• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS EKSPOR ROTAN CV TUNAS JAYA SUKOHARJO SETELAH PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN NOMOR 35/M-DAG/PER/11/2011 DAN NOMOR 36/M-DAG/PER/11/2011

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "ANALISIS EKSPOR ROTAN CV TUNAS JAYA SUKOHARJO SETELAH PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN NOMOR 35/M-DAG/PER/11/2011 DAN NOMOR 36/M-DAG/PER/11/2011"

Copied!
62
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS EKSPOR ROTAN CV TUNAS JAYA

SUKOHARJO SETELAH PERATURAN MENTERI

PERDAGANGAN NOMOR 35/M-DAG/PER/11/2011

DAN NOMOR 36/M-DAG/PER/11/2011

Diajukan untuk melengkapi tugas-tugas persyaratan guna mencapai gelar

Ahli Madya pada Program Diploma Bisnis Internasional

Disusun oleh :

FATWA ANNISA GANITRIKUNDA

F3109031

PROGRAM DIPLOMA III BISNIS INTERNASIONAL

FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS SEBELAS MARET

(2)
(3)
(4)

MOTTO DAN PERSEMBAHAN

Amal yang paling dicintai oleh Allah adalah yang terus menerus meski hanya sedikit (Muhammad SAW)

"Don't cry because it's over, smile because it happened." - Dr. Seuss

"Dari masa ke masa selalu ada jalan keluar" (Penulis)

"Belajarlah hidup bersama ketakutan, dan yakinlah bahwa ia pasti akan musnah" (penulis)

Karya ini dipersembahkan kepada :

 Bapak, ibu, kakak dan adik tercinta

 Friendy Al-Kindy

 Sahabat-sahabatku

 Dosen-dosenku

 Teman-teman Bisnis Internasional 09

 Almamaterku, Universitas Sebelas Maret

(5)

Assalamualaikum Wr. Wb.

Dengan mengucap Alhamdulillah, penulis telah dapat menyelesaikan penulisan tugas akhir ini yang merupakan karya ilmiah dengan judul “ANALISIS EKSPOR ROTAN CV TUNAS JAYA SUKOHARJO SETELAH PERATURAN MENTERI

PERDAGANGAN NOMOR 35/M-DAG/PER/11/2011 dan NOMOR

36/M-DAG/PER/11/2011” untuk memperoleh gelar Ahli Madya Manajemen Perdagangan Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa Tugas Akhir ini bisa terwujud berkat bantuan dan bimbingan berbagai pihak ynag memberikan pengarahan, keterangan serta bahan-bahan yang penulis perlukan dan penulis menyadari bahwa Tugas Akhir ini masih jauh dari kesempurnaan. Maka dakam kesempatan ini perkenankanlah penulis menghaturkan ucapan terimakasih kepada :

1. Allah SWT yang selalu memberikan petunjuk-Nya kepada penulis selama

mengerjakan tugas akhir.

2. Bapak Dr. Wisnu Untoro, selaku Dekan Fakultas Ekonomi Unversitas Sebelas Maret

Surakarta.

3. Bapak Drs. Harimurti selaku Ketua Program Sudi Diploma III Bisnis Internasional, terima kasih atas pengajaran dan kebijaksanaannya.

4. Ibu Dwi Prasetyani, S.E. M.Si selaku pembimbing akademik.

5. Bapak Malik Cahyadin, S.E. M.Si selaku pembimbing magang dan tugas akhir, terima kasih atas waktu luang dan kesabarannya.

(6)

manajer dan teman saya. Terimakasih atas ilmu dan kesempatan yang diberikan. 7. Para dosen dan karyawan Prodi Diploma III Bisnis Internasional Fakultas Ekonomi

Universitas Sebelas Maret Surakarta atas ilmu dan pengajarannya. 8. Bapak, ibu, kakak dan adik tercinta untuk doa restu dan perhatiannya.

9. Buat Friendy Al-Kindy yang telah memberikan kasih sayang serta ketulusan hatinya

untuk membantu dan mendukung selama ini.

10. Teman-teman D3 Bisnis Internasional yang telah bekerjasama membantu, terima kasih telah memberikan kenangan dan persahabatan yang manis.

11. Semua pihak yang memberi suntikan semangat untuk menyelesaikan tugas akhir ini.

Penulis menyadari bahwa tugas akhir ini jauh dari kesempurnaan, maka saran dan kritik yang konstruktif dari semua pihak sangat diharapkan demi penyempurnaan selanjutnya.

Akhirnya hanya kepada Allah SWT kita kembalikan semua urusan dan semoga tugas akhir ini dapat bermanfaat bagi semua pihak, khususnya bagi penulis dan para pembaca pada umumnya. Semoga Allah SWT meridhoi dan dicatat sebagai ibadah disisi-Nya, amin.

Wassalamualaikum Wr. Wb.

Surakarta, 18Januari 2013

(7)

HALAMAN JUDUL... i

ABSTRAKSI... ii

HALAMAN PERSETUJUAN... iii

HALAMAN PENGESAHAN... iv

HALAMAN MOTO DAN PERSEMBAHAN... v

KATA PENGANTAR... vi

DAFTAR ISI... viii

DAFTAR TABEL... xi

DAFTAR GAMBAR... xii

DAFTAR LAMPIRAN... xiii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah... 1

B. Perumusan Masalah... 2

C. Tujuan Penelitian... 2

D. Manfaat Penelitian... 3

E. Metode Penelitian... 4

BAB II LANDASAN TEORI A. Ekspor 1. Pengertian Ekspor... 5

2. Syarat-syarat... 5

(8)

1. Pengertian Rotan... 8

2. Daerah Penghasil Rotan... 9

3. Kegunaan Rotan... 9

C. Perkembangan Ekspor 1. Perkembangan Ekspor di Indonesia... 10

2. Perkembangan Ekspor Furniture... 10

D. Kelebihan Ekspor Rotan 1. Sistem Manajemen... 11

2. Kewajiban Manajemen... 14

3. Sumber Daya... 14

4. Proses... 18

5. Pengukuran, Analisis, dan Perbaikan... 20

E. Peraturan Pemerintah Terhadap Eksppor Rotan 1. Permendag Nomor 35/M-DAG/PER/11/2011... 20

2. Permendag Nomor 36/M-DAG/PER/11/2011... 20

3. Permendag Nomor 37/M-DAG/PER/11/2011... 21

4. Peraturan Dirjen Nomor 09/PDN/PER01/2012... 21

BAB III DISKRIPSI OBYEK PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Obyek Penelitian 1. Sejarah dan Perkembangan CV Tunas Jaya di Sukoharjo... 23

(9)

4. Produk yang dihasilkan... 31 5. Proses Produksi... 36

B. Pembahasan

1. Perkembangan Rotan CV Tunas Jaya di Sukoharjo... 33

2. Kelebihan Ekspor Rotan CV Tunas Jaya di Sukoharjo... 35

3. Hambatan Ekspor Rotan Akibat Peraturan Menteri... 44

BAB IV PENUTUP

A. Kesimpulan... 47 B. Saran... 48 DAFTAR PUSTAKA

(10)

Tabel 3.1 Keterangan Struktur Organisasi CV Tunas Jaya... 27 Tabel 3.2 Volume Penjualan 2011... 34

(11)

Gambar 2.1 Ekspor Furnitur Indonesia (dalam US$ 000)... 11

Gambar 3.1 Bagan Struktur Organisasi CV Tunas Jaya... 26

Gambar 3.2 Kursi Makan (Dining Chair)... 31

Gambar 3.3 Kursi Santai... 31

Gambar 3.4 Berbagai Model Arm Chair... 32

Gambar 3.5 Macam Model Sofa pada Showroom CV. Tunas Jaya... 32

(12)

Lampiran 1 : Surat Pernyataan Tugas Akhir Lampiran 2 : Laporan Kegiatan Magang Lampiran 3 : Surat-surat Keterangan Magang Lampiran 4 : Hasil Penilaian Magang

Lampiran 5 : PERMENDAG NOMOR 35/M-DAG/PER/11/2011 Lampiran 6 : PERMENDAG NOMOR 36/M-DAG/PER/11/2011 Lampiran 7 : PERMENDAG NOMOR 37/M-DAG/PER/11/2011 Lampiran 8 : PERMENDAG NOMOR 12/M-DAG/PER/6/2005 Lampiran 9 : Contoh Bill Of Lading

Lampiran 10 : Contoh Invoice

Lampiran 11 : Hasil Fumigation Certificate

Lampiran 12 : Contoh Surat Perintah Kerja Lampiran 13 : Outline Wawancara

(13)

commit to user

ABSTRAKSI

ANALISIS EKSPOR ROTAN CV TUNAS JAYA SUKOHARJO SETELAH PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN NOMOR 35/M-DAG/PER/11/2011

dan NOMOR 36/M-DAG/PER/11/2011 FATWA ANNISA GANITRIKUNDA

F3109031

Pemerintah menertibkan kebijakan dalam bentuk Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 35/M-DAG/PER/11/2011 mengatur mengenai larangan bahan baku dan Peraturan Meneteri Perdagangan Nomor 36/M-DAG/PER/11/2011 mengatur tentang kewajiban verifikasi.

