• Tidak ada hasil yang ditemukan

Laju Pengeringan Bahan Herbal dengan Prototipe Pengering Hibrid Tenaga Matahari dan Listrik

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Laju Pengeringan Bahan Herbal dengan Prototipe Pengering Hibrid Tenaga Matahari dan Listrik"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

1

Laju Pengeringan Bahan Herbal dengan Prototipe Pengering Hibrid

Tenaga Matahari dan Listrik

Anton Rahmadi1*, Herry Setiawan1, Ary Santoso2, Fahrul Agus2, dan Wiwit Murdiyanto1 1) Jurusan Teknologi Hasil Pertanian, Faperta, Universitas Mulawarman

2) Jurusan Ilmu Komputer, FMIPA, Universitas Mulawarman * Email korespondensi: [email protected]

ABSTRAK

Kami telah menciptakan sebuah alat pengering hibrid tenaga matahari dan listrik yang digunakan pada skala lab untuk mengeringkan bahan baku herbal atau pangan fungsional. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengukur laju pengeringan dari bahan-bahan yang telah diujicobakan yaitu mandai (bagian dalam kulit buah cempedak yang difermentasi), kulit buah bengalun (Lepisanthes alata), daun pandan, umbi jahe, buah pisang kepok, dan umbi singkong. Pengeringan bertenaga hibrid matahari dan elemen pengering (104 W) digunakan pada daun pandan. Dikarenakan keadaan cuaca yang tidak menentu, bahan-bahan yang lain dikeringkan menggunakan simulasi matahari (lampu pijar 200 W) dan elemen pengering. Permodelan yang digunakan adalah dari model Lewis, ln (MR) = -kt, atau Page, ln (-ln (MR)) = ln(k) + nt, dengan MR sebagai rasio kelembaban yang diukur selama pengeringan menggunakan sensor DHT22. Dari data pengeringan yang diperoleh, laju pengeringan yang tercepat adalah dengan menggunakan tenaga hibrid matahari dan listrik. Penurunan suhu pengeringan 5 ºC pada produk mandai akan melandaikan koefisien kemiringan laju pengeringan (k) dari 0,0032, menjadi 0,0021. Nilai korelasi dari model Lewis yang diperoleh antara waktu pengeringan terhadap nilai log natural dari MR berkisar antara 0,32 (umbi jahe) hingga 0,98 (daun pandan). Korelasi dari model Page untuk umbi jahe adalah 0,51. Khusus daun pandan yang dikeringkan dengan tenaga hibrid matahari dan listrik, model Lewis tidak sesuai untuk diterapkan oleh sebab r2 bernilai negatif, sehingga harus menggunakan model Page dengan persamaan ln (-ln (MR)) = 0,0069 t – 0,6098 (r=0,33).

Kata kunci: laju pengeringan, model Lewis, model Page, pengering hibrid matahari dan listrik

(2)

2 PENDAHULUAN

Pengeringan adalah yang cara pengawetan tertua terhadap bahan pangan. Proses ini penting untuk mengawetkan biji-bijian, buah-buahan, dan sayuran. Tujuan utama dalam produk pengeringan adalah pengurangan kadar air ke tingkat yang memungkinkan penyimpanan yang aman selama beberapa lama. Penurunan kadar air sampai batas tertentu dapat memperlambat laju kerusakan bahan akibat aktivitas biologis dan kimia sebelum bahan diolah (Adiletta et al, 2013). Parameter-parameter yang mempengaruhi waktu pengeringan adalah suhu, kelembaban udara, laju aliran udara, kadar air awal dan kadar air bahan kering (Hii et al, 2008). Dasar proses pengeringan adalah terjadinya penguapan air ke udara karena perbedaan kelembaban relatif antara udara dengan bahan yang dikeringkan (Peglow et al, 2009).

Proses pengeringan merupakan langkah awal yang memudahkan aplikasi produk ke bentuk-bentuk yang lebih luas. Secara garis besar, pengeringan dapat dibedakan atas pengeringan alami dan pengeringan buatan. Pengeringan secara alami dapat dilakukan dengan penjemuran di bawah sinar matahari, sedangkan pengeringan buatan dilakukan dengan menggunakan alat pengering mekanis. Pada umumnya, pengeringan yang digunakan adalah pengeringan matahari, karena biaya operasional yang murah (Hii et al, 2008). Permasalahan pokok pengeringan dengan sinar matahari adalah pada kestabilan laju pengeringan akibat suhu yang berubah-ubah selama proses pengeringan (Bal et al, 2010).

