BAB II
LANDASAN TEORI
A. Pengertian Akuntani Biaya
1. Pengertian biaya
Biaya merupakan salah satu faktor penting yang harus diperhatikan dalam
proses produksi dalam satu perusahaan manufaktur. Terdapat beberapa
pengertian biaya yang dikemukakan oleh beberapa penulis.
Menurut Foster et al. (2006:31) “ Biaya (cost) sebagai sumber daya yang
dikorbankan (sacrificed) atau dilepaskan (forgone) untuk mencapai tujuan
tertentu”. Pendapat lain diungkapkan oleh Armanto (2006:10) yang
menjelaskan “beban (expense) adalah arus keluar aktiva (asset) terhadap
penghasilan karena perusahaan menggunakan sumber ekonomi yang
ada”
Sedangkan menurut Mulyadi (2009:8) “ Biaya (cost) adalah Pengorbanan
sumber ekonomi, yang diukur dalam satuan uang, yang telah terjadi atau
yang kemungkinan akan terjadi, untuk tujuan tertentu ”.
2. Pengertian Akuntansi Biaya
Menurut Bastian Bustami (2009 : 2) mendefinisikan akuntansi
biaya adalah bidang ilmu akuntansi yang mempelajari bagamana cara
mencatat, mengukur dan pelaporan informasi biaya yang
digunakan.Disamping itu akuntansi biaya juga mambahas tentang
penentuan harga pokok dari “suatu produk” yang diproduksi dan dijual
kepada pemesan maupun untuk pasar, serta untuk persediaan produk yang
akan dijual.
Sedangkan menurut Mulyadi (2005 : 16) biaya produksi
merupakan biaya-biaya yang dikeluarkan dalam pengolahan bahan baku
menjadi produk.
Jadi ada tiga unsur biaya pada perusahaan manufaktur untuk
mengelola bahan baku menjadi barang jadi, yaitu :
a. Bahan baku langsung (Direct Material) adalah sifat dari bahan baku
langsung adalah membentuk barang jadi sehingga bahan baku tersebut
dapat diidentifikasikan dalam barang jadi (finished goods) dan
merupakan bagian yang intergral atau tidak dapat dipisahkan dari
barang jadi tersebut.
b. Tenaga kerja langsung (Direct Labor)
Tenaga kerja langsung adalah tenaga kerja yang secara langsung ikut
serta dalam proses produksi bahan baku. Biasanya tenaga kerja
langsung adalah upah yang dibayarkan pada tenaga kerja meliputi
tenaga kerja ahli dan tenaga kerja biasa.
c. Biaya produksi tidak langsung (Factory Overhead)
Biaya produksi tidak langsung adalah jumlah biaya lain yang
dikeluarkan selain biaya bahan langsung dan biaya tenaga kerja
Biaya produksi tidak langsung dibagi menjadi tiga kelompok
berdasarkan karakteristik dalam hubungannya dengan produksi :
1) Biaya overhead variabel
Total biaya variable selalu berubah-ubah sebanding dengan unit
yang diproduksi.
2) Biaya overhead tetap
Total biaya overhead tetap adalah konstan dengan tingkat hasil
tertentu, tanpa dipengaruhi oleh adanya perubahan tingkat produksi
sampai suatu tingkat hasil tertentu.
3) Biaya overhead pabrik semivariabel
Biaya overhead pabrik semivariabel adalah biaya yang sifatnya
tidak semua biaya tetap dan tidak semuanya variable, tetapi
mempunyai karakteristik keduanya.
Tujuan akuntansi biaya adalah menyediakan suatu informasi yang
diperlukan manajemen dalam mengelola perusahaan yaitu informasi
biaya yang bermanfaat untuk :
1) Perencanaan dan pengandalian biaya
2) Penentuan harga pokok produk atau jasa yang dihasilkan
perusahaan.
B. Harga pokok Produksi
1. Pengertian harga pokok produksi
Menurut Mulyadi (2009:11), mendifinisikan harga pokok tersebut
sebagai berikut :
“ Harga pokok adalah biaya yang dapat diukur atau merupakan harga
pertukaran dari sumber ekonomi yang dikorbankan atau diserahkan untuk
mendapatkan suatu barang jasa atau aktiva atau barang.”
Sedangkan menurut supriyono (2008:47) Harga Pokok adalah salah satu system harga pokok yang ditentukan dimuka untuk mengolah produk atau jasa tertentu debgan jalan menentukan besarnya taksiran biaya bahan baku, biaya tenaga kerja, dan biaya overhead pabrik yang diperlukan untuk mengolah produk atau jasa tersebut di waktu yang akan datang.