Tugas Akhir ini bertujuan untuk: a) mengetahui perkembangan ekspor rotan CV Tunas Jaya, b) kelebihan ekspor rotan CV Tunas Jaya, c) hambatan ekspor akibat Peraturan Menteri Nomor 35/M-DAG/PER/11/2011 dan Nomor 36/M-DAG/PER/11/2011 di CV Tunas Jaya. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan melakukan observasi langsung dilapangan (magang) dan wawancara dengan pihak CV Tunas Jaya di Sukoharjo. Metode analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan, kesimpulan yang dapat diperoleh adalah: a) CV Tunas Jaya mengalami perkembangan volume penjualan berdasarkan perhitungan tahun 2011-2012, b) CV Tunas Jaya bertanggung jawab dalam segala aspek yang berhubungan dengan kelebihan kualitas produk untuk meningkatkan kepuasan pelanggan, c) Permendag nomor 35/M-DAG/PER/11/2011 berakibat kelangkaan pada bahan baku rotan sedangkan Permendag nomor 36/M-DAG/PER/11/2011 meresahkan para eksportir dimana Sucofindo sebagai surveyor berbelit-belit dalam birokrasi. Sucofindo menyulitkan eksportir dalam syarat-syarat yang berlaku tanpa adanya kebijakan yang menguntungkan eksportir.

Kata Kunci : kondisi ekspor rotan, managemen kualitas, dampak permendag terhadap rotan

(14)

commit to user

ABSTRACT

ANALYSIS OF EXPORT RATTAN CV JAYA SUKOHARJO SHOOTS AFTER TRADEMINISTER 35/M-DAG/PER/11/2011

and NUMBER 36/M-DAG/PER/11/2011 FATWA ANNISA GANITRIKUNDA

F3109031

Government policy discipline in the form of the Minister of Trade No. 35/M-DAG/PER/11/2011 governing the prohibition of raw materials and Meneteri Trade Regulation No. 36/M-DAG/PER/11/2011 regulates verification obligations.

Final Project aims to: a) determine the development of rattan exports CV Tunas Jaya, b) the excess export of rattan CV Tunas Jaya, c) due to export constraints 35/M-DAG/PER/11/2011 and Ministerial Regulation No. No. 36/M- DAG/PER/11/2011 in CV Tunas Jaya. Data collection techniques used in this study is by direct observation in the field (internship) and interviews with the CV Tunas Jaya in Sukoharjo. The method of data analysis is descriptive analysis.

Based on the research conducted, the conclusions that can be obtained are: a) CV Tunas Jaya to experience growth in sales volume based on the calculation in 2011-2012, b) CV Tunas Jaya are responsible for all aspects related to the excess of quality products to enhance customer satisfaction, c) Permendag 35/M-DAG/PER/11/2011 numbers resulted in the scarcity of raw rattan Permendag number 36/M-DAG/PER/11/2011 while unsettling for exporters where Sucofindo as a surveyor in the convoluted bureaucracy. Sucofindo difficult for exporters in the conditions prevailing in the absence of policies that benefit exporters.

(15)

commit to user

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan akan memperketat aturan ekspor rotan. Dengan menambahkan lampiran faktur pajak penjualan dan pemeriksaan surveyor saat pengapalan. Akan terus diberlakukan dengan modifikasi dan memperketat penyediaan untuk industri dalam negeri. Kebocoran-kebocoran selama ini dicurigai, misalnya bukti pasok tidak benar yang akan perbaiki.

Dalam rangka pemanfaatan rotan secara berkesinambungan dan menjaga ketersediaan bahan baku bagi industri produk rotan serta mendukung peningkatan ekspor produk industri rotan, perlu dilakukan pengaturan mengenai ketentuan ekspor rotan dan produk rotan. Dalam peraturan ini disebutkan dalam Permendag Nomor 35/M-DAG/PER/11/2011 tentang Ketentuan Ekspor Rotan dan Produk Rotan tersebut mewajibkan verifikasi sebelum barang dimuat.

Sementara Permendag Nomor 36/M-DAG/PER/11/2011 tentang Pengangkutan Rotan Antar Pulau itu mewajibkan verifikasi di tempat awal dan di tempat pembongkaran atau tujuan akhir. Bahwa kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan yang lautnya berbatasan langsung dengan negara lain, terbuka peluang terjadinya penyelundupan komoditi asal Indonesia khususnya rotan ke negara lain dengan modus pengangkutan antar pulau, serta untuk menghindari terjadinya penyelundupan rotan dan menjaga

(16)

commit to user

ketersediaan bahan baku industri barang jadi rotan dalam negeri serta pemanfaatan rotan secara berkesinambungan, perlu dilakukan pengaturan pengangkutan rotan antar pulau.

Berdasarkan uraian diatas judul penelitian ini adalah “ANALISIS

EKSPOR ROTAN CV TUNAS JAYA SUKOHARJO SETELAH

PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN NOMOR

35/M-DAG/PER/11/2011 dan NOMOR 36/M-DAG/PER/11/2011.”

B. Perumusan Masalah

Perumusan masalah dalam penelitian ini adalah:

1. Bagaimana perkembangan ekspor rotan CV Tunas Jaya di Sukoharjo?

2. Bagaimana kelebihan ekspor rotan CV Tunas Jaya di Sukoharjo?

3. Apa saja hambatan ekspor akibat Peraturan Menteri Nomor

35/M-DAG/PER/11/2011 dan Nomor 36/M-DAG/PER/11/2011?

C. Tujuan Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan agar penelitian tersebut dapat memberikan manfaat sesuai apa yang dikehendaki. Adapun tujuan penelitian ini adalah :

1. Untuk mengetahui bagaimana perkembangan ekspor rotan CV Tunas

Jaya di Sukoharjo

2. Untuk mengetahui bagaimana kelebihan ekspor rotan CV Tunas Jaya di Sukoharjo

(17)

commit to user

3. Untuk mengetahui hambatan ekspor akibat Peraturan Menteri Nomor 35/M-DAG/PER/11/2011 dan Nomor 36/M-DAG/PER/11/2011

D. Manfaat Penelitian

Penelitian ini dilakukan dengan harapan akan mempunyai kegunaan sebagai berikut :

1. Bagi CV Tunas Jaya

Penelitian ini diharapkan mampu memberikan masukan bagi perusahaan mengenai hal-hal yang berhubungan dengan aktivitas ekspor khususnya dalam mempertahankan dan meningkatkan kualitas ekspornya agar terus berkembang dengan adanya peraturan baru yang merumitkan eksportir.

2. Bagi Pemerintah

Penelitian ini dapat dijadikan dasar dalam pembuatan kebijakan yang berkaitan dengan ekspor. Dengan adanya kebijakan tersebut diharapkan dapat membewa angin segar bagi para eksportir dan lebih mendorong kegiatan ekspor bukannya merumitkan esportir

3. Bagi Mahasiswa dan Pembaca lainnya

Merupakan tambaan referensi bacaan dan informasi khususnya bagi mahasiswa jurusan Manajemen Perdagangan yang sedang menyusun Tugas Akhir dengan pokok permasalahan yang sama.

4. Bagi Masyarakat Umum

Memberikan informasi kepada masyarakat umum mengenai ekspor rotan

setelah Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 35/M-DAG/PER/11/2011

(18)

commit to user

maksimal dan tidak terjadi kecurangan dalam dunia bisnis.

E. Metode Penelitian

Dalam melakukan penelitian ini menggunakan metode yang dapat mempermudah dalam penyusunan Tugas Akhir ini, yaitu:

1. Desain Penelitian

Penelitian ini berdasarkan desain kasus dengan melakukan pengamatan langsung di CV Tunas Jaya di Sukoharjo terhadap dampak ekspor rotan setelah adanya Peraturan Menteri Nomor 35/M-DAG/PER/11/2011 dan Nomor 36/M-DAG/PER/11/2011.

2. Objek Penelitian

Penelitian ini dilakukan di CV Tunas Jaya yang beralamatkan di Jln. Luwang Gatak, Sukoharjo 57557 Solo, Jawa Tengah, Indonesia.

3. Jenis dan Metode Pengumpulan Data

a. Jenis Data

1) Data Primer

Yaitu data yang diperoleh langsung dari sumbernya. Data ini diperoleh dengan wawancara langsung pada bagian ekspor dan staff atau karyawan CV Tunas Jaya Sukoharjo.

2) Data Sekunder

Yaitu data yang diperoleh dari Publikasi BPS (Badan Pusat Statistik), studi pustaka, dan sumber internet lainnya.

b. Metode Pengumpulan Data

1) Observasi

(19)

commit to user CV Tunas Jaya di Sukoharjo.

2) Wawancara

Merupakan teknik pengumpulan data dengan cara tanya jawab secara langsung dengan pihak CV Tunas Jaya di Sukoharjo. Outline wawancara terlampir.

4. Sumber Data

a. Sumber Data Primer

Data primer diperoleh dari CV Tunas Jaya Sukoharjo. Data ini meliputi gambaran umum perusahaan dan aktivitas ekspor rotan.

b. Sumber Data Sekunder

Data sekunder diperoleh dari publikasi BPS. Data tersebut meliputi kasus/artikel ekspor rotan di Indonesia.

(20)

commit to user

BAB II

LANDASAN TEORI

A. EKSPOR

1. Pengertian Ekspor

Secara definitif, ekspor adalah mengeluarkan barang-barang dari peredaran dalam masyarakat dan mengirimkan ke luar negeri sesuai ketentuan pemerintah dan mengharapkan pembayaran dalam valuta asing. (Amir, Ms, 2004)

Yang dimaksud dengan kegiatan ekspor adalah upaya seseorang pengusaha dalam memasarkan suatu barang atau komoditas yang dikuasainya ke negara asing atau bangsa asing, dengan mendapatkan valuta (mata uang) asing, serta melakukan hubungan komunikasi dan korespondensi dalam bahasa asing pula. (Sitiatava, RP, 2011)

2. Syarat - syarat Ekspor

Dalam melaksanakan kegiatan ekspor ada beberapa syarat yang harus dimiliki oleh sebuah perusahaan. Setiap perusahaan yang akan melakukan ekspor harus memiliki (Amir, Ms, 2004) :

a. Surat Ijin Usaha Perdagangan (SIUP) dari Deperindag atau ijin usaha dari departemen teknis lainnya.

b. Tanda Daftar Perusahaan (TDP).

