BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1. Kesimpulan
Politik luar negeri dan praktik diplomasi Indonesia dalam satu dasawarsa terakhir pasca Orde Baru sangat menarik dan penting untuk diamati dan dikaji. Hal ini bukan saja karena latar belakang sosial, ekonomi dan politik domestik dan internasional pelaksanaan kebijakan luar negeri tersebut yang berbeda dengan masa-masa sebelumnya, tetapi juga karena adanya kekhasan dalam pendekatan kebijakan luar negeri Indonesia pada periode tersebut. Jika di era sebelumnya politik luar negeri Indonesia lebih fokus pada pendekatan hard power based foreign policy maka di era Reformasi cenderung mulai mengembangkan soft power based foreign policy. Sehingga kajian tersebut penting bukan hanya untuk kepentingan akademik semata, tetapi juga untuk kepentingan praktis, yaitu sebagai sumber lesson learned guna memperbaiki praktik politik luar negeri Indonesia ke depan.
Berbeda dengan pemerintah era Orde Lama dan Orde Baru, yang pada umumnya mengkonstruksikan standar HAM internasional secara negatif, maka pemerintah era Reformasi mengkonstruksikan standar HAM internasional secara lebih positif. Pemerintah era Reformasi tidak lagi melihat standar HAM internasional sebagai sesuatu yang berasal dari Barat dan merupakan “kepanjangan tangan” dari Liberalisme, Kapitalisme dan Imperialisme. Oleh karena itu, dalam pandangan Indonesia era Reformasi, standar HAM internasional bukan merupakan ancaman terhadap ideologi dasar negara dan nilai-nilai budaya nasional seperti yang difahami oleh pemerintah Orde Lama dan Orde Baru. Standar HAM internasional tersebut justru dilihat sebagai sesuatu yang sesuai dengan apa yang sudah diamanatkan dalam UUD‟45 dan Pancasila serta nilai-nilai sosial, budaya dan adat istiadat Indonesia. Bahkan pandangan yang dominan di era Reformasi adalah bahwa standar HAM internasional sangat diperlukan dan penting bagi pembangunan Indonesia di segala bidang; sosial, ekonomi, politik
dan menjaga perdamaian dan keamanan dalam negeri serta untuk mempertahankan dan meningkatkan martabat, posisi dan peran Indonesia di arena internasional.
Indonesia bukan saja menerima semua hak seperti yang termuat dalam berbagai kovenan atau konvensi HAM internasional, tetapi juga tidak lagi mempersoalkan mana yang menjadi prioritas untuk diterapkan. Jika di era Orde Lama dan Orde Baru yang menjadi prioritas untuk dipenuhi adalah hak sosial, ekonomi dan budaya, khususnya hak ekonomi, maka pada era Reformasi semua hak tersebut harus dipenuhi secara bersamaan, tanpa pembedaan. Ini sesuai dengan prinsip-prinsip HAM universal yang menegaskan bahwa HAM bersifat: universal, melekat (inherent), tidak dapat dipisah-pisahkan (indivisibility), tidak dapat dicabut (inalienable) dan saling tergantung (interdependent) satu sama lain.
Walaupun demikian, seperti halnya pemerintah sebelumnya, pemerintah era Reformasi tetap mempertahankan pandangan partikularisme (particularism). Indonesia memang dapat menerima semua hak-hak yang terkandung atau termuat dalam standar HAM internasional secara utuh. Akan tetapi dalam pelaksanaannya (implementasinya) di dalam negeri harus tetap disesuaikan dengan struktur sosial dan politik Indonesia serta nilai-nilai dasar sosial dan budaya serta ideologi negara Pancasila dan UUD‟45. Penyesuaian ini penting, menurut pemerintah era Reformasi, untuk menjaga agar dalam implementasi standar HAM internasional tersebut tidak berakibat tergerusnya “kedaulatan” nasional Indonesia, utamanya ideologi negara, nilai-nilai dasar sosial, ekonomi dan budaya serta agama yang sudah hidup dan berkembang dalam masyarakat Indonesia. Namun harus dicatat, bahwa pandangan relativisme budaya yang dianut oleh pemerintah era Reformasi ini hanya berlaku dalam aspek mekanisme pengawasan atau kontrol dan monitoring terhadap implementasi dari standar HAM tersebut, bukan pada jenis dan substansi dari hak-hak yang ada.