2. Unsur-unsur harga pokok produksi
Menurut Mowen (2006 : 162) unsur biaya produksi dibagi menjadi tiga
golongan yaitu :
a. Biaya Bahan Baku
Adalah semua bahan yang membentuk keseluruhan dari barang jadi
dan yang dapat dimasukkan langsung kedalam perhitungan harga
pokok produk, atau dengan kata lain bahan yang menjadi bagian
menyeluruh dari produk jadi. Dalam proses pengubahan dari bahan
baku sampai menjadi produk penggunaanya mudah diidentifikasikan.
b. Biaya Tenaga Kerja Langsung
Adalah biaya yang dikeluarkan untuk membayar tenaga kerja dalam
rangka mengubah bahan baku menjadi barang jadi. Sama seperti bahan
baku, biaya tenaga kerja langsung juga mudah diidentifikasikan.
Tenaga kerja dibagi menjadi dua, yaitu tenaga kerja langsung dan
tenaga kerja tidak langsung. Untuk tenaga kerja tidak langsung biaya
tenaga kerja dihitung berdasarkan tarif per jam kerja dan merupakan
komponen biaya overhead pabrik. Sedangkan untuk tenaga kerja
langsung penghitungan biaya tenaga kerja dapat dilakukan dengan
berdasarkan jam kerja maupun berdasarkan unit hasil produksi dengan
rumus:
BTKL = Jam kerja x Tarif upah per jam kerja atau
BTKL = Unit hasil produksi x Tarif upah per unit produksi
c. Biaya Overhead Pabrik
Adalah semua biaya produk selain biaya bahan baku dan biaya tenaga
kerja langsung. Biaya-biaya produksi yang termasuk dalam biaya
overhead pabrik, yaitu :
1) Biaya bahan penolong
Adalah bahan yang tidak menjadi bagian produk jadi atau bahan
yang meskipun menjadi bagian produk jadi tetapi nilainya relative
kecil bila dibandingkan dengan harga pokok produksi tersebut.
Berupa biaya suku cadang, biaya bahan habis pakai dan harga
perolehan jasa dari pihak luar untuk keperluan perbaikan dan
pemeliharaan.
3) Biaya tenaga kerja tidak langsung
Biaya tenaga kerja tidak langsung adalah biaya yang dikeluarkan
untuk tenaga kerja yang menyumbangkan jasanya dalam
pengolahan bahan baku menjadi barang jadi tetapi tidak langsung
menangani pembuatannya. Tenaga kerja tidak langsung terdiri
dari :
a. Karyawan yang bekerja dalam departemen pembantu, missal :
departemen gudang dan departemen tenaga listrik.
b. Karyawan tertentu yang bekerja pada departemen produksi
mandor.
c. Biaya timbul akibat penilaian terhadap aktiva tetap
Biaya-biaya yang termasuk dalam kelompok ini antara lain :
biaya penyusutan mesin pabrik, peralatan dan aktiva lain yang
digunakan di pabrik.
4) Biaya-biaya yang timbul akibat berlalunya waktu
Biaya-biaya yang termasuk dalam kelompok ini antara lain : biaya
asuransi, mesin, dan biaya asuransi kecelakaan karyawan.
5) Biaya overhead pabrik yang secara langsung memerlukan
Menurut Supriyono (2008), penentuan tarif biaya overhead pabrik yang
ditentukan di muka dapat memberikan manfaat bagi perusahaan sebagai
berikut :
1) Dapat dipakai sebagai alat untuk membebankan biaya overhead pabrik
kepada produk secara teliti, adil dan cepat dalam rangka menghitung
hargan pokok produksi.
2) Dapat dipakai sebagai alat untuk mengadakan pengendalian dan
perencanaan terhadap biaya overhead pabrik.
3) Dapat dipakai sebagai alat untuk pengambilan keputusan terutama
dalam rangka menyajikan informasi yang relevan.