Persyaratan memperoleh SIUP dan TDP adalah:

(21)

commit to user

2) Menyarahkan foto copy KTP dan foto

3) Menyerahkan surat keterangan domisili

4) Menyerahkan SK WNI, ganti nama (warga asing)

5) Menyerahkan TDP

Tanda Daftar Perusahaan (TDP) adalah daftar cacatan resmi

yang diadakan menurut atau berdasarkan undang-undang dan atau peraturan-peraturan pelaksanaannya, dan memuat hal-hal yang wajib didaftarkan oleh setiap perusahaan serta disahkan oleh pejabat yang berwenang dari kantor pendaftaran perusahaan (undang-undang republik Indonesia no 3 tahun 1982 tentang wajib daftar perusahaan pasal 1)

Syarat-syarat TDP antara lain :

a) Memiliki akte pendirian perusahaan

b) Melampirkan KTP semua pengurus

c) Melampirkan daftar pemegang saham

d) Melampirkan foto copy keterangan domisili

e) Melampirkan foto copy SIUP

3.Tujuan Kegiatan Ekspor

Kegiatan ekspor mempunyai beberapa tujuan diantara lain (Amir, MS, 2004) :

a. Mencari laba perusahaan melalui perluasan pasar serta memperoleh harga jual yang lebih baik (optimalisasi laba).

(22)

commit to user

domestik. Dengan demikian komoditi yang diproduksi mempunyai pasar yang luas, tidak hanya sekesar pasar dalam negeri, tetapi juga mempu melayani konsumen dari mancanegara.

c. Memanfaatkan kelebihan kapasitas terpasang (installed capacity –

idle capacity – excess capacity), sehingga tercapai kapasitas

optimum dalam berproduksi, yang dapat menekan biaya umum perusahaan (overhead cost).

d. Membiasakan diri bersaing dipasar internasional, sehingga terlatih dalam persaingan yang ketat dan terhindar dari sebutan ”jago kandang”, apalagi menghadapi era globalisasi.

B. ROTAN

1.Pengertian Rotan

Rotan adalah sekelompok tumbuhan memanjat yang dalam dunia

tumbuh-tumbuhan digolongkan kedalam anak kelas Monocotyledone,

termasuk famili/ Suku Palmae, dengan marga Calamus, Daemonorops,

Karthalsia, Caratolobus, Pectokomia Calospatha, Myrialepis,

Plectocomiopsis, Pogonotium dan Retispatha.

Jenis rotan di Asia Tenggara berkisar 516 jenis dan di Indonesia berkisar 316 jenis (Hadi S. Pasaribu). Jenis rotan berdasarkan SNI digolongkan kedalam 2 golongan diameter yaitu diameter besar dan diameter kecil. Diameter besar yaitu Ø>18 cm dan diameter kecil yaitu Ø< 18 cm.

(23)

commit to user

2.Daerah Penghasil Rotan

Hutan Alam pada umumnya merupakan daerah penghasil rotan, selanjutnya dari hasil budidaya atau perkebunan. Perkebunan rotan awalnya yang paling berhasil adalah di dalam kawasan sekitar Barito, Kapuas, Kahayan di Kalimantan sekitar tahun 1850 an (van Tuil, 1929) setelah itu berkembang ke Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan. Di Kalimantan Timur peladang berpindah selama kurun waktu yang cukup lama telah menanam Calamus caesius di tanah hutan yang dibiarkan kosong setelah penebangan dan produksi tanaman pangan (Weinstok, 1983).

Mulai tahun 1980 an di Pulau Jawa mulai uji coba budidaya rotan pada beberapa species comersial seperti Calamus manan dan C. Caesius

dan hasilnya baik seperti di Kalimantan.

Secara keseluruh daerah-daerah di Indonesia dapat menghasilkan rotan, tetapi daerah yang menghasilkan cukup banyak yaitu Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Irian Jaya.

3. Kegunaan Rotan

Rotan secara umum lebih dikenal dapat di gunakan sebagai bahan untuk mebeler atau furniture, tetapi kenyataanya bagi yang menyenangi bahan dan produk dari rotan dapat digunakan hampir disemua segi kehidupan manusia seperti konstruksi rumah, isi rumah, perkantoran, jembatan, keranjang, tikar, lampit, tali, dll. Sampai ada istilah atau peribahasa (tidak ada rotan akarpun berguna).

(24)

commit to user

Rotan merupakan sumber devisa yang sangat besar bagi negara karena Indonesia adalah satu satunya negara terbesar penghasil rotan didunia, rotan sebagai bahan baku pabrik atau industri, home industri, sumber mata pencaharian dan meningkatkan tarap hidup dan perekonomian masyarakat, terutama masyarakat sekitar hutan.

C. Perkembangan Ekspor

Berdasarkan data dari BPS nilai ekspor Indonesia pada tahun 2011 tercatat sebesar US$ 203,62 miliar. Angka ini meningkat sebesar 24,88 persen dibandingkan ekspor 2010. Dan dinyatakan ekspor Indonesia berhasil menembus target, sebelumnya pemerintah menetapkan target ekspor sebesar US$ 200 miliar di tahun 2011. Sektor industri menjadi motor utama peningkatan ekspor secara nasional.

1. Perkembangan ekspor di Indonesia

Pada tahun 2011, industri menyumbang US$ 122 miliar atau sebesar 60 persen dari total nilai ekspor. Sektor nonmigas lainnya, yaitu pertanian dan pertambangan, masing-masing menyumbang 2,54 persen dan 17,02 persen dari keseluruhan ekspor. Sementara itu ekspor sektor migas hanya mencapai US$ 41 miliar atau sebesar 20,43 persen dari total ekspor (BPS)

2. Perkembangan ekspor furniture

Industri furnitur merupakan industri padat kerja yang menyerap banyak tenaga kerja menurut Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia (Asmindo), potensi penyerapan tenaga kerja oleh industri ini

(25)

commit to user

tidak kurang dari 4juta tenaga kerja, baik tenaga kerja langsung maupun tidak langsung. Kontribusi industri ini terhadap perolehan devisa negarapun tidaklah kecil, data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan nilai ekspor furnitur di indonesia sebagai berikut:

Gambar 2.1

Ekspor Furnitur Indonesia (dalam US$ 000)

Sumber: Badan Pusat Statistik (BPS)

D. Kelebihan Eskpor Rotan

Kualitas adalah kesesuaian untuk penggunaan (fitness for use), ini berarti bahwa suatu produk atau jasa hendaklah sesuai dengan apa yang diperlukan atau diharapkan oleh pengguna, lebih jauhnya mengemukakan lima dimensi kualitas. (Juran, 1988)

1.Sistem Managemen

Setiap perusahaan ekspor menetapkan, mendokumentasikan, mengimplementasikan dan memelihara sistem managemen. Penetapan proses proses yang diperlukan untuk sistem managemen mutu dan aplikasinya agar memgidemtifikasi materi muatan ekspor bahwa operasi

(26)

commit to user

dan informasi yang diperlukan untuk mendukung operasi dan prosesnya untuk mencapai hasil yang direncanakan dengan baik. (Vincent Gaspersz, 1998)

Sistem manajemen kualitas (QMS) merupakan sekumpulan prosedur terdokumentasi dan praktek-praktek standar untuk manajemen sistem yang bertujuan menjamin kesesuaian dari suatu proses dan produk (barang dan atau jasa) terhadap kebutuhan atau persyaratan tertentu. Kebutuhan atau persyaratan itu ditentukan atau dispesifikasikan oleh pelanggan dan organisasi.

Sistem manajemen kualitas berfokus pada konsistensi dari proses kerja. Hal ini sering mencakup beberapa tingkat dokumentasi terhadap standar-standar kerja. Adanya prosedur dokumentasi yang mengacu pada spesifikasi produk untuk menetapkan pengendalian yang diperlukan serta mmelihara rekaman.

Dokumentasi sistem manajemen mutu harus mencakup:

a. Kebijakan mutu dan sasaran mutu yang terdokumentasi,

b. Pedoman mutu (quality manual),

c. Dokumen (termasuk rekaman) yang ditetapkan oleh organisasi guna

menjamin perencanaan, pengoperasian dan pengendalian proses yang efektif.

Rekaman adalah jenis dokumen khusus dan harus dikendalikan dengan baik. Ditetapkan suatu prosedur terdokumentasi untuk menetapkan pengendalian yang diperlukan:

(27)

commit to user

2) Untuk meninjau dan memutakhirkan seperlunya dan menyetujui

ulang dokumen,

3) Untuk memastikan bahwa perubahan dan status revisi dokumen

terkini dapat ditunjukkan,

4) Untuk memastikan bahwa versi relevan dari dokumen yang berlaku

tersedia di tempat yang memerlukannya,

5) Untuk memastikan dokumen selalu dapat dibaca dan mudah

diidentifikasi,

6) Untuk memastikan bahwa dokumen yang berasal dari luar organisasi,

yaitu dokumen penting yang ditentukan oleh organisasi untuk

perencanaan dan pengoperasian sistem manajemen mutu,

diidentifikasi dan pendistribusiannya terkendali, dan

7) Untuk mencegah pemakaian dokumen kedaluwarsa, dan memberikan

identifikasi yang sesuai bila dokumen kedaluarsa disimpan untuk suatu maksud.

