• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jurnal Manajemen dan Akuntansi PRESTASI ISSN Volume 13. No. 2 Desember 2014

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Jurnal Manajemen dan Akuntansi PRESTASI ISSN Volume 13. No. 2 Desember 2014"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH CORPORATE GOVERNANCE, DEBT TO EQUITY RATIO, PERINGKAT OBLIGASI, DAN TINGKAT SUKU BUNGA SBI

TERHADAP YIELD TO MATURITY OBLIGASI (Obligasi Korporasi yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia)

Hermawan Ariffudin, Nur Anissa dan Metta Kusumaningtyas

[email protected] ABSTRACT

Yield To Maturity (YTM) is the rate or level of benefits enjoyed by investors in the bond if the bond is deposited until the maturity. The research aims to examine and analyze the effect of corporate governance, debt to equity ratio, bond rating, and interest rate SBI to yield to maturity of corporation bond listed at the Indonesia stock exchange (BEI) in 2009-2011. The sampling technique in this research was conducted using purposive sampling method. The analytical method used is multiple linier regression. The analysis showed that the variables of corporate governance and debt to equity ratio shows the results did not effect the yield to maturity. While the bond rating variable has negative effect on the yield to maturity, interest rate SBI has positive effect on the yield to maturity. Adjusted R2of the model for this study was 39

Keywords: Corporate Governance, Debt to Equity Ratio, Bond Rating, Interest Rate SBI, and YieldTo Maturity

1. Pendahuluan

Dalam era globalisasi segala informasi dapat diakses oleh berbagai kalangan dengan sangat mudah melalui media internet, begitupula dengan informasi tentang cara dan pentingnya berinvestasi. Hal tersebut membuat kalangan masyarakat mengerti akan pentingnya berinvestasi dan seperti apa bentuk-bentuk investasi itu. Oleh karenanya saat ini merupakan era investasi tanpa batas ruang dan waktu. Menurut Abdul Halim dalam Fahmi (2012: 02), investasi pada hakikatnya merupakan penempatan sejumlah dana pada saat ini dengan harapan untuk memperoleh keuntungan di masa mendatang. Investasi dalam surat utang (obligasi) lebih dipilih oleh investor dengan alasan bahwa obligasi menawarkan tingkat pengembalian yang positif dengan pendapatan tetap sehingga obligasi lebih memberikan jaminan dari pada saham (Widajati, 2010).

Obligasi yang diterbitkan pemerintah Republik Indonesia adalah goverment bond, sementara itu obligasi yang diterbitkan oleh perusahaan, baik perusahaan berbentuk Badan Usaha Milik Negara (BUMN) maupun badan usaha swasta adalah corporate bond atau obligasi korporasi (Purnamawati, 2013). Bank Indonesia (2012) dalam Indarsih (2013) mencatat bahwa minat investor asing atas obligasi yang ditawarkan korporasi semakin tinggi. Salah satu faktor

(2)

yang mendorong tingginya minat investor asing memburu obligasi korporasi adalah tingkat yield yang lebih tinggi dibandingkan yield obligasi pemerintah. Krisis utang negara Eropa dan Amerika yang memicu krisis global, mendorong perusahaan asing untuk berinvestasi di negara emerging market seperti Indonesia dan pada produk pasar modal yang memiliki risiko relatif kecil. Berdasarkan Bapepam dan LK Juni 2011, investor asing memiliki obligasi korporasi senilai Rp 5,96 triliun atau naik empat kali lipat dibandingkan Juni 2010 yang mencapai Rp 1,53 triliun. Pemodal asing yang dominan berinvestasi pada obligasi korporasi adalah institusi keuangan sebesar Rp 2,53 triliun, perusahaan asing sebesar Rp 569,82 miliar, manajer investasi reksadana sebesar Rp 562,91 miliar, dan Rp 2,295 triliun lainnya. Kondisi ini menunjukkan minat investor asing terhadap obligasi korporasi Indonesia semakin meningkat. Peningkatan pasar obligasi juga didorong oleh trend penurunan suku bunga Bank Indonesia yaitu pada Desember 2005 suku bunga sebesar 12,75% dan pada bulan Juli 2011 turun menjadi 6,75% (Jamillah, 2012).

Investor memilih obligasi dengan pertimbangan peringkat obligasi dan pendapatan obligasi (dinyatakan dalam yield). Yield obligasi merupakan hasil yang diperoleh investor jika investor menginvestasikan pada obligasi (Widajati, 2010). Salah satu ukuran yield yang paling sering digunakan investor dalam berinvestasi yaitu yield to maturity.Yield To Maturity (YTM) adalah suku bunga atau tingkat keuntungan yang dinikmati investor pada obligasi jika obligasi tersebut disimpan hingga tanggal jatuh tempo (Atmaja, 2008: 89). Jika investor membeli obligasi sekarang dan menahannya hingga jatuh tempo, maka akan mendapatkan pengembalian total obligasinya yang meliputi baik pendapatan kupon maupun keuntungan modal. Bagi perusahaan jika obligasi tersebut disimpan hingga jatuh tempo akan memudahkan untuk menghitung pelunasan nilai pokok pinjaman, karena nilai sekarang obligasi sama dengan harga pasar aktualnya.