4) Dapat dipakai sebagai alat pengendalian biaya overhead pabrik
Menurut Mulyadi (2009 : 200) ada lima dasar pembebanan biaya overhead
pabrik kepada produk yaitu sebagai berikut ini :
1) Satuan produksi
Metode ini paling sederhana, tarif biaya overhead pabrik didasarkan
pada satuan produksi dihitung dengan rumus:
Taksiran BOP Tarif =
Taksiran jumlah produk yang dihasilkan
2) Biaya bahan baku
Tarif biaya overhead pabrik yang menggunakan dasar biaya bahan
baku dihitung berdasarkan prosentase tertentu dari biaya bahan baku,
Taksiran BOP
Tarif = x 100% Taksiran Biaya Bahan Baku yang dipakai
3) Dasar biaya tenaga kerja langsung
Tarif biaya overhead pabrik yang menggunakan biaya tenaga kerja
langsung dihitung berdasarkan prosentase tertentu dari biaya tenaga
kerja langsung dengan rumus :
Taksiran BOP
Tarif = x 100% Taksiran BTKL
4) Jam Tenaga kerja langsung
BOP mempunyai hubungan yang erat dengan waktu untuk membuat
produk, maka dasar yang digunakan untuk membebankan adalah jam
tenaga kerja langsung. Tarif BOP yang dihitung dengan rumus :
Taksiran BOP Tarif =
Taksiran Jam Tenaga Kerja Langsung
5) Dasar jam mesin
Apabila BOP bervariasi dengan waktu penggunaan mesin (misalnya
bahan bakar atau listrik yang dipakai untuk menjalankan mesin). Tarif
BOP tersebut adalah sebagai berikut:
Taksiran BOP T =
3. Metode Perhitungan Harga Pokok Produksi
Menurut Mulyadi (2009:17) perhitungan harga pokok produksi dibagi
menjadi dua metode yaitu :
a. Metode Full Costing
Adalah metode penentuan biaya produksi yang memperhitungkan
semua unsur biaya produksi ke dalam biaya produksi, yang terdiri dari
biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead
pabrik, baik yang berperilaku variabel maupun tetap.
Unsur-unsur biaya dengan metode Full Costing adalah sebagai
berikut :
Biaya bahan baku xx
Biaya tenaga kerja langsung xx
Biaya overhead pabrik variabel xx
Biaya overhead pabrik tetap
Total biaya produksi
xx
b. Metode Variabel Costing
xx
Adalah metode penentuan biaya produksi yang hanya
memperhitungkan biaya produksi yang berperilaku variabel kedalam
biaya produksi, yang terdiri dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja
langsung, dan biaya overhead pabrik variabel.
Unsur-unsur biaya dengan metode variabel costing adalah sebagai
Biaya bahan baku xx
Biaya tenaga kerja langsung xx
Biaya overhead pabrik variabel
Total biaya produksi
xx
4. Metode Pengumpulan Biaya produksi
xx
Pada dasarnya metode pengumpulan biaya produksi dapat dibagi dalam
dua metode tergantung sifat atau karakteristik pengolahan bahan menjadi
produk selesai. Menurut Ahmad Riahi (2006 : 49) metode tersebut dibagi
dalam dua metode sebagai berikut :
a. Metode harga pokok pesanan (job order cost method)
Adalah suatu metode yang digunakan dalam pengumpulan harga pokok
suatu produk dimana dikumpulkan untuk setiap pesanan atau kontrak
jasa secara terpisah, dan setiap pesanan atau kontrak dapat dipisahkan
sesuai identitasnya. Metode ini dapat diterapkan pada perusahaan yang
menggunakan proses produksi secara terputus.
b. Metode harga pokok proses (process cost method)
Adalah suatu metode yang digunakan dalam pengumpulan harga pokok
suatu produk dengan mengumpulkan biaya untuk setiap satuan waktu
tertentu. Metode ini dapat diterapkan pada perusahaan yang
menggunakan proses produksi terus menerus.
Perbedaan metode harga pokok proses dengan metode harga pokok
a. Pengumpulan biaya produksi
Metode harga pokok pesanan mengumpulkan biaya produksi menurut
pesanan, sedangkan metode harga pokok proses mengumpulkan biaya
per departemen produksi per periode akuntansi.
b. Perhitungan harga pokok produksi per satuan
Metode harga pokok pesanan menghitung harga pokok produksi per
satuan dengan cara membagi total biaya yang dikeluarkan untuk
pesanan tertentu dengan jumlah satuan produk yang dihasilkan dalam
pesanan yang bersangkutan. Metode harga pokok proses menghitung
harga pokok produksi per satuan dengan cara membagi total biaya
produksi yang dikeluarkan selama periode tertentu dengan jumlah
satuan produk yang dihasilkan selama periode yang bersangkutan.
c. Penggolongan biaya produksi
Didalam metode harga pokok pesanan, biaya produksi harus dipisahkan
menjadi biaya produksi langsung dan biaya produksi tidak langsung.
