran kooperatif *Email korespondensi:

E-mail:

[email protected]

Pendahuluan

Latar Belakang Masalah

Guru memiliki peranan yang sangat penting dalam menentukan kuantitas dan kualitas pengajaran yang dilaksanakan. Oleh sebab itu, guru harus memikirkan dan membuat perencanaan secaraa seksama dalam mening-katkan kesempatan belajar bagi siswanya dan memperbaiki kualitas mengajarnya.

Hal ini menuntut perubahan-perubahan da-lam mengorganisasikan kelas, penggunaan metode mengajar, strategi belajar mengajar, maupun sikap dan karakteristik guru dalam mengelola proses belajar mengajar. Guru ber-peran sebagai pengelola proses belajar-mengajar, bertindak sebagai fasilitator yang berusaha mencipatakan kondisi belajar mengajar yang efektif, sehingga

(2)

memung-kinkan proses belajar mengajar, mengem-bangkan bahan pelajaran dengan baik, dan meningkatkan kemampuan siswa untuk me-nyimak pelajaran dan menguasai tujuan-tujuan pendidikan yang harus mereka capai. Untuk memenuhi hal tersebut di atas, guru dituntut mampu mengelola proses belajar mengajar yang memberikan rangsangan kepada siswa, sehingga ia mau belajar karena siswalah subyek utama dalam belajar.

Mengajar adalah membimbing belajar siswa sehingga ia mampu belajar. Dengan demikian aktifitas siswa sangat diperlukan da-lam kegiatan belajar-mengajar sehingga siswalah yang seharusnya banyak aktif, sebab siswa sebagai subyek didik adalah yang me-rencanakan, dan ia sendiri yang melaksanakan belajar. Pada kenyataan, di sekolah-sekolah seringkali guru yang aktif, sehingga siswa tidak diberi kesempatan untuk aktif.

Kegiatan belajar bersama dapat membantu memacu belajar aktif. Kegiatan belajar dan mengajar di kelas memang dapat menstimulasi belajar aktif. Namun kemampuan untuk mengajar melalui kegiatan kerjasama ke-lompok kecil akan memungkinkan untuk menggalakkan kegiatan belajar aktif dengan cara khusus. Apa yang didiskusikan siswa dengan teman-temannya dan apa yang diajar-kan siswa kepada teman-temannya memung-kinkan mereka untuk memperoleh pema-haman dan penguasaan materi pelajaran (Dalle & Ariffin, 2018).

Pembelajaran Penjaskes tidak lagi men-gutamakan pada penyerapan melalui pen-capaian informasi, tetapi lebih mengutamakan pada pengembangan kemampuan dan pem-rosesan informasi. Untuk itu aktifitas peserta didik perlu ditingkatkan melalui latihan-lati-han atau tugas dengan bekerja dalam ke-lompok kecil dan menjelaskan ide-ide kepada orang lain. (Hartoyo, 2000).

Pembelajaran kooperatif lebih

menekankan interaksi antar siswa. Dari sini siswa akan melakukan komunikasi aktif dengan sesama temannya. Dengan komunikasi tersebut diharapkan siswa dapat menguasai materi pelajaran dengan mudah karena “siswa

lebih mudah memahami penjelasan dari

wannya dibanding penjelasan dari guru, ka-rena taraf pengetahuan serta pemikiran

mereka lebih sejalan dan sepadan” (Wahyuni, 2001).

Pete Tschumi dari Universitas Arkansas Lit-tle Rock memperkenalkan suatu ilmu penge-tahuan pengantar pelajaran komputer selama tiga kali, yang pertama siswa bekerja secaraa individu, dan dua kali secaraa kelompok. Dalam kelas pertama hanya 36% siswa yang mendapat nilai C atau lebih baik, dan dalam ke-las yang bekerja secaraa kooperatif ada 58% dan 65% siswa yang mendapat nilai C atau lebih baik (Felder, 1994).

Berasarkan paparan tersebut di atas, maka peneliti ingin mencoba melakukan penelitian

dengan judul “Meningkatkan Prestasi Belajar

Penjaskes Materi Permainan Bola Kecil Melalui Metode Pembelajaran Kooperatif Model STAD (Student Teams Achievement Division) Pada Siswa Kelas VI SDN Bangkiling Tahun Pelajaran 2015/2016.

Rumusan Masalah

Bertitik tolak dari latar belakang di atas, maka penulis merumuskan permasalahannya sebagai berikut:

1. Bagaimanakah peningkatan prestasi bela-jar Penjaskes materi Permainan Bola Kecil dengan diterapkannya metode pembelaja-ran kooperatif model STAD pada Siswa Ke-las VI SDN Bangkiling Tahun Pelajaran 2015/2016?

2. Bagaimanakah pengaruh metode pembela-jaran kooperatif model STAD terhadap mo-tivasi belajar Penjaskes materi Permainan Bola Kecil Pada Siswa Kelas VI SDN Bang-kiling Tahun Pelajaran 2015/2016? Tujuan Penelitian

Sesuai dengan permasalahan di atas, penelitian ini bertujuan untuk:

1. Ingin mengetahui peningkatan prestasi belajar Penjaskes materi Permainan Bola Kecil setelah diterapkannya pem-belajaran kooperatif model STAD Pada Siswa Kelas VI SDN Bangkiling Tahun Pelajaran 2015/2016

2. Ingin mengetahui pengaruh motivasi belajar Penjaskes materi Permainan Bola Kecil setelah diterapkannya pem-belajaran kooperatif model STAD Pada

(3)

Siswa Kelas VI SDN Bangkiling Tahun Pelajaran 2015/2016

3. Memberikan gambaran tentang

metode pembelajaran yang tepat dalam upaya meningkatkan prestasi belajar siswa dan menjadikan siswa menjadi aktif dalam kegiatan belajar mengajar. Hipotesis Tindakan

Berdasarkan pada permasalahan dalam

penelitian tindakan yang berjudul “ Meningkat-kan Prestasi Belajar Penjaskes materi Permainan Bola Kecil Melalui Metode Pembela-jaran Kooperatif Model STAD (Student Teams Achievement Division) Pada siswa Kelas VI

SDN Bangkiling Tahun Pelajaran 2015/2016”

yang dilakukan oleh peneliti, dapat dirumus-kan hipotesis tindadirumus-kan sebagai berikut:

"Jika Proses Belajar Mengajar Siswa Kelas VI SDN Bangkiling Tahun Pelajaran 2015/2016

menggunakan metode STAD dalam

menyampaikan materi pembelajaran, maka dimungkinkan Prestasi belajar siswa Kelas VI SDN Bangkiling Tahun Pelajaran 2015/2016 akan lebih baik dibandingkan dengan proses belajar mengajar yang dilakukan oleh guru sebelumnya".

Manfaat Penelitian

Adapun maksud penulis mengadakan penelitian ini diharapkan dapat berguna se-bagai:

1. Menambah pengetahuan dan wawasan penulis tentang peranan guru Pen-jaskes dalam meningkatkan pema-haman siswa belajar Penjaskes.

2. Sumbangan pemikiran bagi guru Pen-jaskes dalam mengajar dan meningkat-kan pemahaman siswa belajar Pen-jaskes materi Permainan Bola Kecil. 3. Proses belajar mengajar Penjaskes

tidak lagi monoton.

4. Ditemukannya strategi pembelajaran yang tepat, tidak konvesional tetapi variatif.

5. Keaktifan siswa dalam mengerjakan tu-gas mandiri maupun kelompok meningkat.

6. Menjadikan bahan ajar lebih menarik, sehingga proses pembelajaran sesuai dengan tujuan dan prestasi akademik siswa semakin meningkat.