Sebelum investor membeli obligasi dan menyimpannya sampai jatuh tempo sebaiknya harus memperhatikan kondisi internal dan eksternal perusahaan terlebih dahulu. Kondisi internal perusahaan dapat dinilai dari penerapan corporate governance (CG) dalam pengelolaan perusahaan. Corporate governance merupakan suatu mekanisme pengelolaan yang didasarkan pada teori keagenan. Penerapan konsep CG diharapkan memberikan kepercayaan terhadap agen (manajemen) dalam mengelola kekayaan pemilik (investor), dan pemilik menjadi lebih yakin bahwa agen tidak akan melakukan suatu kecurangan (fraud) untuk kesejahteraan agen. Perusahaan yang menerapkan tata kelola yang baik, akan mampu memberikan kepercayaan terhadap investor. Kepercayaan investor yang tinggi merupakan sifat dari GCG yang akan berpengaruh terhadap nilai pasar obligasi, sehingga yield obligasi menjadi semakin meningkat (Hapsari, 2013).

Selain dinilai melalui penerapan corporate governance kondisi internal perusahaan juga dapat dinilai melalui kinerja keuangan perusahaan. Kinerja keuangan perusahaan dapat dilihat dari struktur modalnya, terutama modal yang

(3)

Rasio (DER). DER merupakan perbandingan antara utang dengan modal sendiri, yang menunjukkan risiko distribusi laba usaha perusahaan yang terserap untuk melunasi kewajiban utang perusahaan (Surya dan Nasher, 2011). Semakin besar DER maka semakin kecil kemampuan perusahaan untuk melunasi seluruh kewajibannya termasuk imbal hasil terhadap jatuh tempo obligasi.

Penelitian ini akan menambahkan variabel independen peringkat obligasi sebagai penilai kondisi internal perusahaan lainnya dan variabel independen tingkat suku bunga SBI sebagai penilai kondisi eksternal perusahaan. Selain itu data yang diambil dalam penelitian ini adalah obligasi korporasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang mana perusahaan yang menerbitkan obligasi tersebut sudah go public yang pastinya masuk dalam kriteria ukuran perusahaan besar yang laporan keuangannya telah sesuai dengan peraturan akuntansi berterima umum, maka variabel ukuran perusahaan tidak digunakan. Apakah corporate governance, debt to equity ratio (DER), peringkat obligasi, dan tingkat suku bunga SBI berpengaruh terhadap yield to maturity (YTM) pada obligasi korporasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia?

1. Materi dan Metode 2.1 Yield To Maturity (YTM)

Yield to maturity (YTM) adalah tingkat pengembalian yang akan diperoleh investor apabila memiliki obligasi sampai jatuh tempo. Penghitungan YTM dilakukan dengan memasukkan semua pembayaran kupon bunga sampai dengan tanggal jatuh tempo dengan mengasumsikan adanya reinvestasi dari kupon yang diterima dengan tingkat bunga yang sama dengan YTM tersebut (Setyapurnama dan Norpratiwi, 2006). Kelebihan YTM yaitu menggambarkan yield obligasi secara lengkap. Selain dari bunga obligasi, YTM juga menghitung potensi keuntungan atau kerugian dari pergerakan harga obligasi. YTM ini juga mencakup potensi keuntungan dari kenaikan harga obligasi atau capital gain ( jika membeli obligasi di harga diskon) maupun kerugian akibat penurunan harga obligasi (jika membeli obligasi di harga tinggi atau premium). YTM mengevaluasi baik pendapatan bunga, capital gain maupun cashflow yang diterima sepanjang masa hidup pasar obligasi yaitu sampai maturity date (Ibrahim, 2008) Menurut Indarsih (2013) Yield To Maturity adalah tingkat bunga yang menyamakan harga obligasi dengan nilai sekarang dari semua aliran kas yang diperoleh dari obligasi sampai dengan waktu jatuh tempo, oleh karena persamaan tersebut didasari dengan perhitungan nilai sekarang maka semua pendapatan yang diperoleh harus diinvestasikan kembali pada tingkat Yield To Maturity. YTM adalah alat ukur yang akan digunakan investor untuk melakukan pertimbangan dalam pembelian obligasi. Sehingga YTM akan mempengaruhi yield (tingkat keuntungan) yang akan diperoleh investor. Jika YTM tinggi, maka yield (tingkat keuntungan) juga akan tinggi, sehingga risiko gagal bayar tidak akan terjadi (Hapsari, 2013). Untuk menghindari risiko gagal bayar tersebut, oleh karenanya harus dapat menilai kondisi internal dan eksternal perusahaan.

