43
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Penelitian
Bab ini memaparkan hasil dan pembahasan penelitian mengenai pengaruh
Return On Assets (ROA), Return On Equity (ROE) dan Economic Value Added
(EVA) terhadap Return Saham pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa
Efek Indonesia. Perusahaan meliputi 20 perusahaan sektor manufaktur yang terdaftar
di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2008-2012. Adapun unit analisisnya dapat
dilihat pada tabel berikut :
Tabel 4.1
Industri Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2008-2012
No Kode Nama Emiten
1 ASII PT. Astra International Tbk
2 AUTO PT. Astra Otoparts Tbk
3 BATA PT. Sepatu Bata Tbk
4 BRAM PT. Indo Kordsa Tbk
5 DLTA PT. Delta Djakarta Tbk
6 GDYR PT. Goodyear Indonesia Tbk
7 GGRM PT. Gudang Garam Tbk
8 HMSP PT. HM Sampoerna Tbk
9 INDF PT. Indofood Sukses Makmur Tbk
10 INTP PT. IndocementTunggal Prakarsa Tbk
11 KLBF PT. Kalbe Farma Tbk
12 LION PT. Lion Metal Works Tbk
13 LMSH PT. Lionmesh Prima Tbk
14 MLBI PT. Multi Bintang Indonesia Tbk
15 MRAT PT. Mustika Ratu Tbk
16 SCCO PT. Supreme Cable Manufacturing & Corporation Tbk 17 SMGR PT. Semen Indonesia (Persero) Tbk
18 SMSM PT. Selamat Sempurna Tbk
19 TSPC PT. Tempo Scan Pasific Tbk
20 UNVR PT. Unilever Indonesia Tbk
Sumber : Indonesian Capital Market Directory (diolah kembali)
4.1.1 Perkembangan Return On Assets (ROA) pada Industri Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2008-2012
Return On Assets (ROA) merupakan salah satu rasio yang dapat digunakan
dalam mengukur tingkat keuntungan yang diperoleh perusahaan. ROA yang tinggi
menunjukkan bahwa total asset perusahaan menghasilkan laba bersih yang tinggi bagi
para pemegang saham biasa. Data untuk variabel ROA diperoleh dari laporan
keuangan di Indonesian Capital Market Directory (ICMD). Berikut ini kondisi ROA
masing-masing perusahaan periode 2008-2012 :
Tabel 4.2
Return On Assets (ROA) pada Industri Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2008-2012
No Kode Nama Emiten 2008 2009 2010 2011 2012
1 ASII PT. Astra International Tbk 19.03 18.44 18.64 16.79 15.31
2 AUTO PT. Astra Otoparts Tbk 19.39 20.39 24.96 18.02 14.22
3 BATA PT. Sepatu Bata Tbk 56.92 17.2 17.46 15.22 12.89
4 BRAM PT. Indo Kordsa Tbk 9.62 9.92 14.33 7.41 8.43
5 DLTA PT. Delta Djakarta Tbk 8.24 8.77 12.25 12.44 10.62
6 GDYR PT. Goodyear Indonesia Tbk 0.65 15.02 6.75 2.39 6.26
7 GGRM PT. Gudang Garam Tbk 11.03 17.73 18.32 16.92 9.96
8 HMSP PT. HM Sampoerna Tbk 35.93 40.72 42.62 56.31 43.62
9 INDF PT. Indofood Sukses Makmur
Tbk 6.57 10.06 11.49 11.85 8.77
10 INTP PT..IndocementTunggal
Prakarsa Tbk 20.67 28.59 27.68 25.94 27.42
11 KLBF PT. Kalbe Farma Tbk 22.55 20.65 22.69 25.18 19.1
13 LMSH PT. Lionmesh Prima Tbk 22.67 5.34 13.19 15.45 35.45
14 MLBI PT. Multi Bintang Indonesia
Tbk 33.35 47.56 52.25 55.74 52.71
15 MRAT PT. Mustika Ratu Tbk 8.98 7.9 8.53 8.69 5.08
16 SCCO
PT. Supreme Cable
Manufacturing & Corporation Tbk
2.23 1.93 7.15 9.97 12.47
17 SMGR PT. Semen Indonesia (Persero)
Tbk 33.85 35.94 30.35 25.89 23.66
18 SMSM PT. Selamat Sempurna Tbk 15.45 19.74 19.19 24.59 4.61
19 TSPC PT. Tempo Scan Pasific Tbk 14.86 14.73 17.54 17.41 14.98
20 UNVR PT. Unilever Indonesia Tbk 53.01 56.76 52.16 53.18 39.46
Maksimal 56.92 56.76 52.25 56.31 52.71
Minimal 0.65 1.93 6.75 2.39 4.61
Rata-rata 20.88 20.70 21.70 21.89 19.17
Sumber : Indonesian Capital Market Directory (diolah kembali)
Tabel 4.2 menunjukkan perkembangan perusahaan sektor manufaktur selama
periode 2008-2012, yang dapat dijelaskan sebagai berikut :
Pada tahun 2008 rata-rata perkembangan Return On Assets (ROA) perusahaan
sebesar 20.88%, perusahaan yang memiliki tingkat ROA tertinggi yaitu PT. Sepatu
Bata Tbk sebesar 56.92%. Artinya kemampuan perusahaan dalam meningkatkan
prfofitabilitas cukup baik sehingga mampu meyakinkan investor untuk menanamkan
sahamnya. Sedangkan yang memiliki nilai ROA terendah yaitu PT. Goodyear
Indonesia Tbk dengan tingkat sebesar 0.65%. Penyebab rendahnya ROA dikarenakan
yaitu modal sendiri yang menurun pada perusahaan tersebut. Sehingga rendahnya
profitabilitas akan mengakibatkan rendahnya pula kepercayaan investor pada
perusahaan tersebut. Sedangkan disisi lain, investor mengharapkan profitabilitas pada
semakin tinggi laba yang akan didapatkan oleh investor dalam berinvestasi. Modal
sendiri investor relatif stabil walaupun ROA menurun.
Pada tahun 2009 rata-rata perkembangan perusahaan sebesar 20.70% yang
meningkat dari tahun sebelumnya, perusahaan yang memiliki tingkat ROA tertinggi
yaitu PT. Unilever Indonesia Tbk sebesar 56.76%. Sedangkan yang memiliki nilai
ROA terendah yaitu PT. Supreme Cable Manufacturing & Corporation Tbk sebesar
1.93%.
Pada tahun 2010 rata-rata perkembangan ROA perusahaan sebesar 21.70%,
perusahaan yang memiliki tingkat ROA tertinggi yaitu PT. Multi Bintang Indonesia
Tbk sebesar 52.25% yang meningkat dari tahun sebelumnya. Sedangkan yang
memiliki nilai terendah yaitu PT. Goodyear Indonesia Tbk dengan tingkat
profitabilitas sebesar 6.75% yang menunjukkan penurunan dari tahun sebelumnya.
Pada tahun 2011 rata-rata perkembangan perusahaan sebesar 21.89%,
perusahaan yang memiliki tingkat ROA tertinggi yaitu PT. HM Sampoerna Tbk
sebesar 56.31% yang yang mengalami kenaikan dari tahun sebelumnya. Sedangkan
yang memiliki nilai terendah yaitu PT. Goodyear Indonesia Tbk dengan tingkat
sebesar 2.39%, walaupun nilai rendah akan tetapi menunjukkan kenaikan dibanding
tahun sebelumnya yang disebabkan kenaikan modal sendiri.
