• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ustaz Mohd Salleh Hj. Mastor Imam Masjid Tun Abdul Aziz, Seksyen 14, Petaling Jaya. BAGIAN KE-2 dari 4

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Ustaz Mohd Salleh Hj. Mastor Imam Masjid Tun Abdul Aziz, Seksyen 14, Petaling Jaya. BAGIAN KE-2 dari 4"

Copied!
28
0
0

Teks penuh

(1)

Main Concept:

Ustaz Mohd Salleh Hj. Mastor

Imam Masjid Tun Abdul Aziz, Seksyen 14, Petaling Jaya Hadis by:

(2)

2.1. Kematian & kewajipan yang hidup

Menyempurnakan mayat orang Islam yang bukan mati shahid itu fardhu kifayah. Kewajiban kifayah atas mayat muslim itu adalah:

1. Dimandikan 2. Dikafankan

3. Disembahyangkan 4. Dikebumikan

5. Jika mayat itu meninggalkan hutang, maka wajib bagi famili (keluarga) si mayit untuk membayarkannya, baik itu utang uang/emas/perak maupun utang kepada ALLAH (utang puasa, dll).

[mutafaq „alaihi]

Sekalipun mayat itu orang yang membunuh diri, wajib melaksanakan atasnya fardu kifayah. Apabila telah yakin mati seorang Islam itu, hendaklah disempurnakan semua perkara itu dengan seberapa segera.

(3)

MEMBAYARKAN HUTANG SI MAYIT

1. MEMBAYAR UTANG KEPADA MANUSIA

Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam bersabda: “Jiwa (roh) seorang mukmin itu tergantung (tidak sampai menuju hadirat ALLAH) karena utangnya, hingga dibayar terlebih dahulu utangnya itu”.

[HR. Ahmad dan Turmuzi, hadis hasan]

Dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam bersabda: “Utang itu ada 2 macam. [1] Barangsiapa mati meninggalkan utang, sedangkan ia berniat akan membayarnya, maka saya yang akan mengurusnya (menanggungnya). Dan [2] barangsiapa mati meninggalkan utang, sedangkan ia tidak berniat untuk membayarnya, maka pembayarannya akan diambilkan dari pahala kebaikannya, karena diwaktu itu (pada hari kiamat) tidak ada emas dan perak”.

(4)

2. MEMBAYAR UTANG KEPADA ALLAH

Dari Aisyah bahwa Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang meninggal dunia dan ia mempunyai tanggungan puasa, maka walinya harus berpuasa untuk membayar tanggungannya”.

[HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud dan Ahmad]

Dari Ibnu Abbas, bahwa seorang perempuan datang kepada Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam dan berkata: Sesungguhnya ibuku telah meninggal dunia dan ia mempunyai tanggungan puasa sebulan. Beliau bertanya: “Apa pendapatmu jika ibumu mempunyai utang kepada orang lain, apakah engkau akan membayarnya?” Ia menjawab: Ya. Beliau bersabda: “Utang kepada ALLAH adalah lebih berhak untuk dibayar”.

[HR. Bukhari, Muslim, Turmuzi, Abu Dawud, Nasa‟i, Ibnu Majah, Ahmad dan Ad-Darami]

(5)

3.0. Pengurusan Jenazah

Fardu kifayah dalam pengurusan jenazah ini meliputi:

3.1. Memandikan Mayat

3.2. Mengkafankan mayat

3.3. Menshalatkan jenazah

(6)

3.0. Pengurusan Jenazah

3.1. Memandikan Mayat

 Syarat-syarat mayat yang dimandikan adalah: (1) mayat orang Islam

(2) mayat itu bukan mati shahid (tidak berperang di jalan ALLAH) (3) mayat itu masih ada tubuhnya, meskipun sedikit atau sepotong  Sekurang-kurang mandi mayat itu hendaklah diratakan air sekali pada

seluruh badannya setelah dibersihkan najisnya, hingga kepada bahagian faraj yang zahir waktu duduk mencingkung/mengangkang (wanita) dan hingga ke bawah pelepah zakar (lelaki) jika zakar itu celik (terlindung).  Memandikan mayat sudahlah cukup seperti halnya kita mandi dengan cara

membasuh tubuh mayat itu memakai sabun hingga daki dan kotorannya hilang. Jika kita sanggup lebih baik dan lebih bersih maka itu lebih baik, misalnya dengan menggosok giginya dll.