(4)

2.2 Teori Keagenan

Hubungan keagenan merupakan suatu kontrak antara principal dengan agent. Menurut Darmawati et al. (2005), inti dari hubungan keagenan adalah adanya pemisahan antara kepemilikan (principal/investor) dan pengendalian (agent/manajer). Kepemilikan diwakili oleh investor mendelegasikan kewenangan kepada agen dalam hal ini manajer untuk mengelola kekayaan investor. Investor mempunyai harapan bahwa dengan mendelegasikan

wewenang pengelolaan tersebut, mereka akan memperoleh keuntungan dengan bertambahnya kekayaan dan kemakmuran investor. Hubungan keagenan dapat menimbulkan masalah pada saat pihak-pihak yang bersangkutan mempunyai tujuan yang berbeda. Pemilik modal menghendaki bertambahnya kekayaan dan kemakmuran para pemilik modal, sedangkan manajer juga menginginkan bertambahnya kesejahteraan bagi para manajer. Dengan demikian muncullah konflik kepentingan antara pemilik (investor) dengan manajer (agen). Pemilik lebih tertarik untuk memaksimumkan return dan harga sekuritas dari investasinya, sedangkan manajer mempunyai kebutuhan psikologis dan ekonomi yang luas, termasuk memaksimumkan kompensasinya (Setyapurnama dan Norpratiwi, 2006).

2.3 Corporate Governance terhadap Yield To Maturity (YTM)

Corporate governance merupakan suatu mekanisme pengelolaan yang didasar-kan pada teori keagenan. Penerapan konsep CG diharapkan memberikan kepercayaan terhadap agen (manajemen) dalam mengelola kekayaan pemilik (investor), dan pemilik menjadi lebih yakin bahwa agen tidak akan melakukan suatu kecurangan (fraud) untuk kesejahteraan agen (Hapsari, 2013). Salah satu elemen dari corporate governance adalah keterbukaan yang merupakan tindakan untuk menjelaskan segala sesuatu yang dilakukan manajemen perusahaan kepada publik. Keterbukaan tidak mudah dilakukan jika manajemen memiliki kepentingan dan informasi pribadi, kondisi ini terjadi jika manajemen memiliki andil sebagai pemilik (managerial ownership). Semakin besar persentase kepemilikan manajerial maka keterbukaan semakin kecil, sehingga perusahaan akan lebih memiliki risiko. Investor memiliki obligasi juga memperhatikan risiko, risiko dalam obligasi disebut dengan risiko kredit (default risk). Risiko kredit merupakan suatu risiko kerugian yang disebabkan oleh ketidak mampuan (gagal bayar) dari debitur atas kewajiban pembayaran utangnya baik utang pokok maupun bunganya atau keduanya (Widajati, 2010). Oleh karena itu jika penerapan CG buruk, maka keterbukaan atas tindakan yang dilakukan manajemen perusahaan kepada publik semakin kecil, sehingga perusahaan akan lebih memiliki risiko. Semakin tinggi risiko perusahaan, maka risiko kerugian akibat gagal bayar perusahaan atas utangnya juga akan tinggi. Maka investor juga akan mengisyaratkan imbal hasil (yield) yang tinggi atas risiko perusahaan tersebut. Penelitian Purnama dan Norpratiwi (2006) menunjukkan bahwa corporate governance berpengaruh negatif terhadap yield obligasi.

(5)

2.4 Debt to Equity Ratio (DER) terhadap Yield To Maturity (YTM)

Salah satu informasi yang dapat diterima secara bebas oleh investor mengenai perusahaan emiten adalah debt to equity ratio (DER), yang merupakan indikator struktur modal dan risiko finansial. DER merupakan perbandingan antara utang dengan modal sendiri, yang menunjukkan risiko distribusi laba usaha perusahaan yang terserap untuk melunasi kewajiban utang perusahaan (Surya dan Nasher, 2011). Penggunaan utang yang terlalu tinggi akan membahayakan perusahaan karena perusahaan akan masuk dalam kategori extreme leverage (utang ekstrem) yaitu perusahaan terjebak dalam tingkat utang yang tinggi dan sulit untuk melepaskan beban utang tersebut. Maka, penggunaan hutang yang semakin besar akan mengakibatkan semakin tingginya risiko untuk tidak mampu membayar hutang. Dengan semakin tingginya tingkat risiko maka keuntungan yang diisyaratkan juga semakin besar (Purnamawati, 2013). Oleh karena itu semakin besar hutang (DER) maka YTM yang diisyaratkan juga semakin besar. Hal tersebut dikarenakan semakin tinggi DER (hutang), maka semakin besar pula risiko yang dihadapi investor, sehingga para investor akan meminta tingkat keuntungan yang semakin tinggi, karena menerbitkan saham baru berarti melepaskan sejumlah kendali perusahaan dan akan memperbesar laba yang akan diperoleh para investor (Hapsari, 2013). Hasil penelitian Surya dan Nasher (2011) menunjukkan bahwa DER berpengaruh positif terhadap yield obligasi.