Pada tahun 2012 rata-rata perkembangan perusahaan sebesar 19.173%,
perusahaan yang memiliki tingkat ROA tertinggi yaitu PT. Multi Bintang Indonesia
Selamat Sempurna Tbk dengan tingkat ROA sebesar 4.61%, walaupun nilai
profitabilitas rendah akan tetapi menunjukkan kenaikan dibanding tahun sebelumnya.
Berdasarkan tabel 4.2 maka dapat digambarkan kondisi ROA secara
keseluruhan periode 2008-2012 dalam bentuk grafik sebagai berikut :
Gambar 4.1
Return On Assets (ROA) pada Industri Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2008-2012
Sumber : Indonesian Capital Market Directory (diolah kembali)
Dilihat pada gambar 4.1, menunjukkan nilai Return On Assets (ROA) industri
manufakturrelatif stabil walaupun PT. Multi Bintang Indonesia Tbk menunjukkan
kenaikan tingkat profitabilitasnya. Kenaikan tingkat profitabilitas perusahaan
disebabkan oleh jumlah perolehan laba yang tinggi sebanding dengan modal sendiri
yang tinggi nilainya. Sedangkan yang cenderung menurun adalah PT. Goodyear 0 10 20 30 40 50 60 AS II AU TO BAT A BRA M DLT A G DY R G G RM HMSP IN DF IN TP KLBF LIO N LMSH MLBI MRAT SC CO SMG R SMSM TSPC UN VR 2008 2009 2010 2011 2012
Indonesia Tbk hal ini disebabkan oleh jumlah perolehan laba yang rendah
dibandingkan dengan modal sendiri yang tinggi nilainya serta besarnya perolehan
saham yang rendah. Secara keseluruhan pada kurun waktu 5 tahun industri yang
memperoleh paling tinggi PT. Multi Bintang Indonesia Tbk di tahun 2010 dan PT.
H.M Sampoerna Tbk tahun 2011 sedangkan yang terendah adalah PT. Goodyear
Indonesia Tbk. Walau demikian rata-rata perusahaan mengalami kenaikan lebih baik
dibandingkan rata-rata tahun-tahun sebelumnya. Sedangkan dari perubahannya
seluruh perusahaan mengalami fluktuatif.
4.1.2 Perkembangan Return On Equity (ROE) pada Industri Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2008-2012
Salah satu indikator profitabilitas suatu perusahaan adalah ditunjukkan oleh
besarnya Return On Equity (ROE) perusahaan yang bersangkutan. Pada umumnya
investor akan mempertimbangkan penanaman investasi sahamnya dalam suatu
perusahaan dengan melihat besarnya ROE, karena ROE tersebut menyatakan
seberapa jauh kemampuan perusahaan dalam membayar kembali penarikan dana
yang dilakukan investor. Data untuk variabel ROE diperoleh dari laporan keuangan di
Indonesian Capital Market Directory (ICMD). Berikut ini kondisi ROE
Tabel 4.3
Return On Equity (ROE) pada Industri Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2008-2012
No Kode Nama Emiten 2008 2009 2010 2011 2012
1 ASII PT. Astra International Tbk 46.44 41.11 42.65 33.98 31.06
2 AUTO PT. Astra Otoparts Tbk 29.09 29.51 36.11 26.57 23.03
3 BATA PT. Sepatu Bata Tbk 83.76 23.79 25.51 22.18 19.34
4 BRAM PT. Indo Kordsa Tbk 16.12 13.64 19.94 10.24 11.95
5 DLTA PT. Delta Djakarta Tbk 15.11 13.14 17.42 11.37 10.22
6 GDYR PT. Goodyear Indonesia
Tbk 2.23 40.76 18.65 6.64 14.84
7 GGRM PT. Gudang Garam Tbk 17.12 26.38 26.57 26.94 15.86
8 HMSP PT. HM Sampoerna Tbk 72.03 68.95 85.65 106.95 91.99
9 INDF PT. Indofood Sukses
Makmur Tbk 30.59 40.02 32.37 20.1 15.03
10 INTP PT. IndocementTunggal
Prakarsa Tbk 27.44 35.54 32.49 29.92 32.13
11 KLBF PT. Kalbe Farma Tbk 34.21 32.52 34.13 32.95 23.63
12 LION PT. Lion Metal Works Tbk 28.36 19.75 19.34 22.25 21.36
13 LMSH PT. Lionmesh Prima Tbk 37.09 9.79 22.05 26.48 44.68
14 MLBI PT. Multi Bintang Indonesia
Tbk 91.22 449.09 126.09 128.33 184.1
15 MRAT PT. Mustika Ratu Tbk 10.49 9.12 9.77 10.24 5.99
16 SCCO PT. Supreme Cable Manufacturing & Corporation Tbk 7.06 5.36 19.54 27.95 29.9 17 SMGR PT. Semen Indonesia (Persero) Tbk 44.48 45.65 39.33 34.83 34.61 18 SMSM PT. Selamat Sempurna Tbk 26.29 37.33 39.43 41.69 8.2
19 TSPC PT. Tempo Scan Pasific
Tbk 19.72 19.95 24.17 24.3 20.71
20 UNVR PT. Unilever Indonesia Tbk 111.23 114.74 112.19 151.45 96.01
maksimal 111.23 449.09 126.09 151.45 184.1
minimal 2.23 5.36 9.77 6.64 5.99
rata-rata 37.504 53.807 39.17 39.768 36.732
Sumber : Indonesian Capital Market Directory (diolah kembali)
Tabel 4.3 menunjukkan perkembangan perusahaan sektor manufaktur selama
Pada tahun 2008 rata-rata perkembangan Return On Equity (ROE) perusahaan
sebesar 37.50%, perusahaan yang memiliki tingkat tertinggi yaitu PT. Unilever
Indonesia Tbk sebesar 111.23%. Artinya kemampuan perusahaan dalam
meningkatkan laba cukup baik sehingga mampu meyakinkan investor untuk
menanamkan sahamnya. Sedangkan yang memiliki nilai terendah yaitu PT. Goodyear
Indonesia Tbk dengan tingkat sebesar 2.23%.
Pada tahun 2009 rata-rata perkembangan Return On Equity (ROE) perusahaan
sebesar 53.81% yang meningkat sebesar 16.30% dari tahun sebelumnya, perusahaan
yang memiliki tingkat tertinggi yaitu PT. Multi Bintang Indonesia Tbk sebesar
449.09%. Sedangkan yang memiliki nilai Return On Equity (ROE) terendah yaitu PT.
Supreme Cable Manufacturing & Corporation Tbk sebesar 5.36%.
Pada tahun 2010 rata-rata perkembangan Return On Equity (ROE) perusahaan
sebesar 39.17%, perusahaan yang memiliki tingkat tertinggi yaitu PT. Multi Bintang
Indonesia Tbk sebesar 126.09%. Sedangkan yang memiliki nilai Return On Equity
(ROE) terendah yaitu PT. Mustika Ratu Tbk dengan tingkat sebesar 9.77% yang
menunjukkan penurunan dari tahun sebelumnya.
Pada tahun 2011 rata-rata perkembangan perusahaan sebesar 39.77%,
perusahaan yang memiliki tingkat Return On Equity (ROE) tertinggi yaitu PT.
Unilever Indonesia Tbk sebesar 151.45%. Sedangkan yang memiliki nilai Return On
Equity (ROE) terendah yaitu PT. Sekar PT. Goodyear Indonesia Tbk dengan tingkat
Pada tahun 2012 rata-rata perkembangan Return On Equity (ROE) perusahaan
sebesar 36.73%, perusahaan yang memiliki tingkat Return On Equity (ROE) tertinggi
yaitu PT. Multi Bintang Indonesia sebesar 184.1%. Sedangkan yang memiliki nilai
Return On Equity (ROE) terendah yaitu PT. Mustika Ratu Tbk sebesar 5.99%.