Alat pengering dengan kelembaban relatif yang rendah akan efektif untuk mengeringkan bahan, karena uap air dari bahan akan lepas ke udara pengering, untuk selanjutnya dibuang ke luar sistem (Fudholi et al, 2013). Laju pengeringan dalam sistem kontinu pada umumnya dilakukan dengan mengukur kelembaban relatif dalam sistem pengering, karena metode ini lebih efektif dibandingkan dengan mengukur bobot bahan selama proses pengeringan (Peglow et al, 2009). Salah satu permodelan yang digunakan untuk mengukur laju pengeringan berdasarkan kelembaban relatif yang diukur di dalam alat pengering adalah model Lewis atau disebut juga metode sederhana (Efremov, 2013). Muhandri

et al (2015) memodelkan laju pengeringan sphagetti jagung dengan model Lewis dan didapatkan korelasi (r) berkisar 0,69 hingga 0,92. Model Page untuk laju pengeringan umumnya akan meningkatkan korelasi (r) antara waktu pengeringan terhadap ln (-ln (MR)).

Berkaitan dengan hal tersebut, proses kontrol berbasis platform terbuka untuk alat pengering diteliti oleh Santoso (2014) telah diujicobakan pada produk daun pandan dan chip

jahe. Platform sistem kontrol yang digunakan adalah Arduino, salah satu perangkat terbuka yang relatif mudah untuk dirangkaikan dengan berbagai sensor (Bell, 2014). Desain alat awal yang telah diteliti tersebut dievaluasi dan dikembangkan lebih lanjut oleh Setiawan (2015) terhadap produk pandan, jahe, pisang, dan singkong. Rahmadi et al (2016) menguji performa alat tersebut dengan bahan mandai (cempedak yang difermentasi) dan kulit buah rambai merah. Selanjutnya, berdasarkan hasil uji coba tersebut, desain prototipe kedua untuk pengeringan beberapa bahan baku herbal skala laboratorium dianggap telah mampu menghasilkan prototipe alat pengering hibrid tenaga matahari dan listrik. Akan tetapi, analisis lanjutan seperti laju

(3)

3 pengeringan terhadap berbagai bahan perlu untuk dilakukan. Peneliti ini bertujuan untuk mengetahui laju pengeringan berbagai bahan herbal dengan model Lewis dan Page.

BAHAN DAN METODE

Bahan baku singkong, pisang jenis kepok matang yang masih berwarna hijau, daun pandan, umbi jahe, dan buah cempedak diperoleh dari pasar di sekitar Samarinda, Kalimantan Timur. Bagian kulit buah cempedak selanjutnya difermentasi menurut metode Rahmadi et al

(2013). Kulit buah bengalun (Lepisanthes alata) diperoleh dari kebun koleksi pribadi penulis pertama.

Alat pengering yang digunakan adalah hasil penelitian fundamental dari penulis pertama (Rahmadi et al, 2016) dibantu oleh Setiawan (2015). Sensor pengukur kelembaban relatif yang digunakan adalah DHT22 dengan sensitivitas 0 s.d.100% dan akurasi ±5% (Saptadi, 2014). Pengeringan bertenaga hibrid matahari dan elemen pengering bertenaga listrik (104 W, suhu kerja maksimum 60 ºC) digunakan pada daun pandan. Dikarenakan keadaan cuaca yang tidak menentu, bahan-bahan yang lain dikeringkan menggunakan simulasi matahari (lampu pijar 200 W) dan elemen pengering. Data diperoleh dengan mengirimkan hasil pembacaan sensor DHT22 ke komputer monitor setiap 5-10 detik. Data kemudian diolah dengan menggunakan Microsoft Excel versi 2016 untuk menghitung nilai rasio kelembaban (MR) dan menentukan regresi linier dari rumus model Lewis dan Page.

Untuk mengukur MR digunakan persamaan (1) yang terdiri dari nilai kelembaban pada detik ke-i (Mi) dikurangi dengan nilai kelembaban pada kondisi setimbang (Me). Hasil ini

kemudian dibagi dengan nilai yang diperoleh dari pengurangan nilai kelembaban awal (Mo)

terhadap Me (Boubekri et al, 2009).