Ada beberapa penjelasan yang dapat dikemukakan berkaitan dengan berubahnya konstruksi Indonesia terhadap standar HAM internasional di era Reformasi ini. Penyebab perubahan tersebut tidaklah bersifat tunggal, melainkan gabungan dari beberapa faktor yang dapat dikelompokan menjadi dua penyebab
pokok: pertimbangan kepentingan pragmatis dan alasan kepentingan yang bersifat normatif. Perubahan sikap dan pandangan tersebut untuk sebagian besar didasarkan atas pemikiran yang rasional, self-consciousness dan by design, tidak semata-mata karena adanya tekanan pihak luar maupun dalam negeri. Jadi intinya, perubahan sikap, cara pandang dan kebijakan Indonesia era Reformasi terhadap standar HAM internasional tersebut merupakan hasil pemikiran yang rasional dan kalkulatif akan makna dan kegunaan nilai-nilai HAM universal tersebut untuk kepentingan nasional Indonesia. Ada keyakinan bahwa menghormati, menegakkan, memenuhi dan memajukan HAM penting artinya untuk kepentingan ekonomi, politik dan keamanan Indonesia sendiri.
Pertama, karena dorongan kepentingan pragmatis, yaitu kebutuhan untuk keluar dari krisis ekonomi yang melanda dunia ketika itu. Ada pemahaman bahwa pada saat sumber-sumber power lainnya (khususnya hard power), mengalami kesulitan untuk diperolah atau dimanfaatkan oleh Indonesia, kebijakan seperti itu sangat penting untuk membangun kembali kekuatan sosial, ekonomi dan politik Indonesia.733 Sebagaimana diketahui, adanya the Global Financial Crisis menjelang kejatuhan presiden Suharto telah mengakibatkan Indonesia harus menghadapai krisis multi-dimensional. Krisis tersebut bukan saja menyebabkan hancurnya fundamental ekonomi Indonesia tetapi juga telah memicu terjadinya instabilitas dan ketegangan sosial dan politik dalam negeri. Sementara itu, krisis tersebut juga telah berdampak pada merosotnya sumber hard power Indonesia lainnya yaitu kekuatan militer yang sempat berada pada titik di bawah kemampuan Singapura, Malaysia, Thailand, Filipina dan Vietnam. Akibatnya power resources (modalitas) yang dimiliki Indonesia untuk menjalankan politik luar negerinya juga mengalami defisit (penggerusan) yang sangat signifikan khususnya sumber daya yang berkaitan dengan hard power; kemampuan ekonomi dan militer. Upaya untuk keluar dari krisis yang sangat serius tersebut dipersulit dengan adanya penghentian bantuan ekonomi dari berbagai negara dan lembaga internasional, diterapkannya hambatan perdagangan bagi produk-produk
733
Hal ini tercermin dari dikeluarkannya Rencana Aksi Nasional HAM di Indonesia setiap 5 tahun sekali sejak tahun 1999.
Indonesia dan embargo persenjataan oleh Amerika Serikat yang berkaitan dengan isu pelanggaran HAM yang dilakukan Indonesia di masa sebelumnya.
Kecenderungan baru dalam politik internasional yang mengaitkan isu HAM dan bantuan ekonomi seperti telah dijelaskan di bagian awal tentu saja menimbulkan kesulitan bagi Indonesia di panggung politik internasional. Sebagaimana diketahui, di masa lampau Indonesia sampai dengan berakhir Pemerintah Orde Baru dianggap telah melakukan banyak pelanggar HAM berat. Dalam konteks ini perubahan sikap dan cara pandang terhadap standar HAM internasional tersebut dipandang perlu guna meningkatkan image atau citra positif Indonesia di dunia internasional, khususnya keluar dari citra buruk sebagai negera pelanggar HAM berat dan negara dengan politik luar negeri yang agresif, konfrontatif, reaktif dan rigid. Melalui pembangunan citra ini Indonesia berharap selanjutknya akan mendapatkan bantuan dan dukungan politik dan ekonomi dari masyarakat internasional, terutama dari negara-negara Barat yang sebelumnya sangat kritis terhadap penegakkan HAM dalam negeri Indonesia. Padahal negara-negara tersebut adalah negara-negara-negara-negara donor penting bagi pembangunan Indonesia. Pada saat yang sama, dengan berhasilnya membangun kembali image positif tersebut, Indonesia juga berharap dapat membuka ruang yang lebih luas untuk tetap dapat mempertahankan dan memperkuat posisi dan peran strategisnya di panggung internasional.