Selain itu dalam pengendalian rekaman, Rekaman sebagai bukti kesesuaian persyaratan dan pengoperasian sistem manajemen mutu yang efektif harus dikendalikan. Organisasi harus menetapkan prosedur terdokumentasi untuk menetapkan kendali yang diperlukan untuk identifikasi, penyimpanan, perlindungan, pengambilan, masa simpan dan pembuangan rekaman

Tinjauan manajemen adalah evaluasi terhadap pelaksanaan pengelolaan keamanan informasi dalam bentuk pertemuan/rapat rutin Tinjauan manajemen harus membahas keperluan yang mungkin untuk

(28)

commit to user

merubah kebijakan, tujuan dan elemen-elemen lain sistem manajemen lingkungan, berdasarkan hasil-hasil audit internal sistem manajemen lingkungan, keadaan-keadaan yang berubah dan komitmen terhadap peningkatan berkelanjutan.

2. Kewajiban managemen

Salah satu kunci utama dalam kewajiban managemn ekspor adalah Keamanan (safety), aman dan tidak membahayakan konsumen dan komitmennya yang bertanggung jawab. Manajemen harus menyediakan bukti komitmen dalam pengembangan dan penerapan sistem manajemen keamanan pangan serta perbaikan sistem dengan Menyediakan bukti, keamanan pangan didukung oleh target-target yang telah ditetapkan seperti kebijakan keamanan pangan (food safety policy) dan melakukan

management review dengan sumber daya yang cukup. (Juran, 1998)

Memprioritaskan kepuasan konsumen agar konsumen merasa puas secara terus menerus dengan kwualitas dan mutu yang memenuhi syarat. Dengan adanya perencanaan dan prosedur untuk memastikan bahwa sasaran mutu yang memenuhi persyaratan produk sampai teangung jawab perusaahan dalam kinerja sistem manaJemen.

3. Sumber Daya

Sumber daya merupakan suatu input untuk dijadikan sebuah

output melaui suatu proses atau transformasi/perubahan. Dengan

ketersediaan sumber daya yang diperlukan membantu memperbaiaki kefektifannya. (Sitiatava, 2011)

(29)

commit to user

Ketersediaan (availability), mencakup aspek kedapatdipercayaan, serta ketahanan. Sumber daya dalam membatu meningkatkan kwalitas dan mutu meliputi :

a. Sumber Daya Manusia

Sumber Daya Manusia (SDM) adalah manusia yang bekerja dilingkungan suatu organisasi (disebut juga personil, tenagakerja, pekerja atau karyawan)

Pengertian lain Sumber Daya Manusia adalah potensi yang merupakan asset dan berfungsi sebagai modal (non material/non finansial) didalam organisasi bisnis, yang dapat diwujudkan menjadi potensinyata (real) secara fisik dan non fisikdalam mewujudkan eksistensi organisasi.

b. Sumber Daya Alam

Pengertian Sumber Daya Alam adalah semua kekayaan bumi, baik biotik maupun abiotik yang dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan manusia dan kesejahteraan manusia, misalnya: tumbuhan, hewan, udara, air, tanah, bahan tambang, angin, cahaya matahari, dan mikroba (jasad renik). Pada dasarnya Alam mempunyai sifat yang beraneka ragam, namun serasi dan seimbang. Oleh karena itu, perlindungan dan pengawetan alam harus terus dilakukan untuk mempertahankan keserasian dan keseimbangan tersebut.

Semua kekayaan yang ada di bumi ini, baik biotik maupun abiotik, yang dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan manusia merupakan sumber daya alam. Tumbuhan, hewan, manusia, dan

(30)

commit to user

mikroba merupakan sumber daya alam hayati, sedangkan faktor abiotik lainnya merupakan sumber daya alam nonhayati. Pemanfaatan sumber daya alam harus diikuti oleh pemeliharaan dan pelestarian karena sumber daya alam bersifat terbatas

Ketersediaan sumber daya alam untuk memenuhi kebutuhan dasar, dan tersedianya cukup ruang untuk hidup pada tingkat kestabilan sosial tertentu disebut daya dukung lingkungan. Singkatnya, daya dukung lingkungan ialah kemampuan lingkungan untuk mendukung perikehidupan semua makhluk hidup.

Penyebaran sumber daya alam di bumi ini tidaklah merata letaknya. misalnya ada bagian bagian bumi yang sangat kaya akan mineral, ada pula yang tidak. Ada yang baik untuk pertanian ada pula yang tidak. Oleh karena itu, agar pemanfaatannya dapat berkesinambungan, maka tindakan eksploitasi sumber daya alam harus disertai dengan tindakan perlindungan. Pemeliharaan dan pengembangan lingkungan hidup harus dilakukan dengan cara yang rasional antara lain sebagai berikut :

1) Memanfaatkan sumber daya alam yang dapat diperbaharui

dengan hati-hati dan efisien, misalnya: air, tanah, dan udara.

2) Menggunakan bahan pengganti, misalnya hasil metalurgi

(campuran).

3) Mengembangkan metoda menambang dan memproses yang

efisien, serta pendaurulangan (recycling).

(31)

commit to user secara damai dengan alam.

Dalam mengeksploitasi sumber daya tumbuhan, khususnya hutan, perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

a) Tidak melakukan penebangan pohon di hutan dengan

semena-mena (tebang habis)

b) Penebangan kayu di hutan dilaksanakan dengan terencana

dengan sistem tebang pilih (penebangan selektif). Artinya, pohon yang ditebang adalah pohon yang sudah tua dengan ukuran tertentu yang telah ditentukan.

c) Cara penebangannya pun harus dilaksanakan sedemikian rupa sehingga tidak merusak pohon-pohon muda di sekitarnya.

d) Melakukan reboisasi (reforestasi), yaitu menghutankan kembali hutan

e) Mencegah kebakaran hutan. Kerusakan hutan yang paling besar

dan sangat merugikan adalah kebakaran hutan. Diperlukan waktu yang lama untuk mengembalikannya menjadi hutan kembali.

Pengelolaan hutan seperti di atas sangat penting demi pengawetan maupun pelestariannya karena banyaknya fungsi hutan seperti berikut ini :

1) Mencegah erosi; dengan adanya hutan, air hujan tidak langsung

jatuh ke permukaan tanah, dan dapat diserap oleh akar tanaman.

2) Sumber ekonomi; melalui penyediaan kayu, getah, bunga,

(32)

commit to user

3) Sumber plasma nutfah; keanekaragaman hewan dan tumbuhan

di hutan memungkinkan diperolehnya keanekaragaman gen. Akhir-akhir ini tampak bahwa penggunaan sumber daya alam cenderung naik terus, karena pertambahan penduduk yang cepat dan perkembangan peradaban manusia yang didukung oleh kemajuan sains dan teknologi. Oleh karena itu, agar sumber daya alam dapat bermanfaat dalam waktu yang panjang maka hal-hal berikut sangat perlu dilaksanakan:

a) Sumber daya alam harus dikelola untuk mendapatkan manfaat yang maksimal, tetapi pengelolaan sumber daya alam harus diusahakan agar produktivitasnya tetap berkelanjutan.

b) Diperlukan kebijaksanaan dalam pemanfaatan sumber daya alam

yang ada agar dapat lestari dan berkelanjutan dengan menanamkan pengertian sikap serasi dengan lingkungannya.

4.Proses

Proses diartikan sebagai suatu cara, metode dan teknik bagaimana sesungguhnya sumber-sumber (tenaga kerja, mesin, bahan dan dana) yang ada diubah untuk memperoleh suatu hasil. Produksi adalah kegiatan untuk menciptakan atau menambah kegunaan barang atau jasa. Proses juga diartikan sebagai cara, metode ataupun teknik bagaimana produksi itu dilaksanakan. Produksi adalah kegiatan untuk menciptakan dan menambah kegunaan (Utility) suatu barang dan jasa. Proses produksi adalah suatu cara, metode ataupun teknik menambah kegunaan suatu barang dan jasa

(33)

commit to user

dengan menggunakan faktor produksi yang ada. (Assauri, 1995)

Proses produksi adalah kegiatan yang berlangsung terus menerus. Sementara itu, akuntansi harus melaporkan informasi keuangan secara berkala. Akibatnya, pada saat laporan keuangan harus dibuat, terdapat kemungkinan adanya sebagian barang yang belum selesai diproses.

Walaupun demikian, biaya yang telah terjadi untuk barang itu, tetap harus dilaporkan. Inilah yang dicantumkan sebagai persediaan dalam proses. Untuk memperoleh beban pokok produksi barang yang telah selesai, biaya pabrik ditambah dengan nilai persediaan dalam proses di awal periode dan dikurangi dengan nilai persediaan dalam proses di akhir periode.

Manajemen yang baik harus bisa mendefinisikan proses bisnis yang terjadi di dalam perusahaannya. Dalam memahami proses bisnis ini ada dua sudut pandang yaitu sudut pandang internal dan sudut pandang external. Sudut pandang internal merupakan sudut pandang yang terjadi di dalam perusahaan. Sudut pandang external merupakan sudut pandang dimana pelanggan melihat proses bisnis transaksi yang dia sedang kerjakan.

Memahami proses bisnis dari sisi pelanggan akan memberntuk layanan yang memuaskan pelanggan. Hal ini akan membuat pelanggan tetap menggunakan produk-produk kita. Oleh sebab itu marilah kita memahami dengan baik proses bisnis baik secara internal maupun external.