Penjelasan Istilah

Agar tidak terjadi salah persepsi terhadap tujuan ini, maka perlu didefinisikan hal-hal se-bagai berikut:

1. Metode pembelajaran kooperatif adalah: Suatu metode pembelajaran dengan cara mengelompokkkan siswa ke dalam kelompok –

kelompok kecil untuk bekerja sama dalam pemecahan masalah dengan kemampuan siswa dalam setiap kelompok yang heterogen. 2. Motivasi belajar adalah:

Suatu proses untuk menggiatkan motif-mo-tif menjadi perbuatan atau tingkah laku untuk memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan, atau keadaan dan kesiapan dalan diri individu yang mendorong tingkah lakunya untuk ber-buat sesuatu dalam mencapai tujuan tertentu. 3. Prtestasi belajar adalah:

Hasil belajar yang dinyatakan dalam bentuk nilai atau dalam bentuk skor, setelah siswa mengikuti pelajaran.

Batasan Masalah

Karena keterbatasan waktu, maka diper-lukan pembatasan masalah yang meliputi:

1. Penelitian ini hanya dikenakan pada siswa Kelas VI SDN Bangkiling Tahun Pelajaran 2015/2016.

2. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari sampai dengan bulan Maret tahun pelajaran 2015/2016.

3. Materi yang disampaikan adalah pokok bahasan Permainan Bola Kecil.

Kajian Pustaka

Menarik Minat dan Perhatian Siswa

Kondisi belajar mengajar yang efekif adalah adanya minat perhatian siswa dalam belajar. Minat merupakan suatu sifat yang relatif menetap pada diri seseorang. Minat ini besar sekali pengaruhnya terhadap belajar, sebab dengan minat seseorang akan melakukan sesuatu yang diminatinya. Sebaliknya tanpa minat seseorang tidak mungkin melakukan sesuatu. Misalnya, seorang anak menaruh minat dalam bidang kesenian, maka ia akan be-rusaha untuk mengetahui lebih banyak tentang kesenian.

Keterlibatan siswa dalam belajar erat kai-tannya dengan sifat-sifat siswa, baik yang ber-sifat kognitif seperti kecerdasan dan bakat

(4)

maupun yang bersifat afektif seperti motivasi, rasa percaya diri, dan minatnya.

Mengingat pentingnya minat dalam belajar, mendasarkan sistem pendidikan pada pusat minat yang pada umumnya dimiliki oleh setiap orang yaitu minat terhadap makanan, perlin-dungan terhadap pengaruh iklim (pakaian dan rumah), mempertahankan diri terhadap macam-macam bahaya dan musuh, bekerja sama dalam olah raga (Usman, 2005).

Mursell dalam bukunya Succesfull Teaching (Usman, 2005), meberikan suatu klasifikasi yang berguna bagi guru dalam memberikan pelajran kepada siswa. Ia mengemukakan 22 macam minat yang diantaranya ialah bahwa anak memiliki minat terhadap belajar. Dengan demikian, pada hakekatnya setiap anak bermi-nat terhadap belajar, dan guru sendiri hen-daknya berusaha membangkitkan minat ter-hadap belajar.

Membangkitkan Motivasi Siswa

Motif adalah daya dalam diri seseorang yang mendorongnya dalam melakukan sesuatu, atau keadaan seseorang atau organisasi yang me-nyebabkan kesiapannya untuk memulai se-rangkaian tingkah laku atau perbuatan. Se-dangkan motivasi adalah suatu proses untuk menggiatkan motif-motif menjadi perbuatan atau tingkah laku untuk memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan, atau keadaan dan kesia-pan dalam diri individu yang mendorong ting-kah lakunya untuk berbuat sesuatu dalam men-capai tujuan tertentu (Usman, 2005).

Tugas guru adalah membangkitkan moti-vasi anak sehingga ia mau melakukan belajar. Motivasi dapat timbul dari dalam diri individu dan dapat pula timbul akibat pengaruh dari luar. Hal ini dapat diuraikan sebagai berikut: 1. Motivasi intrinsik

Jenis motivasi ini timbul sebagai akibat dari dalam diri individu sendiri tanpa ada paksaan dorongan dari orang lain, tetapi atas kemauan sendiri. Misalnya anak mau belajar karena ingin memperoleh ilmu pengetahuan dan ingin menjadi orang yang berguna bagi nusa, bangsa, dan negara. Oleh karena itu, ia rajin belajar, tanpa ada suruhan dari orang lain.

2. Motivasi ekstrinsik

Jenis motivasi ini timbul sebagai akibat pengaruh dari luar individu, apakah karena

adanya ajakan, atau paksaan dari orang lain se-hingga dengan kondisi yang demikian akhirnya ia mau melakukan sesuatu atau belajar. Misal-nya seseorang mau belajar karena ia disuruh oleh orang tuanya agar mendapat peringkat pertama dikelasnya.

Untuk membangkitkan motivasi belajar siswa, guru hendaknya berusaha dengan berbagai cara. Berikut ini adalah beberapa cara membangkitkan motivasi ekstrinsik dalam me-numbuhkan motivasi intrinsik.

- Kompetisi (persaingan): Guru berusaha men-ciptakan persaingan diantara siswanya untuk meningkatkan prestasi belajarnya, berusaha memperbaiki hasil prestasi yang telah dicapai sebelumnya dan mengatasi prestasi orang lain. - Pace making (membuat tujuan sementara atau dekat): Pada awal kegiatan belajar mengajar guru, hendaknya terlebih dahulu menyampaikan kepada siswa TIK yang akan di-capainya sehingga dengan demikian siswa be-rusaha untuk mencapai TIK tersebut.

- Tujuan yang jelas: Motif mendorong individu untuk mencapai tujuan. Makin jelas tujuan, makin besar nilai tujuan bagi individu yang bersangkutan dan makin besar pula motivasi dalam melakukan suatu perbuatan.

- Kesempurnaan untuk sukses: Kesuksesan dapat menimbulkan rasa puas, kesenangan dan kepercayaan terhadap diri sendiri, sedangkan kegagalan akan membawa efek sebaliknya. Dengan demikian, guru hendaknya banyak memberikan kesempatan kepada anak untuk meraih sukses dengan usaha sendiri, tentu saja dengan bimbingan guru.

- Minat yang besar: Motif akan timbul jika indi-vidu memiliki minat yang besar.

- Mengadakan penilaian atau tes: Pada umumnya semua siswa mau belajar dengan tujuan memperoleh nilai yang baik. Hal ini ter-bukti dalam kenyataan bahwa banyak siswa yang tidak belajar bila tidak ada ulangan. Akan tetapi, bila guru mengatakan bahwa lusa akan diadakan ulangan lisan, barulah siswa giat belajar dengan menghafal agar ia mendapat nilai yang baik, jadi angka atau nilai itu meru-pakan motivasi yang kuat bagi siswa.

(5)

Pembelajaran adalah proses, cara, menjadi-kan orang atau mahluk hidup belajar. Se-dangkan belajar adalah berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu, berubah tingkah laku atau tanggapan yang disebabkan oleh pengala-man.

Sependapat dengan pernyataan tersebut Soetomo (1993) mengemukakan bahwa pem-belajaran adalah proses pengelolaan ling-kungan seseorang yang dengan sengaja dil-akukan, sehingga memungkinkan dia belajar untuk melakukan atau mempertunjukkan ting-kah laku tertentu pula. Sedangkan belajar ada-lah suatu proses yang menyebabkan peru-bahan tingkah laku yang bukan disebabkan oleh proses pertumbuhan yang bersifat fisik, tetapi perubahan dalam kebisaaan, kecakapan, bertambah, berkembang daya pikir, sikap dan lain-lain (Soetomo, 1993).

Pasal 1 Undang-undang No.20 tahun 2003 tentang pendidikan nasional menyebutkan bahwa pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar.

Jadi pembelajaran adalah proses yang dis-engaja yang menyebabkan siswa belajar pada suatu lingkungan belajar untuk melakukan kegiatan pada situasi tertentu.

Pembelajaran kooperatif

Pembelajaran kooperatif adalah suatu pengajaran yang melibatkan siswa untuk bekerja dalam kelompok-kelompok untuk menetapkan tujuan bersama (Felder, 1994).

Wahyuni (2001) menyebutkan bahwa belajaran kooperatif merupakan strategi pem-belajaran dengan cara menempatkan siswa da-lam kelompok-kelompok kecil yang memiliki kemampuan berbeda.