Kedua, karena alasan yang bersifat normatif yaitu berkembang dan menguatnya isu-isu “baru” yang menjadi perhatian publik internasional seperti isu HAM dalam hubungan internasional. Ada kesadaran bahwa standar HAM internasional secara normatif adalah “benar” dan “baik” serta bermanfaat bagi kepentingan nasional Indonesia khususnya dan umat manusia pada umumnya. Tambahan lagi sesungguhnya prinsip-prinsip dan nilai-nilai HAM universal bukanlah sesuatu yang baru bagi Indonesia. Nilai-nilai HAM tersebut sudah termuat dan diamanatkan dalam Undang-Undang Dasar 45 dan Pancasila. Dengan demikian, Indonesia memandang bahwa standar HAM internasional bukan saja tidak bertentangan dengan ideologi dasar negara UUD‟45 dan Pancasila tetapi malahan dianggap sesuai dan saling melengkapi. Oleh karena itu, sebagai negara
yang beradab dan berbudaya Indonesia merasa berkewajiban untuk ikut bergabung dengan masyarakat internasional, bukan saja bersikap dan berpandangan positif terhadap standar HAM internasional tersebut, tetapi juga menerima dan mengimplementasikannya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Kewajiban yang bersifat normatif tersebut diperkuat lagi dengan berkembangnya tuntutan indentitas baru Indonesia sebagai negara yang demokratis (atau sedang dalam transisi menuju demokrasi). Sebagaimana diketahui naiknya pemerintah era Reformasi menggantikan Pemerintah Orde Baru pimpinan Suharto menandai dimulainya era baru di Indonesia, yaitu era sistem politik yang demokratis. Sebagai negara demokrasi baru, Indonesia dituntut untuk, mau tidak mau, menghormati, melindungi, memenuhi dan memajukan HAM. Hal ini mengingat HAM dan demokrasi merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan, seperti dua sisi mata uang yang sama. Pembangunan demokrasi memerlukan penegakkan HAM, dan sebaliknya penegakkan HAM memerlukan sistem yang demokratis. Inilah yang menjelaskan mengapa Indonesia mengubah konstruksinya terhadap standar HAM internasional dari bersikap negatif dan hati-hati menjadi lebih positif: akomodatif dan kooperatif. Ringkasnya, dapat disimpulkan bahwa penghormatan dan penegakkan HAM di tanah air sangat dipengaruhi oleh karakter dan praktik politik yang berlaku di Indonesia. Jika sistem politik yang dijalankan bersifat authoritarian, seperti di era Orde Lama dan Orde Baru, maka bukan saja HAM diabaikan tetapi justru terjadi pelanggaran HAM yang masif. Sebaliknya, jika sistem politik yang diterapkan demokratis, maka upaya penghormatan, perlindungan, pemenuhan dan pemajuan HAM menjadi lebih prospektif.
Konstruksi Indonesia terhadap standar HAM internasional yang berubah menjadi lebih positif tersebut telah mempengaruhi kebijakan Indonesia terhadap standar HAM internasional. Jika sebelumnya Indonesia bersifat pasif, reluctant dan bahkan menolak mengadopsi (meratifikasi) standar HAM internasional, maka Indonesia di era Reformasi berubah menjadi lebih akomodatif, aktif dan bahkan proaktif bergabung dengan masyarakat internasional dalam mengadopsi standar
HAM internasional tersebut. Indonesia yang sebelumnya di era Orde Lama dan Orde Baru hanya bersedia mengadopsi standar HAM internasional yang umumnya mengandung resiko politik dan hukum yang rendah seperti Konvensi Hak Perempun (CEDAW) dan Konvensi Hak Anak (CRoC), berubah (bersama-sama dengan hampir sebagian besar negara-negara di dunia) menerima hampir semua standar HAM internasional tersebut, termasuk kovenan atau konvensi yang beresiko politik dan hukum yang tinggi seperti Kovensi Anti Penyiksaan (CAT), Konvensi Anti Diskriminasi Rasial (CERD), Kovenan Hak Sipil dan Politik (ICCPR) serta Kovenan Hak Sosial Ekonomi dan Budaya (ICESCR) dan terakhir Konvensi Perlindungan Buruh Migran (ICMW).
Lebih lanjut, Indonesia di era Reformasi juga telah menunjukan komitmen untuk menjalankan tanggungjawabnya sebagai negara pihak dengan cara berusaha mengimplementasikan nilai-nilai dalam standar HAM internasional tersebut dalam sistem hukum dan perundang-undangan nasionalnya. Hal ini terlihat dari cukup banyaknya produk hukum (peraturan dan perundangan-undangan) yang berkaitan dengan HAM yang dikeluarkan oleh pemerintah Indonesia di era Reformasi. Sebagai misal, di era pemerintahan Presiden pertama era Reformasi, B.J. Habibie, Indonesia berhasil mengeluarkan beberapa produk hukum dan perundangan-undangan yang sangat penting dalam upaya menghormati, melindungi, menegakkan, memenuhi dan memajukan HAM di tanah air. Beberapa di antaranya adalah Keppres Nomor 129 Tahun 1998 tentang Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia, TAP MPR Nomor XVII Tahun 1998 tentang Hak Asasi Manusia, Undang-undang Nomor 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia, dan puncaknya adalah dilakukannya amandemen terhadap Undang-Undang Dasar 1945 dengan memasukan secara khusus dan eksplisit pasal-pasal mengenai HAM ke dalamnya, yaitu termuat pada bab X A, Pasal 28 A sampai dengan 28 J.