!" = !%− !' !( − !'

(Persamaan 1)

Model Lewis secara umum dapat dilihat pada persamaan (2). !" = )*+ •

(Persamaan 2)

Setelah diturunkan, maka, nilai logaritma natural dari MR akan berbanding lurus dengan kemiringan (-k) terhadap waktu pengeringan (Persamaan 3)

ln !" = −0 • 1

(Persamaan 3)

Model Page didapatkan dengan menurunkan persamaan (3) lebih lanjut, sehingga diperoleh persamaan (4)

ln (−ln !" ) = ln 0 + 5 • 1

(4)

4 HASIL DAN PEMBAHASAN

Desain alat pengering telah dilakukan sebagai bagian dari tugas akhir yang bersifat multidisiplin. Mahasiswa dengan latar belakang pendidikan yang beragam dilibatkan sesuai dengan keahlian masing-masing. Dalam hal ini kerjasama antara Jurusan Ilmu Komputer yang membidangi pemograman dan Jurusan Teknologi Hasil Pertanian yang membidangi pengolahan produk-produk pertanian. Perancangan alat pengering kabinet dengan sumber panas sinar matahari sebagai yang utama dan lampu pijar 2 x 200 W sebagai alternatif pada kondisi cuaca yang tidak memungkinkan. Untuk menstabilkan suhu digunakan empat buah elemen pemanasyang diletakkan di bagian bawah landasan produk (tray produk) (Rahmadi et al, 2016).

Pada awal proses pengeringan sistem kontrol, elemen pemanas, dan kipas dihoperasikan menggunakan sumber listrik. Alat pengering pertama kali dipanaskan terlebih dahulu hingga suhu dalam wadah alat pengering mencapai 50 oC. Sistem kontrol dimulai dengan pengambilan modul waktu agar diketahui kapan dimulainya proses pengeringan, jika modul waktu gagal diambil, maka sistem kontrol menampilkan pesan kesalahan. Setelahnya, sensor DHT22 akan membaca dan menghitung suhu dan kelembaban di dalam wadah pengering, di mana suhu dan kelembaban akan mempengaruhi aktivitas kipas. Pada saat suhu di dalam wadah mencapai 50 oC, elemen pemanas akan berhenti bekerja dan kipas akan berputar. Jika saat suhu berada di bawah 50 oC, maka elemen pemanasakan bekerja. Pada saat kelembaban di dalam wadah mencapai di atas 50%, maka kipas secara otomatis akan berputar sampai kelembaban di dalam wadah menurun. Proses tersebut akan terus berlangsung hingga bahan kering (Rahmadi et al, 2016).

Fluktuasi suhu pada proses pengeringan daun pandan menggunakan sumber panas sinar matahari berada pada kisaran 46,4 – 54,8 oC. Temperatur target yang digunakan adalah 50 oC, dimana alat pengering secara efektif mampu menjaga kestabilan suhu pengering dengan fluktuasi yang cukup baik. Dibandingkan dengan pengukuran oven komersial (Rahmadi et al,

2014), alat pengering ini memiliki performa yang lebih baik dalam pengaturan suhu. Kelembaban relatif yang diukur selama proses pengeringan turut berfluktuasi, karena pada sensor DHT22, kelembaban relatif merupakan faktor dependen dari suhu (Kandrsmith, 2014). Pengeringan dengan kombinasi matahari dan listrik mampu mengeringkan daun pandan dalam waktu 4,14 jam. Penurunan RH terjadi secara eksponensial dari sekitar 34% menjadi 32%. Pada proses pengeringan daun pandan, penurunan RH dalam tiga kali ulangan mulai dari 39,7% - 51,3% menjadi 28% - 31,2%. Pada singkong, penurunan RH terjadi secara eksponensial dari tiga kali ulangan sekitar 32,8% - 53,3% menjadi 27% - 33,4%. Pada pisang, penurunan RH bermula dari 33,9% - 40,1% menjadi 29% - 29,3%. Pada jahe, RH awal berkisar 25,2 - 29,4%, dan setelah dikeringkan RH-nya menjadi 24,7% - 30,4% (tabulasi data tidak disajikan).