Sependapat dengan pernyataan tersebut Setyaningsih (2001) mengemukakan bahwa metode pembelajaran kooperatif memusatkan aktifitas di kelas pada siswa dengan cara pengelompokan siswa untuk bekerja sama da-lam proses pembelajaran.

Dari tiga pengertian di atas dapat disimpul-kan bahwa pembelajaran kooperatif adalah suatu metode pembelajaran dengan cara mengelompokkan siswa ke dalam

kelompok-kelompok kecil untuk bekerjasama dalam me-mecahkan masalah. Kemampuan siswa dalam setiap kelompok adalah hiterogen.

Dalam pembelajaran kooperatif, siswa tidak hanya sebagai objek belajar tetapi menjadi subjek belajar karena mereka dapat berkreasi secaraa maksimal dalam proses pembelajaran. Hal ini terjadi karena pembelajaran kooperatif merupakan metode alernatif dalam mendekati permasalahan, mampu mengerjakan tugas be-sar, meningkatkan keterampilan komunikasi dan sosial, serta perolehan kepercayaan diri.

Dalam pembelajaran ini siswa saling men-dorong untuk belajar, saling memperkuat upaya-upaya akademik dan menerapkan norma yang menunjang pencapaian hasil bela-jar yang tinggi. (Nur, 1996). Dalam pembelaja-ran kooperatif lebih mengutamakan sikap so-sial untuk mencapai tujuan pembelajaran yaitu dengan kerjasama.

Pembelajaran kooperatif mempunyai un-sur-unsur yang perlu diperhatikan. Unsur-un-sur tersebut sebagai berikut:

1. Para siswa harus memiliki persepsi bahawa

mereka “tenggelam atau berenang bersama”.

2. Para siswa memiliki tanggung jawab ter-hadap siswa lain dalam sekelompoknya, disamping tanggungjawab terhadap dirinya sendiri, dalam mempelajari materi yang dihadapi.

3. Para siswa harus berpandangan bahwa mereka semuanya memiliki tujuan yang sama. 4. Para siswa harus membagi tugas dan berbagai tanggung jawab sama besarnya dian-tara para anggota kelompok.

5. Para siswa akan diberikan satu evaluasi atau penghargaan yang akan ikut berpengaruh ter-hadap evaluasi seluuh anggota kelompok. 6. Para siswa berbagi kepemimpinan semen-tara mereka memperoleh keterampilan bekerja sama selama belajar.

7. Para siswa akan diminta mempertanggung-jawabkan secara individual materi yang di-tangani dalam kelompok kooperatif.

Johnson, Johnson, dan Smitt dalam Felder (1994) menambahkan unsur-unsur alam pem-belajran kooperatif sebagai berikut:

(6)

Anggota kelompok harus saling tergantung un-tuk mencapai tujuan. Jika ada anggota yang ga-gal mengerjakan tugasnya, maka setiap ang-gota harus menerima konsekuensinya.

2. Kemampuan Individual

Seluruh siswa dalam satu kelompok memiliki tanggungjawab melakukan pekerjaannya dan menguasai seluruh bahan untuk dipelajari. 3. Promosi tatap muka interaktif

Meskipun beberapa kelompok kerja dibagi-bagikan dan dilakukan tiap-tiap individu, be-berapa diantaranya harus dilakukan secaraa interaktif, anggota kelompok saling mem-berikan timbal balik.

4. Manfaat dari penggabungan keahlian yang tepat

Siswa didorong dan dibantu untuk mengem-bangkan dan mempraktekkan pembangunan kepercayaan, kepemimpinan, pembuatan keputusan, komunikasi dan koflik manajemen keahlian.

5. Kelompok Proses

Anggota kelompok mengatur kelompok, secaraa periodik menilai apa yang mereka lakukan dengan baik sebagai sebuah kelompok dan mengidenifikasi perubahan yang akan mereka lakukan agar fungsi mereka lebih efek-tif di waktu selanjutnya.

Berdasarkan unsur-unsur dalam pembela-jaran kooperatif, Johnson, Johnson dalam Wahyuni (2001) menyebutkan peranan guru dalam pembelajaran kooperatif sebagai beri-kut:

1. Menetukan objek pembelajaran. 2. Membuat keputusan menempatkan

siswa dalam kelompok-kelompok bela-jar sebelum pembelabela-jaran dimulai. 3. Menerangkan tugas dan tujuan akhir

pada siswa.

4. Menguasai kelompok belajar dan me-nyediakan keperluan tugas.

5. Mengevaluasi prestasi siswa dan

mem-bantu siswa dengan cara

mendiskusikan cara kerjasama. Keterampilan-keterampilan kooperatif Pembelajaran kooperatif akan terlaksana dengan baik jika siswa memiliki keterampilan-keterampilan kooperatif. Keterampilan-ket-erampilan kooperatif yang perlu dimiliki siswa

seperti diungkapkan Nur (1996) adalah ket-erampilan kooperatif tingkat awal, tingkat menengah dan tingkat mahir.

1. Keterampilan kooperatif tingkat awal Keterampilan kooperatif tingkat awal meliputi hal-hal sebagai berikut:

• Menggunakan kesepakatan

Menggunakan kesepakatan artinya setiap ang-gota kelompok memiliki kesamaan pendapat. Menggunakan kesepakatan bertujuan untuk mengetahui siapa yang memiliki pendapat yang sama.

• Menghargai kontribusi

Maksud dari menghargai kontribusi yaitu memperhatikan atau mengenal apa yang dikatakan atau dikerjakan oleh anggota ke-lompok yang dibuat lain. Tidak selalu harus menyetujui, dapat saja tidak menyetujui yang berupa kritik, tetapi kritik yang diberikan ha-rus terhadap ide dan tidak terhadap pelaku.

• Menggunakan suara pelan

Tujuan menggunakan suara dalam kerja ke-lompok adalah agar anggota keke-lompok dapat mendengar percakapan dengan jelas dan tidak frustasi oleh suara keras dalam ruangan.

• Mengambil giliran dan berbagi tugas Setiap anggota kelompok harus bias menggan-tikan seseorang yang mengemban tugas ter-tentu dan mengambil tanggung jawab terter-tentu dalam kelompok.

• Berada dalam kelompok

Untuk menciptakan pekerjaan kelompok yang efisien setiap anggota kelompok harus tetap duduk atau berada dalam tempat kerja ke-lompok.

• Setiap anggota kelompok harus mene-ruskan tugas yang menjadi tanggungja-wabnya agar kegiatan selesai tepat waktu.

• Mendorong partisipasi

Anggota kelompok selalu mendorong semua anggota kelompok untuk memberikan sum-bangan terhadap penyelesaian tugas lompok, karena jika satu atau dua anggota ke-lompok tidak berpartisipasi atau hanya mem-berikan sedikit sumbangan, maka hasil dari ke-lompok tersebut tidak akan terselesaikan pada waktunya atau hasilnya kurang orisinil atau kurang imajinatif.

(7)

• Mengundang orang lain untuk ber-bicara

Maksud dari mengundang orang lain untuk berbicara yaitu meminta orang lain untuk ber-bicara agar hasil kelompok bisa maksimal.

• Menyelesaikan tugas tepat waktunya Tugas yang dikerjakan harus diselesaikan sesuai dengan waktu yang direncanakan agar memperoleh nilai yang tinggi.

• Menyebutkan nama dan memandang bicara

Memanggil satu sama lain menggunakan nama dan menggunakan kontak mata akan mem-berikan bahwa mereka telah memmem-berikan kontribusi penting kelompok.

• Mengatasi gangguan

Mengatasi gangguan berarti menghindari ma-salah yang diakibatkan karena tidak atau ku-rangnya perhatian terhadap tugas yang diberi-kan. Gangguan dapat membuat suatu kelompok tidak dapat menyelesaikan tugas belajar yang diberikan.

• Menolong tanpa memberi jawaban Agar siswa tidak merasa telah memahami atau menemukan konsep dalam memberikan ban-tuan tidak dengan menunjukkan cara pemeca-hannya.