2.4. Peringkat Obligasi terhadap Yield To Maturity (YTM)

Seorang investor yang akan membeli obligasi hendaknya memperhatikan adanya default risk, yaitu risiko yang dihadapi oleh investor atau pemegang obligasi karena tidak dapat membayar obligasi pada saat jatuh tempo. Untuk menghindari risiko tersebut, investor harus memperhatikan beberapa hal, salah satunya adalah peringkat obligasi perusahaan emiten (Purnamawati, 2013). Peringkat obligasi menyatakan skala risiko atau tingkat keamanan suatu obligasi yang diterbitkan serta memberikan pernyataan yang informatif dan memberikan sinyal tentang probabilitas kegagalan hutang suatu perusahaan. Investment grade merupakan obligasi yang berperingkat tinggi (high grade) yang mencerminkan risiko kredit yang rendah (low credit worthiness). Non investment grade merupakan obligasi yang berperingkat rendah (low grade) yang mencerminkan risiko kredit yang tinggi (high credit worthiness) (Purnamawati, 2013). Obligasi dengan peringkat rendah merupakan obligasi yang lebih berisiko. Implikasinya obligasi dengan peringkat rendah harus menyediakan YTM lebih tinggi karena untuk mengkompensasi kemungkinan risiko yang besar (Ibrahim, 2008). Semakin tinggi peringkat obligasi maka risiko semakin rendah, imbal hasil (yield) yang diberikan juga semakin rendah. Sebaliknya jika semakin rendah peringkat obligasi, semakin tinggi risiko, semakin tinggi juga imbal hasil (yield) yang diberikan (Saputra, 2013). Penelitian Surya dan Nasher (2011) menunjukkan bahwa bond rating berpengaruh negatif terhadap yield obligasi.

(6)

2.5 Tingkat Suku Bunga SBI terhadap Yield To Maturity (YTM)

Investasi dalam deposito atau SBI akan menghasilkan bunga bebas risiko tanpa memikirkan pengelolaannya, sementara investasi dalam obligasi mengandung risiko seperti kegagalan penerimaan kupon atau gagal pelunasan dan kerugian karena kehilangan kesempatan untuk melakukan investasi di tempat lain (opportunity cost). Oleh karena itu, yield obligasi yang diperoleh harus lebih tinggi daripada tingkat suku bunga deposito atau SBI (Indarsih, 2013). Suku bunga berpengaruh terhadap tinggi rendahnya obligasi, dikarenakan apabila suku bunga mengalami peningkatan maka secara relatif akan menurunkan imbal hasil yang diterima oleh investor. Hal ini dikarenakan bunga obligasi yang bersifat tetap (fixe rate), sehingga investor akan meminta kompensasi dengan meminta yield yang lebih tinggi. Dengan kata lain, apabila tingkat suku bunga mengalami kenaikan maka besarnya yield yang diisyaratkan oleh investor juga akan mengalami kenaikan (Saputra, 2013). Hasil penelitian Surya dan Nasher (2011) menunjukkan bahwa tingkat suku bunga SBI berpengaruh positif terhadap yield obligasi.

3. Metode Penelitian 3.1 Definisi Operasional

Definisi operasional merupakan penjabaran dari sebuah variabel serta indika-tornya secara terperinci, sehingga variabel yang ada dapat diketahui pengukurannya. Definisi operasional dalam penelitian ini adalah sebagai berikut Yield To Maturity (YTM)

YTM merupakan tingkat pengembalian yang akan diperoleh investor pada obligasi jika disimpan hingga jatuh tempo (Hapsari, 2013). Rumus perhitungan Yield To Maturity menggunakan persamaan yang dikembangkan dengan menggunakan metode Equation Approximation sebagai berikut (Indarsih, 2013):

Keterangan:

YTM = Yield To Maturity C = kupon / bunga

N = sisa waktu jatuh tempo F = face value (nilai nominal) P = harga obligasi pada saat t=0)

F - P C + --- n YTM = --- x 100% F + P --- 2

(7)

Variabel Independen

a). Corporate Governance

Variabel corporate governance diukur menggunakan skor CGPI. CGPI merupakan gabungan dari tujuh komponen yang diberi bobot. Tujuh komponen tersebut adalah: 1) Komitmen terhadap CG, 2) Hak pemegang saham, 3) Tata kelola dewan komisaris, 4) Komite-komite fungsional (yang membantu tata kelola dewan komisaris), 5) Direksi, 6) Transparansi, 7) Hubungan dengan stakeholders (Hapsari, 2013). Corporate governance dengan skor CGPI menggunakan skala interval 0-100, score 85-100 masuk dalam kategori A dan predikat sangat terpercaya, score 7084,99 masuk dalam kategori B dan predikat terpercaya, serta score 55-69,99 masuk dalam kategori C dan predikat cukup terpercaya. Selanjutnya variabel coporate governance dengan skor CGPI dinyatakan dalam bentuk variabel dummy, yaitu 1 jika masuk dalam CGPI dan 0 jika tidak masuk dalam CGPI. Hal tersebut mempertimbangkan agar data yang digunakan dalam penelitian memenuhi jumlah yang dibutuhkan.

b). Debt to Equity Rasio (DER)