(34)

commit to user

5. Pengukuran, Analisis dan Perbaikan

Untuk meningkatkan kualitas produk banyak hal yang dilakukan oleh perusahaan dalam proses yang berkaitan dengan pelanggan. Dengan melakukan beberapa kegiatan yang memastikan kesesuaian produk dengan memperbaiki kefektifan sistem manajemen mutu. (Jurnal ISO, 2011)

E. Peraturan Pemerintah Terhadap Ekspor Rotan

Hambatan-hambatan perdagangan, sebagaimana berlaku terhadap produk-produk lain yang melintasi perbatasan antar negara, juga berpengaruh terhadap perdagangan hasil hutan. Hambatan tersebut beragam bentuknya, dari pengenaan tariff sampai sampai hambatan non-tariff. Kedua bentuk hambatan perdagangan tersebut diberlakukan oleh negara-negara pengimpor maupun pengekspor dengan berbagai macam maksud dan tujuan. Dengan itu pemerintah mengeluarkan kebijakan tentang ekspor rotan :

1. Permendag RI Nomor 35/M-DAG/PER/11/2011

Dalam rangka pemanfaatan rotan secara berkesinambungan dan menjaga ketersediaan bahan baku bagi industri produk rotan serta mendukung peningkatan ekspor produk industri rotan, perlu dilakukan pengaturan mengenai ketentuan ekspor rotan dan produk rotan. Permendag No. 35/M-DAG/PER/11/2011 mengatur mengenai larangan bahan baku.

2. Permendag RI Nomor 36/M-DAG/PER/11/2011

Bahwa kondisi geografis Indonesia sebgai negara kepulauan yang lautnya berbatasan langsung dengan negara lain, terbuka peluang

(35)

commit to user

terjadinya penyelundupan komoditi asal Indonesia khususnya rotan ke negara lain dengan modus pengangkutan antar pulau, serta untuk menghindari terjadinya penyelundupan rotan dan menjaga ketersediaan bahan baku industri barang jadi rotan dalam negeri serta pemanfaatan

rotan secara berkesinambungan, perlu dilakukan pengaturan

pengangkutan rotan antar pulau. Permendag No.

36/M-DAG/PER/11/2011 yang mengatur tentang kewajiban verifikasi.

3. Permendag RI Nomor 37/M-DAG/PER/11/2011

Bahwa dengan adanya kebutuhan instrumen untuk mengatasi resiko dan akses pembiayaan bagi dunia usaha, perlu mengatur kembali barang yang dapat disimpan di Gudang dalam Sistem Resi Gudang. Sejauh ini untuk rotan sangat sulit direalisasikan karena secara fakta gudang tidak tersedia. Disisi lain belum ada bank yang mau memberi kredit dengan mekanisme resi gudang.

4. Peraturan Dirjen Nomor 09/PDN/PER01/2012

Disebutkan bahwa dalam hal pengirim atau penerima pengangkutan rotan antar pulau yang dilakukan oleh pelaku usaha yang sama, tidak harus melampirkan faktur penjualan, namun wajib melampirkan surat pernyataan bahwa pengirim dan penerima dilakukan oleh pelaku usaha yang sama.

Untuk kegiatan Verifikasi Pengangkutan Rotan Antar Pulau, telah diterbitkan Peraturan Dirjen Perdagangan Dalam Negeri No.09/PDN/PER01/2012 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Kegiatan Verifikasi Rotan Dalam Rangka Pengangkutan Antar Pulau yang antara

(36)

commit to user

lain berisi, bahwa petani/pengumpul rotan dapat melakukan perdagangan antar pulau tanpa harus berbentuk badan usaha. Kemudian, pelaku usaha yang bertindak sebagai pengirim dan penerima (pelaku usaha yang sama) tidak wajib melampirkan invoice akan tetapi wajib melampirkan surat pernyataan yang menyatakan bahwa pengirim dan penerima dilakukan oleh pelaku usaha yang sama.

Tujuan diterbitkankannya Permendag tersebut guna mempersempit kemungkinan celah terjadinya perdagangan atau pengangkutan rotan illegal ke luar negeri dengan dalih antar pulau. Dan semangatnya adalah memastikan rotan itu agar tidak digunakan sesuai dengan peruntukannya untuk industry dalam negeri. Permendag yang dikeluarkan oleh pemerintah merupakan suatu niat baik guna melakukan hilirisasi rotan di Indonesia. Hilirisasi ini nantinya akan berdampak positif pada nilai tambah terhadap pendapatan negara.

(37)

commit to user

BAB III

DESKRIPSI OBYEK PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Obyek Penelitian

1.Sejarah dan Perkembangan CV Tunas Jaya di Sukoharjo

CV. Tunas Jaya adalah perusahaan yang bergerak di bidang furnitur yang memproduksi barang dari Rattan, Synthetic, Full Kayu dan kombinasi produk dari perpaduan material antara rotan dan kayu. Didirikan dengan Akte Notaris Ny. Wirati Kendarto, SH. Di Sukoharjo pada tanggal 12 Februarui 1999 dan didaftarkan di Pengadilan Negeri Sukoharjo pada tanggal 17 Februari 1989 dan telah mengalami perubahan, perubahan terakhir sesuai akta notaris Ny. Wirawati Kendarto, SH tanggal 12 Januari 2007 di Sukoharjo. Adapun lokasinya di Solo tepatnya di kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah.

Dengan orientasi export ke luar negeri seperti di wilayah Eropa, Asia, Australia, Amerika, Afrika. Dengan adanya pangsa pasar yang luas dan tingkat persaingan yang tinggi CV Tunas Jaya berusaha memproduksi barang yang berkualitas sesuai yang dipersyaratkan pelanggan dan memberikan harga yang kompetitif supaya dapat masuk pasar dalam jaringan dunia. Selain itu, CV. Tunas Jaya juga membangun industri rotan yang tangguh, efisien dan berkewirausahaan yang tinggi yang dapat memanfaatkan secara maksimum potensi welfare dari sumberdaya rotan secara lestari. Berikut uraian detil perusahaan :

(38)

commit to user a. Profile Perusahaan

Nama Perusahaan : CV. Tunas Jaya

Produksi : Natural Rattan, Synthetic Rattan, Full Kayu dan

kombinasi antara Rattan dan Kayu

Berdiri : Tahun 1999

Alamat : Jln. Luwang Gatak, Sukoharjo 57557 Solo, Jawa

Tengah, Indonesia

Luas Pabrik : ± 7600 m2

Pekerja : ± 100 orang

Direktur / Pemilik : Bapak Suyamdi

b. Contact Person Telp : (0271) 782930 / (0271) 782332 Fax : (0271) 782930 Email : [email protected] [email protected] Website : www.indahjayarattan.com c. Spesifikasi produk

Spesialis : Natural Rattan, Synthetic Rattan, Full Kayu dan kombinasi antara Rotan dan Kayu

Material Anyam : Rotan Fitrit, Rotan Kubu, Kubu Grey, Banana,

Seagrass, Enceng Gondok, Synthetic

Material Kayu : Mahogani dan Jati

Kondisi Kayu : Kering dengan MC max ± 15

(39)

commit to user

Skala Usaha : Besar (ekspor)

Ekspor :Wilayah Asia, Eropa, Amerika, Australia, Afrika.

2. Perijinan dan Legalitas Perusahaan

CV. Tunas Jaya dalam menjalankan usahanya dilengkapi dengan berbagai kelengkapan usaha seperti :

a. Surat Ijin Usaha Dagang (SIUP)

SIUP dengan Nomor 001/11.35/PB/X/2007 tanggal 09 Januari 2007 yang dikeluarkan oleh Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan Penanaman Modal Pemerintah Kabupaten Sukoharjo. b. Ijin Usaha Industri Besar

Pada tanggal 12 Januari 2007ijin usaha industri besar dengan nomor 530/01/IB.B/I/2007 dikeluarkan oleh Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan Penanaman Modal Pemerintah Kabupaten Sukoharjo.

c. Tanda Daftar Perusahaan (TDP)

TDP No. 113535100353 tertanggal 09 Januari 2007 yang dikeuarkan oleh Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan Penanaman Modal Pemerintah Kabupaten Sukoharjo.

c. Ijin Gangguan (HO)

Berdasarkan keputusan Bupati Sukoharjo Nomor ijin Ganggoan CV. Tunas Jaya adalah 503/458/XII/2006.

d. Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP)

NPWP dari Kantor Peayanan Industri Kehutanan (ETPIK) Nomor 164i/DJ-DAGLU/ETPIK/III/2003 tanggal 21 Maret 2003 yang

(40)

commit to user

dikeluarkan Departemen Perindustrian dan Perdagangan Direktorat Jendral Perdagangan Luar Negeri.

3. Struktur Organisasi CV. Tunas Jaya

Adapun struktur organisasi pada CV. Tunas Jaya dapat kita lihat pada gambar 3.1 di bawah ini.

Gambar 3.1 Bagan Struktur Organisasi CV Tunas Jaya

Sumber : CV. Tunas Jaya

Kabag Maintenance Pimpinan Wakil Pimpinan Kabag QC Anyam Luar Kabag QC Anyam Rangka Kabag QC Anyam Dalam Kabag Marketing Hub. Luar Kabag Doc. Ekspor & Hub.