 Mayat hendaklah dimandikan dengan memulainya dari arah kanan dan diawalkan dari anggota-anggota wudu-nya.

(7)

HADIS TENTANG TATA CARA MEMANDIKAN MAYAT

Dari Ummu Athiyah, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam masuk menemui kami dan kami sedang memandikan putrid beliau (Zainab).

Beliau bersabda: “Mandikanlah ia 3 kali atau 5 kali atau lebih daripada itu dengan air dan Sidr. Dan jadikanlah [bilasan] yang terakhir dengan kapur barus. Apabila kalian sudah selesai, maka beritahukanlah kepadaku”.

Ketika sudah selesai, kami memberitahu beliau, maka beliau melemparkan sarungnya kepada kami dan bersabda: “Pakaikanlah [sarung ini] untuknya”.

Ayyub (perawi) berkata: “Hafsah telah menceritakan kepadaku seperti hadis Muhammad”. Sedangkan dalam hadis Hafsah dikatakan “Mandikanlah ia dalam jumlah yang ganjil”. Disebutkan pula “Tiga kali, atau lima kali, atau tujuh kali”. Kemudian disebutkan pula bahwa beliau SAW bersabda: “Mulailah pada bagian kanan dan tempat-tempat wudu”. Dan dikatakan: “Sesungguhnya Ummu Athiyah berkata: Kami menyisir rambutnya dan menjadikannya 3 kepang”.

[HR. Bukhari]

Dan masih banyak hadis Bukhari dan Muslim lainnya, namun intinya sama saja. Jadi 1 hadis

ini kita anggap sudah mewakili banyak hadis lainnya, termasuk dari hadis Kitab Sunnan.

(8)

3.1. Memandikan Mayat

Sifat-sifat yang mesti ada pada seseorang yang hendak menguruskan Jenazah: 1. Berani.

2. Sabar. 3. Amanah.

4. Mempunyai kemahiran dan ilmu yang cukup Yang berhak untuk memandikan mayat adalah:

> Suami atau istri > Muhrim si mayat > Keluarga

> Orang yang diamanahkan atau bertugas sebagai tukang memandikan mayat

[hadis riwayat Ahmad]

(9)

HADIS TENTANG ORANG YANG BERHAK MEMANDIKAN MAYAT

& KEUTAMAAN TUKANG MANDI MAYAT

Dari Aisyah, bahwa Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa memandikan mayat dan dijaganya percayaan, tidak dibukakannya (diceritakan) kepada orang lain tentang apa-apa yang dilihatnya pada mayat itu, maka bersihlah ia dari segala dosa, sebagaimana keadaannya ketika dilahirkan oleh ibunya”.

Kemudian Beliau bersabda: “Yang memimpin [memandikan mayat] hendaknya keluarga yang terdekat kepada mayat. Apabila ia (keluarga) itu tidak pandai, maka siapa saja orang yang dipandang berhak karena wara‟-nya atau karena amanah atasnya (tugasnya)”.

[HR. Ahmad, hadis hasan]

Dari Abu Rafi‟ Aslam [pelayan Rasulullah SAW], ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa memandikan mayat kemudian ia menyembunyikan rahasianya, maka ALLAH memberi ampunan baginya (tukang mandi mayat) yaitu 40 kali”.

[HR. Baihaqi, hadis hasan. Juga diriwayatkan oleh Al-Hakim, menurutnya hadis shahih sebagaimana persyaratan Muslim]

(10)

3.1.1. Tempat Memandikan Mayat

 Bilik (ruangan) yang tertutup

 Tidak dibenarkan orang lain memasukinya melainkan:

1. Orang yg memandikan serta penolongnya 2. Walinya/warisnya yg berhampir (berdekatan)

(11)

* optional, jika inginkan kesempurnaan dengan memperbanyak harum-haruman.