Berdasarkan tabel 4.2 maka dapat digambarkan kondisi ROE secara
keseluruhan periode 2008-2012 dalam bentuk grafik sebagai berikut :
Gambar 4.2
Return On Equity (ROE) pada Industri Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2008-2012
Sumber : Indonesian Capital Market Directory (diolah kembali)
Dilihat pada gambar 4.2, menunjukkan nilai Return On Equity (ROE) industri
manufaktur relatif stabil walaupun PT. Multi Bintang Indonesia Tbk menunjukkan
kenaikan tingkat diatas rata-rata perusahaan lainnya. Kenaikan tingkat Return On 0 50 100 150 200 250 300 350 400 450 500 ASII AU TO BAT A BRA M DLT A G DY R G G RM H MSP INDF INTP KLBF LIO N LMSH MLBI MRAT SC CO SMG R SMSM TSPC UN VR 2008 2009 2010 2011 2012
Equity (ROE) perusahaan, dalam hal ini disebabkan oleh jumlah perolehan laba yang
tinggi sebanding dengan modal sendiri yang tinggi nilainya. Sedangkan yang
cenderung menurun adalah PT. Goodyear Indonesia Tbk, hal ini disebabkan oleh
jumlah perolehan laba yang rendah dibandingkan dengan modal sendiri yang tinggi
nilainya serta besarnya perolehan saham yang rendah. Secara keseluruhan pada kurun
waktu 5 tahun industri yang memperoleh Return On Equity (ROE) paling tinggi PT.
Multi Bintang Indonesia Tbk dari perubahannya seluruh perusahaan mengalami
fluktuatif.
4.1.3 Perkembangan Economic Value Added (EVA) pada Industri Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2008-2012
Economic Value Added (EVA) merupakan suatu system manajemen keuangan
untuk mengukur laba ekonomi dalam suatu perusahaan. Data diperoleh dari laporan
keuangan di Indonesian Capital Market Directory (ICMD). Berikut ini kondisi EVA
masing-masing perusahaan periode 2008-2012 :
Tabel 4.4
Economic Value Added (EVA) pada Industri Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2008-2012
No Kode Nama Emiten 2008 2009 2010 2011 2012
1 ASII PT. Astra International Tbk 6.07 6.05 6.47 5.31 6.42
2 AUTO PT. Astra Otoparts Tbk 5.35 6.77 6.54 5.38 7.57
3 BATA PT. Sepatu Bata Tbk 5.45 7.11 6.61 5.43 5.61
4 BRAM PT. Indo Kordsa Tbk 5.23 6.11 6.11 5.58 6.21
5 DLTA PT. Delta Djakarta Tbk 5.90 6.95 6.78 5.66 6.71
6 GDYR PT. Goodyear Indonesia Tbk 6.14 7.12 6.66 5.26 6.64
8 HMSP PT. HM Sampoerna Tbk 6.21 6.94 6.79 5.62 6.67
9 INDF PT. Indofood Sukses Makmur
Tbk 6.71 7.16 6.86 6.08 6.74
10 INTP PT. IndocementTunggal Prakarsa
Tbk 6.64 6.29 6.94 6.07 6.82
11 KLBF PT. Kalbe Farma Tbk 6.40 6.85 6.29 5.35 6.41
12 LION PT. Lion Metal Works Tbk 5.62 7.36 6.40 5.45 6.55
13 LMSH PT. Lionmesh Prima Tbk 6.08 6.25 6.50 5.23 6.35
14 MLBI PT. Multi Bintang Indonesia Tbk 6.07 6.83 6.72 5.90 6.72
15 MRAT PT. Mustika Ratu Tbk 7.11 7.40 6.77 6.14 6.41
16 SCCO
PT. Supreme Cable
Manufacturing & Corporation Tbk
6.11 6.51 5.45 6.55 3.61
17 SMGR PT. Semen Indonesia (Persero)
Tbk 6.95 6.58 5.23 6.35 4.20
18 SMSM PT. Selamat Sempurna Tbk 5.61 6.72 5.90 6.72 3.40
19 TSPC PT. Tempo Scan Pasific Tbk 6.21 6.77 6.14 6.41 3.57
20 UNVR PT. Unilever Indonesia Tbk 6.71 4.04 4.22 4.27 4.32
Maksimal 7.11 7.40 6.94 6.72 7.57
Minimal 5.23 4.04 4.22 4.27 3.40
Rata-rata 6.11 6.58 6.31 5.71 5.87
Sumber : Indonesian Capital Market Directory (diolah kembali)
Tabel 4.4 menunjukkan perkembangan Economic Value Added (EVA)
perusahaan sektor Manufaktur selama Periode 2008-2012, yang dapat dijelaskan
sebagai berikut :
Pada tahun 2008 rata-rata perkembangan Economic Value Added (EVA)
perusahaan sebesar 6.11%, perusahaan yang memiliki tingkat Economic Value Added
(EVA) tertinggi yaitu PT. Mustika Ratu Tbk sebesar 7.11%. Kemampuan perusahaan
dalam meningkatkan cukup baik sehingga mampu meyakinkan investor untuk
menanamkan sahamnya. Sedangkan yang memiliki nilai Economic Value Added
Pada tahun 2009 rata-rata perkembangan Economic Value Added (EVA)
perusahaan sebesar 6.58%, perusahaan yang memiliki tingkat tertinggi yaitu PT.
Mustika Ratu Tbk yaitu sebesar 7.40%. Sedangkan yang memiliki nilai Economic
Value Added (EVA) terendah yaitu PT. Unilever Indonesia Tbk dengan tingkat
Economic Value Added (EVA) sebesar 4.04%.
Pada tahun 2010 rata-rata perkembangan Economic Value Added (EVA)
perusahaan sebesar 6.31%, perusahaan yang memiliki tingkat Economic Value Added
(EVA) tertinggi yaitu PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk sebesar 6.94%.
Sedangkan yang memiliki nilai Economic Value Added (EVA) terendah yaitu PT.
Unilever Indonesia Tbk dengan tingkat sebesar 4.22%.
Pada tahun 2011 rata-rata perkembangan Economic Value Added (EVA)
perusahaan sebesar 5.71%, perusahaan yang memiliki tingkat Economic Value Added
(EVA) tertinggi yaitu PT. Selamat Sempurna Tbk sebesar 6.72%, Sedangkan yang
memiliki nilai terendah yaitu PT. Unilever Indonesia Tbk dengan tingkat Economic
Value Added (EVA) sebesar 4.27%.
Pada tahun 2012 rata-rata perkembangan Economic Value Added (EVA)
perusahaan sebesar 5.87%, perusahaan yang memiliki tingkat Economic Value Added
(EVA) tertinggi yaitu PT. Astra Otoparts Tbk sebesar 7.57%. Sedangkan yang
memiliki nilai Economic Value Added (EVA) terendah yaitu PT. Selamat Sempurna
Tbk dengan tingkat Economic Value Added (EVA) sebesar 3.40%.
Berdasarkan tabel 4.4 maka dapat digambarkan kondisi EVA secara
Gambar 4.3
Economic Value Added (EVA) pada Industri manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2008-2012
Sumber : Indonesian Capital Market Directory (diolah kembali)
Dilihat pada Gambar 4.3, selama kurun waktu 5 tahun memiliki nilai rata-rata
Economic Value Added (EVA) yang cenderung stabil, kecuali PT. Unilever Tbk yang
mengalami penurunan dari tahun 2009 sampai dengan 2012. Industri yang
memperoleh nilai EVA tertinggi adalah PT. Mustika Ratu Tbk.