Laju pengeringan atau laju penguapan air dalam berbagai penelitian (Muhandri et al 2015; Gunhan et al 2005) tidak terjadi secara linier, melainkan eksponensial. Untuk itu, laju pengeringan perlu didekati dengan permodelan seperti model Lewis dan Page. Permodelan ini

(5)

5 dibantu dengan analisis statistik yakni korelasi untuk memastikan bahwa model-model tersebut layak untuk digunakan. Kashaninejad et al (2007) dalam menjelaskan model Lewis menyatakan, transfer uap air dari bahan yang dikeringkan dapat dilihat menyerupai dengan aliran panas dari tubuh manusia atau hewan hidup yang direndam dalam cairan dingin. Model ini mengasumsikan bahwa hambatan internal diabaikan, yang berarti tidak ada insulasi panas terhadap gerakan air dari dalam bahan ke permukaan material. Lebih lanjut, Kashaninejad et al (2007) menginformasikan bahwa model Page dikembangkan akibat keterbatasan model Lewis dalam menjelaskan laju pengeringan pada bahan-bahan tertentu. Model ini dikembangkan dengan dua nilai konstan, yakni k dan n. Nilai n dapat dikembangkan menjadi sebuah fungsi tersendiri, misalnya kecepatan aliran udara dan suhu. Pendekatan perhitungan laju pengeringan yang digunakan dalam penelitian ini adalah model Lewis, ln (MR) = -kt, atau model Page, ln (-ln (MR)) = ln(k) + nt.

Berdasarkan Gambar 1, dapat diamati bahwa daun pandan yang dikeringkan dengan tenaga hibrid matahari-listrik memiliki waktu pengeringan yang lebih cepat dibandingkan dengan daun pandan yang dikeringkan dengan simulasi matahari dan listrik. Akan tetapi, pendekatan permodelan yang digunakan untuk laju pengeringan kedua cara pengeringan ini berbeda. Pengeringan daun pandan dengan simulasi matahari dan listrik dapat didekati dengan sangat baik (r=0,98) menggunakan model Lewis, yaitu ln (MR) = -0,0094 t (Tabel 1). Pengeringan dengan kombinasi sinar matahari dan elemen pengering untuk daun pandan lebih tepat untuk didekati dengan model Page, yaitu ln (-ln (MR)) = 0,0069 t – 0,6098, dengan nilai korelasi (r) = 0,33. Mencermati hasil penelitian Muhandri et al (2015), model Page untuk laju pengeringan pada umumnya akan meningkatkan korelasi (r) antara waktu pengeringan terhadap nilai ln (-ln (MR)). Penerapan model yang berbeda umumnya dilakukan apabila model Lewis yang sederhana tidak mampu menjawab pendekatan permodelan laju pengeringan (Gambar 4).

Tabel 1. Perhitungan laju pengeringan beberapa bahan baku herbal dengan persamaan model Lewis dan Page

Jenis bahan Suhu

(°C)

Nilai

Persamaan Korelasi

( r )

Mo Me

Metode Pengeringan Hibrid Matahari-Listrik

Pandan (daun) 50 39,2 27,3 ln (MR) = - 0,014 t -*

ln (-ln (MR)) = 0,0069 t – 0,6098 0,33 Metode Pengeringan Simulasi Tenaga Matahari

Singkong (umbi) 50 54,6 32,1 ln (MR) = - 0,0112 t 0,90

Pisang (buah) 50 52,0 28,6 ln(MR) = - 0,0113 t 0,92

Pandan (daun) 50 50,7 26,4 ln(MR) = - 0,0094 t 0,98

Jahe (umbi) 50 34,7 26,9 ln (MR) = - 0,0063 t 0,32

ln (-ln (MR)) = 0,0041 t – 0,7415 0,51

Bengalun (kulit buah) 50 58,2 29,1 ln (MR) = - 0,0104 t 0,76

Mandai 50 62,7 27,0 ln (MR) = - 0,0032 t 0,90

(6)

6 * nilai korelasi (r) tidak dapat diperoleh karena r2 bernilai negatif

Pengeringan mandai dilakukan dalam dua suhu yang berbeda, yakni 45 dan 50 °C. Pada suhu yang lebih rendah, nilai koefisien k adalah lebih rendah, sehingga grafik regresi linier yang dihasilkan lebih landai. Akibatnya adalah penguapan uap air dari bahan berlangsung lebih lambat dibandingkan pada suhu lebih tinggi (Tabel 1). Ini sejalan dengan hasil penelitian Muhandri et al (2015) yang menyatakan bahwa dalam pengeringan sphagetti jagung, nilai k

pada suhu pengeringan 41 °C adalah lebih kecil dibandingkan pada suhu 63 °C. Menurut Gunhan et al (2005), faktor utama yang menentukan kecepatan pengeringan adalah suhu udara panas yang digunakan. Semakin tinggi selisih suhu yang digunakan, pengeringan akan berlangsung semakin cepat.