3.1.2. Peralatan (mandi & kafan)

1. Kain putih 2. Kapas

3. Papan alas mandi 4. Sabun 5. Akar sintuk 6. Serbuk cendana 7. Minyak atar 8. Air mawar 9. Tikar 10. Gunting 11. Kapur barus 12. Sarung tangan

13. Tuala (handuk) mandi 14. Jug air

15. Kain batik lepas (sarung) atau sebarang kain basahan 16. Sikat

17. Bantal (2 biji)

(12)

3.1.3. Cara Memandikan Mayat

1. Letakkan mayat di tempat mandi yang disediakan. 2. Tutup seluruh anggota tubuh mayat kecuali muka.

3. Semua Bilal (tukang mandi mayat) hendaklah memakai sarong tangan 4. Sediakan air sabun.

5. Sediakan air kapur barus bersama akar sintuk. 6. Istinjakkan mayat terlebih dahulu.

7. Angkat sedikit bahagian kepalanya sehingga paras dadanya.

8. Mengeluarkan kotoran dalam perutnya dengan menekan atau memicit-micit perutnya secara perlahan-lahan dan berhati-hati. Basuh dengan menggunakan sarung tangan agar tidak tersentuh auratnya dan kotorannya. Siram dan basuh dengan air sabun sahaja dahulu.

9. Kemudian gosokkan giginya, lubang hidung, lubang telinga, celah ketiaknya, celah jari tangan dan kakinya dan rambutnya.

10. Selepas itu siram atau basuh seluruh anggota mayat dengan air sabun juga.

11. Kemudian bilas dengan air yang bersih seluruh anggota mayat sambil berniat untuk memandikan mayat karena ALLAH ta‟ala. Niat sudah cukup diucapkan dalam hati atau diucapkan dengan bahasa ibu (tidak harus dengan bahasa Arab)

(13)

 Angkat sedikit bahagian kepalanya sehingga paras dadanya.

 Mengeluarkan kotoran dalam perutnya dengan menekan atau memicit-micit perutnya secara perlahan-lahan dan berhati-hati. Basuh dengan menggunakan sarung tangan agar tidak tersentuh auratnya dan kotorannya. Siram dan basuh dengan air sabun sahaja dahulu.

(14)

12. Terlentangkan mayat, siram atau basuh dari kepala hingga hujung kaki 3 kali dengan air bersih.

13. Siram sebelah kanan 3 kali.

14. Siram sebelah kiri 3 kali. * semuanya 9 kali

15. Mengiringkan mayat ke kiri, basuh bahagian lambung kanan

16. Mengiringkan mayat ke kanan, basuh bahagian lambung sebelah kirinya pula. 17. Terlentangkan semula mayat, ulangi menyiram seperti bil. 13 hingga 17.

18. Siram dengan air kapur barus.

19. Wudukkan mayat dengan niat untuk mewudukkan mayat itu karena ALLAH ta‟ala. Siram dengan air sembilan kali.

20. Setelah selesai dimandikan dan diwudukkannya dengan baik dan sempurna hendaklah dilapkan menggunakan tuala (handuk) pada seluruh badan mayat. 21. Cawatkan bahagian kemaluan mayat dengan cawat (celana) yang disediakan. 22. Usung ke tempat mengkafan dengan menutup seluruh anggota auratnya.

23. Segala apa-apa yang tercabut dari anggota mayat, hendaklah dimasukkan ke dalam kapan bersama (Contoh : rambut, kuku dll).

(15)

 Terlentangkan mayat, siram atau basuh dari kepala hingga hujung kaki 3 kali dengan air bersih.

 Siram sebelah kanan 3 kali.  Siram sebelah kiri 3 kali.

NOTE:

Siram dalam masyarakat kita adalah disiram dengan menggunakan

cebok (gayung), bukan seperti dalam gambar ini yang disiram

dengan selang air semprot.

(16)

3.2. Mengkafankan Mayat

Sekurang-kurang kafan itu ialah dengan selapis kain yang menutup seluruh badannya. Tidak ditentukan wajib kain kaci, melainkan dapat pula selimut atau baju atau jubah. Tetapi dalam masyarakat kita, Kafan yang afdhol (terbaik) adalah:

1. Lelaki sebanyak 3 (Tiga) lapis kain putih, Boleh ditambah dgn sehelai baju & serban

2. Wanita sebanyak 5 (Lima) lapis yaitu:  2 lapis kain kafan

 1 lapis kain nipis (antara pusat & lutut)  1 lapis baju

(17)

1. HADIS TENTANG JUMLAH KAFAN UNTUK LELAKI

Dari Aisyah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dibungkus kafan dengan tiga pakaian yang berasal dari Yaman, putih dan halus, yang terbuat dari katun. Tidak ada gamis dan sorban.