Selain itu, masih ada puluhan lagi produk hukum lain yang berkaitan dengan upaya penghormatan, perlindungan, pemenuhan dan pemajuan HAM yang dikeluarkankan oleh Indonesia di era Reformasi ini, baik di era pemerintahan Habibie, Gus Dur, Megawati maupun pemerintahan SBY. Undang-undang atau
peraturan yang dimaksud meliputi produk hukum dan peraturan baik yang bersifat baru sebagai bagian dari proses pengadopsian standar HAM internasional ke dalam sistem hukum Indonesia maupun yang bersifat sebagai revisi/perbaikan atau bahkan penghapusan terhadap undang-undang atau peraturan yang bertentangan dengan isi standar HAM internasional yang sudah diratifikasi oleh Indonesia.
Salah satu produk hukum yang termasuk ketegori kedua ini adalah Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 1999 Tentang Pencabutan Undang-undang Nomor 11/pnps/tahun 1963 Tentang Pemberantasan Kegiatan Subversi. Undang-undang ini dihapuskan karena dianggap bertentangan dengan hak asasi manusia dan prinsip negara yang berdasarkan atas hukum. Sedangkan contoh dari produk hukum baru sebagai bagian dari upaya pengadopsian standar HAM internasional dalam sistem hukum nasional adalah, di antaranya, Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002, tentang Perlindungan Anak, Undang-Undang-Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1998, tentang Kemerdekaan Menyatakan Pendapat di Muka Umum dan Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2000, tentang Pengadilan HAM.
Selain itu, Indonesia juga telah berusaha membentuk atau memperkuat lembaga-lembaga yang berkaitan dengan upaya penghormatan, perlindungan, penegakkan, pemenuhan dan pemajuan HAM. Sebagai misal, Indonesia di era Reformasi telah memperkuat Komisi Hak Asasi Manusia (KOMNAS HAM) dengan cara memperkuat status hukumnya dari sebelumnya didasarkan atas Keppres diganti dengan Undang-undang, yaitu Undang-undang Nomor 39 tahun 1999 tentang HAM. Pada awal era Reformasi lembaga ini juga mendapatkan penguatan kapasitas melalui dukungan dana serta rekruitmen sumber daya manusia yang cukup baik. Namun akhir-akhir ini peran dan posisi Komnas HAM ini terlihat semakin melemah. Selain itu, pada saat yang sama tumbuh dan berkembang pula berbagai lembaga HAM lainnya, baik yang dibentuk oleh pemerintah maupun yang dibentuk oleh masyarakat sipil. Misalnya Komisi Perlindungan Anak Indonesia (2002), Komnas Perempuan (1998) dan berbagai lembaga swadaya masyarakat lainnya.
Terakhir, walaupun masih banyak kritik terhadap keseriusan dan hasil yang dicapai, namun patut dicatat bahwa Indonesia di era Reformasi telah pula berusaha untuk mengimplementasikan berbagai peraturan perundang-undangan tersebut dalam kehidupan nyata. Hal ini misalnya terlihat dari kebijakan Indonesia yang melakukan proses peradilan terhadap beberapa orang (sipil dan petinggi militer) yang disangka terlibat dalam berbagai kasus aksi pelanggaran HAM di masa lalu. Misalnya terhadap mereka yang dituduh telah terlibat dalam kasus pelanggaran HAM di Aceh, Lampung, Tanjung Priok, dan yang paling terkenal, terhadap mereka yang dipersangkakan terlibat dalam peristiwa Santa Cruze di Timor Timur. Upaya implementasi nilai-nilai yang termuat dalam standar HAM internasional tersebut juga terlihat dari berbagai kebijakan pemerintah yang berusaha memenuhi hak-hak warga negaranya di berbagai bidang, seperti bidang, politik, ekonomi dan sosial; kesehatan, pendidikan dan kebudayaan.
Perubahan kebijakan luar negeri Indonesia, dari yang sebelumnya bersifat pasif, reluctant dan bahkan menolak mengadopsi (meratifikasi) standar HAM internasional menjadi lebih akomodatif, aktif dan bahkan proaktif dalam mengadopsi standar HAM internasional tersebut telah membawa manfaat atau dampak positif bagi kepentingan pembangunan sosial, ekonomi dan politik nasional Indonesia. Dalam bidang politik, misalnya, kebijakan yang pro-HAM tersebut telah mengendorkan tekanan masyarakat internasional terhadap Indonesia. Hal ini dibuktikan dengan berkurangnya kritik dan kecaman negara-negara tersebut terhadap Indonesia dalam masalah HAM serta mengalirnya kembali bantuan ekonomi dan dukungan politik mereka terhadap Indonesia. Sedangkan ke dalam, kebijakan tersebut telah ikut membantu mewujudkan sistem politik Indonesia yang lebih demokratis, aman dan stabil. Hasilnya, bukan saja Indonesia dapat keluar dari pusaran krisis ekonomi global bahkan bisa bangkit menjadi suatu negara dengan pertumbuhan ekonomi yang tinggi di kawasan dalam periode lebih dari satu setengah dasawarsa terakhir.