Debt to Equity Ratio (DER) adalah perbandingan antara jumlah total hutang terhadap total equity. Menurut Hapsari (2013), DER dapat dirumuskan dengan persamaan sebagai berikut:

Total Liabilitas DER = --- Total Equity Dimana:

DER : Debt to Equity Ratio TL : Total Liabilities TE : Total Equity c). Peringkat Obligasi

Peringkat obligasi adalah pernyataan dalam bentuk simbol tentang keadaaan perusahaan penerbit obligasi yang dikeluarkan oleh PT. PEFINDO (Ibrahim, 2008). Variabel peringkat obligasi diberi simbol RAT dan ditentukan dengan menggolongkan peringkat sesuai kategori peringkatnya. Variabel RAT dikelompokkan menjadi dua kategori, yaitu:

(1) Kategori investment grade untuk perusahaan yang risiko defaultnya rendah. Kategori ini dinyatakan dalam peringkat AAA, AA, A, BBB.

(2) Ketegori non investment grade untuk perusahaan yang risiko defaultnya tinggi. Kategori ini dinyatakan dalam peringkat BB, B, CCC, D

Selanjutnya variabel RAT dinyatakan dengan peringkat obligasi yang diterbitkan oleh PT PEFINDO yaitu mulai dari peringkat yang paling tinggi hingga peringkat yang paling rendah (mulai dari AAA+ hingga B -). Karena

(8)

ada 18 maka peringkat yang tertinggi diberi skor 18 dan peringkat yang paling rendah diberi skor 1 seperti pada tabel sebagai berikut:

Tabel 3.1 Konversi Peringkat Obligasi

Peringkat Nilai Peringkat Nilai

AAA+ 18 BBB+ 9 AAA 17 BBB 8 AAA- 16 BBB- 7 AA+ 15 BB+ 6 AA 14 BB 5 AA- 13 BB- 4 A+ 12 B+ 3 A 11 B 2 A- 10 B- 1

Sumber: Manurung dalam Melani dan Kananlua (2013) d). Tingkat Suku Bunga SBI

Tingkat suku bunga yang digunakan adalah tingkat suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI rate) (Purnamawati, 2013).

3.2 Populasi dan Sampel

Populasi penelitian adalah obligasi korporasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Ditemukan 18 obligasi korporasi yang memenuhi kriteria sebagai sampel penelitian, sehingga sampel dalam penelitian ini selama periode 2009-2011 sebanyak 54 sampel obligasi korporasi. Dalam penentuan sampel penelitian ini, peneliti menggunakan teknik purposive sampling. Penentuan sampel dengan teknik purposive sampling didasarkan pada kriteria - kriteria tertentu. Dalam penentuan sampel penelitian ini, ditentukan kriteria-kriteria sebagai berikut:

1. Obligasi korporasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama tahun 2009-2011.

2. Obligasi korporasi yang terdaftar dalam Indonesia Bond Market Directory selama tahun 2009-2011 secara berturutturut. Obligasi korporasi yang pemeringkatannya masuk dalam pemeringkatan PT. Pefindo selama tahun 2009-2011.

3. Obligasi korporasi yang memiliki data lengkap yang dibutuhkan dalam penelitian selama tahun 2009-2011.

3.3 Teknik Analisis Data

Untuk menguji hubungan antar variabel dalam penelitian ini menggunakan analisis regresi linear berganda dengan bantuan software aplikasi SPSS versi 19. Dalam menguji hipotesis, taraf nyata yang digunakan adalah 0,05 (5%). Jika nilai probabilitas signifikansi lebih kecil dari 0,05 maka Ho ditolak dan Ha diterima. Sebaliknya jika nilai probabilitas signifikansi lebih besar dari 0,05 maka Ho diterima.

(9)

4. Hasil dan Pembahasan

4.1 Pengaruh Corporate Governance terhadap Yield To Maturity

Dari hasil uji signifikansi parsial dapat diketahui bahwa variabel corporate governance (CG) tidak berpengaruh terhadap yield to maturity. Hal ini terbukti menunjukkan bahwa nilai B sebesar -0,067 yaitu menunjukkan arah negatif, sedangkan nilai signifikannya sebesar 0,895 > 0,05. Hal tersebut berarti mampu menerima H01 dan menolak Ha1, maka dapat disimpulkan bahwa variabel

corporate governance tidak berpengaruh terhadap yield to maturity. Hasil ini tidak sesuai dengan hipotesis pertama dan sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan Hapsari (2013) bahwa variabel corporate governance tidak berpengaruh terhadap yield to maturity. Kepesertaan CGPI bersifat sukarela, jadi perusahaan yang masuk dalam pemeringkatan CGPI adalah perusahaan yang mempunyai inisiatif untuk mendaftarkan diri dalam pemeringkatan CGPI. Oleh karena itu perusahaan yang terdafatar dalam CGPI belum pasti perusahaan yang berkompeten, dikarenakan bentuk kepesertaannya yang bersifat sukarela tersebut. Selain itu data obligasi korporasi yang didapat dalam penelitian ini lebih didominasi oleh obligasi korporasi yang tidak masuk dalam CGPI yaitu sejumlah 42 obligasi. Sedangkan jumlah obligasi korporasi yang masuk dalam CGPI lebih sedikit yaitu sejumlah 12 obligasi.