• Menghormati perbedaan individu Bersikap menghormati perbedaan terhadap budaya unik, pengalaman hidup serta suku bangsa / ras dari semua siswa dapat menghindari permusuhan dalam kelompok. Ketegangan dapat dikurangi, rasa memiliki dan persahabatan dapat dikembangkan serta mas-ing-masing individu anggota kelompok dapat meningkatkan rasa kebaikan, sensitivitas dan toleransi.

2. Keterampilan koooperatif menengah Keterampilan kooperatif tingkat menengah meliputi:

• Menunjukkan penghargaan dan sim-pati

• Menunjukkan rasa hormat, pengertian dan rasa sensitivitas terhadap usulan-usulan yang berbeda dari usulan-usulan orang lain.

• Menggunakan pesan “saya”

Dalam berbicara perlu menggunakan kata

“saya” agar orang lain tidak merasa terancam

atau merasa bersalah, sehingga permusuhan dapat dihindari.

• Menggunakan ketidaksetujuan dengan cara yang dapat diterima

Menyatakan pendapat yang berbeda atau men-jawab pertanyaan harus dengan cara yang sopan dan sikap yang baik, karena jika mengkritik seseorang dan memadamkan ide seseorang dapat menimbulkan atmosfir yang negatif dalam kelompok.

• Mendengarkan dengan aktif

Mendengarkan dengan aktif maksudnya menggunakan pesan fisik dan lisan dalam memperhatikan pembicara. Pembicara akan mengetahui bahwa pendengar secaraa giat se-dang menyerap informasi. Pengertian terhadap konsep akan meningkat dan hasil kelompok akan menunjukkan tingkat pemikiran dan komunikasi yang tinggi.

• Bertanya

Bertanya artinya meminta atau menanyakan suatu informasi atau penjelasan lebih jauh. Dengan bertanya dapat menjelaskan konsep, seseorang yang sedang tidak aktif dapat di-dorong untuk ikut serta, dan anggota kelompok yang malu dapat dimotivasi untuk ikut ber-peran serta.

• Membuat ringkasan

Membuat ringkasan maksudnya mengulang kembali informasi. Ini dapat digunakan untuk membantu mengatur apa yang sudah dik-erjakan dan apa yang perlu dikdik-erjakan.

• Menafsirkan

Menafsirkan artinya menyatakan kembali in-formasi dengan kalimat yang berbeda. Infor-masi dapat dijelaskan dan hal-hal yang penting dapat diberi penekanan.

• Mengatur dan mengorganisir

Merencanakan dan menyusun pekerjaan se-hingga dapat diselesaikan secaraa efektif dan efisien. Dengan mengatur dan mengorganisir tugas-tugas yang diberikan akan dapat diselesaikan dengan efektif dan efisien.

• Memeriksa ketepatan

Membandingkan jawaban dan memastikan bahwa jawaban itu benar. Manfaatnya yaitu pekerjaan akan bebas dari kesalahan dan keku-rang tepatan. Pemahaman terhadap bidang studi juga akan berkembang.

(8)

Menerima tanggungjawab bersedia dan mampu memikul tanggungjawab dari tugas-tu-gas an kewajiban untuk diri sendiri dan ke-lompok, untuk menyelesaikan tugas yang diberikan.

• Menggunakan kesabaran

Bersikap toleran pada teman, tetap pada peker-jaan dan bukan kesulitan-kesulitan, serta tidak membuat keputusan yang tergesa-gesa.

• Tetap tenang / mengurangi ketegangan Maksud dari tetap tenang/ mengurangi ketegangan adalah menimbulkan atmosfir yang damai dalam kelompok. Suasana yang hening dalam kelompok dapat menimbulkan tingkat pembelajaran yang lebih tinggi. 3. Keterampilan koooperatif tingkat mahir Keterampilan tingkat mahir meliputi hal-hal sebagai berikut:

• Mengelaborasi

Mengelaborasi berarti memperluas konsep, kesimpulan dan pendapat-pendapat yang berhubungan dengan topik tertentu. Mengelab-orasi dapat menghasilkan pemahaman yang lebih dalam dan prestasi yang lebih tinggi.

• Memeriksa secaraa cermat

Berbicara dengan pokok pembicaraan yang lebih mendalam untuk mendapatkan jawaban yang benar. Memeriksa secaraa cermat dapat menjamin bahwa jawabannya benar.

• Menanyakan kebenaran

Menayakan kebenaran maksudnya membuk-tikan bahawa jawaban yang dikemukakan ada-lah benar atau memberikan alasan untuk jawa-ban tersebut. Menanyakan kebenaran akan membantu siswa untuk berfikir tentang jawa-ban yang diberikan dan untuk lebih meya-kinkan terhadap ketepatan jawaban tersebut.

• Menganjurkan suatu posisi

Menganjurkan suatu posisi maksudnya menun-jukkan posisi kelompok terhadap suatu masa-lah tertentu.

• Menetapkan tujuan

Menetapkan tujuan maksudnya menetukan prioritas-prioritas. Pekerjaan dapat diselesaikan lebih efisien jika tujuannya jelas.

• Berkompromi

Berkompromi adalah menentukan pokok per-masalahan dengan persetujuan bersama. Kom-promi dapat membangun rasa hormat kepada

orang lain dan mengurangi konflik antar pribadi.

• Menghadapi masalah khusus

Menghadapi masalah khusus maksudnya menunjukkan masalah dengan pemakai pesan

“saya”, tidak menuduh, tidak menggunakan

sindiran, atau memanggil nama. Hal tersebut menunjukkan bahwa hanya sikap yang dapat berubah bukan ciri atau ketidak mampuan seseorang. Semuanya itu bertujuan untuk mecahkan masalah dan bukan untuk me-menangkan masalah. Dengan hal ini konflik pribadi akan berkurang. Tingkat kebaikan, sen-sitivitas dan toleran akan meningkat.

Metode Pembelajaran Kooperatif Model STAD

Langkah-langkah dalam pembelajarn

kooperatif mode STAD sebagi berikut:

1. Kelompokkkan siswa dengan masing-masing kelompok terdiri dari tiga sam-pai dengan lima orang. Angota-anggota kelompok dibuat heterogen, meliputi karakteristik kecerdasan, kemampuan, motivasi belajar, jenis kelamin, ataupun latar belakang etnis yang berbeda. 2. Kegiatan pembelajaran dimulai dengan

presentasi guru dalam menjelaskan pelajaran berupa paparan masalah, pemberian data, pemberian contoh. Tujuan presntasi adalah untuk mengenalkan konsep dan mendorong rasa ingin tahu siswa.

3. Pemahaman konsep dilakukan dengan cara siswa diberi tugas-tugas kelompok Mereka boleh mengerjakan tugas-tgas tersebut secaraa serentak atau saling bergantian menanyakan kepada te-mannya yang lain atau mendiskusikan masalah dalam kelompok atau apa saja untuk menguasai materi pelajaran ter-sebut. Para siswa tidak hanya dituntut untuk mengisi lembar jawaban, tapi juga untuk mempelajari konsepnya. Anggota kelompok diberitahu bahwa mereka dianggap belum selesai mempelajari materi sampai semua ang-gota kelompok memahami materi pela-jaran tersebut.

4. Siswa diberi tes atau kuis individual dan teman sekelompoknya tidak boleh

(9)

menolong satu sama lain. Tes individ-ual ini bertujuan untuk mengetahui tingkat penguasaan siswa terhadap suatu konsep dengan cara siswa diberi-kan soal yang dapat diselesaidiberi-kan dengancara menerapkan konsep yang dimiliki sebelumnya.

5. Hasil tes atau kuis selanjutnya dibandingkan dengan rata-rata sebe-lumnya dan poin akan diberikan ber-dasarkan tingkat keberhasilan siswa mencapai atau melebihi kinerja sebe-lumnya. Poin ini selanjutnya dijumlahkan untuk membentuk skor kelompok.