Selain itu, seiring dengan meningkatnya image positif dan kepercayaan masyarakat internasional, Indonesia juga pada akhirnya dapat mempertahankan dan bahkan memperkuat posisi dan perannya di percaturan politik internasional.
Hal ini tercermin dari berhasilnya Indonesia menduduki beberapa posisi penting dan strategis di lembaga internasional dan regional seperti menjadi Ketua Komisi HAM PBB (2005), menjadi anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB (2007-2008) dan ketua ASEAN. Posisi dan peran tersebut dapat dipastikan hampir tidak mungkin dapat dicapai Indonesia tanpa adanya kepercayaan dari masyarakat internasional terhadap komitmen Indonesia dalam penghormatan, perlindungan, penegakkan, pemenuhan dan pemajuan HAM dalam negeri.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kebijakan luar negeri Indonesia yang aktif untuk bergabung dengan masyarakat internasional melalui pengadopsian (ratifikasi) standar HAM international tersebut merupakan bukti yang kuat bahwa politik internasional dibentuk dan dikendalikan oleh ide-ide, standar, konsepsi-konsepsi, nilai-nilai dan asumsi-asumsi yang dimiliki dan secara bersama-sama oleh para aktornya. Dengan kata lain, realitas politik internasional pada dasarnya hasil konstruksi secara sosial oleh agen-agen melalui proses belajar dan pemahaman bersama (intersubjective) dan saling mempengaruhi. Pergeseran tersebut dimungkinkan terjadi karena keberhasilan Indonesia dalam memahami dunia yang tidak hanya merupakan fungsi dari distribusi material power seperti kekuatan militer dan ekonomi, melainkan juga terdiri dari ide-ide, pemikiran dan kepercayaan para agensi atau aktor (dalam dan luar negeri). Dalam hal ini, yang dimaksud ide-ide dan kepercayaan tersebut adalah standar HAM internasional. Indonesia melihat bahwa standar HAM internasional tersebut merupakan hasil bentukan dan pemahaman bersama para agensi atau aktor, termasuk Indonesia sendiri atau merupakan hasil suatu proses share understanding of legitimate behavior seperti dikonsepkan oleh kaum Konstruktivis. Sehingga hal tersebut mendorong Indonesia untuk merasa berkewajiban untuk mengadopsi dan mengimplementasikannya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Kebijakan luar negeri Indonesia di era Reformasi yang bergabung dengan masyarakat internasional melalui pengadopsian standar HAM internasional tersebut merupakan suatu terobosan penting dalam pelaksanaan politik luar negeri Indonesia. Pendekatan yang akomodatif, kooperatif dan proaktif seperti itu belum pernah dilakukan oleh pemerintah era sebelumnya. Selain itu, kebijakan tersebut
bukan hanya menunjukan bahwa konstruksi Indonesia terhadap standar HAM internasional telah berubah secara signifikan tetapi juga hal tersebut telah berdampak langsung terhadap praktik diplomasi dan kebijakan luar negeri Indonesia. Kebijakan tersebut telah menandai perubahan (pergeseran) praktik kebijakan luar negeri Indonesia atau strategi diplomasi Indonesia yang sangat fundamental. Jika sebelumnya Indonesia meletakan hard power elements sebagai modalitas utama upaya pencapaian tujuan politik luar negerinya, maka di era Reformasi ia menerapkan pendekatan yang lebih menekankan (atau mulai dipertimbangkan) arti penting nilai-nilai atau norma-norma internasional, utamanya norma-norma dan nilai-nilai HAM internasional sebagai basis dalam pelaksanaan politik luar negerinya. Ini artinya ada perubahan world view para pemimpin Indonesia dari yang sebelumnya sangat kental didasarkan cara pandang kaum Realis ke cara pandang lain yang lebih terbuka, keluar dari cara pandangan mainstream tersebut.
Dalam konteks di atas, Indonesia telah membuktikan bahwa soft power elements yang berasal dari norma-norma dan nilai-nilai universal seperti standar HAM internasional terbukti dapat dijadikan rujukan untuk memperkuat pelaksanaan politik luar negeri. Dengan mengubah sikap dan pandangannya (konstruksi) terhadap standar HAM internasional, dari bersifat negatif ke lebih bersifat positif (adaptif dan kooperatif), Indonesia telah menunjukan kreatifitas dan “inovasi” dalam praktek politik luar negerinya; yaitu kemampuan untuk keluar dari cara pandang dan praktek yang mainstream dan konvensional; dari hard power based foreign policy ke pendekatan yang lebih berorientasi pada soft-power based foreign policy. Pergeseran kebijakan Indonesia dari apa yang disebut “a realpolitik approach to more of a human security approach” pada akhirnya berampak positif pula pada penguatan sumber hard power, khususnya kekuatan ekonomi dan militer.