Didalam metode harga pokok proses, pembedaan biaya produksi
langsung dan tidak langsung seringkali tidak diperlukan, terutama jika
perusahaan hanya menghasilkan satu macam produk.
d. Unsur biaya yang dikelompokkan dalam biaya overhead pabrik
Didalam metode harga pokok pesanan, biaya overhead pabrik
dibebankan kepada produk atas tarif yang ditentukan di muka. Didalam
produk sebesar biaya yang sesungguhnya terjadi selama periode
akuntansi tertentu.
Dalam perusahaan yang produksinya berdasarkan pesanan, informasi
harga pokok produksi per pesanan bermanfaat bagi namajemen untuk
hal-hal berikut ini.
a) Menentukan harga jual yang akan dibebankan kepada pemesan.
b) Mempertimbangkan penerimaan atau penolakan.
c) Memantau realisasi biaya produksi.
d) Menghitung laba atau rugi tiap pesanan.
e) Menentukan harga pokok persediaan produk jadi dan produk dalam
proses yang disajikan dalam neraca.
Perusahaan yang memproduksi berdasarkan pesanan memproses
produknya berdasarkan spesifikasi yang ditentukan oleh pemesan. Dengan
demikian biaya produksi pesanan yang satu berbeda dengan produksi
pesanan yang lain, tergantung pada spesifikasi yang dikehendaki oleh
pemesan. Oleh karena itu, harga jual yang dibebankan oleh pemesan
sangat ditetukan oleh biaya produksi yang akan dikeluarkan untuk
memproduksi pesanan tertentu. Sehingga harga pokok produksi untuk tiap
pesanan harus dihitung secara tepat.
5. Metode Harga Pokok Pesanan (Job Order Costing)
Metode harga pokok pesanan adalah metode pengumpulan harga
dipisahkan identitasnya. Perhitungan harga pokok produksi untuk suatu
pesanan tertentu dilakukan secara keseluruhan setelah pesanan tersebut
selesai diproduksi.
Karakteristik usaha perusahaan yang produksinya berdasarkan
pesanan berpengaruh terhadap pengumpulan biaya produksinya. Metode
pengumpulan biaya produksi dengan metode harga pokok pesanan yang
digunakan dalam perusahaan yang produksinya berdasarkan pesanan
menurut Mulyadi (2009:37) memiliki karakteristik sebagai berikut :
1) Perusahaan memproduksi berbagai macam produk sesuai dengan
spesifikasi pemesan dan setiap jenis produk perlu dihitung harga
pokok produksinya secara individual.
2) Biaya produksinya harus digolongkan berdasarkan hubungannya
dengan produk menjadi dua kelompok berikut ini : biaya produksi
langsung dan biaya produksi tidak langsung.
3) Biaya produksi langsung terdiri dari biaya bahan baku dan biaya
tenaga kerja langsung, sedangkan biaya produksi tidak langsung
disebut dengan istilah biaya overhead pabrik.
4) Biaya produksi langsung diperhitungkan sebagai harga pokok
produksi pesanan tertentu berdasarkan biaya yang sesungguhnya
terjadi, sedangkan biaya overhead pabrik diperhitungkan ke dalam
5) Harga pokok produksi dengan cara membagi jumlah biaya produksi
yang dikeluarkan untuk pesanan tersebut dengan jumlah unit produk
yang dihasilkan dalam pesanan yang bersangkutan.
Untuk mengumpulkan biaya produksi setiap pesanan digunakan kartu
harga pokok (job order cost sheet) yang berfungsi sebagai rekening
pembantu. Untuk mengerjakan pesanan di catat kedalam kartu harga
pokok pesanan yang bersangkutan secara langsung, sedangkan biaya
produksi tidak langsung di catat dalam kartu harga pokok berdasarkan
6. Kartu Harga Pokok Pesanan
Kartu harga pokok pesanan digunakan sebagai pengumpulan biaya produksi
tiap pesanan. Kartu ini dibuat berdasarkan dokumen-dokumen pendukung dari
kegiatan produksi. Menurut Mulyadi (2009 : 47). Berikut ini adalah contoh
kartu harga pokok pesanan
PT XXX
KARTU BIAYA PESANAN
No Pesanan : Pemesan :
Jenis Produk : Sifat Pesanan :
Tgl pesan : Jumlah :
Tgl selesai : Harga Jual :
Total biaya produk
Biaya bahan baku langsung = xxx Biaya tenaga kerja langsung = xxx Biaya overhead pabrik = xxx Jumlah hasil produksi xxx
Hasil Produksi = x potong Harga pokok produk per unit
xxx
= xxx xxx / unit
Gambar 2. 1
Kartu Harga Pokok Pesanan
Biaya Bahan Baku Biaya Tenaga Kerja Biaya Overhead Pabrik Tgl No BPBG Ket Jml Tgl No Kartu Jam Kerja Jml Tgl Jam Mesin Tarif Jml
7. Akuntansi Biaya Overhead Pabrik
Menurut Carter dan usry (2004:197) proses pencatatan akuntansi biaya
overhead pabrik secara garis besar berlangsung dalam tiga tahap yaitu :
a. Pencatatan dan pembebanan biaya bahan baku
Pencatatan kedua transaksi tersebut adalah sebagai berikut ini.