[HR. Bukhari & Muslim]

Dalam riwayat Muslim ada tambahan:

Orang ragu-ragu untuk memakaikan sepasang pakaian yang dibeli untuk kafan beliau, kemudian [pakaian itu] ditinggalkan saja, dan beliau hanya dikafani dengan 3 lapis kain putih dari katun. Sedangkan sepasang pakaian itu tadi diambil Abdullah bin Abu Bakar, katanya akan disimpan untuk kafannya sendiri. Kdm Abdullah berkata: “Kalau ALLAH ridha untuk menjadi kafan Nabi-NYA, tentu sudah dikafankan kepada beliau”. Akhirnya sepasang baju itu dijual oleh Abdullah, dan uangnya kemudian disedekahkannya.

(18)

2. HADIS TENTANG JUMLAH KAFAN UNTUK WANITA

Dari Laila binti Qanif, ia berkata: “Saya salah seorang yang ikut memandikan Ummi Kalsum binti Rasulullah SAW ketika ia wafat. Yang pertama kali diberikan oleh Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam kepada kami adalah [1] kain basahan, kemudian [2] baju, [3] tutup kepala, kemudian [4] kerudung, dan [5] sesudah itu dimasukkan ke dalam kain yang lain [yang menutupi seluruh badannya]”.

Laila berkata: “Sedangkan Nabi SAW berdiri di tengah pintu membawa [semua lima kain] kafannya, dan memberikannya kepada kami dengan sehelai demi sehelai”.

(19)

Dari Sahal bahwa seorang wanita datang kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dengan membawa burdah yang disulam pinggirannya.

Kemudian beliau bersabda: “Tahukah kalian apakah burdah itu?” Mereka menjawab: “Selimut”.

Beliau bersabda: “Benar”.

Wanita itu berkata: “Aku menyulamnya dengan tanganku sendiri, dan aku datang untuk memakaikannya kepada Tuan”.

Maka Nabi SAW mengambilnya karena memerlukannya. Kemudian beliau keluar menemui kami dengan memakai selimut itu. Maka seseorang (si fulan) memujinya dan berkata: “Berikanlah kepadaku, sungguh indah”.

Orang-orang berkata: “Sikapmu itu tidak baik, Nabi memakainya dan membutuhkannya, kemudian engkau memintanya padahal engkau tahu bahwa beliau tidak menolak permintaan”.

Orang itu berkata: “Demi ALLAH, sesungguhnya aku tidak bermaksud meminta untuk dipakai, melainkan untuk dijadikan kafanku”.

Sahal berkata: “Maka selimut itu menjadi kafannya”.

[HR. Bukhari]

(20)

Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam bersabda: “Pakaikanlah olehmu kain putih [sebagai pakaian], karena sesungguhnya kain putih itu sebaik-baiknya kainmu. Dan kafanilah mayatmu dengan kain putih itu”.

[HR. Turmuzi, hadis hasan]

Dari Jabir, bahwa Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam bersabda: “Apabila salah seorang dari kamu mengkafani saudaranya, maka hendaklah kafannya dibaikkan”.

[HR. Muslim]

Dari Ali bin Abu Thalib, ia berkata: Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam bersabda: “Janganlah kamu berlebih-lebihan [dengan membeli kain yang mahal] untuk kafan. Karena sesungguhnya kafan itu akan hancur dengan segera”.

[HR. Abu Dawud, hadis hasan]

(21)

3.2. Mengkafankan Mayat

3.2.1. Tempat mengkafankan rata yang bersih, suci dan kering

3.2.2. Peralatan untuk mengkafankan mayat:

- Tikar

- Kain kafan

- Tali (dari kain yg tidak berjahit) - Kapas

- Serbuk kayu cendana )* - Serbuk kapur barus - Minyak atar (wangi) )*

(22)

GULUNG

GULUNG

GULUNG

KAKI KEPALA

BANTAL

Cara membuat jubah mayat

(optional, hanya jika diinginkan)

(23)

3.2.3. Cara mengkafankan:

1. Bentangkan tikar (alas yg sesuai)

2. Susun tali pengikat (3 atau 5 utas) di atas tikar tersebut 3. Susun kain kafan di atas tali pengikat tersebut

4. Taburkan/renjiskan wangian pada setiap lapis kain kafan

5. Sediakan kapas yg telah dicampur dengan wangian dan kayu cendana 6. Angkat mayat dan baringkan di atas kain kafan

7. Tutupkan kapas tersebut pada bahagian: Muka, Telinga, Buah dada (wanita), Kemaluan, Siku dan Tumit.

(24)