Dampak positif yang diperoleh Indonesia dari pengadopsian dan pengimplementasian standar HAM internasional bagi kepentingan strategis Indonesia (khususnya penguatan sumber hard power): pembangunan sosial, ekonomi, politik dan militer tersebut memperkuat argumen bahwa standar HAM
internasional tidak bertentangan dengan ideologi, agama, nilai-nilai dasar budaya, adat istiadat dan kebiasaan masyarakat Indonesia. Bahkan justru standar HAM internasional tersebut telah melengkapi dan menyumbang bagi upaya pencapaian tujuan dan kepentingan nasional seperti termuat dalam ideologi dasar Indonesia serta nilai-nilai budaya dan agama yang berkembang dalam masyarakat. Sebagai misal, pendekatan yang lebih positif terhadap standar HAM internasional ini telah memperkuat posisi dan peran Indonesia di fora internasional. Sebagai negara yang terbilang berhasil mengembangkan HAM dan demokrasi, termasuk menyelesaikan berbagai kasus konflik dan pelanggaran HAM secara damai, Indonesia kini memiliki bargaining power yang lebih kuat di kancah politik internasional. Dengan capaian tersebut semakin memungkinkan Indonesia untuk melakukan diplomasi HAM ke luar, di tingkat regional maupun internasional. Indonesia seakan menjadi negara contoh (role model) dalam pengadopsian dan penerapan standar HAM internasional bagi negara lainnya yang belum menganut sistem demokrasi dan menerapkan prinsip HAM secara penuh seperti Myanmar.
Terakhir, perubahan kebijakan Indonesia terhadap standar HAM internasional tersebut menunjukan bahwa Indonesia mencoba untuk melihat dunia secara lebih terbuka dan lebih luas dari pada terkungkung dalam pendekatan yang bercirikan realpolitik dan sikap inward looking. Fenomena tersebut terlihat dari adanya kecenderungan Indonesia untuk menjadikan isu-isu “baru”, dalam hal ini utamanya isu HAM, sebagai salah satu fokus perhatian penting dalam pelaksanaan kebijakan luar negerinya. Pergeseran kebijakan luar negeri Indonesia tersebut merupakan suatu terobosan yang kreatif, tepat waktu (timely) dan bermanfaat bagi kepentingan nasional Indonesia.
Tentu saja apa yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia era Reformasi terhadap standar HAM internasional masih jauh dari sempurna dan tuntas. Harus diakui bahwa dalam pelaksanaan (implementasi) dari standar HAM internasional di dalam negeri masih banyak kekurangan dan kelemahannya. Misalnya masih banyak kasus pelanggaran HAM yang dianggap belum terselesaikan secara tuntas atau bahkan tidak ditangani sama sekali. Atau kalaupun proses pengadilan terhadap kasus pelanggaran HAM sudah dilakukan tetapi dianggap tidak berjalan
secara fair dan adil sehingga belum mampu memenuhi rasa keadilan korban. Tetapi itu semua tidak mengurangi arti penting pergeseran kebijakan luar negeri Indonesia terhadap standar HAM seperti telah dijelaskan di atas.
Oleh karena itu, sukses dalam menghadapi tekanan masyarakat internasional, mengatasi masalah krisis multi-demensional serta mengembangkan sistem demokrasi dan HAM dengan cara mengubah praktik dan orientasi kebijakan luar negerinya tidak berarti pemerintah Indonesia bebas dari kritik dan tantangan, baik dari dalam maupun dari luar negeri. Beberapa kritik misalnya, memandang bahwa praktik kebijakan luar negeri Indonesia seperti itu terlalu pragmatis. Pengkritik melihat bahwa kebijakan luar negeri Indonesia sudah kehilangan orientasi sebagaimana digariskan oleh UUD‟45. Dalam konteks pengadopsian standar HAM internasional ini, beberapa pengkritik bahkan menuduh Indonesia telah “mengekor” kebijkan Barat. Indonesia juga dituduh telah “berkhianat” terhadap cita-cita dan prinsip dasar politik luar negeri Indonesia sebagaimana telah digariskan oleh para pendiri bangsa ini. Indonesia juga dianggap telah meninggalkan para aliansi tradisionalnya, khususnya negara-negara Islam, Negara-negara-negara non-blok dan negara-negara-negara-negara kawasan yang tergabung dalam ASEAN sebagaimana tercermin dari dukungan Indonesia terhadap keluarnya Resolusi PBB Nomor 1803 melawan Iran. Akhirnya, beberapa para pengkritik juga mempertanyakan manfaat nyata dari praktik kebijakan luar negeri yang pro HAM tersebut, khususnya jika dikaitkan dengan kepentingan ekonomi dan keamanan (pertahanan) Indonesia. Para pengkritik ini melihat bahwa praktik kebijakan luar negeri dan diplomasi Indonesia dewasa ini belum mampu menghasilkan sesuatu yang riil, utamanya meningkatkan kemampuan hard power (ekonomi dan militer). Faktanya menurut mereka Indonesia sampai saat ini belum juga mampu mengejar ketertinggalannya dalam bidang tersebut dari beberapa negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, Thailand, Vietnam dan Filipina.