1) Jurnal saat transaksi pembelian bahan baku
Persediaan bahan baku xxx
Hutang dagang xxx
2) Jurnal saat transaksi pembelian bahan tersebut dilunasi
Hutang dagang xxx
Kas xxx
3) Jurnal saat pemakaian bahan baku
Persediaan barang dalam proses xxx
Persediaan bahan baku xxx
b. Pencatatan dan pembebanan biaya tenaga kerja
Pencatatan biaya tenaga kerja melalui tiga tahap berikut ini
1) Pencatatan biaya tenaga kerja langsung terutang oleh perusahaan.
Gaji dan upah xxx
Utang gaji dan upah xxx
2) Pencatatan distribusi biaya tenaga kerja
Persediaan barang dalam proses xxx
Biaya overhead pabrik xxx
3) Pencatatan biaya gaji dan upah
Utang gaji dan upah xxx
Kas xxx
c. Pencatatan dan pengakuan biaya overhead pabrik
Pencatatan biaya overhead pabrik adalah sebagai berikut ini.
1) Mencatat pembebanan biaya overhead pabrik
Barang dalam proses xxx
Biaya overhead pabrik dibebankan dimuka xxx
2) Mencatat biaya overhead pabrik sesungguhnya
Biaya overhead pabrik sesungguhnya xxx
Akumulasi penyusutan xxx
Kas xxx
3) Menutup biaya overhead pabrik
Biaya overhead pabrik dibebankan dimuka xxx
Biaya overhead pabrik xxx
4) Mencatat selisih biaya overhead pabrik
a) Apabila selisih lebih dibebankan
Biaya overhead pabrik xxx
Kelebihan dan kekurangan
biaya overhead pabrik xxx
b) Apabila selisih kurang dibebankan
biaya overhead pabrik xxx
Biaya overhead pabrik xxx
Menurut Bastian Bustami (2009 : 232) “ Biaya Overhead Aktual
adalah biaya tidak langsung yang terjadi selama periode tersebut.”
Pembebanan Overhead pabrik kepada produk dapat dilakukan
dengan cara sebagai berikut :
1) Penggunaan overhead pabrik berdasarkan yang sesungguhnya.
Penggunaan overhead pabrik sesungguhnya dapat dilakukan apabila
overhead pabrik dibebankan ke semua pekerja produk selama
biaya-biaya dapat dikendalikan dalam jangka pendek.
Semua overhead pabrik yang terjadi selama periode akuntansi akan
dikumpulkan dalam sebuah rekening pengendali yang disebut dengan
rekening BOP pengendali atau FOH Controll.
Jurnal untuk mencatat biaya overhead pabrik aktual adalah :
Pengendali Biaya Overhead Pabrik xxx
Utang usaha xxx
Beban dibayar dimuka xxx
Akumulasi penyusutan xxx
(Jurnal untuk mencatat BOP selain biaya bahan tidak langsung dan tenaga kerja tidak langsung)
2) Penggunaan overhead pabrik berdasarkan tarif ditentukan dimuka.
Tarif overhead ditentukan dimuka adalah tarif overhead pabrik
yang diharapkan akan terjadi di masa akan dating dengan total dasar
alokasi biaya overhead pabrik yang dianggarkan.
Rumus :
Tarif Ditentukan Dimuka = Anggaran BOP
Total Dasar Alokasi
Apabila biaya tidak dapat dikendalikan dalam jangka pendek, misalnya
terjadi perubahan biaya bulan ke bulan atau dari musim kemusim
sehingga pekerjaan yang diselesaikan selama perubahan tersebut juga
menyebabkan pembebanan biaya yang berbeda secara signifikan, maka
penggunaan overhead pabrik yang sesungguhnya tidak logis untuk
dipergunakan.Untuk memungkinkan adanya alokasi yang adil dan
logis dalam mengaokasikan biaya tersebut maka dapat digunakan tarif
overhead pabrik yang ditentukan dimuka.