Perbedaan bahan yang akan dikeringkan akan menentukan laju pengeringan. Ini dapat dilihat pada Gambar 3, dimana umbi singkong dan buah pisang dengan model Lewis memiliki nilai k yang paling tinggi, yaitu 0,0112 dan 0,0113. Nilai k dari jahe adalah 0,0063, akan tetapi korelasinya rendah (0,32). Untuk pengeringan jahe dengan metode simulasi tenaga matahari dan listrik selanjutnya didekati dengan model Page. Terdapat peningkatan nilai korelasi yang cukup tinggi antara model Page dibandingkan model Lewis pada pengeringan produk umbi jahe, yakni 0,51 dibandingkan dengan 0,32. Dapat disimpulkan bahwa untuk pengeringan jahe, model Page lebih sesuai untuk diterapkan. Laju pengeringan untuk umbi jahe dengan model Page adalah ln (-ln (MR)) = 0,0041 t – 0,7415 (Tabel 1).

Mandai memiliki nilai k dari model Lewis yang paling rendah diantara semua bahan. Ini disebabkan karena hasil fermentasi kulit cempedak ini lebih padat, sehingga harus dibuburkan terlebih dahulu sebelum produk dapat dikeringkan. Akan tetapi, model Lewis sudah cukup baik untuk memodelkan laju pengeringan pada produk ini dengan nilai korelasi yang tinggi, yakti 0,90 dan 0,96, sehingga perhitungan dengan model Page tidak dilanjutkan (Tabel 1).

KESIMPULAN

Laju pengeringan yang tercepat adalah dengan menggunakan tenaga hibrid matahari dan listrik untuk produk daun pandan. Pada percobaan dengan perbedaan suhu pengeringan 5 ºC, penurunan suhu pengering akan melandaikan koefisien kemiringan laju pengeringan (-k), dimana nilai tersebut akan lebih rendah (-0,0032) pada suhu pengeringan 50ºC dibandingkan nilai koefisien (-0,0021) pada suhu pengeringan 45 ºC. Dari semua produk yang diujicobakan, nilai korelasi untuk model Lewis yang diperoleh antara waktu pengeringan terhadap nilai log natural dari MR berkisar antara 0,32 hingga 0,98. Korelasi tertinggi didapatkan dari produk daun pandan, sementara pengeringan umbi jahe memberikan nilai korelasi terendah. Nilai korelasi untuk model Page pada produk umbi jahe adalah 0,51, dalam hal ini terdapat peningkatan nilai korelasi dibandingkan model Lewis pada pengeringan produk umbi jahe. Khusus daun pandan yang dikeringkan dengan tenaga hibrid matahari dan listrik, model Lewis

(7)

7 tidak sesuai untuk diterapkan oleh sebab r2 bernilai negatif, sehingga harus menggunakan model Page dengan persamaan ln (-ln (MR)) = 0,0069 t – 0,6098 (r=0,33).

UCAPAN TERIMA KASIH

Ucapan terima kasih disampaikan penulis pertama dan terakhir kepada Kemenristekdikti yang telah membiayai penelitian ini dalam skema hibah fundamental tahun 2015-2016 nomor kontrak 197/UN17.16/PG/2015.

DAFTAR PUSTAKA

Adiletta, G., Senadeera, W., Di Matteo, M., & Russo, P. 2013 Drying kinetics of two grape varieties of Italy. Bab di dalam: Goncharova-Alves, S., Alves-Filho, O., & Eikevik, T.M. (Eds.). 2013. Proceedings of the 6th Nordic Drying Conference (NDC2013), Danish Technological Institute and NTNU Trondheim (Norwegian University of Science and Technology), Danish Technological Institute, Copenhagen.