6.2. Saran
Pelajaran penting (lesson learned) yang dapat diambil dari praktik kebijakan luar negeri Indonesia terhadap HAM era Reformasi ini adalah, dalam
keadaan menghadapi tantangan yang semakin kompleks dan terus meningkat seperti semakin ketatnya rivalitas dan persaingan antar negara di berbagai sektor (ekonomi, perdagangan, politik dan keamanan), serta keterbatasan sumber daya dan modalitas yang ada, mengharuskan suatu negara seperti Indonesia untuk dapat lebih kreatif dan inovatif menciptakan terobosan-terobosan dalam kebijakan luar negerinya. Suatu negara bukan saja harus mampu keluar dari kungkungan pendekatan mainstream (realpolitik) yang umumnya selalu menjadi dasar dari praktek politik luar negeri banyak negara di dunia, tetapi juga harus mampu menciptakan peluang dan memanfaatkan sumber-sumber kekuatan “baru” di luar sumber hard power seperti kemampuan ekonomi dan militer. Termasuk dalam hal ini pemanfaatan isu-isu HAM sebagai upaya untuk memperkuat peran dan posisi Indonesia di tingkat global.
Akan tetapi, kebijakan luar negeri yang berbasis soft power semata tidaklah cukup. Karena kebijakan seperti itu kadang “miskin” substansi atau manfaat riil, atau kalaupun ada maka biasanya realisasinya membutuhkan waktu yang lama. Padahal kebutuhan bangsa Indonesia banyak yang bersifat mendesak dan jangka pendek, misalnya masalah konflik perbatasan, kepentingan ekonomi dan perdagangan dll. Oleh karena itu, ke depan, diperlukan upaya untuk membangun kedua kekuatan (hard power dan soft power) secara bersamaan dan kemudian menggunakannya secara bersamaan pula (menggabungan kedua sumber kekuatan tersebut) dalam menjalankan kebijakan luar negeri Indonesia.
Sebaliknya, ketidakmampuan negara mengkombinasikan kedua pendekatan itu akan melahirkan boomerang effect yang semakin melemahkan diplomasi HAM Indonesia di kanca internasional. Dengan demikian, elemen diplomasi, pembangunan ekonomi, demokratisasi, dan penegakkan HAM harus saling mempengaruhi dalam pembuatan dan pelaksanaan politik luar negeri yang menyeluruh guna mencapai tujuan pembangunan nasional. Dalam konteks ini, beberapa hal yang mendasar tetap bisa dipertahankan, utamanya idelogi dan tujuan nasional Indonesia. Namun pendekatan dan gaya (style) serta sumber daya yang digunakan untuk menjalankan politik luar negeri tersebut bisa lebih ekpsresif dan asertif. Postur politik luar negeri Indonesia di masa depan harus lebih dapat
beradaptasi secara pruden sehingga mampu menyampaikan pesan ke masyarakat dunia internasional bahwa Indonesia selalu menjalankan kebijakan berimbang dalam penciptaan keamanan, demokrasi, penghormatan HAM, dan kesejahteraan rakyat.
Dalam hal ini, responsivitas politik luar negeri Indonesia yang tinggi terhadap berbagai perubahan domestik dan internasional menjadi prasyarat utama pencapaian kepentingan nasional. Utamanya dalam merespon isu-isu “baru” yang menantang seperti perubahan peta politik dan keamanan dunia, perkembangan ekonomi global dan perkembangan isu-isu “baru” seperti HAM, lingkungan hidup, dll. Indonesia harus pula mempertimbangkan aspek pemimpin dan kepemimpinan, aktor yang terlibat dalam negeri, sumber daya yang dimiliki (khususnya kemampuan militer, ekonomi, sumber daya manusia), gaya pelaksanaan (low profile atau high profile), titik berat kepentingan (politik, keamanan dan atau kepentingan ekonomi). Ini artinya Indonesia harus tetap waspada dan jeli dalam melihat pergeseran isu. Misalnya menguatnya isu-isu ekonomi dan terorisme dalam hubungan internasional, mulai sedikit mengendornya isu HAM, menguatnya isu transnational crimes, lingkungan hidup, dll. Indonesia tidak boleh tertinggal dalam menghadapi isu-isu tersebut dari negara-negara lainnya, khususnya negara-negara di kawasan Asia Tenggara, Cina, Jepang dll. Sebab jika hal ini dibiarkan maka dapat dipastikan akan merugikan kepentingan nasional Indonesia ke depan.