Sedangkan Overhead pabrik yang dibebankan atau FOH Applied
adalah pembebanan biaya overhead pabrik ke objek biaya dengan
menggunakan tarif yang ditentukan dimuka.
Rumus :
BOP dibebankan = Tarif ditentukan dimuka x Aktivitas Aktual
Jurnal untuk mencatat overhead pabrik dibebankan :
Produk Dalam Proses xxx
8. Penentuan dan Perlakuan Selisih Biaya Overhead Pabrik
Setelah pesanan produk selesai dan jumlah biaya overhead pabrik
sesungguhnya dapat ditentukan maka jumlah biaya overhead pabrik
dibebankan dibandingkan dengan biaya overhead pabrik (Mulyadi 2009 :
208). Untuk menentukan jumlah selisih biaya overhead pabrik yang
dibebankan pada produk dengan menggunakan pernghitungan seperti
berikut ini:
Biaya overhead pabrik dibebankan xxx
Biaya overhead pabrik sesungguhnya
Selisih biaya overhead pabrik xxx
xxx
Untuk mencatat selisih biaya overhead pabrik yang dibebankan pada
produk maka perlu dibuat jurnal seperti berikut ini.
a. Untuk menutup rekening biaya overhead pabrik dibebankan ke rekening
biaya overhead pabrik sesungguhnya.
Biaya overhead pabrik dibebankan xxx
Biaya overhead pabrik sesungguhnya xxx
b. Untuk mencatat selisih biaya overhead pabrik yang dibebankan
1) Apabila selisih kurang dibebankan.
Selisih biaya overhead pabrik xxx
Biaya overhead pabrik sesungguhnya xxx
2) Apabila selisih lebih dibebankan.
Biaya overhead pabrik sesungguhnya xxx
C. Harga Jual
1. Pengertian harga jual
Pada umumnya, harga tidak menentukan harga jual produk atau
jasa, harga jual suatu produk terbentuk dipasar sebagai suatu interaksi
antara jumlah permintaan dan penawaran di pasar.
Namum manajemen puncak memerlukan informasi biaya penuh
untuk memperhitungkan konsekuensi laba dari setiap alternative harga jual
yang terbentuk di pasar, oleh karena itu manajemen puncak harus
memperoleh jaminan bahwa harga jual produk dan jasa dapat menutup
biaya penuh untuk menghasilkan produk tersebut dan dapat menghasilkan
laba wajar ditentukan sebesar tarif reinventasi yang diharapkan, yang
dihitung sebesar persentase tertentu dari aktiva penuh.
Menurut Mulyadi Harga Jual adalah “ Umumnya harga jual
produk dan jasa standar ditentukan olah pertimbangan permintaan dan
penawaran di pasar sehingga biaya bukan merupakan penentu harga
jual.”
Satu-satunya factor yang memiliki kepastian yang relative tinggi
yang berpengaruh pada harga jual adalah biaya, karena biaya memberikan
informasi batas bawah suatu harga jual yang ditentukan, dan apabila suatu
perusahaan menetapkan harga jual di bawah harga pokok, maka
mengalami kerugian akan menyebabkan kelangsungan hidup perusahaan
Salah satu cara untuk menetapkan harga yang berdasarkan harga
pokok adalah dengan jalan menambah harga pokok (biaya total) dengan
persentase tertentu yang merupakan keuntungan perusahaan, seperti
ilustrasi yang penulis berikan di bawah ini :
Diketahui besarnya biaya yang akan dikeluarkan untuk memproduksi
barang A sebagai berikut :
Bahan baku 5 piece @ Rp 60.000
Tenaga Kerja 5 jam @ Rp 10.000
Biaya overhead pabrik Rp 20.000
Jika suatu perusahaan mengharapkan besarnya laba yang diperoleh adalah
sebesar 10% dari harga pokok barang, maka perhitungan harga jual barang
A adalah sebagi berikut :
Harga jual barang A :
Bahan baku Rp 300.000
Tenaga kerja Rp 50.000
Biaya Overhead Pabrik
Jumlah Rp 370.000
Rp 20.000
Laba usaha (10% dari Harga Pokok)
Harga jual Rp 407.000
Rp 37.000
Dengan demikian harga jual barang A per piece berdasarkan perhitungan
harga pokok produksi adalah :
2. Metode penentuan harga jual
Menurut Slamet Sugiri (2004 : 112) terdapat tiga metode
penentuan harga jual yaitu :
a. Penentuan Harga Jual Normal (Cost-plus pricing)
Metode penentuan harga jual normal seringkali disebut dengan
istilah cost plus pricing, karena harga jual ditentukan dengan
menambah biaya masa yang akan dating dengan suatu presentase
mark-up (tambahan diatas jumlah biaya) yang dihitung dengan formula
tertentu.