Menurut Hapsari (2013) menyatakan bahwa hal ini bertolak belakang dengan teori, disebabkan karena GCG yang diukur menggunakan skor CGPI hampir sebagian besar memiliki peringkat yang lumayan tinggi. Jika dibandingkan dengan perusahaan korporasi yang lain, yaitu mempunyai peringkat sangat terpercaya dan terpercaya, hanya beberapa perusahaan yang memiliki peringkat cukup terpercaya. Hal ini disebabkan karena GCG yang dilaksanakan pada perusahaan go public belum terimplementasikan secara baik. Walaupun secara rata-rata Indeks Corporate Governance sudah dalam kriteria yang terpercaya, namun hal ini hanya sebatas pada penilaian subyektif dari pemeringkat IICG berdasarkan persentasi yang diberikan oleh manajemen perusahaan di depan pemeringkat IICG. Selain itu penilaian ini juga didasarkan pada self assesment, sehingga akan cenderung memberikan penilaian yang baik pada perusahaan mereka sendiri (Mustikasari, 2010).

4.2 Pengaruh Debt to Equity Ratio terhadap Yield To Maturity

Dari hasil uji signifikansi parsial dapat diketahui bahwa variabel debt to equity ratio (DER) tidak berpengaruh terhadap yield to maturity. Hal ini terbukti menunjukkan bahwa nilai B sebesar 0,039 yaitu menunjukkan arah positif, sedangkan nilai signifikannya sebesar 0,608 > 0,05. Hal tersebut berarti mampu menerima H02 dan menolak Ha2, maka dapat disimpulkan bahwa variabel debt

to equity ratio tidak berpengaruh terhadap yield to maturity. Hasil ini tidak sesuai dengan hipotesis kedua dan sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Purnamawati (2013 bahwa variabel DER tidak berpengaruh terhadap yield to maturity. Menurut Hartono (2009: 170) dalam Purnamawati (2013) menyatakan bahwa kenaikan rasio leverage tidak mempengaruhi probabilitas

(10)

kenaikan imbal hasil obligasi, yang berarti bahwa rasio leverage tidak diperhitungkan dalam menentukan imbal hasil obligasi jika dilihat secara parsial. Hal tersebut disebabkan karena investor tidak memperhatikan risiko yang ada ketika membeli atau berinvestasi pada obligasi karena menganggap bahwa obligasi merupakan investasi yang berisiko rendah.

4.3 Pengaruh Peringkat Obligasi terhadap Yield To Maturity

Dari hasil uji signifikansi parsial dapat diketahui bahwa variabel peringkat obligasi memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap yield to maturity. Hal ini terbukti menunjukkan bahwa nilai B sebesar -0,265 yaitu menunjukkan arah negatif, sedangkan nilai signifikannya sebesar 0,012 < 0,05. Hal tersebut berarti mampu menolak H03 dan menerima Ha3, maka dapat

disimpulkan bahwa variabel peringkat obligasi berpengaruh negatif signifikan terhadap yield to maturity. Hasil ini mendukung hipotesis ketiga dan sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Purnamawati (2013), Surya dan Nasher (2011), dan Ibrahim (2008) bahwa variabel peringkat obligasi berpengaruh negatif dan signifikan terhadap yield to maturity. Menurut Purnamawati (2013) menyatakan bahwa obligasi dengan peringkat rendah merupakan obligasi yang lebih berisiko. Maka obligasi dengan peringkat rendah harus menyediakan imbal hasil lebih tinggi karena untuk mengkompensasi kemungkinan risiko yang besar. Dengan demikian, obligasi yang memiliki peringkat yang tinggi akan memberikan risiko default yang relatif lebih kecil sehingga berdampak pada imbal hasil obligasi yang akan mengalami penurunan.

4.4 Pengaruh Tingkat Suku Bunga SBI terhadap Yield To Maturity

Dari hasil uji signifikansi parsial dapat diketahui bahwa variabel tingkat suku bunga SBI memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap yield to maturity. Hal ini terbukti menunjukkan bahwa nilai B sebesar 4,454 yaitu menunjukkan arah positif, sedangkan nilai signifikannya sebesar 0,000 < 0,05. Hal tersebut berarti mampu menolak H04 dan menerima Ha4, maka dapat

disimpulkan bahwa variabel tingkat suku bunga SBI berpengaruh positif signifikan terhadap yield to maturity. Hasil ini mendukung hipotesis keempat dan sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Purnamawati (2013), Indarsih (2013), Surya dan Nasher (2011) dan Ibrahim (2008) bahwa variabel tingkat suku bunga SBI berpengaruh positif dan signifikan terhadap yield to maturity. Menurut Indarsih (2013) menyatakan bahwa hubungan yang positif antara tingkat suku bunga SBI dengan Yield To Maturity obligasi disebabkan karena pada saat tingkat suku bunga SBI meningkat, maka investor lebih menyukai investasi deposito di bank daripada sekuritas obligasi karena lebih menguntungkan sehingga permintaan obligasi menurun yang menyebabkan menurunnya harga obligasi sehingga investor akan meningkatkan Yield To Maturity yang diisyaratkannya. Menurut Purnamawati (2013) semakin tinggi tingkat suku bunga SBI maka imbal hasil yang diisyaratkan oleh investor dari suatu investasi akan semakin meningkat. Sehingga dengan semakin tingginya