6. Setelah itu guru memberikan penghar-gan kepada kelompok yang terbaik prestasinya atau yang telah memenuhi kriteria tertentu. Penghargaan disini dapat berupa hadiah, sertifikat, dan lain-lain.

Gagasan utama dibalik model STAD adalah untuk memotivasi para siswa untuk men-dorong dan membantu satu sama lain untuk menguasai keterampilan-keterampilan yang disajikan oleh guru. Jika para siswa menginginkan agar kelompok mereka peroleh penghargaan, mereka harus mem-bantu teman sekelompoknya mempelajari ma-teri yang diberikan. Mereka harus mendorong teman mereka untuk melakukan yang terbaik dan menyatakan suatu norma bahwa belajar itu merupakan suatu yang penting, berharga dan menyenangkan.

Metodologi Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian tinda-kan (action research), karena penelitian dil-akukan untuk memecahkan masalah pembela-jaran di kelas. Penelitian ini juga termasuk penelitian deskriptif, sebab menggambarkan bagaimana suatu teknik pembelajaran diterap-kan dan bagaimana hasil yang diinginditerap-kan dapat dicapai.

Menurut Sukidin dkk (2002) ada 4 macam bentuk penelitian tindakan yaitu: (1) penelitian tindakan guru sebagai peneliti, (2) penelitian tindakan kolaboratif, (3) penelitian tindakan simultan terintegratif, dan (4) penelitian tinda-kan sosial eksperimental.

Keempat bentuk penelitian tindakan di atas, ada persamaan dan perbedaannya. Menurtut Oja dan SMA l yang sebagaimana dikutip oleh Kasbolah, (2000) (dalam Sukidin, dkk. 2002), ciri-ciri dari setiap penelitian ter-gantung pada: (1) tujuan utamanya atau pada tekanannya, (2) tingkat kolaborasi antara pelaku peneliti dan peneliti dari luar, (3) proses yang digunakan dalam melakukan penelitian, dan (4) hubungan antar proyek dengan sekolah.

Dalam penelitian ini menggunakan bentuk guru sebagai peneliti, dimana guru sangat ber-peran sekali dalm proses penelitian tindakan kelas. Dalam bentuk ini, tujuan utama penelitian tindakan kelas ialah untuk mening-katkan praktik-praktik pembelajaran di kelas. Dalam kegiatan ini guru terlibat langsung secara penuh dalam proses perencanaan, tin-dakan, observasi, dan refleksi. Kehadiran pihak lain dalam penelitian ini perananya tidak dom-inan dan sangat kecil.

Penelitian ini mengacu pada perbaikan pembelajaran yang berkesinambungan. Kem-mis dan Tagart (1988) menyatakan bahwa model penelitian tindakan adalah berbentuk spiral. Tahapan penelitian tindakan pada suatu siklus meliputi perencanaan atau pelaksanaan observasi dan refleksi. Siklus ini berlanjut dan akan dihentikan jika sesuai dengan kebutuhan dan dirasa sudah cukup.

Tempat, Waktu dan Subjek Penelitian 1. Tempat Penelitian

Tempat penelitian adalah tempat yang digunakan dalam melakukan penelitian untuk memperoleh data yang diinginkan. Penelitian ini bertempat di SDN Bangkiling tahun pelaja-ran 2015/2016

2. Waktu Penelitian

Waktu penelitian adalah waktu ber-langsungnya penelitian atau saat penelitian ini dilangsungkan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari sampai April semester genap Tahun Pelajaran 2015/2016.

3. Subjek Penelitian

Subjek penelitian adalah siswa-siswi Kelas VI SDN Bangkiling Tahun Pelajaran 2015/2016 pada pokok bahasan Permainan Bola Kecil.

(10)

Rancangan Penelitian

Menurut pengertiannya penelitian tindakan adalah penelitian tentang hal-hal yang terjadi di masyarakat atau sekelompok sasaran, dan hasilnya langsung dapat dikenakan pada masyarakat yang bersangkutan (Arikunto, 2002). Ciri atau karakteristik utama dalam penelitian tindakan adalah adanya partisipasi dan kolaborasi antara peneliti dengan anggota kelompok sasaran. Penelitian tindakan adalah satu strategi pemecahan masalah yang me-manfaatkan tindakan nyata dalam bentuk proses pengembangan inovatif yang dicoba sambil jalan dalam mendeteksi memecahkan masalah. Dalam prosesnya pihak-pihak yang terlibat dalam kegiatan teersebut dapat men-dukung satu sama lain.

Sedangkan tujuan penelitian tindakan harus memenuhi beberapa prinsip sebagai berikut:

1. Permasalahan atau topik yang dipilih harus memenuhi kriteria, yaitu benar-benar nyata dan penting, menarik per-hatian dan mampu ditangani serta da-lam jangkauan kewenangan peneliti untuk melakukan perubahan.

2. Kegiatan penelitian, baik intervensi maupun pengamatan yang dilakukn tidak boleh sampai mengganggu atau menghambat kegiatan utama.

3. Jenis intervensi yang dicobakan harus efektif dan efisien

4. Metodologi yang harus jelas, rinci dan terbuka, setiap langkah dari tindakan dirumuskan dengan tegas, sehingga orang yang berminat terhadap penelitian tersebut dapat mengecek se-tiap hipotesis dan pembuktiannya. 5. Kegiatan penelitian diharapkan dapat

merupakan proses kegiatan yang berkelanjutan (on-going), mengingat bahwa pengembangan dan perbaikan terhadap kualitas tindakan memang tidak dapat berhenti tetapi menjadi tantangan setiap waktu. (Arikunto, 2002).

Sesuai dengan jenis penelitian yang dipilih, yaitu penelitian tindakan, maka penelitian ini menggunakan model penelitian tindakan dari Kemmis dan Taggart (dalam Arikunto,

Suhar-simi, 2002: 83), yaitu berbentuk spiral dari si-klus yang satu ke sisi-klus yang berikutnya. Setiap siklus meliputi planning (rencana), action (tin-dakan), observation (pengamatan), dan reflec-tion (refleksi). Langkah pada siklus berikutnya adalah perencanaan yang sudah direvisi, tinda-kan, pengamatan, dan refleksi. Sebelum masuk pada siklus I dilakukan tindakan pendahuluan yang berupa identifikasi permasalahan. Siklus spiral dari tahap-tahap penelitian tindakan ke-las dapat dilihat pada gambar berikut:

Gambar 1.Alur PTK

Penjelasan alur diatas adalah:

1. Rancangan/ rencana awal, sebelum mengadakan penelitian peneliti me-nyusun rumusan masalah, tujuan dan membuat rencana tindakan, termasuk di dalamnya instrument penelitian dan perangkat pembelajaran.

2. Kegiatan dan pengamatan, meliputi tin-dakan yang dilakukan oleh peneliti se-bagai upaya membangun pemahaman konsep siswa serta mengamati hasil atau dampak dari diterapkannya metode pembelajaran kooperatif model STAD.

3. Refleksi, peneliti mengkaji, melihat dan mempertimbangkan hasil atau dampak dari tindakan yang dilakukan berdasar-kan lembar pengamatan yang diisi oleh pengamat.

4. Rancangan/ rencana yang direvisi, berdasarkan hasil refleksi dari penga-mat membuat rancangan yang direvisi untuk dilaksanakan pada siklus beri-kutnya.

Observasi dibagi dalam 2 Siklus, yaitu Siklus I dan II, dimana masing- masing siklus terdiri dari 2 Pertemuan, setiap siklus dikenai

(11)

perlakuan yang sama (alur kegiatan yang sama) dan membahas satu sub pokok bahasan yang diakhiri dengan tes formatif di akhir mas-ing-masing Pertemuan. Dibuat dalam dua Si-klus dimaksudkan untuk memperbaiki sistem pengajaran yang telah dilaksanakan.

