25 BAB IV
HASIL PENELITIAN
A. Gambaran Umum Rumah Sakit Umum Daerah Ungaran 1. Sejarah Singkat Rumah Sakit
Pada awal mulanya Bangunan Rumah Sakit Umum Daerah Ungaran adalah Gedung milik Rumah Tangga seorang Belanda dengan luas bangunan 200 m², kemudian dari tahun ketahun diadakan perubahan atau renovasi untuk mencukupi kebutuhan masyarakat akan sarana Kesehatan.
Adapun sejarah dari Pengembangan Rumah Sakit Umum Daerah Ungaran adalah sebagai berikut:
a. 1910 – 1927 : Berawaldaripoliklinik di Bandarjo Ungaran.
b. 1927–1942 : Kemudian berkembang menjadi Rumah Sakit Bandarjo, Kapasitas tempat tidur 40 tempat tidur, termasuk ruang bersalin. c. 1942 : Pindah sementara ke Soko, Lerep,
Ungaran
d. 1942 : Pindah kembali ke Bandarjo, Ungaran. e. 1942 –1945 : Pindah ke Mijen, Ungaran.
f. 1945 : Untuk beberapa bulan kemudian pindah ke desa Cingkrengan sebelah selatan Giri Sonta,Karangjati.
g. 1946 – 1947 : Pindah lagi ke Mijen,Ungaran.
h. 1947–1949 : Rumah Sakit Bubar karena ada perang sebagian peralatan di pindah ke Rumah Sakit Ambarawa.
i. Tahun 1949 : dr.R.Sumohardjo wafat.
j. 1949 : Rumah Sakit berdiri lagi sebelah timur alun – alun depan Gedung Bioskop Rina pimpinan dr. BheTiang Hie, Dilanjutkan oleh Bapak Mirno Hadi sutjipto (perawat atau mantri).
k. 1950–1953 : Pindah ke Desa Genuk Jl. Diponegoro 125 Ungaran dan namanya diganti menjadi Rumah Sakit Pembantu Ungaran Status Milik Pemda Swantra Pimpinan : Dr.R.Sugiarto.
l. 1953 – 1956 : Dipimpin dr. R.Soeparno.
m. 1956–1959 :Dipimpin Dr.R.Soegiarto, Dr.Oetomo Ramlan, Dr.Neuwenhuiz (Belanda), Dr.Cephe (Italia).
n. 1959 – 1965 : Dipimpin Dr. Mas Suhardi.
o. 1967 : Dipimpin Dr.Soekamto (perawat/mantri). p. 1967 – 1973 : Dipimpin Dr.Tjiptohusodo.
q. 1973 – 1974 : Dipimpin Dr. S. Purwanto.
r. 1974 – 1979 : Dipimpin Ny. IndriyaniTjiptohusodo. s. 1979 :Status Rumah Sakit berubah menjadi
Rumah Sakit Tipe D dengan SK menkes No.51/Menkes/SK/II/1979.
t. 1993 :Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI No.1152/Menkes/XIII/1993 tentang peningkatan Rumah Sakit Umum Daerah Ungaran maka RSUD Ungaran ditetapkan menjadi Rumah Sakit Kelas C. u. 1995 :Pelaksanaan Pelayanan Kesehatan di
Rumah Sakit Umum Daerah Ungaran diatur dengan Peraturan Daerah Tingkat II No.10 tahun 1995 yang telah disahkan dengan Surat Keputusan Gubernur KDH Tk. I Jawa Tengah tanggal 3 Juli 1995 No. 188.3/200/1995.
v. Januari-Juni 1998 : RSUD Ungaran dipimpin PLH Direktur Dr. H.Budiman Hamzah MS.
w. 17 Juli 1998 : RSUD Ungaran Dipimpin PLH Direktur dr. H.Soemardi Oemar ,SpA
x. 29 Januari 1999 : RSUD Ungaran di pimpinDr.Heriyanto, M.Kes
y. 24 Juni 2004 : RSUD Ungaran dipimpin Dr. H. Mundjirin ES ,SpOG
z. Februari 2007 s/d September 2011 : RSUD Ungaran dipimpin oleh Dr. Ani Raharjo,MPPM. September 2011 – Maret 2012 RSUD Ungaran di pimpin oleh
Dr. Ratna Indarni,MM. Maret 2012 s/d Sekarang RSUD Ungran menjadi BLUD di pimpin oleh Dr. Setya Pinardi,M.Kes
2. Visi Rumah Sakit Umum Daerah Ungaran
a. Visi: “Menjadi pilihan utama masyarakat dalam memperoleh pelayanan Rumah Sakit”
b. Misi Rumah Sakit Umum Daerah Ungaran 1) Mewujudkan pelayanan prima.