Dalam Kabag Produksi

Kabag Adm. & Personalia Kabag Pengadaan Bahan Div. Busa Div. Packing Div. Cat Div Finishing Security Kebersihan Div. Stuffing

(41)

commit to user

Tabel 3.1 Keterangan Struktur Organisasi CV. Tunas Jaya

No Nama Jenis Kelamin Jabatan Pendidikan Masa Kerja

1 Suyamdi Laki-laki Pimpinan SMU 16 th

2 Supriyatin Perempuan Wakil Pimpinan SMU 16 th

3 Sularmi Perempuan Kabag Administrasi D III 6 th

4 Anik Susanti Perempuan Kabag Marketing Doc

Ekspor & Hub. Dalam

S I 2 th

5 Sitka Nurohmi Perempuan Kabag Marketing Hub.

Luar

SMU 2 th

6 Amini Perempuan Kabag Produksi SMU 4 th

7 Ernawati Perempuan Kabag Pengadaan Bahan SMP 8 th

8 Jarot Laki-laki Kabag Maintenance SMP 7 th

9 Budi Wiyono Laki-laki Pelaksana Bagian

Maintenance

STM 4 th

10 Tri Widodo Laki-laki Kabag QC Anyam Luar SMP 2 th

11 Teguh Laki-laki Kabag QC Anyam Rangka SMP 12 th

12 Jumadi Laki-laki Kabag QC Anyam SMU 9 th

13 Hartini Perempuan Kabag QC Dalam SMP 7 th

14 Yudi H. Laki-laki Pelaksana Divisi Busa SMU 9 th

15 Tri Ngesti W. Laki-laki Pelaksana Divisi Finishing STM 7 th

16 Sri Hastuti Perempuan Pelaksana Divisi Cat SMU 3 th

(42)

commit to user

18 Joko Sukamto Laki-laki Pelaksana Stuffing SMU 2 th

19 Suryanto Laki-laki Pelaksana Security STM 7 th

20 Suryadi Laki-laki Pelaksana Security SMP 3 th

21 Sumarni Perempuan Pelaksana Security SD 7 th

22 Rahayu Perempuan Pelaksana Kebersihan SD 9 th

23 Harjanti Perempuan Pelaksana Kebersihan SD 8 th

Sumber : CV. Tunas Jaya

Tanggung jawab karyawan :

a. Pimpinan

Memantau, mengendalikan dan meloloskan kualitas produk mulai dari pengadaan bahan/bahan pembantu, selama proses, finishing dan produk jadi.

b. Wakil Pimpinan

Bertanggung jawab tentang pengendalian dokumen, kegiatan audit internal, melaksanakan kegiatan koreksi dan pencegahan serta evaluasinya untuk melaksanakan segala perbaikan yang diperlukan.

c. Kabag. Maintenance

Bertanggung jawab dalam pelaksanaan kegiatan perawatan rutin sesuai jadwal perawatan yang sudah ditentukan dan melakukan perbaikan peralatan berdasarkan informasi dari bagian yang membutuhkan.

d. Kabag. Quality Control Anyam Luar

Melakukan kegiatan pemantauan dan pengukuran produk anyam yang berasal dari proses outsourcing yang sesuai dengan persyaratan

(43)

commit to user pelanggan.

e. Kabag. Quality Control Anyam Rangka

Mengecek ulang hasil rangka yang sudah jadi untuk menentukan jarak rangka dengan bahan yang digunakan sesuai dengan permintaan.

f. Kabag. Quality Control Anyam Dalam

Melakukan kegiatan pemantauan produk anyam dan produk jadi sebelum packing.

g. Kabag. Marketing Hubungan Luar

Memasarkan produk ke luar negeri dan berkomunikasi dengan pelanggan di luar negeri mengenai pesanan furnitur.

h. Kabag. Marketing Dokumen Ekspor dan Hubungan Dalam

Bertanggung jawab terhadap pelaksanaan presevasi produk selama di gudang produk jadi kemas serta mengurus semua dokumen-dokumen dalam kegiatan ekspor perusahaan.

i. Kabag. Produksi

Bertanggung jawab terhadap kegiatan pengendalian atas produk bahan baku rangka kayu dan anyam hasil outsourcing serta produk jadi yang tak sesuai.

j. Kabag. Administrasi dan Personalia

Bertanggung jawab atas segala biaya perusahaan yang masuk maupun keluar setelah proses ekspor terjadi.

k. Kabag. Pengadaan Bahan

Bertanggung jawab atas ketersediaan bahan baku maupun bahan pembantu dalam proses produksi furnitur rotan dan terhadap

(44)

commit to user

pelaksanaan pembuatan bahan baku untuk kubu grey. l. Divisi Stuffing

Bertanggung jawab terhadap masuknya barang dalam kontainer, menghitung jumlah sesuai pesanan, sistem penataan barang dan pemberian absorb dry.

m. Divisi Busa

Membuat cushion dimulai dari pemotongan kain dan busa, kemudian proses penjahitan sampai menjadi cushion.

n. Divisi Packing

Bertanggung jawab dalam proses packaging supaya barang benar-benar terlindungi dengan menggunakan single face ataupun karton box sesuai yang dipersyaratkan pelanggan.

o. Divisi Cat

Bertanggung jawab dalam pembuatan / pencampuran cat yang akan digunakan dalam proses pengecatan.

p. Divisi Finishing

Melakukan proses finishing dari mulai proses amplas, sanding, pengecatan, pewarnaan dengan spray clear, balancing, dan terakhir proses dengan meja kontrol supaya barang presisi

q. Security

Bertanggung jawab atas keamanan pabrik dan penerimaan tamu serta pencatatan siapa saja tamu yang datang.

r. Kebersihan

(45)

commit to user hari.

4. Produk yang dihasilkan

Gambar 3.2 Kursi Makan (Dining Chair)

Sumber CV. Tunas Jaya

Gambar 3.3 Kursi Santai

(46)

commit to user

Gambar 3.4 Berbagai Model Arm Chair

Sumber CV. Tunas Jaya

Gambar 3.5 Macam Model Sofa pada Showroom CV. Tunas Jaya

(47)

commit to user Gambar 3.6 Keranjang (Basket)

Sumber CV. Tunas Jaya

B. PEMBAHASAN

1. Perkembangan Ekspor Rotan di CV Tunas Jaya

Tidak hanya memproduksi mebel berbahan kayu, industri rotan di Sukoharjo terhitung cukup maju dengan berkembangnya beberapa perajin. Industri ini pun sempat berjaya pada awal tahun 2000 dan menembus pasar internasional dengan pengiriman ekspor ke Amerika Serikat dan Eropa. Kini, para perajin mulai mengembangkan wilayah cakupan ekspor ke Kanada dan Afrika Selatan dengan mengembangkan kreasi perabot rumah tangga yang tidak hanya terpatok pada warna dasar coklat pada kayu saja.

Kreasi berupa penggunaan cat warna-warna terang menjadi daya

tarik baru dalam industri mebel kayu ini. Perabot rumah tangga seperti kursi, meja, dan lemari menjadi jenis hasil mebel yang dominan dibuat oleh para perajin yang sebagian besar bermukim di Kecamatan Sukoharjo.

(48)

commit to user

perdagangan domestik selain harga jual yang lebih tinggi adalah adanya berbagai biaya yang muncul seperti biaya pengepakan, handling, transportasi, asuransi dan sebagaimana yang diatur dalam suatu kontrak perdagangan (sales contract).

Komponen biaya ekspor sangat beragam, hal ini tergantung dari

term apa yang digunakan dalam transaksi ekspor. Yang merupakan biaya ekspor antara lain adalah pembelian bahan baku, biaya produksi, biaya pemasaran, overhead cost, biaya bunga, transportasi, ungutan pemerintah, biaya administrasi, sertifikasi, biaya asuransi dan sebagainya.

Dibutuhkan minimal kerja dua tahun sehingga bisa dinilai kinerja perusahaan tersebut semakin membaik atau menurun. Perusahaan yang berskala besar dengan untung besar belum tentu sempurna kalau untuk mencapai keuntungan tersebut memerlukan kinerja modal yang besar, sehingga nilai nominal keuntungan bagus tapi presentasi profitnya kecil. Diperlukan kemahiran manajemen keuangan dalam menghitung profit atau laba perusahaan berdasarkan volume penjualan.

Tabel 3.2 Volume Penjualan 2011

Periode Triwulan Penjualan

I Rp. 658.872.400

II Rp. 723.521.765

III Rp. 938.887.652

IV Rp. 1.245.143.667

(49)

commit to user

Dari data volume penjualan 2011 di atas dapat kita simpulkan bahwa CV. Tunas Jaya mengalami peningkatan penjualan secara berkala. Walau mengalami kendala yang cukup memberatkan, namun CV. Tunas Jaya tetap dapat berjalan dan terus menurus meningkat.

Tujuan dalam setiap kegiatan bisnis adalah untuk mencari keuntungan. Dengan adanya keuntungan yang diperoleh perusahaan tersebut maka kelangsungan hidup perusahaan dapat terjamin, membayar gaji karyawan, membayar pajak kepada pemerintah, membeli peralatan dan mesin-mesin baru dan lain-lain. Dengan adanya revenue berupa laba yang diperoleh perusahaan maka perusahaan tersebut dapat memperluas usahanya melalui diversifikasi usaha dan restrukturisasi usaha sehingga usaha menjadi besar.

2. Kelebihan Ekspor Rotan di CV Tunas Jaya a. Sistem Manajemen

Dalam melakukan ekspor rotan CV. Tunas Jaya mempunyai komitmen untuk menghasilkan produk rotan sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku dan selalu berusaha memberikan kepuasan kepada pelanggan dengan menerapkan sistem manajemen mutu ISO 9001 : 2008 dan meninjau serta memperbaikinya secara berkelanjutan. Kebijakan ini dikomunikasikan untuk dapat dipahami oleh seluruh fungsi manajemen.

1) CV Tunas Jaya memiliki dokumentasi sistem manajemen yang mencakup pedoman mutu yang ditetapkan oleh organisasi untuk

(50)

commit to user

memastikan perencanaan, operasi, dan kendali proses secara efektif.