4.1.4 Perkembangan Return Saham pada Industri Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2008-2012
0 1 2 3 4 5 6 7 8 ASII AU TO BAT A BRA M DLT A G DY R G G RM H MSP INDF INTP KLBF LIO N LMSH MLBI MRAT SC CO SMG R SMSM TSPC UN VR 2008 2009 2010 2011 2012
Return saham ditentukan melalui mekanisme permintaan dan penawaran di
pasar modal. Return saham dalam penelitian ini adalah harga pasar saham pada
periode 2008-2012.
Berikut ini adalah return saham pada periode 2008-2012 di sektor Industri Manufaktur :
Tabel 4.5
Perkembangan Return Saham pada Industri Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2008-2012
No Kode Nama Emiten 2008 2009 2010 2011 2012
1 ASII PT. Astra International Tbk 38,200 34,700 54,550 74,000 7,600
2 AUTO PT. Astra Otoparts Tbk 5,550 5,750 13,950 3,400 3,700
3 BATA PT. Sepatu Bata Tbk 31,000 36,000 67,600 55,000 60,000
4 BRAM PT. Indo Kordsa Tbk 1,200 1,450 2,400 2,150 3,000
5 DLTA PT. Delta Djakarta Tbk 3,250 3,250 3,400 3,500 3,500
6 GDYR PT. Goodyear Indonesia
Tbk 8,500 9,600 12,500 9,550 12,300
7 GGRM PT. Gudang Garam Tbk 20,650 21,550 40,000 62,050 56,300
8 HMSP PT. HM Sampoerna Tbk 15,500 10,400 28,150 39,000 59,900
9 INDF PT. Indofood Sukses
Makmur Tbk 4,500 3,550 4,875 4,600 5,850
10 INTP PT. IndocementTunggal
Prakarsa Tbk 16,800 13,700 15,950 17,050 22,450
11 KLBF PT. Kalbe Farma Tbk 400 1,300 3,250 3,400 3500
12 LION PT. Lion Metal Works Tbk 1,500 2,100 3,800 5,250 10,400
13 LMSH PT. Lionmesh Prima Tbk 2,400 2,400 4,800 5,000 10,500
14 MLBI PT. Multi Bintang Indonesia
Tbk 145,000 177,000 274,950 359,000 740,000
15 MRAT PT. Mustika Ratu Tbk 400 395 650 500 490
16 SCCO PT. Supreme Cable Manufacturing & Corporation Tbk 1,520 1,310 1,950 3,125 4,050 17 SMGR PT. Semen Indonesia (Persero) Tbk 8,500 7,550 9,450 11,450 15,850 18 SMSM PT. Selamat Sempurna Tbk 750 750 1,070 1,360 2,525
19 TSPC PT. Tempo Scan Pasific Tbk 600 730 1,710 2,550 3,725
20 UNVR PT. Unilever Indonesia Tbk 8,550 11,050 16,500 18,800 20,850
Minimal 400 395 650 500 490
Rata-rata 15,739 17,227 28,075 34,037 52,325
Sumber : Indonesian Capital Market Directory (diolah kembali)
Tabel 4.5 menunjukkan perkembangan return saham perusahaan sektor
manufaktur selama tahun 2008-2012, yang dapat dijelaskan sebagai berikut :
Pada tahun 2008 rata-rata return saham perusahaan sebesar 15,739,
perusahaan yang memiliki return saham tertinggi yaitu PT. Multi Bintang Indonesia
Tbk sebesar 145.000. Return saham yang meningkat menunjukkan perusahaan
mendapatkan keuntungan, sehingga dapat menambah kepercayaan investor untuk
menanamkan sahamnya kembali. Tinggi rendahnya return saham pada perusahaan
tersebut disebabkan terjadinya kenaikan dan penurunan pada faktor yang
mempengaruhinya yaitu (ROA, ROE dan EVA). Sedangkan yang memiliki return
saham terendah yaitu PT. Kalbe Farma Tbk dengan nilai 400. Return saham yang
rendah dapat pula menarik minat investor asalkan perusahaan mampu
meningkatkannya, akan tetapi return saham yang rendah biasanya kurang diminati,
hal ini karena menunjukkan perubahan profitabilitas tersebut yang rendah pula.
Pada tahun 2009 rata-rata return saham perusahaan sebsear 17.227 perusahaan
yang memiliki return saham tertinggi yaitu PT. Multi Bintang Indonesia Tbk sebesar
274.950 perusahaan ini mengalami kenaikan dibanding Periode sebelumnya, hal ini
disebabkan oleh kenaikan profitabilitas. Sedangkan yang memiliki return saham
terendah yaitu PT. Mustika Ratu Tbk. dengan return saham 395 dan mengalami
Pada tahun 2010 rata-rata return saham perusahaan sebesar 28.075,
perusahaan yang memiliki return saham tertinggi yaitu PT. Multi Bintang Indonesia
Tbk sebesar 274.950, hal ini disebabkan peningkatan ROE dan EVA. Sedangkan
yang memiliki return saham terendah yaitu PT. Mustika Ratu Tbk dengan return
saham sebesar 650, walaupun memiliki return saham yang rendah tetapi return saham
mengalami kenaikan, kenaikan ini disebabkan meningkatnya profitabilitas. Return
saham yang rendah dapat pula menarik minat investor asalkan perusahaan mampu
meningkatkan profitabilitasnya.
Pada tahun 2011 rata-rata return saham perusahaan sebesar 34.037 perusahaan
yang memiliki return saham tertinggi yaitu PT. Multi Bintang Indonesia Tbk sebesar
359.000, peningkatan ini disebabkan oleh kenaikan EVA dan ROE. Sedangkan yang
memiliki return saham terendah yaitu PT. Mustika Ratu Tbk dengan return saham
500 dan mengalami penurunan, penyebab turunnya return saham karena penurunan
ROE dan EVA.
Pada tahun 2012 rata-rata return saham perusahaan sebesar 52.325,
perusahaan yang memiliki return saham tertinggi yaitu PT. Multi Bintang Indonesia
Tbk hal ini disebabkan oleh kenaikan ROE dan EVA yaitu sebesar 740.000.
Sedangkan yang memiliki return saham terendah yaitu PT. Mustika Ratu Tbk dengan
return saham sebesar 490, return saham perusahaan tidak mengalami kenaikan
maupun penurunan dibanding tahun sebelumnya, akan tetapi ROA, ROE dan EVA
Berdasarkan tabel 4.4 maka dapat digambarkan kondisi return saham secara
keseluruhan periode 2008-2012 dalam bentuk grafik sebagai berikut :
Gambar 4.4
Return Saham pada Industri Manufaktur
yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2007 - 2011
Sumber : Indonesian Capital Market Directory (diolah kembali)
Berdasarkan pada gambar 4.4 jelas terlihat bahwa return saham selama lima
tahun yang menunjukkan perubahan sekaligus peningkatan return saham khususnya
bagi PT. Multi Bintang Indonesia Tbk, dan PT. Mustika Ratu Tbk. Hal ini sangat
perlu diperhatikan perusahaan untuk meningkatkan kinerjanya, karena para investor
ingin mananamkan sahamnya pada perusahaan yang memiliki prospek return saham
yang terus mengalami peningkatan. Hal ini menunjukkan perusahaan perlu berusaha
untuk meningkatkan kinerjanya dan mampu menarik investor yang dapat 0 100000 200000 300000 400000 500000 600000 700000 800000 ASII AU TO BAT A BRA M DLT A G DY R G G RM H MSP INDF INTP KLBF LIO N LMSH MLBI MRAT SC CO SMG R SMSM TSPC UN VR 2008 2009 2010 2011 2012
meningkatkan return sahamnya. Perubahan return saham ditentukan oleh besarnya
tingkat profibilitas perusahaan tersebut. Bila dikaitkan dengan analisis sebelumnya
maka dapat dilihat bahwa meningkat atau menurunnya ROE, ROA dan EVA dapat
mempengaruhi return saham. Dengan demikian berdasarkan gambar 4.4 ROE, ROA
dan EVA memiliki hubungan, dimana apabila ROE, ROA dan EVA naik maka akan
berdampak naik pula pada return saham, sebaliknya apabila ROE, ROA dan EVA
mengalami penurunan belum tentu return saham menurun.