Penggunaan human rights diplomacy menjadi elemen penting dalam praktik politik luar negeri Indonesia di tengah perubahan konstelasi politik global dewasa ini. Sementara itu, pelaksanaan diplomasi HAM hanya dapat dilaksanakan secara efektif bila suatu negara memiliki catatan penegakkan HAM yang relatif baik pula. Oleh karena itu, untuk meningkatkan pencapaian diplomasi HAM, Indonesia dituntut untuk melakukan banyak perbaikan, seperti di bidang pembangunan ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan bidang-bidang kehidupan sosial lainnya. Secara lebih spesifik, peningkatan diplomasi HAM mensyaratkan beberapa hal. Pertama, menjamin komitmen pelaksanaan demokrasi, penegakkan hukum, dan penghormatan HAM di dalam negeri. Selain itu, komitmen ini harus
disertai tingkat pembangunan ekonomi yang merata, kesadaran sejarah, toleransi terhadap beragam kemajemukan dan segala hal yang terkait ikatan primordial. Kedua, upaya serius yang dilakukan pemerintah dalam mencari dan menyelesaikan akar masalah pelanggaran HAM yang pernah terjadi. Kedua hal itu merupakan syarat mutlak agar pelaksanaan diplomasi HAM dapat berjalan efektif di berbagai forum dunia guna mencapai kepentingan nasional di berbagai sektor.
Strategi bilateral dan multilateral yang dijalankan secara bersamaan tetap dapat dipertahankan. Pendekatan mana yang dipilih sebaiknya ditentukan berdasarkan isu yang ditangani dan prospek pencapaian hasil yang diinginkan, termasuk modalitas yang dimiliki dan juga peluang yang ada. Ini artinya, Indonesia perlu mereview ulang prinsip-prinsip dan dasar-dasar pelaksanaan politik luar negerinya selama ini. Yang paling penting adalah kemauan untuk bersikap lebih terbuka, fleksibel dan adaptif (tanpa meninggalkan prinsip dasar) terhadap ide-ide, gagasan dan pandangan yang berasal dari luar. Dengan kata lain, Indonesia perlu terus mengembangkan sikap ourward looking dan meninggalkan kecenderungan sikap inward looking selama ini. Indonesia harus lebih terbuka dan adaptif serta kooperatif dan tidak bersifat reaktif dan apriori terhadap hal-hal baru yang datang dari luar. Hal ini mengingat dalam kondisi dunia yang saling terkait dan saling tergantung seperti sekarang ini hampir tidak ada suatu negara yang benar-benar bebas dari keterkaitan dengan negara-negara atau masyarakat internasional dengan segala kepentingan, masalah dan konsekuensi yang harus mereka hadapi.
Perlu pula disadari bahwa proses pembuatan, pelaksanaan dan kontrol terhadap kebijakan luar negeri Indonesia sekarang ini tidak lagi dimonopoli oleh lembaga-lembaga negara semata. Aktor yang terlibat dalam pembuatan, pelaksanaan dan monitoring terhadap politik luar negeri Indonesia semakin banyak. Misalnya media, civil society, NGOs dll. Ini artinya, dalam proses pembuatan dan pelaksanaan kebijakan luar negeri Indonesia harus lebih prudent dan rasional serta mempertimbangkan fungsi dan peran aktor-aktor lain tersebut tanpa meninggalkan prinsip dan ideologi serta cita-cita bangsa Indonesia. Jika tidak, maka tidak mustahil pemerintah dan masyarakat Indonesia harus
menanggung ongkos politik (dan juga mungkin sosial dan ekonomi serta keamanan) yang tidak kecil dalam pelaksanaan kebijakan luar negeri tsb.
Dan yang terakhir, dan paling penting, pelaksanaan politik luar negeri Indonesia ke depan harus benar-benar berorientasi atau dimaksudkan untuk memenuhi kepentingan masyarakat Indonesia secara keseluruhan. Politik luar negeri tersebut harus bermanfaat dalam meningkatkan kesejahteraan sosial, ekonomi dan keamanan serta stabilitas politik masyarakat Indonesia secara riil. Politik luar negeri Indonesia tidak boleh dimaksudkan hanya untuk memenuhi kepentingan sekelompok orang atau orang tertentu semata. Dengan kata lain, politik luar negeri Indonesia tidak boleh tersandera oleh kepentingan orang atau sekolompok orang tertentu semata, seperti para pemilik modal atau kepentingan negara asing lainnya. Melainkan politik luar negeri Indonesia tersebut harus membawa manfaat yang lebih besar bagi kemajuan dan kesejahteraan sosial, ekonomi, politik dan keamanan serta hak asasi manusia seluruh masyarakat Indonesia secara adil dan merata.