2) Menetapkan sebuah manual berisi tentang lingkup manajemen, prosedur, terdokumtasi, dan uraian interaksi antara proses-proses sistem manajemen mutu.

3) Membuat prosedur pengendalian dokumen yang terdokumentasi,

untuk menetapkan pengendalian yang diperlukan, meliputi:

a) Menyetujui dokumen akan kecukupannya sebelum

diterbitkan,

b) Meninjau dan memutakhirkan seperlunya dan menyetujui

ulang dokumen,

c) Memastikan bahwa perubahan dan status revisi dokumen

terkini dapat ditunjukkan,

d) Memastikan bahwa versi relevan dari dokumen yang

berlaku tersedia di tempat yang memerlukannya,

e) Memastikan dokumen selalu dapat dibaca dan mudah

diidentifikasi,

f) Memastikan bahwa dokumen yang berasal dari luar

organisasi dikenali dan distribusinya dikendalikan.

g) Mencegah pemakaian dokumen kedaluwarsa yang tidak

disengaja dan memberi identifikasi yang sesuai.

CV Tunas Jaya menetapkan dan memelihara rekaman untuk memberikan bukti kesesuaian dengan persyaratan dan beroperasinya sistem yang efektif. Prosedur terdokumentasi

(51)

commit to user

ditetapkan untuk menetapkan kendali yang diperlukan untuk identifikasi, penyimpanan, perlindungan, pengambilan, masa simpan, dan pemusnahan rekaman.

b. Kewajiban manajemen

Pimpinan CV Tunas Jaya memastikan bahwa tanggung jawab dan wewenang ditetapkan dan dikomunikasikan dalam organisasi. Pimpinan menunjuk Wakil Pimpinan sebagai Wakil Manajemen yang memiliki tanggung jawab dan wewenang dengan memastikan proses yang diperlukan untuk sistem manajemen. Wakil Pimpinan melaporkan kepada Pimpinan tentang kinerja sistem manajemmen dan kebutuhan apapun untuk perbaikan serta memastikan promosi tentang persyaratan pelanggan.

a) Memberi bukti komitmen mutu serta perbaikan keefektifan

b) Memastiakn bahwa persyaratan yang ditetapkan dan dipenuhi dengan sasaran untuk meningkatan kepuasan pelanggan.

c) Kebijakan mutu yang sesuai dengan sasaran untuk memenuhi persyaratan agar terus menerus sesuai.

d) Perencanaan untuk memenuhi persyaratan produk

e) Memastikan proses komunikasi yang sesuai telah ditetapkan dengan terjadinya komunikasi mengenai keefektifan sistem manajemen.

Dengan evaluasi dari order yang sedang berjalan dari wakil pimpinan dan bagian pemasaran hubungan dalam dan dokumen ekspor kesemua bagian terkait, menggunakan surat perintah kerja,

(52)

commit to user

laporan hasil produksi mingguan dan laporan mingguan pengeluaran bahan baku rangka anyam dan pemasukan produk anyam.

Meninjau sistem manajemen mutu organisasi,satu tahun sekali, untuk memastikan kesesuaian, kecukupan dan keefektifan terus berlanjut. Tinjauan manajemen mencakup penilaian peluang perbaikan dan keperluan akan perubahan pada sistem manajemen mutu. Informasi berisi hasil audit, perubahan dan saran-saran untuk perbaikan.

c. Sumber Daya

CV Tunas Jaya menyediakan sumber daya guna

meningkatkan kepuasan pelanggan dengan memenuhi persyaratan pelanggan.

1) Sumber Daya Manusia

Karyawan CV Tunas Jaya memiliki kompetensi dasar atas pendidikan, pelatihan, keterampilan dan pengalaman yang sesuai. CV Tunas Jaya menyediakan pelatihan atau melakukan tindakan lain untuk memenuhi kebutuhan. Memastikan bahwa personelnya sadar akan relevansi dan pentingnya kegiatan mereka dengan menilai keefektifan tindakan yang dilakukan.

Mengelola lingkungan kerja yang diperlukan untuk mencapai kesesuaian persyaratan produk, sedangkan untuk lingkungan kerja proses pengamplasan ditetapkan pemaiakan masker bagi karyawan pengamplasan.

(53)

commit to user

CV Tunas Jaya menyediakan bahan baku rotan pilihan yang berkwalitas, dengan menggunakan rotan yang sudah mendapatkan ijin dari pemerintah, bukan ilegal. Rotan yang digunakan sudah melalui proses verifikasi.

3) Prasarana

CV Tunas Jaya menyediakan dan memelihara prasarana yang diperlukan untuk mencapai kesesuaian pada persyaratan produk. Prasarana tersebut mencakup gedung, ruang kerja, peralatan proses, serta jasa pendukung (angkutan, komunikasi dan sistem informasi)

d. Proses

CV Tunas Jaya merencanakan dan mengembangkan proses yang diperlukan untuk realisasi produk. Perencanaan realisasi produk konsisten dengan persyaratan proses-proses. Dalam merencanakan realisasi produk, melakukan kegiatan verifikasi, pemantauan, inspeksi dan uji yang spesifik bagi produk dan kriteria kelayakan produk.

1) Proses yang berkaitan dengan pelanggan

Meninjau persyaratan berkaitan dengan produk.

Tinjauan ini dilakukan sebelum komitmen perusahaan untuk memasok produk kepada pelanggan, misalnya penyampaian penawaran, penerimaan kontrak atau pesanan, penerimaan perubahan pada kontrak atau pesanan.

Dalam komunikasi dengan pelanggan menerapkan pengaturan yang efektif, seperti informasi produk, pertanyaan,

(54)

commit to user

penanganan kontrak atau pesanan, umpan balik pelanggan, dan keluhan.

2) Perencanaan Desain dan pengembangan

Perusahaan mengelola bidang temu antara kelompok berbeda yang berkait dalam desain dan pengembanngan untuk memastikan keefektifan komunikasi dan kejelasan penugasan tanggung jawab. Perencanakan desain dan pengembangan produk dengan mentapkan:

a) Tahapan desain dan pengembangan

b) Tinjauan, verifikasi dan pembenaran yang sesuai bagi tiap

tahap dan pengendalian perubahan desain dan

pengembangan

c) Tanggung jawab dan wewenang untuk desain dan

pengembangan

3) Pembelian

Perusahaan menerapkan inspeksi atau kegiatan lain yang diperlukan untuk memastikan bahwa produk yang dibeli memenuhi persyaratan pembelian yang ditentukan, tetapi CV Tunas Jaya belum bermaksud untuk melakukan verifikasi ditempat pemasok.

4) Produksi

CV Tunas Jaya merencanakan dan melaksanakan produk dalam keadaan terkendali. Kondisi terkendali mencakup, jika

(55)

commit to user berlaku :

a) Ketersediaan informasi yang menguraikan karakteristik

produk

b) Ketersediaan intruksi kerja, secukupnya

c) Pemakaian peralatan yang sesuai

d) Ketersediaan dan pemakaian sarana pemantauan dan

pengukuran

e) Implementasi pemantauan dan pengukuran

f) Implementasi kegiatan pelepasan, penyerahan dan pasca penyerahan

Mengidentifikasi bahan baku dengan pemberian kode berdasarkan nama pemasok, jenis bahan baku dan tanggal produksinya

Contoh :

Nama pemasok : Bu Riana = R Kode bahan baku : Banana 5/6 = 1

Tanggal produksi : 16 januari 2012 = 10012012

Contoh : untuk nama pemasok Bu Riana dengan bahan baku Banana 5/6 dan diproduksi tanggal 16 januari 2012 : R-1-16012012

CV Tunas Jaya juga mengidentifikasi produk akhir yang berkaitan dengan status pemantauan lolos uji dengan menempelkan label pada masing-masing produk jadi yang sudah dikemas.

(56)

commit to user

Contoh : No :1 (menyatakan nomor urut jumlah produk yang akan dikirim)

Description : CT POOF INSTALL (menyatakan nama produk)

Material : Half Rattan Grey (menyatakan jenis bahan yang

dipakai untuk anyam)

Frame : Rattan (menyatakan bahan untuk rangka)

QTY : 1 pcs (menyatakan jumlah produk dalam tiap kemasan)

Buyer : C-J (menyatakan nama buyer)

No Barcode diletakkan sebelah kanan bawah apabila di

persyaratkan oleh pelanggan untuk produk akhir sebelum dikemas yang tidak lolos uji diidentifikasi dengan menggunakan

sticker bertanda merah yang ditempelkan pada produk tersebut

dan diletakkan di lokasi tersendiri.

Untuk memastikan bahwa pemantauan dan pengukuran dapat dilakukan dengan konsisten sesuai dengan persyaratan

pemantauan dan pengukuran, maka diperlukan untuk

memastikan keabsahan hasil dengan:

a) Diverifikasi pada selang waktu tertentu atau sebelum dipakai, terhadap standar pengukuran yang tertelusur ke standar pengukuran internasional atau nasional. Bila standar seperti itu tidak ada, dasar yang dipakai untuk kalibrasi atau verifikasi akan direkam.

b) Dilindungi dari kerusakan dan penurunan mutu selama

(57)

commit to user

c) Rekaman hasil kalibrasi dan verifikasi akan dipelihara

e. Pengukuran, Analisis dan Perbaikan

1) Pemantauan dan pengukuran

Memantau informasi berkaitan dengan persepsi

pelanggan, apakah organisasi telah memenuhi persyaratan pelanggan. Metode yang digunakan adalah survey kepuasan dan masukan pelanggan dengan menggunakan kuisioner. Pelepasan produk atau penyerahan jasa tidak boleh dilanjutkan sampai

semua pengaturan yang terencana diselesaikan secara

memuaskan, kecuali kalau disetujui oleh kewenangan yang relevan, apabila memungkinkan disetujui oleh pelanggan.