Alat Pengumpul Data

Alat pengumpul data dalam penelitian ini adalah tes buatan guru yang fungsinya adalah: (1) Untuk menentukan seberapa baik siswa te-lah menguasai bahan pelajaran yang tete-lah diberikan dalam waktu tertentu;(2) Untuk menentukan apakah suatu tujuan telah tercapai; dan (3) Untuk memperoleh suatu nilai (Arikunto, Suharismi, 2002: 19). Sedangkan tujuan dari tes adalah untuk mengetahui ketun-tasan belajar siswa secaraa individual maupun secaraa klasikal. Disamping itu untuk menge-tahui letak kesalahan-kesalahan yang dil-akukan siswa sehingga dapat dilihat dimana kelemahannya, khususnya pada bagian mana TPK yang belum tercapai. Untuk memperkuat data yang dikumpulkan, maka juga digunakan metode observasi (pengamatan) yang dil-akukan oleh teman sejawat untuk mengetahui dan merekam aktifitas guru dan siswa dalam proses belajar mengajar.

Teknik Analisis Data

Untuk mengetahui keefektivan suatu metode dalam kegiatan pembelajaran perlu di-adakan analisis data. Pada penelitian ini menggunakan teknik analisis dekriptif kuali-tatif, yaitu suatu metode penelitian yang bersi-fat menggambarkan kenyataan atau fakta sesuai dengan data yang diperoleh dengan tujuan untuk mengetahui prestasi belajar yang dicapai siswa, juga untuk memperoleh respon siswa terhadap kegiatan pembelajaran serta aktivitas siswa selama proses pembelajaran.

Untuk menganalisis tingkat keberhasilan atau presentase keberhasilan siswa setelah proses belajar mengajar setiap siklusnya dil-akukan dengan cara memberikan evaluasi berupa soal tes tertulis pada setiap akhir Per-temuan.

Analisis ini dihitung dengan menggunakan statistik sederhana yaitu:

1. Untuk menilai ulangan atau tes formatif Peneliti melakukan penjumlahan nilai yang diperoleh siswa, yang selanjutnya dibagi

dengan jumlah siswa yang ada di kelas tersebut sehingga diperoleh rata-rata tes formatif dapat dirumuskan:

X =



x

Dengan: X = Nilai rata-rata

∑ X = Jumla semua nilai siswa

∑ N = Jumlah siswa 2. Untuk ketuntasan belajar

Ada dua kategori ketuntasan belajar yaitu secaraa perorangan dan secaraa klasikal. Ber-dasarkan petunjuk pelaksanaan belajar mengajar kurikulum 1994 (Depdikbud, 1994), yaitu seorang siswa telah tuntas belajar bila te-lah mencapai skor 65% atau nilai 65, dan kelas disebut tuntas belajar baik dikelas tersebut ter-dapat 85% yang telah mencapai daya serap lebih dari atau sama dengan 65%. Untuk menghitung presentase ketuntasan belajar digunakan rumus sebagai berikut:

Hasil dan Pembahasan

Data penelitian diperoleh dari data ob-servasi berupa pengamatan perngelolaan metode pembelajaran kooperatif model STAD dan pengamatan aktivitas guru dan siswa pada setiap siklus.

Data lembar observasi diambil dari dua pengamatan yaitu data pengamatan pengel-olaan metode pembelajaran kooperatif model STAD yang digunakan untuk mengetahui pengaruh penerapan metode pembelajaran kooperatif model STAD dalam meningkatkan-prestasi belajar siswa dan data pengamatan ak-tivitas guru dan siswa.

Data tes formatif untuk mengetahui pening-katan prestasi belajar siswa setelah diterap-kannya metode pembelajaran kooperatif model STAD.

Analisis Data Penelitian Persiklus 1. Siklus I Pertemuan ke 1 a. Tahap Perencanaan

P =

Siswa

belajar

tuntas

yang

Siswa

.

.

.

x 100%

(12)

Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari rencana pelajaran 1, soal tes formatif 1 dan alat-alat pengajaran yang mendukung.

b. Tahap Kegiatan dan Pelaksanaan

Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar un-tuk siklus I pertemuan ke 1 dilaksanakan pada tanggal 4 Maret 2015 di Kelas VI SDN Bangkil-ing dengan jumlah siswa 27 siswa. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai guru. Adapun proses belajar mengajar mengacu pada rencana pelajaran yang telah dipersiapkan. Pengamatan (observasi) dilaksanakan bersa-maan dengan pelaksaaan belajar mengajar

Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif I dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar yang telah dilakukan. Adapun data hasil penelitian pada siklus I ada-lah sebagai berikut:

Tabel 1. Rekapitulasi Hasil Tes Formatif Siswa pada Siklus I per-temuan ke 1

No Uraian Hasil Siklus I

pert ke 1 1

2 3

Nilai rata-rata tes formatif

Jumlah siswa yang tuntas belajar Persentase ketunta-san belajar 60,37 7 25,93

Dari tabel di atas dapat dijelaskan bahwa dengan menerapkan pembelajaran kontekstual model pengajaran berbasis masalah diperoleh nilai rata-rata prestasi belajar siswa adalah 60,37 dan ketuntasan belajar mencapai 25,93% atau ada 7 siswa dari 27 siswa sudah tuntas belajar. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pada siklus pertama secara klasikal siswa belum tuntas belajar, karena siswa yang

memperoleh nilai ≥ 65 hanya sebesar 60,37% lebih kecil dari persentase ketuntasan yang dikehendaki yaitu sebesar 85%. Hal ini disebabkan karena siswa masih asing dengan diterapkannya pembelajaran kontekstual model pengajaran berbasis masalah.

2. Siklus I Pertemuan k 2

a. Tahap Perencanaan

Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari rencana pelajaran 2, soal tes formatif 2 dan alat-alat pengajaran yang mendukung.

b. Tahap Kegiatan dan Pelaksanaan

Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar un-tuk siklus I pertemuan ke 2 dilaksanakan pada tanggal 11 Maret 2015 di Kelas VI SDN Bangkil-ing dengan jumlah siswa 27 siswa. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai guru. Adapun proses belajar mengajar mengacu pada rencana pelajaran yang telah dipersiapkan. Pengamatan (observasi) dilaksanakan bersa-maan dengan pelaksaaan belajar mengajar

Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif 2 dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar yang telah dilakukan. Adapun data hasil penelitian pada siklus I ada-lah sebagai berikut:

Tabel 2. Rekapitulasi Hasil Tes Formatif Siswa Pada Siklus I per-temuan ke 2

No Uraian Hasil Siklus I

pert ke 2 1

2 3

Nilai rata-rata tes formatif

Jumlah siswa yang tuntas belajar Persentase ketunta-san belajar 67,41 12 44,44

Dari tabel di atas dapat dijelaskan bahwa dengan menerapkan pembelajaran kontekstual model pengajaran berbasis masalah diperoleh nilai rata-rata prestasi belajar siswa adalah 67,41 dan ketuntasan belajar mencapai 44,44% atau ada 12 siswa dari 27 siswa sudah tuntas belajar. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pada siklus pertama secara klasikal siswa belum tuntas belajar, karena siswa yang

memperoleh nilai ≥ 65 hanya sebesar 44,44% lebih kecil dari persentase ketuntasan yang dikehendaki yaitu sebesar 85%. Hal ini disebabkan karena siswa masih asing dengan diterapkannya pembelajaran kontekstual model pengajaran berbasis masalah.

(13)

3. Siklus II Pertemuan ke 1 a. Tahap perencanaan

Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari rencana pelajaran 3, soal tes formatif 3 dan alat-alat pengajaran yang mendukung.

b. Tahap kegiatan dan pelaksanaan

Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar un-tuk siklus II pertemuan ke 1 dilaksanakan pada tanggal 18 Maret 2015 di Kelas VI SDN Bangkil-ing dengan jumlah siswa 27 siswa. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai guru. Adapun proses belajar mengajar mengacu pada rencana pelajaran dengan memperhatikan re-visi pada siklus I pertemuan ke 2, sehingga kesalahan atau kekurangan pada siklus I per-temuan ke 2 tidak terulang lagi pada siklus II pertemuan ke 1. Pengamatan (observasi) dil-aksanakan bersamaan dengan pelaksanaan belajar mengajar.

Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif 3 dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar yang telah dilakukan. Instrument yang digunakan adalah tes formatif 3. Adapun data hasil penelitian pada siklus II pertemuan ke 1 adalah sebagai berikut.

Tabel 3. Rekapitulasi Hasil Tes Formatif Siswa Pada Siklus II per-temuan ke 1

No Uraian Hasil Siklus II pert ke 1 1

2 3

Nilai rata-rata tes formatif

Jumlah siswa yang tuntas belajar Persentase ketun-tasan belajar 73,33 17 62,96

Dari tabel di atas diperoleh nilai rata-rata prestasi belajar siswa adalah 73,33 dan ketun-tasan belajar mencapai 62,96% atau ada 17 siswa dari 27 siswa sudah tuntas belajar. Hasil ini menunjukkan bahwa pada siklus II per-temuan ke 1 ini ketuntasan belajar secara klasikal telah mengalami peningkatan sedikit lebih baik dari siklus I pertemuan ke 2. Adanya peningkatan hasil belajar siswa ini karena siswa sudah mulai akrab dan menemuan

keas-yikan dengan metode pembelajaran

kontekstual model pengajaran berbasis masa-lah. Disamping itu kemampuan guru dalam mengelola proses belajar mengajar dalam metode ini juga semakin meningkat sehingga proses belalar-mengajar semakin efektif. 4. Siklus II

Pertemuan ke 2 a. Tahap Perencanaan

Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari rencana pelajaran 4, soal tes formatif 4 dan alat-alat pengajaran yang mendukung.

b. Tahap kegiatan dan pengamatan

Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar un-tuk siklus II pertemuan ke 2 dilaksanakan pada tanggal 25 Maret 2015 di Kelas VI SDN Bangkil-ing dengan jumlah siswa 27 siswa. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai guru. Adapun proses belajar mengajar mengacu pada rencana pelajaran dengan memperhatikan re-visi pada siklus II pertemuan ke 1, sehingga kesalahan atau kekurangan pada siklus II per-temuan ke 1 tidak terulang lagi pada siklus II pertemuan ke 2. Pengamatan (observasi) dil-aksanakan bersamaan dengan pelaksanaan belajar mengajar.

Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif 4 dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar yang telah dilakukan. Instrumen yang digunakan adalah tes formatif 4. Adapun data hasil penelitian pada siklus II pertemuan ke 2 adalah sebagai berikut:

Tabel 4. Rekapitulasi Hasil Tes Formatif Siswa Pada Siklus II per-temuan ke 2

No Uraian Hasil

Si-klus II pert k 2 1

2 3

Nilai rata-rata tes formatif

Jumlah siswa yang tuntas belajar Persentase ketunta-san belajar 84,44 25 92,59

Berdasarkan tabel diatas diperoleh nilai rata-rata tes formatif sebesar 84,44 dan dari 27 siswa yang telah tuntas sebanyak 25 siswa dan 2 siswa belum mencapai ketuntasan belajar. Maka secara klasikal ketuntasan belajar yang

(14)

telah tercapai sebesar 92,59% (termasuk kate-gori tuntas). Hasil pada siklus II pertemuan ke 2 ini mengalami peningkatan lebih baik dari si-klus II pertemuan ke 1. Adanya peningkatan hasil belajar pada siklus II pertemuan ke 2 ini dipengaruhi oleh adanya peningkatan kemam-puan siswa mempelajari materi pelajaran yang telah diterapkan selama ini. Disamping itu

dengan adanya metode Pembelajaran

Kooperatif Model STAD ini siswa dapat ber-tanya dengan sesama temanya, dan ternyata dari proses bertanya antar siswa ini, siswa lebih mudah menerima penjelasan dari te-mannya yang lebih paham tentang materi pelejaran tersebut.

c. Refleksi

Pada tahap ini akah dikaji apa yang telah terlaksana dengan baik maupun yang masih kurang baik dalam proses belajar mengajar dengan penerapan metode Pembelajaran Kooperatif Model STAD. Dari data-data yang te-lah diperoleh dapat diuraikan sebagai berikut:

1) Selama proses belajar mengajar guru te-lah melaksanakan semua pembelajaran dengan baik. Meskipun ada beberapa aspek yang belum sempurna, tetapi per-sentase pelaksanaannya untuk masing-masing aspek cukup besar.

2) Berdasarkan data hasil pengamatan diketahui bahwa siswa aktif selama proses belajar berlangsung.

3) Kekurangan pada siklus-siklus sebe-lumnya sudah mengalami perbaikan dan peningkatan sehingga menjadi lebih baik.

4) Hasil belajar siswsa pada siklus II per-temuan ke 2 mencapai ketuntasan. d. Revisi Pelaksanaan

Pada siklus II pertemuan ke 2 guru telah menerapkan metode Pembelajaran Kooperatif Model STAD dengan baik dan dilihat dari ak-tivitas siswa serta hasil belajar siswa pelaksa-naan proses belajar mengajar sudah berjalan dengan baik. Maka tidak diperlukan revisi ter-lalu banyak, tetapi yang perlu diperhatikan un-tuk tindakah selanjutnya adalah memaksimal-kan dan mempertahanmemaksimal-kan apa yang telah ada dengan tujuan agar pada pelaksanaan proses belajar mengajar selanjutnya penerapan metode Pembelajaran Kooperatif Model STAD

dapat meningkatkan proses belajar mengajar sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai. Pembahasan

1. Ketuntasan Hasil belajar Siswa

Melalui hasil peneilitian ini menunjukkan bahwa Pembelajaran Kooperatif Model STAD memiliki dampak positif dalam meningkatkan daya ingat siswa. Hal ini dapat dilihat dari se-makin mantapnya pemahaman dan pen-guasaan siswa terhadap materi yang telah disampaikan guru selama ini (ketuntasan bela-jar meningkat dari sklus I pertemuan ke 1, Si-klus I pertemuan ke 2, SiSi-klus II pertemuan ke 1, dan siklus II pertemuan ke 2) yaitu masing-masing 25,93%, 44,44%, 62,96%, dan 92,59%. Pada siklus II Pertemuan ke 2 ketuntasan bela-jar siswa secara klasikal telah tercapai.

2. Kemampuan Guru dalam Mengelola Pembelajaran

Berdasarkan analisis data, diperoleh aktivi-tas siswa dalam proses pembelajaran kontekstual model pengajaran berbasis masa-lah dalam setiap siklus mengalami pening-katan. Hal ini berdampak positif terhadap proses mengingat kembali materi pelajaran yang telah diterima selama ini, yaitu dapat di-tunjukkan dengan meningkatnya nilai rata-rata siswa pada setiap siklus yang terus mengalami peningkatan.

3. Aktivitas Guru dan Siswa Dalam Pem-belajaran

Berdasarkan analisis data, diperoleh aktivi-tas siswa dalam proses pembelajaran Penjaskes dengan Pembelajaran Kooperatif Model STAD yang paling dominan adalah bekerja dengan menggunakan alat/media, mendengarkan/memperhatikan penjelasan guru, dan diskusi antar siswa/antara siswa dengan guru. Hasil Observasi pada Siklus I pertemuan 1 (67%), Siklus I pertemuan 2 (72%), Siklus II pertemuan 1 (83%) dan Siklus II pertemuan 2 (89%). Jadi dapat dikatakan bahwa aktivitas siswa dapat dikategorikan ak-tif.

Sedangkan untuk aktivitas guru selama pembelajaran telah melaksanakan langkah-langkah metode Pembelajaran Kooperatif Model STAD dengan baik. Hal ini terlihat dari

(15)

aktivitas guru yang muncul di antaranya aktivi-tas membimbing dan mengamati siswa dalam mengerjakan kegiatan, menjelaskan/melatih menggunakan alat, memberi umpan ba-lik/evaluasi/tanya jawab dimana prosentase Hasil Observasi pada Siklus I pertemuan 1 (69%), Siklus I pertemuan 2 (81%), Siklus II pertemuan 1 (87%) dan Siklus II pertemuan 2 (90%) maka untuk aktivitas di atas bisa dikatakan cukup besar.