2) Mewujudkan pelayanan Rumah Sakit yang komprehensif dan terjangkau serta berdaya saing.
3) Mewujudkan budaya kerja yang berlandaskan pengabdian, keikhlasan, disiplin serta profesionalisme. 4) Mewujudkan pelayanan yang bermutu dengan
meningkatkan perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi kesehatan
c. Motto Rumah Sakit Umum Daerah Ungaran S – enyum dalam bertegur sapa
E – fektif, efisiendan terjangkau
R – amah dan profesional melayani pelanggan A – kurat dalam diagnosis dan terapi
S – impati dalam menanggapi keluhan pelanggan
I – khlas dan berintegritas tinggi dalam melayani pelanggan 3. Tujuan Rumah Sakit Umum Daerah Ungaran
Terwujudnya Rumah Sakit yang mampu memberikan Pelayanan Medis bermutu dengan fasilitasyang memadai, memiliki
SDM yang profesional dengan biaya yang terjangkau bagi semua lapisan masyarakat, serta Terwujudnya kerja sama yang baik dan harmonis serta meningkatkan Kesejahteraan seluruh Staf dan Karyawan.
B. Gambaran Khusus Instalasi Rekam Medis 1. Bagian Unit Rekam Medis
a. Tempat Pendaftaran Pasien Rawat Inap (TPPRI)
Pelayanan rekam medis di TPPRI bertujuan untuk menyediakan informasi tentang identitas pasien rawat inap, jenis dan tarif pelayanan rawat inap dan formulir, catatan dan laporan untuk pendaftaran rawat inap.
b. Unit Rawat Inap (URI)
Pelayanan rekam medis di unit rawat inap bertujuan untuk memyediakan informasi hasil anamnesa pemeriksaan fisik, diagnosa, terapi, dan tindakan rawat inap, waktu pelayanan dan penanggung jawab pemberi pelayanan rawat inap serta jumlah dan nama pasien masuk dan keluar disetiap bangsal rawat inap.
c. Instalasi Gawat Darurat (IGD)
Pelayanan rekam medis di instalasi gawat darurat bertujuan untuk menyediakan informasi hasil anamnesa, pemeriksaan fisik, diagnosa, terapi dan tindakan gawat darurat, waktu pelayanan dan penanggung jawab pemberi pelayanan gawat darurat.
d. Tempat Pendaftaran Pasien Rawat Jalan (TPPRJ)
Pelayanan rekam medis di TPPRJ bertujuan untuk menyediakan informasi tentang identitas pasien rawat jalan, jenis dan tarif pealayanan rawat jalan dan formulir , catatan dan laporan untuk pendaftaran rawat jalan.
e. Unit Rawat Jalan (URJ)
Pelayanan rekam medis di instalasi gawat darurat berjuan untuk menyediakan informasi hasil anamnesa, pemeriksaan fisik, diagnosa, terapi dan tindakan gawat darurat, waktu pelayanan dan penanggung jawab pemberi pelayanan gawat darurat.
f. Instalasi Pemeriksaan Penunjang (IPP)
Pelayanan rekam medis di instalasi pemeriksaan penunjang bertujuan untuk menyediakan informasi diagnosa atau terapi yang diminta oleh dokter di rumah sakit, oleh dokter atau pasien luar rumah sakit, waktu pelayanan pemeriksaan penunjang.