(11)

imbal hasil yang besar untuk menarik minat investor agar berinvestasi atau menanamkan dananya pada obligasi.

5. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan mengenai pengaruh corporate governance, debt to equity ratio, peringkat obligasi, dan tingkat suku bunga SBI terhadap yield to maturity pada obligasi korporasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun 2009-2011, maka dapat diambil kesimpulan dari penelitian ini sebagai berikut:

a. Corporate governance tidak berpengaruh terhadap yield to maturity pada obligasi korporasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode tahun 2009-2011. Kepesertaan CGPI bersifat sukarela, jadi perusahaan yang masuk dalam pemeringkatan CGPI adalah perusahaan yang mempunyai inisiatif untuk mendaftarkan diri dalam pemeringkatan CGPI. Oleh karena itu perusahaan yang terdafatar dalam CGPI belum pasti perusahaan yang berkompeten, dikarenakan bentuk kepesertaannya yang bersifat sukarela tersebut. Selain itu data obligasi korporasi yang didapat dalam penelitian ini lebih didominasi oleh obligasi korporasi yang tidak masuk dalam CGPI yaitu sejumlah 42 obligasi. Sedangkan jumlah obligasi korporasi yang masuk dalam CGPI lebih sedikit yaitu sejumlah 12 obligasi. Pada kenyataannya

GCG yang dilaksanakan pada perusahaan go public belum

terimplementasikan secara baik. GCG yang diukur menggunakan skor CGPI hampir sebagian besar memiliki peringkat yang lumayan tinggi. Jika dibandingkan dengan perusahaan korporasi yang lain, yaitu mempunyai peringkat sangat terpercaya dan terpercaya, hanya beberapa perusahaan yang memiliki peringkat cukup terpercaya. Walaupun secara rata-rata Indeks corporate governance sudah dalam kriteria yang terpercaya, namun hal ini hanya sebatas pada penilaian subyektif dari pemeringkat IICG berdasarkan persentasi yang diberikan oleh manajemen perusahaan di depan pemeringkat IICG. Selain itu penilaian ini juga didasarkan pada self assesment, sehingga akan cenderung memberikan penilaian yang baik pada perusahaan mereka sendiri.

b. Debt to equity ratio tidak berpengaruh terhadap yield to maturity pada obligasi korporasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode tahun 20092011. Kenaikan rasio leverage yang diukur menggunakan DER tidak mempengaruhi probabilitas kenaikan imbal hasil obligasi, yang berarti bahwa DER tidak diperhitungkan dalam menentukan imbal hasil obligasi. Hal tersebut disebabkan karena investor tidak memperhatikan risiko yang ada ketika membeli atau berinvestasi pada obligasi karena menganggap bahwa obligasi merupakan investasi yang berisiko rendah.

c. Peringkat obligasi berpengaruh negatif dan signifikan terhadap yield to maturity pada obligasi korporasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode tahun 2009-2011. Obligasi dengan peringkat rendah merupakan obligasi yang lebih berisiko. Maka obligasi dengan peringkat

(12)

rendah harus menyediakan imbal hasil lebih tinggi karena untuk mengkompensasi kemungkinan risiko yang besar. Dengan demikian, obligasi yang memiliki peringkat yang tinggi akan memberikan risiko default yang relatif lebih kecil sehingga berdampak pada imbal hasil obligasi yang akan mengalami penurunan.

d. Tingkat suku bunga SBI berpengaruh positif dan signifikan terhadap yield to maturity pada obligasi korporasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode tahun 2009-2011. Semakin tinggi tingkat suku bunga SBI maka imbal hasil yang diisyaratkan oleh investor dari suatu investasi akan semakin meningkat. Sehingga dengan semakin tingginya tingkat suku bunga SBI maka perusahaan penerbit obligasi akan menawarkan imbal hasil yang besar untuk menarik minat investor agar berinvestasi atau menanamkan dananya pada obligasi.

Daftar Pustaka

Ahmad, Komaruddin (2004), Dasar-dasar Manajemen Investasi dan Portofolio, Jakarta: PT Asdi Mahasatya.

Atmaja, Lukas Setia (2008), Teori dan Praktik Manajemen Keuangan, Edisi Pertama, Yogyakarta: CV. Andi Offset.

Atmaja, Lukas Setia (2009), Statistik untuk Bisnis dan Ekonomi, Edisi Pertama, Yogyakarta: CV. Andi Offset.