4.2 Pembahasan Penelitian 4.2.1 Analisis Statistik Deskriptif
Tabel 4.6 Descriptive Statistics
N Minimum Maximum Mean Std. Deviation
ROA 20 ,79 1,71 1,2416 ,26773
ROE 20 ,96 2,29 1,4808 ,31722
EVA 20 5,64 6,98 6,3509 ,38409
SAHAM 20 2,69 5,53 3,8952 ,67096
Valid N (listwise) 20
Sumber : Data sekunder (diolah)
Pada bagian ini akan disajikan statistik deskriptif dari variabel independen
maupun variabel dependen. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah
ROA, ROE, EVA dan return saham. Data yang digunakan dalam penelitian ini untuk
masing-masing variabel berjumlah 100 yang diperoleh dari 20 perusahaan dikalikan
periode tahun pengamatan (5 tahun). Berikut ini adalah hasil statistik deskriptif dari
Berdasarkan hasil pengolahan data pada Tabel 4.6 diatas diketahui bahwa
Return On Assets (ROA) diperoleh rata-rata sebesar 1,2416. Hal ini berarti bahwa
rata-rata perolehan laba bersih adalah sebesar 1,2416 kali dari total aset yang dicapai
perusahaan. Nilai maksimal sebesar 1,71 kali yang berarti bahwa laba bersih tertinggi
dapat mencapai 1,71 kali dari total aset yang dicapai PT. Sepatu Bata Tbk pada tahun
2008, sedangkan nilai minimal ROA sebesar 0,79 kali yang merupakan ROA dari PT.
Goodyear Indonesia Tbk pada tahun 2008 dan PT. Supreme Cable Manufacturing &
Corporation Tbk pada tahun 2009.
Return On Equity (ROE) menunjukkan nilai rata-rata sebesar 1,4808. Hal ini
berarti bahwa rata-rata perusahaan sampel mampu mendapatkan laba bersih sebesar
1,4808 kali dari total ekuitas yang dimiliki perusahaan dalam satu periode. Nilai
minimal yaitu sebesar 0,96 kali yang berarti sampel terendah yaitu PT. Goodyear
Indonesia Tbk pada tahun 2008 yang hanya mendapatkan laba bersih dari
penggunaan seluruh total ekuitas yang dimiliki sebesar 0,96. Nilai maksimal
diketahui sebesar 2,29 kali yang merupakan ROE dari PT. Multi Bintang Indonesia
Tbk pada tahun 2009 dan PT. Unilever Indonesia Tbk pada tahun 2010.
Economic Value Added (EVA) menunjukkan rata-rata sebesar 6,3509. Hal ini
berarti rata-rata perusahaan sampel mampu mendapatkan laba bersih sebesar 6,3509
kali dari biaya modal (cost of capital) yang dimiliki perusahaan dalam satu periode.
Nilai maksimal EVA sebesar 6,98 kali yang dimiliki PT. Sepatu Bata Tbk pada tahun
2012 dan nilai minimal sebesar 5,64 kali merupakan EVA dari PT. Selamat sempura
Return saham yang menunjukkan nilai rata-rata sebesar 3,8952. Hal ini berarti
bahwa rata-rata perusahaan sampel mampu mengembalikan nilai saham sebesar
3,8952 kali lebih besar dari nilai penutupan saham perusahaan. Nilai minimal sebesar
2,69 yang dimilki PT. Mustika Ratu Tbk pada tahun 2008, sedangkan nilai maksimal
return saham sebesar 5,53 kali yang dimiliki PT. Multi Bintang Indonesia Tbk pada
tahun 2012.
4.2.2 Analisis Verifikatif
4.2.2.1 Pengujian Asumsi Klasik
Dalam pengujian regresi linier berganda, untuk memperoleh penelitian yang
akurat diperlukan pengujian dengan asumsi klasik yaitu :
a. Uji Normalitas
Uji normalitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah
Kolmogorov-Smirnov Test. Dasar pengambilan keputusan Menurut Sulaiman (2003:40) adalah
dibawah 0,05. Dengan pendekatan uji Kolmogorov-Smirnov:
1) Jika Asymp, Sig Residual < 0,05 maka, variabel tidak berdistribusi normal.
2) Jika Asymp, Sig Residual > 0,05 maka, variabel berdistribusi normal.
Hasil penjelasan SPSS versi 18 ditunjukkan pada tabel sebagai berikut:
Tabel 4.7
Uji Normalitas Variabel (ROA, ROE dan EVA) dan Return Saham pada Industri Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
ROA ROE EVA SAHAM
N 20 20 20 20
Normal Parametersa,b Mean 1.2416 1.4808 6.3509 3.8952
Std. Deviation .26773 .31722 .38409 .67096
Most Extreme Differences Absolute .096 .204 .124 .114
Positive .096 .204 .124 .114
Negative -.095 -.084 -.063 -.076
Kolmogorov-Smirnov Z .431 .912 .555 .510
Asymp. Sig. (2-tailed) .992 .377 .918 .957
a. Test distribution is Normal. b. Calculated from data.
Data uji normalitas menunjukkan ketiga variabel berdistribusi normal karena
nilai Asymp, Sig Residual > 0,05. Dengan demikian data tersebut dapat dilanjutkan
untuk dilakukan penelitian.
b. Autokorelasi
Autokorelasi muncul karena observasi yang berurutan sepanjang waktu
berkaitan satu sama lain. Masalah ini timbul karena residual tidak bebas dari satu
observasi lainnya. Uji gejala autokorelasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah
Durbin-Watson. Seperti yang terlihat pada tabel berikut :
Tabel 4.8
Uji Autokorelasi Variabel ROA, ROE dan EVA terhadap Return Saham pada Industri Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia
Periode 2008-2012 Model Summaryb Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate Durbin-Watson 1 .741a .549 .465 .49098 1.694
a. Predictors: (Constant), EVA, ROA, ROE b. Dependent Variable: SAHAM
Berdasarkan tabel di atas, nilai Durbin-Watson test diperoleh sebesar 1.694. Dengan menggunakan derajat kepercayaan (α) 5%, maka nilai Durbin-Watsontest tersebut tidak menunjukkan adanya autokorelasi positif. Hal tersebut terlihat dari nilai
DW sebesar 1.694 yang berada di antara batas bawah 1,65 dan batas atas 2.79 atau
1.65< 1.694<2.79, sehingga nilai durbin-watson tidak terdapat autokoleasi.
c. Multikolinieritas
Multikolinieritas memiliki arti antara variabel bebas yang satu dengan variabel
bebas yang lain dalam model regresi terjadi hubungan yang mendekati sempurna.
Multikolinieritas hampir selalu ada dalam model persamaan regresi yang
menggunakan lebih dari variabel bebas. Berikut ini hasil pengujian tersebut :
Uji Multikolinieritas Variabel ROA, ROE dan EVA terhadap Return Saham pada Industri Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia
Periode 2008-2012 Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. Collinearity Statistics B Std.