2. Jenis Pelayanan di Rumah Sakit a. Pelayanan 24 JAM
1) IGD + Trauma Centre 2) Instalasi Farmasi
3) Laboratorium Patologi Klinik 4) Radiologi / Rontgen
b. Pelayanan Instalasi Pemeriksaan Penunjang (IPP) 1) Laboratorium 2) Radiologi 3) USG 4) EKG 5) Bank darah 6) Hemodialisa
3. StrukturOrganisasi RSUD Ungaran Tabel 4.1
C. Hasil Penelitian
1. Proses pengkodean diagnosa utama pasien
Langkah awal yang dilakukan untuk menentukan kode diagnosa utama ialah dengan melihat diagnosa utama yang ditulis oleh dokter pada lembar RM 1 lalu melihat riwayat perjalanan penyakit pasien setelah itu menentukan leadterm lalu baca dan ikuti petunjuk yang berada dibawah leadterm lalu pilih kode yang
tepat untuk diagnosa utama tersebut, jika ada instruksi ikuti instruksinya, setelah itu tetapkan kode yang tepat untuk diagnosa utama dan kemudian kroscek pada ICD 10 volume 1.
2. Prosedur klaim BPJS rawat inapdi RSUD Ungaran
Berkas pelayanan RI di bawa ke ruang JKN lalu berkas yang harus disiapkan yaitu lembar SEP asli, Bukti pelayanan RI yang di cantumkan diagnosa dan tindakan yang telah ditanda tangani oleh semua DPJP yang merawat, Asli surat perintah rawat inap, resume lengkap yang sudah ditanda tangani oleh DPJP, fotokopi prosedur/ tindakan (apabila diperlukan), fotokopi pemeriksaan penunjang, biling rincian biaya.
3. Diagnosa utama dan kode diagnosa utama pada DRM yang kliamnya dikembalikan
a) Diagnosa Utama
Tabel 4.2
Distribusi Frekuensi Diagnosa Utama Pasien BPJS RI
Diagnosa utama Kode
koder
Kode Verifikator
Jumlah %
Frocen shoulder N79.0 M75.0 1 2,5
Moderate pre-eclampsia O14.2 O14.0 1 2,5
Partus premature eminen O47.1 O47.0 2 5,0 ESRD, Hypertensi I10 & N18.0 I12.0 9 22,5
Hypertensi I10 I11 2 5,0
Pneumonia J18.0 J18.9 1 2,5
Insufisiensi renal, hypertensi N19 & I10 I12.9 2 5,0
Stemi Inferior I21.0 I21.1 1 2,5
Omi inferior O22.0 O22.1 1 2,5
Konjuntivitis H10.9 P39.1 1 2,5
GTCS R56.8 G40.3 1 2,5
Intoksikasi Shampo T65.9 T55 1 2,5
AV blok derajat 2 I44.3 I44.1 1 2,5
Thypoid A09 A01.0 1 2,5
Sinus bradicardiac I49.8 R00.1 2 5,0
Gastroenteritis(bayi) A09.9 P78.3 3 7,5
Anorexia D64.9 R63.0 1 2,5
Pharingitis Kronis J02.9 J31.2 1 2,5
Stemi anterolateral I21.2 I21.0 1 2,5
BBLR Z38.0 P07.1 1 2,5
Thalasemia mayor D56.9 D56.1 1 2,5
Hernia internal prolap I84.2 I84.1 2 5,0
Vertigo central H81.3 H81.4 1 2,5
Partus premature O42.9 O60.1 1 2,5
Total 40 100
Berdasarkan tabel 4.2 dari 40 sampel data diagnosa utama dan kode diagnosa utama pasien BPJS RI, diagnosa gabungan dengan kode I10 & N18,0 yaitu ESRD&Hypertensi merupakan diagnosa utama terbanyak, yaitu 22,5% Serta pada kode yang di koding oleh pihak verifikator kode I12.0 merupakan kode diagnosa utama terbanyak, yaitu 22,5%.
4. Penyebab ketidaktepatan kode diagnosa utama pada proses klaim BPJS RI
Tabel 4.3
Distribusi frekuensi penyebab ketidaktepatan kode diagnosa utama pada proses klaim BPJS RI
Diagnosa utama Kode koder
Kode Verifikator
Penyebab ketidaktepatan Frocen shoulder N79.0 M75.0 Kesalahan
dalam penetapan kode diagnosa utama. Koder salah mengkode diagnosa utama.
Moderate pre-eclampsia O14.2 O14.0 Kesalahan dalam penetapan karakter ke-4. Kode O14.2 help syndrom, padahal
diagnosanya pre eclampsia. Koder kurang teliti menetapkan kode.
Partus premature eminen O47.1 O47.0 Kesalahan dalam penetapan karakter ke-4. Pada kode O47.1 false labour kurang dari 37 minggu padahal yang diminta lebih dari 37 minggu.