3.2.3. Cara mengkafankan:

7. Angkat mayat dan baringkan di atas kain kafan. 8. Tutupkan/bungkuskan kafan ke atas mayat

9. Ikat dengan tali pengikat

 Simpul hidup (ikatan yang dapat dibuka) pada sebelah kiri mayat

 Sebelum menutup bahagian kepala, dibenarkan kepada waris melihat/mencium mayat

[Ahmad & Tirmizi]

10.Renjiskan (percikkan) dengan air mawar dan minyak wangi.

[Muslim]

(25)

3.3. Solat Jenazah

Dalam mengerjakan solat jenazah harus dikerjakan secara berjemaah, karena pengurusan jenazah adalah fardu kifayah, ertinya wajib bagi orang-orang yang mukallaf itu mengerjakannya, meskipun hanya beberapa orang saja. Dan jika tidak dikerjakan maka seluruh penduduk sekitar si mayat akan mendapat dosa.

Salat jenazah dijadikan tiga saf (barisan) sekurang-kurangnya dua orang dalam setiap satu saf.

[Ahmad, Tirmizi, Abu Dawud & Ibnu Majah]

Bagi orang perempuan dibolehkan mengikuti berjemaah bersama-sama dengan orang lelaki atau boleh mendirikan solat ke atas jenazah setelah disolatkan oleh orang lelaki (artinya: para wanita membuat salat jamaah baru).

[Bukhari & Muslim]

Tentang tempat untuk mengerjakan solat jenazah, diperbolehkan di dalam masjid, di surau atau di tempat lainnya yang memungkinkan solat berjemaah dengan syarat tempatnya itu luas, bersih dan suci.

[Muslim]

(26)

3.3. Solat Jenazah

Rukun solat jenazah 1. Niat

2. 4 kali takbir (termasuk takbiratul-ihrom)

 Membaca Al-Fatihah selepas takbir pertama

 Membaca salawat ke atas nabi selepas takbir yang kedua  Membaca doa selepas takbir yang ke tiga

 Mengucap salam selepas takbir yang keempat.

(27)

Terima kasih

Ustaz Mohd Salleh Hj. Mastor

AJK Surau Al-Hikmah, SBZ3

&

Cinta-Rasul-Owner@yahoogroups.com

Bersambung ke…

Bagian ke-3: Shalat Jenazah dan Shalat Gaib Bagian ke-4: Jenazah & kuburan

(28)

Gambar

Foto ini hanyalah sekedar ilustrasi memandikan mayat!!!

Referensi

Dokumen terkait

Setclah perjanjian tersebut di atas ditandatangani, Belanda langsung menduduki kembali Muara Kumpeh, sedangkan di Muara Sabak diadakan penjagaan kuat ( 11, p.

Kondisi ruang kelas yang nyaman akan membantu siswa untuk lebih mudah dalam berkonsentrasi, memeperoleh hasil belajar yang maksimal dan dapat menikmati

Beberapa penelitian yang membahas mengenai pengeluaran per kapita adalah Fausi (2011) meneliti tentang Small Area Estimation terhadap pengeluaran per kapita di Kabupaten

Hal ini diduga bahwa pada saat awal pertumbuhan tanaman lebih banyak dipengaruhi oleh sifat genetisnya daripada lingkungannya, sehingga pada tinggi tanaman maupun

tanggung-jawab setiap anggota jemaat yang akan terlibatk dalam pemuridan, namun jika mereka tidak melakukan sesuatu untuk merubah format atau struktur, orang-orang akan tetap datang

Parameter pemeriksaan hematologi meliputi jumlah sel darah putih, jumlah sel darah merah, nilai hematokrit, kadar hemoglobin, jumlah dan volume trombosit, serta indeks eritrosit

Ketua Tim Pengendali DAK sub bidang KB Provinsi (Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi) dan Ketua Tim Pengendali DAK SKPD KB Provinsi secara berkala melakukan

Persoalan yang menjadi objek penelitian penulis adalah meneliti apakah terjadi politisasi dalam konflik antar warga Desa Balinuraga dengan Desa Agom dan akhirnya meluas