Harga jual produk atau jasa dalam keadaan normal ditentukan
dengan formula sebagai berikut :
Harga jual : Taksiran biaya penuh + laba yang diharapkan
Taksiran biaya penuh dapat dihitung dengan dua pendekatan : full
costing dan variable costing. Dalam pendekatan full costing, taksiran
biaya penuh yang dipakai sebagai dasar penentuan harga jual terdiri
dari unsur-unsur sebagai berikut :
Bahan baku langsung Rp xxx
Biaya tenaga kerja langsung Rp xxx
Biaya overhead pabrik (variabel + tetap)
Taksiran total biaya produksi xxx
Rp xxx +
Biaya administrasi dan umum xxx
Taksiran total biaya komersial
Taksiran biaya penuh Rp xxx
xxx +
Sementara taksiran biaya penuh dengan pendekatan variable
costing yang dipakai dasar penentuan harga jual terdiri dari
unsur-unsur sebagai berikut :
Biaya variabel :
Biaya bahan baku Rp xxx
Biaya tenaga kerja langsung xxx
Biaya overhead pabrik variabel
Taksiran total biaya produksi variabel Rp xxx
xxx
Biaya administrasi dan umum variabel Rp xxx
Biaya pemasaran variabel
Taksiran total biaya variabel Rp xxx
xxx
Biaya tetap :
Biaya overhead pabrik tetap Rp xxx
Biaya administrasi dan umum tetap Rp xxx
Biaya pemasaran tetap
Taksiran total biaya tetap
Rp xxx
Taksiran biaya penuh Rp xxx
Rp xxx
Jika biaya yang dipakai sebagai dasar penentuan harga jual, baik
akan dating dibagi menjdi dua : biaya yang dipengaruhi secara
langsung oleh volume produk dan biaya penuh yang tidak dipengaruhi
oleh volume produk. Dalam penentuan harga jual, biaya penuh yang
secara langsung berhubungan dengan volume produk dipakai sebagai
dasar penentuan harga jual, sedangkan taksiran biaya penuh yang tidak
dipengaruhi oleh volume produk ditambahkan kepada laba yang
diharapkan untuk kepentingan perhitungan mark-up.
Untuk mengetahui penentuan perhitungan harga jual per unit atas
dasar biaya secara umum dapat dinyatakan dalam rumus atau
persamaan sebagai berikut :
Biaya yang berhubungan Harga Jual per unit = Langsung dengan Volume +
presentase
Mark - up
(per unit)
Presentase perhitungan Mark – up dihitung dengan rumus :
b. Penentuan Harga Jual Cost-Type Contract (Cost-Type Contract
Pricing)
Cost-type contract adalah kontrak pembuatan produk atau jasa
yang pihak pembeli setuju untuk membeli produk atau jasa pada harga
yang didasarkan pada total biaya yang sesungguhnya dikeluarkan
Biaya yang tidak Presentase Mark-up = Laba yang diharapkan +
dipengaruhi langsung oleh volume produk Biaya yang dipengaruhi langsung oleh produk
produsen dengan laba yang dihitung sebesar presentase tertentu dari
total biaya sesungguhnya tersebut. Untuk mengetahui perhitungan
harga jual cost-type contract maka dapat dilihat dalam rumus sebagai
berikut :
Biaya langsung proyek Rp 450
Biaya tidak langsung proyek
Total biaya penuh proyek Rp 575
125
Harga jual yang dibebankan kepada pemilik proyek dalam cost-type
contract dihitung sebagai berikut :
Total biaya penuh proyek Rp 575
Laba (presentase laba) x total biaya penuh proyek 57,5
(Rp 57,5 + laba 10% x575)
Harga jual yang dibebankan kepada pemilik proyek Rp 632,5
c. Penentuan Harga Jual Pesanan Khusus (special Order)
Pesanan khusus merupakan pesanan yang diterima oleh perusahaan
diluar pesanan regular, biasanya pemesan yang melakukan pesnan ini
meminta harga dibawah harga jual normal, bahkan seringkali harga
yang diminta pemesan berada dibawah biaya penuh, karena biasanya
pemesan pesanan khusus mencakup jumlah yang besar.