2) Pengendalian produk yang tidak sesuai

CV Tunas Jaya memastikan bahwa produk yang sesuai persyaratan produk untuk mencegah pemakaian atau penyerahan yang tidak dikehendaki dengan cara melakukan tindakan untuk menghilangkan ketidaksesuaian dilakukan verifikasi ulang untuk memperagakan kesesuaian.

3) Analisis Data

Menganalisis data yang sesuai untuk kefektifan serta mengevaluasi apakah perbaikan dapat dilakukan. Informasi berkaitan dengan kepuasan pelanggan, kesesuaian pada persyaratan produk, karakteristik dan kecenderungan proses dan produk termasuk peluang untuk tindakan pencegahan.

(58)

commit to user

4) Perbaikan

Terus menerus memperbaiki keefektifan sistem dengan melakukan pemakaian hasil audit, analisis data, tindakan korektif dan preventif dan tinjauan manajemen.

3. Hambatan Ekspor Rotan Akibat Peraturan Menteri

Realitanya pada tahun 1998 peningkatan ekspor rotan bangkit hingga Bapak Suyamdi mempunyai inisiatif untuk membangun CV. Tunas Jaya yang mengekspor produk furnitur rotan. Alhasil, usahanya berjalan sangat lancar dan sukses. Dan berdampak pada produsen rotan yang mengalami penurunan ekspor rotan mentahnya.

Kebijakan perdagangan pembukaan kran ekspor rotan mentah dan setengah jadi akan berdampak pada meningkatnya produksi rotan mentah dan harga keseimbangan. Sampai disini CV Tunas Jaya merasakan kelangkaan bahan baku industri. Berhubung volume rotan mentah yang diserap menurun, maka dengan probabilitas yang tinggi ekspor barang jadi dari rotan akan mengalami penurunan pula. Penurunan ekspor produk rotan jadi ini mungkin masih diperparah dengan tekanan produk sejenis yang diproduksi di negara lain (seperti China, Jerman, Vietnam, dll) dengan bahan baku rotan mentah dari Indonesia.

Implementasi Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) terkait rotan dinilai menyusahkan pengusaha rotan. Permendag itu adalah Permendag Nomor 35/M-DAG/PER/11/2011 tentang Ketentuan Ekspor Rotan dan Produk Rotan, Permendag Nomor 36/M-DAG/PER/11/2011

(59)

commit to user

tentang Pengangkutan Rotan Antar Pulau. Ada beberapa implementasi Permendag terkait rotan yang dinilai menyusahkan pengusaha.

Dalam pelaksanaan terhadap peraturan baru, pemerintah menyerahkan ke ahlinya yakni surveyor yang akan melakukan verifikasi pengangkutan rotan antar pulau. Surveryor ini diberi tugas untuk memastikan bahwa segala pergerakan rotan itu tercatat dengan baik.

Dalam proses produksi yang perlu diperhatikan terhadap peraturan pemerintah adalah proses fumigasi. Proses fumigasi Untuk barang yang diwarnai atau finishing menggunakan melamin harus di akhis duliu sebelum finishing (untuk mematikan hama)

Proses Stuffing / Loading Container yang perlu diperhatikan:

a. SI (Shipping Intruction)

b. Forwader (Perusahaan Pengapalan) dan EMKL (Ekspedisi Muatan

Kapal Laut)

c. DO (Delivery Order)

d. Sebelum Stuffing LS (Laporan Survior) Sucofindo

1) Invoice

2) Packing List

3) Form PPBE

Setelah itu Sucofindo datang. Melakukan pengecekan barang pada saat pemuatan kedalam kontainer dengan mengecek barang satu per satu dan diberi stiker (stiker berlogo sucofindo) sebagai tanda sudah dicek. Selesai Stuffing petugas sucofindo menerbitkan LS.

(60)

commit to user

Jika pada saat pengajuan tidak sesuai dengan keterangan, kemudian masuk ke kontainer, maka eksportir harus merivisi PPBE dan diajukan lagi ke sucofindo baru terbit LS yang benar

LS dibawa ke Bea Cukai (dibawa EMKL) / customer Bea Cukai.

Untuk masuk ke Bea Cukai EMKL harus membawa LS dan melalui

Scaner untuk box Container sampai Countainer masuk kapal dan hingga

countainer sudah berangkat.

Untuk forwarder memberikan Draft B/L untuk dicek

shipper/eksportir tentang Nomor kontainer dan data diretur, kalau benar

data di fax/ diemail ke forwarding kemudian B/L original terbit. Setelah itu diberikan ke EMKL untuk proses COO. Untuk COO diterbikan menurut keinginan buyer.

Kendala Eksportir:

a. Hari sabtu tidak boleh stuffing (sabtu minggu libur). Padahal stuffing

menyesuaikan jadwal dari buyer

b. Menghambat proses stuffing

Masalah waktu kita harus antri dikarenakan terbatasnya petugas SUCOFINDO dan harus menunggu perusahaan lain menyelesaikan

stuffing.

c. LS terbit terlambat

Seharusnya dr pemerintah LS terbit pada saat proses stuffing

d. Sama dengan CV Tunas Jaya 2x Kerja karena prosesnya sangat berbelit-belit

(61)

commit to user

BAB IV PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan penelitian dan analisis data yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa :

1. Berdasarkan data volume penjualan 2011 CV Tunas Jaya di Sukoharjo terus menerus meningkat. Meningkatnya penjualan secara berkala menyimpulkan bahwa CV Tunas Jaya mengalami perkembangan volume penjualan.

2. CV Tunas Jaya bertanggung jawab dalam menjamin kualitas suatu produk. Adanya SDM yang berlatih untuk mendukung berjalannya proses produksi untuk meningkatkan kepuasan pelanggan. CV Tunas Jaya menggunkan bahan baku dan proses yang sudah melalui persyaratan prosedur. Analisis digunakan untuk meninjau dari desain sampai produk jadi untuk kesesuaian produk.

3. Permendag Nomor 35/M-DAG/PER/11/2011 mengatur mengenai

larangan bahan baku menyebabkan kelangkaan bahan baku yang

berakibat mahalnya bahan baku rotan. Permendag Nomor

36/M-DAG/PER/11/2011 yang mengatur tentang kewajiban verifikasi, di mana selama ini Sucofindo selaku pihak surveyor berbelit-belit dalam birokrasi. Pemeriksaan secara teknis adalah hal yang berlebihan sehingga menimbulkan biaya yang tinggi. CV Tunas Jaya sangat merugi karena menyulitkan proses kerja. Sucofindo menyulitkan eksportir dalam

(62)

commit to user

syarat-syarat yang berlaku tanpa adanya kebijakan yang menguntungkan eksportir.

B. Saran

Sesuai dengan kesimpulan diatas, maka saya dapat mengambil suatu saran :

1. Perkembangan ekspor rotan yang semakin menguntungkan, sebaiknya

sebagian dari keuntungan tersebut dialokasikan dengan menambah

pemasaran yang berdampak bertambahnya permintaan atau

memperluasan pemasaran dan diinvestasikan.

2. Dalam muatan produk lebih teliti agar produk tetap terjamin kualitasnya. Dokumen dan Perintah kerja memuat spesifikasi detail perintah/produk untuk mencapai hasil sesuai dan tepat waktu agar mencapai kepuasan pelanggan. Produk yang dihasilkan lebih variatif dan menambah pemasaran disegala aspek.

3. Khusus Permendag Nomor 36 M-DAG/PER/11/2011 agar pemerintah

segera memperbaiki birokrasi di Indonesia. Terutama istem birokrasi Sucofindo masih terlalu berbelit-belit. Seharusnya pemerintah telah mempersiapkan terlebih dahulu infrastuktur agar tidak terjadi keributan setelah implementasinya. Semua itu menjadi tugas pemerintah untuk memperbaiki agar birokrasi menjadi lebih mudah.

Gambar

Gambar 3.1 Bagan Struktur Organisasi CV Tunas Jaya
Tabel 3.1 Keterangan Struktur Organisasi CV. Tunas Jaya
Gambar 3.2 Kursi Makan (Dining Chair)
Gambar 3.5 Macam Model Sofa pada Showroom CV. Tunas Jaya
+2

Referensi

Dokumen terkait

Kritik Refeksi; salah satu langkah di dalam penelitian kualitatif pada umumnya, dan khususnya PTK ialah adanya upaya refleksi terhadap hasil observasi mengenai latar dan kegiatan

[r]

Berdasarkan hal tersebut pendidikan dan pelatihan harus dilakukan agar pegawai memiliki pengetahuan, kemampuan dan sikap kerja, sehingga pegawai dapat menunjukkan kompetensi

Jakarta, 19 Februari 2013 Unit Layanan Pengadaan Kementerian Perindustrian Kelompok Kerja

Setiap lingkungan sosial budaya yang berbeda dan reaksi yang berbeda akan menghasilkan persepsi yang berbeda pula (Markovsky diacu dalam Suryani (2004). Para orang tua nelayan

Why do you suppose the author only told students in the second study about the previous students’ proving errors and did not tell them how to correct them.. Which areas of proof

[r]

Ditinjau dari segi cara merumuskannya, sasaran khusus pembelajaran dapat diartikan sebagai hasil belajar yang dirumuskan secara rinci.3.2 Uraian Isi pembelajaranUraian isi