Error Beta Tolerance VIF
1 (Constant) 1.578 2.149 .734 .473
ROA -.453 .891 -.181 -.509 .618 .223 4.488
ROE 1.898 .765 .897 2.481 .025 .216 4.640
EVA .011 .305 .006 .036 .972 .922 1.084
a. Dependent Variable: SAHAM
Dari nilai VIF yang telah diperoleh dalam tabel diatas, menunjukkan bahwa
data pada variabel bebas tidak mengandung adanya gejala korelasi yang kuat antara
sesama variabel bebas, karena semua nilai VIF yang dihitung lebih kecil dari 10 dan
nilai tolerance diatas 0,1 maka dapat disimpulkan tidak terdapat multikolinieritas
diantara variabel bebas.
d. Uji Heterokesdastisitas
Berikut adalah uji heteroskedastisitas, dimana dalam analis regresi, varians
dari residual tidak sama atau tidak memiliki pola tertentu dari satu pengamatan ke
pengamatan lain, yang ditunjukan dengan nilai yang tidak sama antara satu varians
dari residual dengan besarnya varians antar residual tidak homogen, sedangkan
apabila terdapat gejala varians sama disebut homokedastisitas. Hasil dari uji
Gambar 4.5
Uji Heterokesdastisitas Variabel ROA, ROE dan EVA
terhadap Return Saham pada Industri Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2008-2012
Berdasarkan diagram pencar, maka dapat dilihat bahwa penyebaran residual
tidak homogen. Hal tersebut dapat dilihat dari plot yang menyebar dan tidak
membentuk suatu pola tertentu. Dengan hasil demikian terbukti bahwa tidak terjadi
4.2.3 Rancangan Pengujian Hipotesis
4.2.3.1 Analisis Regresi Linier Berganda
Dalam penelitian ini, penulis melakukan analisis regresi linier berganda untuk
mengetahui pengaruh Return On Assets (ROA), Return On Equity (ROE) dan
Economic Value Added (EVA) terhadap return saham secara simultan, sebagaimana
dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 4.10
Analisis Regresi Linier Berganda Pengaruh ROA, ROE dan EVA terhadap Return Saham pada Industri Manufaktur yang Terdaftar
di Bursa Efek Indonesia Periode 2008-2012 Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) 1.578 2.149 .734 .473 ROA -.453 .891 -.181 -.509 .618 ROE 1.898 .765 .897 2.481 .025 EVA .011 .305 .006 .036 .972
a. Dependent Variable: SAHAM
Model diatas regresi linier berganda yang biasa dibentuk dari variabel yang
ada pada tabel 4.10 dapat diformulasikan dalam model persamaan sebagai berikut :
Y = 1.578 - 0.453X1 + 1.898X2 + 0.011X2
Dari hasil persamaan regresi berganda tersebut masing-masing variabel dapat
a. Nilai konstanta bertanda positif 1.578, yang menunjukkan apabila variabel
ROA, ROE dan EVA tidak ada perubahan atau sama dengan 0 maka akan
meningkatkan return saham sebesar 1.578.
b. Return On Assets (ROA) memiliki koefisien regresi bertanda negatif sebesar
0.453, hal ini berarti apabila nilai X1 (Return On Assets) meningkat 1 satuan dengan asumsi variabel-variabel lain adalah tetap, maka akan menurunkan
return saham sebesar 0.453.
c. Return On Equity (ROE) memiliki koefisien regresi bertanda positif sebesar
1.898, hal ini berarti apabila nilai X2 (Return On Equity) meningkat 1 satuan dengan asumsi variabel-variabel lain adalah tetap maka akan meningkatkan
return saham sebesar 1.898.
d. Economic Value Added (EVA) memiliki koefisien regresi bertanda positif
sebesar 0.011, hal ini berarti apabila nilai X3 (Economic Value Added) meningkat 1 satuan dengan asumsi variabel-variabel lain adalah tetap, maka
akan meningkatkan return saham sebesar 0.011.
1. Analisis Korelasi Berganda / Multiple Correlation
Berdasarkan hasil pengolahan data pada SPSS versi 18 didapatkan hasil uji
Tabel 4.11
Koefisien Korelasi Berganda Pengaruh ROA, ROE dan EVA terhadap Return Saham pada Industri Manufaktur yang Terdaftar
di Bursa Efek Indonesia Periode 2008-2012 Model
R R Square Adjusted R Square
Std. Error of the Estimate
1 .741a .549 .465 .49098
a. Predictors: (Constant), EVA, ROE, ROA b. Dependent Variable: Saham
Untuk mengetahui sejauh mana tingkat keeratan hubungan antara Return On
Assets (ROA), Return On Equity (ROE) dan Economic Value Added (EVA) terhadap
return saham secara simultan, maka penulis melakukan pengujian dengan analisis
korelasi berganda. Adapun hasil analisis korelasi berganda tersebut dapat dilihat pada
tabel 4.11, hasil perhitungan koefisien korelasi berganda (R) adalah sebesar 0.741.
Hal ini menunjukkan keeratan hubungan antara variabel Return On Assets (ROA),
Return On Equity (ROE) dan Economic Value Added (EVA) terhadap return saham
termasuk kriteria kuat.
2. Analisis Koefisien Determinasi
Analisis koefisien determinasi berganda digunakan untuk mengetahui
seberapa erat hubungan antara variabel bebas dengan variabel tidak bebas. Adapun
hasil analisis koefisien determinasi tersebut dapat dilihat pada tabel 4.11 koefisien
determinasi multiple (R2) = 0,549 = 54.9%. Ini berarti 54% variasi dari return saham dijelaskan oleh Return On Assets (ROA), Return On Equity (ROE) dan Economic
kontribusi seluruh variabel terhadap return saham menyebabkan return saham
terpengaruh secara signifikan oleh ketiga variabel tersebut.
4.2.3.2 Uji Simultan (uji F)
Pengujian secara simultan digunakan untuk mengetahui nilai yang
memberikan kuatnya pengaruh atau hubungan dua variabel atau lebih secara
bersama-sama. Kita dapat menguji secara simultan apakah regresi berganda yang telah
didapatkan secara bersama-sama berpengaruh terhadap return saham atau tidak ada
pengaruh. Adapun hasil pengujian secara simultan / uji F statistik dapat dilihat pada
tabel berikut :
Tabel 4.12
Uji Simultan Pengaruh ROA, ROE dan EVA
terhadap Return Saham pada Industri Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2008-2012
ANOVAb
Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.
1 Regression 4.697 3 1.566 6.494 .004a
Residual 3.857 16 .241
Total 8.554 19
a. Predictors: (Constant), EVA, ROA, ROE b. Dependent Variable: SAHAM
Pengujian dilakukan dengan uji statistik F, dengan langkah-langkah sebagai
berikut :
a. Menentukan hipotesis statistik
H0 : R1 = R2 = 0 Tidak ada pengaruh antara ROA, ROE dan EVA terhadap return saham (Y).
H1 = R1= R2 ≠ 0 Jika salah satu dari variabel ROA, ROE dan EVA berpengaruh terhadap return saham (Y).
b. Menentukan tingkat signifikan sebesar α = 5% dengan derajat kebebasan (db = n – k – 1) = 20 – 3 – 1 = 16
r = nilai koefisien korelasi partial
n = jumlah sampel
k = jumlah variabel bebas
c. Mencari nilai F hitung yang didapat hasilnya dari tabel output ANOVA di atas, yaitu 0,047
d. Menentukan penerimaan dan penolakan dugaan atas hipotesis yang diajukan,
dengan kriteria pengujian :
1) Ho ditolak jika F hitung ≥ Ftabel 2) Ho diterima jika F hitung ≤ Ftabel
Berdasarkan hasil yang diperoleh dari perbandingan F hitung dengan F tabel adalah Ho ditolak karena: F hitung 6.494 > Ftabel 3.1274.