Fahmi, Irham (2012), Manajemen Investasi: Teori dan Soal Jawab, Jakarta: Salemba Empat.

Hapsari, Riska Ayu (2013), Kajian Yield To Maturity (YTM) Obligasi pada perusahaan Korporasi, Accounting Analysis Journal 1 (3).

Ibrahim, H (2008), Pengaruh Tingkat Suku Bunga, Peringkat Obligasi, Ukuran Perusahaan dan DER Terhadap Yield To Maturity Obligasi Korporasi Di Bursa Efek Indonesia Periode Tahun 2004-2006, Tesis, Semarang: Universitas Diponegoro.

Indarsih, Nanik (2013), Pengaruh Tingkat Suku Bunga SBI, Rating, Likuiditas dan Maturitas Terhadap Yield to Maturity Obligasi, Jurnal Ilmu Manajemen, Volume 1 Nomor 1.

Indonesia Bond Pricing Agency (2012), Harga dan Yield Obligasi tahun 2009-2011, Jakarta.

Jamilah, Siti (2012), Analisis Pengaruh Kinerja Keuangan, Kemungkinan kesempatan Investasi dan Variabel Makro terhadap Yield Obligasi Perusahaan (Studi Kasus Perusahaan Pertambangan dan Energi yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2007-2010), Skripsi, IPB, Bogor.

Melani, Kingkin Sandra dan Kananlua, Paulus Sulluk (2013), Analisis Pengaruh Rasio Keuangan Terhadap Peringkat Obligasi

(13)

Melati, Arum (2013), Faktor-faktor yang Mempengaruhi Tingkat Sewa SukukIjarah, Accounting Analysis Journal 2 (2).

Mustikasari, Greta Ita (2010), Pengaruh Mekanisme Good Corporate Governance Terhadap Peringkat Obligasi Dan Yield obligasi (Studi Empiris Perusahaan Yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia), Skripsi, Universitas Sebelas Maret, Surakarta.

Purnamawati, I Gusti Ayu (2013), Pengaruh Peringkat Obligasi, Tingkat Suku Bunga Sertifikat Bank Indonesia, Rasio Leverage, Ukuran Perusahaan dan Umur Obligasi pada Imbal Hasil Obligasi Korporasi di Bursa Efek Indonesia, VOKASI Jurnal Riset Akuntansi, Vol. 2 No. 1.

Samsul, Mohamad (2006), Pasar Modal dan Manajemen Portofolio, Erlangga. Saputra, Tiyas Ardian (2013), Analisis Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Yield

Obligasi Konvensional di Indonesia (Studi Kasus Pada Perusahaan Listed di BEI), Skripsi, Semarang: Universitas Diponegoro.

Setyapurnama, Yudi Santara dan Norpratiwi, Vianey (2006), Pengaruh Corporate Governance Terhadap Peringkat Obligasi dan Yield Obligasi, Jurnal.

Surya, Budhi Arta dan Nasher, Teguh Gunawan (2011), Analisis Pengaruh Tingkat Suku Bunga SBI, Exchange Rate, Ukuran Perusahaan, Debt To Equity Ratio dan Bond Rating terhadap Yield Obligasi Korporasi di Indonesia, Jurnal Manajemen Teknologi, Volume 10 Number 2.

Widajati, Asih (2010), Faktor yang Mempengaruhi Risiko Kredit dan Yield Obligasi pada Perusahaan Perbankan, Jurnal Keuangan dan Perbankan, Vol. 14 No. 3, 521-530.

Gambar

Tabel 3.1 Konversi Peringkat Obligasi

Referensi

Dokumen terkait

Seperti yang telah dijelaskan dalam sub bab sebelumnya, bahwa seorang anak, khususnya anak yang berusia di bawah 10 tahun cenderung memiliki pola pikir dan daya ingat

virus Dengue-3 sebagai kontrol positif, sedangkan Beberapa tahun terakhir, telah dikembangkan metode kontrol negatif adalah sediaan sel C6/36 yang tidak baru

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola kegiatan panen dilakukan dengan menggunakan tenaga kerja tambahan, produktivitas tenaga kerja tinggi, faktor yang berpengaruh secara

untuk memilih judul “Analisis Sistem Akuntansi Penerimaan Kas dari Penjualan Tunai pada PT Pilar Putra Teknik Palembang”.. 1.2

Selanjutnya, respond Mak Juki yang tampak kesal terhadap Juki menunjukkan bahwa dengan adanya implikatur dalam percakapan di atas, mitra tutur tetap memahami maksud penutur

Field dan Scafidi tahun 1986 dan 1990, menunjukkan bahwa pada 20 bayi premature berat badan 1280 dan 1176 gram yang dipijat 3x15 menit selama 10 hari mengalami berat badan per hari

Universitas

persampahan, pengembangan teknologi pengelolaan persampahan dan bimbingan teknis persampahan... 5) Mitigasi dan alternatif penyempurnaan program yang mempunyai potensi pengaruh