Bal, L.M., Satya, S., Naik, S.N. 2010. Solar dryer with thermal energy storage systems for drying agricultural food products: A review. Renewable and Sustainable Energy Reviews 14: 2298–2314.doi:10.1016/j.rser.2010.04.014

Bell, C. 2014. Introduction to Sensor Networks. Beginning Sensor Networks with Arduino and Raspberry Pi, pp 1-17. Springer Verlag, Germany. doi: 10.1007/978-1-4302-5825-4. Boubekri, A., BenMoussa, H., Mennouche, D. 2009. Solar Drying Kinetics of Date Palm Fruits

Assuming A Step-Wise Air Temperature Change. Journal of Engineering Science and Technology 4(3): 292-304.

Efremov, G. 2013. Describing of Generalized Drying Kinetics with Application of Experiment Design Method. Technical Sciences 16(4): 309–322.

Fudholi, A., Ruslan, M.H., Othman, M.Y., Zaharim, A., Sopian, K. 2013. Mathematical Modelling of Solar Drying of Thin Layer Ginger. Bab di dalam: Zaharim, A., Sopian, K. 2013. Latest Trends in Renewable Energy and Environmental Informatics, WSEAS.org. http://www.wseas.org/main/books/2013/Malaysia/RESEN.pdf

Gunhan, T., Demir, V., Hancioglu, E., Hepbasli, A. 2005. Mathematical modelling of drying of bay leaves. Energy Conversion and Management 46: 1667–1679. doi:10.1016/j.enconman.2004.10.001

Hii, C.L., Law, C.L., Cloke, M. 2008. Modelling of Thin Layer Drying Kinetics of Cocoa Beans during Artificial and Natural Drying. Journal of Engineering Science and Technology 3(1): 1-10.

Kandrsmith, R. 2014. Compare DHT22, DHT11, and Sensirion SHT71. Artikel online. Diakses: 15 April 2015. http://goo.gl/vpmdPs

Kashaninejad, M., Mortazavi, A., Safekordi, A., Tabil, L.G. 2007. Thin-layer drying characteristics and modeling of pistachio nuts. Journal of Food Engineering 78: 98– 108. doi:10.1016/j.jfoodeng.2005.09.007

Muhandri, T., Rahmasari, G.N., Subarna, Hariyadi, P. 2015. Model Laju Pengeringan Spaghetti Jagung Menggunakan Tray Dryer. J. Teknol. dan Industri Pangan 26(2): 171-178. DOI: 10.6066/jtip.2015.26.2.171.

Peglow, M., Metzler, T., Lee, G., Schiffter, H., Hampel, R., Heinrich, S., Tsotsas, E. 2009. Measurement of Average Moisture Content and Drying Kinetics for Single Particles, Droplets and Dryers. Bab di dalam: Tsotsas, E., dan Mujumdar, A.S. 2009. Modern

(8)

8 Drying Technology 2: Experimental Techniques. Wiley Verlag GmbH & Co. KGaA, Weinheim, Germany.

Rahmadi A, Abdiah I, Sukarno MD, Purna NT. 2013. Karakteristik fisiokimia dan antibakteri virgin coconut oil hasil fermentasi bakteri asam laktat. Jurnal Teknol dan Industri Pangan 24 (2): 151-156. doi: 10.6066/jtip.2013.24.2.178.

Rahmadi, A., Hajar, S., Santoso, A., Agus, F., Saragih, B. 2014. Assessments of Arduino as an Inexpensive Open Source Hardware Platform to Stream Thermal Changes in Food Processing. Lead Presentation. Emerging Tecnology, Food Ingredient Asia, 15-16 October 2014. Jakarta.

Rahmadi, A., Ilyas, Santoso, A., Agus, F., Setiawan, H., Murdianto, W. 2016. Control of Hybrid Sun-Electrical Dryer for Agricultural Materials with Inexpensive Open Hardware Platform. International Food Review Journal. Submitted manuscript no. IFRJ16737.

Santoso, A. 2014. Desain dan Implementasi Sistem Kontrol Alat Pengering Produk Herbal Menggunakan Mikrokontroller Berbasis Open Source. Skripsi. FMIPA, Universitas Mulawarman. Samarinda, Indonesia.

Saptadi, H.A. 2014. Perbandingan Akurasi Pengukuran Suhu dan Kelembaban Antara Sensor DHT11 dan DHT22 Studi Komparatif pada Platform ATMEL, AVR, dan Arduino. Jurnal Infotel 6(2): 49-55.