ESRD, Hypertensi I10&N18.0 I12.0 Kesalahan dalam penetapan kode diagnosa utama.
Koder kurang faham tentang kode
gabungan.
Hypertensi I10 I11 Kesalahan
dalam penetapan kode diagnosa utama. I10 merupakan primary hypertension, pada diagnosa utama tertulis hanya hypertensi. Dalam hal petugas kurang teliti mengkode diagnosa utama
Pneumonia J18.0 J18.9 Kesalahan dalam penetapan karakter ke-4. J18.0 merupakan bronchopneum onia. Dalam hal ini petugas kurang teliti mengkode diagnosa utama AV Shunt T14.1 T82.8 Kesalahan dalam penetapan kode diagnosa utama. T14.1 kode injury body ragion jadi penyebabnya karena
petugas salah mengkode
Insufisiensi renal, hypertensi
N19 & I10 I12.9 Kesalahan dalam penetapan kode diagnosa utama.Koder kurang faham tentang kode gabungan.
Stemi Inferior I21.0 I21.1 Kesalahan
dalam penetapan karakter ke-4. Petugas kurang teliti dalam mengkode diagnosa utama.
Omi inferior O22.0 O22.1 Kesalahan dalam penetapan karakter ke-4. Petugas kurang teliti mengkode. Konjuntivitis H10.9 P39.1 Kesalahan dalam penetapan kode alfabetik. Diagnosa Konjungtivitis yang dimkasudkan untuk bayi tetapi pihak koder mengkode konjungtivitas saja.
GTCS R56.8 G40.3 Kesalahan dalam penetapan kode diagnosa utama. kode R56.8 merupakan kode convulsions. jadi koder salah menentukan koder.
Intoksikasi Shampo T65.9 T55 Kesalahan dalam penetapan kode diagnosa utama. petugas salah menentukan kode.
AV blok derajat 2 I44.3 I44.1 Kesalahan dalam penetapan karakter ke-4. I44.3 unspesified atrioventricular . Koder kurang teliti mengkode.
Thypoid A09 A01.0 Kesalahan
dalam penetapan kode diagnosa utama. A09 merupakan kode penyakit gastroentritis.
Sinus bradicardiac I49.8 R00.1 Kesalahan dalam penetapan kode diagnosa utama. I49.8
unspecified cardiac arrhythmias, koder salah menetapkan kode. Gastroenteritis(bayi) A09.9 P78.3 Kesalahan
dalam penetapan kode alfabetik. Gastroentritis yang dimaksudkan pada bayi jadi kodenya P78.3. Anorexia D64.9 R63.0 Kesalahan dalam penetapan kode diagnosa utama. D64.9 adalah kode anemia bukan kode anorexia.
Koder salah mengkode. Pharingitis Kronis J02.9 J31.2 Kesalahan
dalam penetapan kode diagnosa utama. J02.9 adalah pharingitis acut. Koder kurang teliti mengkode.
Stemi anterolateral I21.2 I21.0 Kesalahan dalam penetapan karakter ke-4. I21.2 bukan anterior atau anterolateral. Koder kurang teliti mengkode.
BBLR Z38.0 P07.1 Kesalahan dalam penetapan kode diagnosa utama. kode Z38.0 adalah koder setelah pasien datang opname. Koder salah mengkode.
Thalasemia mayor D56.9 D56.1 Kesalahan dalam penetapan karakter ke-4. D56.9 thalasemia unspecified. Koder kurang teliti mengkode.
Haemorrhoid internal prolap
I84.2 I84.1 Kesalahan dalam penetapan karakter ke-4. I84.2 without complication. Petugas kurang teliti mengkode.
Vertigo central H81.3 H81.4 Kesalahan dalam penetapan karakter ke-4. H81.3 other peripheral vertigo. Petugas kurang teliti mengkode.
Partus premature O42.9 O60.1 Kesalahan dalam penetapan kode diagnosa utama. 042.9 merupakan kode KPD. Koder salah mengkode. Berdasarkan tabel 4.3 dari 40 sampel data diagnosa utama yang tidaktepat, penyebab terbanyak koder salah mengkode dan kurangnya pengetahuan tentang kode gabungan sehingga penetapan kode yang tidak sesuai dengan diagnosa utama.