Kesimpulan dan Saran

Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah di-paparkan selama dua siklus, hasil seluruh pem-bahasan serta analisis yang telah dilakukan dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Metode pembelajaran kooperatif model STAD dapat meningkatkan kuali-tas pembelajaran Penjaskes.

2. Metode pembelajaran kooperatif model STAD memiliki dampak positif dalam meningkatkan prestsi belajar siswa yang ditandai dengan pening-katan ketuntasan belajar siswa dalam setiap siklus, yaitu siklus I Pertemuan ke 1 (25,93%), Siklus I pertemuan ke 2 (44,44%), siklus II Peretmuan ke 1 (62,96%), siklus II Pertemuan ke 2 (92,59%).

3. Metode pembelajaran kooperatif model STAD dapat menjadikan siswa merasa dirinya mendapat perhatian dan kesempatan untuk menyampaikan pendapat, gagasan, ide, dan pertan-yaan.

4. Siswa dapat bekerja secara mandiri maupun kelompok, serta mampu mem-pertanggungjawabkan tugas individu maupun kelompok.

5. Penerapan metode pembelajaran kooperatif model STAD mempunyai pengaruh positif, yaitu dapat mening-katkan motivasi belajar siswa.

Saran

Dari hasil penelitian yang diperoleh dari uraian sebelum agar proses belajar mengajar Penjaskes lebih efektif dan lebih memberikan

hasil yang optimal bagi siswa, maka disam-paikan saran sebagai berikut:

1. Untuk melaksanakan metode pembela-jaran kooperatif model STAD memer-lukan persiapan yang cukup matang, sehingga guru harus mampu menen-tukan atau memilih topik yang benar-benar bisa diterapkan dengan Metode pembelajaran kooperatif model STAD dalam pross belajar mengajar sehingga memperoleh hasil yang optimal. 2. Dalam rangka meningkatkan prestasi

belajar siswa, guru hendaknya lebih sering melatih siswa dengan berbagai metode pengajaran, walau dalam taraf yang sederhana, dimana siswa nantiny dapat menemukan pengetahuan baru, memperoleh konsep dan keterampi-lan, sehingga siswa berhasil atau mampu memecahkan masalah-masa-lah yang dihadapi.

3. Perlu adanya penelitian yang lebih lanjut, karena hasil penelitian ini hanya dilakukan di Kelas VI SDN Bangkiling tahun pelajaran 2015/2016

4. Untuk peneltian yang serupa hen-daknya dilakukan perbaikan-perbai-kan agar diperoleh hasil yang lebih baik.

Acknowledgment

Penulis berterimakasih kepada ULM dalam membantu penelitian ini.

References

Ali, M. (1996). Guru Dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung: Si-nar Baru Algesindon.

Arikunto, S. (1993). Manajemen Mengajar Secaraa Manusiawi.

Jakarata: Rineksa Cipta

Arikunto, S. (2001). Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara

Arikunto, S. (2002). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Prak-tek. Jakarta: Rineksa Cipta.

Azhar, L. M. (1993). Proses Belajar Mengajar Pendidikan. Jakarta: Usaha Nasional.

Dalle, J., & Ariffin, A.M. (2018). The impact of technologies in teaching interaction design. Journal of Advanced Research in Dynamical and Control Systems, 2018, 10(4 Special Issue), pp. 1779-1783

Daroeso, B. (1989). Dasar dan Konsep Pendidikan Moral Pan-casila. Semarang: Aneka Ilmu.

Djamarah, S. B. (2002). Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineksa Putra.

(16)

Djamarah, S. B. (2002). psikologi belajar. Rineksa Putra. Felder, R. M. (1994). Cooperative Learning in The Technical Corse,

(online), (Pcll\d\My% Document\Coop % 20 Report. Hadi, S. (1982). metodologi research, jilid I. Yogayakarta: yp. Fak.

Psikologi UGM.

Hamalik, O. (2002). Psikologi Belajar dan Mengajar. Bandung: Si-nar Baru Algesindo

Hartoyo. (2000). Koncep belajar aktif. Bandung.

Hasibuan, JJ. dan Moerdjiono. (1998). Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Margono. (1997). Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta: Rineksa Cipta.

Masriyah. (1999). Analisis Butir Tes. Surabaya: Universiats Press. Ngalim Purwanto, M. (1990). Psikologi Pendidikan. Bandung: PT.

Remaja Rosdakarya.

Nur, M. (2001). Pemotivasian Siswa Untuk Belajar. Surabaya. Uni-versity Press. Universitas Negeri Surabaya.

Nur, M. (1996). Pembelajaran Kooperatif. Surabaya University Negeri.

Riduwan. (2005). Belajar Mudah Penelitian Untuk Guru– Karya-wan dan Peneliti Pemula. Bandung: Alfabeta.

Rustiyah, N.K.1991. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta Bina Aksara.

Sardiman, A.M. (1996). Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Bina Aksara.

Soekamto. T. (1997). Teori Belajar dan Model Pembelajaran. Ja-karta: PAU-PPAI, Universitas Terbuka.

Soetomo. (1993). Dasar-Dasar Interaksi Belajar Mengajar. Sura-baya Usaha Nasional.

Sudjana, N dan Ibrahim. (1989). Penelitian dan Penilaian Pendidi-kan. Bandung: Sinar Baru.

Sudjana. (1996). Metode Statistik. Bandung: Tarsito.

Sukidin. (2002). Manajemen Penelitian Tindakan Kelas. Surabaya: Insane Cendekia.

Sukmadinata, N. S. (2005). Metode Penelitian Pendidikan. Ban-dung: PT. Remaja Rosdakarya.

Surakhamad, W. (1990). Metode Pengajaran Nasional. Bandung: Jemmars.

Suryosubroto, B. (1997). Proses Belajar Mengajar di Sekolah. Ja-karta: PT. Rineksa Cipta.

Syah, M. (1995). Psikologi Pendidikan, Suatu Pendekatan Baru,

Bandung: Remaja Rosdakarya.

Usman, M. U. (2001). Menjadi Guru Profesional. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Gambar

Gambar 1. Alur PTK
Tabel 1. Rekapitulasi Hasil Tes Formatif Siswa pada Siklus I per- per-temuan ke 1
Tabel 4. Rekapitulasi Hasil Tes Formatif Siswa Pada Siklus II per- per-temuan ke 2

Referensi

Dokumen terkait

kan media gambar/foto. Pertama, pene- litian tentang kemampuan siswa mengem- bangkan teks prosedur dengan menggun- akan media gambar/foto belum diteliti sebelumnya,

Dengan demikian, pada latar sekolah, melalui guru, sebagai praktisi teknologi pendidikan, guru tersebut dapat menerapkan teknologi pendidikan untuk meningkatkan kualitas

Penyusunan dokumen Rencana Strategis Perangkat Daerah (Renstra- PD) tahun 2016-2021 dilaksanakan dengan melakukan penyusunan Rancangan Rencana Strategis yang digunakan

Sebagai contoh adalah adanya sajian khusus Toraja (kopi Toraja) dikemas dalam interior yang memiliki ragam hias Toraja dengan pengaplikasian yang baik, tetapi ada beberapa

Unsur- unsur yang dievaluasi sesuai yang ditetapkan dalam Dokumen Pengadaan, meliputi Metode Pelaksanaan, Jadwal dan Uraian Tugas Harian dan Mingguan Petugas Kebersihan,

Perencanaan usahatani, adalah proses pengambilan keputusan tentang segala sesuatu yang akan dilakukan dalam usahatani yang akan datang, rencana-rencana usahatani

Pelamar yang dinyatakan lulus Seleksi Kompetensi Dasar adalah sebagaimana yang tercantum dalam lampiran Pengumuman Hasil Seleksi Kompetensi Dasar Pengadaan Calon

kemampuan penalaran dan kemampuan komunikasi matematika, yang ditunjukkan dengan: (a) kemampuan menjawab soal secara lisan sebelum dilakukan penelitian tindakan