Atau pengambilan keputusan berdasarkan signifikansi :
1) F sig < α, maka Ho ditolak, berarti variabel independen secara simultan berpengaruh terhadap variabel dependen.
2) F sig > α, maka Ho diterima, berarti variabel independen secara simultan tidak berpengaruh terhadap variabel dependen.
Maka hasil yang diperoleh dari perbandingan tingkat signifikansi adalah Ho
ditolak karena : F sig 0.004 < 0.05, yang dilihat pada gambar berikut :
Gambar 4.6
Daerah penerimaan dan penolakan Ho (Uji F) pengaruh ROA, ROE dan EVA terhadap Return Saham pada Industri Manufaktur yang Terdaftar
di Bursa Efek Indonesia Periode 2007 2011
Daerah Penerimaan Ho Daerah Penolakan Ho fhitung 6.494. ftabel 3.1274.
Berdasarkan gambar tersebut dapat disimpulkan bahwa pada perusahaan
sektor industri Manufaktur pada periode 2008-2012, variabel ROA, ROE dan EVA
berpengaruh signifikan terhadap return saham.
4.2.3.3 Analisis Jalur (Path Analysis) pengaruh ROA, ROE dan EVA terhadap Return Saham pada Industri Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2008-2012
Pada analisis ini akan dijelaskan hasil persamaan analisis jalur untuk
menghitung pengaruh Return On Assets (ROA), Return On Equity (ROE) dan
Economic Value Added (EVA) terhadap Return Saham sektor industri Manufaktur
yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2008-2012. Berdasarkan data yang
Economic Value Added (X3) merupakan variabel independen, sedangkan Return Saham (Y) merupakan variabel dependen.
1. Persamaan struktural
Persamaan struktural atau juga disebut model struktural, yaitu apabila setiap
variable terikat/endogen (Y) secara unik keadaannya ditentukan oleh
seperangkat variable bebas/eksogen (X). Berikut ini persamaan struktural
untuk variable X1 terhadap X2 :
Tabel 4.13
Persamaan structural antara Return On Assets (ROA) terhadap Return On Equity (ROE)
Coefficientsa
Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients
t Sig.
B Std. Error Beta
1 (Constant) .165 .168 1.103 .285
ROA .135 .132 .881 7.895 .000
a. Dependent Variable: ROE
Tabel 4.14
Persamaan struktural antara Return On Assets (ROA)dan Return On Equity (ROE)terhadap Economic Value Added (EVA)
Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) .145 .894 20.034 .000 ROA .135 .539 .134 .265 .794 ROE -.280 .455 -.289 -.573 .574
a. Dependent Variable: EVA
Berikut ini persamaan struktural untuk variable X1, X2, X3 terhadap Y :
Tabel 4.15
Persamaan struktural antara Return On Assets (ROA), Return On Equity (ROE) dan Economic Value Added (EVA) terhadap Return saham
Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) 1.578 2.149 .734 .473 ROA -.453 .891 -.181 -.509 .618 ROE 1.898 .765 .897 2.481 .025 EVA .011 .305 .006 .036 .972
a. Dependent Variable: SAHAM
Persamaan yang diperoleh dari perhitungan berdasarkan dengan menggunakan
2. Diagram Jalur
Pada saat akan melakukan analisis jalur, disarankan untuk terlebih dahulu
menggambarkan secara diagramatik struktur hubungan kausal antara variabel
penyebab dengan variabel akibat. Berdasarkan Tabel diatas, maka diperoleh diagram
jalur antara sebagai berikut :
Gambar 4.7
Struktur Hubungan Kausal ROA, ROE dan EVA Terhadap Return Saham
0.135 -0.453 0.226 1.898 -0.280 0.11 3. Koefisien Jalur
Besarnya pengaruh langsung dari suatu variabel eksogenus ke variabel
endogenus tertentu, dinyatakan oleh besarnya nilai numerik koefisien jalur dari
eksogenus ke endogenus.
Berdasarkan gambar 4.10 di atas, maka diperoleh hasil sebagai berikut :
Y = x1x2 + x1x3+ x2x3+Pyx1+ Pyx2+ Pyx3 + €
0.2255 ROA ROE EVA Return Saham
1) Nilai x1x2 sebesar 0.135 2) Nilai x1x3 sebesar 0.226 3) Nilai x2x3 sebesar -0.280 4) Nilai yx1 sebesar -0.453 5) Nilai yx2 sebesar 1.898 6) Nilai yx3 sebesar 0.11 7) Nilai € sebesar 0.2255
Pengaruh yang diterima oleh sebuah variabel endogenus dari dua variabel
eksogenus, dapat secara sendiri-sendiri maupun secara bersama-sama. Pengaruh
secara sendiri-sendiri bisa berupa pengaruh langsung, bisa juga berupa pengaruh tidak
langsung, yaitu melalui variabel eksogen yang lainnya.
Berdasarkan gambar 4.7 di atas, maka variabel eksogenus terhadap variabel
endogenus dapat dihitung sebagai berikut :
1) Pengaruh langsung ROA terhadap Return Saham
yx1 x yx1 = -0.453 x -0.453 = 0.205 (20.52%)
Besarnya pengaruh langsung variabel ROA terhadap ROE
x1x2 x x1x2 = 0.135 x 0.135 = 0.018 (1.82%)
Besarnya pengaruh langsung variabel ROA terhadap EVA
x1x3 x x1x3 = 0.226 x 0.226 = 0.051 (5.10%)
Total pengaruh ROE terhadap Return Saham
2) Pengaruh langsung ROE terhadap Return Saham
yx2 x yx2 = 0.1898 x 0.1898 = 0.036 (3.60%)
Besarnya pengaruh langsung variabel ROE terhadap ROA
x1x2 x x1x2 = 0.135 x 0.135 = 0.018 (1.82%)
Besarnya pengaruh langsung variabel ROE terhadap EVA
x2x3 x x2x3 = -0.280 x -0.280 = 0.078 (7.84%)
Total pengaruh ROE terhadap Return Saham
[yx2 + x1x2 + x1x3] = [3.60% + 1.82% + 7.84%] = 13.26%
3) Pengaruh langsung EVAterhadap Return Saham
yx3 x yx3 = 0.11 x 0.11 = 0.0121 (1.21%)
Besarnya pengaruh langsung variabel EVA terhadap ROA
x1x3 x x1x3 = 0.226 x 0.226 = 0.051 (5.10%)
Besarnya pengaruh langsung variabel EVA terhadap ROE
x2x3 x x2x3 = -0.280 x -0.280 = 0.078 (7.84%)
Total pengaruh EVA terhadapr Return Saham
[yx3 + x1x3 +x2x3] = [1.21% + 5.10% + 7.84%] = 14.15%
4) Besarnya pengaruh total variabel X1, X2, X3 terhadap Y
[yx1 + x1x2 +x1x3] + [yx2 + x1x2 + x1x3] + [yx3 + x1x3 +x2x3]
Tabel 4.16
Pengujian Koefisien Jalur Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) 1.578 2.149 .734 .473 ROA -.453 .891 -.181 -.509 .618 ROE 1.898 .765 .897 2.481 .025 EVA .011 .305 .006 .036 .972
a. Dependent Variable: SAHAM
Berdasarkan tabel 4.16 di atas, maka diperoleh hasil masing-masing variabel
terhadap return saham sebagai berikut :
1. Koefisien beta pertama = -0.181, diperoleh nilai t hitung sebesar -0.509
sementara nilai t table sebesar 1.999, yang berarti bahwa t hitung < t table atau
juga signifikansi t hitung untuk x1 atau pelayanan sebesar 0.618 dibandingkan dengan sebesar 0.05 maka signifikansi t > , ini menunjukkan bahwa ROA berpengaruh sebesar -18.1% terhadap return saham.