Pesanan regular adalah pesanan yang dibebani tugas untuk
Pesanan khusus yang dimaksud disini adalah bahwa perusahaan
tidak hanya akan mengeluarkan biaya variabel saja, namun
memerlukan biaya tetap karena harus beroperasi diatas biaya variabel
+ kenaikan biaya tetap karena pesanan khusus tersebut. Sebagai contoh
untuk mengilustrasikan cara perhitungan harga pokok pesanan
k/kghusus sebagai tindakan pengambilan keputusan sebagi berikut :
Harga jual produk ditentukan sebesar Rp 4.500/kg, dan biaya penuh
per kg Rp 3.500, biaya tetap sebesar Rp 1.400.000 diperkirakan akan
dapat diserap oleh volume produk, sebanyak 100.000 kg yang berasal
dari pesanan regular pelanggan. Jika misalnya Rp 3.400/kg dengan
jumlah pesanan sebayak 200 kg, maka berdasarkan dari data tersebut,
apakah pesanan tersebut akan diterima atau ditolak oleh perusahaan.
Dalam mempertimbangkan permintaan penawaran tersebut,
manajer pemasaran harus memperlakukan pesanan tersebut sebagai
pesanan khusus, oleh karena itu pesanan tersebut tidak dibebani
tanggung jawab untuk menutup biaya tetap, karena biaya tetap akan
ditutupi dari pesanan regular sebanyak 100.000 kg tersebut, harga yang
diminta oleh pembeli dengan biaya variabel Rp 2.100 untuk
menghasilkan produk tersebut, masih menghasilkan laba konstribusi
sebesar Rp 260.000 seperti terlibat dalam perhitungan sebagai berikut :
Total harga jual pesanan khusus 200 Kg @Rp 3.400 Rp 680.000
Khusus 200 kg @Rp 2.100
Laba kontribusi Rp 260.000
Rp 420.000
Karena biaya tetap dibebankan ke dalam biaya pesanan regular maka
diharapkan pesanan khusus ini akan menambah laba bersih Rp
260.000. Dengan demikian meskipun yang diterima oleh pelanggan di
bawah harga jual normal, dan bahkan dibawah harga penuh per satuan,
pesanan khusus tersebut dapat diterima, karena akan menambah laba
bersih. Tentu saja penerimaan pesanan khusus ini harus
mempertimbangkan dampak diperlakukannya diskriminasi harga jual
pembeli produk perusahaan.
3. Faktor-faktor yang mempengaruhi harga jual
Menurut Charles T. Horngren (2005 : 494) factor-faktor yang
mempengaruhi harga jual terdiri dari tiga hal yaitu :
a. Pelanggan mempengaruhi harga melalui pengaruh mereka pada
permintaan atas suatu produk atau jasa. Perusahaan harus selalu
menguji keputusan penentuan harga melalui para pelanggan mereka.
Harga yang terlalu tinggi dapat meyebabkan pelanggan menolak
produk sutau perusahaan dan memilih produk pengganti atau yang
bersaing.
b. Pesaing
Perusahaan harus menyadari tindakan dari para pesaingnya. Pada satu
mempengaruhi permintaan dan memaksa sebuah perusahaan untuk
menurnkan harganya. Di sisi lainnya, sebuah perusahaan yang tidak
memiliki pesaing dapat menetapkan harga yang lebih tinggi. Saat
terdapat pesaing, pengetahuan tentang teknologi si pesaing, kapasitas
pabrik, dan kebijakan operasi membuat sebuah perusahaan mampu
memperkirakan biaya pesaingnya informasi yang berharga dalam
menetapkan harga.
c. Biaya
Biaya mempengaruhi harga karena biaya mempengaruhi penawaran.
Makin rendah biaya produksi sebuah relative terhadap harga yang
dibayarkan pelanggan, makin besar kuantitas produk yang bersedia
ditawarkan oleh perusahaan. Para manajer yang memahami biaya
produksi suatu produk perusahaan mereka menetapkan harga produk
itu menarik bagi pelanggan yang dapat memaksimalkan penghasilan
operasi perusahaan mereka. Informasi biaya hanya membantu
perusahaan memutuskan level output yang memaksimalkan