Setiawan, H. 2015. Desain Alat Pengering Produk Pertanian Menggunakan Mikrokontroller Berbasis Open Source. Skripsi. Faperta, Universitas Mulawarman. Samarinda.

(9)

9

A B

Gambar 1. Grafik ln(MR) pengeringan daun pandan dengan (a) hibrid matahari-listrik, (b) simulasi matahari-listrik

A B

Gambar 2. Grafik ln(MR) pengeringan mandai pada suhu (a) 45 dan (b) 50 °C -6 -5 -4 -3 -2 -1 0 0 50 100 150 200 250 300 350 ln (M R) Waktu (menit) -3 -2 -1 0 0 20 40 60 80 100 120 ln (M R) Waktu (menit) (3.00) (2.00) (1.00) -- 200.00 400.00 600.00 800.00 1,000.00 ln (M R) Waktu (menit) (7.00) (6.00) (5.00) (4.00) (3.00) (2.00) (1.00) -0 200 400 600 800 1000 ln (M R) Waktu (menit)

(10)

10

A B

C D

Gambar 3. Grafik ln(MR) pengeringan (a) kulit buah bengalun, (b) umbi jahe, (c) buah pisang, dan (d) umbi singkong -6 -5 -4 -3 -2 -1 0 0 50 100 150 200 250 300 350 ln (M R) Waktu (menit) -5 -4 -3 -2 -1 0 0 50 100 150 200 250 300 350 ln (M R) Waktu (menit) -6 -5 -4 -3 -2 -1 0 0 50 100 150 200 250 300 350 ln (M R) Waktu (menit) -6 -5 -4 -3 -2 -1 0 0 50 100 150 200 250 300 350 ln (M R) Waktu (menit)

(11)

11

A B

Gambar 4. Grafik ln(-ln(MR)) pengeringan (a) daun pandan dengan hibrid matahari dan listrik, (b) jahe dengan simulasi matahari dan listrik -3 -2 -1 0 1 0 20 40 60 80 100 120 ln (-ln (M R) ) Waktu (menit) -5 -4 -3 -2 -1 0 1 2 0 50 100 150 200 250 300 350 ln ( -ln (M R) ) Waktu (menit)

Gambar

Tabel 1. Perhitungan laju pengeringan beberapa bahan baku herbal dengan persamaan model  Lewis dan Page
Gambar 1. Grafik ln(MR) pengeringan daun pandan dengan (a) hibrid matahari-listrik, (b) simulasi matahari-listrik
Gambar 3. Grafik ln(MR) pengeringan (a) kulit buah bengalun, (b) umbi jahe, (c) buah pisang, dan (d) umbi singkong
Gambar 4. Grafik ln(-ln(MR)) pengeringan (a) daun pandan dengan hibrid matahari dan listrik, (b) jahe dengan simulasi matahari dan listrik

Referensi

Dokumen terkait

UJI KINERJA ALAT PENGERING TIPE BATCH DRYER UNTUK PENGERINGAN GABAH DENGAN MENGGUNAKAN BAHAN BAKAR..

Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui laju pengeringan optimal dalam ruang pengering terhadap panas pembakaran bahan bakar pada ruang pembakaran.Alat pengering yang

Jika dilihat dari hasil pengeringan, alat pengering tipe kabinet tenaga surya jenis pemanasan langsung sangat efektif untuk mengeringkan pisang karena alat ini dapat

Pengeringan terputus (tidak kontinyu) menggunakan alat pengering gabungan kolektor surya dan penyimpan panas sensibel dibuktikan telah dapat memperpendek

Kinerja yang diperoleh alat pengering terbaik menggunakan energi surya dengan kadar air akhir sebesar 14,88% bb, laju pengeringan 0,64% bk/jam dan kebutuhan energi

Jika dilihat dari hasil pengeringan, alat pengering tipe kabinet tenaga surya jenis pemanasan langsung sangat efektif untuk mengeringkan pisang karena alat ini dapat

Alat pengering dengan memanfaatkan udara panas dari elemen pemanas listrik ini dapat mengurangi penggunaan waktu dan tenaga petani dalam melakukan pengeringan produk-produk

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh dari suhu lingkungan terhadap laju perpindahan kalor dan pengeringan pada mesin pengering pakaian agar diketahui