2. Koefisien beta kedua = 0.897, diperoleh nilai t hitung sebesar 2.481 sementara
nilai t table sebesar 1.999, yang berarti bahwa t hitung > t tabel atau juga
signifikansi t hitung untuk x2 atau ROE sebesar 0.025 dibandingkan dengan sebesar 0.05 maka signifikansi t < , ini menunjukkan bahwa ROE berpengaruh sebesar 89.7% terhadap return saham.
3. Koefisien beta ketiga = 0.006, diperoleh nilai t hitung sebesar 0.036 sementara
nilai t table sebesar 1.999, yang berarti bahwa t hitung < t tabel atau juga
signifikansi t hitung untuk x3 atau fasilitas sebesar 0.972 dibandingkan dengan
sebesar 0.05 maka signifikansi t <, ini menunjukkan bahwa EVA berpengaruh 0.6% terhadap return saham.
Dari hasil perhitungan SPSS untuk analisis jalur, koefisien yang dipergunakan
adalah koefisien beta atau koefisien standar (Standard Coefficients). Kriteria
penolakan Ho, jika sig t >sig , dengan = 5%.
Untuk lebih jelasnya dalam menentukan pengaruh variable return on assets,
return on equity dan economic value added terhadap return saham, dapat dijelaskan
pada tabel 4.17 sebagai berikut :
Tabel 4.17
Hasil Pengujian Koefisien Jalur
Hipotesis
Koefisien Jalur
T
hitung Sig.* Kesimpulan
ROE (X1) mempunyai
pengaruh terhadap
return saham (Y)
-0.181 0.509 0.618 Hipotesis (H1) ditolak, tidak terdapat pengaruh ROA (X1)
terhadap retrun saham (Y)
ROE (X2) mempunyai
pengaruh terhadap
retrun saham (Y)
0.897 2.481 0.025 Hipotesis (H1) diterima, terdapat pengaruh ROE (X2)
terhadap retrun saham (Y)
EVA (X3) mempunyai
pengaruh terhadap
retrun saham (Y)
0.006 0.036 0.972 Hipotesis (H1) ditolak, tidak terdapat pengaruh EVA (X3)
Oleh karena itu kita cukup indikasi bahwa sebaiknya dilakukan ”Teori Trimming”, yaitu dengan cara membuang variabel yang kurang bermakna. Dari tabel diatas dapat diperoleh secara jelas bahwa struktur hubungan kausal (pengaruh sebab
akibat) hanya berlaku untuk koefisien PYX2 atau ROE berpengaruh terhadap return saham.
4.2.3.4Pembahasan
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Return Saham dapat dijelaskan oleh
Return On Asset (ROA), Return On Equity (ROE), dan Economic Value Added
(EVA). Namun dari seluruh variabel independen hanya Return On Equity (ROE) saja
yang berpengaruh positif terhadap Return Saham. Penjelasan masing-masing variabel
sebagai berikut :
1. Pengaruh Return On Asset (ROA), Return On Equity (ROE), dan Economic
Value Added (EVA) terhadapr Return Saham secara parsial.
a. Pengaruh Return On Asset (ROA) terhadap Return Saham.
Return On Asset (ROA) secara statistik tidak memiliki pengaruh yang
signifikan terhadap Return Saham, hal tersebut ditunjukan dengan nilai
thitung -0.509 < ttable 1.999. Penelitian ini tidak sejalan dengan hasil
penelitian Lestari dan Sugiharto (2007), Pertiwi (2010), dan Wardan
(2012) yang menyatakan bahwa Return On Asset (ROA) mempunyai
Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa pertumbuhan rata-rata ROA
tahun 2010 sebesar 21.70% dan tahun 2011 sebesar 21.89% mengalami
kenaikan yang tidak begitu pesat, artinya kenaikan ROA setiap tahunnya
sebesar 1%. Hal ini tidak sejalan dengan pertumbuhan rata-rata retun
saham yang kenaikannya begitu pesat pada tahun 2010 sebesar 28.07%
dan tahun 2011 sebesar 34.03%. Pertumbuhan harga saham dipengaruhi
oleh Price Earning Ratio (PER), berdasarkan data menunjukan bahwa
pertumbuhan PER sejalan dengan pertumbuhan harga saham dimana
dalam 20 perusahan terdapat 13 perusahaan yang PER industri lebih besar
dibandingkan dengan PER perusahaan.
b. Pengaruh Return On Equity (ROE)terhadap Return Saham.
Return On Equity (ROE) secara statistik memiliki pengaruh yang
signifikan terhadap Return Saham, hal tersebut ditunjukan dengan nilai
thitung 2.481 > ttable 1.999. Penelitian ini sejalan dengan hipotesis penelitian
sebelumnya yang dilakukan Retno Widya Sasanti dan Nurfauziah (2005),
Brigham dan Houston (2010), serta Kasmir (2012) yang menyatakan
bahwa Return On Equity (ROE) mempunyai pengaruh yang signifikan
terhadap Return Saham.
Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa pertumbuhan rata-rata
ROE tahun 2009 mengalami kenaikan sebesar 53.08% dibandingkan
tahun 2008 yang sebesar 37.50%, sama halnya dengan pertumbuhan
17.27% dibandingkan tahun 2008 sebesar 15.73%. Hal ini menunjukkan
bahwa Return On Equity (ROE) memiliki dampak terhadap return
saham, karena semakin tinggi nlai Return On Equity (ROE) maka
perusahaan mampu memberikan keuntungan bagi pemegang saham,
maka saham tersebut diinginkan untuk dibeli yang pada akhirnya
meningkatkan return saham.
c. Pengaruh Economic Value Added (EVA) terhadap Return Saham.
Economic Value Added (EVA) secara statistik tidak memiliki pengaruh
yang signifikan terhadap Return Saham, hal tersebut ditunjukan dengan
nilai thitung 0.036 < ttable 1.999. Penelitian ini tidak sejalan dengan hasil penelitian Wilopo dan mayangsari (2002) dan Van Horne dan John M
Wachowich (2007) dan Pertiwi (2010) yang menyatakan bahwa
Economic Value Added (EVA) yang menyatakan bahwa Economic Value
Added (EVA) mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap Return
Saham.
Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa pertumbuhan EVA selama
lima tahun menunjukkan nilai rata-rata di bawah 6% yang berbeda jauh
dengan pertumbuhan return saham selma lima tahun yang dimulai dari
tahun 2008 sebesdar 15% sampai 2012 sebesar 52%. Dengan demikian
Economic Value Added (EVA) menunjukkan kontribusi yang lemah
terhadap return saham. Hal ini menunjukkan karena investor masih
efektif dalam memperkirakan tingkat keuntungan saham dimasa yang
akan datang.
2. Pengaruh Return On Asset (ROA), Return On Equity (ROE), dan Economic
Value Added (EVA) terhadapr Return Saham secara simultan.
Secara simultan bahwa Return On Asset (ROA), Return On Equity (ROE),
dan Economic Value Added (EVA) memiliki pengaruh terhadap Return Saham.
Berdasarkan uji f didapat nilai fhitung 6.494 > ftabel 3.1274 artinya Return On Asset (ROA), Return On Equity (ROE), dan Economic Value Added (EVA) berpengaruh
signifikan secara simultan terhadap Return Saham pada Perusahaan Manufaktur yang
terdaftar di bursa efek Indonesia tahun 2008-2012. Selain ftabel, kesimpulan dapat diperoleh dari perbandingan probabilitas. hasil yang diperoleh dari perbandingan
probabilitas dengan tingkat signifikan adalah H0 ditolak karena nilai sig. kurang dari 0,05, yaitu 0,004 < 0,05.